Posted on Tinggalkan komentar

Prerogatif Allah

(Lukas 4:29-30)

”Mereka bangkit, lalu menghalau Yesus ke luar kota dan membawa Dia ke tebing gunung, tempat kota itu terletak, untuk melemparkan Dia dari tebing itu. Tetapi Ia berjalan lewat dari tengah-tengah mereka, lalu pergi.”
Para pendengar Yesus tak lagi mampu menahan kemarahannya. Kekaguman telah berubah menjadi kebencian. Begitu bencinya hingga mengharapkan kematian bagi orang yang pernah mereka kenal.

Dalam Alkitab Bahasa Indonesia Sederhana tertera: ”Mereka berdiri lalu menyeret Dia ke luar kota sampai ke tebing gunung. Kota mereka terletak di atas gunung itu. Mereka membawa Dia ke situ dengan maksud untuk mendorong Dia ke dalam jurang. Tetapi, Yesus menerobos orang banyak itu, lalu pergi.”

Kita bisa membayangkan apa yang terjadi saat itu. Yesus diseret ke luar dari rumah ibadah dan diseret terus hingga ke tebing gunung. Lukas tidak menceritakan berapa jauh dari rumah ibadah itu ke tebing gunung, juga berapa lama mereka menyeret Yesus. Yang pasti, mereka tidak lagi menghargai orang yang sempat mereka kagumi. Mereka juga sudah tidak lagi menghargai Yusuf dan Maria sebagai orang tua Yesus. Mereka sudah kalap. Keinginan mereka cuma satu: kematian Yesus.

Kita bisa bertanya sejenak, ”Tak adakah yang membela Yesus?” Bisa jadi memang tidak ada. Kalau ada pun pasti lebih memilih diam. Lagipula, Yesus dipandang telah merendahkan kota mereka. Membela Yesus sama saja mencari mati.

Namun, Lukas mencatat, sampai di pinggir tebing, Yesus malah leluasa menerobos dan pergi dari situ. Apakah maknanya? Sederhana: kematian adalah prerogatif Allah. Tak mungkin ada orang mati di luar kehendak Allah. Pemahaman ini semestinya bisa menjadi penghiburan kita juga.

Yoel M. Indrasmoro
Literatur Perkantas Nasional

Posted on Tinggalkan komentar

Bukan Ajang Pembuktian

(Lukas 4:23-28)

”Kemudian berkatalah Ia kepada mereka, ’Tentu kamu akan mengatakan pepatah ini kepada-Ku: Hai tabib, sembuhkanlah diri-Mu sendiri. Perbuatlah di sini juga, di tempat asal-Mu ini, segala yang kami dengar yang telah terjadi di Kapernaum!’ Kata-Nya lagi, ’Sesungguhnya Aku berkata kepadamu, tidak ada nabi yang dihargai di tempat asalnya” (Luk. 4:24-28).

Demikianlah tanggapan Sang Guru, ketika orang-orang Nazaret mulai mempertanyakan latar belakang diri-Nya. Bisa jadi orang Nazaret juga heran dengan kenyataan tidak adanya demonstrasi penyembuhan. Mereka mungkin juga bingung dan bertanya-tanya mengapa Yesus tidak melakukan satu mukjizat pun. Dengan kata lain, jika Yesus melakukan penyembuhan di banyak tempat, masak Dia tidak mau mengadakan mukjizat di kota masa kecil-Nya?

Mungkin saja mereka ingin Yesus membuktikan diri-Nya sebagai orang yang sanggup membuat mukjizat. Selama ini mereka hanya mendengar kehebatan Yesus, dan sekarang mereka ingin menyaksikan dengan mata kepala mereka sendiri. Mereka ingin bukti! Dan untuk semua alasan itu, Yesus punya satu jawaban: tidak.

Pada titik ini Yesus tidak tergoda untuk membuktikan diri di hadapan teman-teman sepermainan-Nya. Yesus tidak tergoda untuk membuktikan kehebatan-Nya di hadapan orang-orang yang pernah mengenal-Nya. Bahkan, Yesus siap jika orang-orang Nazaret itu menyebut-Nya kacang lupa kulit.

Di sini Yesus tidak melakukan sesuatu seturut kata orang. Yesus merupakan pribadi merdeka. Namun, itu tidak berarti bersikap dan bertindak sesukanya. Bagaimanapun, Yesus merupakan pribadi yang taat kepada Bapa-Nya.

Kalau Yesus melakukan mukjizat, hal itu bukan untuk memuaskan keinginan orang, melainkan agar makin banyak orang mengenal dan memuliakan Allah. Jika kita perhatikan semua mukjizat Yesus, di akhir kisah mukjizat itu senantiasa ada, setidaknya satu orang, yang bersyukur kepada Allah. Jadi, semua mukjizat itu dilakukan Yesus bukan buat pamer. Bukan untuk mendapatkan tepuk tangan. Tetapi, sekali lagi agar semakin banyak orang mengenal dan memuliakan Allah. Dalam pengertian ini, Yesus memang tidak sembarangan membuat mukjizat.

Yesus bersikap merdeka. Dia hanya melakukan apa yang Allah kehendaki, dan bukan apa yang dikehendaki orang lain. Orang kadang sering menuntut ini dan itu. Sekali lagi, Yesus lebih mendengarkan perkataan Allah ketimbang perkataan manusia.

Dan karena sikap itulah, Yesus ditolak.

Yoel M. Indrasmoro
Literatur Perkantas Nasional

Posted on Tinggalkan komentar

Bukankah Ia Ini Anak Yusuf?

(Lukas 4:22)

”Dan semua orang itu membenarkan Dia dan mereka heran akan kata-kata yang indah yang diucapkan-Nya, lalu kata mereka: “Bukankah Ia ini anak Yusuf?” Dalam Alkitab Bahasa Indonesia Sederhana tertera: ”Padahal Dia hanya anak Yusuf.”

Mulanya Lukas menyatakan bahwa orang-orang di rumah ibadah itu mengakui kebenaran perkataan Yesus. Mereka sungguh antusias dengan cara Yesus mengajar. Namun, semuanya itu menjadi buyar ketika mereka mengingat bahwa anak kemarin sore itu sudah menjadi orang. Tambah ambyar ketika mereka mengingat bahwa dia cuma anak Yusuf. Dan proses pembelajaran pun berhenti.

Belajar semestinya dari siapa saja, bahkan apa saja. Semua bisa menjadi bahan ajar bagi setiap orang yang terbuka hatinya. Hati terbuka merupakan syarat mutlak. Tanpa keterbukaan baik pikiran maupun hati, kita tidak akan pernah menerima apa pun. Itu hanya akan membuat kita stagnan.

Kepada warga jemaat di Roma, Paulus menasihatkan: ”Janganlah menganggap dirimu pandai” (Rm. 12:16). Dalam Alkitab Bahasa Indonesia Sederhana tertera: ”jangan menganggap dirimu sudah pandai.” Perasaan diri sudah pandai akan membuat kita jadi enggan belajar, apalagi dari orang yang lebih rendah dari kita. Dalam Kitab Suci tertulis: ”Aja kuminter”. Pinter harus, kuminter jangan.

Ya, orang-orang di Nazaret hanya melihat Yesus sebagai anak tukang kayu. Padahal, apa salahnya menjadi anak Yusuf. Bukankah Yusuf adalah orang yang dua kali didatangi malaikat dalam mimpi? Yusuf pulalah yang mengungsi ke Mesir untuk menyelamatkan nyawa anaknya? Ya, apa salahnya menjadi anak Yusuf?

Yoel M. Indrasmoro
Literatur Perkantas Nasional

Posted on Tinggalkan komentar

Pembelajaran

(Lukas 4:16-21)

“Ia datang ke Nazaret tempat Ia dibesarkan, dan menurut kebiasaan-Nya pada hari Sabat Ia masuk ke rumah ibadat, lalu berdiri hendak membaca dari Alkitab. Kepada-Nya diberikan kitab nabi Yesaya dan setelah dibuka-Nya, Ia menemukan nas, di mana ada tertulis: ‘Roh Tuhan ada pada-Ku, oleh sebab Ia telah mengurapi Aku, untuk menyampaikan kabar baik kepada orang-orang miskin; dan Ia telah mengutus Aku untuk memberitakan pembebasan kepada orang-orang tawanan, dan penglihatan bagi orang-orang buta, untuk membebaskan orang-orang yang tertindas, untuk memberitakan tahun rahmat Tuhan telah datang.’ Kemudian Ia menutup kitab itu, memberikannya kembali kepada pejabat, lalu duduk; dan mata semua orang dalam rumah ibadat itu tertuju kepada-Nya. Lalu Ia memulai mengajar mereka, kata-Nya: ‘Pada hari ini genaplah nas ini sewaktu kamu mendengarnya.'”

Catatan Lukas menarik disimak. Pertama, meski dianggap pengajar kampiun, Yesus tidak mengajar sesuka hatinya. Dia mengikuti kurikulum yang berlaku di rumah ibadah yang dikunjungi-Nya. Sang Guru tidak mengajar menurut seleranya sendiri. Tidak. Dia mengikuti bahan bacaan pada waktu itu.
Jelaslah Sang Guru patuh pada kurikulum. Yesus tidak menolak ketika petugas rumah ibadah memberikan Kitab Yesaya kepada-Nya. Yesus tidak membuat aturan sendiri.

Kedua, Yesus piawai menghubungkan teks Kitab Suci dengan kekinian. Artinya, Yesus tidak berbicara di awang-awang. Dia menghubungkan kitab Yesaya itu dengan kenyataan sekarang. Bahkan, Yesus mengaitkan kitab itu dengan diri-Nya sendiri. Dia menjelaskan bahwa semua yang dilakukan-Nya karena Roh Tuhan.

Namun, tanggung jawab pembelajaran tidaklah melulu pada diri guru, naradidik juga dituntut tanggung jawab yang sama. Inilah hal ketiga yang penting dalam proses belajar, yaitu kesungguhan naradidik. Minat menjadi hal yang penting dalam pembelajaran. Kehebatan Sang Guru tak akan berdampak jika dalam diri naradidik sendiri tidak ada hasrat untuk belajar.

Inilah yang dicatat Lukas: ”mata semua orang dalam rumah ibadat itu tertuju kepada-Nya.” (Luk. 4:20). Minat seseorang dapat dilihat dari matanya. Dan mata para peserta ibadah itu tertuju kepada Yesus. Mata mereka tidak menatap ke arah lain. Mereka hanya menatap Yesus. Mereka ingin tahu lebih banyak tentang kehendak Allah.

Pertanyaannya: demikian pulakah pembelajaran kita?

Yoel M. Indrasmoro
Literatur Perkantas Nasional

Posted on Tinggalkan komentar

Dalam Kuasa Roh

(Luk. 4:14-15)

”Dalam kuasa Roh kembalilah Yesus ke Galilea. Lalu tersebarlah kabar tentang Dia di seluruh daerah itu. Sementara itu Ia mengajar di rumah-rumah ibadat di situ dan semua orang memuji Dia.”

Tampaknya jelas bagi kita, para pembaca Abad XXI, Lukas menyatakan dengan jelas bahwa Yesus menundukkan diri-Nya untuk dikuasai Roh Allah. Ia berada dalam kuasa Roh. Dan itulah yang menjadi cara hidup-Nya hingga kematian di kayu salib. Kisah di Taman Getsemani, saat Yesus berikhtiar ”Jadilah kehendak-Mu”, menandaskan bahwa Anak Allah tidak bersikap semaunya, tetapi taat kepada Bapa-Nya.

Itu berarti, kita boleh menyimpulkan bahwa kabar tentang Dia yang tersebar ke mana-mana itu pun berada dalam kuasa Roh—dalam kedaulatan Roh Allah. Dan bisa dipastikan bahwa Sang Guru Baru dari Nazaret itu tidak memasang iklan. Namun, yaitu tadi, kabar tentang diri-Nya tersebar di seluruh daerah Galilea.

Menarik pula disimak, cara Lukas menceritakan bagaimana Yesus mengajar di rumah-rumah ibadat (sinagoge) memperlihatkan adanya kesinambungan ajaran Yesus dengan apa yang telah dijanjikan Allah kepada Israel. Itu jugalah yang dilakukan para pemberita Injil mula-mula.

Menurut Stefan Leks, sejak pembuangan Babel—yaitu sejak bangsa Israel tinggal jauh dari Palestina dan tak mungkin beribadah di Bait Allah—mereka mengadakan _pertemuan_ (sinagoge) untuk berdoa, membaca Taurat, dan mendengarkan khotbah. Kebiasaan itu dilanjutkan kembali saat pulang dari pembuangan. Meskipun Bait Allah telah didirikan kembali, sinagoge didirikan di mana-mana, juga di Yerusalem. Yesus memanfaatkan fasilitas itu untuk memperkenalkan tahap baru sejarah penyelamatan Allah.

Dan kita dapat percaya bahwa strategi pelayanan dan pengajaran macam begini pun merupakan buah dari kuasa Roh.

Yoel M. Indrasmoro
Literatur Perkantas Nasional

Posted on Tinggalkan komentar

Pencobaan di Padang Gurun

(Luk. 4:1-13)

”Sesudah Iblis mengakhiri semua pencobaan itu, ia mundur dari pada-Nya dan menunggu waktu yang baik” (Luk. 4:13).

Berkait Kisah Pencobaan di Padang Gurun, Lukas punya catatan menarik. Menurut dia, alasan Iblis mundur bukanlah karena merasa kalah, bukan pula karena tahu bahwa pendirian Yesus tak mungkin goyah. Akan tetapi, Iblis merasa saatnya tidak tepat. Ini cuma soal waktu.

Iblis menunggu waktu yang baik. Jika terhadap Yesus saja, Iblis merasa hanya soal waktu; bagaimana pandangannya terhadap para pengikut Yesus? Lalu, apa yang mesti kita lakukan?

Pertama, kita harus senantiasa waspada. Jangan lengah sedetik pun. Saat kita lengah, Iblis akan langsung menyambar kesempatan itu.

Logisnya, manusia memang harus lebih waspada ketimbang Iblis. Sebab, Iblis berada pada posisi menyerang. Tingkat kewaspadaan pada pihak yang diserang semestinya memang lebih tinggi.

Kedua, bersikap rendah hati. Jangan sok kuat! Jangan sekali-kali kita berkata, baik terucap maupun dalam hati, ”Saya tak mungkin jatuh!” Kesombongan macam begini hanya akan membuat kita lengah dan akhirnya jatuh beneran.

Ketiga, mari kita mencontoh sikap Yesus dalam mengatasi ketiga cobaan itu!

Perut keroncongan bukan alasan kuat bagi Yesus untuk mengubah batu menjadi roti. Dia juga tidak tergoda untuk membuktikan jati diri-Nya. Dia tetap Anak Allah, meski tak mengubah batu menjadi roti.

Iblis sanggup memberikan kuasa, namun Allah Mahakuasa. Kuasa adalah anugerah. Jika kita mengakui kemahakuasaan Allah, kita akan terhindar dari pencarian kuasa.

Iblis mencobai manusia untuk membuktikan kasih Allah. Dia mencobai manusia untuk membuktikan kesetiaan-Nya. Dia mencobai manusia untuk mencobai Allah. Untuk cobaan kayak begini, Yesus tegas berkata, ”Jangan engkau mencobai Tuhan, Allahmu!” (Luk. 4:12).

Jelaslah, Iblis tidak mencobai manusia dalam kawasan hitam-putih, melainkan abu-abu. Sekilas, cobaan Iblis kepada Yesus tidak ada yang salah. Ya, apa salahnya mengubah batu menjadi roti kala lapar, apa salahnya menjadi berkuasa, apa salahnya mencari tahu apakah Tuhan mengasihi atau tidak?

Pada titik ini, kita perlu hikmat. Caranya? Kembangkanlah alur pikir alkitabiah, bukan ayatiah! Pahamilah ayat secara benar, utuh, menyeluruh, dan seimbang. Jangan sepotong-sepotong!

Yoel M. Indrasmoro
Literatur Perkantas Nasional

Posted on Tinggalkan komentar

Silsilah Yesus

(Luk. 3:23-38)

”Ketika Yesus memulai pekerjaan-Nya, Ia berumur kira-kira tiga puluh tahun dan menurut anggapan orang, Ia adalah anak Yusuf, anak Eli…” (Luk. 3:23).

Demikianlah Lukas mengawali silsilah Yesus Kristus. Hanya Lukas yang menyatakan bahwa Yesus mulai bekerja pada usia sekitar tiga puluh tahun. Tentu bukan bekerja sebagai tukang kayu sebagaimana Yusuf, ayah-Nya, tetapi bekerja dalam karya penyelamatan Allah. Usia tiga puluh tahun dianggap matang untuk menjadi guru.

Menarik disimak, Lukas agaknya sengaja menulis ”dan menurut anggapan orang, Ia adalah anak Yusuf”. Catatan ini menjadi penting. Tentu saja, tak banyak orang yang tahu kisah mistis kelahiran Yesus—bahwa Ia dikandung dari Roh Kudus. Namun, catatan itu juga secara tidak langsung menyatakan bahwa Yusuf merupakan ayah hukum Yesus. Dan karena Yusuf adalah keturunan Daud, maka gelar ”Anak Daud” pun akhirnya disematkan kepada Yesus. Dengan demikian keseluruhan silsilah ini merupakan silsilah hukum, dan bukan silsilah jasmani.

Menarik pula disimak, dalam silsilah itu ada tercatat nama Nuh dan Henokh. Dalam Kitab Kejadian tercatat bahwa ”Nuh adalah seorang yang benar dan tidak bercela di antara orang-orang sezamannya; dan Nuh itu hidup bergaul dengan Allah”. Sedangkan untuk Henokh dinyatakan: ”Henokh hidup bergaul dengan Allah, lalu ia tidak ada lagi, sebab ia telah diangkat oleh Allah.” Keduanya hidup dalam persekutuan yang akrab dengan Allah. Dan Yesus orang Nazaret merupakan keturunan dari keduanya.

Sekali lagi, menariknya, dalam penelusuran silsilah itu Lukas tidak berhenti pada Adam, tetapi melanjutkannya dengan ”anak Allah”. Adam memang ciptaan langsung Allah. Sepertinya Lukas hendak menegaskan bahwa secara hukum, menurut silsilah, Yesus memang anak Allah. Dan itulah yang ditegaskan Allah dalam pembaptisan Yesus: ”Engkaulah Anak-Ku yang terkasih.” Dengan kata lain, baik secara _de jure_ maupun _de facto_, Yesus anak Allah.

Yoel M. Indrasmoro
Literatur Perkantas Nasional

Posted on Tinggalkan komentar

Yesus, Anak Allah, Dibaptis

(Luk. 3:21-22)

”Ketika seluruh orang banyak itu telah dibaptis dan Ketika Yesus juga dibaptis dan sedang berdoa, terbukalah langit dan turunlah Roh Kudus dalam rupa burung merpati ke atasnya. Dan terdengarkah suara dari langit, ’Engkaulah Anak-Ku yang terkasih, kepada-Mulah Aku berkenan.’”

Kisah pembaptisan Yesus versi Lukas unik. Tidak ada percakapan antara Yesus dan Yohanes Pembaptis. Bahkan, para pembaca tidak diberi tahu siapa yang membaptis Yesus. Beritanya pun singkat saja. Terkesan datar. Namun, tetap menarik disimak.

Sepertinya Lukas hendak menampilkan Yesus Orang Nazaret sama seperti manusia lainnya. Dengan kata lain, Yesus Sang Guru menyamakan dan menyatukan diri-Nya dengan orang banyak yang ingin dibaptis. Yesus tak merasa perlu diistimewakan. Dia menjadi salah seorang dari sekelompok manusia yang rindu bertobat.

Yang lainnya, Lukas tampaknya memperlihatkan bahwa karya pertama Yesus adalah berdoa. Ya, doa. Doa menjadi karya signifikan dalam kehidupan Yesus Orang Nazaret. Dan pada akhirnya Yesus mengakhiri karya-Nya dengan doa pula di Taman Getsemani.

Dan dalam suasana doa itulah langit terbuka, Roh Kudus hadir dalam rupa seperti burung merpati dan turun ke atasnya, serta terdengar suara: ”Engkaulah Anak-Ku yang terkasih, kepada-Mulah Aku berkenan.” Lukas tampaknya hendak menyatakan bahwa orang-orang yang telah dibaptis itu menjadi saksi dari peristiwa baptis ini.

Apa artinya ini? Kemungkinan besar Lukas hendak mengajak para pembacanya untuk menjadi saksi bahwa Yesus adalah Anak Allah, kesayangan Bapa-Nya, namun rela menyatukan diri-Nya dengan manusia, dan pada akhirnya menyelamatkan manusia.

Itu berarti kita juga dipanggil untuk menjadi saksi karya penyelamatan Allah itu. Sehingga makin banyak orang merasakan karya penyelamatan Allah itu.

Yoel M. Indrasmoro
Literatur Perkantas Nasional

Posted on Tinggalkan komentar

Mendekam dalam Penjara

(Luk. 3:18-20)

”Dengan banyak nasihat lain Yohanes memberitakan Injil kepada orang banyak. Akan tetapi, setelah raja wilayah Herodes ditegur olehnya karena peristiwa Herodias, istri Saudaranya, dan karena segala kejahatan lain yang dilakukannya, raja itu menambah kejahatannya dengan memasukkan Yohanes ke dalam penjara.”

Berkait pelayanan Yohanes Pembaptis, Lukas tak menulis banyak. Hanya satu kalimat. Namun, satu kalimat itu memperlihatkan bahwa pelayanan Yohanes Pembaptis di mata Lukas serupa dengan pelayanan Yesus. Sehingga Lukas berani menyimpulkan bahwa Yohanes Pembaptis memberitakan Injil bagi bangsa Yahudi.

Namun demikian, penginjilan itu tak berlangsung lama. Pelayanan Yohanes Pembaptis bermuara di dalam penjara. Ya, Yohanes Pembaptis mendekam di penjara karena sang raja tak senang ditegur.

Teguran itu bukan tanpa dasar. Entah bagaimana ceritanya, sang raja mengambil Herodias, istri saudaranya, sebagai istrinya. Di mata anak Zakharia, tindakan sang raja tak bisa dibenarkan. Dan karena itu, Yohanes Pembaptis menegurnya. Bukannya bertobat, sang raja menangkap sang nabi dan memasukkannya ke dalam penjara.

Menarik disimak, jika dalam peristiwa di Sungai Yordan, banyak orang—termasuk pemungut cukai, juga para prajurit—yang merasa ditegur bertanya, ”Apakah yang harus kami perbuat?”; maka sang raja tak bertanya. Mungkin karena merasa benar. Bisa jadi karena malu bertanya. Yang pasti tindakan sang raja membuat Israel kehilangan nabinya.

Yoel M. Indrasmoro
Literatur Perkantas Nasional

Posted on Tinggalkan komentar

LITANAS MEMBER CARD

LITANAS MEMBER CARD (With e-Money)

Benefit Keanggotaan:
1. Diskon sebesar 20% setiap pembelian buku-buku terbitan Literatur Perkantas Nasional
2. Tambahan diskon menarik dalam program-program diskon khusus member
3. Tambahan diskon sebesar 5% (menjadi 25%) saat pembelian buku di hari ulang tahun member
4. Update katalog terbitan Literatur Perkantas Nasional
5. Bebas pilih desain Litanas Member Card dari 3 pilihan desain
6. Free ongkir untuk area Jabodetabek. Litanas Member Card akan dikirimkan ke alamat member via ekspedisi Lion Parcel setelah proses cetak kartu selesai (estimasi proses cetak maksimal 1 minggu)
7. Litanas Member Card bersifat multifungsi (dapat digunakan untuk transaksi e-Money kapan pun dan di mana pun dengan melakukan top-up e-Money secara mandiri di gerai-gerai penyedia layanan top-up e-Money)
8. Litanas Member Card berlaku seumur hidup

Fungsi e-Money (Bank Mandiri):
https://www.bankmandiri.co.id/e-money

Prosedur Bergabung:
1. Wajib melakukan registrasi melalui laman form pendaftaran: https://forms.gle/u6Si7a589gFGEyk26
2. Wajib segera konfirmasi via chat ke nomor WA (WhatsApp) Literatur Perkantas Nasional: 081291508616 usai melakukan registrasi untuk mendapat informasi total dan nomor rekening pembayaran
3. Biaya keanggotaan Rp150.000,-

Catatan:
1. Diskon Litanas Member Card tidak bisa digabung dengan diskon lain yang sedang berlangsung di Literatur Perkantas Nasional
2. Dalam transaksi pembelian buku, Litanas Member Card hanya dapat digunakan oleh member yang namanya tertera dalam Litanas Member Card
3. Diskon Litanas Member Card hanya berlaku untuk pembelian buku di Literatur Perkantas Nasional
4. Diskon Litanas Member Card hanya berlaku untuk pembelian buku-buku terbitan Literatur Perkantas Nasional melalui WA (WhatsApp)/pembelian langsung

Informasi & Pemesanan Hubungi WA (WhatsApp) Literatur Perkantas Nasional 081291508616