Posted on Tinggalkan komentar

Momentum

(Pengkhotbah 10:11)

Dalam ayat 11 sang pemikir menegaskan: ”Jika ular memagut sebelum mantera diucapkan, maka tukang mantera tidak akan berhasil.” Dalam Alkitab Bahasa Indonesia Masa Kini tertera: ”Kalau ular menggigit sebelum dijinakkan dengan mantera, maka pawang ular tak ada lagi gunanya.”

Kalimat sang pemikir sungguh logis. Apa gunanya pawang ular kalau sang ular sudah menggigit? Pada titik ini sang pemikir agaknya bicara soal momentum. Dan salah satu artinya menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia adalah saat yang tepat. Seperti tadi, pawang ular akan sangat berguna jika mereka bekerja sebelum ular memagut.

Ini juga masalah kesempatan. Dan kata orang, kesempatan itu tak berwajah sehingga sulit dikenali, namun berekor licin sehingga tak mudah ditangkap ketika orang mengenalinya. Pada titik ini manusia perlu hikmat. Hikmat untuk mampu mengantisipasi masa depan dengan memperhatikan situasi masa kini.

Ini jugalah kritikan Yesus kepada Orang Farisi dan Sadiki yang meminta tanda: ”Pada petang hari karena langit merah, kamu berkata: Hari akan cerah, dan pada pagi hari, karena langit merah dan redup, kamu berkata: Hari buruk. Rupa langit kamu tahu membedakannya tetapi tanda-tanda zaman tidak” (Mat. 16:2-3). Orang Farisi dan Saduki tidak mampu menilai tanda-tanda zaman. Sehingga mereka tidak menyadari alasan keberadaan Yesus Orang Nazaret. Mereka memang butuh hikmat.

Dan berkait hikmat, Yakobus dalam suratnya kepada dua belas suku di perantauan menulis: ”Tetapi apabila di antara kamu ada yang kekurangan hikmat, hendaklah ia memintanya kepada Allah—yang memberikan kepada semua orang dengan murah hati dan tidak membangkit-bangkit—maka hal itu akan diberikan kepadanya” (Yak. 1:5). Ya, mari kita memintanya kepada Allah!

SMaNGaT,

Yoel M. Indrasmoro
Literatur Perkantas Nasional

Foto: Ales Krivec

Bagikan:

Tinggalkan Balasan