Posted on Tinggalkan komentar

Menunda

(Ams. 3:28)

”Janganlah engkau berkata kepada sesamamu: ’Pergilah dan kembalilah, besok akan kuberi,’ sedangkan yang diminta ada padamu.” Dalam Alkitab Bahasa Indonesia Masa Kini tertera: ”Janganlah menyuruh sesamamu menunggu sampai besok, kalau pada saat ini juga engkau dapat menolongnya.”

Penulis Kitab Amsal, sebagaimana ayat 27, menasihatkan pembacanya untuk tidak menunda untuk melakukan kebaikan. Mengapa? Pertama, Bisa jadi orang tersebut memang membutuhkannya saat itu juga. Ada unsur kemendesakkan di sini. Esok mungkin sudah terlambat.

Kedua, apakah memang itu merugikan kita? Jika tidak, mengapa kita harus menundanya? Bisa jadi kita berpikir untuk mengujinya. Jika memang demikian, pertanyaannya adalah mengapa pula kita harus mengujinya. Bagaimana perasaan orang tersebut jika tahu bahwa kita memang sedang mengujinya.

Ini memang bukan perkara gampang. Akan tetapi, semasa hidup, Sang Guru dari Nazaret, pernah berkata, ”Karena orang-orang miskin selalu ada pada kamu” (Yoh. 12:8). Karena itu, ketika ada orang datang meminta pertolongan—dan kebenaran kita memang mampu menolong—berikanlah itu. Jangan pernah menundanya!

Lagi pula, ketika seseorang meminta pertolongan kita, sejatinya dia percaya bahwa kita akan mau—dan mungkin mampu—menolongnya. Dengan kata lain, dia memercayai kita. Kalau memang enggak mampu, baiklah kita terus terang mengatakannya. Namun, jika kita mampu, lakukanlah itu dengan tulus!

SMaNGaT,

Yoel M. Indrasmoro
Literatur Perkantas Nasional

Foto: Danial Ricaros

Posted on Tinggalkan komentar

Menahan Kebaikan

(Ams. 3:27)

”Janganlah menahan kebaikan dari pada orang-orang yang berhak menerimanya, padahal engkau mampu melakukannya.” Demikianlah nasihat penulis Kitab Amsal kepada pembacanya. Dalam Alkitab Bahasa Indonesia Masa Kini tertera: ”Jika kau mempunyai kemampuan untuk berbuat baik kepada orang yang memerlukan kebaikanmu, janganlah menolak untuk melakukan hal itu.”

Dalam nasihat ini jelas, penulis bicara soal kemampuan dan kemauan. Dia menekankan pentingnya kemauan bagi yang mampu melakukan. Kemampuan itu sendiri merupakan berkat. Tak semua orang mampu melakukan. Nah, ketika kita memang mampu, mengapa pula tidak melakukannya?

Persoalannya sering memang di sini. Kadang kita berkhayal bahwa kita akan melakukan kebaikan seandainya mampu. Hanya masalahnya, saat mampu kita malah lupa melakukannya. Padahal, sekali lagi, kemampuan itu adalah berkat dari Allah sendiri. Sehingga ketika tidak melakukannya, kita mungkin perlu bertanya lagi mengapa Allah mengizinkan kita mempunyai kemampuan itu.

Sekali lagi, persoalannya sering memang di sini. Ketika kita mampu, kemauan itu mendadak sirna. Mungkin ini juga alasannya, penulis Kitab Amsal mencantumkan perintah ini: ”janganlah menahan kebaikan!”

Kelihatannya kebaikan memang sesuatu yang otomatis mengalir, seperi air yang selalu mencari tempat rendah, dan mustahil ditahan. Dan kebaikan itu sesungguhnya memang dari Allah asalnya. Sehingga, aneh rasanya jika kita malah menahannya.

SMaNGaT,

Yoel M. Indrasmoro
Literatur Perkantas Nasional

Foto: I Hassan

Posted on Tinggalkan komentar

Ketenangan

(Ams. 3:24-26)

Dalam ayat 24, penulis Kitab Amsal mengingatkan salah satu kegunaan hikmat: ”Jikalau engkau berbaring, engkau tidak akan terkejut, tetapi engkau akan berbaring dan tidur nyenyak.” Menurut penulis, salah satu tanda orang berhikmat adalah dia tidak gelisah. Tidurnya pun nyenyak.

Tidur nyenyak sejatinya memang anugerah. Namun, ketika beranjak tidur dalam keadaan masih banyak pekerjaan yang harus diselesaikan, pikiran dan hati enggan diajak istirahat. Yang mengakibatkan diri sering terbangun. Bahkan, suara perlahan saja bisa menyebabkan kita bangun dari tidur.

Lalu, bagaimana hikmat bisa membuat kita tidur nyenyak? Pertama, dengan hikmat, baiklah kita mengatur waktu kerja kita begitu rupa sehingga tak ada lagi utang kerja. Tentu kita juga harus memperhitungkan kapasitas diri—waktu, tenaga, pikiran, juga hati. Ini pun juga butuh hikmat. Lebih dari kapasitas diri akan membuat kita tambah stres.

Kedua, dalam ayat 25-26 penulis Kitab Amsal menasihati: ”Janganlah takut kepada kekejutan yang tiba-tiba, atau kepada kebinasaan orang fasik, bila itu datang. Karena TUHANlah yang akan menjadi sandaranmu, dan akan menghindarkan kakimu dari jerat.”

Penulis menyatakan bahwa Allah bersedia menjadi sandaran. Itu berarti, ketenangan bukan karena mengandalkan diri sendiri, tetapi kita tahu ada Allah yang bersedia menjadi penopang.

Rasa takut biasa muncul ketika menyadari betapa rapuhnya kemanusiaan kita. Namun, perlahan rasa itu memudar, digantikan ketenangan, kala menyadari bahwa Allah yang Mahakuasa bersedia menjadi sandaran kita. Percayalah!

SMaNGaT,

Yoel M. Indrasmoro
Literatur Perkantas Nasional

Foto: Alisa Anton

Posted on Tinggalkan komentar

Memelihara Hikmat

(Ams. 3:21-23)

”Hai anakku, janganlah pertimbangan dan kebijaksanaan itu menjauh dari matamu, peliharalah itu, maka itu akan menjadi kehidupan bagi jiwamu, dan perhiasan bagi lehermu. Maka engkau akan berjalan di jalanmu dengan aman, dan kakimu tidak akan terantuk.”

Penulis menasihati pembacanya untuk mau memelihara hikmat. Sebagaimana pisau harus diasah, hikmat perlu dipelihara… perlu dihidupi. Sebab itulah yang menghidupkan manusia. Bagaimana caranya? Salah satu caranya adalah belajar. Belajar dari siapa, bahkan dari apa saja. Belajar akan menolong hikmat manusia bertumbuh.

Hikmat yang matang akan memampukan manusia untuk memilah, dan akhirnya, memilih. Pilihan itu tentu saja bukan tanpa risiko. Akan tetapi, hikmat yang matang menolong manusia memahami risiko-risikonya, dan akhirnya memperlengkapi diri untuk meminimalkan, atau mengantisipasi risiko jika memang muncul. Itu jugalah yang akan menjaga manusia agar tidak tersandung.

Memelihara hikmat juga merupakan panggilan kita, orang percaya pada abad XXI ini. Terlebih saat belajar menyesuaikan diri kala hidup dalam kenormalan baru.

SMaNGaT,

Yoel M. Indrasmoro
Literatur Perkantas Nasional

Foto: Nicolas J

Posted on Tinggalkan komentar

Hikmat TUHAN dalam Karya-Nya

(Ams. 3:19-20)

”Dengan hikmat TUHAN telah meletakkan dasar bumi, dengan pengertian ditetapkan-Nya langit, dengan pengetahuan-Nya air samudera raya berpencaran dan awan menitikkan embun.”

Demikianlah pengakuan, sekaligus penjelasan, penulis Kitab Amsal. Itu berarti Allah tidak asal-asalan dalam mencipta sesuatu. Semua serbasinkron; dan bukan tanpa tujuan. Manusia dapat memahaminya karena hikmat yang dianugerahkan Allah kepadanya.

Misalnya, berkenaan dengan hujan tadi. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, ”hujan” diartikan sebagai ”titik-titik air yang berjatuhan dari udara karena proses pendinginan”. Dalam pelajaran IPA kita belajar bahwa air yang ada di bumi ini menguap karena panas matahari. Dan sesampainya di langit uap air berubah menjadi titik-titik air karena proses kondensasi dan akhirnya turun sebagai hujan.

Kelihatannya ini memang hukum alam biasa: air dipanaskan menjadi uap. Namun, hukum yang tampak biasa ini sudah ditetapkan Allah sebelumnya. Dan hukum yang tampak biasa itu dipakai Allah untuk membuat hujan. Sesungguhnya hukum alam itu adalah juga hukum Allah. Dan semuanya untuk kemaslahatan hidup manusia.

Sebagai orang yang dikaruniai hikmat, kita pun dipanggil untuk berkarya. Dan semuanya itu semestinya juga untuk kemaslahatan hidup manusia. Dengan kata lain: jangan egois!

SMaNGaT,

Yoel M. Indrasmoro
Literatur Perkantas Nasional

Foto: Mette Kostner

Posted on Tinggalkan komentar

Hikmat

(Ams. 3:13-18)

”Berbahagialah orang yang mendapat hikmat, orang yang memperoleh kepandaian, karena keuntungannya melebihi keuntungan perak, dan hasilnya melebihi emas.” Demikianlah ungkapan bahagia dari penulis Kitab Amsal dalam ayat 13-14. Mengapa berbahagia?

Pertama, baik hikmat maupun kepandaian awalnya bukanlah milik pribadi. Orang perlu belajar untuk mendapatkannya. Kita punya ungkapan ”menuntut ilmu”. Atau, mungkin tidak belajar secara formal, tetapi tetap membutuhkan sikap belajar.

Misalnya, saat membaca koran, tentu kita bisa membacanya sambil lalu, tetapi kita bisa memikirkan, mengolah, dan mengambil kesimpulan dari sebuah berita. Dan ketika kita menyimpulkannya kita merasa mendapatkan hikmat baru. Dengan kata lain, kita memperoleh yang belum pernah kita miliki sebelumnya. Itulah mengapa semestinya kita bahagia.

Kedua, menurut penulis dalam ayat 15, hikmat dan kepandaian lebih berharga ketimbang harta. Lagi pula hikmat kekal sifatnya. Hikmat, beda dengan emas dan perak, bersifat kekal. Tak pernah habis, meski kita berkali-kali memberikannya kepada orang lain. Bahkan ketika tulus memberikan hikmat itu, nalar pikir kita makin terasah, yang tentu saja membuat kita makin berhikmat. Karena itu, jangan remehkan setiap pertanyaan yang menghampiri—sesederhana apa pun.

Ketiga, dalam ayat 16, penulis Kitab Amsal menyatakan: ”Umur panjang ada di tangan kanannya, di tangan kirinya kekayaan dan kehormatan.” Benarkah pernyataan ini? Memang benar! Ambil saja nama seorang penulis yang berpengaruh dalam diri kita! Meski dia telah meninggal, nama dan tulisannya tetap terpatri dalam benak kita dan mendapatkan tempat terhormat dalam hati kita.

Keempat, hikmat itu sendiri menghidupkan. Mengapa kita beribadah? Mengapa pula kita berdoa? Mengapa kita melakukan sesuatu? Semua jawaban kita—dari pertanyaan yang kita ajukan sendiri—merupakan pola kerja hikmat. Itulah yang membedakan kita dari makhluk Allah lainnya. Yang membuat hidup kita lebih hidup. Percayalah!

SMaNGaT,

Yoel M. Indrasmoro
Literatur Perkantas Nasional

Foto: Claudia Wolff

Posted on Tinggalkan komentar

Pendidikan Ilahi

(Ams. 3:11-12)

”Hai anakku, janganlah engkau menolak didikan TUHAN, dan janganlah engkau bosan akan peringatan-Nya. Karena TUHAN memberi ajaran kepada yang dikasihi-Nya, seperti seorang ayah kepada anak yang disayangi.” Berkait dengan didikan dan peringatan Allah, penulis Kitab Amsal menggunakan dua kata: ”menolak” dan ”bosan”.

Secara umum manusia memang tidak terlalu suka diberi tahu. Mungkin karena dia merasa sudah tahu. Atau, bisa jadi dia merasa tidak akan mendapatkan keuntungan apa pun. Menolak menjadi tindakan lumrah. Demikian juga dengan rasa bosan terhadap peringatan. Apa lagi jika peringatan itu didengungkan berulang-ulang. Kita merasa seperti anak kecil yang tidak dipercaya.

Berkait dengan pendidikan dan peringatan Ilahi, agaknya kita perlu sungguh-sungguh melihat tujuan dari semuanya itu. Sesungguhnya Allah ingin kita menjadi pribadi yang lebih baik dari sebelumnya. Dan pendidikan Ilahi, melalui peristiwa yang terjadi—entah baik entah buruk, bertujuan agar kita naik kelas. Semestinya peristiwa-peristiwa itu layak kita syukuri.

Sesungguhnya pendidikan dan peringatan itu memperlihatkan dengan jelas bahwa Allah tidak pernah menyerah dalam mendidik kita untuk menjadi pribadi yang makin baik. Itu berarti Allah juga masih punya pengharapan berkait dengan diri kita. Dan semuanya itu dilakukan karena kasih semata.
Ya, kita sungguh dikasihi-Nya. Karena itu, jangan bosan, apa lagi menolak didikan-Nya!

SMaNGaT,

Yoel M. Indrasmoro
Literatur Perkantas Nasional

Foto: Istimewa

Posted on Tinggalkan komentar

Muliakanlah TUHAN dengan Hartamu

(Ams. 3:9-10)*

”Muliakanlah TUHAN dengan hartamu dan dengan hasil pertama dari segala penghasilanmu, maka lumbung-lumbungmu akan diisi penuh sampai melimpah-limpah, dan bejana pemerahanmu akan meluap dengan air buah anggurnya.”

Menarik disimak nasihat dari penulis Kitab Amsal ini. Mengapa harus hasil pertama? Hasil pertama—berkait panen—menjadi sungguh signifikan (penting dan bermakna). Sebab hasil pertama itu berkait dengan prioritas—siapakah yang akan didahulukan? Itu menjadi penting karena tidak sedikit orang yang takut memprioritaskan Allah. Khawatir jika tidak ada hasil kedua, ketiga, dan seterusnya, banyak orang yang takut memberikan persembahan.

Kisah Janda Miskin di Sarfat bisa menjadi teladan. Dalam keadaan to be or not to be ‘hidup atau mati’ karena hanya punya sedikit tepung dan minyak, Nabi Elia minta dibuatkan sepotong roti bundar kecil. Prioritas memang masalah kepercayaan. Persembahan juga masalah kepercayaan.

Dan kita tahu akhir ceritanya, tertera dalam 1 Raja-raja 17:16: ”Tepung dalam tempayan itu tidak habis dan minyak dalam buli-buli itu tidak berkurang seperti firman TUHAN yang diucapkan-Nya dengan perantaraan Elia.”

Ketika kita memprioritaskan Allah dalam hidup kita, maka Allah sendiri akan memprioritaskan kita. Sesungguhnya inilah Injil itu: Allah sudah memprioritaskan kita. Buktinya, Dia sudah mati dan bangkit untuk manusia. Sejatinya pula semua harta kita merupakan anugerahnya semata. Kalau sudah begini, aneh rasanya jika kita tak mau menghormati Allah dengan harta kita.

SMaNGaT,

Yoel M. Indrasmoro
Literatur Perkantas Nasional

Foto: Istimewa

Posted on Tinggalkan komentar

Kapasitas Diri

(Ams. 3:7-8)

”Janganlah engkau menganggap dirimu sendiri bijak, takutlah akan TUHAN dan jauhilah kejahatan; itulah yang akan menyembuhkan tubuhmu dan menyegarkan tulang-tulangmu.” Nasihat penulis Kitab Amsal ini menarik disimak. Bagaimana menerapkannya dalam dunia kerja yang menekankan pentingnya unjuk diri?

Dalam ayat 7 Alkitab Bahasa Indonesia Masa Kini tertera: ”Janganlah menganggap dirimu lebih pandai daripada yang sebenarnya; taatilah TUHAN dan jauhilah yang jahat.” Itu berarti unjuk diri tidak salah. Yang salah: kala kita menganggap diri lebih pandai dari yang sebenarnya. Pada titik ini penulis Kitab Amsal sejatinya menyatakan dengan jelas pentingnya mengetahui kapasitas diri.

Tidak mengetahui kapasitas diri akan membuat kita jatuh pada dua ekstrem: rendah diri (menilai diri lebih rendah dari yang semestinya) atau tinggi hati (menilai diri lebih tinggi dari yang semestinya). Mengetahui kapasitas diri akan membawa kita pada sikap rendah hati. Dan rendah hati akan membuat kita lebih percaya diri.

Sesungguhnya baik sikap rendah diri maupun tinggi hati bukanlah sikap yang baik di mata Allah. Mengapa? Karena Allah telah menganugerahkan kapasitas tertentu kepada setiap orang. Merasa minder atau sombong berarti tidak menghargai Allah yang telah mengaruniakannya. Mudah dinalar, jika penulis Kitab Amsal berbicara soal takut akan Allah.

Setiap insan dicipta khas, unik, dan satu-satunya. Syukurilah hal itu dengan cara mengembangkan diri sesuai kapasitas yang dikaruniakan Allah. Itulah yang akan membuat—mengutip Alkitab Bahasa Indonesia Masa Kini—badan kita sembuh dan batin kita segar. Percayalah!

SMaNGaT,

Yoel M. Indrasmoro
Literatur Perkantas Nasional

Foto: Nathan Dumlao

Posted on Tinggalkan komentar

Dengan Segenap Hati

(Ams. 3:5-6)

”Percayalah kepada TUHAN dengan segenap hatimu, dan janganlah bersandar kepada pengertianmu sendiri. Akuilah Dia dalam segala lakumu, maka Ia akan meluruskan jalanmu.” Demikianlah nasihat penulis Kitab Amsal.

Percaya berarti memercayakan diri. Tak sekadar ucapan bibir, namun juga mencakup sikap dan tindak.Tak heran, jika penulis Kitab Amsal perlu menekankan tambahan keterangan ”dengan segenap hatimu”. Itu berarti total. Segenap berarti 100%. Itu berarti 99% juga belum segenap.

Berkait dengan percaya, pilihannya memang cuma dua: percaya kepada Allah atau kepada diri sendiri. Sebenarnya percaya kepada orang berarti juga percaya kepada diri sendiri. Sebab diri sendirilah yang mengambil keputusan untuk percaya kepada orang tersebut.

Persoalannya memang kerap di sini. Karena Allah itu tak terlihat, dan sering pekerjaan-Nya kita rasakan sangat lambat, kita sering merasa lebih aman mengambil prakarsa sendiri. Karena memang itulah yang ada dalam genggaman kita. Meski harus diakui, sungguh jika mau bersikap blak-blakan, kita enggak hebat-hebat amat. Karena itulah, setelah mengambil keputusan dengan mengandalkan diri sendiri, kita malah makin resah.

Dalam ayat 6 Alkitab Bahasa Indonesia Masa Kini tertera: ”Ingatlah pada TUHAN dalam segala sesuatu yang kaulakukan, maka Ia akan menunjukkan kepadamu cara hidup yang baik.” Mengingat Allah dalam setiap laku kita berarti melibatkan-Nya dalam setiap kata yang terucap, pikir yang melintas, tindak yang dilakukan. Jika itu yang kita lakukan, maka Allah sendirilah yang akan menunjukkan cara hidup yang baik kepada kita. Percayalah!

SMaNGaT,

Yoel M. Indrasmoro
Literatur Perkantas Nasional

Foto: Casey Robertson

Posted on Tinggalkan komentar

Kalungkanlah pada Lehermu

(Ams. 3:3-4)

”Janganlah kiranya kasih dan setia meninggalkan engkau! Kalungkanlah itu pada lehermu, tuliskanlah itu pada loh hatimu, maka engkau akan mendapat kasih dan penghargaan dalam pandangan Allah serta manusia.”

Kasih dan setia adalah sifat Allah sendiri. Dan Allah ingin itu juga yang semestinya terus ada dalam diri setiap manusia. Dan karena itu, penulis Kitab Amsal memberi kiat yang menarik untuk kita lakukan.

Pertama, mengalungkan kasih dan setia itu pada leher. Mengapa perlu dikalungkan ke leher? Tentu yang bisa melihatnya dengan baik hanyalah orang lain, dan bukan si pemakai kalung. Itu berarti hanya orang lainlah yang bisa melihat dan merasakan kasih dan setia itu. Dengan kata lain, pertanyaanya adalah apakah kasih dan setia kita itu sungguh-sungguh bisa dilihat dan dirasakan orang lain?

Kedua, menuliskannya pada loh hati. Tentu yang bisa melihatnya, juga menilainya, adalah diri sendiri, juga Tuhan. Kata yang diterjemahkan sebagai ”hati” di sini menunjuk pada sumber kehendak dan perilaku. Itu berarti kita perlu terus menilai kehendak dan perilaku kita, apakah memang diwarnai oleh kasih dan setia.

Dan ketika perilaku kita sungguh berdasarkan kasih dan setia, maka pastilah kita akan mendapatkan kasih dan penghargaan Allah dan manusia. Hukumnya memang sudah begitu. Setiap insan pasti akan menghargai—meski hanya dalam hati—setiap orang yang konsisten menerapkan kasih dan setia dalam hidupnya. Itu berarti: lakukan saja!

SMaNGaT,

Yoel M. Indrasmoro
Literatur Perkantas Nasional

Foto: Ann Danilina

Posted on Tinggalkan komentar

Memelihara Hikmat Allah

(Ams. 3:1-2)

”Hai anakku, janganlah engkau melupakan ajaranku, dan biarlah hatimu memelihara perintahku, karena panjang umur dan lanjut usia serta sejahtera akan ditambahkannya kepadamu.” Demikianlah nasihat penulis Kitab Amsal.

Menarik disimak bahwa penulis mengaitkan antara memelihara hikmat Allah dan umur panjang. Bahkan, menyatakan bahwa memelihara hikmat Allah menyebabkan hidup manusia menjadi lebih sejahtera. Bagaimana dia sampai pada kesimpulan macam begitu?

Mungkin penjelasannya bisa begini. Sejatinya manusia normal selalu ingin melakukan apa yang baik, yang benar, juga yang tepat. Ketika itu tidak dijalani, maka dalam hatinya akan muncul perasaan bersalah. Merasa bersalah karena menyadari sudah tak lagi berada dalam rel Ilahi.

Perasaan bersalah itu jelas membuatnya tak lagi sejahtera. Karena selalu dibayangi ketakutan—takut diketahui orang lain. Mungkin agak absurd juga pemikiran ini, kadang manusia merasa aman-aman saja—juga nyaman—ketika kejahatannya cuma diketahui Allah.

Rasa takut itu sering kali membuat manusia tak lagi mampu menikmati hidupnya. Ya, itu tadi, karena takut ketahuan. Sejatinya orang macam begini, meski masih hidup, sebenarnya tak lagi merasa hidup. Tak ubahnya seperti orang mati saja. Apa enaknya menjalani hidup macam begini.

Sebaliknya, ketika manusia hidup dalam rel Ilahi (seturut dengan kehendak Allah), dia akan merasa lebih relaks. Tak ada yang perlu ditutup-tutupi, baik di hadapan manusia, apalagi Allah. Dan kehidupan semacam ini tak hanya dia rasakan di bumi, juga di surga. Di sanalah dia merasakan umur yang sungguh-sungguh panjang.

SMaNGaT,

Yoel M. Indrasmoro
Literatur Perkantas Nasional

Foto: Istimewa

Posted on Tinggalkan komentar

Meneladan Orang Baik

(Ams. 2:20-22)

Dalam ayat 20 penulis Kitab Amsal mewanti-wanti: ”Sebab itu tempuhlah jalan orang baik, dan peliharalah jalan-jalan orang benar.” Dalam Alkitab Bahasa Indonesia Masa Kini tertera: ”Karena itu, anakku, ikutilah teladan orang baik, dan hiduplah menurut kemauan Allah.”

Ketika tidak mudah menilai pilihan-pilihan hidup menurut kehendak Allah, penulis memberi masukan sederhana: meneladan orang baik. Menarik disimak, bukan orang tua, juga bukan orang pintar, melainkan orang baik. Itu berarti bisa orang muda atau orang dengan pola pikir sederhana, selama kualitas hidupnya baik.

Lalu bagaimana caranya menyatakan bahwa seseorang itu baik? Pertama, orang baik itu enggak mau merugikan orang lain. Dia lebih memilih rugi ketimbang merugikan orang lain. Dengan kata lain, dia tidak mau membuat orang lain susah.

Kedua, orang baik, meski ada kesempatan, tidak mengambil yang bukan haknya. Dia sudah merasa cukup dengan apa yang ada pada dirinya. Rasa cukup itulah yang membuatnya tenang dan tidak membebani diri dengan rupa-rupa keinginan. Sehingga dia juga tidak berupaya mencari kesempatan di tengah kesempitan.

Ketiga, orang baik merasa perlu berpikir moderat. Dia tidak membiarkan dirinya berpikir ekstrem mengenai suatu hal. Ketika melintas hal yang buruk di dalam benaknya, maka dia berupaya mengimbanginya. Dia berupaya untuk tidak menghakimi. Itu berarti orang baik tidak membicarakan keburukan orang lain.

Mudah mencarinya? Tentu tidak. Karena itu, jika menemukannya, mari kita menjadikannya teladan!

SMaNGaT,

Yoel M. Indrasmoro
Literatur Perkantas Nasional

Foto: Istimewa

Posted on Tinggalkan komentar

Mengerti tentang Kebenaran

(Ams. 2:9-19)

Dalam ayat 9, penulis Kitab Amsal menyatakan: ”Maka engkau akan mengerti tentang kebenaran, keadilan, dan kejujuran, bahkan setiap jalan yang baik.” Demikianlah buah dari seorang yang mau mendengarkan hikmat Allah dan hidup di dalamnya. Hikmat Allah memampukan manusia untuk mengerti tentang kebenaran, kejujuran, dan setiap jalan yang baik.

Berkait dengan kebenaran, ada begitu banyak klaim tentang kebenaran. Setiap orang cenderung merasa dirinya benar, baik karena modal pengetahuan yang dikumpulkan, atau karena pengalaman yang didapat, ada juga yang merasa mendapat wangsit dari Allah, tentu ada pula yang selalu merasa benar dan yang lainnya salah.

Klaim-klaim semacam itu hanya akan membuat dunia makin riuh. Dan makin kisruh, ketika kebenaran yang satu beradu dengan kebenaran lainnya. Pertanyaannya: mana yang sungguh-sungguh benar?

Jika kembali pada kisah penciptaan—yang menyatakan bahwa akal budi adalah anugerah Allah—maka sumber kebenaran sejati adalah Allah sendiri. Itu jugalah yang ditegaskan Yesus Orang Nazaret dalam Yohanes 14:6: ”Akulah jalan dan kebenaran dan hidup.” Sehingga berkait dengan kebenaran, kita hanya perlu melayangkan pandangan kita kepada Yesus—Allah yang menjadi manusia. Seorang yang hidup dalam kebenaran Allah niscaya akan bertindak adil, jujur, dan mengerti akan setiap jalan yang baik.

Nah, berkenaan dengan jalan yang baik, setiap saat manusia dihadapkan pada banyak pilihan. Sebenarnya jika ditelusuri setiap pilihan itu pun bermuara pada dua jalan: jalan kehidupan atau jalan kematian. Dan itu hanya kita tahu jika menyinari setiap pilihan itu dengan kebenaran Allah sendiri.

SMaNGaT,

Yoel M. Indrasmoro
Literatur Perkantas Nasional

Foto: Rozan Naufal

Posted on Tinggalkan komentar

TUHAN Pemberi Hikmat

(Ams. 2:6-8)

Dalam ayat 6, penulis Kitab Amsal menegaskan: ”Karena TUHANlah yang memberikan hikmat, dari mulut-Nya datang pengetahuan dan kepandaian.” Dalam Alkitab Bahasa Indonesia Masa Kini tertera: ”TUHANlah yang memberikan hikmat; dari Dialah manusia mendapat pengetahuan dan pengertian.”

Dalam ayat ini bergemalah kisah penciptaan. Dalam Kejadian 1:26 Allah berfirman, ”Baiklah Kita menjadikan manusia menurut gambar dan rupa Kita, supaya mereka berkuasa atas ikan-ikan di laut dan burung-burung di udara dan atas ternak dan atas seluruh bumi dan atas segala binatang melata yang merayap di bumi.”

Allah menciptakan manusia seperti diri-Nya sendiri. Dan itu bukan tanpa maksud. Allah menjadikan manusia sebagai mandataris-Nya untuk mengusahakan dan memelihara bumi. Sejatinya hikmat diberikan agar manusia mampu menjalankan tugasnya sebagai mandataris Allah. Dan hanya dari Allah manusia memperoleh pengetahuan dan pengertian. Sehingga kesombongan, bahkan merasa lebih hebat dari Allah, sungguh absurd.

Sehingga jalan terlogis bagi manusia adalah bersikap jujur dan murni dalam laku. Kejujuran sikap dan kemurnian hidup merupakan panggilan manusia selaku ciptaan Allah yang istimewa. Itu pun sejatinya merupakan keniscayaan.

Menarik disimak, ketika manusia berusaha bersikap dan bertindak seperti Allah, Allah tidak menganggapnya saingan, melainkan sekutu. Dan karena itu, dalam ayat 7-8 Alkitab Bahasa Indonesia Masa Kini tertera: ”Kepada orang yang tulus dan tak bercela, diberikan-Nya pertolongan dan perlindungan. TUHAN menjaga orang-orang yang berlaku adil, dan melindungi mereka yang mencintai Dia.”

SMaNGaT,

Yoel M. Indrasmoro
Literatur Perkantas Nasional

Foto: Helena Hertz

Posted on Tinggalkan komentar

Pengenalan akan Allah

(Ams. 2:1-5)

”Hai anakku, jikalau engkau menerima perkataanku dan menyimpan perintahku di dalam hatimu, sehingga telingamu memperhatikan hikmat, dan engkau mencenderungkan hatimu kepada kepandaian, ya, jikalau engkau berseru kepada pengertian, dan menujukan suaramu kepada kepandaian, jikalau engkau mencarinya seperti mencari perak, dan mengejarnya seperti mengejar harta terpendam, maka engkau akan memperoleh pengertian tentang takut akan TUHAN dan mendapat pengenalan akan Allah.”

Dalam ayat 1-2 penulis Kitab Amsal menggunakan empat kata kerja: menerima, menyimpan, memperhatikan, dan mencenderungkan. Pada kenyataannya kita memang hanya mungkin menerima, menyimpan, memperhatikan, dan mencenderungkan hati pada apa yang penting dalam hidup.

Sedangkan pada ayat 3-4, penulis mengajak para pembacanya untuk berseru, menujukan suara, mencari, dan mengejar pengertian. Meski terkesan lebih agresif, esensinya sama dengan empat kata kerja sebelumnya, yakni menganggap bahwa perkataan hikmat merupakan hal yang penting dalam hidup. Dan semuanya itu bermuara pada pengenalan akan Allah.

Dalam pemandangan penulis Kitab Amsal, manusia sungguh membutuhkan Allah. Sejatinya manusia sendiri sering tidak tahu apa yang paling penting dalam hidupnya sendiri. Mungkin kita sering mengalaminya: Tiba-tiba kita merasa tidak enak; dan kita sungguh-sungguh tidak tahu mengapa kita merasa tidak enak.

Ya, kita sendiri sering tidak mengenal diri kita sendiri. Pada titik ini kita butuh Allah karena Dia sungguh mengenal kita. Sebab Allah pencipta kita. Pengenalan akan Allah membuat manusia mampu mengenali dirinya sendiri. Sesungguhnya puncak hikmat manusia adalah kala dia mengenal Allah. Sebab mengenal Allah akan membuatnya mengenal dirinya sendiri.

SMaNGaT,

Yoel M. Indrasmoro
Literatur Perkantas Nasional

Foto: Tim Chow

Posted on Tinggalkan komentar

Sang Hikmat

(Ams. 1:20-32)

Dalam ayat 20-21 penulis Kitab Amsal memperkenalkan ”hikmat” dan karyanya: ”Hikmat berseru nyaring di jalan-jalan, di lapangan-lapangan ia memperdengarkan suaranya, di atas tembok-tembok ia berseru-seru, di depan pintu-pintu gerbang kota ia mengucapkan kata-katanya.”

Dalam Alkitab Edisi Studi, yang dimaksud dengan hikmat adalah pengetahuan dan pengertian akan apa yang benar, adil, tulus, dan jujur. Hikmat berasal dari TUHAN, yang memberikan pengertian kepada mereka yang menghormati dan menaati TUHAN.

Dalam ayat 20 hikmat digambarkan sebagai pribadi yang tak pernah berhenti bersuara. Suaranya pun nyaring. Hakikat hikmat adalah bersuara. Misinya adalah mengingatkan, menegur, mencerahkan, bahkan menghibur manusia untuk tetap menaati Allah, Sang Pencipta.

Menarik jika diperhatikan bagaimana hikmat ada di sekeliling manusia: di jalan, di lapangan, di atas tembok, dan di depan pintu gerbang kota. Pada zaman kuno orang biasanya berkumpul di tembok dan gerbang kota. Para pemimpin kota biasa mengadili berbagai kasus dan membuat keputusan penting di depan pintu-pintu gerbang.

Itu berarti manusia bisa mendapatkan hikmat di mana saja, bisa dari para pemimpin kota di gerbang kota atau dari manusia yang lalu lalang di jalanan. Namun, di atas semuanya itu, yang sunguh penting dalam pencarian hikmat adalah kesediaan untuk mendengarkan. Tanpa pendengaran yang baik, mustahil kita akan mendengar hikmat itu. Bisa jadi suaranya tenggelam oleh suara dari dalam diri kita sendiri.

Dan itulah inti dari belajar. Belajar apa saja mensyaratkan kerinduan untuk mendengarkan. Tanpa mendengarkan, kita tak akan pernah belajar apa pun.

SMaNGaT,

Yoel M. Indrasmoro
Literatur Perkantas Nasional

Foto: Markus Spiske

Posted on Tinggalkan komentar

Menghidupi Kejahatan

(Ams. 1:15-19)*

Jika dalam ayat 10, penulis Kitab Amsal mengajak para pembacanya untuk waspada, maka dalam ayat 15-16 dia menasihati: ”Hai anakku, janganlah engkau hidup menurut tingkah laku mereka, tahanlah kakimu dari pada jalan mereka, karena kaki mereka lari menuju kejahatan dan bergegas-gegas untuk menumpahkan darah.”

Jika tidak diberi ruang, maka kejahatan itu akan mati dengan sendirinya. Persoalannya memang di sini: tak hanya diberi tempat, kejahatan malah dihidupi. Dan ketika dihidupi kejahatan akan beranak pinak. Satu kejahatan akan berlanjut ke tindak kejahatan lainnya.

Kisah klasik Daud dan Batsyeba merupakan contoh konkret. Mulanya Daud mengingini Batsyeba, istri Uria. Keinginan tak terkendali itu berlanjut dengan pencurian istri orang dan perzinaan. Karena ingin menutupi kejahatannya, Daud mencoba menipu Uria dengan memanggilnya pulang dari medan pertempuran untuk bersetubuh dengan istrinya. Karena gagal, Daud—dengan perantaraan Yoab—akhirnya membunuh Uria melalui tangan orang Raba. Daud pun akhirnya menjadikan Batsyeba, yang telah menjadi janda, sebagai istri. Perkawinan itu menyempurnakan kejahatan Daud.

Jelaslah, sekali lagi, saat dihidupi kejahatan makin merajalela, bahkan tak logis. Penulis Kitab Amsal, dalam ayat 17-18 Alkitab Bahasa Indonesia Masa Kini, menyatakan: ”Sedangkan burung pun tidak akan masuk ke dalam jaring yang dibentangkan di depan matanya, tetapi orang-orang jahat itu malah memasang jerat untuk dirinya sendiri—jerat yang akan mencelakakan mereka.”

Karena itu, baiklah kita belajar untuk mengelola keinginan kita. Yakobus menyatakan: ”Tetapi tiap-tiap orang dicobai oleh keinginannya sendiri, karena ia diseret dan dipikat olehnya” (Yak. 1:14). Ya, kita perlu mengelola keinginan kita.

SMaNGaT,

Yoel M. Indrasmoro
Literatur Perkantas Nasional

Foto: Marc Kleen

Posted on Tinggalkan komentar

Kejahatan Itu Menular

(Ams. 1:10-14)

Dalam ayat 10 penulis Kitab Amsal mewanti-wanti: ”Hai anakku, jikalau orang berdosa hendak membujuk engkau, janganlah engkau menurut.” Dalam pesan ini jelaslah bahwa kejahatan itu cenderung menular. Kebanyakan penjahat ingin mengajak orang melakukan kejahatan.

Mungkin karena mereka ingin teman. Bisa juga mereka merasa aman—mungkin juga nyaman—jika banyak orang melakukan tindakan kejahatan yang sama. Atau, jangan-jangan mereka ingin pemakluman. Bisa jadi mereka merasa, banyaknya orang yang melakukan kesalahan akan membuat mereka lolos dari hukuman. Sekali lagi karena banyak orang yang melakukannya. Dan itu membuat individu-individu tersamar.

Dalam skala kecil, itulah yang terjadi di kalangan pelajar dengan tawurannya. Mereka pasti enggak mau jika diajak duel—satu lawan satu. Mereka lebih suka keroyokan. Dan itu hanya mungkin terjadi ketika seorang pelajar mengajak yang lain. Sering yang diajak pun tak sungguh-sungguh paham alasan di baliknya. Yang penting rame-rame.

Dalam skala besar, korupsi juga tak pernah melibatkan satu individu saja. Untuk mengamankan tindakan korupsinya, seorang koruptor akan melibatkan banyak orang kunci. Setiap orang yang tahu tindakannya harus diberi uang tutup mulut. Sehingga muncul ungkapan ”korupsi berjemaah”.

Di atas semuanya itu, dengan jelas penulis Kitab Amsal mengingatkan pembacanya untuk waspada dan jangan ikut-ikutan. Biasanya mereka membujuk dengan ungkapan: ”Semua orang melakukannya.” Karena semua orang melakukannya, maka yang tidak melakukan mungkin akan merasa aneh sendiri.

Pada titik ini kita perlu menelaah ungkapan tadi. Benarkah? Pasti tidak. Itu hanyalah generalisasi tanpa dasar. Lagi pula, ungkapan tadi pasti salah jika kita tidak melakukannya. Logika macam beginilah yang perlu kita kembangkan untuk menangkal kejahatan berjemaah!

SMaNGaT,

Yoel M. Indrasmoro
Literatur Perkantas Nasional

Foto: Catalina Maria

Posted on Tinggalkan komentar

Hiasan Kepala dan Kalung

(Ams. 1:8-9)

Penulis Kitab Amsal, dalam ayat 8-9, menyatakan: ”Hai anakku, dengarkanlah didikan ayahmu, dan jangan menyia-nyiakan ajaran ibumu; sebab karangan bunga yang indah itu bagi kepalamu, dan suatu kalung bagi lehermu.”

Menurut penulis, mendengarkan dan tidak menyia-nyiakan nasihat orang tua itu layak dilakukan. Pertama, orang tua jelas lebih tua dari anaknya, dan dari sudut ini saja mereka pasti lebih berpengalaman. Karena itu, nasihat mereka biasanya lahir dari pengalaman hidup. Jadi bukan hanya teori.

Kedua, orang tua biasanya menginginkan yang terbaik bagi anaknya. Bisa saja mereka pernah salah pada masa mudanya, dan mereka tidak ingin anak-anaknya jatuh ke dalam kesalahan yang sama. Tentu, itu tidak berarti si anak tidak boleh merasakan akibat dari kesalahan-kesalahan yang mungkin terjadi. Akan tetapi, ini dari sudut orang tua, sayang rasanya jika anak mereka mengambil kesalahan yang tidak perlu.

Ketiga, orang tua hanya menjalankan perintah Allah sebagaimana dalam Ulangan 6:6-7: ”Apa yang kuperintahkan kepadamu pada hari ini haruslah engkau perhatikan, haruslah engkau mengajarkannya berulang-ulang kepada anak-anakmu dan membicarakannya apabila engkau duduk di rumahmu, apabila engkau sedang dalam perjalanan, apabila engkau berbaring dan apabila engkau bangun.”

Itu berarti ketika anak-anak mendengarkan nasihat orang tua, mereka sedang menolong orang tua menunaikan tugasnya selaku orang tua. Dan menurut penulis Kitab Amsal, semua didikan dan ajaran itu seperti hiasan kepala dan kalung yang akan memperindah kehidupan mereka. Dalam Alkitab Bahasa Indonesia Masa Kini tertera: ”ajaran-ajaran mereka menambah budi baikmu seperti hiasan kepala dan kalung memperindah rupamu.”

Mendengarkan orang tua memang bukan hal mudah. Kadang kita lebih suka mendengarkan diri sendiri. Namun, mengingat bahwa orang tua itu lebih berpengalaman dari kita, dan juga mengasihi kita, mendengarkan mereka sungguh tindakan yang wajar.

SMaNGaT,

Yoel M. Indrasmoro
Literatur Perkantas Nasional

Foto: Jon Flobrant

Posted on Tinggalkan komentar

Takut akan Tuhan

(Ams. 1:1-7)*

Kitab Amsal dibuka dengan tujuan kitab itu ditulis. Tindakan baik—juga logis—karena dengan pembukaan seperti itu para pembaca diajak untuk sungguh memahami alasan keberadaan buku tersebut, juga posisinya di antara buku-buku lain yang pernah terbit sebelumnya.

Dan tujuannya, dalam ayat 2-6, tertera: ”untuk mengetahui hikmat dan didikan, untuk mengerti kata-kata yang bermakna, untuk menerima didikan yang menjadikan pandai, serta kebenaran, keadilan dan kejujuran, untuk memberikan kecerdasan kepada orang yang tak berpengalaman, dan pengetahuan serta kebijaksanaan kepada orang muda—baiklah orang bijak mendengar dan menambah ilmu dan baiklah orang yang berpengertian memperoleh bahan pertimbangan—untuk mengerti amsal dan ibarat, perkataan dan teka-teki orang bijak.

Menurut John Stott, setiap epigram (peribahasa yang padat dan penuh kearifan, serta sering mengandung paradoks) dalam Kitab Amsal dihasilkan oleh akal sehat di samping kebenaran Allah. John Stott meyakini, hikmat manusia dan hikmat Allah tidak harus tidak cocok satu sama lain. Melalui kata-kata emas kuno ini, Allah masih menyampaikan firman-Nya kepada kita hingga hari ini.

Mudah dinalar mengapa, dalam ayat 7 Alkitab Bahasa Indonesia Masa Kini tertera: ”Untuk memperoleh ilmu sejati, pertama-tama orang harus mempunyai rasa hormat dan takut kepada TUHAN.” Dasar hikmat manusia adalah hikmat Allah sendiri. Dan itu bisa dan hanya bisa didapatkan ketika manusia mendasarkan seluruh pencariannya pada hikmat Allah sendiri. Rasa hormat dan takut kepada Allah merupakan dasar pengetahuan.

Dengan cara demikian, seorang yang berhikmat tidak hanya dipanggil untuk pintar sendiri, tetapi dipanggil juga memanfaatkan ilmunya bagi kemaslahatan banyak orang. Dengan kata lain, seorang berilmu harus—meminjam syair Bing Slamet—”jujur melangkah”.

Mungkin persoalannya memang di sini, tak jarang orang pintar malah minteri ’memerdayai’ orang lain. Dan itu tak mungkin terjadi jika yang bersangkutan menjangkarkan hati dan pikirannya pada sikap hormat dan takut akan Allah.

Itu jugalah yang semestinya menjadi bekal utama bagi kita dalam memahami setiap epigram yang diyakini sebagai buah karya Salomo bin Daud, raja Israel.

SMaNGaT,

Yoel M. Indrasmoro
Literatur Perkantas Nasional

Foto: Istimewa

Posted on Tinggalkan komentar

Takutlah akan Allah

(Pengkhotbah 12:13-14)

Sang pemikir menutup Kitab Pengkhotbah dengan sebuah kesimpulan: ”Akhir kata dari segala yang didengar ialah: takutlah akan Allah dan berpeganglah pada perintah-perintah-Nya, karena ini adalah kewajiban setiap orang. Karena Allah akan membawa setiap perbuatan ke pengadilan yang berlaku atas segala sesuatu yang tersembunyi, entah itu baik, entah itu jahat.”

Kesimpulan itu bukanlah tanpa dasar. Tampaknya, setelah berkali-kali berbicara soal kesia-siaan—, juga beberapa kali menyatakan bahwa segala sesuatu adalah sia-sia—sang pemikir menyadari hakikat dirinya sebagai hamba Allah. Dalam Alkitab Bahasa Indonesia Masa Kini tertera: ”Takutlah kepada Allah dan taatilah segala perintah-Nya, sebab hanya untuk itulah manusia diciptakan-Nya.”

Sang Pemikir memahami bahwa manusia diciptakan untuk menghormati dan menaati Allah. Mengapa? Sebab Dia Allah. Segala sesuatu bersumber dan bermuara pada diri-Nya. Bapa gereja Agustinus mengaku, ”Engkau menciptakan kami untuk diri-Mu sendiri. Hati kami gelisah sebelum beristirahat dalam diri-Mu!” Persekutuan dengan Allah merupakan panggilan sejati setiap manusia.

Manusia dicipta seturut gambar dan rupa Allah. Kekosongan jiwa manusia hanya mungkin dipenuhi oleh Allah sendiri. Bagi manusia, Allah adalah segala-galanya. Di luar itu—di luar persekutuan dengan Allah—sungguh sia-sia!

Dengan kesimpulan ini pula telah kita selesaikan ziarah nalar sang pemikir dalam buku yang sungguh menguras energi ini. Meskipun, harus diakui, sungguh mencerahkan.

SMaNGaT,

Yoel M. Indrasmoro
Literatur Perkantas Nasional

Foto: Sarah Dorweiler

Posted on Tinggalkan komentar

Melelahkan Badan

(Pengkhotbah 12:12)

Meski pada bagian sebelumnya penulis menekankan pentingnya penerbitan, namun dalam ayat 12, pernyataannya bernada minor: ”Lagipula, anakku, waspadalah! Membuat banyak buku tak akan ada akhirnya, dan banyak belajar melelahkan badan.”

Kelihatannya, sama seperti sebelumnya, sang pemikir selalu mengajak pembacanya memikirkan kemungkinan negatif dari semua hal yang tampak serbapositif. Yang kadang membuat kita—orang percaya abad XXI—bingung. Dalam Alkitab Bahasa Indonesia Masa Kini tertera: ”Anakku, tentang satu hal engkau harus waspada. Penulisan buku tak ada akhirnya, dan terlalu banyak belajar melelahkan jiwa dan raga.”

Sepertinya sang pemikir hendak mengingatkan hakikat ilmu pengetahuan—ilmu tak hanya untuk ilmu itu sendiri. Ilmu itu harus bisa dipraktikkan dan berguna bagi masyarakat luas. Itu juga persoalan para cendekiawan yang getol mengembangkan ilmu pengetahuan, namun lupa memikirkan penerapannya dalam masyarakat. Kalau memang demikian, bagi sang pemikir itu memang tak ada artinya, dan hanya melelahkan badan saja.

Dengan kata lain, seorang ilmuwan tak boleh menjadi pecandu riset. Atau, seorang penulis harus sungguh-sungguh signifikan (penting dan bermakna) bagi diri dan kehidupan pembaca. Jadi, bukan sekadar unjuk kebolehan, apalagi uang.

Pada titik ini sang pemikir agaknya juga mengingatkan pentingnya hidup seimbang. Hidup tak hanya diisi oleh belajar, namun juga perlu diselingi dengan bermain. Bagaimanapun kita juga homo ludens ’manusia bermain’. Itu berarti kita tahu, kapan waktu belajar dan kapan waktu bermain! Hidup memang harus seimbang!

SMaNGaT,

Yoel M. Indrasmoro
Literatur Perkantas Nasional

Foto: Debby Hudson

Posted on Tinggalkan komentar

Tak Sekadar Berhikmat

(Pengkhotbah 12:9-11)

Dalam bagian akhir kitabnya, dalam ayat 9-10, penulis menyingkapkan jati dirinya: ”Selain Pengkhotbah berhikmat, ia mengajarkan juga kepada umat itu pengetahuan. Ia menimbang, menguji dan menyusun banyak amsal. Pengkhotbah berusaha mendapat kata-kata yang menyenangkan dan menulis kata-kata kebenaran secara jujur.”

Menarik disimak, sang pemikir tak sekadar berhikmat, namun berupaya untuk mengajarkannya. Tampaknya, dia merupakan tipe orang yang menyadari bahwa setiap orang yang berhikmat wajib menularkan hikmat itu kepada orang lain. Dengan kata lain, orang berhikmat tak boleh hidup hanya untuk dirinya sendiri agar semakin banyak jumlah orang berhikmat. Dan akhirnya bumi penuh dengan hikmat Allah.

Menjadi guru memang bukan persoalan sederhana. Pertama, seorang guru perlu punya mental berbagi. Tentu dalam hal ini berbagi ilmu. Guru dipanggil untuk tak pelit dengan ilmunya. Bahkan semestinya dia siap—dan berani berharap—bahwa naradidik mereka akan lebih pandai dari gurunya.

Kedua, seorang guru perlu punya daya tahan. Dia tidak boleh patah, apalagi menyerah jika mendapati para muridnya sulit, atau malah, enggan berubah. Dia harus punya keyakinan bahwa perubahan itu mungkin. Usaha ini butuh energi besar. Itu hanya mungkin terjadi jika seorang guru mau berbagi hidup dengan muridnya.

Bahkan, ini juga menarik disimak, sang pemikir tak sekadar berhikmat, memanggil dirinya sebagai guru, tetapi dia juga mau menuliskan pemikirannya. Dia agaknya sadar, tulisan berdampak besar dan luas. Tulisan tidak dibatasi oleh dinding-dinding kelas. Itu berarti dia akan banyak memiliki murid informal.

Dan dia menuliskan semuanya dengan jujur. Tak ada yang dipermanis. Perkataannya seperti tongkat gembala atau paku. Dia tidak merasa perlu menjadi populer, namun ingin memberikan yang baik kepada setiap pembacanya. Mengapa? Sebab ia sungguh mengasihi pembacanya. Berbahagialah kita—orang percaya abad XXI—yang diberi kesempatan merenungkan kembali karya tulisnya setiap hari pada masa pandemi.

SMaNGaT,

Yoel M. Indrasmoro
Literatur Perkantas Nasional

Foto: Istimewa

Posted on Tinggalkan komentar

Mengingat Pencipta

(Pengkhotbah 12:1-8)

Masih berkenaan dengan orang muda, dalam ayat 1, sang pemikir menasihati: ”Ingatlah akan Penciptamu pada masa mudamu.” Menarik disimak, sang pemikir tampaknya sengaja mengaitkan masa muda dengan ”pencipta”. Dia tidak memberi nasihat: ”Ingatlah akan Allahmu.” Bisa jadi sang pemikir hendak menyatakan bahwa setiap orang dicipta unik, khas, dan satu-satunya. Dan penciptaan itu bukan tanpa maksud. Mengingat Pencipta berarti memercayai bahwa Allah telah menyiapkan tujuan besar bagi setiap individu.

Menurut Derek Kidner, mengingat akan Pencipta “bukan berarti sesuatu yang dapat dilakukan secara sepele atau melulu suatu pekerjaan mental, melainkan berarti membuang segala anggapan seolah-olah kita dapat mencukupi bagi diri kita sendiri, dan kemudian menyerahkan diri kita secara mutlak kepada Dia”. Dengan kata lain, mengingat Pencipta berarti fokus pada proyek Allah dalam diri masing-masing individu.

Karena itu, masih menurut Derek Kidner, dengan mengingat Pencipta pastilah tidak berterima sikap hidup yang setengah-setengah atau angin-anginan. Dan kembali dikembangkan tema bahwa waktu akan cepat berlalu dan yang tinggal adalah ratapan belaka karena masa tua telah tiba.

Dalam Alkitab Bahasa Indonesia Masa Kini tertera: ”sebelum tiba tahun-tahun penuh sengsara. Pada masa itu engkau akan berkata, ’Hidupku tidak bahagia.’ Bila tiba saat itu matamu tak lagi terang, sehingga pudarlah sinar surya, bulan dan bintang. Awan mendung pembawa hujan, tetap menyertaimu bagai ancaman. Lenganmu gemetar dan tak lagi memberi perlindungan. Kakimu yang kekar akan goyah tanpa kekuatan. Gigimu tidak lengkap untuk mengunyah makanan. Matamu kabur sehingga menyuramkan pandangan. Keramaian di jalan sampai di telingamu dengan samar-samar. Bunyi musik dan penggilingan hampir-hampir tidak terdengar. Engkau tak dapat tidur terlena. Kicauan burung pun membuat engkau terjaga. Engkau takut mendaki tempat yang tinggi dan harus berjalan dengan hati-hati. Rambutmu beruban dan kakimu kauseret waktu berjalan. Maka hilanglah segala hasrat dan keinginan. Kita menuju ke tempat tinggal kita yang penghabisan, orang-orang berkabung dan meratap di sepanjang jalan… Tubuh kita akan kembali, menjadi debu di bumi. Nafas kehidupan kita akan kembali kepada Allah. Dialah yang memberikannya sebagai anugerah.”

Masa muda yang tak diisi baik hanya akan membenarkan pendapat ini: ”Kesia-siaan atas kesia-siaan, kata Pengkhotbah, segala sesuatu adalah sia-sia.”

SMaNGaT,

Yoel M. Indrasmoro
Literatur Perkantas Nasional

Foto: Hernan Sartorio

Posted on Tinggalkan komentar

Masa Muda

(Pengkhotbah 11:9-10)

Berkait masa muda, dalam ayat 9-10, sang pemikir menasihati: ”Bersukarialah, hai pemuda, dalam kemudaanmu, biarlah hatimu bersuka pada masa mudamu, dan turutilah keinginan hatimu dan pandangan matamu, tetapi ketahuilah bahwa karena segala hal ini Allah akan membawa engkau ke pengadilan! Buanglah kesedihan dari hatimu dan jauhkanlah penderitaan dari tubuhmu, karena kemudaan dan fajar hidup adalah kesia-siaan.”

Nasihat yang wajar. Bersukacita menjadi logis karena mereka memang masih muda. Energi mereka masih full. Kesempatan masih terbuka luas. Tak ada beban apa pun. Jika ada kesalahan atau kegagalan yang diperbuat, maka waktu untuk memperbaikinya masih terbilang panjang.

Kelihatannya sang pemikir juga memercayai bahwa orang muda punya kadar idealisme tinggi. Mereka memang belum punya beban hidup yang kadang melunturkan idealisme tadi. Karena itu, mereka didorong untuk menuruti keinginan hati dan mata.

Yang tidak boleh dilupakan, waktu muda itu tidak lama. Cuma sebentar. Dalam Alkitab Bahasa Indonesia Masa Kini tertera: ”Usirlah khawatir dan susah dari hatimu, sebab masa mudamu cepat berlalu.”

Namun demikian, menarik disimak bahwa sang pemikir merasa perlu mengingatkan bahwa di balik setiap tindakan ada tanggung jawab yang diemban. Atau—yang juga benar—sebagai mandataris Allah, Allah sendirilah yang akan menuntut pertanggungan jawab dari mereka. Itu berarti orang muda harus serius—jangan main-main!

SMaNGaT,

Yoel M. Indrasmoro
Literatur Perkantas Nasional

Foto: Takahiro Taguchi

Posted on Tinggalkan komentar

Terang itu Menyenangkan

(Pengkhotbah 11:7-8)

”Terang itu menyenangkan dan melihat matahari itu baik bagi mata; oleh sebab itu jikalau orang panjang umurnya, biarlah ia bersukacita di dalamnya, tetapi hendaklah ia ingat akan hari-hari yang gelap, karena banyak jumlahnya. Segala sesuatu yang datang adalah kesia-siaan.”

Demikianlah kesaksian sang pemikir. Kesaksiannya itu benar. Terang memang lebih menyenangkan dibandingkan dengan gelap. Terang itu membuat kita merasa aman. Melangkah dalam terang membuat kita merasa pasti karena tak perlu meraba-raba. Manusia memang hanya mungkin melihat ketika ada sinar yang tertangkap retina. Ya, terang itu menghibur, juga mencerahkan. Dalam keadaan gelap suasana hati kita pun ikut-ikutan muram.

Dalam bahasa Indonesia, beberapa kata majemuk yang dimulai dengan terang menarik disimak, di antaranya: ”terang akal” berarti pandai atau cerdik; ”terang bulan” berarti tidak gelap pada malam hari karena ada cahaya bulan; ”terang cuaca” berarti udara baik; ”terang hati” berarti mudah mengerti; ”terang pikiran” berarti juga terang hati. Semuanya berkonotasi positif.

Dan sang pemikir mengajak pembacanya untuk menikmati terang selagi sempat. Sebab akan ada gelap, yang menurut dia jumlahnya lebih banyak. Dalam Alkitab Bahasa Indonesia Masa Kini tertera: ”Hendaklah engkau bersyukur kalau bertambah umur. Tapi ingat, biar engkau hidup lama di bumi, masamu di alam maut masih lebih lama lagi. Jadi, apa yang mau diharapkan pula? Semuanya percuma dan sia-sia.”

Ya, melihat matahari berarti menerima kehidupan. Dan karena itu kita perlu mengisi kehidupan, anugerah Allah itu, dengan sebaik-baiknya. Sebab jika tidak, akan ada gelap di alam maut yang kekal sifatnya. Dan jika memang demikian, maka semuanya sungguh-sungguh sia-sia.

Oleh karena itu, sekali lagi, marilah kita melakoni hidup ini dengan sebaik-baiknya, apalagi kala pandemi ini.

SMaNGaT,

Yoel M. Indrasmoro
Literatur Perkantas Nasional

Foto: Thomas Lipke

Posted on Tinggalkan komentar

Menabur Benih

(Pengkhotbah 11:6)

Berkait usaha, dalam ayat 6, sang pemikir—dengan menggunakan ilustrasi dari dunia pertanian—menasihati: ”Taburkanlah benihmu pagi-pagi hari, dan janganlah memberi istirahat kepada tanganmu pada petang hari, karena engkau tidak mengetahui apakah ini atau itu yang akan berhasil, atau kedua-duanya sama baik.”

Tak ada orang yang ingin usahanya gagal. Pada titik ini nasihat sang pemikir bisa menjadi jalan keluar. Dia mengajak orang yang berusaha untuk melakukan antisipasi.

Memang berkait pertumbuhan benih, tidak seorang pun yang bisa memastikan. Karena itulah sang pemikir memberikan nasihat untuk tidak menabur pada pagi hari saja. Dia mengajak untuk menabur pada petang hari. Alasannya sederhana, petani itu tidak bisa memastikan mana yang akan tumbuh baik, yang ditabur pada pagi hari atau sore hari, atau keduanya sama-sama tumbuh baik.

Apakah itu berarti ngoyo? Sepertinya tidak. Tampak ngoyo seandainya petani tersebut menabur benihnya tiga kali: pagi, siang, dan petang. Selain sungguh-sungguh melelahkan, maka menabur benih pada siang hari bisa jadi sia-sia mengingat suhu yang terlalu tinggi. Kalau menaburnya pada malam hari, pasti perlu ada biaya tambahan untuk lampu.

Kelihatannya, sang pemikir sedang berbicara juga soal meminimalkan risiko. Risiko gagal selalu ada. Karena itu, kita perlu mengurangi risiko tersebut. Kalau gagal juga. Kita bisa mengatakan, itu memang sudah kehendak Tuhan.

SMaNGaT,

Yoel M. Indrasmoro
Literatur Perkantas Nasional

Foto: Syd Wachs

Posted on Tinggalkan komentar

Pekerjaan Allah

(Pengkhotbah 11:5)

Dalam ayat 5 sang pemikir menyatakan: ”Sebagaimana engkau tidak mengetahui jalan angin dan tulang-tulang dalam rahim seorang perempuan yang mengandung, demikian juga engkau tidak mengetahui pekerjaan Allah yang melakukan segala sesuatu.”

Sebagai makhluk berakal budi manusia berupaya memahami apa yang ada—juga terjadi—di sekitarnya. Caranya dengan bertanya baik secara oral maupun dalam hati. Sejak kecil kita senantiasa bertanya. Sejatinya pertanyaan-pertanyaan itulah yang menjadikan ilmu pengetahuan berkembang pesat. Namun demikian, sang pemikir mengingatkan bahwa semua ada batasnya. Artinya, ada yang masih tidak kita ketahui, khususnya tentang Allah dan pekerjaan-Nya.

Batasan itu semestinya membuat kita bersyukur. Yang membuat kita tak perlu ngoyo. Misteri yang ada semestinya membuat kita makin rendah hati. Kalaupun hendak menguak misteri, maka jalan yang paling logis adalah bertanya kepada Allah, Sang Pencipta itu sendiri. Syukur-syukur Dia memberitahukannya. Jika tidak, ya enggak apa-apa; tak perlu kecil hati. Bagaimanapun Allah adalah khalik dan kitalah ciptaan-Nya.

Begitu juga dengan pandemi COVID-19 ini. Tentulah ada banyak tanya yang melintas dalam benak. Dengan pertolongan Allah, marilah kita coba menjawabnya satu demi satu. Jika masih belum ada jawabannya, sebaiknya ditunggu saja. Jika Allah mau, pada waktu-Nya, Dia akan mengungkapkannya. Percayalah!

SMaNGaT,

Yoel M. Indrasmoro
Literatur Perkantas Nasional

Foto: Istimewa

Posted on Tinggalkan komentar

Lakukanlah

(Pengkhotbah 11:4)

Dalam ayat 4 sang pemikir menasihati: ”Siapa senantiasa memperhatikan angin tidak akan menabur; dan siapa senantiasa melihat awan tidak akan menuai.” Nasihat jitu. Mengapa? Karena manusia sering ragu, banyak pertimbangan ketika hendak memulai sesuatu.

Dalam Alkitab Bahasa Indonesia Masa Kini tertera: ”Siapa menunggu sampai angin dan cuaca sempurna, tak akan menanam dan tidak pula memetik hasilnya.” Banyak pertimbangan tentu baik. Tak ada manusia yang ingin gagal. Ya, buat apa melakukan sesuatu yang sudah pasti gagal. Namun, yaitu tadi, jika menunggu angin dan cuaca sempurna dahulu, kita bisa jadi tak akan mulai menanam. Jika tidak mulai menanam, mungkinkah kita menuai hasilnya? Tentu tidak.

Herbert Kauffman, sebagaimana dikutip Frank Bettger dalam buku Meretas Kegagalan Menuju Sukses Penjualan, menulis: ”Di daftar orang yang berhasil namamu tidak terdapat. Jelaskan kenapa! Bukan peluang yang kau tidak punya! Seperti biasa—Kau tidak berbuat apa-apa.”

Pertimbangan itu perlu. Namun, setelah mempertimbangkan semuanya, lakukanlah. Ya, lakukan saja. Kita memang tidak akan tahu hasilnya. Itulah yang membuat kita cemas. Akan tetapi, itu jugalah kesempatan bagi kita memberikan ruang pada rahmat Allah.

SMaNGaT,

Yoel M. Indrasmoro
Literatur Perkantas Nasional

Foto: Jana Sabeth

Posted on Tinggalkan komentar

Niscaya

(Pengkhotbah 11:3)

Dalam ayat 3 sang pemikir menasihati: ”Bila awan-awan sarat mengandung hujan, maka hujan itu dicurahkannya ke atas bumi; dan bila pohon tumbang ke selatan atau ke utara, di tempat pohon itu jatuh, di situ ia tinggal terletak.” Pada titik ini sang pemikir berbicara soal keniscayaan.

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, ”niscaya” berarti pasti atau tidak boleh tidak. Kalau awan sarat dengan titik-titik air pasti hujan terjadi. Atau, kalau pohon kena tiupan angin yang cukup kuat pasti—tidak boleh tidak—akan tumbang. Jika angin bergerak dari Utara ke Selatan, pasti arah pohon itu tumbang adalah ke Selatan. Tidak mungkin pohon itu jatuh ke arah yang berlawanan. Sesungguhnya ilmu pengetahuan akan menolong kita melakukan prediksi.

Apa relevansi nas ini dalam kehidupan kita di tengah pandemi? Sebenarnya cukup sederhana. Kalau dalam kasus tadi, kita punya peribahasa: Sedia payung sebelum hujan. Atau, jika kita tahu ke mana angin bertiup, kita bisa menghindari batang pohon yang rubuh. Dalam masa pandemi, tak ada jalan lain selain: mengenakan masker, jaga jarak, dan cuci tangan!

SMaNGaT,

Yoel M. Indrasmoro
Literatur Perkantas Nasional

Foto: Suhyeon Choi

Posted on Tinggalkan komentar

Tumpang Sari

(Pengkhotbah 11:2)

Dalam ayat 2 sang pemikir menasihati: ”Berikanlah bahagian kepada tujuh, bahkan kepada delapan orang, karena engkau tidak tahu malapetaka apa yang akan terjadi di atas bumi.” Tak terlalu mudah memahami maksud sang pemikir. Dalam Alkitab Bahasa Indonesia Masa Kini tertera: ”Tanamlah modalmu di berbagai niaga; carilah usaha sebanyak-banyaknya. Sebab orang perlu waspada, sebelum musibah menimpa.”

Sang pemikir menyinggung soal antisipasi. Dalam dunia niaga, modal perlu dibagi-bagi di beberapa tempat, agar—ketika bencana menimpa—tidak ludes semuanya. Nasihat sang pemikir ini bak sekoci penolong dalam kapal penumpang. Tentu tak seorang penumpang pun berharap akan menggunakannya. Namun, keberadaan sekoci penolong merupakan keniscayaan.

Dalam dunia pertanian ada istilah tumpang sari, yaitu bercocok tanam dengan menanam dua jenis tanaman atau lebih secara serentak, dengan membentuk barisan-barisan lurus untuk tanaman, yang ditanam secara berseling pada satu bidang tanah. Maksudnya, ketika tanaman pokoknya tidak panen maksimal, petani masih bisa menikmati hasil panenan lain.

Bagaimana dengan karyawan yang hanya bekerja pada satu perusahaan? Pada masa pandemi ini, mengencangkan ikat pinggang merupakan kemestian. Tentu tujuannya bukan hanya untuk diri sendiri, tetapi juga untuk orang lain. Bagaimanapun, ini kata Tuhan Yesus dalam Yohanes 12:8, ”Orang-orang miskin selalu ada pada kamu.”

Yoel M. Indrasmoro
Literatur Perkantas Nasional

Foto: Istimewa

Posted on Tinggalkan komentar

Jangan Takut Kehilangan

(Pengkhotbah 11:1)

Dalam ayat 1 sang pemikir menasihati: ”Lemparkanlah rotimu ke air, maka engkau akan mendapatnya kembali lama setelah itu.” Tak mudah memahami maknanya. Sebagian orang mengartikannya sebagai pemberian kepada orang miskin. Namun, ada pula yang mengartikannya sebagai pentingnya penanaman modal dalam suatu usaha. Alkitab Edisi Studi mengusulkan terjemahan: ”Jangan takut untuk menanam modal. Suatu hari nanti akan ada hasilnya.”

Apa pun pengertian yang dipilih—entah investasi atau pemberian kepada orang miskin—sang pemikir menyatakan keyakinannya bahwa semua itu akan kembali. Kita akan mendapatkannya lagi. Memang perlu waktu. Sehingga yang penting adalah keberanian untuk melakukan sesuatu dengan sebaik-baiknya.

Mungkin persoalannya memang di sini: kita takut kehilangan sesuatu sekarang ini. Dan ketika kita takut kehilangan sesuatu pada masa kini, kita tidak akan mendapatkan apa pun pada masa yang akan datang. Dalam bisnis tentu benar, kalau enggak menanam modal, mustahil akan mendapatkan untung di kemudian hari.

Berkait budi baik, dalam Amsal 19:17 tertera: ”Siapa menaruh belas kasihan kepada orang yang lemah, memiutangi TUHAN, yang akan membalas perbuatannya itu.” Dalam Alkitab Bahasa Indonesia Masa Kini tertera: ”Menolong orang miskin sama seperti memberi pinjaman kepada TUHAN; nanti TUHAN juga yang akan membalasnya.”

Intinya: kehilangan sekarang—apa pun itu—akan membuat kita mendapatkannya kembali nanti. Ringkasnya: Jangan takut kehilangan apa pun! Tuhan tidak tidur. Percayalah!

Yoel M. Indrasmoro
Literatur Perkantas Nasional

Foto: Istimewa

Posted on Tinggalkan komentar

Jangan Mengutuk

(Pengkhotbah 10:20)

Berkait perkataan, dalam ayat 20 sang pemikir menasihati: ”Dalam pikiran pun janganlah engkau mengutuki raja, dan dalam kamar tidur janganlah engkau mengutuki orang kaya, karena burung di udara mungkin akan menyampaikan ucapanmu, dan segala yang bersayap dapat menyampaikan apa yang kauucapkan.”

Ini sungguh nasihat yang bijak dan logis. Sebab yang dalam pikiran itu—apalagi dalam keadaan tegang atau terdesak—tanpa sadar keluar melalui mulut kita. Bahkan, apa yang kita ucapkan dalam kamar pribadi sekalipun masih mungkin didengar oleh orang yang kita bicarakan. Sehingga yang paling aman adalah jangan mengecam, mengumpat, atau menghakimi orang lain.

Lalu apa yang harus kita lakukan? Yang paling aman, dan pasti nyaman adalah belajar melihat sisi baik dari setiap orang. Sejatinya, setiap orang punya kelemahan, tetapi pasti juga punya kekuatan. Menyadari kekuatan seorang rekan akan membuat diri kita dijauhkan dari godaan untuk menghakiminya.

Kesadaran itu akan membuat pikiran—juga hati—kita lebih tenang karena kita tahu memiliki rekan yang dapat diandalkan. Kenyataan itu pulalah yang akan membuat diri kita merasa damai. Itu sungguh berguna, khususnya pada masa pandemi ini. Percayalah!

SMaNGaT,

Yoel M. Indrasmoro
Literatur Perkantas Nasional

Foto: Istimewa

Posted on Tinggalkan komentar

Hidup adalah Pesta

(Pengkhotbah 10:19)

Dalam ayat 19 sang pemikir menyatakan: ”Untuk tertawa orang menghidangkan makanan; anggur meriangkan hidup dan uang memungkinkan semuanya itu.” Dalam Alkitab Bahasa Indonesia Masa Kini tertera: ”Pesta membuat tertawa, dan anggur membuat gembira. Tapi perlu ada uang untuk membayarnya.” Benarkah pernyataannya?

Tentu ada benarnya. Pesta membuat orang tertawa, anggur membuat orang bergembira. Ketika makan enak dan minum anggur, orang sesaat akan melupakan beban hidupnya. Yang juga benar: semuanya itu butuh modal. Dan karena butuh modal yang tidak sedikit, aneh rasanya—bahkan mustahil—jika orang mengadakan pesta setiap hari.

La vita è bella ’hidup adalah pesta’. Itulah judul sebuah film Italia—dirilis pada 1997—yang bercerita tentang seorang Yahudi Italia Guido Orefice (diperankan Roberto Benigni) dalam menyikapi nasib yang menimpanya dalam kamp konsentrasi Bergen-Belsen masa Perang Dunia II. Ia mengajak anaknya untuk melihat situasi dalam kamp itu sebagai sebuah permainan. Dan lazimnya permainan pasti dilakoni dengan gembira. Ini memang masalah cara pandang.

Itu berarti tak perlu makanan enak dan anggur untuk tetap bergembira dalam hidup. Hidup itu sendiri adalah pesta. Tentu saja selama kita mampu melihat ada yang layak disyukuri. Namun demikian, bukankah hidup itu sendiri sungguh sesuatu banget pada masa pandemi ini?

SMaNGaT,

Yoel M. Indrasmoro
Literatur Perkantas Nasional

Foto: Istimewa

Posted on Tinggalkan komentar

Kemalasan

(Pengkhotbah 10:18)

Berkait kemalasan, sang pemikir membuat gambaran menarik pada ayat 18: ”Oleh karena kemalasan runtuhlah atap, dan oleh karena kelambanan tangan bocorlah rumah.” Dalam Alkitab Bahasa Indonesia Masa Kini tertera: ”Atap rumah akan bocor kalau tidak dibetulkan, dan akhirnya rumah itu lapuk akibat kemalasan.”

Kelambanan itulah yang disorot sang pemikir. Pada kenyataannya manusia memang senang menunda. Alasannya, biasanya, belum ada waktu untuk mengerjakannya. Dan lama-kelamaan malah lupa mengerjakannya. Atau, kalaupun ingat, senyatanya penundaan yang terlalu lama malah akan membuat diri makin enggan mengerjakannya. Ujungnya sesal di hati.

Ambil contoh gambaran sang pemikir tadi. Ketika genting bocor tak langsung diperbaiki, maka kebocoran akan menjadi semakin besar. Yang akhirnya membuat kayu penyangga genting itu lapuk, dan atap pun. Semua itu terjadi karena malas. Ya, malas memperbaiki genting bocor.

Senada dengan peribahasa Cina: ”Keberhasilan mengatasi kebakaran sebenarnya merupakan kegagalan mengelola api itu ketika masih kecil.” Dalam banyak hal, memang ini yang terjadi. Menunda untuk mengerjakan sesuatu—yang mungkin remeh—hanya akan mendatangkan bencana.

Tentu, itu tidak berarti kita harus bersikap grasah-grusuh (tergesa-gesa). Namun, menunda sesuatu yang penting—apalagi mendesak—karena rasa malas hanya akan membuat kita menuai akibat buruknya. Oleh karena itu, perlulah bagi kita, setiap hari, menentukan skala prioritas bagi diri kita sendiri.

SMaNGaT,

Yoel M. Indrasmoro
Literatur Perkantas Nasional

Foto: James Lee

Posted on Tinggalkan komentar

Para Pemimpin

(Pengkhotbah 10:16-17)

Sang pemikir menegaskan dalam ayat 16-17: ”Wahai engkau tanah, kalau rajamu seorang kanak-kanak, dan pemimpin-pemimpinmu pagi-pagi sudah makan! Berbahagialah engkau tanah, kalau rajamu seorang yang berasal dari kaum pemuka, dan pemimpin-pemimpinmu makan pada waktunya dalam keperkasaan dan bukan dalam kemabukan!”

Tak terlalu mudah memahami Alkitab Terjemahan Baru. Yang pasti hitam putihnya negeri sangat bergantung pada pemimpinnya. Dalam Alkitab Bahasa Indonesia Masa Kini tertera: ”Celakalah negeri yang rajanya muda belia, dan para pembesarnya semalam suntuk berpesta pora. Mujurlah negeri yang rajanya berwibawa, yang pembesarnya makan pada waktunya, tak suka mabuk dan pandai menahan dirinya.”

Kepemimpinan memang krusial. Mengapa? Sebab mereka adalah pemimpin. Dan pemimpin memiliki wewenang besar untuk menghitamputihkan keadaan karena dialah yang mengambil keputusan.

Dengan sengaja sang pemikir membedakan raja yang muda belia dan raja yang berwibawa. Terkesan stereotip, orang muda pasti tanpa pengalaman dan karena itu masih suka hura-hura. Meski memang benar, kalau rajanya enggak berwibawa, pasti para pembesarnya menganggap dia mudah diatur dan karena itu mereka bebas berpesta. Dan ketika raja berwibawa, maka bawahannya pun akan tertib hidupnya.

Pada titik ini kaderisasi menjadi pekerjaan rumah yang sungguh penting. Dan keluarga-keluarga dipanggil untuk menyemai pemimpin-pemimpin yang berwibawa. Sebab di tangan merekalah hitam putihnya negeri terletak.

SMaNGaT,

Yoel M. Indrasmoro
Literatur Perkantas Nasional

Foto: Jehyun Sung

Posted on Tinggalkan komentar

Kata-kata

(Pengkhotbah 10:12-15)

Dalam ayat 12 sang pemikir menyatakan: ”Perkataan mulut orang berhikmat menarik, tetapi bibir orang bodoh menelan orang itu sendiri.” Dalam Alkitab Bahasa Indonesia Masa Kini tertera: ”Ucapan orang arif membuat ia dihormati, tetapi orang bodoh binasa karena kata-katanya sendiri.” Kata yang keluar dari mulut seseorang berdampak terhadap diri orang tersebut.

Kata merupakan alat komunikasi. Meski, juga benar, bahwa kita pun masih bisa berkomunikasi tanpa kata. Namun, tentu saja, itu membutuhkan tingkat korelasi yang tinggi antarmanusia. Dengan kata, manusia bisa menguatkan, tetapi juga melemahkan; bisa menghibur, tetapi juga menyakiti, bisa mendorong, tetapi juga menjerumuskan. Karena itu, memilih kata yang baik, benar, dan tepat merupakan tugas mulia. Mulia karena sejatinya kata yang keluar semestinya memang untuk memuliakan manusia.

Sehingga, jalan terlogis adalah janganlah terlalu banyak kata keluar dari mulut kita. Dalam ayat 13-15 Alkitab Bahasa Indonesia Masa Kini, berkait dengan orang bodoh, sang pemikir mengatakan: ”Ia mulai dengan omong kosong biasa, tetapi akhirnya bicaranya seperti orang gila. Memang, orang bodoh banyak bicara. Hari depan tersembunyi bagi kita semua. Tak ada yang dapat meramalkan kejadian setelah kita tiada.”

Itu jugalah nasihat Pak Andar Ismail dalam Mata Kuliah Didaktik PAK. Kebanyakan kata sering malah membuat kita bingung sendiri. Kalau kata sang pemikir, dalam ayat 15 Alkitab Bahasa Indonesia Masa Kini seperti ”orang bodoh yang tak tahu jalan ke rumahnya”.

SMaNGaT,

Yoel M. Indrasmoro
Literatur Perkantas Nasional

Foto: Kelly Sikkema

Posted on Tinggalkan komentar

Momentum

(Pengkhotbah 10:11)

Dalam ayat 11 sang pemikir menegaskan: ”Jika ular memagut sebelum mantera diucapkan, maka tukang mantera tidak akan berhasil.” Dalam Alkitab Bahasa Indonesia Masa Kini tertera: ”Kalau ular menggigit sebelum dijinakkan dengan mantera, maka pawang ular tak ada lagi gunanya.”

Kalimat sang pemikir sungguh logis. Apa gunanya pawang ular kalau sang ular sudah menggigit? Pada titik ini sang pemikir agaknya bicara soal momentum. Dan salah satu artinya menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia adalah saat yang tepat. Seperti tadi, pawang ular akan sangat berguna jika mereka bekerja sebelum ular memagut.

Ini juga masalah kesempatan. Dan kata orang, kesempatan itu tak berwajah sehingga sulit dikenali, namun berekor licin sehingga tak mudah ditangkap ketika orang mengenalinya. Pada titik ini manusia perlu hikmat. Hikmat untuk mampu mengantisipasi masa depan dengan memperhatikan situasi masa kini.

Ini jugalah kritikan Yesus kepada Orang Farisi dan Sadiki yang meminta tanda: ”Pada petang hari karena langit merah, kamu berkata: Hari akan cerah, dan pada pagi hari, karena langit merah dan redup, kamu berkata: Hari buruk. Rupa langit kamu tahu membedakannya tetapi tanda-tanda zaman tidak” (Mat. 16:2-3). Orang Farisi dan Saduki tidak mampu menilai tanda-tanda zaman. Sehingga mereka tidak menyadari alasan keberadaan Yesus Orang Nazaret. Mereka memang butuh hikmat.

Dan berkait hikmat, Yakobus dalam suratnya kepada dua belas suku di perantauan menulis: ”Tetapi apabila di antara kamu ada yang kekurangan hikmat, hendaklah ia memintanya kepada Allah—yang memberikan kepada semua orang dengan murah hati dan tidak membangkit-bangkit—maka hal itu akan diberikan kepadanya” (Yak. 1:5). Ya, mari kita memintanya kepada Allah!

SMaNGaT,

Yoel M. Indrasmoro
Literatur Perkantas Nasional

Foto: Ales Krivec

Posted on Tinggalkan komentar

Akal Sehat

(Pengkhotbah 10:10)

Dalam ayat 10 sang pemikir mengingatkan: ”Jika besi menjadi tumpul dan tidak diasah, maka orang harus memperbesar tenaga, tetapi yang terpenting untuk berhasil adalah hikmat.” Dalam Alkitab Bahasa Indonesia Masa Kini tertera: ”Apabila parangmu tumpul dan tidak kauasah, engkau harus bekerja dengan lebih bersusah payah. Pakailah akal sehatmu, dan buatlah rencana lebih dahulu.”

Sang pemikir menyatakan betapa penting bagi seseorang untuk membuat rencana sebelum melakukan sesuatu. Rencana menjadi penting karena kegagalan membuat rencana membuat kita merencanakan sebuah kegagalan.

Dengan unik sang pemikir mengingatkan kita untuk mengasah pisau sebelum menggunakannya. Ini memang persoalan daya guna dan hasil guna. Tak menyiapkan peralatan kerja yang terbaik akan membuat kita capek sendiri, bisa jadi malah frustrasi. Ini sejatinya cuma persolan hikmat. Ini sekadar penggunaan akal sehat.

Pada masa Perjanjian Baru pun, Yesus—Sang Guru dari Nazaret—mengingatkan: ”Sebab siapakah di antara kamu yang kalau mau mendirikan sebuah menara tidak duduk dahulu membuat anggaran biayanya, apakah uangnya cukup untuk menyelesaikan pekerjaan itu? Supaya jikalau ia sudah meletakkan dasarnya dan tidak dapat menyelesaikannya, jangan-jangan semua orang yang melihatnya, mengejek dia, dan berkata: Orang itu mulai mendirikan, tetapi ia tidak sanggup menyelesaikannya” (Luk. 14:28-30).

Pada titik ini Tuhan Yesus menegaskan betapa penting dan strategisnya sebuah rencana. Aneh rasanya jika tidak dilakukan. Masalahnya kadang manusia menganggapnya sepele, mungkin karena sudah biasa melakukannya. Tak jarang malah mengabaikannya sama sekali.

SMaNGaT,

Yoel M. Indrasmoro
Literatur Perkantas Nasional

Foto: Jared Rice

Posted on Tinggalkan komentar

Risiko

(Pengkhotbah 10:8-9)

Berkait dengan risiko, sang pemikir dalam ayat 8-9 mengingatkan: ”Barangsiapa menggali lobang akan jatuh ke dalamnya, dan barangsiapa mendobrak tembok akan dipagut ular. Barangsiapa memecahkan batu akan dilukainya; barangsiapa membelah kayu akan dibahayakannya.”

Setiap perbuatan mengandung risiko. Tak ada tindakan—bagaimanapun baiknya—yang bebas dari risiko. Oleh karena itu, pentinglah bagi kita untuk selalu berpikir dahulu sebelum bertindak. Kita punya peribahasa: Pikir dahulu pendapatan, sesal kemudian tiada berguna.

Dinding rumah di Israel pada masa itu biasa dibuat dari batu atau batu bata, dan celah di antara batu-batu itu diisi dengan lumpur. Jika sebagian lumpur itu hilang, seekor ular dapat tinggal di dalam dinding. Namun demikian, kemungkinan itu tak perlu membuat orang akhirnya urung mendobrak tembok. Jika memang perlu, tindakan itu memang harus dilakukan. Yang penting hati-hati, dan sedapat mungkin meminimalkan risiko.

Demikian pula dengan kegiatan memecah batu dan membelah kayu. Kemungkinan adanya risiko tak perlu membuat manusia tak jadi memecah batu maupun membelah kayu. Sekali lagi, yang penting dalam hidup adalah memahami adanya risiko dan sedapat mungkin mengurangi risiko yang mungkin terjadi.

Pada titik inilah hikmat menjadi senjata andalan. Hikmat semestinya menolong manusia untuk memahami kemungkinan terburuk dan mengantisipasinya untuk mengurangi akibat buruknya. Dan pilihan memang ada pada kita.

SMaNGaT,

Yoel M. Indrasmoro
Literatur Perkantas Nasional

Foto: AJ Yorio

Posted on Tinggalkan komentar

Penyimpangan Kuasa

(Pengkhotbah 10:5-7)

Berkait dengan kuasa, sang pemikir dalam ayat 5-7 menyatakan dengan tegas: ”Ada suatu kejahatan yang kulihat di bawah matahari sebagai kekhilafan yang berasal dari seorang penguasa: pada banyak tempat yang tinggi, didudukkan orang bodoh, sedangkan tempat yang rendah diduduki orang kaya. Aku melihat budak-budak menunggang kuda dan pembesar-pembesar berjalan kaki seperti budak-budak.”

Mungkin inilah pertanyaan yang layak kita ajukan: ”Kok bisa?” Jawabannya: pasti bisa. Sebab raja adalah pribadi penuh kuasa dalam suatu kerajaan. Dan persoalan terbesar kekuasaan adalah cenderung menyeleweng. Dosa membuat manusia—apalagi yang punya kuasa—cenderung menyimpang.

Sistem masyarakat modern—yang mengubah konsep daulat tuanku menjadi daulat rakyat—sebenarnya mencoba untuk mengurangi kemungkinan penyelewengan itu. Namun, harus kita akui, ini pun tak sepenuhnya berjalan baik.

Pemilihan umum tak terlalu menjanjikan. Senyatanya yang terpilih kebanyakan bukan yang terbaik, melainkan yang punya modal uang—entah modal sendiri atau modal pinjaman. Dan semua modal harus dikembalikan. Dan itulah yang sering menyebabkan penyelewengan.

Namun demikian, jalan keluar selalu ada. Pendidikan moral menjadi keniscayaan. Dan keluarga dituntut menjadi gurunya. Bagaimanapun, para penguasa itu tak muncul dari ruang hampa. Mereka berasal dari keluarga-keluarga.

Mari kita siapkan pemimpin mulai dari sekarang! Mari kita mulai dengan pendidikan moral dalam keluarga kita masing-masing.

SMaNGaT,

Yoel M. Indrasmoro
Literatur Perkantas Nasional

Foto: Wim Van

Posted on Tinggalkan komentar

Kesabaran

(Pengkhotbah 10:5-7)

Berkait dengan kuasa, sang pemikir dalam ayat 5-7 menyatakan dengan tegas: ”Ada suatu kejahatan yang kulihat di bawah matahari sebagai kekhilafan yang berasal dari seorang penguasa: pada banyak tempat yang tinggi, didudukkan orang bodoh, sedangkan tempat yang rendah diduduki orang kaya. Aku melihat budak-budak menunggang kuda dan pembesar-pembesar berjalan kaki seperti budak-budak.”

Mungkin inilah pertanyaan yang layak kita ajukan: ”Kok bisa?” Jawabannya: pasti bisa. Sebab raja adalah pribadi penuh kuasa dalam suatu kerajaan. Dan persoalan terbesar kekuasaan adalah cenderung menyeleweng. Dosa membuat manusia—apalagi yang punya kuasa—cenderung menyimpang.

Sistem masyarakat modern—yang mengubah konsep daulat tuanku menjadi daulat rakyat—sebenarnya mencoba untuk mengurangi kemungkinan penyelewengan itu. Namun, harus kita akui, ini pun tak sepenuhnya berjalan baik.

Pemilihan umum tak terlalu menjanjikan. Senyatanya yang terplih kebanyakan bukan yang terbaik, melainkan yang punya modal uang—entah modal sendiri atau modal pinjaman. Dan semua modal harus dikembalikan. Dan itulah yang sering menyebabkan penyelewengan.

Namun demikian, jalan keluar selalu ada. Pendidikan moral menjadi keniscayaan. Dan keluarga dituntut menjadi gurunya. Bagaimanapun, para penguasa itu tak muncul dari ruang hampa. Mereka berasal dari keluarga-keluarga.

Mari kita siapkan pemimpin mulai dari sekarang! Mari kita mulai dengan pendidikan moral dalam keluarga kita masing-masing.

SMaNGaT,

Yoel M. Indrasmoro
Literatur Perkantas Nasional

Foto: Istimewa

Posted on Tinggalkan komentar

Sedikit Kebodohan

(Pengkhotbah 10:1-3)

Dalam ayat 1, sang pemikir menegaskan: ”Lalat yang mati menyebabkan urapan dari pembuat urapan berbau busuk; demikian juga sedikit kebodohan lebih berpengaruh dari pada hikmat dan kehormatan.” Dalam Alkitab Bahasa indonesia Masa Kini tertera: ”Bangkai lalat membusukkan sebotol minyak wangi, sedikit kebodohan menghilangkan hikmat yang tinggi.”

Tampaknya sang pemikir memahami betapa ngerinya kebodohan itu. Bukan hikmat yang menghilangkan kebodohan, tetapi kebodohan itu yang menghilangkan hikmat. Kita punya peribahasa: ”Karena nila setitik rusak susu sebelanga.”

Mengapa demikian? Alasannya menarik disimak. Dalam ayat 3, berkenaan dengan orang bodoh, sang pemikir menyatakan: ”Juga kalau ia berjalan di lorong orang bodoh itu tumpul pikirannya, dan ia berkata kepada setiap orang: ’Orang itu bodoh!’” Di sini persolaannya. Apa jadinya sebuah komunitas jika ada satu saja orang tersinggung dengan penilaian itu. Pasti akan menjadi persoalan besar.

Namun demikian, kita juga bisa belajar dari sang pemikir di sini. Kalau ada seseorang yang mengatakan bahwa semua orang bodoh, semestinya kita tak perlu tersinggung amat. Sebab orang itu sedang menyatakan kebodohannya sendiri. Dan semoga kita pun terlepas dari kecenderungan itu.

SMaNGaT,

Yoel M. Indrasmoro
Literatur Perkantas Nasional

Foto: Kylo

Posted on Tinggalkan komentar

Siap Dilupakan

(Pengkhotbah 9:13-18)
Berkait dengan kuasa, dalam ayat 14-15, sang pemikir mengajak para pembacanya untuk melihat sebuah kenyataan: ”Ada sebuah kota yang kecil, penduduknya tidak seberapa; seorang raja yang agung menyerang, mengepungnya dan mendirikan tembok-tembok pengepungan yang besar terhadapnya; di situ terdapat seorang miskin yang berhikmat, dengan hikmatnya ia menyelamatkan kota itu, tetapi tak ada orang yang mengingat orang yang miskin itu.”
Inilah yang biasa terjadi dalam bumi manusia. Semua orang kota itu pastilah paham bahwa hikmat orang muda itulah yang telah menyelamatkan kota mereka. Sesungguhnya mereka sangat berutang padanya. Akan tetapi, inilah yang juga sering terjadi pada masa kini, ketika masa krisis berlalu, maka orang muda itu pun dilupakan orang-orang sekotanya.
Pertanyaannya, jika kita adalah orang muda yang miskin itu, apakah yang harus kita perbuat? Apakah kita tetap bersedia menyelamatkan kota itu? Atau, apakah kita membiarkan kota itu jatuh, toh nanti tidak ada yang mengingat kita?
Menurut sang pemikir, hikmat sejatinya lebih penting dari kuasa. Kuasa tanpa hikmat hanya akan membawa negeri pada kehancuran. Itu berarti panggilan seorang yang berhikmat adalah tetap menjalankan tugasnya untuk menyelamatkan kota, meski tahu bahwa dia akan dilupakan. Siap untuk dilupakan merupakan panggilan setiap orang yang berhikmat. Toh, yang melupakannya adalah manusia. Di hadapan Allah semuanya ada catatannya.
Semasa hidup Bunda Teresa pernah berkata, ”Hal baik yang Anda lakukan hari ini mungkin saja akan dilupakan besok. Sekalipun begitu berbuat baiklah apa pun yang terjadi.” Itu jugalah panggilan kita di tengah pandemi ini.
SMaNGaT,
Yoel M. Indrasmoro
Literatur Perkantas Nasional
Foto: Istimewa
Posted on Tinggalkan komentar

Anomali

(Pengkhotbah 9:11-12)

Berdasarkan pengamatan yang teliti, dalam ayat 11, sang pemikir menyatakan: ”Lagi aku melihat di bawah matahari bahwa kemenangan perlombaan bukan untuk yang cepat, dan keunggulan perjuangan bukan untuk yang kuat, juga roti bukan untuk yang berhikmat, kekayaan bukan untuk yang cerdas, dan karunia bukan untuk yang cerdik cendekia, karena waktu dan nasib dialami mereka semua.”

Sang pemikir memperlihatkan beberapa anomali bahwa, dalam Alkitab Bahasa Indonesia Masa Kini tertera, ”perlombaan tidak selalu dimenangkan oleh pelari cepat, pertempuran tidak selalu dimenangkan oleh orang yang kuat. Orang bijaksana tidak selalu mendapat mata pencaharian. Dan orang cerdas tidak selalu memperoleh kekayaan. Juga para ahli tidak selalu menjadi terkenal. Sebab siapa saja bisa ditimpa nasib sial.”

Dalam Alkitab Bahasa Indonesia Masa Kini, sang pemikir memperhitungkan nasib sial dalam pernyataannya. Itu berarti ada pula yang bernasib mujur. Dengan kata lain ada faktor untung-untungan dalam hidup ini. Benarkah pernyataan sang pemikir ini?

Jawabannya, tentu ada benarnya. Akan tetapi, tidak seluruhnya benar. Kita bisa menyebutnya sebagai anomali, yang menurut KBBI artinya adalah tidak seperti yang pernah ada atau penyimpangan dari yang sudah ada.

Dan karena itu, manusia tak perlu terlalu berharap adanya anomali. Seorang atlet lari ya harus latihan. Yang latihan keras saja belum tentu menang, apalagi yang enggak pernah latihan. Dan masuk gelanggang tanpa latihan sama saja dengan bunuh diri.

Yang paling bijak bagi seorang atlet adalah mempersiapkan diri dengan sebaik-baiknya, mengikuti pertandingan seturut aturan, dan menyerahkan hasil pertandingan pada rahmat Allah belaka. Yang macam begini tidak akan pernah sia-sia.

SMaNGaT,

Yoel M. Indrasmoro
Literatur Perkantas Nasional

Foto: Istimewa

Posted on Tinggalkan komentar

Nikmatilah Hidup

(Pengkhotbah 9:7-10)

Dalam ayat 7, sang pemikir mengajak para pembacanya: ”Mari, makanlah rotimu dengan sukaria, dan minumlah anggurmu dengan hati yang senang, karena Allah sudah lama berkenan akan perbuatanmu.” Dalam Alkitab Bahasa Indonesia Masa Kini tertera: ”Ayo, makanlah saja dan bergembira, minumlah anggurmu dengan sukacita. Allah tidak berkeberatan, malahan Ia berkenan.”

Suasana gembira, itulah yang hendak ditularkan sang pemikir kepada kita juga. Hidup memang berat. Namun, jangan sampai kita malah enggak bisa menikmati makanan yang telah disediakan Allah bagi kita. Jangan pula kita membebani ritual makan dengan persoalan yang ada. Itu hanya akan membuat kita tidak bisa menikmati makanan kita. Padahal hati gembira akan membuat semua makanan dan minuman tampak nikmat.

Atau, kalau kita sedang ketimpa banyak masalah, biarlah waktu makan kita tidak boleh diganggu dengan semua masalah itu. Biarlah untuk sesaat masalah itu hilang dari benak. Jangan-jangan dengan cara begitu—menikmati makanan dan minuman yang ada—kita malah mendapatkan solusi.

Tak hanya makanan, sang pemikir menasihati pada ayat 8-9: ”Biarlah selalu putih pakaianmu dan jangan tidak ada minyak di atas kepalamu. Nikmatilah hidup dengan isteri yang kaukasihi seumur hidupmu yang sia-sia, yang dikaruniakan TUHAN kepadamu di bawah matahari, karena itulah bahagianmu dalam hidup dan dalam usaha yang engkau lakukan dengan jerih payah di bawah matahari.”

Meski tak sedikit orang menampiknya, namun kenyataannya pakaian bersih dan wajah berseri membuat kita lebih bersemangat dalam menjalani hidup. Dan sering kali wajah cerah dan berseri membuat sekeliling kita ikut bersemangat, yang akan membuat kita menjadi lebih bersemangat.

Juga dengan keluarga. Pada kenyataannya rumah adalah tempat kita beranjak pada pagi hari dan pulang pada malam hari. Sehingga baik istri maupun anak merupakan modal utama dalam menjalani kehidupan. Mengeluhkan anggota keluarga hanya akan membuat kita makin capek!

Namun, itu tak berarti kita bertopang dagu. Sang pemikir mengajak kita untuk terus bekerja keras. Alasannya: mumpung kita masih hidup

SMaNGaT,

Yoel M. Indrasmoro
Literatur Perkantas Nasional

Foto: Istimewa

Posted on Tinggalkan komentar

Nasib Semua Orang Sama

(Pengkhotbah 9:1-6)

Dalam ayat 2-3 sang pemikir menyimpulkan: ”Segala sesuatu sama bagi sekalian; nasib orang sama: baik orang yang benar maupun orang yang fasik, orang yang baik maupun orang yang jahat, orang yang tahir maupun orang yang najis, orang yang mempersembahkan korban maupun yang tidak mempersembahkan korban. Sebagaimana orang yang baik, begitu pula orang yang berdosa; sebagaimana orang yang bersumpah, begitu pula orang yang takut untuk bersumpah. Inilah yang celaka dalam segala sesuatu yang terjadi di bawah matahari; nasib semua orang sama. Hati anak-anak manusia pun penuh dengan kejahatan, dan kebebalan ada dalam hati mereka seumur hidup, dan kemudian mereka menuju alam orang mati.”

Kesimpulan sang pemikir—bahwa nasib semua orang sama, yaitu sama-sama mati—dapat dibenarkan, tetapi tidak seluruhnya benar. Yang tidak boleh kita lupa, konsep ”kehidupan di bawah matahari” adalah kehidupan di luar Allah. Karena itu, sang pemikir memang tidak menyertakan kemungkinan adanya kehidupan pascakematian. Jika dia menyertakan kehidupan pascakematian dalam alur pikirnya, bisa dipastikan bahwa nasib semua orang pasti tak sama.

Namun demikian, sang pemikir benar ketika menyatakan pendapatnya pada ayat 4 Alkitab Bahasa Indonesia Masa Kini: ”Tetapi selama hayat di kandung badan, selama itu ada harapan. Bukankah anjing yang hidup lebih bahagia daripada singa yang tak bernyawa?”

Hidup memang lebih berharga daripada mati. Karena orang hidup masih punya harapan—harapan untuk memperbaiki keadaan, juga harapan untuk bertobat. Sehingga sengsara di dunia kini tak perlu dibawa terus ke akhirat sana. Yang paling celaka adalah sudah sengsara di dunia, masih sengsara di akhirat.

SMaNGaT,

Yoel M. Indrasmoro
Literatur Perkantas Nasional

Foto: Istimewa

Posted on Tinggalkan komentar

Tak Terselami

(Pengkhotbah 8:9-17)

Dalam ayat 10 sang pemikir heran: ”Aku melihat juga orang-orang fasik yang akan dikuburkan boleh masuk, sedangkan orang yang berlaku benar harus pergi dari tempat yang kudus dan dilupakan dalam kota.”

Bayangkan jenazah orang fasik boleh dikuburkan di Yerusalem, tetapi jenazah orang benar malah ditolak! Kemungkinan uanglah yang membuat orang fasik boleh dikuburkan di kota kudus. Ini sungguh menyesakkan setiap orang berakal sehat. Dan anehnya Allah sepertinya membiarkan hal itu terjadi.

Pada ayat 14, sang pemikir kembali memperlihatkan kenyataan di bumi manusia: ”Ada suatu kesia-siaan yang terjadi di atas bumi: ada orang-orang benar, yang menerima ganjaran yang layak untuk perbuatan orang fasik, dan ada orang-orang fasik yang menerima pahala yang layak untuk perbuatan orang benar.” Dalam Alkitab Bahasa Indonesia Masa Kini tertera: ”Ada orang saleh yang dihukum bagai pendurhaka, ada penjahat yang diganjar bagai orang saleh.” Lalu apa artinya menjadi saleh, jika dia pun malah dihukum laksana penjahat. Dan bagi sang pemikir ini sungguh kesia-siaan belaka.

Namun demikian, sang pemikir pun mengakui, di sini kita pun perlu belajar darinya, dalam ayat 17: ”Manusia tidak dapat menyelami segala pekerjaan Allah, yang dilakukan-Nya di bawah matahari. Bagaimanapun juga manusia berlelah-lelah mencarinya, ia tidak akan menyelaminya. Walaupun orang yang berhikmat mengatakan, bahwa ia mengetahuinya, namun ia tidak dapat menyelaminya.”

Pengakuan ini semestinya cukup menghibur. Karena dengan begitu kita bisa kembali ingat bahwa Allah memang Allah. Jika kita tak terlalu memahami sebuah peristiwa, kita tak perlu gusar. Jalan terlogis adalah menyerahkan ketidaktahuaan kita pada kemahakuasaan dan kemahaadilan Allah. Itu berarti, berkait dengan Allah, enggak paham juga enggak apa-apa!

SMaNGaT,

Yoel M. Indrasmoro
Literatur Perkantas Nasional

Foto: Joshua Earle

Posted on Tinggalkan komentar

Patuhilah Raja

(Pengkhotbah 8:2-8)

Berkait dengan pemerintah, dalam Pengkhotbah 8:2 sang pemikir menasihati: ”Patuhilah perintah raja demi sumpahmu kepada Allah.” Alasannya sederhana. Dalam Alkitab Bahasa Indonesia Masa Kini Tertera: ”Raja dapat bertindak semaunya, kalau ia tak berkenan, lebih baik jauhi dia. Raja bertindak dengan wibawa; tak ada yang berani membantahnya!”

Mematuhi perintah raja sungguh logis. Sebab dia memang penguasa tertinggi kerajaan. Kalau mau tetap tinggal, menaati aturannya sungguh tepat. Taat aturan merupakan jalan terbaik. Mengapa? Sekali lagi karena dia adalah raja.

Apakah itu berarti ketaklukkan tanpa syarat? Menarik disimak, nasihat sang pemikir dikaitkan dengan Allah. Bahkan mematuhi perintah raja diletakkan dalam ketundukan kepada Allah. Itu berarti kita mesti tunduk terhadap pemerintah karena ketundukan kita kepada Allah. Bagaimanapun Allahlah yang menaikturunkan raja dari takhtanya.

Demikian juga panggilan kita, umat percaya abad XXI. Kita dipanggil untuk menaati semua aturan yang ada. Namun, kita perlu menyatakan kehendak Allah ketika pemerintah sesat jalan. Tentunya, pernyataan kehendak Allah itu—sekali lagi bukan melulu kehendak kita—perlu disampaikan dengan penuh ketulusan.

SMaNGaT,

Yoel M. Indrasmoro
Literatur Perkantas Nasional

Foto: Arzu Cengiz