Posted on Tinggalkan komentar

Sukacita: Kekayaan Keluarga

Dr. Hiromi Shinya M.D.—seorang ahli usus terkemuka di dunia—dalam bukunya The Miracle of Enzyme, menuliskan bahwa manusia sejak lahirnya sudah dibekali dengan kemampuan yang menakjubkan untuk bisa menyembuhkan dirinya sendiri.

Yang menarik, dokter ini—yang tidak pernah sakit dalam 50 tahun terakhir—menuliskan, ”Penelitian saya menunjukkan bahwa dorongan energi emosi yang positif, seperti yang muncul dari kebahagiaan dan cinta, dapat menstimulasi DNA kita untuk memproduksi limpahan ’enzim utama’ tubuh kita,—yaitu sang ’enzim ajaib’ yang beraksi sebagai bio-katalis untuk memperbaiki sel-sel dalam tubuh. Kebahagiaan dan cinta dapat membangunkan suatu potensi jauh di luar pemahaman kita sebagai manusia saat ini.”

Perjanjian Lama menunjukkan bahwa sukacita adalah satu nilai penting dari pola hidup Kristen. Ada tiga belas akar kata dalam bahasa Ibrani yang menggambarkan tentang sukacita, dan sebagai hasilnya ada dua puluh tujuh kata yang dapat menggambarkan sukacita! Kita pun dapat mengatakan bahwa sukacita memengaruhi kesehatan keluarga kita, seperti yang dinyatakan dalam Amsal 17:22: ”Hati yang gembira adalah obat yang manjur.”

Ajith Fernando dalam bukunya Aku & Seisi Rumahku: Kehidupan Keluarga Pemimpin Kristiani, menuliskan bahwa kebahagiaan adalah harta sejati bagi keluarga. Ia juga menambahkan pendapat rekan pelayanannya—Tim Stafford—bahwa kebanyakan orang-orang yang bahagia dibesarkan dalam rumah di mana mereka melihat sukacita itu dipraktikkan setiap hari. Namun, banyak orang Kristen saat ini tidak mengalami sukacita dalam budaya keluarga mereka, padahal sukacita adalah warisan budaya yang harus diteruskan ke generasi selanjutnya. Sukacita adalah suatu nilai yang harus dipelajari dan dipraktikkan setiap hari dengan sadar.

Banyak pasangan kehilangan sukacita dalam keluarga mereka. Mereka dengan mudah jatuh dalam perangkap yang pada akhirnya dapat merusak sukacita tersebut. Perangkap ini dapat berupa perbudakan penampilan. Mereka berpikir bahwa jika mereka tidak bahagia setidaknya mereka harus tampil sebagai orang yang sukses, kaya, atau berpengaruh. Demi mengejar tujuan tersebut—tanpa disadari—mereka sedang memilih jalur berbahaya.

Kita harus mengingat bahwa persamaan atau kesejajaran dalam status sebagai manusia bukan berarti kita harus memiliki gaya hidup yang sama dengan keluarga Kristen lainnya. Kita harus hidup sesuai dengan kemampuan kita dan bahagia dengan apa yang kita miliki. Dengan memiliki komitmen tersebut, sebenarnya kita juga mengajarkan kepada anak-anak kita bahwa pengalaman berharga dalam hidup tidak selalu berhubungan dengan materi.

Aspek penting dalam kehidupan Kristen lainnya adalah pujian. Sukacita tidak akan menjadi penuh, sampai sukacita itu dibagikan. Suatu hadiah tidak akan dinikmati sepenuhnya, sampai kita memberikan penghargaan kepada pemberi hadiah. Jadi pujian adalah satu jalan untuk bersukacita bagi kehidupan Kristen. Pujian memberikan level baru dari sukacita; baik kepada si pemberi pujian maupun si penerima. Sebagaimana halnya sukacita adalah nilai penting dalam kekristenan, maka pujian juga praktik penting dalam hidup Kristen.

Salah satu cara yang baik untuk mengungkapkan cinta kita terhadap keluarga—pasangan dan anak kita—adalah melalui pujian. Setiap hari mereka berada dalam dunia yang sangat kompetitif yang dapat melukai mereka. Kita memang tidak dapat melindungi mereka dari semua hantaman itu, namun kita dapat memberikan rumah yang hangat dan lingkungan yang menerima mereka apa adanya dan menghargai mereka sebagai pribadi yang berarti.

Pemahaman-pemahaman berkait sukacita inilah yang diungkapkan oleh Ajith, yang menginspirasi penulis untuk membagikannya.  Sehingga, kita dapat menyambut ajakannya untuk membuat rumah menjadi tempat yang penuh sukacita. Sebab, ini adalah tujuan yang mulia!

Rycko Indrawan
Literatur Perkantas Nasional

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *