Posted on Tinggalkan komentar

Kasihilah Musuhmu

”Hal apa yang paling sulit kau lakukan?” tanya seorang teman kepadaku ketika kami bermain truth or dare, yang sengaja kami buat di tengah acara api unggun malam itu. Pertanyaan seperti itu membuatku tersenyum lega. Mudah sekali pikirku. Dan tanpa babibu aku menjawab, ”Tidak mendendam.”

Realitas mau tidak mau menghadapkan manusia pada satu kesulitan tertentu yang sangat spesifik dalam hidupnya. Realitas itu bak pertanyaan yang mudah sekali untuk dijawab, tetapi dengan jawaban yang sulit sekali dipraktikkan.

Dalam buku Karunia Penderitaan: Menemukan Allah dalam Situasi Sulit dan Mencekam, Mark Yaconelli mengungkap adanya penelitian dari ahli saraf bahwa bagi otak manusia mendendam adalah suatu hal yang ternyata sangat menyenangkan. Semua perasaan buruk yang muncul sebagai respons terhadap penghinaan, luka masa lalu, dan ketidakadilan yang pernah dialami atau dirasakan seseorang tiba-tiba harus dilepaskan, dan sistem emosional manusia diseimbangkan kembali ketika diberi kesempatan untuk menyerang orang lain, meskipun mungkin kita tidak mendapat manfaatnya.

Kemarahan kita mencari lawan untuk melampiaskan sakit hati yang terpendam. Sering kali ”musuh” sangat ingin membalas. Siklus pembalasan itu berputar dan berputar, mencari kesempatan untuk saling menatap dalam amarah dan akhirnya seperti kata Gandhi, ”semua orang menjadi buta.”

Ajaran Yesus adalah upaya untuk memutus siklus tersebut. Yesus tidak membalas kemarahan dengan kemarahan. Yesus tidak pernah membalas ejekan, lontaran yang tidak manusiawi, kebencian, dan kekerasan yang diterima-Nya. Bahkan menjelang kematian-Nya, Ia menolak untuk mengutuk para penganiaya-Nya. Ia berdoa, ”Ya Bapa, ampunilah mereka, sebab mereka tidak tahu apa yang mereka perbuat” (Luk. 23:34).

Kita diundang Yesus untuk berhenti sejenak dan mendengarkan sekeliling kita secara lebih mendalam. Ia ingin kita menyadari bahwa dendam adalah luka yang sejatinya hanya membutuhkan pera­watan-Nya. Dan Dia rindu kita yang telah dipulihkan-Nya, bisa berbalik dan melepaskan pengampunan kepada orang yang telanjur menyakiti kita, seperti dalam perintah-Nya: ”Kasihilah musuhmu”.

Febriana Dyah Hardiyanti

Literatur Perkantas Nasional

Posted on Tinggalkan komentar

Menyembuhkan Luka

Sebagai makhluk yang lembut dan rapuh, kita membutuhkan perawatan dan cinta kasih. Kita membutuhkan pandangan mata yang menerima kita dengan ramah dan telinga yang mendengar suara kita.

Banyak hal yang kita lakukan untuk melindungi diri dari semua hal. Akan tetapi, sesekali kita akan mengalami suatu pengalaman yang melukai hati kita. Pengalaman tersebut terkadang bisa menjadikan kehidupan kita selanjutnya menuju kehancuran. Memang tak mudah untuk pulih dari rasa kecewa.

Pada saat memikirkan hal yang melukai itu, kadang kita bertanya di mana Allah berada. Allah berasa tidak ada di saat seperti ini. Namun, sebenarnya Allah sudah menunggu kita untuk diterima di antara yang terluka dalam diri kita.

Melalui buku Karunia Penderitaan: Menemukan Allah dalam Situasi Sulit dan Mencekam, Mark Yaconelli mengajak kita untuk jangan melihat dari pengalaman masa lalu kita yang melukai hati kita. Akan tetapi, gambarkan pengalaman itu seolah-olah kita adalah pengamat luar yang menonton pengalaman tersebut. Kita bisa melihat semua dan bisa menambah atau mengurangi dan bahkan menghapus dari cerita masa lalu yang melukai kita.

Setiap luka dalam diri kita tidak akan ditolak oleh Allah, dan jika kita bersedia pergi dan duduk dengan perasaan malu dengan luka yang ada dalam diri kita sendiri, kita bisa mendengar suara Dia yang mengasihi dunia ini, memanggil nama kita dengan suara yang penuh kasih.

Heru Santoso

Literatur Perkantas Nasional

Posted on Tinggalkan komentar

Miskin Rohani

”Hidup saya tidak pernah sesuai dengan apa yang saya harapkan. Tak pernah. Terkadang kehidupan melebihi harapan saya, di lain waktu harapan itu gagal; lebih sering hidup melakukan sesuatu yang tidak biasa, tak terduga, tak dapat diperkirakan, sesuatu yang membuat harapan saya tidak masuk akal.” Seperti itulah Mark Yaconelli menyimpulkan pengalamannya dalam buku Karunia Penderitaan ketika ia mempersiapkan pelayanan doa bagi mahasiswa Southern Oregon University—perguruan tinggi di seberang gerejanya—selama sembilan bulan, dan tidak satu pun mahasiswa pernah hadir. Tidak satu pun.

Kisah Mark boleh jadi merupakan kisah kita juga, tetapi dalam konteks yang berbeda. Kita mengharapkan sesuatu dalam hidup kita dan memperjuangkannya begitu rupa, tetapi beberapa di antaranya tidak terjadi.

Lalu pertanyaan seperti yang diajukan Mark muncul dalam benak kita: Bagaimana kita dapat menjalani hidup sementara kita mengalami kekecewaan besar atas kehidupan Kristen? Bagaimana kita dapat terus melayani saat hidup kita tidak sesuai dengan harapan kita? Apa yang kita lakukan ketika upaya kita, komitmen kita kepada Yesus, doa dan kerinduan rohani kita tidak terbalas?

Atas semua kebingungan, ketidakberdayaan, frustrasi, kecemasan, ketakutan, dan bahkan keraguan yang sering dialami Mark, ia menyadari bahwa perasaan-perasaan inilah yang juga sering dialami para murid Yesus. Berulang kali para murid dipaksa untuk menyerahkan kendali dan harapan mereka, dan tetap dalam keadaan miskin rohani. Untuk berada dalam keadaan miskin rohani berarti tidak berusaha memiliki atau mengendalikan Allah. Miskin rohani adalah kesediaan untuk mengosongkan diri, untuk mengizinkan ekspektasi kita kepada Allah dihilangkan.

Dalam keadaan miskin rohani berarti kita terbuka terhadap apa yang hendak Allah lakukan dalam hidup kita. Dan lihatlah Mark telah menerima buahnya. Salah seorang pianis dalam pelayanan doa tersebut mengaku, ”Saya tidak tahu apa-apa tentang agama. Saya tidak tahu apa-apa tentang Allah, tetapi saya mendengar Bapak berhenti dari pelayanan doa dan saya ingin mengucapkan terima kasih atas apa yang telah Bapak lakukan karena kebaktian itu satu-satunya kegiatan yang saya nantikan setiap minggu. Saya ingin menjadi orang Kristen, meskipun saya tidak tahu apa artinya itu.”

Mark mengajak kita untuk melihat bahwa di jalan Kristen kita belajar untuk melepaskan ekspektasi kita—ekspektasi terhadap diri kita sendiri, terhadap Allah, dan terhadap orang lain. Kita belajar untuk hidup dalam kemiskinan rohani, menjadi kosong, terbuka, tidak berdaya, tidak pasti, sehingga kita dapat terbuka pada pekerjaan Allah yang tersembunyi dan berhikmat.

Citra Dewi Siahaan

Literatur Perkantas Nasional

Posted on Tinggalkan komentar

Lelah? Kembalilah ke Indra Kita!

”Saya mandek. Kelelahan. Kegiatan saya di tempat kerja maupun di rumah menjadi rutinitas yang bisa ditebak. Pola pikir saya itu-itu saja dan hanya menghasilkan ide-ide yang sama dan membosankan… . Saya bosan dengan diri saya sendiri. Kata-kata saya saat berbicara dan mengajar terasa datar. Hidup telah kehilangan misterinya. Persekutuan dengan Allah telah menjadi kewajiban.” Demikianlah Mark Yaconelli membuka bab pertama dari bukunya Karunia Penderitaan.

Apakah Anda pernah mengalami situasi yang mirip? Atau, malah sedang mengalaminya? Jika ya, penulis menawarkan kepada kita untuk kembali ke indra kita. Untuk kembali lagi ke perasaan kita. Untuk benar-benar menyadari perasaan kita seperti ketika kita masih kanak-kanak.

Yaconelli—berdasarkan pengalamannya sendiri—menulis: ”Aliran sungai, sinar matahari yang menghangatkan kulit saya, makan siang yang memuaskan, aroma hutan, musik yang menggetarkan hati, puisi tentang kesedihan, seorang perempuan yang memiliki kecantikan yang antik, kuliner yang nikmat, dan perhatian dari seorang teman baik, telah membawa saya kembali menjadi diri saya sendiri.”

Menurut dia, orang Kristen perlu waktu dan tempat khusus untuk mundur dari pekerjaan dan memanjakan indranya. Bahkan Yesus Orang Nazaret secara teratur mengundurkan diri ke pegunungan, laut, dan tempat sepi lainnya agar berada di tengah ciptaan, di hadapan keindahan. Memberi perhatian kepada semua keindahan itu akan membuat kita sungguh-sungguh merasa dicintai.

Dan perasaan dicintai itu akan membuat hidup kita menjadi lebih berarti. Percayalah!

Yoel M. Indrasmoro
Literatur Perkantas Nasional

Posted on Tinggalkan komentar

Sembilan Tahun Bukan Waktu Sebentar

Hari ini, 1 November 2019, genap sembilan tahun sudah Divisi Literatur Perkantas Nasional disahkan menjadi PT Suluh Cendikia oleh Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia Republik Indonesia. Perubahan ini bertujuan—selain sebagai salah satu bentuk profesionalitas dalam tubuh Perkantas—pelayanan literatur dapat lebih berterima di kalangan masyarakat luas.

Sembilan tahun bukan waktu sebentar untuk memahami, sekaligus mengalami, bahwa melayankan Injil melalui media sungguh strategis dan relevan dalam mendampingi siswa, mahasiswa, dan alumni dalam pertumbuhan rohani mereka.

Sembilan tahun bukan waktu sebentar untuk memahami, sekaligus mengalami, bahwa para mitra kami ternyata tak hanya berkenan membeli, tetapi juga memberi, buku.

Serangkaian aksi donasi buku, di antaranya, kepada para hamba Tuhan di Papua (570 eksemplar Berteologi Abad XXI) dan Nusa Tenggara Timur (906 eksemplar Berteologi Abad XXI); juga kepada para siswa di Ambon dan Poso, juga Banten (2.077 eksemplar This Changes Everything) menjadi bukti nyata.

Bahkan dalam Program Kado Natal NTT, Ibu Christin Ang berkenan terlibat dalam menyalurkan buku Berteologi Abad XXI ke pulau-pulau terpencil seperti Moa, Larat, dan Dobo dengan menggunakan kapalnya.

Aksi donasi buku dengan gamblang memperlihatkan kepada kami bagaimana seorang anggota tubuh Kristus menjadi sahabat—dalam pertumbuhan iman—bagi anggota tubuh Kristus lainnya.

Sembilan tahun bukan waktu sebentar untuk memahami, sekaligus mengalami, bahwa kami tak berjalan sendiri. Yesus Kristus—Sang Komunikator Agung—telah menjadi sahabat kami dalam melayankan Injil-Nya melalui media.

Kami memang tak sendirian. Sang Komunikator Agung juga telah menggerakkan semua mitra kami—pembaca, penulis, penerjemah, percetakan, distributor, toko buku—berkenan, dengan caranya masing-masing, menjadi sahabat kami bertumbuh selama ini.

Akhirnya, doakanlah kami—dalam anugerah-Nya—agar tetap setia menjalani panggilan sebagai ”suluh yang cendikia dan mencendikiakan”, sehingga mampu menjadi ”Sahabat Anda Bertumbuh”!

SMaNGaT,

Yoel M. Indrasmoro
Direktur Literatur Perkantas Nasional

Posted on Tinggalkan komentar

Mendidik Anak

Anak-anak belajar dari orang tuanya melalui pengamatan, mereka secara intuitif akan menerima perilaku orang tuanya dan mengikutinya. Kita mungkin pernah mendengar cerita orang tua kepada anaknya tentang ’orang seram’ yang akan membawa mereka pergi apabila mereka tidak mau makan. Tanpa disadari, anak-anak akan belajar bahwa berbohong diperbolehkan di dalam kekristenan.

Ajith Fernando dalam buku Aku & Seisi Rumahku: Kehidupan Keluarga Pemimpin Kristiani menuliskan bahwa etika Kristen sangat berbeda dengan etika di dunia saat ini. Apalagi pada era digital saat ini, di mana anak-anak sering berinteraksi melalui media sosial. Bisa jadi mereka akan mendapatkan pesan bahwa etika Kristen tidak praktis diterapkan dalam hidup saat ini. Di sini peran orang tua dibutuhkan untuk dapat meluruskan pesan yang keliru tersebut—dengan memberikan teladan dalam hidup mereka, yakni tetap berpegang teguh pada prinsip kristiani.

Dalam Amsal 1:8 tertulis: ”Hai anakku, dengarkanlah didikan ayahmu, dan jangan menyia-nyiakan ajaran ibumu.” Pada ayat tersebut kita dapat melihat peran khusus masing-masing orang tua kepada anak; di mana Ibu berperan untuk memberikan ajaran yang sistematik (bersifat aturan), sedangkan ayah lebih berperan pada penerapan kebenaran Alkitab. Namun, dalam praktiknya kedua peran ini tentunya dapat saling bertukar dan melengkapi.

Cara praktis yang dapat dilakukan orang tua untuk mengajar firman Allah kepada anak-anaknya adalah dengan bersama-sama membaca Firman—baik melalui Alkitab bergambar, komik, atau buku rohani—dan mempercakapkannya dalam waktu keluarga yang telah disepakati bersama. Misalnya pada saat makan, di mana suasana informal dan hangat untuk berdiskusi; atau dalam perjalanan—saat berkendara bersama keluarga. Mengajar firman Allah dapat juga dilakukan pada saat mereka berbaring dan bangun, ketika permulaan hari dan menjelang istirahat malam.

Dengan melakukan hal tersebut, keluarga kita dapat tertolong—dalam semua aspek kehidupan—untuk senantiasa berada dalam kuasa Allah. Jika dilakukan secara konsisten, maka hal baik ini dapat menjadi kekuatan dan identitas keluarga. Sehingga ketika anak-anak beranjak dewasa, identitas—yang mendarat jauh ke dalam hidup anak-anak—itu akan menolong mereka untuk tidak melakukan sesuatu yang melanggar prinsip firman Allah.

”Didiklah orang muda menurut jalan yang patut baginya, maka pada masa tuanya pun ia tidak akan menyimpang dari pada jalan itu” (Ams. 22:6).

Rycko Indrawan
Literatur Perkantas Nasional

Posted on Tinggalkan komentar

Pendisiplinan Anak

Orang tua bertanggung jawab untuk mendisiplinkan anak, seperti Allah mendisiplinkan umat-Nya. Hal ini dapat kita pelajari dalam Kitab Ulangan: ”Maka haruslah engkau insaf, bahwa TUHAN, Allahmu, mengajari engkau seperti seseorang mengajari anaknya” (Ul. 8:5).

Pada era globalisasi ini, anak-anak tumbuh dalam budaya permisif di mana perkawinan sesama jenis dan aborsi diperbolehkan. Paulus menyatakan bahwa para pendosa seksual harus didisiplinkan (1Kor. 5:5, 9).

Anak-anak kita mungkin memandang hal ini sebagai pelanggaran hak asasi manusia. Namun, mereka perlu diperkenalkan mengenai kebenaran Alkitab: kekudusan Allah, berkat, dan penghakiman. Jika kita gagal menanamkan kebenaran kepada anak-anak kita, maka mereka akan sulit menerima disiplin Kristen.

Disiplin harus mendorong anak untuk hal yang besar, bukan mematahkan semangat mereka, sehingga mereka memiliki pemikiran kalau dirinya tidak berharga. Menyebut anak bodoh dan menjengkelkan, mengungkit-ungkit kesalahan, dan membanding-bandingkannya dengan anak lain dapat mematahkan semangat anak. Untuk memotivasi anak, seharusnya kita mengingatkan anak pada pertolongan Tuhan untuk keluar dari dosa dan kemampuannya untuk hidup dalam kebenaran.

Dalam Efesus 6:4, setelah Paulus menuliskan: ”Bapak-bapak, janganlah bangkitkan kemarahan di dalam hati anak-anakmu,” dia menambahkan, ”Tetapi didiklah mereka di dalam ajaran dan nasihat Tuhan.” Inilah dasar pendisiplinan anak dalam Kristus. Disiplin yang benar menolong anak untuk menemukan identitas mereka sebagai anggota keluarga yang sangat berharga, bukan melukai hati anak.

”Apabila kamu menjadi marah, janganlah kamu berbuat dosa” (Ef. 4:26). Kita tidak dapat mendisiplinkan anak dengan cara yang menyakiti hati anak jika kita tahu bahwa Allah sedang berada di sekitar kita. Jangan sampai kita berbuat dosa saat kita marah.

Semua bentuk disiplin yang diberikan kepada anak bertujuan untuk kesejahteraan mereka, bukan demi nama baik orang tua. Pernyataan: ”anak pemimpin Kristen seharusnya tidak berbuat seperti itu,” tidak tepat. Dalam buku Aku & Seisi Rumahku: Kehidupan Keluarga Pemimpin Kristiani, Ajith Fernando mengingatkan kita akan pentingnya pemahaman dalam diri anak: anak harus mengerti, mereka dihukum karena tindakan yang salah, bukan karena orang lain membicarakan kelakuan mereka. Anak juga perlu berdoa dan membaca Alkitab secara rutin demi kebaikan mereka sendiri.

Pendisiplinan anak merupakan bentuk pertanggungjawaban orang tua kepada Allah. Kita perlu memohon hikmat dari Tuhan untuk mendisiplinkan anak dengan kasih, sesuai prinsip Alkitab, menghormati Tuhan, dan menolong anak-anak kita.

Posted on Tinggalkan komentar

Berani Kotor Itu Baik!

”Berani kotor itu baik!” Begitulah bunyi slogan iklan detergen yang entah mengapa selalu melekat di benak saya. Juga slogan iklan minyak kayu putih, ”Buat anak kok coba-coba!”. Bagi saya, kedua slogan tersebut sangat menarik karena meskipun hanya terdiri dari susunan kata yang sederhana, tetapi mampu memberikan kesan dan pesan tersendiri.

Kedua slogan tadi tidak hanya dibuat untuk menarik konsumen membeli barang yang telah mereka iklankan. Akan tetapi, slogan tersebut juga dengan lantang menyerukan, agar para orang tua sadar bahwa kebaikan yang dirasakan anak-anak adalah hal yang juga penting dalam tumbuh kembang kehidupannya.

Kondisi badan atau baju kotor yang selama ini mungkin sangat tidak dianjurkan oleh orang tua kepada anak-anaknya, justru dapat membunuh kebebasan, kreativitas, dan membuat dunia anak-anak terasa tidak berwarna. Selama ini orang tua selalu menjadikan anak-anak sebagai objek percobaan yang kebanyakan mungkin akhirnya gagal. Hal ini bisa membekas dalam memori anak-anak sebagai hal yang menyakitkan.

Slogan iklan saja mendorong agar hal-hal buruk itu tidak terjadi kepada anak-anak, apalagi Yesus yang adalah Allah dan juga Bapa dari semua anak-anak di dunia ini.

”Dan jalan-jalan di kota itu akan penuh dengan anak laki-laki dan perempuan yang bermain-main di situ” (Zak. 8:5). Yesus menggunakan sebuah gambaran tentang anak-anak yang bermain di jalan dalam salah satu perumpamaannya.

Meskipun tidak ada referensi jenis mainan dalam Perjanjian Lama, para arkeolog telah menemukan peluit, kerincing, kelereng, boneka, binatang (pada waktu itu menggunakan roda), dan aneka objek lainnya di banyak situs bersejarah di Palestina, yang memberikan indikasi jenis-jenis alat permainan yang dimainkan oleh anak-anak bangsa Israel. Dari sini kita dapat menarik kesimpulan bahwa bergembira dan bermain adalah ciri penting yang sudah ada dalam kehidupan anak-anak pada masa Alkitab.

Ajith Fernando menuliskan dalam bukunya Aku & Seisi Rumahku: Kehidupan Keluarga Pemimpin Kristiani bahwa orang tua harus membuat rumah menjadi tempat yang ramah dan menyenangkan. Ajith menilai, sering kali orang tua terlalu ingin menjaga rumah agar terlihat rapi dan bersih sehingga menghalangi kegembiraan yang anak-anak bisa dapatkan di rumah. Ia menyatakan, hal itu tidaklah sehat. Menurutnya, mengizinkan anak-anak untuk bermain tanpa rasa takut adalah kunci. Kebebasan bermain bukanlah sesuatu yang harus mereka perjuangkan dengan susah payah.

Ketika anak-anak bertumbuh menikmati kegembiraan yang aman dan sehat di rumah, mereka tidak akan rentan terhadap godaan dari kesenangan yang membawa mereka pada dosa. Orang tua perlu menunjukkan kepada anak-anak bahwa bergembira selalu selaras dengan kekristenan, dan satu-satunya cara untuk mendapatkan kegembiraan yang menyenangkan adalah dengan melakukannya bersama Allah.

Febriana DH
Literatur Perkantas Nasional

Posted on Tinggalkan komentar

Anak: Sumber Sukacita

Semakin sering kita mendengar berita tentang kekerasan dan kejahatan yang dilakukan anak. Anak-anak sekarang tumbuh di dunia yang tidak sama seperti dunia orang tuanya, di mana batas antara yang baik dan jahat sudah tercemar. Salah satu cara memerangi hal ini adalah dengan menciptakan lingkungan keluarga yang penuh rasa penerimaan, sehingga anak-anak dapat melihat bahwa nilai yang dianut keluarganya benar-benar menghasilkan yang terbaik.

Melihat anak sebagai sumber sukacita dalam hidup kita mengubah perilaku kita terhadap mereka. Betapa pentingnya bagi anak-anak untuk mengetahui bahwa mereka adalah sumber sukacita dan orang tuanya merindukan mereka. Praktik-praktik rutin harus dikembangkan, di mana orang tua mengomunikasikan bahwa mereka bersukacita atas anak-anak mereka.

Dalam buku Aku dan Seisi Rumahku: Kehidupan Keluarga Pemimpin Kristiani, Ajith Fernando mengingatkan kita untuk selalu mengomunikasikan kepada anak saat kita tidak dapat melakukan apa yang diinginkan oleh anak-anak kita karena pekerjaan atau pelayanan kita, menepati janji sebagai bentuk perhatian kita kepada anak, dan menghabiskan waktu bersama anak sebagai ungkapan kasih kepada mereka.

Tantangan dalam pengasuhan anak sangatlah besar. Orang tua berjuang khususnya pada awal pertumbuhan anaknya; mereka dapat merasakan beban yang terlalu berat sehingga mereka lupa betapa berharganya tugas mengasuh anak.

Kita harus mengingat bahwa mengasuh anak adalah panggilan mulia dari Allah. Mari mengungkapkan sukacita kita atas anak-anak kita.

Heru Santoso

Literatur Perkantas Nasional

Posted on Tinggalkan komentar

Perselisihan Kasih

Tak ada keluarga yang bebas konflik. Kita punya peribahasa: ”Rambut sama hitam, pendapat berbeda.” Dan konflik—Ajith Fernando menyebutnya ”perselisihan kasih” dalam buku Aku dan Seisi Rumahku—perlu dikelola dengan baik berdasarkan Efesus 4:25-27.

Pertama, baik suami maupun istri harus bersikap jujur. Menurut Ajith, manusia biasa tergoda berbohong untuk menghindari konfrontasi. Memang bisa dihindari, tetapi itu tidak sehat dalam perkawinan. ”Biasanya luka yang belum sembuh,” jelas Ajith, ”akan membuka konfrontasi yang lebih tidak menyenangkan dibandingkan jika hal tersebut langsung diselesaikan dari awal.”

Kedua, boleh marah, tetapi tidak berbuat dosa. Menurut Ajith, jangan sekali-kali menggunakan frasa ”tidak pernah” atau ”selalu” Misalnya: ”Kamu tidak pernah menolong saya.” Atau ”Kamu selalu menyakiti saya.”

Ketiga, janganlah matahari terbenam sebelum padam amarahmu. Jangan pernah menyerah untuk menyelesaikan persoalan. Lebih baik pergi ke kantor dengan mata merah akibat kurang tidur, namun bisa menikmati kebebasan karena telah menyelesaikan masalah dengan orang yang paling penting dalam hidup kita.

Keempat, jangan berikan kesempatan kepada Iblis. Ajith, mengutip buku Hurt People Hurt People, menyatakan: ”Orang yang terluka mengambil tindakan akibat luka tersebut dan berakhir dengan menyakiti orang lain.” Bisa jadi dalam sebuah konflik kita berada di pihak yang benar, namun jangan sampai kita menyakiti pasangan hidup kita.

Ujung dari semua perselisihan kasih itu bukanlah kalah atau menang, tetapi kesatuan perkawinan. Dan semuanya dimulai dengan keberanian meminta maaf terlebih dahulu.

Selamat mencoba!

Yoel M. Indrasmoro

Literatur Perkantas Nasional

Posted on Tinggalkan komentar

Kesatuan

”Sebab itu seorang laki-laki akan meninggalkan ayahnya dan bersatu dengan isterinya…” (Kej. 2:25). Dalam ayat tersebut Alkitab menegaskan bahwa panggilan suami istri adalah bersatu. Tentu tidak mudah mengusahakan kesatuan di tengah ragam perbedaan masing-masing pribadi, baik suami maupun istri. Namun, ini sudah menjadi panggilan suami istri ketika memutuskan untuk menikah.

Bersatu di tengah perbedaan yang ada bukan tidak mungkin dilakukan selama tujuannya adalah sama-sama untuk menyenangkan hati Allah. Berkait hal ini, Ajith Fernando dalam bukunya Aku dan Seisi Rumahku: Kehidupan Keluarga Pemimpin Kristiani, mengutip ungkapan para pemimpin gereja zaman dahulu, ”Dalam hal-hal esensial, bersatu; dalam hal-hal tidak esensial, bebas; di dalam semua hal, kasih.” Menurutnya, ungkapan ini sangat menolong bagi kehidupan berkeluarga zaman sekarang.

Seruan Ajith berkait hal tersebut adalah orang-orang yang berbesar hati membiarkan orang lain untuk memilih jalannya sendiri walaupun mungkin dia tidak setuju dengan jalan tersebut. Sikap seperti ini sangat perlu dalam keluarga, membiarkan setiap anggota keluarga berkembang dan dapat hidup utuh sepenuhnya.

Berkait berbesar hati, Ajith mencontohkan kehidupan suami istri di Sri Lanka. Banyak pria di Sri Lanka menyukai acara olah raga dan politik di televisi dibandingkan dengan istri mereka. Selama hal ini tidak dilakukan berlebihan dan tidak melukai keluarga, istri yang berbesar hati membiarkan suaminya menikmati acara olah raga dan politik. Dia mungkin dapat mengembangkan minat akan hal ini karena kecintaannya terhadap suaminya.

Sebaliknya, pria juga dapat mengembangkan minat terhadap acara masak-memasak di televisi di mana kebanyakan wanita lebih menikmati hal ini. Pria dapat membiarkan istri mereka untuk menikmati acara kesukaan mereka dan sang suami menolong dengan mengerjakan beberapa tugas -tugas istri di rumah ketika istri sedang menikmati acara televisi tersebut.

Dengan mengembangkan sikap berbesar hati seperti contoh tersebut perbedaan bukan lagi menjadi soal, malah bisa menyatukan. Dengan mengembangkan sikap berbesar hati, itu artinya kita sedang selaras dengan nasihat Rasul Paulus: ”Hendaklah dengan rendah hati yang seorang menggangap yang lain lebih utama daripada dirinya sendiri” (Flp. 2:3). Dengan demikian, niscaya kesatuan keluarga kita tetap terpelihara!

Citra Dewi

Literatur Perkantas Nasional

Posted on Tinggalkan komentar

Tidak Ada Rumah yang Sempurna

”Kecocokan adalah proses seumur hidup.” Ungkapan ini tepat ditujukan bagi pasangan suami istri dalam membangun keluarga Kristen. Tidak sedikit pasangan yang awalnya merasa sangat cocok, pada akhirnya memutuskan untuk berpisah karena alasan ketidakcocokan.

Banyak pasangan memimpikan perkawinan yang indah dan menjadi keluarga bahagia. Sehingga tiap pasangan memiliki ekspektasi yang sangat tinggi terhadap pasangannya. Namun, ketika ekspektasi itu tidak terpenuhi, mereka kecewa dan berpikir bahwa mereka tidak mungkin mewujudkan perkawinan Kristen yang ideal.

Keluarga Kristen adalah lembaga yang dibentuk dan dikuduskan oleh Allah sendiri, untuk memenuhi mandat Allah di bumi. Untuk memenuhi tujuan-Nya, Allah memakai keluarga yang tidak sempurna seperti keluarga Adam, keluarga Nuh, keluarga Abraham, dan Keluarga Ayub, untuk menyaksikan besarnya kuasa pekerjaan Allah atas keluarga mereka.

Ajith Fernando dalam bukunya Aku dan Seisi Rumahku: Kehidupan Keluarga Pemimpin Kristiani, menyatakan bahwa tidak ada perkawinan atau keluarga yang sempurna. Setiap keluarga bergumul dengan konflik, kesalahpahaman, dan rasa luka.

Oleh karena itu, baik jika tiap pasangan menyadari bahwa ia adalah orang berdosa yang senantiasa membutuhkan anugerah Allah, maka tiap pasangan akan dimampukan untuk saling mengampuni, saling mengasihi, dan saling menghargai. Bukan menumpuk amarah, yang pada akhirnya saling menyalahkan, saling menyerang, bahkan menyerah satu dengan yang lain. Sehingga, terang firman Tuhan dan kasih Kristus harus senantiasa dihadirkan dalam tiap keluarga. Ingat bahwa tiap keluarga Kristen dipanggil untuk menjadi saksi Kristus.

Ajith menambahkan bahwa perkawinan atau keluarga yang bahagia bukan hidup tanpa masalah, tetapi justru karena telah menghadapi banyak tantangan sulit yang membutuhkan kesabaran luar biasa dan bahwa mereka terus hidup dalam tantangan bersama dengan Kristus seumur hidup.

Sehingga patutlah tiap keluarga yang dipimpin oleh Kristus menyanyikan pujian berikut ini dengan lantang:

”Berbahagia rumah yang sepakat hidup sehati dalam kasihMu,
serta tekun mencari hingga dapat damai kekal di dalam sinarMu;
di mana suka-duka ’kan dibagi; ikatan kasih semakin teguh; di luar
Tuhan tidak ada lagi yang dapat memberi berkat penuh” (Kidung Jemaat 318:2).

Ririn Sihotang

Literatur Perkantas Nasional

Posted on Tinggalkan komentar

Sukacita: Kekayaan Keluarga

Dr. Hiromi Shinya M.D.—seorang ahli usus terkemuka di dunia—dalam bukunya The Miracle of Enzyme, menuliskan bahwa manusia sejak lahirnya sudah dibekali dengan kemampuan yang menakjubkan untuk bisa menyembuhkan dirinya sendiri.

Yang menarik, dokter ini—yang tidak pernah sakit dalam 50 tahun terakhir—menuliskan, ”Penelitian saya menunjukkan bahwa dorongan energi emosi yang positif, seperti yang muncul dari kebahagiaan dan cinta, dapat menstimulasi DNA kita untuk memproduksi limpahan ’enzim utama’ tubuh kita,—yaitu sang ’enzim ajaib’ yang beraksi sebagai bio-katalis untuk memperbaiki sel-sel dalam tubuh. Kebahagiaan dan cinta dapat membangunkan suatu potensi jauh di luar pemahaman kita sebagai manusia saat ini.”

Perjanjian Lama menunjukkan bahwa sukacita adalah satu nilai penting dari pola hidup Kristen. Ada tiga belas akar kata dalam bahasa Ibrani yang menggambarkan tentang sukacita, dan sebagai hasilnya ada dua puluh tujuh kata yang dapat menggambarkan sukacita! Kita pun dapat mengatakan bahwa sukacita memengaruhi kesehatan keluarga kita, seperti yang dinyatakan dalam Amsal 17:22: ”Hati yang gembira adalah obat yang manjur.”

Ajith Fernando dalam bukunya Aku & Seisi Rumahku: Kehidupan Keluarga Pemimpin Kristiani, menuliskan bahwa kebahagiaan adalah harta sejati bagi keluarga. Ia juga menambahkan pendapat rekan pelayanannya—Tim Stafford—bahwa kebanyakan orang-orang yang bahagia dibesarkan dalam rumah di mana mereka melihat sukacita itu dipraktikkan setiap hari. Namun, banyak orang Kristen saat ini tidak mengalami sukacita dalam budaya keluarga mereka, padahal sukacita adalah warisan budaya yang harus diteruskan ke generasi selanjutnya. Sukacita adalah suatu nilai yang harus dipelajari dan dipraktikkan setiap hari dengan sadar.

Banyak pasangan kehilangan sukacita dalam keluarga mereka. Mereka dengan mudah jatuh dalam perangkap yang pada akhirnya dapat merusak sukacita tersebut. Perangkap ini dapat berupa perbudakan penampilan. Mereka berpikir bahwa jika mereka tidak bahagia setidaknya mereka harus tampil sebagai orang yang sukses, kaya, atau berpengaruh. Demi mengejar tujuan tersebut—tanpa disadari—mereka sedang memilih jalur berbahaya.

Kita harus mengingat bahwa persamaan atau kesejajaran dalam status sebagai manusia bukan berarti kita harus memiliki gaya hidup yang sama dengan keluarga Kristen lainnya. Kita harus hidup sesuai dengan kemampuan kita dan bahagia dengan apa yang kita miliki. Dengan memiliki komitmen tersebut, sebenarnya kita juga mengajarkan kepada anak-anak kita bahwa pengalaman berharga dalam hidup tidak selalu berhubungan dengan materi.

Aspek penting dalam kehidupan Kristen lainnya adalah pujian. Sukacita tidak akan menjadi penuh, sampai sukacita itu dibagikan. Suatu hadiah tidak akan dinikmati sepenuhnya, sampai kita memberikan penghargaan kepada pemberi hadiah. Jadi pujian adalah satu jalan untuk bersukacita bagi kehidupan Kristen. Pujian memberikan level baru dari sukacita; baik kepada si pemberi pujian maupun si penerima. Sebagaimana halnya sukacita adalah nilai penting dalam kekristenan, maka pujian juga praktik penting dalam hidup Kristen.

Salah satu cara yang baik untuk mengungkapkan cinta kita terhadap keluarga—pasangan dan anak kita—adalah melalui pujian. Setiap hari mereka berada dalam dunia yang sangat kompetitif yang dapat melukai mereka. Kita memang tidak dapat melindungi mereka dari semua hantaman itu, namun kita dapat memberikan rumah yang hangat dan lingkungan yang menerima mereka apa adanya dan menghargai mereka sebagai pribadi yang berarti.

Pemahaman-pemahaman berkait sukacita inilah yang diungkapkan oleh Ajith, yang menginspirasi penulis untuk membagikannya.  Sehingga, kita dapat menyambut ajakannya untuk membuat rumah menjadi tempat yang penuh sukacita. Sebab, ini adalah tujuan yang mulia!

Rycko Indrawan
Literatur Perkantas Nasional

Posted on Tinggalkan komentar

Engkau Berharga di Mata-Ku

Ia sungguh tak mengerti mengapa lingkungan menolaknya. Mereka sering mengejeknya karena tubuhnya berbeda dengan anak itik lainnya. Mereka acap menertawakan gaya berenangnya yang tak lazim di kalangan itik.

Meski demikian, ia masih bisa menahan perasaannya. Dan menganggapnya sebagai bagian dari hidup. Dan mustahil mengharapkan semua hewan menyukai dirinya. Itulah prinsip yang dianutnya.

Yang lebih menyakitkan ialah tatkala saudara-saudaranya ikut-ikutan mencemoohnya. Mulanya ia mengharapkan perlindungan ibunya. Namun, ia sadar, ibunya tampaknya malu mengakuinya sebagai anak. Bahkan, ibunya, atas desakan saudara-saudaranya, ikut mengusirnya dari areal peternakan itu.

Itulah awal kisah Itik Si Buruk Rupa, karya H.C. Andersen. Dengan sedih, ia mengembara tanpa arah. Dalam pengelanaannya, tak terhitung berapa kali dia luput dari bahaya. Banyak hewan menolaknya.

Suatu kali ia bertemu beberapa angsa cantik, yang mau menerimanya. Ia pun akhirnya menemukan dirinya. Ia ternyata seekor angsa yang cantik.

Sadarlah ia, mengapa banyak anak itik yang menertawakan bentuk badannya yang bongsor, juga gaya berenangnya. Sebab, ia memang bukan anak itik. Ia anak angsa. Karena itulah ia tidak merasa perlu menyesali masa lalu. Apalagi membenci saudara-saudaranya.

”Masa lalu membentuk dirimu, jangan jadi bebanmu!” Ujar Chan Jun Bao dalam film Taichi Master. Tanpa masa lalu, tak ada masa sekarang. Membenci masa lalu berarti membenci diri sendiri yang merupakan bagian dari masa lalu.

Berdamai dengan masa lalu berarti pula berdamai dengan diri sendiri. Intinya, menerima diri sendiri. Hal terlogis yang dapat kita lakukan ialah menerima diri apa adanya. Dan ada satu alasan untuk itu: ”Oleh karena engkau berharga di mata-Ku dan mulia” (Yes. 43:4).

Apakah masa lalu menjadi beban Saudara hingga hari ini? Terimalah masa lalu itu. Terimalah diri Saudara apa adanya. Bagaimanapun juga, di mata Tuhan kita berharga dan mulia!

Selamat Bekerja!

Yoel M. Indrasmoro
Direktur Literatur Perkantas Nasional

Posted on Tinggalkan komentar

Berkomitmen

Sebagian orang beranggapan bahwa berkomitmen adalah sebuah tantangan yang sulit sekaligus menyenangkan. Namun, sebagian orang lainnya beranggapan bahwa tidak perlu menciptakan komitmen apa pun apabila tidak dilandasi ’hitam di atas putih’ atau jika tidak memberikan keuntungan bagi dirinya.

Jika seseorang berkomitmen demi kesehatan dirinya, maka otomatis dia harus rajin berolahraga dan makan makanan yang sehat. Jika seseorang berkomitmen untuk lulus kuliah tepat waktu, maka ia harus rajin mengerjakan bab demi bab skripsinya hingga tiba waktu ujian skripsi. Jika seseorang berkomitmen agar wajahnya bersih dan tidak penuh jerawat, maka dia akan merawat dirinya dengan berbagai macam produk skincare. Contoh komitmen-komitmen terhadap diri sendiri itu tampak mudah, tetapi sebenarnya bisa dikatakan tidak sama sekali.

Saya percaya bahwa hal berkomitmen sama saja dengan suatu beban yang harus dipertanggungjawabkan oleh tiap individu. Komitmen pada diri sendiri bahkan akan lebih sulit dalam realisasinya. Bagaimana dengan komitmen dengan orang lain? Mungkin kita sepakat bahwa ini pun tak bisa dientengkan. Sama-sama sulit, sama-sama harus dipertanggungjawabkan.

Ajith Fernando dalam bukunya Aku & Seisi Rumahku: Kehidupan Keluarga Pemimpin Kristiani menuliskan bahwa pencapaian utama bagi kekristenan adalah melalui hubungan yang berkomitmen. Bahkan, ia secara tegas menyatakan bahwa orang Kristen harus mendisplinkan diri untuk memelihara kesenangan (seperti kesenangan seksual) dalam perkawinan.

Secara alkitabiah, orang-orang dapat mulai mengerti hubungan antara Allah dan orang Kristen dengan melihat hubungan yang baik antara suami istri. Oleh karena itu, ”Hendaklah suami memenuhi kewajibannya terhadap istrinya, demikian pula istri terhadap suaminya” (1Kor. 7:3).

Allah mau umat-Nya belajar melihat segala kesenangan dalam relasi suami istri maupun relasi muda remaja sebagai suatu hal yang kudus, spiritual, dan menyenangkan hati-Nya.

Posted on Tinggalkan komentar

Rencana Allah

Keluarga dirancang Allah sebagai tempat untuk mendapatkan kesegaran dan kekuatan dalam menghadapi rumitnya kehidupan ini. Di tengah kerasnya kehidupan, keluarga seharusnya menjadi sumber rasa aman dan nyaman. Keharmonisan keluarga dimulai dari keakraban dan kehangatan relasi suami istri.

Suami harus mencintai istrinya dengan penuh pengorbanan, dan istri harus tunduk dengan hormat kepada suaminya. Ketaatan adalah sesuatu yang diberikan istri dengan sukacita kepada suami yang mengasihi dan memperlakukan mereka dengan hormat.

Ajith Fernando dalam bukunya Aku dan Seisi Rumahku:  Kehidupan Keluarga Pemimpin Kristiani, menegaskan bahwa Allah akan memberikan kekuatan kepada suami istri yang bersedia taat kepada-Nya.

Pemimpin Kristen yang berusaha untuk menjadi anggota keluarga yang baik dapat bereaksi bahwa hidup memang sulit, hidup menguras emosi dan melelahkan secara fisik. Akan tetapi, kasih Allah cukup untuk memberi kita kekuatan untuk mengasihi.

Kita harus taat kepada Allah dalam segala aspek hidup kita. Itu adalah tugas yang sulit dalam dunia yang begitu sibuk. Menjadi manusia yang berkomitmen dalam pekerjaan, aktif di gereja dan keluarga akan sangat melelahkan. Namun, kita seharusnya tidak mengabaikan kepentingan yang sulit dan memakan waktu terkait keluarga kita dengan alasan sibuk bekerja dan melayani.

Jika kita menetapkan bahwa mengasihi keluarga adalah prioritas, hidup kita akan menjadi perjalanan panjang di dalam mengeksplorasi indahnya kehidupan berkeluarga. Ada sukacita yang luar biasa dan rasa aman ketika kita tahu bahwa keluarga kita saling mengasihi dan menginginkan yang terbaik satu dengan yang lain.

Heru Santoso

Literatur Perkantas Nasional

Posted on Tinggalkan komentar

Kasih

Dalam 1 Korintus 13, terlihat jelas bahwa kasih merupakan ciri khas terpenting seorang murid Kristus. Kasih juga mewarnai kehidupan keluarga Kristen. Dalam Efesus 5:25, seorang suami dinasihati untuk mengasihi istri seperti Tuhan Yesus yang telah mengasihi dan menyerahkan diri-Nya bagi jemaat.

Kasih adalah tujuan, bukan alat untuk mencapai tujuan. Kita tidak mengasihi untuk mendapatkan sesuatu, sebab hasil yang kita peroleh dari mengasihi tidaklah penting. Kita bersukacita karena mengasihi dengan tulus.

Tindakan kasih juga tak lantas dapat memberi kita kepuasan, entah berharap atas respons kasih dari orang lain atau mengharapkan kepuasan batin dari tindakan mengasihi. Hanya Yesus yang dapat memuaskan kerinduan terdalam kita.

Tidak ada orang atau benda lain yang dapat memuaskan kita. Paulus sendiri telah mengalaminya. Oleh karena itu, ia rela meninggalkan segala sesuatu yang dia miliki demi mengejar pengenalan akan Kristus.

Kristus memuaskan dan memberikan kekuatan kepada kita untuk mengasihi dengan penuh pengorbanan. ”Ketika kita masih berdosa, Kristus telah mati untuk kita” (Rm. 5:8). Inilah makna kasih agape dalam Kristus. Walaupun kita belum mengasihi Kristus, Dia sudah terlebih dahulu mengasihi kita, bahkan rela menyerahkan nyawa-Nya untuk menebus dosa manusia.

Ajith Fernando dalam bukunya, Aku dan Seisi Rumahku: Kehidupan Keluarga Pemimpin Kristiani, menjelaskan apa yang Kristus lakukan telah membawa kita pada inti kasih kekristenan. Ia juga menjelaskan bahwa kita mengambil keputusan untuk mengasihi walaupun secara natural kita tidak ingin melakukannya bahkan ketika objek kasih kita sepertinya tidak layak menerima kasih.

Kasih Tuhanlah yang memampukan kita menghadapi berbagai rintangan dalam mengasihi. Kiranya hati kita selalu berkelimpahan dalam kasih-Nya.

Priskila Dewi Setyawan
Literatur Perkantas Nasional

Posted on Tinggalkan komentar

Menyalibkan Diri

”Seseorang yang sudah menikah selama 50 tahun ditanya tentang rahasia perkawinannya yang bahagia. Dia menjawab, setiap hari ada sesuatu yang dia tahan untuk dikatakan. Dia menyalibkan dirinya setiap hari.”

Demikianlah salah satu kunci rumah tangga sehat menurut Ajith Fernando, dalam bukunya Aku dan Seisi Rumahku: Kehidupan Keluarga Pemimpin Kristiani. Masih menurut Ajith Fernando, ”Kegagalan kita untuk menyalibkan diri akan membawa ketidakbahagiaan dalam rumah tangga kita.”

Sejatinya, menyalibkan diri merupakan praktik dasar dalam kehidupan bersama kristiani. Jika tidak ada yang mau menyalibkan diri bisa dipastikan bahwa sebuah keluarga akan hancur berantakan. Dan akan lebih baik lagi, jika setiap orang mendahulukan kepentingan pasangannya.

Dalam sebuah perkawinan, jelas Ajith, ”Akhir dari konflik yang kita harapkan bukanlah kemenangan ego, melainkan kesatuan di bawah kehendak Allah dan ketika kita sudah menemukannya, maka kita harus tunduk terhadap kehendak Allah tersebut.” Dengan kata lain, bukan siapa yang menang, tetapi Allahlah yang harus dimuliakan.

Tak gampang memang. Namun, menyangkal diri demi ketaatan kepada Kristus sesungguhnya merupakan jalan menuju hidup. Tak hanya di dunia nanti, tetapi juga di dunia perkawinan kita.

Dan itu bisa dimulai dengan belajar menahan diri untuk mengatakan sesuatu yang mungkin menyakitkan pasangan kita. Terutama ketika hati kita sedang dikuasai emosi.

Yoel M. Indrasmoro
Literatur Perkantas Nasional

Posted on Tinggalkan komentar

Siap Berubah!

”Tuhan Yesus tidak berubah. Tidak berubah, tidak berubah. Tuhan Yesus tidak berubah, tak berubah selama-lamanya.” Sepenggal lirik lagu sekolah minggu ini amat menyejukkan hati. Kenyataan bahwa Tuhan tidak berubah menjadi jaminan yang pasti di tengah dunia yang terus berubah. Dan hal ini patut kita syukuri.

Lain halnya dengan manusia. Sejak manusia jatuh ke dalam dosa, manusia telah kehilangan kemuliaan Allah. Manusia telah berubah setia kepada Allah yang menciptakannya. Hidup manusia tidak lagi mencerminkan Pribadi Sang Pencipta. Oleh karena itu, manusia harus siap berubah! Kembali pada tujuan awal ketika manusia diciptakan, yakni menjadi wakil Allah untuk mengusahakan dan memelihara bumi bagi kemuliaan-Nya.

Jika manusia tidak berubah, manusia akan binasa. Sebab, upah dosa adalah maut! Syukur kepada Allah bahwa di dalam Yesus Kristus manusia beroleh keselamatan. Sebab, ”Kristus Yesus telah ditentukan Allah menjadi jalan pendamaian melalui iman, dalam darah-Nya” (Rm. 3:25).

Dengan beriman kepada Yesus manusia kembali diperkenan oleh Allah. Iman ini jugalah yang mendorong manusia untuk hidup seturut dengan kehendak Allah. Sebab, iman harus berbuah dalam perbuatan. Perbuatan yang mencerminkan Pribadi Sang Pencipta. Dan jika ini dilakukan bukan tidak mungkin akan memberi dampak baik bagi sekeliling kita.

Seperti seorang Istri yang dicontohkan oleh Ajith Fernando dalam buku Aku dan Seisi Rumahku. Namanya Mary. Mary ingin menaklukkan temperamennya yang buruk karena ia sadar bahwa sikap ini tidak sejalan dengan imannya. Dan Mary berhasil melakukanya. Ia telah memercayakan temperamennya untuk disembuhkan oleh Yesus. Perubahan hidup yang terjadi pada Mary membuat John suaminya bertobat dan menerima Yesus.

Bayangkan, satu perubahan dalam diri orang beriman mampu memberikan dampak yang luar biasa—seseorang bertobat dan menerima Yesus. Tentu saja ini tidak lepas dari doa dan pekerjaan Roh Kudus. Oleh karena itu, jangan berhenti berubah menjadi pribadi yang lebih baik. Pribadi yang mencerminkan citra Sang Pencipta.

Percayalah bahwa Tuhan senantiasa menyertai dan menopang kita di dalam melakukannya. Bukankah Ia tidak berubah? Jadi, teruslah berjuang!

Citra Dewi Siahaan

Literatur Perkantas Nasional

 

Posted on Tinggalkan komentar

Betapa Kita Tidak Bersyukur

”Betapa kita tidak bersyukur bertanah air kaya dan subur; lautnya luas, gunungnya megah, menghijau padang, bukit dan lembah.”

Demikianlah bait pertama Kidung ”Betapa kita tidak bersyukur” (Kidung Jemaat 337) karya Subronto Kusumo Atmodjo (1979). Subronto  menyatakan, bersyukur kepada Tuhan atas bumi yang dipijak dan langit yang dijunjung merupakan keniscayaan.

Dalam refreinnya, ditekankan alasannya: ”Itu semua berkat karunia Allah yang Agung, Mahakuasa; itu semua berkat karunia Allah yang Agung, Mahakuasa.” Subronto merasa perlu mengulangi kalimat yang sama. Bisa jadi karena dia memahami bahwa satu-satunya alasan untuk bersyukur memang hanya karena ini: semua berkat Allah. Dan konservasi merupakan salah satu bentuk rasa syukur itu.

John Zizioulas, sebagaimana dikutip Victor Nikijuluw dalam bab akhir bukuya Teologi Kreasi dan Konservasi Bumi, mengatakan: ”Lingkungan hidup tidak menjadi lebih baik hanya karena umat manusia melakukan upaya-upaya praktis dalam menjaganya, melainkan juga karena mereka beriman dan menyembah Allah.”

Masalahnya, kebanyakan orang beranggapan, konservasi  tidak menguntungkan secara sosial ekonomi. Padahal, menurut Nikijuluw, konservasi menguntungkan secara biologi, ekologi, sosial, dan ekonomi.

Menurut Nikijuluw, seekor ikan pari manta yang berukuran 50 kg bila ditangkap dan dijual insang dan dagingnya akan bernilai sekitar Rp3 juta, sekali ditangkap dan untuk selamanya. Namun, bila ikan pari manta itu dibiarkan hidup di alamnya dan dikembangkan sebagai satu objek pariwisata manta-diving, maka selama 25 tahun masa hidupnya ikan pari mata itu bisa menghasilkan Rp1 milyar. Nilai ekonomi yang diberikan ikan pari manta yang hidup nilainya jauh lebih banyak.

Namun, di atas semuanya itu, pemahaman bahwa bumi adalah milik Allah yang patut disyukuri, memang harus menjadi dasar dari semua tindakan konservasi kita.  Dan salah satu tindakan konkretnya: belajar hidup sederhana.

 

Yoel M. Indrasmoro

Literatur Perkantas Nasional

Posted on Tinggalkan komentar

Memelihara Bumi

Selama 20 tahun terakhir, banyak terjadi bencana alam yang mengerikan dan menyebabkan kematian ratusan ribu manusia, hewan, serta menghancurkan wilayah daratan. Kemarau yang ekstrem, kualitas udara yang semakin buruk, dan kebakaran hutan disebabkan oleh kebiasaan membuka ladang tanpa memperhatikan lingkungan. Ini semua merupakan bencana yang disebabkan ulah manusia. Bumi semakin tua oleh sebab salah pengelolaan.

Tentu saja para ahli dan pemimpin dunia sudah menyadari hal ini. Berbagai fakta, komitmen, kesepakatan, dan perjanjian internasional ditandatangani serta dijadikan dasar untuk mencegah kerusakan ekosistem bumi yang semakin parah. Tentu ada banyak pendekatan lain yang bisa dilakukan. Salah satu pendekatan yang mendasar, yaitu mengikuti perintah Allah sesuai yang dikatakan dalam Alkitab.

Sesungguhnya, Allah memberikan mandat bagi manusia untuk mengusahakan dan memelihara bumi dengan sebaik-baiknya, demi kepentingan manusia sendiri. Hal ini patut menjadi fondasi gagasan, perilaku, dan tindakan kita. Mandat Allah kepada kita adalah mengembangkan kemampuan dan kapasitas dalam mengusahakan sumber daya itu, sehingga jumlah yang terbatas itu dapat dimanfaatkan dan digunakan untuk memenuhi kebutuhan kita. Bumi adalah rumah kita yang harus dijaga dan dilindungi oleh kita sendiri.

Dalam buku Teologi Kreasi dan Konservasi Bumi, Victor P.H. Nikijuluw menjelaskan bahwa Allah menciptakan kita dengan salah satu mandat khusus, yaitu mengusahakan dan memelihara bumi. Mandat ini begitu besar, sementara kita begitu kecil dibandingkan dengan seluruh isi bumi. Sebagai individu Kristen yang percaya kepada Allah Pencipta alam semesta, termasuk diri kita sendiri, mandat ini adalah salah satu konsekuensi logis.

Generasi muda, pemuda, remaja, dan anak-anak perlu diperkenalkan tentang mandat ini sejak dini. Bumi dan lingkungan di sekitar kita adalah berkat karunia Allah yang harus diusahakan dan dipelihara. Kekayaan alam nusantara adalah berkat Allah yang diberikan kepada bangsa. Memelihara dan merawatnya merupakan tanggung jawab semua warga negara, tetapi secara spesifikasi adalah perintah Allah bagi kita. Mari kita memelihara dan merawat bumi dari hal kecil dalam keseharian kita.

 

Heru Santoso

Literatur Perkantas Nasional

Posted on Tinggalkan komentar

Sabat

Pada bab kedelapan buku Teologi Kreasi dan Konservasi Bumi, Victor P.H. Nikijuluw, menjelaskan bahwa masa setelah penciptaan adalah masa perhentian bagi Allah. Semua yang diciptakan adalah baik dan kehadiran manusia membuat kualitas penciptaan Allah paripurna, menjadi sangat baik. Allah berhenti pada hari ketujuh. Berhenti bukan berarti selesai. Allah masih beraktivitas, yaitu menguduskan dan memberkati ciptaan-Nya.

Istilah hari perhentian dikenal dengan Sabat. Nikijuluw juga menerangkan bahwa Israel harus berhenti setelah bekerja selama enam hari dan menggunakan hari ketujuh, atau hari Sabat untuk beristirahat, untuk merenung dan menikmati apa yang sudah Allah lakukan bagi kehidupan mereka. Hari Sabat bukanlah sekadar hari berhenti dari pekerjaan rutin, tetapi hari untuk memuliakan Allah melalui ibadah dan perbuatan nyata.

Yesus pun melakukan ibadah Sabat-Nya  tidak hanya secara fisik, tetapi perbuatan yang memuliakan Allah, yaitu menyembuhkan orang-orang yang memang sangat membutuhkan kesembuhan dan jamahan kasih Allah, dan keselamatan.

Manusia sebagai citra Allah adalah bagian dari yang dikuduskan dan diberkati, karenanya manusia memiliki tanggung jawab dan kewajiban untuk memuliakan  Allah, beribadah kepada Allah, dan melakukan apa yang Allah perintahkan. Tanggung jawab lainnya adalah merawat  dan memelihara hasil ciptaan Allah sedemikian rupa, sehingga akan tetap berguna dan bermanfaat bagi manusia dan generasi mendatang.

Kita boleh bekerja keras, sebab bekerja merupakan mandat Tuhan bagi kita di bumi ini, dan kerja merupakan ibadah atau bakti kita kepada Tuhan. Namun, jangan lupa bahwa tubuh kita adalah alat untuk memuliakan Tuhan, kita harus merawatnya dan membiarkannya beristirahat. Jika tidak, kelelahan akan membuat kita tidak dapat memiliki dan menikmati persekutuan dengan Tuhan, serta tidak dapat menjadi berkat bagi keluarga dan sesama.

Persekutuan yang baik dengan Tuhan akan mampu menyegarkan tubuh kita untuk dapat kembali bekerja melakukan mandat Tuhan.

 

Ririn Sihotang

Literatur Perkantas Nasional

Posted on Tinggalkan komentar

Ciptaan yang Istimewa

Teori evolusi Darwin dalam buku On the Origin of Species memang menjadi perdebatan—kontroversial—dan hingga sekarang tetap menjadi dasar bagi penelitian bidang Biologi Evolusi.

Kalau kita memandangnya dari sisi Alkitab dan iman Kristen, teori ini tidak berlaku bagi manusia yang diciptakan dengan citra Allah.

Alkitab dengan keyakinan penuh menyatakan bahwa manusia diciptakan oleh Allah. Manusia bukan merupakan hasil dari proses evolusi. Bila kita percaya pada teori dan proses evolusi, maka kita mengakui bahwa yang diciptakan Allah bukan manusia, tetapi spesies lainnya yang kemudian berubah perlahan-lahan karena seleksi dan proses alam hingga menjadi manusia.

Proses dan teori evolusi ini tidak berlaku bagi manusia. Alkitab menyatakan bahwa Allah pada akhirnya memutuskan menciptakan manusia, sebagai citra Allah, dengan napas Allah yang diberikan langsung kepada manusia. Tidak ada ciptaan lain di alam semesta ini yang mendapat secara langsung napas kehidupan dari Allah. Hanya manusia yang diciptakan dengan cara demikian.

Dalam bukunya Teologi kreasi dan Konservasi Bumi, Victor P.H. Nikijuluw, menjelaskan bahwa dua asumsi dasar yang digunakan Darwin, yaitu Struggle for Life (berusaha keras untuk hidup) dan Survival of the Fittest (yang paling kuat yang akan bertahan hidup)—cenderung atas dasar variabel atau atribut fisik. Padahal, manusia tidak hanya fisik (tubuh), bukan hanya debu tanah, tetapi yang paling penting adalah napas (roh dan jiwa) kehidupan dari Allah. Tentang napas kehidupan dari Allah ini tidak disinggung dalam Teori Darwin. Memang karya Allah tidak bisa dijadikan teori. Siapa yang mampu memahami pikiran Allah?

Kita diciptakan menurut gambar dan rupa Allah. Mungkin saja secara fisik dan psikis, kita berbeda dari yang lain, tetapi kita adalah ciptaan Allah yang khas, yang khusus, dan yang sangat berharga bagi Allah karena napas kita adalah kehidupan yang diberikan oleh Allah.

Citra Allah yang ada pada kita, membuat kita memiliki kesadaran dan hati nurani; sehingga kita dapat berkomunikasi dengan Allah. Citra Allah juga dapat membuka akses dan kesempatan kepada kita untuk setiap waktu dapat berhubungan dan bersekutu dengan Allah. Hal ini pulalah yang menegaskan betapa istimewanya kita sebagai makhluk ciptaan-Nya.

Jika kita merupakan ciptaan yang istimewa dan sangat berharga di mata Allah, pertanyaannya, sudahkah kita memuliakan Allah dalam kehidupan kita? Sudahkah kita senantiasa memancarkan citra Allah—dalam kata dan karya kita?

Rycko Indrawan

Literatur Perkantas Nasional

Posted on Tinggalkan komentar

Melestarikan Fauna

Dalam buku Teologi Kreasi dan Konservasi Bumi, Victor P.H. Nikijuluw, membahas tentang Allah yang berkarya secara kreatif dan sistematis dalam penciptaan. Berawal dari terang sebagai sumber energi, ruang hidup sebagai habitat, tumbuhan sebagai makanan, benda-benda langit sebagai penerang, tumbuhan sebagai produsen energi, lalu hewan sebagai organisme penting.

Dalam bab 6, Nikijuluw, menerangkan Kejadian 1:20-25 tentang biodiversitas penciptaan fauna. Allah menciptakan makhluk hidup di dalam air, burung-burung, binatang laut yang besar, makhluk hidup yang bergerak dalam air, dan burung bersayap pada hari kelima. Kemudian Allah juga menjadikan segala jenis makhluk hidup, binatang liar, ternak, dan binatang melata di darat. Allah melihat bahwa semua ciptaan-Nya itu baik.

Peran Allah terhadap binatang dijelaskan dalam Ayub 39, yakni menyediakan makanan untuk hewan, menentukan dan mengatur reproduksi hewan, menyediakan habitat untuk hewan, menentukan hewan ternak dan piaraan, mengatur perilaku hewan, memberi kekuatan kepada hewan, serta mengatur migrasi hewan.

Semua binatang sangat bernilai dan dipelihara Allah. Manusia sewajarnya menghormati ciptaan Allah ini. Dengan menjaga kelestarian fauna, kita memuliakan Sang Pencipta. Hendaknya kita juga memuji Tuhan karena karya-Nya yang baik dan sempurna.

Begitu pentingnya binatang, sampai-sampai Allah tidak memusnahkan binatang pada saat peristiwa air bah. Tuhan menyelamatkan setiap jenis binatang secara berpasangan di dalam bahtera Nuh.

Allah bukan hanya memberkati manusia, melainkan juga binatang. Fauna bisa berkembang biak dan memenuhi bumi hanya karena Sang Pencipta.

Oleh karena itu, marilah kita menjaga kelestarian fauna. Dalam mengonsumsi daging, jangan mengonsumsi hewan yang diburu dari alam, tetapi hanya hewan ternak. Kita pun harus selektif dalam memilih ikan untuk dikonsumsi, sebaiknya kita mengonsumsi ikan pelagis kecil yang usia hidupnya pendek seperti layang, kembung, sarden, tongkol, dan teri. Hindari mengonsumsi ikan hiu dan tuna yang merupakan predator tingkat tinggi penjaga ekosistem laut.

Selain itu, hindari juga menggunakan pakaian dan aksesoris yang berasal dari kulit binatang. Usahakan agar binatang tidak punah sebab binatang turut menjaga keseimbangan ekosistem bumi. Mari kita turut melestarikan fauna.

Priskila Dewi Setyawan

Literatur Perkantas Nasional

Posted on Tinggalkan komentar

Misi ke Mars?

Kemarin malam teman kuliah saya mengirim pesan berupa tautan di grup Whatsapp. Tautan itu dibarengi dengan tanda pendaftaran dirinya dalam sebuah misi besar, misi ke Planet Mars. Sontak seluruh anggota grup Whatsapp dibuat antusias dan ingin tahu lebih banyak mengenai misi besar itu.

Rencananya, NASA akan meluncurkan misi robot penjelajah ke luar angkasa bernama M2020 pada Juli 2020. Robot yang mendarat pada Februari 2021 di Mars itu memiliki misi antara lain menyelidiki tanda-tanda kehidupan mikroba di Mars, mengidentifikasi iklim dan geologi Planet Mars, serta mengumpulkan referensi untuk pendaratan manusia di Mars ke depannya. NASA memberikan kesempatan kepada publik untuk mengirimkan nama ke Planet Mars lewat robot penjelajah tersebut. Tercatat hingga 19 Juni 2019, sudah lebih dari 7,2 juta orang mendaftarkan nama mereka. Pada tanggal yang sama, total pendaftar dari Indonesia telah mencapai 130.000 orang.

Victor P.H. Nikijuluw dalam bukunya Teologi Kreasi dan Konservasi Bumi menyatakan bahwa sesungguhnya memindahkan manusia dari Bumi ke Mars seharusnya bukanlah suatu pilihan. Meskipun manusia mampu menciptakan teknologi untuk mengatasi kendala-kendala teknis agar bisa menjadikan Mars sebagai habitat ideal, hal itu tidak berarti bahwa manusia bisa hidup dan berkembang biak di sana. Allah menciptakan dan menakdirkan manusia hidup di bumi, bukan di Mars.

Nikijuluw juga menerangkan bahwa sudah lebih dari 50 misi eksplorasi Mars sebagian besarnya mengalami kegagalan. Hanya ada empat misi yang relatif berhasil, yakni Sojouner (1997), Spirit (2004), Opportunity (2004), dan Curiosty (2014). Namun, keempat misi itu pun menghadapi berbagai persoalan yang tidak bisa dipecahkan. Seharusnya hal ini menyurutkan hasrat manusia untuk mencari kediaman baru, tetapi hasrat ini sulit dikekang.

Manusia ingin mendapatkan planet baru pengganti bumi, padahal bumi adalah pemberian Allah bagi manusia. Eksplorasi alam semesta semacam ini seharusnya semakin membuat manusia sadar dan tahu bahwa hanya Allah yang berkuasa dan mengendalikan alam semesta, bahwa manusia harus bersyukur bumi dipilih Allah sebagai rumah dan kediaman.

Allah sangat mengasihi dan mencintai kita melebihi kasih-Nya pada kreasi lainnya. Untuk keselamatan kita di alam semesta ini, Allah merancang dan melakukan skenario agung-Nya, yaitu menyelamatkan kita dari kebinasaan karena dosa, dan pada saatnya nanti Ia akan membawa kita ke dalam kehidupan yang abadi. Kita yang begitu kecil di alam semesta ini diperhatikan dan diselamatkan oleh Allah Mahabesar.

Febriana D.H.

Literatur Perkantas Nasional

Posted on Tinggalkan komentar

Inspirasi Siang: Pecinta Alam

“Jika dicinta malah semakin membuat banyak luka, lebih baik saya sendiri, sepi namun terlindungi.” Ini bukanlah curhatan yang saya dengar dari seorang pemuda yang sedang patah hati. Curahan hati ini coba saya kenali dari alam yang sedang bersusah hati.

Pencinta alam, demikian para pendaki gunung ingin disebut. Entah bagaimana perwujudan rasa cinta tersebut bisa terjadi. Mendaki yang seharusnya menjadi suatu kegiatan konservasi malah berubah menjadi tragedi.

Kini, agenda kegiatan naik gunung lebih dinikmati sebagai sarana rekreasi bukan kegiatan preservasi. Sebenarnya, sah-sah saja mendaki demi menikmati keindahan alam. Namun, apa jadinya jika pendakian malah menghasilkan sampah yang berserakan.

Lihat saja laporan BBC Indonesia yang menuliskan bagaimana persoalan tumpukan sampah di taman nasional dan gunung di Indonesia menjadi panorama umum.

Data Balai Besar Taman Nasional Bromo Tengger Semeru menunjukkan setiap pengunjung membuang sekitar 0,5 kilogram sampah di Gunung Semeru. Padahal, setiap hari gunung tersebut disambangi 200 hingga 500 pendaki.

Victor Nikijuluw dalam Teologi Kreasi dan Konservasi Bumi memaparkan bagaimana Allah menciptakan biodiversitas tumbuhan dengan begitu kompleks. Diperkirakan, ada hampir setengah juta spesies tumbuhan di muka bumi. Semua itu memiliki manfaat, bukan sekadar  keindahan yang bisa dinikmati, namun penopang kehidupan yang harus dilestarikan.

Sebelum bilang cinta kepada lingkungan, baiknya kita sejenak berkaca pada lagu ini:

Kalau kau benar benar sayang padaku; Kalau kau benar benar cinta

Tak perlu kau katakan; Semua itu cukup tingkah laku.

 

Tornado Gregorius Silitonga

Literatur Perkantas Nasional

Posted on Tinggalkan komentar

Lulus Mau ke Mana?

”Jika tidak tahu ke mana tujuanmu, maka semua jalan akan membawamu ke sana.” Kutipan dari Alice in Wonderland ini mengawali rangkaian seminar Lulus Mau ke Mana? yang diadakan Literatur Perkantas pada 18 Mei 2019 di Gereja Yesus Kristus Jakarta.

Tujuan itu sungguh penting. Tanpanya kita tidak akan pernah sampai ke mana pun. Itu sebabnya, kita perlu mencari tahu dan menentukan tujuan hidup kita. Lebih tepatnya, tujuan Tuhan bagi hidup kita.

Apa tujuan Tuhan bagi saya? Bagaimana cara mencari tahu dan menentukannya? Bagaimana cara mewujudkannya? Jika selama ini saya berjalan tanpa tujuan, masih mungkinkah memperbaikinya? Apakah tujuan ini dari Tuhan atau ambisi saya? Bagaimana cara mengujinya? Serangkaian pertanyaan itulah yang muncul di benak saya.

Namun, Pdt. Yoel M. Indrasmoro, selaku pembicara, mengingatkan, seminar ini mungkin tidak akan langsung membuat para peserta mengetahui tujuan Tuhan bagi kami. Namun, setidaknya dapat menolong kami untuk sampai ke sana.

Sebelum dapat memahami tujuan Tuhan dalam diri kami, pertama-tama Pdt. Yoel M. Indrasmoro meminta kami untuk menuliskan dan mengungkapkan perasaan kami berkait dengan pertanyaan ”Siapakah Anda?”, dan dari sekian banyak jawaban kami diminta untuk memilih tiga jawaban penting dari pertanyaan tersebut, lalu kami diminta untuk menemukan satu kenyataan penting tentang diri kami yang merupakan sumber kegembiraan terbesar kami.

Sungguh proses yang menyenangkan karena sebagian besar dari kami ternyata belum pernah melakukannya, dan tanpa kami sadari proses ini membuat kami menjadi takjub akan diri kami. Kami takjub dengan segala keberadaan kami, takjub ketika kami mulai mengenali siapa diri kami yang sesungguhnya dengan segala kekuatan dan kelemahan yang ada pada kami, dengan segala kerinduan yang kami miliki.

Tak hanya itu kami juga diminta untuk menggambarkan diri kami. Salah satu rekan diskusi saya mengandaikan dirinya sebagai perisai yang melindungi dan mencegah terjadinya kecelakaan. Wajar memang, sebab ia berprofesi sebagai petugas K3 di sebuah perusahaan swasta. Tugasnya adalah meminimalisir bahkan meniadakan sama sekali kecelakaan kerja dan mengutamakan keselamatan kerja karyawan. Saya rasa dia sangat bangga dengan pekerjaannya dan dia mampu memaknai betapa pentingnya pekerjaan yang sedang ia emban itu. Ini luar biasa!

Ya, kami memang memiliki waktu-waktu berdiskusi dengan sesama peserta. Peserta yang terdiri atas mahasiswa dan alumni ternyata memiliki latar belakang pendidikan yang berbeda-beda—Agronomi, Agribisnis, Kedokteran, Ekonomi, Perhotelan, Broadcast, Sastra Indonesia, Sastra Jerman, Sastra Inggris, dan Sastra Prancis. Keragaman peserta itu memperkaya diskusi di antara kami.

Selain itu, Pdt. Yoel M. Indrasmoro juga meminta kami untuk menuliskan potensi atau bakat-bakat apa yang kami miliki. Seraya menuliskannya, kami mulai menyadari bahwa ada begitu banyak potensi dan talenta yang ada pada kami. Ada talenta yang masih terus kami kembangkan dan ada talenta yang memang dengan segaja kami pendam.

”Kita memang harus memilih, dengan begitu kita bisa fokus. Fokus pada talenta yang mendatangkan kebaikan bagi lebih banyak orang,” jelas Pdt. Yoel.

Materi yang dibagikan sangat beragam, mulai dari bahan pertanyaan, tulisan tentang panggilan hidup seseorang, kisah Musa, video, serta diskusi di antara kami membuka pemahaman kami tentang siapa diri kami, juga talenta yang ada pada kami.

Dalam seminar ini peserta juga mendapatkan buku pegangan Gumulan Hidup Pascakuliah terbitan Literatur Perkantas Nasional.

Pada akhirnya semua itu menolong kami untuk menemukan, mengarahkan, mempertajam, serta mengukuhkan kerinduan Tuhan bagi diri kami melalui pekerjaan kami. Karena pekerjaan kami sesungguhnya adalah pekerjaan Tuhan yang dititipkan kepada kami.

Posted on Tinggalkan komentar

Sumber Terang

Pernahkah Anda membayangkan seperti apa keadaan bumi tanpa terang?

Sejatinya kondisinya persis seperti yang tertulis dalam Kejadian 1:2: ”gelap gulita menutupi samudera raya.” Tanpa terang yang ada hanyalah kegelapan. Dalam keadaan gelap manusia tidak dapat melihat. Apa yang lebih mengerikan daripada keadaan gelap? Kita tidak dapat melihat sekeliling kita. Kalau ada jurang di depan mata, tentu kita bisa jatuh ke dalamnya.

Akan tetapi, dalam inisiatif-Nya, Allah menjadikan terang sebagai ciptaan pertama-Nya. Dan Allah melihat bahwa terang itu baik. Namun, dari manakah terang ini berasal sedang Allah baru menciptakan benda-benda penerang pada hari keempat?

Victor P.H. Nikijuluw dalam bukunya Teologi Kreasi dan Konservasi Bumi menyadarkan kita bahwa Allah adalah sumber terang yang sesungguhnya, bukan matahari. Pada gilirannya Allah juga menciptakan matahari. Akan tetapi, tanpa matahari, terang itu sudah ada.

Secara ilmu pengetahuan memang tidak bisa dimungkiri bahwa matahari adalah sumber kehidupan. Hal ini juga yang dipahami oleh Nikijuluw: ”Karena terang yang berasal dari matahari, maka energi untuk alam semesta ini tersedia, lalu kehidupan bisa berlangsung di atas muka bumi. Dengan kata lain, tanpa matahari, tidak ada kehidupan.”

Namun, Nikijuluw juga mengingatkan bahwa sesungguhnya matahari pun adalah ciptaan Allah, sehingga sumber daripada segala sumber kehidupan adalah Allah sendiri. Allahlah yang menjadikan segala yang ada dengan firman-Nya. Termasuk matahari yang memancarkan terang.

Itu sebabnya pemazmur mengajak, ”Pujilah Dia, hai matahari dan bulan, pujilah Dia, hai segala bintang terang!” (Mzm. 148:3). Dan kalau sudah begini, selayaknyalah kita juga bersama semua makhluk di langit dan di bumi memuji Tuhan! Sebab, oleh karena kemurahan-Nya kita dapat menikmati terang di muka bumi.

Citra Dewi Siahaan

Literatur Perkantas Nasional

Posted on Tinggalkan komentar

Inspirasi Siang: Seperti Rusa

”Belum genap seminggu saya meninggalkan tempat itu, namun saya sudah sangat merindukannya.” Demikian Ana menyerukan kerinduannya terhadap suatu tempat yang baru dikunjunginya. Menurut dia, tempat itu sangat indah—seperti surga dunia. Tempat itu memberi kedamaian dan ketenangan baginya. Bahkan, ia berpikir untuk tinggal di sana suatu hari kelak.

Sepertinya tempat itu memang benar-benar indah. Sampai-sampai turis asing pun tak mau ketinggalan ingin menikmati pesona alamnya. Entahlah, saya sendiri belum pernah ke sana. Namun, seindah apa pun tempat itu, yang tak boleh dilupakan adalah tempat itu ada yang menciptakan.

Di sinilah letak persoalannya, kadang-kadang kita lebih fokus pada hasil ciptaan ketimbang Penciptanya. Padahal kalau kita mau bernala-nala, jika ciptaan-Nya saja begitu indah, apalagi Dia yang menciptakan. Kepada Dialah seharusnya pujian dan kerinduan kita tertuju.

”Seperti rusa yang merindukan sungai yang berair, demikianlah jiwaku merindukan Engkau, ya Allah. Jiwaku haus kepada Allah, kepada Allah yang hidup. Bilakah aku boleh datang melihat Allah?” (Mzm. 42:2).

Pemazmur mengandaikan kerinduannya kepada Allah bagai rusa yang merindukan air. Rusa membutuhkan air dalam jumlah yang relatif banyak. Kalau kebutuhannya akan air tidak terpenuhi, ia akan kehausan dan menjadi tidak berdaya. Demikianlah kerinduan pemazmur akan Allah. Ia akan sangat tersiksa kalau belum sampai menemukan Allah. Sudahkah kita merindukan Allah sebagaimana pemazmur merindukan-Nya?

Dalam bab terakhir buku Mengasihi Yang Mahakudus, A.W. Tozer tidak terlalu khawatir jika ada orang yang lapar dan haus karena ia tahu orang itu akan pergi ke suatu tempat untuk memenuhi kebutuhannya. Sehingga ia menulis: ”Kita hendaknya tidak menginginkan kepuasan, tetapi haus dan lapar akan Allah.”

Berkait hal itu, Tozer mengajak kita memandang orang kudus pada masa lampau. Apa yang membuat mereka menjadi orang kudus pada masanya?

Menurut Tozer, jawabannya adalah kesungguhan atas kerinduan mereka kepada Allah. Mereka menginginkan Allah lebih dari segalanya. Mereka menginginkan Allah lebih daripada kemudahan, hiburan, kemasyhuran, kekayaan, teman, atau bahkan hidup itu sendiri. Mereka menginginkan Allah, Allah Tritunggal, sehingga hati mereka sangat rindu akan Allah seperti rusa merindukan sungai yang berair.

Itu jugalah kerinduan Tozer. Bagi dia, jika seseorang membaca buku ini dan sangat terusik, sehingga mereka mencari Allah dengan kerinduan yang tak kunjung terpuaskan kecuali bersama Allah, maka buku ini telah mencapai tujuannya.

Kiranya kerinduan Tozer akan bersambut dengan kerinduan pembaca!

 

Citra Dewi Siahaan

Literatur Perkantas Nasional

Posted on Tinggalkan komentar

Inspirasi Jumat Siang: Maka Jiwaku

”Maka jiwaku pun memuji-Mu: ’Sungguh besar Kau, Allahku!’” Demikianlah syair Carl Gustaf Boberg, yang terekam dalam Kidung Jemaat 64 karya terjemahan E.L. Pohan. Penggalan syair yang menjadi refrein itu diulang dua kali seolah Boberg merasa tak cukup hanya mendaraskannya satu kali saja.

Mengapa perlu dua kali? Tentu hanya sang penyair yang tahu alasan pastinya. Namun, agaknya Boberg menyadari bahwa ”Bila kulihat bintang gemerlapan dan bunyi guruh riuh kudengar, ya Tuhanku tak putus aku heran melihat ciptaan-Mu yang besar”, maka pujian kepada Allah menjadi keniscayaan. Pujian itu merupakan respons ketika sang penyair menyaksikan karya cipta Allah.

Itu jugalah yang ditekankan A.W. Tozer dalam bab ke-17 dari bukunya Mengasihi Yang Mahakudus. Menurut Tozer, ”Jejak jari Allah ada di seluruh ciptaan. Semakin kita menyelami misteri penciptaan, kita semakin melihat jejak jari Allah.”

Senada dengan Tozer, pemazmur pun bermadah: ”Langit menceritakan kemuliaan Allah, dan cakrawala memberitakan pekerjaan tangan-Nya; hari meneruskan berita itu kepada hari, dan malam menyampaikan pengetahuan itu kepada malam” (Mzm. 19:2-3).

Alam secara ajek mengagungkan kemuliaan Allah. Karena itulah, Tozer menegaskan: ”Alam seharusnya secara otomatis membawa kita kepada Allah, yang digambarkan kepada kita dalam firman Allah sebagai Sang Pencipta.”

Rasakanlah sejuknya pagi, hiruplah aroma mawar dan melati, saksikanlah riangnya kupu-kupu terbang kian kemari. Mungkin kita pun akan berseru, ”Maka jiwaku pun memuji-Mu: ’Sungguh besar Kau, Allahku!’”

Yoel M. Indrasmoro
Literatur Perkantas Nasional

Posted on Tinggalkan komentar

Inspirasi Jumat Siang: Ketika Doa Tak Lagi Tentangku, Namun Tentang-Nya

”Hei lihat ada bintang jatuh, cepat ucapkan permohonanmu!” Teriak seorang teman saat berada dalam satu kesempatan perkemahan. ”Tiup lilinnya, tiup lilinnya, tiup lilinnya sekarang juga, sekarang juga, sekarang juga.” Demikian lantunan lagu yang dinyanyikan teman-teman untuk mengiring saya meniup lilin ulang tahun. Tak lama setelah lilin padam, merka pun mendesak saya untuk mengucapkan permohonan.

Ada berbagai kesempatan yang kita anggap waktu terbaik untuk mengucapkan permohonan dan doa kita. Ada kata-kata terbaik yang kita persiapkan, kesempatan terbaik yang kita tentukan, juga tempat terbaik yang kita pilih. Gereja, tempat-tempat bersejarah, atau bahkan kuburan adalah contoh dari beberapa tempat yang kita anggap baik untuk melantunkan permohonan dan doa kita. Kita berpikir dengan begitu Allah akan mendengarkan doa-doa kita.

Namun, segala persepsi ini sungguh keliru. A.W. Tozer dalam buku Mengasihi Yang Mahakudus, menyatakan bahwa Allah mendengar kita bukan karena doa kita baik, tetapi karena Allah itu baik.

Tozer menegaskan, ”Tentu saja, Anda tidak baik. Akan tetapi, Allah baik, dan karena Ia baik, kita berani memanfaatkan kebaikan-Nya. Pintu Allah selalu terbuka untuk setiap anak-anak-Nya yang bersalah, sehingga mereka dapat berkata, ’Oh, rasakan dan lihatlah bahwa Tuhan itu baik.’”

Bukan karena bintang jatuh doa dan permohonan kita harus segera diucapkan. Namun, karena kita telah jatuh dalam dosa, maka permohonan akan pertolongan Allah harus segera kita serukan. Sebab, hanya Allah satu-satunya yang sanggup menyelamatkan kita dari penghukuman dosa.

Bukan karena kata-kata terbaik, bahkan tempat terbaik, sehingga Allah pasti mendengar doa kita. Akan tetapi, karena Allah baik, dan ketika kita berdoa kebaikan Allah adalah dasar dari pengharapan kita.

Dalam kondisi apa pun janganlah lantas kita berkata: ”Saya tidak baik. Tidak ada gunanya berdoa; saya memang tidak baik.” Jangan! Tetaplah berdoa karena Allah sungguh baik dan bersedia mendengar segala seru dan doamu.

Tornado Gregorius Silitonga

Literatur Perkantas Nasional

Posted on Tinggalkan komentar

Bedah Buku Teologi Anak

Ditulis Oleh

Pdt. Ervin Sientje Merentek-Abram

Pendahuluan

Pertama-tama saya menyampaikan banyak terima kasih atas undangannya untuk menjadi panelis dalam acara bedah buku Teologi Anak. Saya memandang acara ini sangat bermakna, karena berbicara tentang pokok yang sangat penting, walaupun sering disepelekan.

Judul buku Teologi Anak sangat eye catching (menarik perhatian) jika dilihat dari sudut pandang terminologi dan sejarah perkembangan teologi. Pdt. Dr. Daniel Nuhamara dalam tulisannya pada bagian Prolog, menjelaskan bahwa istilah Teologi Anak (Child Theology) dipahami sebagai upaya berteologi untuk mengenal Tuhan (Teos) dalam atau dari perspektif anak. Sampai awal abad ke-21, berteologi selalu dilakukan dalam perspektif orang-orang dewasa.

Kita mengenal Teologi Pembebasan di Amerika Latin, Teologi Hitam (Black Theology) di Afrika, Teologi Rakyat Jelata (Minjung Theology) di Korea, Teologi Feminis (Teologi Perempuan), Teologi Rahim, semuanya adalah cara mengenal Tuhan dalam atau dari perspektif orang-orang dewasa. Biasanya, orang-orang percaya yang mengalami pergumulan dalam konteksnya, akan berupaya mencari tahu kehendak Tuhan dan apa respons mereka dalam situasi seperti itu.

Itulah sebabnya upaya-upaya berteologi seperti yang telah disebut sebelumnya, Teologi Kontekstual dikembangkan dalam konteks pergumulan pada saat itu. Saya yakin kita semua setuju kalau Teologi Anak adalah salah satu bentuk upaya berteologi kontekstual yang sedang dikembangkan. Ini adalah satu langkah maju, karena selama ini kita melihat yang mengembangkan teologi adalah orang-orang dewasa, dan anak-anak dianggap tidak tahu apa-apa tentang upaya berteologi. Padahal, orang dewasa perlu belajar dari anak-anak tentang upaya berteologi itu, yakni dari kepolosan mereka, kejujuran, serta kekuatan iman mereka.

Photo by freestocks.org from Pexels

Buku Teologi Anak dan Sumbangannya dalam Pendidikan Anak

Buku Teologi Anak yang diterbitkan oleh Tim KTAK Anak Bersinar Bangsa Gemilang berisi sembilan kajian tulisan para penulis yang juga dikenal sebagai pemerhati anak dan pendidikan anak. Para penulis membahas tempat anak dalam beberapa bidang yang penting yang harus digarisbawahi, di antaranya: ”Tantangan dan Peluang bagi Anak di Indonesia”; ”Anak dalam Alkitab”; ”Anak dalam Gereja”; ”Anak dalam Budaya”; ”Anak dalam Sekolah”; ”Anak dalam Perspektif Hukum”; ”Anak dalam Media”; ”Anak dalam Keluarga”; dan ”Anak dalam Pandangan Anak”.

Buku yang sarat dan padat makna ini ditulis dengan tujuan agar orang-orang dewasa—lebih khusus para memimpin gereja dan lembaga pendidikan teologi—mempunyai paradigma baru dalam memandang anak-anak yaitu dalam perspektif yang selayaknya. Paradigma lama menggarisbawahi orang dewasa sebagai satu-satunya narasumber dalam upaya mengenal Allah, sedangkan dalam paradigma baru, anak-anak dipandang mampu memberi masukkan kepada orang dewasa dalam upaya berteologi serta memberi respons terhadap kasih-Nya. Bersama anak orang-orang dewasa dapat mengekspresikan imannya dengan jujur dan berani.

Tentu paradigma baru ini tidak langsung bisa diterima oleh orang dewasa, apalagi yang sudah terbiasa menganggap anak-anak sebagai kelompok yang ”tidak tahu apa-apa”, sehingga mewajibkan anak-anak untuk mengikuti kemauan orang dewasa. Anak-anak juga dianggap tidak tahu karena umur mereka masih jauh lebih muda dibanding orang dewasa (bayi, 0-2 tahun; anak kecil, 3-6 tahun; anak tanggung, 7-9 tahun; anak besar, 10-12 tahun).

”Masih hijau”, begitu kata orang-orang dewasa; belum tahu apa-apa, jadi harus diam. Demikianlah dalam waktu yang lama anak-anak terpasung dalam keinginan orang-orang dewasa. Susi Rio Panjaitan dalam Bab 9 buku ini  mengatakan: ”Dengan perspektif masing-masing, mereka (orang dewasa) memberikan komentar tentang anak seakan-akan merekalah yang paling mengetahui tentang anak dan paling tahu apa yang terbaik buat anak. Saya kira situasi kita saat ini masih mencerminkan pemahaman seperti ini.”

Lihat saja, ketika kita membahas upaya mengenal Allah dari perspektif anak, yang hadir semuanya orang-orang dewasa, tidak ada anak-anak. Padahal, Nuhamara menggarisbawahi bahwa paradigma baru itu harus dikembangkan karena ada dasar teologinya seperti yang dilakukan oleh Yesus dan dikisahkan dalam Matius 18:1-5. Dalam kisah ini, Yesus menempatkan seorang anak kecil di tengah-tengah mereka (ay. 2) dan dijadikan contoh bagi orang-orang dewasa. Keberadaan anak bisa menjadi contoh bagi orang dewasa dalam memahami konsep Israel tentang Kerajaan Allah. Dengan demikian, Kerajaan Allah bukanlah kerajaan dengan kekuatan politik, kuasa, dan kebesaran, tetapi Kerajaan yang menghadirkan damai, keadilan, kasih, kebersamaan, dan shalom.

Dalam pembahasan sebelumnya, telah dijelaskan bahwa anak-anak adalah agen dalam berteologi, juga menolong orang-orang dewasa dalam upaya mengenal Allah, serta merespons kehendak-Nya dengan benar. Justitia Vox Dei Hattu, salah seorang penulis dalam buku ini, menghubungkan Matius 18:1-5 dengan Injil yang paralel, yaitu Markus 9:33-37. Ia menggarisbawahi peristiwa ketika murid-murid Yesus bertengkar tentang siapa yang terbesar di antara mereka. Pada saat itu, Yesus menempatkan seorang anak kecil di tengah-tengah mereka dan menunjukkan contoh tentang kerendahan hati.

Dalam masa pelayanan Yesus, secara nyata telah memperlihatkan bahwa Ia sangat mengasihi anak-anak. Ketika murid-murid memarahi orang tua yang membawa anak-anak mereka kepada Yesus (mungkin karena anak-anak ribut dan mengganggu istirahat mereka), Yesus justru memanggil mereka dan memberkati mereka. Ucapan Yesus ”Biarkanlah anak-anak itu datang kepadaku, jangan menghalangi mereka sebab orang-orang-orang yang seperti itulah yang empunya Kerajaan Allah” menjadi populer dipakai di setiap Ibadah Baptisan Kudus.

Photo by Josh Willink from Pexels

Yesus konsisten dengan sikap-Nya terhadap anak-anak. Yudiet Tompah menulis, bahwa sebagaimana yang Ia lakukan kepada orang-orang dewasa, Yesus juga melakukannya kepada anak-anak. Anak-anak disembuhkan dan dihidupkan, seperti yang dialami anak perempuan Yairus (Mat. 9:18); anak di Kapernaum (Yoh. 4:46-54) anak yang sakit ayan dan kerasukan setan (Luk.9:37-43) dan anak perempuan Kanaan (Mrk. 7:24-30).

Dalam bagian lain dari Alkitab, nyata sekali bahwa Allah memberi perhatian luar biasa dan keberpihakan kepada anak-anak. Ismael diperhatikan keberlangsungan hidupnya. Ada anak laki-laki dari perempuan Sunem (2Raj. 4:8-37) yang disembuhkan. Yudiet juga mencatat, bahwa Allah menyediakan orang-orang tertentu agar anak-anak hidup dalam lingkungan yang nyaman dan kondusif, misalnya dalam kisah Samuel yang mendapat perhatian penuh dari Hana, ibunya (1Sam. 1:22) dan dalam kisah Miryam, kakak Musa yang menjaga Musa dari  jauh menyaksikan putri Firaun mengangkat Musa dari sungai Nil untuk memeliharanya sebagai anaknya. Lantas, secara cerdik ia mencarikan perempuan untuk menyusui Musa yang tidak lain adalah Yokhebed, ibu kandung Musa sendiri supaya Musa mendapat tempat kediaman dengan suasana yang kondusif (Kel. 2:1-10).

Tulisan Alkitab lainnya, menyaksikan bahwa anak diberi ruang untuk mengutarakan pendapat seperti dalam kisah Naaman, seorang anak perempuan Israel yang menjadi pelayan di rumah Naaman. Ia memberi informasi tentang nabi Israel yang dapat menyembuhkan orang-orang kusta. Penyampaian anak perempuan itu diterima baik oleh Naaman, dan ketika ia melakukan apa yang dianjurkan oleh gadis kecil ini serta nabi Elisa, ia mengalami pemulihan.

Tentu, kita juga tidak melupakan tulisan-tulisan bernuansa buram di mana anak-anak mengalami ancaman pada masanya, misalnya anak perempuan Yefta (Hak. 11:30,31); anak-anak yang dipersembahkan kepada berhala yang dipandang sebagai suatu kekejian di mata Tuhan (Ul. 12:29-31); pembunuhan massal terhadap anak-anak di Betlehem dan Rama atas perintah Herodes (Mat. 2:16-18). Kejujuran kisah dalam Alkitab tentu harus direspons secara kritis dan dengan upaya hermeneutik yang tepat, supaya menjadi pembelajaran yang kuat untuk menghindari kekerasan-kekerasan dan ancaman-ancaman yang terjadi terhadap anak-anak.

Source: pixabay.com

Catatan-catatan tersebut di atas, harus dilihat sebagai pendorong yang kuat untuk mengembangkan Teologi Anak. Hal ini perlu dilakukan dengan serius, sebab seperti yang dikemukakan oleh Haryati ada begitu banyaknya ancaman yang dihadapi oleh anak-anak pada zaman digital, di antaranya: adanya konvergensi teknologi dan media, adanya gerakan moralitas baru yang menggeser nilai-nilai kebenaran, munculnya filosofi baru anti agama, kekerasan terhadap anak yang terus terjadi, semakin maraknya pornografi.

Jika terlambat dalam bertindak, maka kita akan kehilangan kesempatan untuk mempersiapkan suatu dunia yang lebih baik dan kondusif. Sebab, apa yang dialami oleh anak-anak sekarang ini yang jumlahnya besar akan turut menentukan arah perjalanan negara dan bangsa ke depan. Haryati menggarisbawahi: ”Siapa yang memegang anak, memegang masa depan.” Jumlah penduduk usia anak di Indonesia dan seluruh dunia adalah yang terbanyak dalam kependudukan, dan oleh sebab itu menjangkau dan melayani anak-anak sama dengan menjangkau dan melayani mayoritas penduduk Indonesia.

Hal ini juga yang disuarakan S.S. Benyamin Lumi yang mengulas pokok ”Anak Dalam Perspektif Hukum”. Beliau menggarisbawahi begitu banyaknya ancaman dan kekerasan yang dihadapi anak-anak masa kini, misalnya: kekerasan fisik, kekerasan psikis (emosional), penelantaran anak, kekerasan sosial, kekerasan oleh media massa, sehingga perlindungan hukum kepada anak-anak dan meningkatkan kesejahteraan sosial dan kesejahteraan anak merupakan tugas yang tak dapat ditunda lagi. Lumi menggarisbawahi tugas untuk melindungi anak adalah mandat undang-undang dan hal ini bukan hanya tugas negara tetapi tugas masyarakat termasuk pimpinan dan warga gereja.

Beberapa Isu Lain yang Menjadi Sumbangan Secara Teologis dari Buku Teologi Anak

Susi Rio Panjaitan, dalam ulasan ”Anak Dalam Budaya” menyimpulkan bahwa perspektif budaya terkait anak akan memengaruhi perilaku terhadap anak. Oleh karena itu, dibutuhkan kajian teologis terhadap nilai-nilai budaya yang diterapkan dalam pengasuhan dan pendidikan terhadap anak. Dalam hal ini, mengembangkan budaya yang menunjukkan keberpihakan kepada anak yang belum terealisasi dengan baik sekarang ini—termasuk dalam gereja, merupakan pekerjaan rumah yang bersifat urgen untuk dilaksanakan termasuk mempersiapkan program-program yang secara konkrit menjelaskan tentang budaya yang berpihak kepada anak.

James Wambraw yang menulis ”Anak Dalam Sekolah” menggarisbawahi dengan tegas hubungan antara keberhasilan pendidikan iman dan keharusan mengikuti pendidikan masa muda. Saya sependapat dengan beliau. Tulisan-tulisan dalam Alkitab menggarisbawahi pentingnya pendidikan dan pengajaran bagi anak-anak (antara lain Ulangan 6 yang selalu dijadikan nas favorit berhubungan dengan hal ini) dan dalam implementasinya harus selalu dikaitkan dengan sistem dan undang-undang pendidikan dan bentuk-bentuk sekolah yang berlaku dan berlangsung dalam masyarakat.

James Wambraw menyebut berbagai bentuk sekolah, misalnya: sekolah yang terkait dengan pendidikan anak baik yang formal dan informal seperti, Sekolah Keluarga, Sekolah Minggu, Sekolah Umum, Sekolah Masyarakat, Sekolah Bangsa, Sekolah Negara, dan Sekolah Hidup. Dari perspektif teologis dapat ditambahkan bahwa apa pun bentuk sekolahnya, apa pun sistem dan undang-undangnya, sekolah itu harus bertujuan pada menambah hikmah, membawa pembebasan, menambah kesejahteraan dan menghasilkan suatu pembaharuan (transformasi).

Photo by Robert Collins on Unsplash

Tornado Gregorius Silitonga yang mengulas pokok ”Anak Dalam Media” menggarisbawahi pentingnya media dan komunikasi serta positifnya sumbangan gawai dan tablet serta internet. Pada pihak lain, digarisbawahi juga akibat negatif apabila anak terlalu tergantung kepada alat-alat komunikasi yang smart dan canggih itu. Secara teologis dapat dipahami bahwa kemajuan teknologi yang ditandai oleh perangkat-perangkat serta komunikasi yang serba cepat dan canggih adalah anugerah Allah bagi manusia.

Karya Allah selalu berhubungan dengan komunikasi antara Allah dan umat-Nya. Sebab itu, Ia mengaruniakan hikmah kepada agar dapat menggunakannya untuk tujuan yang positif dan bertanggung jawab, bukan untuk mematikan kreativitas, menurunkan imajinasi serta relasi yang hangat dengan orang tua dan keluarga.  Sebab itu, menurut Tornado, ketimbang bermusuhan dengan alat-alat canggih tersebut, lebih baik membumikan pelajaran E-learning sehingga semua generasi boleh belajar dan saling membimbing ke arah yang mendatangkan sejahtera. Semua generasi menjadi garam dan terang sehingga tercipta persekutuan yang belajar bersama dan saling membarui.

Hal yang senada diungkap oleh Magyolin Arolina Tuasuun dalam tulisannya ”Anak Dalam Keluarga” bahwa rumah tangga Kristen harus menjadi persekutuan yang didiami Roh anugerah Allah dan menjadi gereja bagi anak-anak. Keluarga Kristen adalah persekutuan yang seharusnya memantulkan kehangatan dan cinta kasih, sehingga anak-anak merasa terlindung dalam persekutuan itu.

Pada akhirnya, M. Nur Widipranoto yang menulis  ”Gerakan Teologi Anak Sebagai Tindakan Komunikatif” menggarisbawahi bahwa gagasan Teologi Anak sebagai tindakan komunikatif bertujuan memahami teologi sebagai praksis komunikasi iman dalam kebersamaan dengan Allah dan anak. Gerakan Teologi anak perlu dilanjutkan dengan mengedepankan tindakan komunikatif yang berdaya partisipatif, transformatif, dan memberdayakan.

Penutup

Demikianlah beberapa catatan yang dapat saya sampaikan dalam acara Bedah Buku Teologi Anak pada hari ini. Semoga bermanfaat. Tuhan memberkati kita semua.

Tomohon, awal April 2019.

Posted on Tinggalkan komentar

Mengenal Allah dan Memuliakan-Nya

Allah adalah Roh, tidak terbatas, kekal dan tidak dapat diubah dalam hal keberadaan-Nya dan kebijaksanaan, kekuasaan, kekudusan, keadilan, kebaikan, serta kebenaran-Nya. Dengan merenungkan kebesaran-Nya, semua kefasihan lidah memudar, sebab bahasa manusia tidak akan mampu mengekspresikan Allah dengan sempurna dalam seluruh keajaiban kemuliaan-Nya. Ada sesuatu tentang Allah yang begitu megah, menakjubkan dan tidak dapat diekspresikan, bagaimana pun kita mengatakannya, Allah kita jauh lebih besar.

Sejauh manakah kita mengenal Tuhan Allah yang kepada-Nya kita percaya dan kita tinggikan dalam ibadah dan penyembahan kita?

Dalam Bab 15 buku Mengasihi Yang Maha Kudus, A.W. Tozer menjelaskan bahwa kita tidak dapat memiliki Allah imajiner. Kita harus melihat Allah sebagaimana Ia begitu senang untuk menyatakan diri-Nya, terutama dalam firman-Nya.

”Pada mulanya Allah…” adalah ayat yang paling penting karena di situlah segala sesuatu harus dimulai. Ayat ini menunjukkan bahwa Ia yang utama, berkuasa, dan sumber segala sesuatu. Patutlah kita makin memercayai bahwa Dialah Tuhan dan Raja atas semesta!

Semakin dalam kita mengenal Allah, maka seharusnya semakin besar kasih dan kerinduan kita untuk memberi ibadah yang sejati serta pelayanan yang diperkenan dan menyenangkan Allah.

Jika kita ingin menyenangkan Allah, kita perlu menyenangkan Dia sesuai dengan kehendak-Nya. Jika kita ingin menyembah Allah, kita harus menyembah Dia sesuai dengan syarat-syarat-Nya.

Disiplin yang terpuji dalam kehidupan orang Kristen ialah hidup dengan cara menghormati Allah. Mengendalikan atau mendisiplin daging berarti juga meninggalkan manusia lama kita. Memuliakan Allah berarti membuat Allah besar di dalam kehidupan kita.

Kiranya kerinduan untuk selalu mengenal Allah dan hidup memuliakan-Nya senantiasa menjadi doa seumur hidup kita. Amin.

 

Ririn Sihotang

Literatur Perkantas Nasional

Posted on Tinggalkan komentar

Inspirasi Jumat Siang: Allah Yang Tinggi dan Mulia

A.W. Tozer dalam bukunya Mengasihi Yang Mahakudus, menjelaskan bahwa sebenarnya kita dapat memahami teologi yang disajikan dalam Alkitab, seperti yang para teolog pahami. Kita juga dapat memahami apa yang dikatakan Allah dalam Alkitab tentang diri-Nya, walaupun mungkin kita tidak pernah mendalami pemahaman itu secara intelektual.

Tentu Tozer menyadari bahwa Allah sedemikian tinggi, sehingga Ia bahkan tidak dapat dipahami. Oleh karena itu, Tozer menegaskan, sangat penting bagi kita untuk berpikir tentang Allah sebagaimana hakikat-Nya yang sebenarnya; yaitu Allah yang begitu tak terhingga melampaui apa pun yang kita ketahui, yang tidak dapat dijelaskan.

Dalam pemandangannya, Tozer melihat, banyak orang ingin menarik Allah ke bawah—ke dalam pemahaman mereka—dan membuat-Nya kecil, sehingga mereka dapat mempunyai allah menurut ukuran mereka—hanya lebih besar sedikit, sehingga ia dapat membantu mereka ketika berada dalam kesulitan. Kita ingin memanfaatkan Allah untuk tujuan kita.

Semua hal yang telah dikatakan atau diajarkan tentang Allah, hanyalah sebagian dari Allah, dan sebagian kecil dari jalan-Nya. Allah Yang kepada-Nya kita dipanggil untuk melayani sungguh luar biasa. Ia melakukan kebaikan yang tak terhingga kepada kita, dengan menerima kita dan menyambut kita menjadi bagian dari diri-Nya.

Allah Yang Perkasa memandang kepada manusia, dan mengenakan daging bagi diri-Nya seperti manusia, dan mati serta bangkit kembali.

Allah ini, yang oleh para filsuf diberi nama mysterium tremendum—misteri yang luar biasa, misteri yang menggentarkan. Dan di hadapan mysterium tremendum, Yakub berseru, ”Alangkah dahsyatnya tempat ini; ini adalah rumah Allah.” Di Perjanjian Baru Petrus berkata, ”Tuhan, pergilah dari hadapanku, karena aku ini seorang berdosa.” Abraham berkata, ”Aku hanya debu dan abu.”

Sama seperti mereka, kita akan mampu menyadari keberadaan kita di hadapan Allah, ketika kita sampai pada kekaguman akan Dia.

Posted on Tinggalkan komentar

Persepsi Kita tentang Kebaikan Allah

Allah itu baik. Kebaikan hati-Nya tak terhingga. Allah selalu bekerja secara sempurna, selalu hadir, dan melaksanakan rencana-Nya dengan penuh semangat dan sukacita.

Dalam bukunya, Mengasihi Yang Mahakudus, A.W. Tozer menyatakan bahwa kebaikan Allah bersifat abadi dan tak pernah berubah. Dia tidak akan pernah memiliki suasana hati yang buruk, sehingga enggan untuk memberkati manusia. Tak ada yang bisa menambah atau pun mengurangi belas kasihan Allah.

Allah yang baik dan penuh belas kasihan itu juga adil dan kudus. Keadilan menuntut penghukuman bagi kejahatan. Namun, belas kasihan-Nya mengampuni manusia berdosa dengan cara Allah menjadi manusia dalam diri Yesus Kristus, dan menggantikan hukuman manusia di kayu salib. Kebaikan Allah saat Yesus lahir di dunia, saat Yesus mati disalib, dan saat ini tetap sama. Allah selalu baik dan penuh kasih selamanya.

Apa yang dilakukan Yesus itu sempurna. Kristus datang, menderita, mati disalib, bangkit, dan hidup bagi manusia berdosa. Belas kasihan Allah mengalir seperti sungai. Kita semua adalah penerima belas kasihan Allah.

Bertobatlah dari kejahatan serta akui dosa dan Allah akan menyucikan Anda.

 

Priskila Dewi Setyawan

Literatur Perkantas Nasional

Posted on Tinggalkan komentar

Ajaib Benar Anugerah

Banyak pandangan mengenai anugerah. A.W Tozer mengatakan bahwa anugerah muncul dari kebaikan Allah. Rahmat adalah kebaikan Allah yang menghadapi kesalahan manusia dan anugerah adalah kebaikan Allah yang menghadapi kelemahan manusia.

Anugerah adalah kasih dan kemurahan hati Allah bagi kita. Allah selalu bermurah hati, Ia tidak pernah lebih bermurah hati dan tidak pernah kurang bermurah hati. Sebagai manusia yang bercela, kita merindukan anugerah Allah. Kita harus siap mengatakan bahwa di dalam diri kita sendiri, kita tidak lebih dari seorang yang bercela. Sebelum kita memahami itu, kita tidak akan pernah mengerti anugerah Allah yang ajaib.

Anugerah merupakan kegemaran Allah dan Kristuslah perantara untuk mengalirkan anugerah itu, dan anugerah Allah adalah keselamatan kita. Anugerah Allah membuat-Nya tidak menghancurkan manusia walaupun manusia jatuh ke dalam dosa, tetapi sebaliknya anugerah keselamatan yang membawa manusia ke dalam persekutuan dengan Allah.

Allah adalah pribadi yang baik hati, dan akan selalu begitu. Anugerah juga merupakan kebaikan hati Allah. Allah tidak pernah membenci atau mempunyai rasa dengki, termasuk kepada kita. Terkadang kita bisa menahan rasa jengkel terhadap seseorang, tetapi itu tidak berlangsung lama, mereka bisa membuat kita jengkel kembali, tetapi Allah tidak mempunyai sifat seperti ini. Allah terus memberikan anugerah-Nya walaupun kita selalu menyakiti hati-Nya.

Kenyataan lain tentang anugerah adalah anugerah Allah tidak terbatas dan tidak ada batas di mana pun bagi Allah. Ia terus memberikan anugerah-Nya bagi kita semua. Kita harus siap merendahkan diri kita dan menyadari bahwa kita tidak sempurna, maka kita akan melihat begitu banyak anugerah-Nya yang kita terima.

Kehidupan kita bisa menjadi kesaksian tentang anugerah Allah yang sungguh ajaib.

 

Heru Santoso

Literatur Perkantas Nasional

 

Posted on Tinggalkan komentar

Inspirasi Jumat Siang: Tidak Ada Batas bagi Kasih Allah

”Jika Allah tidak terbatas, maka kasih-Nya tidak terbatas.” Demikianlah penerangan A.W. Tozer berkait dengan kasih Allah yang tertulis dalam bukunya Mengasihi Yang Mahakudus.

Agaknya Tozer menyadari pentingnya hal ini untuk kita pahami. Kadang-kadang manusia meragukan kasih Allah, dan keraguan ini muncul akibat dosa. Dosa mampu mengintimidasi manusia hingga manusia mempertanyakan kasih Allah, ”Masihkah Allah mengasihi saya setelah apa yang saya lakukan?”

Dalam hal ini kita perlu mengingat firman Tuhan, ”Tetapi di mana dosa bertambah banyak, di sana anugerah menjadi berlimpah-limpah” (Rm. 5:20b). Tozer pun memperjelas hal ini: ”Ketika anugerah Allah yang tidak terbatas menyerang keterbatasan dosa manusia, maka dosa tidak memiliki kesempatan. Jika kita bertobat dan berbalik kepada Allah, Allah akan menghancurleburkan dan menggulungnya ke dalam kemahaluasan; di mana dosa tidak akan dikenal lagi.”

Berkenaan dengan dosa, yang perlu kita lakukan adalah bertobat! Karena hanya dengan bertobat dan percaya kita dapat menerima anugerah Allah dan diselamatkan. Dan pertobatan merupakan karya Roh Kudus. Oleh karena itu, dalam hal ini kita perlu memohon pertolongan Roh Kudus. Dan ketika pertobatan terjadi barulah kita menyadari betapa Allah begitu mengasihi kita dengan melimpahkan anugerah-Nya kepada kita.

Kasih Allah tidak dapat disamakan dengan kasih manusia, sebab kasih manusia terbatas. Pada saat manusia mati maka kasihnya ikut mati bersamanya. Akan tetapi, Allah tidak dapat mati, dan karena itu kasih-Nya juga tidak dapat mati. Dan inilah yang Tozer yakini tentang kasih Allah bahwa tidak ada batas bagi kasih Allah; kasih Allah tak terhingga cukup untuk mencakup seluruh surga dan juga neraka.

Oleh karena itu, patutlah kita melantunkan pujian Agunglah Kasih Allahku (NKB 17) karya F.M. Lehman:

Agunglah kasih Allahku, tiada yang setaranya;
Neraka dapat direngkuh, kartika pun tergapailah.
Kar’na kasih-Nya agunglah, Sang Putra menjelma,
Dia mencari yang sesat dan diampuni-Nya

Refrein:
O Kasih Allah agunglah! Tiada bandingnya!
Kekal teguh dan mulia! Dijunjung umat-Nya.

Citra Dewi Siahaan
Literatur Perkantas Nasional

Posted on Tinggalkan komentar

Resensi Buku: Perjalanan “Rekreasi” Buku Teologi Anak: Sebuah Kajian

 

Ditulis Oleh

Wisnu Sapto Nugroho

 

Pengantar

Pdt. Yoel Indrasmoro mengawali buku ini dengan mengajak pembaca melihat realitas tentang dijumpainya anak-anak yang tidak sejahtera dalam hidupnya. Di sisi lain, Pdt. Yoel mengapresiasi program-program yang dilakukan pemerintah dengan gerakan kota, Puskesmas, Sekolah Ramah Anak. Semua itu dimaksudkan untuk mewujudkan Indonesia Layak Anak 2030. Yoel menyampaikan juga bahwa masalah yang dihadapi anak sejatinya terkait erat dengan relasi orang tua–anak, faktor budaya. Terkait dengan itu pula, pemimpin Gereja dan sekolah-sekolah teologi tidak bisa lepas tangan sebab masalah yang dihadapi anak juga terkait dengan cara pandang terhadap teks kitab suci.

Kajian teologi anak kontekstual dibuka dengan prolog oleh Pdt. Daniel Nuhamara. Tulisan Pdt. Daniel Nuhamara tentang teologi anak mengenalkan bahwa Teologi Anak (Child Theology) merupakan istilah baru yang diperkenalkan oleh suatu gerakan bernama Child Theology Movement (Gerakan Teologi Anak). Namun diakui bahwa teologi anak masih dalam proses pengembangan.

Bagi pelaku Gerakan Teologi Anak, memang Teologi Anak itu berurusan dengan anak (anak-anak), tetapi pertama-tama ia adalah teologi, yakni studi tentang Tuhan sebagai subjek utamanya. Apa kehendak Tuhan dalam atau dari perspektif anak (hlm. 16-17). Dengan melihat Matius 18:1-5, kita boleh menyebut pendekatan dengan perspektif ”a child in their midst” inilah yang membedakan Teologi Anak dengan teologi-teologi lainnya. Dengan pendekatan atau perspektif anak-anak di tengah-tengah dalam refleksi teologis akan didapat beberapa hal yang perlu digarisbawahi seperti: anak-anak sebagai agen dalam berteologi serta teologi anak menjadi respons terhadap Tuhan (hlm. 18).

Photo by Robert Collins on Unsplash

Siapakah Anak Itu?

Mengawali tulisan ini, kita diajak melihat siapakah anak itu? Mengacu pada Undang-Undang Perlindungan Anak Nomor 35 Tahun 2014 pasal 1 disebutkan bahwa yang dimaksud dengan anak adalah seseorang yang belum berusia 18 tahun, termasuk yang masih dalam kandungan.

Siapakah anak menurut Alkitab dan bagaimana anak dalam Alkitab? Pdt. Justitia Vox Dei Hattu mengajak kita melakukan ”rekreasi” dengan topik anak dalam Alkitab. Dari data dalam Alkitab tampak bahwa cukup sering anak dipercakapkan dalam Alkitab (hlm. 42). Dengan memotret anak dalam Alkitab, kita ditolong untuk: (a) melihat berbagai ”panorama” tentang anak dalam Alkitab. (b) mendapatkan sumber-sumber (berteologi) yang tepat tentang anak. ”Panorama” anak dalam Alkitab tampak bahwa wajah anak dalam Alkitab adalah wajah yang beragam. Tampak dalam Alkitab tindakan pro-anak dengan pengharapan besar bagi mereka. Alkitab menuturkan bahwa anak-anak bertumbuh dalam asuhan dan didikan keluarga–komunitas. Hal itu menunjukkan bahwa anak sangat dihargai perannya sebagai penerus iman dan kasih setia Tuhan, termasuk identitas keyahudian (hlm. 43-44).

Belajar dari tindakan Yesus dalam menyambut anak merupakan salah satu sumber inspirasi bagi teologi pelayanan bersama anak. Dalam karya-Nya, Yesus menerima anak-anak (Mark. 10:13-16). Ia marah terhadap para murid yang menghalangi anak-anak datang kepada-Nya. Pelukan Yesus bagi anak merupakan tindakan pastoral yang hangat. Sebagai klimaksnya, Yesus memberkati anak-anak. Berkat itu merupakan peneguhan Yesus terhadap anak-anak sekaligus sebagai tindakan yang merobohkan tembok pembatas yang dibangun masyarakat kala itu. Tindakan Yesus membawa anak-anak dari garis lingkar luar komunitas menuju ke pusat komunitas; dari yang sebelumnya dianggap remeh dan di sepelekan ke tempat di mana ia hargai, dihormati dan dicintai sebagaimana seharusnya (hlm. 53-57).

Anak dari Berbagai Sudut Pandang

Beranjak dari pandangan anak dalam Alkitab, ”rekreasi” dilanjutkan dengan kajian tentang anak dalam Gereja sebagaimana dikaji oleh Pdt. Setiyadi. Kala anak-anak datang, disitulah sukacita dalam Tuhan turut berkembang. Bangunan logika semacam itu perlu dikelola supaya kisah-kisah anak yang berteologi mendapat artikulasi (hlm. 59). Menurut Setiyadi, anak-anak berteologi menurut pandangan dunianya. Pandangan dunia bisa didapat lewat cerapan pancaindranya. Bisa saja lewat tuturan yang masih terbata hingga rengekan dan tangisan sebagai ekspresi jiwanya. Dalam kajiannya, Pdt. Setiyadi mengulas peran anak dalam ibadah (acintyabhakti) mulai dari ritus berhimpun, mendengar sabda, perjamuan meja (ekaristi) dan pengutusan. Selain itu anak dapat berperan dalam acintyabhakti di masa raya Gerejawi (adven-natal, paska, pentakosta). Pengalaman dengan pola asuh, pola asih dan pola asah Keluarga Kudus Nazaret menegaskan bahwa sejak dini anak memiliki pengalaman teologi dan hal itu perlu dikembangkan (hlm. 67-74).

Susi Rio Panjaitan dalam tulisan: Anak dalam Budaya mengajak kita ”berekreasi” melihat bahwa salah satu cara dan pola asuh orang tua dan care giver dalam merawat, mengasuh, dan mendidik anak adalah budaya yang mereka hidupi. Setiap daerah di Indonesia memiliki pandangan tersendiri terhadap anak, baik dalam memaknai, cara mengurus anak, cara mendidik anak dan hal-hal lain terkait anak. Hal itu tergantung nilai-nilai dan kearifan lokal yang dimiliki oleh masing-masing daerah (hlm. 75). Susi Rio Panjaitan menuliskan seperti apa cara pandang, cara asuh dari budaya-budaya di Indonesia terhadap anak, seperti dalam budaya Batak, Banten, Sumba, Alor, Timor, Rote, Nias, Bali, Maluku (hlm. 79-91). Dari kajian itu tampak bahwa dalam budaya Indonesia, anak laki-laki menjadi pemimpin dan yang bertanggungjawab atas keluarga. Kepatuhan pada orang tua menjadi nilai yang penting. Anak yang tidak patuh disebut durhaka dan bisa menerima kutukan. Dalam budaya Indonesia tampak juga bahwa anak adalah milik orang tua sehingga orang tua punya otoritas penuh terhadap anak-anaknya. Anak sama sekali tidak diberi kesempatan untuk mengemukakan pendapat dan perasaannya. Anak juga tidak diberi kesempatan menentukan masa depannya sendiri. (hlm. 91-93).

Bagaimana anak dalam sekolah? James Wambrauw dalam tulisannya mengundang kita ”berekreasi” tentang hal itu. Sekolah merupakan entitas yang diberi kewenangan oleh negara untuk melakukan proses pendidikan bagi anak. Pendidikan adalah hak dari setiap warga negara Indonesia secara keseluruhan dan wajib dipenuhi oleh negara. Karena luasnya domain pendidikan maka menurut James Mambrauw, sekolah tidak hanya dilihat dari sisi sekolah formal, melainkan juga sisi lain. Karena itu Mambrauw menuliskan sekolah-sekolah bagi tumbuh kembang anak itu meliputi: sekolah keluarga, sekolah minggu (non formal), sekolah umum (formal), sekolah masyarakat (kontekstual), sekolah bangsa (negara), sekolah hidup (komitmen pribadi) (hlm 101 – 110). Masing-masing sekolah memiliki kekhasan, tujuan dan metode masing-masing.

Sebagaimana warga negara lain, anak-anak disebut sebagai subyek hukum. S.S. Benyamin Lumy mengajak kita ”rekreasi” dengan melihat tulisan anak dalam perspektif hukum. Proses tumbuh kembang yang baik dari penduduk kelompok usia anak sangat berpengaruh terhadap masa depan bangsa. Kesejahteraan anak tidak dapat dilepaskan dari kesejahteraan di masyarakat. Karena itu perlindungan anak merupakan hal penting dan melindungi anak merupakan sebuah amanat undang-undang. Dalam konvensi PBB terdapat empat prinsip umum yang harus dipenuhi dalam upaya perlindungan anak seperti: prinsip non diskriminasi, prinsip kepentingan anak, prinsip atas keberlangsungan hidup dan tumbuh kembang anak, prinsip penghargaan terhadap anak (hlm. 124-125). Benyamin Lumy menyebut jenis-jenis kekerasan itu seperti: kekerasan fisik, kekerasan psikis atau emosional, kekerasan seksual, penelantaran anak, kekerasan seksual, kekerasan pada media sosial (hlm. 128-134). Bila melihat hal itu, tidak ada kata lain, selain: laporkan (hlm. 136).

Beranjak dari ”tempat rekreasi” tentang anak dan hukum, kita melanjutkan ”rekreasi” ke anak dalam media. Tornado Gregorius Silitonga menuliskan realitas tentang hilangnya relasi hangat antara orang tua dan anak karena diganti dengan relasi anak dengan layar seukuran tujuh inci (hlm. 138). Pola asuh gawai telah mengubah pola asuh keluarga. Kecenderungan anak-anak generasi ini yang sanggup menghabiskan ”screen time” jauh lebih lama dibanding generasi sebelumnya. Dampaknya mereka kekurangan waktu bergerak. Akibat lain: anak malas berimajinasi, konsentrasi menurun, kedalaman informasi menurun dan relasi sosial juga menurun. Selain itu saat ini, angka kekerasan yang dipicu oleh internet dan media sosial banyak terjadi (hlm. 143). Hal itu perlu dipikirkan bersama dan dicari jalan keluarnya.

Kita melanjutkan ”rekreasi” ke tulisan Magylon Carolina Tuasuun dengan tulisan anak dalam keluarga. Keluarga Kristen yang didiami oleh Roh Allah mestinya menjadi Gereja bagi masa anak-anak. Semua kegiatan anak dalam keluarga membentuk kepribadian dan berdampak bagi orang tua. Di balik semua kegiatan di rumah ada kurikulum tersembunyi (hidden curriculum) untuk semua anggota keluarga (hlm. 150-151). Oleh karena itu, dalam keluarga terdapat hal-hal penting yang mesti dihidupi keluarga seperti: relasi suami–istri (sebagai ayah–ibu). Ayah–ibu bukan sekadar menjalankan tugas pro-kreasi, namun juga rekreasi dalam kehidupan rumah tangga.

Setelah berkreasi dari berbagai kajian tentang anak, Susi Rio Panjaitan mengajak kita ”berekreasi” dengan melihat anak dalam pandangan anak. Menurut Susi, ada anggapan bahwa orang tua paling tahu yang terbaik buat anak dan anggapan bahwa semua orang tua pasti menginginkan yang terbaik buat anak menjadi pangangan umum dalam masyarakat. Pandangan itu menunjukkan bahwa anak belum menjadi fokus. Akhirnya jika anak mengalami masalah, anak dianggap merepotkan. Sebagaimana dengan orang dewasa, anak juga ingin didengarkan, tidak mau dan tidak suka disalahkan, dilabel negatif dan dihukum. Seandainya anak didengarkan dengan baik dan pendapat mereka dipertimbangkan, maka ada kemungkinan masalah-masalah yang dipaparkan tadi bisa ditangani dan dikurangi dampak negatifnya (hlm. 158-160).

Dengan mengutip pandangan Sinanga, Susi menyebut ada sepuluh hal sederhana yang diinginkan anak dari orang tuanya, seperti: (1) Orang tua datang ke kamar tidur anak di malam hari, memeluk dan menyanyikan lagu untuknya, serta bercerita tentang mereka. (2) Orang tua memberi pelukan dan ciuman, lalu duduk dan bicara dengan anak. (3) Orang tua sesekali meluangkan waktu hanya dengan anak, tidak harus selalu dengan kakak dan adik. (4) Orang tua memberikan anak makanan bergizi sehingga anak dapat tumbuh sehat. (5) Saat makan malam, orang tua berbicara dengan anak tentang apa yang bisa mereka lakukan di akhir pekan. (6) Pada malam hari, orang tua berbicara dengan anak tentang apapun. (7) Orang tua memberikan anak sering bermain di luar ruangan. (8) Orang tua dan anak berpelukan dan menonton acara TV favorit mereka bersama. (9) Orang tua mendisiplin anak karena hal itu akan membuat anak merasa dipedulikan. (10) Meninggalkan kertas dengan pesan khusus di mejanya atau di tas bekalnya (hlm. 160-166).

Bagaimana anak memandang diri mereka sendiri? Anak memandang dirinya sebagai makhluk berharga, memiliki potensi, kebutuhan yang harus dipenuhi, menyadari diri sebagai makhluk sosial yang cerdas. Anak ingin diperhatikan dan sadar akan keterbatasannya. Anak membutuhkan kasih sayang, kehadiran, dan perlindungan orang tua (hlm. 166-167).

Penutup

”Rekreasi” pembacaan buku kita diakhiri dengan epilog dari Romo M. Nur Widipranoto, Pr. Tulisan gerakan teologi anak sebagai tindakan komunikatif mengajak kita berefleksi. Dalam epilognya, Romo Nur memakai teori sosial kritus yang diajukan oleh Jurgen Habermas, yakni Teori Tindakan komunikatif. Dalam kaca mata tersebut Gerakan Teologi Anak dipandang sebagai  tindakan komunikatif. Teologi Anak menampilkan tindakan komunikatif yang berdaya partisipatif, transformatif dan memberdayakan (hlm. 167). Gerakan Teologi Anak hadir menampilkan tindakan komunikatif yang membawa daya partisipatif, transformatif, dan memberdayakan bagi anak-anak khususnya dan orang beriman pada umumnya.

Rekerasi (re-creation) menyegarkan. Dengan kesegaran itu, ada gerak maju yang dapat dilakukan. Di Jogja ada tembang dolanan: Prau Layar.

Angliak numpak prau layar, ing dina Minggu keh pariwisata

Pyak…pyuk…banyu binelah, ora jemu-jemu, karo mesem ngguyu, ngilangake rasa lungkrah lesu,

Adik njawil mas jebul wis sore, witing kalapa katon ngawe-awe, prayogane becik bali wae

Dene sesuk–isuk, tumandang nyambut gawe…

Kiranya rekreasi pembacaan buku ini menjadikan cakrawala pemikiran kita terbuka untuk “nyambut gawe” mewujudkan Teologi Anak dalam ranah akademis dan keumatan dalam praksis–kritis.

Dengan Teologi Anak, diharapkan anak dapat bersinar terang karena merasakan berkat Allah dan menjadi berkat. Agar anak dapat bersinar, kita perlu berjejaring, bekerjasama. Upaya KTAK Anak Bersinar Bangsa Gemilang (ABBG) dan Jaringan Peduli Anak Bangsa (JPAB) kiranya mendapat menjadi “nada dasar” bagi Sekolah Tinggi Teologi, Fakultas Teologi dan Gereja-Gereja untuk mewujudkan Teologi Anak.

Wisma Kanugrahan, 8 Maret 2019.

 

Posted on Tinggalkan komentar

Mengalami Allah

”Aku milikmu, Yesus, Tuhanku; kudengar suara-Mu. ’Ku merindukan datang mendekat dan diraih oleh-Mu.”

Demikianlah syair Fanny Crosby yang terekam dalam Kidung Jemaat 362:1. Tampaknya, bagi Fanny Crosby merasa dimiliki merupakan  hal penting dalam hidupnya. Sejatinya, itu pulalah modal utama setiap Kristen. Kita ada yang punya. Dan yang punya adalah Tuhan sendiri.

Rasa dimiliki itulah yang membuat Fanny rindu mendekat kepada Allah. Persekutuan dengan Allah menjadi hal utama, karena hanya dengan cara demikianlah kita dapat sungguh-sungguh mengalami Allah.

Dalam bukunya  Mengasihi Yang Mahakudus, A.W. Tozer menekankan bahwa, ”Rahasia besar kehidupan kristiani adalah dapat mulai mengalami Allah sebagaimana Dia menginginkan saya untuk mengalami-Nya. Sukacita terbesar Allah adalah membawa saya ke dalam hadirat-Nya.”

Dengan kata lain, Allah ingin bersekutu dengan manusia. Allah ingin manusia mengalami-Nya. Dan hanya dengan itu, menurut Tozer, ”Kita mulai dapat melihat sebagaimana adanya Dia—bukan karikatur seperti yang seseorang gambarkan untuk menjelaskan kepada saya.”

Persoalan terbesarnya, lagi-lagi menurut Tozer, ”Kita hanya punya orang-orang Kristen teologis di gereja saat ini, bukan orang Kristen yang memiliki kerohanian yang mendalam. Kita mempunyai pengetahuan yang hebat tentang Alkitab…, tetapi tidak lebih dari itu.” Yang akhirnya membawa manusia menuju perasaan akan ketiadaan Allah—kekosongan rohani.

Tentu saja, persekutuan dengan Allah bukanlah upaya manusia semata. Semua itu dimulai dari Allah sendiri dalam karyanya—penebusan, pembenaran, dan kelahiran kembali. Kelahiran kembali itulah membawa sifat Allah ke dalam diri kita. Dan semuanya sungguh hanya anugerah-Nya.

Fanny Crosby sungguh memahaminya. Meski dia rindu datang ke hadirat Allah, dia masih memohon dalam refreinnya: ”Raih daku dan dekatkanlah pada kaki salib-Mu. Raih daku raih dan dekatkanlah ke sisi-Mu, Tuhanku.”

 

Yoel M. Indrasmoro

Literatur Perkantas Nasional

Posted on Tinggalkan komentar

Takut akan Allah atau Takut akan Neraka?

Pikirkan sejenak tentang suatu tempat yang begitu buruk, begitu mengerikan, penuh dengan nyala api, dan rintihan kesakitan. Tidak membutuhkan waktu lama untuk berpikir. Persepsi kita akan mengenali bahwa tempat tersebut adalah neraka. Tidak ada satu pun yang indah tentang neraka. Beberapa orang mengasosiasikan neraka sebagai tempat perapian yang begitu besar. Alkitab jelas sekali berbicara tentang neraka seperti lautan api yang menyala-nyala.

Persepsi manusia tentang neraka begitu ampuh untuk membuat hidup manusia menjadi begitu saleh dan memiliki akhlak baik. Neraka telah menjadi ancaman yang begitu mengerikan sebagai konsekuensi hidup yang asal-asalan. Manusia menjadi begitu berhati-hati dalam berkata dan bertindak. Pikir kita, jangan sampai saya masuk neraka hanya karena saya belum melunasi utang. Sebelum saya mati izinkan saya bertanya, “Masihkah ada orang yang sakit hati karena perkataan dan perbuatan saya?”

A.W. Tozer menuliskan dalam bukunya Mengasihi yang Mahakudus, jika persepsi kita tentang Allah telah rusak atau dikompromikan dengan berbagai konsep lain di luar Allah, maka segala yang ada di kehidupan kita menjadi membingungkan dan kacau. Suatu tindakan mengasihi Allah yang sejati hanya bisa terjadi oleh pengenalan yang benar akan Allah bukan ketakutan akan api neraka.

Allah adalah pribadi yang Agung dan Mulia. Dan satu-satunya cara untuk mengenal Allah adalah dengan menjadi penyembah-Nya. Semakin kita mengenal Allah, semakin hati kita dipenuhi oleh pujian dan penyembahan. Saat kita mendekat kepada Allah, kita menemukan keindahan akan segala sesuatu tentang Allah. Tidak ada sesuatu pun yang buruk tentang Allah. Allah adalah pribadi Mahakasih dan Mahakudus.

Kita harus beranjak dari kubangan ketakutan akan kematian yang mengerikan untuk memandang kepada cahaya terang akan kemuliaan Allah yang menghidupkan. Takut akan neraka hanya akan menghasilkan hidup yang membelenggu, namun tetap saja berakhir pada kematian kekal. Sedangkan, takut akan Allah akan menghasilkan hidup merdeka yang bermuara pada persekutuan akrab dengan Allah di dalam kekekalan.

Kiranya sikap takut akan Allah terwujud dalam kerinduan kita untuk mengenal dan mengharapkan Allah lebih dari apa pun yang ada di dunia ini, selaras dengan doa yang dipanjatkan oleh Agustinus dari Hippo:

Engkau berteriak memanggil dan merobek ketulianku.
Engkau bercahaya terang dan mengenyahkan kebutaanku.
Engkau menyebarkan harum-Mu dan aku telah menghirupnya sampai aku begitu menginginkannya.
Aku sudah mencicipi Engkau maka aku lapar dan haus akan Engkau.
Engkau menjamahku maka aku bergairah mengharapkan Engkau.
Amin.

Gregorius Silitonga
Literatur Perkantas Nasional

Posted on Tinggalkan komentar

Inspirasi Jumat Siang: Persepsi tentang Hubungan Kita dengan Allah

A. W. Tozer menantang orang Kristen dan para teolog pada zamannya untuk kembali kepada spiritualitas yang mempertuhankan Kristus. Di tengah bangkitnya semangat teologi modern, Tozer menyerukan bahwa tujuan berteologi bukan hanya untuk memuaskan pikiran melalui perdebatan teologis, tetapi teologi harus membawa seseorang makin mengasihi Yesus.

Tozer dengan jelas meringkas hubungan kita dengan Allah dalam tiga kata, yakni sentralistis, mendasar, dan utama. Kristus adalah sentral Gereja-Nya. Ia mempersatukannya dan di dalam Dia gereja terpancar. Kristus juga merupakan dasar gereja. Ia ada di bawahnya, dan seluruh umat tebusannya bertumpu hanya kepada Dia. Di dalam Kristus kita tidak perlu menambahkan sesuatu, sebab Allah menyatakan bahwa Putra-Nya—Yesus Kristus—cukup. Dia adalah jalan, kebenaran, dan hidup; Dia adalah hikmat, kebenaran, pengudusan, dan penebusan. Dia adalah hikmat dan kekuatan Allah yang menghimpun segala sesuatu, sehingga Kristus adalah yang utama—diutamakan—dan ditempatkan di atas segala-galanya. Kita berkomitmen hanya kepada Yesus Kristus, satu-satunya Tuhan kita. Kita harus percaya kepada Kristus yang adalah Allah; kita harus percaya pada apa yang Allah katakan tentang Dia.

Orang Kristen adalah orang yang telah disalibkan, namun hidup, dan dipersatukan dengan Yesus Kristus. Seorang pengikut Kristus yang sejati adalah orang-orang yang kehendaknya telah dikuduskan—bukan orang-orang tanpa kehendak. Allah menyatukan kehendak kita dengan kehendak-Nya, dan kehendak kita jadi bertambah kuat; serta kehendak-Nya akan menyatukan kita dengan Allah. Keterikatan kita kepada pribadi Kristus harus menyingkirkan segala sesuatu yang bertentangan dengan Kristus. Orang tidak dapat mengasihi Allah sebelum ia membenci dosa dan ketidakbenaran. Inilah tanda kita bersatu dengan Kristus dan mengenali Dia.

Betapa indahnya berkata, ”Aku disalibkan dengan Kristus” dan tahu bahwa Kristus memiliki rencana atas hidup kita. Tozer menutup bagian ini dengan menyatakan, ”Kita dapat mengurangi waktu untuk berdebat dan berdiskusi, jika kita mengambil waktu lebih banyak untuk menantikan Allah.”

Ririn Sihotang

Literatur Perkantas Nasional

Posted on Tinggalkan komentar

Inspirasi Jumat Siang: Mengapa Ada Presepsi yang Salah tentang Allah?

Presepsi kita tentang Allah begitu penting sehingga kita harus memastikan bahwa presepsi itu betul-betul berakar dan beralaskan firman Allah. Sebagai manusia, sangat mudah bagi kita untuk teralihkan dan mencoba membarui firman Allah. Terkadang kita bersalah mengubah rencana Allah untuk beberapa alasan, kita mengira kita lebih baik dari Allah.

Dalam buku Mengasihi yang Mahakudus, AW Tozer mengemukakan beberapa kesalahan yang sering kita lakukan sehingga menyebabkan persepsi yang salah tentang Allah:

Mengasumsikan bahwa hal yang ada di Alkitab itu ada juga di dalam diri kita. Kita dapat memahami apa yang Alkitab katakan, namun kita tidak dapat menganggap bahwa kita memiliki semua itu karena Alkitab mengatakannya. Kita harus sampai pada titik mengalami secara pribadi setiap hal yang diajarkan kepada kita dalam Alkitab. Memahami Alkitab itu penting sebagai langkah pertama, namun setelah itu kita harus bertekun, gigih, sampai kesempurnaan; yaitu mengalami hal yang Allah kehendaki kita alami dalam Tuhan Yesus oleh kuasa Roh Kudus.

Kemalasan Rohani. Kita dapat berolahraga untuk mengimbangi kemalasan fisik, tetapi hampir tidak mungkin kita melakukan latihan intelektual. Gereja cenderung memberikan ”makanan rohani biasa” bagi umatnya. Pendeta tak berani melanjutkan ke tataran teologi yang lebih tinggi karena takut umat tidak bisa mengikutinya. Memang sulit mengajak orang berpikir, namun lebih sulit lagi mendapati mereka haus. Untuk membuat orang haus secara rohani, hanya Roh Kuduslah yang dapat melakukannya.

Cinta kita terhadap dunia. Kita menerima standar yang berlaku umum di dunia sebagai hal yang ”normal”. Misalnya seperti anak bayi yang lahir di sebuah sanatorium untuk pasien TBC. Anak tersebut lahir, tinggal, tumbuh, dan menerima situasi di sana sebagai hal yang normal—ia tak tahu apa-apa. Setiap orang batuk, memegang dadanya, membawa tempat untuk meludah, dan menjalani diet khusus. Jika kita dibesarkan dalam lingkungan seperti itu, kita berpikir itu hal yang normal, dan kita menyesuaikan seluruh hidup kita dengan hal normal tersebut. Jika kita terbiasa dengan standar dunia, kita bersebrangan dengan standar Firman. Segalanya tampak normal dan tidak ada yang menduga bahwa ada yang sesuatu harus dipegang teguh berkenaan dengan kehidupan Kristen.

Keinginan kita secara umum untuk dihibur dalam hal apa pun. Kita dianjurkan pergi ke gereja untuk menemukan kedamaian dan penghiburan, namun gereja bukanlah tempat untuk mendapat penghiburan, gereja adalah tempat untuk mendengar Injil diberitakan sehingga kita memperoleh keselamatan. Ada perbedaan yang besar antara dihibur dan diselamatkan. Seseorang dapat memperoleh penghiburan dan berakhir di neraka, sedangkan seorang lain berada di bawah kritikan tajam, yang memintanya untuk berubah, bertobat, dan pada akhirnya pergi ke surga.

Keengganan untuk mematikan keinginan daging. Ada dua tipe orang dalam kehidupan kekristenan, yang puas dan yang lapar. Orang yang puas menganggap perintah untuk dipenuhi Roh Kudus adalah hal yang bersifat ideal saja, namun tidak untuk dituruti. Sedangkan orang yang lapar adalah orang yang dengan semangat—tetap setia dan taat—menjalankan disiplin rohani untuk mencapai kesempurnaan dalam Kristus.

Dari penjelasan kelima hal di atas, muncul pertanyaan untuk kita renungkan dan jawab. Apakah kita sudah merasa cukup puas dengan diri kita saat ini, atau kita masih merasa lapar? Jawaban atas pertanyaan tersebut serta tindak lanjutnya, akan sangat menentukan persepsi kita tentang Allah. Jika kita masih merasa lapar untuk melakukan sesuatu, kita akan mendaki gunung Allah. Namun, jika kita cukup puas, kita akan tetap sama menjadi orang yang biasa-biasa saja—lesu seperti sekarang. Jadi, ini hanya soal seberapa rindu kita untuk mengenal Allah.

Rycko I.

Literatur Perkantas Nasional

 

 

 

 

 

 

Posted on Tinggalkan komentar

Mengenal Allah dan Firman-Nya

Apa yang Anda lakukan ketika melihat seorang anak yang sedang sakit demam makan es krim? Bagaimana respons Anda ketika tersesat, dan tidak ada yang memberitahukan petunjuk jalan yang benar? Dalam Yakobus 4:17 tertulis,  ”Jadi jika seorang tahu bagaimana ia harus berbuat baik, tetapi ia tidak melakukannya, ia berdosa.”

Dalam peristiwa sehari-hari, seorang dokter yang baik akan memberitahu kondisi yang salah kepada pasiennya dan memberi resep obat agar kondisi pasien membaik. Entah sebagai dokter atau profesi lain, sebaiknya kita juga membimbing orang lain dari jalan yang salah menuju jalan yang benar. Kita bisa memulainya dengan menunjukkan kesalahan seseorang dengan lembut, dan mengarahkannya kepada Yesus. Ini merupakan tugas kita sebagai anggota tubuh Kristus, karena satu bagian tubuh yang sakit memengaruhi seluruh tubuh.

Tozer dalam buku Mengasihi Yang Mahakudus menolong para pembaca untuk memulihkan persepsi mereka tentang Allah. Pada masa kini ada banyak khotbah mengenai cara menjadi orang yang baik dan pandai bergaul. Namun, pengajaran akan kesempurnaan, karakter dan sifat Allah terasa sangat kurang. Akibatnya, kerinduan akan Allah pun memudar.

Orang percaya sewajarnya berfokus pada kesempurnaan Allah, berjuang untuk mengenal Allah melalui firman-Nya dan mengikuti-Nya, bukan pada hal-hal remeh lainnya. Melalui buku ini, Tozer berharap akan ada kebangkitan kobaran api Roh Kudus dan kemuliaan Allah makin dinyatakan dalam diri orang beriman.

Sang Pencipta tak dapat disamakan dengan ciptaan (Yes. 40:25). Pengetahuan manusia sangat terbatas, sedangkan Allah tak terbatas. Jadi, kita tak mungkin mengerti semua tentang Allah, melainkan hanya segelintir saja. Sering kali kita menilai Allah berdasarkan pemikiran kita yang sarat keterbatasan. Allah yang mengasihi, kita definisikan tidak membenci, padahal Dia membenci dosa. Allah itu kekal, sifat-sifat-Nya tak terpisahkan karena merupakan satu kesatuan, bukan bagian-bagian.

Kesempurnaan Allah bersifat tetap, tidak berdasarkan perubahan perasaan kita. Yesus adalah satu-satunya jalan menuju kesempurnaan (Yoh. 14:6). Jika kita rindu mengenal Allah, kita harus menerima Kristus sebagai Tuhan dan Juru Selamat secara pribadi. Ada harga yang harus dibayar untuk bertumbuh, semua akan menjadi begitu berbeda saat kita berjumpa dengan Allah di gunung kudus-Nya. Kedahsyatan dan kemuliaan-Nya memampukan kita untuk bertumbuh.

Allah melampaui segala definisi dan ilustrasi. Semakin kita memahami keagungan dan kesempurnaan Allah, semakin kita kagum dan hormat akan Sang Khalik. Ibadah kita bertumbuh sejalan dengan bertumbuhnya pengenalan dan persepsi kita tentang Allah.

Kiranya kita terus rindu untuk mengenal Sang Pencipta, melihat kemuliaan Allah dan merenungkan keajaiban firman-Nya dalam setiap aspek hidup kita.

Priskila Dewi S.

Literatur Perkantas Nasional

 

Posted on Tinggalkan komentar

Persepsi yang Salah tentang Allah

Ada rasa syukur yang luar biasa saat saya membaca buku A. W. Tozer, Mengasihi Yang Mahakudus. Ya, mempelajari serta menggumuli kembali satu hal yang penting dan terutama dalam kehidupan rohani kita, Allah Yang Mahakudus. Secara mendetail dalam bab keempatnya, Tozer mengungkapkan kerinduannya—bagi saya, bagi kita, dan bagi Gereja masa kini—tentang bagaimana kembali masuk ke hadirat Sang Mahakudus.

Tozer merasa cemas melihat kondisi Gereja akhir-akhir ini, yakni semakin hilangnya persepsi yang tepat tentang Allah. Bahkan, Tozer menyoroti salah satu gereja dalam Kitab Wahyu yang pernah disebut sebagai gereja yang suam-suam kuku—tidak dingin atau panas—yang berarti mereka memulai dengan baik, dengan tujuan yang baik, berjalan di jalan yang baik. Namun di suatu tempat di tengah jalan, kasih mereka kepada Allah menjadi hambar.

Tozer juga memberikan contoh tentang kebangunan rohani jemaat di suatu negara kecil Wales pada 1904, di bawah kepemimpinan Evan Roberts. Suatu kali pada minggu pagi, pendeta tidak berkhotbah sama sekali karena Allah bekerja sedemikian rupa. Mereka hanya duduk terpesona dalam kekaguman akan kehadiran Allah sambil menyanyikan lagu-lagu pujian dari Kitab Mazmur—Roh Kudus menggerakkan umat. Persepsi orang tentang Allah kala itu menjadi tinggi dan mulia, sehingga orang dapat betul-betul yakin akan Allah.

Dalam ibadah kebangunan rohani pada masa lalu, orang menjadi tidak sadar akan waktu dan hanya menyadari kehadiran Allah yang berkarya dalam hidup mereka. Namun, Tozer melihat pada masa kini yang orang sadari dalam gereja-gereja kita adalah semangat hiburan dan kesenangan semata, serta menunggu ”Kapan acara ini selesai sehingga saya dapat kembali ke dunia nyata?”

Tozer tentu tidak serta-merta menggunakan kacamata kuda. Ia menyadari betul bahwa zaman memang telah berubah, kita tidak lagi segan dan hormat kepada Allah, dan tidak lagi mengalami rasa takut yang kudus kepada-Nya. Menurutnya, fokus pemberitaan Firman masa kini juga telah bergeser karena lebih mementingkan sifat hiburan agar jemaat senantiasa mau hadir.

Tozer menilai, merosotnya situasi kerohanian Gereja yang tragis dan mencemaskan ini sebagai akibat dari kita melupakan sifat Allah kita. Khotbah kita seharusnya mengutamakan firman Allah di atas segalanya—bahkan di atas tren dan budaya— karena persepsi kita tentang Allah menentukan persepsi kita tentang ibadah. Selain itu, hal mendasar yang hilang dari kita pada masa kini adalah ”visi dari tempat tinggi”.

Mari kita mengingat dan merenungkan kembali bahwa kekristenan adalah tentang menyembah Allah, memuliakan Allah, dan bersukacita atas sifat Allah yang sungguh mengagumkan. Semua hal tentang kekristenan berpusat kepada Allah. Dan sebagai Gereja-Nya, mari kita terus rindu memberitakan Allah, berdoa kepada Allah, serta dengan bangga dan penuh sukacita, mendeklarasikan Allah di antara bangsa-bangsa.

Febriana D.H.

Literatur Perkantas Nasional

Posted on Tinggalkan komentar

Pentingnya Evaluasi Diri

Bagaimana persepsi kita tentang Allah? Pertanyaan yang sulit dijawab kalau kita sendiri belum sungguh mengenal-Nya. Pengenalan akan Allah memampukan kita untuk membangun kehidupan pribadi yang lebih baik, juga ibadah kita, yang bermuara pada pelayanan gereja. Perkembangan Gereja sekarang ini tak lepas dari pengenalan akan Allah dan kehendak-Nya bagi umat-Nya.

Dalam buku Mengasihi Yang Mahakudus, A.W. Tozer menulis: ”Jika kita ingin mengetahui di mana kita berada dan ke mana kita pergi, kita perlu mengetahui bagaimana kita akan ke sana serta situasi rohani seperti apa yang sedang kita hadapi. Kita akan menilai diri kita sendiri dengan mempertimbangkan apa yang kita peroleh dan apa yang telah hilang dari kita.” Kalau kita mengenal Allah dengan baik, tentu kita tahu rencana Allah buat kita. Dan karena itu, perlu bagi kita untuk mengevaluasi kembali apa yang belum atau harus kita lakukan.

A.W. Tozer, dalam buku tersebut, juga menjelaskan kemajuan-kemajuan yang dicapai Gereja. Di antaranya: meningkatnya semangat keagamaan, pertumbuhan Gereja, lembaga pelayanan atau sekolah yang dimiliki Gereja, serta masih banyak lagi.

Apa yang diperoleh Gereja saat ini tentu tidak lepas dari proses evaluasi yang dilakukan secara rutin. Segala sesuatu memang perlu dievaluasi. Baik dan buruknya perlu dicatat supaya kita tetap berjalan menuju arah yang benar. Jika memang ada masalah, perlu dikoreksi untuk membawa kita kembali ke tempat seharusnya kita berada.

Allah telah membuat rancangan buat kita dan juga buat Gereja. Kita perlu mengevaluasi di mana kita sekarang? Apakah yang kita lakukan sekarang memang sesuai rancangan Allah. Kita perlu, dan siap, mengevaluasi diri agar tetap berada di jalan yang telah direncanakan Allah bagi kita.

Nah, di mana kita sekarang?

Heru Santoso
Literatur Perkantas Nasional

Posted on Tinggalkan komentar

Bertindak sebagai Penyembah

Tak kenal maka tak sayang. Ungkapan ini sering diucapkan orang yang hendak memulai acara perkenalan. Perkenalan yang cukup dengan seseorang memungkinkan kita mengasihi orang tersebut. Di dalam perkenalan perlu ada keterbukaan. Semakin dalam orang itu membuka dirinya, semakin dalam juga kita mengenalnya. Kita jadi mengenal siapa dia sesungguhnya. Kita tahu karakternya, kita tahu apa yang disukai atau tidak disukainya. Dengan demikian, tidak ada spekulasi.

Photo by Scott Broome on Unsplash

Jika dengan manusia saja kita perlu perkenalan yang cukup, apalagi jika kita ingin mengenal Allah? Dalam bukunya Mengasihi Yang Mahakudus, A. W. Tozer menulis: ”Untuk membicarakan tentang Allah membutuhkan kapasitas yang melebihi kemampuan manusia.” Jelas Allah adalah Pencipta dan kita ciptaan. Dia tiada batas, kita terbatas. Allah kekal, manusia fana.

Masih dalam bukunya, Tozer juga menulis: ”Ada banyak logika dan pertimbangan mengenai Allah, namun tidak cukup kita berhenti di situ. Jika yang kita miliki semata-mata logika dan pertimbangan sehat, maka kita tidak akan pernah bisa menembus Awan Ketidaktahuan yang menghalangi manusia untuk benar-benar mengenal Allah.” Menurut Tozer, satu-satuya cara untuk dapat mengenal Allah adalah dengan bertindak sebagai penyembah.

Ya, sebagai penyembah. Dengan bertindak sebagai penyembah, kita memosisikan diri kita dengan benar. Dengan bertindak sebagai penyembah, kita menyadari siapa diri kita di hadapan Allah. Kita menyadari bahwa Allah itu besar dan terlampau besar untuk dapat kita pahami. Kita hanya mungkin mengenal-Nya sejauh Ia menyatakan diri-Nya kepada kita.

Bukan tanpa tujuan Allah menciptakan kita, Allah menciptakan kita untuk diri-Nya. Tozer juga mengutip Agustinus: ”Engkau menciptakan kami untuk diri-Mu, ya Tuhan, dan jiwa kami gelisah hingga menemukan peristirahatan di dalam Engkau.” Itu artinya, tidak ada yang bisa memberikan ketenangan kepada kita selain Allah, meskipun seluruh dunia kita miliki.

Oleh karena itu, mengenal Allah merupakan keniscayaan bagi kita manusia. Mengenal Allah membuat kita mengenal siapa diri kita di hadapan Allah. Mengenal Allah membuat kita mengetahui apa yang menjadi tujuan hidup kita. Dan mengenal Allah hanya dapat dilakukan dengan bertindak sebagai penyembah.

Citra Dewi
Literatur Perkantas Nasional

Posted on Tinggalkan komentar

Terbitan Baru: “Buah Roh: Hakikat dan Penerapannya”

Let’s say, buku ini memang mengangkat tema serupa dari buku Becoming Like Jesus karya Christoper J. H. Wright yang diterbitkan dalam bahasa Indonesia terlebih dahulu oleh Perkantas Jawa Timur. Buah Roh memang menjadi tema yang selalu menarik untuk ditulis. Tema yang sederhana namun menjadi begitu berguna ketika dikerjakan dalam kehidupan nyata. Tema bisa sama namun gagasan dari penulis yang berbeda bisa membuat wawasan pembaca akan tema ini bisa semakin kaya. Istimewanya, karena ini ditulis oleh penulis lokal, diharapkan pembahasannya bisa lebih mesra dan mengena.

Buah Roh: Hakikat dan Penerapannya

 

Semula, naskah buku ini merupakan Seri Sisipan Santapan Harian yang diterbitkan oleh Scripture Union Indonesia (PPA). Kami merasa penting untuk menghimpunnya ke dalam satu buku supaya para pembaca Santapan Harian bisa membacanya lebih lengkap tanpa harus membuka beberapa seri dari Santapan Harian.

Hal lain, kiranya buku ini juga bisa menjadi teman berbicara bagi Anda para siswa, mahasiswa, juga alumni yang juga memiliki kerinduan untuk terus bertumbuh. Buku ini sengaja dibuat dalam ukuran compact. Sengaja, supaya kapan pun Anda membutuhkan asupan nutrisi menyehatkan, Anda bisa langsung merasakan kesegaran Buah Roh dari buku ini ketika berada di kereta atau di dalam bus menuju tempat kerja atau tempat usaha. Namun, jangan coba-coba membaca sambil berkendara ya, salah-salah Anda sendiri yang celaka.

Akhir kata, mari kita bertumbuh bersama!

Posted on Tinggalkan komentar

Tentang Roh Kudus: Dipenuhi atau Dipimpin oleh Roh?

”Hiduplah di hadapan-Ku dengan tidak bercela” (Kej. 17:1).

Mengalami lawatan Allah menjadi topik sharing yang begitu laris. Apalagi jika yang mengalaminya adalah seorang figur publik. Topik ini bisa berkembang ke dalam beberapa kisah yang lebih khusus, seperti bebas dari jerat kecanduan narkoba, berpindah agama menjadi Kristen, sampai kepada hilangnya benjolan tumor dari rekam medis. Menjadi tahir. Hal ini menjadi target dari orang-orang yang sudah putus asa dengan penyembuhan jalur medis. Dirasa lebih manjur jika meminta kesembuhan kepada Tuhan sang Pencipta ketika jalur medis sudah tidak bisa memberikan harapan serupa. Roh Tuhan telah melawat dirinya. Pikirnya, kesembuhan dan perubahan luar biasa hanya bisa dialami dengan pribadi yang dipenuhi oleh Roh. Jika memang demikian, apa yang menentukan Roh bisa memenuhi satu orang pribadi namun enggan memenuhi pribadi lainnya? Lalu, mana yang lebih Alkitabiah, dipenuhi oleh Roh atau dipimpin oleh Roh?

Dalam Kisah Para Rasul 11:24, Lukas mencatat, ”Barnabas adalah orang baik, penuh dengan Roh Kudus dan iman. Kata dipenuhi sesungguhnya adalah sebuah kiasan. Roh bukanlah suatu cairan atau bahan-bahan lain yang sejenisnya yang digambarkan bisa memenuhi suatu bentuk wadah (tubuh manusia). Alkitab berbicara mengenai orang-orang yang penuh dengan Roh sepadan dengan maksud dipimpin oleh Roh; bahwa Roh Kudus mengarahkan dan menyatu dalam jiwa Anda. Cara lain untuk mengatakan ”dipenuhi” oleh Roh ialah ”hidup oleh Roh” (Gal. 5:16,25). Kemungkinan lain jika tidak dipenuhi (dipimpin) oleh Roh maka kemungkinan Iblis ”memenuhi” hati seseorang. Seperti yang dikatakan Petrus kepada Ananias, ”Mengapa hatimu dikuasai Iblis, sehingga engkau mendustai Roh Kudus” (Kis. 5:3).

Jadi, ketika Anda hadir di dalam ruang-ruang ibadah, apakah permintaan untuk Roh Kudus memenuhi hati dan menolong diri Anda untuk memuji Tuhan dengan sungguh hati menjadi relevan?Demikian juga dengan permohonan untuk kesembuhan penyakit? Atau apakah permintaan untuk Roh Kudus memimpin di dalam setiap agenda kerja, belajar, bertamu, berpacaran, yang intinya jauh dari konteks ibadah gereja menjadi kurang relevan? Anda mungkin berpikir, untuk apa Roh Kudus memimpin pribadi Anda di saat Anda sedang mengerjakan pembukuan di kertas kerja Excel atau Roh Kudus memimpin seorang penjual sate ketika membakar dan meracik daging sate. Rasa-rasanya Roh Kudus terlalu remeh untuk terlibat di dalam mengerjakan tugas-tugas pembukuan dan membakar sate.

Meminta Roh memimpin di dalam ibadah gereja sama pentingnya dengan memohon Roh memimpin seorang ibu di dalam mendidik anaknya. Allah menyatakan pimpinannya kepada Abraham bukan hanya di dalam konteks penyembahan di mezbah, namun di seluruh lingkup kehidupannya. ”Hiduplah di hadapan-Ku dengan tidak bercela” (Kej. 17:1).

Pekerjaan Roh Kudus tidak terjadi sebatas permohonan Anda untuk merasakan suatu pengalaman penyembahan yang dapat memukau perasaan sampai menguras air mata. Roh Kudus setia menjaga dan menghibur ketika air mata menjadi nuansa keseharian hidup Anda. Apakah itu karena pengkhianatan, sakit penyakit, bahkan penderitaan. Roh Kudus memenuhi atau memimpin bukan menjadi persoalan.

Bukan soal pengalaman sementara yang luar biasa, apalagi bisa berkata-kata dalam berbagai bahasa yang sukar dicerna. Apakah Anda sanggup tunduk di dalam ketaatan penuh untuk hidup di dalam kekudusan dari agenda kehidupan yang satu kepada agenda kehidupan yang lainnya, itulah yang paling utama. Bukan menjadi hal yang penting akan sedikitnya mukjizat besar yang terjadi di alam kehidupan Anda. Karena, mukjizat terbesar sudah direalisasikan bahwa Yesus Kristus telah mati bagi segala dosa dan pelanggaran Anda. Kita sudah ditebus oleh-Nya!

Dari Redaksi:

Tertarik untuk mendalami topik pengajaran mengenai Roh Kudus? Kami memiliki beberapa koleksi literatur yang bisa menjadi bahan pengajaran yang bisa menolong iman Anda bertumbuh makin dewasa, di antaranya:

  1. Lebih Dari Cukup: Keinginan untuk Menerima ”Lebih” Karunia Roh Kudus dibandingkan dengan Gagasan ”Cukup” Reformasi oleh H. Ten Brinke, J. W. Maris, dkk.
  2. Gift and Giver oleh Craig S. Keener.

Selamat bertumbuh bersama!

 

 

 

Posted on Tinggalkan komentar

Devosi Keluarga

Tetapi jika kamu anggap tidak baik untuk beribadah kepada TUHAN, pilihlah pada hari ini kepada siapa kamu akan beribadah; allah yang kepadanya nenek moyangmu beribadah di seberang sungai Efrat, atau allah orang Amori yang negerinya kamu diami ini. Tetapi aku dan seisi rumahku, kami akan beribadah kepada Tuhan !”
(Yosua 24:15)

Pada umumnya dalam berbagai keadaan kita memulai hari dengan Firman dan doa. Ini adalah kebiasaan yang begitu baik. Namun, ada hal yang lebih indah. Jika Firman dan doa dilakukan bersama di dalam keluarga.

Keluarga yang beribadah, adalah satu kerinduan dari banyak rancangan suami dan istri di dalam memulai kehidupan berumah tangga. Rumah baru sudah didapat, mungkin saja baru mengontrak. Segala macam perabotan sudah menunjukkan rupa, walau banyak juga yang masih tertahan di toko menunggu untuk ditebus dengan segera. Keuangan sudah mulai diatur bersama walau tidak banyak harta yang tersisa. Semua terlihat berjalan sesuai rencana, rumah tangga mulai memperlihatkan aktivitasnya. Namun, membangun devosi keluarga masih saja menjadi pekerjaan rumah yang tak kunjung beres.

Kita membayangkan devosi keluarga sebagai persekutuan kecil yang indah. Di dalamnya terkandung doa, pujian, dan firman Tuhan. Devosi keluarga diharapkan menjadi waktu berharga yang ditetapkan setiap hari di mana tiap pribadi  akan berkumpul sebagai sebuah keluarga untuk menikmati Tuhan bersama-sama. Setiap anggota berkumpul di ruang tamu, bersama menyanyikan pujian, menyelami keindahan firman Tuhan, terlarut ke dalam percakapan yang menguatkan, lalu ditutup dengan doa bersama. Lebih beruntung jika salah satu pasangan bisa menyanyikan mazmur atau himne dengan suara yang merdu. Segalanya terdengar begitu indah dan sempurna.

Photo by Josh Willink from Pexels

Namun, kenyataannya begitu berbeda.

Kehidupan awal pernikahan menjadi waktu yang sempurna untuk memulainya. Keceriaan dan kebahagiaan masih menjadi warna yang dominan dalam keseharian. Sehari-dua hari dijalani tanpa hambatan berarti. Devosi bersama istri begitu dinanti oleh suami. Begitu juga sebaliknya. Namun, tak lama waktu berselang ketika kesibukan semakin menumpuk, devosi keluarga menjadi tak terurus. Apalagi ketika anak hadir dan mengubah total ritme kehidupan. Devosi keluarga semakin ditinggalkan.

Devosi keluarga, seperti banyak disiplin rohani lainnya memerlukan ketekunan dan kepatuhan untuk setia mengerjakan. Sesuatu yang begitu sederhana, namun begitu banyak orang menganggapnya begitu sulit. Kita sendiri yang membuat kesederhanaan devosi keluarga jauh lebih rumit daripada yang seharusnya. Tidak ada cara terbaik untuk mengukur keberhasilan devosi keluarga kecuali dengan pertanyaan sederhana ini: Apakah kita melakukannya?

Photo by freestocks.org from Pexels

Kita harus melihat ketekunan membangun devosi keluarga adalah pekerjaan membangun jangka panjang. Hari demi hari yang begitu sibuk dan padat, terasa begitu sulit untuk menyediakan waktu untuk berdoa bersama. Kita sering melihat devosi keluarga sebagai kegiatan yang menyita waktu.

Namun, untuk sanggup cinta kita musti memaksa lebih sering berjumpa dengan Dia sang pencipta. Jika kita mengusahakannya dengan tekun, maka ratusan kesempatan yang tersebar secara acak selama belasan atau bahkan puluhan tahun berkeluarga kita akan takjub melihat karya Allah di dalam hati kita sebagai orang tua juga kepada kehidupan anak-anak. Bagian kita adalah terus tekun dan berkeyakinan bawa Allah terus bekerja melalui komitmen yang kita perjuangkan untuk tradisi yang sederhana namun luar biasa: Devosi Keluarga.

Dari Redaksi:
Jika sahabat rindu untuk lebih dalam mempelengkapi kebutuhan rohani keluarga, berikut beberapa buku yang bisa menjadi referensi bagi sahabat:
1. “Bijak Menjadi Orang Tua” ditulis oleh Paul Tripp. Buku ini berisikan 14 prinsip dasar pengasuhan yang berpusatkan Injil.
2. “Anakku Karunia Tuhan” ditulis oleh Daniel Puspo Wardojo. Buku ini memuat kisah-kisah yang menyentuh di dalam belajar bersama di dalam mengasuh anak di dalam kesadaran bahwa anak adalah karunia Tuhan.
3. “Growing Together: Membangun dan Memperkaya Keluarga dalam Tuhan”. Bahan PA ini menolong para orang tua untuk merefleksikan kehidupan keluarga di dalam perenungan akan firman Allah.

Sahabat, kami rindu kita bisa terus bertumbuh bersama di dalam kedewasaan sebagai orang tua melalui koleksi-koleksi literatur yang kami miliki. Kiranya kita bisa mengalami keindahan ini: Keindahan keluarga dialami ketika setiap anggota di dalam keluarga saling mengasihi bukan menuntut untuk dikasihi; memberi, bukan diberi; melayani bukan dilayani.

Salam kasih,

Literatur Perkantas Nasional.