Diposting pada

Tentang Roh Kudus: Dipenuhi atau Dipimpin oleh Roh?

”Hiduplah di hadapan-Ku dengan tidak bercela” (Kej. 17:1).

Mengalami lawatan Allah menjadi topik sharing yang begitu laris. Apalagi jika yang mengalaminya adalah seorang figur publik. Topik ini bisa berkembang ke dalam beberapa kisah yang lebih khusus, seperti bebas dari jerat kecanduan narkoba, berpindah agama menjadi Kristen, sampai kepada hilangnya benjolan tumor dari rekam medis. Menjadi tahir. Hal ini menjadi target dari orang-orang yang sudah putus asa dengan penyembuhan jalur medis. Dirasa lebih manjur jika meminta kesembuhan kepada Tuhan sang Pencipta ketika jalur medis sudah tidak bisa memberikan harapan serupa. Roh Tuhan telah melawat dirinya. Pikirnya, kesembuhan dan perubahan luar biasa hanya bisa dialami dengan pribadi yang dipenuhi oleh Roh. Jika memang demikian, apa yang menentukan Roh bisa memenuhi satu orang pribadi namun enggan memenuhi pribadi lainnya? Lalu, mana yang lebih Alkitabiah, dipenuhi oleh Roh atau dipimpin oleh Roh?

Dalam Kisah Para Rasul 11:24, Lukas mencatat, ”Barnabas adalah orang baik, penuh dengan Roh Kudus dan iman. Kata dipenuhi sesungguhnya adalah sebuah kiasan. Roh bukanlah suatu cairan atau bahan-bahan lain yang sejenisnya yang digambarkan bisa memenuhi suatu bentuk wadah (tubuh manusia). Alkitab berbicara mengenai orang-orang yang penuh dengan Roh sepadan dengan maksud dipimpin oleh Roh; bahwa Roh Kudus mengarahkan dan menyatu dalam jiwa Anda. Cara lain untuk mengatakan ”dipenuhi” oleh Roh ialah ”hidup oleh Roh” (Gal. 5:16,25). Kemungkinan lain jika tidak dipenuhi (dipimpin) oleh Roh maka kemungkinan Iblis ”memenuhi” hati seseorang. Seperti yang dikatakan Petrus kepada Ananias, ”Mengapa hatimu dikuasai Iblis, sehingga engkau mendustai Roh Kudus” (Kis. 5:3).

Jadi, ketika Anda hadir di dalam ruang-ruang ibadah, apakah permintaan untuk Roh Kudus memenuhi hati dan menolong diri Anda untuk memuji Tuhan dengan sungguh hati menjadi relevan?Demikian juga dengan permohonan untuk kesembuhan penyakit? Atau apakah permintaan untuk Roh Kudus memimpin di dalam setiap agenda kerja, belajar, bertamu, berpacaran, yang intinya jauh dari konteks ibadah gereja menjadi kurang relevan? Anda mungkin berpikir, untuk apa Roh Kudus memimpin pribadi Anda di saat Anda sedang mengerjakan pembukuan di kertas kerja Excel atau Roh Kudus memimpin seorang penjual sate ketika membakar dan meracik daging sate. Rasa-rasanya Roh Kudus terlalu remeh untuk terlibat di dalam mengerjakan tugas-tugas pembukuan dan membakar sate.

Meminta Roh memimpin di dalam ibadah gereja sama pentingnya dengan memohon Roh memimpin seorang ibu di dalam mendidik anaknya. Allah menyatakan pimpinannya kepada Abraham bukan hanya di dalam konteks penyembahan di mezbah, namun di seluruh lingkup kehidupannya. ”Hiduplah di hadapan-Ku dengan tidak bercela” (Kej. 17:1).

Pekerjaan Roh Kudus tidak terjadi sebatas permohonan Anda untuk merasakan suatu pengalaman penyembahan yang dapat memukau perasaan sampai menguras air mata. Roh Kudus setia menjaga dan menghibur ketika air mata menjadi nuansa keseharian hidup Anda. Apakah itu karena pengkhianatan, sakit penyakit, bahkan penderitaan. Roh Kudus memenuhi atau memimpin bukan menjadi persoalan.

Bukan soal pengalaman sementara yang luar biasa, apalagi bisa berkata-kata dalam berbagai bahasa yang sukar dicerna. Apakah Anda sanggup tunduk di dalam ketaatan penuh untuk hidup di dalam kekudusan dari agenda kehidupan yang satu kepada agenda kehidupan yang lainnya, itulah yang paling utama. Bukan menjadi hal yang penting akan sedikitnya mukjizat besar yang terjadi di alam kehidupan Anda. Karena, mukjizat terbesar sudah direalisasikan bahwa Yesus Kristus telah mati bagi segala dosa dan pelanggaran Anda. Kita sudah ditebus oleh-Nya!

Dari Redaksi:

Tertarik untuk mendalami topik pengajaran mengenai Roh Kudus? Kami memiliki beberapa koleksi literatur yang bisa menjadi bahan pengajaran yang bisa menolong iman Anda bertumbuh makin dewasa, di antaranya:

  1. Lebih Dari Cukup: Keinginan untuk Menerima ”Lebih” Karunia Roh Kudus dibandingkan dengan Gagasan ”Cukup” Reformasi oleh H. Ten Brinke, J. W. Maris, dkk.
  2. Gift and Giver oleh Craig S. Keener.

Selamat bertumbuh bersama!

 

 

 

Please follow and like us:
Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *