Posted on Tinggalkan komentar

Hidup adalah Pesta

(Pengkhotbah 10:19)

Dalam ayat 19 sang pemikir menyatakan: ”Untuk tertawa orang menghidangkan makanan; anggur meriangkan hidup dan uang memungkinkan semuanya itu.” Dalam Alkitab Bahasa Indonesia Masa Kini tertera: ”Pesta membuat tertawa, dan anggur membuat gembira. Tapi perlu ada uang untuk membayarnya.” Benarkah pernyataannya?

Tentu ada benarnya. Pesta membuat orang tertawa, anggur membuat orang bergembira. Ketika makan enak dan minum anggur, orang sesaat akan melupakan beban hidupnya. Yang juga benar: semuanya itu butuh modal. Dan karena butuh modal yang tidak sedikit, aneh rasanya—bahkan mustahil—jika orang mengadakan pesta setiap hari.

La vita è bella ’hidup adalah pesta’. Itulah judul sebuah film Italia—dirilis pada 1997—yang bercerita tentang seorang Yahudi Italia Guido Orefice (diperankan Roberto Benigni) dalam menyikapi nasib yang menimpanya dalam kamp konsentrasi Bergen-Belsen masa Perang Dunia II. Ia mengajak anaknya untuk melihat situasi dalam kamp itu sebagai sebuah permainan. Dan lazimnya permainan pasti dilakoni dengan gembira. Ini memang masalah cara pandang.

Itu berarti tak perlu makanan enak dan anggur untuk tetap bergembira dalam hidup. Hidup itu sendiri adalah pesta. Tentu saja selama kita mampu melihat ada yang layak disyukuri. Namun demikian, bukankah hidup itu sendiri sungguh sesuatu banget pada masa pandemi ini?

SMaNGaT,

Yoel M. Indrasmoro
Literatur Perkantas Nasional

Foto: Istimewa

Bagikan:
Posted on Tinggalkan komentar

Kemalasan

(Pengkhotbah 10:18)

Berkait kemalasan, sang pemikir membuat gambaran menarik pada ayat 18: ”Oleh karena kemalasan runtuhlah atap, dan oleh karena kelambanan tangan bocorlah rumah.” Dalam Alkitab Bahasa Indonesia Masa Kini tertera: ”Atap rumah akan bocor kalau tidak dibetulkan, dan akhirnya rumah itu lapuk akibat kemalasan.”

Kelambanan itulah yang disorot sang pemikir. Pada kenyataannya manusia memang senang menunda. Alasannya, biasanya, belum ada waktu untuk mengerjakannya. Dan lama-kelamaan malah lupa mengerjakannya. Atau, kalaupun ingat, senyatanya penundaan yang terlalu lama malah akan membuat diri makin enggan mengerjakannya. Ujungnya sesal di hati.

Ambil contoh gambaran sang pemikir tadi. Ketika genting bocor tak langsung diperbaiki, maka kebocoran akan menjadi semakin besar. Yang akhirnya membuat kayu penyangga genting itu lapuk, dan atap pun. Semua itu terjadi karena malas. Ya, malas memperbaiki genting bocor.

Senada dengan peribahasa Cina: ”Keberhasilan mengatasi kebakaran sebenarnya merupakan kegagalan mengelola api itu ketika masih kecil.” Dalam banyak hal, memang ini yang terjadi. Menunda untuk mengerjakan sesuatu—yang mungkin remeh—hanya akan mendatangkan bencana.

Tentu, itu tidak berarti kita harus bersikap grasah-grusuh (tergesa-gesa). Namun, menunda sesuatu yang penting—apalagi mendesak—karena rasa malas hanya akan membuat kita menuai akibat buruknya. Oleh karena itu, perlulah bagi kita, setiap hari, menentukan skala prioritas bagi diri kita sendiri.

SMaNGaT,

Yoel M. Indrasmoro
Literatur Perkantas Nasional

Foto: James Lee

Bagikan:
Posted on Tinggalkan komentar

Para Pemimpin

(Pengkhotbah 10:16-17)

Sang pemikir menegaskan dalam ayat 16-17: ”Wahai engkau tanah, kalau rajamu seorang kanak-kanak, dan pemimpin-pemimpinmu pagi-pagi sudah makan! Berbahagialah engkau tanah, kalau rajamu seorang yang berasal dari kaum pemuka, dan pemimpin-pemimpinmu makan pada waktunya dalam keperkasaan dan bukan dalam kemabukan!”

Tak terlalu mudah memahami Alkitab Terjemahan Baru. Yang pasti hitam putihnya negeri sangat bergantung pada pemimpinnya. Dalam Alkitab Bahasa Indonesia Masa Kini tertera: ”Celakalah negeri yang rajanya muda belia, dan para pembesarnya semalam suntuk berpesta pora. Mujurlah negeri yang rajanya berwibawa, yang pembesarnya makan pada waktunya, tak suka mabuk dan pandai menahan dirinya.”

Kepemimpinan memang krusial. Mengapa? Sebab mereka adalah pemimpin. Dan pemimpin memiliki wewenang besar untuk menghitamputihkan keadaan karena dialah yang mengambil keputusan.

Dengan sengaja sang pemikir membedakan raja yang muda belia dan raja yang berwibawa. Terkesan stereotip, orang muda pasti tanpa pengalaman dan karena itu masih suka hura-hura. Meski memang benar, kalau rajanya enggak berwibawa, pasti para pembesarnya menganggap dia mudah diatur dan karena itu mereka bebas berpesta. Dan ketika raja berwibawa, maka bawahannya pun akan tertib hidupnya.

Pada titik ini kaderisasi menjadi pekerjaan rumah yang sungguh penting. Dan keluarga-keluarga dipanggil untuk menyemai pemimpin-pemimpin yang berwibawa. Sebab di tangan merekalah hitam putihnya negeri terletak.

SMaNGaT,

Yoel M. Indrasmoro
Literatur Perkantas Nasional

Foto: Jehyun Sung

Bagikan:
Posted on Tinggalkan komentar

Kata-kata

(Pengkhotbah 10:12-15)

Dalam ayat 12 sang pemikir menyatakan: ”Perkataan mulut orang berhikmat menarik, tetapi bibir orang bodoh menelan orang itu sendiri.” Dalam Alkitab Bahasa Indonesia Masa Kini tertera: ”Ucapan orang arif membuat ia dihormati, tetapi orang bodoh binasa karena kata-katanya sendiri.” Kata yang keluar dari mulut seseorang berdampak terhadap diri orang tersebut.

Kata merupakan alat komunikasi. Meski, juga benar, bahwa kita pun masih bisa berkomunikasi tanpa kata. Namun, tentu saja, itu membutuhkan tingkat korelasi yang tinggi antarmanusia. Dengan kata, manusia bisa menguatkan, tetapi juga melemahkan; bisa menghibur, tetapi juga menyakiti, bisa mendorong, tetapi juga menjerumuskan. Karena itu, memilih kata yang baik, benar, dan tepat merupakan tugas mulia. Mulia karena sejatinya kata yang keluar semestinya memang untuk memuliakan manusia.

Sehingga, jalan terlogis adalah janganlah terlalu banyak kata keluar dari mulut kita. Dalam ayat 13-15 Alkitab Bahasa Indonesia Masa Kini, berkait dengan orang bodoh, sang pemikir mengatakan: ”Ia mulai dengan omong kosong biasa, tetapi akhirnya bicaranya seperti orang gila. Memang, orang bodoh banyak bicara. Hari depan tersembunyi bagi kita semua. Tak ada yang dapat meramalkan kejadian setelah kita tiada.”

Itu jugalah nasihat Pak Andar Ismail dalam Mata Kuliah Didaktik PAK. Kebanyakan kata sering malah membuat kita bingung sendiri. Kalau kata sang pemikir, dalam ayat 15 Alkitab Bahasa Indonesia Masa Kini seperti ”orang bodoh yang tak tahu jalan ke rumahnya”.

SMaNGaT,

Yoel M. Indrasmoro
Literatur Perkantas Nasional

Foto: Kelly Sikkema

Bagikan:
Posted on Tinggalkan komentar

Momentum

(Pengkhotbah 10:11)

Dalam ayat 11 sang pemikir menegaskan: ”Jika ular memagut sebelum mantera diucapkan, maka tukang mantera tidak akan berhasil.” Dalam Alkitab Bahasa Indonesia Masa Kini tertera: ”Kalau ular menggigit sebelum dijinakkan dengan mantera, maka pawang ular tak ada lagi gunanya.”

Kalimat sang pemikir sungguh logis. Apa gunanya pawang ular kalau sang ular sudah menggigit? Pada titik ini sang pemikir agaknya bicara soal momentum. Dan salah satu artinya menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia adalah saat yang tepat. Seperti tadi, pawang ular akan sangat berguna jika mereka bekerja sebelum ular memagut.

Ini juga masalah kesempatan. Dan kata orang, kesempatan itu tak berwajah sehingga sulit dikenali, namun berekor licin sehingga tak mudah ditangkap ketika orang mengenalinya. Pada titik ini manusia perlu hikmat. Hikmat untuk mampu mengantisipasi masa depan dengan memperhatikan situasi masa kini.

Ini jugalah kritikan Yesus kepada Orang Farisi dan Sadiki yang meminta tanda: ”Pada petang hari karena langit merah, kamu berkata: Hari akan cerah, dan pada pagi hari, karena langit merah dan redup, kamu berkata: Hari buruk. Rupa langit kamu tahu membedakannya tetapi tanda-tanda zaman tidak” (Mat. 16:2-3). Orang Farisi dan Saduki tidak mampu menilai tanda-tanda zaman. Sehingga mereka tidak menyadari alasan keberadaan Yesus Orang Nazaret. Mereka memang butuh hikmat.

Dan berkait hikmat, Yakobus dalam suratnya kepada dua belas suku di perantauan menulis: ”Tetapi apabila di antara kamu ada yang kekurangan hikmat, hendaklah ia memintanya kepada Allah—yang memberikan kepada semua orang dengan murah hati dan tidak membangkit-bangkit—maka hal itu akan diberikan kepadanya” (Yak. 1:5). Ya, mari kita memintanya kepada Allah!

SMaNGaT,

Yoel M. Indrasmoro
Literatur Perkantas Nasional

Foto: Ales Krivec

Bagikan:
Posted on Tinggalkan komentar

Akal Sehat

(Pengkhotbah 10:10)

Dalam ayat 10 sang pemikir mengingatkan: ”Jika besi menjadi tumpul dan tidak diasah, maka orang harus memperbesar tenaga, tetapi yang terpenting untuk berhasil adalah hikmat.” Dalam Alkitab Bahasa Indonesia Masa Kini tertera: ”Apabila parangmu tumpul dan tidak kauasah, engkau harus bekerja dengan lebih bersusah payah. Pakailah akal sehatmu, dan buatlah rencana lebih dahulu.”

Sang pemikir menyatakan betapa penting bagi seseorang untuk membuat rencana sebelum melakukan sesuatu. Rencana menjadi penting karena kegagalan membuat rencana membuat kita merencanakan sebuah kegagalan.

Dengan unik sang pemikir mengingatkan kita untuk mengasah pisau sebelum menggunakannya. Ini memang persoalan daya guna dan hasil guna. Tak menyiapkan peralatan kerja yang terbaik akan membuat kita capek sendiri, bisa jadi malah frustrasi. Ini sejatinya cuma persolan hikmat. Ini sekadar penggunaan akal sehat.

Pada masa Perjanjian Baru pun, Yesus—Sang Guru dari Nazaret—mengingatkan: ”Sebab siapakah di antara kamu yang kalau mau mendirikan sebuah menara tidak duduk dahulu membuat anggaran biayanya, apakah uangnya cukup untuk menyelesaikan pekerjaan itu? Supaya jikalau ia sudah meletakkan dasarnya dan tidak dapat menyelesaikannya, jangan-jangan semua orang yang melihatnya, mengejek dia, dan berkata: Orang itu mulai mendirikan, tetapi ia tidak sanggup menyelesaikannya” (Luk. 14:28-30).

Pada titik ini Tuhan Yesus menegaskan betapa penting dan strategisnya sebuah rencana. Aneh rasanya jika tidak dilakukan. Masalahnya kadang manusia menganggapnya sepele, mungkin karena sudah biasa melakukannya. Tak jarang malah mengabaikannya sama sekali.

SMaNGaT,

Yoel M. Indrasmoro
Literatur Perkantas Nasional

Foto: Jared Rice

Bagikan:
Posted on Tinggalkan komentar

Risiko

(Pengkhotbah 10:8-9)

Berkait dengan risiko, sang pemikir dalam ayat 8-9 mengingatkan: ”Barangsiapa menggali lobang akan jatuh ke dalamnya, dan barangsiapa mendobrak tembok akan dipagut ular. Barangsiapa memecahkan batu akan dilukainya; barangsiapa membelah kayu akan dibahayakannya.”

Setiap perbuatan mengandung risiko. Tak ada tindakan—bagaimanapun baiknya—yang bebas dari risiko. Oleh karena itu, pentinglah bagi kita untuk selalu berpikir dahulu sebelum bertindak. Kita punya peribahasa: Pikir dahulu pendapatan, sesal kemudian tiada berguna.

Dinding rumah di Israel pada masa itu biasa dibuat dari batu atau batu bata, dan celah di antara batu-batu itu diisi dengan lumpur. Jika sebagian lumpur itu hilang, seekor ular dapat tinggal di dalam dinding. Namun demikian, kemungkinan itu tak perlu membuat orang akhirnya urung mendobrak tembok. Jika memang perlu, tindakan itu memang harus dilakukan. Yang penting hati-hati, dan sedapat mungkin meminimalkan risiko.

Demikian pula dengan kegiatan memecah batu dan membelah kayu. Kemungkinan adanya risiko tak perlu membuat manusia tak jadi memecah batu maupun membelah kayu. Sekali lagi, yang penting dalam hidup adalah memahami adanya risiko dan sedapat mungkin mengurangi risiko yang mungkin terjadi.

Pada titik inilah hikmat menjadi senjata andalan. Hikmat semestinya menolong manusia untuk memahami kemungkinan terburuk dan mengantisipasinya untuk mengurangi akibat buruknya. Dan pilihan memang ada pada kita.

SMaNGaT,

Yoel M. Indrasmoro
Literatur Perkantas Nasional

Foto: AJ Yorio

Bagikan:
Posted on Tinggalkan komentar

Penyimpangan Kuasa

(Pengkhotbah 10:5-7)

Berkait dengan kuasa, sang pemikir dalam ayat 5-7 menyatakan dengan tegas: ”Ada suatu kejahatan yang kulihat di bawah matahari sebagai kekhilafan yang berasal dari seorang penguasa: pada banyak tempat yang tinggi, didudukkan orang bodoh, sedangkan tempat yang rendah diduduki orang kaya. Aku melihat budak-budak menunggang kuda dan pembesar-pembesar berjalan kaki seperti budak-budak.”

Mungkin inilah pertanyaan yang layak kita ajukan: ”Kok bisa?” Jawabannya: pasti bisa. Sebab raja adalah pribadi penuh kuasa dalam suatu kerajaan. Dan persoalan terbesar kekuasaan adalah cenderung menyeleweng. Dosa membuat manusia—apalagi yang punya kuasa—cenderung menyimpang.

Sistem masyarakat modern—yang mengubah konsep daulat tuanku menjadi daulat rakyat—sebenarnya mencoba untuk mengurangi kemungkinan penyelewengan itu. Namun, harus kita akui, ini pun tak sepenuhnya berjalan baik.

Pemilihan umum tak terlalu menjanjikan. Senyatanya yang terpilih kebanyakan bukan yang terbaik, melainkan yang punya modal uang—entah modal sendiri atau modal pinjaman. Dan semua modal harus dikembalikan. Dan itulah yang sering menyebabkan penyelewengan.

Namun demikian, jalan keluar selalu ada. Pendidikan moral menjadi keniscayaan. Dan keluarga dituntut menjadi gurunya. Bagaimanapun, para penguasa itu tak muncul dari ruang hampa. Mereka berasal dari keluarga-keluarga.

Mari kita siapkan pemimpin mulai dari sekarang! Mari kita mulai dengan pendidikan moral dalam keluarga kita masing-masing.

SMaNGaT,

Yoel M. Indrasmoro
Literatur Perkantas Nasional

Foto: Wim Van

Bagikan:
Posted on Tinggalkan komentar

Kesabaran

(Pengkhotbah 10:5-7)

Berkait dengan kuasa, sang pemikir dalam ayat 5-7 menyatakan dengan tegas: ”Ada suatu kejahatan yang kulihat di bawah matahari sebagai kekhilafan yang berasal dari seorang penguasa: pada banyak tempat yang tinggi, didudukkan orang bodoh, sedangkan tempat yang rendah diduduki orang kaya. Aku melihat budak-budak menunggang kuda dan pembesar-pembesar berjalan kaki seperti budak-budak.”

Mungkin inilah pertanyaan yang layak kita ajukan: ”Kok bisa?” Jawabannya: pasti bisa. Sebab raja adalah pribadi penuh kuasa dalam suatu kerajaan. Dan persoalan terbesar kekuasaan adalah cenderung menyeleweng. Dosa membuat manusia—apalagi yang punya kuasa—cenderung menyimpang.

Sistem masyarakat modern—yang mengubah konsep daulat tuanku menjadi daulat rakyat—sebenarnya mencoba untuk mengurangi kemungkinan penyelewengan itu. Namun, harus kita akui, ini pun tak sepenuhnya berjalan baik.

Pemilihan umum tak terlalu menjanjikan. Senyatanya yang terplih kebanyakan bukan yang terbaik, melainkan yang punya modal uang—entah modal sendiri atau modal pinjaman. Dan semua modal harus dikembalikan. Dan itulah yang sering menyebabkan penyelewengan.

Namun demikian, jalan keluar selalu ada. Pendidikan moral menjadi keniscayaan. Dan keluarga dituntut menjadi gurunya. Bagaimanapun, para penguasa itu tak muncul dari ruang hampa. Mereka berasal dari keluarga-keluarga.

Mari kita siapkan pemimpin mulai dari sekarang! Mari kita mulai dengan pendidikan moral dalam keluarga kita masing-masing.

SMaNGaT,

Yoel M. Indrasmoro
Literatur Perkantas Nasional

Foto: Istimewa

Bagikan:
Posted on Tinggalkan komentar

Sedikit Kebodohan

(Pengkhotbah 10:1-3)

Dalam ayat 1, sang pemikir menegaskan: ”Lalat yang mati menyebabkan urapan dari pembuat urapan berbau busuk; demikian juga sedikit kebodohan lebih berpengaruh dari pada hikmat dan kehormatan.” Dalam Alkitab Bahasa indonesia Masa Kini tertera: ”Bangkai lalat membusukkan sebotol minyak wangi, sedikit kebodohan menghilangkan hikmat yang tinggi.”

Tampaknya sang pemikir memahami betapa ngerinya kebodohan itu. Bukan hikmat yang menghilangkan kebodohan, tetapi kebodohan itu yang menghilangkan hikmat. Kita punya peribahasa: ”Karena nila setitik rusak susu sebelanga.”

Mengapa demikian? Alasannya menarik disimak. Dalam ayat 3, berkenaan dengan orang bodoh, sang pemikir menyatakan: ”Juga kalau ia berjalan di lorong orang bodoh itu tumpul pikirannya, dan ia berkata kepada setiap orang: ’Orang itu bodoh!’” Di sini persolaannya. Apa jadinya sebuah komunitas jika ada satu saja orang tersinggung dengan penilaian itu. Pasti akan menjadi persoalan besar.

Namun demikian, kita juga bisa belajar dari sang pemikir di sini. Kalau ada seseorang yang mengatakan bahwa semua orang bodoh, semestinya kita tak perlu tersinggung amat. Sebab orang itu sedang menyatakan kebodohannya sendiri. Dan semoga kita pun terlepas dari kecenderungan itu.

SMaNGaT,

Yoel M. Indrasmoro
Literatur Perkantas Nasional

Foto: Kylo

Bagikan: