Posted on Tinggalkan komentar

Ketegaran Hati Israel

Sama seperti Mazmur 105, Mazmur 106 juga menuturkan kembali pengalaman Israel pada masa lampau. Bedanya, pemazmur menyoroti ketidaktaatan Israel. Pemazmur menyoroti bagaimana pasang surutnya iman Israel.

Baru saja Allah melepaskan mereka dari tanah Mesir, tempat perbudakan itu, namun tegas pemazmur pada ayat 13-15: ”Tetapi segera mereka melupakan perbuatan-perbuatan-Nya dan tidak menantikan nasihat-Nya; mereka dirangsang nafsu di padang gurun, dan mencobai Allah di padang belantara.” Meski sudah diselamatkan di Laut Teberau, mereka mulai bersungut-sungut karena ketiadaan air dan makanan.

Bahkan ketika mereka baru saja bersukacita karena Allah memberikan makanan dan minuman, mereka pun tetap bersungut-sungut. Sehingga Allah menghukum mereka dengan suatu penyakit. Pujian–sungut-sungut–pujian–sungut-sunggut. Demikianlah pola iman umat Israel, bahkan terus dibawa hingga mereka tinggal di Tanah Perjanjian.

Menariknya Allah pun tidak kapok terhadap umat-Nya. Allah memang menghukum umat-Nya, tetapi setelah itu Allah kembali menilik umat-Nya dalam kesengsaraan mereka, dan akhirnya melepaskan mereka.

Allah tampaknya tidak pernah menyerah terhadap umat-Nya. Kemurahan Allah tak pernah surut. Kasih setia Allah kekal sifatnya. Dan karena itu, pada bait terakhir pemazmur berseru: ”Terpujilah TUHAN, Allah Israel, dari selama-lamanya sampai selama-lamanya, dan biarlah seluruh umat mengatakan: ’Amin!’ Haleluya!”

Pola iman yang sama kadang juga terjadi dalam hidup kita. Memuji Allah di kala semua baik, dan mempertanyakan kebaikan Allah ketika keadaan mulai memburuk. Namun demikian, percayalah bahwa Allah tidak akan pernah menyerah. Dia akan terus mengasihi kita selama kita masih merindukan belas kasihan-Nya.

SMaNGaT,

Yoel M. Indrasmoro
Literatur Perkantas Nasional

Foto: Ahmed Hasan

Bagikan:

Tinggalkan Balasan