Pada 31 Oktober 1517 Martin Luther memaklumatkan 95 dalil yang mengkritik Gereja Katolik Roma. Di mata Luther, kebijakan menjual surat indulgensia ’penghapusan siksa’—bahkan untuk orang mati—melawan kebenaran Alkitab. Luther menegaskan bahwa keselamatan manusia hanya karena iman—sola fide, yang merupakan tanggapan dari anugerah Allah—sola gratia. Hidup hanyalah karena anugerah Allah.
Photo by James Coleman on Unsplash
Luther sendiri diilhami kala membaca surat Paulus kepada jemaat di Roma: ”Sebab di dalamnya dinyatakan pembenaran oleh Allah, yang bertolak dari iman dan memimpin kepada iman, seperti ada tertulis: ’Orang benar akan hidup oleh iman’” (Rm. 1:17). Sejatinya, Paulus pun hanya menggemakan kembali nubuat Habakuk: ”Orang yang benar itu akan hidup oleh percayanya” (Hab. 2:4).
Kisah reformasi sesungguhnya kisah baca-tulis. Seandainya Paulus tidak mengutip nubuat Habakuk dalam kitabnya—dan Luther juga tidak membacanya—mungkin jalannya kekristenan menjadi lain. Dan penemuan mesin cetak oleh Johannes Gutenberg pada 1440 memungkinkan semua tulisan bernada reformatif dicetak secara massal, sehingga gaungnya berdampak luas—semacam viral pada masa kini.
Menurut H.A. van Dop, guru liturgika saya, tanggal yang dipilih Martin Luther—31 Oktober dan sekarang dirayakan sebagai Hari Reformasi—bermakna strategis. Sebab 1 November merupakan Hari Raya Orang Kudus, yang dirayakan umat Katolik, sehingga bisa dipastikan setiap orang yang beribadah pada hari itu membaca 95 dalil Luther.
Dan bagi kami, Literatur Perkantas Nasional, 1 November juga amat bermakna. Pada 1 November 2010, berdasarkan Keputusan Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia Republik Indonesia, Divisi Literatur Perkantas Nasional disahkan menjadi PT Suluh Cendikia.
Photo by rawpixel on Unsplash
Perubahan bentuk ini dimaksudkan agar pelayanan literatur Perkantas dapat lebih diterima masyarakat luas, selain sebagai salah satu bentuk penerapan profesionalitas dalam tubuh Perkantas. Dengan demikian pada hari ini usia Literatur Perkantas Nasional—sebagai ”Sahabat Anda Bertumbuh”—genap sewindu.
Pada hemat kami, tanggal pengesahan tersebut bukan sebuah kebetulan. Kami diingatkan terus untuk melayani segenap orang kudus—semua orang yang telah dipilih Allah menjadi milik-Nya—dengan menjadi sahabat dalam pertumbuhan rohani mereka.
Karena itu, pada hari ini kami hendak bersyukur kepada Tuhan Yesus Kristus—Sang Komunikator Agung—yang telah menganggap kami layak menjadi rekan kerja-Nya melalui literasi. Juga kepada semua mitra kami—pembaca, penulis, penerjemah, percetakan, distributor, toko buku, donatur—yang telah menemani kami dalam melayankan Injil melalui media.
Doakanlah kami—dalam anugerah-Nya—agar setia menjalani panggilan sebagai ”suluh yang cendikia dan mencendikiakan”, sehingga mampu menjadi ”Sahabat Anda Bertumbuh!”
SMaNGaT,
Yoel M. Indrasmoro Direktur Literatur Perkantas Nasional
Kisah panggilan Yeremia layak direnungkan. Panggilan itu tidak berasal dari diri Yeremia sendiri. Allah memanggilnya untuk menjadi nabi-Nya. Allah yang menyapa Yeremia. Allah yang melamar Yeremia dan bukan sebaliknya.
Panggilan itu bukan tanpa alasan. Allah bersaksi: ”Sebelum Aku membentuk engkau dalam rahim ibumu, Aku telah mengenal engkau, dan sebelum engkau keluar dari kandungan, Aku telah menguduskan engkau, Aku telah menetapkan engkau menjadi nabi bagi bangsa-bangsa.” (Yer. 1:5). Allah memiliki visi. Persoalannya: relakah manusia terlibat dalam perwujudan visi-Nya?
Yeremia berasal dari keluarga imam. Agaknya dia sadar akan tuntutan yang cukup tinggi dari masyarakat terhadap kalangan rohaniawan. Dan Yeremia menyadari bahwa bekalnya belum cukup banyak. Dia mengelak: ”Ah, Tuhan ALLAH! Sesungguhnya aku tidak pandai berbicara, sebab aku ini masih muda.” (Yer. 1:6)
Yeremia sadar, menjadi nabi berarti harus berbicara atas nama Allah kepada umat! Menjadi nabi itu tidak hanya cukup pintar ngomong. Tidak. Menjadi nabi berarti harus memiliki pengetahuan yang cukup agar berita yang dibawa tidak menjadi bahan olok-olok.
Dalam bayangan Yeremia, menjadi nabi berarti harus mampu berargumentasi. Lalu, bagaimana mau berargumen jika bekal pengetahuannya tidak memadai? Yeremia merasa dia masih terlalu muda. Sedikitnya pengetahuan—karena kemudaannya itu—membuatnya gentar menerima lamaran Allah.
Akan tetapi, Tuhan tetap pada pendirian-Nya. Dia berdaulat penuh. Lagi pula, alasan Yeremia itu hanya akan membawa Yeremia bertumpu pada kekuatannya sendiri. Dan Allah tidak mau hal itu terjadi. Allah ingin Yeremia bergantung penuh kepada-Nya. Ya, bergantung penuh kepada Allah. Itulah modal utama setiap pekerja Allah!
Selamat bekerja,
Yoel M. Indrasmoro Direktur Literatur Perkantas Nasional
”Maka Yesus mengambil seorang anak kecil dan menempatkannya di tengah-tengah mereka, kemudian Ia memeluk anak itu…” (Mrk. 9:36).
Demikianlah catatan penulis Injil Markus. Tindakan itu dilakukan Yesus untuk merespons perdebatan di antara para murid mengenai siapa yang layak menjadi pemimpin di antara mereka.
Dari tindakan Yesus itu, ada tiga kata kerja yang perlu diteladani setiap pemimpin Kristen: mengambil, menempatkan, dan memeluk.
Yesus mengambil anak tersebut. Tentunya, cara pengambilannya tidak dengan paksa. Tak ada paksaan. Kemungkinan besar anak itu malah senang.
Bayangkanlah, raut wajah Yesus! Cemberutkah? Pasti tidak. Mana ada anak kecil yang suka dicemberuti? Kelihatannya, anak itu merasa diterima Yesus. Sehingga, dia tidak keberatan diajak Yesus untuk berdiri di tengah-tengah para murid.
Yesus menempatkan anak tersebut di tengah-tengah. Anak itu bukan tontonan. Bukan. Yesus menempatkan anak itu di tengah-tengah agar dia menjadi fokus perhatian. Kata dasar ”perhatian” adalah ”hati”! Artinya, anak itu menjadi fokus-kasih.
Fokus seorang pemimpin bukanlah dirinya sendiri, melainkan orang-orang yang dia pimpin. Fokus kepemimpinan tidak berpusat pada diri sendiri, tetapi orang yang dipimpinnya. Setiap bawahan sejatinya merupakan fokus-kasih para pemimpin.
Yesus memeluk anak tersebut. Kasih tak sekadar kata-kata. Perhatian tak ada manfaatnya jika tidak berbuah dalam tindakan. Kasih harus diekspresikan melalui tindakan.
Kepemimpinan-kasih merupakan sebuah konsep abstrak. Oleh karena itu, harus diwujudkan dalam tindakan. Karena, sebagaimana refrein lagu lama: ”Semua bisa bilang sayang, semua bisa bilang. Apalah artinya sayang tanpa kenyataan?”
Selamat bekerja,
Yoel M. Indrasmoro Direktur Literatur Perkantas Nasional
Multatuli pernah berkata, sering disitir Pramoedya Ananta Toer, ”Tugas manusia ialah menjadi manusia, bukan menjadi malaikat atau pun setan. ”Ya, tugas manusia memang menjadi manusia. Jika tidak menjadi manusia, maka dia tidak bisa memenuhi hakikatnya sebagai manusia. Dan selanjutnya, tentu tak layak menganggap diri manusia.
Photo by Roman Averin on Unsplash
Menjadi manusia merupakan panggilan setiap insan. Menjadi manusia berarti pula menjalani hidup sebagai hamba Allah. Allah memang tidak menuntut kita menjadi malaikat, tetapi juga tidak ingin kita menjadi setan. Dia hanya ingin kita memenuhi panggilan hidup sebagai manusia. Itulah cita-cita-Nya ketika mencipta manusia. Dan ketika manusia tak lagi menapaki hidup sebagai manusia, ia harus bertobat.
Itu jugalah yang dikumandangkan Nabi Yesaya: ”Carilah TUHAN selama Ia berkenan ditemui; berserulah kepada-Nya selama Ia dekat! Baiklah orang fasik meninggalkan jalannya, dan orang jahat meninggalkan rancangannya…” (Yes. 55: 6-7).
Pertobatan merupakan inti berita Yesaya. Berkait dengan pertobatan, kita termasuk golongan manusia berbahagia karena kita masih dikaruniai waktu. Waktu untuk berubah. Itu berarti pula waktu untuk berbuah lebih banyak. Berubah untuk berbuah.
Kita—jika dikaitkan dengan perumpamaan Yesus Orang Nazaret—bak pohon ara yang masih diberi kesempatan hidup, yang dibela oleh Sang Pengelola kebun.
”Tuan, biarkanlah dia tumbuh tahun ini lagi, aku akan mencangkul tanah sekelilingnya dan memberi pupuk kepadanya, mungkin tahun depan ia berbuah; jika tidak, tebanglah dia!” harap Sang Pengelola kepada Sang Pemilik (lih. Luk. 13:9). Namun demikian, kesempatan itu pun tidak tak terbatas.
Berbahagialah karena kita belum sampai tenggat itu! Masih ada waktu untuk berbenah. Masih ada waktu untuk memperbarui diri—menjadi manusia seturut citra Allah. Jika tidak, kita pun akan ditebang!
Selamat bekerja,
Yoel M. Indrasmoro Direktur Literatur Perkantas Nasional
”Berapa lama lagi Engkau membiarkan kami dalam kebimbangan? Jikalau
Engkau Mesias, katakanlah terus terang kepada kami.” (Yoh. 10:24).
Photo by Dominik Scythe on Unsplash
Demikianlah kegalauan orang Yahudi berkait Yesus Orang Nazaret. Mukjizat-mukjizat-Nya membuat mereka bertanya-tanya: ”Siapakah Dia sebenarnya?”
Mereka ingin Yesus bicara, tetapi Anak Daud itu tidak menggubrisnya. Bagi Yesus, apa yang dilakukan-Nya sudah jelas. Yesus ingin orang menilai diri-Nya berdasarkan apa yang dilakukan-Nya. Berkait kemesiasan-Nya, Yesus merasa tidak perlu bicara banyak.
Sang Guru menegaskan: ”Pekerjaan-pekerjaan yang Kulakukan dalam nama Bapa-Ku, itulah yang memberikan kesaksian tentang Aku…” (Yoh. 10:25).
Pekerjaan-pekerjaan yang dilakukan dalam nama Bapa itulah yang memberi kesaksian tentang diri-Nya. Pada titik ini kita perlu belajar dari Sang Guru. Apa yang kita lakukan dalam nama Tuhan itu cukup dan tak perlu masang iklan. Bahkan, tak perlu membumbui apa yang telah kita lakukan.
Kebanyakan bumbu akan membuat masakan tak lagi enak disantap. Berkait karya, kata-kata mungkin malah melemahkan karya kita. Sebaik apa pun karya, baiklah kita belajar dari Sang Guru yang merasa tidak perlu beriklan. Iklan, bagaimanapun baiknya, mungkin malah akan membuat diri terkesan sombong.
Sekali lagi, Yesus tidak perlu beriklan. Bagi Dia, karyalah yang utama. Yesus—Firman yang menjadi manusia itu—senantiasa bertumpu pada karya. Karya Yesus merupakan penjabaran praktis dari kata-kata-Nya. Yesus adalah pribadi yang walk the talk. Melakukan apa yang dikatakan. Dan setelah melakukan, Yesus tidak perlu lagi beriklan.
Selamat bekerja,
Yoel M. Indrasmoro Direktur Literatur Perkantas Nasional
Perjumpaan Musa dan Yitro (Kel. 18:13-27) merupakan salah satu kisah baik mengenai ciri pemimpin berkualitas.
Photo by Stephen Leonardi on Unsplash
Pertama, terbuka. Seorang pemimpin terbuka terhadap setiap usul, saran, kritik, bahkan celaan pihak lain. Dalam kisah ini, Musa tidak serta-merta menolak usul Yitro. Namun, dia mendengarkan apa yang hendak disampaikan mertuanya.
Sikap terbuka tampak dalam kesediaan mendengarkan. Tidak sekadar mendengar (sepintas lalu), tetapi mendengarkan. Mendengarkan mengandaikan adanya keseriusan dari pihak yang mendengar.
Kedua, positif. Musa tidak memandang negatif mertuanya. Dia bersikap positif terhadap pemikiran Yitro. Agaknya, Musa menyadari bahwa setiap orang pastilah punya pengalaman. Dan pengalaman yang bersifat pribadi, yang membedakan seseorang dengan yang lain, harus dihargai. Pengalaman berbeda akan menghasilkan pendapat dan keyakinan yang berbeda pula.
Dengan kata lain, sikap positif akan membuat kita memahami bahwa setiap orang, berdasarkan pengalaman hidupnya, akan mempunyai pendapat berbeda mengenai hal yang sama. Atau, bisa saja pendapatnya sama, tetapi dengan alasan berbeda. Perbedaan alasan akan memperkuat pendapat tersebut.
Ketiga, tulus. Tulus berarti memandang orang lain tanpa prasangka. Musa meyakini bahwa Yitro tidak mungkin mencelakakan dirinya. Musa tidak berasumsi Yitro akan mengambil keuntungan dari usul tersebut. Musa memandang Yitro dengan pikiran jernih dan hati bersih. Musa yakin usul Yitro itu memang untuk kebaikan dirinya dan bangsa Israel.
Keempat, percaya. Tindakan Musa sewaktu memilih para pemimpin berlandaskan kepercayaan. Dia percaya bahwa orang-orang yang diangkatnya dapat mengerjakan tugas mereka dengan baik. Musa tidak hendak mengumpulkan kekuasaan, tetapi mau membagi-bagikan tanggung jawab dan wewenang. Dengan demikian, dia juga tidak mau membuat bangsa Israel tergantung pada dirinya seorang. Bagaimanapun, kapasitas Musa ada batasnya.
Tujuan dari semuanya ini jelas: bangsa Israel puas terlayani, Musa tidak terlalu lelah, dan banyak orang terlibat dan belajar menjadi pemimpin. Sungguh perjumpaan yang memberdayakan.
Selamat bekerja,
Yoel M. Indrasmoro Direktur Literatur Perkantas Nasional
Carlos G. Valles, dalam bukunya Courage to Be Myself, mengutip percakapan antara Buddha dengan seorang muridnya. Sang Murid bertanya kepada Buddha: ”Bagaimanakah caranya para biksu mencapai kesempurnaan?”
Sang Buddha menjawab, ”Apabila berjalan, biksu berjalan sepenuhnya; apabila berdiri, biksu berdiri sepenuhnya; apabila duduk, biksu duduk sepenuhnya; apabila telentang, biksu telentang sepenuhnya.
Apabila memandang, ia sepenuhnya memandang; apabila membentangkan tangan, ia sepenuhnya membentangkan tangan; apabila mengenakan pakaian, ia sepenuhnya mengenakan pakaian; dan begitu pula apabila makan, minum, mengunyah, mencecap, atau pun melakukan tindakan-tindakan lain, ia sepenuhnya melakukan apa yang sedang ia lakukan dengan memahami tindakannya secara sempurna.”
Inilah hidup yang serius. Dan tampaknya mudah. Makanlah bila kita makan, dan berjalanlah ketika kita berjalan.
Itukah yang kita kerjakan? Sayangnya tidak! Sering kita mengerjakan yang sebaliknya. Kita bicara saat makan, dan berpikir sewaktu berjalan. Kadang kita menjadi tersedak atau tersandung. Ketika kita melakukan suatu pekerjaan, pikiran kita sering kali tidak ada di situ. Bahayanya lagi, saat bicara, otak kita memikirkan topik lain.
Mungkin ini sebuah contoh yang bagus, masih terdapat dalam buku Valles tadi. Konon seorang penumpang duduk di taksi, tetapi duduknya hanya mengambang, di pinggir kursi, tanpa membiarkan seluruh bobot badannya terbebankan di kursi. Mengapa? Ia yakin dengan duduk begitu bayaran taksinya akan lebih murah sedikit!
Ia tidak menyadari bahwa spedometer berjalan sama saja saat ia duduk begini atau duduk begitu. Sesungguhnya ia sedang menyiksa dirinya sendiri.
Mungkin kita pun sering berbuat demikian. Sewaktu naik taksi, kita malah berpikir dan bersikap seakan sedang naik motor. Ketika waktunya belajar, kita malah main-main. Dan sewaktu bermain, pikiran kita malah melayang ke pelajaran kita.
Pada waktu bekerja, pikiran kita mengkhayalkan enaknya tidur siang. Pada waktu istirahat, otak kita malah stres memikirkan pekerjaan yang menumpuk.
Paulus mengingatkan kepada warga jemaat yang dipimpin oleh Titus untuk ”sungguh-sungguh berusaha melakukan pekerjaan yang baik” (Tit. 3:8). Artinya, bukan berapa banyak kerja kita, tetapi bagaimana kita mengerjakannya?
Pertanyaannya: Apakah kita telah berusaha sungguh-sungguh melakukan pekerjaan yang baik? Sekadar jalan atau rutinitas belaka?
Selamat bekerja,
Yoel M. Indrasmoro Direktur Literatur Perkantas Nasional
Dia bukan orang miskin. Namun, dia merasa ada yang kurang dalam dirinya. Dia berusaha mencari tahu kekurangannya itu dengan bertanya kepada Yesus. Dengan penuh antusias dia berlari-lari untuk menemui Yesus Orang Nazaret dan bertanya:
”Guru yang baik, apa yang harus kuperbuat untuk memperoleh hidup yang kekal?” (Mrk. 10:17).
Sang Guru tidak langsung menjawab pertanyaannya. Yesus mengatakan bahwa tentunya orang itu telah mengetahui sebagian dari Sepuluh Firman. Dengan cepat dia mengatakan bahwa semuanya itu telah dilakukan sejak kecil. Akan tetapi, ini soalnya, dia tetap merasa ada yang kurang.
Sang Guru lalu meminta dia untuk menjual hartanya dan membagikannya kepada orang miskin, lalu menjadi murid-Nya. ”Mendengar perkataan itu ia menjadi kecewa, lalu pergi dengan sedih, sebab banyak hartanya” (Mrk. 10:22).
Di mana persoalannya? Tentu, bukan pada hartanya. Kekayaan itu netral. Akan tetapi, menjadi tidak netral—malah berbahaya—tatkala kekayaan itu menjadi tuan atas manusia. Tak salah menjadi kaya, tetapi menjadi masalah tatkala kekayaan itu membuat kita terikat kuat padanya. Kaum Yesuit punya istilah yang bagus: ”kelekatan”.
Kelekatan pada sesuatu bisa membuat seseorang malah menjauh dari Tuhan. Tak hanya kekayaan dan keluarga, pekerjaan atau jabatan pun bisa membuat kita tak lagi melekat kepada Tuhan. Pdt. Em. William Ho, mantan Ketua Sinode Gereja Kristus Yesus, dalam salah satu wawancara pernah berujar: ”Kursi itu dipakai untuk kerja, jangan dipegang terus.”
Jabatan kadang membuat orang begitu sibuk mempertahankannya, sehingga malah lupa alasan utama dia duduk di kursi itu: ”bekerja”. Sebab pekerjaannya ya cuma itu: bagaimana mempertahankan kursinya.
Selamat Bekerja,
Yoel M. Indrasmoro Direktur Literatur Perkantas Nasional
Dalam buku Sekolam Bunga Teratai terdapat kisah seorang nenek, yang hanya menangis kerjanya. Dia memiliki dua anak perempuan. Yang sulung bersuamikan pedagang payung, sedangkan yang bungsu bersuamikan pedagang tepung.
Photo by Noah Näf on Unsplash
Bila langit cerah dan udara baik, Sang Nenek menangis teringat putri sulungnya, yang tidak dapat menjual payungnya. Namun, jika hujan turun, dia kembali menangis karena putri bungsunya tidak dapat menjemur tepung. Baik panas maupun hujan, Sang Nenek senantiasa menangis. Orang-orang di desanya menjulukinya ”Nenek Menangis”.
Pada suatu hari Sang Nenek berjumpa seorang biksu dan bertanya bagaimana mengatasi hal tersebut. Dengan senyum, biksu tersebut berkata, ”Nenek tidak dapat mengubah cuaca menjadi baik atau buruk. Akan tetapi, Nenek dapat mengendalikan pikiran Nenek! Jika cuaca cerah, bergembiralah untuk putri bungsumu, karena dia dapat menjemur tepungnya. Dan jika hari hujan, bergembiralah sebab putri sulungmu dapat menjual lebih banyak payung. Ini hanya masalah cara pandang!”
Ya, cuma cara pandang. Ketimbang mengeluhkan hujan deras sore hari—yang membuat kita sulit berjalan karena tanah becek; mengapa kita tidak memandang langit? Bukankah sinar bintang dan rembulan sedang menerangi jalan yang kita lalui? Cara pandang memampukan kita menjadikan hidup bagai sebuah pesta. Dan hidup memang pesta, selama kita mampu melihat seberkas sinar—alasan bersyukur—dalam muramnya kehidupan.
Juga dalam pekerjaan kita. Ketimbang mengomel karena klaim seorang klien, bersyukurlah karena kita telah ditolongnya melihat realitas kelemahan kita. Daripada menggerutu karena sikap atasan yang sering tidak sabar, bersyukurlah karena situasi itu membuat kita dapat belajar menjadi lebih sabar.
Ketimbang mengeluhkan sikap bawahan yang selalu kritis terhadap kebijakan kita, bersyukurlah kritikan tersebut menolong kita menilai kebijakan itu dari perspektif lain. Alhasil, kebijakan kita menjadi sungguh-sungguh teruji.
Semuanya itu memang dimulai dari cara pandang!
Selamat Bekerja,
Yoel M. Indrasmoro Direktur Literatur Perkantas Nasional
Allah memanggil tiap-tiap orang untuk maksud yang telah Ia sediakan bagi mereka. Kerja merupakan sarana untuk memenuhi maksud Allah itu. Dengan demikian, pekerjaan juga sebuah panggilan.
Photo by Annie Spratt on Unsplash
Memahami kerja sebagai panggilan akan menolong kita—dengan pertolongan Allah tentunya—memperlengkapi diri kita agar mampu memenuhi panggilan-Nya. Perlengkapan itu tak hanya berwujud pengetahuan, melainkan juga keterampilan.
Menurut Peter F. Drucker, dalam buku The Daily Drucker, ”Pengetahuan tidak menghilangkan keterampilan. Sebaliknya, dengan cepat pengetahuan akan menjadi fondasi kokoh bagi keterampilan.” Hanya dengan cara itulah pengetahuan sungguh menjadi produktif.
Sebagai contoh, tentu kita sepakat bahwa editor merupakan pekerjaan intelektual. Namun, pada kenyataannya para editor biasanya menghabiskan lebih banyak waktu untuk bekerja dengan tangan ketimbang dengan otaknya.
Memang pekerjaan utamanya ialah menjadi jembatan antara penulis dan pembaca agar pembaca dapat memahami dengan tepat maksud penulis. Namun, editor yang baik pastilah tak akan membiarkan terjadinya kesalahan ejaan dan tanda baca yang akan membuat pembaca menjadi sesat pikir.
Dia harus berupaya dengan keras untuk mencapai nihil obstat ”tanpa kesalahan”. Ketertiban berbahasa merupakan buah dari pelatihan bertahun-tahun. Jelaslah, karya editorial sendiri merupakan hasil pekerjaan intelektual sekaligus manual.
Oleh karena itu, pentinglah bagi setiap pekerja intelektual untuk berusaha mengembangkan dirinya dalam keterampilan demi menghasilkan pekerjaan berkualitas.
Kualitas menjadi penting karena itulah kebutuhan utama manusia. Kualitas itu laksana rasa asin dalam sebutir garam. Ya, apalah artinya garam jika telah kehilangan asinnya? Masih layakkah disebut garam?
Dengan kata lain, gelar memang penting. Namun, apalah artinya gelar tanpa keterampilan yang membuktikan bahwa kita layak mengenakan gelar tersebut! Hanya dengan cara itulah kita akan dimampukan sungguh-sungguh menggarami dan menerangi dunia di mana Tuhan menempatkan kita!
Selamat bekerja,
Yoel M. Indrasmoro Direktur Literatur Perkantas Nasional