Posted on Tinggalkan komentar

Berani Kotor Itu Baik!

”Berani kotor itu baik!” Begitulah bunyi slogan iklan detergen yang entah mengapa selalu melekat di benak saya. Juga slogan iklan minyak kayu putih, ”Buat anak kok coba-coba!”. Bagi saya, kedua slogan tersebut sangat menarik karena meskipun hanya terdiri dari susunan kata yang sederhana, tetapi mampu memberikan kesan dan pesan tersendiri.

Kedua slogan tadi tidak hanya dibuat untuk menarik konsumen membeli barang yang telah mereka iklankan. Akan tetapi, slogan tersebut juga dengan lantang menyerukan, agar para orang tua sadar bahwa kebaikan yang dirasakan anak-anak adalah hal yang juga penting dalam tumbuh kembang kehidupannya.

Kondisi badan atau baju kotor yang selama ini mungkin sangat tidak dianjurkan oleh orang tua kepada anak-anaknya, justru dapat membunuh kebebasan, kreativitas, dan membuat dunia anak-anak terasa tidak berwarna. Selama ini orang tua selalu menjadikan anak-anak sebagai objek percobaan yang kebanyakan mungkin akhirnya gagal. Hal ini bisa membekas dalam memori anak-anak sebagai hal yang menyakitkan.

Slogan iklan saja mendorong agar hal-hal buruk itu tidak terjadi kepada anak-anak, apalagi Yesus yang adalah Allah dan juga Bapa dari semua anak-anak di dunia ini.

”Dan jalan-jalan di kota itu akan penuh dengan anak laki-laki dan perempuan yang bermain-main di situ” (Zak. 8:5). Yesus menggunakan sebuah gambaran tentang anak-anak yang bermain di jalan dalam salah satu perumpamaannya.

Meskipun tidak ada referensi jenis mainan dalam Perjanjian Lama, para arkeolog telah menemukan peluit, kerincing, kelereng, boneka, binatang (pada waktu itu menggunakan roda), dan aneka objek lainnya di banyak situs bersejarah di Palestina, yang memberikan indikasi jenis-jenis alat permainan yang dimainkan oleh anak-anak bangsa Israel. Dari sini kita dapat menarik kesimpulan bahwa bergembira dan bermain adalah ciri penting yang sudah ada dalam kehidupan anak-anak pada masa Alkitab.

Ajith Fernando menuliskan dalam bukunya Aku & Seisi Rumahku: Kehidupan Keluarga Pemimpin Kristiani bahwa orang tua harus membuat rumah menjadi tempat yang ramah dan menyenangkan. Ajith menilai, sering kali orang tua terlalu ingin menjaga rumah agar terlihat rapi dan bersih sehingga menghalangi kegembiraan yang anak-anak bisa dapatkan di rumah. Ia menyatakan, hal itu tidaklah sehat. Menurutnya, mengizinkan anak-anak untuk bermain tanpa rasa takut adalah kunci. Kebebasan bermain bukanlah sesuatu yang harus mereka perjuangkan dengan susah payah.

Ketika anak-anak bertumbuh menikmati kegembiraan yang aman dan sehat di rumah, mereka tidak akan rentan terhadap godaan dari kesenangan yang membawa mereka pada dosa. Orang tua perlu menunjukkan kepada anak-anak bahwa bergembira selalu selaras dengan kekristenan, dan satu-satunya cara untuk mendapatkan kegembiraan yang menyenangkan adalah dengan melakukannya bersama Allah.

Febriana DH
Literatur Perkantas Nasional

Bagikan:
Posted on Tinggalkan komentar

Bukankah Ia Ini Anak Yusuf?

Bukankah Ia ini anak Yusuf? (Luk. 4:22). Itulah kalimat yang terlontar karena tidak adanya mukjizat penyembuhan. Bisa jadi mereka bingung mengapa Yesus tidak melakukannya. Jika Yesus melakukan penyembuhan di banyak tempat, masak di kota masa kecil-Nya kagak?

Mereka tampaknya ingin Yesus membuktikan diri sebagai pribadi yang sanggup membuat mukjizat. Selama ini mereka hanya mendengar kehebatan-Nya, dan sekarang mereka ingin menyaksikan dengan mata kepala mereka sendiri. Mereka ingin bukti! Dan untuk semua alasan itu, Yesus punya satu jawaban: tidak.

Yesus tidak tergoda untuk membuktikan diri di hadapan teman-teman sepermainan-Nya. Yesus tidak tergoda untuk membuktikan kehebatan-Nya. Bahkan, Yesus siap dianggap kacang lupa kulit.

Di sini Yesus tidak melakukan sesuatu seturut kata orang. Yesus merupakan pribadi merdeka. Akan tetapi, itu tidak berarti bersikap dan bertindak semau-Nya. Bagaimanapun, Yesus merupakan pribadi yang taat kepada Bapa-Nya.

Kalau Yesus melakukan mukjizat, hal itu bukan untuk memuaskan keinginan orang—apalagi diri-Nya—tetapi agar makin banyak orang mengenal dan memuliakan Allah. Jika dicermati, di akhir semua mukjizat Yesus senantiasa ada, setidaknya satu orang, yang bersyukur kepada Allah.

Jadi, semua mukjizat itu dilakukan bukan buat pamer. Bukan untuk mendapatkan tepuk tangan. Sekali lagi, agar semakin banyak orang mengenal dan memuliakan Allah. Yesus memang tidak sembarangan membuat mukjizat.

Yesus merdeka. Dia hanya melakukan apa yang dikehendaki Bapa. Manusia memang sering menuntut ini dan itu. Namun, Yesus lebih mendengarkan perkataan Bapa ketimbang manusia. Dan karena sikap itulah Yesus siap ditolak!

Bagaimana dengan kita? Juga dalam pekerjaan hari ini?

Selamat Bekerja!

Yoel M. Indrasmoro
Direktur Literatur Perkantas Nasional

Bagikan:
Posted on Tinggalkan komentar

Anak: Sumber Sukacita

Semakin sering kita mendengar berita tentang kekerasan dan kejahatan yang dilakukan anak. Anak-anak sekarang tumbuh di dunia yang tidak sama seperti dunia orang tuanya, di mana batas antara yang baik dan jahat sudah tercemar. Salah satu cara memerangi hal ini adalah dengan menciptakan lingkungan keluarga yang penuh rasa penerimaan, sehingga anak-anak dapat melihat bahwa nilai yang dianut keluarganya benar-benar menghasilkan yang terbaik.

Melihat anak sebagai sumber sukacita dalam hidup kita mengubah perilaku kita terhadap mereka. Betapa pentingnya bagi anak-anak untuk mengetahui bahwa mereka adalah sumber sukacita dan orang tuanya merindukan mereka. Praktik-praktik rutin harus dikembangkan, di mana orang tua mengomunikasikan bahwa mereka bersukacita atas anak-anak mereka.

Dalam buku Aku dan Seisi Rumahku: Kehidupan Keluarga Pemimpin Kristiani, Ajith Fernando mengingatkan kita untuk selalu mengomunikasikan kepada anak saat kita tidak dapat melakukan apa yang diinginkan oleh anak-anak kita karena pekerjaan atau pelayanan kita, menepati janji sebagai bentuk perhatian kita kepada anak, dan menghabiskan waktu bersama anak sebagai ungkapan kasih kepada mereka.

Tantangan dalam pengasuhan anak sangatlah besar. Orang tua berjuang khususnya pada awal pertumbuhan anaknya; mereka dapat merasakan beban yang terlalu berat sehingga mereka lupa betapa berharganya tugas mengasuh anak.

Kita harus mengingat bahwa mengasuh anak adalah panggilan mulia dari Allah. Mari mengungkapkan sukacita kita atas anak-anak kita.

Heru Santoso

Literatur Perkantas Nasional

Bagikan:
Posted on Tinggalkan komentar

Visi Pemazmur

”Kiranya Allah mengasihani kita dan memberkati kita, kiranya Ia menyinari kita dengan wajah-Nya, supaya jalan-Mu dikenal di bumi, dan keselamatan-Mu di antara segala bangsa” (Mzm. 67:2-3).

Pemazmur mempunyai keinginan kuat agar Allah memberkati dirinya. Ini merupakan keinginan wajar. Allah pencipta. Lumrahlah, meminta berkat dari Sang Pencipta. Yang tak lumrah ialah ketika seseorang merasa tak perlu lagi mengharap berkat Allah karena merasa mampu memberkati dirinya sendiri. Lebih tidak lumrah kala seseorang menolak berkat Allah.

Namun, pemazmur tidak meminta berkat itu untuk dirinya sendiri. Berkat Allah diharap bukan untuk dinikmati sendirian, tetapi agar kehendak Allah dikenal di seluruh bumi dan keselamatan yang dari Allah juga dirasakan semua bangsa.

Pemazmur berkerinduan kuat, agar segala bangsa, tak hanya Israel, mengenal Allah. Kerinduan yang kuat ini bisa kita sebut visi. Visi pemazmur—bisa kita ringkas dengan tiga kata—manusia mengenal Allah. Dan misinya ialah mewujudkan visi tersebut.

Misi umat Allah ialah memperkenalkan Allah kepada dunia. Perkara orang menerima atau menolaknya, itu bukan urusan kita lagi. Namun, kita harus senantiasa berupaya untuk menolong orang mengenal Allah dan merasakan kasih-Nya.

Dalam pembukaan katekismus Heidelberg, tersurat: ”Apakah satu-satunya penghiburan Saudara, baik pada masa hidup maupun pada waktu mati? Bahwa aku, dengan tubuh dan jiwaku, baik pada masa hidup maupun pada waktu mati, bukan milikku, melainkan milik Yesus Kristus, Juru Selamatku yang setia.”

Itulah makna Injil: kita milik Allah dalam Yesus Kristus. Kepada umat milik-Nya, Yesus berkata: ”Damai sejahtera-Ku Kuberikan kepadamu…” (Yoh. 14:27). Dan itulah kebutuhan utama manusia! Lalu, apakah kita berniat membagikannya? Atau damai sejahtera itu kita nikmati sendirian?

Selamat Bekerja!

Yoel M. Indrasmoro
Direktur Literatur Perkantas Nasional

Bagikan:
Posted on Tinggalkan komentar

Perselisihan Kasih

Tak ada keluarga yang bebas konflik. Kita punya peribahasa: ”Rambut sama hitam, pendapat berbeda.” Dan konflik—Ajith Fernando menyebutnya ”perselisihan kasih” dalam buku Aku dan Seisi Rumahku—perlu dikelola dengan baik berdasarkan Efesus 4:25-27.

Pertama, baik suami maupun istri harus bersikap jujur. Menurut Ajith, manusia biasa tergoda berbohong untuk menghindari konfrontasi. Memang bisa dihindari, tetapi itu tidak sehat dalam perkawinan. ”Biasanya luka yang belum sembuh,” jelas Ajith, ”akan membuka konfrontasi yang lebih tidak menyenangkan dibandingkan jika hal tersebut langsung diselesaikan dari awal.”

Kedua, boleh marah, tetapi tidak berbuat dosa. Menurut Ajith, jangan sekali-kali menggunakan frasa ”tidak pernah” atau ”selalu” Misalnya: ”Kamu tidak pernah menolong saya.” Atau ”Kamu selalu menyakiti saya.”

Ketiga, janganlah matahari terbenam sebelum padam amarahmu. Jangan pernah menyerah untuk menyelesaikan persoalan. Lebih baik pergi ke kantor dengan mata merah akibat kurang tidur, namun bisa menikmati kebebasan karena telah menyelesaikan masalah dengan orang yang paling penting dalam hidup kita.

Keempat, jangan berikan kesempatan kepada Iblis. Ajith, mengutip buku Hurt People Hurt People, menyatakan: ”Orang yang terluka mengambil tindakan akibat luka tersebut dan berakhir dengan menyakiti orang lain.” Bisa jadi dalam sebuah konflik kita berada di pihak yang benar, namun jangan sampai kita menyakiti pasangan hidup kita.

Ujung dari semua perselisihan kasih itu bukanlah kalah atau menang, tetapi kesatuan perkawinan. Dan semuanya dimulai dengan keberanian meminta maaf terlebih dahulu.

Selamat mencoba!

Yoel M. Indrasmoro

Literatur Perkantas Nasional

Bagikan:
Posted on Tinggalkan komentar

Kesatuan

”Sebab itu seorang laki-laki akan meninggalkan ayahnya dan bersatu dengan isterinya…” (Kej. 2:25). Dalam ayat tersebut Alkitab menegaskan bahwa panggilan suami istri adalah bersatu. Tentu tidak mudah mengusahakan kesatuan di tengah ragam perbedaan masing-masing pribadi, baik suami maupun istri. Namun, ini sudah menjadi panggilan suami istri ketika memutuskan untuk menikah.

Bersatu di tengah perbedaan yang ada bukan tidak mungkin dilakukan selama tujuannya adalah sama-sama untuk menyenangkan hati Allah. Berkait hal ini, Ajith Fernando dalam bukunya Aku dan Seisi Rumahku: Kehidupan Keluarga Pemimpin Kristiani, mengutip ungkapan para pemimpin gereja zaman dahulu, ”Dalam hal-hal esensial, bersatu; dalam hal-hal tidak esensial, bebas; di dalam semua hal, kasih.” Menurutnya, ungkapan ini sangat menolong bagi kehidupan berkeluarga zaman sekarang.

Seruan Ajith berkait hal tersebut adalah orang-orang yang berbesar hati membiarkan orang lain untuk memilih jalannya sendiri walaupun mungkin dia tidak setuju dengan jalan tersebut. Sikap seperti ini sangat perlu dalam keluarga, membiarkan setiap anggota keluarga berkembang dan dapat hidup utuh sepenuhnya.

Berkait berbesar hati, Ajith mencontohkan kehidupan suami istri di Sri Lanka. Banyak pria di Sri Lanka menyukai acara olah raga dan politik di televisi dibandingkan dengan istri mereka. Selama hal ini tidak dilakukan berlebihan dan tidak melukai keluarga, istri yang berbesar hati membiarkan suaminya menikmati acara olah raga dan politik. Dia mungkin dapat mengembangkan minat akan hal ini karena kecintaannya terhadap suaminya.

Sebaliknya, pria juga dapat mengembangkan minat terhadap acara masak-memasak di televisi di mana kebanyakan wanita lebih menikmati hal ini. Pria dapat membiarkan istri mereka untuk menikmati acara kesukaan mereka dan sang suami menolong dengan mengerjakan beberapa tugas -tugas istri di rumah ketika istri sedang menikmati acara televisi tersebut.

Dengan mengembangkan sikap berbesar hati seperti contoh tersebut perbedaan bukan lagi menjadi soal, malah bisa menyatukan. Dengan mengembangkan sikap berbesar hati, itu artinya kita sedang selaras dengan nasihat Rasul Paulus: ”Hendaklah dengan rendah hati yang seorang menggangap yang lain lebih utama daripada dirinya sendiri” (Flp. 2:3). Dengan demikian, niscaya kesatuan keluarga kita tetap terpelihara!

Citra Dewi

Literatur Perkantas Nasional

Bagikan:
Posted on Tinggalkan komentar

Mendengarkan Suara-Nya

Semasa hidup Bunda Teresa pernah membagikan kisah perjumpaannya dengan seorang imam, yang kabarnya juga seorang teolog terbaik di India saat itu.

Peraih hadiah Nobel perdamaian itu berkata, ”Saya mengenal beliau sangat baik, dan saya berkata kepadanya, ’Romo, Anda berbicara tentang Allah sepanjang hari. Alangkah dekatnya Anda dengan Allah!’ Dan tahukah Anda apa yang dikatakannya pada saya? Dia menjawab, ’Saya mungkin berbicara terlalu banyak tentang Allah, tetapi saya mungkin berbicara terlalu sedikit kepada Allah.’ Dan kemudian dia menjelaskan, ’Saya mungkin mengutarakan begitu banyak kata dan mengatakan banyak hal baik, tetapi jauh di lubuk hati saya tidak punya waktu untuk mendengarkan. Padahal dalam keheningan hatilah, Allah berbicara kepada kita.’”

Masalahnya kerap di sini. Kita mungkin terlalu banyak berbicara tentang Allah, atau banyak hal baik, tetapi pertanyaannya: apakah kita sungguh-sungguh mendengarkan Allah?

Mendengarkan adalah awal pemahaman. Tanpa pendengaran yang baik, mustahil kita mampu memahami kehendak Allah. Akhirnya, apa yang kita lakukan bukanlah kehendak Allah, melainkan kehendak kita sendiri.

Padahal, sebagai Kristen kita sering berkata melalui doa Bapa Kami: ”Jadilah kehendak-Mu di bumi seperti di surga.” Lalu bagaimana kita sungguh yakin bahwa apa yang kita lakukan merupakan kehendak Allah, jika kita sendiri tidak mendengarkan Suara-Nya?

Mendengarkan bukan perkara gampang. Banyak godaan yang membuat kita sulit hening dan mendengarkan Allah. Tekanan hidup sering membuat kita lebih berkonsentrasi pada suara kita sendiri. Namun, baik kepada umat Israel maupun kita sekarang ini, ajaran Musa jelas, ”Jika kamu sungguh-sungguh mendengarkan firman-Ku…” (Kel. 19:5).

Dan tak jarang Allah berbicara melalui rekan kerja kita.

Selamat Bekerja!

Yoel M. Indrasmoro
Direktur Literatur Perkantas Nasional

Bagikan:
Posted on Tinggalkan komentar

Tidak Ada Rumah yang Sempurna

”Kecocokan adalah proses seumur hidup.” Ungkapan ini tepat ditujukan bagi pasangan suami istri dalam membangun keluarga Kristen. Tidak sedikit pasangan yang awalnya merasa sangat cocok, pada akhirnya memutuskan untuk berpisah karena alasan ketidakcocokan.

Banyak pasangan memimpikan perkawinan yang indah dan menjadi keluarga bahagia. Sehingga tiap pasangan memiliki ekspektasi yang sangat tinggi terhadap pasangannya. Namun, ketika ekspektasi itu tidak terpenuhi, mereka kecewa dan berpikir bahwa mereka tidak mungkin mewujudkan perkawinan Kristen yang ideal.

Keluarga Kristen adalah lembaga yang dibentuk dan dikuduskan oleh Allah sendiri, untuk memenuhi mandat Allah di bumi. Untuk memenuhi tujuan-Nya, Allah memakai keluarga yang tidak sempurna seperti keluarga Adam, keluarga Nuh, keluarga Abraham, dan Keluarga Ayub, untuk menyaksikan besarnya kuasa pekerjaan Allah atas keluarga mereka.

Ajith Fernando dalam bukunya Aku dan Seisi Rumahku: Kehidupan Keluarga Pemimpin Kristiani, menyatakan bahwa tidak ada perkawinan atau keluarga yang sempurna. Setiap keluarga bergumul dengan konflik, kesalahpahaman, dan rasa luka.

Oleh karena itu, baik jika tiap pasangan menyadari bahwa ia adalah orang berdosa yang senantiasa membutuhkan anugerah Allah, maka tiap pasangan akan dimampukan untuk saling mengampuni, saling mengasihi, dan saling menghargai. Bukan menumpuk amarah, yang pada akhirnya saling menyalahkan, saling menyerang, bahkan menyerah satu dengan yang lain. Sehingga, terang firman Tuhan dan kasih Kristus harus senantiasa dihadirkan dalam tiap keluarga. Ingat bahwa tiap keluarga Kristen dipanggil untuk menjadi saksi Kristus.

Ajith menambahkan bahwa perkawinan atau keluarga yang bahagia bukan hidup tanpa masalah, tetapi justru karena telah menghadapi banyak tantangan sulit yang membutuhkan kesabaran luar biasa dan bahwa mereka terus hidup dalam tantangan bersama dengan Kristus seumur hidup.

Sehingga patutlah tiap keluarga yang dipimpin oleh Kristus menyanyikan pujian berikut ini dengan lantang:

”Berbahagia rumah yang sepakat hidup sehati dalam kasihMu,
serta tekun mencari hingga dapat damai kekal di dalam sinarMu;
di mana suka-duka ’kan dibagi; ikatan kasih semakin teguh; di luar
Tuhan tidak ada lagi yang dapat memberi berkat penuh” (Kidung Jemaat 318:2).

Ririn Sihotang

Literatur Perkantas Nasional

Bagikan:
Posted on Tinggalkan komentar

Sukacita: Kekayaan Keluarga

Dr. Hiromi Shinya M.D.—seorang ahli usus terkemuka di dunia—dalam bukunya The Miracle of Enzyme, menuliskan bahwa manusia sejak lahirnya sudah dibekali dengan kemampuan yang menakjubkan untuk bisa menyembuhkan dirinya sendiri.

Yang menarik, dokter ini—yang tidak pernah sakit dalam 50 tahun terakhir—menuliskan, ”Penelitian saya menunjukkan bahwa dorongan energi emosi yang positif, seperti yang muncul dari kebahagiaan dan cinta, dapat menstimulasi DNA kita untuk memproduksi limpahan ’enzim utama’ tubuh kita,—yaitu sang ’enzim ajaib’ yang beraksi sebagai bio-katalis untuk memperbaiki sel-sel dalam tubuh. Kebahagiaan dan cinta dapat membangunkan suatu potensi jauh di luar pemahaman kita sebagai manusia saat ini.”

Perjanjian Lama menunjukkan bahwa sukacita adalah satu nilai penting dari pola hidup Kristen. Ada tiga belas akar kata dalam bahasa Ibrani yang menggambarkan tentang sukacita, dan sebagai hasilnya ada dua puluh tujuh kata yang dapat menggambarkan sukacita! Kita pun dapat mengatakan bahwa sukacita memengaruhi kesehatan keluarga kita, seperti yang dinyatakan dalam Amsal 17:22: ”Hati yang gembira adalah obat yang manjur.”

Ajith Fernando dalam bukunya Aku & Seisi Rumahku: Kehidupan Keluarga Pemimpin Kristiani, menuliskan bahwa kebahagiaan adalah harta sejati bagi keluarga. Ia juga menambahkan pendapat rekan pelayanannya—Tim Stafford—bahwa kebanyakan orang-orang yang bahagia dibesarkan dalam rumah di mana mereka melihat sukacita itu dipraktikkan setiap hari. Namun, banyak orang Kristen saat ini tidak mengalami sukacita dalam budaya keluarga mereka, padahal sukacita adalah warisan budaya yang harus diteruskan ke generasi selanjutnya. Sukacita adalah suatu nilai yang harus dipelajari dan dipraktikkan setiap hari dengan sadar.

Banyak pasangan kehilangan sukacita dalam keluarga mereka. Mereka dengan mudah jatuh dalam perangkap yang pada akhirnya dapat merusak sukacita tersebut. Perangkap ini dapat berupa perbudakan penampilan. Mereka berpikir bahwa jika mereka tidak bahagia setidaknya mereka harus tampil sebagai orang yang sukses, kaya, atau berpengaruh. Demi mengejar tujuan tersebut—tanpa disadari—mereka sedang memilih jalur berbahaya.

Kita harus mengingat bahwa persamaan atau kesejajaran dalam status sebagai manusia bukan berarti kita harus memiliki gaya hidup yang sama dengan keluarga Kristen lainnya. Kita harus hidup sesuai dengan kemampuan kita dan bahagia dengan apa yang kita miliki. Dengan memiliki komitmen tersebut, sebenarnya kita juga mengajarkan kepada anak-anak kita bahwa pengalaman berharga dalam hidup tidak selalu berhubungan dengan materi.

Aspek penting dalam kehidupan Kristen lainnya adalah pujian. Sukacita tidak akan menjadi penuh, sampai sukacita itu dibagikan. Suatu hadiah tidak akan dinikmati sepenuhnya, sampai kita memberikan penghargaan kepada pemberi hadiah. Jadi pujian adalah satu jalan untuk bersukacita bagi kehidupan Kristen. Pujian memberikan level baru dari sukacita; baik kepada si pemberi pujian maupun si penerima. Sebagaimana halnya sukacita adalah nilai penting dalam kekristenan, maka pujian juga praktik penting dalam hidup Kristen.

Salah satu cara yang baik untuk mengungkapkan cinta kita terhadap keluarga—pasangan dan anak kita—adalah melalui pujian. Setiap hari mereka berada dalam dunia yang sangat kompetitif yang dapat melukai mereka. Kita memang tidak dapat melindungi mereka dari semua hantaman itu, namun kita dapat memberikan rumah yang hangat dan lingkungan yang menerima mereka apa adanya dan menghargai mereka sebagai pribadi yang berarti.

Pemahaman-pemahaman berkait sukacita inilah yang diungkapkan oleh Ajith, yang menginspirasi penulis untuk membagikannya.  Sehingga, kita dapat menyambut ajakannya untuk membuat rumah menjadi tempat yang penuh sukacita. Sebab, ini adalah tujuan yang mulia!

Rycko Indrawan
Literatur Perkantas Nasional

Bagikan:
Posted on Tinggalkan komentar

Engkau Berharga di Mata-Ku

Ia sungguh tak mengerti mengapa lingkungan menolaknya. Mereka sering mengejeknya karena tubuhnya berbeda dengan anak itik lainnya. Mereka acap menertawakan gaya berenangnya yang tak lazim di kalangan itik.

Meski demikian, ia masih bisa menahan perasaannya. Dan menganggapnya sebagai bagian dari hidup. Dan mustahil mengharapkan semua hewan menyukai dirinya. Itulah prinsip yang dianutnya.

Yang lebih menyakitkan ialah tatkala saudara-saudaranya ikut-ikutan mencemoohnya. Mulanya ia mengharapkan perlindungan ibunya. Namun, ia sadar, ibunya tampaknya malu mengakuinya sebagai anak. Bahkan, ibunya, atas desakan saudara-saudaranya, ikut mengusirnya dari areal peternakan itu.

Itulah awal kisah Itik Si Buruk Rupa, karya H.C. Andersen. Dengan sedih, ia mengembara tanpa arah. Dalam pengelanaannya, tak terhitung berapa kali dia luput dari bahaya. Banyak hewan menolaknya.

Suatu kali ia bertemu beberapa angsa cantik, yang mau menerimanya. Ia pun akhirnya menemukan dirinya. Ia ternyata seekor angsa yang cantik.

Sadarlah ia, mengapa banyak anak itik yang menertawakan bentuk badannya yang bongsor, juga gaya berenangnya. Sebab, ia memang bukan anak itik. Ia anak angsa. Karena itulah ia tidak merasa perlu menyesali masa lalu. Apalagi membenci saudara-saudaranya.

”Masa lalu membentuk dirimu, jangan jadi bebanmu!” Ujar Chan Jun Bao dalam film Taichi Master. Tanpa masa lalu, tak ada masa sekarang. Membenci masa lalu berarti membenci diri sendiri yang merupakan bagian dari masa lalu.

Berdamai dengan masa lalu berarti pula berdamai dengan diri sendiri. Intinya, menerima diri sendiri. Hal terlogis yang dapat kita lakukan ialah menerima diri apa adanya. Dan ada satu alasan untuk itu: ”Oleh karena engkau berharga di mata-Ku dan mulia” (Yes. 43:4).

Apakah masa lalu menjadi beban Saudara hingga hari ini? Terimalah masa lalu itu. Terimalah diri Saudara apa adanya. Bagaimanapun juga, di mata Tuhan kita berharga dan mulia!

Selamat Bekerja!

Yoel M. Indrasmoro
Direktur Literatur Perkantas Nasional

Bagikan: