Posted on Tinggalkan komentar

Berani Kotor Itu Baik!

”Berani kotor itu baik!” Begitulah bunyi slogan iklan detergen yang entah mengapa selalu melekat di benak saya. Juga slogan iklan minyak kayu putih, ”Buat anak kok coba-coba!”. Bagi saya, kedua slogan tersebut sangat menarik karena meskipun hanya terdiri dari susunan kata yang sederhana, tetapi mampu memberikan kesan dan pesan tersendiri.

Kedua slogan tadi tidak hanya dibuat untuk menarik konsumen membeli barang yang telah mereka iklankan. Akan tetapi, slogan tersebut juga dengan lantang menyerukan, agar para orang tua sadar bahwa kebaikan yang dirasakan anak-anak adalah hal yang juga penting dalam tumbuh kembang kehidupannya.

Kondisi badan atau baju kotor yang selama ini mungkin sangat tidak dianjurkan oleh orang tua kepada anak-anaknya, justru dapat membunuh kebebasan, kreativitas, dan membuat dunia anak-anak terasa tidak berwarna. Selama ini orang tua selalu menjadikan anak-anak sebagai objek percobaan yang kebanyakan mungkin akhirnya gagal. Hal ini bisa membekas dalam memori anak-anak sebagai hal yang menyakitkan.

Slogan iklan saja mendorong agar hal-hal buruk itu tidak terjadi kepada anak-anak, apalagi Yesus yang adalah Allah dan juga Bapa dari semua anak-anak di dunia ini.

”Dan jalan-jalan di kota itu akan penuh dengan anak laki-laki dan perempuan yang bermain-main di situ” (Zak. 8:5). Yesus menggunakan sebuah gambaran tentang anak-anak yang bermain di jalan dalam salah satu perumpamaannya.

Meskipun tidak ada referensi jenis mainan dalam Perjanjian Lama, para arkeolog telah menemukan peluit, kerincing, kelereng, boneka, binatang (pada waktu itu menggunakan roda), dan aneka objek lainnya di banyak situs bersejarah di Palestina, yang memberikan indikasi jenis-jenis alat permainan yang dimainkan oleh anak-anak bangsa Israel. Dari sini kita dapat menarik kesimpulan bahwa bergembira dan bermain adalah ciri penting yang sudah ada dalam kehidupan anak-anak pada masa Alkitab.

Ajith Fernando menuliskan dalam bukunya Aku & Seisi Rumahku: Kehidupan Keluarga Pemimpin Kristiani bahwa orang tua harus membuat rumah menjadi tempat yang ramah dan menyenangkan. Ajith menilai, sering kali orang tua terlalu ingin menjaga rumah agar terlihat rapi dan bersih sehingga menghalangi kegembiraan yang anak-anak bisa dapatkan di rumah. Ia menyatakan, hal itu tidaklah sehat. Menurutnya, mengizinkan anak-anak untuk bermain tanpa rasa takut adalah kunci. Kebebasan bermain bukanlah sesuatu yang harus mereka perjuangkan dengan susah payah.

Ketika anak-anak bertumbuh menikmati kegembiraan yang aman dan sehat di rumah, mereka tidak akan rentan terhadap godaan dari kesenangan yang membawa mereka pada dosa. Orang tua perlu menunjukkan kepada anak-anak bahwa bergembira selalu selaras dengan kekristenan, dan satu-satunya cara untuk mendapatkan kegembiraan yang menyenangkan adalah dengan melakukannya bersama Allah.

Febriana DH
Literatur Perkantas Nasional

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *