Posted on Tinggalkan komentar

Membangunkan Fajar

Daud memulai Mazmur 108 dengan pernyataan: ”Hatiku siap, ya Allah, aku mau menyanyi, aku mau bermazmur. Bangunlah, hai jiwaku, bangunlah, hai gambus dan kecapi, aku mau membangunkan fajar.”

Ya, membangunkan fajar. Dengan gaya puitis ini Daud hendak mengatakan bahwa dia akan memulai harinya sedini mungkin atau menaikkan pujian di ambang fajar. Ini berarti masalah prioritas. Daud ingin menjadikan pujian kepada Allah sebagai prioritas dalam keseharian hidupnya. Mengapa?

Pertama, Allah adalah causa prima, penyebab utama. Kita bisa bangun dari tidur karena Allah sendiri yang menyebabkannya. Sehingga wajarlah Daud menjadikan pujian kepada Allah sebagai prioritas.

Kedua, pujian kepada Allah akan membuat hati kita merasa damai dan tentram. Kedamaian itu bisa menjadi modal terbaik kita dalam mengisi hari itu. Kita tidak menjadi grasah-grusuh. Pujian kepada Allah bisa kita jadikan fondasi kuat bagi kita untuk membangun kisah diri hari itu.

Ketiga, usul saya, Anda sendiri yang menambahkannya, terutama di kala pandemi ini.

SMaNGaT,

Yoel M. Indrasmoro
Literatur Perkantas Nasional

Foto: James Pritchett

Bagikan:
Posted on Tinggalkan komentar

Sebab Ia Baik

Dalam bait pertama Mazmur 107, pemazmur menulis: ”Bersyukurlah kepada TUHAN, sebab Ia baik! Bahwasanya untuk selama-lamanya kasih setia-Nya. Biarlah itu dikatakan orang-orang yang ditebus TUHAN, yang ditebus-Nya dari kuasa yang menyesakkan, yang dikumpulkan-Nya dari negeri-negeri, dari timur dan dari barat, dari utara dan dari selatan.”

Sebab Ia baik! Itulah alasan pujian kepada Allah. Kebaikan Allah itu dijabarkan dalam kalimat ”Bahwasanya untuk selama-lamanya kasih setia-Nya. Kebaikan Allah tidak bersifat temporer, tak terkandung keadaan, tetapi melampaui waktu itu sendiri.

Mungkin persoalannya memang di sini. Berbeda dengan Allah manusia dibatasi oleh waktu, dan sering kali pandangan manusia hanya berbilang tahun. Sehingga tak selalu mudah untuk manusia memahami kebaikan Allah. Kadang manusia baru bisa sungguh-sungguh menyadari kebaikan Allah dalam sebuah peristiwa ketika telah berjarak cukup lama dengan perisitiwa itu.Karena itu, pemazmur mengajak orang-orang tebusan Allah untuk memuji Allah.

Jadi, dasarnya bukan peristiwa-peristiwa sehari-hari—yang kadang membuat kita tak begitu memahami kebaikan Allah; tetapi peristiwa penebusan. Penebusan—kematian dan kebangkitan Yesus Orang Nazaret—merupakan alasan terkuat kita memuji Allah. Karena dalam penebusan itu kita menjadi milik-Nya.

Dan berkait dengan kepemilikan itu sendiri, Paulus dalam suratnya kepada jemaat di Korintus menyatakan: ”Sebab aku yakin, bahwa baik maut, maupun hidup, baik malaikat-malaikat, maupun pemerintah-pemerintah, baik yang ada sekarang, maupun yang akan datang, atau kuasa-kuasa, baik yang di atas, maupun yang di bawah, ataupun sesuatu makhluk lain, tidak akan dapat memisahkan kita dari kasih Allah, yang ada dalam Kristus Yesus, Tuhan kita” (Rm. 8:38-39).

Ya, itulah alasan utama kita terus memuji Allah, khususnya di tengah pandemi ini.

SMaNGaT,

Yoel M. Indrasmoro
Literatur Perkantas Nasional

Foto: Istimewa

Bagikan:
Posted on Tinggalkan komentar

Ketegaran Hati Israel

Sama seperti Mazmur 105, Mazmur 106 juga menuturkan kembali pengalaman Israel pada masa lampau. Bedanya, pemazmur menyoroti ketidaktaatan Israel. Pemazmur menyoroti bagaimana pasang surutnya iman Israel.

Baru saja Allah melepaskan mereka dari tanah Mesir, tempat perbudakan itu, namun tegas pemazmur pada ayat 13-15: ”Tetapi segera mereka melupakan perbuatan-perbuatan-Nya dan tidak menantikan nasihat-Nya; mereka dirangsang nafsu di padang gurun, dan mencobai Allah di padang belantara.” Meski sudah diselamatkan di Laut Teberau, mereka mulai bersungut-sungut karena ketiadaan air dan makanan.

Bahkan ketika mereka baru saja bersukacita karena Allah memberikan makanan dan minuman, mereka pun tetap bersungut-sungut. Sehingga Allah menghukum mereka dengan suatu penyakit. Pujian–sungut-sungut–pujian–sungut-sunggut. Demikianlah pola iman umat Israel, bahkan terus dibawa hingga mereka tinggal di Tanah Perjanjian.

Menariknya Allah pun tidak kapok terhadap umat-Nya. Allah memang menghukum umat-Nya, tetapi setelah itu Allah kembali menilik umat-Nya dalam kesengsaraan mereka, dan akhirnya melepaskan mereka.

Allah tampaknya tidak pernah menyerah terhadap umat-Nya. Kemurahan Allah tak pernah surut. Kasih setia Allah kekal sifatnya. Dan karena itu, pada bait terakhir pemazmur berseru: ”Terpujilah TUHAN, Allah Israel, dari selama-lamanya sampai selama-lamanya, dan biarlah seluruh umat mengatakan: ’Amin!’ Haleluya!”

Pola iman yang sama kadang juga terjadi dalam hidup kita. Memuji Allah di kala semua baik, dan mempertanyakan kebaikan Allah ketika keadaan mulai memburuk. Namun demikian, percayalah bahwa Allah tidak akan pernah menyerah. Dia akan terus mengasihi kita selama kita masih merindukan belas kasihan-Nya.

SMaNGaT,

Yoel M. Indrasmoro
Literatur Perkantas Nasional

Foto: Ahmed Hasan

Bagikan:
Posted on Tinggalkan komentar

Carilah TUHAN dan Kekuatan-Nya

Dalam Mazmur 105:4-6, pemazmur mengajak: ”Carilah TUHAN dan kekuatan-Nya, carilah wajah-Nya selalu! Ingatlah perbuatan-perbuatan ajaib yang dilakukan-Nya, mujizat-mujizat-Nya dan penghukuman-penghukuman yang diucapkan-Nya, hai anak cucu Abraham, hamba-Nya, hai anak-anak Yakub, orang-orang pilihan-Nya!”

Mencari Allah berarti memfokuskan hati dan pikiran kita kepada Allah saja. Mengapa? Sebab Dialah sumber hidup dan kehidupan kita. Sehingga memfokuskan diri kita kepada Dia akan membuat kita sungguh hidup. Sekali lagi karena Allah adalah sumber hidup.

Tampaknya, pemazmur sengaja untuk bicara soal mengandalkan kekuatan Allah. Meski percaya bahwa Allah sungguh Mahakuasa, kadang manusia masih mengandalkan kekuatannya sendiri. Mengapa? Karena memang itulah yang ada dalam kendalinya. Kekuatan Allah tentu di luar kendali manusia. Manusia sering juga malas menunggu waktu Allah. Yang akhirnya malah membuat manusia bergantung penuh pada dirinya sendiri.

Kelihatannya ada hubungan antara mengandalkan Allah dan mengingat karya Allah pada masa lampau. Dengan mengingat karya Allah dalam diri kita, kita ditolong untuk terus belajar mencari wajah-Nya selalu. Sebab waktu telah membuktikan bahwa Allah mampu dan mau menolong. Sehingga mencari wajah Allah sejatinya merupakan tindakan logis. Jika pada masa lampau Allah telah mau dan mampu menolong, kita boleh berani berharap pertolongan-Nya pada masa kini. Khususnya pada pandemi COVID-19 ini.

SMaNGaT,

Yoel M. Indrasmoro
Literatur Perkantas Nasional

Foto: Istimewa

Bagikan:
Posted on Tinggalkan komentar

Semuanya Menantikan Engkau

Dalam Mazmur 104 pemazmur berupaya menggambarkan kebesaran Allah dalam segala ciptaan-Nya. Pada ayat 25-27, pemazmur menulis: ”Lihatlah laut itu, besar dan luas wilayahnya, di situ bergerak, tidak terhitung banyaknya, binatang-binatang yang kecil dan besar. Di situ kapal-kapal berlayar dan Lewiatan yang telah Kaubentuk untuk bermain dengannya. Semuanya menantikan Engkau, supaya diberikan makanan pada waktunya.”

Bagi masyarakat Israel—juga kita pada zaman modern ini, laut merupakan misteri, yang kadang merupakan simbol dari kekacauan dan sungguh menakutkan. Namun, semua makhluk, juga Lewiatan, di dalamnya adalah ciptaan Allah belaka. Lewiatan adalah raksasa laut, yang juga merupakan simbol kekacauan dan kejahatan. Mereka semuanya takluk dan bergantung penuh kepada Allah dan menantikan makanan dari-Nya.

Pemazmur menjelaskannya dengan gaya bahasa repetisi pada ayat 28-29: ”Apabila Engkau memberikannya, mereka memungutnya; apabila Engkau membuka tanganmu, mereka kenyang oleh kebaikan. Apabila Engkau menyembunyikan wajah-Mu, mereka terkejut; apabila Engkau mengambil roh mereka, mereka mati binasa dan Kembali menjadi debu.” Tampak jelas bahwa semuanya bergantung total kepada Allah. Tanpa Allah mereka binasa.

Yang menarik disimak, pemazmur juga bicara soal pembaruan bumi pada ayat 30: ”Apabila Engkau mengirim roh-Mu, mereka tercipta, dan Engkau membaharui muka bumi.”

Jelaslah bahwa Roh Allah hadir sebagai kuasa kreatif dalam penciptaan dunia. Tak hanya itu, Roh Allah juga menginspirasi orang-orang pilihannya untuk membarui bumi. Inspirasi berasal dari bahasa Latin en + spiritus (dalam Roh). Roh Allah memampukan setiap orang untuk melakukan pembaruan di dunia milik Allah.

Marilah kita berdoa, juga di tengah pandemi ini, agar Allah terus menginspirasi kita agar tak hanya mampu beradaptasi, tetapi juga dapat menyemangati orang lain hidup dalam kenormalan baru.

SMaNGaT,

Yoel M. Indrasmoro
Literatur Perkantas Nasional

Foto: James Barr

Bagikan:
Posted on Tinggalkan komentar

Pujilah TUHAN, Hai Jiwaku

Daud memulai Mazmur 103 dengan ajakan: ”Pujilah TUHAN, hai jiwaku! Pujilah nama-Nya yang kudus, hai segenap batinku! Pujilah TUHAN, hai jiwaku, dan janganlah lupakan segala kebaikan-Nya!”

Menarik disimak, yang diajak adalah dirinya sendiri. Mengapa diri sendiri? Biasanya ajakan dari diri sendiri kepada diri sendiri biasa lebih kuat dibandingkan jika orang lain yang mengajak. Bagaimanapun diri sendiri adalah pribadi yang paling dekat dengan kita dibandingkan dengan pribadi mana pun. Kita sungguh mengenal keberadaan diri kita sendiri ketimbang orang lain.

Kelihatannya Daud memahami ada kaitan antara pujian kepada Allah dengan ingatan akan kebaikan Allah. Pujian kepada Allah akan membuat kita makin menyadari siapakah sesungguhnya Allah itu. Memuji Allah niscaya membuat manusia mengingat segala kebaikan Allah. Dan kebaikan Allah itu diuraikan secara detail oleh Daud pada ayat-ayat berikutnya: mengampuni kesalahan, menyembuhkan penyakit, menebus hidup, memahkotai dengan kasih setia dan rahmat, memuaskan hasrat manusia dengan apa yang baik.

Memuji Allah akan membuat kita makin memahami sifat Allah. Dan sifat Allah—dan memang itu yang Dia dikerjakan—ditelaah lebih dalam pada ayat 9-11: ”Tidak selalu Ia menuntut, dan tidak untuk selama-lamanya Ia mendendam. Tidak dilakukan-Nya kepada kita setimpal dengan dosa kita, dan tidak dibalas-Nya kepada kita setimpal dengan kesalahan kita, tetapi setinggi langit di atas bumi, demikian besarnya kasih setia-Nya atas orang-orang yang takut akan Dia.”

Allah tidak menghardik manusia terus-menerus dan tidak selama-lamanya memarahi umat-Nya. Allah mengampuni manusia karena paham bahwa manusia memang debu yang fana sifatnya. Dan yang pasti karena Dia adalah Bapa yang kekal. Mana ada orang tua normal yang tidak sayang kepada anak-anaknya?

Memuji Allah akan menjadikan manusia semakin mengasihi Allah. Oleh karena itu, mari kita meneladan Daud dengan berseru, ”Pujilah TUHAN, hai jiwaku!”

SMaNGaT,

Yoel M. Indrasmoro
Literatur Perkantas Nasional

Foto: Grant Ritchie

Bagikan:
Posted on Tinggalkan komentar

Doa Minta Tolong

Dalam bait pertama Mazmur 102, pemazmur mengaduh: ”TUHAN, dengarkanlah doaku, dan biarlah teriakku minta tolong sampai kepada-Mu. Janganlah sembunyikan wajah-Mu terhadap aku pada hari aku tersesak. Sendengkanlah telinga-Mu kepadaku; pada hari aku berseru, segeralah menjawab aku!”

Pengaduan dan pengaduhan pemazmur bukan tanpa alasan. Pada bait kedua pemazmur berupaya menggambarkan perasaannya secara terperinci: ”Hidupku menghilang seperti asap; tulang-tulangku membara seperti api. Aku lesu seperti rumput kering, dan kehilangan nafsu makan. Aku mengerang dengan nyaring; badanku tinggal kulit pembungkus tulang. Aku seperti burung undan di padang gurun, seperti burung hantu di reruntuhan yang sepi. Aku tak bisa tidur, seperti burung yang kesepian di atap rumah. Sepanjang hari musuh menghina aku; namaku dijadikan kutuk oleh orang yang marah kepadaku. Aku makan abu seperti roti, minumanku bercampur air mata, sebab Engkau telah mengangkat dan melemparkan aku dalam kemarahan-Mu yang menyala-nyala. Hidupku berlalu seperti bayangan di waktu petang; aku menjadi layu seperti rumput” (BIMK).

Tampaknya pemazmur sedang mengalami sakit parah. Itu memang menyedihkan. Namun, yang lebih menyedihkan tatkala sakit itu menjadi bahan ejekan para musuhnya. Sudah jatuh ketimpa tangga. Pemazmur merasa dibiarkan Allah menanggung semuanya itu.

Namun, yang patut disimak, pemazmur tetap mengadu dan mengaduh kepada Allah. Karena dia percaya bahwa Allah mengetahui dan memedulikannya. Dan dasar dari pengaduan dan pengaduhan pemazmur adalah kekekalan dan kasih Allah. Pada ayat 13 pemazmur mengakui: ”Tetapi Engkau, ya TUHAN, bersemayam untuk selama-lamanya, dan nama-Mu tetap turun-temurun. Engkau sendiri akan bangun, akan menyayangi Sion, sebab sudah waktunya untuk mengasihaninya, sudah tiba saatnya.” Kekekalan dan kasih Allah meyakinkan pemazmur bahwa Yang Mahatinggi akan bertindak.

Telah tiga bulan lebih kita berada dalam wabah COVID-19. Hati, pikiran, dan tubuh kita telah penat. Namun, satu hal yang perlu disyukuri adalah kita masih bertahan hingga kini. Itu sungguh karunia Allah. Dan karena itu, marilah kita makin bersemangat untuk menyaksikan Allah memulihkan semuanya ini.

SMaNGaT,

Yoel M. Indrasmoro
Literatur Perkantas Nasional

Foto: Istimewa

 

Bagikan:
Posted on Tinggalkan komentar

Menyanyikan Kasih Setia dan Hukum

Di awal Mazmur 101, Daud berikhtiar: ”Aku hendak menyanyikan kasih setia dan hukum, aku hendak bermazmur bagi-Mu, ya TUHAN”. Pertanyaannya: apa yang dimaksud dengan ”menyanyikan kasih setia dan hukum”?

Daud memang penyair, bisa jadi dia juga gemar bernyanyi. Mungkin yang dimaksud dengan ”menyanyikan kasih setia dan hukum” adalah menjalani kasih setia dan hukum dengan senang dan bukan beban. Pertanyaan yang mungkin kita ajukan: Bagaimana caranya memandang kasih setia dan hukum sebagai sesuatu yang menyenangkan?

Agaknya kita perlu memandang diri kita sebagai orang yang telah merasakan betapa berharganya kesetiaan itu sendiri. Bayangkan apa jadinya kita ketika ibu kita menolak menyusui kita sewaktu bayi karena alasan capek? Pikirkanlah apa jadinya nasib kita saat guru kelas tak begitu sabar mengajari kita? Lalu, apa jadinya diri kita jika pemilik perusahaan memecat dengan sewenang-wenang karena tak punya lagi dana untuk menggaji kita saat pandemi ini? Semua itu tidak terjadi karena ada unsur kesetiaan. Keberadaan kita sekarang ini sedikit banyak merupakan buah kesetiaan orang lain.

Mengenai hukum, baiklah kita mengingatnya sebagai peranti yang akan membuat hidup kita lebih manusiawi. Tanpa hukum semua jadi berantakan. Misalnya: budaya antre menolong setiap orang merasakan bahwa keadilan ditegakkan. Ketika seseorang melanggarnya, orang lain yang tak suka akan melabraknya yang membuat si pelanggar malu sendiri. Kalaupun enggak ada yang menegur, percayalah bahwa nilai diri si pelanggar telah jatuh di mata orang lain. Jika memang demikian, apa gunanya melanggar aturan? Menerapkan aturan dengan semestinya akan membuat kita lebih percaya diri.

Oleh karena itu, agaknya kita perlu belajar berikhtiar seperti Daud dalam ayat 2, ”Aku hendak memperhatikan hidup yang tidak bercela: Bilakah Engkau datang kepadaku? Aku hendak hidup dalam ketulusan hatiku di dalam rumahku.” Marilah kita belajar hidup tulus, mulai dalam rumah kita sendiri, juga di tengah pandemi ini.

SMaNGaT,

Yoel M. Indrasmoro
Literatur Perkantas Nasional

Foto: Ben White

Bagikan:
Posted on Tinggalkan komentar

Mazmur Kurban Syukur

”Bersorak-soraklah bagi TUHAN, hai seluruh bumi! Beribadahlah kepada TUHAN dengan sukacita, datanglah ke hadapan-Nya dengan sorak-sorai!” Demikianlah penyair mengawali Mazmur 100, yang merupakan untuk kurban syukur.

Menarik disimak, penyair mengajak seluruh bumi untuk beribadah kepada TUHAN. Dan itu hanya mungkin terjadi jika umat Allah—yang telah merasakan penyelamatan Allah—menjadi contoh. Itu berarti juga hidup yang dijalani umat Israel—selaku umat Allah—terlalu berharga untuk dilakoni secara biasa-biasa saja. Hidup adalah ibadah. Itu berarti mereka perlu melakoni hidup itu dalam situasi dan kondisi sembah kepada Allah. Artinya: serius, tidak main-main, dan kudus!

Pemazmur memiliki alasan kuat: ”Karena TUHANlah Allah; Dialah yang menjadikan kita dan punya Dialah kita, umat-Nya dan kawanan domba gembalaan-Nya.” (Mzm. 100:3). Ya, TUHANlah Allah. Dalam kalimat ini pemazmur mengakui bahwa dia adalah ciptaan Allah.

Dalam pemahaman pemazmur, TUHAN—Yahwe—bukanlah pribadi yang gemar mencipta sesuatu lalu melupakannya. Yahwe bukanlah pencipta jam otomatis yang setelah mencipta langsung membiarkan jam itu jalan sendiri. Tidak. Yahwe tak hanya mencipta, tetapi juga memelihara ciptaannya.

Dalam Alkitab BIMK tertera: ”Ia menciptakan kita dan kita milik-Nya; kita umat-Nya, bangsa yang dipelihara-Nya.” Itu berarti umat Israel adalah ciptaan Allah. Umat Israel adalah milik Allah. Dan ini yang terpenting: umat Israel dipelihara Allah.

Karena semua alasan itulah, memuji Allah merupakan keniscayaan. Memuji Allah karena Dia memang layak dipuji dan dimuliakan. Memuji Allah karena Dia baik, kasih-Nya kekal, dan kesetiaan-Nya tak pernah putus.

Di tengah pandemi ini agaknya kita, umat percaya pada masa kini, perlu juga menguji diri: ”Benarkah kasih Allah itu kekal, tak putus dalam hidup kita?” Mungkin kita mengalami kesulitan, tetapi percayalah kita tidak sendirian. Semua orang merasakannya.

SMaNGaT,

Yoel M. Indrasmoro
Literatur Perkantas Nasional

Foto: Joshua Earle

Bagikan:
Posted on Tinggalkan komentar

TUHAN Itu Raja

Penyair memulai Mazmur 99 dengan pengakuan dan ajakan: ”TUHAN itu Raja, maka bangsa-bangsa gemetar. Ia duduk di atas kerub-kerub, maka bumi goyang. TUHAN itu maha besar di Sion, dan Ia tinggi mengatasi segala bangsa. Biarlah mereka menyanyikan syukur bagi nama-Mu yang besar dan dahsyat; Kuduslah Ia!”

Pengakuan bahwa Allah itu Raja sungguh signifikan—penting dan bermakna. Sebab ada konsekuensi logis dari pengakuan ini. Penyair menyatakan bahwa bangsa-bangsa gemetar. Gemetar di sini bukan karena Allah adalah pribadi yang sewenang-wenang, tetapi karena Dia kudus.

Kekudusan Allah niscaya membuat yang cemar sirna. Terang memang tak mungkin bersatu dengan gelap. Gelap akan serta merta hilang. Dan karena itu bangsa-bangsa pantas gemetar.

Namun demikian, kekudusan Allah semestinya tak hanya membuat gemetar, tetapi juga mendorong manusia untuk memuliakan-Nya. Mengapa? Karena di dalam kekudusan-Nya, Allah berkenan memberikan kehidupan kepada segala makhluk.

Bagaimana dengan kita? Kekudusan Allah semestinya mendorong kita untuk hidup kudus. Kerinduan hidup kudus—tentu dengan anugerah Allah—akan membuat kita layak bersimpuh di hadirat-Nya. Oleh karena itu, mari kita belajar menjaga kekudusan hidup, juga di tengah pandemi ini.

SMaNGaT,

Yoel M. Indrasmoro
Literatur Perkantas Nasional

Foto: Martin Jernberg

Bagikan: