Posted on Tinggalkan komentar

Menyimpan dan Merenungkan

(Luk. 2:19)

”Tetapi Maria menyimpan segala perkataan itu di dalam hatinya dan merenungkannya.”

Demikianlah catatan Lukas berkait dengan sikap Maria menanggapi kedatangan para gembala yang memberitahukan bagaimana Malaikat Tuhan mendatangi mereka dan menyatakan apa yang dikatakan tentang Anak itu.

Maria bukanlah tipe orang yang cepat merespons dengan kata-kata. Apalagi untuk hal-hal yang tidak dipahaminya. Jalan yang biasa dia ambil adalah diam, menyimpan peristiwa itu, dan merenungkannya.

Kata banyak orang diam itu emas. Cepat bicara, terlebih kebanyakan bicara, bisa membuat jatuh orang tersandung, baik yang bicara maupun yang mendengarnya. Perkataan yang tidak dipikirkan masak-masak bisa membuat orang terluka. Dan akhirnya yang cepat bicara jadi malu sendiri, setidaknya merasa bersalah karena, tentu saja tak disengaja, telah melukai.

Berkait perkataan para gembala, Maria dengan sengaja menyimpan semuanya itu dalam hatinya. Dia memang belum paham sepenuhnya. Sebelumnya Gabriel mengatakan kepadanya bahwa anaknya akan menjadi Mesias, dan kelak akan diakui sebagai Tuhan. Para gembala datang dengan sebuah berita yang mengatakan bahwa anaknya adalah Juru Selamat. Dengan begitu, perkataan para gembala itu menambah khazanah pengetahuan Maria. Dan karena enggak begitu paham, Maria menyimpannya di dalam hati.

Tak sekadar menyimpan, tetapi merenungkannya. Kata yang diterjemahkan dengan ”merenungkan” dalam bahasa Yunani adalah _symballo_. Kata ini dekat dengan kata simbol dalam bahasa Indonesia. Menurut Stefans Leks, kata _symballo_ searti dengan mengkonfrotasikan antara fakta dan fakta, sabda dan sabda, juga sabda dengan fakta, untuk menangkap hubungan timbal baik dan makna terdalamnya. Dengan kata lain Maria terus berdialog dengan sabda yang didengarnya melalui para gembala. Dan itu berarti berkomunikasi dengan Allah sendiri.

Di ujung tahun 2021 ini, sikap dan tindakan Maria bisa kita jadikan teladan untuk terus berdialog dengan Tuhan berkait dengan hari-hari yang telah kita lalui. Yang pada gilirannya bisa kita jadikan modal dalam memasuki tahun 2022.

Yoel M. Indrasmoro
Literatur Perkantas Nasional

Posted on Tinggalkan komentar

Klarifikasi

(Luk. 2:15-20)

”Marilah kita pergi ke Betlehem untuk melihat apa yang terjadi di sana, seperti yang diberitahukan Tuhan kepada kita” (Luk. 2:15).

Demikianlah para gembala itu berkata-kata seorang kepada yang lain. Apa yang menarik dari kalimat ini? Tampaknya para gembala itu berikhtiar melakukan klarifikasi. Mereka tidak langsung menyebarkan berita itu, namun melakukan klarifikasi.

Memang pada masa itu, teknologi komuniasi tak secanggih sekarang. Akan tetapi, jika menyebarkan berita kelahiran Juru Selamat tanpa melihat Juru Selamat dengan mata kepala mereka sendiri, maka mereka akan menjadi bahan tertawaan orang. Dan bisa jadi untuk selanjutnya mereka tidak dipercaya orang karena telah menyebarkan hoaks—sudah masuk dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia—kabar bohong. Dan lebih parah lagi, jika ada yang percaya, maka akan semakin banyak orang yang disesatkan.

Untunglah mereka tidak melakukannya. Untunglah para gembala itu merasa perlu klarifikasi. Dan menarik pula disimak catatan Lukas perihal ikhtiar itu: ”Lalu mereka cepat-cepat berangkat dan menjumpai Maria dan Yusuf dan bayi itu, yang sedang berbaring di dalam palungan” (Luk. 2:16).

Para gembala itu merasa perlu cepat-cepat, segera, langsung, tidak menunggu esok. Mengapa? Besok mungkin sudah terlambat. Mengapa terlambat? Bisa jadi Sang Bayi sudah tidak lagi terbaring di Palungan! Ibu mana yang tega membiarkan anaknya terus terbaring di palungan.

Jika para gembala tidak cepat-cepat menemui bayi itu maka mereka akan kehilangan kesempatan untuk klarifikasi. Sehingga catatan penutup Lukas berkenaan dengan para gembala Efrata menjadi semakin menarik: ”Maka kembalilah gembala-gembala itu sambil memuji dan memuliakan Allah karena segala sesuatu yang mereka dengar dan mereka lihat, semuanya sesuai dengan apa yang telah dikatakan kepada mereka” (Luk. 2:20).

Para gembala itu telah mengalami berita Natal sesungguhnya. Kabar Natal itu sungguh dialami. Berita Natal itu tak sekadar berita, tetapi sungguh dialami. Mengapa bisa demikian? Karena mereka mau mengambil waktu untuk klarifikasi. Inilah hikmat yang sesungguhnya!

Pertanyaannya adalah seberapa banyak kita menyediakan waktu untuk klarifikasi? Di tengah budaya digital yang serbacepat, kita dipanggil untuk klarifikasi. Dan sejatinya ini merupakan perwujudan dari hikmat Allah.

Yoel M. Indrasmoro
Literatur Perkantas Nasional

Posted on Tinggalkan komentar

Kemuliaan Hanya bagi Allah

(Luk. 2:13-14)

”Tiba-tiba tampaklah bersama-sama dengan malaikat itu sejumlah besar bala tentara surga yang memuji Allah, katanya, ’Kemuliaan bagi Allah di tempat yang mahatinggi dan damai sejahtera di bumi di antara manusia yang berkenan kepada-Nya.’”

Demikianlah sambutan bala tentara surga atas kehadiran Allah dalam rupa insan. Siapa yang pernah berpikir bahwa Allah Yang Mahakuasa hadir di dunia ciptaan-Nya dalam wujud seorang bayi? Siapa pula yang berani berpikir bahwa kehadiran-Nya tidak menampakkan tanda-tanda keilahian, tak ada sinar di wajah-Nya, tergolek lemah di palungan.

Dalam refleksi Natalnya, Pdt. W. Kristian Wijaya menulis: ”Naik tingkat…. Naik pangkat…. Naik jabatan…. Naik gaji…. Naik pendapatan…. Naik kekuasaan…. Siapa yang tidak menginginkannya? Itulah yang dicari-cari oleh manusia.

Sementara soal turun…. Turun kekuasaan…. Turun jabatan…. Turun pendapatan…. Turun pangkat dan derajat…. Sungguh hal-hal itu sangat dihindari oleh banyak orang, bahkan sering dihindari dengan cara saling sikut-sikutan bahkan saling menyingkirkan.

Namun di dalam Natal kelahiran Yesus Kristus kita diajak memaknai kata turun yang bermakna positif dan mulia. Yesus, Sang Firman, turun ke dunia. Allah turun menjadi manusia.”

Allah berkenan turun menjadi manusia agar manusia merasakan persekutuan dengan-Nya. Berkait persekutuan Allah dan manusia pilihannya memang cuma dua: Manusia turun menjadi manusia atau manusia yang naik menjadi Allah. Pilihan yang kedua jelas lebih mustahil. Sehingga peristiwa Allah turun menjadi manusia—meski tak mudah dipahami akal manusia—masih lebih mungkin meski terasa aneh. Dan karena itulah pujian kepada Allah menjadi sebuah keniscayaan.

Dan sepertinya bala tentara surgawi itu mengajak para gembala untuk memuliakan Allah. Dan ketika Allah dimuliakan, damai sejahtera sungguh terwujud di bumi. Sebaliknya, ketika manusia dimuliakan, yang terjadi hanyalah petaka demi petaka.

Yoel M. Indrasmoro
Literatur Perkantas Nasional

Posted on Tinggalkan komentar

Tanda-Nya

(Luk. 2:8-12)

”Di daerah itu ada gembala-gembala yang tinggal di padang menjaga kawanan ternak mereka pada waktu malam. Tiba-tiba berdirilah seorang malaikat Tuhan di dekat mereka dan kemuliaan Tuhan bersinar meliputi mereka dan mereka sangat ketakutan. Lalu kata malaikat itu kepada mereka: ’Jangan takut, sebab sesungguhnya aku memberitakan kepadamu kesukaan besar untuk seluruh bangsa: Hari ini telah lahir bagimu Juruselamat, yaitu Kristus, Tuhan, di kota Daud. Dan inilah tandanya bagimu: Kamu akan menjumpai seorang bayi dibungkus dengan lampin dan terbaring di dalam palungan.’”

Alamat Sang Bayi bukanlah nama orang tua-Nya. Bisa jadi, nama Maria dan Yusuf termasuk pasaran di zamannya. Tak mudah mencari orang tua Juruselamat di antara sekian banyak pemilik nama itu. Lagi pula, mereka orang asing. Jadi lebih susah lagi!

Palungan menjadi tanda yang tepat karena tiada bayi, hingga hari ini, yang terbaring di sana. Yesus adalah satu-satunya bayi! Palungan menjadi tanda karena palungan bersedia menjadi tempat!

Kita, orang percaya abad XXI, juga dipanggil menjadi palungan! Menjadi palungan berarti menjadi tempat. Menjadi palungan berarti menyediakan ruang dalam hati kita untuk Allah dan manusia. Janganlah pula kita lupa, palungan adalah tempat makanan. Palungan tak ubahnya piring dalam dunia manusia. Menjadi palungan berarti menjadi piring. Menjadi palungan berarti menjadi penyalur berkat Tuhan.

Itu pulalah yang dilakukan para gembala Efrata. Di hati orang-orang biasa itu ada tempat bagi Allah sehingga mereka spontan berangkat mencari-Nya! Di hati mereka ada tempat bagi manusia sehingga mereka menjadi penginjil-penginjil pertama bagi warga Betlehem. Mereka juga meneguhkan hati Yusuf dan Maria.

Suasana dalam kandang itu pasti ramai. Seramai orang menyambut kelahiran bayi. Itu mungkin tak akan pernah terjadi di rumah penginapan karena para tamu sibuk sendiri-sendiri.

Menjadi palungan berarti menjadi tanda kehadiran Yesus di dunia. Menjadi tanda kehadiran Yesus berarti melalui kita orang merasakan kasih Yesus. Menjadi tanda kehadiran Yesus berarti bersedia menjadi sesama bagi orang lain!

Yoel M. Indrasmoro
Literatur Perkantas Nasional

Posted on Tinggalkan komentar

Masih Ada Tempat

(Luk. 2:1-7)

”Pada waktu itu Kaisar Agustus mengeluarkan suatu perintah, menyuruh mendaftarkan semua orang di seluruh dunia. Inilah pendaftaran yang pertama kali diadakan sewaktu Kirenius menjadi wali negeri di Siria. Maka pergilah semua orang mendaftarkan diri, masing-masing di kotanya sendiri. Demikian juga Yusuf pergi dari kota Nazaret di Galilea ke Yudea, ke kota Daud yang bernama Betlehem,—karena ia berasal dari keluarga dan keturunan Daud—supaya didaftarkan bersama-sama dengan Maria, tunangannya, yang sedang mengandung. Ketika mereka di situ tibalah waktunya bagi Maria untuk bersalin, dan ia melahirkan seorang anak laki-laki, anaknya yang sulung, lalu dibungkusnya dengan lampin dan dibaringkannya di dalam palungan, karena tidak ada tempat bagi mereka di rumah penginapan.”

Perintah Kaisar Agustus bukan sembarang perintah. Perintah sensusnya memaksa para perantau pulang kampung. Bagi yang punya kerabat, tak perlu mencari tempat menginap. Yang lainnya menjadi orang asing di negeri sendiri. Tampaknya, keluarga muda asal Nazaret itu tak lagi punya sanak di Betlehem. Jika tidak, Natal merupakan tragedi karena tiada sanak peduli.

Namun, tempat masih ada, yaitu kandang. Kandang itu membuka dirinya. Tak cuma kandang, palungan juga membuka dirinya menjadi tempat bernaung. Mereka bersedia memberi ruang. Meski sederhana, itulah jawaban dari kebutuhan keluarga muda itu. Mereka tak perlu terus berjalan karena telah mendapatkan tempat bernaung. Pada saat itulah Yesus lahir!

Pemilik kandang pastilah tak pernah ngimpi ada bayi manusia terbaring di palungan. Semula dia hanya memberi tempat bagi Maria dan Yusuf. Pemilik kandang itu, Lukas tidak mencatat namanya, memang orang biasa, namun tindakannya luar biasa. Dia membuka hatinya bagi pasangan muda itu.

Kisah Natal juga memperlihatkan, Allah adalah Pribadi yang selalu menyediakan tempat bagi umat-Nya. Mungkin sederhana dalam pandangan umum, namun selalu ada tempat bagi manusia. Persoalannya: Apakah kita menerima tempat yang disediakan Allah itu?

Keluarga muda itu meyakini bahwa Allah adalah Pribadi yang menyediakan tempat. Yusuf dan Maria, orang-orang biasa itu, tidak menolak tempat yang disediakan Allah. Dan Penerimaan itu berbuah berkat!

Yoel M. Indrasmoro
Literatur Perkantas Nasional

Posted on Tinggalkan komentar

Kisah Kasih Nyata

(Luk. 1:56)

”Maria tinggal kira-kira tiga bulan lamanya bersama dengan Elisabet, lalu pulang kembali ke rumahnya.”

Catatan Lukas berkait dengan kunjungan Maria ke rumah Elisabet cukup jelas. Lukas merasa perlu menulis berkait dengan lamanya kunjungan, yakni tiga bulan. Mengapa tiga bulan? Hanya Maria yang bisa menjawabnya! Apakah Maria masih ada sewaktu Elisabet bersalin? Kemungkinan besar ya, mengingat sifat Maria. Namun, Lukas memang tak merasa perlu mencatatnya.

Tiga bulan memang bukan waktu sebentar, namun cukup untuk menemani seorang yang sedang mengandung tua. Tak boleh kita lupa bahwa Elisabet mengandung dalam usia yang telah lanjut. Tentulah tak mudah bagi dia menjalankan tugas kerumahtanggaan sehari-hari. Terlebih dengan suaminya yang bisu, komunikasi dijamin kurang lancar.

Nah, mungkin di sinilah peranan Maria, yakni mengerjakan tugas kerumahtanggaan sehari-hari agar Elisabet dapat fokus pada jabang bayi yang ada dalam rahimnya. Dengan kata lain, Maria tidak sekadar berkunjung, tetapi mau menjadi penolong sanaknya itu. Pada titik ini kasih Maria bukan sekadar kata, tetapi sungguh nyata dalam tindakan.

Tindakan memang lebih dari sejuta kata. Dan kasih mesti maujud dalam tindakan. Bagaimanapun ”mengasihi” merupakan kata kerja. Tidak dilakukan aneh rasanya.

Yoel M. Indrasmoro
Literatur Perkantas Nasional

Posted on Tinggalkan komentar

Revolusi Sosial

(Luk. 1:51-55)

”Ia memperlihatkan kuasa-Nya dengan perbuatan tangan-Nya dan mencerai-beraikan orang-orang yang congkak hatinya; Ia menurunkan orang-orang yang berkuasa dari takhtanya dan meninggikan orang-orang yang rendah; Ia melimpahkan segala yang baik kepada orang yang lapar, dan menyuruh orang yang kaya pergi dengan tangan hampa; Ia menolong Israel, hamba-Nya, karena Ia mengingat rahmat-Nya, seperti yang dijanjikan-Nya kepada nenek moyang kita, kepada Abraham dan keturunannya untuk selama-lamanya.”

Bagian kedua Nyanyian Pujian Maria sering dianggap sebagai ajakan untuk melakukan revolusi sosial. Bahkan, dalam buku terakhir dari tetraloginya _Rumah Kaca_, Pramoedya Ananta Toer menaruh kutipan Latin _Deposuit Potentes de Sede et Exaltavat Humiles_ dalam halaman persembahan dan kembali menaruhnya dalam halaman terakhir bukunya dengan tambahan terjemahan: ”Dia Rendahkah Mereka yang Berkuasa dan Naikkan Mereka yang Terhina.”

Namun, yang tak boleh kita lupakan adalah Nyanyian Pujian Maria ini bukan dimaksudkan untuk membalas orang kaya dan berkuasa. Orang kaya dan berstatus tinggi pun dapat mengalami karya Allah selama mereka bersikap miskin dan rendah seperti Maria. Dengan kata lain setiap orang diundang masuk dalam Kerajaan Allah selama mereka hanya mengandalkan Allah saja.

Persoalannya sering kali memang di sini, harta atau kuasa yang dimiliki acap membuat manusia mengandalkan dirinya sendiri. Dan itulah yang dimaksud Maria dengan orang-orang yang congkak hatinya. Orang-orang yang congkak hatinya adalah orang yang menempatkan dirinya di atas Allah, sehingga tidak memedulikan-Nya. Dan tentu saja tidak ada sesuatu pun yang dapat dilakukan Allah bagi manusia macam begini. Orang yang congkak hati biasanya juga menganggap yang lain lebih rendah. Dan karena itu selalu dipandang sebagai musuh Allah.

Nyanyian Pujian Maria mengingatkan kita untuk selalu bersikap miskin di hadapan Allah artinya selalu mengandalkan Allah dalam segala situasi dan kondisi. Sikap mengandalkan Allah akan membuat kita mengasihi sesama. Sejatinya itulah dasar revolusi sosial. Ngomong-ngomong, itu jugalah tema Natal kita tahun ini: ”Cinta Kasih Kristus yang Menggerakkan Persaudaraan.”

Selamat Natal!

Yoel M. Indrasmoro
Literatur Perkantas Nasional

Posted on Tinggalkan komentar

Jiwaku Memuliakan Allah

(Luk. 1:46-50)

”Lalu kata Maria, ’Jiwaku memuliakan Tuhan, dan hatiku bergembira karena Allah, Juruselamatku, sebab Ia telah memperhatikan kerendahan hamba-Nya. Sesungguhnya, mulai dari sekarang segala keturunan akan menyebut aku berbahagia, karena Yang Mahakuasa telah melakukan perbuatan-perbuatan besar kepadaku dan kuduslah nama-Nya. Rahmat-Nya turun-temurun atas orang yang takut akan Dia.’”

Demikianlah tanggapan Maria ketika mendengar bagaimana Elisabet menyebutnya sebagai Bunda Tuhan. Pernyataan Elisabet jelas Maria bukan gadis biasa dan itu pasti meneguhkan Maria. Bukankah mereka tak berkomunikasi selama ini? Dari manakah Elisabet mengetahui panggilan Maria sebagai Bunda Tuhan. Karena itu, Maria menyambutnya dengan kalimat ”Jiwaku memuliakan Tuhan, dan hatiku bergembira karena Allah, Juruselamatku”

Maria memuliakan Tuhan. Menurut Stefan Leks, itu memuji keagungan Allah yang menjadi sumber berkat baginya. Manusia tidak dapat menambahkan keagungan Allah, tetapi dapat menyadari dan menyatakannya. Dan itulah yang dilakukan Maria.

Masih menurut Stefan Leks, Maria menyadari bahwa Allah itu mulia bukan dalam pemahaman ”tuan yang merendahkan manusia”, melainkan Tuhan yang mengerahkan kuasanya demi menyelamatkan manusia. Allah dalam pemandangan Maria adalah Pribadi yang memperhatikan kerendahan hamba-Nya.

Dan memang hanya orang-orang rendahlah yang mungkin ditinggikan. Kalau sudah tinggi atau merasa tinggi apakah memang masih perlu ditinggikan. Maria memandang dirinya sebagaimana kebanyakan orang pada zaman itu yang miskin dan rendah, yang karena itu hanya mengandalkan Allah saja.

Dan Pujian Maria bisa juga kita pahami sebagai panggilan untuk hanya mengandalkan Allah saja.

Yoel M. Indrasmoro
Literatur Perkantas Nasional

Posted on Tinggalkan komentar

Kunjungan Maria

(Luk. 1:39-45)

”Diberkatilah engkau di antara semua perempuan dan diberkatilah buah rahimmu. Siapakah aku ini sampai ibu Tuhanku datang mengunjungi aku? Sebab sesungguhnya, ketika salammu sampai di telingaku, anak yang di dalam rahimku melonjak kegirangan. Berbahagialah ia yang percaya, sebab apa yang dikatakan kepadanya dari Tuhan, akan terlaksana” (Luk. 1:42-45).

Di mata Lukas, berkaitan dengan kedatangan Mesias, Maria menjadi figur sentral. Apa pun yang dilakukan Maria menjadi penting dalam pandangannya. Tak heran, jika Lukas berupaya menceritakan sepak terjang Maria. Dalam perspektif Lukas, kunjungan Maria ke pegunungan Yehuda pun bukan peristiwa biasa. Dan karena itulah, Lukas mencatatnya.

Kita tidak akan pernah tahu persis alasan di balik kunjungan itu. Meskipun demikian, kita bisa menduga bahwa kehadiran Maria pastilah memberikan penghiburan sendiri bagi Elisabet. Meski bukan Raja Damai, tindakan Maria tampaknya memberikan kedamaian bagi Elisabet, kerabatnya yang sedang mengandung.

Kunjungan Maria sesungguhnya merupakan aksi damai. Berkunjung mensyaratkan adanya waktu dalam diri seseorang untuk pergi ke rumah pihak lain. Artinya: dia menyediakan waktu untuk orang lain. Pribadi yang dikunjungi merupakan sosok yang penting di mata orang tersebut. Begitu pentingya, sehingga dia merasa harus menyambanginya.

Elisabet pun bersaksi bahwa kedatangan Maria memang memberikan rasa damai. Istri Zakharia itu menyatakan bahwa salam Maria membuat bayi dalam rahimnya bergerak kegirangan. Pemberian salam pun merupakan aksi damai. Bagaimanapun, salam berarti damai. Memberikan salam berarti pula memberikan damai.

Kita, orang percaya abad XXI, pun dipanggil untuk memberikan salam (damai) kepada sesama. Tentunya, bukan sekadar kata, tetapi tindakan-tindakan nyata yang membuat orang di sekitar kita sungguh-sungguh merasa damai.

Yoel M. Indrasmoro
Literatur Perkantas Nasional

Posted on Tinggalkan komentar

Hamil Melalui Telinga

(Luk. 1:38)

”Kata Maria, ’Sesungguhnya aku ini hamba Tuhan; jadilah padaku menurut perkataanmu itu.’ Lalu malaikat itu meninggalkan dia.”

Jawaban Maria sesungguhnya sederhana saja. Maria menganggap dirinya hamba Tuhan, sehingga pasrah bongkokan. Inilah kepatuhan sukarela, rendah hati, sekaligus mulia. Maria menggunakan kehendak bebasnya untuk mengambil keputusan mulia itu.

Maria menjadi Bunda Allah karena setuju. Para Bapa Gereja mengatakan bahwa Maria menjadi hamil melalui telinganya, artinya dengan mendengarkan. Berkat kepatuhannya, Sabda masuk ke dalam Maria dan menjadi subur dalam dia. Mengapa Maria setuju?

Pertama, Maria sadar siapa dirinya. Dia hamba. Dan hamba selalu menaati perintah tuannya. Kesadaran status hamba inilah yang membuat Maria mau mengatakan ”ya” kepada perintah tersebut. Dan, Yesus Orang Nazaret, Sang Anak, dalam pengajaran-Nya seakan menyuarakan kembali kalimat Sang Bunda: ” Demikian jugalah kamu. Apabila kamu telah melakukan segala sesuatu yang ditugaskan kepadamu, hendaklah kamu berkata: Kami hamba-hamba yang tidak berguna; kami hanya melakukan apa yang harus kami lakukan.” (Luk. 17:10).

Kesadaran status inilah yang membuat Maria, ini yang kedua, mau berkurban. Kamus Besar Bahasa Indonesia membedakan antara korban dan kurban. Korban berarti orang, binatang, dsb yg menjadi menderita (mati dsb) akibat suatu kejadian, perbuatan jahat, dsb. Sedangkan kurban berarti segala sesuatu untuk Allah. Maria sedang berkurban, dan bukan berkorban, karena dia melakukan segala sesuatunya untuk Allah. Lagi pula, masak manusia berkorban buat Tuhan, yang ada mah Tuhan yang berkorban buat manusia.

Ketiga, pemahaman status diri sebagai hamba membuat Maria ingin memuliakan Allah. Ketika kita menaati Allah sejatinya kita tengah memuliakan Dia. Tidak memuliakan Dia, itu berarti kita sedang memuliakan diri sendiri. Dan sejatinya, kita perlu belajar pula untuk memuliakan Dia, entah di keluarga, sekolah, kantor, masyarakat. Pertanyaannya ialah siapakah yang dimuliakan?

Keempat, bisa jadi Maria terharu. Bagaimanapun Allah dengan begitu rendah hati memintanya menjadi sarana penyelamatan atas dunia. Nah, kalau Allah sudah begitu rendah hati memohon kepadanya, masak ditolak?

Yoel M. Indrasmoro
Literatur Perkantas Nasional