Posted on Tinggalkan komentar

Menjadi Bintang

Masih ingat kisah orang Majus? Menurut Anda siapakah bintang tamu dalam kisah tersebut? Tentu Anda tidak akan memilih Herodes Agung, tokoh yang paling tidak agung dalam pandangan manusia normal. Karena ingin melanggengkan jabatan, dia tega membantai anak-anak di bawah usia dua tahun.

tim-mossholder-171873-unsplash-1.jpg

Anda juga mungkin tidak akan memilih para imam kepala dan ahli Taurat. Sekelompok orang yang paling tahu bahwa Mesias akan lahir di Betlehem, tetapi toh tidak hidup dan memercayai pengetahuan itu. Buktinya: mereka tidak pergi bersama orang Majus untuk menyembah Mesias.

Saya duga Anda akan memilih orang Majus, yang dengan setia mencari Kebenaran. Bahkan telah menyiapkan diri untuk sungkem di hadapan raja yang baru lahir itu.

Dari segi biaya yang dikeluarkan memang tidak sedikit. Setidaknya perlu biaya akomodasi selama dua tahun. Kalau untuk hotel dan makan butuh Rp500 ribu sehari, maka untuk seorang saja butuh biaya inap dan makan sebesar Rp365juta. Belum biaya transportasinya. Belum lagi modal untuk persembahan—emas, kemenyan, dan mur—yang diberikan.

Namun, izinkan saya mengusulkan Sang Bintang sebagai bintang tamu. Dialah yang sungguh-sungguh menemani orang Majus sampai ke Betlehem. Dialah tanda yang mengarahkan orang Majus untuk menyembah bayi Yesus. Tanpa Sang Bintang, mereka tidak akan sampai pada tujuannya.

Nah, kita juga dipanggil untuk menjadi bintang masa kini. Tugas kita tidaklah menjadi tanda yang mengarahkan orang lain kepada diri sendiri, melainkan hanya kepada Allah. Segala kemuliaan, puji, dan sembah hanya bagi Allah. Sebuah tanda memang tidak lebih penting dari yang ditandainya.

Dan menjadi bintang semestinya dimulai di tempat kerja kita masing-masing.

Selamat bekerja,

Yoel M. Indrasmoro
Direktur Literatur Perkantas Nasional

Posted on Tinggalkan komentar

Menjadi Palungan

Pada Minggu Adven I Tuhan Yesus mengingatkan kita untuk senantiasa siap menyambut kedatangan-Nya, yaitu: menjaga hati agar jangan disarati pesta pora dan kemabukan serta kepentingan-kepentingan duniawi (lih. Luk. 21:34). Dengan kata lain, kita harus menanti-Nya dalam suasana hidup penuh kasih dan kekudusan.

Jelasnya: tidak pasif menunggu, melainkan aktif menerapkan keadilan dan kebenaran (lih. Yer. 33:15). Sehingga makin banyak orang yang tertular untuk mempersiapkan diri pula.

Janggal rasanya, merindukan kehadiran kerajaan Tuhan, tetapi tidak hidup sebagai warga kerajaan itu. Kita perlu menyiapkan diri sebaik-baiknya agar tahan berdiri di hadapan Anak Manusia.

Caranya? Mari bersikap sebagaimana palungan! Pada Kidung Jemaat 84:2, Carl Wilhelm Osterwald menulis: Hatiku biar Kaujadikan palungan-Mu yang mulia dan dalam aku Kaucerminkan terang sorgawi yang baka, sebab dengan kehadiran-Mu keluhan batinku lenyap. Kiranya lahir dalam aku dan tinggalah serta tetap.

Menjadi palungan berarti menjadi tempat. Menjadi palungan berarti menyediakan ruang dalam hati kita untuk Allah dan manusia.

Palungan merupakan tempat makanan. Palungan tak ubahnya piring dalam dunia manusia. Menjadi palungan berarti bersedia menjadi piring. Menjadi palungan berarti sedia menjadi penyalur berkat Tuhan.

Palungan pun tak bersikap diskriminatif. Tak ada tangan dalam palungan. Setiap binatang yang datang kepadanya bisa makan dari palungan tersebut. Palungan menerima semua binatang itu apa adanya. Dia tidak melakukan seleksi. Semua binatang diterimanya tanpa syarat.

Kita juga dipanggil untuk tidak bersikap diskriminatif. Menerima orang lain apa adanya. Inilah sikap yang tepat dalam menyambut kedatangan Yesus yang kedua.

Dan menjadi saluran berkat tanpa diskriminasi sewajarnya dimulai di tempat kerja kita masing-masing.

Selamat bekerja!

Yoel M. Indrasmoro
Direktur Literatur Perkantas Nasional

Posted on Tinggalkan komentar

Memperlihatkan Wajah Allah

Elia terpana. Janda yang begitu dihormati—yang juga telah memberi tempat berteduh dan makan selama ini—menuduhnya. Dalam kekalutan karena kematian anaknya, janda di Sarfat itu berkata kepada Elia, ”Apakah maksudmu datang ke mari, ya abdi Allah? Singgahkah engkau kepadaku untuk mengingatkan kesalahanku dan untuk menyebabkan anakku mati?” (1Raj. 17:18).

Photo by Sticker Mule on Unsplash

Perkataan itu tampaknya mengguncangkan hati Elia. Betapa tidak, Elia telah merasakan kasihnya. Janda itu sekarang ketimpa musibah dan menganggap Elia biang keladinya.

Elia lalu mengambil anak itu dan bersyafaat kepada Tuhan: ”Ya TUHAN, Allahku, mengapa Engkau mendatangkan celaka ini ke atas janda ini? Ia sudah memberi tumpangan kepadaku dan sekarang Engkau membunuh anaknya!” (1Raj. 17:20).

Elia berdoa seakan dia yang kena musibah. Sang Nabi berseru seperti dia sendirilah yang menderita. Kelihatannya, Elia sungguh merasakan kepedihan janda tersebut. Inilah yang dinamakan empati—’dalam penderitaan orang lain’. Jika simpati berarti bersama dengan penderitaan orang lain, maka empati—lebih dalam lagi—yakni dalam penderitaan orang lain. Allah pun kemudian membangkitkan anak itu dari kematian.

Sebelumnya janda itu memperlihatkan wajah Allah kepada Elia. Selanjutnya, Elia juga memperlihatkan wajah Allah kepada janda tersebut. Mereka saling memperlihatkan wajah Allah. Mereka saling menyatakan kasih Allah. Mereka saling memberi kehidupan. Mereka saling menghidupkan. Akhirnya, janda itu pun percaya kepada Allah Israel.

Memperlihatkan wajah Allah merupakan panggilan orang beriman. Dan dua minggu lalu seorang rekan pelayan mengirimkan pesan melalui whatsapp: ”Kalau ada gereja atau lembaga pelayanan yang perlu kita dukung untuk memiliki buku ini, saya ikutan ya.” Singkat pesannya. Namun, pada hemat saya, dia sedang berupaya memperlihatkan wajah Allah kepada sesama, yang bisa jadi tak pernah dikenalnya.

Nah, marilah kita saling memperlihatkan wajah Allah! Juga kepada rekan sekerja kita hari ini!

Selamat bekerja,

Yoel M. Indrasmoro
Direktur Literatur Perkantas Nasional

Posted on Tinggalkan komentar

Debora, Barak, dan Yael

Pada suatu masa, orang Israel kembali melakukan kejahatan di mata Tuhan. Sebagai hukuman, Tuhan menyerahkan mereka dalam penjajahan Yabin, raja Kanaan. Tak ada yang berani melawannya karena dia memiliki panglima tiada tanding: Sisera.

Photo by rawpixel on Unsplash

Debora, selaku hakim waktu itu, menugasi Barak untuk mengalahkan Sisera. Namun, Barak tak terlalu antusias. Meski Debora menegaskan bahwa Tuhan yang menyuruh, Barak tetap kecut hati. Barak tak berani menghadapi Sisera. Dia memohon, ”Jika engkau turut maju aku pun maju, tetapi jika engkau tidak turut maju aku pun tidak maju” (Hak. 4:8). Meski menyayangkan usul tersebut, Debora setuju dengan catatan: ”Hanya, engkau tidak akan mendapat kehormatan… sebab TUHAN akan menyerahkan Sisera ke dalam tangan seorang perempuan” (Hak. 4:9).

Itulah yang terjadi. Meski Barak beserta pasukannya mengalahkan tentara Sisera, tetapi dia tidak berhasil membunuh Sisera. Panglima perang itu mati di tangan Yael, istri Heber orang Keni.

Dari sejarah Israel ini, ada beberapa pelajaran penting. Pertama, jika kita tidak mau menerima tanggung jawab, Tuhan akan memakai orang lain. Barak menolak, dan Tuhan memilih Yael. Kedua, kesempatan tak pernah datang dua kali. Sambutlah saat pertama kali muncul! Memang, kata orang, kesempatan tak berwajah—sehingga sulit dikenali; dan berekor licin—yang membuat kita sulit menangkapnya ketika kita menyadarinya.

Karena itu, ”Tunaikan tugas sekarang juga. Jangan tunda! Kemungkinan besar kita tidak bisa mengerjakannya esok hari.” Demikianlah, petuah almarhum ayah saya, yang masih membekas hingga kini. Ketiga, percaya. Jika Tuhan di pihak kita, siapakah lawan kita? Karena itu pula, mintalah berkat Tuhan atas setiap karya yang kita lakukan pada kesempatan pertama itu.

Selamat bekerja,

Yoel M. Indrasmoro
Direktur Literatur Perkantas Nasional

Posted on Tinggalkan komentar

Berikanlah Aku Air itu!

”Berikanlah aku air itu!” (Yoh. 4:15). Demikianlah, permohonan perempuan Samaria itu kepada Yesus. Permohonan itu muncul karena sebelumnya Yesus menawarkan air hidup—air yang membuat orang tidak haus lagi.

Photo by Lisa Fotios from Pexels

Ada yang tersurat maupun tersirat dalam permohonan itu. Tersurat: perempuan itu tidak ingin datang ke perigi itu lagi. Dia agaknya merasa malu jika harus bertemu tetangga-tetangganya.

Tersirat: perempuan itu haus rohaninya. Lima perkawinannya kandas. Sekaran, dia sendiri tak berani mengikat diri dengan pasangan kumpul kebonya. Dia takut gagal lagi.

Dengan kata lain, perempuan itu haus baik jasmani maupun rohani. Dan Yesus tahu itu. Karena itulah, bisa dimengerti mengapa Guru dari Nazaret itu menawarkan air hidup kepada perempuan Samaria itu.

Air hidup itu adalah Dirinya sendiri. Dan di dalam Kristus, perempuan itu seperti bercermin. Yesus menyatakan keberadaan perempuan itu apa adanya. Di muka Yesus memang tak ada yang perlu disembunyikan. Yang terpenting adalah datang kepada-Nya sebagaimana adanya.

Tak perlu topeng. Semua manusia telanjang di hadapan Tuhan. Menyembunyikan sesuatu di hadapan-Nya hanya akan membuat kita makin merasa tak layak. Menyembunyikan sesuatu di hadapan-Nya hanya akan membuat kita tak merasa nyaman berhadapan dengan-Nya. Menyembunyikan sesuatu di hadapan-Nya hanya akan membuat kita letih. Menyembunyikan sesuatu di hadapan-Nya merupakan tindakan sia-sia.

Jika kita punya kesalahan, akuilah semuanya itu di hadapan Tuhan. Menurut Pascal, hanya ada dua macam orang: orang benar yang menganggap dirinya berdosa dan orang berdosa yang menganggap dirinya benar. Orang macam apakah kita?

Selamat bekerja!

Yoel M. Indrasmoro
Direktur Literatur Perkantas Nasional

Posted on 1 Komentar

Kuasa Kata

Berhati-hatilah dengan kata! Sekali terlontar dari mulut, kita tidak dapat menariknya kembali. Lagipula, kata memiliki kuasa. Kata-kata yang keluar dari mulut kita memiliki pengaruh besar bagi pendengarnya.

Photo by Ricardo Mancía on Unsplash

Pujian akan membuat orang merasa tersanjung dan terhibur. Namun, makian menyakitkan hati. Kalau sudah begini, perang tanding pun tak akan terhindarkan lagi. Dan itulah yang tampak dalam kisah Daud, Nabal, dan Abigail (1Sam. 25:2-42).

Nabal seorang kaya. Dia punya tiga ribu ekor domba dan seribu ekor kambing. Namun, orang kaya ini agaknya tidak memiliki kemampuan dalam menggunakan kata. Dalam hal ini, Nabal telah bertindak ceroboh.

Di hadapan anak buah Daud, Nabal berkata, ”Siapakah Daud? Siapakah anak Isai itu? Pada waktu sekarang ini banyak hamba yang lari dari tuannya. Masakan aku mengambil rotiku, air minumku dan hewan bantaian yang kubantai bagi orang-orang pengguntingku untuk memberikannya kepada orang-orang yang aku tidak tahu dari mana mereka datang?”

Perkataan Nabal tidak banyak. Hanya tiga kalimat! Namun, tiga kalimat itu yang membuat Daud berang setengah mati. Sebab, Nabal mempertanyakan eksistensi Daud. Perkataannya itu membuat Daud tersinggung. Harga diri sebagai laki-laki terusik.

Hati Daud pun mendidih dan mengambil sebuah kata kerja, sebagai sikapnya terhadap Nabal, yaitu: ”Bunuh!” Tak hanya Nabal, tetapi seluruh laki-laki yang menjadi pengikut Nabal. Daud pun sudah tak mampu lagi menahan kata-katanya.

Saat kritis itulah Abigail muncul! Dengan lembut Abigail membujuk Daud untuk menarik kata-katanya. Berbeda dengan Nabal dan Daud, sebagai perempuan, Abigail sanggup menggunakan kata-katanya secara bijak. Yang pada akhirnya mampu menyelamatkan banyak orang dari kematian sia-sia.

Kata memang berkuasa. Karena itu, gunakanlah secara bijak! Tak hanya yang keluar dari mulut, tetapi juga yang tertulis di gawai kita.

Selamat bekerja,

Yoel M. Indrasmoro
Direktur Literatur Perkantas Nasional

Posted on Tinggalkan komentar

Menjadi Sahabat Anda Bertumbuh

Pada 31 Oktober 1517 Martin Luther memaklumatkan 95 dalil yang mengkritik Gereja Katolik Roma. Di mata Luther, kebijakan menjual surat indulgensia ’penghapusan siksa’—bahkan untuk orang mati—melawan kebenaran Alkitab. Luther menegaskan bahwa keselamatan manusia hanya karena iman—sola fide, yang merupakan tanggapan dari anugerah Allah—sola gratia. Hidup hanyalah karena anugerah Allah.

Photo by James Coleman on Unsplash

Luther sendiri diilhami kala membaca surat Paulus kepada jemaat di Roma: ”Sebab di dalamnya dinyatakan pembenaran oleh Allah, yang bertolak dari iman dan memimpin kepada iman, seperti ada tertulis: ’Orang benar akan hidup oleh iman’” (Rm. 1:17). Sejatinya, Paulus pun hanya menggemakan kembali nubuat Habakuk: ”Orang yang benar itu akan hidup oleh percayanya” (Hab. 2:4).

Kisah reformasi sesungguhnya kisah baca-tulis. Seandainya Paulus tidak mengutip nubuat Habakuk dalam kitabnya—dan Luther juga tidak membacanya—mungkin jalannya kekristenan menjadi lain. Dan penemuan mesin cetak oleh Johannes Gutenberg pada 1440 memungkinkan semua tulisan bernada reformatif dicetak secara massal, sehingga gaungnya berdampak luas—semacam viral pada masa kini.

Menurut H.A. van Dop, guru liturgika saya, tanggal yang dipilih Martin Luther—31 Oktober dan sekarang dirayakan sebagai Hari Reformasi—bermakna strategis. Sebab 1 November merupakan Hari Raya Orang Kudus, yang dirayakan umat Katolik, sehingga bisa dipastikan setiap orang yang beribadah pada hari itu membaca 95 dalil Luther.

Dan bagi kami, Literatur Perkantas Nasional, 1 November juga amat bermakna. Pada 1 November 2010, berdasarkan Keputusan Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia Republik Indonesia, Divisi Literatur Perkantas Nasional disahkan menjadi PT Suluh Cendikia.

Photo by rawpixel on Unsplash

Perubahan bentuk ini dimaksudkan agar pelayanan literatur Perkantas dapat lebih diterima masyarakat luas, selain sebagai salah satu bentuk penerapan profesionalitas dalam tubuh Perkantas. Dengan demikian pada hari ini usia Literatur Perkantas Nasional—sebagai ”Sahabat Anda Bertumbuh”—genap sewindu.

Pada hemat kami, tanggal pengesahan tersebut bukan sebuah kebetulan. Kami diingatkan terus untuk melayani segenap orang kudus—semua orang yang telah dipilih Allah menjadi milik-Nya—dengan menjadi sahabat dalam pertumbuhan rohani mereka.

Karena itu, pada hari ini kami hendak bersyukur kepada Tuhan Yesus Kristus—Sang Komunikator Agung—yang telah menganggap kami layak menjadi rekan kerja-Nya melalui literasi. Juga kepada semua mitra kami—pembaca, penulis, penerjemah, percetakan, distributor, toko buku, donatur—yang telah menemani kami dalam melayankan Injil melalui media.

Doakanlah kami—dalam anugerah-Nya—agar setia menjalani panggilan sebagai ”suluh yang cendikia dan mencendikiakan”, sehingga mampu menjadi ”Sahabat Anda Bertumbuh!”

SMaNGaT,

Yoel M. Indrasmoro
Direktur Literatur Perkantas Nasional

Posted on Tinggalkan komentar

Panggilan Yeremia

Kisah panggilan Yeremia layak direnungkan. Panggilan itu tidak berasal dari diri Yeremia sendiri. Allah memanggilnya untuk menjadi nabi-Nya. Allah yang menyapa Yeremia. Allah yang melamar Yeremia dan bukan sebaliknya.

Panggilan itu bukan tanpa alasan. Allah bersaksi: ”Sebelum Aku membentuk engkau dalam rahim ibumu, Aku telah mengenal engkau, dan sebelum engkau keluar dari kandungan, Aku telah menguduskan engkau, Aku telah menetapkan engkau menjadi nabi bagi bangsa-bangsa.” (Yer. 1:5). Allah memiliki visi. Persoalannya: relakah manusia terlibat dalam perwujudan visi-Nya?

Yeremia berasal dari keluarga imam. Agaknya dia sadar akan tuntutan yang cukup tinggi dari masyarakat terhadap kalangan rohaniawan. Dan Yeremia menyadari bahwa bekalnya belum cukup banyak. Dia mengelak: ”Ah, Tuhan ALLAH! Sesungguhnya aku tidak pandai berbicara, sebab aku ini masih muda.” (Yer. 1:6)

Yeremia sadar, menjadi nabi berarti harus berbicara atas nama Allah kepada umat! Menjadi nabi itu tidak hanya cukup pintar ngomong. Tidak. Menjadi nabi berarti harus memiliki pengetahuan yang cukup agar berita yang dibawa tidak menjadi bahan olok-olok.

Dalam bayangan Yeremia, menjadi nabi berarti harus mampu berargumentasi. Lalu, bagaimana mau berargumen jika bekal pengetahuannya tidak memadai? Yeremia merasa dia masih terlalu muda. Sedikitnya pengetahuan—karena kemudaannya itu—membuatnya gentar menerima lamaran Allah.

Akan tetapi, Tuhan tetap pada pendirian-Nya. Dia berdaulat penuh. Lagi pula, alasan Yeremia itu hanya akan membawa Yeremia bertumpu pada kekuatannya sendiri. Dan Allah tidak mau hal itu terjadi. Allah ingin Yeremia bergantung penuh kepada-Nya. Ya, bergantung penuh kepada Allah. Itulah modal utama setiap pekerja Allah!

Selamat bekerja,

Yoel M. Indrasmoro
Direktur Literatur Perkantas Nasional

Posted on Tinggalkan komentar

Kepemimpinan Kristiani

”Maka Yesus mengambil seorang anak kecil dan menempatkannya di tengah-tengah mereka, kemudian Ia memeluk anak itu…” (Mrk. 9:36).

Demikianlah catatan penulis Injil Markus. Tindakan itu dilakukan Yesus untuk merespons perdebatan di antara para murid mengenai siapa yang layak menjadi pemimpin di antara mereka.

Dari tindakan Yesus itu, ada tiga kata kerja yang perlu diteladani setiap pemimpin Kristen: mengambil, menempatkan, dan memeluk.

Yesus mengambil anak tersebut. Tentunya, cara pengambilannya tidak dengan paksa. Tak ada paksaan. Kemungkinan besar anak itu malah senang.

Bayangkanlah, raut wajah Yesus! Cemberutkah? Pasti tidak. Mana ada anak kecil yang suka dicemberuti? Kelihatannya, anak itu merasa diterima Yesus. Sehingga, dia tidak keberatan diajak Yesus untuk berdiri di tengah-tengah para murid.

Yesus menempatkan anak tersebut di tengah-tengah. Anak itu bukan tontonan. Bukan. Yesus menempatkan anak itu di tengah-tengah agar dia menjadi fokus perhatian. Kata dasar ”perhatian” adalah ”hati”! Artinya, anak itu menjadi fokus-kasih.

Fokus seorang pemimpin bukanlah dirinya sendiri, melainkan orang-orang yang dia pimpin. Fokus kepemimpinan tidak berpusat pada diri sendiri, tetapi orang yang dipimpinnya. Setiap bawahan sejatinya merupakan fokus-kasih para pemimpin.

Yesus memeluk anak tersebut. Kasih tak sekadar kata-kata. Perhatian tak ada manfaatnya jika tidak berbuah dalam tindakan. Kasih harus diekspresikan melalui tindakan.

Kepemimpinan-kasih merupakan sebuah konsep abstrak. Oleh karena itu, harus diwujudkan dalam tindakan. Karena, sebagaimana refrein lagu lama: ”Semua bisa bilang sayang, semua bisa bilang. Apalah artinya sayang tanpa kenyataan?”

Selamat bekerja,

Yoel M. Indrasmoro
Direktur Literatur Perkantas Nasional

Posted on Tinggalkan komentar

Menjadi Manusia

Multatuli pernah berkata, sering disitir Pramoedya Ananta Toer, ”Tugas manusia ialah menjadi manusia, bukan menjadi malaikat atau pun setan. ”Ya, tugas manusia memang menjadi manusia. Jika tidak menjadi manusia, maka dia tidak bisa memenuhi hakikatnya sebagai manusia. Dan selanjutnya, tentu tak layak menganggap diri manusia.

Photo by Roman Averin on Unsplash

Menjadi manusia merupakan panggilan setiap insan. Menjadi manusia berarti pula  menjalani hidup sebagai hamba Allah. Allah memang tidak menuntut kita menjadi malaikat, tetapi juga tidak ingin kita menjadi setan. Dia hanya ingin kita memenuhi panggilan hidup sebagai manusia. Itulah cita-cita-Nya ketika mencipta manusia. Dan ketika manusia tak lagi menapaki hidup sebagai manusia, ia harus bertobat.

Itu jugalah yang dikumandangkan Nabi Yesaya: ”Carilah TUHAN selama Ia berkenan ditemui; berserulah kepada-Nya selama Ia dekat! Baiklah orang fasik meninggalkan jalannya, dan orang jahat meninggalkan rancangannya…” (Yes. 55: 6-7).

Pertobatan merupakan inti berita Yesaya. Berkait dengan pertobatan, kita termasuk golongan manusia berbahagia karena kita masih dikaruniai waktu. Waktu untuk berubah. Itu berarti pula waktu untuk berbuah lebih banyak. Berubah untuk berbuah.

Kita—jika dikaitkan dengan perumpamaan Yesus Orang Nazaret—bak pohon ara yang masih diberi kesempatan hidup, yang dibela oleh Sang Pengelola kebun.

”Tuan, biarkanlah dia tumbuh tahun ini lagi, aku akan mencangkul tanah sekelilingnya dan memberi pupuk kepadanya, mungkin tahun depan ia berbuah; jika tidak, tebanglah dia!” harap Sang Pengelola kepada Sang Pemilik (lih. Luk. 13:9). Namun demikian, kesempatan itu pun tidak tak terbatas.

Berbahagialah karena kita belum sampai tenggat itu! Masih ada waktu untuk berbenah. Masih ada waktu untuk memperbarui diri—menjadi manusia seturut citra Allah. Jika tidak, kita pun akan ditebang!

Selamat bekerja,

Yoel M. Indrasmoro
Direktur Literatur Perkantas Nasional

Posted on Tinggalkan komentar

Karya adalah Saksi

”Berapa lama lagi Engkau membiarkan kami dalam kebimbangan? Jikalau
Engkau Mesias, katakanlah terus terang kepada kami.” (Yoh. 10:24).

Photo by Dominik Scythe on Unsplash

Demikianlah kegalauan orang Yahudi berkait Yesus Orang Nazaret. Mukjizat-mukjizat-Nya membuat mereka bertanya-tanya: ”Siapakah Dia sebenarnya?”

Mereka ingin Yesus bicara, tetapi Anak Daud itu tidak menggubrisnya. Bagi Yesus, apa yang dilakukan-Nya sudah jelas. Yesus ingin orang menilai diri-Nya berdasarkan apa yang dilakukan-Nya. Berkait kemesiasan-Nya, Yesus merasa tidak perlu bicara banyak.

Sang Guru menegaskan: ”Pekerjaan-pekerjaan yang Kulakukan dalam nama Bapa-Ku, itulah yang memberikan kesaksian tentang Aku…” (Yoh. 10:25).

Pekerjaan-pekerjaan yang dilakukan dalam nama Bapa itulah yang memberi kesaksian tentang diri-Nya. Pada titik ini kita perlu belajar dari Sang Guru. Apa yang kita lakukan dalam nama Tuhan itu cukup dan tak perlu masang iklan. Bahkan, tak perlu membumbui apa yang telah kita lakukan.

Kebanyakan bumbu akan membuat masakan tak lagi enak disantap. Berkait karya, kata-kata mungkin malah melemahkan karya kita. Sebaik apa pun karya, baiklah kita belajar dari Sang Guru yang merasa tidak perlu beriklan. Iklan, bagaimanapun baiknya, mungkin malah akan membuat diri terkesan sombong.

Sekali lagi, Yesus tidak perlu beriklan. Bagi Dia, karyalah yang utama. Yesus—Firman yang menjadi manusia itu—senantiasa bertumpu pada karya. Karya Yesus merupakan penjabaran praktis dari kata-kata-Nya. Yesus adalah pribadi yang walk the talk. Melakukan apa yang dikatakan. Dan setelah melakukan, Yesus tidak perlu lagi beriklan.

Selamat bekerja,

Yoel M. Indrasmoro
Direktur Literatur Perkantas Nasional

Posted on Tinggalkan komentar

Perjumpaan yang Memberdayakan

Perjumpaan Musa dan Yitro (Kel. 18:13-27) merupakan salah satu kisah baik mengenai ciri pemimpin berkualitas.

Photo by Stephen Leonardi on Unsplash

Pertama, terbuka. Seorang pemimpin terbuka terhadap setiap usul, saran, kritik, bahkan celaan pihak lain. Dalam kisah ini, Musa tidak serta-merta menolak usul Yitro. Namun, dia mendengarkan apa yang hendak disampaikan mertuanya.

Sikap terbuka tampak dalam kesediaan mendengarkan. Tidak sekadar mendengar (sepintas lalu), tetapi mendengarkan. Mendengarkan mengandaikan adanya keseriusan dari pihak yang mendengar.

Kedua, positif. Musa tidak memandang negatif mertuanya. Dia bersikap positif terhadap pemikiran Yitro. Agaknya, Musa menyadari bahwa setiap orang pastilah punya pengalaman. Dan pengalaman yang bersifat pribadi, yang membedakan seseorang dengan yang lain, harus dihargai. Pengalaman berbeda akan menghasilkan pendapat dan keyakinan yang berbeda pula.

Dengan kata lain, sikap positif akan membuat kita memahami bahwa setiap orang, berdasarkan pengalaman hidupnya, akan mempunyai pendapat berbeda mengenai hal yang sama. Atau, bisa saja pendapatnya sama, tetapi dengan alasan berbeda. Perbedaan alasan akan memperkuat pendapat tersebut.

Ketiga, tulus. Tulus berarti memandang orang lain tanpa prasangka. Musa meyakini bahwa Yitro tidak mungkin mencelakakan dirinya. Musa tidak berasumsi Yitro akan mengambil keuntungan dari usul tersebut. Musa memandang Yitro dengan pikiran jernih dan hati bersih. Musa yakin usul Yitro itu memang untuk kebaikan dirinya dan bangsa Israel.

Keempat, percaya. Tindakan Musa sewaktu memilih para pemimpin berlandaskan kepercayaan. Dia percaya bahwa orang-orang yang diangkatnya dapat mengerjakan tugas mereka dengan baik. Musa tidak hendak mengumpulkan kekuasaan, tetapi mau membagi-bagikan tanggung jawab dan wewenang. Dengan demikian, dia juga tidak mau membuat bangsa Israel tergantung pada dirinya seorang. Bagaimanapun, kapasitas Musa ada batasnya.

Tujuan dari semuanya ini jelas: bangsa Israel puas terlayani, Musa tidak terlalu lelah, dan banyak orang terlibat dan belajar menjadi pemimpin. Sungguh perjumpaan yang memberdayakan.

Selamat bekerja,

Yoel M. Indrasmoro
Direktur Literatur Perkantas Nasional

Posted on Tinggalkan komentar

Sungguh-sungguh Melakukan Pekerjaan yang Baik

Carlos G. Valles, dalam bukunya Courage to Be Myself, mengutip percakapan antara Buddha dengan seorang muridnya. Sang Murid bertanya kepada Buddha: ”Bagaimanakah caranya para biksu mencapai kesempurnaan?”

Sang Buddha menjawab, ”Apabila berjalan, biksu berjalan sepenuhnya; apabila berdiri, biksu berdiri sepenuhnya; apabila duduk, biksu duduk sepenuhnya; apabila telentang, biksu telentang sepenuhnya.

Apabila memandang, ia sepenuhnya memandang; apabila membentangkan tangan, ia sepenuhnya membentangkan tangan; apabila mengenakan pakaian, ia sepenuhnya mengenakan pakaian; dan begitu pula apabila makan, minum, mengunyah, mencecap, atau pun melakukan tindakan-tindakan lain, ia sepenuhnya melakukan apa yang sedang ia lakukan dengan memahami tindakannya secara sempurna.”

Inilah hidup yang serius. Dan tampaknya mudah. Makanlah bila kita makan, dan berjalanlah ketika kita berjalan.

Itukah yang kita kerjakan? Sayangnya tidak! Sering kita mengerjakan yang sebaliknya. Kita bicara saat makan, dan berpikir sewaktu berjalan. Kadang kita menjadi tersedak atau tersandung. Ketika kita melakukan suatu pekerjaan, pikiran kita sering kali tidak ada di situ. Bahayanya lagi, saat bicara, otak kita memikirkan topik lain.

Mungkin ini sebuah contoh yang bagus, masih terdapat dalam buku Valles tadi. Konon seorang penumpang duduk di taksi, tetapi duduknya hanya mengambang, di pinggir kursi, tanpa membiarkan seluruh bobot badannya terbebankan di kursi. Mengapa? Ia yakin dengan duduk begitu bayaran taksinya akan lebih murah sedikit!

Ia tidak menyadari bahwa spedometer berjalan sama saja saat ia duduk begini atau duduk begitu. Sesungguhnya ia sedang menyiksa dirinya sendiri.

Mungkin kita pun sering berbuat demikian. Sewaktu naik taksi, kita malah berpikir dan bersikap seakan sedang naik motor. Ketika waktunya belajar, kita malah main-main. Dan sewaktu bermain, pikiran kita malah melayang ke pelajaran kita.

Pada waktu bekerja, pikiran kita mengkhayalkan enaknya tidur siang. Pada waktu istirahat, otak kita malah stres memikirkan pekerjaan yang menumpuk.

Paulus mengingatkan kepada warga jemaat yang dipimpin oleh Titus untuk ”sungguh-sungguh berusaha melakukan pekerjaan yang baik” (Tit. 3:8). Artinya, bukan berapa banyak kerja kita, tetapi bagaimana kita mengerjakannya?

Pertanyaannya: Apakah kita telah berusaha sungguh-sungguh melakukan pekerjaan yang baik? Sekadar jalan atau rutinitas belaka?

Selamat bekerja,

Yoel M. Indrasmoro
Direktur Literatur Perkantas Nasional

Posted on Tinggalkan komentar

Kelekatan

Dia bukan orang miskin. Namun, dia merasa ada yang kurang dalam dirinya. Dia berusaha mencari tahu kekurangannya itu dengan bertanya kepada Yesus. Dengan penuh antusias dia berlari-lari untuk menemui Yesus Orang Nazaret dan bertanya:

”Guru yang baik, apa yang harus kuperbuat untuk memperoleh hidup yang kekal?” (Mrk. 10:17).

Sang Guru tidak langsung menjawab pertanyaannya. Yesus mengatakan bahwa tentunya orang itu telah mengetahui sebagian dari Sepuluh Firman. Dengan cepat dia mengatakan bahwa semuanya itu telah dilakukan sejak kecil. Akan tetapi, ini soalnya, dia tetap merasa ada yang kurang.

Sang Guru lalu meminta dia untuk menjual hartanya dan membagikannya kepada orang miskin, lalu menjadi murid-Nya. ”Mendengar perkataan itu ia menjadi kecewa, lalu pergi dengan sedih, sebab banyak hartanya” (Mrk. 10:22).

Di mana persoalannya? Tentu, bukan pada hartanya. Kekayaan itu netral. Akan tetapi, menjadi tidak netral—malah berbahaya—tatkala kekayaan itu menjadi tuan atas manusia. Tak salah menjadi kaya, tetapi menjadi masalah tatkala kekayaan itu membuat kita terikat kuat padanya. Kaum Yesuit punya istilah yang bagus: ”kelekatan”.

Kelekatan pada sesuatu bisa membuat seseorang malah menjauh dari Tuhan. Tak hanya kekayaan dan keluarga, pekerjaan atau jabatan pun bisa membuat kita tak lagi melekat kepada Tuhan. Pdt. Em. William Ho, mantan Ketua Sinode Gereja Kristus Yesus, dalam salah satu wawancara pernah berujar: ”Kursi itu dipakai untuk kerja, jangan dipegang terus.”

Jabatan kadang membuat orang begitu sibuk mempertahankannya, sehingga malah lupa alasan utama dia duduk di kursi itu: ”bekerja”. Sebab pekerjaannya ya cuma itu: bagaimana mempertahankan kursinya.

Selamat Bekerja,

Yoel M. Indrasmoro
Direktur Literatur Perkantas Nasional

Posted on Tinggalkan komentar

Hidup adalah Sebuah Pesta

Dalam buku Sekolam Bunga Teratai terdapat kisah seorang nenek, yang hanya menangis kerjanya. Dia memiliki dua anak perempuan. Yang sulung bersuamikan pedagang payung, sedangkan yang bungsu bersuamikan pedagang tepung.

Photo by Noah Näf on Unsplash

Bila langit cerah dan udara baik, Sang Nenek menangis teringat putri sulungnya, yang tidak dapat menjual payungnya. Namun, jika hujan turun, dia kembali menangis karena putri bungsunya tidak dapat menjemur tepung. Baik panas maupun hujan, Sang Nenek senantiasa menangis. Orang-orang di desanya menjulukinya ”Nenek Menangis”.

Pada suatu hari Sang Nenek berjumpa seorang biksu dan bertanya bagaimana mengatasi hal tersebut. Dengan senyum, biksu tersebut berkata, ”Nenek tidak dapat mengubah cuaca menjadi baik atau buruk. Akan tetapi, Nenek dapat mengendalikan pikiran Nenek! Jika cuaca cerah, bergembiralah untuk putri bungsumu, karena dia dapat menjemur tepungnya. Dan jika hari hujan, bergembiralah sebab putri sulungmu dapat menjual lebih banyak payung. Ini hanya masalah cara pandang!”

Ya, cuma cara pandang. Ketimbang mengeluhkan hujan deras sore hari—yang membuat kita sulit berjalan karena tanah becek; mengapa kita tidak memandang langit? Bukankah sinar bintang dan rembulan sedang menerangi jalan yang kita lalui? Cara pandang memampukan kita menjadikan hidup bagai sebuah pesta. Dan hidup memang pesta, selama kita mampu melihat seberkas sinar—alasan bersyukur—dalam muramnya kehidupan.

Juga dalam pekerjaan kita. Ketimbang mengomel karena klaim seorang klien, bersyukurlah karena kita telah ditolongnya melihat realitas kelemahan kita. Daripada menggerutu karena sikap atasan yang sering tidak sabar, bersyukurlah karena situasi itu membuat kita dapat belajar menjadi lebih sabar.

Ketimbang mengeluhkan sikap bawahan yang selalu kritis terhadap kebijakan kita, bersyukurlah kritikan tersebut menolong kita menilai kebijakan itu dari perspektif lain. Alhasil, kebijakan kita menjadi sungguh-sungguh teruji.

Semuanya itu memang dimulai dari cara pandang!

Selamat Bekerja,

Yoel M. Indrasmoro
Direktur Literatur Perkantas Nasional

Posted on Tinggalkan komentar

Panggilan Pekerjaan

Allah memanggil tiap-tiap orang untuk maksud yang telah Ia sediakan bagi mereka. Kerja merupakan sarana untuk memenuhi maksud Allah itu. Dengan demikian, pekerjaan juga sebuah panggilan.

Photo by Annie Spratt on Unsplash

Memahami kerja sebagai panggilan akan menolong kita—dengan pertolongan Allah tentunya—memperlengkapi diri kita agar mampu memenuhi panggilan-Nya. Perlengkapan itu tak hanya berwujud pengetahuan, melainkan juga keterampilan.

Menurut Peter F. Drucker, dalam buku The Daily Drucker, ”Pengetahuan tidak menghilangkan keterampilan. Sebaliknya, dengan cepat pengetahuan akan menjadi fondasi kokoh bagi keterampilan.” Hanya dengan cara itulah pengetahuan sungguh menjadi produktif.

Sebagai contoh, tentu kita sepakat bahwa editor merupakan pekerjaan intelektual. Namun, pada kenyataannya para editor biasanya menghabiskan lebih banyak waktu untuk bekerja dengan tangan ketimbang dengan otaknya.

Memang pekerjaan utamanya ialah menjadi jembatan antara penulis dan pembaca agar pembaca dapat memahami dengan tepat maksud penulis. Namun, editor yang baik pastilah tak akan membiarkan terjadinya kesalahan ejaan dan tanda baca yang akan membuat pembaca menjadi sesat pikir.

Dia harus berupaya dengan keras untuk mencapai nihil obstat ”tanpa kesalahan”. Ketertiban berbahasa merupakan buah dari pelatihan bertahun-tahun. Jelaslah, karya editorial sendiri merupakan hasil pekerjaan intelektual sekaligus manual.

Oleh karena itu, pentinglah bagi setiap pekerja intelektual untuk berusaha mengembangkan dirinya dalam keterampilan demi menghasilkan pekerjaan berkualitas.

Kualitas menjadi penting karena itulah kebutuhan utama manusia. Kualitas itu laksana rasa asin dalam sebutir garam. Ya, apalah artinya garam jika telah kehilangan asinnya? Masih layakkah disebut garam?

Dengan kata lain, gelar memang penting. Namun, apalah artinya gelar tanpa keterampilan yang membuktikan bahwa kita layak mengenakan gelar tersebut! Hanya dengan cara itulah kita akan dimampukan sungguh-sungguh menggarami dan menerangi dunia di mana Tuhan menempatkan kita!

Selamat bekerja,

Yoel M. Indrasmoro
Direktur Literatur Perkantas Nasional

Posted on Tinggalkan komentar

Zakheus

Nama pemungut cukai itu Zakheus (lih. Luk. 19:1-10). Nama itu merupakan bentuk Yunani dari nama Zakkay dalam bahasa Ibrani, yang berarti ”bersih, tidak bersalah”. Dan orang yang namanya berarti ”bersih, tidak bersalah” itu berprofesi sebagai pemungut cukai.

Photo by Kai Dörner on Unsplash

Pemungut cukai adalah petugas lembaga fiskal Romawi. Tugas itu dipercayakan kepada orang yang mampu menawarkan paling banyak uang kepada pemerintah penjajah. Pada akhirnya jumlah itu pula yang harus ditagihnya dengan bermacam cara.

Seorang pemungut cukai hidup dari selisih antara jumlah yang ditetapkan penjajah dan yang ditagihnya. Artinya, jika berlaku jujur, dia tidak mendapat apa pun. Tak heran jika profesi pemungut cukai dibenci kaum nasionalis agama.

Namun, Lukas mencatat bahwa dalam diri Zakheus ada sesuatu yang baik. Ia pribadi yang bertindak dan akan melakukan segala upaya untuk mencapai kerinduannya.

Zakheus ingin tahu orang seperti apakah Yesus itu. Kabar yang masuk ke telinganya adalah Sang Guru dari Nazaret itu bukan guru sembarangan. Yesus menerima orang apa adanya. Bahkan, salah satu murid-Nya, Matius, adalah mantan pemungut cukai.

Sayang badannya pendek. Dan orang banyak yang sedang berkerumun di sekitar Yesus agaknya menghalang-halanginya. Namun, ia tak pulang ke rumah. Saking penasarannya, dia berlari dan memanjat pohon ara untuk melihat Yesus. Entah bagaimana tanggapan orang banyak melihat tindakannya itu.

Zakheus mencari Yesus. Namun, di pihak lain, Yesus pun juga mencari Zakheus. Yesuslah yang menyapanya terlebih dahulu, bahkan berkata, ”Aku harus menumpang di rumahmu.” Kegigihan Zakheus membuat dia mendapatkan lebih dari yang diharapkan.

Tindakan Sang Guru membuat iman Zakheus bertumbuh. Sang Pemungut cukai mendonasikan setengah hartanya kepada orang miskin. Ia juga berniat mengembalikan empat kali lipat kepada orang yang pernah dicuranginya. Bisa jadi Zakheus langsung jatuh miskin. Namun, tindakannya itu sungguh-sungguh mencerminkan arti namanya.

Selamat bekerja,

Yoel M. Indrasmoro
Direktur Literatur Perkantas Nasional

Posted on Tinggalkan komentar

Rahmat Allah dan Keinginan Luhur Manusia

Berkenaan dengan HUT ke-73 Proklamasi Kemerdekaan Indonesia, mari kita menyimak alinea ketiga Pembukaan UUD 1945: ”Atas berkat rahmat Allah yang Maha Kuasa dan dengan didorongkan oleh keinginan luhur, supaya berkehidupan kebangsaan yang bebas, maka rakyat Indonesia menyatakan dengan ini kemerdekaannya”.

Photo by Nick Agus Arya on Unsplash

Para pendiri bangsa percaya bahwa Indonesia berdiri di atas dasar: rahmat Allah dan keinginan luhur.

Memang itulah kenyataannya. Situasi global masa itu—yang menyebabkan kekosongan pemerintahan akibat kekalahan Jepang—memberikan peluang bagi para pendiri bangsa untuk menyatakan kemerdekaan Indonesia. Situasi global itu dipahami sebagai rahmat Allah. Bagaimanapun, sebelum kekalahan Jepang, merdeka seperti jauh panggang dari api.

Namun, rahmat Allah tak akan ada artinya tanpa keinginan luhur manusia. Keinginan luhur itulah yang menyebabkan Bung Karno dan Bung Hatta mau berkompromi dengan para pemuda yang sempat menculik mereka ke Rengasdengklok sehari sebelum proklamasi.

Keinginan luhur itu pulalah yang menyebabkan Dwitunggal Proklamator itu bersedia mengambil risiko menandatangani naskah proklamasi. Mereka berdua memiliki keinginan luhur yang jauh melampaui keinginan SARA.

Keinginan luhur semacam itu—kalau kita mau jujur mengaku—sejatinya merupakan anugerah Allah sendiri. Dan tentu saja keinginan macam beginilah yang akan dirahmati Allah.

Jika keadaan negeri kita kini tampaknya enggan berubah, mungkin dikarenakan masih banyak orang berpikir untuk kepentingannya atau golongannya sendiri.

Dan perubahan akan terjadi jika semakin banyak orang berupaya mengubah fokus dari diri sendiri kepada orang lain. Tak hanya di republik tercinta, tetapi juga di tempat kerja kita masing-masing.

Selamat Bekerja!

Yoel M. Indrasmoro
Direktur Literatur Perkantas Nasional

Posted on Tinggalkan komentar

Tola: Si Cacing Tanah

”Sesudah Abimelekh, bangkitlah Tola bin Pua bin Dodo, seorang Isakhar, untuk menyelamatkan orang Israel. Ia diam di Samir, di pegunungan Efraim dan ia memerintah sebagai hakim atas orang Israel dua puluh tiga tahun lamanya; kemudian matilah ia, lalu dikuburkan di Samir” (Hak. 10:1-2).

Photo by rawpixel on Unsplash

Mengenai Tola, tak banyak yang diceritakan penulis Kitab Hakim-hakim. Begitu singkat: hanya dua ayat. Namun, tugasnya tak bisa dibilang mudah. Dia berada dalam situasi krisis dari peralihan kekuasaan.

Abimelekh, anak Gideon, dari seorang gundik, telah mengangkat diri sendiri menjadi raja di Sikhem. Dia mengumpulkan para kriminalis dan membunuh saudara-saudaranya, anak-anak Yerubaal, 70 orang, di atas batu di Ofra (Hak. 9:4-5). Dengan tangan besi dia memerintah selama tiga tahun dan banyak membunuh rakyatnya sendiri. Akhirnya rakyat Sikhem memberontak dan Abimelekh tewas. Allah kemudian menunjuk Tola sebagai hakim yang memerintah Israel selama 23 tahun.

Keterangan singkat tentang Tola sepertinya menyiratkan gaya kepemimpinannya. Dalam bahasa Ibrani, Tola berarti cacing. Cacing dianggap hina karena bentuknya. Akan tetapi, dalam dunia pertanian, cacing berguna dalam meningkatkan kesuburan tanah. Dan kerjanya pun diam-diam, yakni di dalam tanah.

Tola tidak sepongah, seambisius, dan semiliteristik Abimelekh, tetapi dia mengemban tugas kepemimpinan dengan baik. Tak banyak yang dicatat tentang Tola—bisa jadi tak banyak hal heroik dalam kiprahnya sebagai pemimpin. Atau bisa jadi dia juga tak mau mengiklankan dirinya. Namun demikian, Alkitab mencatat bahwa dia setia menjalankan tugasnya hingga purna—sampai mati.

Kesetiaan terhadap panggilan bukan perkara mudah. Ada rupa-rupa godaan yang bisa membuat manusia pindah haluan, atau tetap dalam panggilan, tetapi dalam kadar yang berbeda. Pada titik ini kita agaknya perlu belajar dari Tola.

Selamat Bekerja!

Yoel M. Indrasmoro
Direktur Literatur Perkantas Nasional

Posted on Tinggalkan komentar

Gembalakanlah Domba-domba-Ku

”Simon, anak Yohanes, apakah engkau mengasihi Aku?” (Yoh. 21:15). Demikianlah sapaan Yesus yang bangkit kepada murid yang pernah menyangkal-Nya.

Photo by Biegun Wschodni on Unsplash

Pertanyaan itu menukik tajam, tepat sasaran, tanpa basa-basi. Yesus mempersoalkan makna terdalam sebuah hubungan: kasih. Jawaban Sang Murid sungguh radikal: ”Benar Tuhan, Engkau tahu bahwa aku mengasihi Engkau” (Yoh. 21:15).

Petrus merasa tak cukup hanya menjawab: ”Benar Tuhan.” Tidak. Dia mendasarkan jawabannya pada kemahatahuan Yesus. Dasar jawabannya tidak terletak pada ke-aku-an, tetapi pada diri Yesus sendiri. Dasar jawaban Petrus tidak terletak pada kemauan, bukan pula pada kemampuan diri, melainkan pada ketuhanan Yesus.

Bahkan ketika Sang Guru merasa perlu tiga kali mempertanyakan kasihnya, Petrus tetap pada jawabannya, sekali lagi berdasarkan kemahatahuan Yesus: ”Tuhan, Engkau tahu segala sesuatu, Engkau tahu bahwa aku mengasihi Engkau” (Yoh. 21:17).

Menurut Henri J. M. Nouwen, dalam bukunya Dalam Nama Yesus, Permenungan Tentang Kepemimpinan Kristiani, ”Pemimpin Gereja tak cukup hanya bermoral tinggi, terlatih, siap membantu sesama dan mampu menanggapi masalah-masalah hangat pada zamannya secara kreatif. Di atas semuanya itu, pemimpin kristiani adalah orang yang sungguh-sungguh mengasihi Allah.”

Dengan kata lain, lanjut Nouwen, ”Pemimpin kristiani adalah orang yang benar-benar mau tinggal di hadirat Allah dan bersekutu dengan-Nya. Sehingga, visi Allahlah, dan bukan visinya pribadi, yang menjadi dasar dan arah kepemimpinannya.”

Atas semua jawaban itu, Yesus memberi mandat: ”Gembalakanlah domba-domba-Ku.” Cuma dua kata, tetapi melegakan hati. Mandat itu berarti kepercayaan. Yesus tetap memercayainya. Dan bagi Petrus mandat itu berarti karya yang harus dilakukan tanpa syarat.

Pemimpin—juga pemimpin di tempat kerja—adalah gembala bagi orang-orang yang dibawahkan kepadanya. Dan itu hanya mungkin terjadi kala dia sungguh mengasihi Sang Gembala Sejati.

Selamat Bekerja,

Yoel M. Indrasmoro
Direktur Literatur Perkantas Nasional

Posted on Tinggalkan komentar

Musim Berganti

Kitab Keluaran dimulai dengan kisah pahit. Israel yang semula merupakan kesayangan penguasa Mesir, bahkan diberi tempat khusus di delta sungai Nil, telah menjadi bangsa yang menakutkan penguasa baru. Bagi dia kisah Yusuf, yang menyelamatkan Mesir dari bencana kelaparan, tinggal sejarah.

Photo by Chris Lawton on Unsplash

Sang Penguasa kemudian menetapkan tindakan ”bijaksana”, yang merupakan petaka bagi Israel. Dari bangsa kesayangan, Israel menjadi bangsa budak. Mereka menjalani kerja paksa mendirikan kota-kota perbekalan bagi Firaun, yakni Pitom dan Raamses. Israel hanya bisa menerima. Musim berganti. Namun, penulis mencatat, ”tetapi makin ditindas, makin bertambah banyak dan berkembang mereka, sehingga orang merasa takut kepada orang Israel itu” (Kel. 1:12).

Makin ketakutanlah penguasa baru itu. Ketakutan akan balas dendam membuatnya mengubah ”kebijaksanaan” dengan cara membunuh semua bayi laki-laki Israel yang baru lahir. Dampak musim bertambah parah. Akan tetapi, kebijakan kedua ini pun gagal. Sifra dan Pua, kedua bidan itu, ternyata lebih takut kepada Allah ketimbang penguasa Mesir. Ketakutan penguasa Mesir makin menjadi. ”Kebijaksanaannya” makin berkembang: melemparkan semua bayi laki-laki Ibrani ke sungai Nil.

Awalan Kitab Keluaran, yang berakhir dengan pembebasan Israel dari Mesir, membuktikan karya pemeliharaan Allah. Situasi dan kondisi dapat berubah dalam sekejap, tetapi kasih setia Tuhan tiada berubah. Dengan cara-Nya sendiri, Allah menyertai umat-Nya. Penyertaan Allah ini terekam juga dalam Kidung Populer Rohani Tempo Dulu: ”Tak pernah Dia janji slalu ’kan panas. Tak pernah Dia janji hanya ada hujan. Tapi Dia janjikan memberi kekuatan bila badai topan melandamu”.

Musim boleh berganti. Bisa jadi berimbas pada pekerjaan kita. Namun, penyertaan Allah tetap. Allah tidak menjanjikan kondisi kerja yang serbabaik, tapi Dia menjanjikan kekuatan. Sebab kita milik-Nya!

Selamat Bekerja,

Yoel M. Indrasmoro
Direktur Literatur Perkantas Nasional

Posted on Tinggalkan komentar

Pegawai Bermental Karyawan

Berkait soal kerja, kisah penyembuhan Naaman menarik disimak. Pegawai-pegawai Naaman layak dijadikan teladan. Meski berstatus pegawai, mereka bermental karyawan. Sebagai karyawan mereka ingin menghasilkan sesuatu: karya!

Photo by Tim Marshall on Unsplash

Ketika Naaman kesal dengan perlakuan Elisa, yang memintanya untuk membenamkan diri ke sungai Yordan sebanyak tujuh kali, para pegawainya berupaya agar Naaman tetap fokus pada tujuan utamanya—kesembuhan dari kusta. Berbahagialah Naaman karena memiliki bawahan-bawahan yang berani menyatakan pendapat! Mereka tidak bermental ABS (Asal Bapak Senang). Mereka berani berbeda pendapat, membujuk Naaman, demi tercapainya visi bersama. Bujukannya tak ditujukan pada batin, tetapi lebih terarah pada nalar Sang Panglima.

Mari kita simak nasihat mereka: ”Bapak, seandainya nabi itu menyuruh perkara yang sukar kepadamu, bukankah Bapak akan melakukannya? Apalagi sekarang, ia hanya berkata kepadamu: ’Mandilah dan engkau akan menjadi tahir’” (2Raj. 5:13). Kalimat yang logis. Meski bertujuan menyentuh pikiran, kalimat itu pastilah menyentuh hati Naaman. Pegawai-pegawai itu mengingatkan kembali akan kehebatan Sang Panglima.

Siapa yang tak kenal Naaman? Dia suka sekali—dan sungguh-sungguh terbukti—melakukan hal-hal luar biasa. Naaman sudah terbiasa melakukan perkara-perkara sukar. Mungkin bagi orang lain mustahil, tapi tidak bagi Naaman. Dengan kata lain, ”Kalau perbuatan yang sukar saja Bapak suka dan mampu melakukannya, masak hal yang mudah begini Bapak malah enggan melakukannya?” Itu berarti, apa yang diminta Elisa bukanlah sesuatu yang sulit. Lalu, apa salahnya dicoba!

Entah, apa yang ada di benak Naaman saat dia membenamkan dirinya di sungai Yordan. Mungkin dia ragu, tapi itulah jalan terlogis. Ya, apa salahnya dicoba? Bukankah dia telah sampai ke Israel. Kalau pulang lagi ke Damsyik, dia tidak akan mendapatkan apa-apa. Alhasil: penyakit kusta itu hilang dari tubuhnya.

Kita tidak pernah tahu identitas pegawai-pegawai Naaman itu. Namun, yang kita tahu mereka mengerjakan tugasnya dengan baik. Mereka berani mengemukakan pendapat yang berbeda untuk kepentingan tuannya. Mereka ingin Sang Panglima mewujudkan visinya. Mereka telah menjadikan visi tuannya—kesembuhan dari kusta—sebagai visi mereka juga. Sebagai karyawan, mereka sungguh berkualitas.

Kualitas itu pulalah yang ditekankan Paulus dalam sebuah suratnya: ”Baiklah tiap-tiap orang menguji pekerjaannya sendiri; maka ia boleh bermegah melihat keadaannya sendiri dan bukan melihat keadaan orang lain” (Gal. 6:4).

Selamat Bekerja,

Yoel M. Indrasmoro
Direktur Literatur Perkantas Nasional

Posted on Tinggalkan komentar

Piala Dunia 2018

Piala Dunia 2018 usai sudah. Prancislah jawaranya. Banyak hal yang bisa dipetik dari perhelatan dunia ini.

Photo by Fauzan Saari on Unsplash

Pertama, sepakbola adalah permainan tim, yang terdiri atas sebelas orang, bahkan kadang menjadi dua belas—para suporter. Tentu sebuah tim terdiri atas individu-individu. Akan tetapi, setiap individu tersebut haruslah meyakini bahwa dia merupakan bagian dari sebuah tim. Terkait ini, ada adagium yang menarik dalam bahasa Inggris: There is no ”I” in Team (tak ada saya dalam sebuah tim).

Kedua, karena itulah setiap individu mesti bekerja sebagai sebuah tim. Ketika ada seorang yang mencetak gol, itu bukanlah gol dirinya, tetapi gol kesebelasannya, dan akhirnya menjadi gol para pendukungnya juga. Akan tetapi, ketika seseorang melakukan kesalahan, tak perlulah menyalahkan dirinya karena semua itu dilakukannya untuk membela timnya.

Itulah yang terjadi ketika sundulan Mario Mandzukic tidak menyelamatkan, tetapi malah membobol gawang sendiri. Para pemain Kroasia tak terlihat menyalahkannya. Lagi pula, buat apa menyalahkan karena Mandzukic sendiri pasti sudah amat menyesal. Begitu pula ketika Hugo Lloris, kiper Prancis, melakukan blunder yang dimanfaatkan dengan sangat baik oleh Mandzukic, para pemain Prancis tetap fokus pada pertandingan dan tidak menyalahkannya.

Persoalan terbesar dalam sebuah tim adalah ketika seseorang merasa lebih hebat, lebih berjasa, ketimbang yang lainnya. Itu hanya akan membuat suasana dalam tim menjadi panas, dan tak lagi fokus dalam mencapai tujuan bersama.

Ketiga, setiap kesebelasan yang tertinggal, juga Kroasia dalam final, selalu antusias menyerang. Mereka tidak mau berhenti menyerang sebelum peluit berakhir. Mereka bersemangat menyerang karena masih memiliki harapan! Semua kemungkinan bisa terjadi. Kenyataannya, itulah yang sering terjadi dalam piala dunia tahun ini. Sehingga menit-menit tambahan waktu pertandingan menjadi saat yang menarik untuk disimak.

Ngomong-ngomong soal ”antusias”, kata ini berasal dari bahasa Yunani en dan theos, yang bermakna ”dalam Tuhan”. Dan memang di dalam Tuhan, segala sesuatu mungkin terjadi. Syaratnya adalah lakukan yang terbaik, dan libatkanlah Tuhan dalam pekerjaan kita!

Selamat Bekerja,

Yoel M. Indrasmoro
Direktur Literatur Perkantas Nasional

Posted on Tinggalkan komentar

Menjadi Nabi Allah

”Sebelum Aku membentuk engkau dalam rahim ibumu, dan sebelum engkau lahir, Aku sudah memilih dan mengangkat engkau untuk menjadi nabi bagi bangsa-bangsa.” Yeremia 1:5.

Photo by Jeremy Bishop on Unsplash

Panggilan Yeremia sebagai nabi memperlihatkan beberapa hal mendasar. Pertama, Allahlah yang memanggil Yeremia. Yeremia tidak memanggil diri sendiri. Dia tidak mengajukan diri; juga tidak melamar pekerjaan. Allahlah yang berprakarsa. Allahlah yang melamarnya.

Kedua, panggilan Yeremia tanpa ”kualifikasi”. Kata kualifikasi perlu diberi tanda kutip karena kalaupun ada, Allahlah yang melengkapinya. Sekali lagi, bukan persyaratan yang diajukan Allah, melainkan pernyataan: Allah telah menetapkan Yeremia sebagai nabi jauh sebelum dia lahir. Kalau sebuah perusahaan biasanya mencari orang sesuai persyaratan yang telah ditetapkan, Allah membentuk manusia sesuai dengan karya yang telah ditetapkan Allah baginya.

Sehingga, sanggahan Yeremia—”Ah, Tuhan ALLAH! Sesungguhnya aku tidak pandai berbicara, sebab aku ini masih muda.” (Yer. 1:6)—menjadi sangat tidak relevan. Kelemahan Yeremia itu tak lagi menjadi soal karena Allah telah melengkapinya.

Panggilan Allah tidak berarti bahwa Allah sendirilah yang harus berbicara kepada kita. Allah bisa memanggil melalui orang lain—gereja atau lembaga lain. Dan panggilan Allah itu tak hanya sebatas kegiatan rohani!

Pekerjaan sekuler pun harus kita pandang sebagai panggilan khusus Allah. Ini tak hanya berlaku bagi orang yang bekerja formal atau kantoran. Ibu rumah tangga, juga pensiunan, merupakan panggilan Tuhan!

Photo by Caroline Attwood on Unsplash

Kalau kita meyakini bahwa pekerjaan kita pun merupakan jawaban atas panggilan Allah, tak perlulah kita bercemas hati atau mengeluh saat pekerjaan itu terasa berat. Sebab Tuhan telah memperlengkapi kita untuk menanggung semua beban tersebut. Jika demikian halnya, bertindak profesional menjadi hal lumrah.

Umat kepunyaan Allah dipanggil untuk melaksanakan apa yang dikehendaki Tuhan dalam pekerjaannya. Itu berarti kita juga dipanggil menerangi dan menggarami tempat kerja! Jika demikian halnya, setiap umat Allah dipanggil menjadi nabi Allah dalam pekerjaannya.

Dalam bukunya Desain Besar dari Allah, Vaughan Roberts menyatakan: ”Allah menciptakan kita untuk menjadi pekerja, dan ketika bekerja, kita membantu Dia merealisasikan maksud-maksud-Nya bagi dunia ini… Ia memilih untuk mengerjakan maksud-Nya bagi dunia ini melalui kita.”

Ya, kita semua adalah nabi-nabi Allah.

Selamat Bekerja,

Yoel M. Indrasmoro
Direktur Literatur Perkantas Nasional

Posted on Tinggalkan komentar

Pada Mulanya…

”Pada mulanya Allah menciptakan langit dan bumi” (Kej. 1:1). Demikianlah penulis Kitab Kejadian membuka tulisannya.

Photo by Artem Bali from Pexels

Kalimat pembuka merupakan hal penting bagi penulis. Tentu harus menarik. Namun yang lebih penting, kalimat pembuka merupakan dasar bagi seluruh karangan. Tak heran, jika setiap penulis bergumul keras dengan kalimat pembuka karangannya.

”Pada mulanya Allah menciptakan langit dan bumi.” Inilah dasar bangunan—sekaligus rangkuman iman—Kitab Kejadian. Agaknya penulis hendak mementahkan anggapan banyak orang semasanya bahwa setiap benda langit adalah dewa.

Orang Jepang percaya dewa Matahari, Batara Surya kata orang India, Dewi Bulan pun dipercaya oleh banyak suku bangsa. Dan di dalam pemahaman keilahian poleteis ini, orang Yahudi mempunyai satu pengakuan radikal. Semua benda itu—betapa pun hebatnya sehingga disembah orang—ciptaan belaka.

”Pada mulanya Allah menciptakan langit dan bumi.” Kalimatnya sederhana. Ada keterangan waktu: pada mulanya; subjek: Allah; predikat: menciptakan; dan objeknya: langit dan bumi. Kelihatannya, sejak awal penulis hendak memperlihatkan Allah sebagai Pribadi yang tidak tinggal diam. Allah adalah Pribadi yang bekerja.

Vaughan Roberts, dalam bukunya Desain Besar dari Allah, menulis: ”Alkitab dimulai dengan mendeskripsikan bukan waktu luang Allah, melainkan aktivitas-Nya. Ia sibuk dengan kerja besar penciptaan. Setelah menciptakan, Ia tidak bersantai atau tidak melakukan apa-apa. Allah masih terus bekerja menegakkan dan mempertahankan dunia yang sudah Ia buat.”

Dan Allah tidak mengerjakan semuanya itu sendirian. Allah mengangkat kita, Anda dan saya, menjadi mitra kerja-Nya untuk menjadikan dunia ini layak ditempati. Orang Jawa punya istilah memayu ayuning buwana ’menghiasi dunia’. Caranya: tentu dengan kerja kita!

Roberts—masih dalam buku tadi—mengutip Luther: ”Allah memberikan wol, tetapi bukan tanpa kerja kita. Jika wol itu tetap ada di domba, maka wol itu tidak akan pernah dikenakan manusia.”

Allah memberi kita makan melalui petani, peternak, nelayan, pedagang besar, tukang sayur, juga juru masak di dapur. Masih bisa ditambah dengan para pekerja industri rumah tangga seperti halnya alat masak, juga piring dan sendok. Ya, apa artinya makanan enak, tanpa piring dan sendok!

Dan karena itu, tulis Roberts dalam bukunya: ”Kita harus bersikap tegas untuk tidak merendahkan kerja dengan menilainya sebagai sesuatu yang jahat atau ‘tidak rohani’”.

Ya, kerja itu perkara rohani!

Selamat Bekerja,

Yoel M. Indrasmoro
Direktur Literatur Perkantas Nasional

Posted on Tinggalkan komentar

Setia dalam Perkara Kecil

Bendahara itu perkara besar atau kecil? Anda mungkin balik bertanya,
”Bendahara apa dulu!” Kalau bendahara keluarga, biasanya dipegang ibu, tentu bukan perkara besar. Namun, bendahara gereja pastilah bukan perkara kecil.

www.pexels.com

Tetapi, apakah bendahara keluarga memang sungguh perkara kecil? Terlebih di tengah harga kebutuhan pokok yang kian membubung, yang ditambah keperluan anak sekolah pada awal tahun ajaran.

Baik bendahara keluarga maupun bendahara gereja, Sang Guru dari Nazaret menuntut sikap dan tanggung jawab yang sama. Dalam Perumpamaan Talenta Sang Guru menegaskan beberapa hal mendasar.

Pertama, baik bendahara keluarga maupun bendahara gereja, keduanya merupakan orang kepercayaan. Yang satu dipercaya suami, yang lainnya dipercaya umat.

Kepercayaan merupakan hal penting dalam hidup. Mana yang hendak kita pilih: menjadi direktur utama sebuah bank yang tidak dipercaya nasabahnya atau menjadi montir di bengkel sepeda motor yang dipercaya pelanggannya?

Bank itu, seberapa pun besarnya, tanpa kepercayaan nasabahnya, cepat atau lambat pasti akan bangkrut! Sebaliknya, bengkel sepeda motor itu cepat atau lambat pasti akan menjadi besar. Mengapa? Ya karena dipercaya!

Kedua, ada pertanggungjawaban dalam setiap pekerjaan. Sang Pemilik akan menuntut tanggung jawab dari setiap pekerjanya. Tak seorang pun bisa lepas dari tanggung jawab. Itu berarti kita tidak boleh main-main dengan pekerjaan kita.

Evaluasi sebetulnya nama lain dari sebuah pertanggungan jawab. Yang namanya panitia di akhir tugasnya pasti akan membuat laporan pertanggungjawaban. Tak ada panitia Natal seumur hidup!

Ketiga, orang yang menangani baik perkara besar maupun kecil dituntut untuk setia. Setia berarti menjalankan tugas itu dengan sebaik-baiknya. Setia berarti tidak berhenti di tengah jalan. Tidak mutung. Setia berarti melaksanakan tugas hingga selesai.

Kesetiaan memang berkait dengan stamina. Jangan hanya semangat di awal, biarlah semangat itu tetap menyala hingga akhir. Stamina berkait erat dengan ketahanujian atau ketahanbantingan seseorang. Lagipula, bukankah gaji kita juga tidak pernah berkurang?

Keempat, setia berarti menjalani setiap pekerjaan dengan benar. Benar berarti tidak salah. Benar berarti tidak main-main. Benar berarti serius. Benar berarti fokus.

Bertindak benar merupakan masalah kualitas. Dan bicara soal kualitas kita bisa belajar dari penerbit buku lagu. Penerbit tersebut harus memastikan bahwa baik syair maupun lagunya benar. Salah notasi, akan salah pulalah orang yang menyanyikannya. Di sinilah pentingnya editor. Tugas editor bukanlah mencari kesalahan, tetapi memastikan kebenaran.

Dan itu jugalah panggilan Sang Guru: ”Haruslah kamu sempurna, sama seperti Bapamu yang di sorga adalah sempurna” (Mat. 5:48).

Selamat Bekerja,

Yoel M. Indrasmoro
Direktur Literatur Perkantas Nasional

Posted on Tinggalkan komentar

Mengerjakan Pekerjaan Tuhan

Ketika menyaksikan orang yang buta sejak lahir, para murid tak dapat menahan hatinya untuk bertanya: ”Rabi, siapakah yang berbuat dosa, orang ini sendiri atau orang tuanya, sehingga dia dilahirkan buta?” (Yoh. 9:2).

Photo by Buenosia Carol from Pexels

Begitulah kenyataan hidup di bumi manusia. Banyak orang merasa perlu berkomentar, bertanya, dan mempersoalkan ketika melihat ada yang tidak normal. Sewaktu yang buruk terjadi, sebagaimana syair Ebiet G. Ade, orang bertanya, ”Dosa siapa? Ini dosa siapa?”

Hal macam begini memang telah ada dalam diri manusia berdosa, yang gemar mencari kambing hitam. Artinya, ada keinginan dalam hati manusia untuk mencari biang keladi dari setiap persoalan. Sekali lagi, siapa yang salah?

Jangan Hanya Bicara
Menanggapi pertanyaan itu, Yesus tegas menjawab, ”Bukan dia dan bukan juga orang tuanya” (Yoh. 9:3). Yesus tidak membiarkan percakapan itu berkembang luas. Dia tidak membiarkan para muridnya melanjutkan omongan itu.

Menjadikan kelemahan orang lain sebagai pokok pembicaraan memang enak. Sebab, kita mungkin akan merasa lebih tinggi, lebih baik, atau lebih saleh ketimbang orang itu. Sekali lagi, inilah alasan mengapa banyak orang suka membicarakan kelemahan orang lain.

Yesus tidak mau terjebak dalam percakapan macam begini. Dia tidak mau bercakap-cakap mengenai orang itu. Kalau peduli, ya jangan hanya bicara. Pertanyaan yang layak diajukan: ”Apakah yang akan kita lakukan untuk orang itu?”

Abdullah
Tak heran, Yesus melanjutkan ucapannya dengan kalimat yang kelihatannya memang kurang nyambung dengan pertanyaan para murid. Sang Guru menegaskan: ”Kita harus mengerjakan pekerjaan Dia yang mengutus aku” (Yoh. 9:4).

Yesus menegaskan bahwa tugas, bahkan keharusan seorang hamba Allah, abdi Allah—orang Arab punya istilah bagus: abdullah—ialah mengerjakan pekerjaan Allah.

Melakukan pekerjaan Allah berarti melakukan apa yang Allah lakukan. Dan semuanya berawal dari cara pandang kita terhadap orang lain. Kita perlu melihat sesama kita dengan mata Allah.

Itulah panggilan kepada kita selaku abdullah. Kita diutus bukan untuk mempercakapkan penderitaan orang lain, kesengsaraan orang lain, keburukan orang lain, bahkan kejelekan orang lain, tetapi untuk melakukan apa yang Allah lakukan!

Panggilan kita memang bukan untuk ngomong, tetapi sungguh-sungguh mengerjakan apa yang seharusnya kita kerjakan. Allah adalah Allah yang bekerja. Hingga saat ini Dia tetap bekerja. Dan kita, para abdullah, dipanggil untuk mengerjakan pekerjaan-pekerjaan Allah itu.

Dan Yesus tidak hanya bicara. Dia meludah ke tanah, mengaduk ludah-Nya itu dengan tanah, kemudian mengoleskannya pada mata orang itu, dan menyuruhnya membasuh muka di kolam Siloam.

Orang yang buta sejak lahirnya itu pun akhirnya dapat melihat.

Selamat Bekerja,

Yoel M. Indrasmoro
Direktur Literatur Perkantas Nasional

Posted on Tinggalkan komentar

Jangan Pasang Bendera Putih di Rumah

”Jangan pasang bendera putih di rumah. Jangan tunjukkan ke orang banyak bahwa aku telah menyerah.” Demikianlah penggalan surat EP, remaja putri, 16 tahun, kepada ibunya sebelum bunuh diri, Selasa, 29 Mei 2018.

Photo by Kat Jayne from Pexels

Surat EP membuat saya kelu, tak tahu harus ngomong apa. Membayangkan betapa remaja, yang dikenal selalu ingin ranking satu, itu merasa bahwa menyerah merupakan satu-satunya jalan yang bisa dilakukannya. Harapannya untuk masuk sekolah favorit SMAN 1 Blitar dirasakan mustahil.

Dan sayangnya, seribu kali sayang, tampaknya dia tidak punya orang yang bisa menjadi kawan bicara. EP tinggal di rumah kos bersama seorang lansia yang telah merawatnya sejak kecil.

Kita tidak pernah tahu alasan utama dia mengambil tindakan itu. Bisa jadi bebannya memang besar. Beban yang mungkin diletakkan keluarga besarnya—atau mungkin dia sendiri—pada bahu kecilnya.

Ah, seandainya dia mengingat perkataan Sang Guru: ”Marilah kepada-Ku, semua yang letih lesu dan berbeban berat, Aku akan memberi kelegaan kepadamu” (Mat. 11:28). Akan tetapi, bisa jadi dia mengingatnya. Namun, tak berani memercayainya. Dan, sekali lagi, dia begitu muda.

Misi Allah dalam Diri

Kisah kematian EP memperlihatkan kepada kita bahwa masih banyak orang memahami bahwa hidup itu beban semata. Chairil Anwar, dalam puisinya ”Derai-derai Cemara”, berpendapat: ”Hidup hanya menunda kekalahan… sebelum pada akhirnya kita menyerah”. Hidup dianggap beban dan kematian menjadi jalan keluar. Benarkah?

Sejatinya hidup adalah panggilan. Allah memanggil manusia dengan cara memercayakan hidup kepada mereka. Itu berarti setiap manusia sesungguhnya insan kepercayaan Allah. Dan saat Allah memanggil, sejatinya Dia memperlengkapi manusia untuk menuntaskan panggilan itu.

Dalam diri setiap manusia, Allah telah menanamkan—layaknya DNA—misi-Nya untuk dijalani. Dan misi Allah itu unik, khas, satu-satunya, dan hanya untuk satu orang saja. Persoalannya: apakah manusia mau menghidupi misi Allah dalam diri-Nya?

Pada titik ini memahami misi Allah merupakan hal utama dalam hidup manusia. Pemahaman mengenai misi Allah dalam diri akan menolong kita untuk memilih pekerjaan yang bisa menjadi sarana untuk menghidupi misi tersebut. Sehingga tak asal mendapatkan pekerjaan. Namun, sungguh-sungguh menjadikan pekerjaan yang dipilih itu sebagai alat untuk menghidupi misi Allah itu.

Ngobrol dengan Allah

Nah, pertanyaan yang layak diajukan sekarang: apakah misi Allah dalam diri kita masing-masing? Lalu, apakah pekerjaan kita sekarang ini sungguh-sungguh mampu menjadi alat dalam menghidupi misi Allah itu? Pada titik ini ngobrol dengan Allah menjadi keniscayaan.

Namun, ketika kita merasakan bahwa pekerjaan kita sekarang ini ternyata belum menjadi alat efektif untuk menghidupi misi Allah itu, tak perlu kita patah arang. Bisa jadi pekerjaan kita sekarang merupakan cara Allah untuk mempersiapkan diri untuk beralih ke pekerjaan berikutnya.

Photo by Maurício Mascaro from Pexels

Karena itu, tidak ada jalan lain bagi kita kecuali bekerja dengan fokus dan serius. Kualitas kerja tinggi akan membuat kepercayaan diri kita meningkat, dan tentu juga akan membuat orang lebih memercayai kita. Dan bisa jadi itu juga pintu masuk bagi kita untuk mendapatkan pekerjaan seturut dengan misi Allah dalam diri kita tadi.

Jika memang pekerjaan kita sekarang ini telah menjadi sarana efektif untuk menghidupi misi Allah dalam diri, maka menjadi panggilan kita sesehari untuk menjadi versi terbaik dari diri kita sendiri. Pembaruan diri menjadi kata kunci. Dan dalam semuanya itu, kasih Allah kekal sifatnya. Tidak tergantung pada diri dan keberadaan kita. Dia juga tak pernah menuntut keberhasilan kita. Dia hanya ingin kita setia menjadi anak-Nya. Dia ingin kita teguh menjalani misi, yang telah ditanamkan-Nya dalam diri kita!

Karena itu, jangan pernah menyerah! Allah siap memberi kelegaan. Apalagi—biarlah ini juga senantiasa menjadi penghiburan—Allah tidak pernah salah sewaktu mengambil keputusan untuk menciptakan kita!

Selamat bekerja!

Yoel M. Indrasmoro
Direktur Literatur Perkantas Nasional

Posted on Tinggalkan komentar

Kerja Kita: Iklan Sesungguhnya

Di tengah dunia yang makin marak oleh perang iklan, para pengikut Yesus perlu meneladani Sang Guru—Sabda yang menjadi Manusia; Kata yang maujud dalam Karya.

Iklan memang baik dan perlu agar lebih banyak orang memahami tindakan kita. Akan tetapi, yang penting bukanlah iklan itu sendiri. Iklan perlu ada kelanjutannya. Dan itu berarti karya! Karya membuktikan siapa kita sesungguhnya.

Itu jugalah yang dilakukan Tabita. Kita tidak pernah tahu identitasnya; apakah dia bersuami, berapa anaknya, atau berapa usianya. Akan tetapi, kita tahu apa yang dilakukannya. Lukas mencatat: ”Perempuan itu banyak sekali berbuat baik dan memberi sedekah” (Kis. 9:36).

Photo by Erik Scheel from Pexels

Ketika Lukas memperkenalkan Tabita, dia menyertakan dua kata kerja: ”berbuat” dan ”memberi”. Tindakan Tabita semasa hidup menjadi saksi nyata yang tertulis di hati orang yang pernah merasakan kebaikannya.

Tabita kelihatannya berusaha bersikap dan bertindak sebagaimana Sang Guru. Dia melakukan apa yang dikatakan-Nya. Dan apa yang pernah dilakukan-Nya itu akhirnya menjadi saksi bagi diri-Nya.

Lukas juga mencatat, para janda mengerumuni Petrus sambil menangis dan menunjukkan kepadanya baju-baju dan jubah-jubah yang dijahitkan Tabita untuk mereka sewaktu masih hidup. Para janda itu merasa perlu memperlihatkan hasta karya Tabita. Karya Tabita menjadi saksi.

Bagaimana dengan kita? Kerja kita adalah iklan sesungguhnya! Karya terbaik merupakan keniscayaan.

Selamat Bekerja!

Yoel M. Indrasmoro

Direktur Literatur Perkantas Nasional

Posted on Tinggalkan komentar

Tak Sekadar Apa, tetapi Juga Bagaimana

“Harta terbesar manusia ialah dirinya sendiri.”

Dalam buku Doa Sang Katak, de Mello mengisahkan seorang kakek yang memiliki toko barang antik. Seorang turis masuk dan mulai bertanya ini dan itu. Akhirnya, Sang Turis bertanya, ”Menurut Bapak, mana yang paling aneh dan paling ajaib dari semua hal yang ada di sini?” Kakek itu kemudian memeriksa ratusan barang antik: binatang langka, tengkorak yang menyusut, ikan dan burung yang diawetkan, temuan arkeologi, kepala rusa, dan masih banyak lainnya. Setelah hampir setengah jam, kakek itu berpaling kepada turis dan berkata, ”Yang paling aneh dan paling ajaib di dalam toko ini, tak dapat disangkal adalah diri saya sendiri.”

pixabay.com

Harta terbesar manusia ialah dirinya sendiri. Tak ada orang yang persis sama di dunia. Kembar identik pun tidak. Setiap manusia unik dan tiada duanya. Itulah harta terbesar yang dimilikinya. Itu jugalah yang seharusnya menjadi dasar rasa syukur kita. Alasan utama lainnya, mengutip surat Paulus kepada Titus, hidup seorang Kristen secara kualitas berbeda dengan yang lain karena Allah telah menyelamatkan dari maut dan mengaruniakan hidup kepadanya (Tit. 3:4-7).

Kenyataan itulah yang membuat Paulus mendorong orang percaya untuk: “Sungguh-sungguh berusaha melakukan pekerjaan yang baik” (Tit. 3:8a).

Ada dua hal yang ditekankan Paulus di sini. Pertama, pekerjaan itu harus baik. Dan semua pekerjaan baik selama itu meningkatkan harkat dan martabat tak hanya diri sendiri, tetapi juga orang lain. Kedua, pekerjaan yang baik itu harus dilakukan secara serius, tidak main-main. Bagaimana kita melakukan suatu pekerjaan semestinya juga menjadi fokus kita. Sekali lagi, tak sekadar apa pekerjaan kita, tetapi bagaimana kita mengerjakannya! Dan menurut Paulus, ”Itulah yang baik dan berguna bagi manusia” (Tit. 3:8b).

Selamat Bekerja!

Yoel M. Indrasmoro
Direktur Literatur Perkantas Nasional

Posted on Tinggalkan komentar

Ini Bukan Pekerjaan Kita

Kisah pemilihan rasul pengganti Yudas menarik disimak. Baik sebelum pemilihan maupun setelah pemilihan para murid itu tetap bersatu. Mereka tidak pecah. Yang terpilih tidak menganggap diri lebih baik sehingga menjadi sombong; yang tidak terpilih pun tidak menganggap diri lebih buruk sehingga menjadi minder. Mengapa? Kemungkinan disebabkan karena mereka tahu bahwa semuanya itu merupakan pilihan Tuhan sendiri. Ini prerogatif Allah. Perhatikan doa mereka: ”Ya Tuhan, Engkaulah yang mengenal hati semua orang, tunjukkanlah kiranya siapa yang Engkau pilih dari kedua orang ini… (Kis. 1:24). Keduanya adalah orang yang terbaik dalam pikiran manusia. Karena sama-sama baik, mereka mengundang Allah untuk terlibat dalam pemilihan itu. Dan hasilnya tak ada perpecahan dalam jemaat itu.

Dalam bukunya, Kisah Para Rasul untuk Semua Orang, Tom Wright mencatat: “Bagian dari ketaatan kristiani, sejak awal, adalah panggilan untuk memainkan bagian-bagian besar (yang rupanya) tanpa kesombongan dan bagian-bagian kecil (yang rupanya) tanpa rasa malu. Tentu saja, tidak ada penumpang dalam Kerajaan Allah, dan tidak ada juga bagian ’besar’ atau ’kecil’. Berbagai tugas dan peran yang diberikan Allah kepada kita adalah pekerjaan-Nya, dan bukan pekerjaan kita” (hlm. 44). Kunci dari semuanya itu terletak pada kesatuan mereka dalam doa.

Doa berarti persekutuan dengan Allah. Persekutuan itu seperti pohon, yang ditanam di tepi aliran air, yang menghasilkan buahnya pada musimnya, dan yang tidak layu daunnya; apa saja yang diperbuatnya berhasil (Mzm. 1:3). Inilah yang membuat jemaat itu bertahan. Karena mereka bersekutu dalam Tuhan sendiri. Dan bersekutu dengan Sang Hidup berarti pula hidup dalam kekekalan (1Yoh. 5:11-12). Dan semuanya itu sejatinya merupakan buah dari doa Tuhan Yesus sendiri: ”Ya Bapa, Aku mau supaya, di mana pun Aku berada, mereka juga berada bersama-sama dengan Aku…” (Yoh. 17:24). Dengan kata lain, baik Sang Guru maupun Sang Murid sama-sama berdoa. Hasilnya: Pekerjaan-Nya terlaksana melalui diri para murid-Nya.

Ya, pekerjaan yang akan kita kerjakan pada hari ini pun bukanlah pekerjaan kita. Itu adalah pekerjaan-Nya melalui diri kita.

Selamat bekerja!

Yoel M. Indrasmoro
Direktur Literatur Perkantas Nasional

Posted on Tinggalkan komentar

Siapakah Engkau?

”Siapakah engkau?” (Yoh. 1:19). Itulah pertanyaan yang diajukan orang banyak kepada Yohanes Pembaptis. Di tengah pengharapan orang akan mesias, Yohanes tidak mencoba memancing di air keruh. Dengan jujur dia mengaku bahwa dia bukanlah mesias yang dinanti-nantikan itu. Dia juga bukan Elia, bukan pula nabi yang akan datang.

Lalu, ”Siapakah engkau?” (Yoh. 1:22). Atas pertanyaan tersebut, Yohanes menyatakan dirinya sebagai: ”suara orang yang berseru-seru di padang gurun, ’Luruskanlah jalan Tuhan!’”
Ketika orang bertanya tentang dirinya, Yohanes malah bicara soal karya. Dia tidak menjelaskan identitasnya dengan kata benda—anak siapa atau keturunan siapa; tetapi tetapi bicara soal apa yang dikerjakannya.

Dalam pola pikir Yohanes, kelihatannya yang penting memang the song, and not the singer ’lagunya, dan bukan penyanyinya’. Yang terutama bukan siapa orangnya, tetapi apa yang dibuatnya!

Jelaslah anak Zakharia itu bicara soal kerja! Dan pekerjaannya adalah berseru-seru di padang gurun, ”Luruskanlah jalan Tuhan!” Dan seumur hidupnya dia senantiasa berseru, tidak pernah diam.
Yohanes Pembaptis konsisten dengan panggilannya. Kekonsistenannya itulah yang membuatnya dipenjara. Kepalanya pun akhirnya dipenggal—diletakkan pada sebuah talam—sebagai hadiah raja yang malu menarik sumpahnya (lih. Mat. 14:1-12).

Pertanyaannya sekarang, apa jawab kita ketika orang bertanya, ”Siapakah engkau?” Sebuah kata kerja atau kata benda untuk menjelaskan identitas kita?

Yohanes menerangkan jati diriya dengan kata kerja, yaitu berseru-seru. Mungkin kita pun sebaiknya demikian. Lalu, kata kerja apa yang merupakan kedirian kita?

Selamat bekerja!

Yoel M. Indrasmoro
Direktur Literatur Perkantas Nasional

Posted on Tinggalkan komentar

Kerja

Dia didamba banyak orang. Manusia merasa perlu memilikinya. Bahkan, ketiadaannya dapat menjadi aib. Herannya, ketika telah mendapatkannya, orang acap mengabaikan, kurang memberi perhatian, kadang sengaja mengabaikannya. Tak sedikit pula yang menganggapnya beban, yang harus segera dilepaskan. Dia adalah kerja.

Apakah makna kerja sesungguhnya?

Banyak jawab dengan beragam versi dapat ditorehkan di sini. Namun demikian, patut diingat, kerja merupakan salah satu tujuan penciptaan. Manusia dicipta Tuhan bukan untuk berpangku tangan, melainkan untuk berlelah-lelah dengan tangannya. Kerja merupakan bukti kemanusiaan manusia, bahkan sarana aktualiasasi dan pengembangan diri manusia. Manusia yang tidak menjalani kerjanya dengan serius sejatinya telah mengingkari kemanusiaannya.

Setiap orang adalah karyawan: manusia yang berkarya. Tak ada karya besar maupun kecil. Karena setiap orang diberi talenta dan kemampuan berbeda. Yang utama, laksanakanlah pekerjaan itu dengan serius. Sebab, kerja adalah panggilan hidup. Manusia hidup untuk bekerja dan bukan sebaliknya.
Dalam hal ini, yang penting bukanlah banyaknya karya yang diperbuat, namun bagaimana kita melakukannya. Intinya: kualitas. Dan salah satu ukuran kualitas itu ialah kesetiaan. Artinya, sampai selesai. Jangan setengah-setengah. Tidak mutung, biar susah sungguh.

Rasul Paulus punya alasan lain. Kepada jemaat di Kolose dia menulis, “Apa pun juga yang kamu perbuat, perbuatlah dengan segenap hatimu seperti untuk Tuhan dan bukan untuk manusia” (Kol. 3:23).
Paulus menegaskan bahwa setiap orang adalah hamba Allah. Dan sebagai seorang hamba, dia harus sungguh-sungguh mempersembahkan segenap karyanya bagi Tuhan. Hanya dengan cara itulah, dia dapat membuktikan bahwa dirinya adalah abdi Allah. Dan orang-orang macam beginilah yang dapat berujar lega sebagaimana Yesus Kristus: ”Sudah selesai!”

Selamat Bekerja!

Yoel M. Indrasmoro
Direktur Literatur Perkantas Nasional

Posted on Tinggalkan komentar

Berawal dari Keprihatinan

Kisah penyembuhan Si Lumpuh di Gerbang Indah (Kis. 3:1-10) berawal dari keprihatinan Petrus dan Yohanes saat menyaksikan Si Lumpuh yang mengemis di Bait Allah. Mereka prihatin karena ada yang tidak indah di Gerbang Indah itu.
Yang tidak indah itu ialah keberadaan Si Lumpuh.

Lukas tidak mencatat nama orang tersebut, tetapi dia menyatakan bahwa orang itu lumpuh sejak lahirnya. Inilah kenyataannya: di Gerbang Indah itu ada yang tidak indah.

Ada yang kurang di Gerbang Indah itu. Dan Petrus berusaha untuk mengisi kekurangan itu. Di sini memang dibutuhkan kepekaan. Kepekaan untuk memperhatikan ada yang kurang, ada yang tidak indah di Gerbang Indah itu.

Kepekaan untuk melihat senjang antara apa yang ada dan apa yang sebaiknya; antara fakta dan cita-cita; antara kenyataan dan impian. Dan dari kepekaan itulah timbul keprihatinan.
Keprihatinan kedua murid Yesus memang tidak berhenti pada keprihatinan. Mereka ingin mengubah impian menjadi kenyataan. Dan itulah yang dilakukan. Keprihatinan itu tersirat dalam kalimat: ”Emas dan perak tidak ada padaku, tetapi apa yang kupunyai, kuberikan kepadamu: Demi nama Yesus Kristus, orang Nazaret itu, berjalanlah!” (Kis. 3:6).

Mereka tak memiliki apa yang dibutuhkan pengemis itu. Mereka tak punya uang sebagai sedekah. Namun, yang mereka memiliki jauh lebih berharga dari uang. Mereka memiliki Yesus, yang bangkit dari antara orang mati. Mereka telah merasakan kebangkitan Yesus dalam diri mereka. Dan mereka ingin Si Lumpuh juga mengalami kebangkitan Yesus itu dalam dirinya.

Tuhan menjawab keprihatinan mereka. Si Lumpuh berjalan. Di Gerbang Indah itu tak ada lagi orang yang teronggok karena lumpuh. Di Gerbang Indah itu tak ada lagi yang tidak indah. Dan Gerbang Indah itu pun menjadi sungguh-sungguh indah, tak lagi sekadar sebutan. Dan semuanya itu berawal dari keprihatinan. Keprihatinan yang muncul karena kepekaan melihat dunia sekitar.

H.A. Oppusunggu—guru editorial saya—sering berujar, ”Modal terbesar sebuah perusahaan bukanlah uang, tetapi keprihatinan.” Dalam keprihatinannya, Pak Oppu, pada era 90-an, setiap tahunnya mengumpulkan sekitar 20 orang generasi muda untuk dididik menjadi editor selama sembilan bulan.

Pak Oppu tidak sekadar prihatin akan kelangkaan komunikator Kristen. Dia bertindak dengan mendidik orang muda. Dan saya merupakan bukti nyata—sekaligus buah—dari keprihatinannya.

Selamat bekerja!

Yoel M. Indrasmoro
Direktur Literatur Perkantas Nasional

Posted on Tinggalkan komentar

Celakalah Para Gembala….

”Celakalah para gembala yang membiarkan kambing domba gembalaan-Ku hilang dan terserak!” (Yer. 23:1). Demikianlah kecaman Allah kepada para pemimpin Israel karena mereka membiarkan umat-Nya hilang dan terserak. Mengapa? Sebab mereka hanya menggembalakan diri sendiri. Mereka cuma mengutamakan kepentingan sendiri.

Pada masa itu, menurut Derek Kidner, walau raja memiliki kuasa yang besar, penanganan urusan-urusan kecil biasa diserahkan kepada bawahannya. Dengan kata lain: tergantung pada kejujuran dan ketekunan atau keculasan dan kemalasan para bawahanlah kesejahteraan atau kesengsaraan warga negara. Dalam Perjanjian Lama, para bawahan ini lazim disebut gembala-gembala. Sejarah menunjukkan betapa hebat godaan terhadap para penguasa—baik di tingkat tinggi maupun rendah—untuk menyalahgunakan jabatan. Dan itulah yang dikritik Allah dalam nubuat Yeremia!

Di mata Allah, para pemimpin Israel itu telah lupa hakikat selaku gembala. Mereka melihat para pengikutnya hanya sebagai objek. Objek yang dapat diperlakukan sekehendak hati mereka. Mereka hanya menikmati susunya, bulunya, dagingnya, tetapi lupa tugas sebagai gembala.

”Gembala” adalah kata dasar; kata kerjanya ”menggembalakan”. Kata kerja itu mengandaikan ada yang digembalakan. Tetapi apa mau dikata, mereka tidak memelihara domba-domba itu. ”Gembala” hanyalah jabatan tanpa tindakan. Mereka adalah gembala-gembala palsu. Kalaupun bertindak, jauh melebihi wewenangnya. Meski hanya ”gembala”, mereka bertingkah laku seperti pemilik. Mereka lupa, mereka hanyalah orang  yang dipercaya Sang Pemilik Domba sebagai gembala. Jelaslah, mereka telah menyia-nyiakan kepercayaan itu.

Allah tak hanya menuntut pertanggungjawaban, tetapi juga menjatuhkan vonis: ”Maka ketahuilah, Aku akan membalaskan kepadamu perbuatan yang jahat, demikianlah firman TUHAN. Aku akan mengangkat atas mereka gembala-gembala yang akan menggembalakan mereka, sehingga mereka tidak takut lagi, tidak terkejut dan tidak hilang seekor pun” (Yer. 23:2, 4).

Ketika para gembala tak lagi melaksanakan mandat, Allah mengambil tugas itu. Allah mengambil domba-domba yang pernah dipercayakan kepada para gembala itu dan mengangkat gembala-gembala lain. Tindakan logis. Tak ada gunanya memberikan kepercayaan kepada orang yang tak layak dipercaya.

Dalam dunia kerja, atasan adalah gembala dari para bawahannya; manajer adalah gembala dari para karyawannya; pemimpin adalah gembala dari para pengikutnya. Dan jabatan merupakan anugerah Allah. Pada titik ini hidup kudus dari para gembala itu menjadi keniscayaan sekaligus panggilan.

Selamat bekerja!

Yoel M. Indrasmoro
Direktur Literatur Perkantas Nasional

Posted on Tinggalkan komentar

Karya Terbaik dengan Cara Baik

”Pernahkah engkau melihat orang yang cakap dalam pekerjaannya? Di hadapan raja-raja ia akan berdiri, bukan di hadapan orang-orang yang hina.” (Ams. 22:29).

Dalam Alkitab BIMK: ”Pernahkah engkau melihat orang yang cakap melakukan pekerjaannya? Orang itu akan dipekerjakan di istana raja-raja, bukan di rumah orang biasa.”

Ada kaitan erat antara kualitas dan lokasi kerja. Tempat orang yang cakap bekerja bukanlah di rumah orang biasa, tetapi di istana raja.

Tanggung jawab besar hanya diperuntukkan bagi orang-orang berkualitas. Ini sungguh lumrah. Kita pun sering melakukannya. Misalnya: Jika televisi kita rusak, apakah kita akan memercayakannya kepada sembarang orang? Tentu tidak. Itu namanya bunuh diri. Televisi kita bukannya makin baik, malah tambah rusak. Pastilah kita mempercayakannya kepada ahlinya. Bahkan kita berani bayar mahal untuk itu. Jelas, kepercayaan kita terhadap seseorang berkait erat dengan kualitas pekerjaannya. Kepercayaan berbanding lurus dengan kualitas kerja. Dunia membutuhkan kualitas kerja. Jadi, jangan sekali-kali meremehkannya.

Kerja berkait pula dengan hati. Kualitas kerja, bagaimanapun baiknya, tetap menjadi cela jika tidak berdasarkan ketulusan. Dan lambat laun, gaya macam begini akan membuat diri kita tidak berkualitas lagi. Dengan kata lain, kita dipanggil untuk menghasilkan karya terbaik melalui cara yang baik. Tujuan yang baik, karya yang baik, memang harus dilakukan dengan cara yang baik. Dan hanya orang-orang seperti inilah yang akan mendapatkan tanggung jawab yang lebih besar. Sekali lagi karena dia mampu berkarya baik dengan cara baik.

Selamat bekerja!

Yoel M. Indrasmoro
Direktur Literatur Perkantas Nasional