Posted on Tinggalkan komentar

Nyanyian Baru

Penyair memulai Mazmur 98 dengan ajakan: ”Nyanyikanlah nyanyian baru bagi TUHAN, sebab Ia telah melakukan perbuatan-perbuatan yang ajaib; keselamatan telah dikerjakan kepada-Nya oleh tangan kanan-Nya, oleh lengan-Nya yang kudus.”

Mengapa perlu nyanyian baru? Tidak bisakah dengan nyanyian lama? Ini tentu bukan masalah bisa atau tidak bisa. Akan tetapi—tampaknya inilah yang dimaksud penyair—pengalaman baru sewajarnya membuat orang membuat syair baru berdasarkan renungan atas peristiwa baru itu. Pertanyaannya sekarang: Apakah memang selalu ada peristiwa baru?

Ada ungkapan dalam bahasa Tionghoa: ”Kita tidak mungkin melewati sungai yang sama untuk kedua kalinya.” Kenyataannya memang demikian. Sebab aliran sungai itu tak pernah statis, selalu berubah. Itu berarti ada yang selalu baru.

Kalau kita perhatikan perbuatan-perbuatan Allah dalam hidup kita, Allah sering kali memberi pertolongan dengan cara yang berbeda. Tema besarnya tentu sama: Allah yang menyelamatkan. Namun, Allah tak pernah kehabisan kreasi dalam menolong kita. Dan karena itu, baik pula kita menyambut ajakan penyair—terlebih saat pandemi ini—untuk menyanyikan nyanyian baru bagi Allah.

SMaNGaT,

Yoel M. Indrasmoro
Literatur Perkantas Nasional

Foto: Istimewa

Bagikan:
Posted on Tinggalkan komentar

TUHAN adalah Raja

Di awal Mazmur 93 pemazmur menyatakan: ”TUHAN adalah Raja, Ia berpakaian kemegahan, TUHAN berpakaian, berikat pinggang kekuatan. Sungguh, telah tegak dunia, tidak bergoyang; takhta-Mu tegak sejak dahulu kala, dari kekal Engkau ada.”

TUHAN adalah Raja. Itu berarti TUHAN berdaulat. Segala sesuatu ada di dalam kuasa-Nya. Sifat kekuasaan-Nya pun bukan temporer, tetapi dari kekal hingga kekal. Dialah Sang Pencipta waktu.

Itu jugalah yang digambarkan pemazmur pada ayat 3-4: ”Sungai-sungai telah mengangkat, ya TUHAN, sungai-sungai telah mengangkat suaranya, sungai-sungai mengangkat bunyi hempasannya. Dari pada suara air yang besar, dari pada pecahan ombak laut yang hebat, lebih hebat TUHAN di tempat tinggi.”

Dalam masa Perjanjian Lama, sungai dan laut merupakan simbol kuasa kekacauan. Namun, semuanya itu di bawah kendali TUHAN. Oleh karena itu, bagi pemazmur memasrahkan diri kepada TUHAN merupakan hal yang masuk akal. Juga bagi kita, manusia abad XXI, yang tengah dilanda pandemi ini.

SMaNGaT,

Yoel M. Indrasmoro
Literatur Perkantas Nasional

Foto: Istimewa

Bagikan:
Posted on Tinggalkan komentar

Adalah Baik

Mazmur 92 merupakan nyanyian untuk hari Sabat. Pemazmur memulainya dengan sebuah pernyataan: ”Adalah baik untuk menyanyikan syukur kepada TUHAN, dan untuk menyanyikan mazmur bagi nama-Mu, ya Yang Mahatinggi, untuk memberitakan kasih setia-Mu di waktu pagi dan kesetiaan-Mu di waktu malam, dengan bunyi-bunyian sepuluh tali dan dengan gambus, dengan iringan kecapi.”

Tampaknya yang dimaksud dengan ”baik” oleh pemazmur adalah tak hanya layak atau niscaya, tetapi juga berguna bagi diri manusia itu sendiri.

Bersyukur akan menolong manusia untuk tetap ingat bahwa masih ada yang bisa disyukurinya. Hidup tak cuma gelap. Ada terangnya, meski sedikit. Dan yang sedikit itu, jika disyukuri, akan membuat batin merasa nyaman.

Dalam Kidung Jemaat 439:1, Johnson Oatman menulis: ”Bila topan k’ras melanda hidupmu, bila putus asa dan letih lesu, berkat Tuhan satu-satu hitunglah, kau niscaya kagum oleh kasihNya.”

Dalam refreinnya sang penyair mengajak untuk menghitung berkat. Dan ketika dihitung, sering kali berkatnya malah lebih banyak ketimbang kesulitannya.

Lagi pula, menyanyi akan membuat manusia lebih bersemangat. Dan itulah yang penting dalam hidup, apalagi di tengah pandemi COVID-19 ini.

Sehingga akhirnya kita pun dapat berkata seperti pemazmur pada ayat 6: ”Betapa besarnya pekerjaan-pekerjaan-Mu, ya TUHAN, dan sangat dalamnya rancangan-rancangan-Mu.”

SMaNGaT,

Yoel M. Indrasmoro
Literatur Perkantas Nasional

Foto: Istimewa

Bagikan:
Posted on Tinggalkan komentar

Dalam Lindungan Allah

Pemazmur memulai Mazmur 91 dengan sebuah pernyataan: ”Orang yang duduk dalam lindungan Yang Mahatinggi dan bermalam dalam naungan Yang Mahakuasa akan berkata kepada TUHAN: ”Tempat perlindunganku dan kubu pertahananku, Allahku, yang kupercayai.’” Dalam Alkitab BIMK tertera: ”Orang yang berlindung pada Yang Mahatinggi, dan tinggal dalam naungan Yang Mahakuasa, boleh berkata kepada TUHAN, “Engkaulah pembela dan pelindungku, Allahku, pada-Mulah aku percaya.’”

Jelaslah hanya orang yang berlindung pada Allah yang bisa berkata, ”Engkaulah pembela dan pelindungku.” Sebab bagaimana mungkin seseorang bisa mengatakan Allah sebagai pelindungnya kalau dia sendiri tidak mau berlindung kepada Allah.

”Berlindung” merupakan kata kerja aktif. Kamus Besar Bahasa Indonesia mengartikan kata ”berlindung” dengan ”menempatkan diri di bawah” atau ”bersembunyi (berada) di tempat yang aman supaya terlindung”. Itu berarti juga ada perasaan diri tak aman, sehingga mengambil tindakan untuk berada di tempat yang aman supaya terlindung. Dengan demikian berlindung bisa dipahami pula sebagai tindakan iman.

Mungkin persoalannya di sini: ”Mengapa kadang kita masih takut meski kita telah menjadikan Allah sebagai tempat persembunyian?” Yang namanya rasa memang di luar kehendak kita. Tiba-tiba rasa itu menyergap hati kita.

Kalau sudah begini, mungkin kita perlu juga menyapa diri kita sendiri: ”Mengapa harus takut? Bukankah kita telah menjadikan Allah sebagai tempat perlindungan kita? Kalau masih takut juga, sebenarnya malah aneh.” Kiranya sapaan ini terus mengingatkan kita di tengah pandemi COVID-19 ini.

SMaNGaT,

Yoel M. Indrasmoro
Literatur Perkantas Nasional

Foto: Istimewa

Bagikan:
Posted on Tinggalkan komentar

Ajarlah Kami

Yang unik dari Mazmur 90 adalah catatan redaksi yang menyatakannya sebagai doa Musa. Umat Israel agaknya merasa perlu memelihara keberadaan doa ini dalam sebuah kitab. Bagaimanapun, doa Musa ini memang unik, dan karena itu menarik.

Perhatikan penggalan doanya dalam Mazmur 90:12: ”Ajarlah kami menghitung hari-hari kami sedemikian, hingga kami beroleh hati yang bijaksana.” Dalam kecerdasan dan pengalamannya selaku manusia, Musa masih ingin belajar! Dia tidak merasa perlu berhenti belajar. Bahkan keinginan belajarnya itu dijadikan doa.

Musa sadar dia tidak mengerti makna hidup. Sehingga dia meminta Allah mengajarkannya. Musa memohon karena percaya Allahlah yang punya hidup. Karena hidup itu milik Allah, dia belajar dari Allah sendiri. Musa tidak mengklaim dirinya sebagai mahatahu. Dia memosisikan diri sebagai murid yang ingin belajar. Dan dia pandai memilih guru. Dia belajar dari Sang Maha Guru, sumber hidup dan kehidupan semua makhluk.

Semuanya itu bukan tanpa tujuan. Tujuannya bukanlah pengetahuan tentang kehidupan itu sendiri. Namun, Musa ingin mendapatkan hati yang bijaksana. Pelajaran tentang hidup bukan untuk kepuasan otak, tetapi hati yang lebih bijak. Hati yang arif untuk menentukan apa boleh dan tidak boleh dilakukan manusia.

Dan semua itu hanya bisa kita dapatkan dengan cara tidak melewatkan hari begitu saja. Kita perlu melihat hari sebagai sesuatu yang berharga untuk dipelajari. Sebuah hari bukanlah sekadar nama atau sejumlah waktu, tetapi anugerah. Kita dapat belajar banyak darinya. Dengan senantiasa bertanya: apakah hikmah yang saya dapat petik hari ini sebagai modal kita dalam mengisi hari-hari mendatang.

Itu berarti kita sadar, tanpa kemarin tidak akan ada hari ini, dan tanpa hari ini tak akan ada esok. Penting bagi kita belajar dari hari ini, sebagai bekal dalam perjalanan hidup selanjutnya. Penting bagi kita belajar hari ini, agar kita mendapatkan hati yang bijaksana.

Oleh karena itu, layaklah jika di tengah pandemi COVID-19 ini kita berdoa juga: ”Ajarlah kami menghitung hari-hari kami sedemikian, hingga kami beroleh hati yang bijaksana.”

SMaNGaT,

Yoel M. Indrasmoro
Literatur Perkantas Nasional

Bagikan:
Posted on Tinggalkan komentar

Kesetiaan TUHAN kepada Daud

Untuk Mazmur 89 terdapat catatan: mazmur ini merupakan nyanyian pengajaran Etan orang Ezrahi. Dalam Alkitab hanya ada satu ayat yang menjelaskan perihal Etan. Dalam Kitab 1 Raja-raja 4:30-31, berkait dengan kebijaksanaan Salomo, tertera: ”Hikmat Salomo melebihi hikmat segala bani Timur dan melebihi segala hikmat orang Mesir. Ia lebih bijaksana dari pada semua orang, dari pada Etan, orang Ezrahi itu, dan dari pada Heman, Kalkol dan Darda, anak-anak Mahol; sebab itu ia mendapat nama di antara segala bangsa sekelilingnya.” Jelaslah Etan orang Ezrahi terkenal sebagai orang yang berhikmat. Dan mazmur ini satu-satunya karya Etan yang terdapat dalam Kitab Mazmur.

Etan memulai mazmurnya dengan pernyataan: ”Aku hendak menyanyikan kasih setia TUHAN selama-lamanya, hendak memperkenalkan kesetiaan-Mu dengan mulutku turun-temurun. Sebab kasih setia-Mu dibangun untuk selama-lamanya; kesetiaan-Mu tegak seperti langit. Engkau telah berkata: ”Telah Kuikat perjanjian dengan orang pilihan-Ku, Aku telah bersumpah kepada Daud, hamba-Ku: Untuk selama-lamanya Aku hendak menegakkan anak cucumu, dan membangun takhtamu turun-temurun.”

Bisa jadi manusia abad XXI akan menganggap bahwa mazmur ini dikarang Etan untuk mengambil hati Daud, sang penguasa Israel. Namun demikian, tampaknya Etan memahami bahwa Daud memang bukan pemimpin sembarangan, yang membuat TUHAN berkenan kepadanya.

Anak Isai itu memang tak lepas dari kesalahan. Perzinaan dengan Betsyeba pastilah menjadi buah bibir, tetapi sejarah mencatat: Daud mengakui kesalahannya dan bertobat. Mazmur 51 adalah bukti nyata pertobatan publiknya. Sejatinya pemimpin yang mengakui kesalahannya relatif langka. Dan pemimpin macam begini merupakan berkat bagi segenap rakyatnya.

Sesungguhnya pasang surut suatu bangsa ada di pundak para pemimpinnya. Dan itulah yang terjadi dengan Israel, selepas era Daud dan Salomo, Kerajaan Israel dan Yehuda makin terpuruk yang berakhir pada pembuangan. Hal itu tergambar pula pada ayat 39 dalam Alkitab BIMK: ”Tetapi sekarang Engkau marah kepada raja, Engkau membuang dan menolak orang pilihan-Mu.”

Kelihatannya para pemimpin bangsa masa kini perlu belajar dari Daud, terutama di tengah pandemi COVID-19 ini.

SMaNGaT,

Yoel M. Indrasmoro
Literatur Perkantas Nasional

Foto: Istimewa

Bagikan:
Posted on Tinggalkan komentar

Doa Pada Waktu Sakit Payah

Di akhir Mazmur 88, pemazmur mengeluh: ”Telah Kaujauhkan dari padaku sahabat dan teman, kenalan-kenalanku adalah kegelapan.” Dalam Alkitab BIMK tertera: ”Kawan-kawanku yang akrab Kaujauhkan daripadaku, tinggal kegelapan menemani aku.” Dalam pemahaman pemazmur, segala sesuatu ada dalam kuasa Allah. Sehingga saat para sahabat meninggalkan dia, itu berarti Allah mengizinkan hal itu terjadi. Dan akhirnya yang tinggal hanyalah kegelapan.

Kegelapan membuat manusia serbagamang, tak pasti, bahkan tak tahu harus berbuat apa. Sejatinya manusia memang butuh terang. Tak hanya terang fisik, tetapi juga terang batin. Mungkin itulah sebabnya bahwa ciptaan pertama Allah adalah terang. Kabarnya tunanetra pun, meski dalam keadaan tak mampu melihat secara fisik, mereka bisa melihat dengan mata batin.

Demikianlah keadaan pemazmur. Dia merasa ditinggalkan Allah dan manusia. Namun, dia tidak diam, dia mempertanyakan tindakan Allah. Perhatikan ayat 15-18: ”Mengapa, ya TUHAN, Kaubuang aku, Kausembunyikan wajah-Mu dari padaku? Aku tertindas dan menjadi inceran maut sejak kecil, aku telah menanggung kengerian dari pada-Mu, aku putus asa. Kehangatan murka-Mu menimpa aku, kedahsyatan-Mu membungkamkan aku, mengelilingi aku seperti air banjir sepanjang hari, mengepung aku serentak.”

Namun, semua itu dilakukan pemazmur bukan karena dia tidak memercayai Allah. Sedu sedannya memperlihatkan bahwa dia percaya bahwa Allah mengasihinya. Itu terlihat jelas pada awal mazmurnya: ”Ya TUHAN, Allah yang menyelamatkan aku, siang hari aku berseru-seru, pada waktu malam aku menghadap Engkau.” Dia berdoa karena percaya Allahlah penyelamatnya dan akan terus menyelamatkannya.

Bagaimana dengan kita di tengah pandemi COVID-19 ini?

SMaNGaT,

Yoel M. Indrasmoro
Literatur Perkantas Nasional

Foto: Istimewa

Bagikan:
Posted on Tinggalkan komentar

Sion: Kota Allah

Mazmur 87 merupakan nyanyian bani Korah bagi Sion. Pemazmur menyatakan pada ayat 1-3: ”Di gunung-gunung yang kudus ada kota yang dibangunkan-Nya: ’TUHAN lebih mencintai pintu-pintu gerbang Sion dari pada segala tempat kediaman Yakub. Hal-hal yang mulia dikatakan tentang engkau, ya kota Allah.’”

Sion merupakan bukit tempat Bait Allah didirikan. Dan Yerusalem berbeda dengan kota-kota Israel lainnya karena Bait Allah ada di sana. Itulah yang membedakan Yerusalem dari kota-kota lain di seluruh dunia.

Dalam Mazmur 87, pemazmur juga menyatakan bahwa Rahab, Babel, Filistea, Tirus, dan Etiopia—kota-kota yang sering dianggap sebagai musuh Israel—dilahirkan di Yerusalem. Hal itu memperlihatkan hak Allah dalam memerintah dan memelihara kota-kota di seluruh dunia.

Pujian bagi Yerusalem sesungguhnya bukanlah tanpa konsekuensi. Yerusalem dipanggil menjadi berkat bagi kota-kota lain. Namun demikian, kenyataannya memang tidak demikian. Yerusalem—mengutip syair lagu karya Pak van Dop—”tak lagi [kau] menjunjung citra sorga”. Dan karena itu, Allah menghukum dan akhirnya memulihkannya.

Bagi orang Kristen, Yerusalem menjadi berbeda karena di sanalah puncak penyelamatan Allah—melalui peristiwa kematian dan kebangkitan Yesus Orang Nazaret—berlangsung. Dalam Kitab Wahyu, Allah sendiri akan menjadikan Yerusalem baru. Dan kitalah warga kota Yerusalem baru itu.

Sebagai warga kota Yerusalem baru, panggilan kita—juga di tengah pandemi ini—tidak berubah, yaitu terus menjunjung citra surga!

SMaNGaT,

Yoel M. Indrasmoro
Literatur Perkantas Nasional

Foto: Alexis Balinoff

Bagikan:
Posted on Tinggalkan komentar

Aku Orang yang Kaukasihi

Di awal Mazmur 86, Daud berseru: ”Sendengkanlah telinga-Mu, ya TUHAN, jawablah aku, sebab sengsara dan miskin aku. Peliharalah nyawaku, sebab aku orang yang Kaukasihi, selamatkanlah hamba-Mu yang percaya kepada-Mu. Engkau adalah Allahku, kasihanilah aku, ya Tuhan, sebab kepada-Mulah aku berseru sepanjang hari. Buatlah jiwa hamba-Mu bersukacita, sebab kepada-Mulah, ya Tuhan, kuangkat jiwaku.”

Mari kita simak alasan-alasan doa Daud ini. Pertama, dia mengakui bahwa dirinya sengsara dan miskin. Dalam Alkitab BIMK tertera: ”sebab aku miskin dan lemah”. Daud mengakui bahwa dirinya sungguh tak berdaya. Dan karena itu, dia mengharapkan Allah segera menolongnya. Yang dimaksud dengan miskin di sini adalah bergantung sepenuhnya kepada Allah.

Kedua, alasan Daud meminta Allah memelihara nyawanya bukanlah karena Daud mengasihi Allah, tetapi karena Allahlah yang telah mengasihi Daud. Alasan jitu karena kasih Allah kekal sifatnya, sedangkan kasih manusia sering temporer sifatnya. Dan itulah yang dipercaya Daud. Anak Isai itu percaya bahwa Allah pasti mengasihinya.

Ketiga, Daud memohon belas kasihan Allah karena dia telah berseru sepanjang hari. Seruan Daud tak pernah putus. Itu memperlihatkan bagaimana Daud sungguh mengandalkan Allahnya.

Keempat, Daud telah mengangkat jiwanya kepada Allah. Dalam Alkitab BIMK tertera: ”sebab kepada-Mu kuarahkan hatiku. Hati atau jiwa Daud terarah kepada Allah. Hatinya terpusat kepada Allah.

Pola doa macam begini agaknya perlu kita tiru di tengah pandemi yang tampaknya enggan berakhir ini.

SMaNGaT,

Yoel M. Indrasmoro
Literatur Perkantas Nasional

Foto: Istimewa

Bagikan:
Posted on Tinggalkan komentar

Pulihkanlah Kami

Dalam bait kedua Mazmur 85, pemazmur berseru: ”Pulihkanlah kami, ya Allah penyelamat kami, dan tiadakanlah sakit hati-Mu kepada kami. Untuk selamanyakah Engkau murka atas kami dan melanjutkan murka-Mu turun-temurun? Apakah Engkau tidak mau menghidupkan kami kembali, sehingga umat-Mu bersukacita karena Engkau? Perlihatkanlah kepada kami kasih setia-Mu, ya TUHAN, dan berikanlah kepada kami keselamatan dari pada-Mu!”

Tampaknya mazmur ini ditulis sewaktu orang Israel pulang kembali ke Yehuda dari pembuangan di Babel. Kembali ke tanah air merupakan saat yang membahagiakan. Namun, itu bukan tanpa persoalan. Bagaimanapun kerajaan-kerajaan tetangga di sekitar Yehuda tak terlalu suka orang-orang buangan itu kembali membangun negerinya. Orang-orang Yehuda yang tidak ikut ke pembuangan pun bisa jadi juga merasa terusik.

Akan tetapi, yang menarik dari mazmur ini, di tengah perjuangan yang tidak mudah dalam membangun kembali Kerajaan Yehuda, ada panggilan yang harus dijawab dengan segera. Dalam ayat 9 pemazmur menulis : ”Aku mau mendengar apa yang hendak difirmankan Allah, TUHAN. Bukankah Ia hendak berbicara tentang damai kepada umat-Nya dan kepada orang-orang yang dikasihi-Nya, supaya jangan mereka kembali kepada kebodohan?” Dalam Alkitab BIMK tertera: ”Aku mau mendengar perkataan TUHAN Allah; Ia menjanjikan kesejahteraan kepada kita, umat-Nya, asal kita tidak kembali berbuat dosa.”

Jelaslah ada kaitan antara kedamaian dan tindakan yang benar. Dan panggilan umat Allah adalah menghidupkan kembali jati diri mereka selaku umat Allah. Keadilan Allah memanggil manusia untuk bertindak adil. Hanya dengan cara itulah kesejahteraan akan terwujud. Hidup benar dan adil; itu jugalah panggilan kita di tengah pandemi COVID-19 ini.

SMaNGaT,

Yoel M. Indrasmoro
Literatur Perkantas Nasional

Foto: Istimewa

Bagikan: