Posted on Tinggalkan komentar

Bagian Orang Fasik

(Ayb. 27:11-23)

”Aku akan mengajari kamu tentang tangan Allah, apa yang dimaksudkan oleh Yang Mahakuasa tidak akan kusembunyikan. Sesungguhnya, kamu sekalian telah melihatnya sendiri; mengapa kamu berpikir yang tidak-tidak?” (Ayb. 27:11-12). Dengan lantang Ayub berkata kepada para sahabatnya bahwa dia sungguh mengenal Allahnya. Dia juga menantang para sahabatnya bahwa mereka sebenarnya juga tahu, namun mereka sepertinya pura-pura tidak tahu.

Bisa jadi para sahabatnya awalnya sungguh meyakini bahwa Ayub memang pribadi yang jempolan—sungguh baik di mata manusia, juga Allah. Mungkin mereka juga tahu bahwa Allah sungguh mengasihi Ayub. Hanya, persoalannya, penderitaan Ayub yang hebat dan berkepanjangan membuat mereka ragu untuk memercayai Ayub. Sehingga mereka memaksa Ayub untuk mengakui semua kesalahan yang tidak pernah dibuatnya. Dan kemungkinan besar, karena Ayub tetap tak mengakui kesalahannya membuat mereka akhirnya meyakini bahwa Ayub memang bersalah.

Ayub dalam kalimat-kalimat selanjutnya menyatakan bahwa muara dari orang fasik, meski awalnya tampak senang, adalah kebinasaan. Ayub menyatakan, dalam ayat 13-15: ”Inilah bagian orang fasik yang ditentukan Allah, dan milik pusaka orang-orang lalim yang mereka terima dari Yang Mahakuasa: kalau anak-anaknya bertambah banyak mereka menjadi makanan pedang, dan anak cucunya tidak mendapat cukup makan; siapa yang luput dari padanya, akan turun ke kubur karena wabah, dengan tidak ditangisi oleh janda mereka.”

Memang ada pakar yang berpendapat bahwa bagian ini lebih cocok merupakan kata-kata Zofar. Namun, kalau kita percaya bahwa ini adalah kata-kata Ayub sendiri, kita bisa meyakini betapa tak mudah bagi Ayub menyatakan hal ini. Mengapa? Sebab dia sendiri merasakan apa yang semestinya harus ditanggung orang fasik. Jika Ayub yang menyatakannya, kita orang percaya abad XXI harus angkat topi kepada laki-laki dari tanah Us ni.

Yoel M. Indrasmoro
Literatur Perkantas Nasional

Posted on Tinggalkan komentar

Demi Allah

(Ayb. 27:1-6)

”Aku sama sekali tidak membenarkan kamu! Sampai binasa aku tetap mempertahankan bahwa aku tidak bersalah. Kebenaranku kupegang teguh dan tidak kulepaskan; hatiku tidak mencela sehari pun dari pada umurku” (Ayb. 27:5-6).

Ayub tetap menyatakan dirinya tak bersalah. Ia menganggap semua nasihat sahabat-sahabatnya itu pepesan kosong. Hampa. Tiada arti. Dalam Alkitab Bahasa Indonesia Masa Kini tertera: ”Jadi, tak mau aku mengatakan bahwa kamu benar; sampai mati pun kupertahankan bahwa aku tak cemar. Aku tetap berpegang kepada kepatuhanku, dan hati nuraniku pun bersih selalu.” Inilah ikhtiar Ayub: ia akan tetap taat dan menjaga hati nuraninya selalu bersih.

Menarik disimak, Ayub merasa perlu mendasarkan pernyataannya itu demi Allah. Kelihatannya Ayub merasa perlu menyebut nama Allah di hadapan para sahabatnya. Namun, bukan demi Allah yang melimpahkan kesejahteraan, tetapi demi Allah yang tidak memberi keadilan dan memedihkan hatinya.

Pada titik ini Ayub tetap berupaya berlaku jujur. Ia tidak menyembunyikan kenyataan bahwa ia merasa diperlakukan tidak adil, juga tidak menyembunyikan kepedihan hatinya. Ayub tidak berupaya menjaga citranya di hadapan para sahabatnya dengan mengatakan hal yang baik tentang Allah. Itu hanya akan membuatnya terlihat baik. Dan Ayub tak ingin berupaya terlihat baik di hadapan manusia.

Ayub bersikap terbuka karena dia tahu Allah Mahatahu. Dan itulah yang akan membuatnya terus mampu percaya diri di hadapan Allah.

Yoel M. Indrasmoro
Literatur Perkantas Nasional

Posted on Tinggalkan komentar

Alangkah Baiknya

(Ayb. 26:1-14)

”Alangkah baiknya bantuanmu kepada yang tidak kuat, dan pertolonganmu kepada lengan yang tidak berdaya! Alangkah baiknya nasihatmu kepada orang yang tidak mempunyai hikmat, dan pengertian yang kauajarkan dengan limpahnya! Atas anjuran siapakah engkau mengucapkan perkataan-perkataan itu, dan gagasan siapakah yang kaunyatakan?” (Ayb. 26:2-4).

Demikianlah jawaban Ayub kepada Bildad. Kelihatannya Ayub memang kesal terhadap sahabatnya ini. Sehingga dua kali menggunakan frasa ”alangkah baiknya”. Ya, alangkah baiknya jika ucapan Bildad itu ditujukan kepada orang yang tepat—orang yang tak berdaya dan tak mempunyai hikmat.

Dengan kata lain, Ayub hendak menyatakan bahwa nasihat itu tak ubahnya pepesan kosong baginya. Ayub jelas sudah tahu apa yang dikatakan Bildad. Tentu saja, ini bukan karena Ayub sok tahu, tetapi karena dia memang sungguh tahu.

Ayub mengakui bahwa tidak ada seorang pun yang dapat mengerti kebesaran Allah. Dia juga tidak. Ayub sendiri berupaya untuk memahami konsep keadilan Allah, juga kasih Allah. Kalau Allah itu adil dan kasih, mengapa semua bencana menimpa dirinya.

Apa yang kita bisa pelajari dari sini? Tampaknya kita pun perlu berhati-hati ketika memberikan nasihat. Pada kenyataannya setiap orang yang tertimpa bencana tentu dalam hati dan kepalanya penuh dengan pertanyaan mengapa. Mulanya tentu tak mudah menjawabnya. Seiring waktu, biasanya orang tersebut akan belajar untuk memahami apa yang terjadi. Dengan kata lain, dia sendiri sudah banyak merenung. Sehingga, kita perlu berhati-hati kala menemaninya. Kita harus berpikir dua atau tiga kali jika hendak memberi nasihat. Atau sebaiknya, tak perlu memberi nasihat, kecuali jika dia memintanya dari kita.

Yoel M. Indrasmoro
Literatur Perkantas Nasional

Posted on Tinggalkan komentar

Tidak Ada yang Benar

(Ayb. 25:1-6)

”Bagaimana manusia benar di hadapan Allah, dan bagaimana orang yang dilahirkan perempuan itu bersih? Sesungguhnya, bahkan bulan pun tidak terang dan bintang-bintang pun tidak cerah di mata-Nya. Lebih-lebih lagi manusia, yang adalah berenga, anak manusia, yang adalah ulat!” (Ayb. 25:4-6).

Jawaban Bildad kepada Ayub ada benarnya, namun tidak seluruhnya benar. Bildad dalam Alkitab Bahasa Indonesia Masa Kini berkata, ”Mungkinkah manusia suci di mata Allah? Mungkinkah ia murni pada pemandangan-Nya? Bagi Allah, bahkan bulan pun tidak terang, dan bintang dianggapnya suram. Apalagi manusia, si cacing, si serangga! Di mata Allah, ia sungguh tak berharga.”

Sekali lagi, jawaban Bildad ini benar, tetapi tidak seluruhnya benar. Memang tidak ada manusia yang benar di hadapan Allah. Namun, Bildad agaknya lupa bahwa Allah bisa menganggap manusia benar. Dan manusia pun, jika mau, dia bisa hidup benar di hadapan Allah dan manusia.

Salah satu bukti nyata adalah Ayub sendiri. Penulis Kitab Ayub memulai kitabnya dengan sebuah pernyataan: ”Ada seorang laki-laki di tanah Us bernama Ayub; orang itu saleh dan jujur; ia takut akan Allah dan menjauhi kejahatan” (Ayb. 1:1) Bahkan Allah sendiri pun memuji Ayub: ”Apakah engkau memperhatikan hamba-Ku Ayub? Sebab tiada seorang pun di bumi seperti dia, yang demikian saleh dan jujur, yang takut akan Allah dan menjauhi kejahatan” (Ayb. 1:8).

Memang benar, tidak ada yang suci di hadapan Allah. Namun, manusia—jika dia mau dan dengan kemampuan dari Allah, bisa hidup suci di hadapan Allah. Persoalannya, sering pada kemauan belaka.

Yoel M. Indrasmoro
Literatur Perkantas Nasional

Posted on Tinggalkan komentar

Kaum Kegelapan

(Ayb. 24:13-25)

”Ada lagi golongan yang memusuhi terang, yang tidak mengenal jalannya dan tidak tetap tinggal pada lintasannya. Pada parak siang bersiaplah si pembunuh, orang sengsara dan miskin dibunuhnya, dan waktu malam ia berlaku seperti pencuri. Orang yang berzinah menunggu senja, pikirnya: Jangan seorang pun melihat aku; lalu dikenakannya tudung muka. Di dalam gelap mereka membongkar rumah, pada siang hari mereka bersembunyi; mereka tidak kenal terang, karena kegelapan adalah pagi hari bagi mereka sekalian, dan mereka sudah biasa dengan kedahsyatan kegelapan” (Ayb. 24:13-17).

Ayub menjuluki mereka sebagai kaum yang memusuhi terang. Bukan sekadar tidak suka terang, tetapi memusuhinya. Alasannya sederhana: dalam kegelapanlah mereka merasa aman melalukan kejahatan. Pada hemat mereka di dalam gelap orang tidak akan tahu apa yang mereka lakukan. Mereka melakukan kejahatannya saat kegelapan mulai menyelimuti bumi. Kita boleh menyebutnya sebagai kaum kegelapan.

Meskipun mereka nyata-nyata melakukan segala kejahatannya pada malam hari atau saat gelap, Ayub merasa mereka pun tidak mendapatkan hukuman apa-apa. Tentu saja mereka mati sama seperti orang lain, dan orang tidak lagi mengingat dia. Namun, bukankah itu juga yang dialami orang pada umumnya? Dengan semua ini, Ayub hendak mengatakan bahwa Yang Mahatinggi agaknya acuh tak acuh terhadap kejahatan.

Bahkan, pada ayat 23, Ayub menyatakan: ”Allah memberinya keamanan yang menjadi sandarannya, dan mengawasi jalan-jalannya.” Ya, Allah digambarkan sebagai pelindung mereka. Tentu saja mereka semua akan binasa, tetapi tetap saja Ayub merasa tidak adil jika Allah tidak menghukum mereka selama tinggal di dunia. Kalau cuma mati mah, semua orang juga mati.

Yoel M. Indrasmoro
Literatur Perkantas Nasional

Posted on Tinggalkan komentar

Allah Tidak Mengindahkan Doa

(Ayb. 24:9-12)

”Ada yang merebut anak piatu dari susu ibunya dan menerima bayi orang miskin sebagai gadai. Dengan telanjang mereka berkeliaran, karena tidak ada pakaian, dan dengan kelaparan mereka memikul berkas-berkas gandum; di antara dua petak kebun mereka membuat minyak, mereka menginjak-injak tempat pengirikan sambil kehausan. Dari dalam kota terdengar rintihan orang-orang yang hampir mati dan jeritan orang-orang yang menderita luka, tetapi Allah tidak mengindahkan doa mereka.”

Allah tidak mengindahkan doa mereka. Demikianlah kesimpulan Ayub atas para korban tindak kejahatan. Ayub tampaknya sengaja memperlihatkan bagaimana orang kecil dan lemah memang sering menjadi korban. Menjadi korban karena si pelaku kejahatan agaknya yakin tak ada yang akan membela mereka. Dan karena itu mereka ditindas.

Yang menjadi perhatian Ayub bukanlah tindakan kejahatan itu sendiri. Sebenarnya di dunia manusia hal itu memang jamak terjadi. Ayub lebih fokus pada ketidakpedulian Allah. Mengapa Allah tidak mengindahkan doa orang-orang yang tertindas? Lalu di manakah keadilan Allah?

Namun, kelihatannya Ayub juga hendak bercerita kepada para sahabatnya bahwa ketidakpedulian Allah itu jugalah yang dialaminya. Sehingga tekanan sahabat-sahabat yang mempertanyakan kebersihan dan ketulusan hatinya sebenarnya juga tidak terlalu kuat. Pada titik ini sebenarnya lelaki dari tanah Us itu hendak mengatakan bahwa dia memang tidak bersalah kepada Allah sedikit pun.

Yoel M. Indrasmoro
Literatur Perkantas Nasional

Posted on Tinggalkan komentar

Mengapa

(Ayb. 24:1-8)

”Mengapa Yang Mahakuasa tidak mencadangkan masa penghukuman dan mereka yang mengenal Dia tidak melihat hari pengadilan-Nya? Ada orang yang menggeser batas tanah, yang merampas kawanan ternak, lalu menggembalakannya. Keledai kepunyaan yatim piatu dilarikannya, dan lembu betina kepunyaan seorang janda diterimanya sebagai gadai, orang miskin didorongnya dari jalan, orang sengsara di dalam negeri terpaksa bersembunyi semuanya” (Ayb. 24:1-4).

Di mata Ayub, Allah sepertinya tak lagi peduli dengan korban kejahatan dengan membiarkan pelaku kejahatan tanpa hukuman sama sekali. Semuanya berbicara soal kepemilikan: menggeser batas tanah, merampas hewan, mengambil keledai anak yatim piatu, juga lembu betina janda sebagai gadaian.

Lembu adalah alat kerja; menerima lembu sebagai gadaian berarti membuat janda tersebut tak lagi bisa bekerja. Apalagi, ini lembu betina, yang bisa menghasilkan susu, yang bisa dijual atau dikonsumsi sendiri. Dengan kata lain sumber penghasilan. Atau kalau dibiarkan beberapa tahun bisa jadi mempunyai keturunan sehingga bisa menambah pemasukan.

Bisa jadi Ayub sedang membandingkan nasibnya dengan janda dan anak yatim itu. Dan kesimpulannya adalah sama-sama tidak dipedulikan Allah. Kenyataan ini sebenarnya bisa menjadi penghiburan karena Ayub tidak sendirian. Namun, fokus Ayub mungkin lebih kepada para sahabatnya yang kelihatannya dibiarkan Allah untuk terus menekannya. Kenyataan bahwa mereka semua adalah sahabatnya yang membuat Ayub makin terpuruk.

Yoel M. Indrasmoro
Literatur Perkantas Nasional

Posted on Tinggalkan komentar

Allah Tidak Pernah Berubah

(Ayb. 23:13-17)

”Tetapi Ia tidak pernah berubah—siapa dapat menghalangi Dia? Apa yang dikehendaki-Nya, dilaksanakan-Nya juga. Karena Ia akan menyelesaikan apa yang ditetapkan atasku, dan banyak lagi hal yang serupa itu dimaksudkan-Nya” (Ayb. 23:13-14).

Demikianlah penghiburan manusia. Allah Sang Pencipta tak pernah berubah. Jika meminjam ungkapan pemazmur: ”Bahwasanya untuk selama-lamanya kasih setia-Nya!” Dalam Mazmur 118, ungkapan ”Bahwasanya untuk selama-lamanya kasih setia-Nya!” merupakan refrein, yang diulang hingga lima kali.

Kelihatannya memang sengaja diulang karena manusia sering lupa. Dan ketika mengulang kalimat itu, kita pun diajak menilainya dalam kenyataan hidup sehari-hari: Apakah kasih Allah itu memang abadi?

Itu jugalah yang dinyatakan Ayub. Dalam ketidakmengertian atas apa yang terjadi pada dirinya, Ayub menegaskan bahwa Allah tidak pernah berubah. Bahkan, dia menyatakan bahwa Allah sendiri yang akan menyelesaikan apa yang telah ditetapkan atas dirinya. Inilah iman.

Berkait iman, kita tahu penulis Surat kepada Orang Ibrani pernah memberikan definisi: ”Iman adalah dasar dari segala sesuatu yang kita harapkan dan bukti dari segala sesuatu yang tidak kita lihat” (Ibr. 11:1). Atau dalam Alkitab Bahasa Indonesia Masa Kini tertera: ”Beriman berarti yakin sungguh-sungguh akan hal-hal yang diharapkan, berarti mempunyai kepastian akan hal-hal yang tidak dilihat.”

Lalu apa dasarnya iman macam begini? Atau dari manakah iman semacam ini muncul? Kata-kata Ayub bisa kita jadikan dasar: Allah tidak pernah berubah. Dan tetap setia merupakan cara terampuh untuk mendapatkan bukti nyatanya.

Yoel M. Indrasmoro
Literatur Perkantas Nasional

Women raise their hands to ask for blessing from God.
Posted on Tinggalkan komentar

Kejujuran

(Ayb. 23:1-12)

”Sekarang ini keluh kesahku menjadi pemberontakan, tangan-Nya menekan aku, sehingga aku mengaduh. semoga aku tahu mendapatkan Dia, dan boleh datang ke tempat Ia bersemayam. Maka akan kupaparkan perkaraku di hadapan-Nya, dan kupenuhi mulutku dengan kata-kata pembelaan. Maka aku akan mengetahui jawaban-jawaban yang diberikan-Nya kepadaku dan aku akan mengerti, apa yang difirmankan-Nya kepadaku” (Ayb. 23:2-5).

Itulah yang diakui Ayub. Dia menyadari bahwa keluhannya selama ini akhirnya menjadi pemberontakan. Itu jugalah yang perlu kita perhatikan. Ketika keluhan terus keluar dari diri kita, dan tidak mendapatkan jawaban sebagaimana diharapkan, tanpa sadar keluhan itu berubah menjadi pemberontakan. Mengeluh tentu wajar. Namun, perlu dikelola dengan baik. Jika tidak, hati kita pun akan digerusnya, dan akhirnya membuat kita makin sakit hati.

Meski demikian, Ayub tak pernah putus harap. Dia berharap dapat menemui Allah. Dan dia ingin mengisi pertemuan itu dengan kata-kata pembelaan. Pertemuan muka dengan muka itulah yang diharapkan dapat membuatnya mengerti atas apa yang selama ini menimpanya.

Menarik disimak, Ayub percaya bahwa Allah pasti akan mendengarkan suaranya. Allah masih memperhatikannya. Dan alasan Ayub adalah, dalam ayat 7 dinyatakan, ”Orang jujurlah yang akan membela diri di hadapan-Nya, dan aku akan bebas dari Hakimku untuk selama-lamanya.”

Kejujuran. Itulah modal utama Ayub. Mungkin nada kalimat yang keluar dari mulut Ayub terasa seperti pemberontakan, namun semua itu berlandaskan hati yang jujur. Karena enggak ada yang perlu disembunyikan, Ayub bisa bersikap lepas-bebas di hadapan Allah.

Ya, kejujuran adalah modal utama manusia yang rindu hidup di hadapan Allah. Lagipula, mungkinkah kita tidak jujur di hadapan-Nya?

Yoel M. Indrasmoro
Literatur Perkantas Nasional

Posted on Tinggalkan komentar

Merendahkan Diri

(Ayb. 22:21-30)

”Apabila engkau bertobat kepada Yang Mahakuasa, dan merendahkan diri; apabila engkau menjauhkan kecurangan dari dalam kemahmu, membuang biji emas ke dalam debu, emas Ofir ke tengah batu-batu sungai, dan apabila Yang Mahakuasa menjadi timbunan emasmu, dan kekayaan perakmu, maka sungguh-sungguh engkau akan bersenang-senang karena Yang Mahakuasa, dan akan menengadah kepada Allah” (Ayb. 22:23-26).

Setelah tuduhan yang bertubi-tubi, Elifas pun mengajak Ayub untuk bertobat. Dalam pemandangan Elifas persoalan besar Ayub adalah terlalu sombong untuk mengakui kesalahan. Sehingga Elifas mengajak sahabatnya itu untuk merendahkan diri. Elifas percaya ketika Ayub bertobat dan merendahkan diri maka semua yang pernah dimilikinya akan kembali. Dalam Alkitab Bahasa Indonesia Masa Kini tertera: ”Kembalilah kepada TUHAN dengan rendah hati; kejahatan di rumahmu hendaknya kauakhiri.”

Menarik disimak, Elifas juga mengajak Ayub untuk membuang emas yang mungkin masih dimilikinya dan menjadikan Allah sebagai hartanya. Dalam Alkitab Bahasa Indonesia Masa Kini dinyatakan: ”Buanglah emasmu yang paling murni; lemparlah ke dasar sungai yang tidak berair lagi. Biarlah Yang Mahakuasa menjadi emasmu, dan perakmu yang sangat bermutu. Maka kau boleh percaya kepada Allah selalu, dan mengetahui bahwa Dia sumber bahagiamu.” Menurut Elifas, perlu sikap radikal dari Ayub agar hubungan antara dia dan Allah pulih kembali.

Namun—kelihatannya inilah yang dilupakan Elifas—setiap pertobatan haruslah ada alasannya. Pertobatan tanpa alasan mengapa bertobat tak ubahnya pencitraan diri. Pertobatan tanpa alasan hanya merendahkan nilai pertobatan itu sendiri. Dan alasan itulah yang tidak dimiliki Ayub.

Yoel M. Indrasmoro
Literatur Perkantas Nasional

Posted on Tinggalkan komentar

Tahu Apa Allah

(Ayb. 22:11-20)

”Bukankah Allah bersemayam di langit yang tinggi? Lihatlah bintang-bintang yang tertinggi, betapa tingginya! Tetapi pikirmu: Tahu apa Allah? Dapatkah Ia mengadili dari balik awan-awan yang gelap? Awan meliputi Dia, sehingga Ia tidak dapat melihat; Ia berjalan-jalan sepanjang lingkaran langit!” (Ayb. 22:12-14).

Demikianlah tuduhan Elifas terhadap Ayub. Pada pemandangan Elifas, Ayub meremehkan Allah. Bisa saja Elifas memang melupakan kenyataan bahwa sahabatnya itu pribadi yang saleh lagi jujur. Mungkin Elifas berpikir sama seperti Iblis bahwa apa yang diperbuat Ayub selama ini karena Allah telah membentenginya dengan kekayaan dan kesejahteraan. Sehingga ketika Allah mengambil semuanya itu, Ayub menyangkal Allah. Atau, bisa saja Ayub melakukan semua kebaikan itu sebagai pencitraan belaka.

Elifas melanjutkan dengan ayat 15-17: ”Apakah engkau mau tetap mengikuti jalan lama, yang dilalui orang-orang jahat, mereka yang telah direnggut sebelum saatnya, yang alasnya dihanyutkan sungai; mereka yang berkata kepada Allah: Pergilah dari pada kami! dan: Yang Mahakuasa dapat berbuat apa terhadap kami?” Dengan kalimat ini jelaslah bahwa di mata Elifas, Ayub itu jahat semata. Dan Elifas mengajak Ayub untuk bertobat, meninggalkan jalan lamanya.

Yang patut kita renungkan sekarang ini adalah bagaimanakah perasaan Ayub ketika mendengarkan tuduhan Elifas ini? Mungkin Ayub marah, bisa jadi dia sedih, yang pasti dia kecewa.

Yoel M. Indrasmoro
Literatur Perkantas Nasional

Posted on Tinggalkan komentar

Fakta atau Hoaks?

(Ayb. 22:1-10)

”Apakah manusia berguna bagi Allah? Tidak, orang yang berakal budi hanya berguna bagi dirinya sendiri. Apakah ada manfaatnya bagi Yang Mahakuasa, kalau engkau benar, atau keuntungannya, kalau engkau hidup saleh?” (Ayb. 22:2-3).

Pertanyaan Elifas kepada Ayub ini memperlihatkan betapa berbedanya antara Allah dan manusia. Yang satu pencipta, yang lain ciptaan. Yang satu mahakuasa, yang lain terbatas. Sebenarnya, kalau mau ditimbang dalam-dalam, manusia tiada gunanya bagi Allah. Apalagi, dengan bermodal kehendak bebas yang dikaruniakan Allah, manusia malah sering memberontak dan mengambil jalannya sendiri. Sehingga jika ditilik dari sudut pandang manusia hampir tak ada faedahnya Allah menciptakan manusia.

Bahkan, Elifas pun menyatakan, dalam Alkitab Bahasa Indonesia Masa Kini, ”Apakah ada faedahnya bagi Allah, jika engkau melakukan kehendak-Nya? Apakah ada untung bagi-Nya, jika hidupmu sempurna?” Berbuat baik saja tak ada manfaatnya bagi Allah, lebih-lebih jika manusia berbuat jahat.

Dari pembukaan itu, Elifas langsung menyatakan kejahatan Ayub dalam ayat 6-9: ”Karena dengan sewenang-wenang engkau menerima gadai dari saudara-saudaramu, dan merampas pakaian orang-orang yang melarat; orang yang kehausan tidak kauberi minum air, dan orang yang kelaparan tidak kauberi makan, tetapi orang yang kuat, dialah yang memiliki tanah, dan orang yang disegani, dialah yang mendudukinya. Janda-janda kausuruh pergi dengan tangan hampa, dan lengan yatim piatu kauremukkan.”

Pertanyaan yang layak kita, pembaca abad XXI, ajukan: pernyataan Elifas ini fakta atau hoaks? Jika fakta, tentu saja bertolak belakang dengan catatan penulis mengenai Ayub dalam pembukaan kitabnya: ”Ada seorang laki-laki di tanah Us bernama Ayub; orang itu saleh dan jujur; ia takut akan Allah dan menjauhi kejahatan.”

Jika hoaks, ngeri sekali tindakan Elifas ini. Demi membela pendapatnya sendiri—mengenai keadilan Allah bahwa orang baik diberkati dan orang jahat dihukum—ia tega membuat berita bohong tentang sahabatnya. Dan semoga kita tidak berada di jalan yang sama dengan Elifas.

Yoel M. Indrasmoro
Literatur Perkantas Nasional

Posted on Tinggalkan komentar

Hampa Hiburanmu

(Ayb. 21:27-34)

”Alangkah hampanya penghiburanmu bagiku! Semua jawabanmu hanyalah tipu daya belaka!” (Ayb. 21:34). Demikianlah kesimpulan Ayub terhadap semua penghiburan yang boleh diterima dari para sahabatnya. Tentulah, awalnya Ayub bahagia dengan kedatangan para sahabatnya. Mereka hadir. Duduk bersama-sama dengan dia. Tidak berkata apa-apa. Hanya diam selama tujuh hari tujuh malam.

Namun, ketika mereka mendengarkan keluh kesah Ayub, mereka mulai bicara. Dari nada menghibur, berubah menjadi menasihati, dan akhirnya malah menghakimi. Kenyataan itulah yang membuat Ayub marah dan menganggap semua penghiburan mereka kosong dan perkataan mereka bohong.

Berkait orang fasik, dalam ayat 31-33 Alkitab Bahasa Indonesia Masa Kini, Ayub berkata, ”Tak ada yang menggugat kelakuannya; tak ada yang membalas kejahatannya. Ia dibawa ke kuburan, dan dimasukkan ke dalam liang lahat; makamnya dijaga dan dirawat. Ribuan orang berjalan mengiringi jenazahnya; dengan lembut tanah pun menimbuninya.”

Pada kenyataannya, inilah yang terjadi dalam dunia manusia, tak ada yang mempersoalkan kejahatan orang fasik. Dunia secara umum memahami tindakan mereka sebagai hal yang lumrah. Bahkan, ketika kedapatan berbuat kejahatan, yang dipersalahkan bukanlah diri mereka, tetapi adanya kesempatan yang membuat mereka melakukan hal itu. Jadi, yang disalahkan strukturnya, dan bukan orangnya.

Itu jugalah yang terjadi pada masa kini. Banyak pendapat, tindak pidana korupsi terjadi karena kurangnya gaji. Dan karena itu, peningkatan gaji diyakini menjadi salah satu jalan keluar dalam upaya pemberantasan korupsi. Namun, sejarah membuktikan: gaji naik, namun korupsi makin membahana.

Yoel M. Indrasmoro
Literatur Perkantas Nasional

Posted on Tinggalkan komentar

Iri

(Ayb. 21:7-26)

”Mengapa orang fasik tetap hidup, menjadi tua, bahkan menjadi bertambah-tambah kuat? Keturunan mereka tetap bersama mereka, dan anak cucu diperhatikan mereka. Rumah-rumah mereka aman, tak ada ketakutan, pentung Allah tidak menimpa mereka. Lembu jantan mereka memacek dan tidak gagal, lembu betina mereka beranak dan tidak keguguran” (Ayb. 21:7-10).

Menarik disimak, pernyataan ini keluar dari mulut orang yang pernah berkata, ”TUHAN yang memberi, TUHAN yang mengambil, terpujilah nama TUHAN.” Tak hanya itu perkataan yang pernah keluar dari mulut Ayub berkait dengan prahara yang menimpanya. Dia sendiri pernah mengajari istrinya, ”Apakah kita mau menerima yang baik dari Allah, tetapi tidak mau menerima yang buruk?”

Sepertinya, setelah beberapa saat, Ayub sendiri mulai membanding-bandingkan dirinya dengan orang fasik. Ketika pikiran menelaah nasib diri, membandingkan diri dengan orang lain, rasa iri pun mulai menggerus hati, menguasai otak, yang bermuara pada tanya: ”Mengapa orang fasik lebih sejahtera?”

Pada titik ini Ayub merasakan ketidakadilan. Memang orang fasik akan binasa, tetapi dalam ayat 23-25, Ayub mengeluh, ”Yang seorang mati dengan masih penuh tenaga, dengan sangat tenang dan sentosa; pinggangnya gemuk oleh lemak, dan sumsum tulang-tulangnya masih segar. Yang lain mati dengan sakit hati, dengan tidak pernah merasakan kenikmatan.” Ya, Ayub merasa nasibnya sama seperti golongan orang kedua.

Yoel M. Indrasmoro
Literatur Perkantas Nasional

Posted on Tinggalkan komentar

Bersabarlah dengan Aku

(Ayb. 21:1-6)

”Dengarkanlah baik-baik perkataanku dan biarlah itu menjadi penghiburanmu. Bersabarlah dengan aku, aku akan berbicara; sehabis bicaraku bolehlah kamu mengejek” (Ayb. 21:2-3). Jelaslah dalam perkataan ini, Ayub memang hanya ingin didengar. Tidak lebih. Dan orang yang diharapkan meluangkan waktu dan hati untuk itu adalah para sahabatnya. Bukankah mereka sengaja datang untuk menemani Ayub? Itu artinya mereka sesungguhnya punya waktu dan ruang di hati mereka?

Hanya sayangnya, itulah yang tidak terjadi. Situasi dan kondisi Ayub membuat mereka curiga bahwa ada kesalahan yang disembunyikan Ayub selama ini. Dan karena itu, perasaan sebagai sahabat membuat mereka merasa perlu mendorong Ayub untuk mengakui kesalahannya. Dan itulah yang membuat penyakit Ayub meluas. Tak lagi sekadar sakit fisik, namun juga psikis karena tekanan para sahabatnya. Dan karena itu, Ayub memohon kesabaran para sahabatnya.

Menemani orang sakit memang butuh kesabaran ekstra. Sebab mereka lagi sakit. Suasananya memang sedang tidak normal, sehingga sikap dan tindakan sabar merupakan obat mujarab. Ketidaksabaran kita hanya akan membuat si sakit semakin sakit, dan akhirnya membuat kita juga ikut-ikutan sakit.

Mengapa kita mesti sabar? Pola pikir Ayub ini bisa menjadi alasan jitu: ”Kepada manusiakah keluhanku tertuju? Mengapa aku tidak boleh kesal hati?” Ya, keluhan Ayub memang bukan kepada manusia? Kalau dia kesal, bukankah Ayub sedang kesal terhadap Allah?

Persoalan para sahabat Ayub adalah sepertinya mereka hendak menjadi pembela Allah. Bisa jadi mereka hendak memperlihatkan bahwa mereka lebih saleh ketimbang Ayub. Dan ketika itu terjadi, kehadiran mereka hanya membuat Ayub tambah sakit.

Yoel M. Indrasmoro
Literatur Perkantas Nasional

Posted on Tinggalkan komentar

Ganjaran Orang Fasik

(Ayb. 20:12-29)

”Sungguhpun kejahatan manis rasanya di dalam mulutnya, sekalipun ia menyembunyikannya di bawah lidahnya, menikmatinya serta tidak melepaskannya, dan menahannya pada langit-langitnya, namun berubah juga makanannya di dalam perutnya, menjadi bisa ular tedung di dalamnya” (Ayb. 20:12-14). Zofar masih bicara soal nasib orang fasik. Semuanya memang tak menyenangkan.

Dalam Alkitab Bahasa Indonesia Masa Kini tertera: ”Alangkah manis kejahatan dalam mulutnya! Rasanya sayang untuk segera menelannya; sebab itu disimpannya di bawah lidahnya, supaya lama ia menikmatinya. Tapi makanan itu berubah di dalam perut, menjadi racun pahit pembawa maut.”

Kejahatan memang manis. Tak heran banyak orang merasa ketagihan melakukannya. Dan akhirnya memahaminya sebagai kebenaran. Namun, Zofar menyatakan bahwa semuanya bermuara dalam kebinasaan. Yang manis di mulut ternyata menjadi racun dalam perut. Itu sungguh menyakitkan.

Bahkan dalam ayat 18-19 dinyatakan: ”Ia harus mengembalikan apa yang diperolehnya dan tidak mengecapnya; ia tidak menikmati kekayaan hasil dagangnya. Karena ia telah menghancurkan orang miskin, dan meninggalkan mereka terlantar; ia merampas rumah yang tidak dibangunnya.” Dengan kata lain orang fasik tidak mampu menikmati kejahatan. Kalaupun sepertinya dapat menikmatinya, dalam hatinya selalu diliputi kekhawatiran karena sewaktu-waktu semua itu akan dirampas daripadanya. Itulah ganjaran Allah bagi orang fasik.

Apa yang dinyatakan Zofar memang benar. Namun, karena menyatakannya di hadapan Ayub sembari marah, Zofar secara tak langsung telah menghakimi Ayub. Di matanya Ayub termasuk golongan orang fasik. Buktinya adalah semua yang dimilikinya musnah sebagaimana ganjaran terhadap orang fasik.

Yoel M. Indrasmoro
Literatur Perkantas Nasional

Posted on Tinggalkan komentar

Sorak-sorai Orang Fasik

(Ayb. 20:1-11)

”Oleh sebab itulah pikiran-pikiranku mendorong aku menjawab, karena hatiku tidak sabar lagi. Kudengar teguran yang menghina aku, tetapi yang menjawab aku ialah akal budi yang tidak berpengertian” (Ayb. 20:2-3). Demikian kata-kata Zofar orang Naama. Dia merasa terhina. Dalam Alkitab Bahasa Indonesia Masa Kini tertera: ”Hai Ayub, aku merasa tersinggung olehmu, kini aku ingin segera memberi jawabanku. Kata-katamu itu sungguh menghina, tetapi aku tahu bagaimana menjawabnya.”

Pada hemat Zofar, Ayub asal bicara. Dan karena itulah kata-kata Zofar menjadi lebih keras. Dalam ayat 4-5, Zofar menegaskan: ”Belumkah engkau mengetahui semuanya itu sejak dahulu kala, sejak manusia ditempatkan di bumi, bahwa sorak-sorai orang fasik hanya sebentar saja, dan sukacita orang durhaka hanya sekejap mata?”

Ayub pasti tahu bahwa sorak-sorai orang jahat hanya sebentar. Keangkuhan orang jahat juga sekejap. Mereka akan hilang tanpa bekas. Binasa adalah muara bagi orang fasik. Namun, tampaknya Zofar sengaja mengatakannya karena dalam pandangan Zofar: Ayub telah bertindak jahat. Kejahatan Ayub adalah dia tidak merasa salah, berani menggugat Allah, dan hebatnya Ayub merasa bahwa Allah masih di pihaknya.

Kenyataan inilah yang tak dimengerti Zofar orang Naama. Bagaimana bisa Ayub yang begitu sombongnya menyatakan diri tiada salah, berani mendebat Allah dan merasa Allah telah menghukumnya tanpa alasan, namun bisa percaya bahwa Allah berada di pihaknya? Bagi Zofar inilah kejahatan sejahat-jahatnya. Ini sungguh di luar logika Zofar orang Naama.

Yoel M. Indrasmoro
Literatur Perkantas Nasional

Posted on Tinggalkan komentar

Penebusku Hidup

(Ayb. 19:23-27)

”Ah, kiranya perkataanku ditulis, dicatat dalam kitab, terpahat dengan besi pengukir dan timah pada gunung batu untuk selama-lamanya!” (Ayb. 19:23-24). Demikianlah harapan Ayub. Dia ingin keluhan, rintihan, dan gugatannya kepada Allah dicatat.

Kelihatannya Ayub memahami bahwa pencatatan merupakan hal penting. Pencatatan akan membuat dia terus ingat. Bagaimanapun tulisan yang buram bertahan lebih lama ketimbang pikiran yang tajam. Manusia memang mudah lupa. Dan karena itu perlu ditulis.

Tampaknya Ayub juga meyakini bahwa tulisan—entah di atas kulit, kertas, juga batu—akan membuat manusia terus belajar. Dan tampaknya Ayub ingin belajar dari apa yang menimpa dirinya. Dan Ayub tidak ingin menyembunyikan kepahitan yang menimpa dirinya. Kemungkinan besar karena Ayub percaya bahwa apa yang terjadi pada dirinya suatu waktu akan berakhir.

Selanjutnya, Ayub tegas berkata, ”Tetapi aku tahu: Penebusku hidup, dan akhirnya Ia akan bangkit di atas debu. Juga sesudah kulit tubuhku sangat rusak, tanpa dagingku pun aku akan melihat Allah, yang aku sendiri akan melihat memihak kepadaku; mataku sendiri menyaksikan-Nya dan bukan orang lain. Hati sanubariku merana karena rindu” (Ayb. 19:25-27).

Itulah yang diimani Ayub. Allah akan menebusnya. Allah di surga akan turun tangan untuk membelanya. Meski dengan tubuh yang sudah rusak, Ayub percaya bahwa dia akan melihat Allah memihak dirinya. Ayub percaya suatu saat Allah akan menolongnya. Ini memang cuma perkara waktu. Dan karena itu bertahan dalam penderitaan merupakan hal logis.

Yoel M. Indrasmoro
Literatur Perkantas Nasional

Posted on Tinggalkan komentar

Kasihanilah Aku

(Ayb. 19:21-22)

”Kasihanilah aku, kasihanilah aku, hai sahabat-sahabatku, karena tangan Allah telah menimpa aku. Mengapa kamu mengejar aku, seakan-akan Allah, dan tidak menjadi kenyang makan dagingku?”

Menarik disimak, di tengah kekecewaan Ayub kepada para sahabatnya, terungkap permohonan: ”Kasihanilah aku, kasihanilah aku, hai sahabat-sahabatku….” Dengan demikian, jelaslah bahwa Ayub masih merasakan perlunya belas kasihan dari para sahabatnya.

Apa arti semuanya ini? Sepertinya Ayub memohon agar para sahabatnya lebih maklum dengan dirinya. Ayub berharap para sahabatnya itu tidak bertindak seperti Allah. Dia sungguh ingin para sahabatnya bersikap lebih manusiawi terhadap dirinya.

Berkait dengan Allah, Ayub percaya bahwa tak ada manusia yang bisa bertahan di hadapan-Nya. Bagaimanapun Allah Mahakuasa, sedangkan manusia tidak; Allah itu Suci, sedangkan manusia itu cemar; dan Allah itu Tak Terbatas, sedangkan manusia itu terbatas. Dengan kata lain, Allah itu Mutlak.

Nah, pada titik ini, Ayub memohon pengertian para sahabatnya, sehingga mereka tidak menilai dirinya seperti Allah menilai dirinya. Dia sungguh ingin para sahabatnya lebih fleksibel karena toh mereka sama seperti dirinya juga manusia yang pasti punya salah.

Hanya, ini mungkin persoalannya di bumi manusia, kadang manusia malah bisa lebih tegas ketimbang Allah dan bertindak sebagai hakim terhadap sesamanya. Mungkin dengan itu dia merasa mendapat kesempatan untuk menempatkan dirinya lebih tinggi dari orang lain. Ya, kadang manusia memang lebih suka memandang dirinya lebih dari manusia lain.

Yoel M. Indrasmoro
Literatur Perkantas Nasional

Posted on Tinggalkan komentar

Dijauhkan-Nya dari Padaku

(Ayb. 19:13-20)

”Saudara-saudaraku dijauhkan-Nya dari padaku, dan kenalan-kenalanku tidak lagi mengenal aku. Kaum kerabatku menghindar, dan kawan-kawanku melupakan aku” (Ayb. 19:13-14). Saudara-saudara Ayub menghindari Ayub, juga kenalan-kenalannya. Dan Ayub merasa Allah adalah dalang semuanya itu.

Bisa saja kita menganggap Ayub sudah kebangetan. Namun, janganlah kita lupa bagaimana hubungan Ayub dengan Allah. Allah sendiri memuji dan memberikan jempol buat Ayub. Dua kali Allah berkata kepada Iblis, ”Apakah engkau memperhatikan hamba-Ku Ayub? Sebab tiada seorang pun di bumi seperti dia, yang demikian saleh dan jujur, yang takut akan Allah dan menjauhi kejahatan” (Ayb. 1:8; 2:3). Hubungan Allah dan Ayub begitu dekat. Sehingga, kita boleh menyimpulkan perkataan Ayub ini juga sebagai curhat kepada Allah.

Mungkin kita menganggap Ayub terlalu berani berkata-kata, tetapi kita juga bisa menilainya sebagai suatu bentuk kejujuran. Dalam hal ini Ayub jujur. Lagi pula Ayub sungguh percaya bahwa Allah sungguh mahakuasa, tak ada sesuatu terjadi di luar izin-Nya. Sehingga Ayub pun berkesimpulan bahwa Allah telah menjauhkan dia dari semua kerabat, juga sahabat.

Tak hanya itu. Ayub bicara soal budak yang tak menghargainya, istri yang jijik melihat penyakitnya, juga kanak-kanak yang menghinanya. Kita—pembaca abad XXI—tentu saja tidak tahu apakah semua itu benar-benar terjadi. Namun, kita bisa meyakini bahwa semua ini merupakan curhat Ayub kepada Allahnya. Curhat seorang hamba yang merasa ditinggalkan tuan, yang sungguh dikasihinya.

Yoel M. Indrasmoro
Literatur Perkantas Nasional

Posted on Tinggalkan komentar

Tidak Ada Jawaban

(Ayb. 19:7-12)

”Sesungguhnya, aku berteriak: Kelaliman!, tetapi tidak ada yang menjawab. Aku berseru minta tolong, tetapi tidak ada keadilan. Jalanku ditutup-Nya dengan tembok, sehingga aku tidak dapat melewatinya, dan jalan-jalanku itu dibuat-Nya gelap” (Ayb. 19:7-8).Inilah yang Ayub rasakan. Tak ada yang memperhatikan keluhannya dan mendengarkan teriakannya.

Dalam Alkitab Bahasa Indonesia Masa Kini tertera: ”Aku meronta karena kekejaman-Nya itu, tetapi tidak seorang pun yang memperhatikan aku. ’Di mana keadilan,’ teriakku, tetapi tak ada yang mendengar aku. Allah menutup jalanku, aku tak dapat lewat, lorong-lorongku dibuat-Nya gelap pekat.”

Ayub tegas menyatakan bahwa Allah bertanggung jawab atas apa yang menimpa dirinya. Ayub pasti memahami bahwa tak ada sesuatu pun terjadi di dunia ini tanpa izin Allah. Allah itu Mahakuasa. Sehingga dia dengan penuh percaya diri mengatakan bahwa Allah telah menutup jalannya dan membuat jalannya menjadi gelap.

Yang sungguh menyakitkan bagi Ayub adalah sepertinya Allah membiarkannya sendirian. Buktinya—tentu ini dalam pandangan Ayub—Allah tidak menjawab teriakannya. Allah sepertinya juga diam ketika para sahabat sibuk mendakwa Ayub. Dan akhirnya Ayub pun merintih dalam ayat 11-12: ”Murka-Nya menyala terhadap aku, dan menganggap aku sebagai lawan-Nya. Pasukan-Nya maju serentak, mereka merintangi jalan melawan aku, lalu mengepung kemahku.”

Ya, itulah rintihan Ayub. Rintihan karena tak ada jawaban Allah baginya.

Yoel M. Indrasmoro
Literatur Perkantas Nasional

Posted on Tinggalkan komentar

Perkataan yang Meremukkan

(Ayb. 19:1-6)

”Berapa lama lagi kamu menyakitkan hatiku, dan meremukkan aku dengan perkataan? Sekarang telah sepuluh kali kamu menghina
aku, kamu tidak malu menyiksa aku” (Ayb. 19:2-3).

Demikianlah balasan Ayub kepada Bildad orang Suah. Ayub mengakui bahwa kata-kata Bildad itu menyakiti hatinya dan meremukkan dirinya. Dan tak cuma sekali, dalam Alkitab Bahasa Indonesia Masa Kini, ”berkali-kali”. Dan ini yang membuat Ayub heran, mengapa mereka merasa benar dan tidak merasa malu melakukan semuanya itu.

Padahal, inilah pola pikir Ayub dalam ayat 4 Alkitab Bahasa Indonesia masa Kini, ”Seandainya salah perbuatanku, itu tidak merugikan kamu.” Ya, seandainya Ayub memang salah, para sahabatnya itu tidak mengalami kerugian sedikit pun. Hanya ini yang tidak dipahami Ayub, mengapa para sahabatnya sepertinya malah menerornya.

Sejatinya, menegur itu merupakan tindakan yang baik. Itu juga salah satu tanda kepedulian kita. Namun, ya jangan ditegur berkali-kali untuk persoalan yang sama. Itu hanya akan membuat yang ditegur merasa dihakimi. Dan kalau sudah demikian, sering kali, teguran tak lagi fokus pada persoalan, malah bisa merembet ke mana-mana.

Selanjutnya, dalam ayat 5-6 Ayub menegaskan, bisa jadi karena ditegur berkali-kali, ”Jika kamu sungguh hendak membesarkan diri terhadap aku, dan membuat celaku sebagai bukti terhadap diriku, insafilah, bahwa Allah telah berlaku tidak adil terhadap aku, dan menebarkan jala-Nya atasku.”

Itulah yang dirasakan Ayub. Dia merasa diperlakukan tidak adil oleh Allah. Dan Ayub ingin para sahabatnya juga merasakan hal yang sama.

Yoel M. Indrasmoro
Literatur Perkantas Nasional

Posted on Tinggalkan komentar

Orang Fasik Pasti Binasa

(Ayb. 18:1-21)

”Bagaimanapun juga terang orang fasik tentu padam, dan nyala apinya tidak tetap bersinar. Terang di dalam kemahnya menjadi gelap, dan pelita di atasnya padam. Langkahnya yang kuat terhambat, dan pertimbangannya sendiri menjatuhkan dia. Karena kakinya sendiri menyangkutkan dia dalam jaring, dan di atas tutup pelubang ia berjalan” (Ayb. 18:5-8).

Demikianlah kesimpulan Bildad orang Suah. Dan itu benar. Keadilan Allah tak mungkin membiarkan orang fasik tetap bertahan.

Menarik disimak, bagaimana Bildad menghubungkan keberadaan orang fasik dengan terang. Manusia normal sesungguhnya adalah makhluk terang. Dia hanya dapat hidup dalam terang. Terang membuat manusia dapat melakukan segala sesuatu dengan baik. Tanpa terang, manusia hanya bisa meraba-raba; dan semuanya serbagamang dan tak pasti. Dan kegelapan itu menakutkan.

Bildad juga menyatakan bahwa kaki yang kuat serta pertimbangan yang matang hanya bermuara pada kejatuhan orang fasik. Bahkan, kakinya sendiri tak lagi bisa dipercaya.

Sekali lagi, apa yang dinyatakan Bildad memang benar. Namun, dengan mengatakan hal tersebut di depan Ayub, Bildad secara tidak langsung menyatakan bahwa orang fasik itu adalah Ayub sendiri.

Bahkan, dalam ayat 12-13 Alkitab Bahasa Indonesia Masa Kini, Bildad menyatakan: ”Dahulu ia kuat, kini ia merana; bencana menemaninya di mana-mana. Kulitnya dimakan penyakit parah; lengan dan kakinya busuk bernanah.” Gambaran ini mirip sekali dengan apa yang terjadi pada diri Ayub. Bencana datang bertubi-tubi dan tubuh pun dihinggapi borok dari telapak kaki hingga kepala.

Mengapa Bildad sampai pada sikap demikian? Bisa jadi karena dia marah menyaksikan keteguhan hati Ayub yang terus menyatakan diri tanpa salah. Keteguhan hati Ayub dilihatnya sebagai kesombongan. Dan kesombongan adalah ciri khas orang fasik.

Yoel M. Indrasmoro
Literatur Perkantas Nasional

Posted on Tinggalkan komentar

Harapan

(Ayb. 17:11-16)

”Apabila aku mengharapkan dunia orang mati sebagai rumahku, menyediakan tempat tidurku di dalam kegelapan, dan berkata kepada liang kubur: Engkau ayahku, kepada berenga: Ibuku dan saudara perempuanku, maka di manakah harapanku? Siapakah yang melihat adanya harapan bagiku?” (Ayb. 17:13-15).

Dalam pemahaman Ayub, tak ada lagi harapan baginya. Dia menyebut liang kubur sebagai ayahnya dan menyebut cacing pemakan tubuh sebagai ibunya. Orang tuanya adalah kesia-siaan. Beratnya penderitaan membuat Ayub merasa hidupnya seperti sedang menunggu mati saja.

Mirip dengan Ayub, Chairil Anwar, dalam puisinya ”Derai-derai Cemara” pernah menulis: ”Hidup hanya menunda kekalahan/tambah terasing dari cinta sekolah rendah/dan tahu, ada yang tetap tidak terucapkan/sebelum pada akhirnya kita menyerah.

Meski banyak orang menganggap torehan pena Chairil itu merupakan puisi percintaan, namun sedikit banyak menyinggung soal makna hidup. Tampaknya Chairil memahami bahwa hidup memang kekalahan yang tertunda, sebelum akhirnya kalah dalam kematian.

Keduanya, baik Ayub maupun Chairil Anwar, bicara soal pedihnya hidup. Dan kepedihan hidup bisa membuat orang frustrasi karena merasa tiada harapan. Hanya yang kadang dilupakan, juga oleh kita, adalah kenyataan bahwa kita masih hidup. Dan hidup berarti harapan.

Pertanyaan Ayub—di manakah harapanku?—sejatinya memperlihatkan bahwa harapan itu ada. Jika kita merasa tak memilikinya, mari kita mencarinya.

Yoel M. Indrasmoro
Literatur Perkantas Nasional

Posted on Tinggalkan komentar

Saksiku Ada di Sorga

(Ayb. 16:18–17:10)

”Hai bumi, janganlah menutupi darahku, dan janganlah kiranya teriakku mendapat tempat perhentian! Ketahuilah, sekarang pun juga, Saksiku ada di sorga, Yang memberi kesaksian bagiku ada di tempat yang tinggi. Sekalipun aku dicemoohkan oleh sahabat-sahabatku, namun ke arah Allah mataku menengadah sambil menangis, supaya Ia memutuskan perkara antara manusia dengan Allah, dan antara manusia dengan sesamanya” (Ayb. 16:18-21).

Demikianlah pengakuan Ayub. Dengan lantang dia berteriak kepada bumi, ”Hai bumi, kejahatan terhadapku jangan sembunyikan; jangan diamkan teriakku minta keadilan” (Alkitab Bahasa Indonesia Masa Kini). Permintaan laki-laki dari Tanah Us itu sederhana: dia ingin orang memperhatikan kejahatan yang menimpanya. Dan kejahatan itu berasal dari para sahabatnya sendiri yang memaksanya mengakui kesalahannya.

Menariknya, Ayub menjadikan Allah sebagai Saksi. Allah memang mahatahu. Dan kemahatahuan Allah itulah yang menjadi alasan Ayub. Sehingga, meski banyak orang tak memercayainya, Ayub merasa tak perlu minder, apalagi takut, karena dia punya Saksi.

Manusia bisa meragukan perkataannya. Itu merupakan hal yang wajar karena tak ada manusia yang mengetahui pikiran dan hati orang lain. Namun, tak ada keraguan dalam diri Allah. Sebab tak ada yang tersembunyi di hadapan-Nya. Semua serbaterbuka.

Oleh karena itu, pada ayat 3-4 Alkitab Bahasa Indonesia Masa Kini, Ayub memohon kepada Allah, ”Biarlah Engkau menjadi jaminanku bagi-Mu sendiri! Siapa lagi yang dapat membuat persetujuan bagiku? Karena hati mereka telah Kaukatupkan bagi pengertian; itulah sebabnya Engkau mencegah mereka untuk menang.”

Ayub meminta Allah menjadi Penjaminnya. Sebab jaminan-Nya itu kekal sifatnya.

Yoel M. Indrasmoro
Literatur Perkantas Nasional

Posted on Tinggalkan komentar

Aku Lelah

(Ayb. 16:7-17)

”Tetapi sekarang, Ia telah membuat aku lelah dan mencerai-beraikan segenap rumah tanggaku, sudah menangkap aku; inilah yang menjadi saksi; kekurusanku telah bangkit menuduh aku. Murka-Nya menerkam dan memusuhi aku, Ia menggertakkan giginya terhadap aku; lawanku memandang aku dengan mata yang berapi-api” (Ayb.16:2-3).

Itulah yang dipahami Ayub. Dia memang tidak tahu bahwa Iblis berperan besar dalam prahara yang menimpanya. Namun, karena dia memahami bahwa Allah mahakuasa dan membiarkan bencana menimpanya, Ayub menegaskan bahwa Yang Mahatinggi telah membuatnya lelah.

Ayub merasa lelah. Lelah menanggung bencana yang datang bertubi-tubi: harta musnah, anak hilang, istri yang menyindir karena ketiadaan pemahaman, plus sahabat yang memaksa dia untuk mengakui kesalahan yang tidak pernah dibuatnya.

Mungkin karena punya banyak pengetahuan tentang Allah, para sahabat itu mengambil langkah berbeda dibandingkan istri Ayub. Istri Ayub sekali bicara langsung diam ketika Ayub menegurnya. Para sahabatnya, mungkin karena lebih dari satu, tak langsung diam, tetapi malah bergantian menghujani Ayub dengan nasihat. Mungkin para sahabatnya itulah yang disebut Ayub sebagai lawan yang memandang dia dengan mata yang berapi-api.

Namun demikian, Ayub tetap pada pendiriannya. Dalam ayat 15-17, Ayub menyatakan: ”Kain kabung telah kujahit pada kulitku, dan tandukku kumasukkan ke dalam debu; mukaku merah karena menangis, dan bulu mataku ditudungi kelam pekat, sungguhpun tidak ada kelaliman pada tanganku, dan doaku bersih.”

Ya, Ayub tetap menyatakan tak ada kejahatan yang diperbuatnya dan doanya pun bersih.

Yoel M. Indrasmoro
Literatur Perkantas Nasional

Posted on Tinggalkan komentar

Penghibur Sialan

(Ayb. 16:1-6)

”Hal seperti itu telah acap kali kudengar. Penghibur sialan kamu semua! Belum habiskah omong kosong itu? Apa yang merangsang engkau untuk menyanggah?” (Ayb.16:2-3). Ayub kembali tak bisa menahan dirinya. Dengan marah dia menyebut para sahabatnya itu penghibur sialan.

Mari kita perhatikan kembali para sahabat Ayub itu! Mulanya mereka datang untuk menghibur Ayub. Selama tujuh hari tujuh malam mereka duduk bersama-sama dengan Ayub. Dan selama seminggu itu mereka juga tidak mengucapkan apa pun. Mereka hanya duduk bersama dengan Ayub, mencoba merasakan penderitaan Ayub. Tanpa kata, dalam peristiwa seperti Ayub, adalah penghiburan sesungguhnya.

Akan tetapi, para sahabatnya itu agaknya tak bisa menahan diri mereka ketika mereka mendengarkan keluh kesah Ayub. Mereka menganggap tindakan itu bukanlah hal yang patut diperbuat oleh orang sekaliber Ayub. Karena itulah mereka mencoba menasihati Ayub. Dan Ayub tak bisa menerima nasihat itu karena dia memang merasa tak ada yang salah dalam dirinya. Nah, ketidakbersalahan itulah yang membuat para sahabat itu makin menekan Ayub. Yang berpuncak pada kemarahan Ayub dalam frasa ”penghibur sialan”.

Dalam ayat 4-5 Alkitab Bahasa Indonesia Masa Kini, Ayub berkata: ”Seandainya kamu ini aku, dan aku kamu, aku pun dapat bicara sama seperti itu. Kubanjiri kamu dengan penuturan; kepalaku akan kugeleng-gelengkan. Hatimu akan kukuatkan dengan berbagai anjuran; kata-kataku akan memberi penghiburan.”

Ya, memang mudah berkata-kata. Namun, kata-kata memang tidak mengurangi, malah menambah, penderitaan. Dan itulah yang dirasakan Ayub. Bahkan Ayub mengakui bahwa kata-kata yang keluar dari bibirnya memang tidak membuat penderitaannya menjadi ringan, tetapi berdiam diri juga tak ada gunanya.

Sekali lagi, berkait dengan penderitaan hidup, berdiam diri adalah tindakan bijak. Dalam diam kita mungkin akan lebih mampu mendengar diri kita sendiri, juga suara Allah. Itulah penghiburan sesungguhnya.

Yoel M. Indrasmoro
Literatur Perkantas Nasional

Posted on Tinggalkan komentar

Orang Fasik Menggeletar

(Ayb. 15:17-35)

”Orang fasik menggeletar sepanjang hidupnya, demikian juga orang lalim selama tahun-tahun yang disediakan baginya. Bunyi yang dahsyat sampai ke telinganya, pada masa damai ia didatangi perusak?” (Ayb. 15:20-21).

Demikianlah gambaran hidup orang fasik menurut Elifas. Orang jahat akan merasa cemas sepanjang hidupnya dan perampok akan mendatanginya pada saat aman. Apa yang dikatakan Elifas memang tidak salah, namun perkataan itu bisa diartikan Ayub sebagai gambaran atas diri dan penderitaannya. Dengan kata lain Elifas menganggap Ayub sebagai orang fasik.

Apalagi, menurut Elifas, orang fasik mengalami semuanya itu ”karena ia telah mengedangkan tangannya melawan Allah dan berani menantang Yang Mahakuasa; dengan bertegang leher ia berlari-lari menghadapi Dia, dengan perisainya yang berlapis tebal” (Ayb. 15:25-26). Selintas kita—para pembaca masa kini—bisa langsung menduga bahwa Elifas memang sedang menyindir Ayub. Ya, siapa lagi yang berani mengedangkan tangannya melawan dan berani menentang Allah? Bukankah itu yang dilakukan Ayub?

Sebenarnya, tentu hanya kita—pembaca masa kini—yang bisa menyimpulkan, keberanian Ayub terhadap Allah itu berbeda dengan keberanian orang fasik. Keberanian Ayub itu bukanlah karena ia hendak melawan Allah, tetapi karena ia percaya bahwa Allah itu Mahakuasa dan Mahakasih. Ayub berani bersitegang urat leher di hadapan Allah karena ia tahu Allah mengetahui bahwa ia benar. Jadi, tindakan Ayub bukanlah tanpa dasar. Dia bersikap seperti itu karena percaya Allah sungguh adil dan mengasihinya.

Yoel M. Indrasmoro
Literatur Perkantas Nasional

Posted on Tinggalkan komentar

Kritikan Elifas

(Ayb. 15:1-16)

”Apakah orang yang mempunyai hikmat menjawab dengan pengetahuan kosong, dan mengisi pikirannya dengan angin? Apakah ia menegur dengan percakapan yang tidak berguna, dan dengan perkataan yang tidak berfaedah?” (Ayb. 15:2-3).

Sekali lagi, Elifas mengkritik Ayub. Di mata Elifas, perkataan Ayub hanyalah pepesan kosong. Bahkan, dengan perkataannya itu Ayub telah membuat orang tidak takut lagi, bahkan tidak takut lagi, kepada Allah. Kepercayaan diri Ayub membuat Elifas semakin yakin bahwa Ayub memang bersalah. Dalam ayat 6, Elifas menegaskan: ”Mulutmu sendirilah yang mempersalahkan engkau, bukan aku; bibirmu sendiri menjadi saksi menentang engkau.”

Selanjutnya Elifas menyataka bahwa tidak ada alasan bagi Ayub untuk menganggap dirinya benar dan berhikmat. Dalam ayat 7-10 Alkitab Bahasa Indonesia Masa Kini tertera: ”Kaukira engkau manusia pertama yang dilahirkan? Hadirkah engkau ketika gunung-gunung diciptakan? Apakah kau mendengar Allah membuat rencana-Nya? Apakah hanya engkau yang mempunyai hikmat manusia? Segala yang kauketahui, kami pun ketahui; segala yang kaufahami, jelas pula bagi kami. Hikmat ini kami terima dari orang yang beruban; mereka sudah ada sebelum ayahmu dilahirkan!”

Maksud Elifas dengan semuanya itu jelas: sikap dan perbuatan Ayub tak layak dibenarkan. Dengan gaya bahasa retorik, dalam ayat 14, Elifas berkata, ”Masakan manusia bersih, masakan benar yang lahir dari perempuan?” Jawabannya pasti tidak ada. Dan dengan demikain, Elifas hendak menyatakan bahwa semua pembelaan diri Ayub sungguh tak masuk akal.

Yoel M. Indrasmoro
Literatur Perkantas Nasional

Posted on Tinggalkan komentar

Beda Pohon dan Manusia

(Ayb. 14:7-22)

”Karena bagi pohon masih ada harapan: apabila ditebang, ia bertunas kembali, dan tunasnya tidak berhenti tumbuh. Apabila akarnya menjadi tua di dalam tanah, dan tunggulnya mati di dalam debu, maka bersemilah ia, setelah diciumnya air, dan dikeluarkannyalah ranting seperti semai” (Ayb. 14:7-9).

Demikianlah Ayub memperlihatkan betapa bedanya kematian sebatang pohon dan manusia. Pohon ditebang belum tentu mati, dia masih bisa normal. Tinggal menunggu waktu dan sikon yang baik. Sedangkan manusia sungguh berbeda.

Dalam ayat 10-12 Alkitab Bahasa Indonesia Masa Kini tertera: ”Tapi bila manusia mati, habis riwayatnya; ia meninggal dunia, lalu ke mana perginya? Seperti air menguap dari dalam telaga, seperti sungai surut sampai habis airnya, begitu pula manusia yang telah mati: ia tidak akan dapat bangkit kembali. Ia tak akan terjaga selama langit masih ada, tak pernah lagi bangun dari tidurnya.”

Pohon mati, masih ada di bumi; manusia mati, raib dari dunia orang hidup. Dia tidak ada lagi. Karena itu, ini hal baik yang kita bisa simak dari Ayub: ”Maka aku akan menaruh harap selama hari-hari pergumulanku, sampai tiba giliranku; maka Engkau akan memanggil, dan aku pun akan menyahut; Engkau akan rindu kepada buatan tangan-Mu” (Ayb. 14:14-15).

Dalam pergumulannya, Ayub masih berharap. Dia percaya Allah tidak akan memperhatikan dosanya. Dengan perkataan lain, di dalam hati kecilnya Ayub percaya bahwa Allah itu baik, lagi adil.

Yoel M. Indrasmoro
Literatur Perkantas Nasional

Posted on Tinggalkan komentar

Seperti Bunga

(A buyb. 14:1-6)

”Manusia yang lahir dari perempuan, singkat umurnya dan penuh kegelisahan. Seperti bunga ia berkembang, lalu layu, seperti bayang-bayang ia hilang lenyap dan tidak dapat bertahan” (Ayb. 14:1-2). Penderitaan membuat Ayub merasa bahwa hidupnya sungguh tak berarti. Dia pun menggeneralisasi dan membesar-besarkan kesulitan hidup.

Dalam Alkitab Bahasa Indonesia Masa Kini tertera: ”Manusia yang lahir dari perempuan, singkat umurnya dan penuh kegelisahan. Seperti bunga ia berkembang, lalu layu, seperti bayang-bayang ia hilang lenyap dan tidak dapat bertahan.” Ya, dibandingkan dengan keabadian Allah, jelaslah bahwa hidup manusia di dunia itu seperti bunga: cuma sebentar. Dan hidup yang sebentar itu pun dipenuhi oleh rasa khawatir.

Yang dilupakan Ayub—juga manusia pada umumnya—meski masa hidup bunga singkat, namun masih ada artinya. Setidaknya bunga itu masih berarti banyak bagi kehidupan serangga. Nektar bunga tersebut berguna bagi kehidupan lebah dan menjadi bahan utama pembuatan madu, yang akhirnya dikonsumsi manusia.

Meskipun demikian, kita tentu maklum jika Ayub membesar-besarkan kefanaan manusia. Penderitaan yang bertubi-tubi itu membuat dia merasa tak mungkin lagi menikmati hari-harinya. Sehingga dia memohon kepada Allah dalam ayat 6 Alkitab Bahasa Indonesia Masa Kini: ”Biarkanlah ia beristirahat, jangan ganggu dia; supaya ia dapat menikmati hidupnya sampai selesai tugasnya.” Ya, Ayub ingin sejenak menikmati hari-harinya

Yoel M. Indrasmoro
Literatur Perkantas Nasional

Posted on Tinggalkan komentar

Aku Yakin Aku Benar

(Ayb. 13:17-28)

”Dengarkanlah baik-baik perkataanku, perhatikanlah keteranganku. Ketahuilah, aku menyiapkan perkaraku, aku yakin, bahwa aku benar” (Ayb. 13:17-18). Dengan penuh percaya diri Ayub berbicara kepada para sahabatnya. Dia memang pribadi yang berani. keberanian itu muncul karena dia begitu mengenal dirinya sendiri dan juga percaya bahwa Allah juga mengenal dirinya. Jelaslah, sepertinya tidak ada yang disembunyikan Ayub. Semua serbatransparan.

Namun, Ayub juga menyadari kemahakuasaan Allah. Dalam ayat 19-21 Alkitab Bahasa Indonesia Masa Kini, dia memohon: ”TUHAN, jika Engkau datang dan menuduh aku, aku akan diam dan menunggu ajalku. Tapi kabulkanlah dua permohonanku ini, supaya aku berani menghadap-Mu lagi: berhentilah menyiksa aku, dan janganlah Kautimpa aku dengan kedahsyatan-Mu!”

Meski yakin tak bersalah, Ayub tahu tak ada yang bisa dilakukannya jika Allah telah memberikan keputusan-Nya. Di hadapan kemahakuasaan Allah, manusia hanya bisa diam. Namun demikian, Ayub juga berharap bahwa Allah mengangkat penderitaan itu dari tubuhnya. Sepertinya Ayub juga paham bahwa Allah masih mengasihinya. Kasih Allah itulah yang memampukan dia untuk memohon.

Bahkan kasih Allah itu jugalah yang membuat Ayub dengan percaya diri bertanya, ”Berapa besar kesalahan dan dosaku? Beritahukanlah kepadaku pelanggaran dan dosaku itu. Mengapa Engkau menyembunyikan wajah-Mu, dan menganggap aku sebagai musuh-Mu? Apakah Engkau hendak menggentarkan daun yang ditiupkan angin, dan mengejar jerami yang kering?” (Ayb. 13:23-25).

Semua pertanyaan itu muncul karena Ayub percaya bahwa kasih Allah lebih besar dari murka-Nya. Dan kepercayaan itulah yang membuat para sahabatnya makin tak menyukainya.

Yoel M. Indrasmoro
Literatur Perkantas Nasional

Posted on Tinggalkan komentar

Beperkara dengan Allah

(Ayb. 13:7-16)

”Sudikah kamu berbohong untuk Allah, sudikah kamu mengucapkan dusta untuk Dia? Apakah kamu mau memihak Allah, berbantah untuk membela Dia? Apakah baik, kalau Ia memeriksa kamu? Dapatkah kamu menipu Dia seperti menipu manusia? Kamu akan dihukum-Nya dengan keras, jikalau kamu diam-diam memihak.” (Ayb. 13:7-10).

Demikianlah tantangan sekaligus peringatan keras Ayub kepada para sahabatnya. Ayub tampaknya tahu bahwa di dalam hati kecil para sahabatnya ada keyakinan bahwa Ayub memang tak bersalah. Namun, mereka juga tak paham mengapa Allah tidak menolong Ayub. Allah seakan membiarkan Ayub menanggung semuanya itu. Sehingga timbul kecurigaan dalam hati mereka, jangan-jangan pengenalan mereka terhadap Ayub selama ini semu belaka. Bisa jadi ada sisi buruk Ayub yang selama ini sengaja disembunyikan, sehingga Allah menghukum dia.

Sekali lagi Ayub memperingatkan para sahabatnya untuk jujur. Jangan sampai demi membela Allah, mereka malah berdusta di hadapan Allah. Dengan kata lain, Ayub hendak menegaskan bahwa Allah tak perlu dibela. Aneh rasanya membela Sang Maha Kuasa. Dengan berani Ayub menegur para sahabatnya dalam ayat 12 Alkitab Bahasa Indonesia Masa Kini: ”Segala nasihatmu seperti debu yang tak berfaedah; pembelaanmu seperti tanah lempung yang mudah pecah.”

Untuk dirinya sendiri Ayub meneguhkan hatinya: ”Sebab itu diamlah, biarlah aku bicara! Aku tak peduli bagaimana pun akibatnya! Aku siap mempertaruhkan nyawa! Aku nekad sebab sudah putus asa! Jika Allah hendak membunuhku, aku berserah saja, namun akan kubela kelakuanku di hadapan-Nya. Mungkin karena keberanianku itu aku selamat, sebab orang jahat tak akan berani menghadap Allah!” (Ayb. 13:13-16, BIMK).

Ayub tak lagi peduli akan nasibnya. Bisa jadi karena dalam ukuran manusia dia memang dalam keadaan yang paling buruk. Tidak ada keadaan yang lebih buruk dari itu. Dia siap mempertaruhkan nyawanya. Tak ada harapan lagi karena dia merasa Allah memang tak lagi peduli dengannya.

Namun, Ayub merasa perlu untuk beperkara dengan Allah. Dia ingin membela kelakuannya di hadapan Allah. Mungkin saja keberanian itu malah menyelamatkannya karena tak ada orang jahat yang membela dirinya terus terang di hadapan Allah.

Ayub siap beperkara dengan Allah. Bagaimana dengan kita?

Yoel M. Indrasmoro
Literatur Perkantas Nasional

Posted on Tinggalkan komentar

Membela Perkara di Hadapan Allah

(Ayb. 13:1-6)

Ayub masih belum berhenti bicara. Dia bersikukuh: ”Sesungguhnya, semuanya itu telah dilihat mataku, didengar dan dipahami telingaku. Apa yang kamu tahu, aku juga tahu, aku tidak kalah dengan kamu. Tetapi aku, aku hendak berbicara dengan Yang Mahakuasa, aku ingin membela perkaraku di hadapan Allah” (Ayb. 13:1-3).

Sekali lagi Ayub marah kepada para sahabatnya. Dia menandaskan bahwa tidak bodoh-bodoh amat. Dia sungguh-sungguh tahu bahwa penghakiman para sahabatnya itu tidak berdasar sama sekali. Dan karena itu dia menegaskan bahwa dia ingin berbicara langsung dengan Allah dan membela perkaranya di hadapan Allah.

Ayub tampaknya insaf bahwa apa yang menimpanya bukanlah perkara biasa. Dia sendiri tidak mengerti, apalagi orang lain. Yang paling tahu tentu Allah sendiri. Karena itulah Ayub ingin membela perkaranya di hadapan Allah. Ayub ingin keadilan. Dan dia tahu hanya Allah yang sanggup menjawab pertanyaannya.

Pernyataan ini sungguh memperlihatkan kualitas laki-laki dari Tanah Us ini. Dia ingin berdiri di hadapan Allah—muka dengan muka. Ayub tidak memperlihatkan rasa gentar sedikit pun. Mungkin karena dia tahu Allah memang mengasihi. Ayub memang tidak mengerti musibah yang menimpanya, juga kediaman Allah yang tampaknya tak memedulikannya.

Namun, di atas semuanya itu Ayub percaya Allah mengasihinya. Kalau tidak, mana berani dia berhadapan empat mata dengan Allah? Kelihatannya Ayub juga percaya bahwa Allah akan membela haknya. Ini memang masalah iman. Dan Ayub memilikinya.

Yoel M. Indrasmoro
Literatur Perkantas Nasional

Posted on Tinggalkan komentar

Pada Allahlah Hikmat dan Kekuatan

(Ayb. 12:12-25)

”Konon hikmat ada pada orang yang tua, dan pengertian pada orang yang lanjut umurnya. Tetapi pada Allahlah hikmat dan kekuatan, Dialah yang mempunyai pertimbangan dan pengertian” (Ayb. 12:12-13).

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, kata ”konon” berarti ”kata orang, kabarnya, katanya”. Sesuatu yang sudah dipahami sebagai anggapan umum. Dalam Alkitab Bahasa Indonesia Masa Kini tertera: ”Kabarnya, hikmat ada pada orang yang tinggi umurnya, tapi hikmat dan kekuatan ada pada Allah saja. Konon pengertian ada pada orang yang lanjut usia, namun pengertian dan wewenang ada pada Allah jua!”

Itulah yang dipahami kebanyakan orang di zaman Ayub. Kita pun punya istilah ”asam garam”, yang dipahami bahwa semakin berumur seseorang, dia akan memiliki pengalaman hidup. Pengalaman hidup itulah yang membuat seseorang menjadi berhikmat.

Premis ini pun tidak terlalu sahih sebenarnya, pertanyaan yang mendasar berkait hikmat adalah apakah orang itu belajar dari pengalaman hidupnya. Jika tidak, tentu tak bisa dikatakan berhikmat. Sehingga kata konon dan atau kabarnya memang tepat digunakan.

Namun, sekali lagi, dengan sangat jelas Ayub menyatakan bahwa hikmat hanya ada pada Allah saja. Kalaupun manusia berhikmat, itu juga karunia Allah. Sehingga pentinglah bagi manusia untuk memohon hikmat kepada Allah saja. Juga kekuatan, karena hikmat perlu ditopang kemampuan untuk menerapkannya.

Yoel M. Indrasmoro
Literatur Perkantas Nasional

Posted on Tinggalkan komentar

Belajar Mendengar

(Ayb. 12:7-11)

”Tetapi bertanyalah kepada binatang, maka engkau akan diberinya pengajaran, kepada burung di udara, maka engkau akan diberinya keterangan. Atau bertuturlah kepada bumi, maka engkau akan diberinya pengajaran, bahkan ikan di laut akan bercerita kepadamu” (Ayb. 12:7-8).

Ayub menegaskan bahwa semua makhluk akan menyatakan hal yang sama: Allah adalah pencipta segala. Semua ada dalam kuasa-Nya. Allah mengatur hidup segala makhluk; Dia berkuasa atas nyawa setiap manusia. Dengan kata lain, Ayub hendak menyatakan bahwa penderitaan yang menimpa dirinya bukanlah di luar pengetahuan Allah.

Oleh karena itu, ketika Ayub mempertanyakan semuanya itu kepada Allah, sesungguhnya itu merupakan hal yang logis. Logis karena hanya Allah sendirilah yang mampu menjawabnya. Bagaimanapun Dia adalah sumber primer.

Ayub menutup bait kedua dengan perkataan ini: ”Bukankah telinga menguji kata-kata, seperti langit-langit mencecap makanan?”(Ayb. 12:11). Entah mengapa? Dalam Alkitab Bahasa Indonesia Masa Kini tertera: ”Seperti lidahku suka mengecap makanan yang nyaman, begitulah telingaku suka mendengar perkataan.”

Bisa jadi ini semacam sindirian bagi para sahabatnya. Mereka berbicara semaunya dan menuntut pengakuan Ayub atas dosanya. Kebanyakan omong membuat mereka hanya mampu mendengar diri mereka sendiri. Yang membuat mereka akhirnya bias pikir. Sehingga Ayub mendorong mereka untuk kembali belajar mendengar. Ya, mendengar segala.

Yoel M. Indrasmoro
Literatur Perkantas Nasional

Posted on Tinggalkan komentar

Aku Menjadi Tertawaan Sesamaku

(Ayb. 12:1-6)

”Memang, kamulah orang-orang itu, dan bersama-sama kamu hikmat akan mati. Aku pun mempunyai pengertian, sama seperti kamu, aku tidak kalah dengan kamu; siapa tidak tahu hal-hal serupa itu? Aku menjadi tertawaan sesamaku, aku, yang mendapat jawaban dari Allah, bila aku berseru kepada-Nya; orang yang benar dan saleh menjadi tertawaan” (Ayb. 12:2-4).

Ayub tersinggung mendengarkan kata-kata Zofar. Dia pun menyerang balik dan mengatakan bahwa hikmat Zofar takkan bertahan lama. Kalau Zofar mati, kata-katanya pun turut musnah.

Dalam Alkitab Bahasa Indonesia Masa Kini, Ayub juga menegaskan: ”Aku pun manusia yang berakal budi; semua yang kamu katakan itu sudah kumengerti. Lagipula, siapa yang tak tahu semua itu? Jadi, jangan sangka kamu melebihi aku!”

Jelaslah, Ayub marah kepada Zofar. Di mata Ayub, sahabatnya itu sungguh sok tahu. Dan Ayub menjadi semakin jengkel karena dia merasa menjadi bahan tertawaan. Dalam Alkitab Bahasa Indonesia Masa Kini tertera: ”Aku ditertawakan teman dan sahabat, padahal aku ini benar dan tanpa cacat.”

Bisa jadi Ayub agak berlebihan di sini. Perasaan dihakimi membuat dia merasa menjadi bahan tertawaan. Semakin dipikirkan malah membuatnya semakin sakit hati. Dalam ayat 5 Alkitab Bahasa Indonesia Masa Kini, Ayub memprotes Zofar: ”Kamu menghina orang celaka, sedang hidupmu aman; orang yang hampir jatuh kamu beri pukulan.”

Kelihatannya Ayub memang lebai. Dan perasaan itu muncul karena dia merasa dihakimi. Yang akhirnya membuat Ayub jatuh ke dalam jurang kasihan pada diri sendiri.

Yoel M. Indrasmoro
Literatur Perkantas Nasional

Posted on Tinggalkan komentar

Tanggapan Zofar 3

(Ayb. 11:13-20)

”Jikalau engkau ini menyediakan hatimu, dan menadahkan tanganmu kepada-Nya; jikalau engkau menjauhkan kejahatan dalam tanganmu, dan tidak membiarkan kecurangan ada dalam kemahmu, maka sesungguhnya, engkau dapat mengangkat mukamu tanpa cela, dan engkau akan berdiri teguh dan tidak akan takut, bahkan engkau akan melupakan kesusahanmu, hanya teringat kepadanya seperti kepada air yang telah mengalir lalu” (Ayb. 11:13-16).

Zofar berupaya membujuk Ayub untuk mengakui kesalahannya di hadapan Allah. Dalam Alkitab Bahasa Indonesia Masa Kini tertera: ”Ayub, bersihkanlah hatimu, menyesallah! Berdoalah kepada Allah! Hilangkanlah dosa dari hatimu dan jauhkanlah kejahatan dari rumahmu!”

Kata-katanya memang menusuk, gamblang, tanpa tedeng aling-aling. Tentu saja Zofar menyatakannya karena bisa jadi dia sendiri bingung, mengapa Allah membiarkan orang saleh menderita. Dan itu bukan sekadar penderitaan biasa. Semua harta, juga anak, musnah. Dan tubuh didera penyakit kulit yang berbau busuk. Sehingga Zofar menjadi begitu yakin bahwa semuanya itu karena kesalahan Ayub.

Belum lagi Ayub bersikukuh dengan pendapatnya bahwa dia tidak berbuat kesalahan sedikit pun. Hal itu membuat Zofar berpikir bahwa sahabatnya memang menyembunyikan sesuatu. Sehingga dia memaksa Ayub untuk bertobat. Hanya dengan itulah, pikir Zofar, dia akan mendapatkan sahabatnya kembali seperti sedia kala.

Zofar percaya, jika Ayub bertobat, ”Kehidupanmu akan menjadi lebih cemerlang dari pada siang hari, kegelapan akan menjadi terang seperti pagi hari.” Itulah harapan Zofar. Pada titik ini dia memang masih ingin yang terbaik untuk sahabatnya. Kalau pun kata-katanya keras, kemungkinan besar karena Zofar sungguh mengasihi Ayub. Hanya caranya memang membuat sakit hati.

Yoel M. Indrasmoro
Literatur Perkantas Nasional

Posted on Tinggalkan komentar

Tanggapan Zofar 2

(Ayb. 11:7-12)

”Dapatkah engkau memahami hakekat Allah, menyelami batas-batas kekuasaan Yang Mahakuasa? Tingginya seperti langit—apa yang dapat kaulakukan? Dalamnya melebihi dunia orang mati—apa yang dapat kauketahui? Lebih panjang dari pada bumi ukurannya, dan lebih luas dari pada samudera” (Ayb. 11:7-9).
Zofar mengingatkan Ayub bahwa secara hakiki, manusia memang berbeda dengan Allah: makhluk –Pencipta, terbatas–tas terbatas, fana–kekal, cemar–suci. Sehingga tak mungkin bagi manusia untuk memahami Allah secara utuh, menyeluruh, dan sempurna. Manusia hanya mungkin mengenal Allah sejauh Allah menyatakan diri-Nya kepada manusia. Di luar itu hanya dugaan.

Dalam Alkitab Bahasa Indonesia Masa Kini tertera: ”Masakan hakekat Allah dapat kauselami? Masakan mampu kuasa-Nya engkau fahami? Kuasa-Nya lebih tinggi daripada angkasa; tak dapat engkau menjangkau dan meraihnya. Kuasa-Nya lebih dalam dari dunia orang mati, tak dapat kaumengerti sama sekali. Kuasa Allah lebih luas daripada buana, dan lebih lebar dari samudra raya.”

Selanjutnya, kalimat-kalimat yang keluar dari mulut Zofar lebih tajam: ”Apabila Ia lewat, melakukan penangkapan, dan mengadakan pengadilan, siapa dapat menghalangi-Nya? Karena Ia mengenal penipu dan melihat kejahatan tanpa mengamat-amatinya. Jikalau orang dungu dapat mengerti, maka anak keledai liar pun dapat lahir sebagai manusia” (Ayb. 11:10-12).

Ya, tak ada yang dapat menghalangi Allah; tak ada pula yang mengerti Allah. Namun, kalimat Zofar secara tak langsung mengatakan bahwa Ayub adalah penipu. Ya, tentu saja tak ada yang memahami Allah; tetapi Zofar pasti juga tak dapat menyelami apa yang ada di hati Ayub. Apa yang dilakukan Zofar seperti memberi cuka pada luka.

Yoel M. Indrasmoro
Literatur Perkantas Nasional

Posted on Tinggalkan komentar

Tanggapan Zofar

(Ayb. 11:1-6)

”Apakah orang yang banyak bicara tidak harus dijawab? Apakah orang yang banyak mulut harus dibenarkan? Apakah orang harus diam terhadap bualmu? Dan kalau engkau mengolok-olok, apakah tidak ada yang mempermalukan engkau?” (Ayb. 11:2-3).

Zofar tak sanggup menahan dirinya. dia marah terhadap Ayub. Dalam anggapan Zofar, Ayub terlalu banyak bicara dan merasa diri benar. Dan karena itu, dalam Alkitab Bahasa Indonesia Masa Kini, lugas dia berkata, ”Tidakkah omong kosong itu diberi jawaban? Haruskah orang yang banyak mulut itu dibenarkan? Ayub, kaukira kami tak mampu menjawabmu? Kausangka kami bungkam karena ejekanmu?”

Menurut Zofar, Ayub telah bertindak tidak patut di hadapan Allah—menganggap diri benar. Kalau Ayub menganggap dirinya benar, dalam logika Zofar, berarti Ayub mengatakan bahwa Allah salah. Menyalahkan Allah bukanlah tindakan yang patut dilakukan. Itu sama saja dengan penghujatan. Dan hukumannya adalah kematian.

Memang apa yang dikatakan Zofar ada benarnya: banyak bicara belum tentu benar. Namun, tampaknya ini juga kesalahan Zofar, dia menilai semua omongan Ayub itu dari penilaian normal. Padahal, Ayub sendiri berada dalam situasi dan kondisi yang tidak normal.

Zofar berharap—sepertinya karena dia juga tidak terlalu percaya diri berdebat dengan Ayub—Allah sendirilah yang akan menjawab gugatan Ayub. Dalam ayat 5-6 Alkitab Bahasa Indonesia Masa Kini, Zofar berkata, ”Tapi, semoga Allah sendiri berbicara! Dan semoga engkau diberitahu oleh-Nya, bahwa hikmat itu banyak seginya, dan tak dapat dimengerti manusia. Maka sadarlah engkau bahwa deritamu tak berapa, dibandingkan dengan hukuman yang layak kauterima.”

Pada titik ini tampaknya Zofar, mungkin saking kesalnya, menilai bahwa penderitaan Ayub itu tak seberapa, dan Ayub akan mendapatkan hukuman yang lebih besar. Padahal Zofar pun tak pernah merasakan apa yang diderita Ayub.

Yang juga bisa kita pelajari di sini adalah jika kita belum siap menerima penolakan terhadap nasihat kita, diam adalah jalan terbaik. Jika kita tidak siap, mungkin kita malah akan menjadi marah dan akhirnya malah jatuh ke dalam lubang penghakiman terhadap orang lain.

Yoel M. Indrasmoro
Literatur Perkantas Nasional

Posted on Tinggalkan komentar

Mengapa Aku Lahir?

(Ayb. 10:18-22)

”Mengapa Engkau menyebabkan aku keluar dari kandungan? Lebih baik aku binasa, sebelum orang melihat aku! Maka aku seolah-olah tidak pernah ada; dari kandungan ibu aku langsung dibawa ke kubur” (Ayb. 10:18-19). Dalam kebingungan, sekaligus kekecawaan, menanggung semua penderitaannya, Ayub mewakili banyak orang mempertanyakan eksistensi dirinya: Mengapa aku lahir?

Berkait kelahiran, tentu saja, tak ada seorang pun yang pernah meminta untuk dilahirkan dari dunia. Semua itu merupakan prerogratif Allah. Sehingga yang bisa menjawab pertanyaan itu memang Allah saja. Ya, mengapa kita lahir di dunia. Kalau lahir hanya untuk merasakan derita, lalu mengapa harus lahir. Pada titik ini manusia yang menanyakan eksistensi diri sejatinya sedang menanyakan pula eksistensi Allah—Sang Pencipta.

Konsep bahwa Allah itu Mahakasih sering membuat manusia mempertanyakan kasih-Nya. Dan kasih Allah sering diukur bukan dalam ukuran Allah, tetapi dalam ukuran manusia. Dan ukuran manusia itu: jika kita baik, maka kita akan menerima kebaikan; jika kita jahat, maka kita akan dijahati orang lain. Sehingga ketika kita baik, namun menerima hal yang buruk, dianggap sebagai suatu kesalahan.

Ketika Allah membiarkan hal itu terjadi, Allah dianggap telah bertindak tidak adil. Dan menerima ketidakadilan dari Allah—yang dipahami sebagai Mahaadil—menjadikan manusia frustrasi. Sebab siapakah yang sanggup melawan Allah?

Dan karena itulah, kepada para sahabatnya, Ayub berkata dalam ayat 20 Alkitab Bahasa Indonesia Masa Kini: ”Ah, tak lama lagi aku akan mati, maka biarkanlah aku sendiri, agar dapat aku menikmati masaku yang masih sisa ini.” Tampaknya Ayub memang tak hanya kecewa dengan Allah, tetapi juga para sahabatnya.

Yoel M. Indrasmoro
Literatur Perkantas Nasional

Posted on Tinggalkan komentar

Diciptakan untuk Dihancurkan

(Ayb. 10:8-17)

”Tangan-Mulah yang membentuk dan membuat aku, tetapi kemudian Engkau berpaling dan hendak membinasakan aku? Ingatlah, bahwa Engkau yang membuat aku dari tanah liat, tetapi Engkau hendak menjadikan aku debu kembali?” (Ayb. 10:8-9).

Demikianlah ungkapan ketidakmengertian Ayub. Dia tahu Allah telah menciptakannya, hanya persoalannya mengapa Allah tampaknya ingin menghancurkannya. Lalu apa artinya manusia yang telah diciptakan, malah dihancurkan. Ya apa artinya diciptakan kalau hanya untuk dihancurkan. Bukankah itu sia-sia namanya.

Dalam Alkitab Bahasa Indonesia Masa Kini tertera: ”Aku ini dibentuk oleh tangan-Mu, masakan kini hendak Kaubinasakan aku? Ingatlah bahwa dari tanah liat Kauciptakan aku! Masakan Kaubuat aku kembali menjadi debu?” Bukankah absurd namanya?

Tentu masuk akal jika orang tersebut memang golongan orang fasik. Wajarlah jika Allah marah dan hendak membinasakan orang jahat. Namun, Ayub merasa tak ada kesalahan apa pun yang diperbuatnya. Sehingga apa yang dikatakan Ayub sebenarnya ekspresi kebingungan, juga kekecewaan, terhadap tindakan Allah.

Ayub menyatakan pada ayat 15: ”Kalau aku bersalah, celakalah aku! dan kalau aku benar, aku takkan berani mengangkat kepalaku, karena kenyang dengan penghinaan, dan karena melihat sengsaraku.” Ayub tahu, jika dia salah maka dia harus menerima hukuman; namun dia benar pun Ayub tak berani tengadah karena ternyata Allah tetap menghukumnya.

Dalam Alkitab Bahasa Indonesia Masa Kini dinyatakan: ”Jikalau aku berbuat dosa, maka nasibku sungguh celaka! Tapi jika perbuatanku tak tercela, tetaplah aku dianggap berbuat dosa! Tak berani aku mengangkat kepala, sebab merasa sedih dan terhina.” Kalau memang demikian, mengapa manusia harus menjadi pribadi yang baik?

Bahkan Ayub menegaskan pada ayat 17: ”Selalu Kauajukan saksi melawan aku; dan semakin besarlah murka-Mu kepadaku. Kaukerahkan pasukan-pasukan baru untuk menyerang dan memerangi aku.” Jelaslah, Ayub merasa semua yang dilakukan sia-sia di mata Allah—bertindak jahat, dihukum; bertindak baik pun, masih juga dihukum. Inilah yang tak dipahami Ayub.

Yoel M. Indrasmoro
Literatur Perkantas Nasional

Posted on Tinggalkan komentar

Aku Telah Bosan Hidup

(Ayb. 10:1-7)

”Aku telah bosan hidup, aku hendak melampiaskan keluhanku, aku hendak berbicara dalam kepahitan jiwaku. Aku akan berkata kepada Allah: Jangan mempersalahkan aku; beritahukanlah aku, mengapa Engkau beperkara dengan aku. Apakah untungnya bagi-Mu mengadakan penindasan, membuang hasil jerih payah tangan-Mu, sedangkan Engkau mendukung rancangan orang fasik?” (Ayb. 10:1-3).

Demikianlah pengakuan Ayub. Dengan gamblang dia menyatakan bahwa dia telah bosan hidup. Ayub tidak menyembunyikan perasaannya. Dia sungguh bingung dengan apa yang terjadi padanya. Dan karena itu dia mengeluh. Ayub menggugat Allah. Dalam Alkitab Bahasa Indonesia Masa Kini tertera: ”Ya Allah, janganlah aku Kaupersalahkan; jelaskanlah mengapa aku Kaulawan. Apa untungnya jika Engkau menindas begini, dan membuang hasil karya-Mu sendiri? Apa untungnya jika Engkau mendukung pendapat dan rencana para penjahat?”

Ya, Ayub butuh penjelasan. Dia merasa ditindas dan dibuang Allah. Dan dia heran mengapa Allah menindas dan membuangnya. Ayub bertanya, ya apa untungnya bagi Allah menimpakan semua penderitaan itu kepadanya. Dan kalau memang enggak ada untungnya, mengapa Allah melakukannya? Bahkan dengan lugas dan berani Ayub berkata, dalam ayat 7 Alkitab Bahasa Indonesia Masa Kini: ”Sebenarnya Engkau tahu dan sadar, bahwa aku tak salah, tetapi benar.”

Ayub sungguh berani. Di hadapan Allah, Sang Mahatahu, dia mengatakan bahwa Allah sejatinya tahu bahwa dia tidak bersalah. Ya, Ayub sungguh berani.

Yoel M. Indrasmoro
Literatur Perkantas Nasional

Posted on Tinggalkan komentar

Tidak Ada yang Bertahan di Hadapan Allah

(Ayb. 9:1-35)

Ayub mengamini pernyataan Bildad. Katanya, ”Sungguh, aku tahu, bahwa demikianlah halnya, masakan manusia benar di hadapan Allah? Jikalau ia ingin beperkara dengan Allah satu dari seribu kali ia tidak dapat membantah-Nya. Allah itu bijak dan kuat, siapakah dapat berkeras melawan Dia, dan tetap selamat?”

Itulah yang diakui Ayub. Dengan kata lain, Ayub hendak mengatakan kepada para sahabatnya bahwa dia mengakui bahwa Allah memang benar—Allah tak pernah salah. Tak ada manusia yang benar di hadapan Allah, tak ada pula yang bisa membantah-Nya. Karena Dia memang Allah, Sang Pencipta.

Dalam Akitab Bahasa Indonesia Masa Kini tertera: ”Memang, aku tahu, kata-katamu itu tak salah. Tapi, mana mungkin manusia berperkara melawan Allah dan mengalahkan-Nya? Dari seribu pertanyaan yang diajukan Allah, satu pun tak dapat dijawab oleh manusia.” Bisa juga diterjemahkan: ”Manusia dapat menanyakan seribu pertanyaan kepada-Nya; Ia pun tak akan mau menjawabnya.”

Ayub memang memahami bahwa Allah berkuasa, juga berdaulat. Namun, yang sungguh tidak dipahami Ayub adalah mengapa Allah menimpakan semuanya itu kepada-Nya. Dalam ayat 15-18, Ayub mengakui: ”Walaupun aku benar, aku tidak mungkin membantah Dia, malah aku harus memohon belas kasihan kepada yang mendakwa aku. Bila aku berseru, Ia menjawab; aku tidak dapat percaya, bahwa Ia sudi mendengarkan suaraku; Dialah yang meremukkan aku dalam angin ribut, yang memperbanyak lukaku dengan tidak semena-mena, yang tidak membiarkan aku bernafas, tetapi mengenyangkan aku dengan kepahitan.”

Jelas di sini Ayub kelihatannya sengaja menyatakan bahwa Allah sengaja membiarkannya hidup, namun untuk mengenyangkannya dengan kepahitan. Dan dia tidak dapat menggugat Allah. Bahkan Ayub pun menambahkan dalam ayat 33: ”Tidak ada wasit di antara kami, yang dapat memegang kami berdua!”

Pada titik ini sesungguhnya Ayub sedang menggugat Allah.

Yoel M. Indrasmoro
Literatur Perkantas Nasional

Posted on Tinggalkan komentar

Tanggapan Bildad

(Ayb. 8:1-22)

Bildad orang Suah tak bisa menahan hati. Dia pun mulai menegur Ayub. ”Berapa lamakah lagi engkau akan berbicara begitu, dan perkataan mulutmu seperti angin yang menderu? Masakan Allah membengkokkan keadilan? Masakan Yang Mahakuasa membengkokkan kebenaran? Jikalau anak-anakmu telah berbuat dosa terhadap Dia, maka Ia telah membiarkan mereka dikuasai oleh pelanggaran mereka. Tetapi engkau, kalau engkau mencari Allah, dan memohon belas kasihan dari Yang Mahakuasa, kalau engkau bersih dan jujur, maka tentu Ia akan bangkit demi engkau dan Ia akan memulihkan rumah yang adalah hakmu” (Ayb. 8:2-6).

Tak ada yang salah dari perkataan Bildad. Dia tampaknya gusar karena Ayub terus menganggap dirinya benar, dan secara tak langsung mulai menyalahkan Allah. Sehingga Bildad mulai mengajak Ayub untuk berefleksi dalam Alkitab Bahasa Indonesia Masa Kini: ”Allah tidak pernah membengkokkan keadilan; tidak pernah gagal menegakkan kebenaran.”

Di mata Bildad Allah sungguh adil dan benar. Sehingga yang penting adalah pengakuan Ayub. Hanya itulah yang akan memulihkan keadaan Ayub—tentu dengan pemahaman bahwa Allah adalah Pribadi yang rahimi.

Bildad pun perlu menegaskan—lagi-lagi dengan gaya bahasa retorik—”Dapatkah pandan bertumbuh tinggi, kalau tidak di rawa, atau mensiang bertumbuh subur, kalau tidak di air? Sementara dalam pertumbuhan, sebelum waktunya disabit, layulah ia lebih dahulu dari pada rumput lain. Demikianlah pengalaman semua orang yang melupakan Allah; maka lenyaplah harapan orang fasik, yang andalannya seperti benang laba-laba, kepercayaannya seperti sarang laba-laba” (Ayb. 8:11-14).

Dengan demikian, Bildad gamblang menyatakan bahwa Ayub tak beda dengan orang fasik. Penderitaan Ayub kemungkinan besar karena ada dosa yang belum diakuinya. Dan karena itu, mengaku dosa adalah jalan terlogis.

Yoel M. Indrasmoro
Literatur Perkantas Nasional

Posted on Tinggalkan komentar

Hidup Itu Berat

(Ayb. 7:1-21)

Dalam ayat 1-3, Ayub menegaskan: ”Bukankah manusia harus bergumul di bumi, dan hari-harinya seperti hari-hari orang upahan? Seperti kepada seorang budak yang merindukan naungan, seperti kepada orang upahan yang menanti-nantikan upahnya, demikianlah dibagikan kepadaku bulan-bulan yang sia-sia, dan ditentukan kepadaku malam-malam penuh kesusahan.”

Nada bicaranya seperti keluhan. Semua serba tidak menyenangkan. Dalam Alkitab Bahasa Indonesia Masa Kini tertera: ”Manusia itu seperti dipaksa berjuang; hidupnya berat seperti hidup seorang upahan; seperti budak yang merindukan naungan; seperti buruh yang menantikan imbalan. Bulan demi bulan hidupku tanpa tujuan; malam demi malam hatiku penuh kesedihan.”

Itulah yang dirasakan Ayub. Penderitaannya, juga kecaman sahabatnya, membuat Ayub jatuh ke dalam lubang ”mengasihani diri sendiri”. Seakan memang tidak ada baiknya hidup itu. Bahkan, dalam ayat 16 Alkitab Bahasa Indonesia Masa Kini Ayub mengakui: ”Aku lelah dan jemu hidup; aku ingin mati! Biarkan aku, sebab hidupku tidak berarti.” Ayub merasa semua serbasia-sia, dan lebih baik mati saja.

Menarik disimak, Ayub pun merasa perlu bertanya kepada Allah: ”Kalau aku berbuat dosa, apakah yang telah kulakukan terhadap Engkau, ya Penjaga manusia? Mengapa Engkau menjadikan aku sasaran-Mu, sehingga aku menjadi beban bagi diriku?” (Ayb. 7:20). Ayub memang tak mengerti mengapa Allah yang disembahnya dengan tekun itu membiarkannya dalam penderitaan.

Apa pun penilaian kita terhadap keluh kesah Ayub ini, yang bisa kita pelajari adalah Ayub jujur. Dia tidak sok kuat. Dia sungguh-sungguh menyatakan rasa kecewanya kepada Allah. Dan sepertinya Ayub tahu, hanya Allah yang sanggup menjawab semua pertanyaannya itu.

Yoel M. Indrasmoro
Literatur Perkantas Nasional

Posted on Tinggalkan komentar

Sahabat Sejati

(Ayb. 6:14-30)

”Siapa menahan kasih sayang terhadap sesamanya, melalaikan takut akan Yang Mahakuasa. Saudara-saudaraku tidak dapat dipercaya seperti sungai, seperti dasar dari pada sungai yang mengalir lenyap, yang keruh karena air beku, yang di dalamnya salju menjadi cair, yang surut pada musim kemarau, dan menjadi kering di tempatnya apabila kena panas; berkeluk-keluk jalan arusnya, mengalir ke padang tandus, lalu lenyap.” (Ayb. 6:14-18).

Demikianlah sindiran Ayub terhadap para sahabatnya. Dalam Alkitab Bahasa Indonesia Masa Kini, ayat 14-15, lebih gamblang: ”Dalam derita seperti ini, kudambakan sahabat sejati. Entah aku masih tetap setia atau sudah melalaikan Yang Mahakuasa. Tetapi kamu, hai kawan-kawan, tak dapat dipercaya dan diandalkan. Kamu seperti kali yang habis airnya, di kala hujan tak kunjung tiba.”

Ya, Ayub merindukan sahabat sejati. Ayub mengakui, dia bisa saja salah dan tak lagi setia kepada Allah. Namun, dia tetap merindukan sahabat yang sungguh-sungguh dapat dipercaya dan diandalkan. Sahabat yang tidak seperti sungai tanpa air kala kemarau. Ayub berharap persahabatan itu tetap ada dan tak terpengaruh situasi dan kondisi imannya.

Pada titik ini Ayub merasa tak lagi dipercaya. Ayub memohon, ”Ajarilah aku, maka aku akan diam; dan tunjukkan kepadaku dalam hal apa aku tersesat. Alangkah kokohnya kata-kata yang jujur! Tetapi apakah maksud celaan dari pihakmu itu? Apakah kamu bermaksud mencela perkataan? Apakah perkataan orang yang putus asa dianggap angin?” (Ayb. 6:24-26).

Sebenarnya Ayub memang hanya ingin didengar dan tak berharap komentar. Namun, perkataan Elifas membuat dia meradang karena merasa enggak dipercaya. Sekali lagi Ayub memohon dalam ayat 28-30 Alkitab Bahasa Indonesia Masa Kini: ”Coba, perhatikanlah aku; masakan aku ini berdusta kepadamu? Jangan bertindak tak adil, sadarlah! Jangan mencela aku, aku sungguh tak salah. Apakah pada sangkamu aku berdusta, tak bisa membedakan yang baik dan yang tercela?”

Ya, Ayub hanya ingin dipercaya.

Yoel M. Indrasmoro
Literatur Perkantas Nasional

Posted on Tinggalkan komentar

Kata-kata

(Ayb. 6:1-13)

”Ah, hendaklah kiranya kekesalan hatiku ditimbang, dan kemalanganku ditaruh bersama-sama di atas neraca! Maka beratnya akan melebihi pasir di laut; oleh sebab itu tergesa-gesalah perkataanku. Karena anak panah dari Yang Mahakuasa tertancap pada tubuhku, dan racunnya diisap oleh jiwaku; kedahsyatan Allah seperti pasukan melawan aku” (Ayb. 6:2-4).

Demikianlah pengakuan Ayub. Dia menyadari kekesalan hatinya membuat dia cepat berkata-kata. Dan ketika kata-kata itu keluar dari mulut, tak ada seorang pun yang bisa menariknya kembali. Yang bisa dilakukan hanyalah permintaan maaf dan mohon pemakluman dari pendengarnya.

Dalam Alkitab Bahasa Indonesia Masa Kini tertera: ”Andaikata duka nestapaku ditimbang beratnya, pasti lebih berat daripada pasir samudra. Jadi, jangan heran jika kata-kataku kurang hati-hati serta terburu-buru. Panah dari Yang Mahakuasa menembus tubuhku; racunnya menyebar ke seluruh jiwa ragaku. Kedahsyatan Allah sangat mengerikan, dan menyerang aku bagai pasukan lawan.”

Sebenarnya Ayub cuma curhat. Namun, Elifas menganggapnya lebih dari curhat. Mungkin karena Elifas sungguh mengasihi Ayub, sehingga tak rela jika tidak menegur Ayub. Bisa saja Elifas, sebagai sahabat tentunya, merasa dipanggil untuk menegur Ayub. Bukankah seorang sahabat harus berani menegur? Membiarkan Ayub sesat pikir bukanlah kebijakan.

Akan tetapi, teguran terhadap orang yang tidak siap ditegur hanyalah membuat yang ditegur makin merana. Itu pulalah yang terjadi pada diri Ayub. Tindakan Elifas hanya membuat skala penderitaan Ayub bertambah. Jika awalnya Ayub mengutuki hari kelahirannya, sekarang dia malah berkata, ”Ah, kiranya terkabul permintaanku dan Allah memberi apa yang kuharapkan! Kiranya Allah berkenan meremukkan aku, kiranya Ia melepaskan tangan-Nya dan menghabisi nyawaku!” (Ayb. 6:8-9).

Ayub berharap Allah membunuhnya karena dia merasa tak ada lagi pertolongan baginya. Dan kesimpulan itu keluar dari mulut karena merasa sahabatnya tak lagi peduli dengannya. Kata-kata Elifas membuat Ayub merasa lebih suka mati saja.

Yoel M. Indrasmoro
Literatur Perkantas Nasional

Posted on Tinggalkan komentar

Tanggapan Elifas

(Ayb. 4–5)

Kemungkinan besar keluh kesah Ayub mengagetkan para sahabat Ayub. Bagaimanapun Ayub dikenal sebagai pribadi saleh dan jujur, juga takut akan Allah. Tindakan Ayub mengutuki hari kelahirannya tak bisa dibenarkan. Itu sama saja marah kepada Allah. Bukankah kelahiran ada dalam kuasa Allah?

Tak bisa menahan diri, Elifas pun menegur Ayub, ”Ayub, kesalkah engkau bila aku bicara? Tak sanggup aku berdiam diri lebih lama. Banyak orang telah kauberi pelajaran, dan mereka yang lemah telah kaukuatkan. Kata-katamu yang memberi semangat, membangunkan orang yang tersandung, lemas dan penat. Tetapi kini engkau sendiri ditimpa duka; kau terkejut, dan menjadi putus asa. Bukankah engkau setia kepada Allah; bukankah hidupmu tiada cela? Jika begitu, sepantasnyalah engkau yakin dan tak putus asa” (Ayb. 4:2-6, Alkitab Bahasa Indonesia Masa Kini).

Elifas tampaknya tak percaya dengan apa yang didengarnya. Jika itu dikatakan oleh orang biasa itu terasa wajar. Namun, ketika itu keluar dari mulut Ayub—orang yang sering menguatkan hati orang dalam penderitaan—terasa sangat janggal. Dalam pemahaman Elifas, Ayub berbuat demikian karena putus asa.

Sebagai sahabat, sampai di sini kata-kata Elifas sungguh baik. Hanya, di sinilah persoalannya, keluh kesah Ayub membuat Elifas berpikir bahwa Ayub memang punya persoalan dengan Allah. Berbeda dengan istri Ayub yang sungguh mengenal suaminya, Elifas malah curiga terhadap kesalehan Ayub selama ini. Dan kata-katanya kemudian menjadi penghakiman: ”Camkanlah ini: siapa binasa dengan tidak bersalah dan di manakah orang yang jujur dipunahkan? Yang telah kulihat ialah bahwa orang yang membajak kejahatan dan menabur kesusahan, ia menuainya juga. Mereka binasa oleh nafas Allah, dan lenyap oleh hembusan hidung-Nya.” (Ayb. 4:7-9).

Jika kalimat Elifas berhenti pada ayat 6, Ayub kemungkinan besar akan berterima kasih karena diingatkan. Namun, kalimat berikutnya yang bernada vonis, pastilah menyakitkan hati Ayub. Seakan-akan Elifas berkata, ”Mbok kamu sadar, Yub! Sepertinya ada kejahatan yang kamu sembunyikan. Akuilah dan bertobatlah!”

Selanjutnya Elifas berkata, ”Sesungguhnya, berbahagialah manusia yang ditegur Allah; sebab itu janganlah engkau menolak didikan Yang Mahakuasa. Karena Dialah yang melukai, tetapi juga yang membebat; Dia yang memukuli, tetapi yang tangan-Nya menyembuhkan pula” (Ayb. 5:17-18). Kalimat-kalimat Elifas ini terkesan menguatkan, namun sejatinya Elifas hendak mengatakan bahwa semua itu teguran Allah. Dan itu berarti Ayub memang bersalah.

Yoel M. Indrasmoro
Literatur Perkantas Nasional

Posted on Tinggalkan komentar

Keluh Kesah Ayub

(Ayb. 3:1-26)

”Biarlah hilang lenyap hari kelahiranku dan malam yang mengatakan: Seorang anak laki-laki telah ada dalam kandungan. Biarlah hari itu menjadi kegelapan, janganlah kiranya Allah yang di atas menghiraukannya, dan janganlah cahaya terang menyinarinya. Biarlah kegelapan dan kekelaman menuntut hari itu, awan-gemawan menudunginya, dan gerhana matahari mengejutkannya” (Ayb. 3:3-5).

Demikianlah Ayub memulai keluh kesahnya. Mungkin kita bertanya-tanya, mengapa pula Ayub mengeluh? Bukankah dia pribadi tegar yang tahan banting? Bukankah dia yang bilang: ”Masak kita mau menerima yang baik, namun tidak mau menerima yang buruk?” Lalu mengapa pula dia mengutuki hari kelahirannya?

Bisa jadi Ayub menunggu pemulihan dari Allah. Mungkin juga dia berharap para sahabatnya membuat Allah luluh. Namun, seminggu telah berlalu dan ternyata keadaan tak berubah. Ayub pun banyak bertanya ”mengapa”? Mengapa dia lahir? Mengapa ada orang tua yang merawatnya? Mengapa dia tidak mati saja setelah lahir?

Bagaimanapun Ayub memang manusia. Dia bukan superman. Sehingga dia bertanya, mengapa pula dia mesti lahir kalau harus merasakan semuanya itu. Sehingga dia mengeluh dalam ayat 20-21 Alkitab Bahasa Indonesia Masa Kini, ”Mengapa manusia dibiarkan terus hidup sengsara? Mengapa terang diberi kepada yang duka? Mereka lebih suka kuburan daripada harta, menanti maut, tapi tak kunjung tiba.”

Kelihatannya Ayub memang lebih suka mati ketimbang hidup. Tak heran dalam kalimat terakhir dia berkeluh dalam Alkitab Bahasa Indonesia Masa Kini: ”Bagiku tiada ketentraman, aku menderita tanpa kesudahan.”

Ya, Ayub menderita tanpa kesudahan. Namun, menarik disimak pula, Ayub tak berniat bunuh diri. Sebab dia tahu kelahiran dan kematian adalah wewenang Allah sendiri. Dan dia masih menghargai Allah.

Yoel M. Indrasmoro
Literatur Perkantas Nasional