Posted on Tinggalkan komentar

Bukan Sembarang Hari

”Nyanyian Puji-pujian” merupakan judul yang diberikan redaksi Lembaga Alkitab Indonesia untuk Mazmur 118. Spektrum mazmur ini cukup panjang. Pada ayat 24-25, penyair menulis: ”Inilah hari yang dijadikan TUHAN, marilah kita bersorak-sorak dan bersukacita karenanya!” (Mzm. 118:24).

Sejatinya syair ini merujuk pada kisah Paskah. Paskah merupakan Hari Raya Kemerdekaan Israel dari belenggu penjajahan Mesir. Sehingga mereka berseru: ”Inilah hari yang dijadikan TUHAN, marilah kita bersorak-sorak dan bersukacita karenanya!” This is the day that The Lord has made!

Ada lagu yang cukup dikenal baik dalam bahasa Inggris maupun terjemahannya: This is the day. Sayangnya, lirik awal lagu itu diterjemahkan: ”Hari ini hari ini harinya Tuhan”. Lebih sayang lagi, ketika orang menambahkan bait berikut: ”Hari Senin Hari Selasa harinya Tuhan….”

Tak ada yang salah dalam bahasa Indonesianya karena semua hari memang ciptaan Tuhan. Namun, terjemahan itu menghilangkan makna Paskah dari lagu tersebut. Hari itu bukan sembarang hari. Itu hari khusus ketika Allah membebaskan umat-Nya.

Paskah juga merupakan hari kemerdekaan setiap Kristen—ketika Yesus Kristus bangkit dari kubur! Kebangkitan itu menyatakan dengan jelas bahwa kematian Yesus Orang Nazaret pada Jumat Agung sungguh penting dan bermakna.

Salib adalah lambang keadilan sekaligus kasih Allah. Allah Mahaadil: upah dosa adalah maut. Allah Mahakasih: Dia ingin menyelamatkan manusia dari maut. Allah tidak mungkin kontradiksi dalam diri-Nya sendiri. Pada salib itu Allah menjadikan diri-Nya tumbal dengan menanggung upah dosa itu. Salib adalah lambang keadilan sekaligus kasih Allah. Dan kebangkitan Yesus Kristus membuktikan bahwa penyaliban-Nya tidak sia-sia.

Apa makna Nyanyian Paskah di tengah pandemi ini? Kepada jemaat di Roma, Paulus menulis: ”Ia, yang tidak menyayangkan Anak-Nya sendiri, tetapi yang menyerahkan-Nya bagi kita semua, bagaimanakah mungkin Ia tidak mengaruniakan segala sesuatu kepada kita bersama-sama dengan Dia?” Itu berarti dalam masa pandemi kita layak percaya bahwa Allah akan tetap memberikan yang terbaik buat kita. Percayalah!

SMaNGaT,

Yoel M. Indrasmoro
Literatur Perkantas Nasional

Foto: Stil Classics

Bagikan:

Tinggalkan Balasan