Posted on Tinggalkan komentar

Melelahkan Badan

(Pengkhotbah 12:12)

Meski pada bagian sebelumnya penulis menekankan pentingnya penerbitan, namun dalam ayat 12, pernyataannya bernada minor: ”Lagipula, anakku, waspadalah! Membuat banyak buku tak akan ada akhirnya, dan banyak belajar melelahkan badan.”

Kelihatannya, sama seperti sebelumnya, sang pemikir selalu mengajak pembacanya memikirkan kemungkinan negatif dari semua hal yang tampak serbapositif. Yang kadang membuat kita—orang percaya abad XXI—bingung. Dalam Alkitab Bahasa Indonesia Masa Kini tertera: ”Anakku, tentang satu hal engkau harus waspada. Penulisan buku tak ada akhirnya, dan terlalu banyak belajar melelahkan jiwa dan raga.”

Sepertinya sang pemikir hendak mengingatkan hakikat ilmu pengetahuan—ilmu tak hanya untuk ilmu itu sendiri. Ilmu itu harus bisa dipraktikkan dan berguna bagi masyarakat luas. Itu juga persoalan para cendekiawan yang getol mengembangkan ilmu pengetahuan, namun lupa memikirkan penerapannya dalam masyarakat. Kalau memang demikian, bagi sang pemikir itu memang tak ada artinya, dan hanya melelahkan badan saja.

Dengan kata lain, seorang ilmuwan tak boleh menjadi pecandu riset. Atau, seorang penulis harus sungguh-sungguh signifikan (penting dan bermakna) bagi diri dan kehidupan pembaca. Jadi, bukan sekadar unjuk kebolehan, apalagi uang.

Pada titik ini sang pemikir agaknya juga mengingatkan pentingnya hidup seimbang. Hidup tak hanya diisi oleh belajar, namun juga perlu diselingi dengan bermain. Bagaimanapun kita juga homo ludens ’manusia bermain’. Itu berarti kita tahu, kapan waktu belajar dan kapan waktu bermain! Hidup memang harus seimbang!

SMaNGaT,

Yoel M. Indrasmoro
Literatur Perkantas Nasional

Foto: Debby Hudson

Posted on Tinggalkan komentar

Tak Sekadar Berhikmat

(Pengkhotbah 12:9-11)

Dalam bagian akhir kitabnya, dalam ayat 9-10, penulis menyingkapkan jati dirinya: ”Selain Pengkhotbah berhikmat, ia mengajarkan juga kepada umat itu pengetahuan. Ia menimbang, menguji dan menyusun banyak amsal. Pengkhotbah berusaha mendapat kata-kata yang menyenangkan dan menulis kata-kata kebenaran secara jujur.”

Menarik disimak, sang pemikir tak sekadar berhikmat, namun berupaya untuk mengajarkannya. Tampaknya, dia merupakan tipe orang yang menyadari bahwa setiap orang yang berhikmat wajib menularkan hikmat itu kepada orang lain. Dengan kata lain, orang berhikmat tak boleh hidup hanya untuk dirinya sendiri agar semakin banyak jumlah orang berhikmat. Dan akhirnya bumi penuh dengan hikmat Allah.

Menjadi guru memang bukan persoalan sederhana. Pertama, seorang guru perlu punya mental berbagi. Tentu dalam hal ini berbagi ilmu. Guru dipanggil untuk tak pelit dengan ilmunya. Bahkan semestinya dia siap—dan berani berharap—bahwa naradidik mereka akan lebih pandai dari gurunya.

Kedua, seorang guru perlu punya daya tahan. Dia tidak boleh patah, apalagi menyerah jika mendapati para muridnya sulit, atau malah, enggan berubah. Dia harus punya keyakinan bahwa perubahan itu mungkin. Usaha ini butuh energi besar. Itu hanya mungkin terjadi jika seorang guru mau berbagi hidup dengan muridnya.

Bahkan, ini juga menarik disimak, sang pemikir tak sekadar berhikmat, memanggil dirinya sebagai guru, tetapi dia juga mau menuliskan pemikirannya. Dia agaknya sadar, tulisan berdampak besar dan luas. Tulisan tidak dibatasi oleh dinding-dinding kelas. Itu berarti dia akan banyak memiliki murid informal.

Dan dia menuliskan semuanya dengan jujur. Tak ada yang dipermanis. Perkataannya seperti tongkat gembala atau paku. Dia tidak merasa perlu menjadi populer, namun ingin memberikan yang baik kepada setiap pembacanya. Mengapa? Sebab ia sungguh mengasihi pembacanya. Berbahagialah kita—orang percaya abad XXI—yang diberi kesempatan merenungkan kembali karya tulisnya setiap hari pada masa pandemi.

SMaNGaT,

Yoel M. Indrasmoro
Literatur Perkantas Nasional

Foto: Istimewa

Posted on Tinggalkan komentar

Mengingat Pencipta

(Pengkhotbah 12:1-8)

Masih berkenaan dengan orang muda, dalam ayat 1, sang pemikir menasihati: ”Ingatlah akan Penciptamu pada masa mudamu.” Menarik disimak, sang pemikir tampaknya sengaja mengaitkan masa muda dengan ”pencipta”. Dia tidak memberi nasihat: ”Ingatlah akan Allahmu.” Bisa jadi sang pemikir hendak menyatakan bahwa setiap orang dicipta unik, khas, dan satu-satunya. Dan penciptaan itu bukan tanpa maksud. Mengingat Pencipta berarti memercayai bahwa Allah telah menyiapkan tujuan besar bagi setiap individu.

Menurut Derek Kidner, mengingat akan Pencipta “bukan berarti sesuatu yang dapat dilakukan secara sepele atau melulu suatu pekerjaan mental, melainkan berarti membuang segala anggapan seolah-olah kita dapat mencukupi bagi diri kita sendiri, dan kemudian menyerahkan diri kita secara mutlak kepada Dia”. Dengan kata lain, mengingat Pencipta berarti fokus pada proyek Allah dalam diri masing-masing individu.

Karena itu, masih menurut Derek Kidner, dengan mengingat Pencipta pastilah tidak berterima sikap hidup yang setengah-setengah atau angin-anginan. Dan kembali dikembangkan tema bahwa waktu akan cepat berlalu dan yang tinggal adalah ratapan belaka karena masa tua telah tiba.

Dalam Alkitab Bahasa Indonesia Masa Kini tertera: ”sebelum tiba tahun-tahun penuh sengsara. Pada masa itu engkau akan berkata, ’Hidupku tidak bahagia.’ Bila tiba saat itu matamu tak lagi terang, sehingga pudarlah sinar surya, bulan dan bintang. Awan mendung pembawa hujan, tetap menyertaimu bagai ancaman. Lenganmu gemetar dan tak lagi memberi perlindungan. Kakimu yang kekar akan goyah tanpa kekuatan. Gigimu tidak lengkap untuk mengunyah makanan. Matamu kabur sehingga menyuramkan pandangan. Keramaian di jalan sampai di telingamu dengan samar-samar. Bunyi musik dan penggilingan hampir-hampir tidak terdengar. Engkau tak dapat tidur terlena. Kicauan burung pun membuat engkau terjaga. Engkau takut mendaki tempat yang tinggi dan harus berjalan dengan hati-hati. Rambutmu beruban dan kakimu kauseret waktu berjalan. Maka hilanglah segala hasrat dan keinginan. Kita menuju ke tempat tinggal kita yang penghabisan, orang-orang berkabung dan meratap di sepanjang jalan… Tubuh kita akan kembali, menjadi debu di bumi. Nafas kehidupan kita akan kembali kepada Allah. Dialah yang memberikannya sebagai anugerah.”

Masa muda yang tak diisi baik hanya akan membenarkan pendapat ini: ”Kesia-siaan atas kesia-siaan, kata Pengkhotbah, segala sesuatu adalah sia-sia.”

SMaNGaT,

Yoel M. Indrasmoro
Literatur Perkantas Nasional

Foto: Hernan Sartorio

Posted on Tinggalkan komentar

Masa Muda

(Pengkhotbah 11:9-10)

Berkait masa muda, dalam ayat 9-10, sang pemikir menasihati: ”Bersukarialah, hai pemuda, dalam kemudaanmu, biarlah hatimu bersuka pada masa mudamu, dan turutilah keinginan hatimu dan pandangan matamu, tetapi ketahuilah bahwa karena segala hal ini Allah akan membawa engkau ke pengadilan! Buanglah kesedihan dari hatimu dan jauhkanlah penderitaan dari tubuhmu, karena kemudaan dan fajar hidup adalah kesia-siaan.”

Nasihat yang wajar. Bersukacita menjadi logis karena mereka memang masih muda. Energi mereka masih full. Kesempatan masih terbuka luas. Tak ada beban apa pun. Jika ada kesalahan atau kegagalan yang diperbuat, maka waktu untuk memperbaikinya masih terbilang panjang.

Kelihatannya sang pemikir juga memercayai bahwa orang muda punya kadar idealisme tinggi. Mereka memang belum punya beban hidup yang kadang melunturkan idealisme tadi. Karena itu, mereka didorong untuk menuruti keinginan hati dan mata.

Yang tidak boleh dilupakan, waktu muda itu tidak lama. Cuma sebentar. Dalam Alkitab Bahasa Indonesia Masa Kini tertera: ”Usirlah khawatir dan susah dari hatimu, sebab masa mudamu cepat berlalu.”

Namun demikian, menarik disimak bahwa sang pemikir merasa perlu mengingatkan bahwa di balik setiap tindakan ada tanggung jawab yang diemban. Atau—yang juga benar—sebagai mandataris Allah, Allah sendirilah yang akan menuntut pertanggungan jawab dari mereka. Itu berarti orang muda harus serius—jangan main-main!

SMaNGaT,

Yoel M. Indrasmoro
Literatur Perkantas Nasional

Foto: Takahiro Taguchi

Posted on Tinggalkan komentar

Menabur Benih

(Pengkhotbah 11:6)

Berkait usaha, dalam ayat 6, sang pemikir—dengan menggunakan ilustrasi dari dunia pertanian—menasihati: ”Taburkanlah benihmu pagi-pagi hari, dan janganlah memberi istirahat kepada tanganmu pada petang hari, karena engkau tidak mengetahui apakah ini atau itu yang akan berhasil, atau kedua-duanya sama baik.”

Tak ada orang yang ingin usahanya gagal. Pada titik ini nasihat sang pemikir bisa menjadi jalan keluar. Dia mengajak orang yang berusaha untuk melakukan antisipasi.

Memang berkait pertumbuhan benih, tidak seorang pun yang bisa memastikan. Karena itulah sang pemikir memberikan nasihat untuk tidak menabur pada pagi hari saja. Dia mengajak untuk menabur pada petang hari. Alasannya sederhana, petani itu tidak bisa memastikan mana yang akan tumbuh baik, yang ditabur pada pagi hari atau sore hari, atau keduanya sama-sama tumbuh baik.

Apakah itu berarti ngoyo? Sepertinya tidak. Tampak ngoyo seandainya petani tersebut menabur benihnya tiga kali: pagi, siang, dan petang. Selain sungguh-sungguh melelahkan, maka menabur benih pada siang hari bisa jadi sia-sia mengingat suhu yang terlalu tinggi. Kalau menaburnya pada malam hari, pasti perlu ada biaya tambahan untuk lampu.

Kelihatannya, sang pemikir sedang berbicara juga soal meminimalkan risiko. Risiko gagal selalu ada. Karena itu, kita perlu mengurangi risiko tersebut. Kalau gagal juga. Kita bisa mengatakan, itu memang sudah kehendak Tuhan.

SMaNGaT,

Yoel M. Indrasmoro
Literatur Perkantas Nasional

Foto: Syd Wachs

Posted on Tinggalkan komentar

Pekerjaan Allah

(Pengkhotbah 11:5)

Dalam ayat 5 sang pemikir menyatakan: ”Sebagaimana engkau tidak mengetahui jalan angin dan tulang-tulang dalam rahim seorang perempuan yang mengandung, demikian juga engkau tidak mengetahui pekerjaan Allah yang melakukan segala sesuatu.”

Sebagai makhluk berakal budi manusia berupaya memahami apa yang ada—juga terjadi—di sekitarnya. Caranya dengan bertanya baik secara oral maupun dalam hati. Sejak kecil kita senantiasa bertanya. Sejatinya pertanyaan-pertanyaan itulah yang menjadikan ilmu pengetahuan berkembang pesat. Namun demikian, sang pemikir mengingatkan bahwa semua ada batasnya. Artinya, ada yang masih tidak kita ketahui, khususnya tentang Allah dan pekerjaan-Nya.

Batasan itu semestinya membuat kita bersyukur. Yang membuat kita tak perlu ngoyo. Misteri yang ada semestinya membuat kita makin rendah hati. Kalaupun hendak menguak misteri, maka jalan yang paling logis adalah bertanya kepada Allah, Sang Pencipta itu sendiri. Syukur-syukur Dia memberitahukannya. Jika tidak, ya enggak apa-apa; tak perlu kecil hati. Bagaimanapun Allah adalah khalik dan kitalah ciptaan-Nya.

Begitu juga dengan pandemi COVID-19 ini. Tentulah ada banyak tanya yang melintas dalam benak. Dengan pertolongan Allah, marilah kita coba menjawabnya satu demi satu. Jika masih belum ada jawabannya, sebaiknya ditunggu saja. Jika Allah mau, pada waktu-Nya, Dia akan mengungkapkannya. Percayalah!

SMaNGaT,

Yoel M. Indrasmoro
Literatur Perkantas Nasional

Foto: Istimewa

Posted on Tinggalkan komentar

Lakukanlah

(Pengkhotbah 11:4)

Dalam ayat 4 sang pemikir menasihati: ”Siapa senantiasa memperhatikan angin tidak akan menabur; dan siapa senantiasa melihat awan tidak akan menuai.” Nasihat jitu. Mengapa? Karena manusia sering ragu, banyak pertimbangan ketika hendak memulai sesuatu.

Dalam Alkitab Bahasa Indonesia Masa Kini tertera: ”Siapa menunggu sampai angin dan cuaca sempurna, tak akan menanam dan tidak pula memetik hasilnya.” Banyak pertimbangan tentu baik. Tak ada manusia yang ingin gagal. Ya, buat apa melakukan sesuatu yang sudah pasti gagal. Namun, yaitu tadi, jika menunggu angin dan cuaca sempurna dahulu, kita bisa jadi tak akan mulai menanam. Jika tidak mulai menanam, mungkinkah kita menuai hasilnya? Tentu tidak.

Herbert Kauffman, sebagaimana dikutip Frank Bettger dalam buku Meretas Kegagalan Menuju Sukses Penjualan, menulis: ”Di daftar orang yang berhasil namamu tidak terdapat. Jelaskan kenapa! Bukan peluang yang kau tidak punya! Seperti biasa—Kau tidak berbuat apa-apa.”

Pertimbangan itu perlu. Namun, setelah mempertimbangkan semuanya, lakukanlah. Ya, lakukan saja. Kita memang tidak akan tahu hasilnya. Itulah yang membuat kita cemas. Akan tetapi, itu jugalah kesempatan bagi kita memberikan ruang pada rahmat Allah.

SMaNGaT,

Yoel M. Indrasmoro
Literatur Perkantas Nasional

Foto: Jana Sabeth

Posted on Tinggalkan komentar

Niscaya

(Pengkhotbah 11:3)

Dalam ayat 3 sang pemikir menasihati: ”Bila awan-awan sarat mengandung hujan, maka hujan itu dicurahkannya ke atas bumi; dan bila pohon tumbang ke selatan atau ke utara, di tempat pohon itu jatuh, di situ ia tinggal terletak.” Pada titik ini sang pemikir berbicara soal keniscayaan.

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, ”niscaya” berarti pasti atau tidak boleh tidak. Kalau awan sarat dengan titik-titik air pasti hujan terjadi. Atau, kalau pohon kena tiupan angin yang cukup kuat pasti—tidak boleh tidak—akan tumbang. Jika angin bergerak dari Utara ke Selatan, pasti arah pohon itu tumbang adalah ke Selatan. Tidak mungkin pohon itu jatuh ke arah yang berlawanan. Sesungguhnya ilmu pengetahuan akan menolong kita melakukan prediksi.

Apa relevansi nas ini dalam kehidupan kita di tengah pandemi? Sebenarnya cukup sederhana. Kalau dalam kasus tadi, kita punya peribahasa: Sedia payung sebelum hujan. Atau, jika kita tahu ke mana angin bertiup, kita bisa menghindari batang pohon yang rubuh. Dalam masa pandemi, tak ada jalan lain selain: mengenakan masker, jaga jarak, dan cuci tangan!

SMaNGaT,

Yoel M. Indrasmoro
Literatur Perkantas Nasional

Foto: Suhyeon Choi

Posted on Tinggalkan komentar

Tumpang Sari

(Pengkhotbah 11:2)

Dalam ayat 2 sang pemikir menasihati: ”Berikanlah bahagian kepada tujuh, bahkan kepada delapan orang, karena engkau tidak tahu malapetaka apa yang akan terjadi di atas bumi.” Tak terlalu mudah memahami maksud sang pemikir. Dalam Alkitab Bahasa Indonesia Masa Kini tertera: ”Tanamlah modalmu di berbagai niaga; carilah usaha sebanyak-banyaknya. Sebab orang perlu waspada, sebelum musibah menimpa.”

Sang pemikir menyinggung soal antisipasi. Dalam dunia niaga, modal perlu dibagi-bagi di beberapa tempat, agar—ketika bencana menimpa—tidak ludes semuanya. Nasihat sang pemikir ini bak sekoci penolong dalam kapal penumpang. Tentu tak seorang penumpang pun berharap akan menggunakannya. Namun, keberadaan sekoci penolong merupakan keniscayaan.

Dalam dunia pertanian ada istilah tumpang sari, yaitu bercocok tanam dengan menanam dua jenis tanaman atau lebih secara serentak, dengan membentuk barisan-barisan lurus untuk tanaman, yang ditanam secara berseling pada satu bidang tanah. Maksudnya, ketika tanaman pokoknya tidak panen maksimal, petani masih bisa menikmati hasil panenan lain.

Bagaimana dengan karyawan yang hanya bekerja pada satu perusahaan? Pada masa pandemi ini, mengencangkan ikat pinggang merupakan kemestian. Tentu tujuannya bukan hanya untuk diri sendiri, tetapi juga untuk orang lain. Bagaimanapun, ini kata Tuhan Yesus dalam Yohanes 12:8, ”Orang-orang miskin selalu ada pada kamu.”

Yoel M. Indrasmoro
Literatur Perkantas Nasional

Foto: Istimewa

Posted on Tinggalkan komentar

Jangan Takut Kehilangan

(Pengkhotbah 11:1)

Dalam ayat 1 sang pemikir menasihati: ”Lemparkanlah rotimu ke air, maka engkau akan mendapatnya kembali lama setelah itu.” Tak mudah memahami maknanya. Sebagian orang mengartikannya sebagai pemberian kepada orang miskin. Namun, ada pula yang mengartikannya sebagai pentingnya penanaman modal dalam suatu usaha. Alkitab Edisi Studi mengusulkan terjemahan: ”Jangan takut untuk menanam modal. Suatu hari nanti akan ada hasilnya.”

Apa pun pengertian yang dipilih—entah investasi atau pemberian kepada orang miskin—sang pemikir menyatakan keyakinannya bahwa semua itu akan kembali. Kita akan mendapatkannya lagi. Memang perlu waktu. Sehingga yang penting adalah keberanian untuk melakukan sesuatu dengan sebaik-baiknya.

Mungkin persoalannya memang di sini: kita takut kehilangan sesuatu sekarang ini. Dan ketika kita takut kehilangan sesuatu pada masa kini, kita tidak akan mendapatkan apa pun pada masa yang akan datang. Dalam bisnis tentu benar, kalau enggak menanam modal, mustahil akan mendapatkan untung di kemudian hari.

Berkait budi baik, dalam Amsal 19:17 tertera: ”Siapa menaruh belas kasihan kepada orang yang lemah, memiutangi TUHAN, yang akan membalas perbuatannya itu.” Dalam Alkitab Bahasa Indonesia Masa Kini tertera: ”Menolong orang miskin sama seperti memberi pinjaman kepada TUHAN; nanti TUHAN juga yang akan membalasnya.”

Intinya: kehilangan sekarang—apa pun itu—akan membuat kita mendapatkannya kembali nanti. Ringkasnya: Jangan takut kehilangan apa pun! Tuhan tidak tidur. Percayalah!

Yoel M. Indrasmoro
Literatur Perkantas Nasional

Foto: Istimewa

Posted on Tinggalkan komentar

Jangan Mengutuk

(Pengkhotbah 10:20)

Berkait perkataan, dalam ayat 20 sang pemikir menasihati: ”Dalam pikiran pun janganlah engkau mengutuki raja, dan dalam kamar tidur janganlah engkau mengutuki orang kaya, karena burung di udara mungkin akan menyampaikan ucapanmu, dan segala yang bersayap dapat menyampaikan apa yang kauucapkan.”

Ini sungguh nasihat yang bijak dan logis. Sebab yang dalam pikiran itu—apalagi dalam keadaan tegang atau terdesak—tanpa sadar keluar melalui mulut kita. Bahkan, apa yang kita ucapkan dalam kamar pribadi sekalipun masih mungkin didengar oleh orang yang kita bicarakan. Sehingga yang paling aman adalah jangan mengecam, mengumpat, atau menghakimi orang lain.

Lalu apa yang harus kita lakukan? Yang paling aman, dan pasti nyaman adalah belajar melihat sisi baik dari setiap orang. Sejatinya, setiap orang punya kelemahan, tetapi pasti juga punya kekuatan. Menyadari kekuatan seorang rekan akan membuat diri kita dijauhkan dari godaan untuk menghakiminya.

Kesadaran itu akan membuat pikiran—juga hati—kita lebih tenang karena kita tahu memiliki rekan yang dapat diandalkan. Kenyataan itu pulalah yang akan membuat diri kita merasa damai. Itu sungguh berguna, khususnya pada masa pandemi ini. Percayalah!

SMaNGaT,

Yoel M. Indrasmoro
Literatur Perkantas Nasional

Foto: Istimewa

Posted on Tinggalkan komentar

Hidup adalah Pesta

(Pengkhotbah 10:19)

Dalam ayat 19 sang pemikir menyatakan: ”Untuk tertawa orang menghidangkan makanan; anggur meriangkan hidup dan uang memungkinkan semuanya itu.” Dalam Alkitab Bahasa Indonesia Masa Kini tertera: ”Pesta membuat tertawa, dan anggur membuat gembira. Tapi perlu ada uang untuk membayarnya.” Benarkah pernyataannya?

Tentu ada benarnya. Pesta membuat orang tertawa, anggur membuat orang bergembira. Ketika makan enak dan minum anggur, orang sesaat akan melupakan beban hidupnya. Yang juga benar: semuanya itu butuh modal. Dan karena butuh modal yang tidak sedikit, aneh rasanya—bahkan mustahil—jika orang mengadakan pesta setiap hari.

La vita è bella ’hidup adalah pesta’. Itulah judul sebuah film Italia—dirilis pada 1997—yang bercerita tentang seorang Yahudi Italia Guido Orefice (diperankan Roberto Benigni) dalam menyikapi nasib yang menimpanya dalam kamp konsentrasi Bergen-Belsen masa Perang Dunia II. Ia mengajak anaknya untuk melihat situasi dalam kamp itu sebagai sebuah permainan. Dan lazimnya permainan pasti dilakoni dengan gembira. Ini memang masalah cara pandang.

Itu berarti tak perlu makanan enak dan anggur untuk tetap bergembira dalam hidup. Hidup itu sendiri adalah pesta. Tentu saja selama kita mampu melihat ada yang layak disyukuri. Namun demikian, bukankah hidup itu sendiri sungguh sesuatu banget pada masa pandemi ini?

SMaNGaT,

Yoel M. Indrasmoro
Literatur Perkantas Nasional

Foto: Istimewa

Posted on Tinggalkan komentar

Kemalasan

(Pengkhotbah 10:18)

Berkait kemalasan, sang pemikir membuat gambaran menarik pada ayat 18: ”Oleh karena kemalasan runtuhlah atap, dan oleh karena kelambanan tangan bocorlah rumah.” Dalam Alkitab Bahasa Indonesia Masa Kini tertera: ”Atap rumah akan bocor kalau tidak dibetulkan, dan akhirnya rumah itu lapuk akibat kemalasan.”

Kelambanan itulah yang disorot sang pemikir. Pada kenyataannya manusia memang senang menunda. Alasannya, biasanya, belum ada waktu untuk mengerjakannya. Dan lama-kelamaan malah lupa mengerjakannya. Atau, kalaupun ingat, senyatanya penundaan yang terlalu lama malah akan membuat diri makin enggan mengerjakannya. Ujungnya sesal di hati.

Ambil contoh gambaran sang pemikir tadi. Ketika genting bocor tak langsung diperbaiki, maka kebocoran akan menjadi semakin besar. Yang akhirnya membuat kayu penyangga genting itu lapuk, dan atap pun. Semua itu terjadi karena malas. Ya, malas memperbaiki genting bocor.

Senada dengan peribahasa Cina: ”Keberhasilan mengatasi kebakaran sebenarnya merupakan kegagalan mengelola api itu ketika masih kecil.” Dalam banyak hal, memang ini yang terjadi. Menunda untuk mengerjakan sesuatu—yang mungkin remeh—hanya akan mendatangkan bencana.

Tentu, itu tidak berarti kita harus bersikap grasah-grusuh (tergesa-gesa). Namun, menunda sesuatu yang penting—apalagi mendesak—karena rasa malas hanya akan membuat kita menuai akibat buruknya. Oleh karena itu, perlulah bagi kita, setiap hari, menentukan skala prioritas bagi diri kita sendiri.

SMaNGaT,

Yoel M. Indrasmoro
Literatur Perkantas Nasional

Foto: James Lee

Posted on Tinggalkan komentar

Para Pemimpin

(Pengkhotbah 10:16-17)

Sang pemikir menegaskan dalam ayat 16-17: ”Wahai engkau tanah, kalau rajamu seorang kanak-kanak, dan pemimpin-pemimpinmu pagi-pagi sudah makan! Berbahagialah engkau tanah, kalau rajamu seorang yang berasal dari kaum pemuka, dan pemimpin-pemimpinmu makan pada waktunya dalam keperkasaan dan bukan dalam kemabukan!”

Tak terlalu mudah memahami Alkitab Terjemahan Baru. Yang pasti hitam putihnya negeri sangat bergantung pada pemimpinnya. Dalam Alkitab Bahasa Indonesia Masa Kini tertera: ”Celakalah negeri yang rajanya muda belia, dan para pembesarnya semalam suntuk berpesta pora. Mujurlah negeri yang rajanya berwibawa, yang pembesarnya makan pada waktunya, tak suka mabuk dan pandai menahan dirinya.”

Kepemimpinan memang krusial. Mengapa? Sebab mereka adalah pemimpin. Dan pemimpin memiliki wewenang besar untuk menghitamputihkan keadaan karena dialah yang mengambil keputusan.

Dengan sengaja sang pemikir membedakan raja yang muda belia dan raja yang berwibawa. Terkesan stereotip, orang muda pasti tanpa pengalaman dan karena itu masih suka hura-hura. Meski memang benar, kalau rajanya enggak berwibawa, pasti para pembesarnya menganggap dia mudah diatur dan karena itu mereka bebas berpesta. Dan ketika raja berwibawa, maka bawahannya pun akan tertib hidupnya.

Pada titik ini kaderisasi menjadi pekerjaan rumah yang sungguh penting. Dan keluarga-keluarga dipanggil untuk menyemai pemimpin-pemimpin yang berwibawa. Sebab di tangan merekalah hitam putihnya negeri terletak.

SMaNGaT,

Yoel M. Indrasmoro
Literatur Perkantas Nasional

Foto: Jehyun Sung

Posted on Tinggalkan komentar

Kata-kata

(Pengkhotbah 10:12-15)

Dalam ayat 12 sang pemikir menyatakan: ”Perkataan mulut orang berhikmat menarik, tetapi bibir orang bodoh menelan orang itu sendiri.” Dalam Alkitab Bahasa Indonesia Masa Kini tertera: ”Ucapan orang arif membuat ia dihormati, tetapi orang bodoh binasa karena kata-katanya sendiri.” Kata yang keluar dari mulut seseorang berdampak terhadap diri orang tersebut.

Kata merupakan alat komunikasi. Meski, juga benar, bahwa kita pun masih bisa berkomunikasi tanpa kata. Namun, tentu saja, itu membutuhkan tingkat korelasi yang tinggi antarmanusia. Dengan kata, manusia bisa menguatkan, tetapi juga melemahkan; bisa menghibur, tetapi juga menyakiti, bisa mendorong, tetapi juga menjerumuskan. Karena itu, memilih kata yang baik, benar, dan tepat merupakan tugas mulia. Mulia karena sejatinya kata yang keluar semestinya memang untuk memuliakan manusia.

Sehingga, jalan terlogis adalah janganlah terlalu banyak kata keluar dari mulut kita. Dalam ayat 13-15 Alkitab Bahasa Indonesia Masa Kini, berkait dengan orang bodoh, sang pemikir mengatakan: ”Ia mulai dengan omong kosong biasa, tetapi akhirnya bicaranya seperti orang gila. Memang, orang bodoh banyak bicara. Hari depan tersembunyi bagi kita semua. Tak ada yang dapat meramalkan kejadian setelah kita tiada.”

Itu jugalah nasihat Pak Andar Ismail dalam Mata Kuliah Didaktik PAK. Kebanyakan kata sering malah membuat kita bingung sendiri. Kalau kata sang pemikir, dalam ayat 15 Alkitab Bahasa Indonesia Masa Kini seperti ”orang bodoh yang tak tahu jalan ke rumahnya”.

SMaNGaT,

Yoel M. Indrasmoro
Literatur Perkantas Nasional

Foto: Kelly Sikkema

Posted on Tinggalkan komentar

Momentum

(Pengkhotbah 10:11)

Dalam ayat 11 sang pemikir menegaskan: ”Jika ular memagut sebelum mantera diucapkan, maka tukang mantera tidak akan berhasil.” Dalam Alkitab Bahasa Indonesia Masa Kini tertera: ”Kalau ular menggigit sebelum dijinakkan dengan mantera, maka pawang ular tak ada lagi gunanya.”

Kalimat sang pemikir sungguh logis. Apa gunanya pawang ular kalau sang ular sudah menggigit? Pada titik ini sang pemikir agaknya bicara soal momentum. Dan salah satu artinya menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia adalah saat yang tepat. Seperti tadi, pawang ular akan sangat berguna jika mereka bekerja sebelum ular memagut.

Ini juga masalah kesempatan. Dan kata orang, kesempatan itu tak berwajah sehingga sulit dikenali, namun berekor licin sehingga tak mudah ditangkap ketika orang mengenalinya. Pada titik ini manusia perlu hikmat. Hikmat untuk mampu mengantisipasi masa depan dengan memperhatikan situasi masa kini.

Ini jugalah kritikan Yesus kepada Orang Farisi dan Sadiki yang meminta tanda: ”Pada petang hari karena langit merah, kamu berkata: Hari akan cerah, dan pada pagi hari, karena langit merah dan redup, kamu berkata: Hari buruk. Rupa langit kamu tahu membedakannya tetapi tanda-tanda zaman tidak” (Mat. 16:2-3). Orang Farisi dan Saduki tidak mampu menilai tanda-tanda zaman. Sehingga mereka tidak menyadari alasan keberadaan Yesus Orang Nazaret. Mereka memang butuh hikmat.

Dan berkait hikmat, Yakobus dalam suratnya kepada dua belas suku di perantauan menulis: ”Tetapi apabila di antara kamu ada yang kekurangan hikmat, hendaklah ia memintanya kepada Allah—yang memberikan kepada semua orang dengan murah hati dan tidak membangkit-bangkit—maka hal itu akan diberikan kepadanya” (Yak. 1:5). Ya, mari kita memintanya kepada Allah!

SMaNGaT,

Yoel M. Indrasmoro
Literatur Perkantas Nasional

Foto: Ales Krivec

Posted on Tinggalkan komentar

Akal Sehat

(Pengkhotbah 10:10)

Dalam ayat 10 sang pemikir mengingatkan: ”Jika besi menjadi tumpul dan tidak diasah, maka orang harus memperbesar tenaga, tetapi yang terpenting untuk berhasil adalah hikmat.” Dalam Alkitab Bahasa Indonesia Masa Kini tertera: ”Apabila parangmu tumpul dan tidak kauasah, engkau harus bekerja dengan lebih bersusah payah. Pakailah akal sehatmu, dan buatlah rencana lebih dahulu.”

Sang pemikir menyatakan betapa penting bagi seseorang untuk membuat rencana sebelum melakukan sesuatu. Rencana menjadi penting karena kegagalan membuat rencana membuat kita merencanakan sebuah kegagalan.

Dengan unik sang pemikir mengingatkan kita untuk mengasah pisau sebelum menggunakannya. Ini memang persoalan daya guna dan hasil guna. Tak menyiapkan peralatan kerja yang terbaik akan membuat kita capek sendiri, bisa jadi malah frustrasi. Ini sejatinya cuma persolan hikmat. Ini sekadar penggunaan akal sehat.

Pada masa Perjanjian Baru pun, Yesus—Sang Guru dari Nazaret—mengingatkan: ”Sebab siapakah di antara kamu yang kalau mau mendirikan sebuah menara tidak duduk dahulu membuat anggaran biayanya, apakah uangnya cukup untuk menyelesaikan pekerjaan itu? Supaya jikalau ia sudah meletakkan dasarnya dan tidak dapat menyelesaikannya, jangan-jangan semua orang yang melihatnya, mengejek dia, dan berkata: Orang itu mulai mendirikan, tetapi ia tidak sanggup menyelesaikannya” (Luk. 14:28-30).

Pada titik ini Tuhan Yesus menegaskan betapa penting dan strategisnya sebuah rencana. Aneh rasanya jika tidak dilakukan. Masalahnya kadang manusia menganggapnya sepele, mungkin karena sudah biasa melakukannya. Tak jarang malah mengabaikannya sama sekali.

SMaNGaT,

Yoel M. Indrasmoro
Literatur Perkantas Nasional

Foto: Jared Rice

Posted on Tinggalkan komentar

Risiko

(Pengkhotbah 10:8-9)

Berkait dengan risiko, sang pemikir dalam ayat 8-9 mengingatkan: ”Barangsiapa menggali lobang akan jatuh ke dalamnya, dan barangsiapa mendobrak tembok akan dipagut ular. Barangsiapa memecahkan batu akan dilukainya; barangsiapa membelah kayu akan dibahayakannya.”

Setiap perbuatan mengandung risiko. Tak ada tindakan—bagaimanapun baiknya—yang bebas dari risiko. Oleh karena itu, pentinglah bagi kita untuk selalu berpikir dahulu sebelum bertindak. Kita punya peribahasa: Pikir dahulu pendapatan, sesal kemudian tiada berguna.

Dinding rumah di Israel pada masa itu biasa dibuat dari batu atau batu bata, dan celah di antara batu-batu itu diisi dengan lumpur. Jika sebagian lumpur itu hilang, seekor ular dapat tinggal di dalam dinding. Namun demikian, kemungkinan itu tak perlu membuat orang akhirnya urung mendobrak tembok. Jika memang perlu, tindakan itu memang harus dilakukan. Yang penting hati-hati, dan sedapat mungkin meminimalkan risiko.

Demikian pula dengan kegiatan memecah batu dan membelah kayu. Kemungkinan adanya risiko tak perlu membuat manusia tak jadi memecah batu maupun membelah kayu. Sekali lagi, yang penting dalam hidup adalah memahami adanya risiko dan sedapat mungkin mengurangi risiko yang mungkin terjadi.

Pada titik inilah hikmat menjadi senjata andalan. Hikmat semestinya menolong manusia untuk memahami kemungkinan terburuk dan mengantisipasinya untuk mengurangi akibat buruknya. Dan pilihan memang ada pada kita.

SMaNGaT,

Yoel M. Indrasmoro
Literatur Perkantas Nasional

Foto: AJ Yorio

Posted on Tinggalkan komentar

Penyimpangan Kuasa

(Pengkhotbah 10:5-7)

Berkait dengan kuasa, sang pemikir dalam ayat 5-7 menyatakan dengan tegas: ”Ada suatu kejahatan yang kulihat di bawah matahari sebagai kekhilafan yang berasal dari seorang penguasa: pada banyak tempat yang tinggi, didudukkan orang bodoh, sedangkan tempat yang rendah diduduki orang kaya. Aku melihat budak-budak menunggang kuda dan pembesar-pembesar berjalan kaki seperti budak-budak.”

Mungkin inilah pertanyaan yang layak kita ajukan: ”Kok bisa?” Jawabannya: pasti bisa. Sebab raja adalah pribadi penuh kuasa dalam suatu kerajaan. Dan persoalan terbesar kekuasaan adalah cenderung menyeleweng. Dosa membuat manusia—apalagi yang punya kuasa—cenderung menyimpang.

Sistem masyarakat modern—yang mengubah konsep daulat tuanku menjadi daulat rakyat—sebenarnya mencoba untuk mengurangi kemungkinan penyelewengan itu. Namun, harus kita akui, ini pun tak sepenuhnya berjalan baik.

Pemilihan umum tak terlalu menjanjikan. Senyatanya yang terpilih kebanyakan bukan yang terbaik, melainkan yang punya modal uang—entah modal sendiri atau modal pinjaman. Dan semua modal harus dikembalikan. Dan itulah yang sering menyebabkan penyelewengan.

Namun demikian, jalan keluar selalu ada. Pendidikan moral menjadi keniscayaan. Dan keluarga dituntut menjadi gurunya. Bagaimanapun, para penguasa itu tak muncul dari ruang hampa. Mereka berasal dari keluarga-keluarga.

Mari kita siapkan pemimpin mulai dari sekarang! Mari kita mulai dengan pendidikan moral dalam keluarga kita masing-masing.

SMaNGaT,

Yoel M. Indrasmoro
Literatur Perkantas Nasional

Foto: Wim Van

Posted on Tinggalkan komentar

Kesabaran

(Pengkhotbah 10:5-7)

Berkait dengan kuasa, sang pemikir dalam ayat 5-7 menyatakan dengan tegas: ”Ada suatu kejahatan yang kulihat di bawah matahari sebagai kekhilafan yang berasal dari seorang penguasa: pada banyak tempat yang tinggi, didudukkan orang bodoh, sedangkan tempat yang rendah diduduki orang kaya. Aku melihat budak-budak menunggang kuda dan pembesar-pembesar berjalan kaki seperti budak-budak.”

Mungkin inilah pertanyaan yang layak kita ajukan: ”Kok bisa?” Jawabannya: pasti bisa. Sebab raja adalah pribadi penuh kuasa dalam suatu kerajaan. Dan persoalan terbesar kekuasaan adalah cenderung menyeleweng. Dosa membuat manusia—apalagi yang punya kuasa—cenderung menyimpang.

Sistem masyarakat modern—yang mengubah konsep daulat tuanku menjadi daulat rakyat—sebenarnya mencoba untuk mengurangi kemungkinan penyelewengan itu. Namun, harus kita akui, ini pun tak sepenuhnya berjalan baik.

Pemilihan umum tak terlalu menjanjikan. Senyatanya yang terplih kebanyakan bukan yang terbaik, melainkan yang punya modal uang—entah modal sendiri atau modal pinjaman. Dan semua modal harus dikembalikan. Dan itulah yang sering menyebabkan penyelewengan.

Namun demikian, jalan keluar selalu ada. Pendidikan moral menjadi keniscayaan. Dan keluarga dituntut menjadi gurunya. Bagaimanapun, para penguasa itu tak muncul dari ruang hampa. Mereka berasal dari keluarga-keluarga.

Mari kita siapkan pemimpin mulai dari sekarang! Mari kita mulai dengan pendidikan moral dalam keluarga kita masing-masing.

SMaNGaT,

Yoel M. Indrasmoro
Literatur Perkantas Nasional

Foto: Istimewa

Posted on Tinggalkan komentar

Sedikit Kebodohan

(Pengkhotbah 10:1-3)

Dalam ayat 1, sang pemikir menegaskan: ”Lalat yang mati menyebabkan urapan dari pembuat urapan berbau busuk; demikian juga sedikit kebodohan lebih berpengaruh dari pada hikmat dan kehormatan.” Dalam Alkitab Bahasa indonesia Masa Kini tertera: ”Bangkai lalat membusukkan sebotol minyak wangi, sedikit kebodohan menghilangkan hikmat yang tinggi.”

Tampaknya sang pemikir memahami betapa ngerinya kebodohan itu. Bukan hikmat yang menghilangkan kebodohan, tetapi kebodohan itu yang menghilangkan hikmat. Kita punya peribahasa: ”Karena nila setitik rusak susu sebelanga.”

Mengapa demikian? Alasannya menarik disimak. Dalam ayat 3, berkenaan dengan orang bodoh, sang pemikir menyatakan: ”Juga kalau ia berjalan di lorong orang bodoh itu tumpul pikirannya, dan ia berkata kepada setiap orang: ’Orang itu bodoh!’” Di sini persolaannya. Apa jadinya sebuah komunitas jika ada satu saja orang tersinggung dengan penilaian itu. Pasti akan menjadi persoalan besar.

Namun demikian, kita juga bisa belajar dari sang pemikir di sini. Kalau ada seseorang yang mengatakan bahwa semua orang bodoh, semestinya kita tak perlu tersinggung amat. Sebab orang itu sedang menyatakan kebodohannya sendiri. Dan semoga kita pun terlepas dari kecenderungan itu.

SMaNGaT,

Yoel M. Indrasmoro
Literatur Perkantas Nasional

Foto: Kylo

Posted on Tinggalkan komentar

Anomali

(Pengkhotbah 9:11-12)

Berdasarkan pengamatan yang teliti, dalam ayat 11, sang pemikir menyatakan: ”Lagi aku melihat di bawah matahari bahwa kemenangan perlombaan bukan untuk yang cepat, dan keunggulan perjuangan bukan untuk yang kuat, juga roti bukan untuk yang berhikmat, kekayaan bukan untuk yang cerdas, dan karunia bukan untuk yang cerdik cendekia, karena waktu dan nasib dialami mereka semua.”

Sang pemikir memperlihatkan beberapa anomali bahwa, dalam Alkitab Bahasa Indonesia Masa Kini tertera, ”perlombaan tidak selalu dimenangkan oleh pelari cepat, pertempuran tidak selalu dimenangkan oleh orang yang kuat. Orang bijaksana tidak selalu mendapat mata pencaharian. Dan orang cerdas tidak selalu memperoleh kekayaan. Juga para ahli tidak selalu menjadi terkenal. Sebab siapa saja bisa ditimpa nasib sial.”

Dalam Alkitab Bahasa Indonesia Masa Kini, sang pemikir memperhitungkan nasib sial dalam pernyataannya. Itu berarti ada pula yang bernasib mujur. Dengan kata lain ada faktor untung-untungan dalam hidup ini. Benarkah pernyataan sang pemikir ini?

Jawabannya, tentu ada benarnya. Akan tetapi, tidak seluruhnya benar. Kita bisa menyebutnya sebagai anomali, yang menurut KBBI artinya adalah tidak seperti yang pernah ada atau penyimpangan dari yang sudah ada.

Dan karena itu, manusia tak perlu terlalu berharap adanya anomali. Seorang atlet lari ya harus latihan. Yang latihan keras saja belum tentu menang, apalagi yang enggak pernah latihan. Dan masuk gelanggang tanpa latihan sama saja dengan bunuh diri.

Yang paling bijak bagi seorang atlet adalah mempersiapkan diri dengan sebaik-baiknya, mengikuti pertandingan seturut aturan, dan menyerahkan hasil pertandingan pada rahmat Allah belaka. Yang macam begini tidak akan pernah sia-sia.

SMaNGaT,

Yoel M. Indrasmoro
Literatur Perkantas Nasional

Foto: Istimewa

Posted on Tinggalkan komentar

Nikmatilah Hidup

(Pengkhotbah 9:7-10)

Dalam ayat 7, sang pemikir mengajak para pembacanya: ”Mari, makanlah rotimu dengan sukaria, dan minumlah anggurmu dengan hati yang senang, karena Allah sudah lama berkenan akan perbuatanmu.” Dalam Alkitab Bahasa Indonesia Masa Kini tertera: ”Ayo, makanlah saja dan bergembira, minumlah anggurmu dengan sukacita. Allah tidak berkeberatan, malahan Ia berkenan.”

Suasana gembira, itulah yang hendak ditularkan sang pemikir kepada kita juga. Hidup memang berat. Namun, jangan sampai kita malah enggak bisa menikmati makanan yang telah disediakan Allah bagi kita. Jangan pula kita membebani ritual makan dengan persoalan yang ada. Itu hanya akan membuat kita tidak bisa menikmati makanan kita. Padahal hati gembira akan membuat semua makanan dan minuman tampak nikmat.

Atau, kalau kita sedang ketimpa banyak masalah, biarlah waktu makan kita tidak boleh diganggu dengan semua masalah itu. Biarlah untuk sesaat masalah itu hilang dari benak. Jangan-jangan dengan cara begitu—menikmati makanan dan minuman yang ada—kita malah mendapatkan solusi.

Tak hanya makanan, sang pemikir menasihati pada ayat 8-9: ”Biarlah selalu putih pakaianmu dan jangan tidak ada minyak di atas kepalamu. Nikmatilah hidup dengan isteri yang kaukasihi seumur hidupmu yang sia-sia, yang dikaruniakan TUHAN kepadamu di bawah matahari, karena itulah bahagianmu dalam hidup dan dalam usaha yang engkau lakukan dengan jerih payah di bawah matahari.”

Meski tak sedikit orang menampiknya, namun kenyataannya pakaian bersih dan wajah berseri membuat kita lebih bersemangat dalam menjalani hidup. Dan sering kali wajah cerah dan berseri membuat sekeliling kita ikut bersemangat, yang akan membuat kita menjadi lebih bersemangat.

Juga dengan keluarga. Pada kenyataannya rumah adalah tempat kita beranjak pada pagi hari dan pulang pada malam hari. Sehingga baik istri maupun anak merupakan modal utama dalam menjalani kehidupan. Mengeluhkan anggota keluarga hanya akan membuat kita makin capek!

Namun, itu tak berarti kita bertopang dagu. Sang pemikir mengajak kita untuk terus bekerja keras. Alasannya: mumpung kita masih hidup

SMaNGaT,

Yoel M. Indrasmoro
Literatur Perkantas Nasional

Foto: Istimewa

Posted on Tinggalkan komentar

Nasib Semua Orang Sama

(Pengkhotbah 9:1-6)

Dalam ayat 2-3 sang pemikir menyimpulkan: ”Segala sesuatu sama bagi sekalian; nasib orang sama: baik orang yang benar maupun orang yang fasik, orang yang baik maupun orang yang jahat, orang yang tahir maupun orang yang najis, orang yang mempersembahkan korban maupun yang tidak mempersembahkan korban. Sebagaimana orang yang baik, begitu pula orang yang berdosa; sebagaimana orang yang bersumpah, begitu pula orang yang takut untuk bersumpah. Inilah yang celaka dalam segala sesuatu yang terjadi di bawah matahari; nasib semua orang sama. Hati anak-anak manusia pun penuh dengan kejahatan, dan kebebalan ada dalam hati mereka seumur hidup, dan kemudian mereka menuju alam orang mati.”

Kesimpulan sang pemikir—bahwa nasib semua orang sama, yaitu sama-sama mati—dapat dibenarkan, tetapi tidak seluruhnya benar. Yang tidak boleh kita lupa, konsep ”kehidupan di bawah matahari” adalah kehidupan di luar Allah. Karena itu, sang pemikir memang tidak menyertakan kemungkinan adanya kehidupan pascakematian. Jika dia menyertakan kehidupan pascakematian dalam alur pikirnya, bisa dipastikan bahwa nasib semua orang pasti tak sama.

Namun demikian, sang pemikir benar ketika menyatakan pendapatnya pada ayat 4 Alkitab Bahasa Indonesia Masa Kini: ”Tetapi selama hayat di kandung badan, selama itu ada harapan. Bukankah anjing yang hidup lebih bahagia daripada singa yang tak bernyawa?”

Hidup memang lebih berharga daripada mati. Karena orang hidup masih punya harapan—harapan untuk memperbaiki keadaan, juga harapan untuk bertobat. Sehingga sengsara di dunia kini tak perlu dibawa terus ke akhirat sana. Yang paling celaka adalah sudah sengsara di dunia, masih sengsara di akhirat.

SMaNGaT,

Yoel M. Indrasmoro
Literatur Perkantas Nasional

Foto: Istimewa

Posted on Tinggalkan komentar

Tak Terselami

(Pengkhotbah 8:9-17)

Dalam ayat 10 sang pemikir heran: ”Aku melihat juga orang-orang fasik yang akan dikuburkan boleh masuk, sedangkan orang yang berlaku benar harus pergi dari tempat yang kudus dan dilupakan dalam kota.”

Bayangkan jenazah orang fasik boleh dikuburkan di Yerusalem, tetapi jenazah orang benar malah ditolak! Kemungkinan uanglah yang membuat orang fasik boleh dikuburkan di kota kudus. Ini sungguh menyesakkan setiap orang berakal sehat. Dan anehnya Allah sepertinya membiarkan hal itu terjadi.

Pada ayat 14, sang pemikir kembali memperlihatkan kenyataan di bumi manusia: ”Ada suatu kesia-siaan yang terjadi di atas bumi: ada orang-orang benar, yang menerima ganjaran yang layak untuk perbuatan orang fasik, dan ada orang-orang fasik yang menerima pahala yang layak untuk perbuatan orang benar.” Dalam Alkitab Bahasa Indonesia Masa Kini tertera: ”Ada orang saleh yang dihukum bagai pendurhaka, ada penjahat yang diganjar bagai orang saleh.” Lalu apa artinya menjadi saleh, jika dia pun malah dihukum laksana penjahat. Dan bagi sang pemikir ini sungguh kesia-siaan belaka.

Namun demikian, sang pemikir pun mengakui, di sini kita pun perlu belajar darinya, dalam ayat 17: ”Manusia tidak dapat menyelami segala pekerjaan Allah, yang dilakukan-Nya di bawah matahari. Bagaimanapun juga manusia berlelah-lelah mencarinya, ia tidak akan menyelaminya. Walaupun orang yang berhikmat mengatakan, bahwa ia mengetahuinya, namun ia tidak dapat menyelaminya.”

Pengakuan ini semestinya cukup menghibur. Karena dengan begitu kita bisa kembali ingat bahwa Allah memang Allah. Jika kita tak terlalu memahami sebuah peristiwa, kita tak perlu gusar. Jalan terlogis adalah menyerahkan ketidaktahuaan kita pada kemahakuasaan dan kemahaadilan Allah. Itu berarti, berkait dengan Allah, enggak paham juga enggak apa-apa!

SMaNGaT,

Yoel M. Indrasmoro
Literatur Perkantas Nasional

Foto: Joshua Earle

Posted on Tinggalkan komentar

Patuhilah Raja

(Pengkhotbah 8:2-8)

Berkait dengan pemerintah, dalam Pengkhotbah 8:2 sang pemikir menasihati: ”Patuhilah perintah raja demi sumpahmu kepada Allah.” Alasannya sederhana. Dalam Alkitab Bahasa Indonesia Masa Kini Tertera: ”Raja dapat bertindak semaunya, kalau ia tak berkenan, lebih baik jauhi dia. Raja bertindak dengan wibawa; tak ada yang berani membantahnya!”

Mematuhi perintah raja sungguh logis. Sebab dia memang penguasa tertinggi kerajaan. Kalau mau tetap tinggal, menaati aturannya sungguh tepat. Taat aturan merupakan jalan terbaik. Mengapa? Sekali lagi karena dia adalah raja.

Apakah itu berarti ketaklukkan tanpa syarat? Menarik disimak, nasihat sang pemikir dikaitkan dengan Allah. Bahkan mematuhi perintah raja diletakkan dalam ketundukan kepada Allah. Itu berarti kita mesti tunduk terhadap pemerintah karena ketundukan kita kepada Allah. Bagaimanapun Allahlah yang menaikturunkan raja dari takhtanya.

Demikian juga panggilan kita, umat percaya abad XXI. Kita dipanggil untuk menaati semua aturan yang ada. Namun, kita perlu menyatakan kehendak Allah ketika pemerintah sesat jalan. Tentunya, pernyataan kehendak Allah itu—sekali lagi bukan melulu kehendak kita—perlu disampaikan dengan penuh ketulusan.

SMaNGaT,

Yoel M. Indrasmoro
Literatur Perkantas Nasional

Foto: Arzu Cengiz

Posted on Tinggalkan komentar

Mengejar Hikmat

(Pengkhotbah 7:23–8:1)

Berkait dengan pencarian hikmat, dalam Pengkhotbah 7:23, sang pemikir mengakui: ”’Aku hendak memperoleh hikmat,’ tetapi hikmat itu jauh dari padaku.” Dalam Alkitab Bahasa Indonesia Masa Kini tertera: ”Namun semakin kucari hikmat itu, semakin jauh ia daripadaku.” Kesimpulan sang pemikir logis. Itu pulalah yang terjadi dalam dunia manusia.

Sejatinya semua pencarian yang berorientasi pada apa yang dicari—dan berdasarkan kemanusiaan belaka—akan berujung pada rasa kecewa. Mengapa? Sebab kemanusiaan sering membuat manusia tak pernah merasa cukup. Rasa tak akan pernah berhenti untuk mencari lebih. Dan akhirnya manusia menjadi capek sendiri.

Padahal, inilah kesimpulan sang pemikir pada ayat 29 dalam Alkitab Bahasa Indonesia Masa Kini, ”Allah membuat kita sederhana dan biasa. Tetapi kita sendirilah yang membuat diri kita rumit dan berbelit-belit.” Memang di sinilah persoalan terbesar manusia. Yang sederhana malah dibuat rumit. Mungkin ini disebabkan natur manusia yang hendak memberi kesan bahwa dia memang lebih hebat dari segala.

Karena itu, pentinglah kita pun mendasarkan semua pencarian itu pada Yang Ilahi. Yang membuat kita pada akhirnya bisa berkata sebagaimana sang pemikir pada akhir perikop ini: ”Hikmat manusia menjadikan wajahnya bercahaya dan berubahlah kekerasan wajahnya.”

Ya, pencarian hikmat yang berdasarkan Allah akan membuat wajah manusia menjadi cerah. Sebab manusia telah belajar mencukupi dirinya dengan anugerah Allah sendiri. Itulah hal terpenting dalam hidup manusia.

SMaNGaT,

Yoel M. Indrasmoro
Literatur Perkantas Nasional

Foto: Istimewa

Posted on Tinggalkan komentar

Tiada yang Sia-sia

(Pengkhotbah 7:15-22)

Dalam Pengkhotbah 7:15, sang pemikir mengakui: ”Dalam hidupku yang sia-sia aku telah melihat segala hal ini: ada orang saleh yang binasa dalam kesalehannya, ada orang fasik yang hidup lama dalam kejahatannya.” Dalam Alkitab Bahasa Indonesia Masa Kini tertera: ”Hidupku tak ada gunanya, tetapi selama hidupku itu kulihat yang berikut ini: Ada kalanya orang yang baik binasa, walaupun dia saleh. Adakalanya orang yang jahat panjang umurnya, walaupun dia terus berdosa.”

Sejatinya, itu jugalah yang ada dalam pikiran banyak orang yang beranggapan bahwa panjang umur itu berkat, sedangkan pendek umur itu musibah. Tak heran, jika sang pemikir—dalam ayat 16-17—melanjutkan dengan nasihat: ”Janganlah terlalu saleh, janganlah perilakumu terlalu berhikmat; mengapa engkau akan membinasakan dirimu sendiri? Janganlah terlalu fasik, janganlah bodoh! Mengapa engkau mau mati sebelum waktumu?” Benarkah nasihat ini?

Jawabannya tentu tidak benar jika menggunakan kacamata Ilahi. Dalam pandangan Allah tak ada yang sia-sia. Dalam, Wahyu 14:13 dinyatakan: ”Dan aku mendengar suara dari sorga berkata: Tuliskan: ’Berbahagialah orang-orang mati yang mati dalam Tuhan, sejak sekarang ini.’ ’Sungguh,’ kata Roh, ’supaya mereka boleh beristirahat dari jerih lelah mereka, karena segala perbuatan mereka menyertai mereka’” Bahkan, ketika orang saleh mati muda, kita bisa memahaminya sebagai anugerah.

Hidup saleh merupakan keniscayaan bagi setiap orang yang mau hidup dalam Tuhan. Dan bagi mereka, mengutip surat Paulus kepada Jemaat di Filipi, hidup adalah Kristus dan mati adalah keuntungan. Semuanya itu anugerah Allah belaka. Tiada yang sia-sia.

SMaNGaT,

Yoel M. Indrasmoro
Literatur Perkantas Nasional

Foto: Istimewa

Posted on Tinggalkan komentar

Mujur dan Malang

(Pengkhotbah 7:10-14)

”Janganlah mengatakan: ’Mengapa zaman dulu lebih baik dari pada zaman sekarang?’” Demikianlah nasihat sang pemikir dalam ayat 10. Itu jugalah yang sering dikatakan banyak orang kala membandingkan masa lalu dan masa kini. Dan konten viral gambar Pak Harto yang sedang tersenyum bertuliskan ”Isih penak jamanku to?” seakan ikut menegaskan pendapat umum tadi.

Masa lalu biasanya memang terlihat lebih menyenangkan ketimbang masa kini. Mungkin karena kesulitan masa lalu sudah tak lagi kita rasakan. Kenangan sepahit apa pun memang tak lagi kita rasakan. Yang tinggal hanya romantisnya. Dan menurut sang pemikir, manusia perlu hikmat berkait dengan menilai zaman.

Selanjutnya, sang pemikir memberikan nasihat praktis dalam ayat 14 Alkitab Bahasa Indonesia Masa Kini: ”Jadi, bergembiralah jika engkau sedang mujur. Tetapi kalau engkau ditimpa bencana, jangan lupa bahwa Allah memberikan kedua-duanya. Kita tak tahu apa yang terjadi selanjutnya.”

Sang pemikir mengajak kita untuk bergembira ketika mujur, tetapi jangan terlalu gembira karena kita tidak tahu apa yang terjadi selanjutnya. Ketika ditimpa bencana boleh bersedih, tetapi juga jangan terlalu sedih karena kemungkinan kesenangan tiba sebentar lagi.

Intinya adalah hidup seimbang, moderat, jangan ekstrem! Sebab Allah senantiasa menyertai baik dalam saat mujur, apalagi malang.

SMaNGaT,

Yoel M. Indrasmoro
Literatur Perkantas Nasional

Foto: Istimewa

Posted on Tinggalkan komentar

Panjang Sabar

(Pengkhotbah 7:8-9)

Berkait emosi, sang pemikir menyatakan: ”Akhir suatu hal lebih baik dari pada awalnya. Panjang sabar lebih baik dari pada tinggi hati. Janganlah lekas-lekas marah dalam hati, karena amarah menetap dalam dada orang bodoh.”

Menarik disimak, kesabaran dikaitkan dengan kalimat ”akhir suatu hal lebih baik dari awalnya”. Yang kadang membuat orang tidak sabar adalah ketika suatu hal terjadi tak sesuai harapan. Dan karena itu, dia marah. Padahal—ini kata sang pemikir—yang tidak sesuai harapan kita bisa jadi belum titik. Masih ada kelanjutannya. Mungkin tinggal sedikit waktu lagi. Pertanyaannya: sabarkah kita?

Yang juga menarik, panjang sabar dikaitkan pula dengan tinggi hati. Dalam Alkitab Bahasa Indonesia Masa Kini tertera: ”lebih baik bersabar daripada terlalu bangga”. Itu artinya, jika sesuatu hal terjadi seturut dengan kehendak kita, jangan buru-buru sombong. Ingat, itu mungkin bukan akhirnya. Jadi, mari kita tunggu sedikit waktu lagi.

Kelihatannya sang pemikir mengajak pembacanya untuk tidak bersikap grasah grusuh atau tergesa-gesa. Kesabaran pasti lebih aman dan menguntungkan.

Menjadi tambah menarik, sang pemikir mengaitkan ketidaksabaran dengan dendam. Dalam Alkitab Bahasa Indonesia Masa Kini tertera: ”Jangan buru-buru naik pitam; hanya orang bodoh menyimpan dendam.” Dendam dalam hati sering kali menjadi pemicu seseorang menjadi tidak sabar terhadap orang lain.

Dengan kata lain, sang pemikir hendak mengatakan, tak ada gunanya menyimpan dendam. Mungkin benar kita pernah merasa dilukai. Namun, aneh rasaya jika kita malah memelihara luka dan tidak menyembuhkannya. Itu berarti, mari kita belajar mengampuni!

SMaNGaT,

Yoel M. Indrasmoro
Literatur Perkantas Nasional

Foto: Istimewa

Posted on Tinggalkan komentar

Suap dan Korupsi

(Pengkhotbah 7:7)

Berkait suap dan korupsi, sang pemikir menyimpulkan: ”Sungguh, pemerasan membodohkan orang berhikmat, dan uang suap merusakkan hati.” Dalam Alkitab Bahasa Indonesia Masa Kini tertera: ”Jika orang arif menipu, bodohlah tindakannya; jika orang menerima uang suap, rusaklah wataknya.”

Jelaslah, tak ada orang yang steril dari korupsi. Orang berhikmat pun tidak lepas dari penyimpangan ini. Virus suap dan korupsi, bak COVID-19, memang bisa menjangkiti siapa saja, apa pun agamanya, bahkan orang yang dianggap arif pun. Sehingga jalan yang layak bagi setiap orang adalah waspada.

Dalam Doa Bapa Kami, Yesus Orang Nazaret punya kiat jitu. Sang Guru mengajar kita memohon: ”Berikanlah kami pada hari ini makanan kami yang secukupnya” (Mat. 6:11). Hidup secukupnya adalah cara jitu untukmembebaskan kita dari virus korupsi ini. Kepada para prajurit, Yohanes Pembaptis juga memberikan nasihat: ”Jangan merampas dan jangan memeras dan cukupkanlah dirimu dengan gajimu” (Luk. 3:14).

Mungkin persolannya adalah bagaimana mengembangkan sikap hidup cukup. Pertama, percayalah bahwa rejeki adalah karunia Allah. Karena karunia, harus kita terima dengan penuh syukur. Kedua, percayalah bahwa pemberian Allah itu memang cukup untuk kebutuhan kita. Kalau merasa enggak cukup, mari kita putar otak supaya cukup. Ketiga, tetap bergantung penuh kepada Allah. Tak sedikit orang merasa bahwa ketidakcukupan bisa menjadi alasan kuat untuk melakukan kejahatan. Ketika merasa tidak cukup, mintalah Allah untuk memampukan kita mencukupkan diri dengan berkat-Nya.

Tak terlalu mudah memang! Akan tetapi, itulah panggilan kita sebagai Kristen. Karena, sebagaimana kata sang pemikir, jika itu dibiarkan maka hati kita akan dirusakkan oleh virus suap dan korupsi ini. Sebab, kita bisa ketagihan, yang hanya akan membuat kitamalu bercermin wajah sendiri.

SMaNGaT,

Yoel M. Indrasmoro
Literatur Perkantas Nasional

Foto: Markus Spiske

Posted on Tinggalkan komentar

Menerima Teguran

(Pengkhotbah 7:5-6)

Berkait teguran, sang pemikir menyimpulkan: ”Mendengar hardikan orang berhikmat lebih baik dari pada mendengar nyanyian orang bodoh. Karena seperti bunyi duri terbakar di bawah kuali, demikian tertawa orang bodoh. Ini pun sia-sia.”

Saat ditegur—sebaik apa pun teguran itu—toh kita sering merasa sakit. Namun, sang pemikir menasihati, dalam ayat 7 Alkitab Bahasa Indonesia Masa Kini, ”Lebih baik ditegur oleh orang yang berbudi, daripada dipuji oleh orang yang sukar mengerti.” Mengapa? Karena orang berbudi pasti tahu mengapa dia menegur. Dia punya alasan kuat.

Yang paling celaka adalah mendapat pujian dari orang yang tidak mengerti. Itu tak ubahnya pepesan kosong. Hampa. Tiada makna. Ini seperti halnya semak duri yang terbakar di bawah kuali. Pada masa itu, ketika bahan bakar sulit diperoleh, orang memakai carang-carang duri yang kering. Duri itu terbakar dengan cepat, tetapi hanya memberi sedikit panas. Tak terlalu berguna sebenarnya. Apa maknanya bagi kita?

Ketika ada orang yang menegur kita, logislah jika kita bersyukur karena ada orang yang menyediakan waktu untuk menegur kita. Selanjutnya kita perlu menelaah teguran itu. Masuk akalkah? Sungguh demi kepentingan diri kitakah? Jika ya, berterima kasihlah kepadanya. Sekali lagi, karena dia sungguh-sungguh mengasihi kita.

Itu berarti, kita juga dipanggil untuk menegur orang lain. Namun, kita harus punya alasan kuat untuk menegurnya. Dan, ini yang penting, sungguh-sungguh demi kepentingan orang tersebut dan bukan sekadar untuk menunjukkan bahwa kita lebih baik darinya.

SMaNGaT,

Yoel M. Indrasmoro
Literatur Perkantas Nasional

 

Foto: Istimewa

Posted on Tinggalkan komentar

Rumah Duka

(Pengkhotbah 7:2-4)

Berkait dengan suka atau duka, sang pemikir menyimpulkan: ”Pergi ke rumah duka lebih baik dari pada pergi ke rumah pesta, karena di rumah dukalah kesudahan setiap manusia; hendaknya orang yang hidup memperhatikannya. Bersedih lebih baik dari pada tertawa, karena muka muram membuat hati lega. Orang berhikmat senang berada di rumah duka, tetapi orang bodoh senang berada di rumah tempat bersukaria.”

Sang pemikir—jika disuruh memilih—ternyata lebih suka pergi ke rumah duka. Alasannya, dalam Alkitab Bahasa Indonesia Masa Kini lebih jelas, ”Sebab kita harus selalu mengenang bahwa maut menunggu setiap orang.” Dan kita bisa lebih mengingatnya ketika berada di rumah duka.

Mengapa ingatan setiap manusia pasti mati—kita pun tak tahu waktunya—itu begitu penting? Sebab, itu akan membuat kita lebih serius mengisi hidup ini. Pengalaman di rumah duka sering membuat orang ingin menjalani hidup dengan lebih baik lagi.

Sehingga sang pemikir, dalam ayat 8 Alkitab Bahasa Indonesia Masa Kini, menegaskan: ”Kesedihan lebih baik daripada tawa. Biar wajah murung, asal hati lega.” Pada titik ini sang pemikir lebih mengutamakan kelegaan diri daripada apa pun. Tak perlu mengejar kesenangan karena itu hanya akan membuat kita terus merasa kurang. Ujung-ujungnya malah tidak tenang. Padahal bukankah itu dambaan kita semua?

SMaNGaT,

Yoel M. Indrasmoro
Literatur Perkantas Nasional

Foto: Istimewa

Posted on Tinggalkan komentar

Menaati Atasan

(Pengkhotbah 6:10-12)

Sang pemikir dalam Pengkhotbah 6:10, Alkitab Bahasa Indonesia Masa Kini, menyatakan: ”Kita tahu bahwa manusia tidak dapat membantah orang yang lebih kuat daripada dia. Semakin lama ia membantah, semakin tidak berarti kata-katanya, malahan ia tidak mendapat keuntungan apa-apa.”

Pernyataannya sungguh masuk akal. Yang paling aman adalah menaati atasan kita. Mengapa? Sebagai atasan tentu tanggung jawabnya lebih besar dari kita. Bahkan, pekerjaan kita pun menjadi tanggung jawabnya. Jika kita salah, maka atasan kita harus bertanggung jawab karena dia telah memercayai kita melaksanakan pekerjaan itu.

Akan tetapi, apakah kita tidak boleh mengutarakan pendapat kita? Tentu boleh. Namun, yang harus terus diperhatikan adalah atasanlah yang akan bertanggung jawab. Sehingga, kita tidak perlu memperlihatkan bahwa kita lebih hebat. Itu sungguh tidak perlu; dan memang tidak mungkin. Sebab, kalau memang kita lebih hebat, pastilah kita yang menjadi atasan bukan?

Pada titik ini ketulusan menjadi kunci. Perlihatkanlah bahwa kita mengutarakan pendapat karena hormat dan taat kepadanya. Kita ingin menjaga kehormatannya. Jadi bukan untuk membuktikan bahwa kita lebih pintar dari dirinya. Dan jangan lupa, aturkanlah dengan santun. Cara yang buruk sering menutupi pendapat yang baik.

Jika atasan kita tetap pada pendiriannya. Tak perlu gusar. Ingat aturan awal tadi, bagaimanapun, dialah yang menanggungjawabi semuanya, juga pekerjaan-pekerjaan kita. Namun, jika atasan setuju, tak perlu juga besar kepala. Sebab dia telah mengambil risiko memercayai dan menggunakan pendapat kita. Hanya dengan cara beginilah, kita akan bisa menjadi atasan suatu kali.

SMaNGaT,

Yoel M. Indrasmoro
Literatur Perkantas Nasional

Foto: Istimewa

Posted on Tinggalkan komentar

Menikmati Hidup

(Pengkhotbah 5:17–6:9)

Dalam Pengkhotbah 5:17, sang pemikir menyimpulkan: ”Lihatlah, yang kuanggap baik dan tepat ialah, kalau orang makan minum dan bersenang-senang dalam segala usaha yang dilakukan dengan jerih payah di bawah matahari selama hidup yang pendek, yang dikaruniakan Allah kepadanya, sebab itulah bahagiannya.”

Dengan jelas sang pemikir menyatakan bahwa yang paling baik bagi kita adalah menikmati hasil kerja kita selama hidup pendek yang diberikan Allah kepada kita. Persoalannya adalah tak sedikit orang yang tak mampu menikmati apa yang telah dikerjakannya. Lebih bahaya lagi adalah orang yang tak mau menikmati hasil dari pekerjaannya. Untuk dua jenis orang macam begini, hidup pastilah akan terasa sia-sia.

Lebih lanjut, sang pemikir menyatakan pada ayat 17-18 Alkitab Bahasa Indonesia Masa Kini: ”Jika seorang menerima kekayaan dan harta benda dari Allah, dan ia diizinkan menikmati kekayaan itu, haruslah ia merasa bersyukur dan menikmati segala hasil kerjanya. Itu adalah juga pemberian Allah.”

Jelaslah bahwa mampu menikmati hidup pun merupakan karunia Allah semata. Dan karena itulah kita perlu memohon Allah untuk tak hanya memberikan kita kekayaan, harta benda, dan kuasa, tetapi juga mengaruniakan kemampuan untuk menikmati semua hal itu.

Sejatinya hati yang gembira adalah salah satu cara untuk sungguh-sungguh menikmati hidup. Dan ketika mampu menghayati hidup penuh syukur, kita akan dibebaskan dari kecemasan mengenai hidup itu sendiri.

SMaNGaT,

Yoel M. Indrasmoro
Literatur Perkantas Nasional

Foto: Takahiro Taguchi

Posted on Tinggalkan komentar

Kekayaan

(Pengkhotbah 5:9-16)

Dalam Pengkhotbah 5:9, sang pemikir menegaskan: ”Siapa mencintai uang tidak akan puas dengan uang, dan siapa mencintai kekayaan tidak akan puas dengan penghasilannya” (Pkh. 5:9).

Uang atau kekayaan merupakan sesuatu yang netral pada dirinya sendiri. Akan tetapi, menjadi tidak netral—malah berbahaya—tatkala uang menjadi tuan atas diri kita. Tak salah menjadi kaya, tetapi sungguh masalah tatkala kekayaan itu membuat kita terikat, bahkan bergantung total padanya.

Paulus dalam suratnya kepada Timotius menekankan: ”Sebab oleh memburu uanglah beberapa orang telah menyimpang dari iman dan menyiksa dirinya dengan berbagai-bagai duka” (1Tim. 6:10). Kita punya contoh bagus. Ingatlah Yudas Iskariot. Bunda Teresa pernah mengingatkan bahwa karena cinta akan uanglah Yudas menjual Yesus. Ingat jugalah kisah Paman Gober yang tidak bisa tidur karena takut kecurian.

Sejatinya, uang cuma alat, bukan tujuan. Uang itu sarana. Oleh karena itu, kita perlu mengelolanya, menguasainya, dan bukan sebaliknya. Nah, ini persoalannya, kadang orang berpikir bahwa dia menguasai harta, tetapi sering kali, itu yang dikatakan pengkhotbah, banyak orang enggak bisa tidur karena memikirkan hartanya. Dia pikir dia menguasai harta, kenyataannya dirinyalah yang dikuasai!

Bagaimanakah sikap kita seharusnya terhadap uang? Penting untuk terus diingat bahwa manusia adalah hamba Allah. Allah memercayakan uang kepada manusia untuk ditatalayani. Bukan dilayani, namun ditatalayani. Jangan sampai, keinginan kita menguasai, malah menjadikan kita dikuasai uang.

Keinginan jika terus dituruti pasti tak akan berhenti. Keinginan memang beda dengan kebutuhan, apalagi ketamakan. Kebutuhan itu ada batasnya, sedangkan keinginan itu tak terbatas.

Makan adalah kebutuhan manusia. Namun, makan di mana merupakan keinginan. Yang namanya keinginan itu tak akan ada habisnya. Agaknya, kita memang perlu belajar membedakan antara keinginan dan kebutuhan.

Akan tetapi, yang paling bahaya adalah makan siapa? Inilah ketamakan. Dan hidup macam begini pasti sia-sia!

SMaNGaT,

Yoel M. Indrasmoro
Literatur Perkantas Nasional

Foto: Eric Muhr

Posted on Tinggalkan komentar

Keteladanan

(Pengkhotbah 5:7-8)

”Kalau engkau melihat dalam suatu daerah orang miskin ditindas dan hukum serta keadilan diperkosa, janganlah heran akan perkara itu, karena pejabat tinggi yang satu mengawasi yang lain, begitu pula pejabat-pejabat yang lebih tinggi mengawasi mereka. Suatu keuntungan bagi negara dalam keadaan demikian ialah, kalau rajanya dihormati di daerah itu.”

Kesimpulan sang pemikir menarik disimak. Awalnya dia mengatakan bahwa penindasan merupakan hal yang lumrah terjadi. Pelanggaran aturan juga perkara biasa. Tak hanya di Israel, juga di Indonesia pada masa kini. Bahkan ada anggapan: aturan ada untuk dilanggar. Tak sedikit penasihat hukum yang mencari celah hukum untuk melindungi kesalahan kliennya.

Namun, harapan selalu ada. Sang pemikir mengatakan bahwa semua kejahatan relatif akan hilang jika rajanya dihormati. Kenyataan itu akan membuat orang sungkan untuk melakukan kejahatan. Pada titik ini keteladanan sang pemimpin tertinggi merupakan harga mati.

Pemimpin yang tidak menjadi teladan akan menyebabkan kehancuran bangsa yang dipimpinnya. ”Sebagaimana ikan,” mengutip Cicero, ”pembusukan mulai dari kepala.” Sebaliknya, keadaan suatu bangsa yang sungguh buruk akan cepat menjadi baik ketika terpilih pemimpin yang layak diteladan.

Nah, berkait kepemimpinan, setiap keluarga Indonesia dipanggil menjadi pemasok para pemimpin yang layak diteladan. Dan itu hanya mungkin tatkala setiap orang tua berupaya sungguh-sungguh menjadi teladan bagi anak-anaknya.

SMaNGaT,

Yoel M. Indrasmoro
Literatur Perkantas Nasional

Foto: Istimewa

Posted on Tinggalkan komentar

Mendengarkan Allah

(Pengkhotbah 4:17–5:6)

Berkait dengan relasi dengan Allah, dalam ayat 17 sang pemikir memberikan nasihat jitu: ”Jagalah langkahmu, kalau engkau berjalan ke rumah Allah! Menghampiri untuk mendengar adalah lebih baik dari pada mempersembahkan korban yang dilakukan oleh orang-orang bodoh, karena mereka tidak tahu, bahwa mereka berbuat jahat.”

Sepertinya yang dimaksud dengan ”langkah” tak cuma gerakan fisik, tetapi gerakan hati. Itu juga berarti motivasi. Mengapa? Karena kalimat berikut, dalam Alkitab Bahasa Indonesia Masa Kini tertera: ”Lebih baik pergi ke situ untuk belajar daripada untuk mempersembahkan kurban, seperti yang dilakukan oleh orang-orang bodoh. Mereka itu tidak dapat membedakan mana yang benar dan mana yang salah.”

Kita, orang percaya abad XXI, agaknya perlu juga bertanya dalam hati: Apakah motivasi kita ke rumah Allah? Sekadar ritual atau karena ingin belajar dari Allah? Apakah kita sungguh-sungguh ingin mendengarkan suara-Nya?

Dalam Perjanjian Baru, nasihat sang pemikir bergema dalam kisah Maria dan Marta. Lukas mencatat: ”Ketika Yesus dan murid-murid-Nya dalam perjalanan, tibalah Ia di sebuah desa. Seorang perempuan yang bernama Marta menerima Dia di rumahnya. Perempuan itu mempunyai seorang saudara yang bernama Maria. Maria ini duduk dekat kaki Tuhan dan terus mendengarkan perkataan-Nya, sedangkan Marta sibuk sekali melayani” (Luk. 12:38-40). Sang Guru dari Nazaret mengatakan bahwa Maria telah memilih bagian terbaik yang takkan mungkin diambil orang lain. Ya, siapa yang bisa mengambil suara yang telah didengarkan Maria?

Allah selalu ingin menyapa manusia. Persoalannya, tak sedikit orang merasa punya banyak perkara yang harus dibicarakan dengan Allah. Padahal yang ingin dibicarakan Allah pastilah lebih penting. Tak heran, jika sang pemikir pun akhirnya menegaskan: ”Janganlah terburu-buru dengan mulutmu, dan janganlah hatimu lekas-lekas mengeluarkan perkataan di hadapan Allah, karena Allah ada di sorga dan engkau di bumi; oleh sebab itu, biarlah perkataanmu sedikit” (Pkh. 5:1).

Nah, mari kita berhemat kata!

SMaNGaT,

Yoel M. Indrasmoro
Literatur Perkantas Nasional

Foto: Istimewa

Posted on Tinggalkan komentar

Tua dan Muda

(Pengkhotbah 4:7-16)

Meski ide-ide sang pemikir bernuansa pesimistis, namun ada kebenaran dalam uraian alur pikirnya. Dalam ayat 13-14, sang pemikir mengudarkan gagasannya: ”Lebih baik seorang muda miskin tetapi berhikmat dari pada seorang raja tua tetapi bodoh, yang tak mau diberi peringatan lagi. Karena dari penjara orang muda itu keluar untuk menjadi raja, biarpun ia dilahirkan miskin semasa pemerintahan orang yang tua itu.”

Kemudaan mengandung harapan. Bagaimanapun waktu terus berjalan, dan semua orang akan melangkah ke pekuburan. Memang tak ada jaminan, yang tua pasti mati terlebih dahulu. Namun, itulah hukum alam dalam situasi normal.

Sehingga jalan yang paling aman: Jangan pernah menyepelekan atau membuat sakit hati orang muda! Jika mereka belum selesai mengelola sakit hatinya, maka generasi tua hanya akan dibayang-bayangi pembalasan dendam.

Pada titik ini, jalan yang paling logis bagi generasi tua adalah memberi kesempatan seluas-luasnya kepada generasi muda. Bagaimanapun mereka punya kekuatan, yakni kemudaan itu sendiri. Dalam pemahaman Jawa ada ungkapan kebo nusu gudel ’orang tua yang minta diajari oleh orang yang lebih muda’. Namun demikian, yang muda pun tak perlu besar kepala karena pengalaman—yang biasanya didapat karena usia—sungguh guru yang baik. Dengan kata lain, baik tua maupun muda dipanggil untuk belajar bersama. Nah, selamat belajar!

SMaNGaT,

Yoel M. Indrasmoro
Literatur Perkantas Nasional

Foto: Brett Jordan

Posted on Tinggalkan komentar

Kuasa

(Pengkhotbah 4:1-6)

Berkait kuasa, sang pemikir menyatakan: ”Lagi aku melihat segala penindasan yang terjadi di bawah matahari, dan lihatlah, air mata orang-orang yang ditindas dan tak ada yang menghibur mereka, karena di fihak orang-orang yang menindas ada kekuasaan.”

Inilah kenyataan yang dengan tepat ditekankan juga oleh Lord Acton: ”Kuasa cenderung menyimpang, dan kuasa mutlak pasti menyimpang.” Ya, orang yang berkuasa cenderung mudah menggunakan kuasanya untuk menindas orang lain. Inilah yang menyebabkan budaya korupsi tumbuh subur.

Sehingga sang pemikir berkesimpulan pada ayat 2-3: ”Oleh sebab itu aku menganggap orang-orang mati, yang sudah lama meninggal, lebih bahagia dari pada orang-orang hidup, yang sekarang masih hidup. Tetapi yang lebih bahagia dari pada kedua-duanya itu kuanggap orang yang belum ada, yang belum melihat perbuatan jahat, yang terjadi di bawah matahari.” Dia berpendapat, kematian merupakan jalan terbaik agar tidak ditindas orang lain.

Orang besar cenderung menindas yang kecil, sehingga tak aneh jika orang kecil pun kadang bermimpi menjadi besar agar juga mampu menindas yang kecil. Sebenarnya, panggilan orang besar adalah melindungi orang kecil, tanpa syarat.

Pada titik ini, pendidikan antikorupsi perlu masuk kurikulum pendidikan bangsa. Sama seperti pendidikan pada umumnya harus berawal dari rumah. Dan almarhum Bing Slamet telah menciptakan lagu untuk itu: ”Waktu hujan turun rintik perlahan/bintang pun menyepi awan menebal./Kutimang Si Buyung belaian sayang/anakku seorang tidurlah tidur./Ibu mendoa ayah menjaga/agar kau kelak jujur melangkah./Jangan engkau lupa tanah pusaka/tanah tumpah darah Indonesia.”

Bing Slamet agaknya paham, jujur tak hanya berkait kata, tetapi juga tindakan. Jujur melangkah. Inilah yang harus kita kumandangkan lebih keras pada hari-hari ini di samping pekik: Merdeka!

SMaNGaT,

Yoel M. Indrasmoro
Literatur Perkantas Nasional

Foto: Steve Halama

Posted on Tinggalkan komentar

Ketidakadilan

(Pengkhotbah 3:16-22)

Dalam ayat 16 sang pemikir mengarahkan hati dan pikirannya ke pengadilan. Katanya bernada keluhan, ”Di tempat pengadilan, di situ pun terdapat ketidakadilan, dan di tempat keadilan, di situ pun terdapat ketidakadilan.”

Keadilan tempatnya mestinya di pengadilan. Namun, kadang—juga sampai hari ini di Indonesia—tak mudah mencari keadilan di ruang-ruang pengadilan. Meski ada upaya pemerintah untuk meningkatkan gaji bagi penegak hukum, kita masih menyaksikan di sana-sini bahwa keadilan masih menjadi barang langka.

Kenyataan ini sebenarnya hanya menegaskan kata-kata sang pemikir dalam ayat 18: ”Allah hendak menguji mereka dan memperlihatkan kepada mereka bahwa mereka hanyalah binatang.” Kata ”menguji” di sini bisa diartikan dengan “menyingkapkan”. Itu berarti, Allah memperlihatkan bahwa manusia yang menjalankan ketidakadilan memang tak beda dari binatang.

Namun demikian, jelaslah bahwa Allah adalah Mahaadil, yang akan mengadili setiap orang. Dan semua yang tidak adil nasibnya sama halnya dengan binatang. Akan tetapi, inilah Injil itu, Allah tidak menghendaki manusia mengalami kematian kekal. Allah ingin manusia bersekutu dengan Dia di dalam kekekalan.

Caranya? Kita bisa belajar bersyukur! Menarik disimak juga kesimpulan sang pemikir pada ayat 22: ”Aku melihat bahwa tidak ada yang lebih baik bagi manusia dari pada bergembira dalam pekerjaannya, sebab itu adalah bahagiannya.”

Ya, bergembira dalam pekerjaannya. Sebab tak sedikit orang yang mengeluh dengan pekerjaannya. Atau, ada yang bergembira dengan pekerjaan orang lain. Kedua hal ini bisa menjadi pangkal ketidakadilan.

Rasa syukur atas pekerjaan sendiri sejatinya membedakan manusia dari binatang. Dan ini jugalah panggilan kita sebagai manusia. Itulah kado bagi negeri pada 75 tahun kemerdekaannya.

SMaNGaT,

Yoel M. Indrasmoro
Literatur Perkantas Nasional

Foto: Istimewa

Posted on Tinggalkan komentar

Waktu

(Pengkhotbah 3:1-15)

”Untuk segala sesuatu ada masanya, untuk apa pun di bawah langit ada waktunya. Ia membuat segala sesuatu indah pada waktunya, bahkan ia memberikan kekekalan dalam hati mereka. Tetapi manusia tidak dapat menyelami pekerjaan yang dilakukan Allah dari awal sampai akhir” (Pkh. 3:1, 11).

Demikianlah refleksi sang pemikir tentang waktu. Bicara soal waktu berarti bicara soal hidup manusia. Bagaimanapun, manusia memang berada dalam waktu. Tak ada manusia yang hidup di luar waktu. Kita semua adalah makhluk waktuwi. Artinya, kita semua memiliki kesadaran terhadap waktu. Manusia tahu apa bedanya kemarin, kini, dan esok.

Manusia, dengan perlengkapan akal budinya, sungguh paham kapan menanam dan kapan menuai. Sedikit contoh: tanamlah padi di awal musim penghujan dan memanennya di musim kemarau. Jika ada seorang petani yang menanam padi di awal musim kemarau, pastilah akan menjadi bahan tertawaan orang lain.

Sejatinya, memahami waktu dan melakukan segala sesuatu seturut dengan waktunya merupakan tindakan logis. Artinya, jangan terlalu cepat, tetapi juga jangan terlambat. Kalau janji dengan seseorang pukul 19.00, datanglah pukul 18.30. Hanya orang enggak ada kerjaanlah yang janji pukul 19.00, tetapi telah datang pukul 17.00. Namun, datang lewat pukul 19.00—meski hanya beberapa menit—bukanlah tindakan yang baik! Sebab kita telah membuat orang menunggu. Siapa di antara kita yang senang menunggu?

Dan yang lebih penting lagi ialah memahami waktu Tuhan! Memahami waktu Tuhan akan membuat kita bebas dari rasa khawatir, juga rasa frustrasi. Misalnya, seandainya ada orang yang sakit enggak sembuh-sembuh, kalau kita memakai waktu—menurut kacamata manusia—kita akan bosan dan frustrasi.

Kita harus memahami waktu menurut kacamata Tuhan. Hanya dengan cara begini kita dapat bertahan dan sabar! Bagaimanapun, Tuhan adalah pribadi yang tahu kebutuhan kita. Memahami sesuatu menurut kacamata Tuhan akan membuat kita menghargai yang remeh pun sebagai berkat Tuhan. Kita akan terhindar dari anggapan adanya hari mujur dan hari sial. Karena Tuhan yang mengizinkan sesuatu terjadi demi kebaikan kita!

Berkait pandemi sekarang ini, mari kita juga menunggu waktu Tuhan!

SMaNGaT,

Yoel M. Indrasmoro
Literatur Perkantas Nasional

Foto: Samantha Gades

Posted on Tinggalkan komentar

Hikmat

(Pengkhotbah 2:12-26)

Dalam ayat 15, Sang Pemikir mengeluh, ”Nasib yang menimpa orang bodoh juga akan menimpa aku. Untuk apa aku ini dulu begitu berhikmat?” Dia menyadari bahwa baik orang bodoh maupun orang berhikmat sama-sama mati. Lalu, apa hebatnya orang berhikmat dibandingkan dengan orang bodoh. Toh sama-sama dikubur. Dia merasa itu pun sia-sia.

Sang Pemikir pun memberi penalaran pada ayat berikutnya, Alkitab Bahasa Indonesia Masa Kini, ”Orang yang bodoh akan segera dilupakan, tetapi orang yang mempunyai hikmat pun tak akan dikenang. Lambat laun kita semua akan hilang dari ingatan. Kita semua harus mati, baik orang yang arif maupun orang yang dungu.”

Penalarannya sungguh logis. Itulah yang terjadi dalam hidup manusia. Masih ingatkah kita nama teman sebangku kita sewaktu SD, bagaimanakah rupanya? Kemungkinan besar mereka masih hidup bukan? Lalu, mengapa kita sulit mengingat wajahnya, namanya, apalagi nilai rapornya. Nah, pada titik ini pun kita perlu bertanya dalam diri, ”Apakah itu berarti semua hal yang kita lakukan saat SD itu sia-sia?

Tentu jawabnya tidak. Sebab kita tahu kisah-kisah masa SD dahulu, diakui atau tidak, menjadi dasar pertumbuhan kita sekarang ini. Dan baiklah semuanya itu kita syukuri! Karena Allah yang menyertai kita pada masa lalu masih setia menyertai kita hingga hari ini. Dan marilah kita mengamini kalimat Sang Pemikir dalam ayat 24-25, Alkitab Bahasa Indonesia Masa Kini: ”Tak ada yang lebih baik bagi manusia daripada makan, minum dan menikmati hasil kerjanya. Aku sadar bahwa itu pun pemberian Allah. Siapakah yang dapat makan dan bersenang-senang tanpa Allah?”

Ya, bersukacitalah dalam Allah. Itulah sukacita sejati!

SMaNGaT,

Yoel M. Indrasmoro
Literatur Perkantas Nasional

Foto: Istimewa

Posted on Tinggalkan komentar

Karya Akbar

Pengkhotbah 2:4-11

Dalam Pengkhotbah 2:4-5, Alkitab Bahasa Indonesia Masa Kini, sang pemikir bersaksi: ”Karya-karya besar telah kulaksanakan. Kubangun rumah-rumah bagiku. Kubuat taman-taman dan kebun-kebun yang kutanami dengan pohon anggur dan segala macam pohon buah-buahan. Kugali kolam-kolam untuk mengairi taman-taman dan kebun-kebun itu. Aku mempunyai banyak budak, baik yang kubeli, maupun yang lahir di rumahku. Ternakku jauh lebih banyak daripada ternak siapa pun yang pernah tinggal di Yerusalem. Kukumpulkan perak dan emas hasil upeti dari raja-raja di negeri-negeri jajahanku. Biduan dan biduanita menyenangkan hatiku dengan nyanyian-nyanyian mereka. Kumiliki juga selir-selir sebanyak yang kuinginkan.”

Kita mesti mengakui bahwa sang pemikir merupakan pribadi langka. Kelangkaan itu terlihat saat dia menyatakan dalam ayat 9: ”Dengan demikian aku menjadi besar, bahkan lebih besar dari pada siapa pun yang pernah hidup di Yerusalem sebelum aku; dalam pada itu hikmatku tinggal tetap padaku.” Sang pemikir tak hanya kaya raya, namun dia juga pribadi unggul dalam hal hikmat dan kebijaksanaan.

Namun, apa yang disimpulkannya? Meski mencoba menikmati semuanya itu—apa yang dibangun dan apa yang dikumpulkan—dia gamblang mengaku pada ayat 11: ”kesia-siaan dan usaha menjaring angin; memang tak ada keuntungan di bawah matahari.”

Kesimpulan ini mungkin mencengangkan kita. Namun, demikianlah adanya. Sesungguhnya semua yang di luar Allah adalah sia-sia. Sebab Allahlah yang memberi makna. Sebaliknya, hal kecil sungguh berarti ketika Allah memberi makna. Sekali lagi, Allahlah yang membuatnya berbeda.

SMaNGaT,

Yoel M. Indrasmoro
Literatur Perkantas Nasional

Foto: Igor Miske

Posted on Tinggalkan komentar

Kesenangan

Pengkhotbah 2:1-3

Dalam ayat 1, sang pemikir berkata dalam hatinya, ”Mari, aku hendak menguji kegirangan! Nikmatilah kesenangan! Tetapi lihat, juga itu pun sia-sia.” Dalam Alkitab Bahasa Indonesia Masa Kini (BIMK) tertera: ”Aku memutuskan untuk menyenangkan diri saja untuk mengetahui apa kebahagiaan. Tetapi ternyata itu pun sia-sia.”

Sang pemikir jujur. Kesenangan itu tak akan ada habisnya. Setelah didapat, malah membuat kita merasa kurang. Anehnya, ketika tak dicari, rasa senang itu malah menghampiri.

Selanjutnya sang pemikir menyimpulkan, dalam ayat 2 (BIMK), ”Aku menjadi sadar bahwa tawa adalah kebodohan dan kesenangan tak ada gunanya.” Pertanyaannya adalah apakah kita tak boleh tertawa dan bersenang-senang?

Tentu boleh. Hanya sang pemikir hendak mengingatkan untuk tidak mencari semuanya itu. Ketika mencarinya, kita mungkin tidak mendapatkannya. Atau, kalau mendapatkannya, malah membuat kita mencari lebih banyak lagi. Kedua kondisi itu bisa membuat kita frustrasi.

Berkait kesenangan, baiklah kita memandangnya sebagai rahmat Allah. Saat tidak mencari-cari, kemungkinan besar kita malah menerimanya.

Itu jugalah nasihat Yesus Orang Nazaret, ”Carilah dahulu Kerajaan Allah dan kehendak-Nya, maka semuanya itu akan ditambahkan kepadamu” (Mat. 6:33). Juga kesenangan.

SMaNGaT,

Yoel M. Indrasmoro
Literatur Perkantas Nasional

Foto: Chang Duong

Posted on Tinggalkan komentar

Menjaring Angin

Pengkhotbah 1:12-18

Bersyukurlah kita, umat percaya abad XXI, yang menjadi ahli waris Kitab Pengkhotbah ini. Mengapa? Sebab kita berkesempatan membaca buah pikir seorang yang serius akan kehidupannya. Memang terkesan pesimistis, tetapi itulah gambaran diri seorang yang mencoba memahami makna hidupnya secara mendalam.

Pada ayat 13, sang Pemikir, berikhtiar: ”Aku membulatkan hatiku untuk memeriksa dan menyelidiki dengan hikmat segala yang terjadi di bawah langit.” Meski berstatus raja, dia merasa perlu menyediakan dirinya—berarti juga waktunya—untuk menyelidiki dan mempelajari dengan bijaksana segala yang terjadi di dunia ini. Sejatinya, manusia memang makhluk yang mencari makna. Hanya manusialah yang merenungkan dirinya, juga dunianya.

Victor Frankl, yang selamat dari kamp konsentrasi Auschwitz, meyakini bahwa manusia memiliki ”kehendak dasar untuk hidup yang penting dan bermakna”. Hanya, tak semua orang menyediakan dirinya untuk itu. Dalam buku Man’s Search for Meaning, Frankl, yang akhirnya menjadi profesor di Universitas Wina, menulis: ”Upaya untuk menemukan makna dalam hidup merupakan kekuatan motivasi utama dalam hidup manusia.”

Pada titik ini kita bisa meneladan sang Pemikir dengan merenungkan dunia kita. Meski merasa bahwa semua itu hanyalah pekerjaan yang menyusahkan yang diberikan Allah kepada anak-anak manusia untuk melelahkan diri, dia tetap melakukannya. Dia agaknya paham itu merupakan hal yang terbaik dalam hidup.

Dalam ayat 14, sang Pemikir menyimpulkan: ”Aku telah melihat segala perbuatan yang dilakukan orang di bawah matahari, tetapi lihatlah, segala sesuatu adalah kesia-siaan dan usaha menjaring angin.” Kata Ibrani yang dipakai untuk kata ”menjaring” berkait dengan memelihara domba. Sesuatu yang sia-sia. Kesimpulan sang Pemikir itu benar selama ”di bawah matahari” (di luar Allah).

Sungguh ada benarnya juga kesimpulan pada ayat 18—”karena di dalam banyak hikmat ada banyak susah hati, dan siapa memperbanyak pengetahuan, memperbanyak kesedihan”. Misalnya, orang enggak pergi ke dokter karena takut ketahuan penyakitnya.

Namun, mengetahui lebih dini suatu penyakit akan menolong kita lebih cepat mengatasi penyakit tersebut. Ini hal yang perlu disyukuri. Apalagi ketika kita mampu melihat penyakit itu dari sudut pandang Allah. Sering kali Allah mengizinkan suatu penyakit menyerang agar kita lebih mampu merasakan kasih-Nya. Dan tentu saja, kenyataan ini sungguh tidak sia-sia.

SMaNGaT,

Yoel M. Indrasmoro
Literatur Perkantas Nasional

Foto: Istimewa

Posted on Tinggalkan komentar

Sia-sia

”Inilah perkataan Pengkhotbah, anak Daud, raja di Yerusalem.” Ayat pembuka ini berfungsi sebagai judul kitab. Pengkhotbah adalah padanan untuk kata Ibrani _Qohelet_, yang artinya ”seorang yang mengumpulkan”. Penulis tidak menuturkan cerita, tetapi menyampaikan pemikirannya tentang makna hidup. Alkitab Bahasa Indonesia Masa Kini menggunakan istilah Sang Pemikir. Kitab Pengkhotbah sering dihubungkan dengan Salomo, yang sering disebut sebagai orang terbijak di seluruh Israel.

”Kesia-siaan belaka, kata Pengkhotbah, kesia-siaan belaka, segala sesuatu adalah sia-sia.” Demikianlah Pengkhotbah memulai kitabnya. Ya, kesia-siaan belaka. Terjemahan tradisionalnya adalah ”kesia-siaan atas kesia-siaan”. Dalam Alkitab Bahasa Indonesia Masa Kini tertera: ”Sang Pemikir berkata: Semuanya sia-sia dan tidak berguna! Hidup itu percuma, semuanya tak ada artinya.”

Kata Ibrani yang dipakai di sini adalah hevel, yang artinya napas. Napas manusia lenyap dengan cepat dan kecil bobotnya. Kata hevel juga dipakai untuk nama Habel, adik Kain. Kisah Habel memang singkat saja. Seakan-akan dia hidup hanya untuk mati di tangan Kain. Sia-sia. Tiada makna.

Sang Pemikir selanjutnya mengudarkan gagasannya, dalam ayat 3-9: ”Apakah gunanya manusia berusaha dengan jerih payah di bawah matahari? Keturunan yang satu pergi dan keturunan yang lain datang, tetapi bumi tetap ada. Matahari terbit, matahari terbenam, lalu terburu-buru menuju tempat ia terbit kembali. Angin bertiup ke selatan, lalu berputar ke utara, terus-menerus ia berputar, dan dalam putarannya angin itu kembali. Semua sungai mengalir ke laut, tetapi laut tidak juga menjadi penuh; ke mana sungai mengalir, ke situ sungai mengalir selalu. Segala sesuatu menjemukan, sehingga tak terkatakan oleh manusia; mata tidak kenyang melihat, telinga tidak puas mendengar. Apa yang pernah ada akan ada lagi, dan apa yang pernah dibuat akan dibuat lagi; tak ada sesuatu yang baru di bawah matahari.”

Pertanyaannya sekarang: Apakah semua memang sia-sia? Ya, selama kita memandangnya dari sudut pandang manusia. Ungkapan ”bumi… di bawah matahari” juga bisa dipahami sebagai ”dari sudut pandang manusia dan di luar Allah”. Persoalannya di sini. Manusia sering berhenti pada yang dilihatnya atau memahaminya sebatas pikirannya dan tidak menggunakan sudut pandang Allah.

Melihat dari sudut pandang Allah; itulah yang perlu kita kembangkan dalam menyikapi semua hal di dunia ini. Dengan cara itu, kita akan dibebaskan dari pendapat bahwa semua hanyalah sia-sia. Mengapa? Sebab Allah telah memberi makna atas semuanya.

SMaNGaT,

Yoel M. Indrasmoro
Literatur Perkantas Nasional

Foto: Ali A. R.

Posted on Tinggalkan komentar

Haleluya!

Pemazmur membuka dan menutup Mazmur 150 dengan ucapan ”Haleluya”. Haleluya—dari bahasa Ibrani—terdiri atas halelu dan Yahwe, yang berarti ”Pujilah TUHAN”. Ucapan yang memang cocok menjadi pembuka dan penutup mazmur ini. Itu berarti ketika seseorang selesai membaca Kitab Mazmur secara keseluruhan dia diajak untuk berseru, ”Haleluya!” Sangat simbolik memang karena seluruh Kitab Mazmur berdasar dan dibangun atas ungkapan ini.

John Stott, dalam bukunya Sepanjang Tahun Menelusuri Alkitab, mengatakan bahwa mazmur ini mengajari kita di mana, mengapa, bagaimana, dan siapa yang mesti memuji Allah.

Di mana? Dalam ayat 1: ”di tempat kudus-Nya”. Aslinya mengacu pada Bait Allah di Yerusalem. Namun, di dalam Yesus tempat diperluas hingga ke ujung-ujung bumi. Juga: ”dalam cakrawala-Nya yang kuat”. Itu berarti surga dan bumi memuliakan Allah.

Mengapa? Dalam ayat 2: ”karena segala keperkasaan-Nya… sesuai dengan kebesaran-Nya yang hebat!” Israel selalu merayakan perbuatan Allah yang luar biasa dalam penciptaan dan penebusan.

Bagaimana? Semua alat musik harus dimainkan: sangkakala, gambus, kecapi, rebana, dan seruling, juga tarian.

Siapa? Pemazmur menyerukan pada ayat terakhir: ”Biarlah segala yang bernafas memuji TUHAN!” Meski tumbuhan dan hewan itu hidup, mungkin yang dimaksud pemazmur adalah seluruh manusia. Dengan kata lain, sembari bernafas—itu artinya setiap saat—kita memuji Allah. Itu berarti pula pada setiap waktu.

Sekali lagi, Mazmur 150—berarti juga seluruh Kitab Mazmur—ditutup ajakan untuk memuji Allah. Itu berarti kita diajak untuk terus memuji Allah baik kala pandemi maupun kenormalan baru. Dan marilah sekarang kita berseru penuh syukur, ”Haleluya!”

SMaNGaT,

Yoel M. Indrasmoro
Literatur Perkantas Nasional

Foto: Istimewa

Posted on Tinggalkan komentar

TUHAN Berkenan

Lembaga Alkitab Indonesia memberi judul ”Nyanyian Kemenangan bagi Orang Israel” untuk Mazmur 149. Menariknya adalah pemazmur mengakui bahwa kemenangan itu didapat bukan karena kemampuan strategi militer Israel. Pada ayat 4, pemazmur menyatakan: ”Sebab TUHAN berkenan kepada umat-Nya, Ia memahkotai orang-orang yang rendah hati dengan keselamatan.” Dalam Alkitab Bahasa Indonesia Masa Kini tertera: ”TUHAN berkenan kepada umat-Nya; Ia memberi kemenangan kepada orang yang rendah hati.”

Perkenanan Allah merupakan dasar kemenangan Israel. Allah yang memberi mereka kemenangan. Tentu saja itu tidak berarti Israel hanya diam berpangku tangan. Tidak. Israel mengerjakan bagiannya, bertempur. Dan Allah memberkati mereka dalam pertempuran itu.

Itu hanya mungkin terjadi ketika Israel merasa perlu memohon berkat Allah. Memohon berkat mensyaratkan hati yang rendah. Mustahil orang yang tinggi hati memohon berkat. Dan yang paling penting, Allah berkenan kepada Israel.

Sejatinya Allah juga berkenan kepada kita ketika Dia menebus kita. Persoalannya adalah sebagai orang-orang yang telah ditebus, apakah kita terus hidup sesuai kehendak-Nya. Hidup sesuai kehendak-Nya berarti hidup dalam perkenan-Nya. Tak mudah memang. Akan tetapi, itulah panggilan kita jika berharap Allah terus berkenan kepada kita.

SMaNGaT,

Yoel M. Indrasmoro
Literatur Perkantas Nasional

Foto: Doran Erickson

Posted on Tinggalkan komentar

Semuanya Memuji TUHAN

Lembaga Alkitab Indonesia memberi judul ”Langit dan Bumi, Pujilah TUHAN” untuk Mazmur 148. Memang demikianlah inti mazmur ini. Menarik disimak bahwa mazmur ini dimulai dari atas lalu turun ke bawah, mulai dari surga turun ke bumi, mulai dari penghuni surgawi ke manusia. Intinya tak ada satu pun tak diajak untuk memuji TUHAN, baik benda hidup maupun mati. Di sela-selanya terdapat refrein: ”Baiklah semuanya memuji TUHAN”.

Setelah mengajak penghuni surgawi memuji TUHAN, pada ayat 3-4, pemazmur mengajak benda-benda langit untuk memuji TUHAN. ”Pujilah Dia, hai matahari dan bulan, pujilah Dia, hai segala bintang terang! Pujilah Dia, hai langit yang mengatasi segala langit, hai air yang di atas langit!”

Sebagian bangsa tetangga Israel menyembah matahari, bulan, dan bintang sebagai ilah mereka. Pemazmur dengan tegas menyatakan bahwa semua benda langit sesembahan itu diajak untuk menyembah Allah, yang telah menciptakan mereka. Menurut pandangan dunia kuno, langit berbentuk kubah yang menudungi bumi yang datar. Di atas langit ada air, demikian pula di bawah bumi ada samudra air. Dan air pun, yang juga merupakan salah satu sumber kehidupan makhluk hidup, diajak untuk menyembah Allah.

Selanjutnya pemazmur mengajak semua yang ada di bumi untuk memuji Allah—ular naga dan segenap samudera raya; api dan hujan es, salju dan kabut, angin badai; gunung-gunung dan segala bukit, pohon buah-buahan dan segala pohon aras: binatang-binatang liar dan segala hewan, binatang melata dan burung-burung yang bersayap; raja-raja di bumi dan segala bangsa, pembesar-pembesar dan semua pemerintah dunia; teruna dan anak-anak dara, orang tua dan orang muda.

Ya, semuanya. Tak ada yang dikecualikan. Sebab semuanya adalah ciptaan Allah. Juga Covid-19 yang tengah mendera kita sekarang ini.

SMaNGaT,

Yoel M. Indrasmoro
Literatur Perkantas Nasional

Foto: Mic Narra