Posted on Tinggalkan komentar

Tahu Diri

(Luk. 3:15-17)

”Aku membaptis kamu dengan air, tetapi Ia yang lebih berkuasa daripada aku akan datang dan membuka tali kasut-Nya pun aku tidak layak. Ia akan membaptis kamu dengan Roh Kudus dan dengan api.” (Luk. 3:16).

Demikianlah jawaban Yohanes Pembaptis ketika orang bertanya kalau-kalau ia adalah Mesias. Sejatinya selama kurang lebih 300 tahun di Israel tidak muncul seorang nabi pun. Sehingga tampilnya Yohanes di gurun merupakan peristiwa penting sekali dalam sejarah bangsa itu. Tak heran banyak orang berbondong-bondong datang ke gurun untuk melihat nabi fenomenal itu. Mereka sungguh berharap dia Sang Mesias.

Akan tetapi, dalam kuasa Roh, Yohanes tidak mengambil kesempatan di tengah ketidaktahuan orang banyak. Dia mengakui bahwa dia hanya saksi. Bahkan dia merasa tidak layak membuka tali kasut Mesias. Membuka tali kasut adalah tugas seorang hamba. Dengan kata lain, Yohanes Pembaptis hendak menyatakan bahwa menjadi hamba Mesias pun dia tidak layak.

Dia juga mengakui bahwa kualitas baptisannya pun berbeda. Baptisannya adalah baptisan pertobatan. Sedangkan Yesus membaptis dengan Roh Kudus artinya dibaptis dalam nama Yesus membuat orang sepenuhnya menjadi manusia baru dan memiliki karunia Roh Kudus.

Yohanes Pembaptis sungguh memahami jati dirinya. Dia tidak bersikap dan bertindak lebih dari yang dikaruniakan Allah kepadanya. Semuanya itu hanya mungkin terjadi di dalam Roh Allah. Yohanes sungguh dikuasai Roh Allah. Dengan kata lain, Roh Allah diam di dalam dirinya. Itulah yang membuatnya tahu diri dan mau menjalani panggilannya.

Yoel M. Indrasmoro
Literatur Perkantas Nasional

Posted on Tinggalkan komentar

Pesan Yohanes

(Luk. 3:10-14)

Khotbah yang baik itu menggerakkan. Dan itulah yang terjadi dengan khotbah Yohanes Pembaptis. Orang banyak, para pemungut cukai, juga prajurit kompak bertanya, ”Apakah yang harus kami perbuat?”

”Siapa saja yang mempunyai dua helai baju, hendaklah ia membaginya dengan yang tidak punya, dan siapa saja yang mempunyai makanan, hendaklah ia berbuat juga demikian” (Luk. 3:11).

Yohanes Pembaptis berbicara mengenai apa yang dimakan dan dipakai. Dalam Garuda Pancasila, lambangnya padi dan kapas. Jelas, anak Zakharia itu sedang membicarakan kebutuhan primer—yang dibutuhkan manusia untuk tetap menjadi manusia. Dia menegaskan pentingnya berbagi.

Itu tidak berarti kita enggak boleh punya baju cadangan. Bukan itu maksudnya. Namun, jangan sampai kita bingung mau pakai baju apa, sementara tetangga kita enggak punya baju pantas pakai. Lagi pula, dalam keadaan normal orang tak akan memakai dua baju sekaligus!

Berkait soal makanan, manusia hanya perlu sepiring nasi sekali makan. Kalaupun nambah, paling banter hanya sepiring nasi. Lagi pula, kita jarang memasak segelas beras bukan? Ketimbang dibuang atau terbuang, ya lebih baik dibagikan kepada yang membutuhkan!

Kepada para pemungut cukai, Yohanes Pembaptis berkata, ”Jangan menagih lebih banyak daripada yang telah ditentukan bagimu” (Luk. 3:13). Tegasnya: jangan menyalahgunakan jabatan. Jangan korup!

Jabatan itu amanat, bukan alat untuk mengumpulkan kekuasaan dan menggunakannya demi kepentingan sendiri. Kalaupun dipahami sebagai alat, ya harus dipakai untuk kesejahteraan umum.

Kepada para prajurit yang bertanya, anak Zakharia itu menjawab, ”Jangan merampas dan jangan memeras dan cukupkanlah dirimu dengan gajimu” (Luk. 3:14). Jelas maknanya: jangan menyalahgunakan wewenang dan cukupkan diri dengan gaji yang ada!

Masalahnya kerap di sini. Ketika memiliki senjata seseorang merasa lebih hebat dari orang lain dan cenderung mencari tambahan dengan mengobyekkan senjatanya. Tak ubahnya premanisme karena orang dipaksa membeli—setidaknya menyewa—keamanan. Masalahnya makin ruwet kala didalangi instansi resmi.

Pesan Yohanes Pembaptis sederhana. Saking sederhana kadang kita malah mengabaikannya.

Yoel M. Indrasmoro
Literatur Perkantas Nasional

Posted on Tinggalkan komentar

Gamblang

(Luk. 3:7-9)

”Hai kamu keturunan ular berbisa! Siapakah yang memperingatkan kamu supaya melarikan diri dari murka yang akan datang? Jadi, hasilkanlah buah-buah yang sesuai dengan pertobatan. Janganlah berpikir dalam hatimu: Abraham adalah bapak leluhur kami! Karena aku berkata kepadamu: Allah dapat menjadikan anak-anak bagi Abraham dari batu-batu ini! Kapak sudah tersedia pada akar pohon dan setiap pohon yang tidak menghasilkan buah yang baik, akan ditebang dan dibuang ke dalam api.”

Khotbah Yohanes Pembaptis gampang dicerna. Khotbahnya jauh dari bumbu-bumbu, yang sering mengaburkan makna sebenarnya. Yang akhirnya membuat pendengar harus menebak maksud si pengkhotbah.

Khotbah Anak Zakharia ini gamblang, sehingga mudah dimengerti. Dan, yang juga menarik, khotbahnya mendarat pada pokok persoalan. _To the point_.

Para pendengarnya tak perlu berpikir keras memahami maksudnya. Mereka juga tidak perlu menggunakan kamus-kamus teologi. Karena Yohanes Pembaptis tidak menggunakan istilah-istilah teknis teologi yang sulit dipahami. Dia memakai istilah-istilah yang memang dimengerti.

Yohanes Pembaptis berbicara soal buah, pohon, kapak, dan akar pohon. Dan semuanya itu jelas sekali maksudnya. Kita tak perlu bersusah payah menafsirkan arti lain dari buah, pohon, kapak, dan akar pohon.

Idenya sederhana. Manusia mesti berbuah. Buahnya bukanlah buah sembarang buah. Buahnya buah pertobatan.
Jika mereka tidak mau berbuah, maka kapak sudah tersedia. Guna kapak itu bukan untuk memangkas, tetapi untuk menebang pohon yang tidak mau berbuah. Dan tindakan itu logis. Ya, apa gunanya pohon jika tidak menghasilkan buah. Memelihara tanaman semacam itu hanya menghabiskan energi.

Yoel M. Indrasmoro
Literatur Perkantas Nasional

Posted on Tinggalkan komentar

Padang Gurun

(Luk. 3:3-6)

”Lalu datanglah Yohanes ke seluruh daerah Yordan dan memberitakan baptisan tobat untuk pengampunan dosa, seperti ada tertulis dalam kitab nubuat-nubuat Yesaya: “Ada suara yang berseru-seru di padang gurun: Persiapkanlah jalan untuk Tuhan, luruskanlah jalan bagi-Nya. Setiap lembah akan ditimbun dan setiap gunung dan bukit akan menjadi rata, yang berliku-liku akan diluruskan, yang berlekuk-lekuk akan diratakan, dan semua orang akan melihat keselamatan yang dari Tuhan.”

Dalam pandangan Lukas, Yohanes Pembaptis merupakan penggenapan nubuat dari suara yang berseru-seru di padang gurun. Suara yang berseru-seru. Bukan dalam hati, tetapi dilantangkan. Bukan di kota atau desa, tetapi di padang gurun.

Suara harus dikumandangkan. Apalagi jika bukan untuk kepentingan privat. Suara itu wajib diperdengarkan karena sifatnya, yaitu tadi, untuk kepentingan publik. Dan baptisan tobat untuk pengampunan dosa memang bukan bagi kalangan sendiri. Sifatnya universal. Dan anak Zakharia itu ingin semua orang melihat keselamatan yang dari Tuhan.

Padang gurun menjadi lokus karya Yohanes Pembaptis. Padang gurun merupakan tempat orang hanya mungkin bergantung kepada Allah saja. Sebagaimana Israel merasakan pemeliharaan, perlindungan, dan penguatan Allah, Yohanes Pembaptis pun demikian. Semua bertumpu kepada Allah saja.

Setiap pelayan firman Allah dipanggil juga untuk menjadikan padang gurun sebagai lokus pelayanannya. Itu berarti senantiasa bersandar kepada Allah saja. Bagaimanapun pelayanan firman Allah sejatinya memang karya Allah.

Yoel M. Indrasmoro
Literatur Perkantas Nasional

Posted on Tinggalkan komentar

Konteks

(Luk. 3:1-2)

”Dalam tahun kelima belas pemerintahan Kaisar Tiberius, ketika Pontius Pilatus menjadi gubernur Yudea, dan Herodes raja wilayah Galilea, Filipus, saudaranya, raja wilayah Iturea dan Trakhonitis, dan Lisanias raja wilayah Abilene, pada waktu Hanas dan Kayafas menjadi Imam Besar, datanglah firman Allah kepada Yohanes, anak Zakharia, di padang gurun” (Luk. 3:1-2).

Latar belakang kemunculan Yohanes Pembaptis versi Lukas menarik disimak. Lukas merasa perlu menampilkan banyak nama pemimpin—baik pemimpin politik maupun pemimpin agama. Mengapa Lukas melakukannya? Tentu hanya Lukas yang tahu, namun kita bisa menduganya.

Catatan Lukas—sesuai kebiasaan penulis pada zamannya—menyiratkan bahwa panggilan Allah kepada Yohanes bukanlah di luar ruang hampa. Berita pertobatan yang dinyatakan Yohanes Pembaptis hadir dalam sebuah konteks. Dan konteksnya adalah hidup keagamaan dan politik. Lukas menempatkan karya Yohanes Pembaptis dalam kerangka sejarah dunia bangsa-bangsa dan sejarah Israel sendiri. Ia merasa perlu menyebut kaisar Roma, wali negeri Yudea, tiga raja wilayah, dan dua imam besar. Totalnya tujuh. Angka keramat bagi pembaca Yahudi.

Menarik pula disimak Lukas tak hanya bicara soal politik lokal, melainkan juga politik global. Pencantuman nama Kaisar Tiberius jelas memperlihatkan hal itu. Bisa jadi Lukas hendak menyatakan bahwa berita pertobatan itu dampaknya bisa meluas, tak hanya di lingkungan Israel, tetapi juga dunia.

Penyebutan wilayah Iturea dan Trakhonitis yang terkenal sebagai wilayah kafir jelas memperlihatkan bahwa berita pertobatan itu bukan hanya untuk orang Yahudi saja, tetapi juga bangsa-bangsa lain. Pertobatan itu universal sifatnya. Dan tentu saja dibutuhkan dalam kehidupan politik dan agama.

Yoel M. Indrasmoro
Literatur Perkantas Nasional

Posted on Tinggalkan komentar

Dua Orang Tua

(Luk. 2:43-52)

”Dan Yesus makin bertambah besar dan bertambah hikmat-Nya dan besar-Nya, dan makin dikasihi oleh Allah dan manusia” (Luk. 2:52). Demikianlah cara Lukas menutup kisah Yesus pada umur dua belas tahun dalam Bait Allah (masa muda Yesus), sekaligus menjadi pengantar pemunculan-Nya di muka umum.

Adakah orang tua yang tidak mendambakan anak macam begini: dewasa fisik juga bijaksana? Kedewasaan fisik dan rohani itulah yang membuat-Nya makin dikasihi Allah dan manusia. Dia menjadi pribadi yang tidak hanya menyenangkan manusia, tetapi juga Allah. Dan Lukas jelas menyatakan bahwa semua itu merupakan hasil pengasuhan Yusuf dan Maria (lih. Luk. 2:51). Namun, pengasuhan keluarga kudus itu tampaknya sedikit banyak dipengaruhi oleh peristiwa hilangnya Yesus saat Paskah di Yerusalem.

”Tidakkah kamu tahu, bahwa Aku harus berada di dalam rumah Bapa-Ku?” (Luk. 2:49). Demikian respons Yesus atas keluhan ibu-Nya. Lukas mencatat bahwa orang tua Yesus tidak memahami apa yang dikatakan-Nya. Catatan Lukas ini menjadi penting karena baik Yusuf maupun Maria agaknya lupa siapa anak mereka sesungguhnya. Kemungkinan itu terjadi karena setelah kembali dari pengungsian di Mesir, mereka melihat bahwa Yesus tak beda jauh dari rekan sebayanya!

Tentu saja, Yusuf dan Maria tidak sepenuhnya salah. Mereka merupakan contoh dari orang tua yang bertanggung jawab. Telah tiga hari mereka kelabakan mencari Yesus. Suasana sukacita Paskah pun tampaknya lenyap sudah. Pencarian selama tiga hari itu menyiratkan bahwa Yusuf dan Maria sepertinya tidak menyangka anak sulung mereka akan berada di Bait Allah—bertukar pikiran dengan para guru agama. Seandainya, mereka sadar bahwa Yesus harus berada di Bait Allah, tentu mereka tidak butuh waktu lama. Tetapi, agaknya mereka, sekali lagi, lupa siapa anak mereka sebenarnya.

Tak heran, saat mereka menemukan-Nya, Maria tak dapat menahan hatinya langsung menegur, ”Nak, mengapakah Engkau berbuat demikian terhadap kami? Bapa-Mu dan aku dengan cemas mencari Engkau.” Ada rasa kelegaan sekaligus kegusaran dalam kalimat Maria itu. Lega telah menemukan Yesus, gusar karena Yesus tidak memberi tahu sebelumnya.

Namun, mereka terkejut ketika Yesus menjawab, ”Mengapa ayah dan ibu mencari Aku? Apakah ayah dan ibu tidak tahu bahwa Aku harus ada di dalam rumah Bapa-Ku?” Dalam jawaban Yesus ini tersirat ada perbedaan makna antara orang tua manusiawi dan orang tua ilahi. Dan Yesus hendak menekankan hal itu kepada orang tua manusiawi-Nya.

Jelaslah bahwa setiap manusia mempunyai dua orang tua—orang tua ilahi dan orang tua manusiawi. Dan tugas orang tua manusiawi adalah memperkenalkan anak mereka kepada orang tua ilahinya.

Yoel M. Indrasmoro
Literatur Perkantas Nasional

Posted on Tinggalkan komentar

Ajek

(Luk. 2:41-42)

”Tiap-tiap tahun orang tua Yesus pergi ke Yerusalem pada hari raya Paskah. Ketika Yesus telah berumur dua belas tahun pergilah mereka ke Yerusalem seperti yang lazim pada hari raya itu.”

Catatan Lukas berkait dengan religiositas orang tua Yesus menarik disimak. Tampaknya Lukas dengan sengaja menggunakan keterangan waktu ”tiap-tiap tahun”. Itu berarti tak pernah tidak. Setiap tahun Maria dan Yusuf pergi ke Yerusalem untuk merayakan Paskah.

Kita bisa menduga bahwa Yusuf dan Maria bukanlah keluarga kaya, namun tentu saja tak miskin-miskin amat. Atau, kita bisa menduga bahwa mereka menyediakan dana yang cukup agar dapat berziarah ke Yerusalem setiap tahunnya.

Namun, di atas semuanya itu mereka menghayati bahwa Paskah bukan peristiwa biasa dalam kehidupan berbangsa, juga kehidupan keluarga. Paskah merupakan Hari Kemerdekaan Israel sebagai bangsa. Peristiwa kemerdekaan itu bukanlah akibat perjuangan mengangkat senjata, tetapi karena Allah telah memilih dan mengangkat mereka sebagai umat milik-Nya sendiri. Dan itulah yang hendak dirayakan di Yerusalem. Dan sekali lagi penghayatan tak hanya menyentuh ranah batin, namun juga ranah tindak. Tak hanya konsumsi otak, juga raga.

Dan ketika Yesus berumur dua belas tahun, Yusuf dan Maria pun mengajak Yesus untuk berziarah ke Yerusalem. Bisa jadi tahun-tahun sebelumnya Yesus bertanya mengapa mereka berdua melakukannya. Dan mereka kemungkinan besar menjelaskannya dengan baik. Mungkin saja Yesus mengutarakan keinginannya untuk ikut, dan Maria telaten menghibur anaknya bahwa semua ada waktunya dan meminta Yesus bersabar.

Sikap ibadah memang perlu dihayati dan diterapkan dalam keluarga sejak dini. Pada titik ini orang tua Yesus patut dijadikan teladan.

Yoel M. Indrasmoro
Literatur Perkantas Nasional

Posted on Tinggalkan komentar

Spiritualitas Keseharian

(Luk. 2:39-40)

”Setelah selesai semua yang harus dilakukan menurut hukum Tuhan, kembalilah mereka ke kota kediaman mereka, yaitu kota Nazaret di Galilea. Anak itu bertambah besar dan menjadi kuat, penuh hikmat, dan anugerah Allah ada pada-Nya.”

Hidup tak sekadar perayaan, namun juga keseharian. Dari segi jumlah waktu, keseharian pastilah lebih banyak dari perayaan. Hidup memang tak sekadar pesta. Dan pesta pun akhirnya usai.

Itu jugalah yang dilakukan keluarga Yusuf dan Maria. Setelah melakukan semua yang mesti dilakukan seturut hukum Tuhan, pulanglah mereka ke Nazaret, di Galilea, kota kediaman mereka. Yusuf kembali ke pekerjaannya selaku tukang kayu, dan Maria pun kembali pada tugasnya sebagai istri dan ibu.

Namun, yang penting untuk dicatat adalah dalam keseharian yang terkesan profan itu, menurut Alkitab BIMK, ”Anak itu bertambah besar dan kuat. Ia bijaksana sekali dan sangat dikasihi oleh Allah.” Pola pengasuhan Yusuf dan Maria ternyata menghasilkan pribadi yang secara fisik sehat, namun secara rohani sungguh bijaksana, bahkan terdapat catatan dikasihi Allah.

Apa artinya ini? Keseharian bukanlah hal yang remeh. Rutinitas bukanlah hal biasa. Kita mesti mengisinya dengan hal-hal yang terbaik dan luar biasa. Persoalannya sering memang di sini, rutinitas telah mengalami peyorasi, yaitu perubahan makna yang mengakibatkansebuah ungkapan menggambarkan sesuatu yang lebih tidak enak dan tidak baik. Padahal, makan, minum, tidur, kerja, juga mengasuh anak merupakan rutinitas. Masak iya kita menganggapnya sebagai sesuatu yang negatif.

Oleh karena itu, kita perlu memberi makna rohani pada yang rutin-rutin tadi. Dan itu bisa kita sebut sebagai spiritualitas keseharian.

Yoel M. Indrasmoro
Literatur Perkantas Nasional

Posted on Tinggalkan komentar

Simeon dan Hana

(Luk. 2:22-38)

”Ketika Yesus, Anak itu, dibawa masuk oleh orang tua-Nya untuk melakukan kepada-Nya apa yang ditentukan hukum Taurat, ia menyambut Anak itu dan menatang-Nya sambil memuji Allah, katanya: ’Sekarang, Tuhan, biarkanlah hamba-Mu ini pergi dalam damai sejahtera, sesuai dengan firman-Mu, sebab mataku telah melihat keselamatan yang dari pada-Mu, yang telah Engkau sediakan di hadapan segala bangsa, yaitu terang yang menjadi penyataan bagi bangsa-bangsa lain dan menjadi kemuliaan bagi umat-Mu, Israel.’” (Luk. 2:27-32).

Simeon, seorang yang benar dan saleh, menyambut anak itu. Perhatikan catatan Lukas tentang Simeon! Dia adalah seorang yang benar dan saleh, yang menantikan penghiburan bagi Israel. Benar berkaitan apa yang ada dalam diri seseorang; saleh berkait dengan apa yang tampak; tingkah laku.

Dan ketika menyambut Anak itu, Simeon tidak ragu-ragu. Dia tidak merasa perlu menilai Anak itu berdasarkan keberadaan orang tuanya. Namun, dengan yakinnya, dia bersaksi tentang Anak itu. Ini masalah kepekaan. Dan Simeon seorang yang peka!

Kepekaan itu, tentunya tidaklah berasal dari kemampuan Simeon sendiri, Lukas mencatat: ”Ia datang ke Bait Allah oleh Roh Kudus.” (Luk. 2:27). Jelas, kepekaan Simeon adalah karena dia mendengarkan suara Roh Kudus. Dan karena peka terhadap suara Roh Kudus inilah, Simeon menggemakan kembali nubuat Yesaya (Yes. 62:2).

Tak hanya Simeon, yang peka. Lukas mencatat bahwa Hana pun datang ke Bait Allah, mengucap syukur kepada Allah, dan berbicara tentang bayi Yesus kepada semua orang yang menantikan kelepasan untuk Yerusalem. Hana begitu yakinnya bersaksi kepada orang yang ada di situ tentang bayi Yesus itu.

Jika Simeon bersaksi kepada Yusuf dan Maria, maka Hana bersaksi kepada orang-orang yang ada di situ. Hana mengajak orang-orang yang ada di situ untuk mengarahkan pandangan mereka kepada Yesus Kristus.

Pertanyaannya sekarang: Apakah kita sungguh-sungguh ingin menjadikan kehendak Allah dalam diri kita? Apakah kita sungguh-sungguh peka terhadap suara Allah. Jangan hanya mendengarkan suara kita! Kita perlu mendengarkan suara Allah. Yang juga penting ialah apakah yang kita lakukan sungguh-sungguh mengarahkan orang kepada Yesus Kristus? Hanya dengan cara itulah kita sungguh-sungguh membuktikan bahwa kita adalah hamba Allah.

Yoel M. Indrasmoro
Literatur Perkantas Nasional

Posted on Tinggalkan komentar

Nama-Nya Yesus

(Luk. 2:21)

”Ketika genap delapan hari dan Ia harus disunatkan, Ia diberi nama Yesus, yaitu nama yang disebut oleh malaikat sebelum Ia dikandung ibu-Nya.”

Dengan catatan Lukas ini, tahun baru Masehi—delapan hari sesudah Natal—mendapatkan tempat dan maknanya dalam tradisi Kristen. Tahun baru bukan sekadar awal tahun, namun itulah saat Yesus disunat dan diberi nama.

Dalam peristiwa sunat nyatalah bahwa kedua orang tua Yesus bukanlah orang yang gemar melanggar tradisi. Meski mereka tahu bahwa anak sulung mereka bukanlah anak sembarangan, namun mereka tidak merasa perlu meminta dispensasi. Mereka bertindak sama seperti para orang tua lainnya. Mereka tidak minta keringanan atau keistimewaan, meski anak mereka sosok istimewa.

Yusuf maupun Maria adalah orang yang enggak neko-neko. Mereka menghargai tradisi. Mereka mengikuti tradisi karena dari situlah mereka berasal. Melupakan tradisi tak ubahnya dengan memutuskan diri dari sejarah kita sendiri. Dan bicara soal sejarah, adakah manusia tanpa sejarah? Jawabnya: tentu tidak ada!

Namun, ini yang perlu dicatat, soal pemberian nama mereka tidak mengikuti tradisi. Lukas dengan jelas menyatakan bahwa Anak itu diberi nama Yesus, yaitu nama yang disebut oleh malaikat sebelum Ia dikandung ibu-Nya.

Jelaslah, orang tua Yesus adalah penganut tradisi yang baik, tetapi tidak taat buta pada tradisi. Berkenaan dengan nama, mereka lebih taat kepada Allah ketimbang tradisi. Mereka lebih bersikap sebagai hamba Allah ketimbang hamba tradisi! Ketika kehendak Allah disandingkan dengan tradisi, mereka memilih kehendak Tuhan tanpa syarat.

Dan nama-Nya adalah Yesus. Nama itu bukanlah nama sembarang nama. Yesus merupakan nama Aram untuk nama Ibrani _Yesyua_ (bentuk singkat dari _Yehosyua_). Artinya: Yahwe menyelamatkan! Allah yang memberi keselamatan. Dan nama itu bukanlah sekadar nama karena Yesus sendirilah yang akan menyelamatkan umat-Nya.

Siapakah yang diselamatkan? Semua manusia! Artinya, semua manusia mendapatkan kesempatan untuk menerima penyelamatan Allah itu. Persoalan menerima atau menolak penyelamatan Allah merupakan hal yang lain.

Nama-Nya Yesus. Artinya: Yahwe menyelamatkan. Dan ini jugalah kunci bagi kita dalam memasuki tahun 2022. Masa depan kita gelap, dan serba tidak pasti! Hanya satu yang pasti: Allah adalah Pribadi yang siap menjadi Juru Selamat kita dalam mengarungi waktu di dunia ini! Artinya, tak ada lagi yang perlu kita takutkan di masa datang!

Selamat Tahun Baru!

Yoel M. Indrasmoro
Literatur Perkantas Nasional