Posted on Tinggalkan komentar

Takut akan TUHAN

Mazmur 128 dimulai dengan ucapan bahagia: ”Berbahagialah setiap orang yang takut akan TUHAN, yang hidup menurut jalan yang ditunjukkan-Nya!” Mengapa disebut berbahagia? Sebab Allah menciptakan manusia untuk bersekutu dengan-Nya.

Bersekutu dengan Sumber Hidup akan menjadikan manusia terus hidup. Dan persekutuan itu akan terus berlangsung selama manusia terus bersikap dan bertindak sebagai hamba Allah. Dan hamba Allah niscaya seturut dengan kehendak Allah.

Sayangnya, Adam dan Hawa—manusia-manusia pertama—tidak melihat persekutuan itu sebagai hal berharga yang harus dipertahankan. Dengan kesadaran sendiri mereka memutuskan hubungan dengan Allah itu ketika mereka tak lagi bersikap dan bertindak sebagai hamba Allah.

Namun demikian, panggilan untuk terus bersekutu dengan manusia tidak pernah hilang dari hati Allah. Allah tetap memanggil manusia hingga hari ini. Itulah juga sebabnya pemazmur mengingatkan bahwa hal yang paling membahagiakan manusia adalah persekutuan dengan Allah.

Dan persekutuan dengan Allah itu memungkinkan manusia merasakan berkat-berkat Allah secara langsung. Pertama, dia akan dimampukan Allah untuk memakan hasil jerih payahnya sendiri. Menikmati hasil pekerjaan sendiri merupakan berkat. Sebab tak sedikit orang yang tak lagi mampu menikmati hasil keringatnya sendiri. Pemahaman bahwa pekerjaan adalah anugerah Allah akan menolong manusia mampu bersyukur atas rejeki pemberian Allah itu.

Kedua, dia akan mampu menikmati damai sejahtera Allah dalam hidup berkeluarga. Keluarga pun adalah anugerah Allah. Tentu ada saja persoalan dalam sebuah keluarga. Namun, ketika semua persoalan itu diletakkan pada dasar anugerah, rasa syukur niscaya menghangatkan hati setiap anggota keluarga.

Dan kedua hal itu—berkat atas kerja dan keluarga—hanya mungkin dirasakan saat manusia terus menjaga persekutuannya dengan Allah. Percayalah!

SMaNGaT,

Yoel M. Indrasmoro
Literatur Perkantas Nasional

Foto: Istimewa

Bagikan:

Tinggalkan Balasan