Posted on Tinggalkan komentar

Mengingat Pencipta

(Pengkhotbah 12:1-8)

Masih berkenaan dengan orang muda, dalam ayat 1, sang pemikir menasihati: ”Ingatlah akan Penciptamu pada masa mudamu.” Menarik disimak, sang pemikir tampaknya sengaja mengaitkan masa muda dengan ”pencipta”. Dia tidak memberi nasihat: ”Ingatlah akan Allahmu.” Bisa jadi sang pemikir hendak menyatakan bahwa setiap orang dicipta unik, khas, dan satu-satunya. Dan penciptaan itu bukan tanpa maksud. Mengingat Pencipta berarti memercayai bahwa Allah telah menyiapkan tujuan besar bagi setiap individu.

Menurut Derek Kidner, mengingat akan Pencipta “bukan berarti sesuatu yang dapat dilakukan secara sepele atau melulu suatu pekerjaan mental, melainkan berarti membuang segala anggapan seolah-olah kita dapat mencukupi bagi diri kita sendiri, dan kemudian menyerahkan diri kita secara mutlak kepada Dia”. Dengan kata lain, mengingat Pencipta berarti fokus pada proyek Allah dalam diri masing-masing individu.

Karena itu, masih menurut Derek Kidner, dengan mengingat Pencipta pastilah tidak berterima sikap hidup yang setengah-setengah atau angin-anginan. Dan kembali dikembangkan tema bahwa waktu akan cepat berlalu dan yang tinggal adalah ratapan belaka karena masa tua telah tiba.

Dalam Alkitab Bahasa Indonesia Masa Kini tertera: ”sebelum tiba tahun-tahun penuh sengsara. Pada masa itu engkau akan berkata, ’Hidupku tidak bahagia.’ Bila tiba saat itu matamu tak lagi terang, sehingga pudarlah sinar surya, bulan dan bintang. Awan mendung pembawa hujan, tetap menyertaimu bagai ancaman. Lenganmu gemetar dan tak lagi memberi perlindungan. Kakimu yang kekar akan goyah tanpa kekuatan. Gigimu tidak lengkap untuk mengunyah makanan. Matamu kabur sehingga menyuramkan pandangan. Keramaian di jalan sampai di telingamu dengan samar-samar. Bunyi musik dan penggilingan hampir-hampir tidak terdengar. Engkau tak dapat tidur terlena. Kicauan burung pun membuat engkau terjaga. Engkau takut mendaki tempat yang tinggi dan harus berjalan dengan hati-hati. Rambutmu beruban dan kakimu kauseret waktu berjalan. Maka hilanglah segala hasrat dan keinginan. Kita menuju ke tempat tinggal kita yang penghabisan, orang-orang berkabung dan meratap di sepanjang jalan… Tubuh kita akan kembali, menjadi debu di bumi. Nafas kehidupan kita akan kembali kepada Allah. Dialah yang memberikannya sebagai anugerah.”

Masa muda yang tak diisi baik hanya akan membenarkan pendapat ini: ”Kesia-siaan atas kesia-siaan, kata Pengkhotbah, segala sesuatu adalah sia-sia.”

SMaNGaT,

Yoel M. Indrasmoro
Literatur Perkantas Nasional

Foto: Hernan Sartorio

Bagikan:
Posted on Tinggalkan komentar

Masa Muda

(Pengkhotbah 11:9-10)

Berkait masa muda, dalam ayat 9-10, sang pemikir menasihati: ”Bersukarialah, hai pemuda, dalam kemudaanmu, biarlah hatimu bersuka pada masa mudamu, dan turutilah keinginan hatimu dan pandangan matamu, tetapi ketahuilah bahwa karena segala hal ini Allah akan membawa engkau ke pengadilan! Buanglah kesedihan dari hatimu dan jauhkanlah penderitaan dari tubuhmu, karena kemudaan dan fajar hidup adalah kesia-siaan.”

Nasihat yang wajar. Bersukacita menjadi logis karena mereka memang masih muda. Energi mereka masih full. Kesempatan masih terbuka luas. Tak ada beban apa pun. Jika ada kesalahan atau kegagalan yang diperbuat, maka waktu untuk memperbaikinya masih terbilang panjang.

Kelihatannya sang pemikir juga memercayai bahwa orang muda punya kadar idealisme tinggi. Mereka memang belum punya beban hidup yang kadang melunturkan idealisme tadi. Karena itu, mereka didorong untuk menuruti keinginan hati dan mata.

Yang tidak boleh dilupakan, waktu muda itu tidak lama. Cuma sebentar. Dalam Alkitab Bahasa Indonesia Masa Kini tertera: ”Usirlah khawatir dan susah dari hatimu, sebab masa mudamu cepat berlalu.”

Namun demikian, menarik disimak bahwa sang pemikir merasa perlu mengingatkan bahwa di balik setiap tindakan ada tanggung jawab yang diemban. Atau—yang juga benar—sebagai mandataris Allah, Allah sendirilah yang akan menuntut pertanggungan jawab dari mereka. Itu berarti orang muda harus serius—jangan main-main!

SMaNGaT,

Yoel M. Indrasmoro
Literatur Perkantas Nasional

Foto: Takahiro Taguchi

Bagikan:
Posted on Tinggalkan komentar

Terang itu Menyenangkan

(Pengkhotbah 11:7-8)

”Terang itu menyenangkan dan melihat matahari itu baik bagi mata; oleh sebab itu jikalau orang panjang umurnya, biarlah ia bersukacita di dalamnya, tetapi hendaklah ia ingat akan hari-hari yang gelap, karena banyak jumlahnya. Segala sesuatu yang datang adalah kesia-siaan.”

Demikianlah kesaksian sang pemikir. Kesaksiannya itu benar. Terang memang lebih menyenangkan dibandingkan dengan gelap. Terang itu membuat kita merasa aman. Melangkah dalam terang membuat kita merasa pasti karena tak perlu meraba-raba. Manusia memang hanya mungkin melihat ketika ada sinar yang tertangkap retina. Ya, terang itu menghibur, juga mencerahkan. Dalam keadaan gelap suasana hati kita pun ikut-ikutan muram.

Dalam bahasa Indonesia, beberapa kata majemuk yang dimulai dengan terang menarik disimak, di antaranya: ”terang akal” berarti pandai atau cerdik; ”terang bulan” berarti tidak gelap pada malam hari karena ada cahaya bulan; ”terang cuaca” berarti udara baik; ”terang hati” berarti mudah mengerti; ”terang pikiran” berarti juga terang hati. Semuanya berkonotasi positif.

Dan sang pemikir mengajak pembacanya untuk menikmati terang selagi sempat. Sebab akan ada gelap, yang menurut dia jumlahnya lebih banyak. Dalam Alkitab Bahasa Indonesia Masa Kini tertera: ”Hendaklah engkau bersyukur kalau bertambah umur. Tapi ingat, biar engkau hidup lama di bumi, masamu di alam maut masih lebih lama lagi. Jadi, apa yang mau diharapkan pula? Semuanya percuma dan sia-sia.”

Ya, melihat matahari berarti menerima kehidupan. Dan karena itu kita perlu mengisi kehidupan, anugerah Allah itu, dengan sebaik-baiknya. Sebab jika tidak, akan ada gelap di alam maut yang kekal sifatnya. Dan jika memang demikian, maka semuanya sungguh-sungguh sia-sia.

Oleh karena itu, sekali lagi, marilah kita melakoni hidup ini dengan sebaik-baiknya, apalagi kala pandemi ini.

SMaNGaT,

Yoel M. Indrasmoro
Literatur Perkantas Nasional

Foto: Thomas Lipke

Bagikan:
Posted on Tinggalkan komentar

Menabur Benih

(Pengkhotbah 11:6)

Berkait usaha, dalam ayat 6, sang pemikir—dengan menggunakan ilustrasi dari dunia pertanian—menasihati: ”Taburkanlah benihmu pagi-pagi hari, dan janganlah memberi istirahat kepada tanganmu pada petang hari, karena engkau tidak mengetahui apakah ini atau itu yang akan berhasil, atau kedua-duanya sama baik.”

Tak ada orang yang ingin usahanya gagal. Pada titik ini nasihat sang pemikir bisa menjadi jalan keluar. Dia mengajak orang yang berusaha untuk melakukan antisipasi.

Memang berkait pertumbuhan benih, tidak seorang pun yang bisa memastikan. Karena itulah sang pemikir memberikan nasihat untuk tidak menabur pada pagi hari saja. Dia mengajak untuk menabur pada petang hari. Alasannya sederhana, petani itu tidak bisa memastikan mana yang akan tumbuh baik, yang ditabur pada pagi hari atau sore hari, atau keduanya sama-sama tumbuh baik.

Apakah itu berarti ngoyo? Sepertinya tidak. Tampak ngoyo seandainya petani tersebut menabur benihnya tiga kali: pagi, siang, dan petang. Selain sungguh-sungguh melelahkan, maka menabur benih pada siang hari bisa jadi sia-sia mengingat suhu yang terlalu tinggi. Kalau menaburnya pada malam hari, pasti perlu ada biaya tambahan untuk lampu.

Kelihatannya, sang pemikir sedang berbicara juga soal meminimalkan risiko. Risiko gagal selalu ada. Karena itu, kita perlu mengurangi risiko tersebut. Kalau gagal juga. Kita bisa mengatakan, itu memang sudah kehendak Tuhan.

SMaNGaT,

Yoel M. Indrasmoro
Literatur Perkantas Nasional

Foto: Syd Wachs

Bagikan:
Posted on Tinggalkan komentar

Pekerjaan Allah

(Pengkhotbah 11:5)

Dalam ayat 5 sang pemikir menyatakan: ”Sebagaimana engkau tidak mengetahui jalan angin dan tulang-tulang dalam rahim seorang perempuan yang mengandung, demikian juga engkau tidak mengetahui pekerjaan Allah yang melakukan segala sesuatu.”

Sebagai makhluk berakal budi manusia berupaya memahami apa yang ada—juga terjadi—di sekitarnya. Caranya dengan bertanya baik secara oral maupun dalam hati. Sejak kecil kita senantiasa bertanya. Sejatinya pertanyaan-pertanyaan itulah yang menjadikan ilmu pengetahuan berkembang pesat. Namun demikian, sang pemikir mengingatkan bahwa semua ada batasnya. Artinya, ada yang masih tidak kita ketahui, khususnya tentang Allah dan pekerjaan-Nya.

Batasan itu semestinya membuat kita bersyukur. Yang membuat kita tak perlu ngoyo. Misteri yang ada semestinya membuat kita makin rendah hati. Kalaupun hendak menguak misteri, maka jalan yang paling logis adalah bertanya kepada Allah, Sang Pencipta itu sendiri. Syukur-syukur Dia memberitahukannya. Jika tidak, ya enggak apa-apa; tak perlu kecil hati. Bagaimanapun Allah adalah khalik dan kitalah ciptaan-Nya.

Begitu juga dengan pandemi COVID-19 ini. Tentulah ada banyak tanya yang melintas dalam benak. Dengan pertolongan Allah, marilah kita coba menjawabnya satu demi satu. Jika masih belum ada jawabannya, sebaiknya ditunggu saja. Jika Allah mau, pada waktu-Nya, Dia akan mengungkapkannya. Percayalah!

SMaNGaT,

Yoel M. Indrasmoro
Literatur Perkantas Nasional

Foto: Istimewa

Bagikan:
Posted on Tinggalkan komentar

Lakukanlah

(Pengkhotbah 11:4)

Dalam ayat 4 sang pemikir menasihati: ”Siapa senantiasa memperhatikan angin tidak akan menabur; dan siapa senantiasa melihat awan tidak akan menuai.” Nasihat jitu. Mengapa? Karena manusia sering ragu, banyak pertimbangan ketika hendak memulai sesuatu.

Dalam Alkitab Bahasa Indonesia Masa Kini tertera: ”Siapa menunggu sampai angin dan cuaca sempurna, tak akan menanam dan tidak pula memetik hasilnya.” Banyak pertimbangan tentu baik. Tak ada manusia yang ingin gagal. Ya, buat apa melakukan sesuatu yang sudah pasti gagal. Namun, yaitu tadi, jika menunggu angin dan cuaca sempurna dahulu, kita bisa jadi tak akan mulai menanam. Jika tidak mulai menanam, mungkinkah kita menuai hasilnya? Tentu tidak.

Herbert Kauffman, sebagaimana dikutip Frank Bettger dalam buku Meretas Kegagalan Menuju Sukses Penjualan, menulis: ”Di daftar orang yang berhasil namamu tidak terdapat. Jelaskan kenapa! Bukan peluang yang kau tidak punya! Seperti biasa—Kau tidak berbuat apa-apa.”

Pertimbangan itu perlu. Namun, setelah mempertimbangkan semuanya, lakukanlah. Ya, lakukan saja. Kita memang tidak akan tahu hasilnya. Itulah yang membuat kita cemas. Akan tetapi, itu jugalah kesempatan bagi kita memberikan ruang pada rahmat Allah.

SMaNGaT,

Yoel M. Indrasmoro
Literatur Perkantas Nasional

Foto: Jana Sabeth

Bagikan:
Posted on Tinggalkan komentar

Niscaya

(Pengkhotbah 11:3)

Dalam ayat 3 sang pemikir menasihati: ”Bila awan-awan sarat mengandung hujan, maka hujan itu dicurahkannya ke atas bumi; dan bila pohon tumbang ke selatan atau ke utara, di tempat pohon itu jatuh, di situ ia tinggal terletak.” Pada titik ini sang pemikir berbicara soal keniscayaan.

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, ”niscaya” berarti pasti atau tidak boleh tidak. Kalau awan sarat dengan titik-titik air pasti hujan terjadi. Atau, kalau pohon kena tiupan angin yang cukup kuat pasti—tidak boleh tidak—akan tumbang. Jika angin bergerak dari Utara ke Selatan, pasti arah pohon itu tumbang adalah ke Selatan. Tidak mungkin pohon itu jatuh ke arah yang berlawanan. Sesungguhnya ilmu pengetahuan akan menolong kita melakukan prediksi.

Apa relevansi nas ini dalam kehidupan kita di tengah pandemi? Sebenarnya cukup sederhana. Kalau dalam kasus tadi, kita punya peribahasa: Sedia payung sebelum hujan. Atau, jika kita tahu ke mana angin bertiup, kita bisa menghindari batang pohon yang rubuh. Dalam masa pandemi, tak ada jalan lain selain: mengenakan masker, jaga jarak, dan cuci tangan!

SMaNGaT,

Yoel M. Indrasmoro
Literatur Perkantas Nasional

Foto: Suhyeon Choi

Bagikan:
Posted on Tinggalkan komentar

Tumpang Sari

(Pengkhotbah 11:2)

Dalam ayat 2 sang pemikir menasihati: ”Berikanlah bahagian kepada tujuh, bahkan kepada delapan orang, karena engkau tidak tahu malapetaka apa yang akan terjadi di atas bumi.” Tak terlalu mudah memahami maksud sang pemikir. Dalam Alkitab Bahasa Indonesia Masa Kini tertera: ”Tanamlah modalmu di berbagai niaga; carilah usaha sebanyak-banyaknya. Sebab orang perlu waspada, sebelum musibah menimpa.”

Sang pemikir menyinggung soal antisipasi. Dalam dunia niaga, modal perlu dibagi-bagi di beberapa tempat, agar—ketika bencana menimpa—tidak ludes semuanya. Nasihat sang pemikir ini bak sekoci penolong dalam kapal penumpang. Tentu tak seorang penumpang pun berharap akan menggunakannya. Namun, keberadaan sekoci penolong merupakan keniscayaan.

Dalam dunia pertanian ada istilah tumpang sari, yaitu bercocok tanam dengan menanam dua jenis tanaman atau lebih secara serentak, dengan membentuk barisan-barisan lurus untuk tanaman, yang ditanam secara berseling pada satu bidang tanah. Maksudnya, ketika tanaman pokoknya tidak panen maksimal, petani masih bisa menikmati hasil panenan lain.

Bagaimana dengan karyawan yang hanya bekerja pada satu perusahaan? Pada masa pandemi ini, mengencangkan ikat pinggang merupakan kemestian. Tentu tujuannya bukan hanya untuk diri sendiri, tetapi juga untuk orang lain. Bagaimanapun, ini kata Tuhan Yesus dalam Yohanes 12:8, ”Orang-orang miskin selalu ada pada kamu.”

Yoel M. Indrasmoro
Literatur Perkantas Nasional

Foto: Istimewa

Bagikan:
Posted on Tinggalkan komentar

Jangan Takut Kehilangan

(Pengkhotbah 11:1)

Dalam ayat 1 sang pemikir menasihati: ”Lemparkanlah rotimu ke air, maka engkau akan mendapatnya kembali lama setelah itu.” Tak mudah memahami maknanya. Sebagian orang mengartikannya sebagai pemberian kepada orang miskin. Namun, ada pula yang mengartikannya sebagai pentingnya penanaman modal dalam suatu usaha. Alkitab Edisi Studi mengusulkan terjemahan: ”Jangan takut untuk menanam modal. Suatu hari nanti akan ada hasilnya.”

Apa pun pengertian yang dipilih—entah investasi atau pemberian kepada orang miskin—sang pemikir menyatakan keyakinannya bahwa semua itu akan kembali. Kita akan mendapatkannya lagi. Memang perlu waktu. Sehingga yang penting adalah keberanian untuk melakukan sesuatu dengan sebaik-baiknya.

Mungkin persoalannya memang di sini: kita takut kehilangan sesuatu sekarang ini. Dan ketika kita takut kehilangan sesuatu pada masa kini, kita tidak akan mendapatkan apa pun pada masa yang akan datang. Dalam bisnis tentu benar, kalau enggak menanam modal, mustahil akan mendapatkan untung di kemudian hari.

Berkait budi baik, dalam Amsal 19:17 tertera: ”Siapa menaruh belas kasihan kepada orang yang lemah, memiutangi TUHAN, yang akan membalas perbuatannya itu.” Dalam Alkitab Bahasa Indonesia Masa Kini tertera: ”Menolong orang miskin sama seperti memberi pinjaman kepada TUHAN; nanti TUHAN juga yang akan membalasnya.”

Intinya: kehilangan sekarang—apa pun itu—akan membuat kita mendapatkannya kembali nanti. Ringkasnya: Jangan takut kehilangan apa pun! Tuhan tidak tidur. Percayalah!

Yoel M. Indrasmoro
Literatur Perkantas Nasional

Foto: Istimewa

Bagikan:
Posted on Tinggalkan komentar

Jangan Mengutuk

(Pengkhotbah 10:20)

Berkait perkataan, dalam ayat 20 sang pemikir menasihati: ”Dalam pikiran pun janganlah engkau mengutuki raja, dan dalam kamar tidur janganlah engkau mengutuki orang kaya, karena burung di udara mungkin akan menyampaikan ucapanmu, dan segala yang bersayap dapat menyampaikan apa yang kauucapkan.”

Ini sungguh nasihat yang bijak dan logis. Sebab yang dalam pikiran itu—apalagi dalam keadaan tegang atau terdesak—tanpa sadar keluar melalui mulut kita. Bahkan, apa yang kita ucapkan dalam kamar pribadi sekalipun masih mungkin didengar oleh orang yang kita bicarakan. Sehingga yang paling aman adalah jangan mengecam, mengumpat, atau menghakimi orang lain.

Lalu apa yang harus kita lakukan? Yang paling aman, dan pasti nyaman adalah belajar melihat sisi baik dari setiap orang. Sejatinya, setiap orang punya kelemahan, tetapi pasti juga punya kekuatan. Menyadari kekuatan seorang rekan akan membuat diri kita dijauhkan dari godaan untuk menghakiminya.

Kesadaran itu akan membuat pikiran—juga hati—kita lebih tenang karena kita tahu memiliki rekan yang dapat diandalkan. Kenyataan itu pulalah yang akan membuat diri kita merasa damai. Itu sungguh berguna, khususnya pada masa pandemi ini. Percayalah!

SMaNGaT,

Yoel M. Indrasmoro
Literatur Perkantas Nasional

Foto: Istimewa

Bagikan: