Posted on Tinggalkan komentar

Prerogatif Allah

(Lukas 4:29-30)

”Mereka bangkit, lalu menghalau Yesus ke luar kota dan membawa Dia ke tebing gunung, tempat kota itu terletak, untuk melemparkan Dia dari tebing itu. Tetapi Ia berjalan lewat dari tengah-tengah mereka, lalu pergi.”
Para pendengar Yesus tak lagi mampu menahan kemarahannya. Kekaguman telah berubah menjadi kebencian. Begitu bencinya hingga mengharapkan kematian bagi orang yang pernah mereka kenal.

Dalam Alkitab Bahasa Indonesia Sederhana tertera: ”Mereka berdiri lalu menyeret Dia ke luar kota sampai ke tebing gunung. Kota mereka terletak di atas gunung itu. Mereka membawa Dia ke situ dengan maksud untuk mendorong Dia ke dalam jurang. Tetapi, Yesus menerobos orang banyak itu, lalu pergi.”

Kita bisa membayangkan apa yang terjadi saat itu. Yesus diseret ke luar dari rumah ibadah dan diseret terus hingga ke tebing gunung. Lukas tidak menceritakan berapa jauh dari rumah ibadah itu ke tebing gunung, juga berapa lama mereka menyeret Yesus. Yang pasti, mereka tidak lagi menghargai orang yang sempat mereka kagumi. Mereka juga sudah tidak lagi menghargai Yusuf dan Maria sebagai orang tua Yesus. Mereka sudah kalap. Keinginan mereka cuma satu: kematian Yesus.

Kita bisa bertanya sejenak, ”Tak adakah yang membela Yesus?” Bisa jadi memang tidak ada. Kalau ada pun pasti lebih memilih diam. Lagipula, Yesus dipandang telah merendahkan kota mereka. Membela Yesus sama saja mencari mati.

Namun, Lukas mencatat, sampai di pinggir tebing, Yesus malah leluasa menerobos dan pergi dari situ. Apakah maknanya? Sederhana: kematian adalah prerogatif Allah. Tak mungkin ada orang mati di luar kehendak Allah. Pemahaman ini semestinya bisa menjadi penghiburan kita juga.

Yoel M. Indrasmoro
Literatur Perkantas Nasional

Posted on Tinggalkan komentar

Bukan Ajang Pembuktian

(Lukas 4:23-28)

”Kemudian berkatalah Ia kepada mereka, ’Tentu kamu akan mengatakan pepatah ini kepada-Ku: Hai tabib, sembuhkanlah diri-Mu sendiri. Perbuatlah di sini juga, di tempat asal-Mu ini, segala yang kami dengar yang telah terjadi di Kapernaum!’ Kata-Nya lagi, ’Sesungguhnya Aku berkata kepadamu, tidak ada nabi yang dihargai di tempat asalnya” (Luk. 4:24-28).

Demikianlah tanggapan Sang Guru, ketika orang-orang Nazaret mulai mempertanyakan latar belakang diri-Nya. Bisa jadi orang Nazaret juga heran dengan kenyataan tidak adanya demonstrasi penyembuhan. Mereka mungkin juga bingung dan bertanya-tanya mengapa Yesus tidak melakukan satu mukjizat pun. Dengan kata lain, jika Yesus melakukan penyembuhan di banyak tempat, masak Dia tidak mau mengadakan mukjizat di kota masa kecil-Nya?

Mungkin saja mereka ingin Yesus membuktikan diri-Nya sebagai orang yang sanggup membuat mukjizat. Selama ini mereka hanya mendengar kehebatan Yesus, dan sekarang mereka ingin menyaksikan dengan mata kepala mereka sendiri. Mereka ingin bukti! Dan untuk semua alasan itu, Yesus punya satu jawaban: tidak.

Pada titik ini Yesus tidak tergoda untuk membuktikan diri di hadapan teman-teman sepermainan-Nya. Yesus tidak tergoda untuk membuktikan kehebatan-Nya di hadapan orang-orang yang pernah mengenal-Nya. Bahkan, Yesus siap jika orang-orang Nazaret itu menyebut-Nya kacang lupa kulit.

Di sini Yesus tidak melakukan sesuatu seturut kata orang. Yesus merupakan pribadi merdeka. Namun, itu tidak berarti bersikap dan bertindak sesukanya. Bagaimanapun, Yesus merupakan pribadi yang taat kepada Bapa-Nya.

Kalau Yesus melakukan mukjizat, hal itu bukan untuk memuaskan keinginan orang, melainkan agar makin banyak orang mengenal dan memuliakan Allah. Jika kita perhatikan semua mukjizat Yesus, di akhir kisah mukjizat itu senantiasa ada, setidaknya satu orang, yang bersyukur kepada Allah. Jadi, semua mukjizat itu dilakukan Yesus bukan buat pamer. Bukan untuk mendapatkan tepuk tangan. Tetapi, sekali lagi agar semakin banyak orang mengenal dan memuliakan Allah. Dalam pengertian ini, Yesus memang tidak sembarangan membuat mukjizat.

Yesus bersikap merdeka. Dia hanya melakukan apa yang Allah kehendaki, dan bukan apa yang dikehendaki orang lain. Orang kadang sering menuntut ini dan itu. Sekali lagi, Yesus lebih mendengarkan perkataan Allah ketimbang perkataan manusia.

Dan karena sikap itulah, Yesus ditolak.

Yoel M. Indrasmoro
Literatur Perkantas Nasional

Posted on Tinggalkan komentar

Bukankah Ia Ini Anak Yusuf?

(Lukas 4:22)

”Dan semua orang itu membenarkan Dia dan mereka heran akan kata-kata yang indah yang diucapkan-Nya, lalu kata mereka: “Bukankah Ia ini anak Yusuf?” Dalam Alkitab Bahasa Indonesia Sederhana tertera: ”Padahal Dia hanya anak Yusuf.”

Mulanya Lukas menyatakan bahwa orang-orang di rumah ibadah itu mengakui kebenaran perkataan Yesus. Mereka sungguh antusias dengan cara Yesus mengajar. Namun, semuanya itu menjadi buyar ketika mereka mengingat bahwa anak kemarin sore itu sudah menjadi orang. Tambah ambyar ketika mereka mengingat bahwa dia cuma anak Yusuf. Dan proses pembelajaran pun berhenti.

Belajar semestinya dari siapa saja, bahkan apa saja. Semua bisa menjadi bahan ajar bagi setiap orang yang terbuka hatinya. Hati terbuka merupakan syarat mutlak. Tanpa keterbukaan baik pikiran maupun hati, kita tidak akan pernah menerima apa pun. Itu hanya akan membuat kita stagnan.

Kepada warga jemaat di Roma, Paulus menasihatkan: ”Janganlah menganggap dirimu pandai” (Rm. 12:16). Dalam Alkitab Bahasa Indonesia Sederhana tertera: ”jangan menganggap dirimu sudah pandai.” Perasaan diri sudah pandai akan membuat kita jadi enggan belajar, apalagi dari orang yang lebih rendah dari kita. Dalam Kitab Suci tertulis: ”Aja kuminter”. Pinter harus, kuminter jangan.

Ya, orang-orang di Nazaret hanya melihat Yesus sebagai anak tukang kayu. Padahal, apa salahnya menjadi anak Yusuf. Bukankah Yusuf adalah orang yang dua kali didatangi malaikat dalam mimpi? Yusuf pulalah yang mengungsi ke Mesir untuk menyelamatkan nyawa anaknya? Ya, apa salahnya menjadi anak Yusuf?

Yoel M. Indrasmoro
Literatur Perkantas Nasional

Posted on Tinggalkan komentar

Pembelajaran

(Lukas 4:16-21)

“Ia datang ke Nazaret tempat Ia dibesarkan, dan menurut kebiasaan-Nya pada hari Sabat Ia masuk ke rumah ibadat, lalu berdiri hendak membaca dari Alkitab. Kepada-Nya diberikan kitab nabi Yesaya dan setelah dibuka-Nya, Ia menemukan nas, di mana ada tertulis: ‘Roh Tuhan ada pada-Ku, oleh sebab Ia telah mengurapi Aku, untuk menyampaikan kabar baik kepada orang-orang miskin; dan Ia telah mengutus Aku untuk memberitakan pembebasan kepada orang-orang tawanan, dan penglihatan bagi orang-orang buta, untuk membebaskan orang-orang yang tertindas, untuk memberitakan tahun rahmat Tuhan telah datang.’ Kemudian Ia menutup kitab itu, memberikannya kembali kepada pejabat, lalu duduk; dan mata semua orang dalam rumah ibadat itu tertuju kepada-Nya. Lalu Ia memulai mengajar mereka, kata-Nya: ‘Pada hari ini genaplah nas ini sewaktu kamu mendengarnya.'”

Catatan Lukas menarik disimak. Pertama, meski dianggap pengajar kampiun, Yesus tidak mengajar sesuka hatinya. Dia mengikuti kurikulum yang berlaku di rumah ibadah yang dikunjungi-Nya. Sang Guru tidak mengajar menurut seleranya sendiri. Tidak. Dia mengikuti bahan bacaan pada waktu itu.
Jelaslah Sang Guru patuh pada kurikulum. Yesus tidak menolak ketika petugas rumah ibadah memberikan Kitab Yesaya kepada-Nya. Yesus tidak membuat aturan sendiri.

Kedua, Yesus piawai menghubungkan teks Kitab Suci dengan kekinian. Artinya, Yesus tidak berbicara di awang-awang. Dia menghubungkan kitab Yesaya itu dengan kenyataan sekarang. Bahkan, Yesus mengaitkan kitab itu dengan diri-Nya sendiri. Dia menjelaskan bahwa semua yang dilakukan-Nya karena Roh Tuhan.

Namun, tanggung jawab pembelajaran tidaklah melulu pada diri guru, naradidik juga dituntut tanggung jawab yang sama. Inilah hal ketiga yang penting dalam proses belajar, yaitu kesungguhan naradidik. Minat menjadi hal yang penting dalam pembelajaran. Kehebatan Sang Guru tak akan berdampak jika dalam diri naradidik sendiri tidak ada hasrat untuk belajar.

Inilah yang dicatat Lukas: ”mata semua orang dalam rumah ibadat itu tertuju kepada-Nya.” (Luk. 4:20). Minat seseorang dapat dilihat dari matanya. Dan mata para peserta ibadah itu tertuju kepada Yesus. Mata mereka tidak menatap ke arah lain. Mereka hanya menatap Yesus. Mereka ingin tahu lebih banyak tentang kehendak Allah.

Pertanyaannya: demikian pulakah pembelajaran kita?

Yoel M. Indrasmoro
Literatur Perkantas Nasional

Posted on Tinggalkan komentar

Dalam Kuasa Roh

(Luk. 4:14-15)

”Dalam kuasa Roh kembalilah Yesus ke Galilea. Lalu tersebarlah kabar tentang Dia di seluruh daerah itu. Sementara itu Ia mengajar di rumah-rumah ibadat di situ dan semua orang memuji Dia.”

Tampaknya jelas bagi kita, para pembaca Abad XXI, Lukas menyatakan dengan jelas bahwa Yesus menundukkan diri-Nya untuk dikuasai Roh Allah. Ia berada dalam kuasa Roh. Dan itulah yang menjadi cara hidup-Nya hingga kematian di kayu salib. Kisah di Taman Getsemani, saat Yesus berikhtiar ”Jadilah kehendak-Mu”, menandaskan bahwa Anak Allah tidak bersikap semaunya, tetapi taat kepada Bapa-Nya.

Itu berarti, kita boleh menyimpulkan bahwa kabar tentang Dia yang tersebar ke mana-mana itu pun berada dalam kuasa Roh—dalam kedaulatan Roh Allah. Dan bisa dipastikan bahwa Sang Guru Baru dari Nazaret itu tidak memasang iklan. Namun, yaitu tadi, kabar tentang diri-Nya tersebar di seluruh daerah Galilea.

Menarik pula disimak, cara Lukas menceritakan bagaimana Yesus mengajar di rumah-rumah ibadat (sinagoge) memperlihatkan adanya kesinambungan ajaran Yesus dengan apa yang telah dijanjikan Allah kepada Israel. Itu jugalah yang dilakukan para pemberita Injil mula-mula.

Menurut Stefan Leks, sejak pembuangan Babel—yaitu sejak bangsa Israel tinggal jauh dari Palestina dan tak mungkin beribadah di Bait Allah—mereka mengadakan _pertemuan_ (sinagoge) untuk berdoa, membaca Taurat, dan mendengarkan khotbah. Kebiasaan itu dilanjutkan kembali saat pulang dari pembuangan. Meskipun Bait Allah telah didirikan kembali, sinagoge didirikan di mana-mana, juga di Yerusalem. Yesus memanfaatkan fasilitas itu untuk memperkenalkan tahap baru sejarah penyelamatan Allah.

Dan kita dapat percaya bahwa strategi pelayanan dan pengajaran macam begini pun merupakan buah dari kuasa Roh.

Yoel M. Indrasmoro
Literatur Perkantas Nasional

Posted on Tinggalkan komentar

Pencobaan di Padang Gurun

(Luk. 4:1-13)

”Sesudah Iblis mengakhiri semua pencobaan itu, ia mundur dari pada-Nya dan menunggu waktu yang baik” (Luk. 4:13).

Berkait Kisah Pencobaan di Padang Gurun, Lukas punya catatan menarik. Menurut dia, alasan Iblis mundur bukanlah karena merasa kalah, bukan pula karena tahu bahwa pendirian Yesus tak mungkin goyah. Akan tetapi, Iblis merasa saatnya tidak tepat. Ini cuma soal waktu.

Iblis menunggu waktu yang baik. Jika terhadap Yesus saja, Iblis merasa hanya soal waktu; bagaimana pandangannya terhadap para pengikut Yesus? Lalu, apa yang mesti kita lakukan?

Pertama, kita harus senantiasa waspada. Jangan lengah sedetik pun. Saat kita lengah, Iblis akan langsung menyambar kesempatan itu.

Logisnya, manusia memang harus lebih waspada ketimbang Iblis. Sebab, Iblis berada pada posisi menyerang. Tingkat kewaspadaan pada pihak yang diserang semestinya memang lebih tinggi.

Kedua, bersikap rendah hati. Jangan sok kuat! Jangan sekali-kali kita berkata, baik terucap maupun dalam hati, ”Saya tak mungkin jatuh!” Kesombongan macam begini hanya akan membuat kita lengah dan akhirnya jatuh beneran.

Ketiga, mari kita mencontoh sikap Yesus dalam mengatasi ketiga cobaan itu!

Perut keroncongan bukan alasan kuat bagi Yesus untuk mengubah batu menjadi roti. Dia juga tidak tergoda untuk membuktikan jati diri-Nya. Dia tetap Anak Allah, meski tak mengubah batu menjadi roti.

Iblis sanggup memberikan kuasa, namun Allah Mahakuasa. Kuasa adalah anugerah. Jika kita mengakui kemahakuasaan Allah, kita akan terhindar dari pencarian kuasa.

Iblis mencobai manusia untuk membuktikan kasih Allah. Dia mencobai manusia untuk membuktikan kesetiaan-Nya. Dia mencobai manusia untuk mencobai Allah. Untuk cobaan kayak begini, Yesus tegas berkata, ”Jangan engkau mencobai Tuhan, Allahmu!” (Luk. 4:12).

Jelaslah, Iblis tidak mencobai manusia dalam kawasan hitam-putih, melainkan abu-abu. Sekilas, cobaan Iblis kepada Yesus tidak ada yang salah. Ya, apa salahnya mengubah batu menjadi roti kala lapar, apa salahnya menjadi berkuasa, apa salahnya mencari tahu apakah Tuhan mengasihi atau tidak?

Pada titik ini, kita perlu hikmat. Caranya? Kembangkanlah alur pikir alkitabiah, bukan ayatiah! Pahamilah ayat secara benar, utuh, menyeluruh, dan seimbang. Jangan sepotong-sepotong!

Yoel M. Indrasmoro
Literatur Perkantas Nasional

Posted on Tinggalkan komentar

Silsilah Yesus

(Luk. 3:23-38)

”Ketika Yesus memulai pekerjaan-Nya, Ia berumur kira-kira tiga puluh tahun dan menurut anggapan orang, Ia adalah anak Yusuf, anak Eli…” (Luk. 3:23).

Demikianlah Lukas mengawali silsilah Yesus Kristus. Hanya Lukas yang menyatakan bahwa Yesus mulai bekerja pada usia sekitar tiga puluh tahun. Tentu bukan bekerja sebagai tukang kayu sebagaimana Yusuf, ayah-Nya, tetapi bekerja dalam karya penyelamatan Allah. Usia tiga puluh tahun dianggap matang untuk menjadi guru.

Menarik disimak, Lukas agaknya sengaja menulis ”dan menurut anggapan orang, Ia adalah anak Yusuf”. Catatan ini menjadi penting. Tentu saja, tak banyak orang yang tahu kisah mistis kelahiran Yesus—bahwa Ia dikandung dari Roh Kudus. Namun, catatan itu juga secara tidak langsung menyatakan bahwa Yusuf merupakan ayah hukum Yesus. Dan karena Yusuf adalah keturunan Daud, maka gelar ”Anak Daud” pun akhirnya disematkan kepada Yesus. Dengan demikian keseluruhan silsilah ini merupakan silsilah hukum, dan bukan silsilah jasmani.

Menarik pula disimak, dalam silsilah itu ada tercatat nama Nuh dan Henokh. Dalam Kitab Kejadian tercatat bahwa ”Nuh adalah seorang yang benar dan tidak bercela di antara orang-orang sezamannya; dan Nuh itu hidup bergaul dengan Allah”. Sedangkan untuk Henokh dinyatakan: ”Henokh hidup bergaul dengan Allah, lalu ia tidak ada lagi, sebab ia telah diangkat oleh Allah.” Keduanya hidup dalam persekutuan yang akrab dengan Allah. Dan Yesus orang Nazaret merupakan keturunan dari keduanya.

Sekali lagi, menariknya, dalam penelusuran silsilah itu Lukas tidak berhenti pada Adam, tetapi melanjutkannya dengan ”anak Allah”. Adam memang ciptaan langsung Allah. Sepertinya Lukas hendak menegaskan bahwa secara hukum, menurut silsilah, Yesus memang anak Allah. Dan itulah yang ditegaskan Allah dalam pembaptisan Yesus: ”Engkaulah Anak-Ku yang terkasih.” Dengan kata lain, baik secara _de jure_ maupun _de facto_, Yesus anak Allah.

Yoel M. Indrasmoro
Literatur Perkantas Nasional

Posted on Tinggalkan komentar

Yesus, Anak Allah, Dibaptis

(Luk. 3:21-22)

”Ketika seluruh orang banyak itu telah dibaptis dan Ketika Yesus juga dibaptis dan sedang berdoa, terbukalah langit dan turunlah Roh Kudus dalam rupa burung merpati ke atasnya. Dan terdengarkah suara dari langit, ’Engkaulah Anak-Ku yang terkasih, kepada-Mulah Aku berkenan.’”

Kisah pembaptisan Yesus versi Lukas unik. Tidak ada percakapan antara Yesus dan Yohanes Pembaptis. Bahkan, para pembaca tidak diberi tahu siapa yang membaptis Yesus. Beritanya pun singkat saja. Terkesan datar. Namun, tetap menarik disimak.

Sepertinya Lukas hendak menampilkan Yesus Orang Nazaret sama seperti manusia lainnya. Dengan kata lain, Yesus Sang Guru menyamakan dan menyatukan diri-Nya dengan orang banyak yang ingin dibaptis. Yesus tak merasa perlu diistimewakan. Dia menjadi salah seorang dari sekelompok manusia yang rindu bertobat.

Yang lainnya, Lukas tampaknya memperlihatkan bahwa karya pertama Yesus adalah berdoa. Ya, doa. Doa menjadi karya signifikan dalam kehidupan Yesus Orang Nazaret. Dan pada akhirnya Yesus mengakhiri karya-Nya dengan doa pula di Taman Getsemani.

Dan dalam suasana doa itulah langit terbuka, Roh Kudus hadir dalam rupa seperti burung merpati dan turun ke atasnya, serta terdengar suara: ”Engkaulah Anak-Ku yang terkasih, kepada-Mulah Aku berkenan.” Lukas tampaknya hendak menyatakan bahwa orang-orang yang telah dibaptis itu menjadi saksi dari peristiwa baptis ini.

Apa artinya ini? Kemungkinan besar Lukas hendak mengajak para pembacanya untuk menjadi saksi bahwa Yesus adalah Anak Allah, kesayangan Bapa-Nya, namun rela menyatukan diri-Nya dengan manusia, dan pada akhirnya menyelamatkan manusia.

Itu berarti kita juga dipanggil untuk menjadi saksi karya penyelamatan Allah itu. Sehingga makin banyak orang merasakan karya penyelamatan Allah itu.

Yoel M. Indrasmoro
Literatur Perkantas Nasional

Posted on Tinggalkan komentar

Mendekam dalam Penjara

(Luk. 3:18-20)

”Dengan banyak nasihat lain Yohanes memberitakan Injil kepada orang banyak. Akan tetapi, setelah raja wilayah Herodes ditegur olehnya karena peristiwa Herodias, istri Saudaranya, dan karena segala kejahatan lain yang dilakukannya, raja itu menambah kejahatannya dengan memasukkan Yohanes ke dalam penjara.”

Berkait pelayanan Yohanes Pembaptis, Lukas tak menulis banyak. Hanya satu kalimat. Namun, satu kalimat itu memperlihatkan bahwa pelayanan Yohanes Pembaptis di mata Lukas serupa dengan pelayanan Yesus. Sehingga Lukas berani menyimpulkan bahwa Yohanes Pembaptis memberitakan Injil bagi bangsa Yahudi.

Namun demikian, penginjilan itu tak berlangsung lama. Pelayanan Yohanes Pembaptis bermuara di dalam penjara. Ya, Yohanes Pembaptis mendekam di penjara karena sang raja tak senang ditegur.

Teguran itu bukan tanpa dasar. Entah bagaimana ceritanya, sang raja mengambil Herodias, istri saudaranya, sebagai istrinya. Di mata anak Zakharia, tindakan sang raja tak bisa dibenarkan. Dan karena itu, Yohanes Pembaptis menegurnya. Bukannya bertobat, sang raja menangkap sang nabi dan memasukkannya ke dalam penjara.

Menarik disimak, jika dalam peristiwa di Sungai Yordan, banyak orang—termasuk pemungut cukai, juga para prajurit—yang merasa ditegur bertanya, ”Apakah yang harus kami perbuat?”; maka sang raja tak bertanya. Mungkin karena merasa benar. Bisa jadi karena malu bertanya. Yang pasti tindakan sang raja membuat Israel kehilangan nabinya.

Yoel M. Indrasmoro
Literatur Perkantas Nasional

Posted on Tinggalkan komentar

Tahu Diri

(Luk. 3:15-17)

”Aku membaptis kamu dengan air, tetapi Ia yang lebih berkuasa daripada aku akan datang dan membuka tali kasut-Nya pun aku tidak layak. Ia akan membaptis kamu dengan Roh Kudus dan dengan api.” (Luk. 3:16).

Demikianlah jawaban Yohanes Pembaptis ketika orang bertanya kalau-kalau ia adalah Mesias. Sejatinya selama kurang lebih 300 tahun di Israel tidak muncul seorang nabi pun. Sehingga tampilnya Yohanes di gurun merupakan peristiwa penting sekali dalam sejarah bangsa itu. Tak heran banyak orang berbondong-bondong datang ke gurun untuk melihat nabi fenomenal itu. Mereka sungguh berharap dia Sang Mesias.

Akan tetapi, dalam kuasa Roh, Yohanes tidak mengambil kesempatan di tengah ketidaktahuan orang banyak. Dia mengakui bahwa dia hanya saksi. Bahkan dia merasa tidak layak membuka tali kasut Mesias. Membuka tali kasut adalah tugas seorang hamba. Dengan kata lain, Yohanes Pembaptis hendak menyatakan bahwa menjadi hamba Mesias pun dia tidak layak.

Dia juga mengakui bahwa kualitas baptisannya pun berbeda. Baptisannya adalah baptisan pertobatan. Sedangkan Yesus membaptis dengan Roh Kudus artinya dibaptis dalam nama Yesus membuat orang sepenuhnya menjadi manusia baru dan memiliki karunia Roh Kudus.

Yohanes Pembaptis sungguh memahami jati dirinya. Dia tidak bersikap dan bertindak lebih dari yang dikaruniakan Allah kepadanya. Semuanya itu hanya mungkin terjadi di dalam Roh Allah. Yohanes sungguh dikuasai Roh Allah. Dengan kata lain, Roh Allah diam di dalam dirinya. Itulah yang membuatnya tahu diri dan mau menjalani panggilannya.

Yoel M. Indrasmoro
Literatur Perkantas Nasional

Posted on Tinggalkan komentar

Pesan Yohanes

(Luk. 3:10-14)

Khotbah yang baik itu menggerakkan. Dan itulah yang terjadi dengan khotbah Yohanes Pembaptis. Orang banyak, para pemungut cukai, juga prajurit kompak bertanya, ”Apakah yang harus kami perbuat?”

”Siapa saja yang mempunyai dua helai baju, hendaklah ia membaginya dengan yang tidak punya, dan siapa saja yang mempunyai makanan, hendaklah ia berbuat juga demikian” (Luk. 3:11).

Yohanes Pembaptis berbicara mengenai apa yang dimakan dan dipakai. Dalam Garuda Pancasila, lambangnya padi dan kapas. Jelas, anak Zakharia itu sedang membicarakan kebutuhan primer—yang dibutuhkan manusia untuk tetap menjadi manusia. Dia menegaskan pentingnya berbagi.

Itu tidak berarti kita enggak boleh punya baju cadangan. Bukan itu maksudnya. Namun, jangan sampai kita bingung mau pakai baju apa, sementara tetangga kita enggak punya baju pantas pakai. Lagi pula, dalam keadaan normal orang tak akan memakai dua baju sekaligus!

Berkait soal makanan, manusia hanya perlu sepiring nasi sekali makan. Kalaupun nambah, paling banter hanya sepiring nasi. Lagi pula, kita jarang memasak segelas beras bukan? Ketimbang dibuang atau terbuang, ya lebih baik dibagikan kepada yang membutuhkan!

Kepada para pemungut cukai, Yohanes Pembaptis berkata, ”Jangan menagih lebih banyak daripada yang telah ditentukan bagimu” (Luk. 3:13). Tegasnya: jangan menyalahgunakan jabatan. Jangan korup!

Jabatan itu amanat, bukan alat untuk mengumpulkan kekuasaan dan menggunakannya demi kepentingan sendiri. Kalaupun dipahami sebagai alat, ya harus dipakai untuk kesejahteraan umum.

Kepada para prajurit yang bertanya, anak Zakharia itu menjawab, ”Jangan merampas dan jangan memeras dan cukupkanlah dirimu dengan gajimu” (Luk. 3:14). Jelas maknanya: jangan menyalahgunakan wewenang dan cukupkan diri dengan gaji yang ada!

Masalahnya kerap di sini. Ketika memiliki senjata seseorang merasa lebih hebat dari orang lain dan cenderung mencari tambahan dengan mengobyekkan senjatanya. Tak ubahnya premanisme karena orang dipaksa membeli—setidaknya menyewa—keamanan. Masalahnya makin ruwet kala didalangi instansi resmi.

Pesan Yohanes Pembaptis sederhana. Saking sederhana kadang kita malah mengabaikannya.

Yoel M. Indrasmoro
Literatur Perkantas Nasional

Posted on Tinggalkan komentar

Gamblang

(Luk. 3:7-9)

”Hai kamu keturunan ular berbisa! Siapakah yang memperingatkan kamu supaya melarikan diri dari murka yang akan datang? Jadi, hasilkanlah buah-buah yang sesuai dengan pertobatan. Janganlah berpikir dalam hatimu: Abraham adalah bapak leluhur kami! Karena aku berkata kepadamu: Allah dapat menjadikan anak-anak bagi Abraham dari batu-batu ini! Kapak sudah tersedia pada akar pohon dan setiap pohon yang tidak menghasilkan buah yang baik, akan ditebang dan dibuang ke dalam api.”

Khotbah Yohanes Pembaptis gampang dicerna. Khotbahnya jauh dari bumbu-bumbu, yang sering mengaburkan makna sebenarnya. Yang akhirnya membuat pendengar harus menebak maksud si pengkhotbah.

Khotbah Anak Zakharia ini gamblang, sehingga mudah dimengerti. Dan, yang juga menarik, khotbahnya mendarat pada pokok persoalan. _To the point_.

Para pendengarnya tak perlu berpikir keras memahami maksudnya. Mereka juga tidak perlu menggunakan kamus-kamus teologi. Karena Yohanes Pembaptis tidak menggunakan istilah-istilah teknis teologi yang sulit dipahami. Dia memakai istilah-istilah yang memang dimengerti.

Yohanes Pembaptis berbicara soal buah, pohon, kapak, dan akar pohon. Dan semuanya itu jelas sekali maksudnya. Kita tak perlu bersusah payah menafsirkan arti lain dari buah, pohon, kapak, dan akar pohon.

Idenya sederhana. Manusia mesti berbuah. Buahnya bukanlah buah sembarang buah. Buahnya buah pertobatan.
Jika mereka tidak mau berbuah, maka kapak sudah tersedia. Guna kapak itu bukan untuk memangkas, tetapi untuk menebang pohon yang tidak mau berbuah. Dan tindakan itu logis. Ya, apa gunanya pohon jika tidak menghasilkan buah. Memelihara tanaman semacam itu hanya menghabiskan energi.

Yoel M. Indrasmoro
Literatur Perkantas Nasional

Posted on Tinggalkan komentar

Padang Gurun

(Luk. 3:3-6)

”Lalu datanglah Yohanes ke seluruh daerah Yordan dan memberitakan baptisan tobat untuk pengampunan dosa, seperti ada tertulis dalam kitab nubuat-nubuat Yesaya: “Ada suara yang berseru-seru di padang gurun: Persiapkanlah jalan untuk Tuhan, luruskanlah jalan bagi-Nya. Setiap lembah akan ditimbun dan setiap gunung dan bukit akan menjadi rata, yang berliku-liku akan diluruskan, yang berlekuk-lekuk akan diratakan, dan semua orang akan melihat keselamatan yang dari Tuhan.”

Dalam pandangan Lukas, Yohanes Pembaptis merupakan penggenapan nubuat dari suara yang berseru-seru di padang gurun. Suara yang berseru-seru. Bukan dalam hati, tetapi dilantangkan. Bukan di kota atau desa, tetapi di padang gurun.

Suara harus dikumandangkan. Apalagi jika bukan untuk kepentingan privat. Suara itu wajib diperdengarkan karena sifatnya, yaitu tadi, untuk kepentingan publik. Dan baptisan tobat untuk pengampunan dosa memang bukan bagi kalangan sendiri. Sifatnya universal. Dan anak Zakharia itu ingin semua orang melihat keselamatan yang dari Tuhan.

Padang gurun menjadi lokus karya Yohanes Pembaptis. Padang gurun merupakan tempat orang hanya mungkin bergantung kepada Allah saja. Sebagaimana Israel merasakan pemeliharaan, perlindungan, dan penguatan Allah, Yohanes Pembaptis pun demikian. Semua bertumpu kepada Allah saja.

Setiap pelayan firman Allah dipanggil juga untuk menjadikan padang gurun sebagai lokus pelayanannya. Itu berarti senantiasa bersandar kepada Allah saja. Bagaimanapun pelayanan firman Allah sejatinya memang karya Allah.

Yoel M. Indrasmoro
Literatur Perkantas Nasional

Posted on Tinggalkan komentar

Konteks

(Luk. 3:1-2)

”Dalam tahun kelima belas pemerintahan Kaisar Tiberius, ketika Pontius Pilatus menjadi gubernur Yudea, dan Herodes raja wilayah Galilea, Filipus, saudaranya, raja wilayah Iturea dan Trakhonitis, dan Lisanias raja wilayah Abilene, pada waktu Hanas dan Kayafas menjadi Imam Besar, datanglah firman Allah kepada Yohanes, anak Zakharia, di padang gurun” (Luk. 3:1-2).

Latar belakang kemunculan Yohanes Pembaptis versi Lukas menarik disimak. Lukas merasa perlu menampilkan banyak nama pemimpin—baik pemimpin politik maupun pemimpin agama. Mengapa Lukas melakukannya? Tentu hanya Lukas yang tahu, namun kita bisa menduganya.

Catatan Lukas—sesuai kebiasaan penulis pada zamannya—menyiratkan bahwa panggilan Allah kepada Yohanes bukanlah di luar ruang hampa. Berita pertobatan yang dinyatakan Yohanes Pembaptis hadir dalam sebuah konteks. Dan konteksnya adalah hidup keagamaan dan politik. Lukas menempatkan karya Yohanes Pembaptis dalam kerangka sejarah dunia bangsa-bangsa dan sejarah Israel sendiri. Ia merasa perlu menyebut kaisar Roma, wali negeri Yudea, tiga raja wilayah, dan dua imam besar. Totalnya tujuh. Angka keramat bagi pembaca Yahudi.

Menarik pula disimak Lukas tak hanya bicara soal politik lokal, melainkan juga politik global. Pencantuman nama Kaisar Tiberius jelas memperlihatkan hal itu. Bisa jadi Lukas hendak menyatakan bahwa berita pertobatan itu dampaknya bisa meluas, tak hanya di lingkungan Israel, tetapi juga dunia.

Penyebutan wilayah Iturea dan Trakhonitis yang terkenal sebagai wilayah kafir jelas memperlihatkan bahwa berita pertobatan itu bukan hanya untuk orang Yahudi saja, tetapi juga bangsa-bangsa lain. Pertobatan itu universal sifatnya. Dan tentu saja dibutuhkan dalam kehidupan politik dan agama.

Yoel M. Indrasmoro
Literatur Perkantas Nasional

Posted on Tinggalkan komentar

Dua Orang Tua

(Luk. 2:43-52)

”Dan Yesus makin bertambah besar dan bertambah hikmat-Nya dan besar-Nya, dan makin dikasihi oleh Allah dan manusia” (Luk. 2:52). Demikianlah cara Lukas menutup kisah Yesus pada umur dua belas tahun dalam Bait Allah (masa muda Yesus), sekaligus menjadi pengantar pemunculan-Nya di muka umum.

Adakah orang tua yang tidak mendambakan anak macam begini: dewasa fisik juga bijaksana? Kedewasaan fisik dan rohani itulah yang membuat-Nya makin dikasihi Allah dan manusia. Dia menjadi pribadi yang tidak hanya menyenangkan manusia, tetapi juga Allah. Dan Lukas jelas menyatakan bahwa semua itu merupakan hasil pengasuhan Yusuf dan Maria (lih. Luk. 2:51). Namun, pengasuhan keluarga kudus itu tampaknya sedikit banyak dipengaruhi oleh peristiwa hilangnya Yesus saat Paskah di Yerusalem.

”Tidakkah kamu tahu, bahwa Aku harus berada di dalam rumah Bapa-Ku?” (Luk. 2:49). Demikian respons Yesus atas keluhan ibu-Nya. Lukas mencatat bahwa orang tua Yesus tidak memahami apa yang dikatakan-Nya. Catatan Lukas ini menjadi penting karena baik Yusuf maupun Maria agaknya lupa siapa anak mereka sesungguhnya. Kemungkinan itu terjadi karena setelah kembali dari pengungsian di Mesir, mereka melihat bahwa Yesus tak beda jauh dari rekan sebayanya!

Tentu saja, Yusuf dan Maria tidak sepenuhnya salah. Mereka merupakan contoh dari orang tua yang bertanggung jawab. Telah tiga hari mereka kelabakan mencari Yesus. Suasana sukacita Paskah pun tampaknya lenyap sudah. Pencarian selama tiga hari itu menyiratkan bahwa Yusuf dan Maria sepertinya tidak menyangka anak sulung mereka akan berada di Bait Allah—bertukar pikiran dengan para guru agama. Seandainya, mereka sadar bahwa Yesus harus berada di Bait Allah, tentu mereka tidak butuh waktu lama. Tetapi, agaknya mereka, sekali lagi, lupa siapa anak mereka sebenarnya.

Tak heran, saat mereka menemukan-Nya, Maria tak dapat menahan hatinya langsung menegur, ”Nak, mengapakah Engkau berbuat demikian terhadap kami? Bapa-Mu dan aku dengan cemas mencari Engkau.” Ada rasa kelegaan sekaligus kegusaran dalam kalimat Maria itu. Lega telah menemukan Yesus, gusar karena Yesus tidak memberi tahu sebelumnya.

Namun, mereka terkejut ketika Yesus menjawab, ”Mengapa ayah dan ibu mencari Aku? Apakah ayah dan ibu tidak tahu bahwa Aku harus ada di dalam rumah Bapa-Ku?” Dalam jawaban Yesus ini tersirat ada perbedaan makna antara orang tua manusiawi dan orang tua ilahi. Dan Yesus hendak menekankan hal itu kepada orang tua manusiawi-Nya.

Jelaslah bahwa setiap manusia mempunyai dua orang tua—orang tua ilahi dan orang tua manusiawi. Dan tugas orang tua manusiawi adalah memperkenalkan anak mereka kepada orang tua ilahinya.

Yoel M. Indrasmoro
Literatur Perkantas Nasional

Posted on Tinggalkan komentar

Ajek

(Luk. 2:41-42)

”Tiap-tiap tahun orang tua Yesus pergi ke Yerusalem pada hari raya Paskah. Ketika Yesus telah berumur dua belas tahun pergilah mereka ke Yerusalem seperti yang lazim pada hari raya itu.”

Catatan Lukas berkait dengan religiositas orang tua Yesus menarik disimak. Tampaknya Lukas dengan sengaja menggunakan keterangan waktu ”tiap-tiap tahun”. Itu berarti tak pernah tidak. Setiap tahun Maria dan Yusuf pergi ke Yerusalem untuk merayakan Paskah.

Kita bisa menduga bahwa Yusuf dan Maria bukanlah keluarga kaya, namun tentu saja tak miskin-miskin amat. Atau, kita bisa menduga bahwa mereka menyediakan dana yang cukup agar dapat berziarah ke Yerusalem setiap tahunnya.

Namun, di atas semuanya itu mereka menghayati bahwa Paskah bukan peristiwa biasa dalam kehidupan berbangsa, juga kehidupan keluarga. Paskah merupakan Hari Kemerdekaan Israel sebagai bangsa. Peristiwa kemerdekaan itu bukanlah akibat perjuangan mengangkat senjata, tetapi karena Allah telah memilih dan mengangkat mereka sebagai umat milik-Nya sendiri. Dan itulah yang hendak dirayakan di Yerusalem. Dan sekali lagi penghayatan tak hanya menyentuh ranah batin, namun juga ranah tindak. Tak hanya konsumsi otak, juga raga.

Dan ketika Yesus berumur dua belas tahun, Yusuf dan Maria pun mengajak Yesus untuk berziarah ke Yerusalem. Bisa jadi tahun-tahun sebelumnya Yesus bertanya mengapa mereka berdua melakukannya. Dan mereka kemungkinan besar menjelaskannya dengan baik. Mungkin saja Yesus mengutarakan keinginannya untuk ikut, dan Maria telaten menghibur anaknya bahwa semua ada waktunya dan meminta Yesus bersabar.

Sikap ibadah memang perlu dihayati dan diterapkan dalam keluarga sejak dini. Pada titik ini orang tua Yesus patut dijadikan teladan.

Yoel M. Indrasmoro
Literatur Perkantas Nasional

Posted on Tinggalkan komentar

Spiritualitas Keseharian

(Luk. 2:39-40)

”Setelah selesai semua yang harus dilakukan menurut hukum Tuhan, kembalilah mereka ke kota kediaman mereka, yaitu kota Nazaret di Galilea. Anak itu bertambah besar dan menjadi kuat, penuh hikmat, dan anugerah Allah ada pada-Nya.”

Hidup tak sekadar perayaan, namun juga keseharian. Dari segi jumlah waktu, keseharian pastilah lebih banyak dari perayaan. Hidup memang tak sekadar pesta. Dan pesta pun akhirnya usai.

Itu jugalah yang dilakukan keluarga Yusuf dan Maria. Setelah melakukan semua yang mesti dilakukan seturut hukum Tuhan, pulanglah mereka ke Nazaret, di Galilea, kota kediaman mereka. Yusuf kembali ke pekerjaannya selaku tukang kayu, dan Maria pun kembali pada tugasnya sebagai istri dan ibu.

Namun, yang penting untuk dicatat adalah dalam keseharian yang terkesan profan itu, menurut Alkitab BIMK, ”Anak itu bertambah besar dan kuat. Ia bijaksana sekali dan sangat dikasihi oleh Allah.” Pola pengasuhan Yusuf dan Maria ternyata menghasilkan pribadi yang secara fisik sehat, namun secara rohani sungguh bijaksana, bahkan terdapat catatan dikasihi Allah.

Apa artinya ini? Keseharian bukanlah hal yang remeh. Rutinitas bukanlah hal biasa. Kita mesti mengisinya dengan hal-hal yang terbaik dan luar biasa. Persoalannya sering memang di sini, rutinitas telah mengalami peyorasi, yaitu perubahan makna yang mengakibatkansebuah ungkapan menggambarkan sesuatu yang lebih tidak enak dan tidak baik. Padahal, makan, minum, tidur, kerja, juga mengasuh anak merupakan rutinitas. Masak iya kita menganggapnya sebagai sesuatu yang negatif.

Oleh karena itu, kita perlu memberi makna rohani pada yang rutin-rutin tadi. Dan itu bisa kita sebut sebagai spiritualitas keseharian.

Yoel M. Indrasmoro
Literatur Perkantas Nasional

Posted on Tinggalkan komentar

Simeon dan Hana

(Luk. 2:22-38)

”Ketika Yesus, Anak itu, dibawa masuk oleh orang tua-Nya untuk melakukan kepada-Nya apa yang ditentukan hukum Taurat, ia menyambut Anak itu dan menatang-Nya sambil memuji Allah, katanya: ’Sekarang, Tuhan, biarkanlah hamba-Mu ini pergi dalam damai sejahtera, sesuai dengan firman-Mu, sebab mataku telah melihat keselamatan yang dari pada-Mu, yang telah Engkau sediakan di hadapan segala bangsa, yaitu terang yang menjadi penyataan bagi bangsa-bangsa lain dan menjadi kemuliaan bagi umat-Mu, Israel.’” (Luk. 2:27-32).

Simeon, seorang yang benar dan saleh, menyambut anak itu. Perhatikan catatan Lukas tentang Simeon! Dia adalah seorang yang benar dan saleh, yang menantikan penghiburan bagi Israel. Benar berkaitan apa yang ada dalam diri seseorang; saleh berkait dengan apa yang tampak; tingkah laku.

Dan ketika menyambut Anak itu, Simeon tidak ragu-ragu. Dia tidak merasa perlu menilai Anak itu berdasarkan keberadaan orang tuanya. Namun, dengan yakinnya, dia bersaksi tentang Anak itu. Ini masalah kepekaan. Dan Simeon seorang yang peka!

Kepekaan itu, tentunya tidaklah berasal dari kemampuan Simeon sendiri, Lukas mencatat: ”Ia datang ke Bait Allah oleh Roh Kudus.” (Luk. 2:27). Jelas, kepekaan Simeon adalah karena dia mendengarkan suara Roh Kudus. Dan karena peka terhadap suara Roh Kudus inilah, Simeon menggemakan kembali nubuat Yesaya (Yes. 62:2).

Tak hanya Simeon, yang peka. Lukas mencatat bahwa Hana pun datang ke Bait Allah, mengucap syukur kepada Allah, dan berbicara tentang bayi Yesus kepada semua orang yang menantikan kelepasan untuk Yerusalem. Hana begitu yakinnya bersaksi kepada orang yang ada di situ tentang bayi Yesus itu.

Jika Simeon bersaksi kepada Yusuf dan Maria, maka Hana bersaksi kepada orang-orang yang ada di situ. Hana mengajak orang-orang yang ada di situ untuk mengarahkan pandangan mereka kepada Yesus Kristus.

Pertanyaannya sekarang: Apakah kita sungguh-sungguh ingin menjadikan kehendak Allah dalam diri kita? Apakah kita sungguh-sungguh peka terhadap suara Allah. Jangan hanya mendengarkan suara kita! Kita perlu mendengarkan suara Allah. Yang juga penting ialah apakah yang kita lakukan sungguh-sungguh mengarahkan orang kepada Yesus Kristus? Hanya dengan cara itulah kita sungguh-sungguh membuktikan bahwa kita adalah hamba Allah.

Yoel M. Indrasmoro
Literatur Perkantas Nasional

Posted on Tinggalkan komentar

Nama-Nya Yesus

(Luk. 2:21)

”Ketika genap delapan hari dan Ia harus disunatkan, Ia diberi nama Yesus, yaitu nama yang disebut oleh malaikat sebelum Ia dikandung ibu-Nya.”

Dengan catatan Lukas ini, tahun baru Masehi—delapan hari sesudah Natal—mendapatkan tempat dan maknanya dalam tradisi Kristen. Tahun baru bukan sekadar awal tahun, namun itulah saat Yesus disunat dan diberi nama.

Dalam peristiwa sunat nyatalah bahwa kedua orang tua Yesus bukanlah orang yang gemar melanggar tradisi. Meski mereka tahu bahwa anak sulung mereka bukanlah anak sembarangan, namun mereka tidak merasa perlu meminta dispensasi. Mereka bertindak sama seperti para orang tua lainnya. Mereka tidak minta keringanan atau keistimewaan, meski anak mereka sosok istimewa.

Yusuf maupun Maria adalah orang yang enggak neko-neko. Mereka menghargai tradisi. Mereka mengikuti tradisi karena dari situlah mereka berasal. Melupakan tradisi tak ubahnya dengan memutuskan diri dari sejarah kita sendiri. Dan bicara soal sejarah, adakah manusia tanpa sejarah? Jawabnya: tentu tidak ada!

Namun, ini yang perlu dicatat, soal pemberian nama mereka tidak mengikuti tradisi. Lukas dengan jelas menyatakan bahwa Anak itu diberi nama Yesus, yaitu nama yang disebut oleh malaikat sebelum Ia dikandung ibu-Nya.

Jelaslah, orang tua Yesus adalah penganut tradisi yang baik, tetapi tidak taat buta pada tradisi. Berkenaan dengan nama, mereka lebih taat kepada Allah ketimbang tradisi. Mereka lebih bersikap sebagai hamba Allah ketimbang hamba tradisi! Ketika kehendak Allah disandingkan dengan tradisi, mereka memilih kehendak Tuhan tanpa syarat.

Dan nama-Nya adalah Yesus. Nama itu bukanlah nama sembarang nama. Yesus merupakan nama Aram untuk nama Ibrani _Yesyua_ (bentuk singkat dari _Yehosyua_). Artinya: Yahwe menyelamatkan! Allah yang memberi keselamatan. Dan nama itu bukanlah sekadar nama karena Yesus sendirilah yang akan menyelamatkan umat-Nya.

Siapakah yang diselamatkan? Semua manusia! Artinya, semua manusia mendapatkan kesempatan untuk menerima penyelamatan Allah itu. Persoalan menerima atau menolak penyelamatan Allah merupakan hal yang lain.

Nama-Nya Yesus. Artinya: Yahwe menyelamatkan. Dan ini jugalah kunci bagi kita dalam memasuki tahun 2022. Masa depan kita gelap, dan serba tidak pasti! Hanya satu yang pasti: Allah adalah Pribadi yang siap menjadi Juru Selamat kita dalam mengarungi waktu di dunia ini! Artinya, tak ada lagi yang perlu kita takutkan di masa datang!

Selamat Tahun Baru!

Yoel M. Indrasmoro
Literatur Perkantas Nasional

Posted on Tinggalkan komentar

Menyimpan dan Merenungkan

(Luk. 2:19)

”Tetapi Maria menyimpan segala perkataan itu di dalam hatinya dan merenungkannya.”

Demikianlah catatan Lukas berkait dengan sikap Maria menanggapi kedatangan para gembala yang memberitahukan bagaimana Malaikat Tuhan mendatangi mereka dan menyatakan apa yang dikatakan tentang Anak itu.

Maria bukanlah tipe orang yang cepat merespons dengan kata-kata. Apalagi untuk hal-hal yang tidak dipahaminya. Jalan yang biasa dia ambil adalah diam, menyimpan peristiwa itu, dan merenungkannya.

Kata banyak orang diam itu emas. Cepat bicara, terlebih kebanyakan bicara, bisa membuat jatuh orang tersandung, baik yang bicara maupun yang mendengarnya. Perkataan yang tidak dipikirkan masak-masak bisa membuat orang terluka. Dan akhirnya yang cepat bicara jadi malu sendiri, setidaknya merasa bersalah karena, tentu saja tak disengaja, telah melukai.

Berkait perkataan para gembala, Maria dengan sengaja menyimpan semuanya itu dalam hatinya. Dia memang belum paham sepenuhnya. Sebelumnya Gabriel mengatakan kepadanya bahwa anaknya akan menjadi Mesias, dan kelak akan diakui sebagai Tuhan. Para gembala datang dengan sebuah berita yang mengatakan bahwa anaknya adalah Juru Selamat. Dengan begitu, perkataan para gembala itu menambah khazanah pengetahuan Maria. Dan karena enggak begitu paham, Maria menyimpannya di dalam hati.

Tak sekadar menyimpan, tetapi merenungkannya. Kata yang diterjemahkan dengan ”merenungkan” dalam bahasa Yunani adalah _symballo_. Kata ini dekat dengan kata simbol dalam bahasa Indonesia. Menurut Stefans Leks, kata _symballo_ searti dengan mengkonfrotasikan antara fakta dan fakta, sabda dan sabda, juga sabda dengan fakta, untuk menangkap hubungan timbal baik dan makna terdalamnya. Dengan kata lain Maria terus berdialog dengan sabda yang didengarnya melalui para gembala. Dan itu berarti berkomunikasi dengan Allah sendiri.

Di ujung tahun 2021 ini, sikap dan tindakan Maria bisa kita jadikan teladan untuk terus berdialog dengan Tuhan berkait dengan hari-hari yang telah kita lalui. Yang pada gilirannya bisa kita jadikan modal dalam memasuki tahun 2022.

Yoel M. Indrasmoro
Literatur Perkantas Nasional

Posted on Tinggalkan komentar

Klarifikasi

(Luk. 2:15-20)

”Marilah kita pergi ke Betlehem untuk melihat apa yang terjadi di sana, seperti yang diberitahukan Tuhan kepada kita” (Luk. 2:15).

Demikianlah para gembala itu berkata-kata seorang kepada yang lain. Apa yang menarik dari kalimat ini? Tampaknya para gembala itu berikhtiar melakukan klarifikasi. Mereka tidak langsung menyebarkan berita itu, namun melakukan klarifikasi.

Memang pada masa itu, teknologi komuniasi tak secanggih sekarang. Akan tetapi, jika menyebarkan berita kelahiran Juru Selamat tanpa melihat Juru Selamat dengan mata kepala mereka sendiri, maka mereka akan menjadi bahan tertawaan orang. Dan bisa jadi untuk selanjutnya mereka tidak dipercaya orang karena telah menyebarkan hoaks—sudah masuk dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia—kabar bohong. Dan lebih parah lagi, jika ada yang percaya, maka akan semakin banyak orang yang disesatkan.

Untunglah mereka tidak melakukannya. Untunglah para gembala itu merasa perlu klarifikasi. Dan menarik pula disimak catatan Lukas perihal ikhtiar itu: ”Lalu mereka cepat-cepat berangkat dan menjumpai Maria dan Yusuf dan bayi itu, yang sedang berbaring di dalam palungan” (Luk. 2:16).

Para gembala itu merasa perlu cepat-cepat, segera, langsung, tidak menunggu esok. Mengapa? Besok mungkin sudah terlambat. Mengapa terlambat? Bisa jadi Sang Bayi sudah tidak lagi terbaring di Palungan! Ibu mana yang tega membiarkan anaknya terus terbaring di palungan.

Jika para gembala tidak cepat-cepat menemui bayi itu maka mereka akan kehilangan kesempatan untuk klarifikasi. Sehingga catatan penutup Lukas berkenaan dengan para gembala Efrata menjadi semakin menarik: ”Maka kembalilah gembala-gembala itu sambil memuji dan memuliakan Allah karena segala sesuatu yang mereka dengar dan mereka lihat, semuanya sesuai dengan apa yang telah dikatakan kepada mereka” (Luk. 2:20).

Para gembala itu telah mengalami berita Natal sesungguhnya. Kabar Natal itu sungguh dialami. Berita Natal itu tak sekadar berita, tetapi sungguh dialami. Mengapa bisa demikian? Karena mereka mau mengambil waktu untuk klarifikasi. Inilah hikmat yang sesungguhnya!

Pertanyaannya adalah seberapa banyak kita menyediakan waktu untuk klarifikasi? Di tengah budaya digital yang serbacepat, kita dipanggil untuk klarifikasi. Dan sejatinya ini merupakan perwujudan dari hikmat Allah.

Yoel M. Indrasmoro
Literatur Perkantas Nasional

Posted on Tinggalkan komentar

Kemuliaan Hanya bagi Allah

(Luk. 2:13-14)

”Tiba-tiba tampaklah bersama-sama dengan malaikat itu sejumlah besar bala tentara surga yang memuji Allah, katanya, ’Kemuliaan bagi Allah di tempat yang mahatinggi dan damai sejahtera di bumi di antara manusia yang berkenan kepada-Nya.’”

Demikianlah sambutan bala tentara surga atas kehadiran Allah dalam rupa insan. Siapa yang pernah berpikir bahwa Allah Yang Mahakuasa hadir di dunia ciptaan-Nya dalam wujud seorang bayi? Siapa pula yang berani berpikir bahwa kehadiran-Nya tidak menampakkan tanda-tanda keilahian, tak ada sinar di wajah-Nya, tergolek lemah di palungan.

Dalam refleksi Natalnya, Pdt. W. Kristian Wijaya menulis: ”Naik tingkat…. Naik pangkat…. Naik jabatan…. Naik gaji…. Naik pendapatan…. Naik kekuasaan…. Siapa yang tidak menginginkannya? Itulah yang dicari-cari oleh manusia.

Sementara soal turun…. Turun kekuasaan…. Turun jabatan…. Turun pendapatan…. Turun pangkat dan derajat…. Sungguh hal-hal itu sangat dihindari oleh banyak orang, bahkan sering dihindari dengan cara saling sikut-sikutan bahkan saling menyingkirkan.

Namun di dalam Natal kelahiran Yesus Kristus kita diajak memaknai kata turun yang bermakna positif dan mulia. Yesus, Sang Firman, turun ke dunia. Allah turun menjadi manusia.”

Allah berkenan turun menjadi manusia agar manusia merasakan persekutuan dengan-Nya. Berkait persekutuan Allah dan manusia pilihannya memang cuma dua: Manusia turun menjadi manusia atau manusia yang naik menjadi Allah. Pilihan yang kedua jelas lebih mustahil. Sehingga peristiwa Allah turun menjadi manusia—meski tak mudah dipahami akal manusia—masih lebih mungkin meski terasa aneh. Dan karena itulah pujian kepada Allah menjadi sebuah keniscayaan.

Dan sepertinya bala tentara surgawi itu mengajak para gembala untuk memuliakan Allah. Dan ketika Allah dimuliakan, damai sejahtera sungguh terwujud di bumi. Sebaliknya, ketika manusia dimuliakan, yang terjadi hanyalah petaka demi petaka.

Yoel M. Indrasmoro
Literatur Perkantas Nasional

Posted on Tinggalkan komentar

Tanda-Nya

(Luk. 2:8-12)

”Di daerah itu ada gembala-gembala yang tinggal di padang menjaga kawanan ternak mereka pada waktu malam. Tiba-tiba berdirilah seorang malaikat Tuhan di dekat mereka dan kemuliaan Tuhan bersinar meliputi mereka dan mereka sangat ketakutan. Lalu kata malaikat itu kepada mereka: ’Jangan takut, sebab sesungguhnya aku memberitakan kepadamu kesukaan besar untuk seluruh bangsa: Hari ini telah lahir bagimu Juruselamat, yaitu Kristus, Tuhan, di kota Daud. Dan inilah tandanya bagimu: Kamu akan menjumpai seorang bayi dibungkus dengan lampin dan terbaring di dalam palungan.’”

Alamat Sang Bayi bukanlah nama orang tua-Nya. Bisa jadi, nama Maria dan Yusuf termasuk pasaran di zamannya. Tak mudah mencari orang tua Juruselamat di antara sekian banyak pemilik nama itu. Lagi pula, mereka orang asing. Jadi lebih susah lagi!

Palungan menjadi tanda yang tepat karena tiada bayi, hingga hari ini, yang terbaring di sana. Yesus adalah satu-satunya bayi! Palungan menjadi tanda karena palungan bersedia menjadi tempat!

Kita, orang percaya abad XXI, juga dipanggil menjadi palungan! Menjadi palungan berarti menjadi tempat. Menjadi palungan berarti menyediakan ruang dalam hati kita untuk Allah dan manusia. Janganlah pula kita lupa, palungan adalah tempat makanan. Palungan tak ubahnya piring dalam dunia manusia. Menjadi palungan berarti menjadi piring. Menjadi palungan berarti menjadi penyalur berkat Tuhan.

Itu pulalah yang dilakukan para gembala Efrata. Di hati orang-orang biasa itu ada tempat bagi Allah sehingga mereka spontan berangkat mencari-Nya! Di hati mereka ada tempat bagi manusia sehingga mereka menjadi penginjil-penginjil pertama bagi warga Betlehem. Mereka juga meneguhkan hati Yusuf dan Maria.

Suasana dalam kandang itu pasti ramai. Seramai orang menyambut kelahiran bayi. Itu mungkin tak akan pernah terjadi di rumah penginapan karena para tamu sibuk sendiri-sendiri.

Menjadi palungan berarti menjadi tanda kehadiran Yesus di dunia. Menjadi tanda kehadiran Yesus berarti melalui kita orang merasakan kasih Yesus. Menjadi tanda kehadiran Yesus berarti bersedia menjadi sesama bagi orang lain!

Yoel M. Indrasmoro
Literatur Perkantas Nasional

Posted on Tinggalkan komentar

Masih Ada Tempat

(Luk. 2:1-7)

”Pada waktu itu Kaisar Agustus mengeluarkan suatu perintah, menyuruh mendaftarkan semua orang di seluruh dunia. Inilah pendaftaran yang pertama kali diadakan sewaktu Kirenius menjadi wali negeri di Siria. Maka pergilah semua orang mendaftarkan diri, masing-masing di kotanya sendiri. Demikian juga Yusuf pergi dari kota Nazaret di Galilea ke Yudea, ke kota Daud yang bernama Betlehem,—karena ia berasal dari keluarga dan keturunan Daud—supaya didaftarkan bersama-sama dengan Maria, tunangannya, yang sedang mengandung. Ketika mereka di situ tibalah waktunya bagi Maria untuk bersalin, dan ia melahirkan seorang anak laki-laki, anaknya yang sulung, lalu dibungkusnya dengan lampin dan dibaringkannya di dalam palungan, karena tidak ada tempat bagi mereka di rumah penginapan.”

Perintah Kaisar Agustus bukan sembarang perintah. Perintah sensusnya memaksa para perantau pulang kampung. Bagi yang punya kerabat, tak perlu mencari tempat menginap. Yang lainnya menjadi orang asing di negeri sendiri. Tampaknya, keluarga muda asal Nazaret itu tak lagi punya sanak di Betlehem. Jika tidak, Natal merupakan tragedi karena tiada sanak peduli.

Namun, tempat masih ada, yaitu kandang. Kandang itu membuka dirinya. Tak cuma kandang, palungan juga membuka dirinya menjadi tempat bernaung. Mereka bersedia memberi ruang. Meski sederhana, itulah jawaban dari kebutuhan keluarga muda itu. Mereka tak perlu terus berjalan karena telah mendapatkan tempat bernaung. Pada saat itulah Yesus lahir!

Pemilik kandang pastilah tak pernah ngimpi ada bayi manusia terbaring di palungan. Semula dia hanya memberi tempat bagi Maria dan Yusuf. Pemilik kandang itu, Lukas tidak mencatat namanya, memang orang biasa, namun tindakannya luar biasa. Dia membuka hatinya bagi pasangan muda itu.

Kisah Natal juga memperlihatkan, Allah adalah Pribadi yang selalu menyediakan tempat bagi umat-Nya. Mungkin sederhana dalam pandangan umum, namun selalu ada tempat bagi manusia. Persoalannya: Apakah kita menerima tempat yang disediakan Allah itu?

Keluarga muda itu meyakini bahwa Allah adalah Pribadi yang menyediakan tempat. Yusuf dan Maria, orang-orang biasa itu, tidak menolak tempat yang disediakan Allah. Dan Penerimaan itu berbuah berkat!

Yoel M. Indrasmoro
Literatur Perkantas Nasional

Posted on Tinggalkan komentar

Kisah Kasih Nyata

(Luk. 1:56)

”Maria tinggal kira-kira tiga bulan lamanya bersama dengan Elisabet, lalu pulang kembali ke rumahnya.”

Catatan Lukas berkait dengan kunjungan Maria ke rumah Elisabet cukup jelas. Lukas merasa perlu menulis berkait dengan lamanya kunjungan, yakni tiga bulan. Mengapa tiga bulan? Hanya Maria yang bisa menjawabnya! Apakah Maria masih ada sewaktu Elisabet bersalin? Kemungkinan besar ya, mengingat sifat Maria. Namun, Lukas memang tak merasa perlu mencatatnya.

Tiga bulan memang bukan waktu sebentar, namun cukup untuk menemani seorang yang sedang mengandung tua. Tak boleh kita lupa bahwa Elisabet mengandung dalam usia yang telah lanjut. Tentulah tak mudah bagi dia menjalankan tugas kerumahtanggaan sehari-hari. Terlebih dengan suaminya yang bisu, komunikasi dijamin kurang lancar.

Nah, mungkin di sinilah peranan Maria, yakni mengerjakan tugas kerumahtanggaan sehari-hari agar Elisabet dapat fokus pada jabang bayi yang ada dalam rahimnya. Dengan kata lain, Maria tidak sekadar berkunjung, tetapi mau menjadi penolong sanaknya itu. Pada titik ini kasih Maria bukan sekadar kata, tetapi sungguh nyata dalam tindakan.

Tindakan memang lebih dari sejuta kata. Dan kasih mesti maujud dalam tindakan. Bagaimanapun ”mengasihi” merupakan kata kerja. Tidak dilakukan aneh rasanya.

Yoel M. Indrasmoro
Literatur Perkantas Nasional

Posted on Tinggalkan komentar

Revolusi Sosial

(Luk. 1:51-55)

”Ia memperlihatkan kuasa-Nya dengan perbuatan tangan-Nya dan mencerai-beraikan orang-orang yang congkak hatinya; Ia menurunkan orang-orang yang berkuasa dari takhtanya dan meninggikan orang-orang yang rendah; Ia melimpahkan segala yang baik kepada orang yang lapar, dan menyuruh orang yang kaya pergi dengan tangan hampa; Ia menolong Israel, hamba-Nya, karena Ia mengingat rahmat-Nya, seperti yang dijanjikan-Nya kepada nenek moyang kita, kepada Abraham dan keturunannya untuk selama-lamanya.”

Bagian kedua Nyanyian Pujian Maria sering dianggap sebagai ajakan untuk melakukan revolusi sosial. Bahkan, dalam buku terakhir dari tetraloginya _Rumah Kaca_, Pramoedya Ananta Toer menaruh kutipan Latin _Deposuit Potentes de Sede et Exaltavat Humiles_ dalam halaman persembahan dan kembali menaruhnya dalam halaman terakhir bukunya dengan tambahan terjemahan: ”Dia Rendahkah Mereka yang Berkuasa dan Naikkan Mereka yang Terhina.”

Namun, yang tak boleh kita lupakan adalah Nyanyian Pujian Maria ini bukan dimaksudkan untuk membalas orang kaya dan berkuasa. Orang kaya dan berstatus tinggi pun dapat mengalami karya Allah selama mereka bersikap miskin dan rendah seperti Maria. Dengan kata lain setiap orang diundang masuk dalam Kerajaan Allah selama mereka hanya mengandalkan Allah saja.

Persoalannya sering kali memang di sini, harta atau kuasa yang dimiliki acap membuat manusia mengandalkan dirinya sendiri. Dan itulah yang dimaksud Maria dengan orang-orang yang congkak hatinya. Orang-orang yang congkak hatinya adalah orang yang menempatkan dirinya di atas Allah, sehingga tidak memedulikan-Nya. Dan tentu saja tidak ada sesuatu pun yang dapat dilakukan Allah bagi manusia macam begini. Orang yang congkak hati biasanya juga menganggap yang lain lebih rendah. Dan karena itu selalu dipandang sebagai musuh Allah.

Nyanyian Pujian Maria mengingatkan kita untuk selalu bersikap miskin di hadapan Allah artinya selalu mengandalkan Allah dalam segala situasi dan kondisi. Sikap mengandalkan Allah akan membuat kita mengasihi sesama. Sejatinya itulah dasar revolusi sosial. Ngomong-ngomong, itu jugalah tema Natal kita tahun ini: ”Cinta Kasih Kristus yang Menggerakkan Persaudaraan.”

Selamat Natal!

Yoel M. Indrasmoro
Literatur Perkantas Nasional

Posted on Tinggalkan komentar

Jiwaku Memuliakan Allah

(Luk. 1:46-50)

”Lalu kata Maria, ’Jiwaku memuliakan Tuhan, dan hatiku bergembira karena Allah, Juruselamatku, sebab Ia telah memperhatikan kerendahan hamba-Nya. Sesungguhnya, mulai dari sekarang segala keturunan akan menyebut aku berbahagia, karena Yang Mahakuasa telah melakukan perbuatan-perbuatan besar kepadaku dan kuduslah nama-Nya. Rahmat-Nya turun-temurun atas orang yang takut akan Dia.’”

Demikianlah tanggapan Maria ketika mendengar bagaimana Elisabet menyebutnya sebagai Bunda Tuhan. Pernyataan Elisabet jelas Maria bukan gadis biasa dan itu pasti meneguhkan Maria. Bukankah mereka tak berkomunikasi selama ini? Dari manakah Elisabet mengetahui panggilan Maria sebagai Bunda Tuhan. Karena itu, Maria menyambutnya dengan kalimat ”Jiwaku memuliakan Tuhan, dan hatiku bergembira karena Allah, Juruselamatku”

Maria memuliakan Tuhan. Menurut Stefan Leks, itu memuji keagungan Allah yang menjadi sumber berkat baginya. Manusia tidak dapat menambahkan keagungan Allah, tetapi dapat menyadari dan menyatakannya. Dan itulah yang dilakukan Maria.

Masih menurut Stefan Leks, Maria menyadari bahwa Allah itu mulia bukan dalam pemahaman ”tuan yang merendahkan manusia”, melainkan Tuhan yang mengerahkan kuasanya demi menyelamatkan manusia. Allah dalam pemandangan Maria adalah Pribadi yang memperhatikan kerendahan hamba-Nya.

Dan memang hanya orang-orang rendahlah yang mungkin ditinggikan. Kalau sudah tinggi atau merasa tinggi apakah memang masih perlu ditinggikan. Maria memandang dirinya sebagaimana kebanyakan orang pada zaman itu yang miskin dan rendah, yang karena itu hanya mengandalkan Allah saja.

Dan Pujian Maria bisa juga kita pahami sebagai panggilan untuk hanya mengandalkan Allah saja.

Yoel M. Indrasmoro
Literatur Perkantas Nasional

Posted on Tinggalkan komentar

Kunjungan Maria

(Luk. 1:39-45)

”Diberkatilah engkau di antara semua perempuan dan diberkatilah buah rahimmu. Siapakah aku ini sampai ibu Tuhanku datang mengunjungi aku? Sebab sesungguhnya, ketika salammu sampai di telingaku, anak yang di dalam rahimku melonjak kegirangan. Berbahagialah ia yang percaya, sebab apa yang dikatakan kepadanya dari Tuhan, akan terlaksana” (Luk. 1:42-45).

Di mata Lukas, berkaitan dengan kedatangan Mesias, Maria menjadi figur sentral. Apa pun yang dilakukan Maria menjadi penting dalam pandangannya. Tak heran, jika Lukas berupaya menceritakan sepak terjang Maria. Dalam perspektif Lukas, kunjungan Maria ke pegunungan Yehuda pun bukan peristiwa biasa. Dan karena itulah, Lukas mencatatnya.

Kita tidak akan pernah tahu persis alasan di balik kunjungan itu. Meskipun demikian, kita bisa menduga bahwa kehadiran Maria pastilah memberikan penghiburan sendiri bagi Elisabet. Meski bukan Raja Damai, tindakan Maria tampaknya memberikan kedamaian bagi Elisabet, kerabatnya yang sedang mengandung.

Kunjungan Maria sesungguhnya merupakan aksi damai. Berkunjung mensyaratkan adanya waktu dalam diri seseorang untuk pergi ke rumah pihak lain. Artinya: dia menyediakan waktu untuk orang lain. Pribadi yang dikunjungi merupakan sosok yang penting di mata orang tersebut. Begitu pentingya, sehingga dia merasa harus menyambanginya.

Elisabet pun bersaksi bahwa kedatangan Maria memang memberikan rasa damai. Istri Zakharia itu menyatakan bahwa salam Maria membuat bayi dalam rahimnya bergerak kegirangan. Pemberian salam pun merupakan aksi damai. Bagaimanapun, salam berarti damai. Memberikan salam berarti pula memberikan damai.

Kita, orang percaya abad XXI, pun dipanggil untuk memberikan salam (damai) kepada sesama. Tentunya, bukan sekadar kata, tetapi tindakan-tindakan nyata yang membuat orang di sekitar kita sungguh-sungguh merasa damai.

Yoel M. Indrasmoro
Literatur Perkantas Nasional

Posted on Tinggalkan komentar

Hamil Melalui Telinga

(Luk. 1:38)

”Kata Maria, ’Sesungguhnya aku ini hamba Tuhan; jadilah padaku menurut perkataanmu itu.’ Lalu malaikat itu meninggalkan dia.”

Jawaban Maria sesungguhnya sederhana saja. Maria menganggap dirinya hamba Tuhan, sehingga pasrah bongkokan. Inilah kepatuhan sukarela, rendah hati, sekaligus mulia. Maria menggunakan kehendak bebasnya untuk mengambil keputusan mulia itu.

Maria menjadi Bunda Allah karena setuju. Para Bapa Gereja mengatakan bahwa Maria menjadi hamil melalui telinganya, artinya dengan mendengarkan. Berkat kepatuhannya, Sabda masuk ke dalam Maria dan menjadi subur dalam dia. Mengapa Maria setuju?

Pertama, Maria sadar siapa dirinya. Dia hamba. Dan hamba selalu menaati perintah tuannya. Kesadaran status hamba inilah yang membuat Maria mau mengatakan ”ya” kepada perintah tersebut. Dan, Yesus Orang Nazaret, Sang Anak, dalam pengajaran-Nya seakan menyuarakan kembali kalimat Sang Bunda: ” Demikian jugalah kamu. Apabila kamu telah melakukan segala sesuatu yang ditugaskan kepadamu, hendaklah kamu berkata: Kami hamba-hamba yang tidak berguna; kami hanya melakukan apa yang harus kami lakukan.” (Luk. 17:10).

Kesadaran status inilah yang membuat Maria, ini yang kedua, mau berkurban. Kamus Besar Bahasa Indonesia membedakan antara korban dan kurban. Korban berarti orang, binatang, dsb yg menjadi menderita (mati dsb) akibat suatu kejadian, perbuatan jahat, dsb. Sedangkan kurban berarti segala sesuatu untuk Allah. Maria sedang berkurban, dan bukan berkorban, karena dia melakukan segala sesuatunya untuk Allah. Lagi pula, masak manusia berkorban buat Tuhan, yang ada mah Tuhan yang berkorban buat manusia.

Ketiga, pemahaman status diri sebagai hamba membuat Maria ingin memuliakan Allah. Ketika kita menaati Allah sejatinya kita tengah memuliakan Dia. Tidak memuliakan Dia, itu berarti kita sedang memuliakan diri sendiri. Dan sejatinya, kita perlu belajar pula untuk memuliakan Dia, entah di keluarga, sekolah, kantor, masyarakat. Pertanyaannya ialah siapakah yang dimuliakan?

Keempat, bisa jadi Maria terharu. Bagaimanapun Allah dengan begitu rendah hati memintanya menjadi sarana penyelamatan atas dunia. Nah, kalau Allah sudah begitu rendah hati memohon kepadanya, masak ditolak?

Yoel M. Indrasmoro
Literatur Perkantas Nasional

Posted on Tinggalkan komentar

Bagaimana Caranya?

(Luk. 1:34-37)

”Kata Maria kepada malaikat itu, ’Bagaimana caranya, padahal aku belum bersuami?’ Jawab malaikat itu kepadanya, “Roh Kudus akan turun atasmu dan kuasa Allah Yang Mahatinggi akan menaungi engkau; sebab itu anak yang akan kaulahirkan itu akan disebut kudus, Anak Allah. Sesungguhnya, Elisabet, sanakmu itu, ia pun sedang mengandung seorang anak laki-laki pada hari tuanya dan inilah bulan yang keenam bagi dia yang disebut mandul itu. Sebab bagi Allah tidak ada yang mustahil.’”

Bagaimana caranya? Demikianlah tanggapan Maria. Jika Zakharia bertanya, ”Bagaimanakah aku tahu bahwa hal ini akan terjadi?”; Maria bertanya, ”Bagaimana caranya?” Kalau Zakharia butuh tanda, Maria butuh klarifikasi. Klarifikasi menjadi penting karena belum pernah ada anak lahir tanpa persetubuhan. Jika reaksi Zakharia muncul karena ketidakpercayaan dan Allah memberikan kebisuan sebagai tanda, kepada Maria, Gabriel memberikan penjelasan bahwa Roh Allah akan turun dan meliputi dirinya. Gabriel juga bercerita soal Elisabet yang sedang mengandung dalam usia lanjut.

Menurut Paus Emeritus Benekditus, Maria tidak ragu-ragu. Ia tidak bertanya tentang apakah ia dapat melaksanakan tugas, melainkan bagaimana ia mengamalkan tugas tersebut. Dan Gabriel pun menegaskan: ”Bagi Allah tidak ada yang mustahil”.

Ya, tidak ada yang mustahil bagi Allah. Persoalannya, manusia sering lupa akan kenyataan ini. Dan jika tidak ada yang tidak mungkin, bagian manusia sesungguhnya tinggal percaya saja. Itu tindakan terlogis. Sayangnya, manusia sering melhat keterbatasan diri.

Berkait hal ini, H. A. Oppusunggu semasa hidup sering berbagi visi soal komunikasi penerbitan. Biasanya Pak Oppu sudah menyiapkan strategi, juga sejumlah rupiah yang dibutuhkan, untuk mewujudkan visi tersebut. Ketika rekan bicaranya masih terpana dengan dana yang dibutuhkan, dia langsung bertanya, ”Mustahilkah?” Yang cepat dijawabnya sendiri, ”Ini berarti kehendak Tuhan.”

Dengan kata lain, yang mustahil-mustahil memang karya Tuhan, manusia dipanggil terlibat menjadi rekan kerja-Nya dalam perwujudannya.

Yoel M. Indrasmoro
Literatur Perkantas Nasional

Posted on Tinggalkan komentar

Anugerah Allah

(Luk. 1:30-33)

”Kata malaikat itu kepadanya, ’Jangan takut, hai Maria, sebab engkau beroleh anugerah di hadapan Allah. Sesungguhnya engkau akan mengandung dan akan melahirkan seorang anak laki-laki dan hendaklah engkau menamai Dia Yesus. Ia akan menjadi besar dan akan disebut Anak Allah Yang Mahatinggi. Tuhan Allah akan mengaruniakan kepada-Nya takhta Daud, bapak leluhur-Nya, dan Ia akan memerintah atas kaum keturunan Yakub sampai selama-lamanya dan Kerajaan-Nya tidak akan berkesudahan.”

Maria beroleh anugerah. Dialah perempuan terpilih menjadi wahana kehadiran Juru Selamat dunia. Maria menjadi Bunda Tuhan. Sama seperti kepada Zakharia, yang mesti memberikan nama Yohanes kepada anaknya, demikian pula Maria diminta untuk memberikan nama Yesus kepada anaknya.

Menarik disimak bahwa pemberian nama pada masa itu biasanya dilakukan oleh seorang ayah. Namun, pemberian nama dalam versi Lukas menjadi tugas Maria. Meskipun demikian, kepada Yusuf pun, dalam catatan Injil Matius, diperintahkan untuk memberi nama anak itu Yesus, yang berarti Allah menyelamatkan.

Jelaslah bahwa kedua orang tua itu, baik Maria dan Yusuf, mendapatkan tugas yang sama untuk menamai anak mereka Yesus. Nama itu sendiri menegaskan makna karya Yesus Orang Nazaret di dunia. Apa yang dilakukan Yesus Orang Nazaret hanyalah memperlihatkan bahwa Allah adalah Pribadi yang menyelamatkan. Karya Yesus—dari kelahiran, kematian, dan kebangkitan-Nya, hanya memperlihatkan diri Allah sebagai Pribadi yang menyelamatkan.

Demikianlah tugas Maria, sekaligus anugerah Allah itu, mengandung, melahirkan, dan menamai.

Yoel M. Indrasmoro
Literatur Perkantas Nasional

Posted on Tinggalkan komentar

Yang Dikaruniai

(Luk. 1:26-29)

”Dalam bulan yang keenam malaikat Gabriel disuruh Allah pergi ke Nazaret, sebuah kota di Galilea, kepada seorang perawan yang bertunangan dengan seorang bernama Yusuf dari keluarga Daud; nama perawan itu Maria. Ketika malaikat itu datang kepada Maria, ia berkata, ’Salam, hai engkau yang dikaruniai, Tuhan menyertai engkau.’ Maria terkejut mendengar perkataan itu, lalu bertanya di dalam hatinya, apakah arti salam itu.”

Yang dimaksud dengan bulan keenam di sini adalah bulan keenam Elisabet mengandung anaknya. Lewat ungkapan ini, Lukas agaknya hendak memperlihatkan kepada para pembacanya bahwa kisah kelahiran kedua anak itu memang berkait satu sama lain. Itu juga berarti usia Yohanes Pembaptis sekitar enam bulan lebih tua dibandingkan Yesus Orang Nazaret.

Dengan pemberitaan macam begini, Lukas hendak menyatakan bahwa malaikat yang diutus menampakkan diri kepada Zakharia dan Maria adalah sama, Gabriel, yang berarti utusan Allah atau kekuatan Allah.

Kepada Maria, Gabriel menyapa, ”Salam, hai engkau yang dikaruniai….” Jika hanya berhenti pada kata ”salam”, memang terkesan basa-basi. Namun, ucapan Gabriel dilanjutkan dengan ”hai engkau yang dikaruniai”. Dalam Alkitab Bahasa Indonesia Masa Kini tertera: ”engkau yang diberkati Tuhan secara istimewa”. Dan inilah yang membuat Maria terkejut dan bertanya-tanya mengenai arti salam itu.

Dari penjelasan Gabriel selanjutnya jelaslah bahwa Maria memang pribadi yang dikaruniai. Dia menjadi wahana kehadiran Juruselamat dunia. Dia akan menjadi Bunda Tuhan. Dan pernyataan berikut ”Tuhan menyertai engkau” menegaskan makna salam tadi.

Pertanyaan yang layak diajukan adalah apakah hanya Maria yang dikaruniai? Dalam kisah sebelumnya jelas bahwa Zakharia dan Elisabet juga pribadi-pribadi yang diberkati, juga nanti para gembala Efrata. Lalu bagaimana dengan kita? Apakah kita juga pribadi yang dikaruniai? Jawabannya mestinya: ya. Kita dikaruniai talenta, bakat, kerja, keluarga, dan pastinya juga waktu. Pertanyaannya lagi: apakah kita pribadi yang dikaruniai? Marilah kita hitung karunia-karunia itu!

Yoel M. Indrasmoro
Literatur Perkantas Nasional

Posted on Tinggalkan komentar

Perbuatan Tuhan Bagiku

(Luk. 1:21-23)

”Beberapa lama kemudian Elisabet, istrinya, mengandung dan selama lima bulan ia tidak menampakkan diri, katanya, ’Inilah suatu perbuatan Tuhan bagiku, dan sekarang Ia berkenan menghapuskan aibku di depan orang.’”

Kita tidak tahu tanggapan Elisabet berkait dengan kebisuan Zakharia. Lukas tidak merasa perlu menceritakan kegembiraan Elisabet. Namun, ketika kehamilan itu tak lagi pepesan kosong, Elisabet pun mengambil sikap untuk tidak menampakkan dirinya di muka umum. Alkitab Bahasa Indonesia Masa Kini menggunakan frasa: ”mengurung diri di rumah”. Tentu kita pun tak tahu apa tujuan dari tindakan itu. Namun, sepertinya Elisabet pun merasa perlu menata dirinya sendiri.

Bisa dibayangkan jika Elisabet keluar rumah, pastilah dia akan dikerumuni banyak orang yang mau tahu berkait kebisuan suaminya dan juga kehamilannya. Akan banyak pertanyaan yang perlu dijawab segera dan itu pasti akan membuat lelah Elisabet, yang memang sudah mulai beranjak tua. Dan kemungkinan besar pertanyaan-pertanyaan itu akan menguras emosinya, dan pasti akan juga berpengaruh bagi jabang bayi dalam rahimnya.

Namun demikian, pernyataan Elisabet, yang sempat dicatat Lukas, menarik disimak: ”Inilah suatu perbuatan Tuhan bagiku, dan sekarang Ia berkenan menghapuskan aibku di depan orang.” Apa yang terjadi dalam diri diakui Elisabet sebagai ”perbuatan Tuhan bagiku”. Allah berkarya baginya. Dan itu bukan sekadar teori, tetapi sungguh nyata. Kemungkinan besar kalau ada orang yang bertanya, jawaban Elisabet akan bertumpu pada frasa ini: ”perbuatan Tuhan bagiku”. Semuanya memang karena perkenanan Allah. Ya, semua karena anugerah-Nya.

Yoel M. Indrasmoro
Literatur Perkantas Nasional

Posted on Tinggalkan komentar

Berkat Tanpa Suara

(Luk. 1:21-23)

”Sementara itu orang banyak menanti-nantikan Zakharia. Mereka menjadi heran bahwa ia begitu lama berada dalam Bait Suci. Ketika ia keluar, ia tidak dapat berkata-kata kepada mereka dan mengertilah mereka bahwa ia telah melihat suatu penglihatan di dalam Bait Suci. Lalu ia memberi isyarat kepada mereka, dan ia tetap bisu. Ketika selesai masa pelayanannya, ia pulang ke rumah.”

Salah satu anugerah istimewa seorang imam adalah menjadi perantara berkat Allah kepada umat Israel. Dan itulah yang biasa dilakukan imam setelah dia membakar ukupan. Namun, imam yang ditunggu-tunggu tak kunjung keluar. Dan ketika keluar, Zakharia tak mampu berkata-kata kepada mereka. Dengan kata lain Zakharia tidak dapat mengucapkan berkat yang biasa diucapkan seorang imam. Kemungkinan besar Zakharia hanya mengangkat tangannya dan memberikan berkat tanpa suara, meski bibirnya bergerak.

Menarik disimak, bagaimana Lukas menggambarkan situasinya dalam Alkitab Bahasa Indonesia Masa Kini: ”Maka orang-orang pun tahu bahwa ia sudah melihat suatu penglihatan di dalam Rumah Tuhan.” Peristiwanya memang bukan peristiwa biasa. Itu berarti berkat tanpa suara Zakharia pun menjadi penuh makna.

Berkait dengan berkat—baik dengan suara maupun tanpa suara—sesungguhnya imam hanyalah perantara. Semuanya berasal dari Allah semata. Dengan kata lain, ketiadaan suara tidak mengurangi mutu dari berkat itu. Sekali lagi, Zakharia hanya perantara.

Yoel M. Indrasmoro
Literatur Perkantas Nasional

Posted on Tinggalkan komentar

Bisu

(Luk. 1:19-20)

”Jawab malaikat itu kepadanya, ’Akulah Gabriel yang melayani Allah dan aku telah diutus untuk berbicara kepadamu untuk menyampaikan kabar baik ini kepadamu. Sesungguhnya engkau akan menjadi bisu dan tidak dapat berkata-kata sampai hari ketika semuanya ini terjadi, karena engkau tidak percaya kepada perkataanku yang akan dipenuhi pada waktunya.’”

Entah bagaimana perasaan Gabriel ketika mendengar ketidakpercayaan Zakharia. Kemungkinan besar dia tersinggung. Sehingga dia merasa perlu memperkenalkan dirinya sebagai Gabriel yang melayani Allah dan diutus untuk menyampaikan kabar baik. Dengan kata lain, Gabriel menegaskan bahwa dia hanya melakukan perintah Allah.

Hanya persoalannya, mungkin karena kabarnya terlalu baik itulah yang membuat Zakharia meminta tanda. Dan Gabriel merasa perlu memberikan tanda. Dan tandanya adalah Zakharia menjadi bisu hingga semua perkataan Gabriel terwujud. Mengapa kebisuan Zakharia yang menjadi tandanya? Kita hanya bisa menduga-duga.

Tampaknya Allah sengaja memberikan hukuman ketidakmampuan berbicara kepada Zakharia. Biasanya orang yang memiliki kabar baik akan membagikannya kepada orang lain, bahkan kepada sebanyak mungkin orang. Dia ingin menceritakan kabar baik itu dan berharap orang lain turut bergembira bersamanya. Dan itulah yang tidak mungkin dilakukan Zakharia. Allah telah membuatnya bisu karena ketidakpercayaannya itu.

Namun, kelihatannya Zakharia sendiri perlu bersyukur dengan kebisuan itu. Kebisuan membuat dia tak punya kesempatan menyombongkan diri di depan orang lain. Semua yang akan terjadi pada dirinya bukanlah karena kehebatannya, tetapi anugerah Allah semata. Lagi pula, bukankah dia pun pernah menyangsikannya?

Yoel M. Indrasmoro
Literatur Perkantas Nasional

Posted on Tinggalkan komentar

Bagaimanakah Aku Tahu?

(Luk. 1:14-18)

”’Engkau akan bersukacita dan bergembira, bahkan banyak orang akan bersukacita atas kelahirannya itu. Sebab ia akan besar di hadapan Tuhan dan ia tidak akan minum anggur atau minuman keras dan ia akan penuh dengan Roh Kudus sejak dari rahim ibunya dan ia akan membuat banyak orang Israel berbalik kepada Tuhan, Allah mereka. Ia akan berjalan mendahului Tuhan dalam roh dan kuasa Elia untuk membuat hati para bapak berbalik kepada anak-anaknya dan hati orang-orang durhaka kepada pikiran orang-orang benar. Dengan demikian ia menyiapkan bagi Tuhan suatu umat yang layak bagi-Nya.’ Lalu kata Zakharia kepada malaikat itu, ’Bagaimanakah aku tahu bahwa hal ini akan terjadi? Sebab aku sudah tua dan istriku sudah lanjut umurnya.’”

Dengan detail malaikat Tuhan menceritakan apa yang akan terjadi. Zakharia akan bersukacita dan bergembira. Tak hanya Zakharia, orang banyak juga akan bersukacita atas kelahiran anak itu. Alasannya sederhana: anak itu akan menjadi hebat dalam pandangan Allah, tidak akan minum anggur, bahkan sejak lahir dikuasai oleh Roh Allah. Anak itu juga akan membimbing banyak orang berbalik kepada Tuhan. Bisa dikatakan bahwa anak itu akan mempersiapkan umat bagi Allah.

Namun demikian, penjelasan yang lengkap itu tidak ditanggapi positif oleh Zakharia. Entah mengapa dia malah mempertanyakan hal tersebut. Kondisi fisik agaknya menjadi penghalang, meski dia juga tahu bahwa Abraham dan Sara leluhurnya juga berada dalam kondisi yang sama dengannya. Mungkin karena dia sendiri telah lama berdoa untuk itu. Terlalu lama berdoa kadang malah membuat orang bingung ketika doanya terkabul.

Menariknya, ketidakpercayaan Zakharia tidak membuat Allah membatalkan rencananya. Dan inilah anugerah itu: Allah tetap memberikannya ketika manusia masih meragukannya.

Yoel M. Indrasmoro
Literatur Perkantas Nasional

Posted on Tinggalkan komentar

Allah Mengingat

(Luk. 1:10-13)

”Pada waktu pembakaran dupa, seluruh umat berkumpul di luar dan bersembahyang. Lalu tampaklah kepada Zakharia seorang malaikat Tuhan berdiri di sebelah kanan mezbah pembakaran dupa. Melihat hal itu ia terkejut dan menjadi takut. Tetapi malaikat itu berkata kepadanya, ’Jangan takut, hai Zakharia, sebab doamu telah dikabulkan. Elisabet, istrimu, akan melahirkan seorang anak laki-laki bagimu dan haruslah engkau menamai dia Yohanes.’”

Dupa dibakar dan persembahan disajikan dalam ruang Mahakudus dari Bait Suci, Bilik para imam. Sementara itu umat berkumpul sembari bersembahyang di tempat lain, Bilik Umat Israel. Hanya imamlah yang boleh hadir dalam ruang Mahakudus. Itu pun terpilih dengan undian. Dan merupakan hak istimewa seorang iman untuk keluar dari bilik dan memberi berkat kepada umat Allah di bilik Umat Israel.

Pada waktu pembakaran dupa itulah seorang malaikat Tuhan menampakkan diri kepada Zakharia. Tentu saja keberadaan malaikat Tuhan itu membuat Zakharia takut. Dan karena itulah malaikat Tuhan menyapanya dengan namanya.

Menyapa dengan nama memang bisa mencairkan ketegangan. Menyapa dengan nama menyiratkan hubungan yang lebih akrab, juga hormat. Dan Zakharia disapa dengan namanya. Dan namanya berarti ”Allah mengingat”.

Kehadiran malaikat Tuhan— dengan berita bahwa Elisabet akan mengandung dan Zakharia mesti menamainya Yohanes, yang berarti Tuhan itu baik hati—memperlihatkan bahwa Allah sungguh mengingat Zakharia. Ungkapan ”sebab doamu telah dikabulkan” seakan menegaskan bahwa Allah sungguh mengingatnya. Dan semua itu terjadi pada waktu pembakaran dupa.

Yoel M. Indrasmoro
Literatur Perkantas Nasional

Posted on Tinggalkan komentar

Tugas Keimaman

(Luk. 1:8-9)

”Pada suatu kali, waktu tiba giliran kelompoknya, Zakharia melakukan tugas keimaman di hadapan Tuhan. Sebab ketika diundi, sebagaimana lazimnya, untuk menentukan imam yang bertugas, dialah yang ditunjuk untuk masuk ke dalam Bait Suci dan membakar dupa di situ.”

Kisah pemberitahuan kelahiran Yohanes Pembaptis berada dalam konteks upacara yang dilakukan seorang imam—ketika sedang membakar dupa. Dalam kedaulatan-Nya, Allah mengirimkan malaikat Tuhan untuk menyapa Zakharia.

Zakharia adalah imam, yang termasuk kelompok Abia. Setiap laki-laki keturunan Harun secara otomatis menjadi imam. Itu berarti ada terlalu banyak imam untuk tugas keimaman sehari-hari. Sehingga perlu diundi. Dan banyak imam yang seumur hidupnya tidak beruntung untuk membakar dupa di hadapan Allah. Oleh karena itu, apabila undi jatuh kepada seorang imam, maka bisa dikatakan hari itu merupakan hari besar, hari yang dirindukan selama hidupnya. Dan Zakharia beruntung mendapatkan kesempatan itu.

Berkait dengan peristiwa ini, William Barclay merasa perlu menyinggung tragedi dalam kehidupan Zakharia. Ia dan Elisabet tidak mempunyai anak. Padahal rabbi-rabbi Yahudi membuat daftar dari tujuh orang yang dikucilkan Tuhan yang dimulai dengan: ”Seorang Yahudi yang tidak mempunyai istri, atau seorang Yahudi yang mempunyai seorang istri, tetapi tidak mempunyai anak.” Ternyata orang yang dikucilkan dari masyakarat zamannya diberi kesempatan untuk menjalankan tugas keimaman—membakar dupa di hadapan Allah.

Apa artinya ini? Jelaslah: Allah berdaulat. Yang disingkirkan dunia, ternyata malah dimuliakan Allah. Bahkan tugas keimaman itu—yang didapat melalui undi—menjadi sarana penghiburan bagi Zakharia dan Elisabet. Dengan kata lain, bagi kita sekarang ini, jangan pernah melalaikan tugas. Lakukan sebaik-baiknya. Bisa jadi, itu juga menjadi sarana penghiburan Allah bagi kita.

Yoel M. Indrasmoro
Literatur Perkantas Nasional

Posted on Tinggalkan komentar

Dua Laki-laki

(Luk. 1:5-7)

”Pada zaman Herodes, raja Yudea, ada seorang imam yang bernama Zakharia dari rombongan Abia. Istrinya juga berasal dari keturunan Harun, namanya Elisabet. Keduanya hidup benar di hadapan Allah dan menuruti segala perintah dan ketetapan Tuhan dengan tidak bercacat. Tetapi mereka tidak mempunyai anak, sebab Elisabet mandul dan keduanya telah lanjut umurnya.”

Ada dua laki-laki yang ditampilkan Lukas pada bagian ini. Yang satu raja, yang lainnya imam. Yang satu memegang kuasa politik, yang lainnya tak punya kuasa. Yang satu pengambil keputusan, yang lainnya menerima keputusan. Yang satu keturunan Edom, yang lainnya keturunan Harun. Yang satu istrinya banyak, yang lainnya cukup dengan satu istri.

Lukas agaknya sengaja memberi tahu pembacanya tentang kualitas rohani Zakharia dan Elisabet. Catatan Lukas menarik disimak, pasangan Zakharia dan Elisabet hidup benar di hadapan Allah dan menuruti segala perintah dan ketetapan Tuhan tanpa cacat. Dalam Alkitab Bahasa Indonesia Masa Kini tertera: ”Kehidupan suami istri itu menyenangkan hati Allah. Keduanya mentaati semua perintah dan Hukum Tuhan dengan sepenuhnya.”

Kualitas hidup Zakharia dan Elisabet itu menggirangkan hati Allah. Lukas merasa perlu memberi catatan bahwa tak ada perintah dan hukum Tuhan yang tidak mereka lakukan. Mereka berdua menaati semuanya.

Lukas tampaknya tak perlu menceritakan kualitas rohani Herodes. Mungkin sudah menjadi buah bibir orang-orang pada masa itu. Kecurigaan Herodes kalau-kalau keluarga Hasmonae hendak mengincar takhtanya, membuat dia membunuh satu demi satu anggota keluarga Hasmonae, bahkan istrinya sendiri—Mariamne. Dia juga pada akhirnya membunuh Antipater, anaknya yang sulung, untuk mengamankan takhtanya.

Lukas mungkin saja tidak bermaksud demikian ketika mencatat nama Herodes sebagai penunjuk waktu. Namun, bagi orang-orang sezamannya, juga kita pada abad XXI, perbedaan di antara keduanya—Herodes dan Zakharia—sungguh mencolok mata.

Yoel M. Indrasmoro
Literatur Perkantas Nasional

Posted on Tinggalkan komentar

Teofilus yang Mulia

(Luk. 1:1-4)

”Teofilus yang mulia, Banyak orang telah berusaha menyusun suatu berita tentang peristiwa-peristiwa yang telah terjadi di antara kita, seperti yang disampaikan kepada kita oleh mereka, yang dari semula adalah saksi mata dan pelayan Firman. Karena itu, setelah aku menyelidiki segala peristiwa itu dengan saksama dari asal mulanya, aku mengambil keputusan untuk membukukannya dengan teratur bagimu, supaya engkau dapat mengetahui bahwa segala sesuatu yang diajarkan kepadamu sungguh benar.”

Lukas memulai Injilnya dengan sapaan: ”Teofilus yang mulia”. Jelas, Lukas menghargai Teofilus. Karena itulah, Lukas melakukan penelitian saksama dari asal mulanya. Tak heran, hanya Lukas yang menampilkan kisah gembala Efrata dalam peristiwa kelahiran Yesus Kristus. Jika Lukas tidak melakukan penelitian—puas dengan tulisan Matius—drama-drama Natal kita paling-paling hanya seputar Orang Majus dan Herodes. Tak ada kisah gembala.

Kita juga enggak punya Kisah Zakheus dan Perumpamaan Anak yang Hilang. Ya, kita akan kehilangan banyak kisah yang membangun iman seandainya Lukas tak mau melakukan penelitian dengan cermat. Dan sepertinya itu bukan sekadar pamer ketekunan. Lukas sungguh ingin Teofilus makin percaya dalam imannya kepada Yesus Kristus. Ia sungguh mengasihi Teofilus.

Lukas pasti paham arti nama Teofilus—yang dikasihi Allah. Dan karena itu, Lukas berikhtiar untuk membukukan hasil penyelidikan yang teliti dan dari permulaan mengenai Yesus Orang Nazaret. Dan pada akhirnya buku Lukas memang tak hanya berguna bagi Teofilus pribadi, tetapi—melampaui waktu dan ruang—juga bagi teofilus-teofilus , orang-orang yang dikasihi Allah, dalam segala abad dan tempat. Termasuk kita yang hidup pada zaman digital ini.

Yoel M. Indrasmoro
Literatur Perkantas Nasional

Posted on Tinggalkan komentar

Pemulihan Ayub

(Ayb. 42:10-17)

Kitab Ayub ditutup dengan sebuah kalimat ini: ”Maka matilah Ayub, tua dan lanjut umur.” Ayub meninggal bukan dalam keadaan sebagai korban bencana yang menimpanya, tetapi sebagai pribadi yang dipulihkan—dipulihkan kesehatannya, dipulihkan persahabatannya dengan tiga orang sahabatnya, dipulihkan hubungan dengan keluarga besarnya, dipulihkan hartanya, juga dipulihkan keturunannya. Itu berarti hubungan dengan istrinya pun pulih.

Menarik disimak, penulis kitab merasa perlu menyatakan bahwa Ayub mempunyai tujuh anak laki-laki dan tiga anak perempuan. Tak ada yang kita ketahui tentang nama anak laki-lakinya, tetapi penulis merasa perlu menjabarkan nama anak perempuannya, yang melambangkan kecantikan mereka: Yemima berarti merpati, Kezia berarti wewangian yang berharga, dan Kerenhapukh berarti kendi yang indah.

Namun demikian, yang tak boleh kita lupakan adalah Allah memulihkan hubungan-Nya dengan Ayub. Sehingga laki-laki dari tanah Us itu mengalami pembaruan. Kelihatannya, perkataan Ayub—”Hanya dari kata orang saja aku mendengar tentang Engkau, tetapi sekarang mataku sendiri memandang Engkau. Oleh sebab itu aku mencabut perkataanku dan dengan menyesal aku duduk dalam debu dan abu”—merupakan dasar dari segala pemulihannya.

Menurut Michael D. Guinan, kata ungkapan Ibrani ”menyesal” bukan pertama-tama mengakui kedosaan, melainkan mengubah pikiran. Konsep Ayub mengenai Allah diperbarui. Penderitaan yang dialaminya bukanlah akibat dosa, namun Ayub juga tak mungkin menyatakan dirinya benar dan saleh semata. Penilaian kebenaran dan kesalehan manusia ada dalam kuasa mutlak Allah. Bagian manusia adalah terus berupaya hidup baik, bukan agar mendapatkan perkenan Allah, tetapi karena Allah telah terlebih dahulu berkenan kepada manusia.

Itu jugalah yang digemakan Paulus adalam surat pastoralnya kepada warga jemaat Roma dalam Roma 12:1-2, Bahasa Indonesia Masa Kini: ”Saudara-saudara! Allah sangat baik kepada kita. Itu sebabnya saya minta dengan sangat supaya kalian mempersembahkan dirimu sebagai suatu kurban hidup yang khusus untuk Allah dan yang menyenangkan hati-Nya. Ibadatmu kepada Allah seharusnya demikian. Janganlah ikuti norma-norma dunia ini. Biarkan Allah membuat pribadimu menjadi baru, supaya kalian berubah. Dengan demikian kalian sanggup mengetahui kemauan Allah—yaitu apa yang baik dan yang menyenangkan hati-Nya dan yang sempurna.”

Yoel M. Indrasmoro
Literatur Perkantas Nasional

Posted on Tinggalkan komentar

Syafaat Ayub

(Ayb. 42:7-9)

”Setelah TUHAN mengucapkan firman itu kepada Ayub, maka firman TUHAN kepada Elifas, orang Téman: ’Murka-Ku menyala terhadap engkau dan terhadap kedua sahabatmu, karena kamu tidak berkata benar tentang Aku seperti hamba-Ku Ayub. Oleh sebab itu, ambillah tujuh ekor lembu jantan dan tujuh ekor domba jantan dan pergilah kepada hamba-Ku Ayub, lalu persembahkanlah semuanya itu sebagai korban bakaran untuk dirimu, dan baiklah hamba-Ku Ayub meminta doa untuk kamu, karena hanya permintaannyalah yang akan Kuterima, supaya Aku tidak melakukan aniaya terhadap kamu, sebab kamu tidak berkata benar tentang Aku seperti hamba-Ku Ayub.’ Maka pergilah Elifas, orang Téman, Bildad, orang Suah, dan Zofar, orang Naama, lalu mereka melakukan seperti apa yang difirmankan TUHAN kepada mereka. Dan TUHAN menerima permintaan Ayub.”
Allah murka kepada ketiga sahabat Ayub. Alasannya sederhana, mereka tidak berkata benar tentang Allah. Menurut mereka, penderitaan Ayub merupakan hukuman Allah atas dosa-dosa-Nya. Ketiga sahabat Ayub menampilkan Allah sebagai Pribadi yang gemar menghukum.

Ayub tentu tak luput dari kesalahan. Kelihatannya dia terlalu baper akibat bencana yang menimpanya, namun dia sungguh percaya saat berkata, ”Tetapi aku tahu: Penebusku hidup, dan akhirnya Ia akan bangkit di atas debu” (Ayb. 19:25). Dan ucapan Ayub ”mencabut perkataan” sungguh benar di mata Allah.
Allah lalu menyuruh mereka mendatangi Ayub untuk mempersembahkan kurban dan meminta Ayub mendoakan mereka. Dan Ayub melakukannya.

Menarik disimak, syafaat Ayub dipanjatkan sebelum Allah memulihkan keberadaannya. Syafaat Ayub tidak keluar dari keadaaan hati dan fisik yang serbaberes. Tidak. Syafaat Ayub tidak berdasarkan situasi dirinya, tetapi karena dia mengakui kedaulatan Allah.

C. Bijl, dalam bukunya _Ayub Sang Konglomerat_, menekankan bahwa pemulihan Ayub terjadi ”setelah ia meminta doa untuk sahabat-sahabatnya,” (Ayb. 42:10). Allah tidak melakukan apa-apa untuk meringankan penderitaan Ayub, sekalipun dia telah menyesali diri dan mencabut perkataannya.

Kelihatannya, masih menurut C. Bijl, syafaat Ayub itu merupakan bukti paling nyata bagi kekeliruan Iblis. Doa itu telah mematahkan keyakinan Iblis bahwa Ayub mengasihi Allah karena ada maunya. Tindakan Ayub memperlihatkan bahwa dia sungguh mengasihi Allah dan tanpa pamrih.

Ayub lebih dahulu memohon pengampunan Allah untuk sahabat-sahabatnya yang sehat itu ketimbang berdoa bagi kesembuhan dirinya. Ayub lebih mengutamakan kebutuhan sahabat-sahabatnya yang telah memfitnahnya. Dengan kata lain, Ayub telah menyangkal dirinya.

Tentu, Ayub ingin sembuh. Namun, dia tak mau memaksa Allah. Tampaknya, laki-laki dari tanah Us itu memahami bahwa bukan tanpa alasan Allah mengizinkan penyakit tetap melekat di tubuhnya. Dia menyerahkan pengharapannya kepada kedaulatan Allah saja.

Yoel M. Indrasmoro
Literatur Perkantas Nasional

Posted on Tinggalkan komentar

Mencabut Perkataan dan Menyesali Diri

(Ayb. 42:1-6)

”Maka jawab Ayub kepada TUHAN: ’Aku tahu, bahwa Engkau sanggup melakukan segala sesuatu, dan tidak ada rencana-Mu yang gagal. Firman-Mu: Siapakah dia yang menyelubungi keputusan tanpa pengetahuan? Itulah sebabnya, tanpa pengertian aku telah bercerita tentang hal-hal yang sangat ajaib bagiku dan yang tidak kuketahui. Firman-Mu: Dengarlah, maka Akulah yang akan berfirman; Aku akan menanyai engkau, supaya engkau memberitahu Aku. Hanya dari kata orang saja aku mendengar tentang Engkau, tetapi sekarang mataku sendiri memandang Engkau. Oleh sebab itu aku mencabut perkataanku dan dengan menyesal aku duduk dalam debu dan abu.’”

Ayub mengakui bahwa Allah sungguh Mahakuasa. Tak ada yang bisa menghalangi kehendak-Nya. Allah mampu melakukan segala sesuatu. Ayub juga mengakui bahwa dia telah membicarakan apa yang tidak dipahaminya. Dan semua pengetahuan yang dimiliki Ayub sejatinya adalah kata orang saja. Dan karena itu, Ayub mencabut apa yang pernah dikatakannya dan menyesalinya.

Sejatinya Kitab Ayub memang Kitab Kata-kata. Hampir keseluruhan isinya adalah perkataan dengan menggunakan ragam syair Yahudi. Paling hanya lima persen yang berisi narasi. Perkataan Ayub, perkataan ketiga sahabat Ayub, perkataan Elihu, dan akhirnya perkataan Allah. Dan semua perdebatan antara Ayub dan para sahabatnya memang berpangkal pada perkataan. Mencabut perkataan merupakan tindakan bijaksana karena berkait dengan Allah tak ada manusia, juga Ayub, yang memahami-Nya. Manusia hanya mungkin memahami Allah sejauh Allah menyatakan diri-Nya. Di luar itu yang ada hanyalah ketidaktahuan.

Sejatinya Ayub adalah pribadi yang berbahagia karena pada akhirnya dia sendiri diizinkan memandang Allah. Kisah kesengsaraan Ayub bermuara pada pengenalan dia akan Allah. Dan itu sungguh bermakna. Tak hanya bagi dirinya, tetapi juga kita—orang percaya abad XXI.

Yoel M. Indrasmoro
Literatur Perkantas Nasional

Posted on Tinggalkan komentar

Buaya

(Ayb. 40:20–41:25)

“Dapatkah engkau menarik buaya dengan kail, atau mengimpit lidahnya dengan tali? Dapatkah engkau mengenakan tali rotan pada hidungnya, mencocok rahangnya dengan kaitan?” Tanya Allah kepada Ayub. Jawabannya pasti tidak. Pawang buaya, atau ahli penangkap buaya, mungkin bisa melakukannya, namun Ayub jelas tidak.

”Mungkinkah ia mengajukan banyak permohonan belas kasihan kepadamu, atau berbicara dengan lemah lembut kepadamu? Mungkinkah ia mengikat perjanjian dengan engkau, sehingga engkau mengambil dia menjadi hamba untuk selama-lamanya?” Tanya Allah lagi. Jawabnya pasti tidak mungkin. Sebab Ayub memang tak paham bahasa buaya.

Selanjutnya Allah menyatakan bahwa baru saja orang melihat buaya atau mendekatinya, dia akan terbanting. Bahkan, orang nekat pun takkan berani membangkitkan amarah buaya.

Lukisan mengenai buaya itu berujung pada pertanyaan Allah kepada Ayub, ”Siapakah yang menghadapi Aku, yang Kubiarkan tetap selamat? Apa yang ada di seluruh kolong langit, adalah kepunyaan-Ku” (Ayb. 41:2).

Menurut Alkitab Edisi Studi, dalam Perjanjian Lama, kata yang diterjemahkan dengan ”buaya” melambangkan kekuatan yang sangat besar yang hanya dapat dikendalikan Allah. Raksasa seperti itu juga dapat menjadi suatu lambang kejahatan dan dalam hal ini melambangkan musuh-musuh Allah. Namun demikian, tidak ada seorang pun yang dapat menyerang dan mengalahkan raksasa itu. Jika memang demikian, bagaimana Ayub merasa bisa menyerang Allah?

Yoel M. Indrasmoro
Literatur Perkantas Nasional

Posted on Tinggalkan komentar

Kuda Nil

(Ayb. 40:10-19)

”Perhatikanlah kuda Nil, yang telah Kubuat seperti juga engkau. Ia makan rumput seperti lembu. Perhatikanlah tenaga di pinggangnya, kekuatan pada urat-urat perutnya! Ia meregangkan ekornya seperti pohon aras, otot-otot pahanya berjalin-jalinan. Tulang-tulangnya seperti pembuluh tembaga, kerangkanya seperti batang besi. Dia yang pertama dibuat Allah, makhluk yang diberi-Nya bersenjatakan pedang; ya, bukit-bukit mengeluarkan hasil baginya, di mana binatang-binatang liar bermain-main.” (Ayb. 40:10-15).

Yang dimaksud dengan kuda Nil di sini adalah Behemot. Ada yang berpendapat Behemot itu sama dengan kuda Nil, sedangkan yang lain melukiskan dia sebagai makhluk legendaris. Agaknya dia adalah raksasa laut seperti Rahab atau Lewiatan. Yang pasti, Behemot adalah makhluk yang sangat besar dan kuat.

Namun demikian, sehebat-hebatnya Behemot, dia adalah makhluk, ciptaan Allah sendiri. Dan Allah pulalah yang mencukupi kebutuhannya. Dia tidak bisa tumbuh dan berkembang sendiri, tetapi semuanya itu hanya anugerah Allah semata. Dalam Alkitab Bahasa Indonesia Masa Kini tertera: ”Di antara segala makhluk-Ku dialah yang paling menakjubkan; hanya oleh Penciptanya saja ia dapat ditaklukkan!” Ya, hanya Allah yang dapat menaklukkannya.

Pada titik ini, Allah kembali menyatakan diri-Nya sebagai Mahakuasa, juga Mahakasih. Semua makhluk ada karena diri-Nya. Dan karena itu, wajarlah jika semua makhluk memuji dan memuliakan Dia.

Yoel M. Indrasmoro
Literatur Perkantas Nasional

Posted on Tinggalkan komentar

TUHAN Menantang Ayub

(Ayb. 40:1-9)

”Maka dari dalam badai TUHAN menjawab Ayub: ’Bersiaplah engkau sebagai laki-laki; Aku akan menanyai engkau, dan engkau memberitahu Aku. Apakah engkau hendak meniadakan pengadilan-Ku, mempersalahkan Aku supaya engkau dapat membenarkan dirimu? Apakah lenganmu seperti lengan Allah, dan dapatkah engkau mengguntur seperti Dia?’” (Ayb. 40:1-4).

Kelihatannya penulis Kitab Ayub merasa perlu menekankan perihal badai itu. Tampaknya dengan sengaja dia mengulangi catatan ini: ”Maka dari dalam badai TUHAN menjawab Ayub”.

Kadang-kadang, menurut Alkitab Edisi Studi, kata ”badai” diterjemahkan dengan ”angin berputar”. Dalam Alkitab ”badai” adalah satu cara yang dipakai untuk menggambarkan bagaimana Allah menampakkan diri-Nya. Kekuatan dan dampak suatu badai dapat dirasakan dan dilihat, namun angin itu sendiri tak terlihat. Gambaran yang tepat tentang Allah: tak terlihat, tetapi ada.

Nah, dari dalam badai Allah menantang Ayub. Dalam Alkitab Bahasa Indonesia Masa Kini tertera: ”Hadapilah Aku sebagai laki-laki, dan jawablah segala pertanyaan-Ku ini. Apakah hendak kausangkal keadilan-Ku, dan membenarkan dirimu dengan mempersalahkan Aku? Apakah engkau kuat seperti Aku? Dapatkah suaramu mengguntur seperti suara-Ku?”

Allah menantang Ayub dengan menilai dirinya sendiri: Apakah dia seadil, sebenar, dan sekuat Allah? Dan jawabannya tentu saja tidak.

Yoel M. Indrasmoro
Literatur Perkantas Nasional

Posted on Tinggalkan komentar

Tiada Kata

(Ayb. 39:34-38)

”Maka jawab TUHAN kepada Ayub: ’Apakah si pengecam hendak berbantah dengan Yang Mahakuasa? Hendaklah yang mencela Allah menjawab!’ Maka jawab Ayub kepada TUHAN: ’Sesungguhnya, aku ini terlalu hina; jawab apakah yang dapat kuberikan kepada-Mu? Mulutku kututup dengan tangan. Satu kali aku berbicara, tetapi tidak akan kuulangi; bahkan dua kali, tetapi tidak akan kulanjutkan.’”

Setelah serangkaian kalimat retorik, Allah tegas bertanya kepada Ayub, ”Apakah si pengecam hendak berbantah dengan Yang Mahakuasa? Hendaklah yang mencela Allah menjawab!” Kata-kata Allah begitu lugas. Dia menyebut Ayub sebagai si pengecam atau yang mencela Allah.

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, pengecam berarti orang yang mengecam. Mengecam itu sinonim dengan mengkritik. ”Kritik” berasal dari bahasa Yunani ”criterion” yang kita pungut menjadi kata ”kriteria”, yang berarti ukuran yang menjadi dasar penilaian atau penetapan sesuatu. Sehingga, yang tidak sesuai dengan kriteria, lazimnya harus dikritik.

Memang itulah yang terjadi dalam Kisah Ayub. Mulanya Ayub bisa tahan. Namun, akhirnya dia mungkin bingung dan mulai mempertanyakan kasih Allah. Bisa jadi Allah tak lagi sama dengan apa yang dipahaminya. Tindakan Ayub itu menuai protes para sahabatnya, yang pada gilirannya mencela Ayub. Dan Ayub yang baper akhirnya membalas celaan itu dengan celaan pula.

Mungkin juga Ayub tak bermaksud mengecam Allah, namun Allah agaknya merasakan kecaman itu. Dan karena itu Allah menantang Ayub untuk bicara. Dalam Alkitab Bahasa Indonesia Masa Kini tertera: ”Hai Ayub, kautantang Aku, Allah Yang Mahakuasa; maukah engkau mengalah atau maukah engkau membantah?”

Menghadapi pertanyaan itu, dalam Alkitab Bahasa Indonesia Masa Kini, Ayub menjawab: ”Aku berbicara seperti orang bodoh, ya TUHAN. Jawab apakah yang dapat kuberikan? Tak ada apa-apa lagi yang hendak kukatakan.”

Ya, tiada kata yang keluar.

Yoel M. Indrasmoro
Literatur Perkantas Nasional

Posted on Tinggalkan komentar

Elang dan Rajawali

(Ayb. 39:29-33)

”Oleh pengertianmukah burung elang terbang, mengembangkan sayapnya menuju ke selatan? Atas perintahmukah rajawali terbang membubung, dan membuat sarangnya di tempat yang tinggi? Ia diam dan bersarang di bukit batu, di puncak bukit batu dan di gunung yang sulit didatangi. Dari sana ia mengintai mencari mangsa, dari jauh matanya mengamat-amati; anak-anaknya menghirup darah, dan di mana ada yang tewas, di situlah dia.”

Apakah Ayub yang mengajari burung elang terbang? Pasti bukan. Bagaimana mungkin makhluk yang tak bisa terbang mengajar terbang, kepada seekor burung lagi. Allah memperlengkapi seekor elang dengan kemampuan terbang agar bisa hidup.

Kalau burung rajawali, elang besar, terbang pun, itu atas kemauannya sendiri. Ayub tak mungkin menyuruhnya terbang. Apalagi memerintahkannya untuk membuat sarangnya di bukit batu yang tinggi. Perilaku burung rajawali juga unik. Dari ketinggian sembari berputar-putar dia mengamat-amati mangsa dan langsung menyambarnya dengan sekali cengkeram dan membawanya kepada anak-anaknya.

Seekor rajawali bisa melihat tikus dari jarak sekitar 30 m dari udara dan langsung menukik tajam dengan kecepatan mencapai 190 km per jam. Dengan kata lain, rajawali hanya butuh waktu kurang dari dua detik untuk memangsa seekor tikus. Daya penglihatan dan kecepatan terbang itulah yang membuat burung rajawali dapat hidup dan berkembang biak. Dan itu pun pemberian Allah.

Yoel M. Indrasmoro
Literatur Perkantas Nasional

Posted on Tinggalkan komentar

Kuda

(Ayb. 39:22-28)

”Engkaukah yang memberi tenaga kepada kuda? Engkaukah yang mengenakan surai pada tengkuknya? Engkaukah yang membuat dia melompat seperti belalang? Ringkiknya yang dahsyat mengerikan” (Ayb. 39:22-23). Demikianlah pertanyaan Allah kepada Ayub. Jawabannya: pastilah bukan Ayub. Semua itu hanyalah karya Allah.

Tenaga kuda memang besar. Hingga hari ini manusia mengabadikannya sebagai ukuran kemampuan mesin: tenaga kuda. Ya, mana ada tenaga keledai. Tak hanya tenaga yang diberikan Allah pada kuda. Ia juga memberikan surai yang membuat kuda tampak anggun. Kemampuan melompat kuda bak belalang merupakan karunia Allah yang menjadikannya sebagai hewan tempur, belum lagi ditambah ringkiknya yang bisa menggetarkan hati orang.

Dalam ayat 24-25 Alkitab Bahasa Indonesia Masa Kini tertera: ”Dengan semangat menyala-nyala kuda itu berlari; bila trompet berbunyi tak dapat ia menahan diri. Ia mendengus setiap kali trompet dibunyikan dari jauh tercium olehnya bau pertempuran. Didengarnya teriak para perwira ketika mereka memberi aba-aba.” Ya, kuda dikenal sebagai hewan yang tak punya rasa takut. Sehingga sering menjadi andalan bagi banyak tentara.

Namun, di atas semuanya itu, Allah menegaskan bahwa semuanya itu—kekuatan, ketangkasan, juga nyali kuda—merupakan pemberian Allah. Dengan cara begini Allah hendak mengingatkan Ayub, juga kita yang hidup pada abad XXI ini, aneh rasanya kalau Ayub merasa diri setara dengan Allah.

Yoel M. Indrasmoro
Literatur Perkantas Nasional

Posted on Tinggalkan komentar

Burung Unta

(Ayb. 39:16-21)

”Dengan riang sayap burung unta berkepak-kepak, tetapi apakah kepak dan bulu itu menaruh kasih sayang? Sebab telurnya ditinggalkannya di tanah, dan dibiarkannya menjadi panas di dalam pasir, tetapi lupa, bahwa telur itu dapat terpijak kaki, dan diinjak-injak oleh binatang-binatang liar. Ia memperlakukan anak-anaknya dengan keras seolah-olah bukan anaknya sendiri; ia tidak peduli, kalau jerih payahnya sia-sia, karena Allah tidak memberikannya hikmat, dan tidak membagikan pengertian kepadanya. Apabila ia dengan megah mengepakkan sayapnya, maka ia menertawakan kuda dan penunggangnya.”

Allah menegaskan bahwa hanya Dialah yang memberikan hikmat kepada ciptaan-Nya. Burung unta dijadikan contoh karena tampaknya dia tidak punya rasa kasihan kepada anak-anaknya. Setelah bertelur di atas pasir, ia lalu meninggalkan telur tersebut. Tak ada lagi hubungan antara dia dan anak-anaknya. Dibiarkannya telur itu menetas sendiri. Dan anak-anaknya pun dibiarkan tumbuh dan mencari makan sendiri. Dengan demikian, jelaslah bahwa hikmat, juga rasa sayang, sebenarnya anugerah Allah semata.

Mengapa burung unta berperilaku demikian? Jawab ringkasnya karena memang demikianlah sifat burung unta. Kalau terkesan bahwa dia tak peduli dengan anak-anaknya, ya karena Allah mencipta burung unta seperti itu.

Namun, bukan berarti tanpa kekuatan. Dalam keluarga burung, burung unta merupakan yang terbesar, beratnya bisa mencapai 320 kg dan tingginya mencapai 2,5 m. Yang tidak boleh dilupakan, ia juga termasuk pelari cepat dan mampu mencapai kecepatan 50 km/jam. Dan kemampuan ini pun sejatinya juga merupakan pemberian Allah.

Kita pun juga punya baik kelemahan maupun kekuatan. Jangan terfokus pada kelemahan, itu hanya akan membuat kita frustrasi. Sebaliknya, fokuslah pada kekuatan! Dan, tentu saja, bukan tanpa maksud Allah memberi kita kekuatan itu.

Yoel M. Indrasmoro
Literatur Perkantas Nasional