Posted on Tinggalkan komentar

Doa Pagi

Ketika orang Filistin telah menduduki lembah Refaim, bertanyalah Daud kepada Tuhan, ”Apakah aku harus maju melawan orang Filistin itu? Akan Kauserahkankah mereka ke dalam tanganku?” (2Sam. 5:19). Tuhan menjawabnya, dan Daud pun berbuat sesuai kehendak Tuhan.

Photo by James Coleman on Unsplash

Sewaktu orang Filistin maju sekali lagi untuk menyerang, Daud tidak serta merta menyerang mereka, namun kembali bertanya kepada Tuhan (2Sam. 5:23). Tuhan berkehendak agar Daud menyerang, tetapi dengan strategi berbeda. Daud taat dan menang.

Meski seorang jenderal tempur yang cakap, Daud merasa perlu bertanya. Masalahnya, banyak orang segan bertanya. Mereka pikir itu hanya akan memperlihatkan kelemahan. Daud tidak. Dia bertanya. Sebelum melangkah, Daud berkonsultasi kepada Tuhan.

Mengapa? Sesungguhnya, Daud, juga kita, takkan pernah tahu masa depan. Tiada yang pasti. Akan tetapi, Allah, Sang Pasti itu, mengetahuinya. Dialah pemegang masa depan. Sehingga, jalan terlogis ialah bertanya kepada-Nya. Caranya? Ya, berdoa!

Doa pagi, setelah bangun tidur, merupakan tindakan tepat untuk mempersiapkan strategi dalam menghadapi hari ini.

Pertanyaannya: bagaimana dengan doa pagi kita hari ini?

Selamat Bekerja!

Yoel M. Indrasmoro
Direktur Literatur Perkantas Nasional

Bagikan:
Posted on Tinggalkan komentar

Memelihara Bumi

Selama 20 tahun terakhir, banyak terjadi bencana alam yang mengerikan dan menyebabkan kematian ratusan ribu manusia, hewan, serta menghancurkan wilayah daratan. Kemarau yang ekstrem, kualitas udara yang semakin buruk, dan kebakaran hutan disebabkan oleh kebiasaan membuka ladang tanpa memperhatikan lingkungan. Ini semua merupakan bencana yang disebabkan ulah manusia. Bumi semakin tua oleh sebab salah pengelolaan.

Tentu saja para ahli dan pemimpin dunia sudah menyadari hal ini. Berbagai fakta, komitmen, kesepakatan, dan perjanjian internasional ditandatangani serta dijadikan dasar untuk mencegah kerusakan ekosistem bumi yang semakin parah. Tentu ada banyak pendekatan lain yang bisa dilakukan. Salah satu pendekatan yang mendasar, yaitu mengikuti perintah Allah sesuai yang dikatakan dalam Alkitab.

Sesungguhnya, Allah memberikan mandat bagi manusia untuk mengusahakan dan memelihara bumi dengan sebaik-baiknya, demi kepentingan manusia sendiri. Hal ini patut menjadi fondasi gagasan, perilaku, dan tindakan kita. Mandat Allah kepada kita adalah mengembangkan kemampuan dan kapasitas dalam mengusahakan sumber daya itu, sehingga jumlah yang terbatas itu dapat dimanfaatkan dan digunakan untuk memenuhi kebutuhan kita. Bumi adalah rumah kita yang harus dijaga dan dilindungi oleh kita sendiri.

Dalam buku Teologi Kreasi dan Konservasi Bumi, Victor P.H. Nikijuluw menjelaskan bahwa Allah menciptakan kita dengan salah satu mandat khusus, yaitu mengusahakan dan memelihara bumi. Mandat ini begitu besar, sementara kita begitu kecil dibandingkan dengan seluruh isi bumi. Sebagai individu Kristen yang percaya kepada Allah Pencipta alam semesta, termasuk diri kita sendiri, mandat ini adalah salah satu konsekuensi logis.

Generasi muda, pemuda, remaja, dan anak-anak perlu diperkenalkan tentang mandat ini sejak dini. Bumi dan lingkungan di sekitar kita adalah berkat karunia Allah yang harus diusahakan dan dipelihara. Kekayaan alam nusantara adalah berkat Allah yang diberikan kepada bangsa. Memelihara dan merawatnya merupakan tanggung jawab semua warga negara, tetapi secara spesifikasi adalah perintah Allah bagi kita. Mari kita memelihara dan merawat bumi dari hal kecil dalam keseharian kita.

 

Heru Santoso

Literatur Perkantas Nasional

Bagikan:
Posted on Tinggalkan komentar

Melatih Kekuatan

”Memang hitam aku, tetapi cantik, hai puteri-puteri Yerusalem, seperti kemah orang Kedar, seperti tirai-tirai orang Salma.” (Kid. 1:5)

Photo by Stephen Leonardi on Unsplash

Kalimat ini merupakan pengakuan diri. Pengakuan diri yang bersumber pada kenyataan diri. Perempuan itu tidak menyembunyikan kenyataan. Dia tak malu menyatakan bahwa dirinya hitam. Kulitnya tidak putih. Dan dia tidak berusaha memutihkannya.

Dalam BIMK tertera: ”Biar hitam, aku cantik, hai putri-putri Yerusalem; hitam seperti kemah-kemah Kedar, tapi indah seperti tirai-tirai di istana Salomo!” Perempuan itu mampu menerima dirinya. Dia tidak berupaya menjadi orang lain. Bahkan, dia menganggap kehitamannya sebagai kecantikannya. Pada titik inilah kepercayaan diri muncul.

Kepercayaan diri berkembang ketika manusia mampu menerima diri. Kesulitan menerima kenyataan diri akan menyuarkan rasa minder, atau sebaliknya, rasa sombong. Ini jugalah modal utama dalam hubungan antarmanusia.

Rasa percaya diri muncul saat kita mampu menerima kelemahan dan kekuatan diri secara wajar. Dan akan lebih berguna jika kita memfokuskan diri pada kekuatan kita. Melatih kekuatan akan membuat diri kita semakin unik dan berguna. Dan kelemahan pun akhirnya tertutup dengan sendirinya.

Selamat Bekerja!

Yoel M. Indrasmoro
Direktur Literatur Perkantas Nasional

Bagikan:
Posted on Tinggalkan komentar

Sabat

Pada bab kedelapan buku Teologi Kreasi dan Konservasi Bumi, Victor P.H. Nikijuluw, menjelaskan bahwa masa setelah penciptaan adalah masa perhentian bagi Allah. Semua yang diciptakan adalah baik dan kehadiran manusia membuat kualitas penciptaan Allah paripurna, menjadi sangat baik. Allah berhenti pada hari ketujuh. Berhenti bukan berarti selesai. Allah masih beraktivitas, yaitu menguduskan dan memberkati ciptaan-Nya.

Istilah hari perhentian dikenal dengan Sabat. Nikijuluw juga menerangkan bahwa Israel harus berhenti setelah bekerja selama enam hari dan menggunakan hari ketujuh, atau hari Sabat untuk beristirahat, untuk merenung dan menikmati apa yang sudah Allah lakukan bagi kehidupan mereka. Hari Sabat bukanlah sekadar hari berhenti dari pekerjaan rutin, tetapi hari untuk memuliakan Allah melalui ibadah dan perbuatan nyata.

Yesus pun melakukan ibadah Sabat-Nya  tidak hanya secara fisik, tetapi perbuatan yang memuliakan Allah, yaitu menyembuhkan orang-orang yang memang sangat membutuhkan kesembuhan dan jamahan kasih Allah, dan keselamatan.

Manusia sebagai citra Allah adalah bagian dari yang dikuduskan dan diberkati, karenanya manusia memiliki tanggung jawab dan kewajiban untuk memuliakan  Allah, beribadah kepada Allah, dan melakukan apa yang Allah perintahkan. Tanggung jawab lainnya adalah merawat  dan memelihara hasil ciptaan Allah sedemikian rupa, sehingga akan tetap berguna dan bermanfaat bagi manusia dan generasi mendatang.

Kita boleh bekerja keras, sebab bekerja merupakan mandat Tuhan bagi kita di bumi ini, dan kerja merupakan ibadah atau bakti kita kepada Tuhan. Namun, jangan lupa bahwa tubuh kita adalah alat untuk memuliakan Tuhan, kita harus merawatnya dan membiarkannya beristirahat. Jika tidak, kelelahan akan membuat kita tidak dapat memiliki dan menikmati persekutuan dengan Tuhan, serta tidak dapat menjadi berkat bagi keluarga dan sesama.

Persekutuan yang baik dengan Tuhan akan mampu menyegarkan tubuh kita untuk dapat kembali bekerja melakukan mandat Tuhan.

 

Ririn Sihotang

Literatur Perkantas Nasional

Bagikan:
Posted on Tinggalkan komentar

Visi

Kita tidak pernah tahu identitas si lumpuh yang terbaring di kolam Betesda itu? Yang pasti dia telah 38 tahun lumpuh (Yoh. 5:5). Kemungkinan dia pernah berjalan sebelumnya. Tiga puluh delapan tahun bukan waktu sebentar.

Namun, si lumpuh tak patah arang. Dia masih memiliki harapan. Meski peluangnya kecil—karena kalah bersaing dengan para penderita sakit lainnya—dia tetap berharap. Bahkan, ketika sadar tak ada orang yang mau mengangkatnya, dia tak sudi meninggalkan kolam itu. Visinya satu: berjalan.

Yesus tahu keinginannya, tetapi Dia merasa perlu bertanya. Guru dari Nazaret itu ingin menguji apakah si lumpuh tetap hidup dalam visinya. Jawaban si lumpuh memperlihatkan bahwa dia masih menghidupi visinya. Itulah sebabnya Yesus menolong dia mewujudkan visinya.

Nah sekarang, apakah visi Anda dalam bekerja? Selaraskah dengan visi perusahaan? Jika tidak, usul saya: pindah tempat kerja. Sebab Anda pasti akan stres setiap hari. Atau, ini jalan terlogis, sesuaikan visi Anda dengan visi perusahaan.

Setelah itu, komunikasikanlah visi itu dengan Allah! Jika memang selaras dengan visi Allah, Allah pasti akan menolong Anda mewujudkannya. Itu hanya soal waktu. Percayalah!

Selamat Bekerja!

Yoel M. Indrasmoro
Direktur Literatur Perkantas Nasional

Bagikan:
Posted on Tinggalkan komentar

Ciptaan yang Istimewa

Teori evolusi Darwin dalam buku On the Origin of Species memang menjadi perdebatan—kontroversial—dan hingga sekarang tetap menjadi dasar bagi penelitian bidang Biologi Evolusi.

Kalau kita memandangnya dari sisi Alkitab dan iman Kristen, teori ini tidak berlaku bagi manusia yang diciptakan dengan citra Allah.

Alkitab dengan keyakinan penuh menyatakan bahwa manusia diciptakan oleh Allah. Manusia bukan merupakan hasil dari proses evolusi. Bila kita percaya pada teori dan proses evolusi, maka kita mengakui bahwa yang diciptakan Allah bukan manusia, tetapi spesies lainnya yang kemudian berubah perlahan-lahan karena seleksi dan proses alam hingga menjadi manusia.

Proses dan teori evolusi ini tidak berlaku bagi manusia. Alkitab menyatakan bahwa Allah pada akhirnya memutuskan menciptakan manusia, sebagai citra Allah, dengan napas Allah yang diberikan langsung kepada manusia. Tidak ada ciptaan lain di alam semesta ini yang mendapat secara langsung napas kehidupan dari Allah. Hanya manusia yang diciptakan dengan cara demikian.

Dalam bukunya Teologi kreasi dan Konservasi Bumi, Victor P.H. Nikijuluw, menjelaskan bahwa dua asumsi dasar yang digunakan Darwin, yaitu Struggle for Life (berusaha keras untuk hidup) dan Survival of the Fittest (yang paling kuat yang akan bertahan hidup)—cenderung atas dasar variabel atau atribut fisik. Padahal, manusia tidak hanya fisik (tubuh), bukan hanya debu tanah, tetapi yang paling penting adalah napas (roh dan jiwa) kehidupan dari Allah. Tentang napas kehidupan dari Allah ini tidak disinggung dalam Teori Darwin. Memang karya Allah tidak bisa dijadikan teori. Siapa yang mampu memahami pikiran Allah?

Kita diciptakan menurut gambar dan rupa Allah. Mungkin saja secara fisik dan psikis, kita berbeda dari yang lain, tetapi kita adalah ciptaan Allah yang khas, yang khusus, dan yang sangat berharga bagi Allah karena napas kita adalah kehidupan yang diberikan oleh Allah.

Citra Allah yang ada pada kita, membuat kita memiliki kesadaran dan hati nurani; sehingga kita dapat berkomunikasi dengan Allah. Citra Allah juga dapat membuka akses dan kesempatan kepada kita untuk setiap waktu dapat berhubungan dan bersekutu dengan Allah. Hal ini pulalah yang menegaskan betapa istimewanya kita sebagai makhluk ciptaan-Nya.

Jika kita merupakan ciptaan yang istimewa dan sangat berharga di mata Allah, pertanyaannya, sudahkah kita memuliakan Allah dalam kehidupan kita? Sudahkah kita senantiasa memancarkan citra Allah—dalam kata dan karya kita?

Rycko Indrawan

Literatur Perkantas Nasional

Bagikan:
Posted on Tinggalkan komentar

Keprihatinan, Ketaatan, dan Mukjizat

Kita tak pernah tahu siapa para pelayan itu (Yoh. 2:1-11). Namun, mereka menaati perintah Yesus dengan mengisi enam tempayan itu penuh dengan air.

Photo by Dominik Scythe on Unsplash

Mungkin Anda berkata, ”Namanya juga pelayan, ya harus taat!” Saya sepakat. Akan tetapi, kita tahu ada pelayan yang tidak taat, ogah-ogahan, dan tak serius. Ada juga yang menganggap kerja sebagai beban, sehingga menolak saat ketambahan pekerjaan.

Satu tempayan berisi antara 80-120 liter air, anggap 100 liter. Jika satu ember berisi lima liter air, dan dua tangan mengangkat dua ember, maka satu pelayan membutuhkan 60 rit (bolak-balik) untuk enam tempayan. Dua pelayan membutuhkan 30 rit.

Kemudian Yesus meminta mereka mencedoknya dan membawa ke pemimpin pesta. Ini sungguh menggelikan. Mereka tahu persis bahwa yang mereka timba dan cedok air belaka.

Mungkin mereka bingung, bertanya-tanya dalam hati, juga takut dimarahi pemimpin pesta. Masak pemimpin pesta diminta mencicip air! Namun, sekali lagi, mereka taat. Dan pada saat itulah mukjizat terjadi.

Mengapa mereka taat? Sepertinya mereka prihatin atas pesta itu. Mereka tidak ingin pesta itu gagal dan menjadi buah bibir. Mungkin juga karena mereka menyaksikan keprihatinan Maria dan anaknya Yesus. Karena itu, mereka bertindak.

H. A. Oppusunggu—guru penerbitan saya—pernah berkata, ”Modal terbesar perusahaan bukanlah uang, tetapi keprihatinan.” Keprihatinan mendorong orang bertindak.

Keprihatinan para pelayan itu berbuah ketaatan, yang akhirnya berbuah mukjizat!

Selamat Bekerja!

Yoel M. Indrasmoro
Direktur Literatur Perkantas Nasional

Bagikan:
Posted on Tinggalkan komentar

Melestarikan Fauna

Dalam buku Teologi Kreasi dan Konservasi Bumi, Victor P.H. Nikijuluw, membahas tentang Allah yang berkarya secara kreatif dan sistematis dalam penciptaan. Berawal dari terang sebagai sumber energi, ruang hidup sebagai habitat, tumbuhan sebagai makanan, benda-benda langit sebagai penerang, tumbuhan sebagai produsen energi, lalu hewan sebagai organisme penting.

Dalam bab 6, Nikijuluw, menerangkan Kejadian 1:20-25 tentang biodiversitas penciptaan fauna. Allah menciptakan makhluk hidup di dalam air, burung-burung, binatang laut yang besar, makhluk hidup yang bergerak dalam air, dan burung bersayap pada hari kelima. Kemudian Allah juga menjadikan segala jenis makhluk hidup, binatang liar, ternak, dan binatang melata di darat. Allah melihat bahwa semua ciptaan-Nya itu baik.

Peran Allah terhadap binatang dijelaskan dalam Ayub 39, yakni menyediakan makanan untuk hewan, menentukan dan mengatur reproduksi hewan, menyediakan habitat untuk hewan, menentukan hewan ternak dan piaraan, mengatur perilaku hewan, memberi kekuatan kepada hewan, serta mengatur migrasi hewan.

Semua binatang sangat bernilai dan dipelihara Allah. Manusia sewajarnya menghormati ciptaan Allah ini. Dengan menjaga kelestarian fauna, kita memuliakan Sang Pencipta. Hendaknya kita juga memuji Tuhan karena karya-Nya yang baik dan sempurna.

Begitu pentingnya binatang, sampai-sampai Allah tidak memusnahkan binatang pada saat peristiwa air bah. Tuhan menyelamatkan setiap jenis binatang secara berpasangan di dalam bahtera Nuh.

Allah bukan hanya memberkati manusia, melainkan juga binatang. Fauna bisa berkembang biak dan memenuhi bumi hanya karena Sang Pencipta.

Oleh karena itu, marilah kita menjaga kelestarian fauna. Dalam mengonsumsi daging, jangan mengonsumsi hewan yang diburu dari alam, tetapi hanya hewan ternak. Kita pun harus selektif dalam memilih ikan untuk dikonsumsi, sebaiknya kita mengonsumsi ikan pelagis kecil yang usia hidupnya pendek seperti layang, kembung, sarden, tongkol, dan teri. Hindari mengonsumsi ikan hiu dan tuna yang merupakan predator tingkat tinggi penjaga ekosistem laut.

Selain itu, hindari juga menggunakan pakaian dan aksesoris yang berasal dari kulit binatang. Usahakan agar binatang tidak punah sebab binatang turut menjaga keseimbangan ekosistem bumi. Mari kita turut melestarikan fauna.

Priskila Dewi Setyawan

Literatur Perkantas Nasional

Bagikan:
Posted on Tinggalkan komentar

Dicipta untuk Kemuliaan Allah

”Oleh karena engkau berharga di mata-Ku dan mulia, dan Aku ini mengasihi engkau, maka Aku memberikan manusia sebagai gantimu, dan bangsa-bangsa sebagai ganti nyawamu” (Yes. 43:4).

Israel berharga di mata-Nya. Begitu berharga, hingga Allah merasa perlu menebusnya. Mereka telah dimerdekakan dari Mesir.

Alasan mendasarnya: Allah menjadikan manusia bukan tanpa tujuan. Allah menciptakan manusia untuk kemuliaan-Nya. Tujuan dasar Allah menciptakan manusia ialah untuk memuliakan Dia (Yes. 43:7).

Tak heran, jika Allah sendiri merasa perlu turun ke dunia—menjadi manusia dalam diri Yesus Kristus—untuk menebus manusia. Sebab manusia memang dicipta untuk sesuatu yang mulia, yakni memuliakan-Allah.

Itu berarti, profesi atau pekerjaan yang kita pilih merupakan sarana untuk memuliakan Allah. Pertanyaannya: apakah tujuan dasar penciptaan itu sudah tergenapi dalam diri Anda?

Selamat Bekerja!

Yoel M. Indrasmoro
Direktur Literatur Perkantas Nasional

Bagikan:
Posted on Tinggalkan komentar

Misi ke Mars?

Kemarin malam teman kuliah saya mengirim pesan berupa tautan di grup Whatsapp. Tautan itu dibarengi dengan tanda pendaftaran dirinya dalam sebuah misi besar, misi ke Planet Mars. Sontak seluruh anggota grup Whatsapp dibuat antusias dan ingin tahu lebih banyak mengenai misi besar itu.

Rencananya, NASA akan meluncurkan misi robot penjelajah ke luar angkasa bernama M2020 pada Juli 2020. Robot yang mendarat pada Februari 2021 di Mars itu memiliki misi antara lain menyelidiki tanda-tanda kehidupan mikroba di Mars, mengidentifikasi iklim dan geologi Planet Mars, serta mengumpulkan referensi untuk pendaratan manusia di Mars ke depannya. NASA memberikan kesempatan kepada publik untuk mengirimkan nama ke Planet Mars lewat robot penjelajah tersebut. Tercatat hingga 19 Juni 2019, sudah lebih dari 7,2 juta orang mendaftarkan nama mereka. Pada tanggal yang sama, total pendaftar dari Indonesia telah mencapai 130.000 orang.

Victor P.H. Nikijuluw dalam bukunya Teologi Kreasi dan Konservasi Bumi menyatakan bahwa sesungguhnya memindahkan manusia dari Bumi ke Mars seharusnya bukanlah suatu pilihan. Meskipun manusia mampu menciptakan teknologi untuk mengatasi kendala-kendala teknis agar bisa menjadikan Mars sebagai habitat ideal, hal itu tidak berarti bahwa manusia bisa hidup dan berkembang biak di sana. Allah menciptakan dan menakdirkan manusia hidup di bumi, bukan di Mars.

Nikijuluw juga menerangkan bahwa sudah lebih dari 50 misi eksplorasi Mars sebagian besarnya mengalami kegagalan. Hanya ada empat misi yang relatif berhasil, yakni Sojouner (1997), Spirit (2004), Opportunity (2004), dan Curiosty (2014). Namun, keempat misi itu pun menghadapi berbagai persoalan yang tidak bisa dipecahkan. Seharusnya hal ini menyurutkan hasrat manusia untuk mencari kediaman baru, tetapi hasrat ini sulit dikekang.

Manusia ingin mendapatkan planet baru pengganti bumi, padahal bumi adalah pemberian Allah bagi manusia. Eksplorasi alam semesta semacam ini seharusnya semakin membuat manusia sadar dan tahu bahwa hanya Allah yang berkuasa dan mengendalikan alam semesta, bahwa manusia harus bersyukur bumi dipilih Allah sebagai rumah dan kediaman.

Allah sangat mengasihi dan mencintai kita melebihi kasih-Nya pada kreasi lainnya. Untuk keselamatan kita di alam semesta ini, Allah merancang dan melakukan skenario agung-Nya, yaitu menyelamatkan kita dari kebinasaan karena dosa, dan pada saatnya nanti Ia akan membawa kita ke dalam kehidupan yang abadi. Kita yang begitu kecil di alam semesta ini diperhatikan dan diselamatkan oleh Allah Mahabesar.

Febriana D.H.

Literatur Perkantas Nasional

Bagikan: