Posted on Tinggalkan komentar

Hanya bagi Allah

Hanya Dekat Allah (5 Juli 2020)

Hanya bagi Allah

”Bukan kepada kami, ya TUHAN, bukan kepada kami, tetapi kepada nama-Mulah beri kemuliaan, oleh karena kasih-Mu, oleh karena setia-Mu!” Demikianlah penyair memulai Mazmur 115. Penyair mengajak umat untuk mengikhtiarkan hal yang sama: kemuliaan hanya bagi Allah. Alasannya: kasih dan setia Allah.

Ya, kasih dan setia Allah sesungguhnya merupakan modal hidup umat Allah. Kasih yang bukan temporer atau kadang-kadang, tetapi kasih yang ajek—tetap, teratur, dan tidak berubah. Dan ketika bangsa-bangsa lain mempertanyakan keberadaan Allah Israel, penyair menegaskan pada ayat 3: ”Allah kita di sorga; Ia melakukan apa yang dikehendaki-Nya!”

Penyair memperlihatkan bahwa Allah berdaulat. Dia melakukan apa yang dikehendaki-Nya. Dan kehendak-Nya adalah yang terbaik bagi manusia. Mungkin ini juga persoalannya, kadang sulit bagi kita untuk memercayai bahwa yang dilakukan-Nya adalah yang terbaik bagi kita.

Pada titik ini kita perlu terus belajar percaya bahwa Allah itu setia dan tetap mengasihi, juga di tengah masa pandemi ini yang sepertinya enggan berhenti.

SMaNGaT,

Yoel M. Indrasmoro
Literatur Perkantas Nasional

Foto: Tory Morrison

Bagikan:
Posted on Tinggalkan komentar

Gemetar di Hadapan TUHAN

Dalam bait terakhir Mazmur 114, sekaligus sebuah kesimpulan, penyair menulis: ”Gemetarlah, hai bumi, di hadapan TUHAN, di hadapan Allah Yakub, yang mengubah gunung batu menjadi kolam air, dan batu yang keras menjadi mata air!”

Mengapa gemetar? Sebab tidak ada yang mustahil bagi Allah. Dalam perjalanan Israel dari Mesir ke Kanaan, Allah mencukupkan kebutuhan umat pilihan-Nya akan air dengan mengeluarkan air dari bebatuan. Dan kisah pembebasan Israel dari Mesir memang sarat dengan mukjizat.

Mulai dari sepuluh tulah yang menimpa rakyat Mesir, Laut Teberau terbelah, pemberian air, manna, dan burung puyuh, kemenangan terhadap bangsa-bangsa lain, hingga sungai Yordan yang berhenti mengalir.

Namun demikian, mukjizat terbesar adalah pemilihan Allah atas Israel. Jika diperhatikan dengan cermat, pemilihan Israel sebagai umat pilihan pun sebuah mukjizat. Allah memilih sebuah bangsa yang sejatinya tak layak dipilih dan diperjuangkan. Israel bukanlah tipe bangsa setia. Kepercayaan mereka kepada Allah naik turun bak _roller coaster_.

Tak beda dengan kita sebenarnya. Tak ada alasan apa pun bagi Allah saat memilih kita menjadi umat-Nya. Semuanya hanya anugerah. Sola Gratia. Karena itu, jangan sia-siakan anugerah Allah, juga di masa pandemi ini.

SMaNGaT,

Yoel M. Indrasmoro
Literatur Perkantas Nasional

Foto: Istimewa

Bagikan:
Posted on Tinggalkan komentar

Pujian kepada Allah

Dalam Mazmur 113, setelah seruan ”haleluya”, penyair mengajak: ”Pujilah, hai hamba-hamba TUHAN, pujilah nama TUHAN! Kiranya nama TUHAN dimasyhurkan, sekarang ini dan selama-lamanya. Dari terbitnya sampai kepada terbenamnya matahari terpujilah nama TUHAN.”

Ini merupakan ajakan yang logis. Hamba niscaya memuji tuannya. Mengapa? Karena sejatinya hidup dan kehidupan seorang hamba memang ada dalam kemurahan sang tuan. Dalam budaya masa itu, hidup dan mati seorang hamba ada di tangan tuannya. Jadi, aneh rasanya jika ada hamba yang merasa lebih hebat, atau malah membenci tuannya.

Tak beda dengan umat Israel yang telah dibebaskan dari perbudakan di Mesir. Itu berarti hidup dan kehidupan Israel memang ada di tangan Allah. Apalagi, jika kita mengingat bahwa Allah yang mencukupkan kebutuhan umat dalam perjalanan dari Mesir ke Kanaan, serta menyediakan tanah bagi umat-Nya.

Itu sama halnya dengan hidup seorang Kristen. Setiap Kristen telah dibebaskan melalui kematian dan kebangkitan Yesus Kristus. Itu berarti setiap Kristen telah menjadi milik Kristus. Itu berarti, pujian kepada Allah di dalam Kristus pun merupakan keniscayaan. Tak memuji Dia, terlebih membenci Dia, sungguh tidak masuk akal.

Penyair bersaksi pada pada ayat 5-6: ”Siapakah seperti TUHAN, Allah kita, yang diam di tempat yang tinggi, yang merendahkan diri untuk melihat ke langit dan ke bumi?” Tentu jawabannya tidak ada.

Jika diterapkan dalam Perjanjian Baru, kalimatnya bisa seperti ini: ”Siapakah seperti Yesus—Allah yang menjadi manusia—yang rela menyerahkan nyawa-Nya sebagai kurban penebus dosa? Jawabannya: tentu juga tidak ada.

Sehingga tindakan memuji Allah bagi setiap Kristen merupakan hal yang wajar. Yang enggak wajar adalah ketika kita merasakannya sebagai beban. Terlebih di tengah pandemi ini.

SMaNGaT,

Yoel M. Indrasmoro
Literatur Perkantas Nasional

Foto: Guillaume de Germain

Bagikan:
Posted on Tinggalkan komentar

Ucapan Bahagia

Setelah seruan ”haleluya”, penyair memulai Mazmur 112 dengan ucapan bahagia: ”Haleluya! Berbahagialah orang yang takut akan TUHAN, yang sangat suka kepada segala perintah-Nya.” Bagi penyair, orang yang takwa sungguh akan berbahagia. Pada ayat-ayat selanjutnya penyair berupaya menjabarkan alasan ucapan bahagia itu.

Pertama, keturunannya akan diberkati. Itu berarti ingatan orang akan dirinya tak pernah putus. Sebab melihat keturunannya akan membuat orang mengingat dirinya.

Kedua, pada ayat 4 Alkitab Bahasa Indonesia Masa Kini tertera: ”Terang bersinar dalam kegelapan bagi orang jujur, bagi orang yang adil, pengasih dan penyayang.” Terang di sini di sini, bisa terang fisik, bisa pula terang batin. Itu berarti bagi orang jujur, adil, pengasih, dan penyayang tidak akan pernah ada jalan buntu dalam hidupnya. Selalu ada jalan keluar baginya.

Ketiga, pada ayat 7 penyair menyatakan: ”Ia tidak takut kepada kabar celaka, hatinya tetap, penuh kepercayaan kepada TUHAN.” Dengan kata lain, orang yang takut akan Allah tidak pernah dikuasai ketakutan karena dia telah memercayakan dirinya kepada Allah. Ia tahu bahwa Allahlah yang memegang kendali dunia ini. Dan karena itulah, Ia tidak merasa perlu takut akan kabar celaka.

Dan semuanya itu hanya mungkin terjadi bagi setiap orang yang takut akan TUHAN, yang menjalani kehendak Allah.

SMaNGaT,

Yoel M. Indrasmoro
Literatur Perkantas Nasional

Foto: Paul Green

Bagikan:
Posted on Tinggalkan komentar

Permulaan Hikmat

Penyair memulai Mazmur 111 dengan seruan: ”Haleluya! Aku mau bersyukur kepada TUHAN dengan segenap hati, dalam lingkungan orang-orang benar dan dalam jemaah.” Dalam Alkitab BIMK tertera: ”Pujilah TUHAN! Dengan segenap hati aku bersyukur kepada TUHAN di tengah himpunan umat-Nya.”

Penyair menandaskan pentingnya memuji Allah dengan segenap hati. Dengan segenap hati berarti seluruh, 100%. Itu berarti 99% bukanlah segenap hati. Sekali lagi 100%. Itu berarti 100 per 100, satu. Dengan segenap hati berarti pula tak terbagi. Dan pujian kepada Allah semestinya dengan segenap hati karena Allah itu Mahatahu. Tak ada yang tersembunyi di hadapan Allah.

Pada titik ini memuji Allah sebenarnya tindakan berbahaya. Sebab jika tidak dengan segenap hati, Allah pasti mengetahuinya. Apa enggak bunuh diri namanya jika kita memuji Allah tidak dengan segenap hati?

Selanjutnya penyair menjabarkan mengungkapkan alasan-alasan mengapa dia memuji Allah. Salah satunya adalah Mazmur 110:7 (Alkitab BIMK): ”TUHAN adil dan setia dalam segala tindakan-Nya, segala perintah-Nya dapat diandalkan.” Jelaslah kita dapat mengandalkan segala perintah Allah karena Dia adil dan setia. Kesetiaan Allah membuat kita berani mengandalkannya. Alasan-alasan penyair berikutnya, jika ditelurusi, berhulu pada hikmat.

Tak heran, jika penyair menutup mazmurnya dengan sebuah pernyataan: ”Permulaan hikmat adalah takut akan TUHAN, semua orang yang melakukannya berakal budi yang baik. Puji-pujian kepada-Nya tetap untuk selamanya.” Hikmat sangat penting dalam budaya kuno Israel. Orang bijak sesungguhnya adalah orang yang menghormati Tuhan serta hidup sesuai dengan petunjuk Tuhan.

Itu berarti pujian kepada Allah dengan segenap hati juga merupakan tindakan orang berhikmat. Karena itu, marilah kita terus memuji Allah, juga di tengah pandemi ini.

SMaNGaT,

Yoel M. Indrasmoro
Literatur Perkantas Nasional

Foto: Istimewa

Bagikan:
Posted on Tinggalkan komentar

Berhiaskan Kekudusan

Lembaga Alkitab Indonesia memberi judul ”Penobatan Raja Imam” bagi Mazmur 110. Bagi umat Kristen mazmur Daud ini mempunyai tempat khusus karena beberapa ayatnya dikutip oleh para penulis kitab Perjanjian Baru. Bahkan, Yesus Orang Nazaret sendiri mengenakannya bagi diri-Nya sendiri.

Dalam perdebatan dengan orang Farisi, Yesus mengutip Mazmur 110:1: “Jika demikian, bagaimanakah Daud oleh pimpinan Roh dapat menyebut Dia Tuannya, ketika ia berkata: Tuhan telah berfirman kepada Tuanku: duduklah di sebelah kanan-Ku, sampai musuh-musuh-Mu Kutaruh di bawah kaki-Mu” (Mat. 22:43-44).

Meskipun demikian, kita bisa bersepakat bahwa Daud percaya raja adalah pilihan Allah sendiri. Dan sebagai pilihan Allah, dia dikaruniai wewenang yang besar selama dia mau menggantungkan dirinya kepada Sang Raja Semesta.

Dengan kata lain, seorang raja tak perlu merasa diri lebih hebat dari Allah. Bahkan, ketika dia hidup dalam kehendak Allah, Allah sendirilah yang berperang baginya. Itu hanya mungkin terjadi tatkala raja terus mengupayakan dirinya, juga tentaranya, berhiaskan kekudusan.

Berhiaskan kekudusan merupakan prasyarat logis jika kita masih ingin berharap pada pertolongan Allah. Terlebih pada masa pandemi ini.

SMaNGaT,

Yoel M. Indrasmoro
Literatur Perkantas Nasional

Foto: Istimewa

Bagikan:
Posted on Tinggalkan komentar

Sengsara dan Miskin Aku

Dalam bait pertama Mazmur 109, Daud menulis: ”Ya Allah pujianku, janganlah berdiam diri! Sebab mulut orang fasik dan mulut penipu ternganga terhadap aku, mereka berbicara terhadap aku dengan lidah dusta; dengan kata-kata kebencian mereka menyerang aku dan memerangi aku tanpa alasan. Sebagai balasan terhadap kasihku mereka menuduh aku, sedang aku mendoakan mereka. Mereka membalas kejahatan kepadaku ganti kebaikan dan kebencian ganti kasihku.”

Daud memohon Allah tidak berdiam diri terhadap para pemfitnahnya. Mari kita simak ayat 2-3 dalam Alkitab BIMK: ”Sebab aku diserang penjahat dan penipu yang menyebarkan cerita-cerita bohong tentang aku. Mereka menyerang aku dengan kata-kata penuh kebencian, dan memerangi aku tanpa alasan.”

Yang bisa kita pelajari dari mazmur ini adalah Daud menyerahkan persoalannya kepada Allah. Dia tidak mengambil tindakan apa pun terhadap orang tersebut. Perhatikan pernyataan Daud pada ayat 16: ”Sebab aku miskin dan sengsara, dan hatiku terluka sampai dalam.” Yang dimaksud dengan ”miskin” di sini adalah menggantungkan diri sepenuhnya kepada Allah.

Sikap ini menjadi penting karena kadang kita lebih suka bertindak sendiri. Misalnya, dengan gantian menyebarkan hoaks tentang orang itu. Tujuannya agar dia merasakan pula apa yang kita rasakan. Kalau sudah begini, kita telah main hakim sendiri.

Dalam masa pandemi ini, gesekan di antara anggota keluarga, gereja, komunitas, juga antarkaryawan mudah terjadi. Untuk itu marilah kita curhat kepada Allah!

SMaNGaT,

Yoel M. Indrasmoro
Literatur Perkantas Nasional

 

Foto: Istimewa

Bagikan:
Posted on Tinggalkan komentar

Membangunkan Fajar

Daud memulai Mazmur 108 dengan pernyataan: ”Hatiku siap, ya Allah, aku mau menyanyi, aku mau bermazmur. Bangunlah, hai jiwaku, bangunlah, hai gambus dan kecapi, aku mau membangunkan fajar.”

Ya, membangunkan fajar. Dengan gaya puitis ini Daud hendak mengatakan bahwa dia akan memulai harinya sedini mungkin atau menaikkan pujian di ambang fajar. Ini berarti masalah prioritas. Daud ingin menjadikan pujian kepada Allah sebagai prioritas dalam keseharian hidupnya. Mengapa?

Pertama, Allah adalah causa prima, penyebab utama. Kita bisa bangun dari tidur karena Allah sendiri yang menyebabkannya. Sehingga wajarlah Daud menjadikan pujian kepada Allah sebagai prioritas.

Kedua, pujian kepada Allah akan membuat hati kita merasa damai dan tentram. Kedamaian itu bisa menjadi modal terbaik kita dalam mengisi hari itu. Kita tidak menjadi grasah-grusuh. Pujian kepada Allah bisa kita jadikan fondasi kuat bagi kita untuk membangun kisah diri hari itu.

Ketiga, usul saya, Anda sendiri yang menambahkannya, terutama di kala pandemi ini.

SMaNGaT,

Yoel M. Indrasmoro
Literatur Perkantas Nasional

Foto: James Pritchett

Bagikan:
Posted on Tinggalkan komentar

Sebab Ia Baik

Dalam bait pertama Mazmur 107, pemazmur menulis: ”Bersyukurlah kepada TUHAN, sebab Ia baik! Bahwasanya untuk selama-lamanya kasih setia-Nya. Biarlah itu dikatakan orang-orang yang ditebus TUHAN, yang ditebus-Nya dari kuasa yang menyesakkan, yang dikumpulkan-Nya dari negeri-negeri, dari timur dan dari barat, dari utara dan dari selatan.”

Sebab Ia baik! Itulah alasan pujian kepada Allah. Kebaikan Allah itu dijabarkan dalam kalimat ”Bahwasanya untuk selama-lamanya kasih setia-Nya. Kebaikan Allah tidak bersifat temporer, tak terkandung keadaan, tetapi melampaui waktu itu sendiri.

Mungkin persoalannya memang di sini. Berbeda dengan Allah manusia dibatasi oleh waktu, dan sering kali pandangan manusia hanya berbilang tahun. Sehingga tak selalu mudah untuk manusia memahami kebaikan Allah. Kadang manusia baru bisa sungguh-sungguh menyadari kebaikan Allah dalam sebuah peristiwa ketika telah berjarak cukup lama dengan perisitiwa itu.Karena itu, pemazmur mengajak orang-orang tebusan Allah untuk memuji Allah.

Jadi, dasarnya bukan peristiwa-peristiwa sehari-hari—yang kadang membuat kita tak begitu memahami kebaikan Allah; tetapi peristiwa penebusan. Penebusan—kematian dan kebangkitan Yesus Orang Nazaret—merupakan alasan terkuat kita memuji Allah. Karena dalam penebusan itu kita menjadi milik-Nya.

Dan berkait dengan kepemilikan itu sendiri, Paulus dalam suratnya kepada jemaat di Korintus menyatakan: ”Sebab aku yakin, bahwa baik maut, maupun hidup, baik malaikat-malaikat, maupun pemerintah-pemerintah, baik yang ada sekarang, maupun yang akan datang, atau kuasa-kuasa, baik yang di atas, maupun yang di bawah, ataupun sesuatu makhluk lain, tidak akan dapat memisahkan kita dari kasih Allah, yang ada dalam Kristus Yesus, Tuhan kita” (Rm. 8:38-39).

Ya, itulah alasan utama kita terus memuji Allah, khususnya di tengah pandemi ini.

SMaNGaT,

Yoel M. Indrasmoro
Literatur Perkantas Nasional

Foto: Istimewa

Bagikan:
Posted on Tinggalkan komentar

Ketegaran Hati Israel

Sama seperti Mazmur 105, Mazmur 106 juga menuturkan kembali pengalaman Israel pada masa lampau. Bedanya, pemazmur menyoroti ketidaktaatan Israel. Pemazmur menyoroti bagaimana pasang surutnya iman Israel.

Baru saja Allah melepaskan mereka dari tanah Mesir, tempat perbudakan itu, namun tegas pemazmur pada ayat 13-15: ”Tetapi segera mereka melupakan perbuatan-perbuatan-Nya dan tidak menantikan nasihat-Nya; mereka dirangsang nafsu di padang gurun, dan mencobai Allah di padang belantara.” Meski sudah diselamatkan di Laut Teberau, mereka mulai bersungut-sungut karena ketiadaan air dan makanan.

Bahkan ketika mereka baru saja bersukacita karena Allah memberikan makanan dan minuman, mereka pun tetap bersungut-sungut. Sehingga Allah menghukum mereka dengan suatu penyakit. Pujian–sungut-sungut–pujian–sungut-sunggut. Demikianlah pola iman umat Israel, bahkan terus dibawa hingga mereka tinggal di Tanah Perjanjian.

Menariknya Allah pun tidak kapok terhadap umat-Nya. Allah memang menghukum umat-Nya, tetapi setelah itu Allah kembali menilik umat-Nya dalam kesengsaraan mereka, dan akhirnya melepaskan mereka.

Allah tampaknya tidak pernah menyerah terhadap umat-Nya. Kemurahan Allah tak pernah surut. Kasih setia Allah kekal sifatnya. Dan karena itu, pada bait terakhir pemazmur berseru: ”Terpujilah TUHAN, Allah Israel, dari selama-lamanya sampai selama-lamanya, dan biarlah seluruh umat mengatakan: ’Amin!’ Haleluya!”

Pola iman yang sama kadang juga terjadi dalam hidup kita. Memuji Allah di kala semua baik, dan mempertanyakan kebaikan Allah ketika keadaan mulai memburuk. Namun demikian, percayalah bahwa Allah tidak akan pernah menyerah. Dia akan terus mengasihi kita selama kita masih merindukan belas kasihan-Nya.

SMaNGaT,

Yoel M. Indrasmoro
Literatur Perkantas Nasional

Foto: Ahmed Hasan

Bagikan:
Posted on Tinggalkan komentar

Carilah TUHAN dan Kekuatan-Nya

Dalam Mazmur 105:4-6, pemazmur mengajak: ”Carilah TUHAN dan kekuatan-Nya, carilah wajah-Nya selalu! Ingatlah perbuatan-perbuatan ajaib yang dilakukan-Nya, mujizat-mujizat-Nya dan penghukuman-penghukuman yang diucapkan-Nya, hai anak cucu Abraham, hamba-Nya, hai anak-anak Yakub, orang-orang pilihan-Nya!”

Mencari Allah berarti memfokuskan hati dan pikiran kita kepada Allah saja. Mengapa? Sebab Dialah sumber hidup dan kehidupan kita. Sehingga memfokuskan diri kita kepada Dia akan membuat kita sungguh hidup. Sekali lagi karena Allah adalah sumber hidup.

Tampaknya, pemazmur sengaja untuk bicara soal mengandalkan kekuatan Allah. Meski percaya bahwa Allah sungguh Mahakuasa, kadang manusia masih mengandalkan kekuatannya sendiri. Mengapa? Karena memang itulah yang ada dalam kendalinya. Kekuatan Allah tentu di luar kendali manusia. Manusia sering juga malas menunggu waktu Allah. Yang akhirnya malah membuat manusia bergantung penuh pada dirinya sendiri.

Kelihatannya ada hubungan antara mengandalkan Allah dan mengingat karya Allah pada masa lampau. Dengan mengingat karya Allah dalam diri kita, kita ditolong untuk terus belajar mencari wajah-Nya selalu. Sebab waktu telah membuktikan bahwa Allah mampu dan mau menolong. Sehingga mencari wajah Allah sejatinya merupakan tindakan logis. Jika pada masa lampau Allah telah mau dan mampu menolong, kita boleh berani berharap pertolongan-Nya pada masa kini. Khususnya pada pandemi COVID-19 ini.

SMaNGaT,

Yoel M. Indrasmoro
Literatur Perkantas Nasional

Foto: Istimewa

Bagikan:
Posted on Tinggalkan komentar

Semuanya Menantikan Engkau

Dalam Mazmur 104 pemazmur berupaya menggambarkan kebesaran Allah dalam segala ciptaan-Nya. Pada ayat 25-27, pemazmur menulis: ”Lihatlah laut itu, besar dan luas wilayahnya, di situ bergerak, tidak terhitung banyaknya, binatang-binatang yang kecil dan besar. Di situ kapal-kapal berlayar dan Lewiatan yang telah Kaubentuk untuk bermain dengannya. Semuanya menantikan Engkau, supaya diberikan makanan pada waktunya.”

Bagi masyarakat Israel—juga kita pada zaman modern ini, laut merupakan misteri, yang kadang merupakan simbol dari kekacauan dan sungguh menakutkan. Namun, semua makhluk, juga Lewiatan, di dalamnya adalah ciptaan Allah belaka. Lewiatan adalah raksasa laut, yang juga merupakan simbol kekacauan dan kejahatan. Mereka semuanya takluk dan bergantung penuh kepada Allah dan menantikan makanan dari-Nya.

Pemazmur menjelaskannya dengan gaya bahasa repetisi pada ayat 28-29: ”Apabila Engkau memberikannya, mereka memungutnya; apabila Engkau membuka tanganmu, mereka kenyang oleh kebaikan. Apabila Engkau menyembunyikan wajah-Mu, mereka terkejut; apabila Engkau mengambil roh mereka, mereka mati binasa dan Kembali menjadi debu.” Tampak jelas bahwa semuanya bergantung total kepada Allah. Tanpa Allah mereka binasa.

Yang menarik disimak, pemazmur juga bicara soal pembaruan bumi pada ayat 30: ”Apabila Engkau mengirim roh-Mu, mereka tercipta, dan Engkau membaharui muka bumi.”

Jelaslah bahwa Roh Allah hadir sebagai kuasa kreatif dalam penciptaan dunia. Tak hanya itu, Roh Allah juga menginspirasi orang-orang pilihannya untuk membarui bumi. Inspirasi berasal dari bahasa Latin en + spiritus (dalam Roh). Roh Allah memampukan setiap orang untuk melakukan pembaruan di dunia milik Allah.

Marilah kita berdoa, juga di tengah pandemi ini, agar Allah terus menginspirasi kita agar tak hanya mampu beradaptasi, tetapi juga dapat menyemangati orang lain hidup dalam kenormalan baru.

SMaNGaT,

Yoel M. Indrasmoro
Literatur Perkantas Nasional

Foto: James Barr

Bagikan:
Posted on Tinggalkan komentar

Pujilah TUHAN, Hai Jiwaku

Daud memulai Mazmur 103 dengan ajakan: ”Pujilah TUHAN, hai jiwaku! Pujilah nama-Nya yang kudus, hai segenap batinku! Pujilah TUHAN, hai jiwaku, dan janganlah lupakan segala kebaikan-Nya!”

Menarik disimak, yang diajak adalah dirinya sendiri. Mengapa diri sendiri? Biasanya ajakan dari diri sendiri kepada diri sendiri biasa lebih kuat dibandingkan jika orang lain yang mengajak. Bagaimanapun diri sendiri adalah pribadi yang paling dekat dengan kita dibandingkan dengan pribadi mana pun. Kita sungguh mengenal keberadaan diri kita sendiri ketimbang orang lain.

Kelihatannya Daud memahami ada kaitan antara pujian kepada Allah dengan ingatan akan kebaikan Allah. Pujian kepada Allah akan membuat kita makin menyadari siapakah sesungguhnya Allah itu. Memuji Allah niscaya membuat manusia mengingat segala kebaikan Allah. Dan kebaikan Allah itu diuraikan secara detail oleh Daud pada ayat-ayat berikutnya: mengampuni kesalahan, menyembuhkan penyakit, menebus hidup, memahkotai dengan kasih setia dan rahmat, memuaskan hasrat manusia dengan apa yang baik.

Memuji Allah akan membuat kita makin memahami sifat Allah. Dan sifat Allah—dan memang itu yang Dia dikerjakan—ditelaah lebih dalam pada ayat 9-11: ”Tidak selalu Ia menuntut, dan tidak untuk selama-lamanya Ia mendendam. Tidak dilakukan-Nya kepada kita setimpal dengan dosa kita, dan tidak dibalas-Nya kepada kita setimpal dengan kesalahan kita, tetapi setinggi langit di atas bumi, demikian besarnya kasih setia-Nya atas orang-orang yang takut akan Dia.”

Allah tidak menghardik manusia terus-menerus dan tidak selama-lamanya memarahi umat-Nya. Allah mengampuni manusia karena paham bahwa manusia memang debu yang fana sifatnya. Dan yang pasti karena Dia adalah Bapa yang kekal. Mana ada orang tua normal yang tidak sayang kepada anak-anaknya?

Memuji Allah akan menjadikan manusia semakin mengasihi Allah. Oleh karena itu, mari kita meneladan Daud dengan berseru, ”Pujilah TUHAN, hai jiwaku!”

SMaNGaT,

Yoel M. Indrasmoro
Literatur Perkantas Nasional

Foto: Grant Ritchie

Bagikan:
Posted on Tinggalkan komentar

Doa Minta Tolong

Dalam bait pertama Mazmur 102, pemazmur mengaduh: ”TUHAN, dengarkanlah doaku, dan biarlah teriakku minta tolong sampai kepada-Mu. Janganlah sembunyikan wajah-Mu terhadap aku pada hari aku tersesak. Sendengkanlah telinga-Mu kepadaku; pada hari aku berseru, segeralah menjawab aku!”

Pengaduan dan pengaduhan pemazmur bukan tanpa alasan. Pada bait kedua pemazmur berupaya menggambarkan perasaannya secara terperinci: ”Hidupku menghilang seperti asap; tulang-tulangku membara seperti api. Aku lesu seperti rumput kering, dan kehilangan nafsu makan. Aku mengerang dengan nyaring; badanku tinggal kulit pembungkus tulang. Aku seperti burung undan di padang gurun, seperti burung hantu di reruntuhan yang sepi. Aku tak bisa tidur, seperti burung yang kesepian di atap rumah. Sepanjang hari musuh menghina aku; namaku dijadikan kutuk oleh orang yang marah kepadaku. Aku makan abu seperti roti, minumanku bercampur air mata, sebab Engkau telah mengangkat dan melemparkan aku dalam kemarahan-Mu yang menyala-nyala. Hidupku berlalu seperti bayangan di waktu petang; aku menjadi layu seperti rumput” (BIMK).

Tampaknya pemazmur sedang mengalami sakit parah. Itu memang menyedihkan. Namun, yang lebih menyedihkan tatkala sakit itu menjadi bahan ejekan para musuhnya. Sudah jatuh ketimpa tangga. Pemazmur merasa dibiarkan Allah menanggung semuanya itu.

Namun, yang patut disimak, pemazmur tetap mengadu dan mengaduh kepada Allah. Karena dia percaya bahwa Allah mengetahui dan memedulikannya. Dan dasar dari pengaduan dan pengaduhan pemazmur adalah kekekalan dan kasih Allah. Pada ayat 13 pemazmur mengakui: ”Tetapi Engkau, ya TUHAN, bersemayam untuk selama-lamanya, dan nama-Mu tetap turun-temurun. Engkau sendiri akan bangun, akan menyayangi Sion, sebab sudah waktunya untuk mengasihaninya, sudah tiba saatnya.” Kekekalan dan kasih Allah meyakinkan pemazmur bahwa Yang Mahatinggi akan bertindak.

Telah tiga bulan lebih kita berada dalam wabah COVID-19. Hati, pikiran, dan tubuh kita telah penat. Namun, satu hal yang perlu disyukuri adalah kita masih bertahan hingga kini. Itu sungguh karunia Allah. Dan karena itu, marilah kita makin bersemangat untuk menyaksikan Allah memulihkan semuanya ini.

SMaNGaT,

Yoel M. Indrasmoro
Literatur Perkantas Nasional

Foto: Istimewa

 

Bagikan:
Posted on Tinggalkan komentar

Menyanyikan Kasih Setia dan Hukum

Di awal Mazmur 101, Daud berikhtiar: ”Aku hendak menyanyikan kasih setia dan hukum, aku hendak bermazmur bagi-Mu, ya TUHAN”. Pertanyaannya: apa yang dimaksud dengan ”menyanyikan kasih setia dan hukum”?

Daud memang penyair, bisa jadi dia juga gemar bernyanyi. Mungkin yang dimaksud dengan ”menyanyikan kasih setia dan hukum” adalah menjalani kasih setia dan hukum dengan senang dan bukan beban. Pertanyaan yang mungkin kita ajukan: Bagaimana caranya memandang kasih setia dan hukum sebagai sesuatu yang menyenangkan?

Agaknya kita perlu memandang diri kita sebagai orang yang telah merasakan betapa berharganya kesetiaan itu sendiri. Bayangkan apa jadinya kita ketika ibu kita menolak menyusui kita sewaktu bayi karena alasan capek? Pikirkanlah apa jadinya nasib kita saat guru kelas tak begitu sabar mengajari kita? Lalu, apa jadinya diri kita jika pemilik perusahaan memecat dengan sewenang-wenang karena tak punya lagi dana untuk menggaji kita saat pandemi ini? Semua itu tidak terjadi karena ada unsur kesetiaan. Keberadaan kita sekarang ini sedikit banyak merupakan buah kesetiaan orang lain.

Mengenai hukum, baiklah kita mengingatnya sebagai peranti yang akan membuat hidup kita lebih manusiawi. Tanpa hukum semua jadi berantakan. Misalnya: budaya antre menolong setiap orang merasakan bahwa keadilan ditegakkan. Ketika seseorang melanggarnya, orang lain yang tak suka akan melabraknya yang membuat si pelanggar malu sendiri. Kalaupun enggak ada yang menegur, percayalah bahwa nilai diri si pelanggar telah jatuh di mata orang lain. Jika memang demikian, apa gunanya melanggar aturan? Menerapkan aturan dengan semestinya akan membuat kita lebih percaya diri.

Oleh karena itu, agaknya kita perlu belajar berikhtiar seperti Daud dalam ayat 2, ”Aku hendak memperhatikan hidup yang tidak bercela: Bilakah Engkau datang kepadaku? Aku hendak hidup dalam ketulusan hatiku di dalam rumahku.” Marilah kita belajar hidup tulus, mulai dalam rumah kita sendiri, juga di tengah pandemi ini.

SMaNGaT,

Yoel M. Indrasmoro
Literatur Perkantas Nasional

Foto: Ben White

Bagikan:
Posted on Tinggalkan komentar

Mazmur Kurban Syukur

”Bersorak-soraklah bagi TUHAN, hai seluruh bumi! Beribadahlah kepada TUHAN dengan sukacita, datanglah ke hadapan-Nya dengan sorak-sorai!” Demikianlah penyair mengawali Mazmur 100, yang merupakan untuk kurban syukur.

Menarik disimak, penyair mengajak seluruh bumi untuk beribadah kepada TUHAN. Dan itu hanya mungkin terjadi jika umat Allah—yang telah merasakan penyelamatan Allah—menjadi contoh. Itu berarti juga hidup yang dijalani umat Israel—selaku umat Allah—terlalu berharga untuk dilakoni secara biasa-biasa saja. Hidup adalah ibadah. Itu berarti mereka perlu melakoni hidup itu dalam situasi dan kondisi sembah kepada Allah. Artinya: serius, tidak main-main, dan kudus!

Pemazmur memiliki alasan kuat: ”Karena TUHANlah Allah; Dialah yang menjadikan kita dan punya Dialah kita, umat-Nya dan kawanan domba gembalaan-Nya.” (Mzm. 100:3). Ya, TUHANlah Allah. Dalam kalimat ini pemazmur mengakui bahwa dia adalah ciptaan Allah.

Dalam pemahaman pemazmur, TUHAN—Yahwe—bukanlah pribadi yang gemar mencipta sesuatu lalu melupakannya. Yahwe bukanlah pencipta jam otomatis yang setelah mencipta langsung membiarkan jam itu jalan sendiri. Tidak. Yahwe tak hanya mencipta, tetapi juga memelihara ciptaannya.

Dalam Alkitab BIMK tertera: ”Ia menciptakan kita dan kita milik-Nya; kita umat-Nya, bangsa yang dipelihara-Nya.” Itu berarti umat Israel adalah ciptaan Allah. Umat Israel adalah milik Allah. Dan ini yang terpenting: umat Israel dipelihara Allah.

Karena semua alasan itulah, memuji Allah merupakan keniscayaan. Memuji Allah karena Dia memang layak dipuji dan dimuliakan. Memuji Allah karena Dia baik, kasih-Nya kekal, dan kesetiaan-Nya tak pernah putus.

Di tengah pandemi ini agaknya kita, umat percaya pada masa kini, perlu juga menguji diri: ”Benarkah kasih Allah itu kekal, tak putus dalam hidup kita?” Mungkin kita mengalami kesulitan, tetapi percayalah kita tidak sendirian. Semua orang merasakannya.

SMaNGaT,

Yoel M. Indrasmoro
Literatur Perkantas Nasional

Foto: Joshua Earle

Bagikan:
Posted on Tinggalkan komentar

TUHAN Itu Raja

Penyair memulai Mazmur 99 dengan pengakuan dan ajakan: ”TUHAN itu Raja, maka bangsa-bangsa gemetar. Ia duduk di atas kerub-kerub, maka bumi goyang. TUHAN itu maha besar di Sion, dan Ia tinggi mengatasi segala bangsa. Biarlah mereka menyanyikan syukur bagi nama-Mu yang besar dan dahsyat; Kuduslah Ia!”

Pengakuan bahwa Allah itu Raja sungguh signifikan—penting dan bermakna. Sebab ada konsekuensi logis dari pengakuan ini. Penyair menyatakan bahwa bangsa-bangsa gemetar. Gemetar di sini bukan karena Allah adalah pribadi yang sewenang-wenang, tetapi karena Dia kudus.

Kekudusan Allah niscaya membuat yang cemar sirna. Terang memang tak mungkin bersatu dengan gelap. Gelap akan serta merta hilang. Dan karena itu bangsa-bangsa pantas gemetar.

Namun demikian, kekudusan Allah semestinya tak hanya membuat gemetar, tetapi juga mendorong manusia untuk memuliakan-Nya. Mengapa? Karena di dalam kekudusan-Nya, Allah berkenan memberikan kehidupan kepada segala makhluk.

Bagaimana dengan kita? Kekudusan Allah semestinya mendorong kita untuk hidup kudus. Kerinduan hidup kudus—tentu dengan anugerah Allah—akan membuat kita layak bersimpuh di hadirat-Nya. Oleh karena itu, mari kita belajar menjaga kekudusan hidup, juga di tengah pandemi ini.

SMaNGaT,

Yoel M. Indrasmoro
Literatur Perkantas Nasional

Foto: Martin Jernberg

Bagikan:
Posted on Tinggalkan komentar

Nyanyian Baru

Penyair memulai Mazmur 98 dengan ajakan: ”Nyanyikanlah nyanyian baru bagi TUHAN, sebab Ia telah melakukan perbuatan-perbuatan yang ajaib; keselamatan telah dikerjakan kepada-Nya oleh tangan kanan-Nya, oleh lengan-Nya yang kudus.”

Mengapa perlu nyanyian baru? Tidak bisakah dengan nyanyian lama? Ini tentu bukan masalah bisa atau tidak bisa. Akan tetapi—tampaknya inilah yang dimaksud penyair—pengalaman baru sewajarnya membuat orang membuat syair baru berdasarkan renungan atas peristiwa baru itu. Pertanyaannya sekarang: Apakah memang selalu ada peristiwa baru?

Ada ungkapan dalam bahasa Tionghoa: ”Kita tidak mungkin melewati sungai yang sama untuk kedua kalinya.” Kenyataannya memang demikian. Sebab aliran sungai itu tak pernah statis, selalu berubah. Itu berarti ada yang selalu baru.

Kalau kita perhatikan perbuatan-perbuatan Allah dalam hidup kita, Allah sering kali memberi pertolongan dengan cara yang berbeda. Tema besarnya tentu sama: Allah yang menyelamatkan. Namun, Allah tak pernah kehabisan kreasi dalam menolong kita. Dan karena itu, baik pula kita menyambut ajakan penyair—terlebih saat pandemi ini—untuk menyanyikan nyanyian baru bagi Allah.

SMaNGaT,

Yoel M. Indrasmoro
Literatur Perkantas Nasional

Foto: Istimewa

Bagikan:
Posted on Tinggalkan komentar

TUHAN adalah Raja

Di awal Mazmur 93 pemazmur menyatakan: ”TUHAN adalah Raja, Ia berpakaian kemegahan, TUHAN berpakaian, berikat pinggang kekuatan. Sungguh, telah tegak dunia, tidak bergoyang; takhta-Mu tegak sejak dahulu kala, dari kekal Engkau ada.”

TUHAN adalah Raja. Itu berarti TUHAN berdaulat. Segala sesuatu ada di dalam kuasa-Nya. Sifat kekuasaan-Nya pun bukan temporer, tetapi dari kekal hingga kekal. Dialah Sang Pencipta waktu.

Itu jugalah yang digambarkan pemazmur pada ayat 3-4: ”Sungai-sungai telah mengangkat, ya TUHAN, sungai-sungai telah mengangkat suaranya, sungai-sungai mengangkat bunyi hempasannya. Dari pada suara air yang besar, dari pada pecahan ombak laut yang hebat, lebih hebat TUHAN di tempat tinggi.”

Dalam masa Perjanjian Lama, sungai dan laut merupakan simbol kuasa kekacauan. Namun, semuanya itu di bawah kendali TUHAN. Oleh karena itu, bagi pemazmur memasrahkan diri kepada TUHAN merupakan hal yang masuk akal. Juga bagi kita, manusia abad XXI, yang tengah dilanda pandemi ini.

SMaNGaT,

Yoel M. Indrasmoro
Literatur Perkantas Nasional

Foto: Istimewa

Bagikan:
Posted on Tinggalkan komentar

Adalah Baik

Mazmur 92 merupakan nyanyian untuk hari Sabat. Pemazmur memulainya dengan sebuah pernyataan: ”Adalah baik untuk menyanyikan syukur kepada TUHAN, dan untuk menyanyikan mazmur bagi nama-Mu, ya Yang Mahatinggi, untuk memberitakan kasih setia-Mu di waktu pagi dan kesetiaan-Mu di waktu malam, dengan bunyi-bunyian sepuluh tali dan dengan gambus, dengan iringan kecapi.”

Tampaknya yang dimaksud dengan ”baik” oleh pemazmur adalah tak hanya layak atau niscaya, tetapi juga berguna bagi diri manusia itu sendiri.

Bersyukur akan menolong manusia untuk tetap ingat bahwa masih ada yang bisa disyukurinya. Hidup tak cuma gelap. Ada terangnya, meski sedikit. Dan yang sedikit itu, jika disyukuri, akan membuat batin merasa nyaman.

Dalam Kidung Jemaat 439:1, Johnson Oatman menulis: ”Bila topan k’ras melanda hidupmu, bila putus asa dan letih lesu, berkat Tuhan satu-satu hitunglah, kau niscaya kagum oleh kasihNya.”

Dalam refreinnya sang penyair mengajak untuk menghitung berkat. Dan ketika dihitung, sering kali berkatnya malah lebih banyak ketimbang kesulitannya.

Lagi pula, menyanyi akan membuat manusia lebih bersemangat. Dan itulah yang penting dalam hidup, apalagi di tengah pandemi COVID-19 ini.

Sehingga akhirnya kita pun dapat berkata seperti pemazmur pada ayat 6: ”Betapa besarnya pekerjaan-pekerjaan-Mu, ya TUHAN, dan sangat dalamnya rancangan-rancangan-Mu.”

SMaNGaT,

Yoel M. Indrasmoro
Literatur Perkantas Nasional

Foto: Istimewa

Bagikan:
Posted on Tinggalkan komentar

Dalam Lindungan Allah

Pemazmur memulai Mazmur 91 dengan sebuah pernyataan: ”Orang yang duduk dalam lindungan Yang Mahatinggi dan bermalam dalam naungan Yang Mahakuasa akan berkata kepada TUHAN: ”Tempat perlindunganku dan kubu pertahananku, Allahku, yang kupercayai.’” Dalam Alkitab BIMK tertera: ”Orang yang berlindung pada Yang Mahatinggi, dan tinggal dalam naungan Yang Mahakuasa, boleh berkata kepada TUHAN, “Engkaulah pembela dan pelindungku, Allahku, pada-Mulah aku percaya.’”

Jelaslah hanya orang yang berlindung pada Allah yang bisa berkata, ”Engkaulah pembela dan pelindungku.” Sebab bagaimana mungkin seseorang bisa mengatakan Allah sebagai pelindungnya kalau dia sendiri tidak mau berlindung kepada Allah.

”Berlindung” merupakan kata kerja aktif. Kamus Besar Bahasa Indonesia mengartikan kata ”berlindung” dengan ”menempatkan diri di bawah” atau ”bersembunyi (berada) di tempat yang aman supaya terlindung”. Itu berarti juga ada perasaan diri tak aman, sehingga mengambil tindakan untuk berada di tempat yang aman supaya terlindung. Dengan demikian berlindung bisa dipahami pula sebagai tindakan iman.

Mungkin persoalannya di sini: ”Mengapa kadang kita masih takut meski kita telah menjadikan Allah sebagai tempat persembunyian?” Yang namanya rasa memang di luar kehendak kita. Tiba-tiba rasa itu menyergap hati kita.

Kalau sudah begini, mungkin kita perlu juga menyapa diri kita sendiri: ”Mengapa harus takut? Bukankah kita telah menjadikan Allah sebagai tempat perlindungan kita? Kalau masih takut juga, sebenarnya malah aneh.” Kiranya sapaan ini terus mengingatkan kita di tengah pandemi COVID-19 ini.

SMaNGaT,

Yoel M. Indrasmoro
Literatur Perkantas Nasional

Foto: Istimewa

Bagikan:
Posted on Tinggalkan komentar

Ajarlah Kami

Yang unik dari Mazmur 90 adalah catatan redaksi yang menyatakannya sebagai doa Musa. Umat Israel agaknya merasa perlu memelihara keberadaan doa ini dalam sebuah kitab. Bagaimanapun, doa Musa ini memang unik, dan karena itu menarik.

Perhatikan penggalan doanya dalam Mazmur 90:12: ”Ajarlah kami menghitung hari-hari kami sedemikian, hingga kami beroleh hati yang bijaksana.” Dalam kecerdasan dan pengalamannya selaku manusia, Musa masih ingin belajar! Dia tidak merasa perlu berhenti belajar. Bahkan keinginan belajarnya itu dijadikan doa.

Musa sadar dia tidak mengerti makna hidup. Sehingga dia meminta Allah mengajarkannya. Musa memohon karena percaya Allahlah yang punya hidup. Karena hidup itu milik Allah, dia belajar dari Allah sendiri. Musa tidak mengklaim dirinya sebagai mahatahu. Dia memosisikan diri sebagai murid yang ingin belajar. Dan dia pandai memilih guru. Dia belajar dari Sang Maha Guru, sumber hidup dan kehidupan semua makhluk.

Semuanya itu bukan tanpa tujuan. Tujuannya bukanlah pengetahuan tentang kehidupan itu sendiri. Namun, Musa ingin mendapatkan hati yang bijaksana. Pelajaran tentang hidup bukan untuk kepuasan otak, tetapi hati yang lebih bijak. Hati yang arif untuk menentukan apa boleh dan tidak boleh dilakukan manusia.

Dan semua itu hanya bisa kita dapatkan dengan cara tidak melewatkan hari begitu saja. Kita perlu melihat hari sebagai sesuatu yang berharga untuk dipelajari. Sebuah hari bukanlah sekadar nama atau sejumlah waktu, tetapi anugerah. Kita dapat belajar banyak darinya. Dengan senantiasa bertanya: apakah hikmah yang saya dapat petik hari ini sebagai modal kita dalam mengisi hari-hari mendatang.

Itu berarti kita sadar, tanpa kemarin tidak akan ada hari ini, dan tanpa hari ini tak akan ada esok. Penting bagi kita belajar dari hari ini, sebagai bekal dalam perjalanan hidup selanjutnya. Penting bagi kita belajar hari ini, agar kita mendapatkan hati yang bijaksana.

Oleh karena itu, layaklah jika di tengah pandemi COVID-19 ini kita berdoa juga: ”Ajarlah kami menghitung hari-hari kami sedemikian, hingga kami beroleh hati yang bijaksana.”

SMaNGaT,

Yoel M. Indrasmoro
Literatur Perkantas Nasional

Bagikan:
Posted on Tinggalkan komentar

Kesetiaan TUHAN kepada Daud

Untuk Mazmur 89 terdapat catatan: mazmur ini merupakan nyanyian pengajaran Etan orang Ezrahi. Dalam Alkitab hanya ada satu ayat yang menjelaskan perihal Etan. Dalam Kitab 1 Raja-raja 4:30-31, berkait dengan kebijaksanaan Salomo, tertera: ”Hikmat Salomo melebihi hikmat segala bani Timur dan melebihi segala hikmat orang Mesir. Ia lebih bijaksana dari pada semua orang, dari pada Etan, orang Ezrahi itu, dan dari pada Heman, Kalkol dan Darda, anak-anak Mahol; sebab itu ia mendapat nama di antara segala bangsa sekelilingnya.” Jelaslah Etan orang Ezrahi terkenal sebagai orang yang berhikmat. Dan mazmur ini satu-satunya karya Etan yang terdapat dalam Kitab Mazmur.

Etan memulai mazmurnya dengan pernyataan: ”Aku hendak menyanyikan kasih setia TUHAN selama-lamanya, hendak memperkenalkan kesetiaan-Mu dengan mulutku turun-temurun. Sebab kasih setia-Mu dibangun untuk selama-lamanya; kesetiaan-Mu tegak seperti langit. Engkau telah berkata: ”Telah Kuikat perjanjian dengan orang pilihan-Ku, Aku telah bersumpah kepada Daud, hamba-Ku: Untuk selama-lamanya Aku hendak menegakkan anak cucumu, dan membangun takhtamu turun-temurun.”

Bisa jadi manusia abad XXI akan menganggap bahwa mazmur ini dikarang Etan untuk mengambil hati Daud, sang penguasa Israel. Namun demikian, tampaknya Etan memahami bahwa Daud memang bukan pemimpin sembarangan, yang membuat TUHAN berkenan kepadanya.

Anak Isai itu memang tak lepas dari kesalahan. Perzinaan dengan Betsyeba pastilah menjadi buah bibir, tetapi sejarah mencatat: Daud mengakui kesalahannya dan bertobat. Mazmur 51 adalah bukti nyata pertobatan publiknya. Sejatinya pemimpin yang mengakui kesalahannya relatif langka. Dan pemimpin macam begini merupakan berkat bagi segenap rakyatnya.

Sesungguhnya pasang surut suatu bangsa ada di pundak para pemimpinnya. Dan itulah yang terjadi dengan Israel, selepas era Daud dan Salomo, Kerajaan Israel dan Yehuda makin terpuruk yang berakhir pada pembuangan. Hal itu tergambar pula pada ayat 39 dalam Alkitab BIMK: ”Tetapi sekarang Engkau marah kepada raja, Engkau membuang dan menolak orang pilihan-Mu.”

Kelihatannya para pemimpin bangsa masa kini perlu belajar dari Daud, terutama di tengah pandemi COVID-19 ini.

SMaNGaT,

Yoel M. Indrasmoro
Literatur Perkantas Nasional

Foto: Istimewa

Bagikan:
Posted on Tinggalkan komentar

Doa Pada Waktu Sakit Payah

Di akhir Mazmur 88, pemazmur mengeluh: ”Telah Kaujauhkan dari padaku sahabat dan teman, kenalan-kenalanku adalah kegelapan.” Dalam Alkitab BIMK tertera: ”Kawan-kawanku yang akrab Kaujauhkan daripadaku, tinggal kegelapan menemani aku.” Dalam pemahaman pemazmur, segala sesuatu ada dalam kuasa Allah. Sehingga saat para sahabat meninggalkan dia, itu berarti Allah mengizinkan hal itu terjadi. Dan akhirnya yang tinggal hanyalah kegelapan.

Kegelapan membuat manusia serbagamang, tak pasti, bahkan tak tahu harus berbuat apa. Sejatinya manusia memang butuh terang. Tak hanya terang fisik, tetapi juga terang batin. Mungkin itulah sebabnya bahwa ciptaan pertama Allah adalah terang. Kabarnya tunanetra pun, meski dalam keadaan tak mampu melihat secara fisik, mereka bisa melihat dengan mata batin.

Demikianlah keadaan pemazmur. Dia merasa ditinggalkan Allah dan manusia. Namun, dia tidak diam, dia mempertanyakan tindakan Allah. Perhatikan ayat 15-18: ”Mengapa, ya TUHAN, Kaubuang aku, Kausembunyikan wajah-Mu dari padaku? Aku tertindas dan menjadi inceran maut sejak kecil, aku telah menanggung kengerian dari pada-Mu, aku putus asa. Kehangatan murka-Mu menimpa aku, kedahsyatan-Mu membungkamkan aku, mengelilingi aku seperti air banjir sepanjang hari, mengepung aku serentak.”

Namun, semua itu dilakukan pemazmur bukan karena dia tidak memercayai Allah. Sedu sedannya memperlihatkan bahwa dia percaya bahwa Allah mengasihinya. Itu terlihat jelas pada awal mazmurnya: ”Ya TUHAN, Allah yang menyelamatkan aku, siang hari aku berseru-seru, pada waktu malam aku menghadap Engkau.” Dia berdoa karena percaya Allahlah penyelamatnya dan akan terus menyelamatkannya.

Bagaimana dengan kita di tengah pandemi COVID-19 ini?

SMaNGaT,

Yoel M. Indrasmoro
Literatur Perkantas Nasional

Foto: Istimewa

Bagikan:
Posted on Tinggalkan komentar

Sion: Kota Allah

Mazmur 87 merupakan nyanyian bani Korah bagi Sion. Pemazmur menyatakan pada ayat 1-3: ”Di gunung-gunung yang kudus ada kota yang dibangunkan-Nya: ’TUHAN lebih mencintai pintu-pintu gerbang Sion dari pada segala tempat kediaman Yakub. Hal-hal yang mulia dikatakan tentang engkau, ya kota Allah.’”

Sion merupakan bukit tempat Bait Allah didirikan. Dan Yerusalem berbeda dengan kota-kota Israel lainnya karena Bait Allah ada di sana. Itulah yang membedakan Yerusalem dari kota-kota lain di seluruh dunia.

Dalam Mazmur 87, pemazmur juga menyatakan bahwa Rahab, Babel, Filistea, Tirus, dan Etiopia—kota-kota yang sering dianggap sebagai musuh Israel—dilahirkan di Yerusalem. Hal itu memperlihatkan hak Allah dalam memerintah dan memelihara kota-kota di seluruh dunia.

Pujian bagi Yerusalem sesungguhnya bukanlah tanpa konsekuensi. Yerusalem dipanggil menjadi berkat bagi kota-kota lain. Namun demikian, kenyataannya memang tidak demikian. Yerusalem—mengutip syair lagu karya Pak van Dop—”tak lagi [kau] menjunjung citra sorga”. Dan karena itu, Allah menghukum dan akhirnya memulihkannya.

Bagi orang Kristen, Yerusalem menjadi berbeda karena di sanalah puncak penyelamatan Allah—melalui peristiwa kematian dan kebangkitan Yesus Orang Nazaret—berlangsung. Dalam Kitab Wahyu, Allah sendiri akan menjadikan Yerusalem baru. Dan kitalah warga kota Yerusalem baru itu.

Sebagai warga kota Yerusalem baru, panggilan kita—juga di tengah pandemi ini—tidak berubah, yaitu terus menjunjung citra surga!

SMaNGaT,

Yoel M. Indrasmoro
Literatur Perkantas Nasional

Foto: Alexis Balinoff

Bagikan:
Posted on Tinggalkan komentar

Aku Orang yang Kaukasihi

Di awal Mazmur 86, Daud berseru: ”Sendengkanlah telinga-Mu, ya TUHAN, jawablah aku, sebab sengsara dan miskin aku. Peliharalah nyawaku, sebab aku orang yang Kaukasihi, selamatkanlah hamba-Mu yang percaya kepada-Mu. Engkau adalah Allahku, kasihanilah aku, ya Tuhan, sebab kepada-Mulah aku berseru sepanjang hari. Buatlah jiwa hamba-Mu bersukacita, sebab kepada-Mulah, ya Tuhan, kuangkat jiwaku.”

Mari kita simak alasan-alasan doa Daud ini. Pertama, dia mengakui bahwa dirinya sengsara dan miskin. Dalam Alkitab BIMK tertera: ”sebab aku miskin dan lemah”. Daud mengakui bahwa dirinya sungguh tak berdaya. Dan karena itu, dia mengharapkan Allah segera menolongnya. Yang dimaksud dengan miskin di sini adalah bergantung sepenuhnya kepada Allah.

Kedua, alasan Daud meminta Allah memelihara nyawanya bukanlah karena Daud mengasihi Allah, tetapi karena Allahlah yang telah mengasihi Daud. Alasan jitu karena kasih Allah kekal sifatnya, sedangkan kasih manusia sering temporer sifatnya. Dan itulah yang dipercaya Daud. Anak Isai itu percaya bahwa Allah pasti mengasihinya.

Ketiga, Daud memohon belas kasihan Allah karena dia telah berseru sepanjang hari. Seruan Daud tak pernah putus. Itu memperlihatkan bagaimana Daud sungguh mengandalkan Allahnya.

Keempat, Daud telah mengangkat jiwanya kepada Allah. Dalam Alkitab BIMK tertera: ”sebab kepada-Mu kuarahkan hatiku. Hati atau jiwa Daud terarah kepada Allah. Hatinya terpusat kepada Allah.

Pola doa macam begini agaknya perlu kita tiru di tengah pandemi yang tampaknya enggan berakhir ini.

SMaNGaT,

Yoel M. Indrasmoro
Literatur Perkantas Nasional

Foto: Istimewa

Bagikan:
Posted on Tinggalkan komentar

Pulihkanlah Kami

Dalam bait kedua Mazmur 85, pemazmur berseru: ”Pulihkanlah kami, ya Allah penyelamat kami, dan tiadakanlah sakit hati-Mu kepada kami. Untuk selamanyakah Engkau murka atas kami dan melanjutkan murka-Mu turun-temurun? Apakah Engkau tidak mau menghidupkan kami kembali, sehingga umat-Mu bersukacita karena Engkau? Perlihatkanlah kepada kami kasih setia-Mu, ya TUHAN, dan berikanlah kepada kami keselamatan dari pada-Mu!”

Tampaknya mazmur ini ditulis sewaktu orang Israel pulang kembali ke Yehuda dari pembuangan di Babel. Kembali ke tanah air merupakan saat yang membahagiakan. Namun, itu bukan tanpa persoalan. Bagaimanapun kerajaan-kerajaan tetangga di sekitar Yehuda tak terlalu suka orang-orang buangan itu kembali membangun negerinya. Orang-orang Yehuda yang tidak ikut ke pembuangan pun bisa jadi juga merasa terusik.

Akan tetapi, yang menarik dari mazmur ini, di tengah perjuangan yang tidak mudah dalam membangun kembali Kerajaan Yehuda, ada panggilan yang harus dijawab dengan segera. Dalam ayat 9 pemazmur menulis : ”Aku mau mendengar apa yang hendak difirmankan Allah, TUHAN. Bukankah Ia hendak berbicara tentang damai kepada umat-Nya dan kepada orang-orang yang dikasihi-Nya, supaya jangan mereka kembali kepada kebodohan?” Dalam Alkitab BIMK tertera: ”Aku mau mendengar perkataan TUHAN Allah; Ia menjanjikan kesejahteraan kepada kita, umat-Nya, asal kita tidak kembali berbuat dosa.”

Jelaslah ada kaitan antara kedamaian dan tindakan yang benar. Dan panggilan umat Allah adalah menghidupkan kembali jati diri mereka selaku umat Allah. Keadilan Allah memanggil manusia untuk bertindak adil. Hanya dengan cara itulah kesejahteraan akan terwujud. Hidup benar dan adil; itu jugalah panggilan kita di tengah pandemi COVID-19 ini.

SMaNGaT,

Yoel M. Indrasmoro
Literatur Perkantas Nasional

Foto: Istimewa

Bagikan:
Posted on Tinggalkan komentar

Rindu Kediaman Allah!

”Betapa disenangi tempat kediaman-Mu, ya TUHAN semesta alam!” Demikianlah pengakuan bani Korah di awal Mazmur 84. Tak sekadar pengakuan di mulut, namun pemazmur sungguh menggandrungi rumah Allah.

Dalam konteks Israel pada masa itu Bait Allah di Yerusalem merupakan pusat peribadahan umat Israel. Itu berarti Bait Allah juga merupakan pusat jati diri bangsa Israel. Sehingga berada di Bait Allah merupakan kerinduan setiap orang Israel.

Di Bait Allah pemazmur merasa diterima karena Allah memang tidak akan menolak setiap orang yang datang kepada-Nya. Allah tidak pernah membuang manusia. Bahkan, burung pipit dan burung layang-layang pun mendapatkan tempat. Pernyataan bahwa burung layang-layang membuat sarang di mezbah merupakan sebuah kenyataan. Menurut Alkitab Edisi Studi, mungkin hawa panas dari kurban bakaran menghangatkan sarang-sarang burung.

Pemazmur pun akhirnya mengakui pada ayat 11 Alkitab BIMK: ”Lebih baik satu hari di Rumah-Mu daripada seribu hari di tempat lain. Aku memilih menjadi penjaga pintu di Rumah Allahku daripada tinggal di rumah orang jahat.” Dia lebih suka menjadi penjaga pintu Bait Allah ketimbang menjadi tamu di rumah orang jahat. Mengapa? Sebab di rumah Allah dia sungguh mendapatkan kehidupan itu sendiri.

Di tengah pandemi COVID-19 mungkin perasaan kita sama seperti pemazmur. Itu sungguh wajar. Namun—mungkin ini bisa menjadi sumber penghiburan kita juga—Paulus dalam surat kepada jemaat di Korintus mengingatkan: ”Bait Allah adalah kudus dan bait Allah itu ialah kamu” (1Kor. 3:17).

Ya, kita adalah bait Allah. Itu berarti Allah berkenan tinggal dalam diri kita. Karena itu, mari kita jaga kekudusannya!

SMaNGaT,

Yoel M. Indrasmoro
Literatur Perkantas Nasional

Foto: Istimewa

Bagikan:
Posted on Tinggalkan komentar

Janganlah Engkau Bungkam!

”Ya Allah, janganlah Engkau bungkam, janganlah berdiam diri dan janganlah berpangku tangan, ya Allah!” Demikianlah Asaf mengawali Mazmur 83. Dalam Alkitab BIMK tertera: ”Ya Allah, janganlah membisu, jangan berpangku tangan dan tinggal diam.”

Kebisuan Allah sungguh menggelisahkan. Asaf sadar, dia butuh Allah. Dia berada dalam situasi kritis dan tahu hanya Allah yang sanggup menolong. Akan tetapi, yaitu tadi, Allah tampaknya tak mau campur tangan, apa lagi turun tangan. Sekali lagi itulah yang membuat Asaf gundah.

Kebungkaman Allah sungguh sulit dipahami Asaf. Mengapa? Karena Allah sepertinya cuek meskipun para musuh-Nya ribut dan meninggikan kepala mereka. Inilah yang tidak dimengerti Asaf. Ya, mengapa Allah diam saja ketika umat Israel—kepunyaan-Nya sendiri—berada dalam bahaya.

Bisa jadi itu jugalah yang kita rasakan di tengah pandemi COVID-19 ini. Krisis ekonomi sudah makin terasa dan sedikit banyak berimbas ke dapur kita. Namun, mengapa Allah sepertinya diam saja. Mengapa Yang Mahakuasa bungkam? Mengapa Dia lebih suka berpangku tangan ketimbang turun tangan?

Kalau sudah begini, mungkin kita perlu berbisik dalam hati: ”Mengapa Allah harus bicara? Mengapa Allah tak boleh bergeming? Bukankah kebisuan Allah sejatinya memperlihatkan bahwa Dia memiliki wewenang mutlak? Dan bagian kita hanyalah belajar untuk tetap percaya bahwa kasih-Nya kepada kita tetap, tiada berubah.”

SMaNGaT,

Yoel M. Indrasmoro
Literatur Perkantas Nasional

Foto: Istimewa

Bagikan:
Posted on Tinggalkan komentar

Allah dalam Sidang Ilahi

”Allah berdiri dalam sidang ilahi, di antara para allah Ia menghakimi: ”Berapa lama lagi kamu menghakimi dengan lalim dan memihak kepada orang fasik?” Demikianlah Asaf mengawali Mazmur 82.

Mazmur 82 menggambarkan sebuah sidang di surga. Menurut catatan dalam Alkitab Edisi Studi, yang dimaksud dengan ”para allah” kemungkinan adalah para ilah yang disembah oleh bangsa-bangsa. Namun, kata Ibrani yang diterjemahkan dengan ”para allah” dapat juga berarti para malaikat Allah atau bahkan para pemimpin manusia. Di atas semua kemungkinan terjemahan itu jelaslah bahwa Allahlah penguasa segalanya. Oleh karena itu, Allah memiliki wewenang menghakimi.

Dalam penghakiman itu jelaslah bahwa Allah ada di pihak orang tertindas. Allah menegaskan pada ayat 3-4 menurut Alkitab BIMK: ”Belalah anak yatim dan orang lemah, berilah keadilan kepada orang miskin dan sengsara. Bebaskanlah orang yang lemah dan tak berdaya, luputkan mereka dari tangan orang jahat.” Allah selalu menghendaki keadilan ditegakkan—juga orang yang berkekurangan dicukupkan—di segenap tempat ciptaan-Nya.

Itu jugalah panggilan kita di tengah pandemi COVID-19 ini: keadilan ditegakkan dan yang kurang dicukupkan.

SMaNGaT,

Yoel M. Indrasmoro
Literatur Perkantas Nasional

Foto: Tim Umphreys

Bagikan:
Posted on Tinggalkan komentar

Pembaruan Perjanjian

”Bersorak-sorailah bagi Allah, kekuatan kita, bersorak-soraklah bagi Allah Yakub. Angkatlah lagu, bunyikanlah rebana, kecapi yang merdu, diiringi gambus. Tiuplah sangkakala pada bulan baru, pada bulan purnama, pada hari raya kita. Sebab hal itu adalah suatu ketetapan bagi Israel, suatu hukum dari Allah Yakub. Sebagai suatu peringatan bagi Yusuf ditetapkan-Nya hal itu, pada waktu Ia maju melawan tanah Mesir.” Demikianlah Asaf mengawali Mazmur 81.

Mazmur ini mungkin awalnya digunakan dalam perayaan bulan baru. Mengapa bulan baru perlu dirayakan? Jika itu pertanyaannya, maka jawabannya bisa juga berupa pertanyaan: Mengapa tidak merayakannya?

Perayaan bulan baru berarti kita mengakui bahwa waktu adalah anugerah Allah yang sungguh berharga. Semua yang kita lakukan hanya mungkin terjadi dalam waktu. Dan Allah sendiri memberikan kita kesempatan untuk melakukan semuanya itu dalam waktu yang merupakan karunia Allah sendiri. Dan merayakan bulan baru sejatinya juga merayakan berkat-berkat Allah yang diberikan hari demi hari.

Yang juga menarik, dalam merayakan bulan baru, umat Israel selalu diingatkan akan kegagalan mereka sebagai umat Allah. Dalam ayat 11-12, Asaf menulis: ” Akulah TUHAN, Allahmu, yang menuntun engkau keluar dari tanah Mesir: bukalah mulutmu lebar-lebar, maka Aku akan membuatnya penuh. Tetapi umat-Ku tidak mendengarkan suara-Ku, dan Israel tidak suka kepada-Ku.”

Ini tidak berarti bahwa pemazmur mengungkit-ungkit kesalahan Israel, tetapi tampaknya dia mengingatkan Israel untuk tidak mengulangi kesalahan yang sama. Memasuki bulan baru tidak berarti tanpa risiko melakukan kesalahan yang sama. Dan karena itulah, Israel diingatkan untuk tidak jatuh pada kesalahan yang sama.

Di tengah pandemi COVID-19 ini, marilah kita bersyukur karena Allah masih mengaruniakan hari kepada kita. Dan itu berarti masih ada kesempatan bagi kita untuk tidak jatuh dalam kesalahan yang sama.

SMaNGaT,

Yoel M. Indrasmoro
Literatur Perkantas Nasional

Foto: Istimewa

Bagikan:
Posted on Tinggalkan komentar

Doa untuk Keselamatan Israel

”Hai gembala Israel, pasanglah telinga, Engkau yang menggiring Yusuf sebagai kawanan domba! Ya Engkau, yang duduk di atas para kerub, tampillah bersinar di depan Efraim dan Benyamin dan Manasye! Bangkitkanlah keperkasaan-Mu dan datanglah untuk menyelamatkan kami. Ya Allah, pulihkanlah kami, buatlah wajah-Mu bersinar, maka kami akan selamat.” Demikianlah bait pertama Mazmur 80.

Dalam kesaksiannya, Asaf menyebut Allah dengan sebutan gembala Israel. Sebutan itu sepertinya disengaja. Tampaknya Asaf hendak menegaskan bahwa Allah adalah gembala Israel. Penyebutan ini sedikit banyak mengingatkan umat Isarael bahwa Allah adalah gembala mereka. Tak ada gembala yang ingin domba-domba peliharaannya binasa. Dan itulah kenyataan yang sedikit banyak menghibur umat.

Selain itu, sebutan gembala Israel agaknya juga mengingatkan Allah akan jati diri-Nya sendiri. Allah adalah Pribadi yang telah memilih Israel sebagai milik-Nya sendiri. Allah, yang telah menyelamatkan Israel dari Mesir, pasti akan terus menyelamatkan Isarel karena, sekali lagi, Dialah gembala Israel. Dan karena itu, pemulihan merupakan soal waktu. Tentu saja, selama umat Israel terus memercayakan diri mereka kepada Sang Gembala Sejati.

Sehingga mudah dipahami alasan Asaf membuat refrein ini di setiap akhir bait: ”Ya Allah, pulihkanlah kami, buatlah wajah-Mu bersinar, maka kami akan selamat.” Refrein ini bisa kita pahami juga sebagai doa. Doanya adalah agar Allah memulihkan Israel dan membuat wajah-Nya bersinar.

Dalam Alkitab BIMK tertera: ”Ya Allah, pulihkanlah kami; pandanglah kami dengan murah hati, maka kami akan selamat.” Asaf berdoa agar Allah mau memandang umat Israel dengan murah hati. Dengan kata lain, Asaf mengharapkan pandangan Allah. Asaf ingin dipandang Allah.

Pandangan Allah itulah yang akan menghibur umat, juga kita orang percaya yang tengah menghadapi pandemi COVID-19 ini. Percayalah!

SMaNGaT,

Yoel M. Indrasmoro 
Literatur Perkantas Nasional

Foto: Patrick Schneider

Bagikan:
Posted on Tinggalkan komentar

Doa Umat yang Terancam

”Ya Allah, bangsa-bangsa lain telah masuk ke dalam tanah milik-Mu, menajiskan bait kudus-Mu, membuat Yerusalem menjadi timbunan puing. Mereka memberikan mayat hamba-hamba-Mu sebagai makanan kepada burung-burung di udara, daging orang-orang yang Kaukasihi kepada binatang-binatang liar di bumi. Mereka menumpahkan darah orang-orang itu seperti air sekeliling Yerusalem, dan tidak ada yang menguburkan. Kami menjadi cela bagi tetangga-tetangga kami, menjadi olok-olok dan cemooh bagi orang-orang sekeliling kami” (Mzm. 79:1-4).

Demikianlah Asaf memulai mazmurnya. Situasinya sunggguh kritis. Dan persoalan terbesar Israel bukanlah agresi itu, tetapi kenyataan bahwa mereka menjadi bahan cemoohan bangsa-bangsa lain. Pada ayat 10 Asaf bertanya dalam mazmurnya: ”Mengapa bangsa-bangsa lain boleh berkata: ’Di mana Allah mereka?’”

Pada pemahaman masa itu setiap bangsa memiliki ilah. Sehingga bangsa yang kalah perang bisa diartikan bahwa ilahnya tak sanggup membela. Sehingga wajar jika Asaf dalam ayat 9 berseru, ”Tolonglah kami, ya Allah penyelamat kami, demi kemuliaan nama-Mu! Lepaskanlah kami dan ampunilah dosa kami oleh karena nama-Mu!” Alasan terkuat—mungkin satu-satunya alasan—Asaf meminta pertolongan Allah adalah demi kemuliaan Allah sendiri.

Di tengah pandemi COVID-19 ini entah sudah berapa lama dan berapa banyak kita berseru kepada Allah. Mungkin yang perlu kita telaah adalah alasan seruan kita itu—demi kemuliaan diri sendiri atau kemuliaan Allah semata?

SMaNGaT,

Yoel M. Indrasmoro
Literatur Perkantas Nasional

Foto: Aaron Burden

Bagikan:
Posted on Tinggalkan komentar

Pelajaran dari Sejarah

”Pasanglah telinga untuk pengajaranku, hai bangsaku, sendengkanlah telingamu kepada ucapan mulutku. Aku mau membuka mulut mengatakan amsal, aku mau mengucapkan teka-teki dari zaman purbakala. Yang telah kami dengar dan kami ketahui, dan yang diceritakan kepada kami oleh nenek moyang kami, kami tidak hendak sembunyikan kepada anak-anak mereka, tetapi kami akan ceritakan kepada angkatan yang kemudian puji-pujian kepada TUHAN dan kekuatan-Nya dan perbuatan-perbuatan ajaib yang telah dilakukan-Nya” (Mzm. 78:1-4).

Demikianlah nyanyian pengajaran Asaf. Jelas sekali dalam mazmur ini pentingnya sejarah. Bangsa Yahudi memahami pentingnya sejarah. Pemahaman itu membuat mereka tak ingin menyembunyikan sejarah Israel terhadap keturunan mereka. Betapa pun pahitnya perjalanan hidup Israel, mereka harus menceritakannya kepada anak-anak mereka, dan mendorong anak-anak mereka mengisahkannya lagi kepada generasi kemudian.

Mengapa? Salah satu sebabnya: sifat lupa yang melekat erat dalam diri manusia. Sejarah menjadi penting agar generasi berikutnya tidak mengulangi kesalahan nenek moyang mereka.

Manusia memang bukan keledai—yang konon tidak akan terperosok ke dalam lubang yang sama untuk kedua kali. Akan tetapi, entah kenapa manusia—yang bukan keledai itu—ternyata acap jatuh dalam kesalahan yang sama.

Alasan mendasar lainnya: agar keturunan mereka menaruh kepercayaan kepada Allah, tidak melupakan perbuatan-perbuatan Allah, tetapi memegang perintah-perintah-Nya. Belajar sejarah berarti merenungkan dan mensyukuri karya Allah pada masa lampau. Yang akhirnya akan membuat orang makin percaya dan mengasihi Allah.

Itu berarti, kita layak percaya, bahwa Allah—yang telah memberkati kita pada masa sebelum pandemi COVID-19—akan terus memberkati kita pada masa pagebluk ini dan melewatinya dengan baik.

SMaNGaT,

Yoel M. Indrasmoro
Literatur Perkantas Nasional

Foto: Istimewa

Bagikan:
Posted on Tinggalkan komentar

Aku Mau Berseru-seru

Asaf memulai Mazmur 77 dengan ikhtiar: ”Aku mau berseru-seru dengan nyaring kepada Allah, dengan nyaring kepada Allah, supaya Ia mendengarkan aku. Pada hari kesusahanku aku mencari Tuhan; malam-malam tanganku terulur dan tidak menjadi lesu, jiwaku enggan dihiburkan. Apabila aku mengingat Allah, maka aku mengerang, apabila aku merenung, makin lemah lesulah semangatku.”

Berseru-seru dengan nyaring memperlihatkan bahwa Asaf sungguh menyadari, Allahlah satu-satunya tempatnya bersandar. Sehingga dia terus berseru dengan suara nyaring, supaya Allah mendengarkannya.

Mungkin kita bertanya, mengapa harus berseru dengan suara nyaring? Bukankah Allah pasti mendengar? Bahkan jeritan dalam hati pun Allah mendengarnya.

Itu benar. Akan tetapi, tampaknya bagi Asaf, terus berseru dengan suara nyaring merupakan ekspresi ketergantungan total kepada Allah. Asaf insaf Allah adalah satu-satunya sumber pertolongan baginya.

Dan ketika pertolongan tak kunjung tiba, inilah yang dilakukan Asaf, ”Aku mau mengingat perbuatan-perbuatan-Mu TUHAN, mengenang keajaiban-keajaiban-Mu di zaman dahulu. Aku mau merenungkan segala yang Kaulakukan, dan memikirkan karya-karya-Mu yang hebat” (Mzm. 77:12-13, BIMK).

Mengenang karya Allah pada masa lampau merupakan cara jitu karena Allah tak berubah. Juga kasih-Nya. Kalau pertolongan-Nya belum datang-datang juga, itu cuma perkara waktu. Sebab Allah itu baik. Dan Ia senantiasa baik. Juga di tengah pandemi COVID-19 ini.

Oleh karena itu, mari kita berseru-seru!

SMaNGaT,

Yoel M. Indrasmoro
Literatur Perkantas Nasional

Foto: Istimewa

Bagikan:
Posted on Tinggalkan komentar

Hakim Segala Bangsa

Dalam Mazmur 76:9-10, Asaf menyatakan: ”Dari langit Engkau memperdengarkan keputusan-Mu; bumi takut dan tertegun, pada waktu Allah bangkit untuk memberi penghukuman, untuk menyelamatkan semua yang tertindas di bumi.” Asaf memperlihatkan bahwa Allah adalah hakim segala bangsa. Dan tugas hakim adalah menjatuhkan vonis, yang tak mungkin ditawar.

Menarik disimak, berkait dengan vonis tadi, Asaf memperlihatkan: ada yang dihukum, namun ada pula yang diselamatkan. Itu berarti Allah bukanlah Pribadi yang sewenang-wenang. Semua serbatercatat. Sehingga, tidak ada orang yang bisa berdalih. Asaf menyatakan pada ayat 11 Alkitab BIMK: ”Orang-orang yang paling buas pun memuji Engkau, dan yang masih marah memakai kain karung tanda berkabung.”

Lalu apa pula makna Mazmur 76 ini pada Hari Pentaskosta, yang kita rayakan di tengah Pandemi? Kita mesti bersyukur karena masih ada waktu untuk berbenah. Pandemi COVID-19 bisa jadi malah membuat kita tak lagi hidup seturut kehendak Allah. Mari kita instropeksi diri dan berubah, agar kita bisa bersemangat menyambut datangnya Hari Penghakiman itu.

SMaNGaT,

Yoel M. Indrasmoro
Literatur Perkantas Nasional

Foto: Istimewa

Bagikan:
Posted on Tinggalkan komentar

Persekutuan Umat Beriman

Asaf memulai Mazmur 75 dengan syukur: ”Kami bersyukur kepada-Mu ya Allah, kami bersyukur.” Bersyukur atas perbuatan-perbuatan besar Allah.

Asaf tampaknya sengaja memakai kata ganti orang pertama jamak “kami”. Itu berarti pula ada ingatan kolektif. Ini menjadi sungguh penting dan bermakna karena daya ingat manusia terbatas. Ingatan kolektif, itu juga berarti rasa syukur kolektif, akan membuat orang yang lupa karya Allah dalam dirinya menjadi ingat kembali.

Berkait pandemi COVID-19, persekutuan umat beriman menjadi sebuah kemestian. Dalam persekutuan iman kita bisa saling menguatkan dan mengingatkan bahwa Allah tak pernah meninggalkan kita. Jika Allah pernah melakukan yang baik pada masa lalu, Dia juga akan melakukan yang sama.

Sebab kita adalah umat milik-Nya, yang telah ditebus dengan darah-Nya sendiri. Percayalah!

SMaNGaT,

Yoel M. Indrasmoro
Literatur Perkantas Nasional

Foto: Istimewa

Bagikan:
Posted on Tinggalkan komentar

Mengapa, ya Allah…?

”Mengapa, ya Allah, Kaubuang kami untuk seterusnya? Mengapa menyala murka-Mu terhadap kambing domba gembalaan-Mu?” Demikianlah Asaf memulai Nyanyian Pengajarannya dalam Mazmur 74.

Mengapa? Itulah pertanyaan Asaf. Kata ”mengapa” menuntut sebuah penjelasan. Ketika kesulitan hidup tak kunjung selesai, pemazmur pun bertanya mengapa. Ya, mengapa Allah murka dengan membawa bangsa pilihan-Nya dalam kesulitan hidup? Orang Israel percaya bahwa jika mereka kalah dalam pertempuran itu berarti Allah yang mengizinkan mereka merasakan kekalahan. Dan persoalannya adalah kok, ya kalah terus!

Pada ayat 2 Asaf memohon, ”Ingatlah akan umat-Mu yang telah Kauperoleh pada zaman purbakala, yang Kautebus menjadi bangsa milik-Mu sendiri! Ingatlah akan gunung Sion yang Engkau diami.” Asaf mengingatkan Allah bahwa Israel adalah umat tebusan-Nya.

Dan Asaf juga mengingatkan Allah bahwa musuh mereka sejatinya adalah musuh Allah sendiri. ”Musuh-musuh-Mu berteriak-teriak di Rumah-Mu, dan mendirikan panji-panji kemenangan di situ. Mereka seperti penebang kayu yang mengayunkan kapaknya, untuk menebang pohon-pohon di hutan. Semua ukiran kayu mereka hancurkan dengan kapak dan palu. Mereka membakar Rumah-Mu sampai musnah; dan menajiskan tempat Engkau disembah” (Mzm. 74:4-8, BIMK). Dan karena itulah, Asaf, memohon dalam ayat 10: ” Berapa lama lagi, ya Allah, lawan itu mencela, dan musuh menista nama-Mu terus-menerus?”

Selanjutnya, dalam ayat 22, Asaf berkata, ”Bangunlah, ya Allah, lakukanlah perjuangan-Mu!” Asaf menjadikan perjuangannya sebagai perjuangan Allah. Dan karena itu adalah perjuangan Allah, maka tak salah Asaf terus memohon kepada Allah.

Bagaimana dengan kita? Jangan berjuang sendirian. Ubahlah perjuangan kita menjadi perjuangan Allah juga. Dan tetaplah berharap pada rahmat-Nya, juga di tengah pandemi COVID-19 ini.

SMaNGaT,

Yoel M. Indrasmoro
Literatur Perkantas Nasional

Foto: Istimewa

Bagikan:
Posted on Tinggalkan komentar

Aku Tetap di Dekat-Mu

”Sesungguhnya Allah itu baik bagi mereka yang tulus hatinya, bagi mereka yang bersih hatinya.” Demikianlah Asaf memulai Mazmur 73. Dia mengakui bahwa Allah itu baik bagi setiap orang yang mau menjaga hatinya. Namun, itu bukan perkara gampang, pada ayat selanjutnya Asaf mengakui: ”Tetapi aku, sedikit lagi maka kakiku terpeleset, nyaris aku tergelincir. Sebab aku cemburu kepada pembual-pembual, kalau aku melihat kemujuran orang-orang fasik.”

Mungkin inilah persoalan kita juga selaku umat Allah. Di satu sisi kita harus menjaga kekudusan diri sebagai umat Allah. Namun, di sisi lain kadang kita bingung karena orang-orang fasik tampaknya lebih menyenangkan hidupnya. Ada perasaan tak terima, mengapa Allah membiarkan orang-orang fasik melakukan kejahatannya dengan terang-terangan. Bukankah itu membuat mereka merasa benar?

Sehingga, kadang tanpa disadari kita pun mengeluh sebagaimana ayat 13-14, ”Sia-sia sama sekali aku mempertahankan hati yang bersih, dan membasuh tanganku, tanda tak bersalah. Namun sepanjang hari aku kena tulah, dan kena hukum setiap pagi.”

Namun demikian—inilah anugerah itu—nurani pemazmur terus mengoreksi dirinya. Sehingga dalam ayat 15, dia berkata, ”Seandainya aku berkata: ’Aku mau berkata-kata seperti itu,’ maka sesungguhnya aku telah berkhianat kepada angkatan anak-anakmu.” Pemazmur menyadari bahwa sesungguhnya dia adalah umat Allah. Dan umat Allah, ya harus hidup sebagai umat Allah.

Akhirnya, dalam ayat 21 BIMK, pemazmur berikhtiar: ”Ketika aku merasa kesal dan hatiku seperti tertusuk, aku bodoh dan tidak mengerti, aku seperti binatang di hadapan-Mu. Namun aku tetap di dekat-Mu, Engkau memegang tangan kananku. Kaubimbing aku dengan nasihat, dan Kauterima aku dengan kehormatan kelak.”

Pemazmur memahami bahwa dekat dengan Allah sejatinya merupakan modal terbesar dalam hidupnya. Allah lebih penting dibandingkan dengan yang lainnya. Dan pemahaman ini jugalah yang mesti kita terus kembangkan dalam pandemi COVID-19 ini.

SMaNGaT,

Yoel M. Indrasmoro
Literatur Perkantas Nasional

Foto: Istimewa

Bagikan:
Posted on Tinggalkan komentar

Doa untuk Raja

”Ya Allah, berikanlah hukum-Mu kepada raja dan keadilan-Mu kepada putera raja! Kiranya ia mengadili umat-Mu dengan keadilan dan orang-orang-Mu yang tertindas dengan hukum! Kiranya gunung-gunung membawa damai sejahtera bagi bangsa, dan bukit-bukit membawa kebenaran! Kiranya ia memberi keadilan kepada orang-orang yang tertindas dari bangsa itu, menolong orang-orang miskin, tetapi meremukkan pemeras-pemeras!”

Demikianlah bait pertama dari Mazmur 72. Menarik disimak—menurut catatan redaksi Alkitab—awalnya mazmur ini merupakan doa-doa Daud bin Isai. Namun, sepertinya redaktur mendapatkan mazmur ini dari Salomo bin Daud.

Salomo agaknya merasa perlu memasukkan doa ayahnya dalam Kitab Mazmur. Ia tahu bahwa raja bisa salah dan karena itu pentinglah bagi raja untuk menerapkan hukum Allah tak hanya bagi rakyatnya, terutama bagi dirinya sendiri. Dan raja yang hidup dalam hukum Allah niscaya akan mengadili dengan adil.

Ketika seorang pemimpin negara bertindak adil, maka rakyat akan merasakan damai sejahtera. Itu jugalah yang ditekankan Daud dalam doanya pada ayat 7: ”Kiranya keadilan berkembang dalam zamannya dan damai sejahtera berlimpah, sampai tidak ada lagi bulan!” Dalam Alkitab BIMK tertera: ”Semoga keadilan berkembang selama zamannya, dan kemakmuran berlimpah selama bulan ada.”

Jelaslah, selama keadilan diterapkan dengan baik, rasa damai—juga rasa makmur—meliputi hati rakyat. Sedikit contoh, ketika seorang pedagang berbuat curang, maka dia pasti enggak merasa damai karena takut ketahuan. Saat sungguh ketahuan, giliran si pembelilah yang tidak merasa damai karena merasa ditipu. Dan semua tanggung jawab itu ada di pundak pemimpin negara.

Karena itu—juga di tengah pandemi COVID-19 ini—kita dipanggil untuk mendoakan para pemimpin negara. Kiranya Tuhan memberi mereka hikmat untuk mengambil keputusan terbaik dan adil bagi segenap rakyat Indonesia. Mari kita bersyafaat buat para pemimpin negara kita!

SMaNGaT,

Yoel M. Indrasmoro
Literatur Perkantas Nasional

Foto: Istimewa

Bagikan:
Posted on Tinggalkan komentar

Doa Minta Perlindungan pada Masa Tua

Pemazmur memulai Mazmur 71 dengan sebuah ikhtiar: ”Pada-Mu, ya TUHAN, aku berlindung, janganlah sekali-kali aku mendapat malu.” Dalam Alkitab BIMK: ”Pada-Mu aku berlindung, ya TUHAN, jangan biarkan aku dipermalukan.” Pemazmur tak ingin dipermalukan oleh orang-orang fasik dan berharap pada keadilan Allah sendiri.

Doa macam begini bukanlah tanpa alasan. ”Sebab Engkaulah harapanku, ya Tuhan, kepercayaanku sejak masa muda, ya ALLAH” (Mzm. 71:5). Itu berarti sejak muda pemazmur telah belajar mengandalkan Allah. Bahkan pengalaman hidup pemazmur memperlihatkan betapa Allah selalu melindunginya, yang membuat dia menjadi contoh nyata bagi orang-orang sekitarnya.

Dan karena itulah, pemazmur memohon dalam ayat 9-11: ”Janganlah membuang aku pada masa tuaku, janganlah meninggalkan aku apabila kekuatanku habis. Sebab musuh-musuhku berkata-kata tentang aku, orang-orang yang mengincar nyawaku berunding bersama-sama dan berkata: ’Allah telah meninggalkan dia, kejar dan tangkaplah dia, sebab tidak ada yang melepaskan dia!’”

Agaknya pemazmur sadar, ketika muda dia masih bisa mengandalkan kekuatan ragawinya, dan sekarang dia tak bisa mengandalkannya lagi karena kekuatannya telah surut. Dia menggantungkan dirinya hanya kepada Allah saja. Allah—yang tidak pernah berubah dan tidak pernah menjadi tua—menjadi tempat perlindungan sejatinya.

Pada masa pandemi ini baiklah kita terus mengingat bahwa Allah tidak pernah meninggalkan kita baik ketika muda, apalagi ketika beranjak tua.

SMaNGaT,

Yoel M. Indrasmoro
Literatur Perkantas Nasional

Foto: Mikael Kristenson

Bagikan:
Posted on Tinggalkan komentar

Doa Minta Pertolongan

Dalam Mazmur 70:2 Daud berseru: ”Ya Allah, bersegeralah melepaskan aku, menolong aku, ya TUHAN!” Dalam mazmurnya, Daud memperlihatkan betapa dia telah payah menanggung persoalannya, sehingga dia berharap Allah bergegas menyelamatkannya.

Setiap orang tentu mempunyai daya tahan dalam menghadapi kesulitan. Namun, seiring berjalannya waktu, daya tahan pun bisa berkurang. Dan jika tidak tahan, maka daya tahan kita pun ambrol.

Tak beda dengan krisis akibat pandemi COVID-19 ini. Ketika pandemi ini menjangkiti kita di Indonesia pada akhir Maret 2020—dan kita mulai belajar dari rumah, bekerja dari rumah, dan beribadah di rumah—kita merasa mendapatkan pengalaman baru yang bisa diceritakan kepada anak dan cucu nantinya.

Akan tetapi, pandemi ternyata tak berhenti. Dan kita mulai merasakan betapa pandemi ini tak hanya mengakibatkan krisis kesehatan, tetapi juga krisis ekonomi. Pada awal pandemi kita mungkin bersemangat membeli banyak buah dan sayur—meski harganya kadang tak masuk akal—dengan menggunakan tabungan. Namun, ketika tabungan mulai menipis, dan ternyata pandemi juga belum selesai, kita pun menjadi khawatir, apalagi jika tempat kerja kita pun mulai goyah. Terus bagaimana nasib kita nantinya?

Pada titik ini, marilah kita berseru seperti Daud pada akhir mazmurnya menurut Alkitab BIMK: ”Aku ini miskin dan lemah; datanglah segera, ya Allah. Engkaulah penolong dan penyelamatku, jangan berlambat, ya TUHAN.”

SMaNGaT,

Yoel M. Indrasmoro
Literatur Perkantas Nasional

Foto: Istimewa

Bagikan:
Posted on Tinggalkan komentar

Selamatkanlah Aku

Daud mengawali Mazmur 69 dengan seruan: ”Selamatkanlah aku, ya Allah, sebab air telah naik sampai ke leherku! Aku tenggelam ke dalam rawa yang dalam, tidak ada tempat bertumpu; aku telah terperosok ke air yang dalam, gelombang pasang menghanyutkan aku. Lesu aku karena berseru-seru, kerongkonganku kering; mataku nyeri karena mengharapkan Allahku.”

Situasi—yang hendak digambarkan Daud dalam mazmur ini—sungguh kritis. Dalam budaya dan pemahaman orang-orang dalam Perjanjian Lama, tenggelam … gelombang pasang menggambarkan kesulitan yang hebat, dan banjir adalah suatu bahaya besar pada zaman purbakala dan sering menjadi lambang kekacauan dan kematian.

Kita tidak tahu apa yang sesungguhnya terjadi dalam diri Daud. Akan tetapi, Anak Isai itu mengakui bahwa dia capek teriak, kerongkongannya kering, dan matanya nyeri karena terus berjaga mengharapkan pertolongan Tuhan.

Situasi macam begini tak beda dengan pandemi yang kita alami sekarang ini. Telah dua bulan berlalu, dan tampaknya akan lama sekali usainya. Terlebih jika kita menyaksikan betapa masyarakat banyak pun agaknya tak lagi memedulikan bahaya COVID-19 ini. Orang masih berkerumun di mal, pasar, bahkan puluhan ribu kendaraan meninggalkan Jakarta untuk mudik. Bisa jadi akan timbul klaster-klaster penularan baru.

Kalau sudah begini, pertolongan Ilahi menjadi kunci! Dan bersama Daud kita kembali berseru, ”Selamatkanlah kami, ya Allah dari pagebluk ini!

SMaNGaT,

Yoel M. Indrasmoro
Literatur Perkantas Nasional

Foto: Istimewa

Bagikan:
Posted on Tinggalkan komentar

Ia Menanggung bagi Kita

Daud memulai Mazmur 68 dengan sebuah pengalaman iman: ”Allah bangkit, terseraklah musuh-musuh-Nya, orang-orang yang membenci Dia melarikan diri dari hadapan-Nya.” Daud menggambarkan Allah sebagai Pribadi yang bertindak. Ketika Allah bertindak, semua yang cemar pun lenyap. Dan Daud menegaskan pada ayat 4: ”Tetapi orang-orang benar bersukacita, mereka beria-ria di hadapan Allah, bergembira dan bersukacita.”

Yang dimaksudkan ”orang-orang benar” di sini adalah setiap orang yang berusaha hidup kudus di hadapan Allah. Memang bukan perkara mudah. Situasi dan kondisi kadang membuat manusia kompromi. Namun, ketika mereka menyadari kesalahan itu dan mau bertobat, Allah pun siap mengampuni dan menjadikannya benar.

Karena itulah, pada ayat 5 Daud mengajak umat: ”Bernyanyilah bagi Allah, mazmurkanlah nama-Nya, buatlah jalan bagi Dia yang berkendaraan melintasi awan-awan! Nama-Nya ialah TUHAN; beria-rialah di hadapan-Nya!”

Tentu ada banyak alasan untuk memuliakan Allah. Namun demikian, dalam ayat 20 Daud punya pengakuan yang lebih bersifat pribadi: ”Hari demi hari Ia menanggung bagi kita; Allah adalah keselamatan kita.” Dalam Alkitab Bahasa Indonesia Masa Kini tertera: ”Dialah Allah yang menyelamatkan kita; dari hari ke hari Ia memikul beban kita.”

Allah adalah Pribadi yang memikul beban kita—dari hari ke hari. Adakah kenyataan yang lebih menghibur kita ketimbang hal ini? Allah memikul beban kita, juga di tengah pandemi COVID-19 ini. Percayalah!

SMaNGaT,

Yoel M. Indrasmoro
Literatur Perkantas Nasional

Foto: Istimewa

Bagikan:
Posted on Tinggalkan komentar

Visi Pemazmur

Pemazmur memulai Mazmur 67 dengan harapan: ”Kiranya Allah mengasihani kita dan memberkati kita, kiranya Ia menyinari kita dengan wajah-Nya, supaya jalan-Mu dikenal di bumi, dan keselamatan-Mu di antara segala bangsa.”

Pemazmur mempunyai keinginan kuat agar Allah memberkati dirinya. Itu merupakan keinginan wajar. Lumrahlah, meminta berkat dari Sang Pencipta. Yang tak lumrah ialah ketika seseorang merasa tak perlu lagi berharap akan berkat Allah karena merasa mampu memberkati diri sendiri. Lebih tidak lumrah kala seseorang menolak berkat Allah.

Namun, pemazmur tidak meminta berkat itu untuk diri sendiri. Berkat Allah diharap bukan untuk dinikmati sendirian, tetapi agar kehendak Allah dikenal di seluruh bumi dan keselamatan yang dari Allah itu juga dirasakan semua bangsa.

Pemazmur berkerinduan kuat, agar segala bangsa, tak hanya Israel, mengenal Allah. Kerinduan yang kuat itu bisa disebut visi. Visi pemazmur—bisa kita ringkas dengan tiga kata—manusia mengenal Allah. Dan misinya ialah mewujudkan visi tersebut.

Misi umat Allah ialah memperkenalkan Allah kepada dunia. Perkara apakah orang akan menerima atau menolak Allah, sejatinya bukanlah urusan kita lagi. Namun, kita perlu berupaya menolong orang mengenal Allah dan merasakan kasih-Nya.

Dalam pembukaan katekismus Heidelberg, tersurat ”Apakah satu-satunya penghiburan Saudara, baik pada masa hidup maupun pada waktu mati? Bahwa aku, dengan tubuh dan jiwaku, baik pada masa hidup maupun pada waktu mati, bukan milikku, melainkan milik Yesus Kristus, Juruselamatku yang setia.”

Itulah makna Injil: kita adalah milik Yesus Kristus. Kepada umat milik-Nya, Yesus yang bangkit berkata: ”Damai sejahtera-Ku Kuberikan kepadamu…” (Yoh. 14:27). Damai sejahtera merupakan kebutuhan utama manusia! Persoalannya, berniatkah kita membagikannya, juga di tengah pandemi COVID-19 ini?

SMaNGaT,

Yoel M. Indrasmoro
Literatur Perkantas Nasional

Bagikan:
Posted on Tinggalkan komentar

Pergilah dan Lihatlah Pekerjaan Allah

Pandemi masih belum berakhir. Pemerintah DKI baru saja memperpanjang lagi PSBB. Rasanya kita pun sudah capek, dan mungkin, mulai bosan dengan suasana ini. Lalu, bagaimana seharusnya kita bersikap? Pada titik ini, mungkin kita bisa belajar dari Mazmur 66.

Dalam Mazmur 66:5-7, pemazmur mengajak umat: ”Pergilah dan lihatlah pekerjaan-pekerjaan Allah; Ia dahsyat dalam perbuatan-Nya terhadap manusia: Ia mengubah laut menjadi tanah kering, dan orang-orang itu berjalan kaki menyeberangi sungai. Oleh sebab itu kita bersukacita karena Dia, yang memerintah dengan perkasa untuk selama-lamanya, yang mata-Nya mengawasi bangsa-bangsa. Pemberontak-pemberontak tidak dapat meninggikan diri.”

Ketika situasi dan kondisi makin bertambah sulit, agaknya kita perlu melihat sejarah. Dan itulah yang dilakukan pemazmur. Dia mengajak melihat kembali sejarah Israel ketika Allah mengeluarkan dari Mesir dengan menyeberangi Laut Teberau dan memasuki Tanah Kanaan dengan menyeberangi Sungai Yordan. Dalam kedua peristiwa itu tampaklah betapa yang mustahil bagi manusia, sejatinya mungkin bagi Allah.

Dengan melihat sejarah, Israel bisa belajar bahwa Allah lebih berkuasa ketimbang persoalan-persoalan mereka. Bahkan, pemazmur mengajak umat Israel melihat persoalan masa kini mereka sebagai sarana Allah untuk memurnikan hidup mereka. Dalam ayat 10, pemazmur menyatakan: ”Sebab Engkau telah menguji kami, ya Allah, telah memurnikan kami, seperti orang memurnikan perak.”

Bagaimana dengan kita? Berkait dengan pandemi COVID-19 ini, marilah kita melihat pekerjaan-pekerjaan Allah di dalam hidup kita pada awal pagebluk ini! Tidak adakah yang dapat kita syukuri? Bukankah kita masih hidup hingga kini?

Dan Allah yang memberi napas hidup kepada kita pasti akan memberikan kecukupan. Sama seperti pada masa-masa sebelumnya. Percayalah!

SMaNGaT,

Yoel M. Indrasmoro
Literatur Perkantas Nasional

Bagikan:
Posted on Tinggalkan komentar

Mendengarkan Doa

Daud memulai Mazmur 65 dengan syukur: ”Bagi-Mulah puji-pujian di Sion, ya Allah; dan kepada-Mulah orang membayar nazar. Engkau yang mendengarkan doa.” Daud meyakini bahwa pujian kepada Allah memang sudah semestinya. Dan frasa yang digunakan Daud bukanlah ”mendengar doa”, tetapi ”mendengarkan doa”.

Memang ada perbedaan besar antara ”mendengar” dan ”mendengarkan”. Struktur tubuh membuat setiap manusia mampu mendengar semua suara yang tertangkap oleh daun telinga. Namun, ”mendengarkan” berarti menyendengkan telinga kepada suara yang memang ingin didengarkan. Itu butuh usaha dan konsentrasi, juga kepedulian. Dan Allah adalah Pribadi yang bersedia mendengarkan doa manusia.

Dalam lagu ”Dia”, penyair menulis demikian: ”Dia perhatikan doa anak kecil, orang berdosa maupun orang suci. Meski Dia sedih lihat hidup kami, Dia selalu ampuni.” Allah adalah Pribadi yang memperhatikan doa. Dia mendengarkan doa setiap orang, tidak tergantung situasi rohani orang tersebut. Meski sering sedih dan kecewa, kasih Allah melimpah atas setiap orang yang datang kepada-Nya dalam doa. Penyaliban Yesus menjadi simbol betapa tangan yang tersalib itu terentang dan terbuka untuk merangkul semua orang yang datang kepada-Nya.

Sekali lagi, Allah adalah Pribadi yang mendengarkan doa. Tak ada hal sepele, yang tidak perlu disampaikan kepada Allah. Persoalannya, mungkin kita sendiri kadang menyeleksi mana yang perlu disampaikan kepada Allah dan mana yang tidak.

Pada titik ini, sebenarnya kita tengah membuat batas-batas—mana wilayah kita mana wilayah Allah. Di tengah pandemi COVID-19 ini, marilah kita ingat bahwa semua wilayah kita sejatinya adalah milik Allah. Bukankah kita adalah hamba-Nya?

Jika kita merasa Allah tidak mengabulkan doa kita, sejatinya itu hanya soal waktu. Pada akhirnya kita pun akan bernyanyi, ”Semua baik, semua baik, apa yang t’lah Kauperbuat di dalam hidupku. Semua baik, sungguh teramat baik, Kaujadikan hidupku berarti.”

SMaNGaT,

Yoel M. Indrasmoro
Literatur Perkantas Nasional

Bagikan:
Posted on Tinggalkan komentar

Mengaduh

Daud memulai Mazmur 64 dengan ratapan: ”Ya Allah, dengarlah suaraku pada waktu aku mengaduh, jagalah nyawaku terhadap musuh yang dahsyat.” Daud tidak hanya mengadu, tetapi juga mengaduh. Mengaduh memperlihatkan betapa beratnya penderitaan Daud, sekaligus juga menyatakan bahwa anak Isai itu tak jaim (jaga image) di hadapan Allah.

Dalam ayat 2-3, Daud berseru, ”Sembunyikanlah aku terhadap persepakatan orang jahat, terhadap kerusuhan orang-orang yang melakukan kejahatan, yang menajamkan lidahnya seperti pedang, yang membidikkan kata yang pahit seperti panah.”

Di mata Daud tindakan para musuhnya tidak termasuk kategori perbuatan yang tidak disengaja. Tidak. Perbuatan itu sungguh direncanakan. Dan fitnahan-fitnahan mereka tajam, yang membuat banyak orang menganggapnya benar. Dan itulah yang menyesakkan hati Daud.

Dan persoalan mendasarnya adalah para musuh Daud percaya bahwa perbuatan jahat mereka tidak ada yang melihat. Itu berarti mereka tidak lagi percaya pada kemahatahuan Allah. Sehingga mereka merasa aman-aman saja. Bisa jadi mereka menganggap perbuatan mereka biasa-biasa saja. Dalam ayat 7, dengan bangganya mereka berkata, ”Kami membuat rencana yang sangat licik.” Dan karena itulah, Daud mengaduh kepada Allah.

Mungkin saja dalam masa pandemi ini kita juga menyaksikan hal yang sama. Tak sedikit orang yang memancing di air keruh atau menggunakan kesempatan dalam kesempitan. Jika demikian halnya, baik jika kita berkata kepada diri sendiri, ”Jangan ikut-ikutan!”

SMaNGaT,

Yoel M. Indrasmoro
Literatur Perkantas Nasional

Bagikan:
Posted on Tinggalkan komentar

Mencari Allah

Mazmur 63 digubah Daud ketika dia harus melarikan diri ke padang gurun Zif untuk menghindari Saul yang hendak membunuhnya. Bisa dimaklumi kalau situasi dan kondisi padang gurun mewarnai syairnya. Perhatikan, di awal syairnya Daud berseru, ”Ya Allah, Engkaulah Allahku, aku mencari Engkau, jiwaku haus kepada-Mu, tubuhku rindu kepada-Mu, seperti tanah yang kering dan tandus, tiada berair.”

Daud sadar Saul bukan tandingannya. Dia juga segan melawan mertuanya itu karena merasa tak berhak membunuh orang yang diurapi Allah. Dan karena itulah, Anak Isai itu meminta campur tangan Allah sendiri. Daud mencari Allah. Sebab dia paham hanya Allahlah yang dapat mengubah hati Saul.

Bisa jadi, dalam pelariannya, Daud terus mencari tahu mengapa Saul membencinya. Bukankah dia tak pernah merugikan sang raja? Bukankah selain menantu, dia sendiri adalah sahabat karib Yonatan anak Saul? Dan agaknya yang lebih menyesakkan, Daud merasa tak seorang pun di Israel yang punya nyali membantah raja. Pada titik inilah Daud sungguh-sungguh membutuhkan Allah bak tanah kering tiada berair. Dan karena itulah, Daud mencari Allah.

Mencari itu tak ubahnya orang yang kehilangan dompetnya. Mungkin Sahabat pernah merasakannya. Pikiran kita tertuju pada dompet tersebut dan kita merasa lalu membuat rekonstruksi kapan terakhir kali melihat dompet tersebut. Bahkan, sampai terbawa mimpi segala. Sebab ini pula pengakuan iman Daud pada ayat 4, kasih Allah lebih baik daripada hidupnya sendiri. Itu jugakah pengakuan iman kita pada masa pagebluk ini?

SMaNGaT,

Yoel M. Indrasmoro
Literatur Perkantas Nasional

Bagikan:
Posted on Tinggalkan komentar

Kedekatan dengan Allah

”Hanya dekat Allah saja aku tenang, dari pada-Nyalah keselamatanku. Hanya Dialah gunung batuku dan keselamatanku, kota bentengku, aku tidak akan goyah.” Demikianlah Daud memulai Mazmur 62, yang merupakan inspirasi kami dalam membuat rubrik ini.

Ketika rubrik ”Hanya Dekat Allah” pertama kali diluncurkan, sesungguhnya kami tak menyangka akan sampai sejauh ini. Kami berharap rubrik ini akan berhenti pada hari ke-23, saat kita mengupas Mazmur 23. Pas bukan pagebluk berhenti saat kita membahas ”Tuhan adalah Gembalaku”. Namun, apa mau dikata, hingga hari ke-61—karena pada hari ke-42 kita membahas dua mazmur—wabah belum berakhir.

Nah, bagaimana perasaan Sahabat sekarang? Jika pertanyaan yang sama diajukan kepada kami, maka harus diakui, melalui pengalaman pemazmur, kami merasa digiring untuk mempertanyakan jauh dekatnya hubungan kami dengan Allah. Dan itulah yang layak disyukuri hingga kini—ada kesempatan menilai hubungan kami dengan Allah.

Daud mengakui, kedekatan dengan Allah sajalah yang membuat dia merasa tenang. Sebab keselamatannya memang berasal dari Allah. Dan karena Allah adalah gunung batunya, maka Daud tak mungkin goyah.

Dengan kata lain, Daud hendak menyatakan bahwa bersama dengan Allah sajalah yang membuat dia merasa tenang dan tidak gentar. Sebab, sekali lagi, Allah adalah sumber selamat. Sehingga dalam ayat sembilan Daud mengajak umat Israel, ”Percayalah kepada-Nya setiap waktu, hai umat, curahkanlah isi hatimu di hadapan-Nya; Allah ialah tempat perlindungan kita.”

Sejatinya, kedekatan akan membuat seseorang percaya diri untuk curhat. Apakah itu juga pengalaman Sahabat dalam masa pandemi ini?

SMaNGaT,

Yoel M. Indrasmoro
Literatur Perkantas Nasional

Bagikan: