Posted on Tinggalkan komentar

Kesatuan

”Sebab itu seorang laki-laki akan meninggalkan ayahnya dan bersatu dengan isterinya…” (Kej. 2:25). Dalam ayat tersebut Alkitab menegaskan bahwa panggilan suami istri adalah bersatu. Tentu tidak mudah mengusahakan kesatuan di tengah ragam perbedaan masing-masing pribadi, baik suami maupun istri. Namun, ini sudah menjadi panggilan suami istri ketika memutuskan untuk menikah.

Bersatu di tengah perbedaan yang ada bukan tidak mungkin dilakukan selama tujuannya adalah sama-sama untuk menyenangkan hati Allah. Berkait hal ini, Ajith Fernando dalam bukunya Aku dan Seisi Rumahku: Kehidupan Keluarga Pemimpin Kristiani, mengutip ungkapan para pemimpin gereja zaman dahulu, ”Dalam hal-hal esensial, bersatu; dalam hal-hal tidak esensial, bebas; di dalam semua hal, kasih.” Menurutnya, ungkapan ini sangat menolong bagi kehidupan berkeluarga zaman sekarang.

Seruan Ajith berkait hal tersebut adalah orang-orang yang berbesar hati membiarkan orang lain untuk memilih jalannya sendiri walaupun mungkin dia tidak setuju dengan jalan tersebut. Sikap seperti ini sangat perlu dalam keluarga, membiarkan setiap anggota keluarga berkembang dan dapat hidup utuh sepenuhnya.

Berkait berbesar hati, Ajith mencontohkan kehidupan suami istri di Sri Lanka. Banyak pria di Sri Lanka menyukai acara olah raga dan politik di televisi dibandingkan dengan istri mereka. Selama hal ini tidak dilakukan berlebihan dan tidak melukai keluarga, istri yang berbesar hati membiarkan suaminya menikmati acara olah raga dan politik. Dia mungkin dapat mengembangkan minat akan hal ini karena kecintaannya terhadap suaminya.

Sebaliknya, pria juga dapat mengembangkan minat terhadap acara masak-memasak di televisi di mana kebanyakan wanita lebih menikmati hal ini. Pria dapat membiarkan istri mereka untuk menikmati acara kesukaan mereka dan sang suami menolong dengan mengerjakan beberapa tugas -tugas istri di rumah ketika istri sedang menikmati acara televisi tersebut.

Dengan mengembangkan sikap berbesar hati seperti contoh tersebut perbedaan bukan lagi menjadi soal, malah bisa menyatukan. Dengan mengembangkan sikap berbesar hati, itu artinya kita sedang selaras dengan nasihat Rasul Paulus: ”Hendaklah dengan rendah hati yang seorang menggangap yang lain lebih utama daripada dirinya sendiri” (Flp. 2:3). Dengan demikian, niscaya kesatuan keluarga kita tetap terpelihara!

Citra Dewi

Literatur Perkantas Nasional

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *