Posted on Tinggalkan komentar

Pulihkanlah Kami

Dalam bait kedua Mazmur 85, pemazmur berseru: ”Pulihkanlah kami, ya Allah penyelamat kami, dan tiadakanlah sakit hati-Mu kepada kami. Untuk selamanyakah Engkau murka atas kami dan melanjutkan murka-Mu turun-temurun? Apakah Engkau tidak mau menghidupkan kami kembali, sehingga umat-Mu bersukacita karena Engkau? Perlihatkanlah kepada kami kasih setia-Mu, ya TUHAN, dan berikanlah kepada kami keselamatan dari pada-Mu!”

Tampaknya mazmur ini ditulis sewaktu orang Israel pulang kembali ke Yehuda dari pembuangan di Babel. Kembali ke tanah air merupakan saat yang membahagiakan. Namun, itu bukan tanpa persoalan. Bagaimanapun kerajaan-kerajaan tetangga di sekitar Yehuda tak terlalu suka orang-orang buangan itu kembali membangun negerinya. Orang-orang Yehuda yang tidak ikut ke pembuangan pun bisa jadi juga merasa terusik.

Akan tetapi, yang menarik dari mazmur ini, di tengah perjuangan yang tidak mudah dalam membangun kembali Kerajaan Yehuda, ada panggilan yang harus dijawab dengan segera. Dalam ayat 9 pemazmur menulis : ”Aku mau mendengar apa yang hendak difirmankan Allah, TUHAN. Bukankah Ia hendak berbicara tentang damai kepada umat-Nya dan kepada orang-orang yang dikasihi-Nya, supaya jangan mereka kembali kepada kebodohan?” Dalam Alkitab BIMK tertera: ”Aku mau mendengar perkataan TUHAN Allah; Ia menjanjikan kesejahteraan kepada kita, umat-Nya, asal kita tidak kembali berbuat dosa.”

Jelaslah ada kaitan antara kedamaian dan tindakan yang benar. Dan panggilan umat Allah adalah menghidupkan kembali jati diri mereka selaku umat Allah. Keadilan Allah memanggil manusia untuk bertindak adil. Hanya dengan cara itulah kesejahteraan akan terwujud. Hidup benar dan adil; itu jugalah panggilan kita di tengah pandemi COVID-19 ini.

SMaNGaT,

Yoel M. Indrasmoro
Literatur Perkantas Nasional

Foto: Istimewa

Bagikan:

Tinggalkan Balasan