Posted on Tinggalkan komentar

Alangkah Baik dan Indahnya

”Sungguh, alangkah baiknya dan indahnya, apabila saudara-saudara diam bersama dengan rukun.” Demikianlah Daud memulai nyanyian ziarahnya, yang terekam dalam Mazmur 133. Tak hanya Daud, kita pun mengamini mazmur ini.

Ya, apa yang lebih baik dan enak dilihat ketimbang kenyataan bahwa manusia-manusia diam bersama dengan rukun. Kunci dari kalimat ini—apa yang disebut baik dan indah itu—terletak pada kata rukun.

Prinsip kerukunan, menurut Romo Magnis Suseno, bertujuan untuk mempertahankan masyarakat dalam keadaan harmonis. Rukun berarti ”berada dalam keadaan selaras”, ”tenang dan tentram”, dan ”tanpa perselisihan dan pertentangan”. Agar rukun individu bersedia menomorduakan, bahkan kalau perlu, melepaskan kepentingan-kepentingan pribadi demi kesepakatan bersama.

Kerukunan mengandaikan bahwa manusia memang berbeda. Karena berbeda, harmonisasi menjadi kebutuhan mutlak. Salah satu contoh klasik dalam budaya Jawa adalah gamelan. Meski masing-masing alat musik berbeda—rebab, bonang, kendang, seruling, gambang, gender, gong, saron, siter, ketuk, kenong, kempul—mereka menyatu dan memadu guna menghasilkan tembang yang selaras. Apakah yang lebih baik dan indah ketimbang kenyataan ini?

Alkitab bahasa Inggris NIV memakai istilah _unity_. _Unity_ tak sama dengan _uniform_. Kesatuan memang bukan keseragaman. Dan mustahil memang menyeragamkan manusia selaku individu-individu bebas. Kita pun punya peribahasa: rambut sama hitam hati masing-masing. Persoalannya: kadang orang berpikir, jika seseorang berbeda pendapat dengannya, maka orang tersebut pasti tidak menyukai dirinya.

Kesatuan yang dimaksud di sini memang bukan keseragaman pendapat. Orang bisa berbeda pandangan, tetapi tetap menghargai setiap pribadi. Bagaimanapun, menghargai pribadi sebagai pribadi yang unik merupakan penghargaan terhadap Sang Pencipta, yang telah menciptakan keunikan itu. Lagi pula, ada pepatah Latin: selera tak bisa diperdebatkan.

Kerukunan merupakan hal yang baik dan indah. Dan karenanya Daud membandingkannya dengan minyak yang dipakai saat penahbisan Harun sebagai imam besar. Sesuatu yang sangat berharga karena memang hanya satu-satunya! Bagaimanapun, tak pernah ada dua Harun bukan?

SMaNGaT,

Yoel M. Indrasmoro
Literatur Perkantas Nasional

Foto: Becca Tapert

Posted on Tinggalkan komentar

Bersyafaat dalam Persekutuan

Di awal nyanyian ziarahnya, Mazmur 131, penyair menulis: ”Ingatlah, ya TUHAN, kepada Daud dan segala penderitaannya, bagaimana ia telah bersumpah kepada TUHAN, telah bernazar kepada Yang Mahakuat dari Yakub: ’Sesungguhnya aku tidak akan masuk ke dalam kemah kediamanku, tidak akan berbaring di ranjang petiduranku, sesungguhnya aku tidak akan membiarkan mataku tidur atau membiarkan kelopak mataku terlelap, sampai aku mendapat tempat untuk TUHAN, kediaman untuk Yang Mahakuat dari Yakub.’”

Pada titik ini penyair mengajak umat untuk bersyafaat bagi Daud dalam persekutuan. Bersyafaat merupakan panggilan umat Allah. Bersyafaat berarti menjadi jembatan antara Allah dan orang yang kita doakan. Itu jugalah hakikat persekutuan Kristen. Dengan kata lain, meski Daud merupakan pribadi dengan kualitas baik, dia tetap membutuhkan dukungan dari umat Allah.

Menurut Dietrich Bonhoeffer, dalam bukunya Hidup Bersama, seorang pendoa syafaat dalam persekutuan dipanggil untuk mengetahui kecemasan, kebutuhan, sukacita, dan ucapan syukur, permohonan, dan harapan dari yang didoakan. Dia harus peduli dengan pekerjaan dan tanggungan mereka. Dia berdoa sebagai saudara bagi saudaranya yang lain.

Sekali lagi, bersyafaat merupakan panggilan Kristen. Marilah kita melakukannya di tengah pandemi ini!

SMaNGaT,

Yoel M. Indrasmoro
Literatur Perkantas Nasional

Foto: Andrei Stratu

Posted on Tinggalkan komentar

Setenang Bayi

Dalam nyanyian ziarahnya, Mazmur 131, Daud menulis: ”TUHAN, aku tidak tinggi hati, dan tidak memandang dengan sombong; aku tidak mengejar hal-hal yang terlalu besar atau hal-hal yang terlalu ajaib bagiku. Sesungguhnya, aku telah menenangkan dan mendiamkan jiwaku; seperti anak yang disapih berbaring dekat ibunya, ya, seperti anak yang disapih jiwaku dalam diriku. Berharaplah kepada TUHAN, hai Israel, dari sekarang sampai selama-lamanya!”

Nyanyian ziarah ini cukup pendek. Cuma tiga ayat. Namun, Daud memperlihatkan hal yang penting dari iman. Pertama, iman itu—menggunakan frasa Paulus—”tidak memegahkan diri”. Bagaimana mungkin kita memegahkan diri di hadapan Allah kalau semua memang hanya anugerah? Bangga boleh, namun tidak perlu sombong.

Dan karena itulah, kedua, iman itu sederhana. Daud tidak mencoba untuk mengejar hal-hal yang terlalu besar atau yang terlalu sulit. Kadang memang di sini persoalannya, hal beriman sering dikaitkan dengan peristiwa-peristiwa adikodrati. Semakin hebat mengalami sebuah peristiwa, dianggap makin beriman.

Daud mencoba menjelaskannya dengan kehidupan seorang bayi. Dalam Alkitab Bahasa Indonesia Masa Kini tertera: ”Sesungguhnya, hatiku tenang dan tentram; seperti bayi yang habis menyusu, berbaring tenang di pangkuan ibunya, setenang itulah hatiku.” Bayi begitu tenang karena dia percaya bahwa ibunya akan mencukupi kebutuhannya.

Ketenangan macam beginilah yang diperlukan setiap Kristen. Dan ketenangan macam begini jugalah yang membuat kita mampu berseru seperti Daud, ”Berharaplah kepada Allah dari sekarang sampai selama-lamanya.”

SMaNGaT,

Yoel M. Indrasmoro
Literatur Perkantas Nasional

Foto: Insung Yoon

Posted on Tinggalkan komentar

Pada-Mu Ada Pengampunan

Pemazmur memulai Mazmur 130, nyanyian ziarahnya, dengan seruan: ”Dari jurang yang dalam aku berseru kepada-Mu, ya TUHAN! Tuhan, dengarkanlah suaraku! Biarlah telinga-Mu menaruh perhatian kepada suara permohonanku.”

Pemazmur menyadari posisinya. Dia sedang berada di dalam jurang yang dalam. Dan keberadaan itu dipahaminya sedikit banyak karena kesalahan-kesalahan yang diperbuatnya. Sehingga dia pun mengakui pada ayat 3-4: ”Jika Engkau, ya TUHAN, mengingat-ingat kesalahan-kesalahan, Tuhan, siapakah yang dapat tahan? Tetapi pada-Mu ada pengampunan, supaya Engkau ditakuti orang.”

Sesungguhnya manusia memang senantiasa bergumul dengan dosanya. Itu jugalah pengakuan Paulus dalam suratnya: ”Sebab aku tahu, bahwa di dalam aku, yaitu di dalam aku sebagai manusia, tidak ada sesuatu yang baik. Sebab kehendak memang ada di dalam aku, tetapi bukan hal berbuat apa yang baik. Sebab bukan apa yang aku kehendaki, yaitu yang baik, yang aku perbuat, melainkan apa yang tidak aku kehendaki, yaitu yang jahat, yang aku perbuat” (Rm. 7:18-19).

Jelaslah, jika Allah mengingat dosa-dosa kita, siapakah manusia yang dapat tahan? Namun demikian, inilah penghiburan bagi semua manusia: di dalam Allah ada pengampunan. Dan pegampunanlah yang membuat manusia percaya diri untuk mengakui segala kesalahannya.

Kenyataannya memang demikian, lebih mudah bagi kita untuk meminta maaf kepada rekan kita kalau kita tahu dia mengasihi dan siap memaafkan kita. Allah jelas lebih mengasihi kita ketimbang manusia. Dan karena itu, bersama pemazmur kita—sebagaimana ayat 5-6 dalam Bahasa Indonesia Masa Kini—kita berseru, ”Aku menantikan bantuan TUHAN, janji-Nya kuharapkan. Aku merindukan TUHAN, lebih dari seorang peronda merindukan fajar.”

SMaNGaT,

Yoel M. Indrasmoro
Literatur Perkantas Nasional

Foto: Weston MacKinnon

Posted on Tinggalkan komentar

Umat Pilihan

Mazmur 129 dimulai dengan keluhan: ”Mereka telah cukup menyesakkan aku sejak masa mudaku—biarlah Israel berkata demikian—mereka telah cukup menyesakkan aku sejak masa mudaku, tetapi mereka tidak dapat mengalahkan aku.”

Tampaknya nyanyian ziarah ini memperlihatkan bahwa ada bangsa yang memang tidak suka akan keberadaan Israel sebagai sebuah bangsa. Tentu bangsa pertama yang tidak menyukai Israel sebagai sebuah bangsa adalah Mesir. Karena takut bahwa suatu saat keturunan Israel itu akan memberontak, Firaun mengeluarkan maklumat untuk menjadikan bangsa yang diundang sebagai tamu itu sebagai budak.

Ketika Allah akhirnya melepaskan Israel dari belenggu penjajahan Mesir, maka keberadaan bangsa baru itu pun akhirnya menjadi ancaman bagi bangsa-bangsa lain. Namun demikian, sebagaimana nyanyian ziarah ini, Israel tetap teguh. Dan semuanya itu terjadi karena Allahlah yang terus menyelamatkan mereka. Mengapa? Karena mereka adalah umat pilihan Allah.

Hakikat sebagai umat pilihan Allah semestinya memang tidak membuat Israel tinggi hati. Sebab mereka pasti tahu bahwa hanya karena anugerahlah Allah memilih mereka. Dalam diri mereka sendiri tidak ada alasan yang cukup bagi Allah untuk mengistimewakan. Dan sayangnya itulah yang tidak dilakukan bangsa Israel. Israel dengan sengaja menganggap sepi anugerah Allah itu.

Nah, bagaimanakah dengan kita—Israel baru pada abad XXI ini? Penyelamatan yang telah kita terima dalam Yesus Kristus sejatinya hanya anugerah Allah. Karena itu, marilah kita terima penyelamatan itu penuh dengan syukur dengan cara hidup kudus sebagai umat Allah. Ini jugalah panggilan umat Allah di Indonesia.

SMaNGaT,

Yoel M. Indrasmoro
Literatur Perkantas Nasional

Foto: Lorenzo Maimone

Posted on Tinggalkan komentar

Takut akan TUHAN

Mazmur 128 dimulai dengan ucapan bahagia: ”Berbahagialah setiap orang yang takut akan TUHAN, yang hidup menurut jalan yang ditunjukkan-Nya!” Mengapa disebut berbahagia? Sebab Allah menciptakan manusia untuk bersekutu dengan-Nya.

Bersekutu dengan Sumber Hidup akan menjadikan manusia terus hidup. Dan persekutuan itu akan terus berlangsung selama manusia terus bersikap dan bertindak sebagai hamba Allah. Dan hamba Allah niscaya seturut dengan kehendak Allah.

Sayangnya, Adam dan Hawa—manusia-manusia pertama—tidak melihat persekutuan itu sebagai hal berharga yang harus dipertahankan. Dengan kesadaran sendiri mereka memutuskan hubungan dengan Allah itu ketika mereka tak lagi bersikap dan bertindak sebagai hamba Allah.

Namun demikian, panggilan untuk terus bersekutu dengan manusia tidak pernah hilang dari hati Allah. Allah tetap memanggil manusia hingga hari ini. Itulah juga sebabnya pemazmur mengingatkan bahwa hal yang paling membahagiakan manusia adalah persekutuan dengan Allah.

Dan persekutuan dengan Allah itu memungkinkan manusia merasakan berkat-berkat Allah secara langsung. Pertama, dia akan dimampukan Allah untuk memakan hasil jerih payahnya sendiri. Menikmati hasil pekerjaan sendiri merupakan berkat. Sebab tak sedikit orang yang tak lagi mampu menikmati hasil keringatnya sendiri. Pemahaman bahwa pekerjaan adalah anugerah Allah akan menolong manusia mampu bersyukur atas rejeki pemberian Allah itu.

Kedua, dia akan mampu menikmati damai sejahtera Allah dalam hidup berkeluarga. Keluarga pun adalah anugerah Allah. Tentu ada saja persoalan dalam sebuah keluarga. Namun, ketika semua persoalan itu diletakkan pada dasar anugerah, rasa syukur niscaya menghangatkan hati setiap anggota keluarga.

Dan kedua hal itu—berkat atas kerja dan keluarga—hanya mungkin dirasakan saat manusia terus menjaga persekutuannya dengan Allah. Percayalah!

SMaNGaT,

Yoel M. Indrasmoro
Literatur Perkantas Nasional

Foto: Istimewa

Posted on Tinggalkan komentar

Anugerah Allah Semata

Mazmur 127 dimulai dengan sebuah pengakuan: ”Jikalau bukan TUHAN yang membangun rumah, sia-sialah usaha orang yang membangunnya; jikalau bukan TUHAN yang mengawal kota, sia-sialah pengawal berjaga-jaga.”

Redaksi Lembaga Alkitab Indonesia memberi catatan bahwa mazmur ini merupakan Nyanyian Ziarah Salomo. Catatan ini menjadi penting mengingat Salomo memang bukan orang sembarangan. Mengenai dirinya, penulis Kitab 1 Raja-raja mencatat bahwa Allah berfirman: ”maka sesungguhnya Aku melakukan sesuai dengan permintaanmu itu, sesungguhnya Aku memberikan kepadamu hati yang penuh hikmat dan pengertian, sehingga sebelum engkau tidak ada seorang pun seperti engkau, dan sesudah engkau takkan bangkit seorang pun seperti engkau” (1Raj. 3:12).

Menarik disimak, orang yang paling berhikmat itu memahami bahwa semegah apa pun sebuah rumah, senyaman apa pun suasana rumah, seakrab apa pun para penghuni rumah, tanpa Allah, semuanya akan bermuara pada kata sia-sia. Salomo memercayai bahwa Allah adalah titik awal sebuah keluarga. Tuhanlah dasar sebuah keluarga.

Keluarga sejatinya unit terkecil dari sebuah masyarakat. Mungkin itu juga sebabnya Salomo mengaitkan antara rumah dan kota; antara keluarga dan negara. Keluarga yang baik merupakan kekuatan sebuah kota. Sekali lagi, semuanya bertumpu pada Allah sendiri.

Mudah dipahami juga bagaimana Salomo—dalam mazmur ini—kemudian bicara soal rejeki, juga keturunan. Dan kedua hal itu diakuinya sebagai anugerah Allah semata.

Pertanyaannya: itu jugakah yang kita akui?

SMaNGaT,

Yoel M. Indrasmoro
Literatur Perkantas Nasional

Foto: Istimewa

Posted on Tinggalkan komentar

Seperti Mimpi Rasanya

”Ketika TUHAN memulihkan keadaan Sion, keadaan kita seperti orang-orang yang bermimpi.” Demikianlah pengakuan penyair di awal Mazmur 126. Demikianlah pulalah pengakuan umat Israel kala pulang dari pembuangan di Babel.

Ya, memang seperti mimpi rasanya! Siapa sangka Koresh, raja Media Persia yang berhasil menaklukkan Babel, memperkenankan orang buangan itu kembali ke Yerusalem. Inilah kisah kemerdekaan Israel kedua.

Jika pada kisah kemerdekaan pertama mereka dipimpin Musa, maka pada kemerdekaan kedua mau tidak mau mereka mengakui kepemimpinan Koresh—orang asing itu. Jika pada kisah pertama Musa berulang kali bernegosiasi dengan Firaun, maka pada kisah kedua tak ada negosiasi. Koreshlah yang memerintahkan umat Israel untuk pulang membangun Yerusalem. Orang Israel mungkin mengharapkan, tetapi tak pernah memintanya. Tak heran, mereka seperti bermimpi.

Dalam mata iman, Israel mengakui bahwa Allah telah menjadikan Koresh sebagai alat-Nya. Kisah kemerdekaan kedua itu merupakan tindakan Allah semata. Tak hanya Israel, bangsa-bangsa lain pun mengakui bahwa kepulangan Israel merupakan anugerah. Jika Allah berkehendak, tak ada yang mampu menggagalkannya.

Penderitaan Israel—karena kesalahan mereka sendiri—tidak akan berlangsung untuk selama-lamanya. Allah memperhatikan rintihan umat-Nya. Dan Allah yang mendengar, Allah pulalah yang akan melepaskan umat-Nya.

Sejatinya, Mazmur 126 adalah penggenapan nubuat Yeremia. Yeremia bernubuat: ”Dengan menangis mereka akan datang, dengan hiburan Aku akan membawa mereka” (Yer. 31:9). Allah akan memulihkan Israel.

Pertanyaannya: apakah mereka percaya akan pemulihan Allah ini? Apakah mereka mempunyai pengharapan akan pemulihan ini? Dan pengharapan tidak akan pernah mengecewakan! Mengapa? Sebab Israel adalah milik Allah. Dan memang itulah yang terjadi.

Bagaimana pula dengan kita, umat percaya abad ke-21 di tengah pandemi ini?

SMaNGaT,

Yoel M. Indrasmoro
Literatur Perkantas Nasional

Foto: Tom Paolini

Posted on Tinggalkan komentar

Gunung Sion

Dalam nyanyian ziarahnya, di awal Mazmur 125, penyair menulis: ”Orang-orang yang percaya kepada TUHAN adalah seperti gunung Sion yang tidak goyang, yang tetap untuk selama-lamanya.”

Penyair mengumpamakan orang yang percaya kepada Allah seperti gunung. Gunung menggambarkan sesuatu kuat, teguh, dan tak lekang oleh waktu.

Dan orang percaya digambarkan bukan dengan gunung sembarang gunung, tetapi gunung Sion. gunung Sion menjadi berbeda karena di sanalah Bait Allah berdiri. Itu berarti gunung Sion merupakan gunung pilihan. Allah sendiri telah memilihnya menjadi tempat kediaman-Nya. Gunung Sion telah menjadi tempat tinggal Allah di bumi. Karena itulah, Allah pasti akan melindunginya.

Demikian juga dengan orang yang percaya kepada Allah. Yang Mahatinggi akan senantiasa melindunginya karena telah memilihnya. Dan perlindungan itu bersifat kekal karena Allah itu kekal sifat-Nya.
Sesungguhnya kekekalan itu pulalah yang membedakan orang percaya dari orang fasik. Oleh karena itu—apalagi di tengah pandemi ini—tetap percaya kepada Allah merupakan jalan terlogis.

SMaNGaT,

Yoel M. Indrasmoro
Literatur Perkantas Nasional

Foto: Istimewa

Posted on Tinggalkan komentar

Jikalau Bukan TUHAN

Dalam nyanyian ziarahnya, di bait pertama Mazmur 124, Daud menulis: ”Jikalau bukan TUHAN yang memihak kepada kita,—biarlah Israel berkata demikian—jikalau bukan TUHAN yang memihak kepada kita, ketika manusia bangkit melawan kita, maka mereka telah menelan kita hidup-hidup, ketika amarah mereka menyala-nyala terhadap kita; maka air telah menghanyutkan kita, dan sungai telah mengalir melingkupi diri kita, maka telah mengalir melingkupi diri kita air yang meluap-luap itu.”

Daud tampaknya meyakini bahwa hidupnya hanyalah serangkaian pertolongan Allah semata. Sehebat-hebat dirinya, Daud menyadari bahwa kekuatan manusia terbatas—bisa dikalahkan dengan manusia lain, juga alam. Frasa ”korban bencana alam” memperlihatkan dengan gamblang bahwa manusia merupakan makhluk tak berdaya bila dihadapkan pada bencana alam. Sehingga, luput dari musuh, juga bencana alam, merupakan anugerah semata.

Melalui frasa ”jikalau bukan Tuhan yang memihak kepada kita” terlihat pula bagaimana Allah adalah Pribadi yang memihak. Itu pun memang anugerah belaka. Manusia tak perlu sombong bila Allah berpihak kepadanya. Sekali lagi itu memang hanya anugerah Allah.

Bagaimana pula dengan kita di tengah pandemi ini? Jika kita masih hidup, itu pun sungguh anugerah Allah. Karena itu, marilah kita kumandangkan dan selesaikan kalimat ini: ”Jikalau bukan Tuhan yang memihak kepada kita….”

SMaNGaT,

Yoel M. Indrasmoro
Literatur Perkantas Nasional

Foto: OC Gonzales