Posted on Tinggalkan komentar

Menyalibkan Diri

”Seseorang yang sudah menikah selama 50 tahun ditanya tentang rahasia perkawinannya yang bahagia. Dia menjawab, setiap hari ada sesuatu yang dia tahan untuk dikatakan. Dia menyalibkan dirinya setiap hari.”

Demikianlah salah satu kunci rumah tangga sehat menurut Ajith Fernando, dalam bukunya Aku dan Seisi Rumahku: Kehidupan Keluarga Pemimpin Kristiani. Masih menurut Ajith Fernando, ”Kegagalan kita untuk menyalibkan diri akan membawa ketidakbahagiaan dalam rumah tangga kita.”

Sejatinya, menyalibkan diri merupakan praktik dasar dalam kehidupan bersama kristiani. Jika tidak ada yang mau menyalibkan diri bisa dipastikan bahwa sebuah keluarga akan hancur berantakan. Dan akan lebih baik lagi, jika setiap orang mendahulukan kepentingan pasangannya.

Dalam sebuah perkawinan, jelas Ajith, ”Akhir dari konflik yang kita harapkan bukanlah kemenangan ego, melainkan kesatuan di bawah kehendak Allah dan ketika kita sudah menemukannya, maka kita harus tunduk terhadap kehendak Allah tersebut.” Dengan kata lain, bukan siapa yang menang, tetapi Allahlah yang harus dimuliakan.

Tak gampang memang. Namun, menyangkal diri demi ketaatan kepada Kristus sesungguhnya merupakan jalan menuju hidup. Tak hanya di dunia nanti, tetapi juga di dunia perkawinan kita.

Dan itu bisa dimulai dengan belajar menahan diri untuk mengatakan sesuatu yang mungkin menyakitkan pasangan kita. Terutama ketika hati kita sedang dikuasai emosi.

Yoel M. Indrasmoro
Literatur Perkantas Nasional

Posted on Tinggalkan komentar

Siap Berubah!

”Tuhan Yesus tidak berubah. Tidak berubah, tidak berubah. Tuhan Yesus tidak berubah, tak berubah selama-lamanya.” Sepenggal lirik lagu sekolah minggu ini amat menyejukkan hati. Kenyataan bahwa Tuhan tidak berubah menjadi jaminan yang pasti di tengah dunia yang terus berubah. Dan hal ini patut kita syukuri.

Lain halnya dengan manusia. Sejak manusia jatuh ke dalam dosa, manusia telah kehilangan kemuliaan Allah. Manusia telah berubah setia kepada Allah yang menciptakannya. Hidup manusia tidak lagi mencerminkan Pribadi Sang Pencipta. Oleh karena itu, manusia harus siap berubah! Kembali pada tujuan awal ketika manusia diciptakan, yakni menjadi wakil Allah untuk mengusahakan dan memelihara bumi bagi kemuliaan-Nya.

Jika manusia tidak berubah, manusia akan binasa. Sebab, upah dosa adalah maut! Syukur kepada Allah bahwa di dalam Yesus Kristus manusia beroleh keselamatan. Sebab, ”Kristus Yesus telah ditentukan Allah menjadi jalan pendamaian melalui iman, dalam darah-Nya” (Rm. 3:25).

Dengan beriman kepada Yesus manusia kembali diperkenan oleh Allah. Iman ini jugalah yang mendorong manusia untuk hidup seturut dengan kehendak Allah. Sebab, iman harus berbuah dalam perbuatan. Perbuatan yang mencerminkan Pribadi Sang Pencipta. Dan jika ini dilakukan bukan tidak mungkin akan memberi dampak baik bagi sekeliling kita.

Seperti seorang Istri yang dicontohkan oleh Ajith Fernando dalam buku Aku dan Seisi Rumahku. Namanya Mary. Mary ingin menaklukkan temperamennya yang buruk karena ia sadar bahwa sikap ini tidak sejalan dengan imannya. Dan Mary berhasil melakukanya. Ia telah memercayakan temperamennya untuk disembuhkan oleh Yesus. Perubahan hidup yang terjadi pada Mary membuat John suaminya bertobat dan menerima Yesus.

Bayangkan, satu perubahan dalam diri orang beriman mampu memberikan dampak yang luar biasa—seseorang bertobat dan menerima Yesus. Tentu saja ini tidak lepas dari doa dan pekerjaan Roh Kudus. Oleh karena itu, jangan berhenti berubah menjadi pribadi yang lebih baik. Pribadi yang mencerminkan citra Sang Pencipta.

Percayalah bahwa Tuhan senantiasa menyertai dan menopang kita di dalam melakukannya. Bukankah Ia tidak berubah? Jadi, teruslah berjuang!

Citra Dewi Siahaan

Literatur Perkantas Nasional

 

Posted on Tinggalkan komentar

Betapa Kita Tidak Bersyukur

”Betapa kita tidak bersyukur bertanah air kaya dan subur; lautnya luas, gunungnya megah, menghijau padang, bukit dan lembah.”

Demikianlah bait pertama Kidung ”Betapa kita tidak bersyukur” (Kidung Jemaat 337) karya Subronto Kusumo Atmodjo (1979). Subronto  menyatakan, bersyukur kepada Tuhan atas bumi yang dipijak dan langit yang dijunjung merupakan keniscayaan.

Dalam refreinnya, ditekankan alasannya: ”Itu semua berkat karunia Allah yang Agung, Mahakuasa; itu semua berkat karunia Allah yang Agung, Mahakuasa.” Subronto merasa perlu mengulangi kalimat yang sama. Bisa jadi karena dia memahami bahwa satu-satunya alasan untuk bersyukur memang hanya karena ini: semua berkat Allah. Dan konservasi merupakan salah satu bentuk rasa syukur itu.

John Zizioulas, sebagaimana dikutip Victor Nikijuluw dalam bab akhir bukuya Teologi Kreasi dan Konservasi Bumi, mengatakan: ”Lingkungan hidup tidak menjadi lebih baik hanya karena umat manusia melakukan upaya-upaya praktis dalam menjaganya, melainkan juga karena mereka beriman dan menyembah Allah.”

Masalahnya, kebanyakan orang beranggapan, konservasi  tidak menguntungkan secara sosial ekonomi. Padahal, menurut Nikijuluw, konservasi menguntungkan secara biologi, ekologi, sosial, dan ekonomi.

Menurut Nikijuluw, seekor ikan pari manta yang berukuran 50 kg bila ditangkap dan dijual insang dan dagingnya akan bernilai sekitar Rp3 juta, sekali ditangkap dan untuk selamanya. Namun, bila ikan pari manta itu dibiarkan hidup di alamnya dan dikembangkan sebagai satu objek pariwisata manta-diving, maka selama 25 tahun masa hidupnya ikan pari mata itu bisa menghasilkan Rp1 milyar. Nilai ekonomi yang diberikan ikan pari manta yang hidup nilainya jauh lebih banyak.

Namun, di atas semuanya itu, pemahaman bahwa bumi adalah milik Allah yang patut disyukuri, memang harus menjadi dasar dari semua tindakan konservasi kita.  Dan salah satu tindakan konkretnya: belajar hidup sederhana.

 

Yoel M. Indrasmoro

Literatur Perkantas Nasional

Posted on Tinggalkan komentar

Memelihara Bumi

Selama 20 tahun terakhir, banyak terjadi bencana alam yang mengerikan dan menyebabkan kematian ratusan ribu manusia, hewan, serta menghancurkan wilayah daratan. Kemarau yang ekstrem, kualitas udara yang semakin buruk, dan kebakaran hutan disebabkan oleh kebiasaan membuka ladang tanpa memperhatikan lingkungan. Ini semua merupakan bencana yang disebabkan ulah manusia. Bumi semakin tua oleh sebab salah pengelolaan.

Tentu saja para ahli dan pemimpin dunia sudah menyadari hal ini. Berbagai fakta, komitmen, kesepakatan, dan perjanjian internasional ditandatangani serta dijadikan dasar untuk mencegah kerusakan ekosistem bumi yang semakin parah. Tentu ada banyak pendekatan lain yang bisa dilakukan. Salah satu pendekatan yang mendasar, yaitu mengikuti perintah Allah sesuai yang dikatakan dalam Alkitab.

Sesungguhnya, Allah memberikan mandat bagi manusia untuk mengusahakan dan memelihara bumi dengan sebaik-baiknya, demi kepentingan manusia sendiri. Hal ini patut menjadi fondasi gagasan, perilaku, dan tindakan kita. Mandat Allah kepada kita adalah mengembangkan kemampuan dan kapasitas dalam mengusahakan sumber daya itu, sehingga jumlah yang terbatas itu dapat dimanfaatkan dan digunakan untuk memenuhi kebutuhan kita. Bumi adalah rumah kita yang harus dijaga dan dilindungi oleh kita sendiri.

Dalam buku Teologi Kreasi dan Konservasi Bumi, Victor P.H. Nikijuluw menjelaskan bahwa Allah menciptakan kita dengan salah satu mandat khusus, yaitu mengusahakan dan memelihara bumi. Mandat ini begitu besar, sementara kita begitu kecil dibandingkan dengan seluruh isi bumi. Sebagai individu Kristen yang percaya kepada Allah Pencipta alam semesta, termasuk diri kita sendiri, mandat ini adalah salah satu konsekuensi logis.

Generasi muda, pemuda, remaja, dan anak-anak perlu diperkenalkan tentang mandat ini sejak dini. Bumi dan lingkungan di sekitar kita adalah berkat karunia Allah yang harus diusahakan dan dipelihara. Kekayaan alam nusantara adalah berkat Allah yang diberikan kepada bangsa. Memelihara dan merawatnya merupakan tanggung jawab semua warga negara, tetapi secara spesifikasi adalah perintah Allah bagi kita. Mari kita memelihara dan merawat bumi dari hal kecil dalam keseharian kita.

 

Heru Santoso

Literatur Perkantas Nasional

Posted on Tinggalkan komentar

Sabat

Pada bab kedelapan buku Teologi Kreasi dan Konservasi Bumi, Victor P.H. Nikijuluw, menjelaskan bahwa masa setelah penciptaan adalah masa perhentian bagi Allah. Semua yang diciptakan adalah baik dan kehadiran manusia membuat kualitas penciptaan Allah paripurna, menjadi sangat baik. Allah berhenti pada hari ketujuh. Berhenti bukan berarti selesai. Allah masih beraktivitas, yaitu menguduskan dan memberkati ciptaan-Nya.

Istilah hari perhentian dikenal dengan Sabat. Nikijuluw juga menerangkan bahwa Israel harus berhenti setelah bekerja selama enam hari dan menggunakan hari ketujuh, atau hari Sabat untuk beristirahat, untuk merenung dan menikmati apa yang sudah Allah lakukan bagi kehidupan mereka. Hari Sabat bukanlah sekadar hari berhenti dari pekerjaan rutin, tetapi hari untuk memuliakan Allah melalui ibadah dan perbuatan nyata.

Yesus pun melakukan ibadah Sabat-Nya  tidak hanya secara fisik, tetapi perbuatan yang memuliakan Allah, yaitu menyembuhkan orang-orang yang memang sangat membutuhkan kesembuhan dan jamahan kasih Allah, dan keselamatan.

Manusia sebagai citra Allah adalah bagian dari yang dikuduskan dan diberkati, karenanya manusia memiliki tanggung jawab dan kewajiban untuk memuliakan  Allah, beribadah kepada Allah, dan melakukan apa yang Allah perintahkan. Tanggung jawab lainnya adalah merawat  dan memelihara hasil ciptaan Allah sedemikian rupa, sehingga akan tetap berguna dan bermanfaat bagi manusia dan generasi mendatang.

Kita boleh bekerja keras, sebab bekerja merupakan mandat Tuhan bagi kita di bumi ini, dan kerja merupakan ibadah atau bakti kita kepada Tuhan. Namun, jangan lupa bahwa tubuh kita adalah alat untuk memuliakan Tuhan, kita harus merawatnya dan membiarkannya beristirahat. Jika tidak, kelelahan akan membuat kita tidak dapat memiliki dan menikmati persekutuan dengan Tuhan, serta tidak dapat menjadi berkat bagi keluarga dan sesama.

Persekutuan yang baik dengan Tuhan akan mampu menyegarkan tubuh kita untuk dapat kembali bekerja melakukan mandat Tuhan.

 

Ririn Sihotang

Literatur Perkantas Nasional

Posted on Tinggalkan komentar

Ciptaan yang Istimewa

Teori evolusi Darwin dalam buku On the Origin of Species memang menjadi perdebatan—kontroversial—dan hingga sekarang tetap menjadi dasar bagi penelitian bidang Biologi Evolusi.

Kalau kita memandangnya dari sisi Alkitab dan iman Kristen, teori ini tidak berlaku bagi manusia yang diciptakan dengan citra Allah.

Alkitab dengan keyakinan penuh menyatakan bahwa manusia diciptakan oleh Allah. Manusia bukan merupakan hasil dari proses evolusi. Bila kita percaya pada teori dan proses evolusi, maka kita mengakui bahwa yang diciptakan Allah bukan manusia, tetapi spesies lainnya yang kemudian berubah perlahan-lahan karena seleksi dan proses alam hingga menjadi manusia.

Proses dan teori evolusi ini tidak berlaku bagi manusia. Alkitab menyatakan bahwa Allah pada akhirnya memutuskan menciptakan manusia, sebagai citra Allah, dengan napas Allah yang diberikan langsung kepada manusia. Tidak ada ciptaan lain di alam semesta ini yang mendapat secara langsung napas kehidupan dari Allah. Hanya manusia yang diciptakan dengan cara demikian.

Dalam bukunya Teologi kreasi dan Konservasi Bumi, Victor P.H. Nikijuluw, menjelaskan bahwa dua asumsi dasar yang digunakan Darwin, yaitu Struggle for Life (berusaha keras untuk hidup) dan Survival of the Fittest (yang paling kuat yang akan bertahan hidup)—cenderung atas dasar variabel atau atribut fisik. Padahal, manusia tidak hanya fisik (tubuh), bukan hanya debu tanah, tetapi yang paling penting adalah napas (roh dan jiwa) kehidupan dari Allah. Tentang napas kehidupan dari Allah ini tidak disinggung dalam Teori Darwin. Memang karya Allah tidak bisa dijadikan teori. Siapa yang mampu memahami pikiran Allah?

Kita diciptakan menurut gambar dan rupa Allah. Mungkin saja secara fisik dan psikis, kita berbeda dari yang lain, tetapi kita adalah ciptaan Allah yang khas, yang khusus, dan yang sangat berharga bagi Allah karena napas kita adalah kehidupan yang diberikan oleh Allah.

Citra Allah yang ada pada kita, membuat kita memiliki kesadaran dan hati nurani; sehingga kita dapat berkomunikasi dengan Allah. Citra Allah juga dapat membuka akses dan kesempatan kepada kita untuk setiap waktu dapat berhubungan dan bersekutu dengan Allah. Hal ini pulalah yang menegaskan betapa istimewanya kita sebagai makhluk ciptaan-Nya.

Jika kita merupakan ciptaan yang istimewa dan sangat berharga di mata Allah, pertanyaannya, sudahkah kita memuliakan Allah dalam kehidupan kita? Sudahkah kita senantiasa memancarkan citra Allah—dalam kata dan karya kita?

Rycko Indrawan

Literatur Perkantas Nasional

Posted on Tinggalkan komentar

Melestarikan Fauna

Dalam buku Teologi Kreasi dan Konservasi Bumi, Victor P.H. Nikijuluw, membahas tentang Allah yang berkarya secara kreatif dan sistematis dalam penciptaan. Berawal dari terang sebagai sumber energi, ruang hidup sebagai habitat, tumbuhan sebagai makanan, benda-benda langit sebagai penerang, tumbuhan sebagai produsen energi, lalu hewan sebagai organisme penting.

Dalam bab 6, Nikijuluw, menerangkan Kejadian 1:20-25 tentang biodiversitas penciptaan fauna. Allah menciptakan makhluk hidup di dalam air, burung-burung, binatang laut yang besar, makhluk hidup yang bergerak dalam air, dan burung bersayap pada hari kelima. Kemudian Allah juga menjadikan segala jenis makhluk hidup, binatang liar, ternak, dan binatang melata di darat. Allah melihat bahwa semua ciptaan-Nya itu baik.

Peran Allah terhadap binatang dijelaskan dalam Ayub 39, yakni menyediakan makanan untuk hewan, menentukan dan mengatur reproduksi hewan, menyediakan habitat untuk hewan, menentukan hewan ternak dan piaraan, mengatur perilaku hewan, memberi kekuatan kepada hewan, serta mengatur migrasi hewan.

Semua binatang sangat bernilai dan dipelihara Allah. Manusia sewajarnya menghormati ciptaan Allah ini. Dengan menjaga kelestarian fauna, kita memuliakan Sang Pencipta. Hendaknya kita juga memuji Tuhan karena karya-Nya yang baik dan sempurna.

Begitu pentingnya binatang, sampai-sampai Allah tidak memusnahkan binatang pada saat peristiwa air bah. Tuhan menyelamatkan setiap jenis binatang secara berpasangan di dalam bahtera Nuh.

Allah bukan hanya memberkati manusia, melainkan juga binatang. Fauna bisa berkembang biak dan memenuhi bumi hanya karena Sang Pencipta.

Oleh karena itu, marilah kita menjaga kelestarian fauna. Dalam mengonsumsi daging, jangan mengonsumsi hewan yang diburu dari alam, tetapi hanya hewan ternak. Kita pun harus selektif dalam memilih ikan untuk dikonsumsi, sebaiknya kita mengonsumsi ikan pelagis kecil yang usia hidupnya pendek seperti layang, kembung, sarden, tongkol, dan teri. Hindari mengonsumsi ikan hiu dan tuna yang merupakan predator tingkat tinggi penjaga ekosistem laut.

Selain itu, hindari juga menggunakan pakaian dan aksesoris yang berasal dari kulit binatang. Usahakan agar binatang tidak punah sebab binatang turut menjaga keseimbangan ekosistem bumi. Mari kita turut melestarikan fauna.

Priskila Dewi Setyawan

Literatur Perkantas Nasional

Posted on Tinggalkan komentar

Misi ke Mars?

Kemarin malam teman kuliah saya mengirim pesan berupa tautan di grup Whatsapp. Tautan itu dibarengi dengan tanda pendaftaran dirinya dalam sebuah misi besar, misi ke Planet Mars. Sontak seluruh anggota grup Whatsapp dibuat antusias dan ingin tahu lebih banyak mengenai misi besar itu.

Rencananya, NASA akan meluncurkan misi robot penjelajah ke luar angkasa bernama M2020 pada Juli 2020. Robot yang mendarat pada Februari 2021 di Mars itu memiliki misi antara lain menyelidiki tanda-tanda kehidupan mikroba di Mars, mengidentifikasi iklim dan geologi Planet Mars, serta mengumpulkan referensi untuk pendaratan manusia di Mars ke depannya. NASA memberikan kesempatan kepada publik untuk mengirimkan nama ke Planet Mars lewat robot penjelajah tersebut. Tercatat hingga 19 Juni 2019, sudah lebih dari 7,2 juta orang mendaftarkan nama mereka. Pada tanggal yang sama, total pendaftar dari Indonesia telah mencapai 130.000 orang.

Victor P.H. Nikijuluw dalam bukunya Teologi Kreasi dan Konservasi Bumi menyatakan bahwa sesungguhnya memindahkan manusia dari Bumi ke Mars seharusnya bukanlah suatu pilihan. Meskipun manusia mampu menciptakan teknologi untuk mengatasi kendala-kendala teknis agar bisa menjadikan Mars sebagai habitat ideal, hal itu tidak berarti bahwa manusia bisa hidup dan berkembang biak di sana. Allah menciptakan dan menakdirkan manusia hidup di bumi, bukan di Mars.

Nikijuluw juga menerangkan bahwa sudah lebih dari 50 misi eksplorasi Mars sebagian besarnya mengalami kegagalan. Hanya ada empat misi yang relatif berhasil, yakni Sojouner (1997), Spirit (2004), Opportunity (2004), dan Curiosty (2014). Namun, keempat misi itu pun menghadapi berbagai persoalan yang tidak bisa dipecahkan. Seharusnya hal ini menyurutkan hasrat manusia untuk mencari kediaman baru, tetapi hasrat ini sulit dikekang.

Manusia ingin mendapatkan planet baru pengganti bumi, padahal bumi adalah pemberian Allah bagi manusia. Eksplorasi alam semesta semacam ini seharusnya semakin membuat manusia sadar dan tahu bahwa hanya Allah yang berkuasa dan mengendalikan alam semesta, bahwa manusia harus bersyukur bumi dipilih Allah sebagai rumah dan kediaman.

Allah sangat mengasihi dan mencintai kita melebihi kasih-Nya pada kreasi lainnya. Untuk keselamatan kita di alam semesta ini, Allah merancang dan melakukan skenario agung-Nya, yaitu menyelamatkan kita dari kebinasaan karena dosa, dan pada saatnya nanti Ia akan membawa kita ke dalam kehidupan yang abadi. Kita yang begitu kecil di alam semesta ini diperhatikan dan diselamatkan oleh Allah Mahabesar.

Febriana D.H.

Literatur Perkantas Nasional

Posted on Tinggalkan komentar

Inspirasi Siang: Pecinta Alam

“Jika dicinta malah semakin membuat banyak luka, lebih baik saya sendiri, sepi namun terlindungi.” Ini bukanlah curhatan yang saya dengar dari seorang pemuda yang sedang patah hati. Curahan hati ini coba saya kenali dari alam yang sedang bersusah hati.

Pencinta alam, demikian para pendaki gunung ingin disebut. Entah bagaimana perwujudan rasa cinta tersebut bisa terjadi. Mendaki yang seharusnya menjadi suatu kegiatan konservasi malah berubah menjadi tragedi.

Kini, agenda kegiatan naik gunung lebih dinikmati sebagai sarana rekreasi bukan kegiatan preservasi. Sebenarnya, sah-sah saja mendaki demi menikmati keindahan alam. Namun, apa jadinya jika pendakian malah menghasilkan sampah yang berserakan.

Lihat saja laporan BBC Indonesia yang menuliskan bagaimana persoalan tumpukan sampah di taman nasional dan gunung di Indonesia menjadi panorama umum.

Data Balai Besar Taman Nasional Bromo Tengger Semeru menunjukkan setiap pengunjung membuang sekitar 0,5 kilogram sampah di Gunung Semeru. Padahal, setiap hari gunung tersebut disambangi 200 hingga 500 pendaki.

Victor Nikijuluw dalam Teologi Kreasi dan Konservasi Bumi memaparkan bagaimana Allah menciptakan biodiversitas tumbuhan dengan begitu kompleks. Diperkirakan, ada hampir setengah juta spesies tumbuhan di muka bumi. Semua itu memiliki manfaat, bukan sekadar  keindahan yang bisa dinikmati, namun penopang kehidupan yang harus dilestarikan.

Sebelum bilang cinta kepada lingkungan, baiknya kita sejenak berkaca pada lagu ini:

Kalau kau benar benar sayang padaku; Kalau kau benar benar cinta

Tak perlu kau katakan; Semua itu cukup tingkah laku.

 

Tornado Gregorius Silitonga

Literatur Perkantas Nasional

Posted on Tinggalkan komentar

Lulus Mau ke Mana?

”Jika tidak tahu ke mana tujuanmu, maka semua jalan akan membawamu ke sana.” Kutipan dari Alice in Wonderland ini mengawali rangkaian seminar Lulus Mau ke Mana? yang diadakan Literatur Perkantas pada 18 Mei 2019 di Gereja Yesus Kristus Jakarta.

Tujuan itu sungguh penting. Tanpanya kita tidak akan pernah sampai ke mana pun. Itu sebabnya, kita perlu mencari tahu dan menentukan tujuan hidup kita. Lebih tepatnya, tujuan Tuhan bagi hidup kita.

Apa tujuan Tuhan bagi saya? Bagaimana cara mencari tahu dan menentukannya? Bagaimana cara mewujudkannya? Jika selama ini saya berjalan tanpa tujuan, masih mungkinkah memperbaikinya? Apakah tujuan ini dari Tuhan atau ambisi saya? Bagaimana cara mengujinya? Serangkaian pertanyaan itulah yang muncul di benak saya.

Namun, Pdt. Yoel M. Indrasmoro, selaku pembicara, mengingatkan, seminar ini mungkin tidak akan langsung membuat para peserta mengetahui tujuan Tuhan bagi kami. Namun, setidaknya dapat menolong kami untuk sampai ke sana.

Sebelum dapat memahami tujuan Tuhan dalam diri kami, pertama-tama Pdt. Yoel M. Indrasmoro meminta kami untuk menuliskan dan mengungkapkan perasaan kami berkait dengan pertanyaan ”Siapakah Anda?”, dan dari sekian banyak jawaban kami diminta untuk memilih tiga jawaban penting dari pertanyaan tersebut, lalu kami diminta untuk menemukan satu kenyataan penting tentang diri kami yang merupakan sumber kegembiraan terbesar kami.

Sungguh proses yang menyenangkan karena sebagian besar dari kami ternyata belum pernah melakukannya, dan tanpa kami sadari proses ini membuat kami menjadi takjub akan diri kami. Kami takjub dengan segala keberadaan kami, takjub ketika kami mulai mengenali siapa diri kami yang sesungguhnya dengan segala kekuatan dan kelemahan yang ada pada kami, dengan segala kerinduan yang kami miliki.

Tak hanya itu kami juga diminta untuk menggambarkan diri kami. Salah satu rekan diskusi saya mengandaikan dirinya sebagai perisai yang melindungi dan mencegah terjadinya kecelakaan. Wajar memang, sebab ia berprofesi sebagai petugas K3 di sebuah perusahaan swasta. Tugasnya adalah meminimalisir bahkan meniadakan sama sekali kecelakaan kerja dan mengutamakan keselamatan kerja karyawan. Saya rasa dia sangat bangga dengan pekerjaannya dan dia mampu memaknai betapa pentingnya pekerjaan yang sedang ia emban itu. Ini luar biasa!

Ya, kami memang memiliki waktu-waktu berdiskusi dengan sesama peserta. Peserta yang terdiri atas mahasiswa dan alumni ternyata memiliki latar belakang pendidikan yang berbeda-beda—Agronomi, Agribisnis, Kedokteran, Ekonomi, Perhotelan, Broadcast, Sastra Indonesia, Sastra Jerman, Sastra Inggris, dan Sastra Prancis. Keragaman peserta itu memperkaya diskusi di antara kami.

Selain itu, Pdt. Yoel M. Indrasmoro juga meminta kami untuk menuliskan potensi atau bakat-bakat apa yang kami miliki. Seraya menuliskannya, kami mulai menyadari bahwa ada begitu banyak potensi dan talenta yang ada pada kami. Ada talenta yang masih terus kami kembangkan dan ada talenta yang memang dengan segaja kami pendam.

”Kita memang harus memilih, dengan begitu kita bisa fokus. Fokus pada talenta yang mendatangkan kebaikan bagi lebih banyak orang,” jelas Pdt. Yoel.

Materi yang dibagikan sangat beragam, mulai dari bahan pertanyaan, tulisan tentang panggilan hidup seseorang, kisah Musa, video, serta diskusi di antara kami membuka pemahaman kami tentang siapa diri kami, juga talenta yang ada pada kami.

Dalam seminar ini peserta juga mendapatkan buku pegangan Gumulan Hidup Pascakuliah terbitan Literatur Perkantas Nasional.

Pada akhirnya semua itu menolong kami untuk menemukan, mengarahkan, mempertajam, serta mengukuhkan kerinduan Tuhan bagi diri kami melalui pekerjaan kami. Karena pekerjaan kami sesungguhnya adalah pekerjaan Tuhan yang dititipkan kepada kami.