Posted on Tinggalkan komentar

Insan-insan Merdeka

Semasa hidup, Ibu Teresa pernah mengunjungi keluarga Hindu miskin. Dalam kunjungannya, penerima hadiah Nobel perdamaian itu membawa beras untuk membantu keluarga tersebut. Nyonya rumah menerimanya, membagi beras itu menjadi dua, lalu pergi ke luar rumah.

Photo by Nick Agus Arya on Unsplash

Ketika wanita itu kembali, Ibu Teresa bertanya ke mana dia pergi. ”Ke rumah tetangga,” jawabnya, ”mereka juga lapar.”

Ibu Teresa adalah sosok insan merdeka. Dia memperlihatkan jiwa merdeka kala meninggalkan negerinya dan pergi ke India sebagai misionaris. Dia juga menampakkan diri selaku pribadi merdeka saat meninggalkan pelayanan sebagai kepala sekolah dan membuka ladang pelayanan baru dalam kekumuhan masyarakat Kolkata. Kisah tadi memperlihatkan kemerdekaan Ibu Teresa sewaktu memberikan beras kepada keluarga dina itu.

Memberi kepada orang lain merupakan tindakan insan merdeka. Dia tak lagi terikat dengan benda tersebut. Dia bersikap lepas-bebas terhadap barang yang dimiliki. Dia rela melepas agar orang lain bisa merasakan apa yang dinikmatinya.

Tindakan merdeka itu menular. Keluarga Hindu miskin itu ternyata tak mau menikmati beras sendirian. Mereka teringat kepada tetangga mereka yang juga lapar. Mereka berbagi agar orang lain bisa makan.

Keluarga Hindu miskin itu juga insan merdeka. Hati dan pikiran mereka tidak melekat pada beras. Mereka rela melepaskannya. Meski sadar, beberapa hari kemudian mereka mungkin tak lagi punya beras untuk dimakan. Agaknya, mereka tak terlalu hirau masa depan. Saat memiliki beras, mereka ingin tetangga sebelah juga merdeka dari lapar.

Kemerdekaan merupakan sikap hidup. Soalnya: apakah seseorang merdeka terhadap harta miliknya? Dan menjadi insan merdeka merupakan panggilan insani karena—mengutip sabda Sang Guru—”Di mana hartamu berada, di situ juga hatimu berada” (Mat. 6:21).

Selamat bekerja,

Yoel M. Indrasmoro
Direktur Literatur Perkantas Nasional

Posted on Tinggalkan komentar

Menyalibkan Diri

”Seseorang yang sudah menikah selama 50 tahun ditanya tentang rahasia perkawinannya yang bahagia. Dia menjawab, setiap hari ada sesuatu yang dia tahan untuk dikatakan. Dia menyalibkan dirinya setiap hari.”

Demikianlah salah satu kunci rumah tangga sehat menurut Ajith Fernando, dalam bukunya Aku dan Seisi Rumahku: Kehidupan Keluarga Pemimpin Kristiani. Masih menurut Ajith Fernando, ”Kegagalan kita untuk menyalibkan diri akan membawa ketidakbahagiaan dalam rumah tangga kita.”

Sejatinya, menyalibkan diri merupakan praktik dasar dalam kehidupan bersama kristiani. Jika tidak ada yang mau menyalibkan diri bisa dipastikan bahwa sebuah keluarga akan hancur berantakan. Dan akan lebih baik lagi, jika setiap orang mendahulukan kepentingan pasangannya.

Dalam sebuah perkawinan, jelas Ajith, ”Akhir dari konflik yang kita harapkan bukanlah kemenangan ego, melainkan kesatuan di bawah kehendak Allah dan ketika kita sudah menemukannya, maka kita harus tunduk terhadap kehendak Allah tersebut.” Dengan kata lain, bukan siapa yang menang, tetapi Allahlah yang harus dimuliakan.

Tak gampang memang. Namun, menyangkal diri demi ketaatan kepada Kristus sesungguhnya merupakan jalan menuju hidup. Tak hanya di dunia nanti, tetapi juga di dunia perkawinan kita.

Dan itu bisa dimulai dengan belajar menahan diri untuk mengatakan sesuatu yang mungkin menyakitkan pasangan kita. Terutama ketika hati kita sedang dikuasai emosi.

Yoel M. Indrasmoro
Literatur Perkantas Nasional

Posted on Tinggalkan komentar

Jika Garam Itu Menjadi Tawar

Seorang murid bertanya kepada Kung Fu Tse, ”Guru, semakin lama kita hidup dan semakin banyak kita belajar, semakin banyak kita mengetahui. Dari sekian banyak hal itu, apa yang paling perlu kita pelajari dan ketahui?” Kung pun menjawab, ”Li.” Demikianlah percakapan yang direkam Andar Ismail dalam bukunya Selamat Menabur”.

Menurut Kung Fu Tse—filsuf Cina yang hidup pada abad ke-5 SM—yang paling perlu dalam hidup manusia adalah mengetahui dan menjalankan li. Li berarti peran yang sesuai hakikat, perilaku pantas, atau sikap hidup yang patut. Dan setiap orang mempunyai sedikitnya satu li.

Misalnya, li seorang majikan adalah mengupayakan kesejahteraan karyawannya sebaik mungkin, sedangkan li karyawan adalah berdedikasi dengan kinerja setinggi mungkin. Kalau jadi guru, mengajarlah dengan segenap hati; kalau menjadi murid, belajarlah dengan sepenuh hati. Intinya, hidup berkualitas.

Yesus Kristus agaknya tengah membicarakan li saat berujar, ”Jika garam itu menjadi tawar, dengan apakah ia diasinkan?” (Mat. 5:13). Hakikat garam adalah asin. Fungsinya menggarami. Ketika garam kehilangan asinnya, maka dia akan kehilangan fungsinya; dia tidak dapat menjalankan li-nya.

Menurut G.M.A. Nainggolan, mantan pemimpin redaksi BPK Gunung Mulia juga guru kepengarangan saya, ”Lebih baik jadi kuli yang dibutuhkan, ketimbang bos yang tidak dibutuhkan orang.”

Karena itu, menjaga kadar garam merupakan keniscayaan. Caranya: berlatih, berlatih, dan berlatih. Latihan akan membuat kita sempurna. Sebab, tanpa rasa asin, mustahil kita mampu menggarami tempat di mana kita berada. Juga di tempat kerja kita hari ini.

Selamat bekerja,

Yoel M. Indrasmoro
Direktur Literatur Perkantas Nasional

Posted on Tinggalkan komentar

Meningkatkan Kapasitas

”Sebab hal Kerajaan Surga sama seperti seorang yang mau bepergian ke luar negeri, yang memanggil hamba-hambanya dan mempercayakan hartanya kepada mereka” (Mat. 25:14). Demikianlah Sang Guru memulai perumpamaan-Nya.

Hal kerajaan surga itu berkait dengan kepercayaan. Sang tuan memercayakan hartanya kepada para hambanya, masing-masing menurut kesanggupannya.

Jelaslah, para hamba itu merupakan orang kepercayaan. Jika tidak, mana mungkin tuan itu mau memercayakan hartanya. Mereka dipercaya. Modal dasar seorang hamba adalah kepercayaan.

Kepercayaan juga modal utama sebuah pekerjaan. Jika hari ini kita masih bekerja, sejatinya kita masih dipercaya. Dan jalan terlogis adalah menghidupi kepercayaan itu dengan penuh tanggung jawab.

Itulah yang dilakukan hamba-hamba yang mendapatkan lima dan dua talenta. Mereka tidak menyia-nyiakan kepercayaan itu. Mereka mengembangkan talenta mereka. Dan hasilnya, peningkatan wewenang dan tanggung jawab.

Sayangnya, hamba yang mendapat satu talenta, tak merasa diri sebagai orang kepercayaan, malah mengubur talenta itu. Akibatnya, predikat hamba pun dicabut dari dirinya.

Meningkatkan kapasitas diri merupakan hal lumrah. Yang berdampak pada hasil kerja, yang bermuara pada keuntungan tempat kerja. Ujungnya-ujungnya pekerja pulalah yang akan ketambahan rejeki.

Jika tidak ada penambahan rejeki pun, percayalah kita telah meningkatkan kualitas curriculum vitae kita. Itu modal bagi masa depan kita.

Selamat bekerja,

Yoel M. Indrasmoro
Direktur Literatur Perkantas Nasional

Posted on Tinggalkan komentar

Doa Pagi

Ketika orang Filistin telah menduduki lembah Refaim, bertanyalah Daud kepada Tuhan, ”Apakah aku harus maju melawan orang Filistin itu? Akan Kauserahkankah mereka ke dalam tanganku?” (2Sam. 5:19). Tuhan menjawabnya, dan Daud pun berbuat sesuai kehendak Tuhan.

Photo by James Coleman on Unsplash

Sewaktu orang Filistin maju sekali lagi untuk menyerang, Daud tidak serta merta menyerang mereka, namun kembali bertanya kepada Tuhan (2Sam. 5:23). Tuhan berkehendak agar Daud menyerang, tetapi dengan strategi berbeda. Daud taat dan menang.

Meski seorang jenderal tempur yang cakap, Daud merasa perlu bertanya. Masalahnya, banyak orang segan bertanya. Mereka pikir itu hanya akan memperlihatkan kelemahan. Daud tidak. Dia bertanya. Sebelum melangkah, Daud berkonsultasi kepada Tuhan.

Mengapa? Sesungguhnya, Daud, juga kita, takkan pernah tahu masa depan. Tiada yang pasti. Akan tetapi, Allah, Sang Pasti itu, mengetahuinya. Dialah pemegang masa depan. Sehingga, jalan terlogis ialah bertanya kepada-Nya. Caranya? Ya, berdoa!

Doa pagi, setelah bangun tidur, merupakan tindakan tepat untuk mempersiapkan strategi dalam menghadapi hari ini.

Pertanyaannya: bagaimana dengan doa pagi kita hari ini?

Selamat Bekerja!

Yoel M. Indrasmoro
Direktur Literatur Perkantas Nasional

Posted on Tinggalkan komentar

Melatih Kekuatan

”Memang hitam aku, tetapi cantik, hai puteri-puteri Yerusalem, seperti kemah orang Kedar, seperti tirai-tirai orang Salma.” (Kid. 1:5)

Photo by Stephen Leonardi on Unsplash

Kalimat ini merupakan pengakuan diri. Pengakuan diri yang bersumber pada kenyataan diri. Perempuan itu tidak menyembunyikan kenyataan. Dia tak malu menyatakan bahwa dirinya hitam. Kulitnya tidak putih. Dan dia tidak berusaha memutihkannya.

Dalam BIMK tertera: ”Biar hitam, aku cantik, hai putri-putri Yerusalem; hitam seperti kemah-kemah Kedar, tapi indah seperti tirai-tirai di istana Salomo!” Perempuan itu mampu menerima dirinya. Dia tidak berupaya menjadi orang lain. Bahkan, dia menganggap kehitamannya sebagai kecantikannya. Pada titik inilah kepercayaan diri muncul.

Kepercayaan diri berkembang ketika manusia mampu menerima diri. Kesulitan menerima kenyataan diri akan menyuarkan rasa minder, atau sebaliknya, rasa sombong. Ini jugalah modal utama dalam hubungan antarmanusia.

Rasa percaya diri muncul saat kita mampu menerima kelemahan dan kekuatan diri secara wajar. Dan akan lebih berguna jika kita memfokuskan diri pada kekuatan kita. Melatih kekuatan akan membuat diri kita semakin unik dan berguna. Dan kelemahan pun akhirnya tertutup dengan sendirinya.

Selamat Bekerja!

Yoel M. Indrasmoro
Direktur Literatur Perkantas Nasional

Posted on Tinggalkan komentar

Visi

Kita tidak pernah tahu identitas si lumpuh yang terbaring di kolam Betesda itu? Yang pasti dia telah 38 tahun lumpuh (Yoh. 5:5). Kemungkinan dia pernah berjalan sebelumnya. Tiga puluh delapan tahun bukan waktu sebentar.

Namun, si lumpuh tak patah arang. Dia masih memiliki harapan. Meski peluangnya kecil—karena kalah bersaing dengan para penderita sakit lainnya—dia tetap berharap. Bahkan, ketika sadar tak ada orang yang mau mengangkatnya, dia tak sudi meninggalkan kolam itu. Visinya satu: berjalan.

Yesus tahu keinginannya, tetapi Dia merasa perlu bertanya. Guru dari Nazaret itu ingin menguji apakah si lumpuh tetap hidup dalam visinya. Jawaban si lumpuh memperlihatkan bahwa dia masih menghidupi visinya. Itulah sebabnya Yesus menolong dia mewujudkan visinya.

Nah sekarang, apakah visi Anda dalam bekerja? Selaraskah dengan visi perusahaan? Jika tidak, usul saya: pindah tempat kerja. Sebab Anda pasti akan stres setiap hari. Atau, ini jalan terlogis, sesuaikan visi Anda dengan visi perusahaan.

Setelah itu, komunikasikanlah visi itu dengan Allah! Jika memang selaras dengan visi Allah, Allah pasti akan menolong Anda mewujudkannya. Itu hanya soal waktu. Percayalah!

Selamat Bekerja!

Yoel M. Indrasmoro
Direktur Literatur Perkantas Nasional

Posted on Tinggalkan komentar

Keprihatinan, Ketaatan, dan Mukjizat

Kita tak pernah tahu siapa para pelayan itu (Yoh. 2:1-11). Namun, mereka menaati perintah Yesus dengan mengisi enam tempayan itu penuh dengan air.

Photo by Dominik Scythe on Unsplash

Mungkin Anda berkata, ”Namanya juga pelayan, ya harus taat!” Saya sepakat. Akan tetapi, kita tahu ada pelayan yang tidak taat, ogah-ogahan, dan tak serius. Ada juga yang menganggap kerja sebagai beban, sehingga menolak saat ketambahan pekerjaan.

Satu tempayan berisi antara 80-120 liter air, anggap 100 liter. Jika satu ember berisi lima liter air, dan dua tangan mengangkat dua ember, maka satu pelayan membutuhkan 60 rit (bolak-balik) untuk enam tempayan. Dua pelayan membutuhkan 30 rit.

Kemudian Yesus meminta mereka mencedoknya dan membawa ke pemimpin pesta. Ini sungguh menggelikan. Mereka tahu persis bahwa yang mereka timba dan cedok air belaka.

Mungkin mereka bingung, bertanya-tanya dalam hati, juga takut dimarahi pemimpin pesta. Masak pemimpin pesta diminta mencicip air! Namun, sekali lagi, mereka taat. Dan pada saat itulah mukjizat terjadi.

Mengapa mereka taat? Sepertinya mereka prihatin atas pesta itu. Mereka tidak ingin pesta itu gagal dan menjadi buah bibir. Mungkin juga karena mereka menyaksikan keprihatinan Maria dan anaknya Yesus. Karena itu, mereka bertindak.

H. A. Oppusunggu—guru penerbitan saya—pernah berkata, ”Modal terbesar perusahaan bukanlah uang, tetapi keprihatinan.” Keprihatinan mendorong orang bertindak.

Keprihatinan para pelayan itu berbuah ketaatan, yang akhirnya berbuah mukjizat!

Selamat Bekerja!

Yoel M. Indrasmoro
Direktur Literatur Perkantas Nasional

Posted on Tinggalkan komentar

Dicipta untuk Kemuliaan Allah

”Oleh karena engkau berharga di mata-Ku dan mulia, dan Aku ini mengasihi engkau, maka Aku memberikan manusia sebagai gantimu, dan bangsa-bangsa sebagai ganti nyawamu” (Yes. 43:4).

Israel berharga di mata-Nya. Begitu berharga, hingga Allah merasa perlu menebusnya. Mereka telah dimerdekakan dari Mesir.

Alasan mendasarnya: Allah menjadikan manusia bukan tanpa tujuan. Allah menciptakan manusia untuk kemuliaan-Nya. Tujuan dasar Allah menciptakan manusia ialah untuk memuliakan Dia (Yes. 43:7).

Tak heran, jika Allah sendiri merasa perlu turun ke dunia—menjadi manusia dalam diri Yesus Kristus—untuk menebus manusia. Sebab manusia memang dicipta untuk sesuatu yang mulia, yakni memuliakan-Allah.

Itu berarti, profesi atau pekerjaan yang kita pilih merupakan sarana untuk memuliakan Allah. Pertanyaannya: apakah tujuan dasar penciptaan itu sudah tergenapi dalam diri Anda?

Selamat Bekerja!

Yoel M. Indrasmoro
Direktur Literatur Perkantas Nasional

Posted on Tinggalkan komentar

Kuasa

”Lalu kekuasaan TUHAN meliputi aku” (Yeh. 37:1). Betapa banyak orang—saya juga—ingin memiliki kuasa. Kuasa untuk mengatur orang atau sesuatu. Bangga rasanya jika mampu mengatur.

Photo by Roman Averin on Unsplash

Ada seorang kawan masa remaja bernama Mangatur. Bisa jadi orang tuanya ingin dia menjadi pribadi yang bijak mengatur.

Harus diakui, banyak orang suka mengatur, dan herannya enggak mau diatur. Bahkan, kadang senang melanggar aturan—atas nama wewenang.

Catatan Yehezkiel di pembuangan menarik disimak. Kekuasaan Allahlah yang melingkupinya. Dia dalam kondisi—bukan menguasai—tetapi dikuasai.

Yehezkiel dikuasai Allah, bukan sebaliknya. Dikuasai Allah berarti meletakkan kehendak diri dalam kehendak Allah; menyesuaikan kehendak diri dengan Allah.

Berkait kuasa Allah, memang cuma dua pilihan: dikuasai atau menguasai Allah. Dan Tuhan Yesus pun dalam pencobaan di padang gurun—yang juga berkait kuasa—lebih suka dikuasai Bapa-Nya ketimbang bertindak semaunya.

Kata-kata itu mengikat. Bagi seorang pemimpin, kata-kata itu lebih mengikat lagi, tak hanya bagi orang yang dibawahkannya, terutama dirinya sendiri. Terlebih kata-kata yang memang diyakininya dari Allah sendiri.

Mungkin baik, jika kita berikhtiar: ”Tuhan, ketika diri mulai berpikir, berkata-kata, dan bertindak semaunya, biarlah kuasa-Mu meringkus diriku!”

Selamat bekerja!

Yoel M. Indrasmoro
Direktur Literatur Perkantas Nasional

Posted on Tinggalkan komentar

Dipimpin Roh

Kepada para murid-Nya, Yesus Orang Nazaret berkata, ”Tetapi apabila Ia datang, yaitu Roh Kebenaran, Ia akan memimpin kamu ke dalam seluruh kebenaran…” (Yoh. 16:13).

Photo by Sunyu on Unsplash

Roh Kudus disebut juga Roh Kebenaran karena Ia akan memimpin kita ke dalam seluruh kebenaran. Ia memimpin kita. Artinya, bukan kita yang memimpin, melainkan Rohlah yang memimpin.

Persoalannya: apakah kita rela dipimpin Roh? Dipimpin berarti menyerahkan wewenang penuh kepada pihak lain. Itu berarti pasrah bongkokan ’menyerah tanpa syarat’.

Sesungguhnya membiarkan diri dipimpin Roh Kudus merupakan tindakan logis karena Dia akan memimpin kita ke dalam seluruh kebenaran. Dalam hidup ada banyak kebenaran, tetapi Roh Kudus akan memimpin kita ke dalam seluruh kebenaran. Itu berarti, tindakan orang-orang yang menyerahkan dirinya dipimpin Roh Kudus memang tak mungkin salah karena semuanya serbakebenaran.

Bukankah ini yang sering kali menjadi soal? Kita acap sulit mengambil keputusan karena merasa takut salah. Oleh karena itu, biarlah diri kita dipimpin oleh Roh Kudus.

Caranya? Pindailah dahulu setiap kata yang belum terucap, juga karya yang masih dalam rencana. Bertanyalah dalam diri: ”Siapakah yang dimuliakan dalam kata dan karya kita itu?”

Mudahkah? Pasti tidak! Karena itu, marilah kita memohon, ”Roh Kuduslah turunlah dan tinggal dalam hatiku, dengan cahaya kasih-Mu terangi jalanku! Apimulah pembakar jiwaku sehingga hidupku memuliakan Tuhanku” (Kidung Jemaat 233:1).

Selamat bekerja!

Yoel M. Indrasmoro
Direktur Literatur Perkantas Nasional

Posted on Tinggalkan komentar

Milik Allah

Ketika seseorang bertanya kepada Dietrich Bonhoeffer, ”Siapakah Anda?”; Teolog Jerman yang mati pada tiang gantungan dalam pemerintahan Nazi menjawab, ”Saya adalah milik-Mu, ya Tuhan!”

Photo by Erik Scheel from Pexels

Kita tentu mengamini jawaban macam begini. Namun—ini yang perlu sungguh-sungguh kita simak sekarang—apa artinya ungkapan ”milik Tuhan”?

Menjadi milik Allah berarti siap menjadi saluran berkat. Menjadi milik Allah berarti siap berkarya di mana pun Tuhan menempatkan kita. Sebab, di mana pun kita berada, frasa ”milik Allah” erat melekat dalam diri kita masing-masing.

Itu jugalah yang dinyatakan Dietrich Bonhoeffer dalam bukunya Hidup Bersama (terbitan Literatur Perkantas): ”Gereja baru menjadi gereja yang benar kalau dia hadir untuk orang lain. Untuk dapat melakukan hal itu, Gereja harus memberikan segala yang dia miliki kepada mereka yang berkekurangan.”

Bonhoeffer mengecam gereja yang hanya memperjuangkan keselamatan dirinya sendiri. Pada masa itu, gereja-gereja di Jerman malah mendukung apa yang dilakukan Nazi di bawah kepemimpinan Hitler. Dengan tegas, masih dalam Hidup Bersama, ia menyatakan: ”Hanya mereka yang bersuara membela kaum Yahudi boleh menyanyikan lagu Gregorian.” Itulah makna konkret ”milik Allah”.

Apakah kita merasa sebagai milik Allah? Jika ya, buktikanlah dengan cara memperhatikan orang lain! Itu berarti juga rekan sekerja di kantor kita.

Selamat bekerja,

Yoel M. Indrasmoro
Direktur Literatur Perkantas Nasional

Posted on Tinggalkan komentar

Berkarya dengan Cinta

Ini kisah lama. Saya sendiri telah lupa di mana membacanya, namun begitu melekat di hati hingga hari ini.

Sebuah restoran mengadakan Parade Kidung Rohani. Seorang penyanyi terkenal melantunkan lagu ”Tuhan adalah Gembalaku” dengan begitu baik. Nyaris sempurna. Hadirin—yang terpesona dengan suara emasnya itu—riuh bertepuk tangan.

Di akhir parade, tibalah giliran seorang bapak yang tidak begitu dikenal. Dia menyanyikan lagu yang sama. Suaranya biasa saja. Beberapa kali terdengar nada sumbang. Dia menyanyikan lagu ”Tuhan adalah Gembalaku” dengan tersendat, diselingi isak tangis di sana-sini. Penonton pun diam, terkesima, hingga tak menyadari kapan lagu itu berakhir.

Penyanyi terkenal itu pun lalu menghampiri bapak tersebut, menyalaminya, dan berkata, ”Saya menyanyi dengan mulut, tetapi Bapak menyanyi dengan hati. Saya kira, Bapak sungguh-sungguh mengenal Gembala Agung itu!”

Menyanyi dengan hati. Berkarya dengan cinta. Mungkin, di sinilah soalnya. Kita sering terjebak mengerjakan sesuatu hanya dengan otak dan keringat, sehingga tak jarang pekerjaan itu serasa seperti beban di pundak.

Ujung-ujungnya kita berharap pekerjaan itu cepat selesai. Atau, kita malah berpedoman yang penting selesai. Tiada lagi sukacita dalam bekerja.

Karena itu, mari berkarya dengan cinta. Libatkanlah Tuhan karena pekerjaan kita sejatinya adalah pekerjaan-Nya juga!

Selamat bekerja,

Yoel M. Indrasmoro
Direktur Literatur Perkantas Nasional

Posted on Tinggalkan komentar

Damai Sejahtera bagi Kamu

”Damai sejahtera bagi kamu” (Luk. 24:48).

Photo by Biegun Wschodni on Unsplash

Demikianlah sapaan Yesus yang bangkit kepada para murid-Nya. Jelas, damai sejahtera tidaklah berasal dari para murid. Damai sejahtera bersumber pada Yesus yang bangkit. Damai sejahtera juga bukan upaya para murid, namun sungguh anugerah Sang Guru.

Yang dimaksud ”damai sejahtera” di sini, tentu bukan hidup serbasenang. Kita tentu pernah merasakan, meski keadaan serbasulit, hati tetap tenang. Kita tetap merasa ada yang bisa dipegang. Namun, pengalaman hidup memperlihatkan, kadang kita merasa tak enak hati meski semua berjalan baik-baik saja.

Pada waktu itu, keadaan para murid memang jauh dari rasa damai. Sang Guru mati. Mereka tak lagi punya harapan. Belum lagi tekanan para imam kepala dan ahli Taurat. Bisa dipahami jika mereka merasa bagai telur di ujung tanduk. Nasib serbatak pasti. Dan dalam ketidakpastian itu, Sang Guru datang dan menyapa mereka, ”Damai sejahtera bagi kamu.”

Yesus memberikan damai sejahtera bagi murid-murid-Nya. Itu bukanlah sekadar rasa damai, tetapi sungguh-sungguh berdasarkan logika sederhana. Bagaimanapun, Yesus telah bangkit dari maut. Kalau maut saja bisa dipatahkan Sang Guru, mengapa pula harus gentar meski hidup dalam ketidakpastian?

Selamat bekerja,

Yoel M. Indrasmoro
Direktur Literatur Perkantas Nasional

Posted on Tinggalkan komentar

Inilah Hari yang Dijadikan TUHAN

”Inilah hari yang dijadikan TUHAN, marilah kita bersorak-sorak dan bersukacita karenanya!” (Mzm. 118:24).

Photo by Mads Schmidt Rasmussen on Unsplash

Inilah nyanyian Paskah. Inilah pengakuan akan tindakan Allah yang menyelamatkan umat-Nya dari perbudakan di Mesir.

Pada kemerdekaan Israel pertama itu, jelaslah bahwa Allah menjadikan Israel sebagai prioritas. Dia menyelamatkan Israel. Paskah merupakan Hari Raya Kemerdekaan Israel dari Mesir. Sehingga mereka berseru: ”Inilah hari yang dijadikan TUHAN, marilah kita bersorak-sorak dan bersukacita karenanya!” This is the day that The Lord has made!

Hari itu bukan sekadar hari. This is The day that The Lord has made! Sayangnya, lagu itu diterjemahkan menjadi ”Hari ini hari ini harinya Tuhan”. Lebih sayang lagi ketika orang menambahkan bait berikutnya: ”Hari Senin Hari Selasa hari….” Padahal ini bukan sekadar hari. Ini hari khusus. Ini hari kemerdekaan Israel. Inilah Paskah pertama.

Paskah kedua adalah ketika Yesus bangkit dari kubur! Kebangkitan Yesus menyatakan dengan jelas bahwa kematian Yesus Orang Nazaret pada Jumat Agung sungguh bermakna. Inilah Paskah kedua—Allah memerdekakan manusia dari belenggu dosa itu sendiri.

Karena itu, marilah kita hidup dalam suasana kebangkitan! Marilah kita hidup dalam suasana kehidupan! Marilah kita membangkitkan orang lain! Marilah kita menghidupkan orang lain dan bukan mematikannya! Juga dalam dunia kerja kita hari ini.

Selamat bekerja,

Yoel M. Indrasmoro
Direktur Literatur Perkantas Nasional

Posted on Tinggalkan komentar

Menjadi Jembatan

”Tuan, kami ingin bertemu dengan Yesus!” (Yoh. 12:21). Demikianlah harapan orang-orang Yunani yang disampaikan kepada Filipus. Mengapa Filipus? Kita tidak pernah tahu alasan pastinya.

Kemungkinan besar karena Filipus adalah nama Yunani. Bisa jadi mereka beranggapan, orang yang bernama Yunani itu pasti akan mau menolong mereka. Pada masa itu kebanyakan orang Yahudi memandang rendah bangsa lain. Persoalannya: Filipus sendiri tak tahu harus berbuat apa.

Kelihatannya, Filipus tidak tahu tanggapan Yesus terhadap keberadaan orang-orang Yunani itu. Mungkin dia khawatir, Yesus akan bersikap sama seperti orang Yahudi lainnya. Jika demikian, tentu tak ada gunanya menyampaikan keinginan mereka kepada Yesus.

Filipus diharapkan menjadi jembatan. Dari sisi orang Yunani, nama Filipus terasa dekat. Tetapi, persoalannya, sekali lagi, Filipus tidak sungguh-sungguh tahu apa kehendak Yesus sehingga dia gagal menjadi jembatan. Filipus mungkin mengasihi orang-orang Yunani itu, tetapi dia tidak tahu apakah Yesus akan menerimanya atau tidak?

Untunglah, Filipus menyampaikan persoalan itu kepada Andreas. Dan bersama dengan Andreas, Filipus membawa orang-orang Yunani itu kepada Yesus. Andreas mampu menjadi jembatan karena dia tahu kehendak Yesus.

Sejatinya, menjadi jembatan merupakan panggilan setiap Kristen. Menjadi jembatan antara manusia dan Allah. Pertanyaannya: apakah kita telah menjalani panggilan menjadi jembatan dalam hidup sesehari? Syaratnya cuma dua: sungguh-sungguh diterima manusia dan mengetahui kehendak Allah.

Mari menjadi jembatan, juga di tempat kerja kita!

Selamat bekerja,

Yoel M. Indrasmoro
Direktur Literatur Perkantas Nasional

Posted on Tinggalkan komentar

Menjadi Manusia (2)

Photo by Kai Dörner on Unsplash

Rame ing gawe, sepi ing pamrih.

Multatuli pernah berkata, sering disitir Pramoedya Ananta Toer, ”Tugas manusia ialah menjadi manusia, bukan menjadi Malaikat atau pun setan.” Ya, tugas manusia ialah menjadi manusia. Jika manusia tidak menjadi manusia, maka dia tidak memenuhi hakikatnya sebagai manusia. Jika demikian, masih layakkah menganggap diri manusia?

Menjadi manusia merupakan panggilan manusia. Menjadi manusia berarti menjalani hidup sebagai hamba Allah. Allah tidak menuntut kita menjadi malaikat, tetapi juga tidak ingin kita menjadi setan. Dia hanya ingin kita memenuhi panggilan hidup sebagai manusia. Itulah cita-cita-Nya ketika mencipta manusia. Ketika manusia tak lagi menjalani hakikat sebagai manusia, ia harus bertobat.

Itu jugalah yang dikumandangkan nabi Yesaya: ”Carilah TUHAN selama Ia berkenan ditemui; berserulah kepada-Nya selama Ia dekat! Baiklah orang fasik meninggalkan jalannya, dan orang jahat meninggalkan rancangannya…” (Yes. 55:6-7).

Pertobatan merupakan inti berita Yesaya. Dan berkait dengan pertobatan, saya dan Saudara termasuk golongan manusia berbahagia karena kita masih dikaruniai waktu.

Kita bagai pohon ara yang diberi kesempatan hidup, yang dibela oleh Sang Pengurus (Luk. 13:8-9). Namun, kesempatan itu pun terbatas. Berbahagialah karena kita belum sampai pada masa tenggat itu! Masih ada waktu untuk bertobat. Jika tidak, kita pun akan ditebang!

Sekali lagi, mumpung masih ada waktu marilah kita bertobat. Salah satu langkah konkretnya: rame ing gawe, sepi ing pamrih ’giat bekerja, namun tulus tanpa pamrih’ dalam pekerjaan kita. Jadikanlah pekerjaan kita sebagai ladang misi Allah, sehingga makin banyak orang yang mau belajar menjadi manusia. Menjadi hamba Allah.

Selamat bekerja,

Yoel M. Indrasmoro
Direktur Literatur Perkantas Nasional

Posted on Tinggalkan komentar

Janganlah Gelisah Hatimu

Janganlah gelisah hatimu (Yoh. 14:1). Demikianlah nasihat Yesus kepada para murid-Nya. Perasaan gelisah sering menghantui insan. Sebab, kita memang tidak akan pernah tahu hari depan. Mungkinkah orang gelisah karena sesuatu yang telah terjadi?

Photo by Nik Shuliahin on Unsplash

Rasa gelisah memang bisa menerpa siapa saja dan kapan saja. Dia tidak memandang bulu, juga waktu. Dia datang begitu saja, menyergap laksana angin. Dan akan menjadi masalah besar tatkala orang begitu dikuasai rasa tersebut sehingga tidak mampu berbuat apa-apa.

Lalu, mengapa kita gelisah? Kalau kita simak, akar masalahnya ialah karena kita tidak yakin bisa mengatasi persoalan di depan kita. Ujung-ujungnya, kegelisahan sering disebabkan—biasanya kita tidak menyadarinya—oleh pengandalan terhadap diri sendiri. Dan kita sungguh gelisah karena kita takut tidak mampu mengelola persoalan itu dengan baik.

Kalau sudah begini, cara yang paling mujarab ialah bertindak selaku penumpang bus. Penumpang bus yang baik tidak akan berusaha bertindak selaku supir yang ikut menginjak rem dan gas, tetapi mempercayakan diri kepada sang supir. Kalau kita tidak percaya kepada supir bus, usul saya turun saja!

Yesus punya alasan lain. Tak perlu kita gelisah karena memang ada Roh Kudus yang setia menyertai kita. Dan tidak hanya setia, tetapi Dia juga menghibur kita. Biasanya, kegelisahan acap juga diakibatkan oleh kesendirian. Saat kita gelisah, ingatlah bahwa Roh ada bersama kita dan siap sedia menghibur kita. Persoalannya, mau enggak kita dihibur oleh-Nya?

Mengenai masa depan, ada sebuah syair terpajang di kantor saya. Demikian syairnya: ”Tuhan, ajarku memahami bahwa tidak ada satu persoalan pun pada hari ini yang tidak dapat kita tangani bersama-sama!”

Penyertaan-Nya. Itulah janji-Nya, yang tak lekang ditelan waktu. So, jangan gelisah!

Selamat bekerja,

Yoel M. Indrasmoro
Direktur Literatur Perkantas Nasional

Posted on Tinggalkan komentar

Berdua Saja

”Sebab di mana dua atau tiga orang berkumpul dalam nama-Ku, di situ Aku ada di tengah-tengah mereka” (Mat. 18:20). Perkataan Tuhan Yesus ini—mengenai keberadaan Allah di tengah persekutuan umat-Nya—sering menjadi sumber penghiburan. Allah tidak pernah meninggalkan umat-Nya. Allah memedulikan mereka. Enggak perlu bicara soal jumlah, Allah hadir dalam persekutuan terkecil sekalipun.

Photo by rawpixel on Unsplash

Namun, frasa ”berkumpul dalam nama-Ku” agaknya kurang mendapat perhatian. Frasa itu berarti Kristuslah yang menjadi dasar dan pusat persekutuan. Persekutuan tidak berdasarkan atas kesamaan ideologi, warna kulit, tingkat sosial, melainkan berdasarkan Kristus. Itulah makna gereja sebenarnya. Kehendak Kristuslah yang utama.

Dan salah satu tindakan nyata ”dalam nama-Ku” ialah keberanian menyatakan kesalahan orang. Yesus Kristus menasihatkan ”Apabila saudaramu berbuat berdosa, tegorlah dia di bawah empat mata” (Mat. 18:15).

Pada kenyataannya, tak banyak yang mengambil jalan ini karena takut terhadap tanggapan orang tersebut. Jika pun ada keberanian, kadang kita lebih suka membicarakannya tanpa ada orangnya atau membicarakannya blak-blakan di hadapan banyak orang ketika orangnya ada. Akhirnya kesalahannya itu menjadi konsumsi banyak orang.

Yesus menasihati, jika hendak menegur orang mulailah dengan berdua saja. Baru setelah itu tiga orang. Dengan cara ini, orang tersebut tidak merasa dihakimi dan kesalahan yang dilakukannya tidak menjadi konsumsi publik. Hanya dengan cara itulah kita akan mendapatkannya kembali.

Sejatinya ini jugalah salah satu tugas pemimpin. Ketika bawahan kita salah, masih merasa perlukah kita menegurnya ”berdua saja” atau kita lebih suka menegurnya di depan banyak orang? Jika kita ingin mendapatkannya kembali, menegur dengan diam-diam merupakan langkah jitu.

Selamat bekerja,

Yoel M. Indrasmoro
Direktur Literatur Perkantas Nasional

Posted on Tinggalkan komentar

Kisah Tjondro Sungkowo

Photo by Kristine Weilert on Unsplash

Pada Jumat pagi, 15 Februari 2019, Tjondro Sungkowo—warga jemaat kami sekaligus Om dari istri saya—dipanggil Tuhan. Dari semua orang yang bercakap-cakap dengan kami—teman sejawat, mantan mahasiswanya, dan warga jemaat—terungkap nada yang sama: ”Beliau orang baik!”

Banyak orang telah merasakan kebaikannya melalui profesi dokter, yang ditekuninya seumur hidupnya. Kata mereka, dia memang bertangan dingin. ”Mendengar suaranya saja, anak saya langsung sembuh,” imbuh seorang bapak. Yang lain menambahkan, ”Beliau tidak pernah menolak pasien. Dibangunkan jam dua pagi pun beliau siap menangani.”

Dia juga pribadi yang tidak neko-neko. Alasannya tak mau mengambil kesempatan menjadi spesialis pun sederhana saja. ”Nanti, kalau sudah jadi spesialis malah enggak bisa menolong orang karena takut biayanya mahal,” tutur putrinya.

Ya, setiap yang hadir punya cerita berbeda dengan nada sama: ”Orang baik!” Ibadah penghiburan dan pemakaman akhirnya menjadi sebuah perayaan kehidupan yang menghiburkan banyak orang. Sebab setiap orang telah mengalami kebaikan Allah melalui dirinya. Inilah hidup yang berbuah (Yer. 17:8).

Manusia memang dipanggil untuk berbuah. Tak hanya bagi diri sendiri, terutama untuk orang lain melalui profesinya. Dan hanya dengan itu Allah dimuliakan.

Caranya? Dengan tetap mengandalkan Allah dan menaruh harap kepada-Nya dalam menghidupi profesi yang telah dipilih (Yer. 17:7).

Selamat bekerja,

Yoel M. Indrasmoro
Direktur Literatur Perkantas Nasional

Posted on Tinggalkan komentar

Kisah Susan Cooper

Ini bukan kisah saya. Ini kisah Susan Cooper. ”Untuk pekerjaan rumah, saya diminta membuat lukisan tangga. Dan saya telah menyelesaikannya. Akan tetapi, ketika saya hendak menyingkirkan tinta, satu titik tertetes tepat di tengah gambar. Waktu sudah tidak memungkinkan lagi untuk menggambar ulang. Saya merasa sangat putus asa, hingga saya menangis.

Photo by Matthew Henry on Unsplash

Mendengar kesusahan ini, ayah berkata dengan lembut, ’Jangan khawatir. Tetesan tinta itu kelihatannya seperti bintik di tubuh seekor anjing kecil. Yang harus Engkau lakukan hanyalah menggambar seekor anak anjing di sekitar titik hitam ini. Jangan mudah putus asa, Nak! Sering kita hanya membutuhkan sedikit keuletan dan daya khayal untuk mengubah keadaan buruk menjadi baik. Ingat, hanya sedikit hal yang memang tidak ada harapan seperti kelihatan sejak awal.’

Saya segera menggambar anak anjing kecil di sekitar bintik hitam itu. Keesokan harinya, gambar saya terpilih sebagai gambar terbaik di kelas. Anak anjing itu justru membuat lukisan tangga itu semakin indah.”

Masalah hidup sehari-hari—juga masalah di kantor—sering membuat diri kita merasa tertekan. Apa lagi jika di tengah tenggat waktu yang mepet itu ternyata kita melakukan kesalahan. Rasanya ingin menyerah saja.

Namun, the show must go on ’hidup terus berjalan’. Bagian kita hanyalah meminta hikmat dari Allah, untuk mengubah kesalahan itu menjadi berkat.

Jangan pula kita lupa bahwa masalah berasal dari bahasa Arab masya Allah, yang secara harfiah berarti ”apa kehendak Allah”. Masalah merupakan kesempatan untuk mencari dan menghidupi kehendak Allah dalam diri kita.

Lagi pula, bukankah ”Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia” (Rm. 8:28)?

Selamat bekerja,

Yoel M. Indrasmoro
Direktur Literatur Perkantas Nasional

Posted on Tinggalkan komentar

Genaplah Nas Ini

”Pada hari ini genaplah nas ini sewaktu kamu mendengarnya” (Luk. 4:21). Demikianlah pamungkas pengajaran Yesus dalam rumah ibadah di Nazaret. Pamungkas semacam ini memperlihatkan kepada kita bahwa setiap orang sejatinya dipanggil untuk menggenapi kehendak-Nya. Allah mempunyai rancangan bagi setiap ciptaan-Nya. Dan panggilan makhluk adalah menggenapi Sang Khalik.

Pamungkas itu jugalah agaknya yang membuat umat yang sebelumnya kagum menjadi kaget dan bertanya-tanya: ”Bukankah Ia ini anak Yusuf?” (Luk. 4:22). Mereka tampaknya tak menduga bahwa Mesias akan muncul dari tempat mereka.

Klaim Yesus bahwa Dia menggenapi nubuat Yesaya membawa orang banyak itu dalam sebuah keputusan: menerima atau menolak pernyataan Yesus itu. Lukas mencatat bahwa mereka lebih suka tidak memercayai-Nya. Dan Yesus pun ditolak.

Kisah penolakan ini memperlihatkan juga kepada kita bahwa sesungguhnya, setiap manusia itu unik, khas, dan satu-satunya. Karena itu, setiap pribadi, yang diciptakan Allah secara khusus, sungguh-sungguh harus menggali dan mengeluarkan semua keunikan dirinya. Hanya dengan cara itulah harkat manusia sebagai ciptaan Allah tampak. Dan hanya dengan cara itu pula, manusia dapat menemukan desain yang Allah tanam dalam dirinya.

Allah punya desain bagi setiap manusia. Kita dipanggil untuk hidup seturut desain tersebut. Kita dipanggil untuk menggenapi desain Allah itu. Pekerjaan yang kita geluti sekarang ini sejatinya adalah cara kita dalam menggenapi desain kita—panggilan yang telah Allah tanamkan dalam diri kita masing-masing.

Selamat bekerja,

Yoel M. Indrasmoro
Direktur Literatur Perkantas Nasional

Posted on Tinggalkan komentar

Dengan Gembira dan Tulus Hati

”Dengan bertekun dan dengan sehati mereka berkumpul tiap-tiap hari dalam Bait Allah. Mereka memecahkan roti di rumah masing-masing secara bergilir dan makan bersama-sama dengan gembira dan dengan tulus hati, sambil memuji Allah.” (Kis. 2:46-47).

Photo by Robert Collins on Unsplash

Dengan gembira dan tulus hati. Demikianlah suasana persekutuan jemaat mula-mula sebagaimana direkam Lukas. Tidak hanya tampak dalam ibadah, juga dalam hidup sehari-hari. Mereka agaknya paham bahwa ibadah dan hidup keseharian merupakan kesatuan. Hidup sehari-hari dipahami sebagai ibadah.

Sikap gembira bukan hal gampang. Bagaimana mungkin gembira ketika hati luka? Bagaimana mungkin gembira saat yang diharap beda dengan realitas? Bagaimana mungkin gembira di tengah ketidakpastian hidup?

Jika memang itu pertanyaannya, maka perlulah kita tambah dengan serangkaian pertanyaan lagi. Apakah memang sungguh-sungguh tak ada yang dapat menggembirakan hati? Pandanglah surya di kala pagi dan sore hari! Perhatikanlah mekar sekuntum bunga! Tengoklah juga ketenangan bayi yang lelap dalam gendongan ibunya!

Semuanya itu mungkin akan membuat Anda bergembira. Jika Anda masih belum mampu bergembira, pandanglah diri Anda seutuhnya. Bukankah Anda masih hidup? Pandanglah sekeliling Anda, rasakanlah kasih dan perhatian orang-orang terdekat. Dan bergembiralah!

Dunia sudah cukup suram. Janganlah tambah kesuramannya dengan kesedihan Anda! Dan kegembiraan Anda biasanya akan membuat orang di sekitar Anda turut gembira.

Agaknya ada kaitan erat antara gembira dan tulus hati. Tulus berarti memandang orang lain tanpa prasangka, bersikap jujur, terbuka, apa adanya. Kita sering tak mampu gembira karena kita tak mampu bersikap jujur dengan diri sendiri, apa lagi dengan orang lain.

Atau, prasangka terhadap orang lain sering membuat kita cemas dan memasang kuda-kuda. Itu sungguh melelahkan, yang akhirnya membuat kita sulit gembira.

Karena itu, marilah kita kembangkan sikap gembira dan tulus hati, juga di tempat kerja kita masing-masing!

Selamat bekerja,

Yoel M. Indrasmoro
Direktur Literatur Perkantas Nasional

Posted on Tinggalkan komentar

Jalan Hidup

”Biarlah hal itu terjadi, karena demikianlah sepatutnya kita menggenapkan seluruh kehendak Allah” (Mat. 3:15). Demikianlah alasan yang disampaikan Yesus Orang Nazaret kepada Yohanes Pembaptis.

Photo by Jamie Templeton on Unsplash

Karena alasan itulah Dia meninggalkan Galilea menuju Sungai Yordan. Demi alasan itu pulalah anak Yusuf memohon baptisan kepada anak Zakharia. Tampaklah: menggenapkan seluruh kehendak Allah merupakan jalan hidup Yesus.

Dan Yesus tidak ingin berjalan sendirian. Dia mengajak Yohanes Pembaptis untuk berjalan di jalan hidup itu. Selanjutnya, Dia juga mengajak para murid-Nya untuk menempuh jalan tersebut.

Jalan-Nya memang tidak mudah. Hambatan kadang menghalang; juga onak duri yang tumbuh di depan. Tersulit—namun yang pertama harus diberantas—adalah yang berasal dari dalam diri sendiri: keakuan diri.

Keakuan diri tak melulu soal kesombongan pribadi. Terkadang hanya perkara kepantasan. Yohanes tak merasa pantas membaptis Yesus. Tindakan itu jelas tak sesuai kaidah masyarakat. Tidak selaras dengan norma yang ada. Jika kita ada di sana, mungkin kita pun tak rela menyaksikan Yesus dibaptis. Bukankah seharusnya Dia, Anak Allah, yang membaptis?

Namun, kalau kita protes, kemungkinan besar Sang Guru akan berkata: ”Biarlah hal itu terjadi, karena demikianlah sepatutnya kita menggenapkan seluruh kehendak Allah.”

Kita? Mengapa? Karena Yesus tidak ingin berjalan di jalan hidup itu sendirian! Sang Guru ingin mengajak kita, para murid-Nya, berjalan di jalan tersebut. Bukankah itu juga yang diajarkan-Nya dalam Doa Bapa Kami—”Jadilah kehendak-Mu”?

Itu berarti bukan sebagian kehendak Allah, namun seluruh. Bukan kadang, namun selalu. Bukan dalam situasi tertentu, namun dalam segala situasi. Juga dalam dunia kerja kita!

Selamat bekerja,

Yoel M. Indrasmoro
Direktur Literatur Perkantas Nasional

Posted on Tinggalkan komentar

Kuduslah Kamu

”Kuduslah kamu, sebab Aku, TUHAN, Allahmu, kudus” (Im. 19:2). Demikianlah pembukaan hukum yang diberikan Allah kepada umat-Nya melalui Musa. Bisa disimpulkan: dasar ketaatan terhadap hukum Allah bukanlah hukum itu sendiri, melainkan karena Allah itu kudus. Kekudusan Allah menjadi dasar manusia untuk menaati hukum.

Photo by Sunyu on Unsplash

Jadi, dasar ketaatan terhadap hukum bukanlah karena takut dihukum. Ketaatan itu merupakan konsekuensi logis dari umat yang telah diselamatkan dan dikuduskan Allah sendiri. Di sini kekudusan hidup umat Allah merupakan keniscayaan. Mereka telah dikuduskan! Umat Allah tidak bisa tidak harus kudus karena TUHAN, Allahnya, kudus.

Dengan kata lain, jika TUHAN itu kudus, masak umatnya kagak? Kalau umat tidak hidup kudus, layakkah mereka disebut umat Allah? Yang juga penting: jika umat tidak menjaga kekudusannya, apakah mereka dapat bersekutu dengan TUHAN yang kudus?

Allah yang kudus mustahil bersekutu dengan sesuatu yang cemar! Terang memang tidak bisa dipersatukan dengan gelap. Hukumnya memang demikian: terang akan menyirnakan kegelapan. Kegelapan akan hilang ketika terang muncul! Ketika manusia sengaja mencemarkan dirinya, maka persekutuan dengan Allah itu otomatis hancur!

Dan hidup kudus perlu diterapkan—mengutip syair Kidung Jemaat 260—”di lautan, di gunung, di ladang dan di bandar, di pasar, di jalan”. Di mana-mana. Sebab predikat ”umat Allah” tidak dibatasi waktu dan ruang.

Itu berarti di tempat kerja kita masing-masing, apa pun profesi kita, kita dipanggil untuk hidup kudus. Kita dipanggil pula untuk menguduskan tempat kerja kita, juga sarana dan prasarana yang kita gunakan untuk bekerja!

Selamat bekerja,

Yoel M. Indrasmoro
Direktur Literatur Perkantas Nasional

Posted on Tinggalkan komentar

Menjadi Lampin

”Dunia kedinginan, kaku membeku: damai yang sejati tiada bertemu. Wabah kekerasan, siksa tirani sampai masa kini tidak berhenti.” Demikianlah syair karya Christina Georgina Rosetti (1872), yang terekam dalam Kidung Jemaat 121 bait pertama.

https://unsplash.com/photos/aJN-jjFLyCU

Christina mencoba menggambarkan situasi pada malam kelahiran Yesus. Kenyataan tak ada tempat di rumah penginapan membuat malam itu makin dingin bagi Yusuf dan Maria.

Situasi macam begitu tak hanya dirasakan mereka. Hingga hari ini banyak orang merasakannya. Penyakit yang paling mengerikan dan menakutkan pada zaman ini—menurut Ibu Teresa—bukanlah kanker, kusta atau AIDS, tetapi kesepian karena tiada orang yang peduli.

Namun demikian, Christina melanjutkan dengan bait kedua, ”Tapi Firman Allah tak terbelenggu: Kasih mencairkan hati yang beku. Dalam dunia dingin kandang cukuplah untuk mengenali Khalik semesta.”

Dalam dunia yang dingin itulah Yesus lahir. Kasih mencairkan hati beku. Ada orang—kita tidak pernah tahu namanya—yang merelakan kandangnya. Rumah penginapan penuh, namun kandang sudah cukup untuk mengenali Juru Selamat (lih. Luk. 2:12).

Tanda-Nya bukan nama orang tua Si Bayi, yang mungkin cukup pasaran waktu itu. Lagi pula, Yusuf dan Maria pendatang di Betlehem, sehingga tak mudah mencari-Nya. Tanda-Nya adalah palungan dan lampin. Yang satu tempat makanan, yang lainnya berfungsi menghangatkan tubuh bayi.

Kita pun dipanggil menjadi tanda-Nya—palungan yang memberi makan dan lampin yang menghangatkan hati. Dengan kata lain, berbagi kebutuhan fisik (makanan) dan rohani (kehangatan). Berbagi makanan tentu baik, tetapi akan sia-sia—bahkan menyakiti hati yang diberi—tanpa kehangatan hati.

Dunia masih kedinginan. Dunia kerja kita pun butuh lampin. Menjadi lampin yang menghangatkan hati kolega berarti pula menjadi tanda kehadiran-Nya di kantor kita.

Selamat bekerja,

Yoel M. Indrasmoro
Direktur Literatur Perkantas Nasional

Posted on Tinggalkan komentar

Menjadi Bintang

Masih ingat kisah orang Majus? Menurut Anda siapakah bintang tamu dalam kisah tersebut? Tentu Anda tidak akan memilih Herodes Agung, tokoh yang paling tidak agung dalam pandangan manusia normal. Karena ingin melanggengkan jabatan, dia tega membantai anak-anak di bawah usia dua tahun.

tim-mossholder-171873-unsplash-1.jpg

Anda juga mungkin tidak akan memilih para imam kepala dan ahli Taurat. Sekelompok orang yang paling tahu bahwa Mesias akan lahir di Betlehem, tetapi toh tidak hidup dan memercayai pengetahuan itu. Buktinya: mereka tidak pergi bersama orang Majus untuk menyembah Mesias.

Saya duga Anda akan memilih orang Majus, yang dengan setia mencari Kebenaran. Bahkan telah menyiapkan diri untuk sungkem di hadapan raja yang baru lahir itu.

Dari segi biaya yang dikeluarkan memang tidak sedikit. Setidaknya perlu biaya akomodasi selama dua tahun. Kalau untuk hotel dan makan butuh Rp500 ribu sehari, maka untuk seorang saja butuh biaya inap dan makan sebesar Rp365juta. Belum biaya transportasinya. Belum lagi modal untuk persembahan—emas, kemenyan, dan mur—yang diberikan.

Namun, izinkan saya mengusulkan Sang Bintang sebagai bintang tamu. Dialah yang sungguh-sungguh menemani orang Majus sampai ke Betlehem. Dialah tanda yang mengarahkan orang Majus untuk menyembah bayi Yesus. Tanpa Sang Bintang, mereka tidak akan sampai pada tujuannya.

Nah, kita juga dipanggil untuk menjadi bintang masa kini. Tugas kita tidaklah menjadi tanda yang mengarahkan orang lain kepada diri sendiri, melainkan hanya kepada Allah. Segala kemuliaan, puji, dan sembah hanya bagi Allah. Sebuah tanda memang tidak lebih penting dari yang ditandainya.

Dan menjadi bintang semestinya dimulai di tempat kerja kita masing-masing.

Selamat bekerja,

Yoel M. Indrasmoro
Direktur Literatur Perkantas Nasional

Posted on Tinggalkan komentar

Menjadi Palungan

Pada Minggu Adven I Tuhan Yesus mengingatkan kita untuk senantiasa siap menyambut kedatangan-Nya, yaitu: menjaga hati agar jangan disarati pesta pora dan kemabukan serta kepentingan-kepentingan duniawi (lih. Luk. 21:34). Dengan kata lain, kita harus menanti-Nya dalam suasana hidup penuh kasih dan kekudusan.

Jelasnya: tidak pasif menunggu, melainkan aktif menerapkan keadilan dan kebenaran (lih. Yer. 33:15). Sehingga makin banyak orang yang tertular untuk mempersiapkan diri pula.

Janggal rasanya, merindukan kehadiran kerajaan Tuhan, tetapi tidak hidup sebagai warga kerajaan itu. Kita perlu menyiapkan diri sebaik-baiknya agar tahan berdiri di hadapan Anak Manusia.

Caranya? Mari bersikap sebagaimana palungan! Pada Kidung Jemaat 84:2, Carl Wilhelm Osterwald menulis: Hatiku biar Kaujadikan palungan-Mu yang mulia dan dalam aku Kaucerminkan terang sorgawi yang baka, sebab dengan kehadiran-Mu keluhan batinku lenyap. Kiranya lahir dalam aku dan tinggalah serta tetap.

Menjadi palungan berarti menjadi tempat. Menjadi palungan berarti menyediakan ruang dalam hati kita untuk Allah dan manusia.

Palungan merupakan tempat makanan. Palungan tak ubahnya piring dalam dunia manusia. Menjadi palungan berarti bersedia menjadi piring. Menjadi palungan berarti sedia menjadi penyalur berkat Tuhan.

Palungan pun tak bersikap diskriminatif. Tak ada tangan dalam palungan. Setiap binatang yang datang kepadanya bisa makan dari palungan tersebut. Palungan menerima semua binatang itu apa adanya. Dia tidak melakukan seleksi. Semua binatang diterimanya tanpa syarat.

Kita juga dipanggil untuk tidak bersikap diskriminatif. Menerima orang lain apa adanya. Inilah sikap yang tepat dalam menyambut kedatangan Yesus yang kedua.

Dan menjadi saluran berkat tanpa diskriminasi sewajarnya dimulai di tempat kerja kita masing-masing.

Selamat bekerja!

Yoel M. Indrasmoro
Direktur Literatur Perkantas Nasional

Posted on Tinggalkan komentar

Memperlihatkan Wajah Allah

Elia terpana. Janda yang begitu dihormati—yang juga telah memberi tempat berteduh dan makan selama ini—menuduhnya. Dalam kekalutan karena kematian anaknya, janda di Sarfat itu berkata kepada Elia, ”Apakah maksudmu datang ke mari, ya abdi Allah? Singgahkah engkau kepadaku untuk mengingatkan kesalahanku dan untuk menyebabkan anakku mati?” (1Raj. 17:18).

Photo by Sticker Mule on Unsplash

Perkataan itu tampaknya mengguncangkan hati Elia. Betapa tidak, Elia telah merasakan kasihnya. Janda itu sekarang ketimpa musibah dan menganggap Elia biang keladinya.

Elia lalu mengambil anak itu dan bersyafaat kepada Tuhan: ”Ya TUHAN, Allahku, mengapa Engkau mendatangkan celaka ini ke atas janda ini? Ia sudah memberi tumpangan kepadaku dan sekarang Engkau membunuh anaknya!” (1Raj. 17:20).

Elia berdoa seakan dia yang kena musibah. Sang Nabi berseru seperti dia sendirilah yang menderita. Kelihatannya, Elia sungguh merasakan kepedihan janda tersebut. Inilah yang dinamakan empati—’dalam penderitaan orang lain’. Jika simpati berarti bersama dengan penderitaan orang lain, maka empati—lebih dalam lagi—yakni dalam penderitaan orang lain. Allah pun kemudian membangkitkan anak itu dari kematian.

Sebelumnya janda itu memperlihatkan wajah Allah kepada Elia. Selanjutnya, Elia juga memperlihatkan wajah Allah kepada janda tersebut. Mereka saling memperlihatkan wajah Allah. Mereka saling menyatakan kasih Allah. Mereka saling memberi kehidupan. Mereka saling menghidupkan. Akhirnya, janda itu pun percaya kepada Allah Israel.

Memperlihatkan wajah Allah merupakan panggilan orang beriman. Dan dua minggu lalu seorang rekan pelayan mengirimkan pesan melalui whatsapp: ”Kalau ada gereja atau lembaga pelayanan yang perlu kita dukung untuk memiliki buku ini, saya ikutan ya.” Singkat pesannya. Namun, pada hemat saya, dia sedang berupaya memperlihatkan wajah Allah kepada sesama, yang bisa jadi tak pernah dikenalnya.

Nah, marilah kita saling memperlihatkan wajah Allah! Juga kepada rekan sekerja kita hari ini!

Selamat bekerja,

Yoel M. Indrasmoro
Direktur Literatur Perkantas Nasional

Posted on Tinggalkan komentar

Debora, Barak, dan Yael

Pada suatu masa, orang Israel kembali melakukan kejahatan di mata Tuhan. Sebagai hukuman, Tuhan menyerahkan mereka dalam penjajahan Yabin, raja Kanaan. Tak ada yang berani melawannya karena dia memiliki panglima tiada tanding: Sisera.

Photo by rawpixel on Unsplash

Debora, selaku hakim waktu itu, menugasi Barak untuk mengalahkan Sisera. Namun, Barak tak terlalu antusias. Meski Debora menegaskan bahwa Tuhan yang menyuruh, Barak tetap kecut hati. Barak tak berani menghadapi Sisera. Dia memohon, ”Jika engkau turut maju aku pun maju, tetapi jika engkau tidak turut maju aku pun tidak maju” (Hak. 4:8). Meski menyayangkan usul tersebut, Debora setuju dengan catatan: ”Hanya, engkau tidak akan mendapat kehormatan… sebab TUHAN akan menyerahkan Sisera ke dalam tangan seorang perempuan” (Hak. 4:9).

Itulah yang terjadi. Meski Barak beserta pasukannya mengalahkan tentara Sisera, tetapi dia tidak berhasil membunuh Sisera. Panglima perang itu mati di tangan Yael, istri Heber orang Keni.

Dari sejarah Israel ini, ada beberapa pelajaran penting. Pertama, jika kita tidak mau menerima tanggung jawab, Tuhan akan memakai orang lain. Barak menolak, dan Tuhan memilih Yael. Kedua, kesempatan tak pernah datang dua kali. Sambutlah saat pertama kali muncul! Memang, kata orang, kesempatan tak berwajah—sehingga sulit dikenali; dan berekor licin—yang membuat kita sulit menangkapnya ketika kita menyadarinya.

Karena itu, ”Tunaikan tugas sekarang juga. Jangan tunda! Kemungkinan besar kita tidak bisa mengerjakannya esok hari.” Demikianlah, petuah almarhum ayah saya, yang masih membekas hingga kini. Ketiga, percaya. Jika Tuhan di pihak kita, siapakah lawan kita? Karena itu pula, mintalah berkat Tuhan atas setiap karya yang kita lakukan pada kesempatan pertama itu.

Selamat bekerja,

Yoel M. Indrasmoro
Direktur Literatur Perkantas Nasional

Posted on Tinggalkan komentar

Berikanlah Aku Air itu!

”Berikanlah aku air itu!” (Yoh. 4:15). Demikianlah, permohonan perempuan Samaria itu kepada Yesus. Permohonan itu muncul karena sebelumnya Yesus menawarkan air hidup—air yang membuat orang tidak haus lagi.

Photo by Lisa Fotios from Pexels

Ada yang tersurat maupun tersirat dalam permohonan itu. Tersurat: perempuan itu tidak ingin datang ke perigi itu lagi. Dia agaknya merasa malu jika harus bertemu tetangga-tetangganya.

Tersirat: perempuan itu haus rohaninya. Lima perkawinannya kandas. Sekaran, dia sendiri tak berani mengikat diri dengan pasangan kumpul kebonya. Dia takut gagal lagi.

Dengan kata lain, perempuan itu haus baik jasmani maupun rohani. Dan Yesus tahu itu. Karena itulah, bisa dimengerti mengapa Guru dari Nazaret itu menawarkan air hidup kepada perempuan Samaria itu.

Air hidup itu adalah Dirinya sendiri. Dan di dalam Kristus, perempuan itu seperti bercermin. Yesus menyatakan keberadaan perempuan itu apa adanya. Di muka Yesus memang tak ada yang perlu disembunyikan. Yang terpenting adalah datang kepada-Nya sebagaimana adanya.

Tak perlu topeng. Semua manusia telanjang di hadapan Tuhan. Menyembunyikan sesuatu di hadapan-Nya hanya akan membuat kita makin merasa tak layak. Menyembunyikan sesuatu di hadapan-Nya hanya akan membuat kita tak merasa nyaman berhadapan dengan-Nya. Menyembunyikan sesuatu di hadapan-Nya hanya akan membuat kita letih. Menyembunyikan sesuatu di hadapan-Nya merupakan tindakan sia-sia.

Jika kita punya kesalahan, akuilah semuanya itu di hadapan Tuhan. Menurut Pascal, hanya ada dua macam orang: orang benar yang menganggap dirinya berdosa dan orang berdosa yang menganggap dirinya benar. Orang macam apakah kita?

Selamat bekerja!

Yoel M. Indrasmoro
Direktur Literatur Perkantas Nasional

Posted on 1 Komentar

Kuasa Kata

Berhati-hatilah dengan kata! Sekali terlontar dari mulut, kita tidak dapat menariknya kembali. Lagipula, kata memiliki kuasa. Kata-kata yang keluar dari mulut kita memiliki pengaruh besar bagi pendengarnya.

Photo by Ricardo Mancía on Unsplash

Pujian akan membuat orang merasa tersanjung dan terhibur. Namun, makian menyakitkan hati. Kalau sudah begini, perang tanding pun tak akan terhindarkan lagi. Dan itulah yang tampak dalam kisah Daud, Nabal, dan Abigail (1Sam. 25:2-42).

Nabal seorang kaya. Dia punya tiga ribu ekor domba dan seribu ekor kambing. Namun, orang kaya ini agaknya tidak memiliki kemampuan dalam menggunakan kata. Dalam hal ini, Nabal telah bertindak ceroboh.

Di hadapan anak buah Daud, Nabal berkata, ”Siapakah Daud? Siapakah anak Isai itu? Pada waktu sekarang ini banyak hamba yang lari dari tuannya. Masakan aku mengambil rotiku, air minumku dan hewan bantaian yang kubantai bagi orang-orang pengguntingku untuk memberikannya kepada orang-orang yang aku tidak tahu dari mana mereka datang?”

Perkataan Nabal tidak banyak. Hanya tiga kalimat! Namun, tiga kalimat itu yang membuat Daud berang setengah mati. Sebab, Nabal mempertanyakan eksistensi Daud. Perkataannya itu membuat Daud tersinggung. Harga diri sebagai laki-laki terusik.

Hati Daud pun mendidih dan mengambil sebuah kata kerja, sebagai sikapnya terhadap Nabal, yaitu: ”Bunuh!” Tak hanya Nabal, tetapi seluruh laki-laki yang menjadi pengikut Nabal. Daud pun sudah tak mampu lagi menahan kata-katanya.

Saat kritis itulah Abigail muncul! Dengan lembut Abigail membujuk Daud untuk menarik kata-katanya. Berbeda dengan Nabal dan Daud, sebagai perempuan, Abigail sanggup menggunakan kata-katanya secara bijak. Yang pada akhirnya mampu menyelamatkan banyak orang dari kematian sia-sia.

Kata memang berkuasa. Karena itu, gunakanlah secara bijak! Tak hanya yang keluar dari mulut, tetapi juga yang tertulis di gawai kita.

Selamat bekerja,

Yoel M. Indrasmoro
Direktur Literatur Perkantas Nasional

Posted on Tinggalkan komentar

Menjadi Sahabat Anda Bertumbuh

Pada 31 Oktober 1517 Martin Luther memaklumatkan 95 dalil yang mengkritik Gereja Katolik Roma. Di mata Luther, kebijakan menjual surat indulgensia ’penghapusan siksa’—bahkan untuk orang mati—melawan kebenaran Alkitab. Luther menegaskan bahwa keselamatan manusia hanya karena iman—sola fide, yang merupakan tanggapan dari anugerah Allah—sola gratia. Hidup hanyalah karena anugerah Allah.

Photo by James Coleman on Unsplash

Luther sendiri diilhami kala membaca surat Paulus kepada jemaat di Roma: ”Sebab di dalamnya dinyatakan pembenaran oleh Allah, yang bertolak dari iman dan memimpin kepada iman, seperti ada tertulis: ’Orang benar akan hidup oleh iman’” (Rm. 1:17). Sejatinya, Paulus pun hanya menggemakan kembali nubuat Habakuk: ”Orang yang benar itu akan hidup oleh percayanya” (Hab. 2:4).

Kisah reformasi sesungguhnya kisah baca-tulis. Seandainya Paulus tidak mengutip nubuat Habakuk dalam kitabnya—dan Luther juga tidak membacanya—mungkin jalannya kekristenan menjadi lain. Dan penemuan mesin cetak oleh Johannes Gutenberg pada 1440 memungkinkan semua tulisan bernada reformatif dicetak secara massal, sehingga gaungnya berdampak luas—semacam viral pada masa kini.

Menurut H.A. van Dop, guru liturgika saya, tanggal yang dipilih Martin Luther—31 Oktober dan sekarang dirayakan sebagai Hari Reformasi—bermakna strategis. Sebab 1 November merupakan Hari Raya Orang Kudus, yang dirayakan umat Katolik, sehingga bisa dipastikan setiap orang yang beribadah pada hari itu membaca 95 dalil Luther.

Dan bagi kami, Literatur Perkantas Nasional, 1 November juga amat bermakna. Pada 1 November 2010, berdasarkan Keputusan Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia Republik Indonesia, Divisi Literatur Perkantas Nasional disahkan menjadi PT Suluh Cendikia.

Photo by rawpixel on Unsplash

Perubahan bentuk ini dimaksudkan agar pelayanan literatur Perkantas dapat lebih diterima masyarakat luas, selain sebagai salah satu bentuk penerapan profesionalitas dalam tubuh Perkantas. Dengan demikian pada hari ini usia Literatur Perkantas Nasional—sebagai ”Sahabat Anda Bertumbuh”—genap sewindu.

Pada hemat kami, tanggal pengesahan tersebut bukan sebuah kebetulan. Kami diingatkan terus untuk melayani segenap orang kudus—semua orang yang telah dipilih Allah menjadi milik-Nya—dengan menjadi sahabat dalam pertumbuhan rohani mereka.

Karena itu, pada hari ini kami hendak bersyukur kepada Tuhan Yesus Kristus—Sang Komunikator Agung—yang telah menganggap kami layak menjadi rekan kerja-Nya melalui literasi. Juga kepada semua mitra kami—pembaca, penulis, penerjemah, percetakan, distributor, toko buku, donatur—yang telah menemani kami dalam melayankan Injil melalui media.

Doakanlah kami—dalam anugerah-Nya—agar setia menjalani panggilan sebagai ”suluh yang cendikia dan mencendikiakan”, sehingga mampu menjadi ”Sahabat Anda Bertumbuh!”

SMaNGaT,

Yoel M. Indrasmoro
Direktur Literatur Perkantas Nasional

Posted on Tinggalkan komentar

Panggilan Yeremia

Kisah panggilan Yeremia layak direnungkan. Panggilan itu tidak berasal dari diri Yeremia sendiri. Allah memanggilnya untuk menjadi nabi-Nya. Allah yang menyapa Yeremia. Allah yang melamar Yeremia dan bukan sebaliknya.

Panggilan itu bukan tanpa alasan. Allah bersaksi: ”Sebelum Aku membentuk engkau dalam rahim ibumu, Aku telah mengenal engkau, dan sebelum engkau keluar dari kandungan, Aku telah menguduskan engkau, Aku telah menetapkan engkau menjadi nabi bagi bangsa-bangsa.” (Yer. 1:5). Allah memiliki visi. Persoalannya: relakah manusia terlibat dalam perwujudan visi-Nya?

Yeremia berasal dari keluarga imam. Agaknya dia sadar akan tuntutan yang cukup tinggi dari masyarakat terhadap kalangan rohaniawan. Dan Yeremia menyadari bahwa bekalnya belum cukup banyak. Dia mengelak: ”Ah, Tuhan ALLAH! Sesungguhnya aku tidak pandai berbicara, sebab aku ini masih muda.” (Yer. 1:6)

Yeremia sadar, menjadi nabi berarti harus berbicara atas nama Allah kepada umat! Menjadi nabi itu tidak hanya cukup pintar ngomong. Tidak. Menjadi nabi berarti harus memiliki pengetahuan yang cukup agar berita yang dibawa tidak menjadi bahan olok-olok.

Dalam bayangan Yeremia, menjadi nabi berarti harus mampu berargumentasi. Lalu, bagaimana mau berargumen jika bekal pengetahuannya tidak memadai? Yeremia merasa dia masih terlalu muda. Sedikitnya pengetahuan—karena kemudaannya itu—membuatnya gentar menerima lamaran Allah.

Akan tetapi, Tuhan tetap pada pendirian-Nya. Dia berdaulat penuh. Lagi pula, alasan Yeremia itu hanya akan membawa Yeremia bertumpu pada kekuatannya sendiri. Dan Allah tidak mau hal itu terjadi. Allah ingin Yeremia bergantung penuh kepada-Nya. Ya, bergantung penuh kepada Allah. Itulah modal utama setiap pekerja Allah!

Selamat bekerja,

Yoel M. Indrasmoro
Direktur Literatur Perkantas Nasional

Posted on Tinggalkan komentar

Kepemimpinan Kristiani

”Maka Yesus mengambil seorang anak kecil dan menempatkannya di tengah-tengah mereka, kemudian Ia memeluk anak itu…” (Mrk. 9:36).

Demikianlah catatan penulis Injil Markus. Tindakan itu dilakukan Yesus untuk merespons perdebatan di antara para murid mengenai siapa yang layak menjadi pemimpin di antara mereka.

Dari tindakan Yesus itu, ada tiga kata kerja yang perlu diteladani setiap pemimpin Kristen: mengambil, menempatkan, dan memeluk.

Yesus mengambil anak tersebut. Tentunya, cara pengambilannya tidak dengan paksa. Tak ada paksaan. Kemungkinan besar anak itu malah senang.

Bayangkanlah, raut wajah Yesus! Cemberutkah? Pasti tidak. Mana ada anak kecil yang suka dicemberuti? Kelihatannya, anak itu merasa diterima Yesus. Sehingga, dia tidak keberatan diajak Yesus untuk berdiri di tengah-tengah para murid.

Yesus menempatkan anak tersebut di tengah-tengah. Anak itu bukan tontonan. Bukan. Yesus menempatkan anak itu di tengah-tengah agar dia menjadi fokus perhatian. Kata dasar ”perhatian” adalah ”hati”! Artinya, anak itu menjadi fokus-kasih.

Fokus seorang pemimpin bukanlah dirinya sendiri, melainkan orang-orang yang dia pimpin. Fokus kepemimpinan tidak berpusat pada diri sendiri, tetapi orang yang dipimpinnya. Setiap bawahan sejatinya merupakan fokus-kasih para pemimpin.

Yesus memeluk anak tersebut. Kasih tak sekadar kata-kata. Perhatian tak ada manfaatnya jika tidak berbuah dalam tindakan. Kasih harus diekspresikan melalui tindakan.

Kepemimpinan-kasih merupakan sebuah konsep abstrak. Oleh karena itu, harus diwujudkan dalam tindakan. Karena, sebagaimana refrein lagu lama: ”Semua bisa bilang sayang, semua bisa bilang. Apalah artinya sayang tanpa kenyataan?”

Selamat bekerja,

Yoel M. Indrasmoro
Direktur Literatur Perkantas Nasional

Posted on Tinggalkan komentar

Menjadi Manusia

Multatuli pernah berkata, sering disitir Pramoedya Ananta Toer, ”Tugas manusia ialah menjadi manusia, bukan menjadi malaikat atau pun setan. ”Ya, tugas manusia memang menjadi manusia. Jika tidak menjadi manusia, maka dia tidak bisa memenuhi hakikatnya sebagai manusia. Dan selanjutnya, tentu tak layak menganggap diri manusia.

Photo by Roman Averin on Unsplash

Menjadi manusia merupakan panggilan setiap insan. Menjadi manusia berarti pula  menjalani hidup sebagai hamba Allah. Allah memang tidak menuntut kita menjadi malaikat, tetapi juga tidak ingin kita menjadi setan. Dia hanya ingin kita memenuhi panggilan hidup sebagai manusia. Itulah cita-cita-Nya ketika mencipta manusia. Dan ketika manusia tak lagi menapaki hidup sebagai manusia, ia harus bertobat.

Itu jugalah yang dikumandangkan Nabi Yesaya: ”Carilah TUHAN selama Ia berkenan ditemui; berserulah kepada-Nya selama Ia dekat! Baiklah orang fasik meninggalkan jalannya, dan orang jahat meninggalkan rancangannya…” (Yes. 55: 6-7).

Pertobatan merupakan inti berita Yesaya. Berkait dengan pertobatan, kita termasuk golongan manusia berbahagia karena kita masih dikaruniai waktu. Waktu untuk berubah. Itu berarti pula waktu untuk berbuah lebih banyak. Berubah untuk berbuah.

Kita—jika dikaitkan dengan perumpamaan Yesus Orang Nazaret—bak pohon ara yang masih diberi kesempatan hidup, yang dibela oleh Sang Pengelola kebun.

”Tuan, biarkanlah dia tumbuh tahun ini lagi, aku akan mencangkul tanah sekelilingnya dan memberi pupuk kepadanya, mungkin tahun depan ia berbuah; jika tidak, tebanglah dia!” harap Sang Pengelola kepada Sang Pemilik (lih. Luk. 13:9). Namun demikian, kesempatan itu pun tidak tak terbatas.

Berbahagialah karena kita belum sampai tenggat itu! Masih ada waktu untuk berbenah. Masih ada waktu untuk memperbarui diri—menjadi manusia seturut citra Allah. Jika tidak, kita pun akan ditebang!

Selamat bekerja,

Yoel M. Indrasmoro
Direktur Literatur Perkantas Nasional

Posted on Tinggalkan komentar

Karya adalah Saksi

”Berapa lama lagi Engkau membiarkan kami dalam kebimbangan? Jikalau
Engkau Mesias, katakanlah terus terang kepada kami.” (Yoh. 10:24).

Photo by Dominik Scythe on Unsplash

Demikianlah kegalauan orang Yahudi berkait Yesus Orang Nazaret. Mukjizat-mukjizat-Nya membuat mereka bertanya-tanya: ”Siapakah Dia sebenarnya?”

Mereka ingin Yesus bicara, tetapi Anak Daud itu tidak menggubrisnya. Bagi Yesus, apa yang dilakukan-Nya sudah jelas. Yesus ingin orang menilai diri-Nya berdasarkan apa yang dilakukan-Nya. Berkait kemesiasan-Nya, Yesus merasa tidak perlu bicara banyak.

Sang Guru menegaskan: ”Pekerjaan-pekerjaan yang Kulakukan dalam nama Bapa-Ku, itulah yang memberikan kesaksian tentang Aku…” (Yoh. 10:25).

Pekerjaan-pekerjaan yang dilakukan dalam nama Bapa itulah yang memberi kesaksian tentang diri-Nya. Pada titik ini kita perlu belajar dari Sang Guru. Apa yang kita lakukan dalam nama Tuhan itu cukup dan tak perlu masang iklan. Bahkan, tak perlu membumbui apa yang telah kita lakukan.

Kebanyakan bumbu akan membuat masakan tak lagi enak disantap. Berkait karya, kata-kata mungkin malah melemahkan karya kita. Sebaik apa pun karya, baiklah kita belajar dari Sang Guru yang merasa tidak perlu beriklan. Iklan, bagaimanapun baiknya, mungkin malah akan membuat diri terkesan sombong.

Sekali lagi, Yesus tidak perlu beriklan. Bagi Dia, karyalah yang utama. Yesus—Firman yang menjadi manusia itu—senantiasa bertumpu pada karya. Karya Yesus merupakan penjabaran praktis dari kata-kata-Nya. Yesus adalah pribadi yang walk the talk. Melakukan apa yang dikatakan. Dan setelah melakukan, Yesus tidak perlu lagi beriklan.

Selamat bekerja,

Yoel M. Indrasmoro
Direktur Literatur Perkantas Nasional

Posted on Tinggalkan komentar

Perjumpaan yang Memberdayakan

Perjumpaan Musa dan Yitro (Kel. 18:13-27) merupakan salah satu kisah baik mengenai ciri pemimpin berkualitas.

Photo by Stephen Leonardi on Unsplash

Pertama, terbuka. Seorang pemimpin terbuka terhadap setiap usul, saran, kritik, bahkan celaan pihak lain. Dalam kisah ini, Musa tidak serta-merta menolak usul Yitro. Namun, dia mendengarkan apa yang hendak disampaikan mertuanya.

Sikap terbuka tampak dalam kesediaan mendengarkan. Tidak sekadar mendengar (sepintas lalu), tetapi mendengarkan. Mendengarkan mengandaikan adanya keseriusan dari pihak yang mendengar.

Kedua, positif. Musa tidak memandang negatif mertuanya. Dia bersikap positif terhadap pemikiran Yitro. Agaknya, Musa menyadari bahwa setiap orang pastilah punya pengalaman. Dan pengalaman yang bersifat pribadi, yang membedakan seseorang dengan yang lain, harus dihargai. Pengalaman berbeda akan menghasilkan pendapat dan keyakinan yang berbeda pula.

Dengan kata lain, sikap positif akan membuat kita memahami bahwa setiap orang, berdasarkan pengalaman hidupnya, akan mempunyai pendapat berbeda mengenai hal yang sama. Atau, bisa saja pendapatnya sama, tetapi dengan alasan berbeda. Perbedaan alasan akan memperkuat pendapat tersebut.

Ketiga, tulus. Tulus berarti memandang orang lain tanpa prasangka. Musa meyakini bahwa Yitro tidak mungkin mencelakakan dirinya. Musa tidak berasumsi Yitro akan mengambil keuntungan dari usul tersebut. Musa memandang Yitro dengan pikiran jernih dan hati bersih. Musa yakin usul Yitro itu memang untuk kebaikan dirinya dan bangsa Israel.

Keempat, percaya. Tindakan Musa sewaktu memilih para pemimpin berlandaskan kepercayaan. Dia percaya bahwa orang-orang yang diangkatnya dapat mengerjakan tugas mereka dengan baik. Musa tidak hendak mengumpulkan kekuasaan, tetapi mau membagi-bagikan tanggung jawab dan wewenang. Dengan demikian, dia juga tidak mau membuat bangsa Israel tergantung pada dirinya seorang. Bagaimanapun, kapasitas Musa ada batasnya.

Tujuan dari semuanya ini jelas: bangsa Israel puas terlayani, Musa tidak terlalu lelah, dan banyak orang terlibat dan belajar menjadi pemimpin. Sungguh perjumpaan yang memberdayakan.

Selamat bekerja,

Yoel M. Indrasmoro
Direktur Literatur Perkantas Nasional

Posted on Tinggalkan komentar

Sungguh-sungguh Melakukan Pekerjaan yang Baik

Carlos G. Valles, dalam bukunya Courage to Be Myself, mengutip percakapan antara Buddha dengan seorang muridnya. Sang Murid bertanya kepada Buddha: ”Bagaimanakah caranya para biksu mencapai kesempurnaan?”

Sang Buddha menjawab, ”Apabila berjalan, biksu berjalan sepenuhnya; apabila berdiri, biksu berdiri sepenuhnya; apabila duduk, biksu duduk sepenuhnya; apabila telentang, biksu telentang sepenuhnya.

Apabila memandang, ia sepenuhnya memandang; apabila membentangkan tangan, ia sepenuhnya membentangkan tangan; apabila mengenakan pakaian, ia sepenuhnya mengenakan pakaian; dan begitu pula apabila makan, minum, mengunyah, mencecap, atau pun melakukan tindakan-tindakan lain, ia sepenuhnya melakukan apa yang sedang ia lakukan dengan memahami tindakannya secara sempurna.”

Inilah hidup yang serius. Dan tampaknya mudah. Makanlah bila kita makan, dan berjalanlah ketika kita berjalan.

Itukah yang kita kerjakan? Sayangnya tidak! Sering kita mengerjakan yang sebaliknya. Kita bicara saat makan, dan berpikir sewaktu berjalan. Kadang kita menjadi tersedak atau tersandung. Ketika kita melakukan suatu pekerjaan, pikiran kita sering kali tidak ada di situ. Bahayanya lagi, saat bicara, otak kita memikirkan topik lain.

Mungkin ini sebuah contoh yang bagus, masih terdapat dalam buku Valles tadi. Konon seorang penumpang duduk di taksi, tetapi duduknya hanya mengambang, di pinggir kursi, tanpa membiarkan seluruh bobot badannya terbebankan di kursi. Mengapa? Ia yakin dengan duduk begitu bayaran taksinya akan lebih murah sedikit!

Ia tidak menyadari bahwa spedometer berjalan sama saja saat ia duduk begini atau duduk begitu. Sesungguhnya ia sedang menyiksa dirinya sendiri.

Mungkin kita pun sering berbuat demikian. Sewaktu naik taksi, kita malah berpikir dan bersikap seakan sedang naik motor. Ketika waktunya belajar, kita malah main-main. Dan sewaktu bermain, pikiran kita malah melayang ke pelajaran kita.

Pada waktu bekerja, pikiran kita mengkhayalkan enaknya tidur siang. Pada waktu istirahat, otak kita malah stres memikirkan pekerjaan yang menumpuk.

Paulus mengingatkan kepada warga jemaat yang dipimpin oleh Titus untuk ”sungguh-sungguh berusaha melakukan pekerjaan yang baik” (Tit. 3:8). Artinya, bukan berapa banyak kerja kita, tetapi bagaimana kita mengerjakannya?

Pertanyaannya: Apakah kita telah berusaha sungguh-sungguh melakukan pekerjaan yang baik? Sekadar jalan atau rutinitas belaka?

Selamat bekerja,

Yoel M. Indrasmoro
Direktur Literatur Perkantas Nasional

Posted on Tinggalkan komentar

Kelekatan

Dia bukan orang miskin. Namun, dia merasa ada yang kurang dalam dirinya. Dia berusaha mencari tahu kekurangannya itu dengan bertanya kepada Yesus. Dengan penuh antusias dia berlari-lari untuk menemui Yesus Orang Nazaret dan bertanya:

”Guru yang baik, apa yang harus kuperbuat untuk memperoleh hidup yang kekal?” (Mrk. 10:17).

Sang Guru tidak langsung menjawab pertanyaannya. Yesus mengatakan bahwa tentunya orang itu telah mengetahui sebagian dari Sepuluh Firman. Dengan cepat dia mengatakan bahwa semuanya itu telah dilakukan sejak kecil. Akan tetapi, ini soalnya, dia tetap merasa ada yang kurang.

Sang Guru lalu meminta dia untuk menjual hartanya dan membagikannya kepada orang miskin, lalu menjadi murid-Nya. ”Mendengar perkataan itu ia menjadi kecewa, lalu pergi dengan sedih, sebab banyak hartanya” (Mrk. 10:22).

Di mana persoalannya? Tentu, bukan pada hartanya. Kekayaan itu netral. Akan tetapi, menjadi tidak netral—malah berbahaya—tatkala kekayaan itu menjadi tuan atas manusia. Tak salah menjadi kaya, tetapi menjadi masalah tatkala kekayaan itu membuat kita terikat kuat padanya. Kaum Yesuit punya istilah yang bagus: ”kelekatan”.

Kelekatan pada sesuatu bisa membuat seseorang malah menjauh dari Tuhan. Tak hanya kekayaan dan keluarga, pekerjaan atau jabatan pun bisa membuat kita tak lagi melekat kepada Tuhan. Pdt. Em. William Ho, mantan Ketua Sinode Gereja Kristus Yesus, dalam salah satu wawancara pernah berujar: ”Kursi itu dipakai untuk kerja, jangan dipegang terus.”

Jabatan kadang membuat orang begitu sibuk mempertahankannya, sehingga malah lupa alasan utama dia duduk di kursi itu: ”bekerja”. Sebab pekerjaannya ya cuma itu: bagaimana mempertahankan kursinya.

Selamat Bekerja,

Yoel M. Indrasmoro
Direktur Literatur Perkantas Nasional

Posted on Tinggalkan komentar

Hidup adalah Sebuah Pesta

Dalam buku Sekolam Bunga Teratai terdapat kisah seorang nenek, yang hanya menangis kerjanya. Dia memiliki dua anak perempuan. Yang sulung bersuamikan pedagang payung, sedangkan yang bungsu bersuamikan pedagang tepung.

Photo by Noah Näf on Unsplash

Bila langit cerah dan udara baik, Sang Nenek menangis teringat putri sulungnya, yang tidak dapat menjual payungnya. Namun, jika hujan turun, dia kembali menangis karena putri bungsunya tidak dapat menjemur tepung. Baik panas maupun hujan, Sang Nenek senantiasa menangis. Orang-orang di desanya menjulukinya ”Nenek Menangis”.

Pada suatu hari Sang Nenek berjumpa seorang biksu dan bertanya bagaimana mengatasi hal tersebut. Dengan senyum, biksu tersebut berkata, ”Nenek tidak dapat mengubah cuaca menjadi baik atau buruk. Akan tetapi, Nenek dapat mengendalikan pikiran Nenek! Jika cuaca cerah, bergembiralah untuk putri bungsumu, karena dia dapat menjemur tepungnya. Dan jika hari hujan, bergembiralah sebab putri sulungmu dapat menjual lebih banyak payung. Ini hanya masalah cara pandang!”

Ya, cuma cara pandang. Ketimbang mengeluhkan hujan deras sore hari—yang membuat kita sulit berjalan karena tanah becek; mengapa kita tidak memandang langit? Bukankah sinar bintang dan rembulan sedang menerangi jalan yang kita lalui? Cara pandang memampukan kita menjadikan hidup bagai sebuah pesta. Dan hidup memang pesta, selama kita mampu melihat seberkas sinar—alasan bersyukur—dalam muramnya kehidupan.

Juga dalam pekerjaan kita. Ketimbang mengomel karena klaim seorang klien, bersyukurlah karena kita telah ditolongnya melihat realitas kelemahan kita. Daripada menggerutu karena sikap atasan yang sering tidak sabar, bersyukurlah karena situasi itu membuat kita dapat belajar menjadi lebih sabar.

Ketimbang mengeluhkan sikap bawahan yang selalu kritis terhadap kebijakan kita, bersyukurlah kritikan tersebut menolong kita menilai kebijakan itu dari perspektif lain. Alhasil, kebijakan kita menjadi sungguh-sungguh teruji.

Semuanya itu memang dimulai dari cara pandang!

Selamat Bekerja,

Yoel M. Indrasmoro
Direktur Literatur Perkantas Nasional

Posted on Tinggalkan komentar

Panggilan Pekerjaan

Allah memanggil tiap-tiap orang untuk maksud yang telah Ia sediakan bagi mereka. Kerja merupakan sarana untuk memenuhi maksud Allah itu. Dengan demikian, pekerjaan juga sebuah panggilan.

Photo by Annie Spratt on Unsplash

Memahami kerja sebagai panggilan akan menolong kita—dengan pertolongan Allah tentunya—memperlengkapi diri kita agar mampu memenuhi panggilan-Nya. Perlengkapan itu tak hanya berwujud pengetahuan, melainkan juga keterampilan.

Menurut Peter F. Drucker, dalam buku The Daily Drucker, ”Pengetahuan tidak menghilangkan keterampilan. Sebaliknya, dengan cepat pengetahuan akan menjadi fondasi kokoh bagi keterampilan.” Hanya dengan cara itulah pengetahuan sungguh menjadi produktif.

Sebagai contoh, tentu kita sepakat bahwa editor merupakan pekerjaan intelektual. Namun, pada kenyataannya para editor biasanya menghabiskan lebih banyak waktu untuk bekerja dengan tangan ketimbang dengan otaknya.

Memang pekerjaan utamanya ialah menjadi jembatan antara penulis dan pembaca agar pembaca dapat memahami dengan tepat maksud penulis. Namun, editor yang baik pastilah tak akan membiarkan terjadinya kesalahan ejaan dan tanda baca yang akan membuat pembaca menjadi sesat pikir.

Dia harus berupaya dengan keras untuk mencapai nihil obstat ”tanpa kesalahan”. Ketertiban berbahasa merupakan buah dari pelatihan bertahun-tahun. Jelaslah, karya editorial sendiri merupakan hasil pekerjaan intelektual sekaligus manual.

Oleh karena itu, pentinglah bagi setiap pekerja intelektual untuk berusaha mengembangkan dirinya dalam keterampilan demi menghasilkan pekerjaan berkualitas.

Kualitas menjadi penting karena itulah kebutuhan utama manusia. Kualitas itu laksana rasa asin dalam sebutir garam. Ya, apalah artinya garam jika telah kehilangan asinnya? Masih layakkah disebut garam?

Dengan kata lain, gelar memang penting. Namun, apalah artinya gelar tanpa keterampilan yang membuktikan bahwa kita layak mengenakan gelar tersebut! Hanya dengan cara itulah kita akan dimampukan sungguh-sungguh menggarami dan menerangi dunia di mana Tuhan menempatkan kita!

Selamat bekerja,

Yoel M. Indrasmoro
Direktur Literatur Perkantas Nasional

Posted on Tinggalkan komentar

Zakheus

Nama pemungut cukai itu Zakheus (lih. Luk. 19:1-10). Nama itu merupakan bentuk Yunani dari nama Zakkay dalam bahasa Ibrani, yang berarti ”bersih, tidak bersalah”. Dan orang yang namanya berarti ”bersih, tidak bersalah” itu berprofesi sebagai pemungut cukai.

Photo by Kai Dörner on Unsplash

Pemungut cukai adalah petugas lembaga fiskal Romawi. Tugas itu dipercayakan kepada orang yang mampu menawarkan paling banyak uang kepada pemerintah penjajah. Pada akhirnya jumlah itu pula yang harus ditagihnya dengan bermacam cara.

Seorang pemungut cukai hidup dari selisih antara jumlah yang ditetapkan penjajah dan yang ditagihnya. Artinya, jika berlaku jujur, dia tidak mendapat apa pun. Tak heran jika profesi pemungut cukai dibenci kaum nasionalis agama.

Namun, Lukas mencatat bahwa dalam diri Zakheus ada sesuatu yang baik. Ia pribadi yang bertindak dan akan melakukan segala upaya untuk mencapai kerinduannya.

Zakheus ingin tahu orang seperti apakah Yesus itu. Kabar yang masuk ke telinganya adalah Sang Guru dari Nazaret itu bukan guru sembarangan. Yesus menerima orang apa adanya. Bahkan, salah satu murid-Nya, Matius, adalah mantan pemungut cukai.

Sayang badannya pendek. Dan orang banyak yang sedang berkerumun di sekitar Yesus agaknya menghalang-halanginya. Namun, ia tak pulang ke rumah. Saking penasarannya, dia berlari dan memanjat pohon ara untuk melihat Yesus. Entah bagaimana tanggapan orang banyak melihat tindakannya itu.

Zakheus mencari Yesus. Namun, di pihak lain, Yesus pun juga mencari Zakheus. Yesuslah yang menyapanya terlebih dahulu, bahkan berkata, ”Aku harus menumpang di rumahmu.” Kegigihan Zakheus membuat dia mendapatkan lebih dari yang diharapkan.

Tindakan Sang Guru membuat iman Zakheus bertumbuh. Sang Pemungut cukai mendonasikan setengah hartanya kepada orang miskin. Ia juga berniat mengembalikan empat kali lipat kepada orang yang pernah dicuranginya. Bisa jadi Zakheus langsung jatuh miskin. Namun, tindakannya itu sungguh-sungguh mencerminkan arti namanya.

Selamat bekerja,

Yoel M. Indrasmoro
Direktur Literatur Perkantas Nasional

Posted on Tinggalkan komentar

Rahmat Allah dan Keinginan Luhur Manusia

Berkenaan dengan HUT ke-73 Proklamasi Kemerdekaan Indonesia, mari kita menyimak alinea ketiga Pembukaan UUD 1945: ”Atas berkat rahmat Allah yang Maha Kuasa dan dengan didorongkan oleh keinginan luhur, supaya berkehidupan kebangsaan yang bebas, maka rakyat Indonesia menyatakan dengan ini kemerdekaannya”.

Photo by Nick Agus Arya on Unsplash

Para pendiri bangsa percaya bahwa Indonesia berdiri di atas dasar: rahmat Allah dan keinginan luhur.

Memang itulah kenyataannya. Situasi global masa itu—yang menyebabkan kekosongan pemerintahan akibat kekalahan Jepang—memberikan peluang bagi para pendiri bangsa untuk menyatakan kemerdekaan Indonesia. Situasi global itu dipahami sebagai rahmat Allah. Bagaimanapun, sebelum kekalahan Jepang, merdeka seperti jauh panggang dari api.

Namun, rahmat Allah tak akan ada artinya tanpa keinginan luhur manusia. Keinginan luhur itulah yang menyebabkan Bung Karno dan Bung Hatta mau berkompromi dengan para pemuda yang sempat menculik mereka ke Rengasdengklok sehari sebelum proklamasi.

Keinginan luhur itu pulalah yang menyebabkan Dwitunggal Proklamator itu bersedia mengambil risiko menandatangani naskah proklamasi. Mereka berdua memiliki keinginan luhur yang jauh melampaui keinginan SARA.

Keinginan luhur semacam itu—kalau kita mau jujur mengaku—sejatinya merupakan anugerah Allah sendiri. Dan tentu saja keinginan macam beginilah yang akan dirahmati Allah.

Jika keadaan negeri kita kini tampaknya enggan berubah, mungkin dikarenakan masih banyak orang berpikir untuk kepentingannya atau golongannya sendiri.

Dan perubahan akan terjadi jika semakin banyak orang berupaya mengubah fokus dari diri sendiri kepada orang lain. Tak hanya di republik tercinta, tetapi juga di tempat kerja kita masing-masing.

Selamat Bekerja!

Yoel M. Indrasmoro
Direktur Literatur Perkantas Nasional

Posted on Tinggalkan komentar

Tola: Si Cacing Tanah

”Sesudah Abimelekh, bangkitlah Tola bin Pua bin Dodo, seorang Isakhar, untuk menyelamatkan orang Israel. Ia diam di Samir, di pegunungan Efraim dan ia memerintah sebagai hakim atas orang Israel dua puluh tiga tahun lamanya; kemudian matilah ia, lalu dikuburkan di Samir” (Hak. 10:1-2).

Photo by rawpixel on Unsplash

Mengenai Tola, tak banyak yang diceritakan penulis Kitab Hakim-hakim. Begitu singkat: hanya dua ayat. Namun, tugasnya tak bisa dibilang mudah. Dia berada dalam situasi krisis dari peralihan kekuasaan.

Abimelekh, anak Gideon, dari seorang gundik, telah mengangkat diri sendiri menjadi raja di Sikhem. Dia mengumpulkan para kriminalis dan membunuh saudara-saudaranya, anak-anak Yerubaal, 70 orang, di atas batu di Ofra (Hak. 9:4-5). Dengan tangan besi dia memerintah selama tiga tahun dan banyak membunuh rakyatnya sendiri. Akhirnya rakyat Sikhem memberontak dan Abimelekh tewas. Allah kemudian menunjuk Tola sebagai hakim yang memerintah Israel selama 23 tahun.

Keterangan singkat tentang Tola sepertinya menyiratkan gaya kepemimpinannya. Dalam bahasa Ibrani, Tola berarti cacing. Cacing dianggap hina karena bentuknya. Akan tetapi, dalam dunia pertanian, cacing berguna dalam meningkatkan kesuburan tanah. Dan kerjanya pun diam-diam, yakni di dalam tanah.

Tola tidak sepongah, seambisius, dan semiliteristik Abimelekh, tetapi dia mengemban tugas kepemimpinan dengan baik. Tak banyak yang dicatat tentang Tola—bisa jadi tak banyak hal heroik dalam kiprahnya sebagai pemimpin. Atau bisa jadi dia juga tak mau mengiklankan dirinya. Namun demikian, Alkitab mencatat bahwa dia setia menjalankan tugasnya hingga purna—sampai mati.

Kesetiaan terhadap panggilan bukan perkara mudah. Ada rupa-rupa godaan yang bisa membuat manusia pindah haluan, atau tetap dalam panggilan, tetapi dalam kadar yang berbeda. Pada titik ini kita agaknya perlu belajar dari Tola.

Selamat Bekerja!

Yoel M. Indrasmoro
Direktur Literatur Perkantas Nasional

Posted on Tinggalkan komentar

Gembalakanlah Domba-domba-Ku

”Simon, anak Yohanes, apakah engkau mengasihi Aku?” (Yoh. 21:15). Demikianlah sapaan Yesus yang bangkit kepada murid yang pernah menyangkal-Nya.

Photo by Biegun Wschodni on Unsplash

Pertanyaan itu menukik tajam, tepat sasaran, tanpa basa-basi. Yesus mempersoalkan makna terdalam sebuah hubungan: kasih. Jawaban Sang Murid sungguh radikal: ”Benar Tuhan, Engkau tahu bahwa aku mengasihi Engkau” (Yoh. 21:15).

Petrus merasa tak cukup hanya menjawab: ”Benar Tuhan.” Tidak. Dia mendasarkan jawabannya pada kemahatahuan Yesus. Dasar jawabannya tidak terletak pada ke-aku-an, tetapi pada diri Yesus sendiri. Dasar jawaban Petrus tidak terletak pada kemauan, bukan pula pada kemampuan diri, melainkan pada ketuhanan Yesus.

Bahkan ketika Sang Guru merasa perlu tiga kali mempertanyakan kasihnya, Petrus tetap pada jawabannya, sekali lagi berdasarkan kemahatahuan Yesus: ”Tuhan, Engkau tahu segala sesuatu, Engkau tahu bahwa aku mengasihi Engkau” (Yoh. 21:17).

Menurut Henri J. M. Nouwen, dalam bukunya Dalam Nama Yesus, Permenungan Tentang Kepemimpinan Kristiani, ”Pemimpin Gereja tak cukup hanya bermoral tinggi, terlatih, siap membantu sesama dan mampu menanggapi masalah-masalah hangat pada zamannya secara kreatif. Di atas semuanya itu, pemimpin kristiani adalah orang yang sungguh-sungguh mengasihi Allah.”

Dengan kata lain, lanjut Nouwen, ”Pemimpin kristiani adalah orang yang benar-benar mau tinggal di hadirat Allah dan bersekutu dengan-Nya. Sehingga, visi Allahlah, dan bukan visinya pribadi, yang menjadi dasar dan arah kepemimpinannya.”

Atas semua jawaban itu, Yesus memberi mandat: ”Gembalakanlah domba-domba-Ku.” Cuma dua kata, tetapi melegakan hati. Mandat itu berarti kepercayaan. Yesus tetap memercayainya. Dan bagi Petrus mandat itu berarti karya yang harus dilakukan tanpa syarat.

Pemimpin—juga pemimpin di tempat kerja—adalah gembala bagi orang-orang yang dibawahkan kepadanya. Dan itu hanya mungkin terjadi kala dia sungguh mengasihi Sang Gembala Sejati.

Selamat Bekerja,

Yoel M. Indrasmoro
Direktur Literatur Perkantas Nasional

Posted on Tinggalkan komentar

Musim Berganti

Kitab Keluaran dimulai dengan kisah pahit. Israel yang semula merupakan kesayangan penguasa Mesir, bahkan diberi tempat khusus di delta sungai Nil, telah menjadi bangsa yang menakutkan penguasa baru. Bagi dia kisah Yusuf, yang menyelamatkan Mesir dari bencana kelaparan, tinggal sejarah.

Photo by Chris Lawton on Unsplash

Sang Penguasa kemudian menetapkan tindakan ”bijaksana”, yang merupakan petaka bagi Israel. Dari bangsa kesayangan, Israel menjadi bangsa budak. Mereka menjalani kerja paksa mendirikan kota-kota perbekalan bagi Firaun, yakni Pitom dan Raamses. Israel hanya bisa menerima. Musim berganti. Namun, penulis mencatat, ”tetapi makin ditindas, makin bertambah banyak dan berkembang mereka, sehingga orang merasa takut kepada orang Israel itu” (Kel. 1:12).

Makin ketakutanlah penguasa baru itu. Ketakutan akan balas dendam membuatnya mengubah ”kebijaksanaan” dengan cara membunuh semua bayi laki-laki Israel yang baru lahir. Dampak musim bertambah parah. Akan tetapi, kebijakan kedua ini pun gagal. Sifra dan Pua, kedua bidan itu, ternyata lebih takut kepada Allah ketimbang penguasa Mesir. Ketakutan penguasa Mesir makin menjadi. ”Kebijaksanaannya” makin berkembang: melemparkan semua bayi laki-laki Ibrani ke sungai Nil.

Awalan Kitab Keluaran, yang berakhir dengan pembebasan Israel dari Mesir, membuktikan karya pemeliharaan Allah. Situasi dan kondisi dapat berubah dalam sekejap, tetapi kasih setia Tuhan tiada berubah. Dengan cara-Nya sendiri, Allah menyertai umat-Nya. Penyertaan Allah ini terekam juga dalam Kidung Populer Rohani Tempo Dulu: ”Tak pernah Dia janji slalu ’kan panas. Tak pernah Dia janji hanya ada hujan. Tapi Dia janjikan memberi kekuatan bila badai topan melandamu”.

Musim boleh berganti. Bisa jadi berimbas pada pekerjaan kita. Namun, penyertaan Allah tetap. Allah tidak menjanjikan kondisi kerja yang serbabaik, tapi Dia menjanjikan kekuatan. Sebab kita milik-Nya!

Selamat Bekerja,

Yoel M. Indrasmoro
Direktur Literatur Perkantas Nasional

Posted on Tinggalkan komentar

Pegawai Bermental Karyawan

Berkait soal kerja, kisah penyembuhan Naaman menarik disimak. Pegawai-pegawai Naaman layak dijadikan teladan. Meski berstatus pegawai, mereka bermental karyawan. Sebagai karyawan mereka ingin menghasilkan sesuatu: karya!

Photo by Tim Marshall on Unsplash

Ketika Naaman kesal dengan perlakuan Elisa, yang memintanya untuk membenamkan diri ke sungai Yordan sebanyak tujuh kali, para pegawainya berupaya agar Naaman tetap fokus pada tujuan utamanya—kesembuhan dari kusta. Berbahagialah Naaman karena memiliki bawahan-bawahan yang berani menyatakan pendapat! Mereka tidak bermental ABS (Asal Bapak Senang). Mereka berani berbeda pendapat, membujuk Naaman, demi tercapainya visi bersama. Bujukannya tak ditujukan pada batin, tetapi lebih terarah pada nalar Sang Panglima.

Mari kita simak nasihat mereka: ”Bapak, seandainya nabi itu menyuruh perkara yang sukar kepadamu, bukankah Bapak akan melakukannya? Apalagi sekarang, ia hanya berkata kepadamu: ’Mandilah dan engkau akan menjadi tahir’” (2Raj. 5:13). Kalimat yang logis. Meski bertujuan menyentuh pikiran, kalimat itu pastilah menyentuh hati Naaman. Pegawai-pegawai itu mengingatkan kembali akan kehebatan Sang Panglima.

Siapa yang tak kenal Naaman? Dia suka sekali—dan sungguh-sungguh terbukti—melakukan hal-hal luar biasa. Naaman sudah terbiasa melakukan perkara-perkara sukar. Mungkin bagi orang lain mustahil, tapi tidak bagi Naaman. Dengan kata lain, ”Kalau perbuatan yang sukar saja Bapak suka dan mampu melakukannya, masak hal yang mudah begini Bapak malah enggan melakukannya?” Itu berarti, apa yang diminta Elisa bukanlah sesuatu yang sulit. Lalu, apa salahnya dicoba!

Entah, apa yang ada di benak Naaman saat dia membenamkan dirinya di sungai Yordan. Mungkin dia ragu, tapi itulah jalan terlogis. Ya, apa salahnya dicoba? Bukankah dia telah sampai ke Israel. Kalau pulang lagi ke Damsyik, dia tidak akan mendapatkan apa-apa. Alhasil: penyakit kusta itu hilang dari tubuhnya.

Kita tidak pernah tahu identitas pegawai-pegawai Naaman itu. Namun, yang kita tahu mereka mengerjakan tugasnya dengan baik. Mereka berani mengemukakan pendapat yang berbeda untuk kepentingan tuannya. Mereka ingin Sang Panglima mewujudkan visinya. Mereka telah menjadikan visi tuannya—kesembuhan dari kusta—sebagai visi mereka juga. Sebagai karyawan, mereka sungguh berkualitas.

Kualitas itu pulalah yang ditekankan Paulus dalam sebuah suratnya: ”Baiklah tiap-tiap orang menguji pekerjaannya sendiri; maka ia boleh bermegah melihat keadaannya sendiri dan bukan melihat keadaan orang lain” (Gal. 6:4).

Selamat Bekerja,

Yoel M. Indrasmoro
Direktur Literatur Perkantas Nasional

Posted on Tinggalkan komentar

Piala Dunia 2018

Piala Dunia 2018 usai sudah. Prancislah jawaranya. Banyak hal yang bisa dipetik dari perhelatan dunia ini.

Photo by Fauzan Saari on Unsplash

Pertama, sepakbola adalah permainan tim, yang terdiri atas sebelas orang, bahkan kadang menjadi dua belas—para suporter. Tentu sebuah tim terdiri atas individu-individu. Akan tetapi, setiap individu tersebut haruslah meyakini bahwa dia merupakan bagian dari sebuah tim. Terkait ini, ada adagium yang menarik dalam bahasa Inggris: There is no ”I” in Team (tak ada saya dalam sebuah tim).

Kedua, karena itulah setiap individu mesti bekerja sebagai sebuah tim. Ketika ada seorang yang mencetak gol, itu bukanlah gol dirinya, tetapi gol kesebelasannya, dan akhirnya menjadi gol para pendukungnya juga. Akan tetapi, ketika seseorang melakukan kesalahan, tak perlulah menyalahkan dirinya karena semua itu dilakukannya untuk membela timnya.

Itulah yang terjadi ketika sundulan Mario Mandzukic tidak menyelamatkan, tetapi malah membobol gawang sendiri. Para pemain Kroasia tak terlihat menyalahkannya. Lagi pula, buat apa menyalahkan karena Mandzukic sendiri pasti sudah amat menyesal. Begitu pula ketika Hugo Lloris, kiper Prancis, melakukan blunder yang dimanfaatkan dengan sangat baik oleh Mandzukic, para pemain Prancis tetap fokus pada pertandingan dan tidak menyalahkannya.

Persoalan terbesar dalam sebuah tim adalah ketika seseorang merasa lebih hebat, lebih berjasa, ketimbang yang lainnya. Itu hanya akan membuat suasana dalam tim menjadi panas, dan tak lagi fokus dalam mencapai tujuan bersama.

Ketiga, setiap kesebelasan yang tertinggal, juga Kroasia dalam final, selalu antusias menyerang. Mereka tidak mau berhenti menyerang sebelum peluit berakhir. Mereka bersemangat menyerang karena masih memiliki harapan! Semua kemungkinan bisa terjadi. Kenyataannya, itulah yang sering terjadi dalam piala dunia tahun ini. Sehingga menit-menit tambahan waktu pertandingan menjadi saat yang menarik untuk disimak.

Ngomong-ngomong soal ”antusias”, kata ini berasal dari bahasa Yunani en dan theos, yang bermakna ”dalam Tuhan”. Dan memang di dalam Tuhan, segala sesuatu mungkin terjadi. Syaratnya adalah lakukan yang terbaik, dan libatkanlah Tuhan dalam pekerjaan kita!

Selamat Bekerja,

Yoel M. Indrasmoro
Direktur Literatur Perkantas Nasional

Posted on Tinggalkan komentar

Menjadi Nabi Allah

”Sebelum Aku membentuk engkau dalam rahim ibumu, dan sebelum engkau lahir, Aku sudah memilih dan mengangkat engkau untuk menjadi nabi bagi bangsa-bangsa.” Yeremia 1:5.

Photo by Jeremy Bishop on Unsplash

Panggilan Yeremia sebagai nabi memperlihatkan beberapa hal mendasar. Pertama, Allahlah yang memanggil Yeremia. Yeremia tidak memanggil diri sendiri. Dia tidak mengajukan diri; juga tidak melamar pekerjaan. Allahlah yang berprakarsa. Allahlah yang melamarnya.

Kedua, panggilan Yeremia tanpa ”kualifikasi”. Kata kualifikasi perlu diberi tanda kutip karena kalaupun ada, Allahlah yang melengkapinya. Sekali lagi, bukan persyaratan yang diajukan Allah, melainkan pernyataan: Allah telah menetapkan Yeremia sebagai nabi jauh sebelum dia lahir. Kalau sebuah perusahaan biasanya mencari orang sesuai persyaratan yang telah ditetapkan, Allah membentuk manusia sesuai dengan karya yang telah ditetapkan Allah baginya.

Sehingga, sanggahan Yeremia—”Ah, Tuhan ALLAH! Sesungguhnya aku tidak pandai berbicara, sebab aku ini masih muda.” (Yer. 1:6)—menjadi sangat tidak relevan. Kelemahan Yeremia itu tak lagi menjadi soal karena Allah telah melengkapinya.

Panggilan Allah tidak berarti bahwa Allah sendirilah yang harus berbicara kepada kita. Allah bisa memanggil melalui orang lain—gereja atau lembaga lain. Dan panggilan Allah itu tak hanya sebatas kegiatan rohani!

Pekerjaan sekuler pun harus kita pandang sebagai panggilan khusus Allah. Ini tak hanya berlaku bagi orang yang bekerja formal atau kantoran. Ibu rumah tangga, juga pensiunan, merupakan panggilan Tuhan!

Photo by Caroline Attwood on Unsplash

Kalau kita meyakini bahwa pekerjaan kita pun merupakan jawaban atas panggilan Allah, tak perlulah kita bercemas hati atau mengeluh saat pekerjaan itu terasa berat. Sebab Tuhan telah memperlengkapi kita untuk menanggung semua beban tersebut. Jika demikian halnya, bertindak profesional menjadi hal lumrah.

Umat kepunyaan Allah dipanggil untuk melaksanakan apa yang dikehendaki Tuhan dalam pekerjaannya. Itu berarti kita juga dipanggil menerangi dan menggarami tempat kerja! Jika demikian halnya, setiap umat Allah dipanggil menjadi nabi Allah dalam pekerjaannya.

Dalam bukunya Desain Besar dari Allah, Vaughan Roberts menyatakan: ”Allah menciptakan kita untuk menjadi pekerja, dan ketika bekerja, kita membantu Dia merealisasikan maksud-maksud-Nya bagi dunia ini… Ia memilih untuk mengerjakan maksud-Nya bagi dunia ini melalui kita.”

Ya, kita semua adalah nabi-nabi Allah.

Selamat Bekerja,

Yoel M. Indrasmoro
Direktur Literatur Perkantas Nasional