Posted on Tinggalkan komentar

Takut akan Allah atau Takut akan Neraka?

Pikirkan sejenak tentang suatu tempat yang begitu buruk, begitu mengerikan, penuh dengan nyala api, dan rintihan kesakitan. Tidak membutuhkan waktu lama untuk berpikir. Persepsi kita akan mengenali bahwa tempat tersebut adalah neraka. Tidak ada satu pun yang indah tentang neraka. Beberapa orang mengasosiasikan neraka sebagai tempat perapian yang begitu besar. Alkitab jelas sekali berbicara tentang neraka seperti lautan api yang menyala-nyala.

Persepsi manusia tentang neraka begitu ampuh untuk membuat hidup manusia menjadi begitu saleh dan memiliki akhlak baik. Neraka telah menjadi ancaman yang begitu mengerikan sebagai konsekuensi hidup yang asal-asalan. Manusia menjadi begitu berhati-hati dalam berkata dan bertindak. Pikir kita, jangan sampai saya masuk neraka hanya karena saya belum melunasi utang. Sebelum saya mati izinkan saya bertanya, “Masihkah ada orang yang sakit hati karena perkataan dan perbuatan saya?”

A.W. Tozer menuliskan dalam bukunya Mengasihi yang Mahakudus, jika persepsi kita tentang Allah telah rusak atau dikompromikan dengan berbagai konsep lain di luar Allah, maka segala yang ada di kehidupan kita menjadi membingungkan dan kacau. Suatu tindakan mengasihi Allah yang sejati hanya bisa terjadi oleh pengenalan yang benar akan Allah bukan ketakutan akan api neraka.

Allah adalah pribadi yang Agung dan Mulia. Dan satu-satunya cara untuk mengenal Allah adalah dengan menjadi penyembah-Nya. Semakin kita mengenal Allah, semakin hati kita dipenuhi oleh pujian dan penyembahan. Saat kita mendekat kepada Allah, kita menemukan keindahan akan segala sesuatu tentang Allah. Tidak ada sesuatu pun yang buruk tentang Allah. Allah adalah pribadi Mahakasih dan Mahakudus.

Kita harus beranjak dari kubangan ketakutan akan kematian yang mengerikan untuk memandang kepada cahaya terang akan kemuliaan Allah yang menghidupkan. Takut akan neraka hanya akan menghasilkan hidup yang membelenggu, namun tetap saja berakhir pada kematian kekal. Sedangkan, takut akan Allah akan menghasilkan hidup merdeka yang bermuara pada persekutuan akrab dengan Allah di dalam kekekalan.

Kiranya sikap takut akan Allah terwujud dalam kerinduan kita untuk mengenal dan mengharapkan Allah lebih dari apa pun yang ada di dunia ini, selaras dengan doa yang dipanjatkan oleh Agustinus dari Hippo:

Engkau berteriak memanggil dan merobek ketulianku.
Engkau bercahaya terang dan mengenyahkan kebutaanku.
Engkau menyebarkan harum-Mu dan aku telah menghirupnya sampai aku begitu menginginkannya.
Aku sudah mencicipi Engkau maka aku lapar dan haus akan Engkau.
Engkau menjamahku maka aku bergairah mengharapkan Engkau.
Amin.

Gregorius Silitonga
Literatur Perkantas Nasional

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *