Posted on Tinggalkan komentar

Tukang Periuk dan Bejana-Nya

”Apabila bejana, yang sedang dibuatnya dari tanah liat di tangannya itu, rusak, maka tukang periuk itu mengerjakannya kembali menjadi bejana lain menurut apa yang baik pada pemandangannya” (Yer. 18:4).

Setidaknya, ada tiga hal yang kita bisa simpulkan dari pengamatan Yeremia ini. Pertama, Allah adalah pribadi yang mengasihi ciptaan-Nya. Dia menginginkan yang terbaik dalam diri ciptaan-Nya. Buktinya: Allah menciptakan manusia seturut citra-Nya.

Tak hanya itu, Allah mengaruniakan kehendak bebas dalam diri manusia. Allah sungguh memahami, dengan kehendak bebasnya itu manusia bisa salah. Dan di mata Allah salah langkah bukan aib. Yang aib adalah saat manusia tak mengakui kesalahannya.

Kedua, ketika manusia mengakui kesalahannya, pada titik itulah Allah bersedia menyempurnakannya kembali. Seperti tukang periuk, Allah tidak akan membuang bejana yang rusak itu. Dengan telaten dan sabar Dia akan menyempurnakannya.

Ketiga, penyempurnaan itu pastilah makan waktu. Tak jarang juga menyakitkan. Pertanyaannya: Maukah kita dibentuk Allah? Maukah kita pasrah total kepada-Nya? Maukah kita percaya bahwa apa yang dilakukan-Nya baik semata?

Pembaruan diri merupakan kata kunci kehidupan Kristen. Dan tak jarang Allah memakai orang-orang terdekat—juga kolega di kantor kita!

Selamat Bekerja!

Yoel M. Indrasmoro
Direktur Literatur Perkantas Nasional

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *