Posted on Tinggalkan komentar

Karena Kuasa-Mulah

Hanya Dekat Allah (7 April 2020)

Karena Kuasa-Mulah

”TUHAN, karena kuasa-Mulah raja bersukacita; betapa besar kegirangannya karena kemenangan yang dari pada-Mu.” Demikianlah Daud memulai Mazmur 21. Meski raja adalah penguasa tertinggi sebuah kerajaan, Daud memahami bahwa kuasa Allah lebih besar dari raja. Sukacita raja merupakan karunia Allah sendiri.

Dalam ayat 2, Daud mengaku: ”Apa yang menjadi keinginan hatinya telah Kaukaruniakan kepadanya, dan permintaan bibirnya tidak Kautolak.” Daud memahami, semua yang ada padanya sejatinya hanyalah karunia Allah. Semua cuma pemberian.

Dengan lain perkataan, Allah memang pemberi dan Daud penerima. Dan semua itu terjadi karena raja selalu berharap kepada Allah. Ya, Daud selalu berharap kepada Allah. Daud senantiasa menggantungkan dirinya hanya kepada Allah. Meski sungguh berkuasa di Israel, Daud sadar kuasa itu pun anugerah. Dan karena itulah, dia hanya ingin mengandalkan Allah.

Bagaimana dengan kita? Di tengah pandemi Covid-19 yang menggentarkan hati, masihkah kita berharap kepada Allah? Jika kita percaya bahwa Allah adalah Mahakuasa, maka memercayai-Nya merupakan keniscayaan.

Terlebih lagi, Dia tak sekadar Mahakuasa, tetapi juga Mahakasih. Rasul Paulus bersaksi: ”Ia, yang tidak menyayangkan Anak-Nya sendiri, tetapi yang menyerahkan-Nya bagi kita semua, bagaimanakah mungkin Ia tidak mengaruniakan segala sesuatu kepada kita bersama-sama dengan Dia?” (Rm. 8:32).

Pada titik ini, menyerahkan diri secara total kepada Allah merupakan tindakan logis di tengah wabah ini. Sekali lagi, karena Allah itu kasih dan perkasa.

SMaNGaT,

Yoel Indrasmoro
Literatur Perkantas Nasional

Posted on Tinggalkan komentar

Harapan

Struktur Mazmur 20 menarik diperhatikan. Daud memulai syairnya, yang hampir setengahnya, dengan lima kali kata ”kiranya”—”Kiranya TUHAN menjawab engkau pada waktu kesesakan! Kiranya nama Allah Yakub membentengi engkau! Kiranya dikirimkan-Nya bantuan kepadamu dari tempat kudus dan disokong-Nya engkau dari Sion. Kiranya diingat-Nya segala korban persembahanmu, dan disukai-Nya korban bakaranmu… Kiranya diberikan-Nya kepadamu apa yang kaukehendaki dan dijadikan-Nya berhasil apa yang kaurancangkan.” (Mzm. 20:2-5).

Dalam Alkitab Bahasa Indonesia Masa Kini tertera lima kali kata ”semoga”. Makna baik kata ”kiranya” maupun kata ”semoga” adalah mudahan-mudahan (untuk menyatakan harapan).

Kata ”harapan” berarti keinginan supaya menjadi kenyataan. Yang namanya ”harapan” memang belum terjadi. Namun, ada kerinduan besar terjadi. Menarik disimak, Daud tak menggunakan kata ”pasti”. Mengapa? Tentu karena semuanya memang belum terjadi. Kata ”pasti” pun tak mengandung harapan sama sekali. Agaknya–dengan menggunakan kata ”kiranya”—Daud masih memberikan ruang bagi kehendak Allah. Daud menaruh harapannya pada kedaulatan Allah.

Beberapa waktu lalu, Kardinal Suharyo, dalam salah satu homilinya, menjelaskan perbedaan antara harapan dan optimisme. ”Optimisme adalah semangat yang didasarkan perhitungan manusiawi saja,” urainya, ”harapan itu landasannya adalah iman bahwa Allah yang telah memulai karya yang baik akan menyelesaikannya juga, juga kalau kita merasa seolah-olah Allah itu tidak peduli dengan umat manusia.”

Itu jugalah pengakuan Daud. Dalam ayat 8, Daud menegaskan: ”Orang ini memegahkan kereta dan orang itu memegahkan kuda, tetapi kita bermegah dalam nama TUHAN, Allah kita.” Kelihatannya kalimat itu tak muncul begitu saja, namun tumbuh dari pengalaman hidup. Daud merasakan bagaimana Allah telah menolong dia dalam menghadapi Goliat, juga Saul.

Sejatinya, mengandalkan Allah merupakan tindakan tepat. Sebab semua yang ada di dunia ini merupakan ciptaan Allah belaka. Sang Pencipta berdaulat mutlak atas semuanya. Juga Covid-19, yang menggentarkan dunia secara global sekarang ini. Percayalah!

SMaNGaT,

Yoel M. Indrasmoro
Literatur Perkantas Nasional

 

Posted on Tinggalkan komentar

Cerita Alam

Dalam Mazmur 19, Daud mengawali syairnya dengan pernyataan: ”Langit menceritakan kemuliaan Allah, dan cakrawala memberitakan pekerjaan tangan-Nya….” Lugas Daud menyatakan bahwa alam mampu bercerita tentang Tuhan. Meski tanpa kata, manusia sendiri—seandainya memberi sedikit waktu untuk memperhatikannya—bisa memahami maksudnya.

Itu bukan tanpa tujuan. Tujuan utamanya: mengajak manusia turut memuliakan Allah. Dengan apik, Carl Gustaf Boberg, dalam refrein syair lagu ”Bila Kulihat Bintang Gemerlapan” (Kidung Jemaat 64), menulis: ”Maka jiwakupun memujiMu: ’Sungguh besar Kau, Allahku!’” Tak hanya sekali. Boberg merasa perlu mengulangi kalimat itu sekali lagi.

Pandemi Covid-19 belum usai. Ada banyak hal yang membuat kita sedih, namun tak sedikit pula yang membuat kita mau tak mau memuliakan Allah. Ketika menyaksikan para petugas kesehatan yang berjibaku menyembuhkan pasien tanpa lelah. Memperhatikan keluarga-keluarga yang setia merawat anggota keluarganya yang sedang sakit. Bahkan—ini pengalaman pribadi—sesama pasien pun tak sungkan saling mendoakan.

Pada Minggu Palma 2020 ini, kita pun diajak untuk terus memuliakan Allah. Lukas mencatat: ”Ketika Ia mendekati Yerusalem, di tempat jalan menurun dari Bukit Zaitun, mulailah semua murid yang mengiringi Dia bergembira dan memuji Allah dengan suara nyaring oleh karena segala mukjizat yang telah mereka lihat” (Luk. 19:37).

Menurut Lukas, pujian itu wajar karena para murid telah mengalami sendiri kehadiran Allah. Ini masalah pengalaman, bukan sekadar ikut-ikutan. Mereka sudah menyaksikan dengan mata kepala mereka sendiri bahwa Yesus adalah Raja dalam nama Tuhan. Hanya Raja dalam nama Tuhanlah yang mampu melakukan segala mukjizat itu. Yang tak wajar adalah kalau mereka diam. Dan ketika diminta diam oleh beberapa orang Farisi, Yesus tegas berkata, ”Jika mereka ini diam, maka batu ini akan berteriak.”

Memuji Allah merupakan keniscayaan karena semua hal baik yang kita rasakan. Pujian adalah pengakuan. Ketika kita—yang telah merasakan semua kebaikan Allah—hanya diam saja, maka batu-batu akan berteriak. Sebab alam pun juga saksi dari semua kebaikan Allah.

Dan saat alam berseru memuliakan Tuhan, mungkin kita akan jadi malu sendiri. Nah, daripada malu, mari kita memuji Allah!

SMaNGaT,

Yoel M. Indrasmoro
Literatur Perkantas Nasional

Posted on Tinggalkan komentar

Jalan-Nya Sempurna

Dalam Mazmur 18:31, Daud menyimpulkan: ”Adapun Allah, jalan-Nya sempurna; janji TUHAN adalah murni; Dia menjadi perisai bagi semua orang yang berlindung pada-Nya.” Menarik diperhatikan, Daud mengaitkan Allah dengan jalan. Dan jalan-Nya sempurna karena Dialah pencipta jalan itu sendiri.

Sebenarnya bagian kita adalah cukup meniti jalan yang telah disediakan-Nya bagi kita dalam hidup kita. Namun, karena merasa punya kehendak bebas, kadang bukan jalan Allah yang kita titi, tetapi jalan kita sendiri. Dengan kata lain kita merasa perlu menciptakan jalan sendiri. Dan pasti tak sempurna. Sebab siapakah manusia sehingga mampu membuat jalan bagi dirinya sendiri?

Selanjutnya Daud mengaitkan Allah dengan janji. Menurut Daud janji Allah itu murni. Berkait dengan kata ”murni” saya teringat emas. Emas murni berarti 100 persen. Tidak ada unsur logam lainnya. Hanya emas. Sekali lagi emas murni itu 100 persen. Seratus persen sama dengan seratus per seratus. Seratus per seratus sama dengan satu. Murni berarti integritas. Integritas berarti satunya kata dan perbuatan. Dan itulah sejatinya Allah kita. Janji-Nya dapat dipercaya.

Dan karena itu—berkait dengan pandemi Covid-19—layaklah kita berlindung kepada-Nya. Sebab jalan-Nya sempurna dan janji-Nya dapat dipercaya. Caranya? Marilah kita menghidupi jalan yang disediakan Allah dalam menghadapi pandemi ini dengan langkah sederhana: bekerja di rumah, belajar di rumah, dan beribadah di rumah. Percayalah kita akan mendapati bahwa janji Allah itu sungguh dapat diandalkan.

SMaNGaT,

Yoel M. Indrasmoro
Literatur Perkantas Nasional

Posted on Tinggalkan komentar

Mulutku Tidak Terlanjur

”Aku berseru kepada-Mu, karena Engkau menjawab aku, ya Allah; sendengkanlah telinga-Mu kepadaku, dengarkanlah perkataanku” (Mzm. 17:6). Syair Daud ini sungguh masuk akal. Dia berseru karena tahu Allah akan menjawabnya.

Ya, buat apa bicara dengan seseorang kalau kita ragu apakah dia akan menanggapi atau tidak. Tindakan itu—menurut Kitab Pengkhotbah—bagai menjaring angin saja. Sia-sia. Kepercayaan seperti itulah yang membuat Daud percaya diri meminta kepada Allah untuk memperhatikan kata-kata-Nya.

Mengapa Daud sampai pada pemahaman seperti itu? Menarik dicermati dalam ayat 3, Daud dengan berani menyatakan: ”Bila Engkau menguji hatiku, memeriksanya pada waktu malam, dan menyelidiki aku, maka Engkau tidak akan menemui sesuatu kejahatan; mulutku tidak terlanjur.” Di hadapan Allah—Sang Mahatahu—anak Isai itu yakin bahwa Allah tidak akan menemui satu kesalahan pun. Hatinya tulus ikhlas. Perkataan Daud selaras dengan pikirannya.

Mungkin mentalitas macam beginilah yang perlu kita kembangkan dalam mengatasi pandemi Covid-19 ini. Bersih hati, bersih pikiran, bersih perkataan. Artinya, tidak ada kata terlontar dari mulut—juga jari dalam era digital ini—yang tak dipikirkan masak-masak. Semua serbabersih.

Berkait dengan Covid-19 ini, kita bisa menyaksikan begitu banyak hoaks yang mampir di gawai kita. Dan tak jarang terjadi, kita pun ikut berkomentar tanpa pikir panjang. Yang akhirnya membuat hubungan antarinsan menjadi berantakan.

Kelihatannya dampak baik dari Covid-19 ini adalah tersedianya cukup banyak waktu bagi kita untuk mencuci hati dan pikiran agar mampu mengeluarkan kata-kata yang bersih baik melalui mulut maupun jari.

Sehingga, bersama dengan Daud kita bisa percaya diri memohon, ”Peliharalah aku seperti biji mata, sembunyikanlah aku dalam naungan sayap-Mu” (Mzm. 17:8). Percayalah!

SMaNGaT,

Yoel M. Indrasmoro
Literatur Perkantas Nasional

Posted on Tinggalkan komentar

Jagalah aku, ya Allah

Pembukaan Mazmur 16 menarik disimak. Daud membuka syairnya dengan permohonan: ”Jagalah aku, ya Allah, sebab pada-Mu aku berlindung.” Kalimatnya sungguh logis. Karena Daud berlindung kepada Allah, maka dia bisa berharap penuh akan penjagaan Allah. Kita hanya mungkin merasakan penjagaan Allah, jika kita sungguh-sungguh berlindung kepada-Nya.

Daud punya alasan kuat. Demikian dia melanjutkan mazmurnya: ”Aku berkata kepada TUHAN: ’Engkaulah Tuhanku, tidak ada yang baik bagiku selain Engkau!’” (Mzm. 16:2). Alasannya masuk nalar. Daud berlindung kepada Pribadi yang baik. Itulah yang akan membuatnya senantiasa aman. Berlindung kepada Pribadi yang kurang baik, itu namanya cari penyakit. Dan bagi anak Isai itu: Allah adalah Pribadi terbaik.

Di tengah-tengah masa Prapaskah, yang diwarnai dengan wabah Covid-19 ini, kita perlu bertanya dalam diri: ”Siapakah Pribadi terbaik dalam hidup kita?” Jika jawabannya adalah Allah sendiri, maka berlindung kepada-Nya merupakan keniscayaan.

Sehingga bersama dengan Daud kita bisa berkata, ”Sebab itu hatiku bersukacita dan jiwaku bersorak-sorak, bahkan tubuhku akan diam dengan tenteram; sebab Engkau tidak menyerahkan aku ke dunia orang mati, dan tidak membiarkan Orang Kudus-Mu melihat kebinasaan” (Mzm. 16:9-10).

Jelaslah, tak hanya hati yang bersukacita atau jiwa yang bersorak-sorai, tetapi raga kita pun akan diam dengan tentram. Tubuh yang nyaman. Dan pada hemat saya, hati, jiwa, dan tubuh macam beginilah yang kita butuhkan sekarang ini!

SMaNGaT,

Yoel M. Indrasmoro
Literatur Perkantas Nasional

Posted on Tinggalkan komentar

Siapakah yang Boleh Datang?

Dalam Mazmur 15, Daud membuka syairnya dengan tanya: ”TUHAN, siapa yang boleh menumpang dalam kemah-Mu? Siapa yang boleh diam di gunung-Mu yang kudus?” Kita tidak tahu alasan pasti Daud membuat mazmur ini. Mungkin pada mulanya mazmur ini merupakan prosesi ibadah ketika orang hendak beribadah ke Bait Allah.

Namun demikian, saya jadi teringat ucapan terkenal Bapa Gereja Augustinus: ”Engkau telah menciptakan kami untuk diri-Mu sendiri. Jiwa-jiwa kami gelisah hingga bertemu dengan-Mu.” Manusia—yang diciptakan menurut gambar dan rupa Allah itu—membutuhkan Allah. Dalam batin terdalamnya—meski kadang disangkal—manusia senantiasa rindu bersekutu dengan Allah.

Dalam pemahaman Jawa terdapat ungkapan sangkan paraning dumadi ’asal dan tujuan kehidupan’, yaitu manusia berasal dari Allah dan kembali kepada Allah. Kepenuhan manusia hanya mungkin terjadi tatkala dia sungguh-sungguh paham dari mana dia berasal dan ke mana seharusnya dia pergi. Pemahaman itulah yang akan membuatnya bersekutu dengan Allah. Dan menurut Daud, syarat persekutuan dengan Allah itu hanyalah bersih hati, yang memancar dalam bersih sikap dan perilaku.

Itu jugalah panggilan kita selaku umat percaya dalam menjalani pandemi Covid-19 ini. Dalam situasi krisis, selalu terdengar ada orang-orang yang menggunakan kesempatan dalam kesempitan atau memancing di air keruh. Dan semoga itu bukan kita!

SMaNGaT,

Yoel M. Indrasmoro
Literatur Perkantas Nasional

Posted on Tinggalkan komentar

Allah Ada

Dalam Mazmur 14, Daud memulai syairnya dengan kenyataan: ”Orang bebal berkata dalam hatinya: ‘Tidak ada Allah'” (Mzm. 14:1). Entah mengapa mereka beranggapan seperti itu. Mungkin karena mereka ingin hidup serbabebas. Pengakuan akan Allah Pencipta, yang kemudian dipercaya sebagai Tuhan, meniscayakan manusia tunduk kepada-Nya. Namun, ya di sini soalnya, mereka ingin mengatur dirinya sendiri. Dan ketika kehidupan mereka aman-nyaman saja, anggapan itu akhirnya menjadi sebuah kepercayaan.

Kemungkinan kedua, bisa jadi awalnya mereka memercayai Allah, tetapi kepercayaan itu agaknya tak berbanding lurus dengan kesejahteraan hidup. Lalu, di manakah Allah? Buat apa percaya kepada Allah jika hidup malah makin susah. Sehingga mereka mengolok-olok orang yang masih tekun percaya. Bisa jadi dalam hatinya mereka mengakui bahwa Allah ada, tetapi mereka merasa Allah tak lagi peduli. Kalau Allah tidak peduli, mengapa pula mereka harus memedulikan-Nya?

Bagaimana dengan kita? Di tengah wabah Covid-19 yang tampaknya makin membelenggu, masihkah kita memercayai Allah? Mungkin kita pun jadi ikut-ikutan berpikir—bisa jadi karena bingung dan frustrasi menyaksikan wabah yang sepertinya tak terkendali—bahwa Allah ada, namun tak lagi peduli.

Jika memang demikian, saya jadi teringat puisi Uskup Camara: ”Tuhan ada di sana. Dia menyertai kita. Baik di kala suka, apalagi di kala duka.” Apa pun keberadaan kita sekarang ini, apa pun yang kita rasakan, percayalah bahwa Allah ada. Nama-Nya pun masih Imanuel—Allah menyertai kita. Percayalah!

SMaNGaT,

Yoel M. Indrasmoro
Literatur Perkantas Nasional

Posted on Tinggalkan komentar

Buatlah Mataku Bercahaya

Dalam Mazmur 13, Daud memulai syairnya dengan tanya: ”Berapa lama lagi, TUHAN, Kaulupakan aku terus-menerus? Berapa lama lagi Kausembunyikan wajah-Mu terhadap aku” (Mzm. 13:2). Tampaknya Daud sudah capek berharap. Dan sepertinya Allah tenang-tenang saja. Pada titik ini Daud merasa perlu—meminjam judul buku penyair F. Rahardi—Menggugat Tuhan.

Tak hanya sekali. Anak Isai itu terus bertanya dan mempertanyakan tindakan Allah: ”Berapa lama lagi aku harus menaruh kekhawatiran dalam diriku, dan bersedih sepanjang hari?” (Mzm. 13:3). Daud merasa perlu bertanya karena dia tahu pasti Allah mendengarkan.

Doa senantiasa menyiratkan bahwa kita tak sendirian. Ada yang diajak bicara. Dan Daud tahu itu. Sehingga dia pun memohon, ”Pandanglah kiranya, jawablah aku, ya TUHAN, Allahku! Buatlah mataku bercahaya, supaya jangan aku tertidur dan mati… (Mzm. 13:4). Daud ingin memandang wajah Allah. Sepertinya dia tahu ada ketenangan, ada kelegaan, ada penghiburan yang terpancar. Dan itulah yang akan membuat matanya bercahaya.

Bisa jadi itu jugalah yang ada dalam hati dan pikiran kita seminggu belakangan ini. Kita merasa perlu bertanya dan mempertanyakan Allah. Mempertanyakan kasih-Nya, mempertanyakan tindakan-Nya. Kok, ya enggak selesai-selesai.

Kita tahu tak sedikit pedagang—yang jualan agar bisa makan hari itu—mulai marah. Marah karena frustrasi. Pembatasan fisik membuat hidup semakin susah. Kita yang bekerja di sektor swasta pun mungkin juga mulai khawatir.

Namun demikian, pada titik ini pun, kita perlu bersikap seperti Daud. Meski keadaan belum berubah, Daud mengakhiri mazmurnya dengan ikhtiar: ”Tetapi aku, kepada kasih setia-Mu aku percaya” (Mzm. 13:6). Daud percaya karena ia pernah mengalami kebaikan Allah sebelumnya. Dia tahu kebaikan itu tetap ada, tinggal tunggu waktu saja.

SMaNGaT,

Yoel M. Indrasmoro
Literatur Perkantas Nasional

 

Posted on Tinggalkan komentar

Janji TUHAN

Dalam situasi tertekan karena orang jahat terlihat makin jaya dalam hidupnya, Daud berseru dalam mazmurnya: ”Janji TUHAN adalah janji yang murni, bagaikan perak yang teruji, tujuh kali dimurnikan dalam dapur peleburan di tanah” (Mzm. 12:7). Dalam BIMK (Bahasa Indonesia Masa Kini) tertera: ”Janji TUHAN teguh dan dapat diandalkan, seperti perak murni yang diuji di dalam api.”

Menyaksikan orang jahat semakin jahat—dan kelihatannya hidupnya aman-nyaman saja—kadang membuat umat Allah merasa bingung, heran, dan tergoda untuk meninggalkan Allah. Ya, apa artinya mengikut Allah kalau hidup malah makin susah. Bukankah Allah telah berjanji, tetapi mana buktinya? Mereka pun akhirnya meragukan kasih Allah, yang biasanya bermuara pada meninggalkan Allah.

Mengapa manusia meragukan janji Allah? Pertama, mungkin itu cerminan dari kemanusiaan itu sendiri. Berapa kali orang mengingkari janjinya kepada kita? Berapa kali pula kita mengingkari janji kita, baik kepada diri sendiri dan orang lain? Karena sadar betapa rapuhnya manusia, kita jadi merasa Allah pun sama rapuhnya.

Kedua, bisa jadi karena pikiran jangka pendek kita. Sehari, seminggu, setahun, sewindu. Padahal Allah kekal sifatnya. Dia adalah alfa dan omega—Yang Awal dan Yang Akhir. Allah tidak dibatasi waktu. Dia adalah pencipta waktu. Ketika menanti pemenuhan janji Allah, kita masih pakai pola pikir waktuwi kita. Itulah yang membuat kita goyah. Padahal waktu Allah sering kali memang bukan waktu kita.

Namun begitu, Daud tetap berseru, ”Janji Tuhan itu teguh dan dapat diandalkan!” Mengapa? Karena Allah kekal adanya!

Menjalani pandemi Covid-19 ini acap membuat kita bertanya-tanya dalam hati: ”Sampai kapan semua ini? Kapan berakhirnya? Kapan saya sembuh? Kapan saya berhenti khawatir? Kapan saya bekerja lagi? Kapan semuanya berlangsung normal?”

Pertanyaan-pertanyaan itu lumrah dan manusiawi. Namun, sekali lagi, Allah itu kekal. Karena Allah itu kekal, janji-Nya pun kekal. Dia dapat diandalkan. Percayalah!

SMaNGaT,

Yoel M. Indrasmoro
Literatur Perkantas Nasional

Posted on Tinggalkan komentar

Pada TUHAN Aku Berlindung

”Pada TUHAN aku berlindung, bagaimana kamu berani berkata kepadaku: ”Terbanglah ke gunung seperti burung!’” (Mzm. 11:1). Inilah akta iman Daud. Seakan-akan dia berkata kepada orang yang tak menyukai dirinya, ”Kok berani-beraninya kamu mengusir saya!” Daud memahami bahwa Allah adalah tempat perlindungannya.

Selanjutnya Daud percaya: ”TUHAN ada di dalam bait-Nya yang kudus; TUHAN, takhta-Nya di sorga; mata-Nya mengamat-amati, sorot mata-Nya menguji anak-anak manusia” (Mzm. 11:4). Setiap peristiwa yang terjadi di dunia ini, Allah mengetahui dan mengizinkannya terjadi. Tak ada sesuatu yang diluar pengamatan-Nya. Dalam terminologi Jawa: Gusti mboten sare ’Allah tidak tidur’. Dan karena Allah tidak pernah tidur, biarlah kita menyerahkan diri hanya kepada-Nya.

Penyerahan diri secara total kepada Allah itu laksana syair lagu karya Jacqueline van der Waals ini: ”Dengan Bapa aku maju dalam malam yang kelam ke neg’ri yang tak kutahu dengan mata terpejam” (Kidung Jemaat 416:4). Tak hanya keberanian, perlu juga ketulusan di sini.

Tulus berarti tiada prasangka dan tetap percaya bahwa semua akan baik-baik saja. Sehingga akhirnya, kita boleh membuktikan akta iman Daud di akhir mazmur ini: orang yang tulus akan memandang wajah Allah.

Agaknya, itu juga sikap yang perlu kita kembangkan dalam menjalani pandemi Covid-19 ini.

SMaNGaT,

Yoel M. Indrasmoro
Literatur Perkantas Nasional

Posted on Tinggalkan komentar

Mengapa Engkau Berdiri Jauh-jauh?

”Mengapa Engkau berdiri jauh-jauh, ya TUHAN, dan menyembunyikan diri-Mu dalam waktu-waktu kesesakan?” (Mzm. 10:1). Seruan lugas dari Daud. Dan memang itulah yang dirasakannya. Daud merasa, orang jahat malah lebih berhasil dalam usahanya; meski mereka tak menaati Allah.

Bisa jadi kita pernah merasakan apa yang Daud rasakan. Kita merasa Allah sepertinya menjauh. Dia menyembunyikan diri-Nya dan enggan melihat persoalan kita. Kita merasa Allah meninggalkan kita.

Dalam keadaan macam begini, kita perlu belajar bersikap sebagaimana syair karya Julie von Hausmann ini: ”Dan bila tak kurasa kuasa-Mu, Engkau senantiasa di sampingku. Ya Tuhan, bimbing aku di jalanku, sehingga ’ku selalu bersama-Mu” (Kidung Jemaat 406:3). Kita perlu berani percaya bahwa saat kita tak merasakan kuasa Allah, Dia masih ada bersama dengan kita. Itu sama halnya dengan adagium ini: ”Jangan bilang mentari tiada ketika kita tak merasakan sinarnya.” Biasanya itu hanyalah ulah sekelompok awan.

Menghadapi pandemik Covid-19, marilah kita terus memberanikan diri untuk percaya bahwa Allah menemani. Pada saatnya kita akan menyaksikan tindakan-Nya. Dan akhirnya kita bisa berkata seperti Daud: ”TUHAN adalah Raja untuk seterusnya dan selama-lamanya.” Ya, Dia Raja yang selalu mau menemani.

SMaNGaT,

Yoel M. Indrasmoro
Literatur Perkantas Nasional

Posted on Tinggalkan komentar

Bersyukur

”Aku mau bersyukur kepada TUHAN, dengan segenap hatiku, aku mau menceritakan segala perbuatan-Mu yang ajaib” (Mzm. 9:1). Demikianlah Daud memulai mazmurnya. Ada kerinduan yang tumbuh dari pengalaman hidup. Daud telah mengalami apa artinya menderita di bawah tekanan musuh. Dan sekarang musuhnya telah tersandung jatuh dan binasa di hadapan Allah (lih. Mzm. 9:4).

Persoalan kita sekarang: bagaimana bersyukur di tengah wabah Covid-19, yang tampaknya enggan berhenti, namun makin membahana? Pada titik ini pun, bersyukur bisa menjadi jalan keluar terbaik. Caranya? Kita bisa menerapkan syair ini: ”Bila topan k’ras melanda hidupmu, bila putus asa dan letih lesu, berkat Tuhan satu-satu hitunglah, kau niscaya kagum oleh kasih-Nya” (Kidung Jemaat 439:1).

Sang penyair, Johnson Oatman, mengajak kita untuk tak hanya fokus pada topan, tetapi mengarahkan diri untuk menghitung berkat Allah. Dan saat menghitungnya satu demi satu, kita menjadi kagum akan besar kasih-Nya kepada kita. Kenyataan itulah yang akan membuat kita lebih mampu bersyukur.

Badai memang belum berlalu. Oleh karena itu, marilah kita menghitung berkat-Nya satu demi satu. Salah satunya: kita punya lebih banyak waktu untuk mendengarkan firman-Nya.

SMaNGaT,

Yoel M. Indrasmoro
Literatur Perkantas Nasional

Posted on Tinggalkan komentar

Kuasa atas Buatan Tangan-Nya

”Ya TUHAN, Tuhan kami, betapa mulianya nama-Mu di seluruh bumi” (Mzm. 8:2). Inilah pujian Daud saat melihat betapa baiknya Allah kepada manusia. Ketika Daud merasakan betapa kecilnya manusia bila dibandingkan dengan langit dan bintang-bintang, Allah ternyata telah mengangkat manusia hampir setara dengan diri-Nya dan memahkotainya dengan kemuliaan dan hormat.

Daud menambahkan: ”Engkau membuat dia berkuasa atas buatan tangan-Mu; segala-galanya telah Kauletakkan di bawah kakinya” (Mzm. 8:7). Jelas di sini Allah memberikan akal budi kepada manusia untuk mengelola seluruh ciptaan. Hanya manusialah yang dikaruniai kemampuan itu. Sehingga Daud menutup mazmurnya dengan kalimat sama: ”Ya TUHAN, Tuhan kami, betapa mulianya nama-Mu di seluruh bumi!” (Mzm. 8:10).

Berkait Covid-19, kita layak percaya bahwa Allah juga telah mengaruniai manusia kemampuan untuk mengelola virus ini. Caranya? Di samping menciptakan vaksin yang dapat mengatasi, juga dengan melakukan pembatasan-pembatasan demi memutus perkembangannya. Tentu semuanya itu perlu dilakukan dengan disiplin. Sehingga saatnya nanti—ketika semuanya pulih—kita bisa berseru seperti pemazmur: ”Ya TUHAN, Tuhan kami, betapa mulianya nama-Mu di seluruh bumi!” (Mzm. 8:10).

SMaNGaT,

Yoel M. Indrasmoro
Literatur Perkantas Nasional

Posted on Tinggalkan komentar

Pada-Mu Aku Berlindung

”Ya TUHAN, Allahku, pada-Mu aku berlindung” (Mzm. 7:1). Demikianlah Daud mengawali nyanyian ratapannya. Dia meratap di hadapan Allah karena Kush, orang Benyamin. Kita tidak mengenal siapa Kush dan apa yang dilakukannya. Namanya tidak tercatat dalam kitab-kitab sejarah Israel. Akan tetapi, kita bisa menduga Daud begitu tertekan sehingga menangis dan menjerit di hadapan Allah.

Namun demikian, frase ”pada-Mu aku berlindung” gamblang memperlihatkan bahwa Allah adalah tempat perlindungan, yang membuat Daud memercayakan diri kepada-Nya. Pada ayat 11, Daud mengimani: ”Perisai bagiku adalah Allah, yang menyelamatkan orang-orang yang tulus hati.” Di mata Daud, Allah adalah Juru Selamat. Karena itu, logislah berlindung kepada-Nya.

Wabah Covid-19 sungguh menyesakkan karena serbatak jelas—apakah kita positif, negatif, atau telah terinfeksi? Bagaimana pula dengan anggota keluarga kita—orang-orang yang kita sayangi? Bagaimana pula dengan orang-orang yang kita kenal, juga yang tak kita kenal? Miris rasanya.

Dalam ketidakjelasan ini, marilah kita berseru dalam doa, ”Ya, Tuhan, pada-Mu kami berlindung.”

SMaNGaT,

Yoel M. Indrasmoro
Literatur Perkantas Nasional

 

Posted on Tinggalkan komentar

Berapa Lama Lagi?

”Kasihanilah aku, TUHAN, sebab aku merana; sembuhkanlah aku, TUHAN, sebab tulang-tulangku gemetar, dan jiwaku pun sangat terkejut; tetapi Engkau, TUHAN, berapa lama lagi?” (Mzm. 6:3-4).

Rasa takut memang tak mudah diabaikan. Apa lagi saat mendengar orang-orang yang kita kenal positif Covid-19, bahkan ada yang mendahului kita. Sedihnya, kita tak punya kesempatan menyampaikan salam duka secara fisik kepada keluarga. Dan kita pun akhirnya bertanya-tanya, ”Masih berapa lama lagikah?” Sejatinya dalam tanya ini pun terkandung harapan, wabah ini pasti berlalu.

Kita juga menjadi sadar betapa rentannya manusia. Kerentanan itulah yang membuat kita lirih berkata, ”Tuhan kasihanilah, kami!” Dalam kelirihan ini terungkap jelas, betapa Dia sungguh mengasihi kita. Itulah iman. Dan kita sungguh ingin memiliki kekuatan untuk mengimaninya.

Sejatinya, baik harapan maupun iman kita hanya mungkin berdasar pada kasih-Nya. Ya, pada kasih-Nya semata.

SMaNGaT,

Yoel M. Indrasmoro
Literatur Perkantas Nasional

Posted on Tinggalkan komentar

Curhat

”Berilah telinga kepada perkataanku, ya TUHAN, indahkanlah keluh kesahku” (Mzm. 5:2). Mazmur Daud ini memperlihatkan kepada kita, kejujuran merupakan hal utama dalam doa. Daud ingin Allah memperhatikan kerinduannya, juga kesesakannya.

Ini menjadi penting karena kadang kita merasa bahwa curhat kepada Allah kurang rohani. Curhat menjadi tanda kurang iman. Padahal, kalau dipikir-pikir, jika tidak curhat kepada Allah, mau curhat kepada siapa lagi? Sejatinya, kita dipanggil untuk jujur—mengungkapkan isi hati kita kepada Allah—sembari memindai (scaning): Apakah hanya sekadar pemuas keinginan kita atau sungguh-sungguh pemenuh kebutuhan kita?

Hampir seminggu kita kerja bekerja di rumah, belajar di rumah, dan hari ini beribadah di rumah. Sampaikanlah kepada Allah apa yang sungguh-sungguh kita rasakan dan harapkan dari-Nya. Biarlah pada akhirnya kita bisa juga berkata seperti Daud, ”Sebab Engkaulah yang memberkati orang benar, ya TUHAN; Engkau memagari dia dengan anugerah-Mu seperti perisai” (Mzm. 5:13).

SMaNGaT,

Yoel M. Indrasmoro
Literatur Perkantas Nasional

Posted on Tinggalkan komentar

Mampu dan Mau

”Banyak orang berkata: “Siapa yang akan memperlihatkan yang baik kepada kita?” Biarlah cahaya wajah-Mu menyinari kami, ya TUHAN!” (Mzm. 4:7). Demikianlah doa Daud. Di tengah banyak orang yang bertanya-tanya, Daud memohon agar Allah berkenan kepadanya. Doa itu mengandaikan, Allah sungguh baik dan berkenan menyatakan kebaikan-Nya.

Penting memang memohon pertolongan kepada pribadi yang mampu dan mau menolong. Meminta tolong kepada pribadi yang mau, namun tak mampu menolong; akan membuat dia frustrasi. Akan tetapi, meminta tolong kepada yang mampu, tetapi tak mau menolong; giliran kita yang frustrasi. Dan Allah adalah Pribadi yang mampu dan mau menolong.

Dalam suasana serbasusah akibat Covid-19, kita perlu memohon rahmat Allah untuk dimampukan melalui semuanya ini, sembari belajar menjadi pribadi yang mampu dan mau menolong orang di sekitar kita.

SMaNGaT,

Yoel M. Indrasmoro
Literatur Perkantas Nasional

Posted on Tinggalkan komentar

Dipimpin oleh Roh

Banyak orang di dunia ini yang ingin hidup bebas. Mereka Ingin melakukan apa saja yang mereka kehendaki tanpa harus direpotkan dengan hal-hal rutin. Sehingga ada orang yang berkata bahwa mereka ”betul-betul hidup” ketika berlibur.

Ketika Alkitab berbicara tentang karya Roh, maka yang dimaksudkannya ialah kehidupan yang biasa atau kehidupan sehari-hari. Sering dalam hati kita dihanyutkan oleh keinginan untuk mengalami hal-hal istimewa dan spektakuler—sesuatu keingi¬nan yang sudah meresap dalam budaya masa kini. Agenda pelayanan kita sering diisi dengan aktivitas dan cara yang mengikuti tren.

Dalam buku Kaya Roh: Hidup oleh Roh, Berada dalam Kristus, penulis Niels den Hertog menjelaskan bahwa jika Allah memasuki hidup kita, maka biasanya kejadian itu tidak menghebohkan dan menggemparkan. Dia lebih memilih sarana yang biasa, yang dikuduskan-Nya dan yang dipakai-Nya. Menurut penulis, di sinilah letak salah satu tantangan yang terbesar bagi orang-orang Kristen, yaitu belajar untuk menemukan Allah di dalam hidup sehari-hari.

Penulis juga menjelaskan, untuk dapat dibimbing oleh Roh, kita harus mengasihi Allah dan sesama manusia. Dan kedua hal itu harus terwujud dengan sangat konkret dalam perbuatan-perbuatan kita. Buah Roh ialah kita belajar mengasihi Tuhan, dan melayani sesama manusia yang ada di sekitar kita. Mereka itu tidak kita pilih sendiri, melainkan ditempatkan di jalan kita! Kita wajib melakukannya, meskipun hal itu menuntut pengorbanan, baik uang maupun kedudukan.

Roh memberi bimbingan-Nya dan mengikutsertakan manusia dengan pertimbangan-pertimbangan mereka. Tidak ada surat yang ditu¬runkan dari surga, tetapi tanda-tanda yang diberikan oleh Roh, meminta agar para penerimanya mencari maknanya dengan iman sambil berdoa. Pendek kata, Roh tidak mengejutkan, tetapi memberi tanda-tanda-Nya sambil membimbing pikiran orang-orang yang bersangkutan.

Sejatinya, Roh Kudus akan senantiasa memimpin dan membarui hidup orang-orang percaya agar semakin serupa dengan gambar Kristus. Hal ini juga yang akan membebaskan manusia dari kebosanannya dalam kehidupan sehari-hari dan mengajarkan mereka untuk menemukan kebahagiaan dalam pelayanan konkret kepada Allah dan sesama.

Jika hal di atas dapat kita pahami, maka akan tersisa pertanyaan dalam diri kita sendiri, apakah kita dapat mengenali pimpinan Roh dalam hidup kita—yang dapat menunjukkan jalan mana yang harus kita tempuh?

Rycko Indrawan S.
Literatur Perkantas Nasional

Posted on Tinggalkan komentar

Tidur

”Aku membaringkan diri, lalu tidur; aku bangun, sebab TUHAN menopang aku!” (Mzm. 3:4). Demikianlah kesaksian iman Daud. Dalam keadaan dikejar-kejar oleh Absalom—yang hendak menangkapnya—Daud masih bisa tidur. Mengapa? Daud percaya Allah selalu menopangnya. Kepercayaan itulah yang membuatnya berserah kepada Allah. Itulah yang membuatnya bisa tidur.

Orang yang gelisah sering kali tak bisa tidur karena ada hal berat dalam pikirannya. Yang dalam pikiran itu kemudian menguasai hatinya. Bisa jadi karena dia enggan—atau enggak berani—menyerahkan diri sepenuhnya kepada Allah.

Dalam situasi makin meningkatnya kasus Covid-19 di Indonesia, jalan terlogis bagi kita adalah menyerahkan diri seutuhnya kepada Sang Sumber. Hanya itulah yang akan membuat kita tidur nyenyak. Ini berarti tidur nyenyak pun juga anugerah.

SMaNGaT,

Yoel M. Indrasmoro
Literatur Perkantas Nasional

Posted on Tinggalkan komentar

Dalam Kendali-Nya

”Beribadahlah kepada TUHAN dengan takut dan ciumlah kaki-Nya dengan gemetar…. Berbahagialah semua orang yang berlindung pada-Nya” (Mzm. 2:11).

Pemazmur menegaskan bahwa hanya Allahlah yang paling berhak mendapatkan rasa takut. Mengapa? Sebab ketakutan terhadap-Nya akan membuat manusia merasa lega, bahkan berbahagia. Akan tetapi, ketakutan terhadap yang lainnya hanya akan membuat manusia makin takut.

Pandemi Covid-19 mungkin membuat kita takut. Takut itu manusiawi, tetapi jangan sampai membelenggu, yang malah membuat kita tidak rasional. Serahkanlah rasa takut itu kepada Allah karena kita hamba-Nya, juga milik-Nya. Dia siap melindungi kita dalam segala situasi. Dan ingatlah, semua yang terjadi di dunia ini ada dalam kendali-Nya.

SMaNGaT,

Yoel M. Indrasmoro
Literatur Perkantas Nasional

Posted on Tinggalkan komentar

Di Tepi Aliran Air

”Ia seperti pohon, yang ditanam di tepi aliran air, yang menghasilkan buahnya pada musimnya, dan yang tidak layu daunnya; apa saja yang diperbuatnya berhasil” (Mzm. 1:3).

Demikianlah pernyataan iman pemazmur. Selama pohon itu tetap tumbuh di situ, kebutuhan air dan hara pasti tercukupi. Itulah yang membuatnya tak hanya hidup, tetapi menghidupi makhluk lain.

Mewabahnya Covid-19 bisa jadi membuat kita gamang, tak tahu berbuat apa. Namun, janji Allah takkan berubah selama kita nyambung dengan-Nya. Kita tak hanya hidup, tetapi juga dipanggil untuk menghidupi orang lain. Pada titik ini, berbagi—baik masker, pembersih tangan, vitamin, juga makanan—merupakan panggilan Allah bagi kita.

SMaNGaT,

Yoel M. Indrasmoro
Literatur Perkantas Nasional

Posted on Tinggalkan komentar

Mengapa Kamu Begitu Takut?

”Mengapa kamu begitu takut? Mengapa kamu tidak percaya?” (Mrk. 4:40). Mengapa para murid begitu takut dan tidak percaya? Saya tak bermaksud membela mereka. Saya hanya mencoba memahami mengapa para murid begitu takut sehingga tidak percaya, dan berkata, ”Guru, Engkau tidak peduli kalau kita binasa?” (Mrk. 4:38).

Pertama, mereka begitu takut karena berada dalam keadaan, meminjam istilah Shakespeare, to be or not to be ’hidup atau mati’. Sebab meskipun sebagian dari antara mereka adalah pelaut andal, mereka paham tak akan ada orang yang selamat diterpa taufan macam begitu. Sehingga kata ”binasa” itulah yang melekat dalam benak mereka.

Kedua, mungkin mereka frustrasi karena sebenarnya mereka hanya mematuhi kehendak Yesus. Penginjil Markus mencatat: ”Pada hari itu waktu hari sudah petang, Yesus berkata kepada mereka: ’Marilah kita bertolak ke seberang’” (Mrk. 4:35). Jikalau Sang Guru tidak menyuruh, tentulah mereka masih di darat. Sebenarnya mereka hanya ingin menyenangkan hati Sang Guru.

Ketiga, Yesus bersama mereka dalam perahu itu, tetapi taufan tetap ada. Selama ini mereka menganggap Yesus adalah jagoan mereka. Yesus sanggup membuat banyak mukjizat. Dan mereka merasa aman dan nyaman bersama dengan Yesus. Hanya persoalannya—di perahu itu—meskipun mereka bersama Yesus, mereka masih merasakan taufan, dan perahu itu pun mulai penuh dengan air.

Keempat, ini mungkin yang membuat mereka menjadi semakin bingung hingga tidak percaya, Yesus tampaknya tidak memedulikan nasib mereka. Di sinilah puncak ketakutan mereka. Di tengah prahara mereka melihat Sang Guru tidur. Mungkin perasaan mereka agak sedikit tenteram kalau mereka melihat Yesus bersama mereka mengeluarkan air dalam perahu itu. Kenyataannya tidak. Yang mereka lihat: Yesus tidur. Tidur mereka artikan sebagai tanda ketidakpedulian.

Suasana global dua minggu belakangan ini—akibat wabah Covid-19—tak beda dengan keadaan para murid. Kita menjadi khawatir akan banyak hal: penyakit, ekonomi, kekacauan, bahkan politik. Namun, sekadar khawatir malah membuat kita makin khawatir.

Tindakan para murid membangunkan Yesus patut diteladani. Mereka melibatkan Sang Guru untuk mengatasi situasi. Dan Yesus mau terlibat karena itu juga persoalan-Nya.

Agaknya, yang tak boleh kita lupakan, Covid-19 juga merupakan persoalan Tuhan. Bagian kita adalah bersama dengan Dia mencari cara untuk tetap bertahan dan kreatif dalam situasi ini. Tetap menjaga semangat kerja—baik di kantor maupun di rumah—sembari terus menjaga kesehatan pribadi dan keluarga merupakan panggilan utama saat ini.

Selamat Bekerja!

Yoel M. Indrasmoro
Direktur Literatur Perkantas Nasional

Posted on Tinggalkan komentar

Jalan-Nya Tidak Mudah

Banyak hal di dunia ini yang menyebabkan manusia semakin jauh dari Allah. Dosa selalu menghancurkan ciptaan indah Allah, yakni dunia dan segala yang hidup di atasnya. Dalam kondisi ini manusia akan selalu membutuhkan kasih Allah. Manusia selalu haus akan kasih-Nya. Manusia mendambakan terang yang dari Allah.

Di dalam Allah ada kasih kekal. Allah Bapa dan Anak dan Roh Kudus bekerja sama untuk menyelamatkan manusia yang telah jatuh dalam dosa. Itulah satu-satunya penghiburan bagi hati manusia yang sedang berkeluh kesah.

Roh kudus berkenan untuk mengolah hati manusia. Banyak yang dilakukan-Nya dalam kehidupan kita. Bahkan, dalam pergumulan hebat sekalipun, Ia tetap menuntun kita. Bagaimanapun, pada akhirnya oleh anugerah Allah, kita sendiri ingin berjalan di jalan yang ditunjukkan Allah.

Jalan menuju Kristus ialah jalan penyesalan atas dosa-dosa yang telah dilakukan. Dan jalan itu diwarnai oleh emosi yang mendalam, rasa benci terhadap dosa, dan terhadap diri sendiri.

Dalam buku Kaya Roh: Hidup oleh Roh, Berada dalam Kristus, penulis mengingatkan bahwa semuanya dimulai dari Allah. Dan semuanya menuju kepada Dia. Jalan itu tidak berada di luar dunia ini, melainkan melintasi dunia ini. Dan di situ kita berjalan di belakang Dia, yang telah melintasi dunia ini. Kita berjalan di belakang Juru Selamat melintasi dunia ini menuju Rumah. Jalan-Nya tidak mudah, tetapi penuh harapan.

Heru Santoso

Literatur Perkantas Nasional

Posted on Tinggalkan komentar

Berdoa di dalam Roh

”Berdoa itu sukar. Alangkah senangnya seandainya aku bisa mendapatkan ketenangan untuk berdoa. Orang-orang berbicara begitu indahnya tentang hubungan yang hidup dengan Allah, tetapi selagi berdoa pikiranku terbang ke mana-mana. Aku tidak mampu memusatkan perhatianku dengan baik, dan tidak bisa merasakan juga bahwa aku sedang berbicara dengan Seorang yang mendengarkan. Seakan-akan doaku tidak naik ke atas.”

Kondisi tersebut adalah salah satu contoh dari kehidupan doa orang percaya yang diungkap oleh Egbert Brink dalam buku Kaya Roh: Hidup oleh Roh, Berada dalam Kristus. Egbert menemukan, ada orang-orang Kristen yang merasa bahwa berdoa kepada Allah yang hidup ialah seperti tugas yang sukar dan beban yang berat. Mereka tidak puas dengan cara doa mereka sehari-hari, dan baru berusaha keras untuk berdoa setelah mereka berada dalam bahaya besar dan tak tahu lagi harus minta tolong kepada siapa.

Dalam menjawab persoalan-persoalan berkait doa, Egbert mendapati bahwa kita memerlukan bantuan Roh Allah ketika kita berdoa. Kekuatan doa tidak pernah terletak dalam isi doa kita, melainkan dalam Dia, kepada siapa kita berdoa. Doa di dalam Roh berarti memusatkan diri pada Allah sendiri. Pergaulan akrab dengan Bapa dan Anak, itulah yang mahapenting.

Egbert menyadari bahwa pada saat Paulus berbicara tentang persenjataan Allah, dia juga mulai dengan seruan untuk mencari kekuatan pada Allah sendiri (lih. Ef. 6:10 dst.). Dengan demikian Paulus menekankan secara khusus ketergantungan kita kepada Allah untuk menjauhkan kita dari kuasa-kuasa jahat. Itu juga berarti, kita memohon supaya dibebaskan dari pikiran-pikiran yang mengganggu usaha kita dalam menjalin hubungan dengan Allah.

Selain itu, Egbert juga menyinggung bahwa doa di dalam Roh bernada sangat berbeda. Doa itu tidak sombong, melainkan memperdengarkan nada yang penuh ketergantungan kepada Allah. Dengan doa itu orang-orang percaya menggali sumber-sumber kekuatan surgawi, dan dengan demikian mereka dapat merasa lega di hadirat Allah.

Dalam hal ini Egbert menyimpulkan, berdoa dalam Roh menunjukkan bahwa doa bukanlah kekuatan dalam dirinya sendiri. Doa bukanlah sebuah energi yang terpisah, melainkan melalui Roh, doa itu menciptakan keterkaitan dengan Allah yang hidup. Allah ingin dilibatkan dalam hidup kita, dan sama sekali tidak mau dikucilkan dari kehidupan anak-anak-Nya. Bahkan, Dia ingin memakai doa-doa itu untuk mencapai tujuan-Nya.

Namun, Egbert mengingatkan, Allah tidak pernah tergantung pada doa-doa kita, kalau Dia memakai kita dalam pelayanan-Nya. Kita sepenuhnya bergantung kepada Dia.

 

Citra Dewi Siahaan

Literatur Perkantas Nasional

Posted on Tinggalkan komentar

Bukan Kar’na Upahmu

”Bukan kamu yang memilih Aku, tetapi Akulah yang memilih kamu” (Yoh. 15:16). Jelaslah, kita, Anda dan saya, adalah orang pilihan. Berkait dengan pilihan Allah itu, pertanyaan yang layak diajukan ialah mengapa? Apa alasan Allah memilih kita?

Dalam lagu ”Bukan Kar’na Upahmu” yang terekam dalam Pelengkap Kidung Jemaat 265, Godlief Soumokil menyatakan dengan jelas bahwa semuanya itu karena kemurahan Tuhan. Perhatikan liriknya: ”Bukan kar’na upahmu dan bukan kar’na kebajikan hidupmu, bukan persembahanmu dan bukan pula hasil perjuanganmu.”

Karena itulah, bersyukur menjadi hal yang sudah semestinya. Pemazmur mengajak umat untuk mengumandangkan nyanyian baru bagi Tuhan (lih. Mzm. 98:1). Sekali lagi karena Tuhan telah melakukan perbuatan-perbuatan yang ajaib. Dan hal terajaib yang dilakukan Tuhan ialah mengangkat kita menjadi anak-anak-Nya.

Oleh karena itu, jalan terlogis menurut sang penyair ialah ”Janganlah kau bermegah dan jangan pula meninggikan dirimu; baiklah s’lalu merendah dan hidup dalam kemurahan kasih-Nya.” Kita dipanggil untuk hidup dalam kemurahan kasih-Nya.

Tak hanya itu, Tuhan Yesus juga menegaskan: ”Aku telah menetapkan kamu, supaya kamu pergi dan menghasilkan buah dan buahmu itu tetap” (Yoh. 15:16). Allah menetapkan kita untuk pergi.

Sekali lagi, kita tidak dipilih untuk diam, tetapi untuk pergi. Kita tidak dipilih untuk bertopang dagu, melainkan untuk bergerak. Kita tidak dipilih untuk menikmati kasih Allah sendirian, tetapi untuk membagikannya. Itulah yang dimaksudkan Yesus dengan hidup yang berbuah.

Berkait dengan pekerjaan. Sejatinya, semuanya pun karena kemurahan kasih-Nya. Allahlah yang telah memilih dan menetapkan tempat kerja untuk kita. Sehingga, kerja berkualitas merupakan keniscayaan. Tak hanya temporer, tetapi ajek.

Mungkin persoalannya di sini, kadang semangat kita naik turun dalam bekerja. Padahal kerja berkualitas yang ajek merupakan panggilan kita juga.

Selamat Bekerja!

Yoel M. Indrasmoro
Direktur Literatur Perkantas Nasional

Posted on Tinggalkan komentar

Saya Tidak Tahan Lagi, Tuhan

”Saya tidak tahan lagi, TUHAN,” katanya kepada TUHAN. ”Ambillah nyawa saya. Saya tidak lebih baik dari leluhur saya!” (1Raj. 19:4, BIMK). Demikianlah teriakan keputusasaan Elia.

Sebagai nabi, Elia merasa gagal. Izebel terlalu kuat untuk dilawan. Mulanya Elia menduga, Izebel akan berbalik kepada Allah saat mendengar kabar bahwa Allah Israel lebih berkuasa ketimbang Baal.

Perkiraan itu amat meleset. Bukannya bertobat, Izebel mencanangkan vonis mati bagi Elia. Dan Ahab, sang raja Israel itu, ternyata diam saja menyaksikan tekad istrinya. Jika terhadap Allah saja Izebel tidak merasa takut, apalagi terhadap dirinya?

Saya tidak tahan lagi, Tuhan. Adakah di antara kita yang belum pernah mengucapkan kalimat ini? Saya pernah. Dan untunglah, sebagaimana Elia, Allah tidak mengabulkan keinginan saya.

Seandainya Allah menjawab permintaan Elia, kemungkinan besar bangsa Israel tidak akan merasakan pelayanan Nabi Elisa. Kalau Allah menjawab keinginan saya, tulisan ini pun tak pernah ada.

Dan Allah tidak saja memberikan kehidupan, tetapi juga memberi bekal. Dua kali Elia dibangunkan oleh malaikat TUHAN dan dua kali pula ia makan roti bakar dan minum air. Makanan dan minuman itulah yang menjadi bekal bagi Elia untuk menempuh perjalanan berikutnya. Dengan kata lain, makanan dan minuman itulah yang memampukan Elia menempuh perjalanan hidup selanjutnya.

Kisah Elia adalah juga kisah kita. Tentulah, ada masa sulit yang membuat kita merasa tak mampu lagi melanjutkan hidup. Kita merasa lebih baik mati saja. Akan tetapi, Allah senantiasa memberikan bekal kepada kita untuk tetap menjalani perjalanan hidup kita.

Dan hidup berarti pula karya.

Selamat Bekerja!

Yoel M. Indrasmoro
Direktur Literatur Perkantas Nasional

Posted on Tinggalkan komentar

Bagaimana Seharusnya Membaca Alkitab?

Alkitab memang bukan sembarang buku. Melalui Alkitab Allah menyapa manusia. Melalui Alkitab pula, manusia menanggapi sapaan Allah itu. Melalui Alkitab, manusia memuaskan rasa rindu mereka kepada Allah. Mereka ingin memperoleh pegangan, kasih, penghiburan, pertumbuhan, dan koreksi. Namun, secara umum orang beranggapan bahwa Alkitab itu sulit dipahami.

Bagaimanakah kita seharusnya membaca Alkitab? Frans Wisselink—dalam buku Kaya Roh: Hidup oleh Roh, Berada dalam Kristus—menjelaskan kepada pembaca perlunya membedakan antara cerita-cerita alkitabiah dan perintah-perintah alkitabiah.

Dalam Alkiab ada banyak cerita; dan kita harus percaya dengan tulus bahwa cerita-cerita itu menggambarkan apa yang benar-benar telah terjadi. Dalam Alkitab ada juga hukum-hukum dan perintah-perintah dan kita harus menjalankannya dengan taat. Sekali lagi kedua hal itu harus dibedakan.

Sebagai contoh, kisah Ratu Wasti dalam Kitab Ester. Dia kehilangan kedudukannya sebagai ratu karena dianggap tidak taat kepada suaminya. Apakah itu berarti setiap istri harus menaati suaminya tanpa reserve? Tentu tidak bukan! Tergantung konteksnya. Kisah pembuangan Wasti memang membuka jalan bagi Ester untuk menjadi ratu. Namun, kita juga bisa menilai Wasti sebagai seorang perempuan yang teguh dalam prinsip.

Contoh kedua, dalam Kisah Para Rasul Petrus dan Yohanes yang sedang dipenjara secara ajaib dibebaskan. Seorang malaikat membimbing mereka keluar dari penjara. Apakah itu berarti bahwa Allah akan selalu membebaskan utusan-utusan-Nya? Jelas, tidak demikian. Dalam Kisah Para Rasul kita bisa menyaksikan bagaimana Paulus tetap di penjara hingga dibawa ke Roma, atau Stefanus dan Yakobus yang menjadi martir.

Berkait dengan cerita alkitabiah, tentu kita boleh berharap bahwa Allah—jika Dia berkenan—akan memberikan mukjizat-Nya kepada kita seperti dalam cerita. Namun demikian, kita tidak boleh memutlakkannya.

Bagaimana sampai pada kepekaan mampu membedakan antara cerita alkitabiah dan perintah alkitabiah?

Pertama dan terutama adalah marilah kita mulai dengan membaca Alkitab dan merenungkannya! Sebab, bagaimanapun juga, Allah memang ingin menyapa kita!

Yoel M. Indrasmoro
Literatur Perkantas Nasional

Posted on Tinggalkan komentar

Siapa Bertelinga…

”Siapa bertelinga, hendaklah ia mendengar.” (Mat. 13:9). Demikianlah nasihat Yesus kepada para murid-Nya. Mungkin agak keras dalam pandangan kita. Namun, kalimat itu hendak mengingatkan manusia akan keberadaan dan panggilannya selaku manusia. Kenyataannya, banyak orang tak lagi mampu menjadi manusia.

Sekadar contoh: soal pendengaran tadi. Yang bertelinga, tak mau mendengar, apalagi mendengarkan. Lalu, apa arti sepasang telinganya? Bukankah telinga dimaksudkan agar orang mampu mendengar?

Persoalan kemauan dan kemampuan menjadi penting kita renungkan karena kemampuan mendengar belum tentu berbanding lurus dengan kemauan mendengar.

Lagi pula, tak ada kelopak telinga, yang ada hanyalah daun telinga. Itu berarti proses pendengaran tak perlu instruksi otak. Kita tak mungkin menutup telinga sebagaimana mata. Artinya, tak mendengar sungguh aneh.

Lebih aneh lagi, jika manusia merasa perlu menyeleksi apa yang didengarnya. Persoalannya: banyak orang mendengar apa yang ingin didengarnya. Kalau sudah begini, nasihat Sang Guru menjadi modal utama bagi para murid-Nya, yang hari ini memulai minggu kerja baru: ”Siapa bertelinga, hendaklah ia mendengar!”

Selamat Bekerja!

Yoel M. Indrasmoro
Direktur Literatur Perkantas Nasional

Posted on Tinggalkan komentar

Membuka Hati

Dalam dunia psikologis, tingkat depresi turut dipengaruhi oleh respons seseorang dari lingkungan terdekatnya. Semakin depresi seseorang, semakin ia memerlukan perlakuan khusus. Seseorang yang depresi, tetapi merasa dipedulikan pada akhirnya sedikit banyak akan sanggup untuk membuka hatinya. Namun, bagaimana jika seseorang itu diperlakukan sebaliknya?

Buku Kaya Roh: Hidup dalam Roh, Berada dalam Kristus mengungkapkan bahwa banyak sekali berkat yang tersembunyi atau terhalang hanya karena seseorang tidak berani untuk membuka hati. Banyak pergumulan tersembunyi dan tersimpan dalam-dalam hanya karena seseorang tidak mampu membuka hati.

Banyak anak Allah yang karena tidak mempunyai orang lain yang mau mengenal mereka apa adanya lantas merasa kesepian dan tidak bahagia. Di saat-saat seperti itu seseorang membutuhkan orang lain. Seseorang yang mau dan mampu mendengarkan isi hatinya. Seseorang yang mau mengerti situasinya, baik kekalahan maupun kemenangan.

Untuk dapat membuka hati dengan segala sisi kelamnya, seseorang memerlukan orang lain yang dapat ia percaya, yang menunjukkan kasih dan empati yang tulus kepadanya, yang membuatnya merasa aman dan nyaman. Setidaknya dengan begitu ia mampu mengusir rasa takut ditolak dan dihakimi.

Sekalipun demikian, hanya ada Satu Pribadi yang mampu memberikan semua itu. Yesuslah yang senantiasa membuka ruang ketenangan, mengusir rasa takut, dan memuaskan hati kita. Secara pribadi maupun bersama-sama dengan orang lain kita bisa mencari dan menemukan kembali kebahagiaan sejati di dalam Kristus.

Pengampunan Allah senantiasa bagaikan minyak penyembuh bagi jiwa kita. Kasih Allah sanggup mengusir segala rasa takut, ketidakpuasan, dan kebimbangan. Ialah yang senantiasa memberikan kita kelegaan (lih. Mat. 11:28).

Febriana DH

Literatur Perkantas Nasional

Posted on Tinggalkan komentar

Alangkah Baiknya

”Sungguh, alangkah baiknya dan indahnya, apabila saudara-saudara diam bersama dengan rukun” (Mzm. 133:1). Demikianlah Daud memulai nyanyian ziarahnya.

Prinsip kerukunan, menurut Rama Magnis Suseno dalam buku Etika Jawa, bertujuan mempertahankan masyarakat dalam keadaan harmonis. Rukun berarti berada dalam keadaan selaras, tenang dan tentram, dan tanpa perselisihan dan pertentangan. Agar rukun, individu bersedia menomorduakan, bahkan kalau perlu, melepaskan kepentingan-kepentingan pribadi demi kesepakatan bersama. Apakah yang lebih baik dan indah ketimbang hal ini?

Persoalannya: kadang orang berpikir, jika seseorang berbeda pendapat dengan dirinya, maka orang tersebut pasti tidak menyukai dirinya. Sejatinya, orang boleh berbeda pandangan, tetapi harus tetap menghargai setiap pribadi.

Bagaimanapun, menghargai pribadi sebagai pribadi yang unik merupakan penghargaan terhadap Sang Pencipta, yang telah menciptakan keunikan itu. Lagi pula, ada pepatah: ”Selera memang tidak bisa diperdebatkan”.

Ingatlah ketujuh bias warna pelangi! Masing-masing berbeda warnanya, tetapi keragaman warna itulah yang membuat pelangi tampak indah. Bayangkan jika hanya satu atau dua bias warna saja yang muncul! Keindahan itu tampak karena mereka berbeda. Perbedaan itu memperindah dan memperkaya.

Sama halnya dengan alat musik angklung. Satu angklung: satu nada. Masing-masing angklung mempunyai nada tertentu, yang unik dan hanya dimilikinya sendiri. Namun toh, dia tidak dapat hidup sendirian. Untuk menjadi bagian dari sebuah lagu, maka perlu menerima dan menghargai angklung lainnya. Karena berbeda, maka mereka saling membutuhkan. Karena berbeda, mereka bersatu. Perbedaan itulah yang mempersatukan. Dan itu pulalah yang perlu dikembangkan dalam kehidupan kerja kita.

Selamat Bekerja!

Yoel M. Indrasmoro
Direktur Literatur Perkantas Nasional

Posted on Tinggalkan komentar

Rumah Allah

Kehausan Anda tidak mungkin terpuaskan, meskipun Anda berhasil memperoleh segala sesuatu di bumi ini. Anda tidak akan pernah berhenti mencari-cari.

Manusia memang tidak pernah merasa puas. Dalam hidup bergereja kadang kita menemukan orang yang suka pindah-pindah gereja. Mereka terus-menerus mencari gereja yang sesuai dengan keinginannya.

Di tengah-tengah segala tawaran dunia, Kristus memperkenalkan diri-Nya sebagai Air Hidup, yang dapat memuaskan dahaga kita. Sehingga ketika pergi ke gereja, kita tidak perlu mengajukan tuntutan. Bertemu dengan orang-orang yang tak mudah diajak bergaul semestinya tidak lagi menyurutkan kerinduan kita untuk berjumpa dengan Kristus.

Dari kenyataan itu kita belajar memandang gereja dan dunia, memandang orang-orang di sekitar kita. Bukan diri kita sebagai pusatnya, tetapi rumah di dalam hati kita, di mana kita datang ke hadapan Allah. Itulah satu-satunya cara untuk secara bersama-sama dapat menjadi rumah untuk Allah.

Dalam buku Kaya Roh: Hidup oleh Roh, Berada dalam Kristus, Bas Luiten mengajak kita belajar saling membantu, memercayai, peka, mengasihi, mendorong, dan setia satu sama lain dalam menyambut Allah.

Dengan cara itu terjadilah awal hidup bersama dengan semua orang kudus di rumah Allah sendiri.

Heru Santoso
Literatur Perkantas Nasional

Posted on Tinggalkan komentar

Menara Babel

Di manakah letak kesalahan pembuatan Menara Babel? Pastilah bukan pada menaranya. Bukan itu kesalahannya hingga Allah menghentikan pembangunannya. Menara itu tak punya satu kesalahan pun.

Kesalahan bukan pula terletak pada kemampuan manusia dalam membangunnya. Bagaimanapun, manusia—yang dicipta menurut gambar dan rupa Allah—mempunyai kemampuan mencipta.

Kreativitas merupakan bukti terkuat bahwa manusia dicipta menurut gambar dan rupa Allah. Manusia yang tidak kreatif pada dasarnya mengingkari panggilannya selaku manusia. Dan IPTEK merupakan karunia Allah juga.

Lalu, di mana kesalahannya? Kesalahannya adalah pada motivasi di balik pembuatan menara itu. ”Marilah kita dirikan bagi kita sebuah kota dengan sebuah menara yang puncaknya sampai ke langit, dan marilah kita cari nama, supaya kita jangan terserak ke seluruh bumi” (Kej. 11:4). Demikianlah mereka bersepakat satu sama lain.

Mendirikan sebuah kota dengan menara yang sampai ke langit bukanlah kesalahan. Namun, pertanyaannya: mengapa perlu membuat menara? Apa tujuannya? Dan tujuannya: ”cari nama”! Dalam Alkitab BIMK tertera: ”supaya kita termasyhur”. Menara itu dibuat agar manusia terkenal!

Manusia ingin cari nama! Manusia ingin terkenal! Manusia ingin dipuji! Sesungguhnya, semuanya itu merupakan perlawanan kepada Sang Pencipta. Dan pada titik itu Allah bertindak.

Ya, inilah masalahnya. Itu jugalah agaknya yang membuat mereka tak lagi mampu bekerja sama saat tak lagi paham bahasa tutur. Sebenarnya mereka bisa menggunakan bahasa isyarat. Kenyataannya tidak! Mereka sulit bekerja sama karena setiap orang ingin mencari nama sendiri-sendiri.

Nah sekarang, apakah motivasi kerja Anda hari ini?

Selamat Bekerja!

Yoel M. Indrasmoro
Direktur Literatur Perkantas Nasional

Posted on Tinggalkan komentar

Identitas Sejati

Kartu Tanda Penduduk (KTP) dapat dikatakan sebagai salah satu penunjuk identitas ”utama” kita sebagai warga negara. Padahal di dalam KTP hanya ada sedikit keterangan tentang diri kita. Bila kita mau bertanya lebih jauh, apa yang sebetulnya menentukan identitas kita? Pertanyaan seperti—untuk apa kita hidup; tujuan hidup kita; Apa atau siapa yang menguasai hidup kita;—seharusnya mengusik nurani kita lebih dalam.

Setiap orang lahir di bumi sebagai bayi, dan sejak semula tergantung sepenuhnya kepada manusia lain. Hal itu terus berkembang dan tanpa kita sadari, setelah beberapa lama diri kita sudah dipengaruhi dan dibentuk oleh lingkungan itu. Identitas, norma-norma, kapasitas dan perilaku kita, sebagian besar dibentuk dan dikembangkan dari dalam lingkungan.

Hal itu juga terjadi secara rohani. Sebagai manusia, kita menghirup udara di lingkungan rohani sekitar kita. Pada zaman dengan arus informasi yang mengalir deras tiada hentinya, masyarakat semakin lama semakin bersikap hedonis dan konsumtif. Mereka sibuk ingin memuaskan segala keinginan pribadi mereka dengan cepat, dan cenderung mengesampingkan kepentingan sosial.

Dalam situasi seperti itu, timbul pertanyaan mengenai identitas kita sebagai Kristen; Di mana kita seharusnya menanamkan akar-akar kehidupan kita? Apakah atau siapakah yang memengaruhi kemauan kita, pemikiran, perasaan dan tindakan kita?

Dalam buku Kaya Roh: Hidup oleh Roh, Berada dalam Kristus, penulis Jan Waselling menjelaskan bahwa Tuhan Yesus sendiri berbicara—dengan cara yang sangat mengesankan—tentang suatu hal yang mutlak diperlukan, yaitu kelahiran yang baru. Karya terpenting yang dilakukan Roh Allah ialah untuk melahirkan manusia dari Allah.

Menurut penulis, ”Kelahiran kembali” itu bukan semata-mata suatu kejadian penuh emosi yang meluap-luap dan yang timbul dengan tiba-tiba. Kelahiran kembali itu adalah mukjizat bahwa manusia mulai hidup dari Atas, dalam Roh Tuhan Yesus. Jika kita dipenuhi oleh Roh, kita justru menjadi manusia sejati, seperti yang dikehendaki Allah.

Jika kita hidup di dalam Kristus maka Kristus hidup di dalam diri kita. Dan dalam Dia kita akan menemukan identitas sejati diri kita.

Rycko Indrawan S.
Literatur Perkantas Nasional

Posted on Tinggalkan komentar

Jangan Setengah-setengah

Jagat tenis dikejutkan minggu lalu dengan kelahiran juara baru tunggal putri Australia Terbuka (1/2/2020). Sang juara Sofia Kenin mementahkan prediksi pasar taruhan, juga pendapat orang-orang yang meragukan kemampuannya. Di negerinya sendiri, Amerika Serikat, Kenin berada di bawah bayang-bayang Serena Williams, Madison Keys, juga Cori ”Coco” Gauff, petenis 15 tahun yang menembus babak keempat Wimbledon 2019.

Kepada publik, Kenin berpesan, ”Jika punya mimpi, kejarlah.” Pesan yang telah dibuktikannya sendiri di lapangan. Jalannya memang tidak mulus. Kemenangan di Australia Terbuka tercapai setelah kehilangan set pertama. Akan tetapi, semangat bertandingnya membuat dia sanggup membalikkan keadaan.

Kepada Timotius, Paulus berpesan, ”Jangan lalai dalam mempergunakan karunia yang ada padamu, yang telah diberikan kepadamu oleh nubuat dan dengan penumpangan tangan sidang penatua” (1Tim. 4:14).

Karunia yang dimaksudkan di sini adalah jabatan pemimpin jemaat yang diemban Timotius. Itu analog dengan SK Pengangkatan Kerja dalam dunia sekuler. Dan kerja merupakan karunia terbesar manusia setelah keselamatan.

Mungkin persoalan kita bukanlah lalai. Hanya kadang, mungkin karena bosan, kita malah bersikap setengah-setengah dalam bekerja. Yang penting selesai.

Padahal, kerja adalah karunia Allah sendiri. Dan Dia ingin melayani dunia ini melalui kerja kita. Jadi, jangan setengah-setengah. Dan kita bisa belajar dari Kenin dalam hal ini.

Selamat Bekerja!

Yoel M. Indrasmoro
Direktur Literatur Perkantas Nasional

Posted on Tinggalkan komentar

Allah atau Berkat-berkat-Nya?

Siapakah aku? Demikianlah pertanyaan manusia sepanjang abad. Itu jugalah pertanyaan Daud: ”Jika aku melihat langit-Mu, buatan jari-Mu, bulan dan bintang-bintang yang Kautempatkan: apakah manusia, sehingga Engkau mengingatnya? Apakah anak manusia, sehingga Engkau mengindahkannya” (Mzm. 8:4-5).

Dengan rumusan tanya itu, Daud melihat manusia dalam relasinya dengan Allah. Manusia tidak dilihatnya sebagai pribadi otonom—lepas dari Allah; tetapi sebagai pribadi yang diingat dan diindahkan Allah. Dan karena itulah, Daud mengaku dalam refrein, ”Ya TUHAN, Tuhan kami, betapa mulianya nama-Mu di seluruh bumi!” (Mzm. 8:2, 10).

Itu jugalah yang ditekankan Henk ten Brinke, dkk. dalam bukunya Kaya Roh: Hidup oleh Roh, Berada dalam Kristus. Penulis menekankan adanya kaitan antara iman dan relasi. Beriman berarti memercayakan diri. Dan memercayakan diri mensyaratkan  adanya relasi.

Allah adalah Pribadi yang selalu membuka jalan. Kalimat tanya ”Di manakah Engkau?” (Kej. 3:9) menegaskan kerinduan Allah untuk terus bergaul akrab dengan manusia. Dosa adalah situasi di mana manusia merenggut dirinya sendiri lepas dari Allah. Dan hingga kini Allah terus menyapa manusia karena itulah hakikat penciptaan manusia—persekutuan antara Allah dan manusia.

Pada titik ini juga relasi dengan Allah lebih signifikan ketimbang pengalaman iman. Persoalannya, manusia kadang lebih menekankan suatu peristiwa yang wah dan adikodrati, yang akhirnya malah menjerumuskannya dalam jurang kesombongan rohani. Padahal semua peristiwa itu sejatinya berkat Allah semata.

Nah, sekarang pilih mana: Allah atau berkat-berkat Allah?

Yoel M. Indrasmoro
Literatur Perkantas Nasional

Posted on Tinggalkan komentar

Carilah Tuhan

”Carilah TUHAN, maka kamu akan hidup” (Am. 5:6). Demikianlah nasihat Amos. Nasihat logis. Allah itu sumber hidup. Kalau mau hidup, ya carilah Dia.

Mencari Allah berarti menjadikan Dia fokus kehidupan kita. Pandangan mata hati kita terarah kepada-Nya. Dan itulah yang membuat kehidupan kita sungguh hidup.

Dan dalam mencari Allah, Amos mengajak umat Israel tak sekadar puas dengan tidak berbuat jahat, tetapi aktif melakukan yang baik. ”Bencilah yang jahat dan cintailah yang baik; dan tegakkanlah keadilan di pintu gerbang; mungkin TUHAN, Allah semesta alam, akan mengasihani sisa-sisa keturunan Yusuf” (Am. 5:15).

Di sinilah persoalan manusia pada umumnya: Sudah merasa puas jika tidak berbuat jahat. Padahal, dalam bilangan bulat, sekadar tidak berbuat jahat nilainya nol. Dan karena itu, kita dipanggil untuk berbuat baik.

Caranya adalah dengan menegakkan keadilan. Itu berarti menerapkan keadilan dalam diri. Sederhana saja: jika Saudara mempunyai pembantu rumah tangga, berikan upahnya pada waktunya.

Bayarlah juga utang Saudara! Jangan pernah berpikir bahwa orang yang berpiutang itu tak akan menjadi miskin seandainya Saudara tidak membayar utang. Tidak. Kita harus bersikap adil!

Bersikap adil juga berarti menyeimbangkan antara hak dan kewajiban dalam pekerjaan kita. Menuntut hak tanpa menunaikan kewajiban tentu bukanlah hidup yang seimbang. Dan semua ketidakseimbangan niscaya akan membuat kita jatuh.

Selamat Bekerja!

Yoel M. Indrasmoro
Direktur Literatur Perkantas Nasional

Posted on Tinggalkan komentar

Kematian Bukan Akhir Segalanya

”Jangan merohanikan hal ini. Hadapilah kenyataan. Tidak berpura-pura. Jika inilah akhir dari hidupnya, maka hadapilah akhir hidupnya.” Kalimat inilah yang muncul dalam benak Mark Yaconelli ketika melihat kondisi ayahnya yang kritis akibat kecelakaan mengerikan. Ia belum pernah sedekat ini dengan kematian. Akhirnya, sekitar menjelang dini hari, jantung sang ayah yang lemah dan berdenyut tidak beraturan, melambat, dan kemudian makin melambat, dan akhirnya berhenti.

Kisah ini menginspirasi bab terakhir buku Karunia Penderitaan: Menemukan Allah dalam Situasi Sulit dan Mencekam, yang ditulis oleh Mark sendiri. Tak ada seorang pun yang dapat luput dari kematian. Cepat atau lambat setiap insan pasti mengalaminya. Kita hanya sedang menunggu giliran. Itu artinya, kita perlu mempersiapkan diri bilamana saat itu tiba.

Yang menarik dari kisah Mark, sekalipun diliputi kepedihan yang memilukan, ia merasa damai. Kedamaian yang tak terbantahkan itu mengalir dan mengalir di balik hatinya yang pilu. Bahkan, sejak saat itu saudara perempuan Mark tidak lagi takut pada kematian karena, entah bagaimana, ia pun merasakan kedamaian. Dengan kata lain, ia menjadi siap menghadapi kematian.

Sejatinya, kematian bukanlah akhir segalanya. Sebagai Kristen kita mengimani bahwa ada kehidupan setelah kematian. Sebagaimana tertulis dalam 1 Tesalonika 4:14: ”Karena jikalau kita percaya, bahwa Yesus telah mati dan telah bangkit, maka kita percaya juga bahwa mereka yang telah meninggal dalam Yesus akan dikumpulkan Allah bersama-sama dengan Dia.” Kematian memungkinkan kita bertemu dengan Sang Sumber Damai Sejati.

Dan sampai saat itu tiba, kita bisa terus mempersiapkan diri dengan menjadikan doa Musa dalam Mazmur 90:12 sebagai doa kita juga: ”Ajarlah kami menghitung hari-hari kami sedemikian, hingga kami beroleh hati bijaksana.”

Citra Dewi Siahaan
Literatur Perkantas Nasional

Posted on Tinggalkan komentar

Tuhan Menyediakan

Kisah pengurbanan Ishak di gunung Moria (Kej. 22:1-14) sungguh menarik disimak. Dalam bukunya, How To Enjoy The Bible, Pastor Leo van Beurden, OSC menyatakan tindakan Abraham itu sebagai puncak perjalanan iman Abraham. Pada mulanya Abraham diminta meninggalkan masa lalunya dan hanya berpegang kepada Allah. Sekarang dia diminta melepaskan masa depannya—keturunannya Ishak—dan berpegang kepada Allah saja.

Abraham menyambut permintaan Allah itu dengan baik. Tampaknya dia percaya bahwa Allah tidak akan pernah melupakan janji-Nya. Bukankah Allah yang telah menolongnya selama ini?

Memang bukan perkara ringan. Bagaimanapun, Ishak adalah anak yang dijanjikan Allah. Abraham pun sangat mengasihinya. Namun demikian, Abraham menyambut permintaan Allah itu karena tak ingin mengecewakan Allah. Meski taruhannya adalah nyawa anaknya sendiri.

Lagi pula, Abraham percaya bahwa kehendak Tuhan, meski terkadang aneh, merupakan hal yang terbaik baginya. Dan Abraham belajar untuk percaya. Bicara soal keturunan, dia memang pernah berbuat salah ketika mengambil Hagar sebagai selir dan melahirkan Ismael. Dan dia tidak ingin berbuat salah lagi.

Iman Abraham itu tampak saat dia berkata, ”TUHAN menyediakannya!” Sesungguhnya, jalan hidup Abraham memang demikian. Allahlah yang menyediakan apa yang dibutuhkannya. Kalau Dia hendak mengambilnya, mengapa pula harus menolak? Bukankah semuanya itu berasal dari Dia? Bukankah Tuhan yang menyediakan apa yang dimilikinya?

Dan sebagaimana Abraham kita pun dapat berkata, sebagaimana pemazmur, ”Tetapi aku, kepada kasih setia-Mu aku percaya, hatiku bersorak-sorak karena penyelamatan-Mu. Aku mau menyanyi untuk Tuhan karena Ia telah berbuat baik kepada-Ku…” (Mzm. 13:5). Percayalah.

Selamat Bekerja!

Yoel M. Indrasmoro

Direktur Literatur Perkantas Nasional

Posted on Tinggalkan komentar

Karunia Kegelapan

“Allah tiba-tiba menjadi diam, tersembunyi dan tidak dapat diakses. Ibadah, doa, dan praktik rohani lainnya tidak memberikan penghiburan seperti yang biasanya saya dapatkan. Praktik keimanan saya mulai terasa tidak berguna, sering kali kosong, terasa asing dan bahkan tidak autentik. Kitab Suci menjadi datar dan tidak menarik, dan keinginan berdoa dan beribadah sepertinya lenyap.” Demikianlah paparan Marc Yaconelli dalam bukunya Karunia Penderitaan.

Apakah Anda pernah merasakan semua itu? Jika pernah, percayalah Anda tidak sendirian. Banyak orang kudus merasakannya. Yesus orang Nazaret pun pernah berseru dari atas kayu salib, “Bapak Kau tinggalkan Aku sendiri?”

Ya, kita tidak sendirian. Bahkan, kita perlu menerima situasi dan kondisi itu—yang digambarkan Yaconelli dengan jiwa dalam kegelapan malam—dengan penuh syukur.

Mengapa? Karena dalam kegelapan malam itulah, Allah mengubah kita. Malam yang gelap merupakan waktu pembebasan bagi untuk Allah menyapih kita dari ketergantungan kita pada pengalaman rohani, memberdayakan kita untuk tidak lagi hidup “sebagai hamba, tetapi sebagai sahabat”.

Menurut Yaconelli, ketika merangkul ketidaktahuan karena percaya bahwa Allah bertanggung jawab atas kehidupan rohani kita, kita bisa belajar untuk bersandar, mengambil risiko, dan melepaskan kegelisahan kita akan masa depan.

Dan biasanya pula dalam malam yang gelap itu Allah memberikan para sahabat iman yang akan menolong kita untuk tetap beriman. Itu jugalah yang dialami Bunda Teresa. Ketika berkali-kali hendak meninggalkan pelayanannya karena merasa kosong rohani, saudara-saudara perempuannya dan pembimbing rohaninya mengingatkan: meski ia tidak merasakan imannya sendiri, hidupnya terpancar dari Kasih Allah.

Karena itu, marilah kita senantiasa berseru, sebagaimana Kidung Jemaat 406:3, “Dan bila tak kurasa kuasaMu, Engkau senantiasa di sampingku. Ya Tuhan, bimbing aku di jalanku, sehingga ’ku selalu bersamaMu.”

Yoel M. Indrasmoro
Literatur Perkantas Nasional

Posted on Tinggalkan komentar

Hukum dan Keadilan

”Ya Allah, berikanlah hukum-Mu kepada raja dan keadilan-Mu kepada putera raja!” (Mzm. 72:1). Catatan redaksi Mazmur 72 menarik disimak: mazmur ini berasal dari Salomo yang menyatakan bahwa awalnya merupakan doa-doa Daud bin Isai.

Doa ini memperlihatkan betapa ”kuasa,” mengutip Lord Acton, ”cenderung membuat manusia menjadi korup dan kuasa yang mutlak pasti korup.” Setulus-tulusnya orang, ketika berkuasa tak steril dari sikap menjadi diktator. Itu jugalah pengalaman Daud, khususnya ketika dia merebut Batsyeba dari Uria.

Agaknya sengaja diberi catatan bahwa mazmur ini merupakan doa dari Daud bin Isai. Yang ditekankan bukanlah keberadaan Daud sebagai raja, tetapi sebagai manusia biasa—daging belaka, yang memang rentan. Di Getsemani pun, Sang Guru mengingatkan, ”roh memang penurut, tetapi daging lemah” (Mat. 26:41).

Dalam doanya, Daud memohon hukum Allah. Dia kelihatannya sadar bahwa manusia yang berkuasa kadang merasa boleh melakukan apa saja. Sejarah mencatat begitu banyak diktator. Bahkan, Raja Louis XIV kabarnya pernah berujar, l’etat c’est moi ’negara adalah saya’.

Tak hanya raja, Daud juga menyadari bahwa anak-anak raja kadang merasa lebih hebat dari raja. Mungkin ini juga pengalaman Salomo. Sehingga mereka pun perlu berlajar bersikap adil. Dasar keadilan itu bukan perasaan atau pikiran pribadi, tetapi hukum Allah.

Sejatinya, bukan soal besar atau kecilnya kuasa. Tukang parkir pun bisa menyalahgunakan kuasanya jika ada pengemudi yang dirasa semaunya. Karena itu, manusia perlu membatasi diri. Yang bisa membatasi hanyalah Allah sendiri.

Sesungguhnya aturan dibuat bukan untuk mengikat, tetapi menolong manusia dalam menjaga dirinya agar tetap bermartabat manusia. Dan dalam hidup ada banyak aturan. Salah satunya aturan kerja di kantor kita. Butuh kerelaan untuk mengikatkan diri padanya. Itulah makna sebuah komitmen.

Selamat Bekerja!

Yoel M. Indrasmoro
Direktur Literatur Perkantas Nasional

 

 

Posted on Tinggalkan komentar

Belajar dari Penderitaan

Apa yang dapat dilakukan penderitaan? Jawabnya: anugerah, belas kasihan, dan pengampunan.

Dalam buku Karunia Penderitaan: Menemukan Allah dalam Situasi Sulit dan Mencekam, Mark Yaconelli menceritakan kisah seorang istri yang mengampuni laki-laki yang menabrak suaminya hingga akhirnya meninggal. Ketika mendengar si penabrak mencoba bunuh diri karena penyesalan yang dalam, wanita itu segera mendatanginya ke penjara. Ia memeluk dan memberi penguatan. Katanya, ”Sudah cukup kematian itu. Saya ingin kamu hidup.” Dan dengan pasti ia menegaskan kepada laki-laki itu, ”Itu kecelakaan.”

Kepada setiap orang percaya, Tuhan mengaruniakan kemampuan untuk mengampuni. Untuk menjadi orang yang menyembuhkan, sekaligus disembuhkan. Kebanyakan orang menghabiskan sebagian besar energi dan perhatian untuk membiarkan kecemasan dan penyesalan, sehingga tidak mampu bersyukur di tengah kemalangannya.

Seperti dalam musibah banjir dan longsor yang baru terjadi belakangan ini. Tak sedikit orang mencari kambing hitam dari persoalan itu, menuntut, bahkan mungkin mengumpat cara pemerintah menata kota atau desa. Di lain pihak, ada yang begitu sibuk membela diri.

Banjir sudah surut, dan longsor sedang ditangani, tetapi hidup bagi sebagian masyarakat tidak sama lagi. Kita tentu tidak mengharapkan penderitaan. Akan tetapi, penderitaan sudah terjadi, dan kehadirannya membawa karunia tersendiri.

Seperti tertulis dalam 2 Korintus 12:9: ”’Cukuplah kasih karunia-Ku bagimu, sebab justru dalam kelemahanlah kuasa-Ku menjadi sempurna.’ Sebab itu terlebih suka aku bermegah atas kelemahanku, supaya kuasa Kristus turun menaungi aku.”

Dalam penderitaan, kita dapat belajar banyak. Salah satunya, merasakan mata air belas kasihan yang bersumber dari Kristus sendiri! Percayalah!

Ririn Sihotang
Literatur Perkantas Nasional

Posted on Tinggalkan komentar

Hati yang Berhikmat

”Berikanlah kepada hamba-Mu ini hati yang paham menimbang perkara untuk menghakimi umat-Mu dengan dapat membedakan antara yang baik dan yang jahat…” (1Raj. 3:9). Demikianlah jawaban Salomo ketika Allah memberinya kesempatan untuk meminta apa pun juga.

Salomo agaknya sadar bahwa dirinya raja—pengambil keputusan tertinggi di kerajaan. Sehingga, dia lebih memprioritaskan hati yang berhikmat ketimbang usia, harta, dan kemenangan. Dan permintaan Salomo itu baik di mata Allah karena seturut kehendak-Nya.

Salomo tidak meminta hikmat. Tidak. Hikmat bukan sesuatu yang sudah jadi dari sananya. Semua itu bersumber dari hati. Fokus Salomo adalah hati yang mampu menimbang-nimbang: mana yang benar, baik, dan tepat.

Kunci hati yang berhikmat adalah persekutuan dengan Allah. Tuhan Yesus pernah bersabda: ”Akulah terang dunia; siapa saja yang mengikut Aku, ia tidak akan berjalan dalam kegelapan, melainkan ia akan mempunyai terang kehidupan” (Yoh. 8:12). Manusia hanya mampu mengambil keputusan jernih dalam terang. Dalam gelap yang ada hanyalah kegamangan, bahkan ketakutan.

Ketika kita memiliki terang kehidupan, kita pun dapat menerangi hidup orang lain. Pada titik ini setiap keputusan dan tindakan yang kita ambil tidak hanya berguna untuk diri kita sendiri, tetapi juga untuk orang lain—sebagaimana Salomo!

Tahun kerja baru sudah di depan mata. Apa pun level pekerjaan kita, semuanya itu berkait dengan keputusan. Dan hati yang berhikmat adalah kuncinya.

Selamat Bekerja!

Yoel M. Indrasmoro
Direktur Literatur Perkantas Nasional

Posted on Tinggalkan komentar

Karunia Kehilangan

Dalam kehidupan sehari-hari kita sering diperhadapkan dengan kisah kehidupan yang tragis. Seperti di negara-negara yang masih mengalami konflik perang, di mana anak-anak sering kali menjadi korban. Saat melihat hal itu, timbul pertanyaan: seberapa besar harapan kita untuk memercayai kasih Allah?

Mark Yaconelli dalam buku Karunia Penderitaan: Menemukan Allah dalam Situasi Sulit dan Mencekam, menjelaskan bahwa kita menjadi penuh pengharapan ketika kita berada dalam kegelapan dan menunggu cahaya. Kita dapat berharap ketika kita bersikap jujur satu sama lain tentang rasa sakit kita dan kemudian menunggu, bersama, agar Allah menunjukkan jalan kepada kita menuju penyembuhan.

Masing-masing dari kita ingin menghindari kesedihan, bukan hanya karena kita ingin menjaga diri kita aman dari rasa sakit karena kehilangan, tetapi juga karena kita tidak ingin jatuh ke dalam keputusasaan karena ketidakberartian. Namun, Elisabeth Kübler-Ross, seorang psikiater Amerika berkata, ”Kehilangan adalah guru yang hebat.” Tanpa kesediaan untuk menghadapi kehilangan, kita tidak akan belajar apa-apa.

Kita bersembunyi dari orang lain. Kita melakukan kesalahan yang sama berkali-kali. Kita menjadi mati rasa terhadap penderitaan. Kita kehilangan kapasitas untuk berbelaskasihan dan bersukacita. Kita membentengi hati kita terhadap kehadiran Allah—Tuhan Yesus, Allah yang menderita, Allah yang menangis, dan Allah yang tertawa.

Jika kita ingin membawa pengharapan bagi yang terluka dan sekarat di dunia ini, maka kita harus mau masuk ke dalam penderitaan, seperti teladan Tuhan Yesus. Kita harus jujur tentang penderitaan kita sendiri, luka kita sendiri, kesedihan kita sendiri, serta penderitaan yang ada di dunia.

Ketika jiwa kita sudah siap, kita akan merasakan tangan Sang Penahan Kepedihan, Sang Pemberi Hidup, Yang Penuh Belas Kasihan, datang untuk menolong kita, membantu kita menanggung beban itu.

Rycko Indrawan

Literatur Perkantas Nasional

Posted on 2 Komentar

Karunia Ketidakberdayaan

Pernahkah kita kehilangan sesuatu atau seseorang yang berarti bagi kita? Perubahan tak bisa dihindari, termasuk melepaskan sesuatu atau seseorang yang sangat berharga.

Dalam waktu singkat rekan bisa berubah sikap, lebih memercayai kabar burung daripada kebenaran yang kita katakan. Berharap kepada manusia dan benda memang mengecewakan. Berharaplah hanya kepada Sang Juru Selamat yang selalu mengerti dan peduli.

Tak semua hal dapat kita prediksi dan kontrol. Kita tak bisa mencegah perubahan yang terjadi. Roh Kudus mengizinkan kita untuk merasakan ketakutan, ketidakpastian, dan rasa sakit karena melepaskan hal-hal tertentu.

Dalam buku Karunia Penderitaan: Menemukan Allah dalam Situasi Sulit dan Mencekam, Mark Yaconelli menceritakan tentang pengalamannya saat mengantarkan anaknya, Joseph, ke hutan kecil untuk merenung dan berdoa seorang diri, dalam mengikuti bagian dari upacara pembaiatan (upacara penduduk asli Amerika untuk menemani seorang anak melewati perjalanan hidupnya dari masa kanak-kanak menuju remaja).

Joseph terjebak hujan salju selama berjam-jam. Banyak orang yang mencemaskan Joseph. Namun, Mark memutuskan untuk tidak mencari Joseph sebab ia percaya Joseph akan berhasil kembali kepadanya—ia meyakini inilah pembaiatan. Tuhan menolong Joseph dan ia berhasil kembali pulang dengan selamat.

Roh Kudus mengajarkan kepada penulis untuk melawan rasa takutnya sebagai orang tua dan percaya bahwa anak-anaknya akan bertumbuh menjadi pria dewasa. Mark memercayai Allah. Mark menyadari bahwa ia tidak memiliki kekuatan untuk menjaga anak-anaknya agar selalu aman.

Mark merasakan bahwa di tengah ketidakberdayaannya, hatinya tetap percaya. Iman tidak mencegah tragedi dan penderitaan, tetapi iman itu melampaui ketakutan dan ketidakpastian. Allah sudah cukup. Apa pun yang menimpa anak-anaknya dalam kehidupan ini, Allah akan selalu memegang, menjaga, dan memberkati mereka.

Saat Joseph dibaptis, Pendeta menumpangkan tangan di atas kepala Joseph, lalu berdoa, ”Semoga Tuhan memberkatimu dan menjagamu, hari ini dan di sepanjang hidupmu.” Pada momen itulah Mark merasakan karunia ketidakberdayaan. Mark tidak bisa mengontrol kehidupan fisik, emosional, atau spiritual anak-anaknya selamanya.

Doa Pendeta tersebut selalu dikenang oleh Mark. Mark percaya bahwa Tuhan memberkati dan menjaga anak-anaknya, hari ini dan di sepanjang hidup mereka. Doa ini merupakan bagian dari karunia ketidakberdayaan.

Izinkan diri kita untuk mendoakan ketidakberdayaan kita secara berulang-ulang, merespons dengan percaya: ”Ke dalam tangan-Mu kuserahkan nyawaku”, meneladani penyerahan terakhir Tuhan Yesus saat Ia menderita tak berdaya di atas kayu salib. Niscaya kita akan mendapatkan kelegaan.

Priskila Dewi Setyawan
Literatur Perkantas Nasional

Posted on Tinggalkan komentar

Jangan Korup!

Pada Hari Antikorupsi Internasional, 9 Desember ini, Yohanes Pembaptis mempunyai pesan layak simak. Kepada para pemungut cukai, dia berkata, ”Jangan menagih lebih banyak daripada yang telah ditentukan bagimu” (Luk. 3:13). Tegasnya: jangan menyalahgunakan jabatan. Jangan korup!

Jabatan itu amanat, bukan alat untuk mengumpulkan kekuasaan dan menggunakannya demi kepentingan pribadi. Kalaupun dipahami sebagai alat, ya harus dipakai untuk kesejahteraan umum.

Kepada para prajurit yang bertanya, anak Zakharia itu menjawab, ”Jangan merampas dan jangan memeras dan cukupkanlah dirimu dengan gajimu” (Luk. 3:15). Jelas maknanya: jangan menyalahgunakan wewenang dan cukupkan diri dengan gaji yang ada!

Yohanes Pembaptis menegaskan pentingnya rasa cukup. Manusia tentu boleh mempunyai keinginan, tetapi jangan ngoyo! Jangan sampai keinginan itu mendorong kita menjadi preman-preman baru, yang hobinya merampas dan memeras.

Penyalahgunaan jabatan dan wewenang sejatinya akan menimbulkan keresahan dan kerusuhan dalam hati pelakunya. Mereka akan dihantui perasaan takut ketahuan. Itu pulalah yang membuat hatinya makin gelisah.

Belum lagi dengan kenyataan—ini dampak buruk reformasi ’98—mantan pejabat biasanya menjadi bulan-bulanan pejabat berikutnya. Saat menjadi pejabat, orang gentar benar terhadap jabatannya. Baru setelah pensiun, orang mulai mengungkit-ungkit borok lama. Oleh karena itu, selama menjabat, jangan sekali-kali korup!

Pesan Yohanes Pembaptis sederhana. Saking sederhananya, mungkin kita malah mengabaikannya. Padahal, segala hal besar dibangun oleh tindakan-tindakan sederhana.

Selamat Bekerja!

Yoel M. Indrasmoro
Direktur Literatur Perkantas Nasional

Posted on Tinggalkan komentar

Kasihilah Musuhmu

”Hal apa yang paling sulit kau lakukan?” tanya seorang teman kepadaku ketika kami bermain truth or dare, yang sengaja kami buat di tengah acara api unggun malam itu. Pertanyaan seperti itu membuatku tersenyum lega. Mudah sekali pikirku. Dan tanpa babibu aku menjawab, ”Tidak mendendam.”

Realitas mau tidak mau menghadapkan manusia pada satu kesulitan tertentu yang sangat spesifik dalam hidupnya. Realitas itu bak pertanyaan yang mudah sekali untuk dijawab, tetapi dengan jawaban yang sulit sekali dipraktikkan.

Dalam buku Karunia Penderitaan: Menemukan Allah dalam Situasi Sulit dan Mencekam, Mark Yaconelli mengungkap adanya penelitian dari ahli saraf bahwa bagi otak manusia mendendam adalah suatu hal yang ternyata sangat menyenangkan. Semua perasaan buruk yang muncul sebagai respons terhadap penghinaan, luka masa lalu, dan ketidakadilan yang pernah dialami atau dirasakan seseorang tiba-tiba harus dilepaskan, dan sistem emosional manusia diseimbangkan kembali ketika diberi kesempatan untuk menyerang orang lain, meskipun mungkin kita tidak mendapat manfaatnya.

Kemarahan kita mencari lawan untuk melampiaskan sakit hati yang terpendam. Sering kali ”musuh” sangat ingin membalas. Siklus pembalasan itu berputar dan berputar, mencari kesempatan untuk saling menatap dalam amarah dan akhirnya seperti kata Gandhi, ”semua orang menjadi buta.”

Ajaran Yesus adalah upaya untuk memutus siklus tersebut. Yesus tidak membalas kemarahan dengan kemarahan. Yesus tidak pernah membalas ejekan, lontaran yang tidak manusiawi, kebencian, dan kekerasan yang diterima-Nya. Bahkan menjelang kematian-Nya, Ia menolak untuk mengutuk para penganiaya-Nya. Ia berdoa, ”Ya Bapa, ampunilah mereka, sebab mereka tidak tahu apa yang mereka perbuat” (Luk. 23:34).

Kita diundang Yesus untuk berhenti sejenak dan mendengarkan sekeliling kita secara lebih mendalam. Ia ingin kita menyadari bahwa dendam adalah luka yang sejatinya hanya membutuhkan pera­watan-Nya. Dan Dia rindu kita yang telah dipulihkan-Nya, bisa berbalik dan melepaskan pengampunan kepada orang yang telanjur menyakiti kita, seperti dalam perintah-Nya: ”Kasihilah musuhmu”.

Febriana Dyah Hardiyanti

Literatur Perkantas Nasional

Posted on Tinggalkan komentar

Aku Menunggu-nunggu

Apakah yang kita lakukan sesudah bangun tidur hari ini? Jawabannya mungkin beragam. Dan Daud punya pernyataan yang baik untuk disimak: ”TUHAN, pada waktu pagi Engkau mendengar seruanku, pada waktu pagi aku mengatur persembahan bagi-Mu, dan aku menunggu-nunggu” (Mzm. 5:4).

Pertama, yang dilakukan Daud adalah berseru. Berseru mengandaikan bahwa dia butuh Allah. Seruan mengandaikan juga bahwa dia tidak sendirian. Setidaknya ada Pribadi yang diyakini bersedia mendengarkan seruannya. Daud rindu bersekutu dengan Allah.

Kedua, Daud mengatur persembahan bagi Allah. Persembahan tak perlu dibatasi hanya dengan uang. Mengatur persembahan bisa diartikan juga mengatur segala agenda yang akan dilakukan hari itu. Itu berarti, semua hal yang akan kita lakukan sepanjang hari ini layak dipersembahkan kepada Allah.

Ketiga, Daud menunggu-nunggu. Dia sedang menunggu berkat Allah. Berkat Allah merupakan modal utama dalam seluruh kehidupan manusia. Daud tahu itu. Dia menunggu berkat Allah mengalir sepanjang hari melalui segala yang dia lakukan pada hari itu. Dia terus menggantungkan dirinya kepada Allah.

Bagaimana dengan kita? Apakah kita juga terus menunggu-nunggu Allah bekerja melalui semua kegiatan kita hari ini?

Selamat Bekerja!

Yoel M. Indrasmoro
Direktur Literatur Perkantas Nasional

Posted on Tinggalkan komentar

Menyembuhkan Luka

Sebagai makhluk yang lembut dan rapuh, kita membutuhkan perawatan dan cinta kasih. Kita membutuhkan pandangan mata yang menerima kita dengan ramah dan telinga yang mendengar suara kita.

Banyak hal yang kita lakukan untuk melindungi diri dari semua hal. Akan tetapi, sesekali kita akan mengalami suatu pengalaman yang melukai hati kita. Pengalaman tersebut terkadang bisa menjadikan kehidupan kita selanjutnya menuju kehancuran. Memang tak mudah untuk pulih dari rasa kecewa.

Pada saat memikirkan hal yang melukai itu, kadang kita bertanya di mana Allah berada. Allah berasa tidak ada di saat seperti ini. Namun, sebenarnya Allah sudah menunggu kita untuk diterima di antara yang terluka dalam diri kita.

Melalui buku Karunia Penderitaan: Menemukan Allah dalam Situasi Sulit dan Mencekam, Mark Yaconelli mengajak kita untuk jangan melihat dari pengalaman masa lalu kita yang melukai hati kita. Akan tetapi, gambarkan pengalaman itu seolah-olah kita adalah pengamat luar yang menonton pengalaman tersebut. Kita bisa melihat semua dan bisa menambah atau mengurangi dan bahkan menghapus dari cerita masa lalu yang melukai kita.

Setiap luka dalam diri kita tidak akan ditolak oleh Allah, dan jika kita bersedia pergi dan duduk dengan perasaan malu dengan luka yang ada dalam diri kita sendiri, kita bisa mendengar suara Dia yang mengasihi dunia ini, memanggil nama kita dengan suara yang penuh kasih.

Heru Santoso

Literatur Perkantas Nasional

Posted on Tinggalkan komentar

Melayani dengan Kekayaan

”Perempuan-perempuan ini melayani rombongan itu dengan kekayaan mereka” (Luk. 8:3). Subjeknya adalah perempuan-perempuan ini. Mereka bukan laki-laki. Mereka perempuan, golongan yang kurang mendapat tempat dalam budaya Yahudi.

Akan tetapi, Lukas mencatat bahwa perempuan-perempuan juga diberi tempat untuk melayani rombongan Yesus. Mereka boleh melayani. Pelayanan tidak hanya monopoli laki-laki. Perempuan pun boleh menjadi pelayan.

Dalam Alkitab BIMK tertera: ”Dengan biaya sendiri, mereka membantu Yesus dan pengikut-pengikut-Nya.” Jelaslah, mereka menggunakan biaya sendiri. Artinya: dengan uang mereka sendiri, mereka membantu Yesus dan pengikut-Nya.

Pelayanan butuh modal. Dan modal terbesar bukan uang, namun manusia. Manusialah yang punya uang. Tersirat, para perempuan itu memandang uang sebagai alat. Kekayaan hanya alat. Dan, penting dicatat, pelayanan bukan untuk mencari kekayaan.

Mengapa mereka melakukannya? Tak mudah menjawabnya! Namun, kita bisa menambahkan sebuah tanya: ”Mengapa kita tidak melakukannya?

Selamat Bekerja!

Yoel M. Indrasmoro
Direktur Literatur Perkantas Nasional