Pernahkah Anda membayangkan seperti apa keadaan bumi tanpa terang?
Sejatinya kondisinya persis seperti yang tertulis dalam Kejadian 1:2: ”gelap gulita menutupi samudera raya.” Tanpa terang yang ada hanyalah kegelapan. Dalam keadaan gelap manusia tidak dapat melihat. Apa yang lebih mengerikan daripada keadaan gelap? Kita tidak dapat melihat sekeliling kita. Kalau ada jurang di depan mata, tentu kita bisa jatuh ke dalamnya.
Akan tetapi, dalam inisiatif-Nya, Allah menjadikan terang sebagai ciptaan pertama-Nya. Dan Allah melihat bahwa terang itu baik. Namun, dari manakah terang ini berasal sedang Allah baru menciptakan benda-benda penerang pada hari keempat?
Victor P.H. Nikijuluw dalam bukunya Teologi Kreasi dan Konservasi Bumi menyadarkan kita bahwa Allah adalah sumber terang yang sesungguhnya, bukan matahari. Pada gilirannya Allah juga menciptakan matahari. Akan tetapi, tanpa matahari, terang itu sudah ada.
Secara ilmu pengetahuan memang tidak bisa dimungkiri bahwa matahari adalah sumber kehidupan. Hal ini juga yang dipahami oleh Nikijuluw: ”Karena terang yang berasal dari matahari, maka energi untuk alam semesta ini tersedia, lalu kehidupan bisa berlangsung di atas muka bumi. Dengan kata lain, tanpa matahari, tidak ada kehidupan.”
Namun, Nikijuluw juga mengingatkan bahwa sesungguhnya matahari pun adalah ciptaan Allah, sehingga sumber daripada segala sumber kehidupan adalah Allah sendiri. Allahlah yang menjadikan segala yang ada dengan firman-Nya. Termasuk matahari yang memancarkan terang.
Itu sebabnya pemazmur mengajak, ”Pujilah Dia, hai matahari dan bulan, pujilah Dia, hai segala bintang terang!” (Mzm. 148:3). Dan kalau sudah begini, selayaknyalah kita juga bersama semua makhluk di langit dan di bumi memuji Tuhan! Sebab, oleh karena kemurahan-Nya kita dapat menikmati terang di muka bumi.
”Belum genap seminggu saya meninggalkan tempat itu, namun saya sudah sangat merindukannya.” Demikian Ana menyerukan kerinduannya terhadap suatu tempat yang baru dikunjunginya. Menurut dia, tempat itu sangat indah—seperti surga dunia. Tempat itu memberi kedamaian dan ketenangan baginya. Bahkan, ia berpikir untuk tinggal di sana suatu hari kelak.
Sepertinya tempat itu memang benar-benar indah. Sampai-sampai turis asing pun tak mau ketinggalan ingin menikmati pesona alamnya. Entahlah, saya sendiri belum pernah ke sana. Namun, seindah apa pun tempat itu, yang tak boleh dilupakan adalah tempat itu ada yang menciptakan.
Di sinilah letak persoalannya, kadang-kadang kita lebih fokus pada hasil ciptaan ketimbang Penciptanya. Padahal kalau kita mau bernala-nala, jika ciptaan-Nya saja begitu indah, apalagi Dia yang menciptakan. Kepada Dialah seharusnya pujian dan kerinduan kita tertuju.
”Seperti rusa yang merindukan sungai yang berair, demikianlah jiwaku merindukan Engkau, ya Allah. Jiwaku haus kepada Allah, kepada Allah yang hidup. Bilakah aku boleh datang melihat Allah?” (Mzm. 42:2).
Pemazmur mengandaikan kerinduannya kepada Allah bagai rusa yang merindukan air. Rusa membutuhkan air dalam jumlah yang relatif banyak. Kalau kebutuhannya akan air tidak terpenuhi, ia akan kehausan dan menjadi tidak berdaya. Demikianlah kerinduan pemazmur akan Allah. Ia akan sangat tersiksa kalau belum sampai menemukan Allah. Sudahkah kita merindukan Allah sebagaimana pemazmur merindukan-Nya?
Dalam bab terakhir buku Mengasihi Yang Mahakudus, A.W. Tozer tidak terlalu khawatir jika ada orang yang lapar dan haus karena ia tahu orang itu akan pergi ke suatu tempat untuk memenuhi kebutuhannya. Sehingga ia menulis: ”Kita hendaknya tidak menginginkan kepuasan, tetapi haus dan lapar akan Allah.”
Berkait hal itu, Tozer mengajak kita memandang orang kudus pada masa lampau. Apa yang membuat mereka menjadi orang kudus pada masanya?
Menurut Tozer, jawabannya adalah kesungguhan atas kerinduan mereka kepada Allah. Mereka menginginkan Allah lebih dari segalanya. Mereka menginginkan Allah lebih daripada kemudahan, hiburan, kemasyhuran, kekayaan, teman, atau bahkan hidup itu sendiri. Mereka menginginkan Allah, Allah Tritunggal, sehingga hati mereka sangat rindu akan Allah seperti rusa merindukan sungai yang berair.
Itu jugalah kerinduan Tozer. Bagi dia, jika seseorang membaca buku ini dan sangat terusik, sehingga mereka mencari Allah dengan kerinduan yang tak kunjung terpuaskan kecuali bersama Allah, maka buku ini telah mencapai tujuannya.
Kiranya kerinduan Tozer akan bersambut dengan kerinduan pembaca!
”Maka jiwaku pun memuji-Mu: ’Sungguh besar Kau, Allahku!’” Demikianlah syair Carl Gustaf Boberg, yang terekam dalam Kidung Jemaat 64 karya terjemahan E.L. Pohan. Penggalan syair yang menjadi refrein itu diulang dua kali seolah Boberg merasa tak cukup hanya mendaraskannya satu kali saja.
Mengapa perlu dua kali? Tentu hanya sang penyair yang tahu alasan pastinya. Namun, agaknya Boberg menyadari bahwa ”Bila kulihat bintang gemerlapan dan bunyi guruh riuh kudengar, ya Tuhanku tak putus aku heran melihat ciptaan-Mu yang besar”, maka pujian kepada Allah menjadi keniscayaan. Pujian itu merupakan respons ketika sang penyair menyaksikan karya cipta Allah.
Itu jugalah yang ditekankan A.W. Tozer dalam bab ke-17 dari bukunya Mengasihi Yang Mahakudus. Menurut Tozer, ”Jejak jari Allah ada di seluruh ciptaan. Semakin kita menyelami misteri penciptaan, kita semakin melihat jejak jari Allah.”
Senada dengan Tozer, pemazmur pun bermadah: ”Langit menceritakan kemuliaan Allah, dan cakrawala memberitakan pekerjaan tangan-Nya; hari meneruskan berita itu kepada hari, dan malam menyampaikan pengetahuan itu kepada malam” (Mzm. 19:2-3).
Alam secara ajek mengagungkan kemuliaan Allah. Karena itulah, Tozer menegaskan: ”Alam seharusnya secara otomatis membawa kita kepada Allah, yang digambarkan kepada kita dalam firman Allah sebagai Sang Pencipta.”
Rasakanlah sejuknya pagi, hiruplah aroma mawar dan melati, saksikanlah riangnya kupu-kupu terbang kian kemari. Mungkin kita pun akan berseru, ”Maka jiwaku pun memuji-Mu: ’Sungguh besar Kau, Allahku!’”
”Hei lihat ada bintang jatuh, cepat ucapkan permohonanmu!” Teriak seorang teman saat berada dalam satu kesempatan perkemahan. ”Tiup lilinnya, tiup lilinnya, tiup lilinnya sekarang juga, sekarang juga, sekarang juga.” Demikian lantunan lagu yang dinyanyikan teman-teman untuk mengiring saya meniup lilin ulang tahun. Tak lama setelah lilin padam, merka pun mendesak saya untuk mengucapkan permohonan.
Ada berbagai kesempatan yang kita anggap waktu terbaik untuk mengucapkan permohonan dan doa kita. Ada kata-kata terbaik yang kita persiapkan, kesempatan terbaik yang kita tentukan, juga tempat terbaik yang kita pilih. Gereja, tempat-tempat bersejarah, atau bahkan kuburan adalah contoh dari beberapa tempat yang kita anggap baik untuk melantunkan permohonan dan doa kita. Kita berpikir dengan begitu Allah akan mendengarkan doa-doa kita.
Namun, segala persepsi ini sungguh keliru. A.W. Tozer dalam buku Mengasihi Yang Mahakudus, menyatakan bahwa Allah mendengar kita bukan karena doa kita baik, tetapi karena Allah itu baik.
Tozer menegaskan, ”Tentu saja, Anda tidak baik. Akan tetapi, Allah baik, dan karena Ia baik, kita berani memanfaatkan kebaikan-Nya. Pintu Allah selalu terbuka untuk setiap anak-anak-Nya yang bersalah, sehingga mereka dapat berkata, ’Oh, rasakan dan lihatlah bahwa Tuhan itu baik.’”
Bukan karena bintang jatuh doa dan permohonan kita harus segera diucapkan. Namun, karena kita telah jatuh dalam dosa, maka permohonan akan pertolongan Allah harus segera kita serukan. Sebab, hanya Allah satu-satunya yang sanggup menyelamatkan kita dari penghukuman dosa.
Bukan karena kata-kata terbaik, bahkan tempat terbaik, sehingga Allah pasti mendengar doa kita. Akan tetapi, karena Allah baik, dan ketika kita berdoa kebaikan Allah adalah dasar dari pengharapan kita.
Dalam kondisi apa pun janganlah lantas kita berkata: ”Saya tidak baik. Tidak ada gunanya berdoa; saya memang tidak baik.” Jangan! Tetaplah berdoa karena Allah sungguh baik dan bersedia mendengar segala seru dan doamu.
Pertama-tama saya menyampaikan banyak terima kasih atas undangannya untuk menjadi panelis dalam acara bedah buku Teologi Anak. Saya memandang acara ini sangat bermakna, karena berbicara tentang pokok yang sangat penting, walaupun sering disepelekan.
Judul buku Teologi Anak sangat eye catching (menarik perhatian) jika dilihat dari sudut pandang terminologi dan sejarah perkembangan teologi. Pdt. Dr. Daniel Nuhamara dalam tulisannya pada bagian Prolog, menjelaskan bahwa istilah Teologi Anak (Child Theology) dipahami sebagai upaya berteologi untuk mengenal Tuhan (Teos) dalam atau dari perspektif anak. Sampai awal abad ke-21, berteologi selalu dilakukan dalam perspektif orang-orang dewasa.
Kita mengenal Teologi Pembebasan di Amerika Latin, Teologi Hitam (Black Theology) di Afrika, Teologi Rakyat Jelata (Minjung Theology) di Korea, Teologi Feminis (Teologi Perempuan), Teologi Rahim, semuanya adalah cara mengenal Tuhan dalam atau dari perspektif orang-orang dewasa. Biasanya, orang-orang percaya yang mengalami pergumulan dalam konteksnya, akan berupaya mencari tahu kehendak Tuhan dan apa respons mereka dalam situasi seperti itu.
Itulah sebabnya upaya-upaya berteologi seperti yang telah disebut sebelumnya, Teologi Kontekstual dikembangkan dalam konteks pergumulan pada saat itu. Saya yakin kita semua setuju kalau Teologi Anak adalah salah satu bentuk upaya berteologi kontekstual yang sedang dikembangkan. Ini adalah satu langkah maju, karena selama ini kita melihat yang mengembangkan teologi adalah orang-orang dewasa, dan anak-anak dianggap tidak tahu apa-apa tentang upaya berteologi. Padahal, orang dewasa perlu belajar dari anak-anak tentang upaya berteologi itu, yakni dari kepolosan mereka, kejujuran, serta kekuatan iman mereka.
Photo by freestocks.org from Pexels
Buku Teologi Anak dan Sumbangannya dalam Pendidikan Anak
Buku Teologi Anak yang diterbitkan oleh Tim KTAK Anak Bersinar Bangsa Gemilang berisi sembilan kajian tulisan para penulis yang juga dikenal sebagai pemerhati anak dan pendidikan anak. Para penulis membahas tempat anak dalam beberapa bidang yang penting yang harus digarisbawahi, di antaranya: ”Tantangan dan Peluang bagi Anak di Indonesia”; ”Anak dalam Alkitab”; ”Anak dalam Gereja”; ”Anak dalam Budaya”; ”Anak dalam Sekolah”; ”Anak dalam Perspektif Hukum”; ”Anak dalam Media”; ”Anak dalam Keluarga”; dan ”Anak dalam Pandangan Anak”.
Buku yang sarat dan padat makna ini ditulis dengan tujuan agar orang-orang dewasa—lebih khusus para memimpin gereja dan lembaga pendidikan teologi—mempunyai paradigma baru dalam memandang anak-anak yaitu dalam perspektif yang selayaknya. Paradigma lama menggarisbawahi orang dewasa sebagai satu-satunya narasumber dalam upaya mengenal Allah, sedangkan dalam paradigma baru, anak-anak dipandang mampu memberi masukkan kepada orang dewasa dalam upaya berteologi serta memberi respons terhadap kasih-Nya. Bersama anak orang-orang dewasa dapat mengekspresikan imannya dengan jujur dan berani.
Tentu paradigma baru ini tidak langsung bisa diterima oleh orang dewasa, apalagi yang sudah terbiasa menganggap anak-anak sebagai kelompok yang ”tidak tahu apa-apa”, sehingga mewajibkan anak-anak untuk mengikuti kemauan orang dewasa. Anak-anak juga dianggap tidak tahu karena umur mereka masih jauh lebih muda dibanding orang dewasa (bayi, 0-2 tahun; anak kecil, 3-6 tahun; anak tanggung, 7-9 tahun; anak besar, 10-12 tahun).
”Masih hijau”, begitu kata orang-orang dewasa; belum tahu apa-apa, jadi harus diam. Demikianlah dalam waktu yang lama anak-anak terpasung dalam keinginan orang-orang dewasa. Susi Rio Panjaitan dalam Bab 9 buku ini mengatakan: ”Dengan perspektif masing-masing, mereka (orang dewasa) memberikan komentar tentang anak seakan-akan merekalah yang paling mengetahui tentang anak dan paling tahu apa yang terbaik buat anak. Saya kira situasi kita saat ini masih mencerminkan pemahaman seperti ini.”
Lihat saja, ketika kita membahas upaya mengenal Allah dari perspektif anak, yang hadir semuanya orang-orang dewasa, tidak ada anak-anak. Padahal, Nuhamara menggarisbawahi bahwa paradigma baru itu harus dikembangkan karena ada dasar teologinya seperti yang dilakukan oleh Yesus dan dikisahkan dalam Matius 18:1-5. Dalam kisah ini, Yesus menempatkan seorang anak kecil di tengah-tengah mereka (ay. 2) dan dijadikan contoh bagi orang-orang dewasa. Keberadaan anak bisa menjadi contoh bagi orang dewasa dalam memahami konsep Israel tentang Kerajaan Allah. Dengan demikian, Kerajaan Allah bukanlah kerajaan dengan kekuatan politik, kuasa, dan kebesaran, tetapi Kerajaan yang menghadirkan damai, keadilan, kasih, kebersamaan, dan shalom.
Dalam pembahasan sebelumnya, telah dijelaskan bahwa anak-anak adalah agen dalam berteologi, juga menolong orang-orang dewasa dalam upaya mengenal Allah, serta merespons kehendak-Nya dengan benar. Justitia Vox Dei Hattu, salah seorang penulis dalam buku ini, menghubungkan Matius 18:1-5 dengan Injil yang paralel, yaitu Markus 9:33-37. Ia menggarisbawahi peristiwa ketika murid-murid Yesus bertengkar tentang siapa yang terbesar di antara mereka. Pada saat itu, Yesus menempatkan seorang anak kecil di tengah-tengah mereka dan menunjukkan contoh tentang kerendahan hati.
Dalam masa pelayanan Yesus, secara nyata telah memperlihatkan bahwa Ia sangat mengasihi anak-anak. Ketika murid-murid memarahi orang tua yang membawa anak-anak mereka kepada Yesus (mungkin karena anak-anak ribut dan mengganggu istirahat mereka), Yesus justru memanggil mereka dan memberkati mereka. Ucapan Yesus ”Biarkanlah anak-anak itu datang kepadaku, jangan menghalangi mereka sebab orang-orang-orang yang seperti itulah yang empunya Kerajaan Allah” menjadi populer dipakai di setiap Ibadah Baptisan Kudus.
Photo by Josh Willink from Pexels
Yesus konsisten dengan sikap-Nya terhadap anak-anak. Yudiet Tompah menulis, bahwa sebagaimana yang Ia lakukan kepada orang-orang dewasa, Yesus juga melakukannya kepada anak-anak. Anak-anak disembuhkan dan dihidupkan, seperti yang dialami anak perempuan Yairus (Mat. 9:18); anak di Kapernaum (Yoh. 4:46-54) anak yang sakit ayan dan kerasukan setan (Luk.9:37-43) dan anak perempuan Kanaan (Mrk. 7:24-30).
Dalam bagian lain dari Alkitab, nyata sekali bahwa Allah memberi perhatian luar biasa dan keberpihakan kepada anak-anak. Ismael diperhatikan keberlangsungan hidupnya. Ada anak laki-laki dari perempuan Sunem (2Raj. 4:8-37) yang disembuhkan. Yudiet juga mencatat, bahwa Allah menyediakan orang-orang tertentu agar anak-anak hidup dalam lingkungan yang nyaman dan kondusif, misalnya dalam kisah Samuel yang mendapat perhatian penuh dari Hana, ibunya (1Sam. 1:22) dan dalam kisah Miryam, kakak Musa yang menjaga Musa dari jauh menyaksikan putri Firaun mengangkat Musa dari sungai Nil untuk memeliharanya sebagai anaknya. Lantas, secara cerdik ia mencarikan perempuan untuk menyusui Musa yang tidak lain adalah Yokhebed, ibu kandung Musa sendiri supaya Musa mendapat tempat kediaman dengan suasana yang kondusif (Kel. 2:1-10).
Tulisan Alkitab lainnya, menyaksikan bahwa anak diberi ruang untuk mengutarakan pendapat seperti dalam kisah Naaman, seorang anak perempuan Israel yang menjadi pelayan di rumah Naaman. Ia memberi informasi tentang nabi Israel yang dapat menyembuhkan orang-orang kusta. Penyampaian anak perempuan itu diterima baik oleh Naaman, dan ketika ia melakukan apa yang dianjurkan oleh gadis kecil ini serta nabi Elisa, ia mengalami pemulihan.
Tentu, kita juga tidak melupakan tulisan-tulisan bernuansa buram di mana anak-anak mengalami ancaman pada masanya, misalnya anak perempuan Yefta (Hak. 11:30,31); anak-anak yang dipersembahkan kepada berhala yang dipandang sebagai suatu kekejian di mata Tuhan (Ul. 12:29-31); pembunuhan massal terhadap anak-anak di Betlehem dan Rama atas perintah Herodes (Mat. 2:16-18). Kejujuran kisah dalam Alkitab tentu harus direspons secara kritis dan dengan upaya hermeneutik yang tepat, supaya menjadi pembelajaran yang kuat untuk menghindari kekerasan-kekerasan dan ancaman-ancaman yang terjadi terhadap anak-anak.
Source: pixabay.com
Catatan-catatan tersebut di atas, harus dilihat sebagai pendorong yang kuat untuk mengembangkan Teologi Anak. Hal ini perlu dilakukan dengan serius, sebab seperti yang dikemukakan oleh Haryati ada begitu banyaknya ancaman yang dihadapi oleh anak-anak pada zaman digital, di antaranya: adanya konvergensi teknologi dan media, adanya gerakan moralitas baru yang menggeser nilai-nilai kebenaran, munculnya filosofi baru anti agama, kekerasan terhadap anak yang terus terjadi, semakin maraknya pornografi.
Jika terlambat dalam bertindak, maka kita akan kehilangan kesempatan untuk mempersiapkan suatu dunia yang lebih baik dan kondusif. Sebab, apa yang dialami oleh anak-anak sekarang ini yang jumlahnya besar akan turut menentukan arah perjalanan negara dan bangsa ke depan. Haryati menggarisbawahi: ”Siapa yang memegang anak, memegang masa depan.” Jumlah penduduk usia anak di Indonesia dan seluruh dunia adalah yang terbanyak dalam kependudukan, dan oleh sebab itu menjangkau dan melayani anak-anak sama dengan menjangkau dan melayani mayoritas penduduk Indonesia.
Hal ini juga yang disuarakan S.S. Benyamin Lumi yang mengulas pokok ”Anak Dalam Perspektif Hukum”. Beliau menggarisbawahi begitu banyaknya ancaman dan kekerasan yang dihadapi anak-anak masa kini, misalnya: kekerasan fisik, kekerasan psikis (emosional), penelantaran anak, kekerasan sosial, kekerasan oleh media massa, sehingga perlindungan hukum kepada anak-anak dan meningkatkan kesejahteraan sosial dan kesejahteraan anak merupakan tugas yang tak dapat ditunda lagi. Lumi menggarisbawahi tugas untuk melindungi anak adalah mandat undang-undang dan hal ini bukan hanya tugas negara tetapi tugas masyarakat termasuk pimpinan dan warga gereja.
Beberapa Isu Lain yang Menjadi Sumbangan Secara Teologis dari Buku Teologi Anak
Susi Rio Panjaitan, dalam ulasan ”Anak Dalam Budaya” menyimpulkan bahwa perspektif budaya terkait anak akan memengaruhi perilaku terhadap anak. Oleh karena itu, dibutuhkan kajian teologis terhadap nilai-nilai budaya yang diterapkan dalam pengasuhan dan pendidikan terhadap anak. Dalam hal ini, mengembangkan budaya yang menunjukkan keberpihakan kepada anak yang belum terealisasi dengan baik sekarang ini—termasuk dalam gereja, merupakan pekerjaan rumah yang bersifat urgen untuk dilaksanakan termasuk mempersiapkan program-program yang secara konkrit menjelaskan tentang budaya yang berpihak kepada anak.
James Wambraw yang menulis ”Anak Dalam Sekolah” menggarisbawahi dengan tegas hubungan antara keberhasilan pendidikan iman dan keharusan mengikuti pendidikan masa muda. Saya sependapat dengan beliau. Tulisan-tulisan dalam Alkitab menggarisbawahi pentingnya pendidikan dan pengajaran bagi anak-anak (antara lain Ulangan 6 yang selalu dijadikan nas favorit berhubungan dengan hal ini) dan dalam implementasinya harus selalu dikaitkan dengan sistem dan undang-undang pendidikan dan bentuk-bentuk sekolah yang berlaku dan berlangsung dalam masyarakat.
James Wambraw menyebut berbagai bentuk sekolah, misalnya: sekolah yang terkait dengan pendidikan anak baik yang formal dan informal seperti, Sekolah Keluarga, Sekolah Minggu, Sekolah Umum, Sekolah Masyarakat, Sekolah Bangsa, Sekolah Negara, dan Sekolah Hidup. Dari perspektif teologis dapat ditambahkan bahwa apa pun bentuk sekolahnya, apa pun sistem dan undang-undangnya, sekolah itu harus bertujuan pada menambah hikmah, membawa pembebasan, menambah kesejahteraan dan menghasilkan suatu pembaharuan (transformasi).
Photo by Robert Collins on Unsplash
Tornado Gregorius Silitonga yang mengulas pokok ”Anak Dalam Media” menggarisbawahi pentingnya media dan komunikasi serta positifnya sumbangan gawai dan tablet serta internet. Pada pihak lain, digarisbawahi juga akibat negatif apabila anak terlalu tergantung kepada alat-alat komunikasi yang smart dan canggih itu. Secara teologis dapat dipahami bahwa kemajuan teknologi yang ditandai oleh perangkat-perangkat serta komunikasi yang serba cepat dan canggih adalah anugerah Allah bagi manusia.
Karya Allah selalu berhubungan dengan komunikasi antara Allah dan umat-Nya. Sebab itu, Ia mengaruniakan hikmah kepada agar dapat menggunakannya untuk tujuan yang positif dan bertanggung jawab, bukan untuk mematikan kreativitas, menurunkan imajinasi serta relasi yang hangat dengan orang tua dan keluarga. Sebab itu, menurut Tornado, ketimbang bermusuhan dengan alat-alat canggih tersebut, lebih baik membumikan pelajaran E-learning sehingga semua generasi boleh belajar dan saling membimbing ke arah yang mendatangkan sejahtera. Semua generasi menjadi garam dan terang sehingga tercipta persekutuan yang belajar bersama dan saling membarui.
Hal yang senada diungkap oleh Magyolin Arolina Tuasuun dalam tulisannya ”Anak Dalam Keluarga” bahwa rumah tangga Kristen harus menjadi persekutuan yang didiami Roh anugerah Allah dan menjadi gereja bagi anak-anak. Keluarga Kristen adalah persekutuan yang seharusnya memantulkan kehangatan dan cinta kasih, sehingga anak-anak merasa terlindung dalam persekutuan itu.
Pada akhirnya, M. Nur Widipranoto yang menulis”Gerakan Teologi Anak Sebagai Tindakan Komunikatif” menggarisbawahi bahwa gagasan Teologi Anak sebagai tindakan komunikatif bertujuan memahami teologi sebagai praksis komunikasi iman dalam kebersamaan dengan Allah dan anak. Gerakan Teologi anak perlu dilanjutkan dengan mengedepankan tindakan komunikatif yang berdaya partisipatif, transformatif, dan memberdayakan.
Penutup
Demikianlah beberapa catatan yang dapat saya sampaikan dalam acara Bedah Buku Teologi Anak pada hari ini. Semoga bermanfaat. Tuhan memberkati kita semua.
Allah adalah Roh, tidak terbatas, kekal dan tidak dapat diubah dalam hal keberadaan-Nya dan kebijaksanaan, kekuasaan, kekudusan, keadilan, kebaikan, serta kebenaran-Nya. Dengan merenungkan kebesaran-Nya, semua kefasihan lidah memudar, sebab bahasa manusia tidak akan mampu mengekspresikan Allah dengan sempurna dalam seluruh keajaiban kemuliaan-Nya. Ada sesuatu tentang Allah yang begitu megah, menakjubkan dan tidak dapat diekspresikan, bagaimana pun kita mengatakannya, Allah kita jauh lebih besar.
Sejauh manakah kita mengenal Tuhan Allah yang kepada-Nya kita percaya dan kita tinggikan dalam ibadah dan penyembahan kita?
Dalam Bab 15 buku Mengasihi Yang Maha Kudus, A.W. Tozer menjelaskan bahwa kita tidak dapat memiliki Allah imajiner. Kita harus melihat Allah sebagaimana Ia begitu senang untuk menyatakan diri-Nya, terutama dalam firman-Nya.
”Pada mulanya Allah…” adalah ayat yang paling penting karena di situlah segala sesuatu harus dimulai. Ayat ini menunjukkan bahwa Ia yang utama, berkuasa, dan sumber segala sesuatu. Patutlah kita makin memercayai bahwa Dialah Tuhan dan Raja atas semesta!
Semakin dalam kita mengenal Allah, maka seharusnya semakin besar kasih dan kerinduan kita untuk memberi ibadah yang sejati serta pelayanan yang diperkenan dan menyenangkan Allah.
Jika kita ingin menyenangkan Allah, kita perlu menyenangkan Dia sesuai dengan kehendak-Nya. Jika kita ingin menyembah Allah, kita harus menyembah Dia sesuai dengan syarat-syarat-Nya.
Disiplin yang terpuji dalam kehidupan orang Kristen ialah hidup dengan cara menghormati Allah. Mengendalikan atau mendisiplin daging berarti juga meninggalkan manusia lama kita. Memuliakan Allah berarti membuat Allah besar di dalam kehidupan kita.
Kiranya kerinduan untuk selalu mengenal Allah dan hidup memuliakan-Nya senantiasa menjadi doa seumur hidup kita. Amin.
A.W. Tozer dalam bukunya Mengasihi Yang Mahakudus, menjelaskan bahwa sebenarnya kita dapat memahami teologi yang disajikan dalam Alkitab, seperti yang para teolog pahami. Kita juga dapat memahami apa yang dikatakan Allah dalam Alkitab tentang diri-Nya, walaupun mungkin kita tidak pernah mendalami pemahaman itu secara intelektual.
Tentu Tozer menyadari bahwa Allah sedemikian tinggi, sehingga Ia bahkan tidak dapat dipahami. Oleh karena itu, Tozer menegaskan, sangat penting bagi kita untuk berpikir tentang Allah sebagaimana hakikat-Nya yang sebenarnya; yaitu Allah yang begitu tak terhingga melampaui apa pun yang kita ketahui, yang tidak dapat dijelaskan.
Dalam pemandangannya, Tozer melihat, banyak orang ingin menarik Allah ke bawah—ke dalam pemahaman mereka—dan membuat-Nya kecil, sehingga mereka dapat mempunyai allah menurut ukuran mereka—hanya lebih besar sedikit, sehingga ia dapat membantu mereka ketika berada dalam kesulitan. Kita ingin memanfaatkan Allah untuk tujuan kita.
Semua hal yang telah dikatakan atau diajarkan tentang Allah, hanyalah sebagian dari Allah, dan sebagian kecil dari jalan-Nya. Allah Yang kepada-Nya kita dipanggil untuk melayani sungguh luar biasa. Ia melakukan kebaikan yang tak terhingga kepada kita, dengan menerima kita dan menyambut kita menjadi bagian dari diri-Nya.
Allah Yang Perkasa memandang kepada manusia, dan mengenakan daging bagi diri-Nya seperti manusia, dan mati serta bangkit kembali.
Allah ini, yang oleh para filsuf diberi nama mysterium tremendum—misteri yang luar biasa, misteri yang menggentarkan. Dan di hadapan mysterium tremendum, Yakub berseru, ”Alangkah dahsyatnya tempat ini; ini adalah rumah Allah.” Di Perjanjian Baru Petrus berkata, ”Tuhan, pergilah dari hadapanku, karena aku ini seorang berdosa.” Abraham berkata, ”Aku hanya debu dan abu.”
Sama seperti mereka, kita akan mampu menyadari keberadaan kita di hadapan Allah, ketika kita sampai pada kekaguman akan Dia.
Allah itu baik. Kebaikan hati-Nya tak terhingga. Allah selalu bekerja secara sempurna, selalu hadir, dan melaksanakan rencana-Nya dengan penuh semangat dan sukacita.
Dalam bukunya, Mengasihi Yang Mahakudus, A.W. Tozer menyatakan bahwa kebaikan Allah bersifat abadi dan tak pernah berubah. Dia tidak akan pernah memiliki suasana hati yang buruk, sehingga enggan untuk memberkati manusia. Tak ada yang bisa menambah atau pun mengurangi belas kasihan Allah.
Allah yang baik dan penuh belas kasihan itu juga adil dan kudus. Keadilan menuntut penghukuman bagi kejahatan. Namun, belas kasihan-Nya mengampuni manusia berdosa dengan cara Allah menjadi manusia dalam diri Yesus Kristus, dan menggantikan hukuman manusia di kayu salib. Kebaikan Allah saat Yesus lahir di dunia, saat Yesus mati disalib, dan saat ini tetap sama. Allah selalu baik dan penuh kasih selamanya.
Apa yang dilakukan Yesus itu sempurna. Kristus datang, menderita, mati disalib, bangkit, dan hidup bagi manusia berdosa. Belas kasihan Allah mengalir seperti sungai. Kita semua adalah penerima belas kasihan Allah.
Bertobatlah dari kejahatan serta akui dosa dan Allah akan menyucikan Anda.
Banyak pandangan mengenai anugerah. A.W Tozer mengatakan bahwa anugerah muncul dari kebaikan Allah. Rahmat adalah kebaikan Allah yang menghadapi kesalahan manusia dan anugerah adalah kebaikan Allah yang menghadapi kelemahan manusia.
Anugerah adalah kasih dan kemurahan hati Allah bagi kita. Allah selalu bermurah hati, Ia tidak pernah lebih bermurah hati dan tidak pernah kurang bermurah hati. Sebagai manusia yang bercela, kita merindukan anugerah Allah. Kita harus siap mengatakan bahwa di dalam diri kita sendiri, kita tidak lebih dari seorang yang bercela. Sebelum kita memahami itu, kita tidak akan pernah mengerti anugerah Allah yang ajaib.
Anugerah merupakan kegemaran Allah dan Kristuslah perantara untuk mengalirkan anugerah itu, dan anugerah Allah adalah keselamatan kita. Anugerah Allah membuat-Nya tidak menghancurkan manusia walaupun manusia jatuh ke dalam dosa, tetapi sebaliknya anugerah keselamatan yang membawa manusia ke dalam persekutuan dengan Allah.
Allah adalah pribadi yang baik hati, dan akan selalu begitu. Anugerah juga merupakan kebaikan hati Allah. Allah tidak pernah membenci atau mempunyai rasa dengki, termasuk kepada kita. Terkadang kita bisa menahan rasa jengkel terhadap seseorang, tetapi itu tidak berlangsung lama, mereka bisa membuat kita jengkel kembali, tetapi Allah tidak mempunyai sifat seperti ini. Allah terus memberikan anugerah-Nya walaupun kita selalu menyakiti hati-Nya.
Kenyataan lain tentang anugerah adalah anugerah Allah tidak terbatas dan tidak ada batas di mana pun bagi Allah. Ia terus memberikan anugerah-Nya bagi kita semua. Kita harus siap merendahkan diri kita dan menyadari bahwa kita tidak sempurna, maka kita akan melihat begitu banyak anugerah-Nya yang kita terima.
Kehidupan kita bisa menjadi kesaksian tentang anugerah Allah yang sungguh ajaib.
”Jika Allah tidak terbatas, maka kasih-Nya tidak terbatas.” Demikianlah penerangan A.W. Tozer berkait dengan kasih Allah yang tertulis dalam bukunya Mengasihi Yang Mahakudus.
Agaknya Tozer menyadari pentingnya hal ini untuk kita pahami. Kadang-kadang manusia meragukan kasih Allah, dan keraguan ini muncul akibat dosa. Dosa mampu mengintimidasi manusia hingga manusia mempertanyakan kasih Allah, ”Masihkah Allah mengasihi saya setelah apa yang saya lakukan?”
Dalam hal ini kita perlu mengingat firman Tuhan, ”Tetapi di mana dosa bertambah banyak, di sana anugerah menjadi berlimpah-limpah” (Rm. 5:20b). Tozer pun memperjelas hal ini: ”Ketika anugerah Allah yang tidak terbatas menyerang keterbatasan dosa manusia, maka dosa tidak memiliki kesempatan. Jika kita bertobat dan berbalik kepada Allah, Allah akan menghancurleburkan dan menggulungnya ke dalam kemahaluasan; di mana dosa tidak akan dikenal lagi.”
Berkenaan dengan dosa, yang perlu kita lakukan adalah bertobat! Karena hanya dengan bertobat dan percaya kita dapat menerima anugerah Allah dan diselamatkan. Dan pertobatan merupakan karya Roh Kudus. Oleh karena itu, dalam hal ini kita perlu memohon pertolongan Roh Kudus. Dan ketika pertobatan terjadi barulah kita menyadari betapa Allah begitu mengasihi kita dengan melimpahkan anugerah-Nya kepada kita.
Kasih Allah tidak dapat disamakan dengan kasih manusia, sebab kasih manusia terbatas. Pada saat manusia mati maka kasihnya ikut mati bersamanya. Akan tetapi, Allah tidak dapat mati, dan karena itu kasih-Nya juga tidak dapat mati. Dan inilah yang Tozer yakini tentang kasih Allah bahwa tidak ada batas bagi kasih Allah; kasih Allah tak terhingga cukup untuk mencakup seluruh surga dan juga neraka.
Oleh karena itu, patutlah kita melantunkan pujian Agunglah Kasih Allahku (NKB 17) karya F.M. Lehman:
Agunglah kasih Allahku, tiada yang setaranya;
Neraka dapat direngkuh, kartika pun tergapailah.
Kar’na kasih-Nya agunglah, Sang Putra menjelma,
Dia mencari yang sesat dan diampuni-Nya
Refrein:
O Kasih Allah agunglah! Tiada bandingnya!
Kekal teguh dan mulia! Dijunjung umat-Nya.