Posted on Tinggalkan komentar

Inspirasi Jumat Siang: Persepsi tentang Hubungan Kita dengan Allah

A. W. Tozer menantang orang Kristen dan para teolog pada zamannya untuk kembali kepada spiritualitas yang mempertuhankan Kristus. Di tengah bangkitnya semangat teologi modern, Tozer menyerukan bahwa tujuan berteologi bukan hanya untuk memuaskan pikiran melalui perdebatan teologis, tetapi teologi harus membawa seseorang makin mengasihi Yesus.

Tozer dengan jelas meringkas hubungan kita dengan Allah dalam tiga kata, yakni sentralistis, mendasar, dan utama. Kristus adalah sentral Gereja-Nya. Ia mempersatukannya dan di dalam Dia gereja terpancar. Kristus juga merupakan dasar gereja. Ia ada di bawahnya, dan seluruh umat tebusannya bertumpu hanya kepada Dia. Di dalam Kristus kita tidak perlu menambahkan sesuatu, sebab Allah menyatakan bahwa Putra-Nya—Yesus Kristus—cukup. Dia adalah jalan, kebenaran, dan hidup; Dia adalah hikmat, kebenaran, pengudusan, dan penebusan. Dia adalah hikmat dan kekuatan Allah yang menghimpun segala sesuatu, sehingga Kristus adalah yang utama—diutamakan—dan ditempatkan di atas segala-galanya. Kita berkomitmen hanya kepada Yesus Kristus, satu-satunya Tuhan kita. Kita harus percaya kepada Kristus yang adalah Allah; kita harus percaya pada apa yang Allah katakan tentang Dia.

Orang Kristen adalah orang yang telah disalibkan, namun hidup, dan dipersatukan dengan Yesus Kristus. Seorang pengikut Kristus yang sejati adalah orang-orang yang kehendaknya telah dikuduskan—bukan orang-orang tanpa kehendak. Allah menyatukan kehendak kita dengan kehendak-Nya, dan kehendak kita jadi bertambah kuat; serta kehendak-Nya akan menyatukan kita dengan Allah. Keterikatan kita kepada pribadi Kristus harus menyingkirkan segala sesuatu yang bertentangan dengan Kristus. Orang tidak dapat mengasihi Allah sebelum ia membenci dosa dan ketidakbenaran. Inilah tanda kita bersatu dengan Kristus dan mengenali Dia.

Betapa indahnya berkata, ”Aku disalibkan dengan Kristus” dan tahu bahwa Kristus memiliki rencana atas hidup kita. Tozer menutup bagian ini dengan menyatakan, ”Kita dapat mengurangi waktu untuk berdebat dan berdiskusi, jika kita mengambil waktu lebih banyak untuk menantikan Allah.”

Ririn Sihotang

Literatur Perkantas Nasional

Posted on Tinggalkan komentar

Inspirasi Jumat Siang: Mengapa Ada Presepsi yang Salah tentang Allah?

Presepsi kita tentang Allah begitu penting sehingga kita harus memastikan bahwa presepsi itu betul-betul berakar dan beralaskan firman Allah. Sebagai manusia, sangat mudah bagi kita untuk teralihkan dan mencoba membarui firman Allah. Terkadang kita bersalah mengubah rencana Allah untuk beberapa alasan, kita mengira kita lebih baik dari Allah.

Dalam buku Mengasihi yang Mahakudus, AW Tozer mengemukakan beberapa kesalahan yang sering kita lakukan sehingga menyebabkan persepsi yang salah tentang Allah:

Mengasumsikan bahwa hal yang ada di Alkitab itu ada juga di dalam diri kita. Kita dapat memahami apa yang Alkitab katakan, namun kita tidak dapat menganggap bahwa kita memiliki semua itu karena Alkitab mengatakannya. Kita harus sampai pada titik mengalami secara pribadi setiap hal yang diajarkan kepada kita dalam Alkitab. Memahami Alkitab itu penting sebagai langkah pertama, namun setelah itu kita harus bertekun, gigih, sampai kesempurnaan; yaitu mengalami hal yang Allah kehendaki kita alami dalam Tuhan Yesus oleh kuasa Roh Kudus.

Kemalasan Rohani. Kita dapat berolahraga untuk mengimbangi kemalasan fisik, tetapi hampir tidak mungkin kita melakukan latihan intelektual. Gereja cenderung memberikan ”makanan rohani biasa” bagi umatnya. Pendeta tak berani melanjutkan ke tataran teologi yang lebih tinggi karena takut umat tidak bisa mengikutinya. Memang sulit mengajak orang berpikir, namun lebih sulit lagi mendapati mereka haus. Untuk membuat orang haus secara rohani, hanya Roh Kuduslah yang dapat melakukannya.

Cinta kita terhadap dunia. Kita menerima standar yang berlaku umum di dunia sebagai hal yang ”normal”. Misalnya seperti anak bayi yang lahir di sebuah sanatorium untuk pasien TBC. Anak tersebut lahir, tinggal, tumbuh, dan menerima situasi di sana sebagai hal yang normal—ia tak tahu apa-apa. Setiap orang batuk, memegang dadanya, membawa tempat untuk meludah, dan menjalani diet khusus. Jika kita dibesarkan dalam lingkungan seperti itu, kita berpikir itu hal yang normal, dan kita menyesuaikan seluruh hidup kita dengan hal normal tersebut. Jika kita terbiasa dengan standar dunia, kita bersebrangan dengan standar Firman. Segalanya tampak normal dan tidak ada yang menduga bahwa ada yang sesuatu harus dipegang teguh berkenaan dengan kehidupan Kristen.

Keinginan kita secara umum untuk dihibur dalam hal apa pun. Kita dianjurkan pergi ke gereja untuk menemukan kedamaian dan penghiburan, namun gereja bukanlah tempat untuk mendapat penghiburan, gereja adalah tempat untuk mendengar Injil diberitakan sehingga kita memperoleh keselamatan. Ada perbedaan yang besar antara dihibur dan diselamatkan. Seseorang dapat memperoleh penghiburan dan berakhir di neraka, sedangkan seorang lain berada di bawah kritikan tajam, yang memintanya untuk berubah, bertobat, dan pada akhirnya pergi ke surga.

Keengganan untuk mematikan keinginan daging. Ada dua tipe orang dalam kehidupan kekristenan, yang puas dan yang lapar. Orang yang puas menganggap perintah untuk dipenuhi Roh Kudus adalah hal yang bersifat ideal saja, namun tidak untuk dituruti. Sedangkan orang yang lapar adalah orang yang dengan semangat—tetap setia dan taat—menjalankan disiplin rohani untuk mencapai kesempurnaan dalam Kristus.

Dari penjelasan kelima hal di atas, muncul pertanyaan untuk kita renungkan dan jawab. Apakah kita sudah merasa cukup puas dengan diri kita saat ini, atau kita masih merasa lapar? Jawaban atas pertanyaan tersebut serta tindak lanjutnya, akan sangat menentukan persepsi kita tentang Allah. Jika kita masih merasa lapar untuk melakukan sesuatu, kita akan mendaki gunung Allah. Namun, jika kita cukup puas, kita akan tetap sama menjadi orang yang biasa-biasa saja—lesu seperti sekarang. Jadi, ini hanya soal seberapa rindu kita untuk mengenal Allah.

Rycko I.

Literatur Perkantas Nasional

 

 

 

 

 

 

Posted on Tinggalkan komentar

Mengenal Allah dan Firman-Nya

Apa yang Anda lakukan ketika melihat seorang anak yang sedang sakit demam makan es krim? Bagaimana respons Anda ketika tersesat, dan tidak ada yang memberitahukan petunjuk jalan yang benar? Dalam Yakobus 4:17 tertulis,  ”Jadi jika seorang tahu bagaimana ia harus berbuat baik, tetapi ia tidak melakukannya, ia berdosa.”

Dalam peristiwa sehari-hari, seorang dokter yang baik akan memberitahu kondisi yang salah kepada pasiennya dan memberi resep obat agar kondisi pasien membaik. Entah sebagai dokter atau profesi lain, sebaiknya kita juga membimbing orang lain dari jalan yang salah menuju jalan yang benar. Kita bisa memulainya dengan menunjukkan kesalahan seseorang dengan lembut, dan mengarahkannya kepada Yesus. Ini merupakan tugas kita sebagai anggota tubuh Kristus, karena satu bagian tubuh yang sakit memengaruhi seluruh tubuh.

Tozer dalam buku Mengasihi Yang Mahakudus menolong para pembaca untuk memulihkan persepsi mereka tentang Allah. Pada masa kini ada banyak khotbah mengenai cara menjadi orang yang baik dan pandai bergaul. Namun, pengajaran akan kesempurnaan, karakter dan sifat Allah terasa sangat kurang. Akibatnya, kerinduan akan Allah pun memudar.

Orang percaya sewajarnya berfokus pada kesempurnaan Allah, berjuang untuk mengenal Allah melalui firman-Nya dan mengikuti-Nya, bukan pada hal-hal remeh lainnya. Melalui buku ini, Tozer berharap akan ada kebangkitan kobaran api Roh Kudus dan kemuliaan Allah makin dinyatakan dalam diri orang beriman.

Sang Pencipta tak dapat disamakan dengan ciptaan (Yes. 40:25). Pengetahuan manusia sangat terbatas, sedangkan Allah tak terbatas. Jadi, kita tak mungkin mengerti semua tentang Allah, melainkan hanya segelintir saja. Sering kali kita menilai Allah berdasarkan pemikiran kita yang sarat keterbatasan. Allah yang mengasihi, kita definisikan tidak membenci, padahal Dia membenci dosa. Allah itu kekal, sifat-sifat-Nya tak terpisahkan karena merupakan satu kesatuan, bukan bagian-bagian.

Kesempurnaan Allah bersifat tetap, tidak berdasarkan perubahan perasaan kita. Yesus adalah satu-satunya jalan menuju kesempurnaan (Yoh. 14:6). Jika kita rindu mengenal Allah, kita harus menerima Kristus sebagai Tuhan dan Juru Selamat secara pribadi. Ada harga yang harus dibayar untuk bertumbuh, semua akan menjadi begitu berbeda saat kita berjumpa dengan Allah di gunung kudus-Nya. Kedahsyatan dan kemuliaan-Nya memampukan kita untuk bertumbuh.

Allah melampaui segala definisi dan ilustrasi. Semakin kita memahami keagungan dan kesempurnaan Allah, semakin kita kagum dan hormat akan Sang Khalik. Ibadah kita bertumbuh sejalan dengan bertumbuhnya pengenalan dan persepsi kita tentang Allah.

Kiranya kita terus rindu untuk mengenal Sang Pencipta, melihat kemuliaan Allah dan merenungkan keajaiban firman-Nya dalam setiap aspek hidup kita.

Priskila Dewi S.

Literatur Perkantas Nasional

 

Posted on Tinggalkan komentar

Persepsi yang Salah tentang Allah

Ada rasa syukur yang luar biasa saat saya membaca buku A. W. Tozer, Mengasihi Yang Mahakudus. Ya, mempelajari serta menggumuli kembali satu hal yang penting dan terutama dalam kehidupan rohani kita, Allah Yang Mahakudus. Secara mendetail dalam bab keempatnya, Tozer mengungkapkan kerinduannya—bagi saya, bagi kita, dan bagi Gereja masa kini—tentang bagaimana kembali masuk ke hadirat Sang Mahakudus.

Tozer merasa cemas melihat kondisi Gereja akhir-akhir ini, yakni semakin hilangnya persepsi yang tepat tentang Allah. Bahkan, Tozer menyoroti salah satu gereja dalam Kitab Wahyu yang pernah disebut sebagai gereja yang suam-suam kuku—tidak dingin atau panas—yang berarti mereka memulai dengan baik, dengan tujuan yang baik, berjalan di jalan yang baik. Namun di suatu tempat di tengah jalan, kasih mereka kepada Allah menjadi hambar.

Tozer juga memberikan contoh tentang kebangunan rohani jemaat di suatu negara kecil Wales pada 1904, di bawah kepemimpinan Evan Roberts. Suatu kali pada minggu pagi, pendeta tidak berkhotbah sama sekali karena Allah bekerja sedemikian rupa. Mereka hanya duduk terpesona dalam kekaguman akan kehadiran Allah sambil menyanyikan lagu-lagu pujian dari Kitab Mazmur—Roh Kudus menggerakkan umat. Persepsi orang tentang Allah kala itu menjadi tinggi dan mulia, sehingga orang dapat betul-betul yakin akan Allah.

Dalam ibadah kebangunan rohani pada masa lalu, orang menjadi tidak sadar akan waktu dan hanya menyadari kehadiran Allah yang berkarya dalam hidup mereka. Namun, Tozer melihat pada masa kini yang orang sadari dalam gereja-gereja kita adalah semangat hiburan dan kesenangan semata, serta menunggu ”Kapan acara ini selesai sehingga saya dapat kembali ke dunia nyata?”

Tozer tentu tidak serta-merta menggunakan kacamata kuda. Ia menyadari betul bahwa zaman memang telah berubah, kita tidak lagi segan dan hormat kepada Allah, dan tidak lagi mengalami rasa takut yang kudus kepada-Nya. Menurutnya, fokus pemberitaan Firman masa kini juga telah bergeser karena lebih mementingkan sifat hiburan agar jemaat senantiasa mau hadir.

Tozer menilai, merosotnya situasi kerohanian Gereja yang tragis dan mencemaskan ini sebagai akibat dari kita melupakan sifat Allah kita. Khotbah kita seharusnya mengutamakan firman Allah di atas segalanya—bahkan di atas tren dan budaya— karena persepsi kita tentang Allah menentukan persepsi kita tentang ibadah. Selain itu, hal mendasar yang hilang dari kita pada masa kini adalah ”visi dari tempat tinggi”.

Mari kita mengingat dan merenungkan kembali bahwa kekristenan adalah tentang menyembah Allah, memuliakan Allah, dan bersukacita atas sifat Allah yang sungguh mengagumkan. Semua hal tentang kekristenan berpusat kepada Allah. Dan sebagai Gereja-Nya, mari kita terus rindu memberitakan Allah, berdoa kepada Allah, serta dengan bangga dan penuh sukacita, mendeklarasikan Allah di antara bangsa-bangsa.

Febriana D.H.

Literatur Perkantas Nasional

Posted on Tinggalkan komentar

Pentingnya Evaluasi Diri

Bagaimana persepsi kita tentang Allah? Pertanyaan yang sulit dijawab kalau kita sendiri belum sungguh mengenal-Nya. Pengenalan akan Allah memampukan kita untuk membangun kehidupan pribadi yang lebih baik, juga ibadah kita, yang bermuara pada pelayanan gereja. Perkembangan Gereja sekarang ini tak lepas dari pengenalan akan Allah dan kehendak-Nya bagi umat-Nya.

Dalam buku Mengasihi Yang Mahakudus, A.W. Tozer menulis: ”Jika kita ingin mengetahui di mana kita berada dan ke mana kita pergi, kita perlu mengetahui bagaimana kita akan ke sana serta situasi rohani seperti apa yang sedang kita hadapi. Kita akan menilai diri kita sendiri dengan mempertimbangkan apa yang kita peroleh dan apa yang telah hilang dari kita.” Kalau kita mengenal Allah dengan baik, tentu kita tahu rencana Allah buat kita. Dan karena itu, perlu bagi kita untuk mengevaluasi kembali apa yang belum atau harus kita lakukan.

A.W. Tozer, dalam buku tersebut, juga menjelaskan kemajuan-kemajuan yang dicapai Gereja. Di antaranya: meningkatnya semangat keagamaan, pertumbuhan Gereja, lembaga pelayanan atau sekolah yang dimiliki Gereja, serta masih banyak lagi.

Apa yang diperoleh Gereja saat ini tentu tidak lepas dari proses evaluasi yang dilakukan secara rutin. Segala sesuatu memang perlu dievaluasi. Baik dan buruknya perlu dicatat supaya kita tetap berjalan menuju arah yang benar. Jika memang ada masalah, perlu dikoreksi untuk membawa kita kembali ke tempat seharusnya kita berada.

Allah telah membuat rancangan buat kita dan juga buat Gereja. Kita perlu mengevaluasi di mana kita sekarang? Apakah yang kita lakukan sekarang memang sesuai rancangan Allah. Kita perlu, dan siap, mengevaluasi diri agar tetap berada di jalan yang telah direncanakan Allah bagi kita.

Nah, di mana kita sekarang?

Heru Santoso
Literatur Perkantas Nasional

Posted on Tinggalkan komentar

Bertindak sebagai Penyembah

Tak kenal maka tak sayang. Ungkapan ini sering diucapkan orang yang hendak memulai acara perkenalan. Perkenalan yang cukup dengan seseorang memungkinkan kita mengasihi orang tersebut. Di dalam perkenalan perlu ada keterbukaan. Semakin dalam orang itu membuka dirinya, semakin dalam juga kita mengenalnya. Kita jadi mengenal siapa dia sesungguhnya. Kita tahu karakternya, kita tahu apa yang disukai atau tidak disukainya. Dengan demikian, tidak ada spekulasi.

Photo by Scott Broome on Unsplash

Jika dengan manusia saja kita perlu perkenalan yang cukup, apalagi jika kita ingin mengenal Allah? Dalam bukunya Mengasihi Yang Mahakudus, A. W. Tozer menulis: ”Untuk membicarakan tentang Allah membutuhkan kapasitas yang melebihi kemampuan manusia.” Jelas Allah adalah Pencipta dan kita ciptaan. Dia tiada batas, kita terbatas. Allah kekal, manusia fana.

Masih dalam bukunya, Tozer juga menulis: ”Ada banyak logika dan pertimbangan mengenai Allah, namun tidak cukup kita berhenti di situ. Jika yang kita miliki semata-mata logika dan pertimbangan sehat, maka kita tidak akan pernah bisa menembus Awan Ketidaktahuan yang menghalangi manusia untuk benar-benar mengenal Allah.” Menurut Tozer, satu-satuya cara untuk dapat mengenal Allah adalah dengan bertindak sebagai penyembah.

Ya, sebagai penyembah. Dengan bertindak sebagai penyembah, kita memosisikan diri kita dengan benar. Dengan bertindak sebagai penyembah, kita menyadari siapa diri kita di hadapan Allah. Kita menyadari bahwa Allah itu besar dan terlampau besar untuk dapat kita pahami. Kita hanya mungkin mengenal-Nya sejauh Ia menyatakan diri-Nya kepada kita.

Bukan tanpa tujuan Allah menciptakan kita, Allah menciptakan kita untuk diri-Nya. Tozer juga mengutip Agustinus: ”Engkau menciptakan kami untuk diri-Mu, ya Tuhan, dan jiwa kami gelisah hingga menemukan peristirahatan di dalam Engkau.” Itu artinya, tidak ada yang bisa memberikan ketenangan kepada kita selain Allah, meskipun seluruh dunia kita miliki.

Oleh karena itu, mengenal Allah merupakan keniscayaan bagi kita manusia. Mengenal Allah membuat kita mengenal siapa diri kita di hadapan Allah. Mengenal Allah membuat kita mengetahui apa yang menjadi tujuan hidup kita. Dan mengenal Allah hanya dapat dilakukan dengan bertindak sebagai penyembah.

Citra Dewi
Literatur Perkantas Nasional

Posted on Tinggalkan komentar

Terbitan Baru: “Buah Roh: Hakikat dan Penerapannya”

Let’s say, buku ini memang mengangkat tema serupa dari buku Becoming Like Jesus karya Christoper J. H. Wright yang diterbitkan dalam bahasa Indonesia terlebih dahulu oleh Perkantas Jawa Timur. Buah Roh memang menjadi tema yang selalu menarik untuk ditulis. Tema yang sederhana namun menjadi begitu berguna ketika dikerjakan dalam kehidupan nyata. Tema bisa sama namun gagasan dari penulis yang berbeda bisa membuat wawasan pembaca akan tema ini bisa semakin kaya. Istimewanya, karena ini ditulis oleh penulis lokal, diharapkan pembahasannya bisa lebih mesra dan mengena.

Buah Roh: Hakikat dan Penerapannya

 

Semula, naskah buku ini merupakan Seri Sisipan Santapan Harian yang diterbitkan oleh Scripture Union Indonesia (PPA). Kami merasa penting untuk menghimpunnya ke dalam satu buku supaya para pembaca Santapan Harian bisa membacanya lebih lengkap tanpa harus membuka beberapa seri dari Santapan Harian.

Hal lain, kiranya buku ini juga bisa menjadi teman berbicara bagi Anda para siswa, mahasiswa, juga alumni yang juga memiliki kerinduan untuk terus bertumbuh. Buku ini sengaja dibuat dalam ukuran compact. Sengaja, supaya kapan pun Anda membutuhkan asupan nutrisi menyehatkan, Anda bisa langsung merasakan kesegaran Buah Roh dari buku ini ketika berada di kereta atau di dalam bus menuju tempat kerja atau tempat usaha. Namun, jangan coba-coba membaca sambil berkendara ya, salah-salah Anda sendiri yang celaka.

Akhir kata, mari kita bertumbuh bersama!

Posted on Tinggalkan komentar

Tentang Roh Kudus: Dipenuhi atau Dipimpin oleh Roh?

”Hiduplah di hadapan-Ku dengan tidak bercela” (Kej. 17:1).

Mengalami lawatan Allah menjadi topik sharing yang begitu laris. Apalagi jika yang mengalaminya adalah seorang figur publik. Topik ini bisa berkembang ke dalam beberapa kisah yang lebih khusus, seperti bebas dari jerat kecanduan narkoba, berpindah agama menjadi Kristen, sampai kepada hilangnya benjolan tumor dari rekam medis. Menjadi tahir. Hal ini menjadi target dari orang-orang yang sudah putus asa dengan penyembuhan jalur medis. Dirasa lebih manjur jika meminta kesembuhan kepada Tuhan sang Pencipta ketika jalur medis sudah tidak bisa memberikan harapan serupa. Roh Tuhan telah melawat dirinya. Pikirnya, kesembuhan dan perubahan luar biasa hanya bisa dialami dengan pribadi yang dipenuhi oleh Roh. Jika memang demikian, apa yang menentukan Roh bisa memenuhi satu orang pribadi namun enggan memenuhi pribadi lainnya? Lalu, mana yang lebih Alkitabiah, dipenuhi oleh Roh atau dipimpin oleh Roh?

Dalam Kisah Para Rasul 11:24, Lukas mencatat, ”Barnabas adalah orang baik, penuh dengan Roh Kudus dan iman. Kata dipenuhi sesungguhnya adalah sebuah kiasan. Roh bukanlah suatu cairan atau bahan-bahan lain yang sejenisnya yang digambarkan bisa memenuhi suatu bentuk wadah (tubuh manusia). Alkitab berbicara mengenai orang-orang yang penuh dengan Roh sepadan dengan maksud dipimpin oleh Roh; bahwa Roh Kudus mengarahkan dan menyatu dalam jiwa Anda. Cara lain untuk mengatakan ”dipenuhi” oleh Roh ialah ”hidup oleh Roh” (Gal. 5:16,25). Kemungkinan lain jika tidak dipenuhi (dipimpin) oleh Roh maka kemungkinan Iblis ”memenuhi” hati seseorang. Seperti yang dikatakan Petrus kepada Ananias, ”Mengapa hatimu dikuasai Iblis, sehingga engkau mendustai Roh Kudus” (Kis. 5:3).

Jadi, ketika Anda hadir di dalam ruang-ruang ibadah, apakah permintaan untuk Roh Kudus memenuhi hati dan menolong diri Anda untuk memuji Tuhan dengan sungguh hati menjadi relevan?Demikian juga dengan permohonan untuk kesembuhan penyakit? Atau apakah permintaan untuk Roh Kudus memimpin di dalam setiap agenda kerja, belajar, bertamu, berpacaran, yang intinya jauh dari konteks ibadah gereja menjadi kurang relevan? Anda mungkin berpikir, untuk apa Roh Kudus memimpin pribadi Anda di saat Anda sedang mengerjakan pembukuan di kertas kerja Excel atau Roh Kudus memimpin seorang penjual sate ketika membakar dan meracik daging sate. Rasa-rasanya Roh Kudus terlalu remeh untuk terlibat di dalam mengerjakan tugas-tugas pembukuan dan membakar sate.

Meminta Roh memimpin di dalam ibadah gereja sama pentingnya dengan memohon Roh memimpin seorang ibu di dalam mendidik anaknya. Allah menyatakan pimpinannya kepada Abraham bukan hanya di dalam konteks penyembahan di mezbah, namun di seluruh lingkup kehidupannya. ”Hiduplah di hadapan-Ku dengan tidak bercela” (Kej. 17:1).

Pekerjaan Roh Kudus tidak terjadi sebatas permohonan Anda untuk merasakan suatu pengalaman penyembahan yang dapat memukau perasaan sampai menguras air mata. Roh Kudus setia menjaga dan menghibur ketika air mata menjadi nuansa keseharian hidup Anda. Apakah itu karena pengkhianatan, sakit penyakit, bahkan penderitaan. Roh Kudus memenuhi atau memimpin bukan menjadi persoalan.

Bukan soal pengalaman sementara yang luar biasa, apalagi bisa berkata-kata dalam berbagai bahasa yang sukar dicerna. Apakah Anda sanggup tunduk di dalam ketaatan penuh untuk hidup di dalam kekudusan dari agenda kehidupan yang satu kepada agenda kehidupan yang lainnya, itulah yang paling utama. Bukan menjadi hal yang penting akan sedikitnya mukjizat besar yang terjadi di alam kehidupan Anda. Karena, mukjizat terbesar sudah direalisasikan bahwa Yesus Kristus telah mati bagi segala dosa dan pelanggaran Anda. Kita sudah ditebus oleh-Nya!

Dari Redaksi:

Tertarik untuk mendalami topik pengajaran mengenai Roh Kudus? Kami memiliki beberapa koleksi literatur yang bisa menjadi bahan pengajaran yang bisa menolong iman Anda bertumbuh makin dewasa, di antaranya:

  1. Lebih Dari Cukup: Keinginan untuk Menerima ”Lebih” Karunia Roh Kudus dibandingkan dengan Gagasan ”Cukup” Reformasi oleh H. Ten Brinke, J. W. Maris, dkk.
  2. Gift and Giver oleh Craig S. Keener.

Selamat bertumbuh bersama!

 

 

 

Posted on Tinggalkan komentar

Devosi Keluarga

Tetapi jika kamu anggap tidak baik untuk beribadah kepada TUHAN, pilihlah pada hari ini kepada siapa kamu akan beribadah; allah yang kepadanya nenek moyangmu beribadah di seberang sungai Efrat, atau allah orang Amori yang negerinya kamu diami ini. Tetapi aku dan seisi rumahku, kami akan beribadah kepada Tuhan !”
(Yosua 24:15)

Pada umumnya dalam berbagai keadaan kita memulai hari dengan Firman dan doa. Ini adalah kebiasaan yang begitu baik. Namun, ada hal yang lebih indah. Jika Firman dan doa dilakukan bersama di dalam keluarga.

Keluarga yang beribadah, adalah satu kerinduan dari banyak rancangan suami dan istri di dalam memulai kehidupan berumah tangga. Rumah baru sudah didapat, mungkin saja baru mengontrak. Segala macam perabotan sudah menunjukkan rupa, walau banyak juga yang masih tertahan di toko menunggu untuk ditebus dengan segera. Keuangan sudah mulai diatur bersama walau tidak banyak harta yang tersisa. Semua terlihat berjalan sesuai rencana, rumah tangga mulai memperlihatkan aktivitasnya. Namun, membangun devosi keluarga masih saja menjadi pekerjaan rumah yang tak kunjung beres.

Kita membayangkan devosi keluarga sebagai persekutuan kecil yang indah. Di dalamnya terkandung doa, pujian, dan firman Tuhan. Devosi keluarga diharapkan menjadi waktu berharga yang ditetapkan setiap hari di mana tiap pribadi  akan berkumpul sebagai sebuah keluarga untuk menikmati Tuhan bersama-sama. Setiap anggota berkumpul di ruang tamu, bersama menyanyikan pujian, menyelami keindahan firman Tuhan, terlarut ke dalam percakapan yang menguatkan, lalu ditutup dengan doa bersama. Lebih beruntung jika salah satu pasangan bisa menyanyikan mazmur atau himne dengan suara yang merdu. Segalanya terdengar begitu indah dan sempurna.

Photo by Josh Willink from Pexels

Namun, kenyataannya begitu berbeda.

Kehidupan awal pernikahan menjadi waktu yang sempurna untuk memulainya. Keceriaan dan kebahagiaan masih menjadi warna yang dominan dalam keseharian. Sehari-dua hari dijalani tanpa hambatan berarti. Devosi bersama istri begitu dinanti oleh suami. Begitu juga sebaliknya. Namun, tak lama waktu berselang ketika kesibukan semakin menumpuk, devosi keluarga menjadi tak terurus. Apalagi ketika anak hadir dan mengubah total ritme kehidupan. Devosi keluarga semakin ditinggalkan.

Devosi keluarga, seperti banyak disiplin rohani lainnya memerlukan ketekunan dan kepatuhan untuk setia mengerjakan. Sesuatu yang begitu sederhana, namun begitu banyak orang menganggapnya begitu sulit. Kita sendiri yang membuat kesederhanaan devosi keluarga jauh lebih rumit daripada yang seharusnya. Tidak ada cara terbaik untuk mengukur keberhasilan devosi keluarga kecuali dengan pertanyaan sederhana ini: Apakah kita melakukannya?

Photo by freestocks.org from Pexels

Kita harus melihat ketekunan membangun devosi keluarga adalah pekerjaan membangun jangka panjang. Hari demi hari yang begitu sibuk dan padat, terasa begitu sulit untuk menyediakan waktu untuk berdoa bersama. Kita sering melihat devosi keluarga sebagai kegiatan yang menyita waktu.

Namun, untuk sanggup cinta kita musti memaksa lebih sering berjumpa dengan Dia sang pencipta. Jika kita mengusahakannya dengan tekun, maka ratusan kesempatan yang tersebar secara acak selama belasan atau bahkan puluhan tahun berkeluarga kita akan takjub melihat karya Allah di dalam hati kita sebagai orang tua juga kepada kehidupan anak-anak. Bagian kita adalah terus tekun dan berkeyakinan bawa Allah terus bekerja melalui komitmen yang kita perjuangkan untuk tradisi yang sederhana namun luar biasa: Devosi Keluarga.

Dari Redaksi:
Jika sahabat rindu untuk lebih dalam mempelengkapi kebutuhan rohani keluarga, berikut beberapa buku yang bisa menjadi referensi bagi sahabat:
1. “Bijak Menjadi Orang Tua” ditulis oleh Paul Tripp. Buku ini berisikan 14 prinsip dasar pengasuhan yang berpusatkan Injil.
2. “Anakku Karunia Tuhan” ditulis oleh Daniel Puspo Wardojo. Buku ini memuat kisah-kisah yang menyentuh di dalam belajar bersama di dalam mengasuh anak di dalam kesadaran bahwa anak adalah karunia Tuhan.
3. “Growing Together: Membangun dan Memperkaya Keluarga dalam Tuhan”. Bahan PA ini menolong para orang tua untuk merefleksikan kehidupan keluarga di dalam perenungan akan firman Allah.

Sahabat, kami rindu kita bisa terus bertumbuh bersama di dalam kedewasaan sebagai orang tua melalui koleksi-koleksi literatur yang kami miliki. Kiranya kita bisa mengalami keindahan ini: Keindahan keluarga dialami ketika setiap anggota di dalam keluarga saling mengasihi bukan menuntut untuk dikasihi; memberi, bukan diberi; melayani bukan dilayani.

Salam kasih,

Literatur Perkantas Nasional.