”Hei lihat ada bintang jatuh, cepat ucapkan permohonanmu!” Teriak seorang teman saat berada dalam satu kesempatan perkemahan. ”Tiup lilinnya, tiup lilinnya, tiup lilinnya sekarang juga, sekarang juga, sekarang juga.” Demikian lantunan lagu yang dinyanyikan teman-teman untuk mengiring saya meniup lilin ulang tahun. Tak lama setelah lilin padam, merka pun mendesak saya untuk mengucapkan permohonan.
Ada berbagai kesempatan yang kita anggap waktu terbaik untuk mengucapkan permohonan dan doa kita. Ada kata-kata terbaik yang kita persiapkan, kesempatan terbaik yang kita tentukan, juga tempat terbaik yang kita pilih. Gereja, tempat-tempat bersejarah, atau bahkan kuburan adalah contoh dari beberapa tempat yang kita anggap baik untuk melantunkan permohonan dan doa kita. Kita berpikir dengan begitu Allah akan mendengarkan doa-doa kita.
Namun, segala persepsi ini sungguh keliru. A.W. Tozer dalam buku Mengasihi Yang Mahakudus, menyatakan bahwa Allah mendengar kita bukan karena doa kita baik, tetapi karena Allah itu baik.
Tozer menegaskan, ”Tentu saja, Anda tidak baik. Akan tetapi, Allah baik, dan karena Ia baik, kita berani memanfaatkan kebaikan-Nya. Pintu Allah selalu terbuka untuk setiap anak-anak-Nya yang bersalah, sehingga mereka dapat berkata, ’Oh, rasakan dan lihatlah bahwa Tuhan itu baik.’”
Bukan karena bintang jatuh doa dan permohonan kita harus segera diucapkan. Namun, karena kita telah jatuh dalam dosa, maka permohonan akan pertolongan Allah harus segera kita serukan. Sebab, hanya Allah satu-satunya yang sanggup menyelamatkan kita dari penghukuman dosa.
Bukan karena kata-kata terbaik, bahkan tempat terbaik, sehingga Allah pasti mendengar doa kita. Akan tetapi, karena Allah baik, dan ketika kita berdoa kebaikan Allah adalah dasar dari pengharapan kita.
Dalam kondisi apa pun janganlah lantas kita berkata: ”Saya tidak baik. Tidak ada gunanya berdoa; saya memang tidak baik.” Jangan! Tetaplah berdoa karena Allah sungguh baik dan bersedia mendengar segala seru dan doamu.
Pertama-tama saya menyampaikan banyak terima kasih atas undangannya untuk menjadi panelis dalam acara bedah buku Teologi Anak. Saya memandang acara ini sangat bermakna, karena berbicara tentang pokok yang sangat penting, walaupun sering disepelekan.
Judul buku Teologi Anak sangat eye catching (menarik perhatian) jika dilihat dari sudut pandang terminologi dan sejarah perkembangan teologi. Pdt. Dr. Daniel Nuhamara dalam tulisannya pada bagian Prolog, menjelaskan bahwa istilah Teologi Anak (Child Theology) dipahami sebagai upaya berteologi untuk mengenal Tuhan (Teos) dalam atau dari perspektif anak. Sampai awal abad ke-21, berteologi selalu dilakukan dalam perspektif orang-orang dewasa.
Kita mengenal Teologi Pembebasan di Amerika Latin, Teologi Hitam (Black Theology) di Afrika, Teologi Rakyat Jelata (Minjung Theology) di Korea, Teologi Feminis (Teologi Perempuan), Teologi Rahim, semuanya adalah cara mengenal Tuhan dalam atau dari perspektif orang-orang dewasa. Biasanya, orang-orang percaya yang mengalami pergumulan dalam konteksnya, akan berupaya mencari tahu kehendak Tuhan dan apa respons mereka dalam situasi seperti itu.
Itulah sebabnya upaya-upaya berteologi seperti yang telah disebut sebelumnya, Teologi Kontekstual dikembangkan dalam konteks pergumulan pada saat itu. Saya yakin kita semua setuju kalau Teologi Anak adalah salah satu bentuk upaya berteologi kontekstual yang sedang dikembangkan. Ini adalah satu langkah maju, karena selama ini kita melihat yang mengembangkan teologi adalah orang-orang dewasa, dan anak-anak dianggap tidak tahu apa-apa tentang upaya berteologi. Padahal, orang dewasa perlu belajar dari anak-anak tentang upaya berteologi itu, yakni dari kepolosan mereka, kejujuran, serta kekuatan iman mereka.
Photo by freestocks.org from Pexels
Buku Teologi Anak dan Sumbangannya dalam Pendidikan Anak
Buku Teologi Anak yang diterbitkan oleh Tim KTAK Anak Bersinar Bangsa Gemilang berisi sembilan kajian tulisan para penulis yang juga dikenal sebagai pemerhati anak dan pendidikan anak. Para penulis membahas tempat anak dalam beberapa bidang yang penting yang harus digarisbawahi, di antaranya: ”Tantangan dan Peluang bagi Anak di Indonesia”; ”Anak dalam Alkitab”; ”Anak dalam Gereja”; ”Anak dalam Budaya”; ”Anak dalam Sekolah”; ”Anak dalam Perspektif Hukum”; ”Anak dalam Media”; ”Anak dalam Keluarga”; dan ”Anak dalam Pandangan Anak”.
Buku yang sarat dan padat makna ini ditulis dengan tujuan agar orang-orang dewasa—lebih khusus para memimpin gereja dan lembaga pendidikan teologi—mempunyai paradigma baru dalam memandang anak-anak yaitu dalam perspektif yang selayaknya. Paradigma lama menggarisbawahi orang dewasa sebagai satu-satunya narasumber dalam upaya mengenal Allah, sedangkan dalam paradigma baru, anak-anak dipandang mampu memberi masukkan kepada orang dewasa dalam upaya berteologi serta memberi respons terhadap kasih-Nya. Bersama anak orang-orang dewasa dapat mengekspresikan imannya dengan jujur dan berani.
Tentu paradigma baru ini tidak langsung bisa diterima oleh orang dewasa, apalagi yang sudah terbiasa menganggap anak-anak sebagai kelompok yang ”tidak tahu apa-apa”, sehingga mewajibkan anak-anak untuk mengikuti kemauan orang dewasa. Anak-anak juga dianggap tidak tahu karena umur mereka masih jauh lebih muda dibanding orang dewasa (bayi, 0-2 tahun; anak kecil, 3-6 tahun; anak tanggung, 7-9 tahun; anak besar, 10-12 tahun).
”Masih hijau”, begitu kata orang-orang dewasa; belum tahu apa-apa, jadi harus diam. Demikianlah dalam waktu yang lama anak-anak terpasung dalam keinginan orang-orang dewasa. Susi Rio Panjaitan dalam Bab 9 buku ini mengatakan: ”Dengan perspektif masing-masing, mereka (orang dewasa) memberikan komentar tentang anak seakan-akan merekalah yang paling mengetahui tentang anak dan paling tahu apa yang terbaik buat anak. Saya kira situasi kita saat ini masih mencerminkan pemahaman seperti ini.”
Lihat saja, ketika kita membahas upaya mengenal Allah dari perspektif anak, yang hadir semuanya orang-orang dewasa, tidak ada anak-anak. Padahal, Nuhamara menggarisbawahi bahwa paradigma baru itu harus dikembangkan karena ada dasar teologinya seperti yang dilakukan oleh Yesus dan dikisahkan dalam Matius 18:1-5. Dalam kisah ini, Yesus menempatkan seorang anak kecil di tengah-tengah mereka (ay. 2) dan dijadikan contoh bagi orang-orang dewasa. Keberadaan anak bisa menjadi contoh bagi orang dewasa dalam memahami konsep Israel tentang Kerajaan Allah. Dengan demikian, Kerajaan Allah bukanlah kerajaan dengan kekuatan politik, kuasa, dan kebesaran, tetapi Kerajaan yang menghadirkan damai, keadilan, kasih, kebersamaan, dan shalom.
Dalam pembahasan sebelumnya, telah dijelaskan bahwa anak-anak adalah agen dalam berteologi, juga menolong orang-orang dewasa dalam upaya mengenal Allah, serta merespons kehendak-Nya dengan benar. Justitia Vox Dei Hattu, salah seorang penulis dalam buku ini, menghubungkan Matius 18:1-5 dengan Injil yang paralel, yaitu Markus 9:33-37. Ia menggarisbawahi peristiwa ketika murid-murid Yesus bertengkar tentang siapa yang terbesar di antara mereka. Pada saat itu, Yesus menempatkan seorang anak kecil di tengah-tengah mereka dan menunjukkan contoh tentang kerendahan hati.
Dalam masa pelayanan Yesus, secara nyata telah memperlihatkan bahwa Ia sangat mengasihi anak-anak. Ketika murid-murid memarahi orang tua yang membawa anak-anak mereka kepada Yesus (mungkin karena anak-anak ribut dan mengganggu istirahat mereka), Yesus justru memanggil mereka dan memberkati mereka. Ucapan Yesus ”Biarkanlah anak-anak itu datang kepadaku, jangan menghalangi mereka sebab orang-orang-orang yang seperti itulah yang empunya Kerajaan Allah” menjadi populer dipakai di setiap Ibadah Baptisan Kudus.
Photo by Josh Willink from Pexels
Yesus konsisten dengan sikap-Nya terhadap anak-anak. Yudiet Tompah menulis, bahwa sebagaimana yang Ia lakukan kepada orang-orang dewasa, Yesus juga melakukannya kepada anak-anak. Anak-anak disembuhkan dan dihidupkan, seperti yang dialami anak perempuan Yairus (Mat. 9:18); anak di Kapernaum (Yoh. 4:46-54) anak yang sakit ayan dan kerasukan setan (Luk.9:37-43) dan anak perempuan Kanaan (Mrk. 7:24-30).
Dalam bagian lain dari Alkitab, nyata sekali bahwa Allah memberi perhatian luar biasa dan keberpihakan kepada anak-anak. Ismael diperhatikan keberlangsungan hidupnya. Ada anak laki-laki dari perempuan Sunem (2Raj. 4:8-37) yang disembuhkan. Yudiet juga mencatat, bahwa Allah menyediakan orang-orang tertentu agar anak-anak hidup dalam lingkungan yang nyaman dan kondusif, misalnya dalam kisah Samuel yang mendapat perhatian penuh dari Hana, ibunya (1Sam. 1:22) dan dalam kisah Miryam, kakak Musa yang menjaga Musa dari jauh menyaksikan putri Firaun mengangkat Musa dari sungai Nil untuk memeliharanya sebagai anaknya. Lantas, secara cerdik ia mencarikan perempuan untuk menyusui Musa yang tidak lain adalah Yokhebed, ibu kandung Musa sendiri supaya Musa mendapat tempat kediaman dengan suasana yang kondusif (Kel. 2:1-10).
Tulisan Alkitab lainnya, menyaksikan bahwa anak diberi ruang untuk mengutarakan pendapat seperti dalam kisah Naaman, seorang anak perempuan Israel yang menjadi pelayan di rumah Naaman. Ia memberi informasi tentang nabi Israel yang dapat menyembuhkan orang-orang kusta. Penyampaian anak perempuan itu diterima baik oleh Naaman, dan ketika ia melakukan apa yang dianjurkan oleh gadis kecil ini serta nabi Elisa, ia mengalami pemulihan.
Tentu, kita juga tidak melupakan tulisan-tulisan bernuansa buram di mana anak-anak mengalami ancaman pada masanya, misalnya anak perempuan Yefta (Hak. 11:30,31); anak-anak yang dipersembahkan kepada berhala yang dipandang sebagai suatu kekejian di mata Tuhan (Ul. 12:29-31); pembunuhan massal terhadap anak-anak di Betlehem dan Rama atas perintah Herodes (Mat. 2:16-18). Kejujuran kisah dalam Alkitab tentu harus direspons secara kritis dan dengan upaya hermeneutik yang tepat, supaya menjadi pembelajaran yang kuat untuk menghindari kekerasan-kekerasan dan ancaman-ancaman yang terjadi terhadap anak-anak.
Source: pixabay.com
Catatan-catatan tersebut di atas, harus dilihat sebagai pendorong yang kuat untuk mengembangkan Teologi Anak. Hal ini perlu dilakukan dengan serius, sebab seperti yang dikemukakan oleh Haryati ada begitu banyaknya ancaman yang dihadapi oleh anak-anak pada zaman digital, di antaranya: adanya konvergensi teknologi dan media, adanya gerakan moralitas baru yang menggeser nilai-nilai kebenaran, munculnya filosofi baru anti agama, kekerasan terhadap anak yang terus terjadi, semakin maraknya pornografi.
Jika terlambat dalam bertindak, maka kita akan kehilangan kesempatan untuk mempersiapkan suatu dunia yang lebih baik dan kondusif. Sebab, apa yang dialami oleh anak-anak sekarang ini yang jumlahnya besar akan turut menentukan arah perjalanan negara dan bangsa ke depan. Haryati menggarisbawahi: ”Siapa yang memegang anak, memegang masa depan.” Jumlah penduduk usia anak di Indonesia dan seluruh dunia adalah yang terbanyak dalam kependudukan, dan oleh sebab itu menjangkau dan melayani anak-anak sama dengan menjangkau dan melayani mayoritas penduduk Indonesia.
Hal ini juga yang disuarakan S.S. Benyamin Lumi yang mengulas pokok ”Anak Dalam Perspektif Hukum”. Beliau menggarisbawahi begitu banyaknya ancaman dan kekerasan yang dihadapi anak-anak masa kini, misalnya: kekerasan fisik, kekerasan psikis (emosional), penelantaran anak, kekerasan sosial, kekerasan oleh media massa, sehingga perlindungan hukum kepada anak-anak dan meningkatkan kesejahteraan sosial dan kesejahteraan anak merupakan tugas yang tak dapat ditunda lagi. Lumi menggarisbawahi tugas untuk melindungi anak adalah mandat undang-undang dan hal ini bukan hanya tugas negara tetapi tugas masyarakat termasuk pimpinan dan warga gereja.
Beberapa Isu Lain yang Menjadi Sumbangan Secara Teologis dari Buku Teologi Anak
Susi Rio Panjaitan, dalam ulasan ”Anak Dalam Budaya” menyimpulkan bahwa perspektif budaya terkait anak akan memengaruhi perilaku terhadap anak. Oleh karena itu, dibutuhkan kajian teologis terhadap nilai-nilai budaya yang diterapkan dalam pengasuhan dan pendidikan terhadap anak. Dalam hal ini, mengembangkan budaya yang menunjukkan keberpihakan kepada anak yang belum terealisasi dengan baik sekarang ini—termasuk dalam gereja, merupakan pekerjaan rumah yang bersifat urgen untuk dilaksanakan termasuk mempersiapkan program-program yang secara konkrit menjelaskan tentang budaya yang berpihak kepada anak.
James Wambraw yang menulis ”Anak Dalam Sekolah” menggarisbawahi dengan tegas hubungan antara keberhasilan pendidikan iman dan keharusan mengikuti pendidikan masa muda. Saya sependapat dengan beliau. Tulisan-tulisan dalam Alkitab menggarisbawahi pentingnya pendidikan dan pengajaran bagi anak-anak (antara lain Ulangan 6 yang selalu dijadikan nas favorit berhubungan dengan hal ini) dan dalam implementasinya harus selalu dikaitkan dengan sistem dan undang-undang pendidikan dan bentuk-bentuk sekolah yang berlaku dan berlangsung dalam masyarakat.
James Wambraw menyebut berbagai bentuk sekolah, misalnya: sekolah yang terkait dengan pendidikan anak baik yang formal dan informal seperti, Sekolah Keluarga, Sekolah Minggu, Sekolah Umum, Sekolah Masyarakat, Sekolah Bangsa, Sekolah Negara, dan Sekolah Hidup. Dari perspektif teologis dapat ditambahkan bahwa apa pun bentuk sekolahnya, apa pun sistem dan undang-undangnya, sekolah itu harus bertujuan pada menambah hikmah, membawa pembebasan, menambah kesejahteraan dan menghasilkan suatu pembaharuan (transformasi).
Photo by Robert Collins on Unsplash
Tornado Gregorius Silitonga yang mengulas pokok ”Anak Dalam Media” menggarisbawahi pentingnya media dan komunikasi serta positifnya sumbangan gawai dan tablet serta internet. Pada pihak lain, digarisbawahi juga akibat negatif apabila anak terlalu tergantung kepada alat-alat komunikasi yang smart dan canggih itu. Secara teologis dapat dipahami bahwa kemajuan teknologi yang ditandai oleh perangkat-perangkat serta komunikasi yang serba cepat dan canggih adalah anugerah Allah bagi manusia.
Karya Allah selalu berhubungan dengan komunikasi antara Allah dan umat-Nya. Sebab itu, Ia mengaruniakan hikmah kepada agar dapat menggunakannya untuk tujuan yang positif dan bertanggung jawab, bukan untuk mematikan kreativitas, menurunkan imajinasi serta relasi yang hangat dengan orang tua dan keluarga. Sebab itu, menurut Tornado, ketimbang bermusuhan dengan alat-alat canggih tersebut, lebih baik membumikan pelajaran E-learning sehingga semua generasi boleh belajar dan saling membimbing ke arah yang mendatangkan sejahtera. Semua generasi menjadi garam dan terang sehingga tercipta persekutuan yang belajar bersama dan saling membarui.
Hal yang senada diungkap oleh Magyolin Arolina Tuasuun dalam tulisannya ”Anak Dalam Keluarga” bahwa rumah tangga Kristen harus menjadi persekutuan yang didiami Roh anugerah Allah dan menjadi gereja bagi anak-anak. Keluarga Kristen adalah persekutuan yang seharusnya memantulkan kehangatan dan cinta kasih, sehingga anak-anak merasa terlindung dalam persekutuan itu.
Pada akhirnya, M. Nur Widipranoto yang menulis”Gerakan Teologi Anak Sebagai Tindakan Komunikatif” menggarisbawahi bahwa gagasan Teologi Anak sebagai tindakan komunikatif bertujuan memahami teologi sebagai praksis komunikasi iman dalam kebersamaan dengan Allah dan anak. Gerakan Teologi anak perlu dilanjutkan dengan mengedepankan tindakan komunikatif yang berdaya partisipatif, transformatif, dan memberdayakan.
Penutup
Demikianlah beberapa catatan yang dapat saya sampaikan dalam acara Bedah Buku Teologi Anak pada hari ini. Semoga bermanfaat. Tuhan memberkati kita semua.
Setiap pengikut Kristus dipanggil menjadi saksi. Manusia butuh Terang. Dunia butuh Tuhan. Menjadi saksi berarti hidup di dalam dan berdasarkan Terang itu agar orang lain boleh merasakan Terang itu melalui kita.
Photo by Kristine Weilert on Unsplash
Menjadi saksi tak ubahnya bulan yang memantulkan cahaya matahari. Sehingga orang yang merasakan terang itu dapat mensyukuri keberadaan matahari.
Tugas pengikut Kristus hanyalah memantulkan cahaya kasih Ilahi. Satu-satunya cara ialah dengan hidup di dalam dan berdasarkan Terang itu.
Pada titik ini, nasihat Petrus menjadi sangat relevan: ”Sebab itu, saudara-saudaraku yang kekasih, sambil menantikan semuanya ini, kamu harus berusaha, supaya kamu kedapatan tak bercacat dan tak bernoda di hadapan-Nya, dalam perdamaian dengan Dia” (2Ptr. 3:14).
Hidup kudus merupakan syarat utama seorang saksi Kristus. Dalam dunia media terdapat adagium ”media adalah pesan itu sendiri”. Jika ingin menjadi pembawa kabar baik, maka diri kita haruslah hidup dalam kabar baik itu sendiri. Jika tidak, kabar baik yang kita bawa hanya akan menjadi bahan olok-olokan.
Dan menurut Jose Maria Escriva, pendiri Opus Dei, ”Krisis dunia sekarang ini adalah krisis orang kudus”. Semua persoalan Indonesia, jika ditelusuri, memang bermuara pada aspek kekudusan ini.
Hidup kudus berarti hidup khusus. Bahasa Ibraninya qadosy ’dikhususkan’. Hidup kudus berarti hidup yang dikhususkan untuk Allah. Itu berarti juga semua yang kita pikirkan, katakan, lakukan di kantor pada hari ini.
Selamat bekerja,
Yoel M. Indrasmoro Direktur Literatur Perkantas Nasional
Allah adalah Roh, tidak terbatas, kekal dan tidak dapat diubah dalam hal keberadaan-Nya dan kebijaksanaan, kekuasaan, kekudusan, keadilan, kebaikan, serta kebenaran-Nya. Dengan merenungkan kebesaran-Nya, semua kefasihan lidah memudar, sebab bahasa manusia tidak akan mampu mengekspresikan Allah dengan sempurna dalam seluruh keajaiban kemuliaan-Nya. Ada sesuatu tentang Allah yang begitu megah, menakjubkan dan tidak dapat diekspresikan, bagaimana pun kita mengatakannya, Allah kita jauh lebih besar.
Sejauh manakah kita mengenal Tuhan Allah yang kepada-Nya kita percaya dan kita tinggikan dalam ibadah dan penyembahan kita?
Dalam Bab 15 buku Mengasihi Yang Maha Kudus, A.W. Tozer menjelaskan bahwa kita tidak dapat memiliki Allah imajiner. Kita harus melihat Allah sebagaimana Ia begitu senang untuk menyatakan diri-Nya, terutama dalam firman-Nya.
”Pada mulanya Allah…” adalah ayat yang paling penting karena di situlah segala sesuatu harus dimulai. Ayat ini menunjukkan bahwa Ia yang utama, berkuasa, dan sumber segala sesuatu. Patutlah kita makin memercayai bahwa Dialah Tuhan dan Raja atas semesta!
Semakin dalam kita mengenal Allah, maka seharusnya semakin besar kasih dan kerinduan kita untuk memberi ibadah yang sejati serta pelayanan yang diperkenan dan menyenangkan Allah.
Jika kita ingin menyenangkan Allah, kita perlu menyenangkan Dia sesuai dengan kehendak-Nya. Jika kita ingin menyembah Allah, kita harus menyembah Dia sesuai dengan syarat-syarat-Nya.
Disiplin yang terpuji dalam kehidupan orang Kristen ialah hidup dengan cara menghormati Allah. Mengendalikan atau mendisiplin daging berarti juga meninggalkan manusia lama kita. Memuliakan Allah berarti membuat Allah besar di dalam kehidupan kita.
Kiranya kerinduan untuk selalu mengenal Allah dan hidup memuliakan-Nya senantiasa menjadi doa seumur hidup kita. Amin.
”Inilah hari yang dijadikan TUHAN, marilah kita bersorak-sorak dan bersukacita karenanya!” (Mzm. 118:24).
Photo by Mads Schmidt Rasmussen on Unsplash
Inilah nyanyian Paskah. Inilah pengakuan akan tindakan Allah yang menyelamatkan umat-Nya dari perbudakan di Mesir.
Pada kemerdekaan Israel pertama itu, jelaslah bahwa Allah menjadikan Israel sebagai prioritas. Dia menyelamatkan Israel. Paskah merupakan Hari Raya Kemerdekaan Israel dari Mesir. Sehingga mereka berseru: ”Inilah hari yang dijadikan TUHAN, marilah kita bersorak-sorak dan bersukacita karenanya!” This is the day that The Lord has made!
Hari itu bukan sekadar hari. This is The day that The Lord has made! Sayangnya, lagu itu diterjemahkan menjadi ”Hari ini hari ini harinya Tuhan”. Lebih sayang lagi ketika orang menambahkan bait berikutnya: ”Hari Senin Hari Selasa hari….” Padahal ini bukan sekadar hari. Ini hari khusus. Ini hari kemerdekaan Israel. Inilah Paskah pertama.
Paskah kedua adalah ketika Yesus bangkit dari kubur! Kebangkitan Yesus menyatakan dengan jelas bahwa kematian Yesus Orang Nazaret pada Jumat Agung sungguh bermakna. Inilah Paskah kedua—Allah memerdekakan manusia dari belenggu dosa itu sendiri.
Karena itu, marilah kita hidup dalam suasana kebangkitan! Marilah kita hidup dalam suasana kehidupan! Marilah kita membangkitkan orang lain! Marilah kita menghidupkan orang lain dan bukan mematikannya! Juga dalam dunia kerja kita hari ini.
Selamat bekerja,
Yoel M. Indrasmoro Direktur Literatur Perkantas Nasional
”Berbahagialah orang yang miskin di hadapan Allah, karena merekalah yang punya Kerajaan Surga.” (Mat. 5:3).
Apakah makna kalimat ini? Dalam Alkitab BIMK tertera: ”Berbahagialah orang yang merasa tidak berdaya dan hanya bergantung pada Tuhan saja; mereka adalah anggota umat Allah.”
Dalam film ”Quo Vadis”, sang aktris Deborah Kerr harus memerankan adegan berbahaya, yang cukup mendebarkan. Setelah pengambilan gambar, seorang reporter bertanya, ”Apakah Anda tidak takut ketika seekor singa ganas menyerang Anda di arena?”
”Sama sekali tidak,” jawab Deborah, ”Saya sudah baca skenarionya dan saya tahu bahwa saya akan diselamatkan.”
Mark Link, SJ, dalam bukunya Keputusan, menyatakan bahwa inilah kepercayaan khas anak-anak yang dipunyai ”kaum miskin” di masa Yesus hidup.
Kata Ibrani untuk ”kaum miskin” adalah aini. Kata ini menunjuk pada orang-orang miskin yang secara ekonomis dan politis sungguh tak punya harapan lagi. Orang-orang dalam situasi seperti itu akan melepaskan diri dari harta benda dan menggantungkan diri kepada Allah saja.
Orang-orang ”yang miskin di hadapan Allah” disebut Yesus berbahagia karena mereka telah sampai pada kesadaran bahwa mereka tidak dapat lagi menggantungkan diri pada harta benda untuk meraih kebahagiaan sejati. Mereka mencari kebahagiaannya hanya kepada Allah.
Yesus menyebut mereka berbahagia karena Allah adalah Sumber Hidup Sejati. Bergantung penuh kepada Allah sungguh akan membuat hidup seseorang sungguh hidup.
Tentu pemahaman itu tidak mengajak kita untuk diam berpangku tangan. Kita dipanggil untuk terus berusaha dengan tetap memahami bahwa usaha itu pun hanya mungkin karena perkenan Allah.
Selamat bekerja,
Yoel M. Indrasmoro Direktur Literatur Perkantas Nasional
A.W. Tozer dalam bukunya Mengasihi Yang Mahakudus, menjelaskan bahwa sebenarnya kita dapat memahami teologi yang disajikan dalam Alkitab, seperti yang para teolog pahami. Kita juga dapat memahami apa yang dikatakan Allah dalam Alkitab tentang diri-Nya, walaupun mungkin kita tidak pernah mendalami pemahaman itu secara intelektual.
Tentu Tozer menyadari bahwa Allah sedemikian tinggi, sehingga Ia bahkan tidak dapat dipahami. Oleh karena itu, Tozer menegaskan, sangat penting bagi kita untuk berpikir tentang Allah sebagaimana hakikat-Nya yang sebenarnya; yaitu Allah yang begitu tak terhingga melampaui apa pun yang kita ketahui, yang tidak dapat dijelaskan.
Dalam pemandangannya, Tozer melihat, banyak orang ingin menarik Allah ke bawah—ke dalam pemahaman mereka—dan membuat-Nya kecil, sehingga mereka dapat mempunyai allah menurut ukuran mereka—hanya lebih besar sedikit, sehingga ia dapat membantu mereka ketika berada dalam kesulitan. Kita ingin memanfaatkan Allah untuk tujuan kita.
Semua hal yang telah dikatakan atau diajarkan tentang Allah, hanyalah sebagian dari Allah, dan sebagian kecil dari jalan-Nya. Allah Yang kepada-Nya kita dipanggil untuk melayani sungguh luar biasa. Ia melakukan kebaikan yang tak terhingga kepada kita, dengan menerima kita dan menyambut kita menjadi bagian dari diri-Nya.
Allah Yang Perkasa memandang kepada manusia, dan mengenakan daging bagi diri-Nya seperti manusia, dan mati serta bangkit kembali.
Allah ini, yang oleh para filsuf diberi nama mysterium tremendum—misteri yang luar biasa, misteri yang menggentarkan. Dan di hadapan mysterium tremendum, Yakub berseru, ”Alangkah dahsyatnya tempat ini; ini adalah rumah Allah.” Di Perjanjian Baru Petrus berkata, ”Tuhan, pergilah dari hadapanku, karena aku ini seorang berdosa.” Abraham berkata, ”Aku hanya debu dan abu.”
Sama seperti mereka, kita akan mampu menyadari keberadaan kita di hadapan Allah, ketika kita sampai pada kekaguman akan Dia.
”Tuan, kami ingin bertemu dengan Yesus!” (Yoh. 12:21). Demikianlah harapan orang-orang Yunani yang disampaikan kepada Filipus. Mengapa Filipus? Kita tidak pernah tahu alasan pastinya.
Kemungkinan besar karena Filipus adalah nama Yunani. Bisa jadi mereka beranggapan, orang yang bernama Yunani itu pasti akan mau menolong mereka. Pada masa itu kebanyakan orang Yahudi memandang rendah bangsa lain. Persoalannya: Filipus sendiri tak tahu harus berbuat apa.
Kelihatannya, Filipus tidak tahu tanggapan Yesus terhadap keberadaan orang-orang Yunani itu. Mungkin dia khawatir, Yesus akan bersikap sama seperti orang Yahudi lainnya. Jika demikian, tentu tak ada gunanya menyampaikan keinginan mereka kepada Yesus.
Filipus diharapkan menjadi jembatan. Dari sisi orang Yunani, nama Filipus terasa dekat. Tetapi, persoalannya, sekali lagi, Filipus tidak sungguh-sungguh tahu apa kehendak Yesus sehingga dia gagal menjadi jembatan. Filipus mungkin mengasihi orang-orang Yunani itu, tetapi dia tidak tahu apakah Yesus akan menerimanya atau tidak?
Untunglah, Filipus menyampaikan persoalan itu kepada Andreas. Dan bersama dengan Andreas, Filipus membawa orang-orang Yunani itu kepada Yesus. Andreas mampu menjadi jembatan karena dia tahu kehendak Yesus.
Sejatinya, menjadi jembatan merupakan panggilan setiap Kristen. Menjadi jembatan antara manusia dan Allah. Pertanyaannya: apakah kita telah menjalani panggilan menjadi jembatan dalam hidup sesehari? Syaratnya cuma dua: sungguh-sungguh diterima manusia dan mengetahui kehendak Allah.
Mari menjadi jembatan, juga di tempat kerja kita!
Selamat bekerja,
Yoel M. Indrasmoro Direktur Literatur Perkantas Nasional
Allah itu baik. Kebaikan hati-Nya tak terhingga. Allah selalu bekerja secara sempurna, selalu hadir, dan melaksanakan rencana-Nya dengan penuh semangat dan sukacita.
Dalam bukunya, Mengasihi Yang Mahakudus, A.W. Tozer menyatakan bahwa kebaikan Allah bersifat abadi dan tak pernah berubah. Dia tidak akan pernah memiliki suasana hati yang buruk, sehingga enggan untuk memberkati manusia. Tak ada yang bisa menambah atau pun mengurangi belas kasihan Allah.
Allah yang baik dan penuh belas kasihan itu juga adil dan kudus. Keadilan menuntut penghukuman bagi kejahatan. Namun, belas kasihan-Nya mengampuni manusia berdosa dengan cara Allah menjadi manusia dalam diri Yesus Kristus, dan menggantikan hukuman manusia di kayu salib. Kebaikan Allah saat Yesus lahir di dunia, saat Yesus mati disalib, dan saat ini tetap sama. Allah selalu baik dan penuh kasih selamanya.
Apa yang dilakukan Yesus itu sempurna. Kristus datang, menderita, mati disalib, bangkit, dan hidup bagi manusia berdosa. Belas kasihan Allah mengalir seperti sungai. Kita semua adalah penerima belas kasihan Allah.
Bertobatlah dari kejahatan serta akui dosa dan Allah akan menyucikan Anda.
”Siapa saja yang menyambut seorang nabi sebagai nabi, ia akan menerima upah nabi…” (Mat. 10:40-41).
Photo by Belinda Fewings on Unsplash
”Menyambut” merupakan kata kerja. Ada gerakan dalam menyambut. Tak ada orang yang berpangku tangan saat menyambut orang lain. Tangan terbuka seolah ingin merangkul yang disambutnya.
Tak hanya tangan terbuka, wajah pun berseri. Enggak lucu bukan, tangan terbuka, tetapi wajah dingin tanpa ekspresi?
Baik tangan maupun wajah sejatinya merupakan cerminan hati terbuka. Jika hati tak terbuka, semua terkesan basa-basi. Dan semua basa-basi akan menjadi basi beneran.
Sejatinya, tak ada orang yang suka basa-basi. Siapa pun yang melakukannya akan menyadari ketidaktulusan dirinya. Dan akhirnya menjadi malu sendiri.
Lagi pula, basa-basi tak gampang ditutupi. Orang yang disambut akan cepat menyadari bahwa semuanya itu cuma basa-basi sehingga pertemuan pun menjadi tanpa makna.
Tindakan menyambut mensyaratkan bahwa orang yang kita sambut merupakan pribadi yang penting. Dalam bukunya, Pelayanan yang Berpusatkan Kehadiran, Mike King menyatakan betapa semakin banyak anak muda yang sedang berjalan menjauhi gereja. Namun, pertanyaan reflektifnya, tulis Mike King: ”Apakah mereka berjalan menjauh dari Yesus atau dari cara kita melakukan pelayanan gereja dan kaum muda?”
Tak hanya orang muda. Setiap orang perlu disambut dengan selayaknya—”menyambut nabi sebagai nabi”. Juga orang-orang yang kita temui hari ini. Dan tanpa basa-basi.
Selamat bekerja,
Yoel M. Indrasmoro Direktur Literatur Perkantas Nasional