Posted on Tinggalkan komentar

Menunggu

Dalam nyanyian ziarahnya, di awal Mazmur 123, penyair menulis: ”Kepada-Mu aku melayangkan mataku, ya Engkau yang bersemayam di sorga. Lihat, seperti mata para hamba laki-laki memandang kepada tangan tuannya, seperti mata hamba perempuan memandang kepada tangan nyonyanya, demikianlah mata kita memandang kepada TUHAN, Allah kita, sampai Ia mengasihani kita.”

Penyair melayangkan pandangan matanya kepada Allah karena percaya hanya Allahlah andalannya. Dia tak lagi mau mengandalkan orang lain, juga dirinya, atau kekuatan lain. Dia sungguh sadar Allah itu Mahakuasa. Kemahakuasaan Allah menjadi alasan utama penyair menengadahkan kepalanya ke surga.

Dia menengadah kepada Allah seperti para hamba menggantungkan diri kepada tuan dan nyonya mereka. Dia tidak pernah mau berhenti berharap. Dia sungguh memahami bahwa Allah itu setia. Kesetiaan Allah pasti akan membuat Allah bertindak pada waktunya. Dan untuk itu penyair mau menghabiskan waktu dengan menunggu.

Menunggu memang bukan perkara gampang. Menunggu mensyaratkan kesetiaan dan kesabaran. Dan anugerah-anugerah Allah memang layak ditunggu, apalagi di tengah pandemi ini.

Selamat menunggu!

SMaNGaT,

Yoel M. Indrasmoro
Literatur Perkantas Nasional

Foto: Jon Asato

Posted on Tinggalkan komentar

Rumah TUHAN

Dalam ziarahnya, di awal Mazmur 122, Daud menulis: ”Aku bersukacita, ketika dikatakan orang kepadaku: ’Mari kita pergi ke rumah TUHAN.’” Inilah pengakuan Daud. Dia begitu gembira ketika orang mengajaknya untuk pergi ke Bait Allah.

Pergi ke Bait Allah berarti pergi menemui Allah untuk bersekutu dengan Dia. Persekutuan dengan Allah merupakan kebutuhan primer manusia karena Allah merupakan sumber hidup. Hidup sejati hanya mungkin ketika manusia bersekutu dengan Allah.

Tak hanya sendirian, namun dalam persekutuan. Allah tak hanya memanggil manusia sendirian. Manusia dipanggil bersekutu dengan Allah dalam persekutuan dengan manusia lain. Persekutuan dengan manusia lain merupakan gambaran nyata dari persekutuan manusia dengan Allah.

Awalan Mazmur 122 ini menjadi makin penting dan bermakna di tengah pandemi ini. Empat bulan sudah kita tak lagi bersekutu dengan warga jemaat lain di gereja. Pandemi—dan memang itu jalan terbaik—mendorong kita untuk beribadah di rumah masing-masing. Ada yang dengan tuntunan ibadah online atau tidak.

Apa pun itu, kita telah menjadikan rumah kita sebagai rumah Allah sendiri. Sehingga menjadi panggilan semua penghuni rumah untuk tetap menjaga tubuh, hati, dan pikirannya. Ingat kita sedang berada di rumah Allah!

SMaNGaT,

Yoel M. Indrasmoro
Literatur Perkantas Nasional

Foto: Andrew Seaman

Posted on Tinggalkan komentar

Pertolonganku ialah dari TUHAN

Dalam ziarahnya ke Yerusalem, di awal Mazmur 121, penyair menulis: ”Aku melayangkan mataku ke gunung-gunung….” Yerusalem dibangun di atas bukit sehingga dari situ orang bisa bebas melayangkan pandangannya. Tak hanya melayangkan pandang, penyair merasa perlu bertanya: ”Dari manakah datangnya pertolonganku?”

Tersirat penyair butuh pertolongan. Pertanyaan ini juga memperlihatkan kepada kita bahwa pemazmur sadar dia tidak mungkin hidup sendiri. Dia butuh pertolongan. Dan dia bertanya, ”Siapakah yang menjadi penolongnya?”

Berbicara soal penolong, pemazmur jujur. Sejak lahir, manusia butuh pertolongan manusia lain. Tangisan pertama merupakan tanda. Tangisan pertama merupakan bukti bahwa dia merasa tidak aman di dunia. Dan karena itulah, dia butuh pertolongan.

Manusia memang berbeda dengan anak ayam yang setelah keluar dari cangkang telur bisa langsung berjalan. Manusia butuh waktu setahun untuk berjalan. Dan dalam berjalan pun dia butuh pertolongan manusia lain untuk mengajarinya berjalan.

Penyair menyadari, di atas semuanya itu Tuhanlah yang menjadi sumber pertolongannya. Dengan tegas pemazmur menjawab sendiri pertanyaannya dengan: ”Pertolonganku ialah dari TUHAN, yang menjadikan langit dan bumi.” Pemazmur mengaku hanya Tuhanlah sumber pertolongan hidupnya. Ini merupakan sebuah pengakuan iman.

Meski demikian, jika dirunut lebih jauh, pengakuan iman ini lahir dari alur pikir sederhana. Manusia butuh manusia lain. Dan manusia lain itu tidak hadir dengan sendirinya. Tuhanlah yang menciptakannya. Sehingga, pada dasarnya hidup manusia memang ditopang oleh Tuhan sendiri. Dan karena itu layaklah setiap manusia berseru, ”Pertolonganku ialah dari TUHAN, yang menjadikan langit dan bumi.”

SMaNGaT,

Yoel M. Indrasmoro
Literatur Perkantas Nasional

Foto: Joshua Earle

Posted on Tinggalkan komentar

Tertipu

Mazmur 120 merupakan nyanyian ziarah. Kata Ibrani yang diterjemahkan dengan ”nyanyian ziarah” sebenarnya berarti ”naik”. Kata ini pulalah yang muncul di awal Mazmur 120-134. Yerusalem didirikan di atas perbukitan, dan Bait Allah ada di atas bukit bernama Sion. Kumpulan mazmur ini mungkin digunakan ketika umat ”naik” ke Yerusalem.

Pada awal mazmurnya penyair menulis: ”Dalam kesesakanku aku berseru kepada TUHAN dan Ia menjawab aku: ’Ya TUHAN, lepaskanlah aku dari pada bibir dusta, dari pada lidah penipu.’” Pada titik ini penyair merasa sesak mungkin karena ditipu.

Tertipu memang menyesakkan. Dan yang lebih menyesakkan lagi adalah kenyataan bahwa kita menjadi sulit memercayai orang itu kembali. Sesungguhnya inilah pergumulan besar bagi orang-orang yang pernah kena tipu: bagaimana caranya agar mampu memercayai orang itu lagi.

Agar tidak tertipu, kita perlu hikmat Allah. Sehingga bisa lepas dari jerat orang yang akan menipu kita. Namun demikian, jika kita pernah ditipu, baik jika kita belajar memercayai orang itu lagi. Bisa jadi dia menipu kita karena kepepet. Bagaimana jika kita juga berada dalam posisinya? Mungkin kita pun akan melakukan hal yang sama. Jika memang demikian, meski tak mudah, mari kita belajar untuk memercayainya lagi.

Sesungguhnya setiap orang bisa berubah. Karena itu, kita harus memberi kesempatan bagi dia untuk membuktikan perubahannya. Itulah sikap seorang Kristen.

SMaNGaT,

Yoel M. Indrasmoro
Literatur Perkantas Nasional

Foto: Leon Biss

Posted on Tinggalkan komentar

Taurat TUHAN

Penyair membuka Mazmur 119 dengan ucapan bahagia: ”Berbahagialah orang-orang yang hidupnya tidak bercela, yang hidup menurut Taurat TUHAN.” Hidup kudus menjadi panggilan umat Israel karena Allah telah menguduskan mereka menjadi satu umat. Hidup kudus berarti mengkhususkan diri hanya untuk Allah. Dan standarnya adalah Taurat TUHAN.

Mengapa disebut berbahagia? Salah satu alasannya adalah karena mereka telah memenuhi maksud Allah menciptakan mereka. Dalam ayat 73, penyair menyatakan: ” Tangan-Mu telah menjadikan aku dan membentuk aku, berilah aku pengertian, supaya aku dapat belajar perintah-perintah-Mu.”

Penyair agaknya menyadari Allah adalah pencipta manusia. Itu berarti Allah pulalah yang paling tahu bagaimana manusia harus menjalani panggilannya sebagai manusia. Dan manusia hanya bisa berfungsi sebagai manusia jika hidup menurut manual yang disediakan Allah.

Alkitab adalah manual hidup dan kehidupan manusia. Sehingga penyair memohon, ”Berilah aku pengertian, supaya aku dapat belajar perintah-perintah-Mu.”

Pengertian menjadi penting karena Allahlah yang menciptakan manual itu. Lagi pula pengertian manusia pun terbatas. Yang paling aman, dan pasti nyaman, adalah minta pengertian sebagaimana penyair.

Pengertian yang benar akan membuat kita akhirnya berkata seperti penyair pada ayat 71: ”Bahwa aku tertindas itu baik bagiku, supaya aku belajar ketetapan-ketetapan-Mu.” Ikhtiar semacam ini baik pula kita kumandangkan juga pada masa pandemi ini.

SMaNGaT,

Yoel M. Indrasmoro
Literatur Perkantas Nasional

Foto: Istimewa

Posted on 2 Komentar

Bukan Sembarang Hari

”Nyanyian Puji-pujian” merupakan judul yang diberikan redaksi Lembaga Alkitab Indonesia untuk Mazmur 118. Spektrum mazmur ini cukup panjang. Pada ayat 24-25, penyair menulis: ”Inilah hari yang dijadikan TUHAN, marilah kita bersorak-sorak dan bersukacita karenanya!” (Mzm. 118:24).

Sejatinya syair ini merujuk pada kisah Paskah. Paskah merupakan Hari Raya Kemerdekaan Israel dari belenggu penjajahan Mesir. Sehingga mereka berseru: ”Inilah hari yang dijadikan TUHAN, marilah kita bersorak-sorak dan bersukacita karenanya!” This is the day that The Lord has made!

Ada lagu yang cukup dikenal baik dalam bahasa Inggris maupun terjemahannya: This is the day. Sayangnya, lirik awal lagu itu diterjemahkan: ”Hari ini hari ini harinya Tuhan”. Lebih sayang lagi, ketika orang menambahkan bait berikut: ”Hari Senin Hari Selasa harinya Tuhan….”

Tak ada yang salah dalam bahasa Indonesianya karena semua hari memang ciptaan Tuhan. Namun, terjemahan itu menghilangkan makna Paskah dari lagu tersebut. Hari itu bukan sembarang hari. Itu hari khusus ketika Allah membebaskan umat-Nya.

Paskah juga merupakan hari kemerdekaan setiap Kristen—ketika Yesus Kristus bangkit dari kubur! Kebangkitan itu menyatakan dengan jelas bahwa kematian Yesus Orang Nazaret pada Jumat Agung sungguh penting dan bermakna.

Salib adalah lambang keadilan sekaligus kasih Allah. Allah Mahaadil: upah dosa adalah maut. Allah Mahakasih: Dia ingin menyelamatkan manusia dari maut. Allah tidak mungkin kontradiksi dalam diri-Nya sendiri. Pada salib itu Allah menjadikan diri-Nya tumbal dengan menanggung upah dosa itu. Salib adalah lambang keadilan sekaligus kasih Allah. Dan kebangkitan Yesus Kristus membuktikan bahwa penyaliban-Nya tidak sia-sia.

Apa makna Nyanyian Paskah di tengah pandemi ini? Kepada jemaat di Roma, Paulus menulis: ”Ia, yang tidak menyayangkan Anak-Nya sendiri, tetapi yang menyerahkan-Nya bagi kita semua, bagaimanakah mungkin Ia tidak mengaruniakan segala sesuatu kepada kita bersama-sama dengan Dia?” Itu berarti dalam masa pandemi kita layak percaya bahwa Allah akan tetap memberikan yang terbaik buat kita. Percayalah!

SMaNGaT,

Yoel M. Indrasmoro
Literatur Perkantas Nasional

Foto: Stil Classics

Posted on Tinggalkan komentar

Hai Segala Bangsa

”Pujilah TUHAN, hai segala bangsa, megahkanlah Dia, hai segala suku bangsa! Sebab kasih-Nya hebat atas kita, dan kesetiaan TUHAN untuk selama-lamanya. Haleluya!” Demikianlah Mazmur 117—mazmur terpendek dalam Kitab Mazmur.

Meski pendek, penyair tampaknya memperlihatkan hakikat sebuah mazmur. Pertama, dia mengajak segala bangsa, termasuk suku bangsa, untuk memuliakan Allah. Mengapa? Sebab layaklah bagi segala suku bangsa untuk memuji Allah.

Jelaslah, penyair tak hendak memuji Allah sendirian, dia mengajak segala bangsa memuji Allah. Mazmur yang baik memang demikian. Tak hanya membuat pemazmur memegahkan Allah, tetapi juga mendorong orang lain melakukan hal yang sama. Mazmur yang baik tak hanya berkait dengan hubungan vertikal—Allah dan manusia; tetapi juga horisontal—manusia dan manusia.

Pada titik ini panggilan utama sebuah paduan suara atau kelompok vokal di gereja adalah mendorong warga jemaat turut memuliakan Allah. Jangan sampai warga jemaat hanya terpesona dengan kemerduan suara. Keberhasilan paduan suara atau kelompok vokal adalah ketika warga jemaat tergerak memuji Allah meski dalam hati.

Kedua, penyair menekankan hebatnya kasih Allah dan ajeknya kesetiaan Allah. Percaya bahwa kesetiaan Allah untuk selama-lamanya merupakan persoalan iman. Dan iman macam begini sungguh modal utama kala pandemi.

SMaNGaT,

Yoel M. Indrasmoro
Literatur Perkantas Nasional

Foto: Alora Griffiths

Posted on Tinggalkan komentar

Genapi Janji

”Bagaimana akan kubalas kepada TUHAN segala kebajikan-Nya kepadaku? Aku akan mengangkat piala keselamatan, dan akan menyerukan nama TUHAN, akan membayar nazarku kepada TUHAN di depan seluruh umat-Nya.” Demikianlah pertanyaan dan jawaban penyair Mazmur 116. Dia yang bertanya, dia pula yang menyawab.

Dalam bait dua itu, penyair mempertanyakan apa yang akan dia lakukan bagi Allah yang telah menyembuhkannya dari sakit. Jawabannya adalah membawa persembahan anggur dan memenuhi janji. Membawa persembahan merupakan simbol kehambaan seseorang. Dari tindakan itu tersirat bahwa orang tersebut mengakui keberadaannya sebagai hamba Allah.

Sedangkan untuk pemenuhan janji, kita tak perlu menyempitkannya hanya pada janji sewaktu sakit. Bisa jadi ada banyak janji yang pernah kita ucapkan baik kepada Allah maupun manusia. Mungkin saja penyakit membuat kita menunda penggenapan janji tersebut.

Nah, sembuh dari sakit merupakan saat yang paling tepat bagi kita untuk melunasi semua janji kita. Mengapa? Kelihatannya—melalui kesembuhan itu—Allah sedang memberikan kita kesempatan untuk membayar semua janji kita.

Namun demikian, bagi kita yang sehat walafiat, mazmur ini mengingatkan bahwa kita adalah hamba Allah. Dan sebagai hamba Allah kita memang harus menggenapi semua janji kita selagi masih ada waktu, meski di tengah pandemi ini.

SMaNGaT,

Yoel M. Indrasmoro
Literatur Perkantas Nasional

Foto: Daniel von Appen

Posted on Tinggalkan komentar

Hanya bagi Allah

Hanya Dekat Allah (5 Juli 2020)

Hanya bagi Allah

”Bukan kepada kami, ya TUHAN, bukan kepada kami, tetapi kepada nama-Mulah beri kemuliaan, oleh karena kasih-Mu, oleh karena setia-Mu!” Demikianlah penyair memulai Mazmur 115. Penyair mengajak umat untuk mengikhtiarkan hal yang sama: kemuliaan hanya bagi Allah. Alasannya: kasih dan setia Allah.

Ya, kasih dan setia Allah sesungguhnya merupakan modal hidup umat Allah. Kasih yang bukan temporer atau kadang-kadang, tetapi kasih yang ajek—tetap, teratur, dan tidak berubah. Dan ketika bangsa-bangsa lain mempertanyakan keberadaan Allah Israel, penyair menegaskan pada ayat 3: ”Allah kita di sorga; Ia melakukan apa yang dikehendaki-Nya!”

Penyair memperlihatkan bahwa Allah berdaulat. Dia melakukan apa yang dikehendaki-Nya. Dan kehendak-Nya adalah yang terbaik bagi manusia. Mungkin ini juga persoalannya, kadang sulit bagi kita untuk memercayai bahwa yang dilakukan-Nya adalah yang terbaik bagi kita.

Pada titik ini kita perlu terus belajar percaya bahwa Allah itu setia dan tetap mengasihi, juga di tengah masa pandemi ini yang sepertinya enggan berhenti.

SMaNGaT,

Yoel M. Indrasmoro
Literatur Perkantas Nasional

Foto: Tory Morrison

Posted on Tinggalkan komentar

Gemetar di Hadapan TUHAN

Dalam bait terakhir Mazmur 114, sekaligus sebuah kesimpulan, penyair menulis: ”Gemetarlah, hai bumi, di hadapan TUHAN, di hadapan Allah Yakub, yang mengubah gunung batu menjadi kolam air, dan batu yang keras menjadi mata air!”

Mengapa gemetar? Sebab tidak ada yang mustahil bagi Allah. Dalam perjalanan Israel dari Mesir ke Kanaan, Allah mencukupkan kebutuhan umat pilihan-Nya akan air dengan mengeluarkan air dari bebatuan. Dan kisah pembebasan Israel dari Mesir memang sarat dengan mukjizat.

Mulai dari sepuluh tulah yang menimpa rakyat Mesir, Laut Teberau terbelah, pemberian air, manna, dan burung puyuh, kemenangan terhadap bangsa-bangsa lain, hingga sungai Yordan yang berhenti mengalir.

Namun demikian, mukjizat terbesar adalah pemilihan Allah atas Israel. Jika diperhatikan dengan cermat, pemilihan Israel sebagai umat pilihan pun sebuah mukjizat. Allah memilih sebuah bangsa yang sejatinya tak layak dipilih dan diperjuangkan. Israel bukanlah tipe bangsa setia. Kepercayaan mereka kepada Allah naik turun bak _roller coaster_.

Tak beda dengan kita sebenarnya. Tak ada alasan apa pun bagi Allah saat memilih kita menjadi umat-Nya. Semuanya hanya anugerah. Sola Gratia. Karena itu, jangan sia-siakan anugerah Allah, juga di masa pandemi ini.

SMaNGaT,

Yoel M. Indrasmoro
Literatur Perkantas Nasional

Foto: Istimewa