Posted on Tinggalkan komentar

Konsisten

”Lihatlah Anak domba Allah yang menghapus dosa dunia” (Yoh. 1:29).

Photo by rawpixel on Unsplash

Demikianlah Yohanes Pembaptis memperkenalkan Yesus kepada para muridnya. Tentu Yohanes, tidak hanya mengajak para muridnya untuk melihat, tetapi lebih jauh lagi melakukan sesuatu setelah melihat Anak Domba Allah itu. Tampaknya, Yohanes Pembaptis tidak hanya ingin para muridnya melihat, tetapi bertindak setelah kegiatan melihat itu.

Akan tetapi, para muridnya tidak melakukan apa-apa. Keesokan harinya—saat bersama dengan dua orang muridnya—Yohanes kembali berseru, ”Lihatlah Anak domba Allah!” Dan kedua muridnya itu melakukan sesuatu.

Jika pada perkenalan pertama, tak ada satu pun yang bergerak. Pada perkenalan kedua ini, penulis Injil Yohanes mencatat bahwa dua orang murid itu mengikuti Yesus dari jauh. Setelah menyampaikan maksud mereka, Yesus, Sang Anak Domba Allah, berkata, ”Marilah dan kamu akan melihatnya.”

Salah seorang murid itu, Andreas—karena terkesan dengan pribadi Yesus—membawa Simon, saudaranya, untuk bertemu Sang Guru. Simon pun kemudian menjadi murid Yesus.

Kita, orang percaya abad XXI, perlu belajar dari Yohanes Pembaptis yang konsisten memperkenalkan Yesus kepada para muridnya. Dia tidak bosan-bosannya memperkenalkan Yesus sebagai Anak Domba Allah.

Bayangkan, seandainya Yohanes Pembaptis hanya sekali memperkenalkan Yesus kepada para muridnya! Bisa jadi Sang Guru tidak pernah mendapatkan murid-murid terbaik!

Memperkenalkan Yesus kepada orang di sekitar kita perlu dijalankan secara konsisten. Tak hanya dengan kata, tetapi juga dengan karya. Pun di tempat kerja kita.

Selamat bekerja,

Yoel M. Indrasmoro
Direktur Literatur Perkantas Nasional

Bagikan:
Posted on Tinggalkan komentar

Ajaib Benar Anugerah

Banyak pandangan mengenai anugerah. A.W Tozer mengatakan bahwa anugerah muncul dari kebaikan Allah. Rahmat adalah kebaikan Allah yang menghadapi kesalahan manusia dan anugerah adalah kebaikan Allah yang menghadapi kelemahan manusia.

Anugerah adalah kasih dan kemurahan hati Allah bagi kita. Allah selalu bermurah hati, Ia tidak pernah lebih bermurah hati dan tidak pernah kurang bermurah hati. Sebagai manusia yang bercela, kita merindukan anugerah Allah. Kita harus siap mengatakan bahwa di dalam diri kita sendiri, kita tidak lebih dari seorang yang bercela. Sebelum kita memahami itu, kita tidak akan pernah mengerti anugerah Allah yang ajaib.

Anugerah merupakan kegemaran Allah dan Kristuslah perantara untuk mengalirkan anugerah itu, dan anugerah Allah adalah keselamatan kita. Anugerah Allah membuat-Nya tidak menghancurkan manusia walaupun manusia jatuh ke dalam dosa, tetapi sebaliknya anugerah keselamatan yang membawa manusia ke dalam persekutuan dengan Allah.

Allah adalah pribadi yang baik hati, dan akan selalu begitu. Anugerah juga merupakan kebaikan hati Allah. Allah tidak pernah membenci atau mempunyai rasa dengki, termasuk kepada kita. Terkadang kita bisa menahan rasa jengkel terhadap seseorang, tetapi itu tidak berlangsung lama, mereka bisa membuat kita jengkel kembali, tetapi Allah tidak mempunyai sifat seperti ini. Allah terus memberikan anugerah-Nya walaupun kita selalu menyakiti hati-Nya.

Kenyataan lain tentang anugerah adalah anugerah Allah tidak terbatas dan tidak ada batas di mana pun bagi Allah. Ia terus memberikan anugerah-Nya bagi kita semua. Kita harus siap merendahkan diri kita dan menyadari bahwa kita tidak sempurna, maka kita akan melihat begitu banyak anugerah-Nya yang kita terima.

Kehidupan kita bisa menjadi kesaksian tentang anugerah Allah yang sungguh ajaib.

 

Heru Santoso

Literatur Perkantas Nasional

 

Bagikan:
Posted on Tinggalkan komentar

Lalu

 

”Lalu pergilah Abram seperti yang difirmankan TUHAN kepadanya” (Kel. 12:4a).

Demikianlah catatan penulis Kitab Kejadian. Kata ”lalu” yang dipakai memperlihatkan bahwa kalimat ini merupakan lanjutan kalimat-kalimat sebelumnya. Dengan kata lain, kalimat yang dimulai dengan ”lalu” itu merupakan respons Abram.

Kita tidak pernah tahu dengan pasti berapa waktu yang dibutuhkan Abram dalam pengambilan keputusan. Kita juga tidak pernah tahu dengan pasti apakah Abram menggumuli panggilan Allah itu sendirian atau berembug dengan Sarai istrinya. Itu bukanlah pokok perhatian penulis kitab. Bagi dia, yang penting ialah Abram menanggapi panggilan Allah itu; Abram melakukan perintah TUHAN.

Mengapa Abram melakukannya? Apakah karena memang dia sungguh-sungguh percaya kepada Allah? Ataukah karena iming-iming janji—menjadi bangsa yang besar? Lagi-lagi, penulis Kitab Kejadian tidak merasa perlu menjawab rasa penasaran kita. Motivasi itu agaknya menjadi rahasia mereka berdua: TUHAN dan Abram.

Lalu, apa makna kisah Abram ini bagi kita, orang percaya abad XXI ini? Pertama, Tuhan masih berfirman hingga kini. Tuhan menyapa kita dalam beragam cara: buku yang kita baca, musik yang kita dengar, situasi dan permasalahan kantor, kolega, anggota keluarga kita, dan tentu saja Alkitab. Persoalannya: apakah kita mendengarkan sapaan-Nya itu? Apakah kita cukup peka mendengarkan kehendak Tuhan?

Kedua, Tuhan menanti tanggapan kita. Persoalannya: Apakah kita mau menanggapinya atau tidak? Dan tanggapan itu hanya mungkin terjadi tatkala kita sungguh mau mendengarkan suara-Nya, juga di tengah kesibukan dunia kerja kita hari ini.

Lalu?

Selamat bekerja,

Yoel M. Indrasmoro
Direktur Literatur Perkantas Nasional

Bagikan:
Posted on Tinggalkan komentar

Inspirasi Jumat Siang: Tidak Ada Batas bagi Kasih Allah

”Jika Allah tidak terbatas, maka kasih-Nya tidak terbatas.” Demikianlah penerangan A.W. Tozer berkait dengan kasih Allah yang tertulis dalam bukunya Mengasihi Yang Mahakudus.

Agaknya Tozer menyadari pentingnya hal ini untuk kita pahami. Kadang-kadang manusia meragukan kasih Allah, dan keraguan ini muncul akibat dosa. Dosa mampu mengintimidasi manusia hingga manusia mempertanyakan kasih Allah, ”Masihkah Allah mengasihi saya setelah apa yang saya lakukan?”

Dalam hal ini kita perlu mengingat firman Tuhan, ”Tetapi di mana dosa bertambah banyak, di sana anugerah menjadi berlimpah-limpah” (Rm. 5:20b). Tozer pun memperjelas hal ini: ”Ketika anugerah Allah yang tidak terbatas menyerang keterbatasan dosa manusia, maka dosa tidak memiliki kesempatan. Jika kita bertobat dan berbalik kepada Allah, Allah akan menghancurleburkan dan menggulungnya ke dalam kemahaluasan; di mana dosa tidak akan dikenal lagi.”

Berkenaan dengan dosa, yang perlu kita lakukan adalah bertobat! Karena hanya dengan bertobat dan percaya kita dapat menerima anugerah Allah dan diselamatkan. Dan pertobatan merupakan karya Roh Kudus. Oleh karena itu, dalam hal ini kita perlu memohon pertolongan Roh Kudus. Dan ketika pertobatan terjadi barulah kita menyadari betapa Allah begitu mengasihi kita dengan melimpahkan anugerah-Nya kepada kita.

Kasih Allah tidak dapat disamakan dengan kasih manusia, sebab kasih manusia terbatas. Pada saat manusia mati maka kasihnya ikut mati bersamanya. Akan tetapi, Allah tidak dapat mati, dan karena itu kasih-Nya juga tidak dapat mati. Dan inilah yang Tozer yakini tentang kasih Allah bahwa tidak ada batas bagi kasih Allah; kasih Allah tak terhingga cukup untuk mencakup seluruh surga dan juga neraka.

Oleh karena itu, patutlah kita melantunkan pujian Agunglah Kasih Allahku (NKB 17) karya F.M. Lehman:

Agunglah kasih Allahku, tiada yang setaranya;
Neraka dapat direngkuh, kartika pun tergapailah.
Kar’na kasih-Nya agunglah, Sang Putra menjelma,
Dia mencari yang sesat dan diampuni-Nya

Refrein:
O Kasih Allah agunglah! Tiada bandingnya!
Kekal teguh dan mulia! Dijunjung umat-Nya.

Citra Dewi Siahaan
Literatur Perkantas Nasional

Bagikan:
Posted on Tinggalkan komentar

Resensi Buku: Perjalanan “Rekreasi” Buku Teologi Anak: Sebuah Kajian

 

Ditulis Oleh

Wisnu Sapto Nugroho

 

Pengantar

Pdt. Yoel Indrasmoro mengawali buku ini dengan mengajak pembaca melihat realitas tentang dijumpainya anak-anak yang tidak sejahtera dalam hidupnya. Di sisi lain, Pdt. Yoel mengapresiasi program-program yang dilakukan pemerintah dengan gerakan kota, Puskesmas, Sekolah Ramah Anak. Semua itu dimaksudkan untuk mewujudkan Indonesia Layak Anak 2030. Yoel menyampaikan juga bahwa masalah yang dihadapi anak sejatinya terkait erat dengan relasi orang tua–anak, faktor budaya. Terkait dengan itu pula, pemimpin Gereja dan sekolah-sekolah teologi tidak bisa lepas tangan sebab masalah yang dihadapi anak juga terkait dengan cara pandang terhadap teks kitab suci.

Kajian teologi anak kontekstual dibuka dengan prolog oleh Pdt. Daniel Nuhamara. Tulisan Pdt. Daniel Nuhamara tentang teologi anak mengenalkan bahwa Teologi Anak (Child Theology) merupakan istilah baru yang diperkenalkan oleh suatu gerakan bernama Child Theology Movement (Gerakan Teologi Anak). Namun diakui bahwa teologi anak masih dalam proses pengembangan.

Bagi pelaku Gerakan Teologi Anak, memang Teologi Anak itu berurusan dengan anak (anak-anak), tetapi pertama-tama ia adalah teologi, yakni studi tentang Tuhan sebagai subjek utamanya. Apa kehendak Tuhan dalam atau dari perspektif anak (hlm. 16-17). Dengan melihat Matius 18:1-5, kita boleh menyebut pendekatan dengan perspektif ”a child in their midst” inilah yang membedakan Teologi Anak dengan teologi-teologi lainnya. Dengan pendekatan atau perspektif anak-anak di tengah-tengah dalam refleksi teologis akan didapat beberapa hal yang perlu digarisbawahi seperti: anak-anak sebagai agen dalam berteologi serta teologi anak menjadi respons terhadap Tuhan (hlm. 18).

Photo by Robert Collins on Unsplash

Siapakah Anak Itu?

Mengawali tulisan ini, kita diajak melihat siapakah anak itu? Mengacu pada Undang-Undang Perlindungan Anak Nomor 35 Tahun 2014 pasal 1 disebutkan bahwa yang dimaksud dengan anak adalah seseorang yang belum berusia 18 tahun, termasuk yang masih dalam kandungan.

Siapakah anak menurut Alkitab dan bagaimana anak dalam Alkitab? Pdt. Justitia Vox Dei Hattu mengajak kita melakukan ”rekreasi” dengan topik anak dalam Alkitab. Dari data dalam Alkitab tampak bahwa cukup sering anak dipercakapkan dalam Alkitab (hlm. 42). Dengan memotret anak dalam Alkitab, kita ditolong untuk: (a) melihat berbagai ”panorama” tentang anak dalam Alkitab. (b) mendapatkan sumber-sumber (berteologi) yang tepat tentang anak. ”Panorama” anak dalam Alkitab tampak bahwa wajah anak dalam Alkitab adalah wajah yang beragam. Tampak dalam Alkitab tindakan pro-anak dengan pengharapan besar bagi mereka. Alkitab menuturkan bahwa anak-anak bertumbuh dalam asuhan dan didikan keluarga–komunitas. Hal itu menunjukkan bahwa anak sangat dihargai perannya sebagai penerus iman dan kasih setia Tuhan, termasuk identitas keyahudian (hlm. 43-44).

Belajar dari tindakan Yesus dalam menyambut anak merupakan salah satu sumber inspirasi bagi teologi pelayanan bersama anak. Dalam karya-Nya, Yesus menerima anak-anak (Mark. 10:13-16). Ia marah terhadap para murid yang menghalangi anak-anak datang kepada-Nya. Pelukan Yesus bagi anak merupakan tindakan pastoral yang hangat. Sebagai klimaksnya, Yesus memberkati anak-anak. Berkat itu merupakan peneguhan Yesus terhadap anak-anak sekaligus sebagai tindakan yang merobohkan tembok pembatas yang dibangun masyarakat kala itu. Tindakan Yesus membawa anak-anak dari garis lingkar luar komunitas menuju ke pusat komunitas; dari yang sebelumnya dianggap remeh dan di sepelekan ke tempat di mana ia hargai, dihormati dan dicintai sebagaimana seharusnya (hlm. 53-57).

Anak dari Berbagai Sudut Pandang

Beranjak dari pandangan anak dalam Alkitab, ”rekreasi” dilanjutkan dengan kajian tentang anak dalam Gereja sebagaimana dikaji oleh Pdt. Setiyadi. Kala anak-anak datang, disitulah sukacita dalam Tuhan turut berkembang. Bangunan logika semacam itu perlu dikelola supaya kisah-kisah anak yang berteologi mendapat artikulasi (hlm. 59). Menurut Setiyadi, anak-anak berteologi menurut pandangan dunianya. Pandangan dunia bisa didapat lewat cerapan pancaindranya. Bisa saja lewat tuturan yang masih terbata hingga rengekan dan tangisan sebagai ekspresi jiwanya. Dalam kajiannya, Pdt. Setiyadi mengulas peran anak dalam ibadah (acintyabhakti) mulai dari ritus berhimpun, mendengar sabda, perjamuan meja (ekaristi) dan pengutusan. Selain itu anak dapat berperan dalam acintyabhakti di masa raya Gerejawi (adven-natal, paska, pentakosta). Pengalaman dengan pola asuh, pola asih dan pola asah Keluarga Kudus Nazaret menegaskan bahwa sejak dini anak memiliki pengalaman teologi dan hal itu perlu dikembangkan (hlm. 67-74).

Susi Rio Panjaitan dalam tulisan: Anak dalam Budaya mengajak kita ”berekreasi” melihat bahwa salah satu cara dan pola asuh orang tua dan care giver dalam merawat, mengasuh, dan mendidik anak adalah budaya yang mereka hidupi. Setiap daerah di Indonesia memiliki pandangan tersendiri terhadap anak, baik dalam memaknai, cara mengurus anak, cara mendidik anak dan hal-hal lain terkait anak. Hal itu tergantung nilai-nilai dan kearifan lokal yang dimiliki oleh masing-masing daerah (hlm. 75). Susi Rio Panjaitan menuliskan seperti apa cara pandang, cara asuh dari budaya-budaya di Indonesia terhadap anak, seperti dalam budaya Batak, Banten, Sumba, Alor, Timor, Rote, Nias, Bali, Maluku (hlm. 79-91). Dari kajian itu tampak bahwa dalam budaya Indonesia, anak laki-laki menjadi pemimpin dan yang bertanggungjawab atas keluarga. Kepatuhan pada orang tua menjadi nilai yang penting. Anak yang tidak patuh disebut durhaka dan bisa menerima kutukan. Dalam budaya Indonesia tampak juga bahwa anak adalah milik orang tua sehingga orang tua punya otoritas penuh terhadap anak-anaknya. Anak sama sekali tidak diberi kesempatan untuk mengemukakan pendapat dan perasaannya. Anak juga tidak diberi kesempatan menentukan masa depannya sendiri. (hlm. 91-93).

Bagaimana anak dalam sekolah? James Wambrauw dalam tulisannya mengundang kita ”berekreasi” tentang hal itu. Sekolah merupakan entitas yang diberi kewenangan oleh negara untuk melakukan proses pendidikan bagi anak. Pendidikan adalah hak dari setiap warga negara Indonesia secara keseluruhan dan wajib dipenuhi oleh negara. Karena luasnya domain pendidikan maka menurut James Mambrauw, sekolah tidak hanya dilihat dari sisi sekolah formal, melainkan juga sisi lain. Karena itu Mambrauw menuliskan sekolah-sekolah bagi tumbuh kembang anak itu meliputi: sekolah keluarga, sekolah minggu (non formal), sekolah umum (formal), sekolah masyarakat (kontekstual), sekolah bangsa (negara), sekolah hidup (komitmen pribadi) (hlm 101 – 110). Masing-masing sekolah memiliki kekhasan, tujuan dan metode masing-masing.

Sebagaimana warga negara lain, anak-anak disebut sebagai subyek hukum. S.S. Benyamin Lumy mengajak kita ”rekreasi” dengan melihat tulisan anak dalam perspektif hukum. Proses tumbuh kembang yang baik dari penduduk kelompok usia anak sangat berpengaruh terhadap masa depan bangsa. Kesejahteraan anak tidak dapat dilepaskan dari kesejahteraan di masyarakat. Karena itu perlindungan anak merupakan hal penting dan melindungi anak merupakan sebuah amanat undang-undang. Dalam konvensi PBB terdapat empat prinsip umum yang harus dipenuhi dalam upaya perlindungan anak seperti: prinsip non diskriminasi, prinsip kepentingan anak, prinsip atas keberlangsungan hidup dan tumbuh kembang anak, prinsip penghargaan terhadap anak (hlm. 124-125). Benyamin Lumy menyebut jenis-jenis kekerasan itu seperti: kekerasan fisik, kekerasan psikis atau emosional, kekerasan seksual, penelantaran anak, kekerasan seksual, kekerasan pada media sosial (hlm. 128-134). Bila melihat hal itu, tidak ada kata lain, selain: laporkan (hlm. 136).

Beranjak dari ”tempat rekreasi” tentang anak dan hukum, kita melanjutkan ”rekreasi” ke anak dalam media. Tornado Gregorius Silitonga menuliskan realitas tentang hilangnya relasi hangat antara orang tua dan anak karena diganti dengan relasi anak dengan layar seukuran tujuh inci (hlm. 138). Pola asuh gawai telah mengubah pola asuh keluarga. Kecenderungan anak-anak generasi ini yang sanggup menghabiskan ”screen time” jauh lebih lama dibanding generasi sebelumnya. Dampaknya mereka kekurangan waktu bergerak. Akibat lain: anak malas berimajinasi, konsentrasi menurun, kedalaman informasi menurun dan relasi sosial juga menurun. Selain itu saat ini, angka kekerasan yang dipicu oleh internet dan media sosial banyak terjadi (hlm. 143). Hal itu perlu dipikirkan bersama dan dicari jalan keluarnya.

Kita melanjutkan ”rekreasi” ke tulisan Magylon Carolina Tuasuun dengan tulisan anak dalam keluarga. Keluarga Kristen yang didiami oleh Roh Allah mestinya menjadi Gereja bagi masa anak-anak. Semua kegiatan anak dalam keluarga membentuk kepribadian dan berdampak bagi orang tua. Di balik semua kegiatan di rumah ada kurikulum tersembunyi (hidden curriculum) untuk semua anggota keluarga (hlm. 150-151). Oleh karena itu, dalam keluarga terdapat hal-hal penting yang mesti dihidupi keluarga seperti: relasi suami–istri (sebagai ayah–ibu). Ayah–ibu bukan sekadar menjalankan tugas pro-kreasi, namun juga rekreasi dalam kehidupan rumah tangga.

Setelah berkreasi dari berbagai kajian tentang anak, Susi Rio Panjaitan mengajak kita ”berekreasi” dengan melihat anak dalam pandangan anak. Menurut Susi, ada anggapan bahwa orang tua paling tahu yang terbaik buat anak dan anggapan bahwa semua orang tua pasti menginginkan yang terbaik buat anak menjadi pangangan umum dalam masyarakat. Pandangan itu menunjukkan bahwa anak belum menjadi fokus. Akhirnya jika anak mengalami masalah, anak dianggap merepotkan. Sebagaimana dengan orang dewasa, anak juga ingin didengarkan, tidak mau dan tidak suka disalahkan, dilabel negatif dan dihukum. Seandainya anak didengarkan dengan baik dan pendapat mereka dipertimbangkan, maka ada kemungkinan masalah-masalah yang dipaparkan tadi bisa ditangani dan dikurangi dampak negatifnya (hlm. 158-160).

Dengan mengutip pandangan Sinanga, Susi menyebut ada sepuluh hal sederhana yang diinginkan anak dari orang tuanya, seperti: (1) Orang tua datang ke kamar tidur anak di malam hari, memeluk dan menyanyikan lagu untuknya, serta bercerita tentang mereka. (2) Orang tua memberi pelukan dan ciuman, lalu duduk dan bicara dengan anak. (3) Orang tua sesekali meluangkan waktu hanya dengan anak, tidak harus selalu dengan kakak dan adik. (4) Orang tua memberikan anak makanan bergizi sehingga anak dapat tumbuh sehat. (5) Saat makan malam, orang tua berbicara dengan anak tentang apa yang bisa mereka lakukan di akhir pekan. (6) Pada malam hari, orang tua berbicara dengan anak tentang apapun. (7) Orang tua memberikan anak sering bermain di luar ruangan. (8) Orang tua dan anak berpelukan dan menonton acara TV favorit mereka bersama. (9) Orang tua mendisiplin anak karena hal itu akan membuat anak merasa dipedulikan. (10) Meninggalkan kertas dengan pesan khusus di mejanya atau di tas bekalnya (hlm. 160-166).

Bagaimana anak memandang diri mereka sendiri? Anak memandang dirinya sebagai makhluk berharga, memiliki potensi, kebutuhan yang harus dipenuhi, menyadari diri sebagai makhluk sosial yang cerdas. Anak ingin diperhatikan dan sadar akan keterbatasannya. Anak membutuhkan kasih sayang, kehadiran, dan perlindungan orang tua (hlm. 166-167).

Penutup

”Rekreasi” pembacaan buku kita diakhiri dengan epilog dari Romo M. Nur Widipranoto, Pr. Tulisan gerakan teologi anak sebagai tindakan komunikatif mengajak kita berefleksi. Dalam epilognya, Romo Nur memakai teori sosial kritus yang diajukan oleh Jurgen Habermas, yakni Teori Tindakan komunikatif. Dalam kaca mata tersebut Gerakan Teologi Anak dipandang sebagai  tindakan komunikatif. Teologi Anak menampilkan tindakan komunikatif yang berdaya partisipatif, transformatif dan memberdayakan (hlm. 167). Gerakan Teologi Anak hadir menampilkan tindakan komunikatif yang membawa daya partisipatif, transformatif, dan memberdayakan bagi anak-anak khususnya dan orang beriman pada umumnya.

Rekerasi (re-creation) menyegarkan. Dengan kesegaran itu, ada gerak maju yang dapat dilakukan. Di Jogja ada tembang dolanan: Prau Layar.

Angliak numpak prau layar, ing dina Minggu keh pariwisata

Pyak…pyuk…banyu binelah, ora jemu-jemu, karo mesem ngguyu, ngilangake rasa lungkrah lesu,

Adik njawil mas jebul wis sore, witing kalapa katon ngawe-awe, prayogane becik bali wae

Dene sesuk–isuk, tumandang nyambut gawe…

Kiranya rekreasi pembacaan buku ini menjadikan cakrawala pemikiran kita terbuka untuk “nyambut gawe” mewujudkan Teologi Anak dalam ranah akademis dan keumatan dalam praksis–kritis.

Dengan Teologi Anak, diharapkan anak dapat bersinar terang karena merasakan berkat Allah dan menjadi berkat. Agar anak dapat bersinar, kita perlu berjejaring, bekerjasama. Upaya KTAK Anak Bersinar Bangsa Gemilang (ABBG) dan Jaringan Peduli Anak Bangsa (JPAB) kiranya mendapat menjadi “nada dasar” bagi Sekolah Tinggi Teologi, Fakultas Teologi dan Gereja-Gereja untuk mewujudkan Teologi Anak.

Wisma Kanugrahan, 8 Maret 2019.

 

Bagikan:
Posted on Tinggalkan komentar

Menjadi Manusia (2)

Photo by Kai Dörner on Unsplash

Rame ing gawe, sepi ing pamrih.

Multatuli pernah berkata, sering disitir Pramoedya Ananta Toer, ”Tugas manusia ialah menjadi manusia, bukan menjadi Malaikat atau pun setan.” Ya, tugas manusia ialah menjadi manusia. Jika manusia tidak menjadi manusia, maka dia tidak memenuhi hakikatnya sebagai manusia. Jika demikian, masih layakkah menganggap diri manusia?

Menjadi manusia merupakan panggilan manusia. Menjadi manusia berarti menjalani hidup sebagai hamba Allah. Allah tidak menuntut kita menjadi malaikat, tetapi juga tidak ingin kita menjadi setan. Dia hanya ingin kita memenuhi panggilan hidup sebagai manusia. Itulah cita-cita-Nya ketika mencipta manusia. Ketika manusia tak lagi menjalani hakikat sebagai manusia, ia harus bertobat.

Itu jugalah yang dikumandangkan nabi Yesaya: ”Carilah TUHAN selama Ia berkenan ditemui; berserulah kepada-Nya selama Ia dekat! Baiklah orang fasik meninggalkan jalannya, dan orang jahat meninggalkan rancangannya…” (Yes. 55:6-7).

Pertobatan merupakan inti berita Yesaya. Dan berkait dengan pertobatan, saya dan Saudara termasuk golongan manusia berbahagia karena kita masih dikaruniai waktu.

Kita bagai pohon ara yang diberi kesempatan hidup, yang dibela oleh Sang Pengurus (Luk. 13:8-9). Namun, kesempatan itu pun terbatas. Berbahagialah karena kita belum sampai pada masa tenggat itu! Masih ada waktu untuk bertobat. Jika tidak, kita pun akan ditebang!

Sekali lagi, mumpung masih ada waktu marilah kita bertobat. Salah satu langkah konkretnya: rame ing gawe, sepi ing pamrih ’giat bekerja, namun tulus tanpa pamrih’ dalam pekerjaan kita. Jadikanlah pekerjaan kita sebagai ladang misi Allah, sehingga makin banyak orang yang mau belajar menjadi manusia. Menjadi hamba Allah.

Selamat bekerja,

Yoel M. Indrasmoro
Direktur Literatur Perkantas Nasional

Bagikan:
Posted on Tinggalkan komentar

Mengalami Allah

”Aku milikmu, Yesus, Tuhanku; kudengar suara-Mu. ’Ku merindukan datang mendekat dan diraih oleh-Mu.”

Demikianlah syair Fanny Crosby yang terekam dalam Kidung Jemaat 362:1. Tampaknya, bagi Fanny Crosby merasa dimiliki merupakan  hal penting dalam hidupnya. Sejatinya, itu pulalah modal utama setiap Kristen. Kita ada yang punya. Dan yang punya adalah Tuhan sendiri.

Rasa dimiliki itulah yang membuat Fanny rindu mendekat kepada Allah. Persekutuan dengan Allah menjadi hal utama, karena hanya dengan cara demikianlah kita dapat sungguh-sungguh mengalami Allah.

Dalam bukunya  Mengasihi Yang Mahakudus, A.W. Tozer menekankan bahwa, ”Rahasia besar kehidupan kristiani adalah dapat mulai mengalami Allah sebagaimana Dia menginginkan saya untuk mengalami-Nya. Sukacita terbesar Allah adalah membawa saya ke dalam hadirat-Nya.”

Dengan kata lain, Allah ingin bersekutu dengan manusia. Allah ingin manusia mengalami-Nya. Dan hanya dengan itu, menurut Tozer, ”Kita mulai dapat melihat sebagaimana adanya Dia—bukan karikatur seperti yang seseorang gambarkan untuk menjelaskan kepada saya.”

Persoalan terbesarnya, lagi-lagi menurut Tozer, ”Kita hanya punya orang-orang Kristen teologis di gereja saat ini, bukan orang Kristen yang memiliki kerohanian yang mendalam. Kita mempunyai pengetahuan yang hebat tentang Alkitab…, tetapi tidak lebih dari itu.” Yang akhirnya membawa manusia menuju perasaan akan ketiadaan Allah—kekosongan rohani.

Tentu saja, persekutuan dengan Allah bukanlah upaya manusia semata. Semua itu dimulai dari Allah sendiri dalam karyanya—penebusan, pembenaran, dan kelahiran kembali. Kelahiran kembali itulah membawa sifat Allah ke dalam diri kita. Dan semuanya sungguh hanya anugerah-Nya.

Fanny Crosby sungguh memahaminya. Meski dia rindu datang ke hadirat Allah, dia masih memohon dalam refreinnya: ”Raih daku dan dekatkanlah pada kaki salib-Mu. Raih daku raih dan dekatkanlah ke sisi-Mu, Tuhanku.”

 

Yoel M. Indrasmoro

Literatur Perkantas Nasional

Bagikan:
Posted on Tinggalkan komentar

Janganlah Gelisah Hatimu

Janganlah gelisah hatimu (Yoh. 14:1). Demikianlah nasihat Yesus kepada para murid-Nya. Perasaan gelisah sering menghantui insan. Sebab, kita memang tidak akan pernah tahu hari depan. Mungkinkah orang gelisah karena sesuatu yang telah terjadi?

Photo by Nik Shuliahin on Unsplash

Rasa gelisah memang bisa menerpa siapa saja dan kapan saja. Dia tidak memandang bulu, juga waktu. Dia datang begitu saja, menyergap laksana angin. Dan akan menjadi masalah besar tatkala orang begitu dikuasai rasa tersebut sehingga tidak mampu berbuat apa-apa.

Lalu, mengapa kita gelisah? Kalau kita simak, akar masalahnya ialah karena kita tidak yakin bisa mengatasi persoalan di depan kita. Ujung-ujungnya, kegelisahan sering disebabkan—biasanya kita tidak menyadarinya—oleh pengandalan terhadap diri sendiri. Dan kita sungguh gelisah karena kita takut tidak mampu mengelola persoalan itu dengan baik.

Kalau sudah begini, cara yang paling mujarab ialah bertindak selaku penumpang bus. Penumpang bus yang baik tidak akan berusaha bertindak selaku supir yang ikut menginjak rem dan gas, tetapi mempercayakan diri kepada sang supir. Kalau kita tidak percaya kepada supir bus, usul saya turun saja!

Yesus punya alasan lain. Tak perlu kita gelisah karena memang ada Roh Kudus yang setia menyertai kita. Dan tidak hanya setia, tetapi Dia juga menghibur kita. Biasanya, kegelisahan acap juga diakibatkan oleh kesendirian. Saat kita gelisah, ingatlah bahwa Roh ada bersama kita dan siap sedia menghibur kita. Persoalannya, mau enggak kita dihibur oleh-Nya?

Mengenai masa depan, ada sebuah syair terpajang di kantor saya. Demikian syairnya: ”Tuhan, ajarku memahami bahwa tidak ada satu persoalan pun pada hari ini yang tidak dapat kita tangani bersama-sama!”

Penyertaan-Nya. Itulah janji-Nya, yang tak lekang ditelan waktu. So, jangan gelisah!

Selamat bekerja,

Yoel M. Indrasmoro
Direktur Literatur Perkantas Nasional

Bagikan:
Posted on Tinggalkan komentar

Takut akan Allah atau Takut akan Neraka?

Pikirkan sejenak tentang suatu tempat yang begitu buruk, begitu mengerikan, penuh dengan nyala api, dan rintihan kesakitan. Tidak membutuhkan waktu lama untuk berpikir. Persepsi kita akan mengenali bahwa tempat tersebut adalah neraka. Tidak ada satu pun yang indah tentang neraka. Beberapa orang mengasosiasikan neraka sebagai tempat perapian yang begitu besar. Alkitab jelas sekali berbicara tentang neraka seperti lautan api yang menyala-nyala.

Persepsi manusia tentang neraka begitu ampuh untuk membuat hidup manusia menjadi begitu saleh dan memiliki akhlak baik. Neraka telah menjadi ancaman yang begitu mengerikan sebagai konsekuensi hidup yang asal-asalan. Manusia menjadi begitu berhati-hati dalam berkata dan bertindak. Pikir kita, jangan sampai saya masuk neraka hanya karena saya belum melunasi utang. Sebelum saya mati izinkan saya bertanya, “Masihkah ada orang yang sakit hati karena perkataan dan perbuatan saya?”

A.W. Tozer menuliskan dalam bukunya Mengasihi yang Mahakudus, jika persepsi kita tentang Allah telah rusak atau dikompromikan dengan berbagai konsep lain di luar Allah, maka segala yang ada di kehidupan kita menjadi membingungkan dan kacau. Suatu tindakan mengasihi Allah yang sejati hanya bisa terjadi oleh pengenalan yang benar akan Allah bukan ketakutan akan api neraka.

Allah adalah pribadi yang Agung dan Mulia. Dan satu-satunya cara untuk mengenal Allah adalah dengan menjadi penyembah-Nya. Semakin kita mengenal Allah, semakin hati kita dipenuhi oleh pujian dan penyembahan. Saat kita mendekat kepada Allah, kita menemukan keindahan akan segala sesuatu tentang Allah. Tidak ada sesuatu pun yang buruk tentang Allah. Allah adalah pribadi Mahakasih dan Mahakudus.

Kita harus beranjak dari kubangan ketakutan akan kematian yang mengerikan untuk memandang kepada cahaya terang akan kemuliaan Allah yang menghidupkan. Takut akan neraka hanya akan menghasilkan hidup yang membelenggu, namun tetap saja berakhir pada kematian kekal. Sedangkan, takut akan Allah akan menghasilkan hidup merdeka yang bermuara pada persekutuan akrab dengan Allah di dalam kekekalan.

Kiranya sikap takut akan Allah terwujud dalam kerinduan kita untuk mengenal dan mengharapkan Allah lebih dari apa pun yang ada di dunia ini, selaras dengan doa yang dipanjatkan oleh Agustinus dari Hippo:

Engkau berteriak memanggil dan merobek ketulianku.
Engkau bercahaya terang dan mengenyahkan kebutaanku.
Engkau menyebarkan harum-Mu dan aku telah menghirupnya sampai aku begitu menginginkannya.
Aku sudah mencicipi Engkau maka aku lapar dan haus akan Engkau.
Engkau menjamahku maka aku bergairah mengharapkan Engkau.
Amin.

Gregorius Silitonga
Literatur Perkantas Nasional

Bagikan:
Posted on Tinggalkan komentar

Berdua Saja

”Sebab di mana dua atau tiga orang berkumpul dalam nama-Ku, di situ Aku ada di tengah-tengah mereka” (Mat. 18:20). Perkataan Tuhan Yesus ini—mengenai keberadaan Allah di tengah persekutuan umat-Nya—sering menjadi sumber penghiburan. Allah tidak pernah meninggalkan umat-Nya. Allah memedulikan mereka. Enggak perlu bicara soal jumlah, Allah hadir dalam persekutuan terkecil sekalipun.

Photo by rawpixel on Unsplash

Namun, frasa ”berkumpul dalam nama-Ku” agaknya kurang mendapat perhatian. Frasa itu berarti Kristuslah yang menjadi dasar dan pusat persekutuan. Persekutuan tidak berdasarkan atas kesamaan ideologi, warna kulit, tingkat sosial, melainkan berdasarkan Kristus. Itulah makna gereja sebenarnya. Kehendak Kristuslah yang utama.

Dan salah satu tindakan nyata ”dalam nama-Ku” ialah keberanian menyatakan kesalahan orang. Yesus Kristus menasihatkan ”Apabila saudaramu berbuat berdosa, tegorlah dia di bawah empat mata” (Mat. 18:15).

Pada kenyataannya, tak banyak yang mengambil jalan ini karena takut terhadap tanggapan orang tersebut. Jika pun ada keberanian, kadang kita lebih suka membicarakannya tanpa ada orangnya atau membicarakannya blak-blakan di hadapan banyak orang ketika orangnya ada. Akhirnya kesalahannya itu menjadi konsumsi banyak orang.

Yesus menasihati, jika hendak menegur orang mulailah dengan berdua saja. Baru setelah itu tiga orang. Dengan cara ini, orang tersebut tidak merasa dihakimi dan kesalahan yang dilakukannya tidak menjadi konsumsi publik. Hanya dengan cara itulah kita akan mendapatkannya kembali.

Sejatinya ini jugalah salah satu tugas pemimpin. Ketika bawahan kita salah, masih merasa perlukah kita menegurnya ”berdua saja” atau kita lebih suka menegurnya di depan banyak orang? Jika kita ingin mendapatkannya kembali, menegur dengan diam-diam merupakan langkah jitu.

Selamat bekerja,

Yoel M. Indrasmoro
Direktur Literatur Perkantas Nasional

Bagikan: