Posted on Tinggalkan komentar

Pendisiplinan Anak

Orang tua bertanggung jawab untuk mendisiplinkan anak, seperti Allah mendisiplinkan umat-Nya. Hal ini dapat kita pelajari dalam Kitab Ulangan: ”Maka haruslah engkau insaf, bahwa TUHAN, Allahmu, mengajari engkau seperti seseorang mengajari anaknya” (Ul. 8:5).

Pada era globalisasi ini, anak-anak tumbuh dalam budaya permisif di mana perkawinan sesama jenis dan aborsi diperbolehkan. Paulus menyatakan bahwa para pendosa seksual harus didisiplinkan (1Kor. 5:5, 9).

Anak-anak kita mungkin memandang hal ini sebagai pelanggaran hak asasi manusia. Namun, mereka perlu diperkenalkan mengenai kebenaran Alkitab: kekudusan Allah, berkat, dan penghakiman. Jika kita gagal menanamkan kebenaran kepada anak-anak kita, maka mereka akan sulit menerima disiplin Kristen.

Disiplin harus mendorong anak untuk hal yang besar, bukan mematahkan semangat mereka, sehingga mereka memiliki pemikiran kalau dirinya tidak berharga. Menyebut anak bodoh dan menjengkelkan, mengungkit-ungkit kesalahan, dan membanding-bandingkannya dengan anak lain dapat mematahkan semangat anak. Untuk memotivasi anak, seharusnya kita mengingatkan anak pada pertolongan Tuhan untuk keluar dari dosa dan kemampuannya untuk hidup dalam kebenaran.

Dalam Efesus 6:4, setelah Paulus menuliskan: ”Bapak-bapak, janganlah bangkitkan kemarahan di dalam hati anak-anakmu,” dia menambahkan, ”Tetapi didiklah mereka di dalam ajaran dan nasihat Tuhan.” Inilah dasar pendisiplinan anak dalam Kristus. Disiplin yang benar menolong anak untuk menemukan identitas mereka sebagai anggota keluarga yang sangat berharga, bukan melukai hati anak.

”Apabila kamu menjadi marah, janganlah kamu berbuat dosa” (Ef. 4:26). Kita tidak dapat mendisiplinkan anak dengan cara yang menyakiti hati anak jika kita tahu bahwa Allah sedang berada di sekitar kita. Jangan sampai kita berbuat dosa saat kita marah.

Semua bentuk disiplin yang diberikan kepada anak bertujuan untuk kesejahteraan mereka, bukan demi nama baik orang tua. Pernyataan: ”anak pemimpin Kristen seharusnya tidak berbuat seperti itu,” tidak tepat. Dalam buku Aku & Seisi Rumahku: Kehidupan Keluarga Pemimpin Kristiani, Ajith Fernando mengingatkan kita akan pentingnya pemahaman dalam diri anak: anak harus mengerti, mereka dihukum karena tindakan yang salah, bukan karena orang lain membicarakan kelakuan mereka. Anak juga perlu berdoa dan membaca Alkitab secara rutin demi kebaikan mereka sendiri.

Pendisiplinan anak merupakan bentuk pertanggungjawaban orang tua kepada Allah. Kita perlu memohon hikmat dari Tuhan untuk mendisiplinkan anak dengan kasih, sesuai prinsip Alkitab, menghormati Tuhan, dan menolong anak-anak kita.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *