Posted on Tinggalkan komentar

Berkomitmen

Sebagian orang beranggapan bahwa berkomitmen adalah sebuah tantangan yang sulit sekaligus menyenangkan. Namun, sebagian orang lainnya beranggapan bahwa tidak perlu menciptakan komitmen apa pun apabila tidak dilandasi ’hitam di atas putih’ atau jika tidak memberikan keuntungan bagi dirinya.

Jika seseorang berkomitmen demi kesehatan dirinya, maka otomatis dia harus rajin berolahraga dan makan makanan yang sehat. Jika seseorang berkomitmen untuk lulus kuliah tepat waktu, maka ia harus rajin mengerjakan bab demi bab skripsinya hingga tiba waktu ujian skripsi. Jika seseorang berkomitmen agar wajahnya bersih dan tidak penuh jerawat, maka dia akan merawat dirinya dengan berbagai macam produk skincare. Contoh komitmen-komitmen terhadap diri sendiri itu tampak mudah, tetapi sebenarnya bisa dikatakan tidak sama sekali.

Saya percaya bahwa hal berkomitmen sama saja dengan suatu beban yang harus dipertanggungjawabkan oleh tiap individu. Komitmen pada diri sendiri bahkan akan lebih sulit dalam realisasinya. Bagaimana dengan komitmen dengan orang lain? Mungkin kita sepakat bahwa ini pun tak bisa dientengkan. Sama-sama sulit, sama-sama harus dipertanggungjawabkan.

Ajith Fernando dalam bukunya Aku & Seisi Rumahku: Kehidupan Keluarga Pemimpin Kristiani menuliskan bahwa pencapaian utama bagi kekristenan adalah melalui hubungan yang berkomitmen. Bahkan, ia secara tegas menyatakan bahwa orang Kristen harus mendisplinkan diri untuk memelihara kesenangan (seperti kesenangan seksual) dalam perkawinan.

Secara alkitabiah, orang-orang dapat mulai mengerti hubungan antara Allah dan orang Kristen dengan melihat hubungan yang baik antara suami istri. Oleh karena itu, ”Hendaklah suami memenuhi kewajibannya terhadap istrinya, demikian pula istri terhadap suaminya” (1Kor. 7:3).

Allah mau umat-Nya belajar melihat segala kesenangan dalam relasi suami istri maupun relasi muda remaja sebagai suatu hal yang kudus, spiritual, dan menyenangkan hati-Nya.

Bagikan:
Posted on Tinggalkan komentar

Rencana Allah

Keluarga dirancang Allah sebagai tempat untuk mendapatkan kesegaran dan kekuatan dalam menghadapi rumitnya kehidupan ini. Di tengah kerasnya kehidupan, keluarga seharusnya menjadi sumber rasa aman dan nyaman. Keharmonisan keluarga dimulai dari keakraban dan kehangatan relasi suami istri.

Suami harus mencintai istrinya dengan penuh pengorbanan, dan istri harus tunduk dengan hormat kepada suaminya. Ketaatan adalah sesuatu yang diberikan istri dengan sukacita kepada suami yang mengasihi dan memperlakukan mereka dengan hormat.

Ajith Fernando dalam bukunya Aku dan Seisi Rumahku:  Kehidupan Keluarga Pemimpin Kristiani, menegaskan bahwa Allah akan memberikan kekuatan kepada suami istri yang bersedia taat kepada-Nya.

Pemimpin Kristen yang berusaha untuk menjadi anggota keluarga yang baik dapat bereaksi bahwa hidup memang sulit, hidup menguras emosi dan melelahkan secara fisik. Akan tetapi, kasih Allah cukup untuk memberi kita kekuatan untuk mengasihi.

Kita harus taat kepada Allah dalam segala aspek hidup kita. Itu adalah tugas yang sulit dalam dunia yang begitu sibuk. Menjadi manusia yang berkomitmen dalam pekerjaan, aktif di gereja dan keluarga akan sangat melelahkan. Namun, kita seharusnya tidak mengabaikan kepentingan yang sulit dan memakan waktu terkait keluarga kita dengan alasan sibuk bekerja dan melayani.

Jika kita menetapkan bahwa mengasihi keluarga adalah prioritas, hidup kita akan menjadi perjalanan panjang di dalam mengeksplorasi indahnya kehidupan berkeluarga. Ada sukacita yang luar biasa dan rasa aman ketika kita tahu bahwa keluarga kita saling mengasihi dan menginginkan yang terbaik satu dengan yang lain.

Heru Santoso

Literatur Perkantas Nasional

Bagikan:
Posted on Tinggalkan komentar

Insan-insan Merdeka

Semasa hidup, Ibu Teresa pernah mengunjungi keluarga Hindu miskin. Dalam kunjungannya, penerima hadiah Nobel perdamaian itu membawa beras untuk membantu keluarga tersebut. Nyonya rumah menerimanya, membagi beras itu menjadi dua, lalu pergi ke luar rumah.

Photo by Nick Agus Arya on Unsplash

Ketika wanita itu kembali, Ibu Teresa bertanya ke mana dia pergi. ”Ke rumah tetangga,” jawabnya, ”mereka juga lapar.”

Ibu Teresa adalah sosok insan merdeka. Dia memperlihatkan jiwa merdeka kala meninggalkan negerinya dan pergi ke India sebagai misionaris. Dia juga menampakkan diri selaku pribadi merdeka saat meninggalkan pelayanan sebagai kepala sekolah dan membuka ladang pelayanan baru dalam kekumuhan masyarakat Kolkata. Kisah tadi memperlihatkan kemerdekaan Ibu Teresa sewaktu memberikan beras kepada keluarga dina itu.

Memberi kepada orang lain merupakan tindakan insan merdeka. Dia tak lagi terikat dengan benda tersebut. Dia bersikap lepas-bebas terhadap barang yang dimiliki. Dia rela melepas agar orang lain bisa merasakan apa yang dinikmatinya.

Tindakan merdeka itu menular. Keluarga Hindu miskin itu ternyata tak mau menikmati beras sendirian. Mereka teringat kepada tetangga mereka yang juga lapar. Mereka berbagi agar orang lain bisa makan.

Keluarga Hindu miskin itu juga insan merdeka. Hati dan pikiran mereka tidak melekat pada beras. Mereka rela melepaskannya. Meski sadar, beberapa hari kemudian mereka mungkin tak lagi punya beras untuk dimakan. Agaknya, mereka tak terlalu hirau masa depan. Saat memiliki beras, mereka ingin tetangga sebelah juga merdeka dari lapar.

Kemerdekaan merupakan sikap hidup. Soalnya: apakah seseorang merdeka terhadap harta miliknya? Dan menjadi insan merdeka merupakan panggilan insani karena—mengutip sabda Sang Guru—”Di mana hartamu berada, di situ juga hatimu berada” (Mat. 6:21).

Selamat bekerja,

Yoel M. Indrasmoro
Direktur Literatur Perkantas Nasional

Bagikan:
Posted on Tinggalkan komentar

Kasih

Dalam 1 Korintus 13, terlihat jelas bahwa kasih merupakan ciri khas terpenting seorang murid Kristus. Kasih juga mewarnai kehidupan keluarga Kristen. Dalam Efesus 5:25, seorang suami dinasihati untuk mengasihi istri seperti Tuhan Yesus yang telah mengasihi dan menyerahkan diri-Nya bagi jemaat.

Kasih adalah tujuan, bukan alat untuk mencapai tujuan. Kita tidak mengasihi untuk mendapatkan sesuatu, sebab hasil yang kita peroleh dari mengasihi tidaklah penting. Kita bersukacita karena mengasihi dengan tulus.

Tindakan kasih juga tak lantas dapat memberi kita kepuasan, entah berharap atas respons kasih dari orang lain atau mengharapkan kepuasan batin dari tindakan mengasihi. Hanya Yesus yang dapat memuaskan kerinduan terdalam kita.

Tidak ada orang atau benda lain yang dapat memuaskan kita. Paulus sendiri telah mengalaminya. Oleh karena itu, ia rela meninggalkan segala sesuatu yang dia miliki demi mengejar pengenalan akan Kristus.

Kristus memuaskan dan memberikan kekuatan kepada kita untuk mengasihi dengan penuh pengorbanan. ”Ketika kita masih berdosa, Kristus telah mati untuk kita” (Rm. 5:8). Inilah makna kasih agape dalam Kristus. Walaupun kita belum mengasihi Kristus, Dia sudah terlebih dahulu mengasihi kita, bahkan rela menyerahkan nyawa-Nya untuk menebus dosa manusia.

Ajith Fernando dalam bukunya, Aku dan Seisi Rumahku: Kehidupan Keluarga Pemimpin Kristiani, menjelaskan apa yang Kristus lakukan telah membawa kita pada inti kasih kekristenan. Ia juga menjelaskan bahwa kita mengambil keputusan untuk mengasihi walaupun secara natural kita tidak ingin melakukannya bahkan ketika objek kasih kita sepertinya tidak layak menerima kasih.

Kasih Tuhanlah yang memampukan kita menghadapi berbagai rintangan dalam mengasihi. Kiranya hati kita selalu berkelimpahan dalam kasih-Nya.

Priskila Dewi Setyawan
Literatur Perkantas Nasional

Bagikan:
Posted on Tinggalkan komentar

Akulah Kebangkitan dan Hidup

”Akulah kebangkitan dan hidup” (Yoh. 11:25). Di dalam suasana duka, Marta mendengar ucapan berwibawa ini. Yesus adalah kebangkitan dan hidup. Artinya, tak ada kematian kekal dalam diri orang yang percaya kepada-Nya. Kematian merupakan awal kehidupan kekal para pengikut Kristus.

Photo by Ricardo Mancía on Unsplash

Itu jugalah kalimat yang menghiburkan dan menguatkan setiap Kristen. Tak hanya dapat dirasakan di surga nanti, tetapi juga di dunia kini.

Dalam pengalaman hidup sesehari, tentu kita pernah mengalami saat-saat sulit, yang membuat kita merasa lebih baik mati saja. Namun, ini pula yang sering terjadi, kita mengalami bahwa Tuhan sungguh nyata dalam hidup. Tuhan peduli.

Ketika semua jalan terasa buntu, kita merasakan tangan Tuhan yang membangkitkan dan menghidupkan. Biasanya dengan cara yang tidak kita duga sebelumnya.

Jika memang demikian pengalaman kita, apakah kita telah menjadi orang yang membangkitkan dan menghidupkan orang lain? Apa yang telah kita lakukan bagi orang lain?

Lebih sempit lagi, bagaimanakah tutur kata kita terhadap orang lain? Kita tahu, pujian akan membangkitkan, menghidupkan, dan menyelamatkan hidup orang. Kapankah terakhir kali kita memuji?

Kita semua juga tahu, makian dan cemoohan akan mematikan dan membuat banyak orang tidak berkembang. Kapankah terakhir kali kita memaki, mencemooh, atau menyindir?

Dan manakah yang lebih banyak dirasakan orang lain: kata-kata yang menghidupkan atau yang mematikan? Pujian atau cemoohan?

Jika kita percaya bahwa Yesus adalah kebangkitan dan hidup—yang membangkitkan dan menghidupkan, apakah kita juga telah membangkitkan dan menghidupkan orang lain—khususnya rekan kerja kita?

Selamat bekerja,

Yoel M. Indrasmoro
Direktur Literatur Perkantas Nasional

Bagikan:
Posted on Tinggalkan komentar

Menyalibkan Diri

”Seseorang yang sudah menikah selama 50 tahun ditanya tentang rahasia perkawinannya yang bahagia. Dia menjawab, setiap hari ada sesuatu yang dia tahan untuk dikatakan. Dia menyalibkan dirinya setiap hari.”

Demikianlah salah satu kunci rumah tangga sehat menurut Ajith Fernando, dalam bukunya Aku dan Seisi Rumahku: Kehidupan Keluarga Pemimpin Kristiani. Masih menurut Ajith Fernando, ”Kegagalan kita untuk menyalibkan diri akan membawa ketidakbahagiaan dalam rumah tangga kita.”

Sejatinya, menyalibkan diri merupakan praktik dasar dalam kehidupan bersama kristiani. Jika tidak ada yang mau menyalibkan diri bisa dipastikan bahwa sebuah keluarga akan hancur berantakan. Dan akan lebih baik lagi, jika setiap orang mendahulukan kepentingan pasangannya.

Dalam sebuah perkawinan, jelas Ajith, ”Akhir dari konflik yang kita harapkan bukanlah kemenangan ego, melainkan kesatuan di bawah kehendak Allah dan ketika kita sudah menemukannya, maka kita harus tunduk terhadap kehendak Allah tersebut.” Dengan kata lain, bukan siapa yang menang, tetapi Allahlah yang harus dimuliakan.

Tak gampang memang. Namun, menyangkal diri demi ketaatan kepada Kristus sesungguhnya merupakan jalan menuju hidup. Tak hanya di dunia nanti, tetapi juga di dunia perkawinan kita.

Dan itu bisa dimulai dengan belajar menahan diri untuk mengatakan sesuatu yang mungkin menyakitkan pasangan kita. Terutama ketika hati kita sedang dikuasai emosi.

Yoel M. Indrasmoro
Literatur Perkantas Nasional

Bagikan:
Posted on Tinggalkan komentar

Jika Garam Itu Menjadi Tawar

Seorang murid bertanya kepada Kung Fu Tse, ”Guru, semakin lama kita hidup dan semakin banyak kita belajar, semakin banyak kita mengetahui. Dari sekian banyak hal itu, apa yang paling perlu kita pelajari dan ketahui?” Kung pun menjawab, ”Li.” Demikianlah percakapan yang direkam Andar Ismail dalam bukunya Selamat Menabur”.

Menurut Kung Fu Tse—filsuf Cina yang hidup pada abad ke-5 SM—yang paling perlu dalam hidup manusia adalah mengetahui dan menjalankan li. Li berarti peran yang sesuai hakikat, perilaku pantas, atau sikap hidup yang patut. Dan setiap orang mempunyai sedikitnya satu li.

Misalnya, li seorang majikan adalah mengupayakan kesejahteraan karyawannya sebaik mungkin, sedangkan li karyawan adalah berdedikasi dengan kinerja setinggi mungkin. Kalau jadi guru, mengajarlah dengan segenap hati; kalau menjadi murid, belajarlah dengan sepenuh hati. Intinya, hidup berkualitas.

Yesus Kristus agaknya tengah membicarakan li saat berujar, ”Jika garam itu menjadi tawar, dengan apakah ia diasinkan?” (Mat. 5:13). Hakikat garam adalah asin. Fungsinya menggarami. Ketika garam kehilangan asinnya, maka dia akan kehilangan fungsinya; dia tidak dapat menjalankan li-nya.

Menurut G.M.A. Nainggolan, mantan pemimpin redaksi BPK Gunung Mulia juga guru kepengarangan saya, ”Lebih baik jadi kuli yang dibutuhkan, ketimbang bos yang tidak dibutuhkan orang.”

Karena itu, menjaga kadar garam merupakan keniscayaan. Caranya: berlatih, berlatih, dan berlatih. Latihan akan membuat kita sempurna. Sebab, tanpa rasa asin, mustahil kita mampu menggarami tempat di mana kita berada. Juga di tempat kerja kita hari ini.

Selamat bekerja,

Yoel M. Indrasmoro
Direktur Literatur Perkantas Nasional

Bagikan:
Posted on Tinggalkan komentar

Siap Berubah!

”Tuhan Yesus tidak berubah. Tidak berubah, tidak berubah. Tuhan Yesus tidak berubah, tak berubah selama-lamanya.” Sepenggal lirik lagu sekolah minggu ini amat menyejukkan hati. Kenyataan bahwa Tuhan tidak berubah menjadi jaminan yang pasti di tengah dunia yang terus berubah. Dan hal ini patut kita syukuri.

Lain halnya dengan manusia. Sejak manusia jatuh ke dalam dosa, manusia telah kehilangan kemuliaan Allah. Manusia telah berubah setia kepada Allah yang menciptakannya. Hidup manusia tidak lagi mencerminkan Pribadi Sang Pencipta. Oleh karena itu, manusia harus siap berubah! Kembali pada tujuan awal ketika manusia diciptakan, yakni menjadi wakil Allah untuk mengusahakan dan memelihara bumi bagi kemuliaan-Nya.

Jika manusia tidak berubah, manusia akan binasa. Sebab, upah dosa adalah maut! Syukur kepada Allah bahwa di dalam Yesus Kristus manusia beroleh keselamatan. Sebab, ”Kristus Yesus telah ditentukan Allah menjadi jalan pendamaian melalui iman, dalam darah-Nya” (Rm. 3:25).

Dengan beriman kepada Yesus manusia kembali diperkenan oleh Allah. Iman ini jugalah yang mendorong manusia untuk hidup seturut dengan kehendak Allah. Sebab, iman harus berbuah dalam perbuatan. Perbuatan yang mencerminkan Pribadi Sang Pencipta. Dan jika ini dilakukan bukan tidak mungkin akan memberi dampak baik bagi sekeliling kita.

Seperti seorang Istri yang dicontohkan oleh Ajith Fernando dalam buku Aku dan Seisi Rumahku. Namanya Mary. Mary ingin menaklukkan temperamennya yang buruk karena ia sadar bahwa sikap ini tidak sejalan dengan imannya. Dan Mary berhasil melakukanya. Ia telah memercayakan temperamennya untuk disembuhkan oleh Yesus. Perubahan hidup yang terjadi pada Mary membuat John suaminya bertobat dan menerima Yesus.

Bayangkan, satu perubahan dalam diri orang beriman mampu memberikan dampak yang luar biasa—seseorang bertobat dan menerima Yesus. Tentu saja ini tidak lepas dari doa dan pekerjaan Roh Kudus. Oleh karena itu, jangan berhenti berubah menjadi pribadi yang lebih baik. Pribadi yang mencerminkan citra Sang Pencipta.

Percayalah bahwa Tuhan senantiasa menyertai dan menopang kita di dalam melakukannya. Bukankah Ia tidak berubah? Jadi, teruslah berjuang!

Citra Dewi Siahaan

Literatur Perkantas Nasional

 

Bagikan:
Posted on Tinggalkan komentar

Meningkatkan Kapasitas

”Sebab hal Kerajaan Surga sama seperti seorang yang mau bepergian ke luar negeri, yang memanggil hamba-hambanya dan mempercayakan hartanya kepada mereka” (Mat. 25:14). Demikianlah Sang Guru memulai perumpamaan-Nya.

Hal kerajaan surga itu berkait dengan kepercayaan. Sang tuan memercayakan hartanya kepada para hambanya, masing-masing menurut kesanggupannya.

Jelaslah, para hamba itu merupakan orang kepercayaan. Jika tidak, mana mungkin tuan itu mau memercayakan hartanya. Mereka dipercaya. Modal dasar seorang hamba adalah kepercayaan.

Kepercayaan juga modal utama sebuah pekerjaan. Jika hari ini kita masih bekerja, sejatinya kita masih dipercaya. Dan jalan terlogis adalah menghidupi kepercayaan itu dengan penuh tanggung jawab.

Itulah yang dilakukan hamba-hamba yang mendapatkan lima dan dua talenta. Mereka tidak menyia-nyiakan kepercayaan itu. Mereka mengembangkan talenta mereka. Dan hasilnya, peningkatan wewenang dan tanggung jawab.

Sayangnya, hamba yang mendapat satu talenta, tak merasa diri sebagai orang kepercayaan, malah mengubur talenta itu. Akibatnya, predikat hamba pun dicabut dari dirinya.

Meningkatkan kapasitas diri merupakan hal lumrah. Yang berdampak pada hasil kerja, yang bermuara pada keuntungan tempat kerja. Ujungnya-ujungnya pekerja pulalah yang akan ketambahan rejeki.

Jika tidak ada penambahan rejeki pun, percayalah kita telah meningkatkan kualitas curriculum vitae kita. Itu modal bagi masa depan kita.

Selamat bekerja,

Yoel M. Indrasmoro
Direktur Literatur Perkantas Nasional

Bagikan:
Posted on Tinggalkan komentar

Betapa Kita Tidak Bersyukur

”Betapa kita tidak bersyukur bertanah air kaya dan subur; lautnya luas, gunungnya megah, menghijau padang, bukit dan lembah.”

Demikianlah bait pertama Kidung ”Betapa kita tidak bersyukur” (Kidung Jemaat 337) karya Subronto Kusumo Atmodjo (1979). Subronto  menyatakan, bersyukur kepada Tuhan atas bumi yang dipijak dan langit yang dijunjung merupakan keniscayaan.

Dalam refreinnya, ditekankan alasannya: ”Itu semua berkat karunia Allah yang Agung, Mahakuasa; itu semua berkat karunia Allah yang Agung, Mahakuasa.” Subronto merasa perlu mengulangi kalimat yang sama. Bisa jadi karena dia memahami bahwa satu-satunya alasan untuk bersyukur memang hanya karena ini: semua berkat Allah. Dan konservasi merupakan salah satu bentuk rasa syukur itu.

John Zizioulas, sebagaimana dikutip Victor Nikijuluw dalam bab akhir bukuya Teologi Kreasi dan Konservasi Bumi, mengatakan: ”Lingkungan hidup tidak menjadi lebih baik hanya karena umat manusia melakukan upaya-upaya praktis dalam menjaganya, melainkan juga karena mereka beriman dan menyembah Allah.”

Masalahnya, kebanyakan orang beranggapan, konservasi  tidak menguntungkan secara sosial ekonomi. Padahal, menurut Nikijuluw, konservasi menguntungkan secara biologi, ekologi, sosial, dan ekonomi.

Menurut Nikijuluw, seekor ikan pari manta yang berukuran 50 kg bila ditangkap dan dijual insang dan dagingnya akan bernilai sekitar Rp3 juta, sekali ditangkap dan untuk selamanya. Namun, bila ikan pari manta itu dibiarkan hidup di alamnya dan dikembangkan sebagai satu objek pariwisata manta-diving, maka selama 25 tahun masa hidupnya ikan pari mata itu bisa menghasilkan Rp1 milyar. Nilai ekonomi yang diberikan ikan pari manta yang hidup nilainya jauh lebih banyak.

Namun, di atas semuanya itu, pemahaman bahwa bumi adalah milik Allah yang patut disyukuri, memang harus menjadi dasar dari semua tindakan konservasi kita.  Dan salah satu tindakan konkretnya: belajar hidup sederhana.

 

Yoel M. Indrasmoro

Literatur Perkantas Nasional

Bagikan: