Diposting pada

Terbitan Baru: “Buah Roh: Hakikat dan Penerapannya”

Let’s say, buku ini memang mengangkat tema serupa dari buku Becoming Like Jesus karya Christoper J. H. Wright yang diterbitkan dalam bahasa Indonesia terlebih dahulu oleh Perkantas Jawa Timur. Buah Roh memang menjadi tema yang selalu menarik untuk ditulis. Tema yang sederhana namun menjadi begitu berguna ketika dikerjakan dalam kehidupan nyata. Tema bisa sama namun gagasan dari penulis yang berbeda bisa membuat wawasan pembaca akan tema ini bisa semakin kaya. Istimewanya, karena ini ditulis oleh penulis lokal, diharapkan pembahasannya bisa lebih mesra dan mengena.

Buah Roh: Hakikat dan Penerapannya

 

Semula, naskah buku ini merupakan Seri Sisipan Santapan Harian yang diterbitkan oleh Scripture Union Indonesia (PPA). Kami merasa penting untuk menghimpunnya ke dalam satu buku supaya para pembaca Santapan Harian bisa membacanya lebih lengkap tanpa harus membuka beberapa seri dari Santapan Harian.

Hal lain, kiranya buku ini juga bisa menjadi teman berbicara bagi Anda para siswa, mahasiswa, juga alumni yang juga memiliki kerinduan untuk terus bertumbuh. Buku ini sengaja dibuat dalam ukuran compact. Sengaja, supaya kapan pun Anda membutuhkan asupan nutrisi menyehatkan, Anda bisa langsung merasakan kesegaran Buah Roh dari buku ini ketika berada di kereta atau di dalam bus menuju tempat kerja atau tempat usaha. Namun, jangan coba-coba membaca sambil berkendara ya, salah-salah Anda sendiri yang celaka.

Akhir kata, mari kita bertumbuh bersama!

Diposting pada

Tentang Roh Kudus: Dipenuhi atau Dipimpin oleh Roh?

”Hiduplah di hadapan-Ku dengan tidak bercela” (Kej. 17:1).

Mengalami lawatan Allah menjadi topik sharing yang begitu laris. Apalagi jika yang mengalaminya adalah seorang figur publik. Topik ini bisa berkembang ke dalam beberapa kisah yang lebih khusus, seperti bebas dari jerat kecanduan narkoba, berpindah agama menjadi Kristen, sampai kepada hilangnya benjolan tumor dari rekam medis. Menjadi tahir. Hal ini menjadi target dari orang-orang yang sudah putus asa dengan penyembuhan jalur medis. Dirasa lebih manjur jika meminta kesembuhan kepada Tuhan sang Pencipta ketika jalur medis sudah tidak bisa memberikan harapan serupa. Roh Tuhan telah melawat dirinya. Pikirnya, kesembuhan dan perubahan luar biasa hanya bisa dialami dengan pribadi yang dipenuhi oleh Roh. Jika memang demikian, apa yang menentukan Roh bisa memenuhi satu orang pribadi namun enggan memenuhi pribadi lainnya? Lalu, mana yang lebih Alkitabiah, dipenuhi oleh Roh atau dipimpin oleh Roh?

Dalam Kisah Para Rasul 11:24, Lukas mencatat, ”Barnabas adalah orang baik, penuh dengan Roh Kudus dan iman. Kata dipenuhi sesungguhnya adalah sebuah kiasan. Roh bukanlah suatu cairan atau bahan-bahan lain yang sejenisnya yang digambarkan bisa memenuhi suatu bentuk wadah (tubuh manusia). Alkitab berbicara mengenai orang-orang yang penuh dengan Roh sepadan dengan maksud dipimpin oleh Roh; bahwa Roh Kudus mengarahkan dan menyatu dalam jiwa Anda. Cara lain untuk mengatakan ”dipenuhi” oleh Roh ialah ”hidup oleh Roh” (Gal. 5:16,25). Kemungkinan lain jika tidak dipenuhi (dipimpin) oleh Roh maka kemungkinan Iblis ”memenuhi” hati seseorang. Seperti yang dikatakan Petrus kepada Ananias, ”Mengapa hatimu dikuasai Iblis, sehingga engkau mendustai Roh Kudus” (Kis. 5:3).

Jadi, ketika Anda hadir di dalam ruang-ruang ibadah, apakah permintaan untuk Roh Kudus memenuhi hati dan menolong diri Anda untuk memuji Tuhan dengan sungguh hati menjadi relevan?Demikian juga dengan permohonan untuk kesembuhan penyakit? Atau apakah permintaan untuk Roh Kudus memimpin di dalam setiap agenda kerja, belajar, bertamu, berpacaran, yang intinya jauh dari konteks ibadah gereja menjadi kurang relevan? Anda mungkin berpikir, untuk apa Roh Kudus memimpin pribadi Anda di saat Anda sedang mengerjakan pembukuan di kertas kerja Excel atau Roh Kudus memimpin seorang penjual sate ketika membakar dan meracik daging sate. Rasa-rasanya Roh Kudus terlalu remeh untuk terlibat di dalam mengerjakan tugas-tugas pembukuan dan membakar sate.

Meminta Roh memimpin di dalam ibadah gereja sama pentingnya dengan memohon Roh memimpin seorang ibu di dalam mendidik anaknya. Allah menyatakan pimpinannya kepada Abraham bukan hanya di dalam konteks penyembahan di mezbah, namun di seluruh lingkup kehidupannya. ”Hiduplah di hadapan-Ku dengan tidak bercela” (Kej. 17:1).

Pekerjaan Roh Kudus tidak terjadi sebatas permohonan Anda untuk merasakan suatu pengalaman penyembahan yang dapat memukau perasaan sampai menguras air mata. Roh Kudus setia menjaga dan menghibur ketika air mata menjadi nuansa keseharian hidup Anda. Apakah itu karena pengkhianatan, sakit penyakit, bahkan penderitaan. Roh Kudus memenuhi atau memimpin bukan menjadi persoalan.

Bukan soal pengalaman sementara yang luar biasa, apalagi bisa berkata-kata dalam berbagai bahasa yang sukar dicerna. Apakah Anda sanggup tunduk di dalam ketaatan penuh untuk hidup di dalam kekudusan dari agenda kehidupan yang satu kepada agenda kehidupan yang lainnya, itulah yang paling utama. Bukan menjadi hal yang penting akan sedikitnya mukjizat besar yang terjadi di alam kehidupan Anda. Karena, mukjizat terbesar sudah direalisasikan bahwa Yesus Kristus telah mati bagi segala dosa dan pelanggaran Anda. Kita sudah ditebus oleh-Nya!

Dari Redaksi:

Tertarik untuk mendalami topik pengajaran mengenai Roh Kudus? Kami memiliki beberapa koleksi literatur yang bisa menjadi bahan pengajaran yang bisa menolong iman Anda bertumbuh makin dewasa, di antaranya:

  1. Lebih Dari Cukup: Keinginan untuk Menerima ”Lebih” Karunia Roh Kudus dibandingkan dengan Gagasan ”Cukup” Reformasi oleh H. Ten Brinke, J. W. Maris, dkk.
  2. Gift and Giver oleh Craig S. Keener.

Selamat bertumbuh bersama!

 

 

 

Diposting pada

Devosi Keluarga

Tetapi jika kamu anggap tidak baik untuk beribadah kepada TUHAN, pilihlah pada hari ini kepada siapa kamu akan beribadah; allah yang kepadanya nenek moyangmu beribadah di seberang sungai Efrat, atau allah orang Amori yang negerinya kamu diami ini. Tetapi aku dan seisi rumahku, kami akan beribadah kepada Tuhan !”
(Yosua 24:15)

Pada umumnya dalam berbagai keadaan kita memulai hari dengan Firman dan doa. Ini adalah kebiasaan yang begitu baik. Namun, ada hal yang lebih indah. Jika Firman dan doa dilakukan bersama di dalam keluarga.

Keluarga yang beribadah, adalah satu kerinduan dari banyak rancangan suami dan istri di dalam memulai kehidupan berumah tangga. Rumah baru sudah didapat, mungkin saja baru mengontrak. Segala macam perabotan sudah menunjukkan rupa, walau banyak juga yang masih tertahan di toko menunggu untuk ditebus dengan segera. Keuangan sudah mulai diatur bersama walau tidak banyak harta yang tersisa. Semua terlihat berjalan sesuai rencana, rumah tangga mulai memperlihatkan aktivitasnya. Namun, membangun devosi keluarga masih saja menjadi pekerjaan rumah yang tak kunjung beres.

Kita membayangkan devosi keluarga sebagai persekutuan kecil yang indah. Di dalamnya terkandung doa, pujian, dan firman Tuhan. Devosi keluarga diharapkan menjadi waktu berharga yang ditetapkan setiap hari di mana tiap pribadi  akan berkumpul sebagai sebuah keluarga untuk menikmati Tuhan bersama-sama. Setiap anggota berkumpul di ruang tamu, bersama menyanyikan pujian, menyelami keindahan firman Tuhan, terlarut ke dalam percakapan yang menguatkan, lalu ditutup dengan doa bersama. Lebih beruntung jika salah satu pasangan bisa menyanyikan mazmur atau himne dengan suara yang merdu. Segalanya terdengar begitu indah dan sempurna.

Photo by Josh Willink from Pexels

Namun, kenyataannya begitu berbeda.

Kehidupan awal pernikahan menjadi waktu yang sempurna untuk memulainya. Keceriaan dan kebahagiaan masih menjadi warna yang dominan dalam keseharian. Sehari-dua hari dijalani tanpa hambatan berarti. Devosi bersama istri begitu dinanti oleh suami. Begitu juga sebaliknya. Namun, tak lama waktu berselang ketika kesibukan semakin menumpuk, devosi keluarga menjadi tak terurus. Apalagi ketika anak hadir dan mengubah total ritme kehidupan. Devosi keluarga semakin ditinggalkan.

Devosi keluarga, seperti banyak disiplin rohani lainnya memerlukan ketekunan dan kepatuhan untuk setia mengerjakan. Sesuatu yang begitu sederhana, namun begitu banyak orang menganggapnya begitu sulit. Kita sendiri yang membuat kesederhanaan devosi keluarga jauh lebih rumit daripada yang seharusnya. Tidak ada cara terbaik untuk mengukur keberhasilan devosi keluarga kecuali dengan pertanyaan sederhana ini: Apakah kita melakukannya?

Photo by freestocks.org from Pexels

Kita harus melihat ketekunan membangun devosi keluarga adalah pekerjaan membangun jangka panjang. Hari demi hari yang begitu sibuk dan padat, terasa begitu sulit untuk menyediakan waktu untuk berdoa bersama. Kita sering melihat devosi keluarga sebagai kegiatan yang menyita waktu.

Namun, untuk sanggup cinta kita musti memaksa lebih sering berjumpa dengan Dia sang pencipta. Jika kita mengusahakannya dengan tekun, maka ratusan kesempatan yang tersebar secara acak selama belasan atau bahkan puluhan tahun berkeluarga kita akan takjub melihat karya Allah di dalam hati kita sebagai orang tua juga kepada kehidupan anak-anak. Bagian kita adalah terus tekun dan berkeyakinan bawa Allah terus bekerja melalui komitmen yang kita perjuangkan untuk tradisi yang sederhana namun luar biasa: Devosi Keluarga.

Dari Redaksi:
Jika sahabat rindu untuk lebih dalam mempelengkapi kebutuhan rohani keluarga, berikut beberapa buku yang bisa menjadi referensi bagi sahabat:
1. “Bijak Menjadi Orang Tua” ditulis oleh Paul Tripp. Buku ini berisikan 14 prinsip dasar pengasuhan yang berpusatkan Injil.
2. “Anakku Karunia Tuhan” ditulis oleh Daniel Puspo Wardojo. Buku ini memuat kisah-kisah yang menyentuh di dalam belajar bersama di dalam mengasuh anak di dalam kesadaran bahwa anak adalah karunia Tuhan.
3. “Growing Together: Membangun dan Memperkaya Keluarga dalam Tuhan”. Bahan PA ini menolong para orang tua untuk merefleksikan kehidupan keluarga di dalam perenungan akan firman Allah.

Sahabat, kami rindu kita bisa terus bertumbuh bersama di dalam kedewasaan sebagai orang tua melalui koleksi-koleksi literatur yang kami miliki. Kiranya kita bisa mengalami keindahan ini: Keindahan keluarga dialami ketika setiap anggota di dalam keluarga saling mengasihi bukan menuntut untuk dikasihi; memberi, bukan diberi; melayani bukan dilayani.

Salam kasih,

Literatur Perkantas Nasional.