Posted on Tinggalkan komentar

Zakheus

Nama pemungut cukai itu Zakheus (lih. Luk. 19:1-10). Nama itu merupakan bentuk Yunani dari nama Zakkay dalam bahasa Ibrani, yang berarti ”bersih, tidak bersalah”. Dan orang yang namanya berarti ”bersih, tidak bersalah” itu berprofesi sebagai pemungut cukai.

Photo by Kai Dörner on Unsplash

Pemungut cukai adalah petugas lembaga fiskal Romawi. Tugas itu dipercayakan kepada orang yang mampu menawarkan paling banyak uang kepada pemerintah penjajah. Pada akhirnya jumlah itu pula yang harus ditagihnya dengan bermacam cara.

Seorang pemungut cukai hidup dari selisih antara jumlah yang ditetapkan penjajah dan yang ditagihnya. Artinya, jika berlaku jujur, dia tidak mendapat apa pun. Tak heran jika profesi pemungut cukai dibenci kaum nasionalis agama.

Namun, Lukas mencatat bahwa dalam diri Zakheus ada sesuatu yang baik. Ia pribadi yang bertindak dan akan melakukan segala upaya untuk mencapai kerinduannya.

Zakheus ingin tahu orang seperti apakah Yesus itu. Kabar yang masuk ke telinganya adalah Sang Guru dari Nazaret itu bukan guru sembarangan. Yesus menerima orang apa adanya. Bahkan, salah satu murid-Nya, Matius, adalah mantan pemungut cukai.

Sayang badannya pendek. Dan orang banyak yang sedang berkerumun di sekitar Yesus agaknya menghalang-halanginya. Namun, ia tak pulang ke rumah. Saking penasarannya, dia berlari dan memanjat pohon ara untuk melihat Yesus. Entah bagaimana tanggapan orang banyak melihat tindakannya itu.

Zakheus mencari Yesus. Namun, di pihak lain, Yesus pun juga mencari Zakheus. Yesuslah yang menyapanya terlebih dahulu, bahkan berkata, ”Aku harus menumpang di rumahmu.” Kegigihan Zakheus membuat dia mendapatkan lebih dari yang diharapkan.

Tindakan Sang Guru membuat iman Zakheus bertumbuh. Sang Pemungut cukai mendonasikan setengah hartanya kepada orang miskin. Ia juga berniat mengembalikan empat kali lipat kepada orang yang pernah dicuranginya. Bisa jadi Zakheus langsung jatuh miskin. Namun, tindakannya itu sungguh-sungguh mencerminkan arti namanya.

Selamat bekerja,

Yoel M. Indrasmoro
Direktur Literatur Perkantas Nasional

Bagikan:
Posted on Tinggalkan komentar

Rahmat Allah dan Keinginan Luhur Manusia

Berkenaan dengan HUT ke-73 Proklamasi Kemerdekaan Indonesia, mari kita menyimak alinea ketiga Pembukaan UUD 1945: ”Atas berkat rahmat Allah yang Maha Kuasa dan dengan didorongkan oleh keinginan luhur, supaya berkehidupan kebangsaan yang bebas, maka rakyat Indonesia menyatakan dengan ini kemerdekaannya”.

Photo by Nick Agus Arya on Unsplash

Para pendiri bangsa percaya bahwa Indonesia berdiri di atas dasar: rahmat Allah dan keinginan luhur.

Memang itulah kenyataannya. Situasi global masa itu—yang menyebabkan kekosongan pemerintahan akibat kekalahan Jepang—memberikan peluang bagi para pendiri bangsa untuk menyatakan kemerdekaan Indonesia. Situasi global itu dipahami sebagai rahmat Allah. Bagaimanapun, sebelum kekalahan Jepang, merdeka seperti jauh panggang dari api.

Namun, rahmat Allah tak akan ada artinya tanpa keinginan luhur manusia. Keinginan luhur itulah yang menyebabkan Bung Karno dan Bung Hatta mau berkompromi dengan para pemuda yang sempat menculik mereka ke Rengasdengklok sehari sebelum proklamasi.

Keinginan luhur itu pulalah yang menyebabkan Dwitunggal Proklamator itu bersedia mengambil risiko menandatangani naskah proklamasi. Mereka berdua memiliki keinginan luhur yang jauh melampaui keinginan SARA.

Keinginan luhur semacam itu—kalau kita mau jujur mengaku—sejatinya merupakan anugerah Allah sendiri. Dan tentu saja keinginan macam beginilah yang akan dirahmati Allah.

Jika keadaan negeri kita kini tampaknya enggan berubah, mungkin dikarenakan masih banyak orang berpikir untuk kepentingannya atau golongannya sendiri.

Dan perubahan akan terjadi jika semakin banyak orang berupaya mengubah fokus dari diri sendiri kepada orang lain. Tak hanya di republik tercinta, tetapi juga di tempat kerja kita masing-masing.

Selamat Bekerja!

Yoel M. Indrasmoro
Direktur Literatur Perkantas Nasional

Bagikan:
Posted on Tinggalkan komentar

Tola: Si Cacing Tanah

”Sesudah Abimelekh, bangkitlah Tola bin Pua bin Dodo, seorang Isakhar, untuk menyelamatkan orang Israel. Ia diam di Samir, di pegunungan Efraim dan ia memerintah sebagai hakim atas orang Israel dua puluh tiga tahun lamanya; kemudian matilah ia, lalu dikuburkan di Samir” (Hak. 10:1-2).

Photo by rawpixel on Unsplash

Mengenai Tola, tak banyak yang diceritakan penulis Kitab Hakim-hakim. Begitu singkat: hanya dua ayat. Namun, tugasnya tak bisa dibilang mudah. Dia berada dalam situasi krisis dari peralihan kekuasaan.

Abimelekh, anak Gideon, dari seorang gundik, telah mengangkat diri sendiri menjadi raja di Sikhem. Dia mengumpulkan para kriminalis dan membunuh saudara-saudaranya, anak-anak Yerubaal, 70 orang, di atas batu di Ofra (Hak. 9:4-5). Dengan tangan besi dia memerintah selama tiga tahun dan banyak membunuh rakyatnya sendiri. Akhirnya rakyat Sikhem memberontak dan Abimelekh tewas. Allah kemudian menunjuk Tola sebagai hakim yang memerintah Israel selama 23 tahun.

Keterangan singkat tentang Tola sepertinya menyiratkan gaya kepemimpinannya. Dalam bahasa Ibrani, Tola berarti cacing. Cacing dianggap hina karena bentuknya. Akan tetapi, dalam dunia pertanian, cacing berguna dalam meningkatkan kesuburan tanah. Dan kerjanya pun diam-diam, yakni di dalam tanah.

Tola tidak sepongah, seambisius, dan semiliteristik Abimelekh, tetapi dia mengemban tugas kepemimpinan dengan baik. Tak banyak yang dicatat tentang Tola—bisa jadi tak banyak hal heroik dalam kiprahnya sebagai pemimpin. Atau bisa jadi dia juga tak mau mengiklankan dirinya. Namun demikian, Alkitab mencatat bahwa dia setia menjalankan tugasnya hingga purna—sampai mati.

Kesetiaan terhadap panggilan bukan perkara mudah. Ada rupa-rupa godaan yang bisa membuat manusia pindah haluan, atau tetap dalam panggilan, tetapi dalam kadar yang berbeda. Pada titik ini kita agaknya perlu belajar dari Tola.

Selamat Bekerja!

Yoel M. Indrasmoro
Direktur Literatur Perkantas Nasional

Bagikan:
Posted on Tinggalkan komentar

Gembalakanlah Domba-domba-Ku

”Simon, anak Yohanes, apakah engkau mengasihi Aku?” (Yoh. 21:15). Demikianlah sapaan Yesus yang bangkit kepada murid yang pernah menyangkal-Nya.

Photo by Biegun Wschodni on Unsplash

Pertanyaan itu menukik tajam, tepat sasaran, tanpa basa-basi. Yesus mempersoalkan makna terdalam sebuah hubungan: kasih. Jawaban Sang Murid sungguh radikal: ”Benar Tuhan, Engkau tahu bahwa aku mengasihi Engkau” (Yoh. 21:15).

Petrus merasa tak cukup hanya menjawab: ”Benar Tuhan.” Tidak. Dia mendasarkan jawabannya pada kemahatahuan Yesus. Dasar jawabannya tidak terletak pada ke-aku-an, tetapi pada diri Yesus sendiri. Dasar jawaban Petrus tidak terletak pada kemauan, bukan pula pada kemampuan diri, melainkan pada ketuhanan Yesus.

Bahkan ketika Sang Guru merasa perlu tiga kali mempertanyakan kasihnya, Petrus tetap pada jawabannya, sekali lagi berdasarkan kemahatahuan Yesus: ”Tuhan, Engkau tahu segala sesuatu, Engkau tahu bahwa aku mengasihi Engkau” (Yoh. 21:17).

Menurut Henri J. M. Nouwen, dalam bukunya Dalam Nama Yesus, Permenungan Tentang Kepemimpinan Kristiani, ”Pemimpin Gereja tak cukup hanya bermoral tinggi, terlatih, siap membantu sesama dan mampu menanggapi masalah-masalah hangat pada zamannya secara kreatif. Di atas semuanya itu, pemimpin kristiani adalah orang yang sungguh-sungguh mengasihi Allah.”

Dengan kata lain, lanjut Nouwen, ”Pemimpin kristiani adalah orang yang benar-benar mau tinggal di hadirat Allah dan bersekutu dengan-Nya. Sehingga, visi Allahlah, dan bukan visinya pribadi, yang menjadi dasar dan arah kepemimpinannya.”

Atas semua jawaban itu, Yesus memberi mandat: ”Gembalakanlah domba-domba-Ku.” Cuma dua kata, tetapi melegakan hati. Mandat itu berarti kepercayaan. Yesus tetap memercayainya. Dan bagi Petrus mandat itu berarti karya yang harus dilakukan tanpa syarat.

Pemimpin—juga pemimpin di tempat kerja—adalah gembala bagi orang-orang yang dibawahkan kepadanya. Dan itu hanya mungkin terjadi kala dia sungguh mengasihi Sang Gembala Sejati.

Selamat Bekerja,

Yoel M. Indrasmoro
Direktur Literatur Perkantas Nasional

Bagikan:
Posted on Tinggalkan komentar

Musim Berganti

Kitab Keluaran dimulai dengan kisah pahit. Israel yang semula merupakan kesayangan penguasa Mesir, bahkan diberi tempat khusus di delta sungai Nil, telah menjadi bangsa yang menakutkan penguasa baru. Bagi dia kisah Yusuf, yang menyelamatkan Mesir dari bencana kelaparan, tinggal sejarah.

Photo by Chris Lawton on Unsplash

Sang Penguasa kemudian menetapkan tindakan ”bijaksana”, yang merupakan petaka bagi Israel. Dari bangsa kesayangan, Israel menjadi bangsa budak. Mereka menjalani kerja paksa mendirikan kota-kota perbekalan bagi Firaun, yakni Pitom dan Raamses. Israel hanya bisa menerima. Musim berganti. Namun, penulis mencatat, ”tetapi makin ditindas, makin bertambah banyak dan berkembang mereka, sehingga orang merasa takut kepada orang Israel itu” (Kel. 1:12).

Makin ketakutanlah penguasa baru itu. Ketakutan akan balas dendam membuatnya mengubah ”kebijaksanaan” dengan cara membunuh semua bayi laki-laki Israel yang baru lahir. Dampak musim bertambah parah. Akan tetapi, kebijakan kedua ini pun gagal. Sifra dan Pua, kedua bidan itu, ternyata lebih takut kepada Allah ketimbang penguasa Mesir. Ketakutan penguasa Mesir makin menjadi. ”Kebijaksanaannya” makin berkembang: melemparkan semua bayi laki-laki Ibrani ke sungai Nil.

Awalan Kitab Keluaran, yang berakhir dengan pembebasan Israel dari Mesir, membuktikan karya pemeliharaan Allah. Situasi dan kondisi dapat berubah dalam sekejap, tetapi kasih setia Tuhan tiada berubah. Dengan cara-Nya sendiri, Allah menyertai umat-Nya. Penyertaan Allah ini terekam juga dalam Kidung Populer Rohani Tempo Dulu: ”Tak pernah Dia janji slalu ’kan panas. Tak pernah Dia janji hanya ada hujan. Tapi Dia janjikan memberi kekuatan bila badai topan melandamu”.

Musim boleh berganti. Bisa jadi berimbas pada pekerjaan kita. Namun, penyertaan Allah tetap. Allah tidak menjanjikan kondisi kerja yang serbabaik, tapi Dia menjanjikan kekuatan. Sebab kita milik-Nya!

Selamat Bekerja,

Yoel M. Indrasmoro
Direktur Literatur Perkantas Nasional

Bagikan:
Posted on Tinggalkan komentar

Pegawai Bermental Karyawan

Berkait soal kerja, kisah penyembuhan Naaman menarik disimak. Pegawai-pegawai Naaman layak dijadikan teladan. Meski berstatus pegawai, mereka bermental karyawan. Sebagai karyawan mereka ingin menghasilkan sesuatu: karya!

Photo by Tim Marshall on Unsplash

Ketika Naaman kesal dengan perlakuan Elisa, yang memintanya untuk membenamkan diri ke sungai Yordan sebanyak tujuh kali, para pegawainya berupaya agar Naaman tetap fokus pada tujuan utamanya—kesembuhan dari kusta. Berbahagialah Naaman karena memiliki bawahan-bawahan yang berani menyatakan pendapat! Mereka tidak bermental ABS (Asal Bapak Senang). Mereka berani berbeda pendapat, membujuk Naaman, demi tercapainya visi bersama. Bujukannya tak ditujukan pada batin, tetapi lebih terarah pada nalar Sang Panglima.

Mari kita simak nasihat mereka: ”Bapak, seandainya nabi itu menyuruh perkara yang sukar kepadamu, bukankah Bapak akan melakukannya? Apalagi sekarang, ia hanya berkata kepadamu: ’Mandilah dan engkau akan menjadi tahir’” (2Raj. 5:13). Kalimat yang logis. Meski bertujuan menyentuh pikiran, kalimat itu pastilah menyentuh hati Naaman. Pegawai-pegawai itu mengingatkan kembali akan kehebatan Sang Panglima.

Siapa yang tak kenal Naaman? Dia suka sekali—dan sungguh-sungguh terbukti—melakukan hal-hal luar biasa. Naaman sudah terbiasa melakukan perkara-perkara sukar. Mungkin bagi orang lain mustahil, tapi tidak bagi Naaman. Dengan kata lain, ”Kalau perbuatan yang sukar saja Bapak suka dan mampu melakukannya, masak hal yang mudah begini Bapak malah enggan melakukannya?” Itu berarti, apa yang diminta Elisa bukanlah sesuatu yang sulit. Lalu, apa salahnya dicoba!

Entah, apa yang ada di benak Naaman saat dia membenamkan dirinya di sungai Yordan. Mungkin dia ragu, tapi itulah jalan terlogis. Ya, apa salahnya dicoba? Bukankah dia telah sampai ke Israel. Kalau pulang lagi ke Damsyik, dia tidak akan mendapatkan apa-apa. Alhasil: penyakit kusta itu hilang dari tubuhnya.

Kita tidak pernah tahu identitas pegawai-pegawai Naaman itu. Namun, yang kita tahu mereka mengerjakan tugasnya dengan baik. Mereka berani mengemukakan pendapat yang berbeda untuk kepentingan tuannya. Mereka ingin Sang Panglima mewujudkan visinya. Mereka telah menjadikan visi tuannya—kesembuhan dari kusta—sebagai visi mereka juga. Sebagai karyawan, mereka sungguh berkualitas.

Kualitas itu pulalah yang ditekankan Paulus dalam sebuah suratnya: ”Baiklah tiap-tiap orang menguji pekerjaannya sendiri; maka ia boleh bermegah melihat keadaannya sendiri dan bukan melihat keadaan orang lain” (Gal. 6:4).

Selamat Bekerja,

Yoel M. Indrasmoro
Direktur Literatur Perkantas Nasional

Bagikan:
Posted on Tinggalkan komentar

Piala Dunia 2018

Piala Dunia 2018 usai sudah. Prancislah jawaranya. Banyak hal yang bisa dipetik dari perhelatan dunia ini.

Photo by Fauzan Saari on Unsplash

Pertama, sepakbola adalah permainan tim, yang terdiri atas sebelas orang, bahkan kadang menjadi dua belas—para suporter. Tentu sebuah tim terdiri atas individu-individu. Akan tetapi, setiap individu tersebut haruslah meyakini bahwa dia merupakan bagian dari sebuah tim. Terkait ini, ada adagium yang menarik dalam bahasa Inggris: There is no ”I” in Team (tak ada saya dalam sebuah tim).

Kedua, karena itulah setiap individu mesti bekerja sebagai sebuah tim. Ketika ada seorang yang mencetak gol, itu bukanlah gol dirinya, tetapi gol kesebelasannya, dan akhirnya menjadi gol para pendukungnya juga. Akan tetapi, ketika seseorang melakukan kesalahan, tak perlulah menyalahkan dirinya karena semua itu dilakukannya untuk membela timnya.

Itulah yang terjadi ketika sundulan Mario Mandzukic tidak menyelamatkan, tetapi malah membobol gawang sendiri. Para pemain Kroasia tak terlihat menyalahkannya. Lagi pula, buat apa menyalahkan karena Mandzukic sendiri pasti sudah amat menyesal. Begitu pula ketika Hugo Lloris, kiper Prancis, melakukan blunder yang dimanfaatkan dengan sangat baik oleh Mandzukic, para pemain Prancis tetap fokus pada pertandingan dan tidak menyalahkannya.

Persoalan terbesar dalam sebuah tim adalah ketika seseorang merasa lebih hebat, lebih berjasa, ketimbang yang lainnya. Itu hanya akan membuat suasana dalam tim menjadi panas, dan tak lagi fokus dalam mencapai tujuan bersama.

Ketiga, setiap kesebelasan yang tertinggal, juga Kroasia dalam final, selalu antusias menyerang. Mereka tidak mau berhenti menyerang sebelum peluit berakhir. Mereka bersemangat menyerang karena masih memiliki harapan! Semua kemungkinan bisa terjadi. Kenyataannya, itulah yang sering terjadi dalam piala dunia tahun ini. Sehingga menit-menit tambahan waktu pertandingan menjadi saat yang menarik untuk disimak.

Ngomong-ngomong soal ”antusias”, kata ini berasal dari bahasa Yunani en dan theos, yang bermakna ”dalam Tuhan”. Dan memang di dalam Tuhan, segala sesuatu mungkin terjadi. Syaratnya adalah lakukan yang terbaik, dan libatkanlah Tuhan dalam pekerjaan kita!

Selamat Bekerja,

Yoel M. Indrasmoro
Direktur Literatur Perkantas Nasional

Bagikan:
Posted on Tinggalkan komentar

Terbitan Baru: “Buah Roh: Hakikat dan Penerapannya”

Let’s say, buku ini memang mengangkat tema serupa dari buku Becoming Like Jesus karya Christoper J. H. Wright yang diterbitkan dalam bahasa Indonesia terlebih dahulu oleh Perkantas Jawa Timur. Buah Roh memang menjadi tema yang selalu menarik untuk ditulis. Tema yang sederhana namun menjadi begitu berguna ketika dikerjakan dalam kehidupan nyata. Tema bisa sama namun gagasan dari penulis yang berbeda bisa membuat wawasan pembaca akan tema ini bisa semakin kaya. Istimewanya, karena ini ditulis oleh penulis lokal, diharapkan pembahasannya bisa lebih mesra dan mengena.

Buah Roh: Hakikat dan Penerapannya

 

Semula, naskah buku ini merupakan Seri Sisipan Santapan Harian yang diterbitkan oleh Scripture Union Indonesia (PPA). Kami merasa penting untuk menghimpunnya ke dalam satu buku supaya para pembaca Santapan Harian bisa membacanya lebih lengkap tanpa harus membuka beberapa seri dari Santapan Harian.

Hal lain, kiranya buku ini juga bisa menjadi teman berbicara bagi Anda para siswa, mahasiswa, juga alumni yang juga memiliki kerinduan untuk terus bertumbuh. Buku ini sengaja dibuat dalam ukuran compact. Sengaja, supaya kapan pun Anda membutuhkan asupan nutrisi menyehatkan, Anda bisa langsung merasakan kesegaran Buah Roh dari buku ini ketika berada di kereta atau di dalam bus menuju tempat kerja atau tempat usaha. Namun, jangan coba-coba membaca sambil berkendara ya, salah-salah Anda sendiri yang celaka.

Akhir kata, mari kita bertumbuh bersama!

Bagikan:
Posted on Tinggalkan komentar

Tentang Roh Kudus: Dipenuhi atau Dipimpin oleh Roh?

”Hiduplah di hadapan-Ku dengan tidak bercela” (Kej. 17:1).

Mengalami lawatan Allah menjadi topik sharing yang begitu laris. Apalagi jika yang mengalaminya adalah seorang figur publik. Topik ini bisa berkembang ke dalam beberapa kisah yang lebih khusus, seperti bebas dari jerat kecanduan narkoba, berpindah agama menjadi Kristen, sampai kepada hilangnya benjolan tumor dari rekam medis. Menjadi tahir. Hal ini menjadi target dari orang-orang yang sudah putus asa dengan penyembuhan jalur medis. Dirasa lebih manjur jika meminta kesembuhan kepada Tuhan sang Pencipta ketika jalur medis sudah tidak bisa memberikan harapan serupa. Roh Tuhan telah melawat dirinya. Pikirnya, kesembuhan dan perubahan luar biasa hanya bisa dialami dengan pribadi yang dipenuhi oleh Roh. Jika memang demikian, apa yang menentukan Roh bisa memenuhi satu orang pribadi namun enggan memenuhi pribadi lainnya? Lalu, mana yang lebih Alkitabiah, dipenuhi oleh Roh atau dipimpin oleh Roh?

Dalam Kisah Para Rasul 11:24, Lukas mencatat, ”Barnabas adalah orang baik, penuh dengan Roh Kudus dan iman. Kata dipenuhi sesungguhnya adalah sebuah kiasan. Roh bukanlah suatu cairan atau bahan-bahan lain yang sejenisnya yang digambarkan bisa memenuhi suatu bentuk wadah (tubuh manusia). Alkitab berbicara mengenai orang-orang yang penuh dengan Roh sepadan dengan maksud dipimpin oleh Roh; bahwa Roh Kudus mengarahkan dan menyatu dalam jiwa Anda. Cara lain untuk mengatakan ”dipenuhi” oleh Roh ialah ”hidup oleh Roh” (Gal. 5:16,25). Kemungkinan lain jika tidak dipenuhi (dipimpin) oleh Roh maka kemungkinan Iblis ”memenuhi” hati seseorang. Seperti yang dikatakan Petrus kepada Ananias, ”Mengapa hatimu dikuasai Iblis, sehingga engkau mendustai Roh Kudus” (Kis. 5:3).

Jadi, ketika Anda hadir di dalam ruang-ruang ibadah, apakah permintaan untuk Roh Kudus memenuhi hati dan menolong diri Anda untuk memuji Tuhan dengan sungguh hati menjadi relevan?Demikian juga dengan permohonan untuk kesembuhan penyakit? Atau apakah permintaan untuk Roh Kudus memimpin di dalam setiap agenda kerja, belajar, bertamu, berpacaran, yang intinya jauh dari konteks ibadah gereja menjadi kurang relevan? Anda mungkin berpikir, untuk apa Roh Kudus memimpin pribadi Anda di saat Anda sedang mengerjakan pembukuan di kertas kerja Excel atau Roh Kudus memimpin seorang penjual sate ketika membakar dan meracik daging sate. Rasa-rasanya Roh Kudus terlalu remeh untuk terlibat di dalam mengerjakan tugas-tugas pembukuan dan membakar sate.

Meminta Roh memimpin di dalam ibadah gereja sama pentingnya dengan memohon Roh memimpin seorang ibu di dalam mendidik anaknya. Allah menyatakan pimpinannya kepada Abraham bukan hanya di dalam konteks penyembahan di mezbah, namun di seluruh lingkup kehidupannya. ”Hiduplah di hadapan-Ku dengan tidak bercela” (Kej. 17:1).

Pekerjaan Roh Kudus tidak terjadi sebatas permohonan Anda untuk merasakan suatu pengalaman penyembahan yang dapat memukau perasaan sampai menguras air mata. Roh Kudus setia menjaga dan menghibur ketika air mata menjadi nuansa keseharian hidup Anda. Apakah itu karena pengkhianatan, sakit penyakit, bahkan penderitaan. Roh Kudus memenuhi atau memimpin bukan menjadi persoalan.

Bukan soal pengalaman sementara yang luar biasa, apalagi bisa berkata-kata dalam berbagai bahasa yang sukar dicerna. Apakah Anda sanggup tunduk di dalam ketaatan penuh untuk hidup di dalam kekudusan dari agenda kehidupan yang satu kepada agenda kehidupan yang lainnya, itulah yang paling utama. Bukan menjadi hal yang penting akan sedikitnya mukjizat besar yang terjadi di alam kehidupan Anda. Karena, mukjizat terbesar sudah direalisasikan bahwa Yesus Kristus telah mati bagi segala dosa dan pelanggaran Anda. Kita sudah ditebus oleh-Nya!

Dari Redaksi:

Tertarik untuk mendalami topik pengajaran mengenai Roh Kudus? Kami memiliki beberapa koleksi literatur yang bisa menjadi bahan pengajaran yang bisa menolong iman Anda bertumbuh makin dewasa, di antaranya:

  1. Lebih Dari Cukup: Keinginan untuk Menerima ”Lebih” Karunia Roh Kudus dibandingkan dengan Gagasan ”Cukup” Reformasi oleh H. Ten Brinke, J. W. Maris, dkk.
  2. Gift and Giver oleh Craig S. Keener.

Selamat bertumbuh bersama!

 

 

 

Bagikan:
Posted on Tinggalkan komentar

Menjadi Nabi Allah

”Sebelum Aku membentuk engkau dalam rahim ibumu, dan sebelum engkau lahir, Aku sudah memilih dan mengangkat engkau untuk menjadi nabi bagi bangsa-bangsa.” Yeremia 1:5.

Photo by Jeremy Bishop on Unsplash

Panggilan Yeremia sebagai nabi memperlihatkan beberapa hal mendasar. Pertama, Allahlah yang memanggil Yeremia. Yeremia tidak memanggil diri sendiri. Dia tidak mengajukan diri; juga tidak melamar pekerjaan. Allahlah yang berprakarsa. Allahlah yang melamarnya.

Kedua, panggilan Yeremia tanpa ”kualifikasi”. Kata kualifikasi perlu diberi tanda kutip karena kalaupun ada, Allahlah yang melengkapinya. Sekali lagi, bukan persyaratan yang diajukan Allah, melainkan pernyataan: Allah telah menetapkan Yeremia sebagai nabi jauh sebelum dia lahir. Kalau sebuah perusahaan biasanya mencari orang sesuai persyaratan yang telah ditetapkan, Allah membentuk manusia sesuai dengan karya yang telah ditetapkan Allah baginya.

Sehingga, sanggahan Yeremia—”Ah, Tuhan ALLAH! Sesungguhnya aku tidak pandai berbicara, sebab aku ini masih muda.” (Yer. 1:6)—menjadi sangat tidak relevan. Kelemahan Yeremia itu tak lagi menjadi soal karena Allah telah melengkapinya.

Panggilan Allah tidak berarti bahwa Allah sendirilah yang harus berbicara kepada kita. Allah bisa memanggil melalui orang lain—gereja atau lembaga lain. Dan panggilan Allah itu tak hanya sebatas kegiatan rohani!

Pekerjaan sekuler pun harus kita pandang sebagai panggilan khusus Allah. Ini tak hanya berlaku bagi orang yang bekerja formal atau kantoran. Ibu rumah tangga, juga pensiunan, merupakan panggilan Tuhan!

Photo by Caroline Attwood on Unsplash

Kalau kita meyakini bahwa pekerjaan kita pun merupakan jawaban atas panggilan Allah, tak perlulah kita bercemas hati atau mengeluh saat pekerjaan itu terasa berat. Sebab Tuhan telah memperlengkapi kita untuk menanggung semua beban tersebut. Jika demikian halnya, bertindak profesional menjadi hal lumrah.

Umat kepunyaan Allah dipanggil untuk melaksanakan apa yang dikehendaki Tuhan dalam pekerjaannya. Itu berarti kita juga dipanggil menerangi dan menggarami tempat kerja! Jika demikian halnya, setiap umat Allah dipanggil menjadi nabi Allah dalam pekerjaannya.

Dalam bukunya Desain Besar dari Allah, Vaughan Roberts menyatakan: ”Allah menciptakan kita untuk menjadi pekerja, dan ketika bekerja, kita membantu Dia merealisasikan maksud-maksud-Nya bagi dunia ini… Ia memilih untuk mengerjakan maksud-Nya bagi dunia ini melalui kita.”

Ya, kita semua adalah nabi-nabi Allah.

Selamat Bekerja,

Yoel M. Indrasmoro
Direktur Literatur Perkantas Nasional

Bagikan: