Posted on Tinggalkan komentar

Menyembuhkan Luka

Sebagai makhluk yang lembut dan rapuh, kita membutuhkan perawatan dan cinta kasih. Kita membutuhkan pandangan mata yang menerima kita dengan ramah dan telinga yang mendengar suara kita.

Banyak hal yang kita lakukan untuk melindungi diri dari semua hal. Akan tetapi, sesekali kita akan mengalami suatu pengalaman yang melukai hati kita. Pengalaman tersebut terkadang bisa menjadikan kehidupan kita selanjutnya menuju kehancuran. Memang tak mudah untuk pulih dari rasa kecewa.

Pada saat memikirkan hal yang melukai itu, kadang kita bertanya di mana Allah berada. Allah berasa tidak ada di saat seperti ini. Namun, sebenarnya Allah sudah menunggu kita untuk diterima di antara yang terluka dalam diri kita.

Melalui buku Karunia Penderitaan: Menemukan Allah dalam Situasi Sulit dan Mencekam, Mark Yaconelli mengajak kita untuk jangan melihat dari pengalaman masa lalu kita yang melukai hati kita. Akan tetapi, gambarkan pengalaman itu seolah-olah kita adalah pengamat luar yang menonton pengalaman tersebut. Kita bisa melihat semua dan bisa menambah atau mengurangi dan bahkan menghapus dari cerita masa lalu yang melukai kita.

Setiap luka dalam diri kita tidak akan ditolak oleh Allah, dan jika kita bersedia pergi dan duduk dengan perasaan malu dengan luka yang ada dalam diri kita sendiri, kita bisa mendengar suara Dia yang mengasihi dunia ini, memanggil nama kita dengan suara yang penuh kasih.

Heru Santoso

Literatur Perkantas Nasional

Bagikan:
Posted on Tinggalkan komentar

Melayani dengan Kekayaan

”Perempuan-perempuan ini melayani rombongan itu dengan kekayaan mereka” (Luk. 8:3). Subjeknya adalah perempuan-perempuan ini. Mereka bukan laki-laki. Mereka perempuan, golongan yang kurang mendapat tempat dalam budaya Yahudi.

Akan tetapi, Lukas mencatat bahwa perempuan-perempuan juga diberi tempat untuk melayani rombongan Yesus. Mereka boleh melayani. Pelayanan tidak hanya monopoli laki-laki. Perempuan pun boleh menjadi pelayan.

Dalam Alkitab BIMK tertera: ”Dengan biaya sendiri, mereka membantu Yesus dan pengikut-pengikut-Nya.” Jelaslah, mereka menggunakan biaya sendiri. Artinya: dengan uang mereka sendiri, mereka membantu Yesus dan pengikut-Nya.

Pelayanan butuh modal. Dan modal terbesar bukan uang, namun manusia. Manusialah yang punya uang. Tersirat, para perempuan itu memandang uang sebagai alat. Kekayaan hanya alat. Dan, penting dicatat, pelayanan bukan untuk mencari kekayaan.

Mengapa mereka melakukannya? Tak mudah menjawabnya! Namun, kita bisa menambahkan sebuah tanya: ”Mengapa kita tidak melakukannya?

Selamat Bekerja!

Yoel M. Indrasmoro
Direktur Literatur Perkantas Nasional

Bagikan:
Posted on Tinggalkan komentar

Miskin Rohani

”Hidup saya tidak pernah sesuai dengan apa yang saya harapkan. Tak pernah. Terkadang kehidupan melebihi harapan saya, di lain waktu harapan itu gagal; lebih sering hidup melakukan sesuatu yang tidak biasa, tak terduga, tak dapat diperkirakan, sesuatu yang membuat harapan saya tidak masuk akal.” Seperti itulah Mark Yaconelli menyimpulkan pengalamannya dalam buku Karunia Penderitaan ketika ia mempersiapkan pelayanan doa bagi mahasiswa Southern Oregon University—perguruan tinggi di seberang gerejanya—selama sembilan bulan, dan tidak satu pun mahasiswa pernah hadir. Tidak satu pun.

Kisah Mark boleh jadi merupakan kisah kita juga, tetapi dalam konteks yang berbeda. Kita mengharapkan sesuatu dalam hidup kita dan memperjuangkannya begitu rupa, tetapi beberapa di antaranya tidak terjadi.

Lalu pertanyaan seperti yang diajukan Mark muncul dalam benak kita: Bagaimana kita dapat menjalani hidup sementara kita mengalami kekecewaan besar atas kehidupan Kristen? Bagaimana kita dapat terus melayani saat hidup kita tidak sesuai dengan harapan kita? Apa yang kita lakukan ketika upaya kita, komitmen kita kepada Yesus, doa dan kerinduan rohani kita tidak terbalas?

Atas semua kebingungan, ketidakberdayaan, frustrasi, kecemasan, ketakutan, dan bahkan keraguan yang sering dialami Mark, ia menyadari bahwa perasaan-perasaan inilah yang juga sering dialami para murid Yesus. Berulang kali para murid dipaksa untuk menyerahkan kendali dan harapan mereka, dan tetap dalam keadaan miskin rohani. Untuk berada dalam keadaan miskin rohani berarti tidak berusaha memiliki atau mengendalikan Allah. Miskin rohani adalah kesediaan untuk mengosongkan diri, untuk mengizinkan ekspektasi kita kepada Allah dihilangkan.

Dalam keadaan miskin rohani berarti kita terbuka terhadap apa yang hendak Allah lakukan dalam hidup kita. Dan lihatlah Mark telah menerima buahnya. Salah seorang pianis dalam pelayanan doa tersebut mengaku, ”Saya tidak tahu apa-apa tentang agama. Saya tidak tahu apa-apa tentang Allah, tetapi saya mendengar Bapak berhenti dari pelayanan doa dan saya ingin mengucapkan terima kasih atas apa yang telah Bapak lakukan karena kebaktian itu satu-satunya kegiatan yang saya nantikan setiap minggu. Saya ingin menjadi orang Kristen, meskipun saya tidak tahu apa artinya itu.”

Mark mengajak kita untuk melihat bahwa di jalan Kristen kita belajar untuk melepaskan ekspektasi kita—ekspektasi terhadap diri kita sendiri, terhadap Allah, dan terhadap orang lain. Kita belajar untuk hidup dalam kemiskinan rohani, menjadi kosong, terbuka, tidak berdaya, tidak pasti, sehingga kita dapat terbuka pada pekerjaan Allah yang tersembunyi dan berhikmat.

Citra Dewi Siahaan

Literatur Perkantas Nasional

Bagikan:
Posted on Tinggalkan komentar

Jangan Baperan

Namanya Lilik Susanto. Seorang pengemudi ojek online. Dalam perjalanan menumpang motornya dari sebuah mal di Kelapa Gading ke Gereja Kristen Jawa Jakarta, saya menanyakan perihal profesi yang dipilihnya.

Ini jawabannya: ”Kayak orang jualan saja, Pak! Lagi rame enggak usah seneng, lagi sepi enggak usah ngeluh.” Prinsip sederhana sekaligus jitu. Pada hemat saya prinsip macam begini akan membuat dia bersikap seimbang, tidak baperan.

Tak mudah mengembangkan prinsip macam begini. Kenyataannya manusia sering terbawa perasaannya. Yang akhirnya membuatnya dia semakin sulit maju dan berkembang. Lagi pula perasaan memang bak cuaca yang mudah berubah.

Pilihan sikap ”lagi rame enggak usah seneng, lagi sepi enggak usah ngeluh” tentu bukan tanpa dasar. Satu-satunya dasar adalah percaya bahwa semua ada yang ngatur. Dan yang mengatur adalah Allah sendiri. Semua sudah ada takarannya seturut dengan maksud Allah. Bagian kita hanyalah bekerja dengan sebaik-baiknya.

Mengapa? Sebab ”Allah mengatur segala hal, sehingga menghasilkan yang baik untuk orang-orang yang mengasihi Dia dan yang dipanggil-Nya sesuai dengan rencana-Nya” (Rm. 8:28, BIMK).

Selamat Bekerja!

Yoel M. Indrasmoro
Direktur Literatur Perkantas Nasional

Bagikan:
Posted on Tinggalkan komentar

Lelah? Kembalilah ke Indra Kita!

”Saya mandek. Kelelahan. Kegiatan saya di tempat kerja maupun di rumah menjadi rutinitas yang bisa ditebak. Pola pikir saya itu-itu saja dan hanya menghasilkan ide-ide yang sama dan membosankan… . Saya bosan dengan diri saya sendiri. Kata-kata saya saat berbicara dan mengajar terasa datar. Hidup telah kehilangan misterinya. Persekutuan dengan Allah telah menjadi kewajiban.” Demikianlah Mark Yaconelli membuka bab pertama dari bukunya Karunia Penderitaan.

Apakah Anda pernah mengalami situasi yang mirip? Atau, malah sedang mengalaminya? Jika ya, penulis menawarkan kepada kita untuk kembali ke indra kita. Untuk kembali lagi ke perasaan kita. Untuk benar-benar menyadari perasaan kita seperti ketika kita masih kanak-kanak.

Yaconelli—berdasarkan pengalamannya sendiri—menulis: ”Aliran sungai, sinar matahari yang menghangatkan kulit saya, makan siang yang memuaskan, aroma hutan, musik yang menggetarkan hati, puisi tentang kesedihan, seorang perempuan yang memiliki kecantikan yang antik, kuliner yang nikmat, dan perhatian dari seorang teman baik, telah membawa saya kembali menjadi diri saya sendiri.”

Menurut dia, orang Kristen perlu waktu dan tempat khusus untuk mundur dari pekerjaan dan memanjakan indranya. Bahkan Yesus Orang Nazaret secara teratur mengundurkan diri ke pegunungan, laut, dan tempat sepi lainnya agar berada di tengah ciptaan, di hadapan keindahan. Memberi perhatian kepada semua keindahan itu akan membuat kita sungguh-sungguh merasa dicintai.

Dan perasaan dicintai itu akan membuat hidup kita menjadi lebih berarti. Percayalah!

Yoel M. Indrasmoro
Literatur Perkantas Nasional

Bagikan:
Posted on Tinggalkan komentar

Sembilan Tahun Bukan Waktu Sebentar

Hari ini, 1 November 2019, genap sembilan tahun sudah Divisi Literatur Perkantas Nasional disahkan menjadi PT Suluh Cendikia oleh Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia Republik Indonesia. Perubahan ini bertujuan—selain sebagai salah satu bentuk profesionalitas dalam tubuh Perkantas—pelayanan literatur dapat lebih berterima di kalangan masyarakat luas.

Sembilan tahun bukan waktu sebentar untuk memahami, sekaligus mengalami, bahwa melayankan Injil melalui media sungguh strategis dan relevan dalam mendampingi siswa, mahasiswa, dan alumni dalam pertumbuhan rohani mereka.

Sembilan tahun bukan waktu sebentar untuk memahami, sekaligus mengalami, bahwa para mitra kami ternyata tak hanya berkenan membeli, tetapi juga memberi, buku.

Serangkaian aksi donasi buku, di antaranya, kepada para hamba Tuhan di Papua (570 eksemplar Berteologi Abad XXI) dan Nusa Tenggara Timur (906 eksemplar Berteologi Abad XXI); juga kepada para siswa di Ambon dan Poso, juga Banten (2.077 eksemplar This Changes Everything) menjadi bukti nyata.

Bahkan dalam Program Kado Natal NTT, Ibu Christin Ang berkenan terlibat dalam menyalurkan buku Berteologi Abad XXI ke pulau-pulau terpencil seperti Moa, Larat, dan Dobo dengan menggunakan kapalnya.

Aksi donasi buku dengan gamblang memperlihatkan kepada kami bagaimana seorang anggota tubuh Kristus menjadi sahabat—dalam pertumbuhan iman—bagi anggota tubuh Kristus lainnya.

Sembilan tahun bukan waktu sebentar untuk memahami, sekaligus mengalami, bahwa kami tak berjalan sendiri. Yesus Kristus—Sang Komunikator Agung—telah menjadi sahabat kami dalam melayankan Injil-Nya melalui media.

Kami memang tak sendirian. Sang Komunikator Agung juga telah menggerakkan semua mitra kami—pembaca, penulis, penerjemah, percetakan, distributor, toko buku—berkenan, dengan caranya masing-masing, menjadi sahabat kami bertumbuh selama ini.

Akhirnya, doakanlah kami—dalam anugerah-Nya—agar tetap setia menjalani panggilan sebagai ”suluh yang cendikia dan mencendikiakan”, sehingga mampu menjadi ”Sahabat Anda Bertumbuh”!

SMaNGaT,

Yoel M. Indrasmoro
Direktur Literatur Perkantas Nasional

Bagikan:
Posted on Tinggalkan komentar

Tukang Periuk dan Bejana-Nya

”Apabila bejana, yang sedang dibuatnya dari tanah liat di tangannya itu, rusak, maka tukang periuk itu mengerjakannya kembali menjadi bejana lain menurut apa yang baik pada pemandangannya” (Yer. 18:4).

Setidaknya, ada tiga hal yang kita bisa simpulkan dari pengamatan Yeremia ini. Pertama, Allah adalah pribadi yang mengasihi ciptaan-Nya. Dia menginginkan yang terbaik dalam diri ciptaan-Nya. Buktinya: Allah menciptakan manusia seturut citra-Nya.

Tak hanya itu, Allah mengaruniakan kehendak bebas dalam diri manusia. Allah sungguh memahami, dengan kehendak bebasnya itu manusia bisa salah. Dan di mata Allah salah langkah bukan aib. Yang aib adalah saat manusia tak mengakui kesalahannya.

Kedua, ketika manusia mengakui kesalahannya, pada titik itulah Allah bersedia menyempurnakannya kembali. Seperti tukang periuk, Allah tidak akan membuang bejana yang rusak itu. Dengan telaten dan sabar Dia akan menyempurnakannya.

Ketiga, penyempurnaan itu pastilah makan waktu. Tak jarang juga menyakitkan. Pertanyaannya: Maukah kita dibentuk Allah? Maukah kita pasrah total kepada-Nya? Maukah kita percaya bahwa apa yang dilakukan-Nya baik semata?

Pembaruan diri merupakan kata kunci kehidupan Kristen. Dan tak jarang Allah memakai orang-orang terdekat—juga kolega di kantor kita!

Selamat Bekerja!

Yoel M. Indrasmoro
Direktur Literatur Perkantas Nasional

Bagikan:
Posted on Tinggalkan komentar

Mendidik Anak

Anak-anak belajar dari orang tuanya melalui pengamatan, mereka secara intuitif akan menerima perilaku orang tuanya dan mengikutinya. Kita mungkin pernah mendengar cerita orang tua kepada anaknya tentang ’orang seram’ yang akan membawa mereka pergi apabila mereka tidak mau makan. Tanpa disadari, anak-anak akan belajar bahwa berbohong diperbolehkan di dalam kekristenan.

Ajith Fernando dalam buku Aku & Seisi Rumahku: Kehidupan Keluarga Pemimpin Kristiani menuliskan bahwa etika Kristen sangat berbeda dengan etika di dunia saat ini. Apalagi pada era digital saat ini, di mana anak-anak sering berinteraksi melalui media sosial. Bisa jadi mereka akan mendapatkan pesan bahwa etika Kristen tidak praktis diterapkan dalam hidup saat ini. Di sini peran orang tua dibutuhkan untuk dapat meluruskan pesan yang keliru tersebut—dengan memberikan teladan dalam hidup mereka, yakni tetap berpegang teguh pada prinsip kristiani.

Dalam Amsal 1:8 tertulis: ”Hai anakku, dengarkanlah didikan ayahmu, dan jangan menyia-nyiakan ajaran ibumu.” Pada ayat tersebut kita dapat melihat peran khusus masing-masing orang tua kepada anak; di mana Ibu berperan untuk memberikan ajaran yang sistematik (bersifat aturan), sedangkan ayah lebih berperan pada penerapan kebenaran Alkitab. Namun, dalam praktiknya kedua peran ini tentunya dapat saling bertukar dan melengkapi.

Cara praktis yang dapat dilakukan orang tua untuk mengajar firman Allah kepada anak-anaknya adalah dengan bersama-sama membaca Firman—baik melalui Alkitab bergambar, komik, atau buku rohani—dan mempercakapkannya dalam waktu keluarga yang telah disepakati bersama. Misalnya pada saat makan, di mana suasana informal dan hangat untuk berdiskusi; atau dalam perjalanan—saat berkendara bersama keluarga. Mengajar firman Allah dapat juga dilakukan pada saat mereka berbaring dan bangun, ketika permulaan hari dan menjelang istirahat malam.

Dengan melakukan hal tersebut, keluarga kita dapat tertolong—dalam semua aspek kehidupan—untuk senantiasa berada dalam kuasa Allah. Jika dilakukan secara konsisten, maka hal baik ini dapat menjadi kekuatan dan identitas keluarga. Sehingga ketika anak-anak beranjak dewasa, identitas—yang mendarat jauh ke dalam hidup anak-anak—itu akan menolong mereka untuk tidak melakukan sesuatu yang melanggar prinsip firman Allah.

”Didiklah orang muda menurut jalan yang patut baginya, maka pada masa tuanya pun ia tidak akan menyimpang dari pada jalan itu” (Ams. 22:6).

Rycko Indrawan
Literatur Perkantas Nasional

Bagikan:
Posted on Tinggalkan komentar

Pendisiplinan Anak

Orang tua bertanggung jawab untuk mendisiplinkan anak, seperti Allah mendisiplinkan umat-Nya. Hal ini dapat kita pelajari dalam Kitab Ulangan: ”Maka haruslah engkau insaf, bahwa TUHAN, Allahmu, mengajari engkau seperti seseorang mengajari anaknya” (Ul. 8:5).

Pada era globalisasi ini, anak-anak tumbuh dalam budaya permisif di mana perkawinan sesama jenis dan aborsi diperbolehkan. Paulus menyatakan bahwa para pendosa seksual harus didisiplinkan (1Kor. 5:5, 9).

Anak-anak kita mungkin memandang hal ini sebagai pelanggaran hak asasi manusia. Namun, mereka perlu diperkenalkan mengenai kebenaran Alkitab: kekudusan Allah, berkat, dan penghakiman. Jika kita gagal menanamkan kebenaran kepada anak-anak kita, maka mereka akan sulit menerima disiplin Kristen.

Disiplin harus mendorong anak untuk hal yang besar, bukan mematahkan semangat mereka, sehingga mereka memiliki pemikiran kalau dirinya tidak berharga. Menyebut anak bodoh dan menjengkelkan, mengungkit-ungkit kesalahan, dan membanding-bandingkannya dengan anak lain dapat mematahkan semangat anak. Untuk memotivasi anak, seharusnya kita mengingatkan anak pada pertolongan Tuhan untuk keluar dari dosa dan kemampuannya untuk hidup dalam kebenaran.

Dalam Efesus 6:4, setelah Paulus menuliskan: ”Bapak-bapak, janganlah bangkitkan kemarahan di dalam hati anak-anakmu,” dia menambahkan, ”Tetapi didiklah mereka di dalam ajaran dan nasihat Tuhan.” Inilah dasar pendisiplinan anak dalam Kristus. Disiplin yang benar menolong anak untuk menemukan identitas mereka sebagai anggota keluarga yang sangat berharga, bukan melukai hati anak.

”Apabila kamu menjadi marah, janganlah kamu berbuat dosa” (Ef. 4:26). Kita tidak dapat mendisiplinkan anak dengan cara yang menyakiti hati anak jika kita tahu bahwa Allah sedang berada di sekitar kita. Jangan sampai kita berbuat dosa saat kita marah.

Semua bentuk disiplin yang diberikan kepada anak bertujuan untuk kesejahteraan mereka, bukan demi nama baik orang tua. Pernyataan: ”anak pemimpin Kristen seharusnya tidak berbuat seperti itu,” tidak tepat. Dalam buku Aku & Seisi Rumahku: Kehidupan Keluarga Pemimpin Kristiani, Ajith Fernando mengingatkan kita akan pentingnya pemahaman dalam diri anak: anak harus mengerti, mereka dihukum karena tindakan yang salah, bukan karena orang lain membicarakan kelakuan mereka. Anak juga perlu berdoa dan membaca Alkitab secara rutin demi kebaikan mereka sendiri.

Pendisiplinan anak merupakan bentuk pertanggungjawaban orang tua kepada Allah. Kita perlu memohon hikmat dari Tuhan untuk mendisiplinkan anak dengan kasih, sesuai prinsip Alkitab, menghormati Tuhan, dan menolong anak-anak kita.

Bagikan:
Posted on Tinggalkan komentar

Kedaulatan Allah vs Kedaulatan Manusia

”Berbahagialah, hai kamu yang miskin, karena kamulah yang empunya Kerajaan Allah. Tetapi celakalah kamu, hai kamu yang kaya, karena dalam kekayaanmu kamu telah memperoleh penghiburanmu” (Luk. 6:20, 24).

Demikian sabda Yesus. Namun, itu tidak berarti, orang miskin pasti bahagia dan orang kaya pasti merana. Keadaan orang miskin akan berubah menjadi baik asal mereka menerima kedaulatan Allah yang mutlak penuh. Sedangkan keadaan orang kaya akan menjadi buruk kala menolak kedaulatan Allah.

Menurut Rama Gianto, Injil Lukas mau berbicara kepada orang miskin, yakni orang yang kekurangan materi, orang yang tak bisa mencukupi kebutuhan hidup, yang hidupnya pas-pasan. Namun, Injil juga berbicara kepada orang kaya, yakni orang yang berkelebihan, orang yang tak merasakan kekurangan.

Kepada yang miskin dikatakan bahwa mereka tak dilupakan Allah. Mereka malah boleh merasa memiliki Kerajaan Allah. Kepada orang kaya tidak dikatakan bahwa mereka tidak memiliki Kerajaan Allah. Namun, kehidupan mereka itu tak akan ada artinya, malah mendatangkan celaka, bila sudah merasa puas dan aman dengan kelimpahan mereka.

Pada titik ini Yesus tidak menjajakan kemiskinan sebagai keutamaan dan mencerca kekayaan sebagai sumber laknat. Sesungguhnya, sabda bahagia itu memampukan orang berharap akan merdeka sekalipun masih terbelit kemiskinan atau terjerat ikatan kekayaan. Sabda Yesus menawarkan kepada manusia untuk menata kembali martabatnya secara utuh, tidak lusuh karena kemelaratan atau busuk tertimbun kekayaan.

Dan semuanya itu hanya mungkin terjadi tatkala manusia mengizinkan Allah bertakhta atas dirinya!

Selamat Bekerja!

Yoel M. Indrasmoro
Direktur Literatur Perkantas Nasional

Bagikan: