Posted on Tinggalkan komentar

Keprihatinan, Ketaatan, dan Mukjizat

Kita tak pernah tahu siapa para pelayan itu (Yoh. 2:1-11). Namun, mereka menaati perintah Yesus dengan mengisi enam tempayan itu penuh dengan air.

Photo by Dominik Scythe on Unsplash

Mungkin Anda berkata, ”Namanya juga pelayan, ya harus taat!” Saya sepakat. Akan tetapi, kita tahu ada pelayan yang tidak taat, ogah-ogahan, dan tak serius. Ada juga yang menganggap kerja sebagai beban, sehingga menolak saat ketambahan pekerjaan.

Satu tempayan berisi antara 80-120 liter air, anggap 100 liter. Jika satu ember berisi lima liter air, dan dua tangan mengangkat dua ember, maka satu pelayan membutuhkan 60 rit (bolak-balik) untuk enam tempayan. Dua pelayan membutuhkan 30 rit.

Kemudian Yesus meminta mereka mencedoknya dan membawa ke pemimpin pesta. Ini sungguh menggelikan. Mereka tahu persis bahwa yang mereka timba dan cedok air belaka.

Mungkin mereka bingung, bertanya-tanya dalam hati, juga takut dimarahi pemimpin pesta. Masak pemimpin pesta diminta mencicip air! Namun, sekali lagi, mereka taat. Dan pada saat itulah mukjizat terjadi.

Mengapa mereka taat? Sepertinya mereka prihatin atas pesta itu. Mereka tidak ingin pesta itu gagal dan menjadi buah bibir. Mungkin juga karena mereka menyaksikan keprihatinan Maria dan anaknya Yesus. Karena itu, mereka bertindak.

H. A. Oppusunggu—guru penerbitan saya—pernah berkata, ”Modal terbesar perusahaan bukanlah uang, tetapi keprihatinan.” Keprihatinan mendorong orang bertindak.

Keprihatinan para pelayan itu berbuah ketaatan, yang akhirnya berbuah mukjizat!

Selamat Bekerja!

Yoel M. Indrasmoro
Direktur Literatur Perkantas Nasional

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *