Posted on Tinggalkan komentar

Makan Bersama

(Luk. 24:30-31)

Kedua murid itu—yang telah mengundang orang asing itu untuk tinggal—kemudian menjamu dalam makan bersama. Makan bersama berarti kita bersedia membagikan apa yang berguna untuk hidup. Manusia tentu bisa hidup tanpa sandang dan papan, tetapi sulit hidup tanpa makanan. Makananlah yang membuat manusia hidup.

Makan bersama juga mengindikasikan adanya suasana akrab. Makan bersama memperlihatkan rasa persaudaraan. Mengapa? Karena ada seseorang yang telah mau berbagi makanannya. Dan jangan pula kita lupa berbagi makanan berarti berbagi kehidupan.

Oleh karena itu, biasanya suasana dalam makan bersama, sesederhana apa pun lauknya, serbaceria. Jarang sekali makan bersama berlangsung dengan paras cemberut. Sebab makan bersama memang memperlihatkan suasana kebersamaan itu.

Tindakan kedua murid itu sebagai manusia merdeka itu ternyata membuat mereka menjadi lebih merdeka. Mulanya mereka merdeka dalam hal pangan dan papan. Mereka memiliki rumah dan makanan. Namun, peristiwa kematian Yesus dan isu yang berkembang di sekitar kebangkitan Yesus masih membelenggu mereka. Mereka masih diliputi kecemasan, kekhawatiran akan hidup mereka selanjutnya sebagai murid Yesus. Mereka masih belum merdeka.

Tindakan mereka—mengundang orang asing itu dan makan bersama—membuat mereka lebih merdeka. Mereka merdeka dari kecemasan masa depan. Ada harapan baru karena Yesus telah bangkit. Itu berarti Yesus adalah Allah. Mereka mengalami kemerdekaan sejati. Dan Yesus yang bangkit itu membangkitkan mereka untuk membangkitkan orang lain.

Yoel M. Indrasmoro
Literatur Perkantas Nasional

Posted on Tinggalkan komentar

Undangan

(Luk. 24:13-29)

”Tinggallah bersama-sama dengan kami, sebab hari telah menjelang malam dan matahari hampir terbenam!” (Luk. 24:29). Demikianlah undangan kedua murid kepada seorang asing yang menemani mereka dalam perjalanan.

Mengundang seorang asing menginap bukanlah tanpa risiko. Mungkin saja, orang asing itu perampok. Namun, kedua murid itu agaknya memercayainya. Mereka memperhatikan nasibnya. Mereka tidak takut seandainya orang asing itu menjahati mereka. Mereka membuang semua prasangka buruk yang melintas dalam benak. Mereka ingin mengundang orang asing itu karena hari telah menjelang malam. Kepedulian membuat mereka sangat mendesaknya.

Mengundang orang memang bukan hal sederhana karena si pengundang harus rela membagikan apa yang dimilikinya. Dia harus rela membagikan ruang tamu, makanan dan minuman, bahkan pribadinya. Dalam budaya kita pun ada ungkapan bahwa tamu adalah raja. Itu berarti: mengundang orang berarti siap memberikan yang terbaik.

Tak heran, jika dalam setiap perhelatan, misalnya acara perjamuan kawin, dalam sambutannya, pemimpin acara atas nama tuan rumah biasanya meminta maaf jika pelayanan kurang menyenangkan. Kepuasan hati tamu merupakan hal terpenting.

Tindakan mengundang orang sesungguhnya merupakan tindakan manusia merdeka. Si pengundang harus merdeka dari prasangka jangan-jangan orang asing itu akan menjahati mereka. Si pengundang juga harus memberikan kemerdekaan terhadap orang asing itu untuk menikmati apa yang kita miliki. Itu membutuhkan kepercayaan dalam diri sang pengundang. Dan kepercayaan merupakan sikap dasar manusia merdeka.

Yoel M. Indrasmoro
Literatur Perkantas Nasional

 

Posted on Tinggalkan komentar

Paskah

(Luk. 24:12)

”Sungguh pun demikian Petrus bangun, lalu cepat-cepat pergi ke kubur itu. Ketika ia menjenguk ke dalam, ia melihat hanya kain kapan saja. Lalu ia pergi dan bertanya dalam hatinya apa yang kiranya telah terjadi.”

Demikianlah catatan Lukas berkenaan dengan kebangkitan Yesus. Para perempuan yang baru saja dari kubur itu menyatakan bahwa Yesus sudah bangkit. Sedangkan para murid lainnya tidak memercayai mereka. Padahal, menurut Lukas, para perempuan itu bukan orang sembarangan. Mereka adalah Maria dari Magdala, Yohana, dan Maria ibu Yakobus. Yohana sendiri adalah istri Khuza bendahara Herodes. Pastilah ia seorang terkenal dan disegani saat itu.

Bahkan, meski banyak perempuan lain meyakinkan para rasul, para laki-laki itu bergeming, tidak percaya. Lukas mencatat: ”Tetapi bagi mereka perkataan-perkataan itu seakan-akan omong kosong dan mereka tidak percaya kepada perempuan-perempuan itu.”

Entah mengapa para rasul itu tidak percaya. Namun, Petrus sendiri mengambil Langkah jitu. Ketimbang berdebat, ia bangun dan berlari ke kuburan. Dalam Alkitab Bahasa Indonesia Masa Kini tertera: ”Sambil membungkuk ia menengok ke dalam, lalu melihat hanya kain kafan di situ. Petrus heran sekali, lalu pulang dengan banyak pertanyaan di dalam hatinya mengenai apa yang telah terjadi.”

Catatan Lukas ini menarik disimak. Petrus heran dan benaknya penuh dengan banyak pertanyaan. Dan sepertinya untuk beberapa saat, pertanyaan itu tinggal pertanyaan.

Yoel M. Indrasmoro
Literatur Perkantas Nasional

Posted on Tinggalkan komentar

Paskah

(Luk. 24:1-11)

Paskah adalah kisah mengenai prioritas. Lukas mencatat: ”tetapi pagi-pagi benar pada hari pertama minggu itu mereka pergi ke kubur membawa rempah-rempah yang telah mereka sediakan.”

Ada karya yang harus dituntaskan. Para perempuan itu tidak bisa menyelesaikannya karena penguburan Yesus harus dilaksanakan secepatnya. Datangnya Sabat membuat mereka harus menghentikan keinginan merawat jenazah Yesus lebih lama. Namun, mereka ingin melanjutkannya sesudah Sabat. Karena itu, mereka membeli rempah-rempah dan minyak mur pada hari Jumat sore itu.

Bisa jadi itulah hari Sabat terpanjang dalam hidup mereka di tengah kegalauan akan penyaliban serta kerinduan merawat mayat Yesus dengan selayaknya. Bisa jadi mereka juga enggak tidur. Sekali lagi, karena ada tugas harus ditunaikan. Lukas mencatat: pagi-pagi benar mereka bergegas pergi ke kubur untuk merawat mayat Yesus. Dan ternyata batu sudah terguling.

Dua Malaikat menyapa mereka. Dalam Alkitab Bahasa Indonesia Masa Kini tertera: ”Mengapa kalian mencari orang hidup di antara orang mati? Ia tidak ada di sini. Ia sudah bangkit! Ingatlah apa yang sudah dikatakan-Nya kepadamu sewaktu Ia masih di Galilea, bahwa ’Anak Manusia harus diserahkan kepada orang berdosa, lalu disalibkan, dan pada hari yang ketiga Ia akan bangkit.’”

Menarik disimak, kedua Malaikat itu mengingatkan bahwa Yesus pernah menyatakan diri soal penyaliban dan kebangkitan. Menarik pula disimak catatan Lukas bahwa para perempuan itu teringat akan perkataan Yesus itu. Dan karena itu mereka semua pergi kepada para murid laki-laki dengan mengatakan bahwa Tuhan sudah bangkit.

Dan lebih menarik lagi, ternyata para murid laki-laki itu malah tidak percaya sama sekali.

Yoel M. Indrasmoro
Literatur Perkantas Nasional

Posted on Tinggalkan komentar

Para Perempuan

(Luk. 23:55-56)

”Perempuan-perempuan yang datang bersama-sama dengan Yesus dari Galilea, ikut serta dan mereka melihat kubur itu dan bagaimana mayat-Nya dibaringkan. Setelah pulang, mereka menyediakan rempah-rempah dan minyak mur. Pada hari Sabat mereka beristirahat menurut hukum Taurat.”

Lukas sepertinya sengaja menampilkan para perempuan yang datang bersama-sama dengan Yesus dari Galilea. Mereka adalah pribadi-pribadi yang setia mengikut Yesus hingga kematian-Nya. Mereka tidak beranjak dari salib dan terus setia mengikuti prosesi pemakaman-Nya.

Dengan sengaja pula Lukas memperlihatkan bahwa perempuan-perempuan itu melihat kubur itu, juga menyaksikan di mana mayat Sang Guru diletakkan. Dan setelah makam ditutup mereka pulang.

Mereka pulang karena tak ada lagi yang bisa dan perlu dikerjakan karena Sabat hampir tiba. Sepertinya, setelah mampir ke pasar untuk membeli rempah-rempah dan minyak mur, mereka langsung pergi ke rumah.

Dalam Alkitab Bahasa Indonesia Masa Kini tertera: ”Kemudian mereka pulang lalu menyiapkan ramuan-ramuan dan minyak wangi untuk meminyaki jenazah Yesus. Pada hari Sabat, mereka berhenti bekerja untuk mentaati hukum agama.”

Meski Yesus Orang Nazaret sering dianggap pemimpin agama Yahudi sebagai Pribadi yang tidak menaati Sabat, namun para pengikut-Nya sungguh-sungguh menaati hukum agama. Dengan cara begini Lukas agaknya hendak menyatakan pula bahwa Yesus memang tidak bermaksud menyepelekan Sabat. Guru dari Nazaret itu hendak memperlihatkan makna Sabat sesungguhnya. Buktinya para murid-Nya sendiri sungguh-sungguh menaati Sabat.

Yoel M. Indrasmoro
Literatur Perkantas Nasional

Posted on Tinggalkan komentar

Yusuf dari Arimatea

(Luk. 23:50-54)

Pada saat kematian Yesus, Lukas menampilkan tokoh baru: ”Adalah seorang yang bernama Yusuf. Ia anggota Majelis Besar, dan seorang yang baik lagi benar. Ia tidak setuju dengan putusan dan tindakan Majelis itu. Ia berasal dari Arimatea, sebuah kota Yahudi dan ia menanti-nantikan Kerajaan Allah.”

Yusuf dari Arimatea tiba-tiba muncul di permukaan. Penampilannya dimuka umum bukan tindakan sembarangan. Lagi pula, dia yang meminta izin kepada Pilatus untuk menurunkan Yesus dari salib dan menguburkannya. Risiko yang tak kecil. Sebab dengan begitu dia telah menyatakan diri kepada umum bahwa dia adalah pengikut dari Sang Penjahat dari Nazaret. Dengan kata lain, Yusuf siap mempertaruhkan jabatannya sebagai anggota Majelis Besar.

Yusuf dari Arimatea sendiri bukanlah pribadi sembarangan. Dia agaknya seorang yang kaya. Pada masa itu tak sedikit orang yang membeli tanah makam di Yerusalem karena memang banyak orang Yahudi berniat mati dikuburkan di Yerusalem, ibu kota kerajaan Israel. Agaknya, Yusuf dari Arimatea pun telah menyiapkan kubur bagi dirinya sendiri.

Namun, kubur yang telah disiapkan bagi dirinya sendiri itu—kubur yang belum pernah dipakai orang—diberikan kepada Yesus Orang Nazaret. Inilah pemberian terbaik itu. Ukuran terbaik di sini adalah dirinya sendiri—serbakelas satu! Dan itulah yang diberikan kepada Yesus.

Kita tidak tahu apa yang ada di benak Yusuf dari Arimatea. Namun, dia mau memberikan yang terbaik bagi dirinya untuk guru-Nya. Dia tidak itung-itungan.

Yoel M. Indrasmoro
Literatur Perkantas Nasional

Posted on Tinggalkan komentar

Kepala Pasukan

(Luk. 23:44-49)

”Sungguh, orang ini tidak bersalah!” Demikianlah kesimpulan kepala pasukan yang menjadi saksi kematian Kristus. Kesaksiannya bukan tanpa alasan.

Pertama, sepertinya dia menyadari bahwa sejak penangkapan hingga kematian, Yesus tidak pernah mengakui kesalahan. Meski ditekan dengan dakwaan berat—menganggap diri sebagai Anak Allah—Yesus tidak pernah mengaku salah. Dan karena itu, Dia juga tidak pernah minta ampun.

Kedua, kepala pasukan itu pasti juga menyaksikan bagaimana Yesus malah mengampuni orang yang menyalibkan-Nya. Tidak ada dendam dalam diri-Nya. Belum lagi, ketika Yesus berjanji kepada salah seorang penjahat bahwa orang itu akan bersama dengan diri-Nya dalam Firdaus.

Ketiga, sepertinya kepala pasukan itu pun mendengarkan seruan Yesus: ”Ya Bapa, ke dalam tangan-Mu Kuserahkan nyawa-Ku.” Jika Yesus sungguh salah, sebagaimana tuduhan para pemimpin agama, pastilah Dia tidak akan berani menghadap Allah. Yang ada adalah rasa takut akan berhadapan dengan Sang Pencipta. Bahkan Dia menyapa Allah dengan sebutan Bapa.

Yang juga penting, ini yang keempat, Yesus tidak dicabut nyawa-Nya seperti manusia lain, tetapi Dia menyerahkan nyawa-Nya. Kenyataan ini menyatakan dengan jelas bahwa Yesus memang bukan manusia biasa. Setidaknya Dia memang tidak bersalah sebagaimana yang dituduhkan para pendakwa-Nya.

Yoel M. Indrasmoro
Literatur Perkantas Nasional

Posted on Tinggalkan komentar

Kapasitas Raja

(Luk. 23:33-43)

”Yesus, ingatlah akan aku, apabila Engkau datang sebagai Raja”. Demikianlah permohonan seorang penjahat yang ikut disalibkan bersama Yesus di Golgota. Kita tidak pernah tahu identitas orang tersebut.

Namun, kematian di atas kayu salib dalam budaya Yahudi adalah kematian yang paling mengenaskan. Orang yang disalibkan itu tergantung. Dalam bahasa Eka Dharmaputera: ”orang yang disalib itu dibuang bumi ditolak surga”.

Dalam budaya Romawi, hukuman salib hanyalah untuk orang yang sungguh-sungguh jahat dan dimaksudkan untuk menghina orang tersebut. Menarik disimak, pemerintah Romawi tidak pernah memberikan hukuman salib kepada warga negaranya sendiri.

Dia memang penjahat kelas kakap. Itu jugalah yang diakuinya: ”Kita memang selayaknya dihukum, sebab kita menerima balasan yang setimpal dengan perbuatan kita, tetapi orang ini tidak berbuat sesuatu yang salah.” Lalu, mengapa dia sampai pada kesimpulan seperti itu?

Mengapa pula dia yakin bahwa Yesus sungguh seorang raja? Tak hanya raja di bumi, tetapi raja di surga? Kemungkinan besar karena dia melihat bagaimana Yesus menanggapi derita-Nya.

Tak ada keluhan dari bibir-Nya. Meski saya duga Yesus juga tidak tersenyum, tak ada caci maki keluar dari bibir-Nya terhadap orang-orang yang menyalibkan-Nya. Dia juga tidak menyalahkan situasi. Yang ada cuma doa: ”Ya Bapa, ampunilah mereka, sebab mereka tidak tahu apa yang mereka perbuat.” Dalam pandangan Yesus, semua orang yang menyalibkan-Nya memang tak tahu apa yang diperbuatnya.

Dan Yesus pun hanya diam ketika para pemimpin mengejek Dia dan para prajurit menjadikan penderitaan-Nya itu sebagai bahan olok-olokan. Itu jugalah bukti bahwa Dia telah mengampuni.

Sikap macam itulah yang agaknya membuat penjahat itu yakin bahwa Yesus sungguh Raja. Yesus memperlihatkan kapasitas diri-Nya selaku Raja. Oleh karena itu—dalam Alkitab Bahasa Indonesia Masa Kini—dia memohon, ”Yesus, ingatlah saya, kalau Engkau datang sebagai Raja!”

Permohonannya tidak sia-sia. Sang Raja bertitah, ”Aku berkata kepadamu, sesungguhnya hari ini juga engkau akan ada bersama-sama dengan Aku di dalam Firdaus.” Jelaslah bahwa Yesus Orang Nazaret itu punya kapasitas menempatkan orang di dalam kerajaan-Nya.

Yoel M. Indrasmoro
Literatur Perkantas Nasional

Posted on Tinggalkan komentar

Simon dari Kirene

(Luk. 23:26-32)

”Ketika mereka membawa Yesus, mereka menahan seorang yang bernama Simon dari Kirene, yang baru datang dari luar kota, lalu mereka meletakkan salib itu di atas bahunya, supaya dipikulnya sambil mengikuti Yesus.”

Entah apa yang ada di benak Simon ketika para prajurit menahan dan memaksanya memikul salib Yesus. Bisa jadi mulanya dia kesal. Sebenarnya tujuan datang ke Yerusalem adalah untuk merayakan Paskah. Namun, sebelum Hari Raya Paskah dia malah dipaksa untuk memikul salib orang yang tidak dikenalnya. Dan Simon tak punya kekuatan untuk menolaknya.

Rasa kesalnya berubah jadi haru ketika menyaksikan banyak perempuan yang menangisi dan meratapi kemalangan Yesus Orang Nazaret. Dia memang bukan tokoh sembarangan. Dari yang di dengarnya Sang Guru adalah pribadi yang suka memberi perhatian terhadap orang biasa. Dan para perempuan itu tampaknya telah merasakan kasih-Nya.

Rasa haru menjadi kekaguman karena Yesus ternyata meminta para peremuan untuk tidak menangisi-Nya, tetapi menangisi diri mereka sendiri. Sang Guru tampaknya sedang bernubuat tentang kejatuhan Yerusalem. Simon menjadi saksi bahwa Yesus, di tengah penderitaan, tidak mengasihani diri-Nya sendiri.

Bisa jadi peristiwa itu mengubah hati Simon. Apalagi setelah Simon melihat bagaimana Yesus mati dan bangkit. Bahkan, mungkin Simon pun ikut merasakan peristiwa Pentakosta.

Lukas memang tidak memberi catatan apa pun tentang Simon dari Kirene ini. Namun, Markus—yang pada awalnya mengarang Injilnya untuk warga jemaat di Roma—merasa perlu memberi tambahan keterangan bahwa Simon adalah bapak dari Aleksander dan Rufus. Bisa jadi keduanya dikenal sebagai tokoh Kristen masa itu. Dalam suratnya kepada jemaat di Roma, Paulus pun menyampaikan salam kepada Rufus dan ibunya.

Peristiwa pada Jumat Agung itu sepertinya tak hanya mengubah Simon, tetapi juga istri dan anak-anaknya.

Yoel M. Indrasmoro
Literatur Perkantas Nasional

Posted on Tinggalkan komentar

Barabas

(Luk. 23:25)

”Ia melepaskan orang yang dimasukkan ke dalam penjara karena pemberontakan dan pembunuhan itu sesuai dengan tuntutan mereka, sedangkan Yesus diserahkannya kepada mereka untuk diperlakukan semau-maunya.”

Yang dilepaskan oleh Pilatus adalah Barabas. Nama lengkapnya adalah Yesus Barabas. Dalam Injil lain diperlihatkan bagaimana Pilatus mencoba mengingatkan massa itu untuk memakai nalarnya. Dengan sengaja dia menampilkan Yesus Barabas dan Yesus yang disebut Kristus. Ya keduanya bernama sama: Yesus—artinya Allah yang menyelamatkan.

Nama Yesus memang bukan nama sembarangan. Pahlawan bangsa Israel juga bernama sama: Yosua, nama Ibrani. Yosua menggantikan Musa dan menuntun Israel masuk ke tanah Kanaan.

Dan umat Israel pastilah juga paham adanya nabi besar bernama Yesaya, juga nama Ibrani dengan pelafalan yang berbeda dengan Yosua—artinya juga sama Allah menyelamatkan. Yesaya menjadi nabi penting karena dia pulalah yang menubuatkan tentang Mesias.

Nah, perbandingannya sebenarnya jelas: Yesus Barabas atau Yesus yang disebut Kristus. Barabas artinya Anak Bapa! Penulis Injil Matius memberikan catatan: ”Dan pada waktu itu ada dalam penjara seorang yang terkenal kejahatannya yang bernama Yesus Barabas” (Mat. 27:16). Dan orang banyak itu memilih Yesus Barabas untuk dibebaskan!
Bagaimanakah perasaan Yesus Kristus ketika dibandingkan dengan Yesus Barabas? Dan bagaimana pula perasaan Yesus ketika mendengar bahwa orang banyak itu lebih suka Barabas dibebaskan!

Lalu, bagaimana perasaan Barabas? Barabas berarti ”anak bapak”. Bisa jadi dia adalah anak kesayangan bapaknya. Dan sebagaimana anak kesayangan, orang tua biasanya memenuhi apa yang diinginkannya. Dia senantiasa mendapatkan apa yang dia mau. Dan ketika tidak mendapatkannya, maka dia biasa menggunakan kekerasan. Dan penjara adalah muaranya.

Mari kita bayangkan, bagaimana perasaan Barabas pada Jumat itu ketika Pilatus menyandingkannya dengan Yesus Orang Nazaret. Barabas, penjahat itu, artinya anak bapak, sedangkan Yesus orang Nazaret ditangkap karena menganggap Allah adalah Bapa-Nya. Dan massa memilih Barabas. Dan ketika massa memilih Barabas, maka dia menjadi orang pertama yang merasakan penyelamatan Allah itu. Ya, anak bapa itu diselamatkan Anak Bapa yang sejati.

Yoel M. Indrasmoro
Literatur Perkantas Nasional

Posted on Tinggalkan komentar

Pilihan Pilatus

(Luk. 23:13-24)

”Lalu Pilatus memutuskan, supaya tuntutan mereka dikabulkan.” Inilah pilihan Pilatus. Apa pun simpati orang terhadap Pilatus berkait dengan situasi dan kondisi yang dialaminya, Lukas menyatakan dengan jelas bahwa Pilatuslah yang memutuskan. Kendali memang di tangan Pilatus. Dialah pemimpin tertinggi di Israel saat itu.

Tentu saja, Lukas menyatakan bahwa tindakan Pilatus itu bukan tindakan yang mudah. Pilatus pun tampaknya bergumul hebat. Bahkan istrinya pun sempat mengingatkannya dengan pesan: ”Jangan engkau mencampuri perkara orang benar itu, sebab karena Dia aku sangat menderita dalam mimpi tadi malam.”

Sebenarnya sudah tiga kali Pilatus menyatakan bahwa Yesus Orang Nazaret tidak bersalah. Dan karena itu dia hendak membebaskannya. Akan tetapi, dia tidak berani membebaskannya. Dia tidak berani mengambil risiko. Bahkan untuk membebaskan Yesus, Raja Orang Yahudi, Pilatus merasa perlu persetujuan orang banyak. Dan orang banyak memang tidak setuju.

Namun, toh Pilatus tak kurang akal. Dia meminta orang untuk menyesah Yesus. Agaknya dia berharap orang banyak itu akan kembali nalar budinya, dan mau mencabut tuntutannya. Dengan sengaja Pilatus mengajak orang banyak itu untuk melihat Yesus. Dan pada titik ini, bisa jadi Pilatus berharap orang banyak itu tertegun seperti dalam nubuat Yesaya: ”begitu buruk rupanya, bukan seperti manusia lagi, dan tampaknya bukan seperti anak manusia lagi” (Yes. 52:14). Pilatus ingin orang banyak itu merasa kasihan dan akhirnya melepaskannya. Namun, bukan itu yang terjadi. Orang banyak itu malah ingin melepaskan Barabas dan tetap menuntut Yesus disalibkan.

Lukas mencatat: ”Ia melepaskan orang yang dimasukkan ke dalam penjara karena pemberontakan dan pembunuhan itu sesuai dengan tuntutan mereka, sedangkan Yesus diserahkannya kepada mereka untuk diperlakukan semau-maunya.”

Ya, itulah keputusan Pilatus. Hidup memang cuma serangkaian keputusan yang diambil. Dan Pilatus telah memilih.

Yoel M. Indrasmoro
Literatur Perkantas Nasional

Posted on Tinggalkan komentar

Persahabatan Semu

(Luk. 23:8)

”Pada hari itu juga bersahabatlah Herodes dan Pilatus; sebelum itu mereka bermusuhan.” Catatan Lukas ini menarik disimak. Semula kedua pemimpin itu bermusuhan, sekarang mereka bersahabat. Pertanyaannya: mengapa mereka berdua bisa menjadi teman?

Baik Pilatus maupun Herodes sama-sama menganggap bahwa diri mereka berkuasa. Di hadapan mereka berdiri seorang yang telah dirampas kebebasannya. Dan mereka merasa bisa memperlakukan Sang Pesakitan itu sesuka hati mereka. Sepertinya, itulah yang membuat mereka merasa segelombang—sama-sama bisa mempermainkan Yesus Orang Nazaret.

Namun demikian, persahabatan kayak begini tak kekal sifatnya. Sebab dasarnya adalah kejahatan. Ketika objek yang bisa dipermainkan hilang, bisa dipastikan bahwa mereka akan saling mempermainkan satu sama lain. Dan persahabatan itu pun kembali lagi menjadi permusuhan. Demikian seterusnya, seperti siklus.

Sesungguhnya keduanya memang pribadi yang kejam. Pilatus dikenal sebagai pribadi yang suka mengambil nyawa orang lain kapan saja. Tercatat bahwa Pilatus pernah mencampur darah orang Yahudi dengan darah kurban yang hendak mereka persembahkan kepada Allah. Dan di tangan Herodeslah kepala Yohanes Pembaptis tergeletak di sebuah nampan demi sebuah janji yang ditetapkan saat mabuk.

Yang pasti keduanya berdamai karena sama-sama menjadikan Yesus Orang Nazaret sebagai bahan olok-olok.

Yoel M. Indrasmoro
Literatur Perkantas Nasional

Posted on Tinggalkan komentar

Di Hadapan Herodes

(Luk. 23:8-11)

”Ketika Herodes melihat Yesus, ia sangat girang. Sebab sudah lama ia ingin melihat-Nya, karena ia sering mendengar tentang Dia dan mengharapkan dapat melihat bagaimana Yesus mengadakan suatu tanda mukjizat.”

Demikianlah catatan Lukas berkenaan dengan pertemuan antara Herodes dan Yesus. Herodes senang sekali melihat Yesus. Bisa jadi dia ingin sekali melihat Yesus. Namun, sebagai seorang raja, agaknya dia merasa perlu menahan diri.

Jika para pemuka agama Yahudi mendengarkan keinginannya itu, dia bisa kehilangan muka. Herodes tak bisa begitu saja keluar dari istana untuk mendengarkan pengajaran Yesus, tetapi juga sulit mengundang Yesus ke istana tanpa sepengetahuan banyak orang.

Sekarang saatnya bagi Herodes melihat Yesus dari dekat. Hanya sayangnya pertemuan ini bukanlah pertemuan yang seimbang. Yang satu tahanan, yang lainnya adalah hakim yang diserahi tugas untuk mengadili.

Tentu saja keinginan Herodes melihat mukjizat tinggal keinginan. Bahkan selama pertemuan itu Yesus hanya diam, meskipun Herodes telah menghujaninya dengan begitu banyak pertanyaan. Kediaman Yesus tampaknya membuat Herodes kesal. Dan rasa girang menyambut idola pun berubah menjadi olok-olok.

Dalam Alkitab Bahasa Indonesia Masa Kini tertera: ” Herodes dan anggota-anggota tentaranya mempermainkan dan menghina Yesus, lalu memakaikan Dia pakaian kebesaran, kemudian mengirim Dia kembali kepada Pilatus.”

Ya, kekaguman telah berubah menjadi penghinaan. Bahkan Herodes merasa perlu memakaikan pakaian kebesaran kepada Yesus. Bisa jadi, tanpa disadarinya, Herodes telah menyatakan kepada khalayak bahwa dia mengakui bahwa Yesus adalah Raja.

Yoel M. Indrasmoro
Literatur Perkantas Nasional

Posted on Tinggalkan komentar

Pilatus pun Lepas Tangan

(Luk. 23:3-7)

Pilatus tak mau dijebak. Atas tuduhan Mahkamah Agama, dia hanya fokus pada kemungkinan tindakan makar. Tentu saja Pilatus berkepentingan dalam hal ini. Jika dia membiarkan pemberontakan terjadi, dia bisa dicopot dari jabatannya. Itu sangat tidak diinginkannya.

Karena itu, Pilatus bertanya, ”Engkaukah raja Orang Yahudi?” Dan Yesus menjawab, ”Engkau sendiri mengatakannya.” Dalam kalimat itu Yesus hendak mengingatkan wakil pemerintahan Romawi itu bahwa frasa ”raja Orang Yahudi” bukan berasal dari diri-Nya, tetapi dari mulut Pilatus sendiri.

Yesus konsisten. Baik kepada Mahkamah Agama maupun Pilatus jawaban-Nya sama: ”Engkau sendiri mengatakannya.” Dengan demikian Yesus hendak menegaskan bahwa Dia tidak pernah mengeklaim bahwa Dia adalah Raja Orang Yahudi. Kerajaan-Nya lebih luas dari itu.

Selanjutnya Yesus hanya diam. Dia tidak menjawab apa-apa. Dia tak perlu membela diri. Kadang orang berpikir bahwa kediaman itu membuat kawan bicara tak mampu melihat kenyataan sebenarnya. Sehingga perlu klarifikasi.

Pendapat itu ada benarnya. Namun demikian, atas tuduhan Mahkamah Agama, Yesus mengambil sikap diam. Bisa jadi apa pun yang akan dikatakan-Nya hanya akan membuat tuduhan akan menjadi lebih banyak lagi. Bukankah itu yang sering terjadi. Klarifikasi sering dipahami oleh pihak lain sebagai ajang pembenaran. Terlebih, jika pihak lain itu memang sudah enggak mau tahu lagi apa yang sesungguhnya terjadi.

Tak hanya itu, tampaknya Pilatus sadar bahwa Mahkamah Agama sedang menjadikannya alat untuk mengegolkan keinginan mereka. Sehingga, jalan terlogis adalah mengirimkan Yesus kepada Herodes. Jika Yesus mengeklaim diri sebagai Raja Orang Yahudi, semestinya Herodeslah yang paling merasa terganggu. Dan untuk sementara Pilatus terbebas dari urusan politik agama Mahkamah Agama.

Yoel M. Indrasmoro
Literatur Perkantas Nasional

Posted on Tinggalkan komentar

Nabok Njilih Tangan

(Luk. 23:1-2)

”Lalu bangkitlah seluruh sidang itu dan Yesus dibawa menghadap Pilatus. Mereka mulai menuduh Dia, katanya, “Kami mendapati bahwa orang ini menyesatkan bangsa kami, dan melarang membayar pajak kepada Kaisar, dan tentang diri-Nya Ia mengatakan bahwa Dialah Kristus, yaitu Raja.”

Demikianlah tindakan Mahkamah Agama. Mereka telah mengambil keputusan, namun mereka tak mau mengotori tangan mereka sendiri. Mereka meminjam tangan orang lain. Ungkapan Jawanya: ”nabok njilih tangan”. Ya, mereka meminjam tangan orang lain untuk menghukum Yesus. Dan tangan yang dipinjam adalah Pilatus.

Ada tiga tuduhan yang disematkan kepada Yesus Sang Pesakitan. Pertama: Yesus dianggap menyesatkan umat Israel. Di mata para pemimpin agama, Yesus, dengan ajaran-Nya, telah membuat orang Israel bingung. Dan lebih bingung lagi karena sikap dan tindakan Yesus memang tanpa pamrih. Itu sungguh berbeda dengan para pemimpin agama saat itu.

Sebagai pengajar Yesus pun sungguh berwibawa dan ajarannya langsung ke inti persoalan. Misalnya: saat mengatakan bahwa Hukum Taurat adalah untuk manusia dan bukan sebaliknya, Dia mengajak umat Israel untuk tidak dibebani Hukum Taurat. Jelas, Yesus tidak bertumpu pada teks-teks mati.

Kedua, berkait pembayaran pajak. Perkataan Yesus ”Berikanlah kepada Kaisar apa yang wajib kamu berikan kepada Kaisar dan kepada Allah apa yang wajib kamu berikan kepada Allah!” agaknya telah diputarbalikkan. Justru dengan perkataan itu Yesus hendak menegaskan pentingnya menaati pemerintah. Dan mampu membedakan antara panggilan sebagai warga negara dan warga Kerajaan Allah.

Ketiga, dengan sengaja anggota Mahkamah Agama menyatakan bahwa Yesus menganggap diri-Nya Kristus atau Mesias. Itu berarti Dia telah merencanakan tindakan makar terhadap Pemerintah Romawi.

Ketiga alasan ini menjadi bekal bagi mereka untuk membunuh Yesus. Sayangnya mereka tidak mau memikul tanggung jawab sendirian. Mereka lebih suka memakai tangan orang lain.

Yoel M. Indrasmoro
Literatur Perkantas Nasional

Posted on Tinggalkan komentar

Kesaksian

(Luk. 22:66-71)

”Untuk apa kita perlu kesaksian lagi? Kita telah mendengarnya dari mulut-Nya sendiri.” Demikianlah kesimpulan Mahkamah Agama. Kesimpulan aneh sebenarnya. Mulanya mereka menanyakan apakah Yesus adalah Mesias. Dan Sang Guru dari Nazaret tak mau menjawabnya. Tindakan yang jitu. Jika Yesus sungguh Mesias, tak ada seorang pun yang berani menangkapnya. Kenyataannya mereka berani menangkapnya.

Namun demikian, Yesus juga menyatakan bahwa sejak saat itu Anak Manusia sudah duduk di sebelah kanan Allah. Atas pertanyaan itu, mereka mendesaknya dengan tanya: ”Kalau begitu, Engkau ini Anak Allah?” Yesus pun menjawab, ”Kamu sendiri mengatakan bahwa Akulah Dia.”

Sebenarnya, Sang Guru tidak menjawab pertanyaan mereka: ya atau tidak. Yesus hanya menyatakan bahwa mereka sendiri yang mengatakan hal itu. Dan pernyataan Yesus itu dianggap pengakuan bahwa Ia memang Anak Allah. Dan itulah yang menjadi alasan mereka menyalibkan Yesus.

Tampak jelas di sini bahwa tujuan menghalalkan cara. Tujuan mereka ya cuma satu: kematian Yesus. Dan semua upaya ditempuh agar Dia mati.

Yang tidak boleh kita lupa. Yesus sendirian di Mahkamah Agama. Tanpa sanak, juga sahabat. Seorang murid-Nya baru saja menyangkal Dia. Dan semua itu dilakoni-Nya karena kita.

Yoel M. Indrasmoro
Literatur Perkantas Nasional

Posted on Tinggalkan komentar

Mengolok-olokkan Dia

(Luk. 22:63-65)

”Kemudian orang-orang yang menahan Yesus, mengolok-olokkan Dia dan memukuli-Nya. Mereka menutupi muka-Nya dan bertanya, ’Cobalah katakan siapa yang memukul Engkau?’ Masih banyak lagi hujat yang diucapkan mereka kepada-Nya.”

Hukuman telah dijatuhkan sebelum sidang pengadilan. Orang-orang yang menahan Yesus mempermainkan dan memukuli-Nya. Dengan kata lain, Yesus menjadi barang mainan. Inilah kejahatan itu, ketika orang menganggap sesamanya itu benda yang boleh dipermainkan seenak hatinya.

Tak ada lagi penghargaan terhadap sesama. Yang ada adalah orang yang menahan—karena merasa lebih berkuasa—merasa berhak mempermainkan tahanannya. Tak hanya dengan kata, tetapi juga dengan pukulan.

Tampaknya Lukas juga tidak merasa perlu mendramatisasi adegan di rumah imam besar itu. Dia hanya mencatat: masih banyak lagi hujat yang diucapkan mereka kepada-Nya. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, hujat berarti caci, cela, atau fitnah. Tentunya semua itu bernada merendahkan. Dan tentu saja kita tak tahu berapa lama mereka menghujat-Nya.

Yang menarik disimak, Yesus diam. Tampaknya Sang Guru tahu, tak ada gunanya membantah, apalagi marah terhadap para penahan-Nya. Marah hanya akan membuat sang pelaku lebih beringas. Dan tentu diri malah capek sendiri.

Yoel M. Indrasmoro
Literatur Perkantas Nasional

Posted on Tinggalkan komentar

Penyangkalan Petrus

(Luk. 22:54-62)

”Lalu ia pergi ke luar dan menangis dengan sedih.” Demikianlah Lukas menutup kisah penyangkalan Petrus. Petrus pergi ke luar dari halaman rumah imam besar dan menangis dengan sedihnya.

Menangis dengan sedihnya bukanlah perkara biasa. Ini bukanlah semacam rasa haru karena menyaksikan kesusahan orang lain. Ini merupakan semacam penyesalan diri karena menyadari betapa lemahnya tubuh fana ini. Frasa ”Roh memang penurut, tetapi daging lemah” terlihat jelas dalam peristiwa ini. Ini bukanlah air mata biasa. Ini juga bukan rekayasa. Inilah air mata ketulusan. Dan Allah menghargai air mata kayak begini. Bagaimanapun, Allah melihat hati orang.

Pertanyaannya adalah apa yang menyebabkan Petrus keluar dari halaman rumah imam besar itu dan menangis dengan sedihnya? Catatan Lukas sebelumnya menarik disimak: ”Lalu berpalinglah Tuhan memandang Petrus. Maka teringatlah Petrus bahwa Tuhan telah berkata kepadanya, ’Sebelum ayam berkokok pada hari ini, engkau telah tiga kali menyangkal Aku.’”

Mungkin inilah yang membuat Petrus menangis dengan sedihnya. Bukan hanya karena Tuhan sudah mengingatkan, dan Petrus mengatakan siap mati bersama dengan Sang Guru, tetapi kemungkinan besar karena Petrus telah memandang mata Yesus. Mata yang menyiratkan penerimaan apa adanya, juga pengampunan. Tak terlihat ada gusaran dalam mata Tuhan. Sekali lagi hanya penerimaan. Ya, Tuhan total menerima Petrus, juga penyangkalannya.

Yoel M. Indrasmoro
Literatur Perkantas Nasional

Posted on Tinggalkan komentar

Protes Sang Guru

(Luk. 22:52-53)

”Sangkamu Aku ini penyamun, maka kamu datang lengkap dengan pedang dan pentung? Padahal tiap-tiap hari Aku ada di tengah-tengah kamu di dalam Bait Allah, dan kamu tidak menangkap Aku. Tetapi inilah saat kamu, dan inilah kuasa kegelapan itu.”

Demikian protes Yesus Orang Nazaret kepada imam-imam kepala dan kepala-kepala pengawal Bait Allah, serta tua-tua yang bersama-sama menangkap Dia. Kata-kata Sang Guru menukik tajam. Sebab para pemimpin agama itu menggunakan ”pasukan rohani” untuk menangkap Dia. Mereka agaknya takut akan perlawanan para pengikut Kristus. Di mata mereka Yesus tak ubahnya gembong penjahat yang harus diringkus secepatnya. Dengan sengaja mereka meminjam tenaga para pengawal Bait Allah.

Jelas juga di sini mereka memang tak berani menangkap Yesus terang-terangan pada siang hari. Kemungkinan besar mereka takut jika pamor mereka malah turun di mata orang kebanyakan. Sehingga mereka merasa perlu jaim ’menjaga citra mereka di depan umat’. Dan inilah yang diprotes Yesus. Mereka tak lagi menjunjung citra mereka sendiri sebagai hamba Allah.

Menarik pula diperhatikan bagaimana Yesus Sang Guru menyimpulkan keadaan itu sebagai ”saat mereka” dan berkuasanya kuasa kegelapan. Dalam Alkitab Bahasa Indonesia Masa Kini tertera: ”Tetapi inilah saatnya kalian bertindak, saat kuasa kegelapan memegang peranan.” Ya, itulah saat kuasa Iblis melebarkan sayapnya, menguasai dan memperalat manusia.

Yoel M. Indrasmoro
Literatur Perkantas Nasional

Posted on Tinggalkan komentar

Yesus Ditangkap

(Luk. 22:47-51)

Kisah penangkapan Yesus memperlihatkan beberapa hal yang menarik disimak. Yudas seorang dari kedua belas murid, berjalan di depan dan langsung mencium Yesus. Tentu saja ini bukan ciuman kasih, namun tanda bagi rombongannya untuk menangkap Yesus. Tentu saja mereka tidak ingin salah tangkap. Salah tangkap bisa jadi malah akan membuat rakyat marah.

”Hai Yudas, dengan ciumankah engkau menyerahkan Anak Manusia?” Itulah tanggapan Yesus terhadap tindakan Yudas. Kemungkinan besar Yudas hanya diam saja. Mau ngomong apa lagi. Dalam Alkitab Bahasa Indonesia Masa Kini tertera: ”Yudas, apakah dengan ciuman itu engkau mau mengkhianati Anak Manusia?” Ya, ciuman itu malah menjadi tanda pengkhianatan.

Seorang murid langsung menghunus pedangnya dan menetak telinga kanan hamba imam besar. Menarik diperhatikan, tidak seperti penulis Injil Yohanes, Lukas tidak menuliskan nama murid itu, juga hamba imam besar yang tengah mengerang kesakitan sambil memegang luka bersimbah darah. Bisa jadi memang disengaja karena Lukas hendak mengarahkan pembacanya untuk menyaksikan tindakan kasih Sang Guru yang menyembuhkan telinga hamba imam besar itu.

Pada titik ini Yesus memperlihatkan diri sebagai manusia merdeka. Dia tidak pernah membenci orang-orang yang menangkapnya. Bahkan, mau melakukan yang terbaik bagi orang yang hendak menangkapnya.

Kita tidak tahu bagaimana perasaan hamba imam besar itu. Sesungguhnya dialah saksi hidup bagaimana orang yang hendak ditangkapnya malah menyembuhkannya. Dia sungguh merasakan kasih Yesus.

Yoel M. Indrasmoro
Literatur Perkantas Nasional

Posted on Tinggalkan komentar

Berdoalah

(Luk. 22:39-46)

”Berdoalah supaya kamu jangan jatuh ke dalam pencobaan.” Demikianlah pesan Sang Guru kepada para murid-Nya di Taman Getsemani. Doa adalah persekutuan manusia dengan Allah. Karena itu, doa akan menjaga manusia agar tidak jatuh ke dalam pencobaan.

Dan Yesus tidak hanya memerintah. Dia sendiri berdoa kepada Bapa. Doa itu jugalah yang membuat Sang Anak mampu berkata kepada Sang Bapa: ”Tetapi bukanlah kehendak-Ku, melainkan kehendak-Mulah yang terjadi. Cobaan Yesus pada waktu itu adalah mengelakkan diri dari hukuman salib. Meski misi-Nya adalah mati di salib, namun kengerian salib membuat Yesus tergoda untuk menghindari salib. Dan Yesus tetap pada misi-Nya karena doa.

Lukas mencatat: ”Lalu seorang malaikat dari langit menampakkan diri kepada-Nya untuk memberi kekuatan kepada-Nya. Ia sangat susah dan makin bersungguh-sungguh berdoa. Peluh-Nya menjadi seperti titik-titik darah yang bertetesan ke tanah.” Kesusahan itu membuat Sang Anak makin sungguh-sungguh berdoa. Ini memang beda dengan para murid yang jatuh tertidur karena dukacita.

Menarik diperhatikan bahwa dukacita bisa membuat orang tidur untuk melupakan masalahnya, namun bisa juga membuat orang makin bersekutu dengan Allah. Pilihannya memang ada di tangan manusia. Dan sejarah membuktikan bahwa persekutuan dengan Allah akan menjadikan manusia mampu mengatasi cobaan.

Yoel M. Indrasmoro
Literatur Perkantas Nasional

Posted on Tinggalkan komentar

Terhitung di Antara Pemberontak

(Luk. 22:35-38)

”Tetapi sekarang ini, siapa yang mempunyai pundi-pundi, hendaklah ia membawanya, demikian juga yang mempunyai kantong perbekalan; dan siapa yang tidak mempunyainya hendaklah ia menjual jubahnya dan membeli pedang. Sebab Aku berkata kepada kamu bahwa nas yang tertulis ini harus digenapi pada-Ku: Ia akan terhitung di antara pemberontak-pemberontak. Sebab apa yang tertulis tentang Aku sedang digenapi.”

Demikianlah pesan Yesus kepada para murid-Nya. Kita, pembaca abad XXI, mungkin sulit memahami pesan ini. Kita hanya bisa menduganya. Kemungkinan besar karena cap yang akan disematkan orang banyak kepada diri-Nya. Ya, kematian di atas kayu salib sedikit banyak akan memasukkan Yesus ke dalam kalangan pemberontak.

Bisa jadi orang banyak yang semula bersimpati kepada Sang Guru dari Nazaret malah takut menunjukkan simpati itu. Kemungkinan besar karena mereka enggak mau kena masalah jika memihak Yesus Orang Nazaret.

Ketika pengutusan dua belas murid, juga ketujuh puluh murid, Yesus memang melarang mereka membawa apa-apa. Sebab orang banyak bisa menjadi alat Yesus untuk memenuhi kebutuhan mereka. Namun, situasi saat penyaliban dan sebelum kebangkitan memang berbeda. Bahkan, orang banyak yang semula mendukung, malah membenci para murid Yesus. Sekali lagi karena mereka adalah murid dari Sang Pemberontak.

Yang menarik adalah sewaktu para murid mengatakan bahwa mereka mempunyai dua pedang, Yesus berkata, ”Sudah cukup.” Dua pedang sudah cukup karena Yesus hanya dianggap dan bukan pemberontak. Sudah cukup juga karena Yesus juga adalah Pribadi yang mencukupkan.

Yoel M. Indrasmoro
Literatur Perkantas Nasional

Posted on Tinggalkan komentar

Iblis akan Menampi Petrus

(Luk. 22:31-34)

”Simon, Simon, lihat, Iblis telah menuntut untuk menampi kamu seperti gandum, tetapi Aku telah berdoa untuk engkau, supaya imanmu jangan gugur. Dan engkau, jikalau engkau sudah insaf, kuatkanlah saudara-saudaramu.”

Demikianlah peringatan sekaligus janji Yesus Orang Nazaret kepada Simon Petrus. Sang Guru memperingatkan murid-Nya bahwa Iblis telah menuntut untuk mencobai. Itu berarti sebagai seorang murid, Simon mesti memahami bahwa itu jugalah panggilan seorang murid. Sebagaimana Sang Guru, sang murid tidak kebal terhadap cobaan Iblis. Dan karena mereka adalah murid, Iblis tampaknya sengaja mencobai apakah mereka seteguh Sang Guru atau tidak.

Dengan kata lain, pencobaan semestinya tak perlu membuat para murid galau. Karena mereka murid Yesus Kristus, maka mereka dicobai. Jika tidak, tentu tidak akan pernah dicobai. Sehingga, para murid—juga kita yang hidup pada abad XXI ini—dipanggil juga untuk menerima pencobaan itu secara wajar. Jangan takut, tetapi juga tak boleh sombong.

Uniknya, itulah yang tidak dilakukan Petrus. Dengan penuh percaya diri dia berkata, ”Tuhan, aku bersedia masuk penjara dan mati bersama-sama dengan Engkau!” Bisa jadi Petrus tersinggung saat Sang Guru mengatakan bahwa dia akan jatuh. Dan Yesus langsung menukas, ”Aku berkata kepadamu, Petrus, hari ini ayam tidak akan berkokok, sebelum engkau tiga kali menyangkal bahwa engkau mengenal Aku.” Itu jugalah yang terjadi.

Seandainya Simon Petrus menyelami kata-kata Sang Guru lebih dalam, bisa jadi dia tidak akan sesombong itu, bahkan terhibur karena Yesus telah berdoa untuknya. Apa yang lebih menghibur ketimbang hal ini. Dan Sang Guru mengingatkan pula bahwa jatuh dalam pencobaan itu bukan aib, bahkan bisa menjadi berkat. Sebab hanya orang yang pernah jatuhlah yang bisa menguatkan orang lain yang mengalami pencobaan yang sama.

Yoel M. Indrasmoro
Literatur Perkantas Nasional

Posted on Tinggalkan komentar

Yang Terbesar

(Luk. 22:24-30)

”Terjadilah juga pertengkaran di antara murid-murid Yesus, siapakah yang dapat dianggap terbesar di antara mereka.” Lukas tampaknya tak mau menyembunyikan fakta ini. Bahwa beberapa saat menjelang penyaliban Yesus menyaksikan bahwa para murid berdebat, bahkan bertengkar soal siapa yang terbesar di antara mereka.

Bisa jadi mereka tengah menyiapkan suksesi sepeninggal Yesus. Namun, apa pun itu, kelihatannya para murid juga belum memahami benar konsep Kerajaan Allah yang ditawarkan Yesus selama ini.

Atau mungkin juga perdebatan mengenai siapa yang terbesar sedikit banyak memang berkait dengan persoalaan siapa yang akan menjadi pengkhianat di antara mereka. Suasananya bisa jadi saling curiga dan saling menyalahkan. Dan akhirnya merembet siapa yang paling berjasa dan berhak mengeklaim diri sebagai yang terbesar.

Yesus menanggapi pertikaian itu dengan nasihat: ”Raja-raja bangsa-bangsa memerintah rakyat mereka dan orang-orang yang menjalankan kuasa atas mereka disebut pelindung-pelindung. Tetapi kamu janganlah demikian. Yang terbesar di antara kamu hendaklah menjadi seperti yang paling muda dan pemimpin menjadi seperti pelayan. Sebab siapakah yang lebih besar: Yang duduk makan, atau yang melayani? Bukankah dia yang duduk makan? Tetapi Aku ada di tengah-tengah kamu sebagai pelayan.”

Yesus menegaskan bahwa yang terbesar hendaknya menjadi yang paling muda dan pemimpin hendaknya menjadi seperti pelayan. Anggapan dunia: yang besar pastilah yang duduk makan. Namun, Yesus menyatakan bahwa Dia adalah pelayan para murid-Nya. Inilah konsep Kerajaan Allah.

Apakah ini berarti Sang Guru melarang para murid-Nya untuk menjadi yang terbesar? Tidak juga. Sepertinya Sang Guru malah mendorong para murid-Nya untuk menjadi yang terbesar. Dan jalan menuju ke sana adalah dengan cara menjadi pelayan. Di mata Yesus Orang Nazaret, kebesaran seseorang terlihat dalam kepelayanannya.

Yoel M. Indrasmoro
Literatur Perkantas Nasional

 

Posted on Tinggalkan komentar

Sang Pengkhianat

(Luk. 22:21-23)

”Tetapi, lihat, tangan orang yang menyerahkan Aku, ada bersama dengan Aku di meja ini. Sebab Anak Manusia memang akan pergi seperti yang telah ditetapkan, akan tetapi, celakalah orang yang olehnya Ia diserahkan!”

Jelaslah peristiwa penyaliban bukanlah sesuatu yang tiba-tiba, namun telah dirancangkan sejak manusia jatuh ke dalam dosa. Yesus datang ke dunia memang untuk mati. Penyaliban adalah puncak rencana penyelamatan Allah bagi manusia.

Lalu bagaimana kita memahami frasa ”celakalah orang yang olehnya Ia diserahkan”? Betapa terkesan tidak adil bahwa Yudas menjadi ”sarana” kematian Yesus melalui pengkhianatannya. Jelas Yudas salah dalam hal ini. Bagaimanapun
pengkhianatannya itu dilakukan bukan tanpa sadar. Pengkhianatan yang dilakukannya itu sungguh berencana. Lalu apa motivasinya?

Berkenaan dengan motivasi, ada pendapat bahwa Yudas ingin menempatkan Yesus pada posisi yang akan menjadikan diri-Nya pemberontak terhadap Roma. Dengan kata lain, Yudas sedang mencoba memprovokasi Yesus untuk memberontak.

Namun, pandangan ini bisa disangkal karena Yudas bersepakat menerima upah dari pengkhianatannya itu. Dan upahnya adalah seharga budak belian pada masa itu. Kitab-kitab Injil sepakat bahwa Yudas menjual Yesus.

Yang menarik disimak adalah kenyataan bahwa para murid mulai mempersoalkan siapa di antara mereka yang akan mengkhianati guru mereka. Dalam Alkitab Bahasa Indonesia Masa Kini tertera: ”Maka mereka mulai bertanya-tanya satu sama lain, siapa dari antara mereka yang akan melakukan hal itu.”

Ya, mereka mulai mencari tahu. Kelihatannya mereka berusaha mencegah agar peristiwa pengkhianatan itu tidak terjadi. Dengan kata lain, mereka sendiri tak ingin Yesus mati. Padahal Yesus memang datang untuk mati.

Yoel M. Indrasmoro
Literatur Perkantas Nasional

 

Posted on Tinggalkan komentar

Tubuh-Ku dan Darah-Ku

(Luk. 22:19-20)

”Lalu Ia mengambil roti, mengucap syukur, memecah-mecahkannya dan memberikannya kepada mereka, kata-Nya, ’Inilah tubuh-Ku yang diserahkan bagi kamu; perbuatlah ini menjadi peringatan akan Aku.’ Demikian juga dilakukan-Nya dengan cawan sesudah makan; Ia berkata, ‘Cawan ini adalah perjanjian baru oleh darah-Ku, yang ditumpahkan bagi kamu.’”

Dengan jelas Sang Guru mengidentifikasi diri-Nya dengan Anak Domba yang dikurbankan bagi penyelamatan manusia. Tubuh-Nya dan darah-Nya diserahkan bagi para murid-Nya. Tindakan inilah yang menjadi dasar bagi gereja untuk menyelenggarakan sakramen perjamuan.

Catatan Lukas menarik disimak, Yesus Orang Nazaret mengambil roti, mengucap syukur, memecah-mecahkannya dan memberikan kepada para murid-Nya. Itu jugalah yang dilakukan-Nya dengan cawan yang berisi anggur sesudah makan. Tindakan Sang Guru itu kemudian diikuti oleh para pelayan sakramen perjamuan.

Mengambil merupakan tindakan yang disengaja. Yang diambil bukan sembarang roti atau anggur, tetapi roti yang melambangkan tubuh Kristus dan anggur yang melambangkan darah Kristus. Para pelayan itu hanya mungkin mengambilnya karena Yesus Orang Nazaret sudah menyerahkannya.

Mengucap syukur menjadi tindakan logis karena penyelamatan yang telah dilakukan Yesus Orang Nazaret. Mengucap syukur karena tindakan penyelamatan-Nya itu sungguh bermanfaat bagi manusia.

Memecah-mecahkan roti dan membagi-bagikan anggur adalah tindakan simbolis bahwa penyelamatan itu memang bukan untuk satu orang saja, atau satu bangsa saja, tetapi untuk segenap umat manusia. Itu berarti tubuh dan darah-Nya cukup untuk semua orang. Penyelamatan-Nya bagi semua.

Dan semuanya itu dilakukan para murid, juga generasi murid sesudahnya, untuk mengenang Yesus Orang Nazaret. Pengenangan menjadi penting karena manusia mudah lupa. Pengenangan itu juga menjadi pengingat bahwa hidup manusia sungguh berarti. Begitu berartinya, sehingga Yesus mau mati untuknya.

Yoel M. Indrasmoro
Literatur Perkantas Nasional

Posted on Tinggalkan komentar

Curhat Sang Guru

(Luk. 22:14-16)

”Aku sangat rindu makan Paskah ini bersama-sama dengan kamu, sebelum Aku menderita. Sebab Aku berkata kepadamu: Aku tidak akan memakannya lagi sampai itu digenapi dalam Kerajaan Allah.”

Demikianlah curhat Sang Guru kepada para murid-Nya sebelum kematian-Nya. Paskah merupakan Hari Kemerdekaan Israel. Uniknya: Hari Kemerdekaan itu dirayakan dengan cara makan bersama di tengah keluarga.

Sejak kecil setiap orang Israel telah ikut serta dalam perayaan kemerdekaan ini. Sekali lagi ini bukan sekadar makan bersama di rumah masing-masing, tetapi makan bersama untuk merayakan kasih Allah yang telah membebaskan Israel dari Tanah Perbudakan di Mesir.

Ketika Yesus berkata, ”Aku sangat rindu makan Paskah ini bersama-sama dengan kamu…”, jelaslah bahwa Yesus telah menganggap bahwa para murid adalah keluarganya sendiri. Dan karena itu Dia mau makan Paskah bersama dengan mereka. Bisa jadi ini adalah tahun ketiga mereka merayakan Paskah secara bersama. Dan inilah perayaan Paskah terakhir Yesus bersama dengan para murid-Nya.

Dalam Alkitab Bahasa Indonesia Masa Kini tertera: ”Aku tidak akan makan ini lagi sampai arti dari perjamuan ini dinyatakan di Dunia Baru Allah.” Kemungkinan ini menunjukkan pada perjamuan di surga. Dan Yesus memang tidak akan makan lagi karena Dialah Sang Domba Paskah yang disembelih bagi penyelamatan manusia.

Yoel M. Indrasmoro
Literatur Perkantas Nasional

Posted on Tinggalkan komentar

Persiapan Makan Paskah

(Luk. 22:7-13)

”Apabila kamu masuk ke dalam kota, kamu akan bertemu dengan seorang yang membawa kendi berisi air. Ikutilah dia ke dalam rumah yang dimasukinya, dan katakanlah kepada tuan rumah itu: Guru bertanya kepadamu: Di manakah ruangan tempat Aku bersama-sama dengan murid-murid-Ku akan makan Paskah? Lalu orang itu akan menunjukkan kepadamu sebuah ruangan atas yang besar yang sudah lengkap, di situlah kamu harus mempersiapkannya.”

Demikianlah perintah kepada Petrus dan Yohanes sekaligus alamat perjamuan Paskah terakhir bagi Yesus dan para murid-Nya. Sepertinya Sang Guru dari Nazaret telah menyiapkan semuanya. Bisa diduga bahwa Sang Guru sungguh-sungguh ingin merayakan Paskah bersama para murid-Nya tanpa gangguan sedikit pun. Bagaimanapun, tempatnya memang rahasia. Hanya Yesus dan laki-laki pembawa kendi itulah yang mengetahuinya.

Mengapa semua ini penting? Karena inilah saat-saat terakhir sebelum penyaliban. Yesus ingin memfokuskan diri-Nya bersama dengan para murid-Nya. Kemungkinan besar, dan memang itulah yang terjadi, Sang Guru merasa perlu memberikan wejangan dan ajaran sebelum penyaliban.

Bagaimanapun peristiwa penyaliban adalah peristiwa besar yang akan mengguncangkan iman para murid. Yesus ingin mempersiapkan diri para murid-Nya. Sesungguhnya itulah salah satu bentuk cinta-Nya kepada orang-orang yang dikasihi-Nya.

Yoel M. Indrasmoro
Literatur Perkantas Nasional

Posted on Tinggalkan komentar

Yudas Mengkhianati Yesus

(Luk. 22:3-6)

”Lalu masuklah Iblis ke dalam Yudas, yang bernama Iskariot, seorang dari kedua belas murid itu. Yudas pun pergi kepada imam-imam kepala dan kepala-kepala pengawal Bait Allah dan berunding dengan mereka, bagaimana ia dapat menyerahkan Yesus kepada mereka.”

Demikianlah catatan Lukas berkait dengan pengkhianatan Yudas. Lukas tampaknya perlu menyatakan dengan jelas bahwa pengkhianatan Yudas bukanlah murni inisiatifnya sendiri. Ada faktor luar yang memengaruhinya. Namun demikian, Yudas tidak bisa lepas tangan. Meskipun ada dorongan Iblis, yang bertanggung jawab tetaplah Yudas seorang. Tugas Iblis memang membujuk manusia, namun mau atau tidak dibujuk bukan tanggung jawabnya lagi.

Lukas tampaknya perlu mengingatkan pembacanya bahwa Yudas adalah seorang dari kedua belas murid Yesus. Itu berarti dia adalah orang yang dekat dengan Yesus, orang yang dipilih Sang Guru untuk menjadi murid-Nya. Jelas dia bukan orang sembarangan. Itu berarti orang terdekat Yesus pun bisa jatuh ke dalam pencobaan. Sepertinya Iblis sengaja melakukannya untuk menambah derita musuh besarnya selama ini.

Menarik disimak—masih berkait tanggung jawab—Yudas sendirilah yang menemui para imam kepala dan kepala pengawal Bait Allah. Jelaslah, Yudaslah yang berinisiatif. Dia tidak direkrut, tetapi menawarkan dirinya untuk menyerahkan Yesus. Dan baginya tersedia, menurut para penulis Injil lain, 30 keping perak, yakni harga budak pada saat itu. Tegas pula di sini bahwa Yudas menghargai Yesus senilai dengan budak belian saat itu.

Lukas mencatat: ”Ia menyetujuinya, dan mulai mencari kesempatan yang baik untuk menyerahkan Yesus kepada mereka tanpa setahu orang banyak.” Lagi-lagi, Lukas hendak menegaskan bahwa Yudas sendirilah yang bertanggung jawab. Ya, Yudas menyetujui upah pengkhianatan tersebut.

Yoel M. Indrasmoro
Literatur Perkantas Nasional

Posted on Tinggalkan komentar

Rencana untuk Membunuh Yesus

(Luk. 22:1-2)

”Hari raya Roti Tidak Beragi yang disebut Paskah, sudah dekat. Imam-imam kepala dan ahli-ahli Taurat mencari jalan, bagaimana mereka dapat membunuh Yesus, sebab mereka takut kepada orang banyak.”

Keterangan waktu yang dipakai Lukas cukup menarik disimak. Paskah merupakan Hari Kemerdekaan Israel. Dan tampaknya imam-imam kepala dan ahli-ahli Taurat menjadikannya tenggat. Artinya sebelum Paskah mereka ingin melenyapkan Sang Guru dari Nazaret. Dan karena itu mereka memutar otak untuk dapat melaksanakan niat tersebut.

Jelas di sini, pembunuhan terhadap Yesus adalah pembunuhan berencana. Dalam Kitab Undang-undang Hukum Pidana pasal 340 dinyatakan: ”Barangsiapa sengaja dan dengan rencana terlebih dahulu merampas nyawa orang lain, diancam, karena pembunuhan dengan rencana (_moord_), dengan pidana mati atau pidana penjara seumur hidup atau selama waktu tertentu, paling lama dua puluh tahun.”

Tindak pidana pembunuhan berencana merupakan tindak pidana yang paling berat pidananya. Sebab pelaku telah merencanakannya dan akhirnya melakukan. Dianggap pembunuh berdarah dingin karena menghabiskan nyawa seseorang setelah mempertimbangkannya secara matang. Ada waktu antara perencanaan dan pelaksanaan.

Yang juga menarik pembunuhan terhadap Yesus dilaksanakan secara berjemaah. Artinya Yesus telah menjadi musuh bersama imam-imam kepala dan ahli-ahli Taurat. Pada kenyataannya mereka pun akhirnya menggandeng pemerintah Romawi dan pemerintah lokal. Itu artinya Yesus akhirnya menjadi musuh agama dan politik.

Dan mereka melakukannya secara diam-diam. Sebab mereka juga tidak mau kehilangan dukungan rakyat. Itulah yang membuat kejahatan mereka sungguh mutlak.

Yoel M. Indrasmoro
Literatur Perkantas Nasional

Posted on Tinggalkan komentar

Keseharian Yesus Menjelang Penyaliban

(Luk. 21:37-38)

”Pada siang hari Yesus mengajar di Bait Allah dan pada malam hari Ia keluar dan bermalam di gunung yang bernama Bukit Zaitun. Dan pagi-pagi semua orang banyak datang kepada-Nya di dalam Bait Allah untuk mendengarkan Dia.”

Demikianlah catatan Lukas tentang keseharian Yesus menjelang penyaliban. Kita tidak tahu alasan Lukas. Namun, dari catatan ini kita bisa melihat bagaimana Yesus telah menjadi pribadi yang diidolakan orang banyak. Mereka rela hadir pagi-pagi untuk mendengarkan Yesus. Bisa jadi pengajaran Yesus memang unik dan relevan dengan kebutuhan mereka. Yang pasti banyak orang gemar mendengarkan ajaran-Nya.

Pada saat-saat menjelang kematian, tampaknya Yesus memfokuskan diri-Nya untuk mengajar. Bisa jadi karena waktu-Nya memang tinggal sedikit. Dan waktu yang tinggal sedikit itu dimanfaatkan Sang Guru untuk mengajar. Pada titik ini jelaslah bahwa Yesus seorang guru sejati.

Menarik pula disimak bahwa Yesus tampaknya sengaja tidak menginap di Yerusalem. Bisa jadi berkait faktor keamanan. Para ahli Taurat dan Orang Farisi, juga Saduki memang berharap kematian-Nya. Karena itu, setiap malam Yesus menyelinap dan bermalam di Bukit Zaitun.

Yang pasti, pada siang hari Sang Guru kembali mengajar di Bait Allah. Dan itu rutin dilakukan sebelum akhirnya ditangkap di Bukit Zaitun.

Yoel M. Indrasmoro
Literatur Perkantas Nasional

Posted on Tinggalkan komentar

Menjaga Hati

(Luk. 21:34-36)

“Jagalah dirimu, supaya hatimu jangan dibebani oleh pesta pora dan kemabukan serta kekhawatiran hidup sehari-hari dan supaya hari Tuhan jangan dengan tiba-tiba jatuh ke atas dirimu seperti suatu jerat.” Demikianlah nasihat Sang Guru kepada para murid-Nya dalam menyambut kedatangan-Nya yang kedua.

Menjaga hati itu penting karena semua perasaan, entah baik maupun jahat, bersumber dari hati. Karena itu, para murid diminta untuk menjaga hati mereka agar jangan disarati pesta pora dan kemabukan serta kepentingan-kepentingan duniawi. Setiap Kristen harus menanti-Nya dalam suasana hidup penuh kasih dan kekudusan.

Yesus menggunakan kata ”sarat”. Artinya: jangan sampai hati kita dipenuhi hingga meluber hal-hal yang tak perlu. Sang Guru juga menekankan tiga hal yang sering menyarati hati: pesta pora, kemabukan, dan kepentingan duniawi. Ketiga hal itu bisa membuat manusia lengah.

Persoalannya, ya di sini, lengah! Lengah karena terlalu sibuk. Lengah karena tak lagi memfokuskan diri pada yang terutama dalam hidup. Bagaimanapun, suasana pesta sering membuat orang tidak lagi waspada. Tak hanya pesta, terlalu berfokus pada persoalan hidup sendiri bisa membuat kita terlena.

Bisa dinalar, jika Yesus melanjutkannya dengan nasihat: ”Berjaga-jagalah senantiasa sambil berdoa, supaya kamu beroleh kekuatan untuk luput dari semua yang akan terjadi itu, dan supaya kamu tahan berdiri di hadapan Anak Manusia.”

Yoel M. Indrasmoro
Literatur Perkantas Nasional

Posted on Tinggalkan komentar

Perkataan-Ku Tidak Akan Berlalu

(Luk. 21:29-33)

“Perhatikanlah pohon ara atau pohon apa saja. Apabila kamu melihat pohon-pohon itu sudah bertunas, kamu tahu dengan sendirinya bahwa musim panas sudah dekat. Demikian juga, jika kamu melihat hal-hal itu terjadi, ketahuilah, bahwa Kerajaan Allah sudah dekat.”

Demikianlah cara Yesus menjelaskan betapa dekatnya Kerajaan Allah itu. Ini dikatakan-Nya dalam kaitan dengan Kedatangan-Nya yang kedua. Perumpamaan-Nya sederhana. Ketika pohon-pohon sudah mulai bertunas kembali musim panas sudah dekat. Itu sesuatu yang sudah semestinya. Demikian pula dengan tanda-tanda yang disampaikan sebelumnya. Pada titik ini, menjadi penting bagi kita, umat percaya abad XXI untuk mampu melihat tanda-tanda zaman.

Namun, sekali lagi, tanda-tanda zaman itu bukanlah untuk menakut-nakuti, sebaliknya merupakan penghiburan bagi setiap orang yang menanti kedatangan-Nya. Kadang, jika dipikir-pikir, memang aneh: orang Kristen—yang dalam doa Bapa Kami memohon: ”Datanglah Kerajaan-Mu”—sering kali malah takut dalam menghadapi kiamat.

Lalu, bagaimana sebaiknya kita bersikap? Sang Guru menegaskan: ”Langit dan bumi akan berlalu, tetapi perkataan-Ku tidak akan berlalu.” Firman Allah itu kekal. Karena itu memusatkan diri pada firman Allah merupakan hal yang logis. Itu jugalah yang akan menjadi modal sejati kita dalam menghadapi ketidakpastian dunia ini.

Yoel M. Indrasmoro
Literatur Perkantas Nasional

Posted on Tinggalkan komentar

Kedatangan Anak Manusia

(Luk. 21:25-27)

”Dan akan ada tanda-tanda pada matahari dan bulan dan bintang-bintang, dan di bumi bangsa-bangsa akan takut dan bingung menghadapi deru dan gelora laut. Pada waktu itu orang akan melihat Anak Manusia datang dalam awan dengan segala kekuasaan dan kemuliaan-Nya.”

Demikianlah catatan Lukas mengenai kedatangan Yesus yang kedua. Kebanyakan orang Kristen memandang kedatangan-Nya sebagai akhir zaman, acap dipenuhi kisah-kisah mengerikan, yang membuat mereka malah ketakutan sendiri.

Namun, Yesus mendorong para pengikut-Nya untuk tidak cemas dalam menyambut kedatangan-Nya. Meski akhir zaman sering digambarkan sebagai kehancuran semesta, Yesus menegaskan: ”Apabila semuanya itu mulai terjadi, bangkitlah dan angkatlah mukamu, sebab penyelamatanmu sudah dekat.”

Sesungguhnya, akhir zaman tidak melulu bicara soal kehancuran semesta, tetapi juga soal penyelamatan. Akhir zaman tak hanya bicara soal berakhirnya suatu zaman, tetapi juga dimulainya zaman baru. Inilah sumber penghiburan bagi setiap orang yang menyandarkan diri kepada Yesus Kristus. Karena itu, hal terlogis ialah menyambut kedatangan-Nya!

Persoalannya, orang sering bertumpu pada tanda kehancuran semesta itu dan lupa menyambut kedatangan-Nya. Itu jugalah yang tampak pada film 2012! Yang dikisahkan hanyalah kehancuran bumi dan semua orang ketakutan. Tidak lebih.

Akhir zaman, sekali lagi, tidak perlu dipandang sebagai peristiwa menakutkan, namun harus dipahami sebagai sumber penghiburan. Sebab, pada waktu itu orang akan melihat Anak Manusia datang dalam awan dengan segala kekuasaan dan kemuliaan-Nya.

Yoel M. Indrasmoro
Literatur Perkantas Nasional

Posted on Tinggalkan komentar

Tetap Bertahan

(Luk. 21:8-19)

”Bangsa akan bangkit melawan bangsa dan kerajaan melawan kerajaan, dan akan terjadi gempa bumi yang dahsyat dan di berbagai tempat akan ada penyakit sampar dan kelaparan, dan akan terjadi juga hal-hal yang menakutkan dan tanda-tanda yang dahsyat dari langit.”

Berkait akhir zaman, tanda-tanda yang diberikan Yesus sesungguhnya terlalu biasa. Meski demikian, ayat-ayat tadi sering dipakai dan dikaitkan dengan peristiwa runtuhnya gedung kembar WTC, tsunami di Aceh, gempa bumi di Yogyakarta dan Lombok, dan likuifaksi di Palu.

Tanda-tanda yang diberikan Sang Guru sejatinya memang tidak dimaksudkan untuk mengecilkan hati para pengikut-Nya. Tidak sama sekali. Yesus menegaskan kepada para murid-Nya agar mereka tidak gelisah dan tawar hati.

Akhir zaman sejatinya merupakan permulaan zaman baru. Dan karena itu seharusnya disambut dengan penuh sukacita. Sebab semua kehancuran kosmik tadi merupakan permulaan zaman baru. Kitab Suci tidak bertujuan menakut-nakuti, tetapi memberikan penghiburan bagi setiap orang yang mendambakan masa depan yang lebih baik, yang mengharapkan adanya perubahan, serta mengharapkan adanya dunia baru, langit baru dan bumi baru.

Oleh karena itu, akhir zaman seharusnya kita sambut dengan sukacita asal kita siap menyambut kedatangan Tuhan Yesus. Dan karena itu, kita tak perlu lagi bertanya tentang waktu dan tanda.

Kalau mau dipikir dengan lebih saksama, bagi setiap orang sesungguhnya hari ini adalah akhir zaman. Sebab, tidak ada seorang pun di antara kita yang bisa memastikan apakah kita masih bernapas esok hari. Tidak ada seorang pun di antara kita yang bisa memastikan apakah besok kita masih hidup. Jadi, sejatinya hari ini, selama manusia masih bernapas, merupakan akhir zaman bagi setiap orang.

Dan karena hari ini adalah akhir zaman, pertanyaannya tetap sama: Siapkah kita menyambut akhir zaman itu? Dan janji-Nya tetap, tidak berubah, ”Kalau kamu tetap bertahan, kamu akan memperoleh hidupmu.”

Yoel M. Indrasmoro
Literatur Perkantas Nasional

Posted on Tinggalkan komentar

Waktu dan Tanda

(Luk. 21:7)

”Guru, bilamanakah itu akan terjadi? Dan apakah tandanya, kalau itu akan terjadi?” Demikianlah pertanyaan yang keluar dari mulut para murid berkait dengan akhir zaman. Tampaknya, pertanyaan mereka itu mewakili banyak orang pada masa itu, juga masa kini.

Ya, berkaitan dengan akhir zaman kita sering terjebak dengan dimensi waktu. Kapan? Manusia sebagai makhluk waktuwi sering bertanya kapan semuanya itu akan terjadi. Kita juga sering menanyakan apa tandanya.

Untuk menjawab pertanyaan itu, dibuatlah banyak seminar tentang akhir zaman di sana sini. Para pembicara biasanya mengaitkannya dengan bencana-bencana alam yang ada. Dan seminar kayak begini biasanya memang laku. Tak sedikit orang yang antusias dibuatnya.

Kebanyakan orang, juga kita, kadang berpaku pada soal waktu dan tanda. Dan lupa untuk mempertanyakan kembali mengapa kita bertanya soal-soal itu. Kemungkinan besar karena kita merasa tak pernah siap untuk menyambut akhir zaman itu. Kalau tahu waktu dan tanda, tentunya kita merasa dapat mempersiapkan diri dengan lebih baik.

Tak beda halnya dengan perkawinan. Jika kita telah menetapkan waktunya, maka kita dapat mengatur kesiapan kita. Sehingga semakin dekat dengan harinya, kita dapat menyiapkan diri kita dengan lebih intensif.

Atau, yang lebih gawat lagi, jika kita punya prinsip melakukan segala sesuatu di menit-menit terakhir. Istilah para pelajar: sistem kebut semalam. Mengapa? Biasanya alasannya adalah kalau mempersiapkan diri terlalu lama sering lupa. Mending, siapkan semalam dengan harapan masih nyantol hingga besok pagi saat ujian.

Alasan praktis mengapa banyak orang berkutet soal waktu dan tanda akhir zaman ialah mereka merasa soal kerohanian itu urusan orang-orang yang telah uzur. ”Mumpung masih muda, senang-senang dululah, bertobatnya nanti saja saat sudah tua.” Kalau ada di antara kita berpikiran semacam ini, mungkin kita perlu bertanya dalam hati: ”Emangnya bisa sampai tua?” Jangan-jangan kita tidak pernah merasakan masa tua, saat muda langsung dipanggil Tuhan.

Mungkin kita pun, berkait dengan akhir zaman, harus mengubah cara pandang kita.

Yoel M. Indrasmoro
Literatur Perkantas Nasional

Posted on Tinggalkan komentar

Belajar dari Keledai

(Luk. 19:28-30)

”Pergilah ke desa yang di depanmu itu: Pada waktu kamu masuk di situ, kamu akan mendapati seekor keledai muda tertambat, yang belum pernah ditunggangi orang. Lepaskanlah keledai itu dan bawalah ke mari.” Demikianlah perintah Yesus kepada dua orang murid-Nya. Mereka diminta untuk membawa keledai yang akan menjadi tunggangan Yesus saat memasuki Yerusalem.
Ketika mendengar kata ”keledai”, mungkin yang tergambar dalam benak kita ialah binatang lamban, lemah, bahkan bodoh. Gambaran itu tidak sepenuhnya salah.

Dari segi kecepatan, Keledai (Equus asinus) memang tak bisa disamakan dengan kuda (Equus caballus), meski keduanya satu genus. Dalam mekanika dikenal istilah ”tenaga kuda” yang merupakan ukuran kemampuan mesin. Tak ada istilah ”tenaga keledai”. ”Pacuan kuda”—yang sering menjadi ajang judi— juga lebih lazim terdengar ketimbang ”pacuan keledai”. Keledai memang tak seagresif kuda. Jalannya lambat. Saking lambatnya terkesan malas. Tak punya inisiatif.

Kita punya peribahasa ”Seperti keledai”. Artinya: bodoh atau keras kepala. Ada lagi peribahasa ”Keledai hendak dijadikan kuda.” Artinya: orang bodoh hendak dipandang sebagai orang pandai. Dalam kedua peribahasa itu, keledai dipandang sebagai binatang bodoh. Tak heran, banyak orang tersinggung kala dijuluki: ”keledai”.

Namun, jangan pula kita lupa, ada peribahasa baik tentang keledai: ”Keledai tidak akan jatuh ke dalam lubang yang sama untuk kedua kalinya.” Peribahasa itu berarti sebodoh-bodohnya keledai, binatang itu toh belajar dari pengalaman.

Kegagalan dijadikannya pelajaran agar tidak terulang lagi. Keledai belajar dari sejarah. Anehnya, manusia (Homo Sapiens ’manusia yang berpikir’) malah sering mengulangi kesalahan yang sama. Manusia agaknya perlu belajar dari keledai perihal memetik kearifan masa lampau.

Hanya itukah? Tidak. Keledai merupakan binatang pekerja berat. Dia bukan pemalas. Jalannya memang lambat, tetapi semua tugas dituntaskannya. Keledai jelas mempunyai ketahanan kerja tinggi.

Aton, bahasa Ibrani untuk keledai, mengacu pada daya tahannya. Dalam sehari keledai sanggup berjalan sejauh 30 kilometer. Meski lambat, keledai konsisten menjalani panggilannya. Dia tidak pernah mutung.

Pada titik ini agaknya kita, orang percaya Abad XXI, perlu belajar banyak dari seekor keledai.

Yoel M. Indrasmoro
Literatur Perkantas Nasional

Posted on Tinggalkan komentar

Perumpamaan Mina

(Luk. 19:11-27)

Perumpamaan mina muncul dari konteks. Lukas mencatat konteksnya: ”Sementara mereka mendengarkan hal-hal itu, Yesus melanjutkan perkataan-Nya dengan suatu perumpamaan, sebab Ia sudah dekat Yerusalem dan mereka menyangka bahwa Kerajaan Allah akan segera kelihatan.” Konteksnya adalah banyak orang menyangka bahwa Kerajaan Allah akan segera terwujud.

Dengan perumpamaan ini sepertinya Sang Guru hendak menegaskan bahwa Kerajaan Allah pasti terwujud dan karena itu persiapan untuk menyambut Kerajaan itu perlu dilakukan secepatnya. Mumpung masih ada waktu.

Kisahnya sederhana. Seorang bangsawan akan diangkat menjadi raja wilayah. Karena itu, dia akan menghadap kaisar, di negeri yang jauh, untuk dilantik menjadi raja wilayah. Dan karena itu dia memercayakan sepuluh mina kepada sepuluh hambanya. Dengan begitu masing-masing memperolah satu mina.

Masalahnya kebanyakan penduduk wilayah itu agaknya tidak senang dengan pengangkatan itu. Mereka mengirim surat kepada kaisar untuk membatalkan pelantikan itu. Kemungkinan besar kesepuluh hamba itu mengetahui mosi tidak percaya. Dan itulah agaknya yang menyebabkan para hamba itu mengambil sikap berbeda berkait dengan mina yang dipercayakan kepada mereka masing-masing.

Ketika raja wilayah itu pulang dia menuntut pertanggungjawaban, ada hamba yang mengembangkan satu mina menjadi sepuluh mina, ada pula yang mengembangkannya menjadi lima mina, dan ternyata ada pula yang tidak mengembangkannya sama sekali. Kepada yang mengembangkan itu diberi kepercayaan untuk menjadi gubernur sepuluh kota, ada juga yang menjadi gubernur lima kota. Dan kepada yang tidak mengembangkan, satu mina darinya pun diambil dan diberikan kepada gubernur sepuluh kota.

Tentu saja ada yang protes, sudah mendapatkan kekuasaan sepuluh kota, mengapa masih diberi satu mina? Jawabannya sederhana: dia telah terbukti mampu mengelola dengan baik, bahkan unggul. Bayangkan dari satu mina menjadi sepuluh mina. Dia sungguh layak dipercaya. Dan memercayakan harta kepada orang yang layak dipercaya adalah tindakan logis.

Mengapa tidak ada hukuman bagi hamba yang tidak mengembangkan uang itu? Kita hanya bisa mengatakan, kemungkinan besar raja wilayah itu masih memberikannya kesempatan untuk berubah. Ya berubah agar hidupnya lebih banyak berbuah.

Yoel M. Indrasmoro
Literatur Perkantas Nasional

Posted on Tinggalkan komentar

Tindakan Radikal

(Luk. 19:8-10)

Tindakan Yesus—menumpang di rumah Zakheus—membuat iman Zakheus bertumbuh. Tidak hanya dirinya, keluarganya pun merasakan keselamatan. Bahkan, Zakheus melakukan tindakan radikal yang merupakan cerminan arti namanya.

Bayangkan, dia menghibahkan sebagian miliknya kepada orang miskin. Dengan kata lain, kekayaannya akan berkurang setengah secara sekejap. Tak hanya itu, dia juga bersedia mengembalikan empat kali lipat kepada orang yang pernah diperasnya. Itu berarti, sekiranya tidak jatuh melarat, bisa diduga dia akan kembali menjadi orang biasa. Bahkan, bisa menjadi miskin.

Apa yang dilakukan Zakheus ini pastilah mengejutkan masyarakat kota Yerikho. Mungkin, banyak orang yang merasa sayang jika Zakheus sungguh-sungguh melakukan hal tersebut. Apa yang dilakukannya memang melampaui bayangan banyak orang.

Namun demikian, tindakan Zakheus—yang tak terbayangkan oleh orang sezamannya—hanyalah akibat dari perjumpaannya dengan Yesus. Zakheus melakukannya karena dia juga heran menyaksikan apa yang Yesus lakukan bagi dirinya. Yang dilakukan Yesus juga melampaui apa yang dibayangkannya.

Mulanya, Zakheus hanya ingin melihat Yesus. Namun, yang dia dapat lebih dari semuanya itu. Yesus malah merasa harus menumpang di rumahnya. Zakheus bukan hanya bisa melihat Yesus, tetapi malah bercakap-cakap dan menjamu Yesus. Apa yang Yesus lakukan jauh dari bayangan Zakheus. Tak heran, sebagai balasannya, dia pun melakukan lebih jauh dari bayangan manusia.

Bisa dipahami, jika Yesus berkesimpulan: ”Hari ini telah terjadi keselamatan kepada seisi rumah ini, karena orang ini pun anak Abraham.” Ya, itulah kalimat yang keluar dari mulut Yesus, yang dengan cermat dicatat Lukas. Dan tindakan seradikal itu hanya mungkin terjadi kala orang sungguh-sungguh merasakan penyelamatan Allah atas dirinya.

Yoel M. Indrasmoro
Literatur Perkantas Nasional

Posted on Tinggalkan komentar

Tak Bertepuk Sebelah Tangan

(Luk. 19:5-7)

”Ketika Yesus sampai ke tempat itu, Ia melihat ke atas dan berkata kepadanya, ’Zakheus, segeralah turun, sebab hari ini Aku harus menumpang di rumahmu.’ Lalu Zakheus segera turun dan menerima Yesus dengan sukacita.”

Zakheus ternyata tak bertepuk sebelah tangan. Zakheus memang mencari Yesus. Namun, di pihak lain, Yesus juga mencari Zakheus. Yesuslah yang menyapa Zakheus terlebih dahulu. Bahkan, Yesus menyatakan bahwa Dia harus menumpang di rumah Zakheus.

Tak mudah, dibayangkan apa makna sapaan Yesus di mata Zakheus. Yesus memanggil dia dengan namanya. Namanya, yang kadang menjadi bahan olok-olok orang itu, ternyata berharga di mata Yesus. Buktinya: Yesus mau menyebut namanya. Yesus tidak mengolok-oloknya, bahkan ingin menumpang di rumahnya.

Menumpang di rumah orang yang dianggap berdosa merupakan tindakan yang tidak biasa. Menumpang di rumah seseorang menyiratkan hubungan yang sangat akrab. Tentu kita tidak mau menginap di rumah orang yang tidak kita kenal atau percayai. Dan Yesus merasa perlu menumpang di rumah Zakheus. Itu berarti Yesus menganggap Zakheus sebagai sahabatnya. Yesus percaya kepada kepala pemungut cukai itu.

Tindakan Yesus sendiri pada akhirnya dicibir oleh para pemimpin Yahudi. Sang Guru tak terlalu peduli dengan cibiran itu. Tampaknya, Yesus tahu, pada dasarnya Zakheus sungguh-sungguh ingin hidup seturut arti namanya. Yesus tahu, Zakheus membutuhkan sahabat. Dan Yesus bersedia menjadi sahabatnya.

Yoel M. Indrasmoro
Literatur Perkantas Nasional

Posted on Tinggalkan komentar

Pribadi yang Kesepian

(Luk. 19:3-4)

Motivasi Zakheus sangat besar. Kelihatannya, dia sungguh-sungguh penasaran akan pribadi Sang Guru dari Nazaret. Dari kabar yang didengarnya Sang Guru dari Nazaret itu memang bukan sembarang guru. Dia berbeda dari guru-guru yang biasa dikenalnya, yang sering menganggapnya rendah. Kabarnya, Yesus dari Nazaret menerima orang apa adanya. Bahkan salah seorang murid-Nya pun mantan pemungut cukai.

Mungkin, memang itulah alasan utama Zakheus dibalik keinginannya untuk melihat Yesus. Kemungkinan besar, dia pribadi yang kesepian. Dia tahu, jabatannya sebagai kepala pemungut cukai memang tidak disukai banyak orang. Dia dianggap sebagai pengkhianat bangsa.

Dia tahu juga, meski ada yang dekat dengannya, kebanyakan adalah orang-orang yang memang memiliki kepentingan. Mereka ingin menikmati pula kekayaannya. Mereka tidak sungguh-sungguh tulus bersahabat dengannya. Persahabatan itu berlandaska hal sangat rapuh: uang.

Sekali lagi, Zakheus adalah pribadi yang kesepian. Dia butuh teman. Teman yang sungguh-sungguh tulus menerima dia apa adanya. Bukan teman yang hadir saat membutuhkan sesuatu darinya saja. Sepertinya dia sudah capek dengan teman-teman macam begini. Dan harapannya itu semakin tebal ketika mendengar bahwa Yesus singgah di kotanya.

Yoel M. Indrasmoro
Literatur Perkantas Nasional

Posted on Tinggalkan komentar

Pribadi yang Bertindak

(Luk. 19:3-4)

Kelihatannya, Lukas hendak mencatat bahwa dalam diri Zakheus memang ada sesuatu yang baik. Salah satu kebaikan Zakheus ialah dia pribadi yang bertindak. Dia tak gampang menyerah. Jika punya kehendak, dia akan berupaya sekuat tenaga agar mendapatkan yang dikehendakinya.

Catatan Lukas memang terkesan datar: ”Ia berusaha untuk melihat orang apakah Yesus itu, tetapi ia tidak berhasil karena orang banyak, sebab badannya pendek. Ia pun berlari mendahului orang banyak, lalu memanjat pohon ara untuk melihat Yesus yang akan lewat di situ.”

Namun, agaknya Lukas sendiri sadar bahwa peristiwa itu memang bukan peristiwa biasa. Mari kita bayangkan! Ketika hendak melihat Yesus, dia terhalang orang banyak yang berkumpul di sekitar Yesus. Mungkin saja, dia sedikit kesal waktu itu mengapa Allah memberinya tubuh yang pendek. Bisa jadi orang-orang yang mengenalinya sebagai pemungut cukai sengaja menghalang-halanginya agar tidak dapat melihat Yesus.

Mutungkah Zakheus? Jawabannya tidak! Mengeluhkah dia karena keberadaan tubuhnya? Pasti juga tidak! Dia tetap berusaha mencari jalan untuk bisa melihat Yesus. Tanpa malu-malu, Zakheus berlari mendahului rombongan itu dan memanjat pohon ara. Bisa jadi, tindakannya itu menjadi bahan tertawaan orang. Akan tetapi, tampaknya dia tidak peduli. Yang penting baginya adalah melihat seperti apakah Yesus itu? Ya, dia memang pribadi yang bertindak.

Yoel M. Indrasmoro
Literatur Perkantas Nasional

Posted on Tinggalkan komentar

Zakheus

(Luk. 19:1-2)

”Yesus masuk ke kota Yerikho dan berjalan terus melintasi kota itu. Di situ ada seorang bernama Zakheus, kepala pemungut cukai, dan ia seorang yang kaya.”

Demikianlah awalan kisah pertobatan Zakheus menurut Lukas. Ya, nama kepala pemungut cukai itu Zakheus. Agak aneh memang, bahkan bisa menjadi bahan tertawaan, pemungut cukai kok namanya Zakheus.

Zakheus merupakan bentuk Yunani dari nama Zakkay dalam bahasa Ibrani, yang berarti ”bersih, tidak bersalah”, dan menurut Stefan Leks, biasanya dipakai sejajar dengan saddiq, yang berarti benar. Bahasa Indonesia menyerapnya menjadi sadik, yang berarti ”jujur, benar, setia, dan lurus”. Mengherankan bukan, seorang yang namanya berarti ”bersih, tidak bersalah” ternyata memilih pekerjaan sebagai pemungut cukai? Bisa jadi, Lukas pun heran ada seorang pemungut cukai yang tetap saja menyandang nama diri Zakheus.

Kepala pemungut cukai merupakan petugas lembaga fiskal Romawi. Tugas itu diberikan kepada siapa saja, warga pribumi, yang mampu menawarkan paling banyak uang kepada pemerintah penjajah. Pada akhirnya jumlah itu pula yang harus ditagihnya dengan bermacam cara.

Pemungut cukai sendiri tidak mendapat gaji dari pemerintah. Gajinya merupakan selisih uang antara jumlah yang disepakati antara dirinya dan pemerintah Roma dan jumlah uang yang berhasil ditagihnya. Itu berarti, kalau berlaku jujur, dia tidak akan mendapat selisih yang berarti. Yang sering terjadi, jumlah yang ditagih biasanya beberapa kali lipat dari kesepakatan dengan pemerintah.

Bisa dimaklumi, jika para pemungut cukai sangat dibenci orang Yahudi. Mereka dianggap lintah darat, bahkan pengkhianat bangsa. Sebab, mereka mengisap darah bangsa sendiri demi keuntungan bangsa lain.

Sebagai kepala pemungut cukai, pastilah dia seorang terkenal, bahkan mungkin terkaya di Yerikho. Namun, pekerjaan itulah yang membuat dia menjadi ”orang luar” dalam tatanan masyarakat Yahudi. Bahkan ada aturan yang melarang seorang pemungut cukai masuk ke dalam sinagoge. Pada titik ini Zakheus sesungguhnya pribadi yang kesepian.

Yoel M. Indrasmoro
Literatur Perkantas Nasional

Posted on Tinggalkan komentar

Orang Buta di Yerikho

(Luk. 18:35-43)

“Yesus, Anak Daud, kasihanilah aku!” Teriakan itulah yang menyapa Yesus yang sedang berjalan ke Yerikho. Dalam teriakan itu tampaklah bahwa orang yang berteriak itu mengenal Yesus sebagai Anak Daud. Meski orang banyak mengenal Yesus sebagai orang Nazaret, orang buta itu menyapa Yesus dengan sebutan ”Anak Daud”.

Sebutan “Anak Daud” bukanlah sebutan biasa di masa itu. Sebutan itu hendak mengungkapkan bahwa Yesus adalah Mesias. Sebutan ini mengandaikan pula bahwa Guru dari Nazaret itu bukan sembarang guru. Tak heran, banyak orang memintanya diam. Bagaimanapun, sebutan itu tak begitu disukai oleh antek-antek Romawi, juga orang-orang yang memusuhi Yesus.

Lukas tak menyebut nama orang itu. Markus menyatakan bahwa namanya adalah Bartimeus. Sebenarnya itu pun bukan nama pribadinya. Sebab arti Bartimeus adalah anak Timeus. Namanya sendiri tak banyak orang mengetahuinya. Lagi pula, mengapa pula orang perlu mengenal nama sebenarnya. Bukankah dia sendiri buta, dan profesinya pun cuma pengemis.Dan dia tak hanya berteriak. Dalam teriakannya itu terselip permohonan: “Kasihanilah aku!”

Itu jugalah alasannya berteriak. Dia ingin Yesus, Anak Daud itu, mengasihani dirinya. Dan keyakinannya itulah yang membuatnya terus berteriak meski banyak orang yang memintanya untuk diam. Dia tetap berteriak karena dia tahu Yesus adalah Anak Daud; dan dia percaya karena gelar itulah Yesus akan mengasihaninya.

Orang buta itu memiliki harapan. Dia percaya Yesus akan memenuhi harapannya itu. Dan harapannya itulah yang membuatnya terus berteriak.

Dan harapannya itu tidak mengecewakannya. Yesus, Anak Daud itu, mengabulkan keinginannya. Dia bisa melihat. Dan kemampuan melihat itulah yang menyebabkan dia tidak mau pergi meninggalkan Yesus. Lukas mencatat: ”Seketika itu juga ia dapat melihat, lalu mengikuti Dia sambil memuliakan Allah.”

Penting juga disimak tindakannya itu menular. Di akhir kisah Lukas menyatakan bahwa seluruh rakyat melihat hal itu dan memuji-muji Allah. Sejatinya, berkait kesembuhan, ini juga hal yang penting dicatat, orang yang telah merasakan kebaikan Allah dipanggil juga untuk mengajak orang lain memuliakan Allah.

Yoel M. Indrasmoro
Literatur Perkantas Nasional

Posted on Tinggalkan komentar

Tak Mengerti Jua

(Luk. 18:31-34)

”Sekarang kita pergi ke Yerusalem dan segala sesuatu yang ditulis oleh para nabi mengenai Anak Manusia akan digenapi. Sebab Ia akan diserahkan kepada bangsa-bangsa lain, diolok-olokkan, dihina dan diludahi. Mereka akan mencambuk dan membunuh Dia, tetapi pada hari ketiga Ia akan bangkit.”

Inilah kali ketiga Yesus memberi tahu kedua belas murid-Nya mengenai penderitaan-Nya. Jadi, bukan kali pertama. Meskipun demikian, Lukas mencatat: ”Mereka sama sekali tidak mengerti semuanya itu; arti perkataan itu tersembunyi bagi mereka dan mereka tidak tahu apa yang dimaksudkan.” Dalam Alkitab Bahasa Indonesia Masa Kini tertera: ”Semuanya itu tidak dipahami sedikit pun oleh pengikut-pengikut Yesus itu. Arti dari kata-kata-Nya itu dirahasiakan dari mereka. Mereka tidak tahu Ia berbicara tentang apa.”

Jelas di sini para murid tidak memahami apa yang dikatakan Yesus Orang Nazaret. Sang Guru sendiri tak bertanya apakah mereka mengerti, juga tak berusaha memberikan makna dari perkataannya. Sehingga semuanya tetap tersembunyi.

Mungkin kita perlu bertanya juga sekarang ini: Mengapa para murid enggak bertanya? Bukankah malu bertanya sesat di jalan? Kita juga boleh berandai-andai: Apa jadinya jika ada yang menanyakan maknanya?

Tentu saja Yesus Orang Nazaret berhak diam. Itu prerogatif Sang Guru. Namun, dengan bertanya para murid berkesempatan memiliki pemahaman yang lebih baik. Ya, apa salahnya mencoba?

Yoel M. Indrasmoro
Literatur Perkantas Nasional

Posted on Tinggalkan komentar

Upah Mengikut Yesus

(Luk. 18:28-30)

”Sesungguhnya Aku berkata kepadamu, setiap orang yang karena Kerajaan Allah meninggalkan rumahnya, atau istrinya, atau saudaranya, atau orang tuanya atau anak-anaknya, akan menerima kembali berlipat ganda pada masa ini juga, dan pada zaman yang akan datang ia akan menerima hidup yang kekal.”

Demikianlah tanggapan Yesus terhadap curhatan Petrus. Kepada Sang Guru, Petrus menyatakan bahwa dia dan para murid lainnya telah meninggalkan segala kepunyaannya untuk menjadi pengikut Yesus. Kita tidak tahu mengapa Petrus mengatakan hal itu. Namun, sepertinya percakapan Yesus dengan orang kaya membuat para murid bertanya-tanya tentang masa depan mereka.

Yesus menegaskan bahwa mereka tidak akan kehilangan apa pun. Bahkan akan mendapatkan berlipat ganda dari yang mereka lepaskan. Tak hanya di surga nanti, tetapi di dunia ini juga.

Mungkin pertanyaan yang melintas dalam benak adalah mungkinkah? Jawabannya adalah mungkin. Hanya persoalannya adalah kita jarang menghitungnya. Berkat-berkat Allah kita biarkan lalu begitu saja. Kita merasa sudah memang seharusnya demikian. Persoalannya, kita sering lebih rajin menghitung masalah kita ketimbang berkat Allah. Karena jarang dihitung, bawah sadar kita terkondisikan untuk sulit mengamini janji Yesus tadi.

Mungkin baik jika kita bermain logika di sini. Jika kita percaya bahwa kita memang milik Allah, tak sulit bagi kita memercayai bahwa Allah sungguh mengasihi kita. Dan karena kita adalah milik Allah, kita boleh berani percaya bahwa apa yang diberikan Allah sungguh baik bagi kita. Sehingga kita pun dapat bermadah bersama Fanny Crosby dalam _Kidung Jemaat_ 408:1: ”Suka duka dipakai-Nya untuk kebaikanku.”

Yoel M. Indrasmoro
Literatur Perkantas Nasional

Posted on Tinggalkan komentar

Kelekatan

(Luk. 18:18-27)

Dia bukan orang miskin. Lukas menyatakan dengan jelas bahwa orang tersebut banyak sekali hartanya. Namun, agaknya dia sendiri merasa tak tenteram dalam hidupnya. Dia merasa masih ada yang kurang dalam dirinya. Dia berusaha mencari tahu kekurangannya itu dengan bertanya kepada Yesus. Dengan penuh antusias dia datang kepada Yesus dan bertanya, “Guru yang baik, apa yang harus aku perbuat untuk memperoleh hidup yang kekal?”

Sesungguhnya inilah masalah orang kaya itu. Dia sadar bahwa kekayaannya tidak menjamin hidup kekal baginya. Dia merasa ada yang kurang. Dan karena itu, dia bertanya kepada Yesus.

Menarik diperhatikan, Yesus tidak langsung menjawab pertanyaan tersebut. Yesus menyatakan bahwa tentunya orang tersebut telah mengetahui sebagian dari sepuluh hukum. Dengan cepat orang tersebut menjawab bahwa dia telah melakukan semuanya itu sejak masa mudanya. Namun, persoalannya adalah meski telah melakukan semuanya itu, toh dia tetap merasa kurang? Yesus lalu memintanya untuk menjual hartanya dan membagikannya kepada orang miskin. Mendengar perkataan itu mukanya muram, lalu pergi dengan sedih, sebab banyak hartanya.

Di mana kesalahan orang kaya tadi? Tentunya, bukan terletak pada kekayaannya. Kekayaan atau harta milik merupakan sesuatu yang netral pada dirinya sendiri. Akan tetapi, menjadi tidak netral, malah berbahaya tatkala harta itu sendiri menjadi tuan atas diri kita. Tidak salah menjadi orang kaya, tetapi menjadi masalah tatkala kekayaan itu malah membuat kita terikat kuat kepadanya.

De Mello punya istilah yang bagus untuk hal ini, yakni kelekatan. Kelekatan erat kepada sesuatu akan membuat seseorang menjadi jauh dari Allah. Dan ketika itu terjadi, hidup kekal tidak akan pernah dicapai. Bukankah kekekalan itu sendiri merupakan jati diri Tuhan?

Yoel M. Indrasmoro
Literatur Perkantas Nasional

Posted on Tinggalkan komentar

Merasa Benar vs Dibenarkan

(Luk. 18:9-14)

Perumpamaan Orang Farisi dan Pemungut Cukai dikemukakan Yesus dalam menanggapi orang yang menganggap diri benar dan memandang rendah orang lain. Persoalan orang Farisi itu ialah menganggap diri benar dan lebih baik dari pemungut cukai.

Tindakan orang Farisi itu pastilah tidak akan melukai hati sang pemungut cukai karena diucapkan dalam hati. Namun, kesucian Allah tak mungkin menoleransi tindakan tersebut! Lagi pula, kesombongan pribadi akan menghancurkan dirinya sendiri.

Sebab, secara tidak langsung, orang Farisi itu menegaskan bahwa dia mampu hidup benar berdasarkan kekuatan sendiri. Dia tidak butuh orang lain, juga Tuhan! Dia agaknya juga lupa, kalaupun dia orang pilihan, tentulah ada yang memilihnya. Dan yang memilihnya adalah Tuhan.

Di bait Allah itu orang Farisi itu sedang memuji-muji dirinya sendiri. Tampaknya, dia lupa bahwa dia sedang berada di rumah Allah. Kemungkinan besar, dia pun lupa akan mazmur ini: ”Berbahagialah orang-orang yang diam di rumah-Mu, yang terus-menerus memuji-muji Engkau” (Mzm. 84:5).

Dalam bayangan pemazmur, sungguh merupakan anugerah jika manusia berdosa diperkenankan berhadapan dengan hadirat Allah Yang Mahakudus. Tuhanlah yang melayakkan manusia untuk menghadap Dia. Tuhanlah yang telah membenarkannya.

Merasa benar sendiri memang berbeda dengan dibenarkan Allah. Sekali lagi, orang Farisi itu lupa bahwa dia telah dibenarkan Allah sehingga boleh menghadap hadirat-Nya. Karena itu, tak perlulah dia membenarkan diri sendiri; lebih-lebih menganggap rendah orang lain.

Ya, pembenaran oleh Allah itu seharusnya membuat kita makin rendah hati dan memohon— seperti Ahasverus van den Berg, dalam Kidung Jemaat 25:5: ”Ya Tuhanku, percayaku kiranya Kautumbuhkan, hingga teguh di kasih-Mu yang baik kulakukan.”

Yoel M. Indrasmoro
Literatur Perkantas Nasional

Posted on Tinggalkan komentar

Perumpamaan Orang Farisi dan Pemungut Cukai

(Luk. 18:9-14)

”Ada dua orang pergi ke Bait Allah untuk berdoa; yang seorang adalah Farisi dan yang lain pemungut cukai.” Demikianlah Yesus memulai perumpamaannya. Perbedaan keduanya amat mencolok.

Orang Farisi itu, meski dalam hati, membeberkan segala prestasi yang telah dicapainya. Dengan bangga dia berdoa: ”Ya Allah, aku mengucap syukur kepada-Mu, karena aku tidak sama seperti semua orang lain, bukan perampok, bukan orang lalim, bukan pezinah dan bukan juga seperti pemungut cukai ini; aku berpuasa dua kali seminggu, aku memberikan sepersepuluh dari segala penghasilanku.”

Agaknya dia lupa, Allah Mahatahu. Tak heran, dia merasa perlu menjelaskan keberadaannya di hadapan Allah. Tak hanya itu, dia juga merasa perlu membanding-bandingkan dirinya dengan pemungut cukai yang hari itu bersama dengan dia di Bait Allah.

Pemungut cukai lain sikapnya. Dia tampaknya tahu diri. Dia menyadari keberadaannya. Tak sedikit orang menjauh darinya karena profesinya. Kalau manusia berdosa berbuat demikian; bagaimana dengan Allah Yang Mahasuci? Sehingga dia merasa perlu berdiri jauh-jauh, tidak berani menengadah ke langit, memukul dirinya dan berkata, ”Ya Allah, kasihanilah aku orang berdosa ini.”

Pemungut cukai itu percaya bahwa Tuhan Mahatahu. Bagi dia, jalan terlogis ialah tidak menutup-nutupi keberadaanya. Tidak. Dia hanya perlu mengakui dosanya. Itu jugalah yang digemakan Ahasverus van den Berg dalam syairnya—direkam dalam _Kidung Jemaat_ 25:1—”Ya Allahku, di cah’ya-Mu tersingkap tiap noda. Kau lihatlah manusia penuh lumuran dosa.”

Sikap keduanya memang berbeda. Orang Farisi itu merasa lebih baik dari orang lain. Dia merasa diri sebagai orang pilihan. Dan dia merasa bangga bisa mempertahankan aturan-aturan Tuhan dalam hidupnya.

Sebaliknya, pemungut cukai itu tak merasa perlu membandingkan dirinya dengan apa pun. Lagi pula, apa pula yang mau dibandingkan? Dia sadar, di hadapan Tuhan tak ada alasan bagi dia untuk memegahkan diri. Dan karena itulah, Yesus menegaskan: ”Orang ini pulang ke rumahnya sebagai orang yang dibenarkan Allah dan orang lain itu tidak.”

Yoel M. Indrasmoro
Literatur Perkantas Nasional

Posted on Tinggalkan komentar

Perumpamaan Hakim yang Tak Benar

(Luk. 18:1-8)

”Jika Anak Manusia itu datang, adakah Ia mendapati iman di bumi?” Inilah pertanyaan Sang Guru kepada para murid-Nya. Nadanya agak getir, terkesan minor. Tetapi, memang tidak ada hal yang mudah berkait dengan iman.

Apakah iman itu? Sebenarnya hanya satu kata jawabannya: percaya. Iman berarti memercayakan diri. Susahkah? Itulah persoalannya. Kadang kita lebih suka memercayakan diri kita kepada diri kita sendiri.

Persoalan iman memang di sini. Kepercayaan kepada Allah goyah sering kali disebabkan karena kita ternyata lebih memercayai diri sendiri. Dan itulah sebabnya Sang Guru dari Nazaret mengajak para murid-Nya berdoa dengan tiada jemu. Berdoa tiada henti bukanlah suatu tindakan memaksa Allah. Tidak. Berdoa tiada henti dimaksudkan sebagai sebuah kepasrahan total.

Perumpamaannya memang menarik. Dikisahkan mengenai seorang janda yang selalu datang kepada hakim untuk meminta pertolongannya. Dan meskipun hakim itu seorang yang tidak mengenal Allah, toh luluh juga hatinya dengan permintaan janda tersebut.

Pertanyaannya: Mengapa janda tersebut selalu datang kepada hakim tersebut? Jawabannya: Janda itu tahu bahwa hanya hakim itulah yang dapat membela perkaranya. Dia tahu hanya hakim itulah satu-satunya yang sanggup menolongnya. Mungkin terkesan maksa, tetapi itu dilakukannya karena dia tahu bahwa hakim itulah satu-satunya pribadi yang dapat menolongnnya. Tentunya konteks pada masa itu, satu kota hanya ada satu hakim.

Dan itulah percaya, yang diwujudkan dalam doa tiada putus. Doa tiada putus, sekali lagi, bukanlah karena ingin memaksa Allah. Tidak. Lagi pula siapa kita sehingga bisa memaksa Allah. Doa tiada putus dilakukan karena kita percaya bahwa Dialah satu-satunya sumber pertolongan. Ini senada dengan bait terakhir puisi Doa Chairil Anwar: ”Tuhanku, di pintu-Mu aku mengetuk, aku tak bisa berpaling”.

Tampaknya Chairil Anwar sungguh tahu apa artinya percaya. Percaya berarti tetap mengetuk pintu meski belum terbuka, meski enggan terbuka, karena dia yakin kepada satu pintu itu. Dan karena itulah, dia tidak mau berpaling ke arah lain. Sekali lagi, karena dia percaya hanya pada satu pintu itu.

Karena itu, tak ada jalan lain, marilah kita terus memercayakan diri kepada Allah!

Yoel M. Indrasmoro
Literatur Perkantas Nasional