Diposting pada

Kepemimpinan Kristiani

”Maka Yesus mengambil seorang anak kecil dan menempatkannya di tengah-tengah mereka, kemudian Ia memeluk anak itu…” (Mrk. 9:36).

Demikianlah catatan penulis Injil Markus. Tindakan itu dilakukan Yesus untuk merespons perdebatan di antara para murid mengenai siapa yang layak menjadi pemimpin di antara mereka.

Dari tindakan Yesus itu, ada tiga kata kerja yang perlu diteladani setiap pemimpin Kristen: mengambil, menempatkan, dan memeluk.

Yesus mengambil anak tersebut. Tentunya, cara pengambilannya tidak dengan paksa. Tak ada paksaan. Kemungkinan besar anak itu malah senang.

Bayangkanlah, raut wajah Yesus! Cemberutkah? Pasti tidak. Mana ada anak kecil yang suka dicemberuti? Kelihatannya, anak itu merasa diterima Yesus. Sehingga, dia tidak keberatan diajak Yesus untuk berdiri di tengah-tengah para murid.

Yesus menempatkan anak tersebut di tengah-tengah. Anak itu bukan tontonan. Bukan. Yesus menempatkan anak itu di tengah-tengah agar dia menjadi fokus perhatian. Kata dasar ”perhatian” adalah ”hati”! Artinya, anak itu menjadi fokus-kasih.

Fokus seorang pemimpin bukanlah dirinya sendiri, melainkan orang-orang yang dia pimpin. Fokus kepemimpinan tidak berpusat pada diri sendiri, tetapi orang yang dipimpinnya. Setiap bawahan sejatinya merupakan fokus-kasih para pemimpin.

Yesus memeluk anak tersebut. Kasih tak sekadar kata-kata. Perhatian tak ada manfaatnya jika tidak berbuah dalam tindakan. Kasih harus diekspresikan melalui tindakan.

Kepemimpinan-kasih merupakan sebuah konsep abstrak. Oleh karena itu, harus diwujudkan dalam tindakan. Karena, sebagaimana refrein lagu lama: ”Semua bisa bilang sayang, semua bisa bilang. Apalah artinya sayang tanpa kenyataan?”

Selamat bekerja,

Yoel M. Indrasmoro
Direktur Literatur Perkantas Nasional

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *