Diposting pada

Perjumpaan yang Memberdayakan

Perjumpaan Musa dan Yitro (Kel. 18:13-27) merupakan salah satu kisah baik mengenai ciri pemimpin berkualitas.

Photo by Stephen Leonardi on Unsplash

Pertama, terbuka. Seorang pemimpin terbuka terhadap setiap usul, saran, kritik, bahkan celaan pihak lain. Dalam kisah ini, Musa tidak serta-merta menolak usul Yitro. Namun, dia mendengarkan apa yang hendak disampaikan mertuanya.

Sikap terbuka tampak dalam kesediaan mendengarkan. Tidak sekadar mendengar (sepintas lalu), tetapi mendengarkan. Mendengarkan mengandaikan adanya keseriusan dari pihak yang mendengar.

Kedua, positif. Musa tidak memandang negatif mertuanya. Dia bersikap positif terhadap pemikiran Yitro. Agaknya, Musa menyadari bahwa setiap orang pastilah punya pengalaman. Dan pengalaman yang bersifat pribadi, yang membedakan seseorang dengan yang lain, harus dihargai. Pengalaman berbeda akan menghasilkan pendapat dan keyakinan yang berbeda pula.

Dengan kata lain, sikap positif akan membuat kita memahami bahwa setiap orang, berdasarkan pengalaman hidupnya, akan mempunyai pendapat berbeda mengenai hal yang sama. Atau, bisa saja pendapatnya sama, tetapi dengan alasan berbeda. Perbedaan alasan akan memperkuat pendapat tersebut.

Ketiga, tulus. Tulus berarti memandang orang lain tanpa prasangka. Musa meyakini bahwa Yitro tidak mungkin mencelakakan dirinya. Musa tidak berasumsi Yitro akan mengambil keuntungan dari usul tersebut. Musa memandang Yitro dengan pikiran jernih dan hati bersih. Musa yakin usul Yitro itu memang untuk kebaikan dirinya dan bangsa Israel.

Keempat, percaya. Tindakan Musa sewaktu memilih para pemimpin berlandaskan kepercayaan. Dia percaya bahwa orang-orang yang diangkatnya dapat mengerjakan tugas mereka dengan baik. Musa tidak hendak mengumpulkan kekuasaan, tetapi mau membagi-bagikan tanggung jawab dan wewenang. Dengan demikian, dia juga tidak mau membuat bangsa Israel tergantung pada dirinya seorang. Bagaimanapun, kapasitas Musa ada batasnya.

Tujuan dari semuanya ini jelas: bangsa Israel puas terlayani, Musa tidak terlalu lelah, dan banyak orang terlibat dan belajar menjadi pemimpin. Sungguh perjumpaan yang memberdayakan.

Selamat bekerja,

Yoel M. Indrasmoro
Direktur Literatur Perkantas Nasional

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *