Posted on Tinggalkan komentar

Miskin di Hadapan Allah

”Berbahagialah orang yang miskin di hadapan Allah, karena merekalah yang punya Kerajaan Surga.” (Mat. 5:3).

Apakah makna kalimat ini? Dalam Alkitab BIMK tertera: ”Berbahagialah orang yang merasa tidak berdaya dan hanya bergantung pada Tuhan saja; mereka adalah anggota umat Allah.”

Dalam film ”Quo Vadis”, sang aktris Deborah Kerr harus memerankan adegan berbahaya, yang cukup mendebarkan. Setelah pengambilan gambar, seorang reporter bertanya, ”Apakah Anda tidak takut ketika seekor singa ganas menyerang Anda di arena?”

”Sama sekali tidak,” jawab Deborah, ”Saya sudah baca skenarionya dan saya tahu bahwa saya akan diselamatkan.”

Mark Link, SJ, dalam bukunya Keputusan, menyatakan bahwa inilah kepercayaan khas anak-anak yang dipunyai ”kaum miskin” di masa Yesus hidup.

Kata Ibrani untuk ”kaum miskin” adalah aini. Kata ini menunjuk pada orang-orang miskin yang secara ekonomis dan politis sungguh tak punya harapan lagi. Orang-orang dalam situasi seperti itu akan melepaskan diri dari harta benda dan menggantungkan diri kepada Allah saja.

Orang-orang ”yang miskin di hadapan Allah” disebut Yesus berbahagia karena mereka telah sampai pada kesadaran bahwa mereka tidak dapat lagi menggantungkan diri pada harta benda untuk meraih kebahagiaan sejati. Mereka mencari kebahagiaannya hanya kepada Allah.

Yesus menyebut mereka berbahagia karena Allah adalah Sumber Hidup Sejati. Bergantung penuh kepada Allah sungguh akan membuat hidup seseorang sungguh hidup.

Tentu pemahaman itu tidak mengajak kita untuk diam berpangku tangan. Kita dipanggil untuk terus berusaha dengan tetap memahami bahwa usaha itu pun hanya mungkin karena perkenan Allah.

Selamat bekerja,

Yoel M. Indrasmoro
Direktur Literatur Perkantas Nasional

 

Posted on Tinggalkan komentar

Inspirasi Jumat Siang: Allah Yang Tinggi dan Mulia

A.W. Tozer dalam bukunya Mengasihi Yang Mahakudus, menjelaskan bahwa sebenarnya kita dapat memahami teologi yang disajikan dalam Alkitab, seperti yang para teolog pahami. Kita juga dapat memahami apa yang dikatakan Allah dalam Alkitab tentang diri-Nya, walaupun mungkin kita tidak pernah mendalami pemahaman itu secara intelektual.

Tentu Tozer menyadari bahwa Allah sedemikian tinggi, sehingga Ia bahkan tidak dapat dipahami. Oleh karena itu, Tozer menegaskan, sangat penting bagi kita untuk berpikir tentang Allah sebagaimana hakikat-Nya yang sebenarnya; yaitu Allah yang begitu tak terhingga melampaui apa pun yang kita ketahui, yang tidak dapat dijelaskan.

Dalam pemandangannya, Tozer melihat, banyak orang ingin menarik Allah ke bawah—ke dalam pemahaman mereka—dan membuat-Nya kecil, sehingga mereka dapat mempunyai allah menurut ukuran mereka—hanya lebih besar sedikit, sehingga ia dapat membantu mereka ketika berada dalam kesulitan. Kita ingin memanfaatkan Allah untuk tujuan kita.

Semua hal yang telah dikatakan atau diajarkan tentang Allah, hanyalah sebagian dari Allah, dan sebagian kecil dari jalan-Nya. Allah Yang kepada-Nya kita dipanggil untuk melayani sungguh luar biasa. Ia melakukan kebaikan yang tak terhingga kepada kita, dengan menerima kita dan menyambut kita menjadi bagian dari diri-Nya.

Allah Yang Perkasa memandang kepada manusia, dan mengenakan daging bagi diri-Nya seperti manusia, dan mati serta bangkit kembali.

Allah ini, yang oleh para filsuf diberi nama mysterium tremendum—misteri yang luar biasa, misteri yang menggentarkan. Dan di hadapan mysterium tremendum, Yakub berseru, ”Alangkah dahsyatnya tempat ini; ini adalah rumah Allah.” Di Perjanjian Baru Petrus berkata, ”Tuhan, pergilah dari hadapanku, karena aku ini seorang berdosa.” Abraham berkata, ”Aku hanya debu dan abu.”

Sama seperti mereka, kita akan mampu menyadari keberadaan kita di hadapan Allah, ketika kita sampai pada kekaguman akan Dia.

Posted on Tinggalkan komentar

Menjadi Jembatan

”Tuan, kami ingin bertemu dengan Yesus!” (Yoh. 12:21). Demikianlah harapan orang-orang Yunani yang disampaikan kepada Filipus. Mengapa Filipus? Kita tidak pernah tahu alasan pastinya.

Kemungkinan besar karena Filipus adalah nama Yunani. Bisa jadi mereka beranggapan, orang yang bernama Yunani itu pasti akan mau menolong mereka. Pada masa itu kebanyakan orang Yahudi memandang rendah bangsa lain. Persoalannya: Filipus sendiri tak tahu harus berbuat apa.

Kelihatannya, Filipus tidak tahu tanggapan Yesus terhadap keberadaan orang-orang Yunani itu. Mungkin dia khawatir, Yesus akan bersikap sama seperti orang Yahudi lainnya. Jika demikian, tentu tak ada gunanya menyampaikan keinginan mereka kepada Yesus.

Filipus diharapkan menjadi jembatan. Dari sisi orang Yunani, nama Filipus terasa dekat. Tetapi, persoalannya, sekali lagi, Filipus tidak sungguh-sungguh tahu apa kehendak Yesus sehingga dia gagal menjadi jembatan. Filipus mungkin mengasihi orang-orang Yunani itu, tetapi dia tidak tahu apakah Yesus akan menerimanya atau tidak?

Untunglah, Filipus menyampaikan persoalan itu kepada Andreas. Dan bersama dengan Andreas, Filipus membawa orang-orang Yunani itu kepada Yesus. Andreas mampu menjadi jembatan karena dia tahu kehendak Yesus.

Sejatinya, menjadi jembatan merupakan panggilan setiap Kristen. Menjadi jembatan antara manusia dan Allah. Pertanyaannya: apakah kita telah menjalani panggilan menjadi jembatan dalam hidup sesehari? Syaratnya cuma dua: sungguh-sungguh diterima manusia dan mengetahui kehendak Allah.

Mari menjadi jembatan, juga di tempat kerja kita!

Selamat bekerja,

Yoel M. Indrasmoro
Direktur Literatur Perkantas Nasional

Posted on Tinggalkan komentar

Persepsi Kita tentang Kebaikan Allah

Allah itu baik. Kebaikan hati-Nya tak terhingga. Allah selalu bekerja secara sempurna, selalu hadir, dan melaksanakan rencana-Nya dengan penuh semangat dan sukacita.

Dalam bukunya, Mengasihi Yang Mahakudus, A.W. Tozer menyatakan bahwa kebaikan Allah bersifat abadi dan tak pernah berubah. Dia tidak akan pernah memiliki suasana hati yang buruk, sehingga enggan untuk memberkati manusia. Tak ada yang bisa menambah atau pun mengurangi belas kasihan Allah.

Allah yang baik dan penuh belas kasihan itu juga adil dan kudus. Keadilan menuntut penghukuman bagi kejahatan. Namun, belas kasihan-Nya mengampuni manusia berdosa dengan cara Allah menjadi manusia dalam diri Yesus Kristus, dan menggantikan hukuman manusia di kayu salib. Kebaikan Allah saat Yesus lahir di dunia, saat Yesus mati disalib, dan saat ini tetap sama. Allah selalu baik dan penuh kasih selamanya.

Apa yang dilakukan Yesus itu sempurna. Kristus datang, menderita, mati disalib, bangkit, dan hidup bagi manusia berdosa. Belas kasihan Allah mengalir seperti sungai. Kita semua adalah penerima belas kasihan Allah.

Bertobatlah dari kejahatan serta akui dosa dan Allah akan menyucikan Anda.

 

Priskila Dewi Setyawan

Literatur Perkantas Nasional

Posted on Tinggalkan komentar

Bukan Basa Basi

”Siapa saja yang menyambut seorang nabi sebagai nabi, ia akan menerima upah nabi…” (Mat. 10:40-41).

Photo by Belinda Fewings on Unsplash

”Menyambut” merupakan kata kerja. Ada gerakan dalam menyambut. Tak ada orang yang berpangku tangan saat menyambut orang lain. Tangan terbuka seolah ingin merangkul yang disambutnya.

Tak hanya tangan terbuka, wajah pun berseri. Enggak lucu bukan, tangan terbuka, tetapi wajah dingin tanpa ekspresi?

Baik tangan maupun wajah sejatinya merupakan cerminan hati terbuka. Jika hati tak terbuka, semua terkesan basa-basi. Dan semua basa-basi akan menjadi basi beneran.

Sejatinya, tak ada orang yang suka basa-basi. Siapa pun yang melakukannya akan menyadari ketidaktulusan dirinya. Dan akhirnya menjadi malu sendiri.

Lagi pula, basa-basi tak gampang ditutupi. Orang yang disambut akan cepat menyadari bahwa semuanya itu cuma basa-basi sehingga pertemuan pun menjadi tanpa makna.

Tindakan menyambut mensyaratkan bahwa orang yang kita sambut merupakan pribadi yang penting. Dalam bukunya, Pelayanan yang Berpusatkan Kehadiran, Mike King menyatakan betapa semakin banyak anak muda yang sedang berjalan menjauhi gereja. Namun, pertanyaan reflektifnya, tulis Mike King: ”Apakah mereka berjalan menjauh dari Yesus atau dari cara kita melakukan pelayanan gereja dan kaum muda?”

Tak hanya orang muda. Setiap orang perlu disambut dengan selayaknya—”menyambut nabi sebagai nabi”. Juga orang-orang yang kita temui hari ini. Dan tanpa basa-basi.

Selamat bekerja,

Yoel M. Indrasmoro
Direktur Literatur Perkantas Nasional

 

Posted on Tinggalkan komentar

Konsisten

”Lihatlah Anak domba Allah yang menghapus dosa dunia” (Yoh. 1:29).

Photo by rawpixel on Unsplash

Demikianlah Yohanes Pembaptis memperkenalkan Yesus kepada para muridnya. Tentu Yohanes, tidak hanya mengajak para muridnya untuk melihat, tetapi lebih jauh lagi melakukan sesuatu setelah melihat Anak Domba Allah itu. Tampaknya, Yohanes Pembaptis tidak hanya ingin para muridnya melihat, tetapi bertindak setelah kegiatan melihat itu.

Akan tetapi, para muridnya tidak melakukan apa-apa. Keesokan harinya—saat bersama dengan dua orang muridnya—Yohanes kembali berseru, ”Lihatlah Anak domba Allah!” Dan kedua muridnya itu melakukan sesuatu.

Jika pada perkenalan pertama, tak ada satu pun yang bergerak. Pada perkenalan kedua ini, penulis Injil Yohanes mencatat bahwa dua orang murid itu mengikuti Yesus dari jauh. Setelah menyampaikan maksud mereka, Yesus, Sang Anak Domba Allah, berkata, ”Marilah dan kamu akan melihatnya.”

Salah seorang murid itu, Andreas—karena terkesan dengan pribadi Yesus—membawa Simon, saudaranya, untuk bertemu Sang Guru. Simon pun kemudian menjadi murid Yesus.

Kita, orang percaya abad XXI, perlu belajar dari Yohanes Pembaptis yang konsisten memperkenalkan Yesus kepada para muridnya. Dia tidak bosan-bosannya memperkenalkan Yesus sebagai Anak Domba Allah.

Bayangkan, seandainya Yohanes Pembaptis hanya sekali memperkenalkan Yesus kepada para muridnya! Bisa jadi Sang Guru tidak pernah mendapatkan murid-murid terbaik!

Memperkenalkan Yesus kepada orang di sekitar kita perlu dijalankan secara konsisten. Tak hanya dengan kata, tetapi juga dengan karya. Pun di tempat kerja kita.

Selamat bekerja,

Yoel M. Indrasmoro
Direktur Literatur Perkantas Nasional

Posted on Tinggalkan komentar

Ajaib Benar Anugerah

Banyak pandangan mengenai anugerah. A.W Tozer mengatakan bahwa anugerah muncul dari kebaikan Allah. Rahmat adalah kebaikan Allah yang menghadapi kesalahan manusia dan anugerah adalah kebaikan Allah yang menghadapi kelemahan manusia.

Anugerah adalah kasih dan kemurahan hati Allah bagi kita. Allah selalu bermurah hati, Ia tidak pernah lebih bermurah hati dan tidak pernah kurang bermurah hati. Sebagai manusia yang bercela, kita merindukan anugerah Allah. Kita harus siap mengatakan bahwa di dalam diri kita sendiri, kita tidak lebih dari seorang yang bercela. Sebelum kita memahami itu, kita tidak akan pernah mengerti anugerah Allah yang ajaib.

Anugerah merupakan kegemaran Allah dan Kristuslah perantara untuk mengalirkan anugerah itu, dan anugerah Allah adalah keselamatan kita. Anugerah Allah membuat-Nya tidak menghancurkan manusia walaupun manusia jatuh ke dalam dosa, tetapi sebaliknya anugerah keselamatan yang membawa manusia ke dalam persekutuan dengan Allah.

Allah adalah pribadi yang baik hati, dan akan selalu begitu. Anugerah juga merupakan kebaikan hati Allah. Allah tidak pernah membenci atau mempunyai rasa dengki, termasuk kepada kita. Terkadang kita bisa menahan rasa jengkel terhadap seseorang, tetapi itu tidak berlangsung lama, mereka bisa membuat kita jengkel kembali, tetapi Allah tidak mempunyai sifat seperti ini. Allah terus memberikan anugerah-Nya walaupun kita selalu menyakiti hati-Nya.

Kenyataan lain tentang anugerah adalah anugerah Allah tidak terbatas dan tidak ada batas di mana pun bagi Allah. Ia terus memberikan anugerah-Nya bagi kita semua. Kita harus siap merendahkan diri kita dan menyadari bahwa kita tidak sempurna, maka kita akan melihat begitu banyak anugerah-Nya yang kita terima.

Kehidupan kita bisa menjadi kesaksian tentang anugerah Allah yang sungguh ajaib.

 

Heru Santoso

Literatur Perkantas Nasional

 

Posted on Tinggalkan komentar

Lalu

 

”Lalu pergilah Abram seperti yang difirmankan TUHAN kepadanya” (Kel. 12:4a).

Demikianlah catatan penulis Kitab Kejadian. Kata ”lalu” yang dipakai memperlihatkan bahwa kalimat ini merupakan lanjutan kalimat-kalimat sebelumnya. Dengan kata lain, kalimat yang dimulai dengan ”lalu” itu merupakan respons Abram.

Kita tidak pernah tahu dengan pasti berapa waktu yang dibutuhkan Abram dalam pengambilan keputusan. Kita juga tidak pernah tahu dengan pasti apakah Abram menggumuli panggilan Allah itu sendirian atau berembug dengan Sarai istrinya. Itu bukanlah pokok perhatian penulis kitab. Bagi dia, yang penting ialah Abram menanggapi panggilan Allah itu; Abram melakukan perintah TUHAN.

Mengapa Abram melakukannya? Apakah karena memang dia sungguh-sungguh percaya kepada Allah? Ataukah karena iming-iming janji—menjadi bangsa yang besar? Lagi-lagi, penulis Kitab Kejadian tidak merasa perlu menjawab rasa penasaran kita. Motivasi itu agaknya menjadi rahasia mereka berdua: TUHAN dan Abram.

Lalu, apa makna kisah Abram ini bagi kita, orang percaya abad XXI ini? Pertama, Tuhan masih berfirman hingga kini. Tuhan menyapa kita dalam beragam cara: buku yang kita baca, musik yang kita dengar, situasi dan permasalahan kantor, kolega, anggota keluarga kita, dan tentu saja Alkitab. Persoalannya: apakah kita mendengarkan sapaan-Nya itu? Apakah kita cukup peka mendengarkan kehendak Tuhan?

Kedua, Tuhan menanti tanggapan kita. Persoalannya: Apakah kita mau menanggapinya atau tidak? Dan tanggapan itu hanya mungkin terjadi tatkala kita sungguh mau mendengarkan suara-Nya, juga di tengah kesibukan dunia kerja kita hari ini.

Lalu?

Selamat bekerja,

Yoel M. Indrasmoro
Direktur Literatur Perkantas Nasional

Posted on Tinggalkan komentar

Inspirasi Jumat Siang: Tidak Ada Batas bagi Kasih Allah

”Jika Allah tidak terbatas, maka kasih-Nya tidak terbatas.” Demikianlah penerangan A.W. Tozer berkait dengan kasih Allah yang tertulis dalam bukunya Mengasihi Yang Mahakudus.

Agaknya Tozer menyadari pentingnya hal ini untuk kita pahami. Kadang-kadang manusia meragukan kasih Allah, dan keraguan ini muncul akibat dosa. Dosa mampu mengintimidasi manusia hingga manusia mempertanyakan kasih Allah, ”Masihkah Allah mengasihi saya setelah apa yang saya lakukan?”

Dalam hal ini kita perlu mengingat firman Tuhan, ”Tetapi di mana dosa bertambah banyak, di sana anugerah menjadi berlimpah-limpah” (Rm. 5:20b). Tozer pun memperjelas hal ini: ”Ketika anugerah Allah yang tidak terbatas menyerang keterbatasan dosa manusia, maka dosa tidak memiliki kesempatan. Jika kita bertobat dan berbalik kepada Allah, Allah akan menghancurleburkan dan menggulungnya ke dalam kemahaluasan; di mana dosa tidak akan dikenal lagi.”

Berkenaan dengan dosa, yang perlu kita lakukan adalah bertobat! Karena hanya dengan bertobat dan percaya kita dapat menerima anugerah Allah dan diselamatkan. Dan pertobatan merupakan karya Roh Kudus. Oleh karena itu, dalam hal ini kita perlu memohon pertolongan Roh Kudus. Dan ketika pertobatan terjadi barulah kita menyadari betapa Allah begitu mengasihi kita dengan melimpahkan anugerah-Nya kepada kita.

Kasih Allah tidak dapat disamakan dengan kasih manusia, sebab kasih manusia terbatas. Pada saat manusia mati maka kasihnya ikut mati bersamanya. Akan tetapi, Allah tidak dapat mati, dan karena itu kasih-Nya juga tidak dapat mati. Dan inilah yang Tozer yakini tentang kasih Allah bahwa tidak ada batas bagi kasih Allah; kasih Allah tak terhingga cukup untuk mencakup seluruh surga dan juga neraka.

Oleh karena itu, patutlah kita melantunkan pujian Agunglah Kasih Allahku (NKB 17) karya F.M. Lehman:

Agunglah kasih Allahku, tiada yang setaranya;
Neraka dapat direngkuh, kartika pun tergapailah.
Kar’na kasih-Nya agunglah, Sang Putra menjelma,
Dia mencari yang sesat dan diampuni-Nya

Refrein:
O Kasih Allah agunglah! Tiada bandingnya!
Kekal teguh dan mulia! Dijunjung umat-Nya.

Citra Dewi Siahaan
Literatur Perkantas Nasional

Posted on Tinggalkan komentar

Resensi Buku: Perjalanan “Rekreasi” Buku Teologi Anak: Sebuah Kajian

 

Ditulis Oleh

Wisnu Sapto Nugroho

 

Pengantar

Pdt. Yoel Indrasmoro mengawali buku ini dengan mengajak pembaca melihat realitas tentang dijumpainya anak-anak yang tidak sejahtera dalam hidupnya. Di sisi lain, Pdt. Yoel mengapresiasi program-program yang dilakukan pemerintah dengan gerakan kota, Puskesmas, Sekolah Ramah Anak. Semua itu dimaksudkan untuk mewujudkan Indonesia Layak Anak 2030. Yoel menyampaikan juga bahwa masalah yang dihadapi anak sejatinya terkait erat dengan relasi orang tua–anak, faktor budaya. Terkait dengan itu pula, pemimpin Gereja dan sekolah-sekolah teologi tidak bisa lepas tangan sebab masalah yang dihadapi anak juga terkait dengan cara pandang terhadap teks kitab suci.

Kajian teologi anak kontekstual dibuka dengan prolog oleh Pdt. Daniel Nuhamara. Tulisan Pdt. Daniel Nuhamara tentang teologi anak mengenalkan bahwa Teologi Anak (Child Theology) merupakan istilah baru yang diperkenalkan oleh suatu gerakan bernama Child Theology Movement (Gerakan Teologi Anak). Namun diakui bahwa teologi anak masih dalam proses pengembangan.

Bagi pelaku Gerakan Teologi Anak, memang Teologi Anak itu berurusan dengan anak (anak-anak), tetapi pertama-tama ia adalah teologi, yakni studi tentang Tuhan sebagai subjek utamanya. Apa kehendak Tuhan dalam atau dari perspektif anak (hlm. 16-17). Dengan melihat Matius 18:1-5, kita boleh menyebut pendekatan dengan perspektif ”a child in their midst” inilah yang membedakan Teologi Anak dengan teologi-teologi lainnya. Dengan pendekatan atau perspektif anak-anak di tengah-tengah dalam refleksi teologis akan didapat beberapa hal yang perlu digarisbawahi seperti: anak-anak sebagai agen dalam berteologi serta teologi anak menjadi respons terhadap Tuhan (hlm. 18).

Photo by Robert Collins on Unsplash

Siapakah Anak Itu?

Mengawali tulisan ini, kita diajak melihat siapakah anak itu? Mengacu pada Undang-Undang Perlindungan Anak Nomor 35 Tahun 2014 pasal 1 disebutkan bahwa yang dimaksud dengan anak adalah seseorang yang belum berusia 18 tahun, termasuk yang masih dalam kandungan.

Siapakah anak menurut Alkitab dan bagaimana anak dalam Alkitab? Pdt. Justitia Vox Dei Hattu mengajak kita melakukan ”rekreasi” dengan topik anak dalam Alkitab. Dari data dalam Alkitab tampak bahwa cukup sering anak dipercakapkan dalam Alkitab (hlm. 42). Dengan memotret anak dalam Alkitab, kita ditolong untuk: (a) melihat berbagai ”panorama” tentang anak dalam Alkitab. (b) mendapatkan sumber-sumber (berteologi) yang tepat tentang anak. ”Panorama” anak dalam Alkitab tampak bahwa wajah anak dalam Alkitab adalah wajah yang beragam. Tampak dalam Alkitab tindakan pro-anak dengan pengharapan besar bagi mereka. Alkitab menuturkan bahwa anak-anak bertumbuh dalam asuhan dan didikan keluarga–komunitas. Hal itu menunjukkan bahwa anak sangat dihargai perannya sebagai penerus iman dan kasih setia Tuhan, termasuk identitas keyahudian (hlm. 43-44).

Belajar dari tindakan Yesus dalam menyambut anak merupakan salah satu sumber inspirasi bagi teologi pelayanan bersama anak. Dalam karya-Nya, Yesus menerima anak-anak (Mark. 10:13-16). Ia marah terhadap para murid yang menghalangi anak-anak datang kepada-Nya. Pelukan Yesus bagi anak merupakan tindakan pastoral yang hangat. Sebagai klimaksnya, Yesus memberkati anak-anak. Berkat itu merupakan peneguhan Yesus terhadap anak-anak sekaligus sebagai tindakan yang merobohkan tembok pembatas yang dibangun masyarakat kala itu. Tindakan Yesus membawa anak-anak dari garis lingkar luar komunitas menuju ke pusat komunitas; dari yang sebelumnya dianggap remeh dan di sepelekan ke tempat di mana ia hargai, dihormati dan dicintai sebagaimana seharusnya (hlm. 53-57).

Anak dari Berbagai Sudut Pandang

Beranjak dari pandangan anak dalam Alkitab, ”rekreasi” dilanjutkan dengan kajian tentang anak dalam Gereja sebagaimana dikaji oleh Pdt. Setiyadi. Kala anak-anak datang, disitulah sukacita dalam Tuhan turut berkembang. Bangunan logika semacam itu perlu dikelola supaya kisah-kisah anak yang berteologi mendapat artikulasi (hlm. 59). Menurut Setiyadi, anak-anak berteologi menurut pandangan dunianya. Pandangan dunia bisa didapat lewat cerapan pancaindranya. Bisa saja lewat tuturan yang masih terbata hingga rengekan dan tangisan sebagai ekspresi jiwanya. Dalam kajiannya, Pdt. Setiyadi mengulas peran anak dalam ibadah (acintyabhakti) mulai dari ritus berhimpun, mendengar sabda, perjamuan meja (ekaristi) dan pengutusan. Selain itu anak dapat berperan dalam acintyabhakti di masa raya Gerejawi (adven-natal, paska, pentakosta). Pengalaman dengan pola asuh, pola asih dan pola asah Keluarga Kudus Nazaret menegaskan bahwa sejak dini anak memiliki pengalaman teologi dan hal itu perlu dikembangkan (hlm. 67-74).

Susi Rio Panjaitan dalam tulisan: Anak dalam Budaya mengajak kita ”berekreasi” melihat bahwa salah satu cara dan pola asuh orang tua dan care giver dalam merawat, mengasuh, dan mendidik anak adalah budaya yang mereka hidupi. Setiap daerah di Indonesia memiliki pandangan tersendiri terhadap anak, baik dalam memaknai, cara mengurus anak, cara mendidik anak dan hal-hal lain terkait anak. Hal itu tergantung nilai-nilai dan kearifan lokal yang dimiliki oleh masing-masing daerah (hlm. 75). Susi Rio Panjaitan menuliskan seperti apa cara pandang, cara asuh dari budaya-budaya di Indonesia terhadap anak, seperti dalam budaya Batak, Banten, Sumba, Alor, Timor, Rote, Nias, Bali, Maluku (hlm. 79-91). Dari kajian itu tampak bahwa dalam budaya Indonesia, anak laki-laki menjadi pemimpin dan yang bertanggungjawab atas keluarga. Kepatuhan pada orang tua menjadi nilai yang penting. Anak yang tidak patuh disebut durhaka dan bisa menerima kutukan. Dalam budaya Indonesia tampak juga bahwa anak adalah milik orang tua sehingga orang tua punya otoritas penuh terhadap anak-anaknya. Anak sama sekali tidak diberi kesempatan untuk mengemukakan pendapat dan perasaannya. Anak juga tidak diberi kesempatan menentukan masa depannya sendiri. (hlm. 91-93).

Bagaimana anak dalam sekolah? James Wambrauw dalam tulisannya mengundang kita ”berekreasi” tentang hal itu. Sekolah merupakan entitas yang diberi kewenangan oleh negara untuk melakukan proses pendidikan bagi anak. Pendidikan adalah hak dari setiap warga negara Indonesia secara keseluruhan dan wajib dipenuhi oleh negara. Karena luasnya domain pendidikan maka menurut James Mambrauw, sekolah tidak hanya dilihat dari sisi sekolah formal, melainkan juga sisi lain. Karena itu Mambrauw menuliskan sekolah-sekolah bagi tumbuh kembang anak itu meliputi: sekolah keluarga, sekolah minggu (non formal), sekolah umum (formal), sekolah masyarakat (kontekstual), sekolah bangsa (negara), sekolah hidup (komitmen pribadi) (hlm 101 – 110). Masing-masing sekolah memiliki kekhasan, tujuan dan metode masing-masing.

Sebagaimana warga negara lain, anak-anak disebut sebagai subyek hukum. S.S. Benyamin Lumy mengajak kita ”rekreasi” dengan melihat tulisan anak dalam perspektif hukum. Proses tumbuh kembang yang baik dari penduduk kelompok usia anak sangat berpengaruh terhadap masa depan bangsa. Kesejahteraan anak tidak dapat dilepaskan dari kesejahteraan di masyarakat. Karena itu perlindungan anak merupakan hal penting dan melindungi anak merupakan sebuah amanat undang-undang. Dalam konvensi PBB terdapat empat prinsip umum yang harus dipenuhi dalam upaya perlindungan anak seperti: prinsip non diskriminasi, prinsip kepentingan anak, prinsip atas keberlangsungan hidup dan tumbuh kembang anak, prinsip penghargaan terhadap anak (hlm. 124-125). Benyamin Lumy menyebut jenis-jenis kekerasan itu seperti: kekerasan fisik, kekerasan psikis atau emosional, kekerasan seksual, penelantaran anak, kekerasan seksual, kekerasan pada media sosial (hlm. 128-134). Bila melihat hal itu, tidak ada kata lain, selain: laporkan (hlm. 136).

Beranjak dari ”tempat rekreasi” tentang anak dan hukum, kita melanjutkan ”rekreasi” ke anak dalam media. Tornado Gregorius Silitonga menuliskan realitas tentang hilangnya relasi hangat antara orang tua dan anak karena diganti dengan relasi anak dengan layar seukuran tujuh inci (hlm. 138). Pola asuh gawai telah mengubah pola asuh keluarga. Kecenderungan anak-anak generasi ini yang sanggup menghabiskan ”screen time” jauh lebih lama dibanding generasi sebelumnya. Dampaknya mereka kekurangan waktu bergerak. Akibat lain: anak malas berimajinasi, konsentrasi menurun, kedalaman informasi menurun dan relasi sosial juga menurun. Selain itu saat ini, angka kekerasan yang dipicu oleh internet dan media sosial banyak terjadi (hlm. 143). Hal itu perlu dipikirkan bersama dan dicari jalan keluarnya.

Kita melanjutkan ”rekreasi” ke tulisan Magylon Carolina Tuasuun dengan tulisan anak dalam keluarga. Keluarga Kristen yang didiami oleh Roh Allah mestinya menjadi Gereja bagi masa anak-anak. Semua kegiatan anak dalam keluarga membentuk kepribadian dan berdampak bagi orang tua. Di balik semua kegiatan di rumah ada kurikulum tersembunyi (hidden curriculum) untuk semua anggota keluarga (hlm. 150-151). Oleh karena itu, dalam keluarga terdapat hal-hal penting yang mesti dihidupi keluarga seperti: relasi suami–istri (sebagai ayah–ibu). Ayah–ibu bukan sekadar menjalankan tugas pro-kreasi, namun juga rekreasi dalam kehidupan rumah tangga.

Setelah berkreasi dari berbagai kajian tentang anak, Susi Rio Panjaitan mengajak kita ”berekreasi” dengan melihat anak dalam pandangan anak. Menurut Susi, ada anggapan bahwa orang tua paling tahu yang terbaik buat anak dan anggapan bahwa semua orang tua pasti menginginkan yang terbaik buat anak menjadi pangangan umum dalam masyarakat. Pandangan itu menunjukkan bahwa anak belum menjadi fokus. Akhirnya jika anak mengalami masalah, anak dianggap merepotkan. Sebagaimana dengan orang dewasa, anak juga ingin didengarkan, tidak mau dan tidak suka disalahkan, dilabel negatif dan dihukum. Seandainya anak didengarkan dengan baik dan pendapat mereka dipertimbangkan, maka ada kemungkinan masalah-masalah yang dipaparkan tadi bisa ditangani dan dikurangi dampak negatifnya (hlm. 158-160).

Dengan mengutip pandangan Sinanga, Susi menyebut ada sepuluh hal sederhana yang diinginkan anak dari orang tuanya, seperti: (1) Orang tua datang ke kamar tidur anak di malam hari, memeluk dan menyanyikan lagu untuknya, serta bercerita tentang mereka. (2) Orang tua memberi pelukan dan ciuman, lalu duduk dan bicara dengan anak. (3) Orang tua sesekali meluangkan waktu hanya dengan anak, tidak harus selalu dengan kakak dan adik. (4) Orang tua memberikan anak makanan bergizi sehingga anak dapat tumbuh sehat. (5) Saat makan malam, orang tua berbicara dengan anak tentang apa yang bisa mereka lakukan di akhir pekan. (6) Pada malam hari, orang tua berbicara dengan anak tentang apapun. (7) Orang tua memberikan anak sering bermain di luar ruangan. (8) Orang tua dan anak berpelukan dan menonton acara TV favorit mereka bersama. (9) Orang tua mendisiplin anak karena hal itu akan membuat anak merasa dipedulikan. (10) Meninggalkan kertas dengan pesan khusus di mejanya atau di tas bekalnya (hlm. 160-166).

Bagaimana anak memandang diri mereka sendiri? Anak memandang dirinya sebagai makhluk berharga, memiliki potensi, kebutuhan yang harus dipenuhi, menyadari diri sebagai makhluk sosial yang cerdas. Anak ingin diperhatikan dan sadar akan keterbatasannya. Anak membutuhkan kasih sayang, kehadiran, dan perlindungan orang tua (hlm. 166-167).

Penutup

”Rekreasi” pembacaan buku kita diakhiri dengan epilog dari Romo M. Nur Widipranoto, Pr. Tulisan gerakan teologi anak sebagai tindakan komunikatif mengajak kita berefleksi. Dalam epilognya, Romo Nur memakai teori sosial kritus yang diajukan oleh Jurgen Habermas, yakni Teori Tindakan komunikatif. Dalam kaca mata tersebut Gerakan Teologi Anak dipandang sebagai  tindakan komunikatif. Teologi Anak menampilkan tindakan komunikatif yang berdaya partisipatif, transformatif dan memberdayakan (hlm. 167). Gerakan Teologi Anak hadir menampilkan tindakan komunikatif yang membawa daya partisipatif, transformatif, dan memberdayakan bagi anak-anak khususnya dan orang beriman pada umumnya.

Rekerasi (re-creation) menyegarkan. Dengan kesegaran itu, ada gerak maju yang dapat dilakukan. Di Jogja ada tembang dolanan: Prau Layar.

Angliak numpak prau layar, ing dina Minggu keh pariwisata

Pyak…pyuk…banyu binelah, ora jemu-jemu, karo mesem ngguyu, ngilangake rasa lungkrah lesu,

Adik njawil mas jebul wis sore, witing kalapa katon ngawe-awe, prayogane becik bali wae

Dene sesuk–isuk, tumandang nyambut gawe…

Kiranya rekreasi pembacaan buku ini menjadikan cakrawala pemikiran kita terbuka untuk “nyambut gawe” mewujudkan Teologi Anak dalam ranah akademis dan keumatan dalam praksis–kritis.

Dengan Teologi Anak, diharapkan anak dapat bersinar terang karena merasakan berkat Allah dan menjadi berkat. Agar anak dapat bersinar, kita perlu berjejaring, bekerjasama. Upaya KTAK Anak Bersinar Bangsa Gemilang (ABBG) dan Jaringan Peduli Anak Bangsa (JPAB) kiranya mendapat menjadi “nada dasar” bagi Sekolah Tinggi Teologi, Fakultas Teologi dan Gereja-Gereja untuk mewujudkan Teologi Anak.

Wisma Kanugrahan, 8 Maret 2019.

 

Posted on Tinggalkan komentar

Menjadi Manusia (2)

Photo by Kai Dörner on Unsplash

Rame ing gawe, sepi ing pamrih.

Multatuli pernah berkata, sering disitir Pramoedya Ananta Toer, ”Tugas manusia ialah menjadi manusia, bukan menjadi Malaikat atau pun setan.” Ya, tugas manusia ialah menjadi manusia. Jika manusia tidak menjadi manusia, maka dia tidak memenuhi hakikatnya sebagai manusia. Jika demikian, masih layakkah menganggap diri manusia?

Menjadi manusia merupakan panggilan manusia. Menjadi manusia berarti menjalani hidup sebagai hamba Allah. Allah tidak menuntut kita menjadi malaikat, tetapi juga tidak ingin kita menjadi setan. Dia hanya ingin kita memenuhi panggilan hidup sebagai manusia. Itulah cita-cita-Nya ketika mencipta manusia. Ketika manusia tak lagi menjalani hakikat sebagai manusia, ia harus bertobat.

Itu jugalah yang dikumandangkan nabi Yesaya: ”Carilah TUHAN selama Ia berkenan ditemui; berserulah kepada-Nya selama Ia dekat! Baiklah orang fasik meninggalkan jalannya, dan orang jahat meninggalkan rancangannya…” (Yes. 55:6-7).

Pertobatan merupakan inti berita Yesaya. Dan berkait dengan pertobatan, saya dan Saudara termasuk golongan manusia berbahagia karena kita masih dikaruniai waktu.

Kita bagai pohon ara yang diberi kesempatan hidup, yang dibela oleh Sang Pengurus (Luk. 13:8-9). Namun, kesempatan itu pun terbatas. Berbahagialah karena kita belum sampai pada masa tenggat itu! Masih ada waktu untuk bertobat. Jika tidak, kita pun akan ditebang!

Sekali lagi, mumpung masih ada waktu marilah kita bertobat. Salah satu langkah konkretnya: rame ing gawe, sepi ing pamrih ’giat bekerja, namun tulus tanpa pamrih’ dalam pekerjaan kita. Jadikanlah pekerjaan kita sebagai ladang misi Allah, sehingga makin banyak orang yang mau belajar menjadi manusia. Menjadi hamba Allah.

Selamat bekerja,

Yoel M. Indrasmoro
Direktur Literatur Perkantas Nasional

Posted on Tinggalkan komentar

Mengalami Allah

”Aku milikmu, Yesus, Tuhanku; kudengar suara-Mu. ’Ku merindukan datang mendekat dan diraih oleh-Mu.”

Demikianlah syair Fanny Crosby yang terekam dalam Kidung Jemaat 362:1. Tampaknya, bagi Fanny Crosby merasa dimiliki merupakan  hal penting dalam hidupnya. Sejatinya, itu pulalah modal utama setiap Kristen. Kita ada yang punya. Dan yang punya adalah Tuhan sendiri.

Rasa dimiliki itulah yang membuat Fanny rindu mendekat kepada Allah. Persekutuan dengan Allah menjadi hal utama, karena hanya dengan cara demikianlah kita dapat sungguh-sungguh mengalami Allah.

Dalam bukunya  Mengasihi Yang Mahakudus, A.W. Tozer menekankan bahwa, ”Rahasia besar kehidupan kristiani adalah dapat mulai mengalami Allah sebagaimana Dia menginginkan saya untuk mengalami-Nya. Sukacita terbesar Allah adalah membawa saya ke dalam hadirat-Nya.”

Dengan kata lain, Allah ingin bersekutu dengan manusia. Allah ingin manusia mengalami-Nya. Dan hanya dengan itu, menurut Tozer, ”Kita mulai dapat melihat sebagaimana adanya Dia—bukan karikatur seperti yang seseorang gambarkan untuk menjelaskan kepada saya.”

Persoalan terbesarnya, lagi-lagi menurut Tozer, ”Kita hanya punya orang-orang Kristen teologis di gereja saat ini, bukan orang Kristen yang memiliki kerohanian yang mendalam. Kita mempunyai pengetahuan yang hebat tentang Alkitab…, tetapi tidak lebih dari itu.” Yang akhirnya membawa manusia menuju perasaan akan ketiadaan Allah—kekosongan rohani.

Tentu saja, persekutuan dengan Allah bukanlah upaya manusia semata. Semua itu dimulai dari Allah sendiri dalam karyanya—penebusan, pembenaran, dan kelahiran kembali. Kelahiran kembali itulah membawa sifat Allah ke dalam diri kita. Dan semuanya sungguh hanya anugerah-Nya.

Fanny Crosby sungguh memahaminya. Meski dia rindu datang ke hadirat Allah, dia masih memohon dalam refreinnya: ”Raih daku dan dekatkanlah pada kaki salib-Mu. Raih daku raih dan dekatkanlah ke sisi-Mu, Tuhanku.”

 

Yoel M. Indrasmoro

Literatur Perkantas Nasional

Posted on Tinggalkan komentar

Janganlah Gelisah Hatimu

Janganlah gelisah hatimu (Yoh. 14:1). Demikianlah nasihat Yesus kepada para murid-Nya. Perasaan gelisah sering menghantui insan. Sebab, kita memang tidak akan pernah tahu hari depan. Mungkinkah orang gelisah karena sesuatu yang telah terjadi?

Photo by Nik Shuliahin on Unsplash

Rasa gelisah memang bisa menerpa siapa saja dan kapan saja. Dia tidak memandang bulu, juga waktu. Dia datang begitu saja, menyergap laksana angin. Dan akan menjadi masalah besar tatkala orang begitu dikuasai rasa tersebut sehingga tidak mampu berbuat apa-apa.

Lalu, mengapa kita gelisah? Kalau kita simak, akar masalahnya ialah karena kita tidak yakin bisa mengatasi persoalan di depan kita. Ujung-ujungnya, kegelisahan sering disebabkan—biasanya kita tidak menyadarinya—oleh pengandalan terhadap diri sendiri. Dan kita sungguh gelisah karena kita takut tidak mampu mengelola persoalan itu dengan baik.

Kalau sudah begini, cara yang paling mujarab ialah bertindak selaku penumpang bus. Penumpang bus yang baik tidak akan berusaha bertindak selaku supir yang ikut menginjak rem dan gas, tetapi mempercayakan diri kepada sang supir. Kalau kita tidak percaya kepada supir bus, usul saya turun saja!

Yesus punya alasan lain. Tak perlu kita gelisah karena memang ada Roh Kudus yang setia menyertai kita. Dan tidak hanya setia, tetapi Dia juga menghibur kita. Biasanya, kegelisahan acap juga diakibatkan oleh kesendirian. Saat kita gelisah, ingatlah bahwa Roh ada bersama kita dan siap sedia menghibur kita. Persoalannya, mau enggak kita dihibur oleh-Nya?

Mengenai masa depan, ada sebuah syair terpajang di kantor saya. Demikian syairnya: ”Tuhan, ajarku memahami bahwa tidak ada satu persoalan pun pada hari ini yang tidak dapat kita tangani bersama-sama!”

Penyertaan-Nya. Itulah janji-Nya, yang tak lekang ditelan waktu. So, jangan gelisah!

Selamat bekerja,

Yoel M. Indrasmoro
Direktur Literatur Perkantas Nasional

Posted on Tinggalkan komentar

Takut akan Allah atau Takut akan Neraka?

Pikirkan sejenak tentang suatu tempat yang begitu buruk, begitu mengerikan, penuh dengan nyala api, dan rintihan kesakitan. Tidak membutuhkan waktu lama untuk berpikir. Persepsi kita akan mengenali bahwa tempat tersebut adalah neraka. Tidak ada satu pun yang indah tentang neraka. Beberapa orang mengasosiasikan neraka sebagai tempat perapian yang begitu besar. Alkitab jelas sekali berbicara tentang neraka seperti lautan api yang menyala-nyala.

Persepsi manusia tentang neraka begitu ampuh untuk membuat hidup manusia menjadi begitu saleh dan memiliki akhlak baik. Neraka telah menjadi ancaman yang begitu mengerikan sebagai konsekuensi hidup yang asal-asalan. Manusia menjadi begitu berhati-hati dalam berkata dan bertindak. Pikir kita, jangan sampai saya masuk neraka hanya karena saya belum melunasi utang. Sebelum saya mati izinkan saya bertanya, “Masihkah ada orang yang sakit hati karena perkataan dan perbuatan saya?”

A.W. Tozer menuliskan dalam bukunya Mengasihi yang Mahakudus, jika persepsi kita tentang Allah telah rusak atau dikompromikan dengan berbagai konsep lain di luar Allah, maka segala yang ada di kehidupan kita menjadi membingungkan dan kacau. Suatu tindakan mengasihi Allah yang sejati hanya bisa terjadi oleh pengenalan yang benar akan Allah bukan ketakutan akan api neraka.

Allah adalah pribadi yang Agung dan Mulia. Dan satu-satunya cara untuk mengenal Allah adalah dengan menjadi penyembah-Nya. Semakin kita mengenal Allah, semakin hati kita dipenuhi oleh pujian dan penyembahan. Saat kita mendekat kepada Allah, kita menemukan keindahan akan segala sesuatu tentang Allah. Tidak ada sesuatu pun yang buruk tentang Allah. Allah adalah pribadi Mahakasih dan Mahakudus.

Kita harus beranjak dari kubangan ketakutan akan kematian yang mengerikan untuk memandang kepada cahaya terang akan kemuliaan Allah yang menghidupkan. Takut akan neraka hanya akan menghasilkan hidup yang membelenggu, namun tetap saja berakhir pada kematian kekal. Sedangkan, takut akan Allah akan menghasilkan hidup merdeka yang bermuara pada persekutuan akrab dengan Allah di dalam kekekalan.

Kiranya sikap takut akan Allah terwujud dalam kerinduan kita untuk mengenal dan mengharapkan Allah lebih dari apa pun yang ada di dunia ini, selaras dengan doa yang dipanjatkan oleh Agustinus dari Hippo:

Engkau berteriak memanggil dan merobek ketulianku.
Engkau bercahaya terang dan mengenyahkan kebutaanku.
Engkau menyebarkan harum-Mu dan aku telah menghirupnya sampai aku begitu menginginkannya.
Aku sudah mencicipi Engkau maka aku lapar dan haus akan Engkau.
Engkau menjamahku maka aku bergairah mengharapkan Engkau.
Amin.

Gregorius Silitonga
Literatur Perkantas Nasional

Posted on Tinggalkan komentar

Berdua Saja

”Sebab di mana dua atau tiga orang berkumpul dalam nama-Ku, di situ Aku ada di tengah-tengah mereka” (Mat. 18:20). Perkataan Tuhan Yesus ini—mengenai keberadaan Allah di tengah persekutuan umat-Nya—sering menjadi sumber penghiburan. Allah tidak pernah meninggalkan umat-Nya. Allah memedulikan mereka. Enggak perlu bicara soal jumlah, Allah hadir dalam persekutuan terkecil sekalipun.

Photo by rawpixel on Unsplash

Namun, frasa ”berkumpul dalam nama-Ku” agaknya kurang mendapat perhatian. Frasa itu berarti Kristuslah yang menjadi dasar dan pusat persekutuan. Persekutuan tidak berdasarkan atas kesamaan ideologi, warna kulit, tingkat sosial, melainkan berdasarkan Kristus. Itulah makna gereja sebenarnya. Kehendak Kristuslah yang utama.

Dan salah satu tindakan nyata ”dalam nama-Ku” ialah keberanian menyatakan kesalahan orang. Yesus Kristus menasihatkan ”Apabila saudaramu berbuat berdosa, tegorlah dia di bawah empat mata” (Mat. 18:15).

Pada kenyataannya, tak banyak yang mengambil jalan ini karena takut terhadap tanggapan orang tersebut. Jika pun ada keberanian, kadang kita lebih suka membicarakannya tanpa ada orangnya atau membicarakannya blak-blakan di hadapan banyak orang ketika orangnya ada. Akhirnya kesalahannya itu menjadi konsumsi banyak orang.

Yesus menasihati, jika hendak menegur orang mulailah dengan berdua saja. Baru setelah itu tiga orang. Dengan cara ini, orang tersebut tidak merasa dihakimi dan kesalahan yang dilakukannya tidak menjadi konsumsi publik. Hanya dengan cara itulah kita akan mendapatkannya kembali.

Sejatinya ini jugalah salah satu tugas pemimpin. Ketika bawahan kita salah, masih merasa perlukah kita menegurnya ”berdua saja” atau kita lebih suka menegurnya di depan banyak orang? Jika kita ingin mendapatkannya kembali, menegur dengan diam-diam merupakan langkah jitu.

Selamat bekerja,

Yoel M. Indrasmoro
Direktur Literatur Perkantas Nasional

Posted on Tinggalkan komentar

Inspirasi Jumat Siang: Persepsi tentang Hubungan Kita dengan Allah

A. W. Tozer menantang orang Kristen dan para teolog pada zamannya untuk kembali kepada spiritualitas yang mempertuhankan Kristus. Di tengah bangkitnya semangat teologi modern, Tozer menyerukan bahwa tujuan berteologi bukan hanya untuk memuaskan pikiran melalui perdebatan teologis, tetapi teologi harus membawa seseorang makin mengasihi Yesus.

Tozer dengan jelas meringkas hubungan kita dengan Allah dalam tiga kata, yakni sentralistis, mendasar, dan utama. Kristus adalah sentral Gereja-Nya. Ia mempersatukannya dan di dalam Dia gereja terpancar. Kristus juga merupakan dasar gereja. Ia ada di bawahnya, dan seluruh umat tebusannya bertumpu hanya kepada Dia. Di dalam Kristus kita tidak perlu menambahkan sesuatu, sebab Allah menyatakan bahwa Putra-Nya—Yesus Kristus—cukup. Dia adalah jalan, kebenaran, dan hidup; Dia adalah hikmat, kebenaran, pengudusan, dan penebusan. Dia adalah hikmat dan kekuatan Allah yang menghimpun segala sesuatu, sehingga Kristus adalah yang utama—diutamakan—dan ditempatkan di atas segala-galanya. Kita berkomitmen hanya kepada Yesus Kristus, satu-satunya Tuhan kita. Kita harus percaya kepada Kristus yang adalah Allah; kita harus percaya pada apa yang Allah katakan tentang Dia.

Orang Kristen adalah orang yang telah disalibkan, namun hidup, dan dipersatukan dengan Yesus Kristus. Seorang pengikut Kristus yang sejati adalah orang-orang yang kehendaknya telah dikuduskan—bukan orang-orang tanpa kehendak. Allah menyatukan kehendak kita dengan kehendak-Nya, dan kehendak kita jadi bertambah kuat; serta kehendak-Nya akan menyatukan kita dengan Allah. Keterikatan kita kepada pribadi Kristus harus menyingkirkan segala sesuatu yang bertentangan dengan Kristus. Orang tidak dapat mengasihi Allah sebelum ia membenci dosa dan ketidakbenaran. Inilah tanda kita bersatu dengan Kristus dan mengenali Dia.

Betapa indahnya berkata, ”Aku disalibkan dengan Kristus” dan tahu bahwa Kristus memiliki rencana atas hidup kita. Tozer menutup bagian ini dengan menyatakan, ”Kita dapat mengurangi waktu untuk berdebat dan berdiskusi, jika kita mengambil waktu lebih banyak untuk menantikan Allah.”

Ririn Sihotang

Literatur Perkantas Nasional

Posted on Tinggalkan komentar

Kisah Tjondro Sungkowo

Photo by Kristine Weilert on Unsplash

Pada Jumat pagi, 15 Februari 2019, Tjondro Sungkowo—warga jemaat kami sekaligus Om dari istri saya—dipanggil Tuhan. Dari semua orang yang bercakap-cakap dengan kami—teman sejawat, mantan mahasiswanya, dan warga jemaat—terungkap nada yang sama: ”Beliau orang baik!”

Banyak orang telah merasakan kebaikannya melalui profesi dokter, yang ditekuninya seumur hidupnya. Kata mereka, dia memang bertangan dingin. ”Mendengar suaranya saja, anak saya langsung sembuh,” imbuh seorang bapak. Yang lain menambahkan, ”Beliau tidak pernah menolak pasien. Dibangunkan jam dua pagi pun beliau siap menangani.”

Dia juga pribadi yang tidak neko-neko. Alasannya tak mau mengambil kesempatan menjadi spesialis pun sederhana saja. ”Nanti, kalau sudah jadi spesialis malah enggak bisa menolong orang karena takut biayanya mahal,” tutur putrinya.

Ya, setiap yang hadir punya cerita berbeda dengan nada sama: ”Orang baik!” Ibadah penghiburan dan pemakaman akhirnya menjadi sebuah perayaan kehidupan yang menghiburkan banyak orang. Sebab setiap orang telah mengalami kebaikan Allah melalui dirinya. Inilah hidup yang berbuah (Yer. 17:8).

Manusia memang dipanggil untuk berbuah. Tak hanya bagi diri sendiri, terutama untuk orang lain melalui profesinya. Dan hanya dengan itu Allah dimuliakan.

Caranya? Dengan tetap mengandalkan Allah dan menaruh harap kepada-Nya dalam menghidupi profesi yang telah dipilih (Yer. 17:7).

Selamat bekerja,

Yoel M. Indrasmoro
Direktur Literatur Perkantas Nasional

Posted on Tinggalkan komentar

Inspirasi Jumat Siang: Mengapa Ada Presepsi yang Salah tentang Allah?

Presepsi kita tentang Allah begitu penting sehingga kita harus memastikan bahwa presepsi itu betul-betul berakar dan beralaskan firman Allah. Sebagai manusia, sangat mudah bagi kita untuk teralihkan dan mencoba membarui firman Allah. Terkadang kita bersalah mengubah rencana Allah untuk beberapa alasan, kita mengira kita lebih baik dari Allah.

Dalam buku Mengasihi yang Mahakudus, AW Tozer mengemukakan beberapa kesalahan yang sering kita lakukan sehingga menyebabkan persepsi yang salah tentang Allah:

Mengasumsikan bahwa hal yang ada di Alkitab itu ada juga di dalam diri kita. Kita dapat memahami apa yang Alkitab katakan, namun kita tidak dapat menganggap bahwa kita memiliki semua itu karena Alkitab mengatakannya. Kita harus sampai pada titik mengalami secara pribadi setiap hal yang diajarkan kepada kita dalam Alkitab. Memahami Alkitab itu penting sebagai langkah pertama, namun setelah itu kita harus bertekun, gigih, sampai kesempurnaan; yaitu mengalami hal yang Allah kehendaki kita alami dalam Tuhan Yesus oleh kuasa Roh Kudus.

Kemalasan Rohani. Kita dapat berolahraga untuk mengimbangi kemalasan fisik, tetapi hampir tidak mungkin kita melakukan latihan intelektual. Gereja cenderung memberikan ”makanan rohani biasa” bagi umatnya. Pendeta tak berani melanjutkan ke tataran teologi yang lebih tinggi karena takut umat tidak bisa mengikutinya. Memang sulit mengajak orang berpikir, namun lebih sulit lagi mendapati mereka haus. Untuk membuat orang haus secara rohani, hanya Roh Kuduslah yang dapat melakukannya.

Cinta kita terhadap dunia. Kita menerima standar yang berlaku umum di dunia sebagai hal yang ”normal”. Misalnya seperti anak bayi yang lahir di sebuah sanatorium untuk pasien TBC. Anak tersebut lahir, tinggal, tumbuh, dan menerima situasi di sana sebagai hal yang normal—ia tak tahu apa-apa. Setiap orang batuk, memegang dadanya, membawa tempat untuk meludah, dan menjalani diet khusus. Jika kita dibesarkan dalam lingkungan seperti itu, kita berpikir itu hal yang normal, dan kita menyesuaikan seluruh hidup kita dengan hal normal tersebut. Jika kita terbiasa dengan standar dunia, kita bersebrangan dengan standar Firman. Segalanya tampak normal dan tidak ada yang menduga bahwa ada yang sesuatu harus dipegang teguh berkenaan dengan kehidupan Kristen.

Keinginan kita secara umum untuk dihibur dalam hal apa pun. Kita dianjurkan pergi ke gereja untuk menemukan kedamaian dan penghiburan, namun gereja bukanlah tempat untuk mendapat penghiburan, gereja adalah tempat untuk mendengar Injil diberitakan sehingga kita memperoleh keselamatan. Ada perbedaan yang besar antara dihibur dan diselamatkan. Seseorang dapat memperoleh penghiburan dan berakhir di neraka, sedangkan seorang lain berada di bawah kritikan tajam, yang memintanya untuk berubah, bertobat, dan pada akhirnya pergi ke surga.

Keengganan untuk mematikan keinginan daging. Ada dua tipe orang dalam kehidupan kekristenan, yang puas dan yang lapar. Orang yang puas menganggap perintah untuk dipenuhi Roh Kudus adalah hal yang bersifat ideal saja, namun tidak untuk dituruti. Sedangkan orang yang lapar adalah orang yang dengan semangat—tetap setia dan taat—menjalankan disiplin rohani untuk mencapai kesempurnaan dalam Kristus.

Dari penjelasan kelima hal di atas, muncul pertanyaan untuk kita renungkan dan jawab. Apakah kita sudah merasa cukup puas dengan diri kita saat ini, atau kita masih merasa lapar? Jawaban atas pertanyaan tersebut serta tindak lanjutnya, akan sangat menentukan persepsi kita tentang Allah. Jika kita masih merasa lapar untuk melakukan sesuatu, kita akan mendaki gunung Allah. Namun, jika kita cukup puas, kita akan tetap sama menjadi orang yang biasa-biasa saja—lesu seperti sekarang. Jadi, ini hanya soal seberapa rindu kita untuk mengenal Allah.

Rycko I.

Literatur Perkantas Nasional

 

 

 

 

 

 

Posted on Tinggalkan komentar

Kisah Susan Cooper

Ini bukan kisah saya. Ini kisah Susan Cooper. ”Untuk pekerjaan rumah, saya diminta membuat lukisan tangga. Dan saya telah menyelesaikannya. Akan tetapi, ketika saya hendak menyingkirkan tinta, satu titik tertetes tepat di tengah gambar. Waktu sudah tidak memungkinkan lagi untuk menggambar ulang. Saya merasa sangat putus asa, hingga saya menangis.

Photo by Matthew Henry on Unsplash

Mendengar kesusahan ini, ayah berkata dengan lembut, ’Jangan khawatir. Tetesan tinta itu kelihatannya seperti bintik di tubuh seekor anjing kecil. Yang harus Engkau lakukan hanyalah menggambar seekor anak anjing di sekitar titik hitam ini. Jangan mudah putus asa, Nak! Sering kita hanya membutuhkan sedikit keuletan dan daya khayal untuk mengubah keadaan buruk menjadi baik. Ingat, hanya sedikit hal yang memang tidak ada harapan seperti kelihatan sejak awal.’

Saya segera menggambar anak anjing kecil di sekitar bintik hitam itu. Keesokan harinya, gambar saya terpilih sebagai gambar terbaik di kelas. Anak anjing itu justru membuat lukisan tangga itu semakin indah.”

Masalah hidup sehari-hari—juga masalah di kantor—sering membuat diri kita merasa tertekan. Apa lagi jika di tengah tenggat waktu yang mepet itu ternyata kita melakukan kesalahan. Rasanya ingin menyerah saja.

Namun, the show must go on ’hidup terus berjalan’. Bagian kita hanyalah meminta hikmat dari Allah, untuk mengubah kesalahan itu menjadi berkat.

Jangan pula kita lupa bahwa masalah berasal dari bahasa Arab masya Allah, yang secara harfiah berarti ”apa kehendak Allah”. Masalah merupakan kesempatan untuk mencari dan menghidupi kehendak Allah dalam diri kita.

Lagi pula, bukankah ”Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia” (Rm. 8:28)?

Selamat bekerja,

Yoel M. Indrasmoro
Direktur Literatur Perkantas Nasional

Posted on Tinggalkan komentar

Mengenal Allah dan Firman-Nya

Apa yang Anda lakukan ketika melihat seorang anak yang sedang sakit demam makan es krim? Bagaimana respons Anda ketika tersesat, dan tidak ada yang memberitahukan petunjuk jalan yang benar? Dalam Yakobus 4:17 tertulis,  ”Jadi jika seorang tahu bagaimana ia harus berbuat baik, tetapi ia tidak melakukannya, ia berdosa.”

Dalam peristiwa sehari-hari, seorang dokter yang baik akan memberitahu kondisi yang salah kepada pasiennya dan memberi resep obat agar kondisi pasien membaik. Entah sebagai dokter atau profesi lain, sebaiknya kita juga membimbing orang lain dari jalan yang salah menuju jalan yang benar. Kita bisa memulainya dengan menunjukkan kesalahan seseorang dengan lembut, dan mengarahkannya kepada Yesus. Ini merupakan tugas kita sebagai anggota tubuh Kristus, karena satu bagian tubuh yang sakit memengaruhi seluruh tubuh.

Tozer dalam buku Mengasihi Yang Mahakudus menolong para pembaca untuk memulihkan persepsi mereka tentang Allah. Pada masa kini ada banyak khotbah mengenai cara menjadi orang yang baik dan pandai bergaul. Namun, pengajaran akan kesempurnaan, karakter dan sifat Allah terasa sangat kurang. Akibatnya, kerinduan akan Allah pun memudar.

Orang percaya sewajarnya berfokus pada kesempurnaan Allah, berjuang untuk mengenal Allah melalui firman-Nya dan mengikuti-Nya, bukan pada hal-hal remeh lainnya. Melalui buku ini, Tozer berharap akan ada kebangkitan kobaran api Roh Kudus dan kemuliaan Allah makin dinyatakan dalam diri orang beriman.

Sang Pencipta tak dapat disamakan dengan ciptaan (Yes. 40:25). Pengetahuan manusia sangat terbatas, sedangkan Allah tak terbatas. Jadi, kita tak mungkin mengerti semua tentang Allah, melainkan hanya segelintir saja. Sering kali kita menilai Allah berdasarkan pemikiran kita yang sarat keterbatasan. Allah yang mengasihi, kita definisikan tidak membenci, padahal Dia membenci dosa. Allah itu kekal, sifat-sifat-Nya tak terpisahkan karena merupakan satu kesatuan, bukan bagian-bagian.

Kesempurnaan Allah bersifat tetap, tidak berdasarkan perubahan perasaan kita. Yesus adalah satu-satunya jalan menuju kesempurnaan (Yoh. 14:6). Jika kita rindu mengenal Allah, kita harus menerima Kristus sebagai Tuhan dan Juru Selamat secara pribadi. Ada harga yang harus dibayar untuk bertumbuh, semua akan menjadi begitu berbeda saat kita berjumpa dengan Allah di gunung kudus-Nya. Kedahsyatan dan kemuliaan-Nya memampukan kita untuk bertumbuh.

Allah melampaui segala definisi dan ilustrasi. Semakin kita memahami keagungan dan kesempurnaan Allah, semakin kita kagum dan hormat akan Sang Khalik. Ibadah kita bertumbuh sejalan dengan bertumbuhnya pengenalan dan persepsi kita tentang Allah.

Kiranya kita terus rindu untuk mengenal Sang Pencipta, melihat kemuliaan Allah dan merenungkan keajaiban firman-Nya dalam setiap aspek hidup kita.

Priskila Dewi S.

Literatur Perkantas Nasional

 

Posted on Tinggalkan komentar

Genaplah Nas Ini

”Pada hari ini genaplah nas ini sewaktu kamu mendengarnya” (Luk. 4:21). Demikianlah pamungkas pengajaran Yesus dalam rumah ibadah di Nazaret. Pamungkas semacam ini memperlihatkan kepada kita bahwa setiap orang sejatinya dipanggil untuk menggenapi kehendak-Nya. Allah mempunyai rancangan bagi setiap ciptaan-Nya. Dan panggilan makhluk adalah menggenapi Sang Khalik.

Pamungkas itu jugalah agaknya yang membuat umat yang sebelumnya kagum menjadi kaget dan bertanya-tanya: ”Bukankah Ia ini anak Yusuf?” (Luk. 4:22). Mereka tampaknya tak menduga bahwa Mesias akan muncul dari tempat mereka.

Klaim Yesus bahwa Dia menggenapi nubuat Yesaya membawa orang banyak itu dalam sebuah keputusan: menerima atau menolak pernyataan Yesus itu. Lukas mencatat bahwa mereka lebih suka tidak memercayai-Nya. Dan Yesus pun ditolak.

Kisah penolakan ini memperlihatkan juga kepada kita bahwa sesungguhnya, setiap manusia itu unik, khas, dan satu-satunya. Karena itu, setiap pribadi, yang diciptakan Allah secara khusus, sungguh-sungguh harus menggali dan mengeluarkan semua keunikan dirinya. Hanya dengan cara itulah harkat manusia sebagai ciptaan Allah tampak. Dan hanya dengan cara itu pula, manusia dapat menemukan desain yang Allah tanam dalam dirinya.

Allah punya desain bagi setiap manusia. Kita dipanggil untuk hidup seturut desain tersebut. Kita dipanggil untuk menggenapi desain Allah itu. Pekerjaan yang kita geluti sekarang ini sejatinya adalah cara kita dalam menggenapi desain kita—panggilan yang telah Allah tanamkan dalam diri kita masing-masing.

Selamat bekerja,

Yoel M. Indrasmoro
Direktur Literatur Perkantas Nasional

Posted on Tinggalkan komentar

Persepsi yang Salah tentang Allah

Ada rasa syukur yang luar biasa saat saya membaca buku A. W. Tozer, Mengasihi Yang Mahakudus. Ya, mempelajari serta menggumuli kembali satu hal yang penting dan terutama dalam kehidupan rohani kita, Allah Yang Mahakudus. Secara mendetail dalam bab keempatnya, Tozer mengungkapkan kerinduannya—bagi saya, bagi kita, dan bagi Gereja masa kini—tentang bagaimana kembali masuk ke hadirat Sang Mahakudus.

Tozer merasa cemas melihat kondisi Gereja akhir-akhir ini, yakni semakin hilangnya persepsi yang tepat tentang Allah. Bahkan, Tozer menyoroti salah satu gereja dalam Kitab Wahyu yang pernah disebut sebagai gereja yang suam-suam kuku—tidak dingin atau panas—yang berarti mereka memulai dengan baik, dengan tujuan yang baik, berjalan di jalan yang baik. Namun di suatu tempat di tengah jalan, kasih mereka kepada Allah menjadi hambar.

Tozer juga memberikan contoh tentang kebangunan rohani jemaat di suatu negara kecil Wales pada 1904, di bawah kepemimpinan Evan Roberts. Suatu kali pada minggu pagi, pendeta tidak berkhotbah sama sekali karena Allah bekerja sedemikian rupa. Mereka hanya duduk terpesona dalam kekaguman akan kehadiran Allah sambil menyanyikan lagu-lagu pujian dari Kitab Mazmur—Roh Kudus menggerakkan umat. Persepsi orang tentang Allah kala itu menjadi tinggi dan mulia, sehingga orang dapat betul-betul yakin akan Allah.

Dalam ibadah kebangunan rohani pada masa lalu, orang menjadi tidak sadar akan waktu dan hanya menyadari kehadiran Allah yang berkarya dalam hidup mereka. Namun, Tozer melihat pada masa kini yang orang sadari dalam gereja-gereja kita adalah semangat hiburan dan kesenangan semata, serta menunggu ”Kapan acara ini selesai sehingga saya dapat kembali ke dunia nyata?”

Tozer tentu tidak serta-merta menggunakan kacamata kuda. Ia menyadari betul bahwa zaman memang telah berubah, kita tidak lagi segan dan hormat kepada Allah, dan tidak lagi mengalami rasa takut yang kudus kepada-Nya. Menurutnya, fokus pemberitaan Firman masa kini juga telah bergeser karena lebih mementingkan sifat hiburan agar jemaat senantiasa mau hadir.

Tozer menilai, merosotnya situasi kerohanian Gereja yang tragis dan mencemaskan ini sebagai akibat dari kita melupakan sifat Allah kita. Khotbah kita seharusnya mengutamakan firman Allah di atas segalanya—bahkan di atas tren dan budaya— karena persepsi kita tentang Allah menentukan persepsi kita tentang ibadah. Selain itu, hal mendasar yang hilang dari kita pada masa kini adalah ”visi dari tempat tinggi”.

Mari kita mengingat dan merenungkan kembali bahwa kekristenan adalah tentang menyembah Allah, memuliakan Allah, dan bersukacita atas sifat Allah yang sungguh mengagumkan. Semua hal tentang kekristenan berpusat kepada Allah. Dan sebagai Gereja-Nya, mari kita terus rindu memberitakan Allah, berdoa kepada Allah, serta dengan bangga dan penuh sukacita, mendeklarasikan Allah di antara bangsa-bangsa.

Febriana D.H.

Literatur Perkantas Nasional

Posted on Tinggalkan komentar

Revisi Kata

Ada yang mati di tengah pesta itu (Mrk. 6:14-29). Pestanya bukan pesta kematian, melainkan pesta ulang tahun. Dan yang berulang tahun bukan sembarang orang. Ini pesta ulang tahun seorang raja. Tragisnya, di pesta ulang tahun raja ada seseorang yang harus mati karena raja tak mampu mengekang lidahnya.

Herodes, penyelenggara pesta itu, begitu bergembiranya hingga tak mampu mengendalikan lidahnya. Dia terpesona oleh keindahan tarian putri Herodias. Saking gembiranya, Herodes berjanji akan memberikan apa saja yang diinginkan gadis itu. Tak hanya itu, dia pun bersumpah, ”Apa saja yang kauminta akan kuberikan kepadamu, sekalipun setengah dari kerajaanku” (Mrk. 6:23).

Jika raja tak mampu mengekang lidahnya saking gembiranya, putri Herodias lain. Dia tidak mau buru-buru berbicara. Agaknya, dia tidak mau menyesal di kemudian hari. Dia punya kesempatan besar. Bagaimanapun, raja telah bersedia memberikan setengah kerajaannya. Namun, dia tak mau buru-buru meminta setengah kerajaan. Dia pergi ke Herodias, dan memohon nasihatnya.

Sang Ibu tak hirau tawaran raja, dia lebih suka menyaksikan kematian Yohanes Pembaptis. Sang Putri meminta—karena nasihat ibunya—kepala Yohanes Pembaptis di dalam sebuah talam. Herodes terkejut mendengar permintaan itu. Bagaimanapun, sabda pandita ratu ’janji harus ditepati’. Pantang bagi seorang raja menelan ludah sendiri. Dan karena itulah, putra Zakaria mati di tengah pesta.

Janji memang harus ditepati. Namun, dalam kondisi tertentu, revisi bukanlah aib. Terlebih jika janji itu berpengaruh besar terhadap kehidupan orang lain. Apalagi, janji yang diucapkan sembarangan.

Dan yang terpenting: hati-hati dengan kata! Juga di tempat kerja hari ini.

Selamat bekerja,

Yoel M. Indrasmoro
Direktur Literatur Perkantas Nasional

Posted on Tinggalkan komentar

Pentingnya Evaluasi Diri

Bagaimana persepsi kita tentang Allah? Pertanyaan yang sulit dijawab kalau kita sendiri belum sungguh mengenal-Nya. Pengenalan akan Allah memampukan kita untuk membangun kehidupan pribadi yang lebih baik, juga ibadah kita, yang bermuara pada pelayanan gereja. Perkembangan Gereja sekarang ini tak lepas dari pengenalan akan Allah dan kehendak-Nya bagi umat-Nya.

Dalam buku Mengasihi Yang Mahakudus, A.W. Tozer menulis: ”Jika kita ingin mengetahui di mana kita berada dan ke mana kita pergi, kita perlu mengetahui bagaimana kita akan ke sana serta situasi rohani seperti apa yang sedang kita hadapi. Kita akan menilai diri kita sendiri dengan mempertimbangkan apa yang kita peroleh dan apa yang telah hilang dari kita.” Kalau kita mengenal Allah dengan baik, tentu kita tahu rencana Allah buat kita. Dan karena itu, perlu bagi kita untuk mengevaluasi kembali apa yang belum atau harus kita lakukan.

A.W. Tozer, dalam buku tersebut, juga menjelaskan kemajuan-kemajuan yang dicapai Gereja. Di antaranya: meningkatnya semangat keagamaan, pertumbuhan Gereja, lembaga pelayanan atau sekolah yang dimiliki Gereja, serta masih banyak lagi.

Apa yang diperoleh Gereja saat ini tentu tidak lepas dari proses evaluasi yang dilakukan secara rutin. Segala sesuatu memang perlu dievaluasi. Baik dan buruknya perlu dicatat supaya kita tetap berjalan menuju arah yang benar. Jika memang ada masalah, perlu dikoreksi untuk membawa kita kembali ke tempat seharusnya kita berada.

Allah telah membuat rancangan buat kita dan juga buat Gereja. Kita perlu mengevaluasi di mana kita sekarang? Apakah yang kita lakukan sekarang memang sesuai rancangan Allah. Kita perlu, dan siap, mengevaluasi diri agar tetap berada di jalan yang telah direncanakan Allah bagi kita.

Nah, di mana kita sekarang?

Heru Santoso
Literatur Perkantas Nasional

Posted on Tinggalkan komentar

Dengan Gembira dan Tulus Hati

”Dengan bertekun dan dengan sehati mereka berkumpul tiap-tiap hari dalam Bait Allah. Mereka memecahkan roti di rumah masing-masing secara bergilir dan makan bersama-sama dengan gembira dan dengan tulus hati, sambil memuji Allah.” (Kis. 2:46-47).

Photo by Robert Collins on Unsplash

Dengan gembira dan tulus hati. Demikianlah suasana persekutuan jemaat mula-mula sebagaimana direkam Lukas. Tidak hanya tampak dalam ibadah, juga dalam hidup sehari-hari. Mereka agaknya paham bahwa ibadah dan hidup keseharian merupakan kesatuan. Hidup sehari-hari dipahami sebagai ibadah.

Sikap gembira bukan hal gampang. Bagaimana mungkin gembira ketika hati luka? Bagaimana mungkin gembira saat yang diharap beda dengan realitas? Bagaimana mungkin gembira di tengah ketidakpastian hidup?

Jika memang itu pertanyaannya, maka perlulah kita tambah dengan serangkaian pertanyaan lagi. Apakah memang sungguh-sungguh tak ada yang dapat menggembirakan hati? Pandanglah surya di kala pagi dan sore hari! Perhatikanlah mekar sekuntum bunga! Tengoklah juga ketenangan bayi yang lelap dalam gendongan ibunya!

Semuanya itu mungkin akan membuat Anda bergembira. Jika Anda masih belum mampu bergembira, pandanglah diri Anda seutuhnya. Bukankah Anda masih hidup? Pandanglah sekeliling Anda, rasakanlah kasih dan perhatian orang-orang terdekat. Dan bergembiralah!

Dunia sudah cukup suram. Janganlah tambah kesuramannya dengan kesedihan Anda! Dan kegembiraan Anda biasanya akan membuat orang di sekitar Anda turut gembira.

Agaknya ada kaitan erat antara gembira dan tulus hati. Tulus berarti memandang orang lain tanpa prasangka, bersikap jujur, terbuka, apa adanya. Kita sering tak mampu gembira karena kita tak mampu bersikap jujur dengan diri sendiri, apa lagi dengan orang lain.

Atau, prasangka terhadap orang lain sering membuat kita cemas dan memasang kuda-kuda. Itu sungguh melelahkan, yang akhirnya membuat kita sulit gembira.

Karena itu, marilah kita kembangkan sikap gembira dan tulus hati, juga di tempat kerja kita masing-masing!

Selamat bekerja,

Yoel M. Indrasmoro
Direktur Literatur Perkantas Nasional

Posted on Tinggalkan komentar

Bertindak sebagai Penyembah

Tak kenal maka tak sayang. Ungkapan ini sering diucapkan orang yang hendak memulai acara perkenalan. Perkenalan yang cukup dengan seseorang memungkinkan kita mengasihi orang tersebut. Di dalam perkenalan perlu ada keterbukaan. Semakin dalam orang itu membuka dirinya, semakin dalam juga kita mengenalnya. Kita jadi mengenal siapa dia sesungguhnya. Kita tahu karakternya, kita tahu apa yang disukai atau tidak disukainya. Dengan demikian, tidak ada spekulasi.

Photo by Scott Broome on Unsplash

Jika dengan manusia saja kita perlu perkenalan yang cukup, apalagi jika kita ingin mengenal Allah? Dalam bukunya Mengasihi Yang Mahakudus, A. W. Tozer menulis: ”Untuk membicarakan tentang Allah membutuhkan kapasitas yang melebihi kemampuan manusia.” Jelas Allah adalah Pencipta dan kita ciptaan. Dia tiada batas, kita terbatas. Allah kekal, manusia fana.

Masih dalam bukunya, Tozer juga menulis: ”Ada banyak logika dan pertimbangan mengenai Allah, namun tidak cukup kita berhenti di situ. Jika yang kita miliki semata-mata logika dan pertimbangan sehat, maka kita tidak akan pernah bisa menembus Awan Ketidaktahuan yang menghalangi manusia untuk benar-benar mengenal Allah.” Menurut Tozer, satu-satuya cara untuk dapat mengenal Allah adalah dengan bertindak sebagai penyembah.

Ya, sebagai penyembah. Dengan bertindak sebagai penyembah, kita memosisikan diri kita dengan benar. Dengan bertindak sebagai penyembah, kita menyadari siapa diri kita di hadapan Allah. Kita menyadari bahwa Allah itu besar dan terlampau besar untuk dapat kita pahami. Kita hanya mungkin mengenal-Nya sejauh Ia menyatakan diri-Nya kepada kita.

Bukan tanpa tujuan Allah menciptakan kita, Allah menciptakan kita untuk diri-Nya. Tozer juga mengutip Agustinus: ”Engkau menciptakan kami untuk diri-Mu, ya Tuhan, dan jiwa kami gelisah hingga menemukan peristirahatan di dalam Engkau.” Itu artinya, tidak ada yang bisa memberikan ketenangan kepada kita selain Allah, meskipun seluruh dunia kita miliki.

Oleh karena itu, mengenal Allah merupakan keniscayaan bagi kita manusia. Mengenal Allah membuat kita mengenal siapa diri kita di hadapan Allah. Mengenal Allah membuat kita mengetahui apa yang menjadi tujuan hidup kita. Dan mengenal Allah hanya dapat dilakukan dengan bertindak sebagai penyembah.

Citra Dewi
Literatur Perkantas Nasional

Posted on Tinggalkan komentar

Jalan Hidup

”Biarlah hal itu terjadi, karena demikianlah sepatutnya kita menggenapkan seluruh kehendak Allah” (Mat. 3:15). Demikianlah alasan yang disampaikan Yesus Orang Nazaret kepada Yohanes Pembaptis.

Photo by Jamie Templeton on Unsplash

Karena alasan itulah Dia meninggalkan Galilea menuju Sungai Yordan. Demi alasan itu pulalah anak Yusuf memohon baptisan kepada anak Zakharia. Tampaklah: menggenapkan seluruh kehendak Allah merupakan jalan hidup Yesus.

Dan Yesus tidak ingin berjalan sendirian. Dia mengajak Yohanes Pembaptis untuk berjalan di jalan hidup itu. Selanjutnya, Dia juga mengajak para murid-Nya untuk menempuh jalan tersebut.

Jalan-Nya memang tidak mudah. Hambatan kadang menghalang; juga onak duri yang tumbuh di depan. Tersulit—namun yang pertama harus diberantas—adalah yang berasal dari dalam diri sendiri: keakuan diri.

Keakuan diri tak melulu soal kesombongan pribadi. Terkadang hanya perkara kepantasan. Yohanes tak merasa pantas membaptis Yesus. Tindakan itu jelas tak sesuai kaidah masyarakat. Tidak selaras dengan norma yang ada. Jika kita ada di sana, mungkin kita pun tak rela menyaksikan Yesus dibaptis. Bukankah seharusnya Dia, Anak Allah, yang membaptis?

Namun, kalau kita protes, kemungkinan besar Sang Guru akan berkata: ”Biarlah hal itu terjadi, karena demikianlah sepatutnya kita menggenapkan seluruh kehendak Allah.”

Kita? Mengapa? Karena Yesus tidak ingin berjalan di jalan hidup itu sendirian! Sang Guru ingin mengajak kita, para murid-Nya, berjalan di jalan tersebut. Bukankah itu juga yang diajarkan-Nya dalam Doa Bapa Kami—”Jadilah kehendak-Mu”?

Itu berarti bukan sebagian kehendak Allah, namun seluruh. Bukan kadang, namun selalu. Bukan dalam situasi tertentu, namun dalam segala situasi. Juga dalam dunia kerja kita!

Selamat bekerja,

Yoel M. Indrasmoro
Direktur Literatur Perkantas Nasional

Posted on Tinggalkan komentar

Kuduslah Kamu

”Kuduslah kamu, sebab Aku, TUHAN, Allahmu, kudus” (Im. 19:2). Demikianlah pembukaan hukum yang diberikan Allah kepada umat-Nya melalui Musa. Bisa disimpulkan: dasar ketaatan terhadap hukum Allah bukanlah hukum itu sendiri, melainkan karena Allah itu kudus. Kekudusan Allah menjadi dasar manusia untuk menaati hukum.

Photo by Sunyu on Unsplash

Jadi, dasar ketaatan terhadap hukum bukanlah karena takut dihukum. Ketaatan itu merupakan konsekuensi logis dari umat yang telah diselamatkan dan dikuduskan Allah sendiri. Di sini kekudusan hidup umat Allah merupakan keniscayaan. Mereka telah dikuduskan! Umat Allah tidak bisa tidak harus kudus karena TUHAN, Allahnya, kudus.

Dengan kata lain, jika TUHAN itu kudus, masak umatnya kagak? Kalau umat tidak hidup kudus, layakkah mereka disebut umat Allah? Yang juga penting: jika umat tidak menjaga kekudusannya, apakah mereka dapat bersekutu dengan TUHAN yang kudus?

Allah yang kudus mustahil bersekutu dengan sesuatu yang cemar! Terang memang tidak bisa dipersatukan dengan gelap. Hukumnya memang demikian: terang akan menyirnakan kegelapan. Kegelapan akan hilang ketika terang muncul! Ketika manusia sengaja mencemarkan dirinya, maka persekutuan dengan Allah itu otomatis hancur!

Dan hidup kudus perlu diterapkan—mengutip syair Kidung Jemaat 260—”di lautan, di gunung, di ladang dan di bandar, di pasar, di jalan”. Di mana-mana. Sebab predikat ”umat Allah” tidak dibatasi waktu dan ruang.

Itu berarti di tempat kerja kita masing-masing, apa pun profesi kita, kita dipanggil untuk hidup kudus. Kita dipanggil pula untuk menguduskan tempat kerja kita, juga sarana dan prasarana yang kita gunakan untuk bekerja!

Selamat bekerja,

Yoel M. Indrasmoro
Direktur Literatur Perkantas Nasional

Posted on Tinggalkan komentar

Menjadi Lampin

”Dunia kedinginan, kaku membeku: damai yang sejati tiada bertemu. Wabah kekerasan, siksa tirani sampai masa kini tidak berhenti.” Demikianlah syair karya Christina Georgina Rosetti (1872), yang terekam dalam Kidung Jemaat 121 bait pertama.

https://unsplash.com/photos/aJN-jjFLyCU

Christina mencoba menggambarkan situasi pada malam kelahiran Yesus. Kenyataan tak ada tempat di rumah penginapan membuat malam itu makin dingin bagi Yusuf dan Maria.

Situasi macam begitu tak hanya dirasakan mereka. Hingga hari ini banyak orang merasakannya. Penyakit yang paling mengerikan dan menakutkan pada zaman ini—menurut Ibu Teresa—bukanlah kanker, kusta atau AIDS, tetapi kesepian karena tiada orang yang peduli.

Namun demikian, Christina melanjutkan dengan bait kedua, ”Tapi Firman Allah tak terbelenggu: Kasih mencairkan hati yang beku. Dalam dunia dingin kandang cukuplah untuk mengenali Khalik semesta.”

Dalam dunia yang dingin itulah Yesus lahir. Kasih mencairkan hati beku. Ada orang—kita tidak pernah tahu namanya—yang merelakan kandangnya. Rumah penginapan penuh, namun kandang sudah cukup untuk mengenali Juru Selamat (lih. Luk. 2:12).

Tanda-Nya bukan nama orang tua Si Bayi, yang mungkin cukup pasaran waktu itu. Lagi pula, Yusuf dan Maria pendatang di Betlehem, sehingga tak mudah mencari-Nya. Tanda-Nya adalah palungan dan lampin. Yang satu tempat makanan, yang lainnya berfungsi menghangatkan tubuh bayi.

Kita pun dipanggil menjadi tanda-Nya—palungan yang memberi makan dan lampin yang menghangatkan hati. Dengan kata lain, berbagi kebutuhan fisik (makanan) dan rohani (kehangatan). Berbagi makanan tentu baik, tetapi akan sia-sia—bahkan menyakiti hati yang diberi—tanpa kehangatan hati.

Dunia masih kedinginan. Dunia kerja kita pun butuh lampin. Menjadi lampin yang menghangatkan hati kolega berarti pula menjadi tanda kehadiran-Nya di kantor kita.

Selamat bekerja,

Yoel M. Indrasmoro
Direktur Literatur Perkantas Nasional

Posted on Tinggalkan komentar

Menjadi Bintang

Masih ingat kisah orang Majus? Menurut Anda siapakah bintang tamu dalam kisah tersebut? Tentu Anda tidak akan memilih Herodes Agung, tokoh yang paling tidak agung dalam pandangan manusia normal. Karena ingin melanggengkan jabatan, dia tega membantai anak-anak di bawah usia dua tahun.

tim-mossholder-171873-unsplash-1.jpg

Anda juga mungkin tidak akan memilih para imam kepala dan ahli Taurat. Sekelompok orang yang paling tahu bahwa Mesias akan lahir di Betlehem, tetapi toh tidak hidup dan memercayai pengetahuan itu. Buktinya: mereka tidak pergi bersama orang Majus untuk menyembah Mesias.

Saya duga Anda akan memilih orang Majus, yang dengan setia mencari Kebenaran. Bahkan telah menyiapkan diri untuk sungkem di hadapan raja yang baru lahir itu.

Dari segi biaya yang dikeluarkan memang tidak sedikit. Setidaknya perlu biaya akomodasi selama dua tahun. Kalau untuk hotel dan makan butuh Rp500 ribu sehari, maka untuk seorang saja butuh biaya inap dan makan sebesar Rp365juta. Belum biaya transportasinya. Belum lagi modal untuk persembahan—emas, kemenyan, dan mur—yang diberikan.

Namun, izinkan saya mengusulkan Sang Bintang sebagai bintang tamu. Dialah yang sungguh-sungguh menemani orang Majus sampai ke Betlehem. Dialah tanda yang mengarahkan orang Majus untuk menyembah bayi Yesus. Tanpa Sang Bintang, mereka tidak akan sampai pada tujuannya.

Nah, kita juga dipanggil untuk menjadi bintang masa kini. Tugas kita tidaklah menjadi tanda yang mengarahkan orang lain kepada diri sendiri, melainkan hanya kepada Allah. Segala kemuliaan, puji, dan sembah hanya bagi Allah. Sebuah tanda memang tidak lebih penting dari yang ditandainya.

Dan menjadi bintang semestinya dimulai di tempat kerja kita masing-masing.

Selamat bekerja,

Yoel M. Indrasmoro
Direktur Literatur Perkantas Nasional

Posted on Tinggalkan komentar

Menjadi Palungan

Pada Minggu Adven I Tuhan Yesus mengingatkan kita untuk senantiasa siap menyambut kedatangan-Nya, yaitu: menjaga hati agar jangan disarati pesta pora dan kemabukan serta kepentingan-kepentingan duniawi (lih. Luk. 21:34). Dengan kata lain, kita harus menanti-Nya dalam suasana hidup penuh kasih dan kekudusan.

Jelasnya: tidak pasif menunggu, melainkan aktif menerapkan keadilan dan kebenaran (lih. Yer. 33:15). Sehingga makin banyak orang yang tertular untuk mempersiapkan diri pula.

Janggal rasanya, merindukan kehadiran kerajaan Tuhan, tetapi tidak hidup sebagai warga kerajaan itu. Kita perlu menyiapkan diri sebaik-baiknya agar tahan berdiri di hadapan Anak Manusia.

Caranya? Mari bersikap sebagaimana palungan! Pada Kidung Jemaat 84:2, Carl Wilhelm Osterwald menulis: Hatiku biar Kaujadikan palungan-Mu yang mulia dan dalam aku Kaucerminkan terang sorgawi yang baka, sebab dengan kehadiran-Mu keluhan batinku lenyap. Kiranya lahir dalam aku dan tinggalah serta tetap.

Menjadi palungan berarti menjadi tempat. Menjadi palungan berarti menyediakan ruang dalam hati kita untuk Allah dan manusia.

Palungan merupakan tempat makanan. Palungan tak ubahnya piring dalam dunia manusia. Menjadi palungan berarti bersedia menjadi piring. Menjadi palungan berarti sedia menjadi penyalur berkat Tuhan.

Palungan pun tak bersikap diskriminatif. Tak ada tangan dalam palungan. Setiap binatang yang datang kepadanya bisa makan dari palungan tersebut. Palungan menerima semua binatang itu apa adanya. Dia tidak melakukan seleksi. Semua binatang diterimanya tanpa syarat.

Kita juga dipanggil untuk tidak bersikap diskriminatif. Menerima orang lain apa adanya. Inilah sikap yang tepat dalam menyambut kedatangan Yesus yang kedua.

Dan menjadi saluran berkat tanpa diskriminasi sewajarnya dimulai di tempat kerja kita masing-masing.

Selamat bekerja!

Yoel M. Indrasmoro
Direktur Literatur Perkantas Nasional

Posted on Tinggalkan komentar

Memperlihatkan Wajah Allah

Elia terpana. Janda yang begitu dihormati—yang juga telah memberi tempat berteduh dan makan selama ini—menuduhnya. Dalam kekalutan karena kematian anaknya, janda di Sarfat itu berkata kepada Elia, ”Apakah maksudmu datang ke mari, ya abdi Allah? Singgahkah engkau kepadaku untuk mengingatkan kesalahanku dan untuk menyebabkan anakku mati?” (1Raj. 17:18).

Photo by Sticker Mule on Unsplash

Perkataan itu tampaknya mengguncangkan hati Elia. Betapa tidak, Elia telah merasakan kasihnya. Janda itu sekarang ketimpa musibah dan menganggap Elia biang keladinya.

Elia lalu mengambil anak itu dan bersyafaat kepada Tuhan: ”Ya TUHAN, Allahku, mengapa Engkau mendatangkan celaka ini ke atas janda ini? Ia sudah memberi tumpangan kepadaku dan sekarang Engkau membunuh anaknya!” (1Raj. 17:20).

Elia berdoa seakan dia yang kena musibah. Sang Nabi berseru seperti dia sendirilah yang menderita. Kelihatannya, Elia sungguh merasakan kepedihan janda tersebut. Inilah yang dinamakan empati—’dalam penderitaan orang lain’. Jika simpati berarti bersama dengan penderitaan orang lain, maka empati—lebih dalam lagi—yakni dalam penderitaan orang lain. Allah pun kemudian membangkitkan anak itu dari kematian.

Sebelumnya janda itu memperlihatkan wajah Allah kepada Elia. Selanjutnya, Elia juga memperlihatkan wajah Allah kepada janda tersebut. Mereka saling memperlihatkan wajah Allah. Mereka saling menyatakan kasih Allah. Mereka saling memberi kehidupan. Mereka saling menghidupkan. Akhirnya, janda itu pun percaya kepada Allah Israel.

Memperlihatkan wajah Allah merupakan panggilan orang beriman. Dan dua minggu lalu seorang rekan pelayan mengirimkan pesan melalui whatsapp: ”Kalau ada gereja atau lembaga pelayanan yang perlu kita dukung untuk memiliki buku ini, saya ikutan ya.” Singkat pesannya. Namun, pada hemat saya, dia sedang berupaya memperlihatkan wajah Allah kepada sesama, yang bisa jadi tak pernah dikenalnya.

Nah, marilah kita saling memperlihatkan wajah Allah! Juga kepada rekan sekerja kita hari ini!

Selamat bekerja,

Yoel M. Indrasmoro
Direktur Literatur Perkantas Nasional

Posted on Tinggalkan komentar

Debora, Barak, dan Yael

Pada suatu masa, orang Israel kembali melakukan kejahatan di mata Tuhan. Sebagai hukuman, Tuhan menyerahkan mereka dalam penjajahan Yabin, raja Kanaan. Tak ada yang berani melawannya karena dia memiliki panglima tiada tanding: Sisera.

Photo by rawpixel on Unsplash

Debora, selaku hakim waktu itu, menugasi Barak untuk mengalahkan Sisera. Namun, Barak tak terlalu antusias. Meski Debora menegaskan bahwa Tuhan yang menyuruh, Barak tetap kecut hati. Barak tak berani menghadapi Sisera. Dia memohon, ”Jika engkau turut maju aku pun maju, tetapi jika engkau tidak turut maju aku pun tidak maju” (Hak. 4:8). Meski menyayangkan usul tersebut, Debora setuju dengan catatan: ”Hanya, engkau tidak akan mendapat kehormatan… sebab TUHAN akan menyerahkan Sisera ke dalam tangan seorang perempuan” (Hak. 4:9).

Itulah yang terjadi. Meski Barak beserta pasukannya mengalahkan tentara Sisera, tetapi dia tidak berhasil membunuh Sisera. Panglima perang itu mati di tangan Yael, istri Heber orang Keni.

Dari sejarah Israel ini, ada beberapa pelajaran penting. Pertama, jika kita tidak mau menerima tanggung jawab, Tuhan akan memakai orang lain. Barak menolak, dan Tuhan memilih Yael. Kedua, kesempatan tak pernah datang dua kali. Sambutlah saat pertama kali muncul! Memang, kata orang, kesempatan tak berwajah—sehingga sulit dikenali; dan berekor licin—yang membuat kita sulit menangkapnya ketika kita menyadarinya.

Karena itu, ”Tunaikan tugas sekarang juga. Jangan tunda! Kemungkinan besar kita tidak bisa mengerjakannya esok hari.” Demikianlah, petuah almarhum ayah saya, yang masih membekas hingga kini. Ketiga, percaya. Jika Tuhan di pihak kita, siapakah lawan kita? Karena itu pula, mintalah berkat Tuhan atas setiap karya yang kita lakukan pada kesempatan pertama itu.

Selamat bekerja,

Yoel M. Indrasmoro
Direktur Literatur Perkantas Nasional

Posted on Tinggalkan komentar

Berikanlah Aku Air itu!

”Berikanlah aku air itu!” (Yoh. 4:15). Demikianlah, permohonan perempuan Samaria itu kepada Yesus. Permohonan itu muncul karena sebelumnya Yesus menawarkan air hidup—air yang membuat orang tidak haus lagi.

Photo by Lisa Fotios from Pexels

Ada yang tersurat maupun tersirat dalam permohonan itu. Tersurat: perempuan itu tidak ingin datang ke perigi itu lagi. Dia agaknya merasa malu jika harus bertemu tetangga-tetangganya.

Tersirat: perempuan itu haus rohaninya. Lima perkawinannya kandas. Sekaran, dia sendiri tak berani mengikat diri dengan pasangan kumpul kebonya. Dia takut gagal lagi.

Dengan kata lain, perempuan itu haus baik jasmani maupun rohani. Dan Yesus tahu itu. Karena itulah, bisa dimengerti mengapa Guru dari Nazaret itu menawarkan air hidup kepada perempuan Samaria itu.

Air hidup itu adalah Dirinya sendiri. Dan di dalam Kristus, perempuan itu seperti bercermin. Yesus menyatakan keberadaan perempuan itu apa adanya. Di muka Yesus memang tak ada yang perlu disembunyikan. Yang terpenting adalah datang kepada-Nya sebagaimana adanya.

Tak perlu topeng. Semua manusia telanjang di hadapan Tuhan. Menyembunyikan sesuatu di hadapan-Nya hanya akan membuat kita makin merasa tak layak. Menyembunyikan sesuatu di hadapan-Nya hanya akan membuat kita tak merasa nyaman berhadapan dengan-Nya. Menyembunyikan sesuatu di hadapan-Nya hanya akan membuat kita letih. Menyembunyikan sesuatu di hadapan-Nya merupakan tindakan sia-sia.

Jika kita punya kesalahan, akuilah semuanya itu di hadapan Tuhan. Menurut Pascal, hanya ada dua macam orang: orang benar yang menganggap dirinya berdosa dan orang berdosa yang menganggap dirinya benar. Orang macam apakah kita?

Selamat bekerja!

Yoel M. Indrasmoro
Direktur Literatur Perkantas Nasional

Posted on 1 Komentar

Kuasa Kata

Berhati-hatilah dengan kata! Sekali terlontar dari mulut, kita tidak dapat menariknya kembali. Lagipula, kata memiliki kuasa. Kata-kata yang keluar dari mulut kita memiliki pengaruh besar bagi pendengarnya.

Photo by Ricardo Mancía on Unsplash

Pujian akan membuat orang merasa tersanjung dan terhibur. Namun, makian menyakitkan hati. Kalau sudah begini, perang tanding pun tak akan terhindarkan lagi. Dan itulah yang tampak dalam kisah Daud, Nabal, dan Abigail (1Sam. 25:2-42).

Nabal seorang kaya. Dia punya tiga ribu ekor domba dan seribu ekor kambing. Namun, orang kaya ini agaknya tidak memiliki kemampuan dalam menggunakan kata. Dalam hal ini, Nabal telah bertindak ceroboh.

Di hadapan anak buah Daud, Nabal berkata, ”Siapakah Daud? Siapakah anak Isai itu? Pada waktu sekarang ini banyak hamba yang lari dari tuannya. Masakan aku mengambil rotiku, air minumku dan hewan bantaian yang kubantai bagi orang-orang pengguntingku untuk memberikannya kepada orang-orang yang aku tidak tahu dari mana mereka datang?”

Perkataan Nabal tidak banyak. Hanya tiga kalimat! Namun, tiga kalimat itu yang membuat Daud berang setengah mati. Sebab, Nabal mempertanyakan eksistensi Daud. Perkataannya itu membuat Daud tersinggung. Harga diri sebagai laki-laki terusik.

Hati Daud pun mendidih dan mengambil sebuah kata kerja, sebagai sikapnya terhadap Nabal, yaitu: ”Bunuh!” Tak hanya Nabal, tetapi seluruh laki-laki yang menjadi pengikut Nabal. Daud pun sudah tak mampu lagi menahan kata-katanya.

Saat kritis itulah Abigail muncul! Dengan lembut Abigail membujuk Daud untuk menarik kata-katanya. Berbeda dengan Nabal dan Daud, sebagai perempuan, Abigail sanggup menggunakan kata-katanya secara bijak. Yang pada akhirnya mampu menyelamatkan banyak orang dari kematian sia-sia.

Kata memang berkuasa. Karena itu, gunakanlah secara bijak! Tak hanya yang keluar dari mulut, tetapi juga yang tertulis di gawai kita.

Selamat bekerja,

Yoel M. Indrasmoro
Direktur Literatur Perkantas Nasional

Posted on Tinggalkan komentar

Menjadi Sahabat Anda Bertumbuh

Pada 31 Oktober 1517 Martin Luther memaklumatkan 95 dalil yang mengkritik Gereja Katolik Roma. Di mata Luther, kebijakan menjual surat indulgensia ’penghapusan siksa’—bahkan untuk orang mati—melawan kebenaran Alkitab. Luther menegaskan bahwa keselamatan manusia hanya karena iman—sola fide, yang merupakan tanggapan dari anugerah Allah—sola gratia. Hidup hanyalah karena anugerah Allah.

Photo by James Coleman on Unsplash

Luther sendiri diilhami kala membaca surat Paulus kepada jemaat di Roma: ”Sebab di dalamnya dinyatakan pembenaran oleh Allah, yang bertolak dari iman dan memimpin kepada iman, seperti ada tertulis: ’Orang benar akan hidup oleh iman’” (Rm. 1:17). Sejatinya, Paulus pun hanya menggemakan kembali nubuat Habakuk: ”Orang yang benar itu akan hidup oleh percayanya” (Hab. 2:4).

Kisah reformasi sesungguhnya kisah baca-tulis. Seandainya Paulus tidak mengutip nubuat Habakuk dalam kitabnya—dan Luther juga tidak membacanya—mungkin jalannya kekristenan menjadi lain. Dan penemuan mesin cetak oleh Johannes Gutenberg pada 1440 memungkinkan semua tulisan bernada reformatif dicetak secara massal, sehingga gaungnya berdampak luas—semacam viral pada masa kini.

Menurut H.A. van Dop, guru liturgika saya, tanggal yang dipilih Martin Luther—31 Oktober dan sekarang dirayakan sebagai Hari Reformasi—bermakna strategis. Sebab 1 November merupakan Hari Raya Orang Kudus, yang dirayakan umat Katolik, sehingga bisa dipastikan setiap orang yang beribadah pada hari itu membaca 95 dalil Luther.

Dan bagi kami, Literatur Perkantas Nasional, 1 November juga amat bermakna. Pada 1 November 2010, berdasarkan Keputusan Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia Republik Indonesia, Divisi Literatur Perkantas Nasional disahkan menjadi PT Suluh Cendikia.

Photo by rawpixel on Unsplash

Perubahan bentuk ini dimaksudkan agar pelayanan literatur Perkantas dapat lebih diterima masyarakat luas, selain sebagai salah satu bentuk penerapan profesionalitas dalam tubuh Perkantas. Dengan demikian pada hari ini usia Literatur Perkantas Nasional—sebagai ”Sahabat Anda Bertumbuh”—genap sewindu.

Pada hemat kami, tanggal pengesahan tersebut bukan sebuah kebetulan. Kami diingatkan terus untuk melayani segenap orang kudus—semua orang yang telah dipilih Allah menjadi milik-Nya—dengan menjadi sahabat dalam pertumbuhan rohani mereka.

Karena itu, pada hari ini kami hendak bersyukur kepada Tuhan Yesus Kristus—Sang Komunikator Agung—yang telah menganggap kami layak menjadi rekan kerja-Nya melalui literasi. Juga kepada semua mitra kami—pembaca, penulis, penerjemah, percetakan, distributor, toko buku, donatur—yang telah menemani kami dalam melayankan Injil melalui media.

Doakanlah kami—dalam anugerah-Nya—agar setia menjalani panggilan sebagai ”suluh yang cendikia dan mencendikiakan”, sehingga mampu menjadi ”Sahabat Anda Bertumbuh!”

SMaNGaT,

Yoel M. Indrasmoro
Direktur Literatur Perkantas Nasional

Posted on Tinggalkan komentar

Panggilan Yeremia

Kisah panggilan Yeremia layak direnungkan. Panggilan itu tidak berasal dari diri Yeremia sendiri. Allah memanggilnya untuk menjadi nabi-Nya. Allah yang menyapa Yeremia. Allah yang melamar Yeremia dan bukan sebaliknya.

Panggilan itu bukan tanpa alasan. Allah bersaksi: ”Sebelum Aku membentuk engkau dalam rahim ibumu, Aku telah mengenal engkau, dan sebelum engkau keluar dari kandungan, Aku telah menguduskan engkau, Aku telah menetapkan engkau menjadi nabi bagi bangsa-bangsa.” (Yer. 1:5). Allah memiliki visi. Persoalannya: relakah manusia terlibat dalam perwujudan visi-Nya?

Yeremia berasal dari keluarga imam. Agaknya dia sadar akan tuntutan yang cukup tinggi dari masyarakat terhadap kalangan rohaniawan. Dan Yeremia menyadari bahwa bekalnya belum cukup banyak. Dia mengelak: ”Ah, Tuhan ALLAH! Sesungguhnya aku tidak pandai berbicara, sebab aku ini masih muda.” (Yer. 1:6)

Yeremia sadar, menjadi nabi berarti harus berbicara atas nama Allah kepada umat! Menjadi nabi itu tidak hanya cukup pintar ngomong. Tidak. Menjadi nabi berarti harus memiliki pengetahuan yang cukup agar berita yang dibawa tidak menjadi bahan olok-olok.

Dalam bayangan Yeremia, menjadi nabi berarti harus mampu berargumentasi. Lalu, bagaimana mau berargumen jika bekal pengetahuannya tidak memadai? Yeremia merasa dia masih terlalu muda. Sedikitnya pengetahuan—karena kemudaannya itu—membuatnya gentar menerima lamaran Allah.

Akan tetapi, Tuhan tetap pada pendirian-Nya. Dia berdaulat penuh. Lagi pula, alasan Yeremia itu hanya akan membawa Yeremia bertumpu pada kekuatannya sendiri. Dan Allah tidak mau hal itu terjadi. Allah ingin Yeremia bergantung penuh kepada-Nya. Ya, bergantung penuh kepada Allah. Itulah modal utama setiap pekerja Allah!

Selamat bekerja,

Yoel M. Indrasmoro
Direktur Literatur Perkantas Nasional

Posted on Tinggalkan komentar

Kepemimpinan Kristiani

”Maka Yesus mengambil seorang anak kecil dan menempatkannya di tengah-tengah mereka, kemudian Ia memeluk anak itu…” (Mrk. 9:36).

Demikianlah catatan penulis Injil Markus. Tindakan itu dilakukan Yesus untuk merespons perdebatan di antara para murid mengenai siapa yang layak menjadi pemimpin di antara mereka.

Dari tindakan Yesus itu, ada tiga kata kerja yang perlu diteladani setiap pemimpin Kristen: mengambil, menempatkan, dan memeluk.

Yesus mengambil anak tersebut. Tentunya, cara pengambilannya tidak dengan paksa. Tak ada paksaan. Kemungkinan besar anak itu malah senang.

Bayangkanlah, raut wajah Yesus! Cemberutkah? Pasti tidak. Mana ada anak kecil yang suka dicemberuti? Kelihatannya, anak itu merasa diterima Yesus. Sehingga, dia tidak keberatan diajak Yesus untuk berdiri di tengah-tengah para murid.

Yesus menempatkan anak tersebut di tengah-tengah. Anak itu bukan tontonan. Bukan. Yesus menempatkan anak itu di tengah-tengah agar dia menjadi fokus perhatian. Kata dasar ”perhatian” adalah ”hati”! Artinya, anak itu menjadi fokus-kasih.

Fokus seorang pemimpin bukanlah dirinya sendiri, melainkan orang-orang yang dia pimpin. Fokus kepemimpinan tidak berpusat pada diri sendiri, tetapi orang yang dipimpinnya. Setiap bawahan sejatinya merupakan fokus-kasih para pemimpin.

Yesus memeluk anak tersebut. Kasih tak sekadar kata-kata. Perhatian tak ada manfaatnya jika tidak berbuah dalam tindakan. Kasih harus diekspresikan melalui tindakan.

Kepemimpinan-kasih merupakan sebuah konsep abstrak. Oleh karena itu, harus diwujudkan dalam tindakan. Karena, sebagaimana refrein lagu lama: ”Semua bisa bilang sayang, semua bisa bilang. Apalah artinya sayang tanpa kenyataan?”

Selamat bekerja,

Yoel M. Indrasmoro
Direktur Literatur Perkantas Nasional

Posted on Tinggalkan komentar

Menjadi Manusia

Multatuli pernah berkata, sering disitir Pramoedya Ananta Toer, ”Tugas manusia ialah menjadi manusia, bukan menjadi malaikat atau pun setan. ”Ya, tugas manusia memang menjadi manusia. Jika tidak menjadi manusia, maka dia tidak bisa memenuhi hakikatnya sebagai manusia. Dan selanjutnya, tentu tak layak menganggap diri manusia.

Photo by Roman Averin on Unsplash

Menjadi manusia merupakan panggilan setiap insan. Menjadi manusia berarti pula  menjalani hidup sebagai hamba Allah. Allah memang tidak menuntut kita menjadi malaikat, tetapi juga tidak ingin kita menjadi setan. Dia hanya ingin kita memenuhi panggilan hidup sebagai manusia. Itulah cita-cita-Nya ketika mencipta manusia. Dan ketika manusia tak lagi menapaki hidup sebagai manusia, ia harus bertobat.

Itu jugalah yang dikumandangkan Nabi Yesaya: ”Carilah TUHAN selama Ia berkenan ditemui; berserulah kepada-Nya selama Ia dekat! Baiklah orang fasik meninggalkan jalannya, dan orang jahat meninggalkan rancangannya…” (Yes. 55: 6-7).

Pertobatan merupakan inti berita Yesaya. Berkait dengan pertobatan, kita termasuk golongan manusia berbahagia karena kita masih dikaruniai waktu. Waktu untuk berubah. Itu berarti pula waktu untuk berbuah lebih banyak. Berubah untuk berbuah.

Kita—jika dikaitkan dengan perumpamaan Yesus Orang Nazaret—bak pohon ara yang masih diberi kesempatan hidup, yang dibela oleh Sang Pengelola kebun.

”Tuan, biarkanlah dia tumbuh tahun ini lagi, aku akan mencangkul tanah sekelilingnya dan memberi pupuk kepadanya, mungkin tahun depan ia berbuah; jika tidak, tebanglah dia!” harap Sang Pengelola kepada Sang Pemilik (lih. Luk. 13:9). Namun demikian, kesempatan itu pun tidak tak terbatas.

Berbahagialah karena kita belum sampai tenggat itu! Masih ada waktu untuk berbenah. Masih ada waktu untuk memperbarui diri—menjadi manusia seturut citra Allah. Jika tidak, kita pun akan ditebang!

Selamat bekerja,

Yoel M. Indrasmoro
Direktur Literatur Perkantas Nasional

Posted on Tinggalkan komentar

Karya adalah Saksi

”Berapa lama lagi Engkau membiarkan kami dalam kebimbangan? Jikalau
Engkau Mesias, katakanlah terus terang kepada kami.” (Yoh. 10:24).

Photo by Dominik Scythe on Unsplash

Demikianlah kegalauan orang Yahudi berkait Yesus Orang Nazaret. Mukjizat-mukjizat-Nya membuat mereka bertanya-tanya: ”Siapakah Dia sebenarnya?”

Mereka ingin Yesus bicara, tetapi Anak Daud itu tidak menggubrisnya. Bagi Yesus, apa yang dilakukan-Nya sudah jelas. Yesus ingin orang menilai diri-Nya berdasarkan apa yang dilakukan-Nya. Berkait kemesiasan-Nya, Yesus merasa tidak perlu bicara banyak.

Sang Guru menegaskan: ”Pekerjaan-pekerjaan yang Kulakukan dalam nama Bapa-Ku, itulah yang memberikan kesaksian tentang Aku…” (Yoh. 10:25).

Pekerjaan-pekerjaan yang dilakukan dalam nama Bapa itulah yang memberi kesaksian tentang diri-Nya. Pada titik ini kita perlu belajar dari Sang Guru. Apa yang kita lakukan dalam nama Tuhan itu cukup dan tak perlu masang iklan. Bahkan, tak perlu membumbui apa yang telah kita lakukan.

Kebanyakan bumbu akan membuat masakan tak lagi enak disantap. Berkait karya, kata-kata mungkin malah melemahkan karya kita. Sebaik apa pun karya, baiklah kita belajar dari Sang Guru yang merasa tidak perlu beriklan. Iklan, bagaimanapun baiknya, mungkin malah akan membuat diri terkesan sombong.

Sekali lagi, Yesus tidak perlu beriklan. Bagi Dia, karyalah yang utama. Yesus—Firman yang menjadi manusia itu—senantiasa bertumpu pada karya. Karya Yesus merupakan penjabaran praktis dari kata-kata-Nya. Yesus adalah pribadi yang walk the talk. Melakukan apa yang dikatakan. Dan setelah melakukan, Yesus tidak perlu lagi beriklan.

Selamat bekerja,

Yoel M. Indrasmoro
Direktur Literatur Perkantas Nasional

Posted on Tinggalkan komentar

Perjumpaan yang Memberdayakan

Perjumpaan Musa dan Yitro (Kel. 18:13-27) merupakan salah satu kisah baik mengenai ciri pemimpin berkualitas.

Photo by Stephen Leonardi on Unsplash

Pertama, terbuka. Seorang pemimpin terbuka terhadap setiap usul, saran, kritik, bahkan celaan pihak lain. Dalam kisah ini, Musa tidak serta-merta menolak usul Yitro. Namun, dia mendengarkan apa yang hendak disampaikan mertuanya.

Sikap terbuka tampak dalam kesediaan mendengarkan. Tidak sekadar mendengar (sepintas lalu), tetapi mendengarkan. Mendengarkan mengandaikan adanya keseriusan dari pihak yang mendengar.

Kedua, positif. Musa tidak memandang negatif mertuanya. Dia bersikap positif terhadap pemikiran Yitro. Agaknya, Musa menyadari bahwa setiap orang pastilah punya pengalaman. Dan pengalaman yang bersifat pribadi, yang membedakan seseorang dengan yang lain, harus dihargai. Pengalaman berbeda akan menghasilkan pendapat dan keyakinan yang berbeda pula.

Dengan kata lain, sikap positif akan membuat kita memahami bahwa setiap orang, berdasarkan pengalaman hidupnya, akan mempunyai pendapat berbeda mengenai hal yang sama. Atau, bisa saja pendapatnya sama, tetapi dengan alasan berbeda. Perbedaan alasan akan memperkuat pendapat tersebut.

Ketiga, tulus. Tulus berarti memandang orang lain tanpa prasangka. Musa meyakini bahwa Yitro tidak mungkin mencelakakan dirinya. Musa tidak berasumsi Yitro akan mengambil keuntungan dari usul tersebut. Musa memandang Yitro dengan pikiran jernih dan hati bersih. Musa yakin usul Yitro itu memang untuk kebaikan dirinya dan bangsa Israel.

Keempat, percaya. Tindakan Musa sewaktu memilih para pemimpin berlandaskan kepercayaan. Dia percaya bahwa orang-orang yang diangkatnya dapat mengerjakan tugas mereka dengan baik. Musa tidak hendak mengumpulkan kekuasaan, tetapi mau membagi-bagikan tanggung jawab dan wewenang. Dengan demikian, dia juga tidak mau membuat bangsa Israel tergantung pada dirinya seorang. Bagaimanapun, kapasitas Musa ada batasnya.

Tujuan dari semuanya ini jelas: bangsa Israel puas terlayani, Musa tidak terlalu lelah, dan banyak orang terlibat dan belajar menjadi pemimpin. Sungguh perjumpaan yang memberdayakan.

Selamat bekerja,

Yoel M. Indrasmoro
Direktur Literatur Perkantas Nasional

Posted on Tinggalkan komentar

Sungguh-sungguh Melakukan Pekerjaan yang Baik

Carlos G. Valles, dalam bukunya Courage to Be Myself, mengutip percakapan antara Buddha dengan seorang muridnya. Sang Murid bertanya kepada Buddha: ”Bagaimanakah caranya para biksu mencapai kesempurnaan?”

Sang Buddha menjawab, ”Apabila berjalan, biksu berjalan sepenuhnya; apabila berdiri, biksu berdiri sepenuhnya; apabila duduk, biksu duduk sepenuhnya; apabila telentang, biksu telentang sepenuhnya.

Apabila memandang, ia sepenuhnya memandang; apabila membentangkan tangan, ia sepenuhnya membentangkan tangan; apabila mengenakan pakaian, ia sepenuhnya mengenakan pakaian; dan begitu pula apabila makan, minum, mengunyah, mencecap, atau pun melakukan tindakan-tindakan lain, ia sepenuhnya melakukan apa yang sedang ia lakukan dengan memahami tindakannya secara sempurna.”

Inilah hidup yang serius. Dan tampaknya mudah. Makanlah bila kita makan, dan berjalanlah ketika kita berjalan.

Itukah yang kita kerjakan? Sayangnya tidak! Sering kita mengerjakan yang sebaliknya. Kita bicara saat makan, dan berpikir sewaktu berjalan. Kadang kita menjadi tersedak atau tersandung. Ketika kita melakukan suatu pekerjaan, pikiran kita sering kali tidak ada di situ. Bahayanya lagi, saat bicara, otak kita memikirkan topik lain.

Mungkin ini sebuah contoh yang bagus, masih terdapat dalam buku Valles tadi. Konon seorang penumpang duduk di taksi, tetapi duduknya hanya mengambang, di pinggir kursi, tanpa membiarkan seluruh bobot badannya terbebankan di kursi. Mengapa? Ia yakin dengan duduk begitu bayaran taksinya akan lebih murah sedikit!

Ia tidak menyadari bahwa spedometer berjalan sama saja saat ia duduk begini atau duduk begitu. Sesungguhnya ia sedang menyiksa dirinya sendiri.

Mungkin kita pun sering berbuat demikian. Sewaktu naik taksi, kita malah berpikir dan bersikap seakan sedang naik motor. Ketika waktunya belajar, kita malah main-main. Dan sewaktu bermain, pikiran kita malah melayang ke pelajaran kita.

Pada waktu bekerja, pikiran kita mengkhayalkan enaknya tidur siang. Pada waktu istirahat, otak kita malah stres memikirkan pekerjaan yang menumpuk.

Paulus mengingatkan kepada warga jemaat yang dipimpin oleh Titus untuk ”sungguh-sungguh berusaha melakukan pekerjaan yang baik” (Tit. 3:8). Artinya, bukan berapa banyak kerja kita, tetapi bagaimana kita mengerjakannya?

Pertanyaannya: Apakah kita telah berusaha sungguh-sungguh melakukan pekerjaan yang baik? Sekadar jalan atau rutinitas belaka?

Selamat bekerja,

Yoel M. Indrasmoro
Direktur Literatur Perkantas Nasional

Posted on Tinggalkan komentar

Kelekatan

Dia bukan orang miskin. Namun, dia merasa ada yang kurang dalam dirinya. Dia berusaha mencari tahu kekurangannya itu dengan bertanya kepada Yesus. Dengan penuh antusias dia berlari-lari untuk menemui Yesus Orang Nazaret dan bertanya:

”Guru yang baik, apa yang harus kuperbuat untuk memperoleh hidup yang kekal?” (Mrk. 10:17).

Sang Guru tidak langsung menjawab pertanyaannya. Yesus mengatakan bahwa tentunya orang itu telah mengetahui sebagian dari Sepuluh Firman. Dengan cepat dia mengatakan bahwa semuanya itu telah dilakukan sejak kecil. Akan tetapi, ini soalnya, dia tetap merasa ada yang kurang.

Sang Guru lalu meminta dia untuk menjual hartanya dan membagikannya kepada orang miskin, lalu menjadi murid-Nya. ”Mendengar perkataan itu ia menjadi kecewa, lalu pergi dengan sedih, sebab banyak hartanya” (Mrk. 10:22).

Di mana persoalannya? Tentu, bukan pada hartanya. Kekayaan itu netral. Akan tetapi, menjadi tidak netral—malah berbahaya—tatkala kekayaan itu menjadi tuan atas manusia. Tak salah menjadi kaya, tetapi menjadi masalah tatkala kekayaan itu membuat kita terikat kuat padanya. Kaum Yesuit punya istilah yang bagus: ”kelekatan”.

Kelekatan pada sesuatu bisa membuat seseorang malah menjauh dari Tuhan. Tak hanya kekayaan dan keluarga, pekerjaan atau jabatan pun bisa membuat kita tak lagi melekat kepada Tuhan. Pdt. Em. William Ho, mantan Ketua Sinode Gereja Kristus Yesus, dalam salah satu wawancara pernah berujar: ”Kursi itu dipakai untuk kerja, jangan dipegang terus.”

Jabatan kadang membuat orang begitu sibuk mempertahankannya, sehingga malah lupa alasan utama dia duduk di kursi itu: ”bekerja”. Sebab pekerjaannya ya cuma itu: bagaimana mempertahankan kursinya.

Selamat Bekerja,

Yoel M. Indrasmoro
Direktur Literatur Perkantas Nasional

Posted on Tinggalkan komentar

Hidup adalah Sebuah Pesta

Dalam buku Sekolam Bunga Teratai terdapat kisah seorang nenek, yang hanya menangis kerjanya. Dia memiliki dua anak perempuan. Yang sulung bersuamikan pedagang payung, sedangkan yang bungsu bersuamikan pedagang tepung.

Photo by Noah Näf on Unsplash

Bila langit cerah dan udara baik, Sang Nenek menangis teringat putri sulungnya, yang tidak dapat menjual payungnya. Namun, jika hujan turun, dia kembali menangis karena putri bungsunya tidak dapat menjemur tepung. Baik panas maupun hujan, Sang Nenek senantiasa menangis. Orang-orang di desanya menjulukinya ”Nenek Menangis”.

Pada suatu hari Sang Nenek berjumpa seorang biksu dan bertanya bagaimana mengatasi hal tersebut. Dengan senyum, biksu tersebut berkata, ”Nenek tidak dapat mengubah cuaca menjadi baik atau buruk. Akan tetapi, Nenek dapat mengendalikan pikiran Nenek! Jika cuaca cerah, bergembiralah untuk putri bungsumu, karena dia dapat menjemur tepungnya. Dan jika hari hujan, bergembiralah sebab putri sulungmu dapat menjual lebih banyak payung. Ini hanya masalah cara pandang!”

Ya, cuma cara pandang. Ketimbang mengeluhkan hujan deras sore hari—yang membuat kita sulit berjalan karena tanah becek; mengapa kita tidak memandang langit? Bukankah sinar bintang dan rembulan sedang menerangi jalan yang kita lalui? Cara pandang memampukan kita menjadikan hidup bagai sebuah pesta. Dan hidup memang pesta, selama kita mampu melihat seberkas sinar—alasan bersyukur—dalam muramnya kehidupan.

Juga dalam pekerjaan kita. Ketimbang mengomel karena klaim seorang klien, bersyukurlah karena kita telah ditolongnya melihat realitas kelemahan kita. Daripada menggerutu karena sikap atasan yang sering tidak sabar, bersyukurlah karena situasi itu membuat kita dapat belajar menjadi lebih sabar.

Ketimbang mengeluhkan sikap bawahan yang selalu kritis terhadap kebijakan kita, bersyukurlah kritikan tersebut menolong kita menilai kebijakan itu dari perspektif lain. Alhasil, kebijakan kita menjadi sungguh-sungguh teruji.

Semuanya itu memang dimulai dari cara pandang!

Selamat Bekerja,

Yoel M. Indrasmoro
Direktur Literatur Perkantas Nasional

Posted on Tinggalkan komentar

Panggilan Pekerjaan

Allah memanggil tiap-tiap orang untuk maksud yang telah Ia sediakan bagi mereka. Kerja merupakan sarana untuk memenuhi maksud Allah itu. Dengan demikian, pekerjaan juga sebuah panggilan.

Photo by Annie Spratt on Unsplash

Memahami kerja sebagai panggilan akan menolong kita—dengan pertolongan Allah tentunya—memperlengkapi diri kita agar mampu memenuhi panggilan-Nya. Perlengkapan itu tak hanya berwujud pengetahuan, melainkan juga keterampilan.

Menurut Peter F. Drucker, dalam buku The Daily Drucker, ”Pengetahuan tidak menghilangkan keterampilan. Sebaliknya, dengan cepat pengetahuan akan menjadi fondasi kokoh bagi keterampilan.” Hanya dengan cara itulah pengetahuan sungguh menjadi produktif.

Sebagai contoh, tentu kita sepakat bahwa editor merupakan pekerjaan intelektual. Namun, pada kenyataannya para editor biasanya menghabiskan lebih banyak waktu untuk bekerja dengan tangan ketimbang dengan otaknya.

Memang pekerjaan utamanya ialah menjadi jembatan antara penulis dan pembaca agar pembaca dapat memahami dengan tepat maksud penulis. Namun, editor yang baik pastilah tak akan membiarkan terjadinya kesalahan ejaan dan tanda baca yang akan membuat pembaca menjadi sesat pikir.

Dia harus berupaya dengan keras untuk mencapai nihil obstat ”tanpa kesalahan”. Ketertiban berbahasa merupakan buah dari pelatihan bertahun-tahun. Jelaslah, karya editorial sendiri merupakan hasil pekerjaan intelektual sekaligus manual.

Oleh karena itu, pentinglah bagi setiap pekerja intelektual untuk berusaha mengembangkan dirinya dalam keterampilan demi menghasilkan pekerjaan berkualitas.

Kualitas menjadi penting karena itulah kebutuhan utama manusia. Kualitas itu laksana rasa asin dalam sebutir garam. Ya, apalah artinya garam jika telah kehilangan asinnya? Masih layakkah disebut garam?

Dengan kata lain, gelar memang penting. Namun, apalah artinya gelar tanpa keterampilan yang membuktikan bahwa kita layak mengenakan gelar tersebut! Hanya dengan cara itulah kita akan dimampukan sungguh-sungguh menggarami dan menerangi dunia di mana Tuhan menempatkan kita!

Selamat bekerja,

Yoel M. Indrasmoro
Direktur Literatur Perkantas Nasional

Posted on Tinggalkan komentar

Zakheus

Nama pemungut cukai itu Zakheus (lih. Luk. 19:1-10). Nama itu merupakan bentuk Yunani dari nama Zakkay dalam bahasa Ibrani, yang berarti ”bersih, tidak bersalah”. Dan orang yang namanya berarti ”bersih, tidak bersalah” itu berprofesi sebagai pemungut cukai.

Photo by Kai Dörner on Unsplash

Pemungut cukai adalah petugas lembaga fiskal Romawi. Tugas itu dipercayakan kepada orang yang mampu menawarkan paling banyak uang kepada pemerintah penjajah. Pada akhirnya jumlah itu pula yang harus ditagihnya dengan bermacam cara.

Seorang pemungut cukai hidup dari selisih antara jumlah yang ditetapkan penjajah dan yang ditagihnya. Artinya, jika berlaku jujur, dia tidak mendapat apa pun. Tak heran jika profesi pemungut cukai dibenci kaum nasionalis agama.

Namun, Lukas mencatat bahwa dalam diri Zakheus ada sesuatu yang baik. Ia pribadi yang bertindak dan akan melakukan segala upaya untuk mencapai kerinduannya.

Zakheus ingin tahu orang seperti apakah Yesus itu. Kabar yang masuk ke telinganya adalah Sang Guru dari Nazaret itu bukan guru sembarangan. Yesus menerima orang apa adanya. Bahkan, salah satu murid-Nya, Matius, adalah mantan pemungut cukai.

Sayang badannya pendek. Dan orang banyak yang sedang berkerumun di sekitar Yesus agaknya menghalang-halanginya. Namun, ia tak pulang ke rumah. Saking penasarannya, dia berlari dan memanjat pohon ara untuk melihat Yesus. Entah bagaimana tanggapan orang banyak melihat tindakannya itu.

Zakheus mencari Yesus. Namun, di pihak lain, Yesus pun juga mencari Zakheus. Yesuslah yang menyapanya terlebih dahulu, bahkan berkata, ”Aku harus menumpang di rumahmu.” Kegigihan Zakheus membuat dia mendapatkan lebih dari yang diharapkan.

Tindakan Sang Guru membuat iman Zakheus bertumbuh. Sang Pemungut cukai mendonasikan setengah hartanya kepada orang miskin. Ia juga berniat mengembalikan empat kali lipat kepada orang yang pernah dicuranginya. Bisa jadi Zakheus langsung jatuh miskin. Namun, tindakannya itu sungguh-sungguh mencerminkan arti namanya.

Selamat bekerja,

Yoel M. Indrasmoro
Direktur Literatur Perkantas Nasional

Posted on Tinggalkan komentar

Rahmat Allah dan Keinginan Luhur Manusia

Berkenaan dengan HUT ke-73 Proklamasi Kemerdekaan Indonesia, mari kita menyimak alinea ketiga Pembukaan UUD 1945: ”Atas berkat rahmat Allah yang Maha Kuasa dan dengan didorongkan oleh keinginan luhur, supaya berkehidupan kebangsaan yang bebas, maka rakyat Indonesia menyatakan dengan ini kemerdekaannya”.

Photo by Nick Agus Arya on Unsplash

Para pendiri bangsa percaya bahwa Indonesia berdiri di atas dasar: rahmat Allah dan keinginan luhur.

Memang itulah kenyataannya. Situasi global masa itu—yang menyebabkan kekosongan pemerintahan akibat kekalahan Jepang—memberikan peluang bagi para pendiri bangsa untuk menyatakan kemerdekaan Indonesia. Situasi global itu dipahami sebagai rahmat Allah. Bagaimanapun, sebelum kekalahan Jepang, merdeka seperti jauh panggang dari api.

Namun, rahmat Allah tak akan ada artinya tanpa keinginan luhur manusia. Keinginan luhur itulah yang menyebabkan Bung Karno dan Bung Hatta mau berkompromi dengan para pemuda yang sempat menculik mereka ke Rengasdengklok sehari sebelum proklamasi.

Keinginan luhur itu pulalah yang menyebabkan Dwitunggal Proklamator itu bersedia mengambil risiko menandatangani naskah proklamasi. Mereka berdua memiliki keinginan luhur yang jauh melampaui keinginan SARA.

Keinginan luhur semacam itu—kalau kita mau jujur mengaku—sejatinya merupakan anugerah Allah sendiri. Dan tentu saja keinginan macam beginilah yang akan dirahmati Allah.

Jika keadaan negeri kita kini tampaknya enggan berubah, mungkin dikarenakan masih banyak orang berpikir untuk kepentingannya atau golongannya sendiri.

Dan perubahan akan terjadi jika semakin banyak orang berupaya mengubah fokus dari diri sendiri kepada orang lain. Tak hanya di republik tercinta, tetapi juga di tempat kerja kita masing-masing.

Selamat Bekerja!

Yoel M. Indrasmoro
Direktur Literatur Perkantas Nasional

Posted on Tinggalkan komentar

Tola: Si Cacing Tanah

”Sesudah Abimelekh, bangkitlah Tola bin Pua bin Dodo, seorang Isakhar, untuk menyelamatkan orang Israel. Ia diam di Samir, di pegunungan Efraim dan ia memerintah sebagai hakim atas orang Israel dua puluh tiga tahun lamanya; kemudian matilah ia, lalu dikuburkan di Samir” (Hak. 10:1-2).

Photo by rawpixel on Unsplash

Mengenai Tola, tak banyak yang diceritakan penulis Kitab Hakim-hakim. Begitu singkat: hanya dua ayat. Namun, tugasnya tak bisa dibilang mudah. Dia berada dalam situasi krisis dari peralihan kekuasaan.

Abimelekh, anak Gideon, dari seorang gundik, telah mengangkat diri sendiri menjadi raja di Sikhem. Dia mengumpulkan para kriminalis dan membunuh saudara-saudaranya, anak-anak Yerubaal, 70 orang, di atas batu di Ofra (Hak. 9:4-5). Dengan tangan besi dia memerintah selama tiga tahun dan banyak membunuh rakyatnya sendiri. Akhirnya rakyat Sikhem memberontak dan Abimelekh tewas. Allah kemudian menunjuk Tola sebagai hakim yang memerintah Israel selama 23 tahun.

Keterangan singkat tentang Tola sepertinya menyiratkan gaya kepemimpinannya. Dalam bahasa Ibrani, Tola berarti cacing. Cacing dianggap hina karena bentuknya. Akan tetapi, dalam dunia pertanian, cacing berguna dalam meningkatkan kesuburan tanah. Dan kerjanya pun diam-diam, yakni di dalam tanah.

Tola tidak sepongah, seambisius, dan semiliteristik Abimelekh, tetapi dia mengemban tugas kepemimpinan dengan baik. Tak banyak yang dicatat tentang Tola—bisa jadi tak banyak hal heroik dalam kiprahnya sebagai pemimpin. Atau bisa jadi dia juga tak mau mengiklankan dirinya. Namun demikian, Alkitab mencatat bahwa dia setia menjalankan tugasnya hingga purna—sampai mati.

Kesetiaan terhadap panggilan bukan perkara mudah. Ada rupa-rupa godaan yang bisa membuat manusia pindah haluan, atau tetap dalam panggilan, tetapi dalam kadar yang berbeda. Pada titik ini kita agaknya perlu belajar dari Tola.

Selamat Bekerja!

Yoel M. Indrasmoro
Direktur Literatur Perkantas Nasional

Posted on Tinggalkan komentar

Gembalakanlah Domba-domba-Ku

”Simon, anak Yohanes, apakah engkau mengasihi Aku?” (Yoh. 21:15). Demikianlah sapaan Yesus yang bangkit kepada murid yang pernah menyangkal-Nya.

Photo by Biegun Wschodni on Unsplash

Pertanyaan itu menukik tajam, tepat sasaran, tanpa basa-basi. Yesus mempersoalkan makna terdalam sebuah hubungan: kasih. Jawaban Sang Murid sungguh radikal: ”Benar Tuhan, Engkau tahu bahwa aku mengasihi Engkau” (Yoh. 21:15).

Petrus merasa tak cukup hanya menjawab: ”Benar Tuhan.” Tidak. Dia mendasarkan jawabannya pada kemahatahuan Yesus. Dasar jawabannya tidak terletak pada ke-aku-an, tetapi pada diri Yesus sendiri. Dasar jawaban Petrus tidak terletak pada kemauan, bukan pula pada kemampuan diri, melainkan pada ketuhanan Yesus.

Bahkan ketika Sang Guru merasa perlu tiga kali mempertanyakan kasihnya, Petrus tetap pada jawabannya, sekali lagi berdasarkan kemahatahuan Yesus: ”Tuhan, Engkau tahu segala sesuatu, Engkau tahu bahwa aku mengasihi Engkau” (Yoh. 21:17).

Menurut Henri J. M. Nouwen, dalam bukunya Dalam Nama Yesus, Permenungan Tentang Kepemimpinan Kristiani, ”Pemimpin Gereja tak cukup hanya bermoral tinggi, terlatih, siap membantu sesama dan mampu menanggapi masalah-masalah hangat pada zamannya secara kreatif. Di atas semuanya itu, pemimpin kristiani adalah orang yang sungguh-sungguh mengasihi Allah.”

Dengan kata lain, lanjut Nouwen, ”Pemimpin kristiani adalah orang yang benar-benar mau tinggal di hadirat Allah dan bersekutu dengan-Nya. Sehingga, visi Allahlah, dan bukan visinya pribadi, yang menjadi dasar dan arah kepemimpinannya.”

Atas semua jawaban itu, Yesus memberi mandat: ”Gembalakanlah domba-domba-Ku.” Cuma dua kata, tetapi melegakan hati. Mandat itu berarti kepercayaan. Yesus tetap memercayainya. Dan bagi Petrus mandat itu berarti karya yang harus dilakukan tanpa syarat.

Pemimpin—juga pemimpin di tempat kerja—adalah gembala bagi orang-orang yang dibawahkan kepadanya. Dan itu hanya mungkin terjadi kala dia sungguh mengasihi Sang Gembala Sejati.

Selamat Bekerja,

Yoel M. Indrasmoro
Direktur Literatur Perkantas Nasional

Posted on Tinggalkan komentar

Musim Berganti

Kitab Keluaran dimulai dengan kisah pahit. Israel yang semula merupakan kesayangan penguasa Mesir, bahkan diberi tempat khusus di delta sungai Nil, telah menjadi bangsa yang menakutkan penguasa baru. Bagi dia kisah Yusuf, yang menyelamatkan Mesir dari bencana kelaparan, tinggal sejarah.

Photo by Chris Lawton on Unsplash

Sang Penguasa kemudian menetapkan tindakan ”bijaksana”, yang merupakan petaka bagi Israel. Dari bangsa kesayangan, Israel menjadi bangsa budak. Mereka menjalani kerja paksa mendirikan kota-kota perbekalan bagi Firaun, yakni Pitom dan Raamses. Israel hanya bisa menerima. Musim berganti. Namun, penulis mencatat, ”tetapi makin ditindas, makin bertambah banyak dan berkembang mereka, sehingga orang merasa takut kepada orang Israel itu” (Kel. 1:12).

Makin ketakutanlah penguasa baru itu. Ketakutan akan balas dendam membuatnya mengubah ”kebijaksanaan” dengan cara membunuh semua bayi laki-laki Israel yang baru lahir. Dampak musim bertambah parah. Akan tetapi, kebijakan kedua ini pun gagal. Sifra dan Pua, kedua bidan itu, ternyata lebih takut kepada Allah ketimbang penguasa Mesir. Ketakutan penguasa Mesir makin menjadi. ”Kebijaksanaannya” makin berkembang: melemparkan semua bayi laki-laki Ibrani ke sungai Nil.

Awalan Kitab Keluaran, yang berakhir dengan pembebasan Israel dari Mesir, membuktikan karya pemeliharaan Allah. Situasi dan kondisi dapat berubah dalam sekejap, tetapi kasih setia Tuhan tiada berubah. Dengan cara-Nya sendiri, Allah menyertai umat-Nya. Penyertaan Allah ini terekam juga dalam Kidung Populer Rohani Tempo Dulu: ”Tak pernah Dia janji slalu ’kan panas. Tak pernah Dia janji hanya ada hujan. Tapi Dia janjikan memberi kekuatan bila badai topan melandamu”.

Musim boleh berganti. Bisa jadi berimbas pada pekerjaan kita. Namun, penyertaan Allah tetap. Allah tidak menjanjikan kondisi kerja yang serbabaik, tapi Dia menjanjikan kekuatan. Sebab kita milik-Nya!

Selamat Bekerja,

Yoel M. Indrasmoro
Direktur Literatur Perkantas Nasional