Posted on Tinggalkan komentar

Inspirasi Jumat Siang: Persepsi tentang Hubungan Kita dengan Allah

A. W. Tozer menantang orang Kristen dan para teolog pada zamannya untuk kembali kepada spiritualitas yang mempertuhankan Kristus. Di tengah bangkitnya semangat teologi modern, Tozer menyerukan bahwa tujuan berteologi bukan hanya untuk memuaskan pikiran melalui perdebatan teologis, tetapi teologi harus membawa seseorang makin mengasihi Yesus.

Tozer dengan jelas meringkas hubungan kita dengan Allah dalam tiga kata, yakni sentralistis, mendasar, dan utama. Kristus adalah sentral Gereja-Nya. Ia mempersatukannya dan di dalam Dia gereja terpancar. Kristus juga merupakan dasar gereja. Ia ada di bawahnya, dan seluruh umat tebusannya bertumpu hanya kepada Dia. Di dalam Kristus kita tidak perlu menambahkan sesuatu, sebab Allah menyatakan bahwa Putra-Nya—Yesus Kristus—cukup. Dia adalah jalan, kebenaran, dan hidup; Dia adalah hikmat, kebenaran, pengudusan, dan penebusan. Dia adalah hikmat dan kekuatan Allah yang menghimpun segala sesuatu, sehingga Kristus adalah yang utama—diutamakan—dan ditempatkan di atas segala-galanya. Kita berkomitmen hanya kepada Yesus Kristus, satu-satunya Tuhan kita. Kita harus percaya kepada Kristus yang adalah Allah; kita harus percaya pada apa yang Allah katakan tentang Dia.

Orang Kristen adalah orang yang telah disalibkan, namun hidup, dan dipersatukan dengan Yesus Kristus. Seorang pengikut Kristus yang sejati adalah orang-orang yang kehendaknya telah dikuduskan—bukan orang-orang tanpa kehendak. Allah menyatukan kehendak kita dengan kehendak-Nya, dan kehendak kita jadi bertambah kuat; serta kehendak-Nya akan menyatukan kita dengan Allah. Keterikatan kita kepada pribadi Kristus harus menyingkirkan segala sesuatu yang bertentangan dengan Kristus. Orang tidak dapat mengasihi Allah sebelum ia membenci dosa dan ketidakbenaran. Inilah tanda kita bersatu dengan Kristus dan mengenali Dia.

Betapa indahnya berkata, ”Aku disalibkan dengan Kristus” dan tahu bahwa Kristus memiliki rencana atas hidup kita. Tozer menutup bagian ini dengan menyatakan, ”Kita dapat mengurangi waktu untuk berdebat dan berdiskusi, jika kita mengambil waktu lebih banyak untuk menantikan Allah.”

Ririn Sihotang

Literatur Perkantas Nasional

Bagikan:
Posted on Tinggalkan komentar

Kisah Tjondro Sungkowo

Photo by Kristine Weilert on Unsplash

Pada Jumat pagi, 15 Februari 2019, Tjondro Sungkowo—warga jemaat kami sekaligus Om dari istri saya—dipanggil Tuhan. Dari semua orang yang bercakap-cakap dengan kami—teman sejawat, mantan mahasiswanya, dan warga jemaat—terungkap nada yang sama: ”Beliau orang baik!”

Banyak orang telah merasakan kebaikannya melalui profesi dokter, yang ditekuninya seumur hidupnya. Kata mereka, dia memang bertangan dingin. ”Mendengar suaranya saja, anak saya langsung sembuh,” imbuh seorang bapak. Yang lain menambahkan, ”Beliau tidak pernah menolak pasien. Dibangunkan jam dua pagi pun beliau siap menangani.”

Dia juga pribadi yang tidak neko-neko. Alasannya tak mau mengambil kesempatan menjadi spesialis pun sederhana saja. ”Nanti, kalau sudah jadi spesialis malah enggak bisa menolong orang karena takut biayanya mahal,” tutur putrinya.

Ya, setiap yang hadir punya cerita berbeda dengan nada sama: ”Orang baik!” Ibadah penghiburan dan pemakaman akhirnya menjadi sebuah perayaan kehidupan yang menghiburkan banyak orang. Sebab setiap orang telah mengalami kebaikan Allah melalui dirinya. Inilah hidup yang berbuah (Yer. 17:8).

Manusia memang dipanggil untuk berbuah. Tak hanya bagi diri sendiri, terutama untuk orang lain melalui profesinya. Dan hanya dengan itu Allah dimuliakan.

Caranya? Dengan tetap mengandalkan Allah dan menaruh harap kepada-Nya dalam menghidupi profesi yang telah dipilih (Yer. 17:7).

Selamat bekerja,

Yoel M. Indrasmoro
Direktur Literatur Perkantas Nasional

Bagikan:
Posted on Tinggalkan komentar

Inspirasi Jumat Siang: Mengapa Ada Presepsi yang Salah tentang Allah?

Presepsi kita tentang Allah begitu penting sehingga kita harus memastikan bahwa presepsi itu betul-betul berakar dan beralaskan firman Allah. Sebagai manusia, sangat mudah bagi kita untuk teralihkan dan mencoba membarui firman Allah. Terkadang kita bersalah mengubah rencana Allah untuk beberapa alasan, kita mengira kita lebih baik dari Allah.

Dalam buku Mengasihi yang Mahakudus, AW Tozer mengemukakan beberapa kesalahan yang sering kita lakukan sehingga menyebabkan persepsi yang salah tentang Allah:

Mengasumsikan bahwa hal yang ada di Alkitab itu ada juga di dalam diri kita. Kita dapat memahami apa yang Alkitab katakan, namun kita tidak dapat menganggap bahwa kita memiliki semua itu karena Alkitab mengatakannya. Kita harus sampai pada titik mengalami secara pribadi setiap hal yang diajarkan kepada kita dalam Alkitab. Memahami Alkitab itu penting sebagai langkah pertama, namun setelah itu kita harus bertekun, gigih, sampai kesempurnaan; yaitu mengalami hal yang Allah kehendaki kita alami dalam Tuhan Yesus oleh kuasa Roh Kudus.

Kemalasan Rohani. Kita dapat berolahraga untuk mengimbangi kemalasan fisik, tetapi hampir tidak mungkin kita melakukan latihan intelektual. Gereja cenderung memberikan ”makanan rohani biasa” bagi umatnya. Pendeta tak berani melanjutkan ke tataran teologi yang lebih tinggi karena takut umat tidak bisa mengikutinya. Memang sulit mengajak orang berpikir, namun lebih sulit lagi mendapati mereka haus. Untuk membuat orang haus secara rohani, hanya Roh Kuduslah yang dapat melakukannya.

Cinta kita terhadap dunia. Kita menerima standar yang berlaku umum di dunia sebagai hal yang ”normal”. Misalnya seperti anak bayi yang lahir di sebuah sanatorium untuk pasien TBC. Anak tersebut lahir, tinggal, tumbuh, dan menerima situasi di sana sebagai hal yang normal—ia tak tahu apa-apa. Setiap orang batuk, memegang dadanya, membawa tempat untuk meludah, dan menjalani diet khusus. Jika kita dibesarkan dalam lingkungan seperti itu, kita berpikir itu hal yang normal, dan kita menyesuaikan seluruh hidup kita dengan hal normal tersebut. Jika kita terbiasa dengan standar dunia, kita bersebrangan dengan standar Firman. Segalanya tampak normal dan tidak ada yang menduga bahwa ada yang sesuatu harus dipegang teguh berkenaan dengan kehidupan Kristen.

Keinginan kita secara umum untuk dihibur dalam hal apa pun. Kita dianjurkan pergi ke gereja untuk menemukan kedamaian dan penghiburan, namun gereja bukanlah tempat untuk mendapat penghiburan, gereja adalah tempat untuk mendengar Injil diberitakan sehingga kita memperoleh keselamatan. Ada perbedaan yang besar antara dihibur dan diselamatkan. Seseorang dapat memperoleh penghiburan dan berakhir di neraka, sedangkan seorang lain berada di bawah kritikan tajam, yang memintanya untuk berubah, bertobat, dan pada akhirnya pergi ke surga.

Keengganan untuk mematikan keinginan daging. Ada dua tipe orang dalam kehidupan kekristenan, yang puas dan yang lapar. Orang yang puas menganggap perintah untuk dipenuhi Roh Kudus adalah hal yang bersifat ideal saja, namun tidak untuk dituruti. Sedangkan orang yang lapar adalah orang yang dengan semangat—tetap setia dan taat—menjalankan disiplin rohani untuk mencapai kesempurnaan dalam Kristus.

Dari penjelasan kelima hal di atas, muncul pertanyaan untuk kita renungkan dan jawab. Apakah kita sudah merasa cukup puas dengan diri kita saat ini, atau kita masih merasa lapar? Jawaban atas pertanyaan tersebut serta tindak lanjutnya, akan sangat menentukan persepsi kita tentang Allah. Jika kita masih merasa lapar untuk melakukan sesuatu, kita akan mendaki gunung Allah. Namun, jika kita cukup puas, kita akan tetap sama menjadi orang yang biasa-biasa saja—lesu seperti sekarang. Jadi, ini hanya soal seberapa rindu kita untuk mengenal Allah.

Rycko I.

Literatur Perkantas Nasional

 

 

 

 

 

 

Bagikan:
Posted on Tinggalkan komentar

Kisah Susan Cooper

Ini bukan kisah saya. Ini kisah Susan Cooper. ”Untuk pekerjaan rumah, saya diminta membuat lukisan tangga. Dan saya telah menyelesaikannya. Akan tetapi, ketika saya hendak menyingkirkan tinta, satu titik tertetes tepat di tengah gambar. Waktu sudah tidak memungkinkan lagi untuk menggambar ulang. Saya merasa sangat putus asa, hingga saya menangis.

Photo by Matthew Henry on Unsplash

Mendengar kesusahan ini, ayah berkata dengan lembut, ’Jangan khawatir. Tetesan tinta itu kelihatannya seperti bintik di tubuh seekor anjing kecil. Yang harus Engkau lakukan hanyalah menggambar seekor anak anjing di sekitar titik hitam ini. Jangan mudah putus asa, Nak! Sering kita hanya membutuhkan sedikit keuletan dan daya khayal untuk mengubah keadaan buruk menjadi baik. Ingat, hanya sedikit hal yang memang tidak ada harapan seperti kelihatan sejak awal.’

Saya segera menggambar anak anjing kecil di sekitar bintik hitam itu. Keesokan harinya, gambar saya terpilih sebagai gambar terbaik di kelas. Anak anjing itu justru membuat lukisan tangga itu semakin indah.”

Masalah hidup sehari-hari—juga masalah di kantor—sering membuat diri kita merasa tertekan. Apa lagi jika di tengah tenggat waktu yang mepet itu ternyata kita melakukan kesalahan. Rasanya ingin menyerah saja.

Namun, the show must go on ’hidup terus berjalan’. Bagian kita hanyalah meminta hikmat dari Allah, untuk mengubah kesalahan itu menjadi berkat.

Jangan pula kita lupa bahwa masalah berasal dari bahasa Arab masya Allah, yang secara harfiah berarti ”apa kehendak Allah”. Masalah merupakan kesempatan untuk mencari dan menghidupi kehendak Allah dalam diri kita.

Lagi pula, bukankah ”Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia” (Rm. 8:28)?

Selamat bekerja,

Yoel M. Indrasmoro
Direktur Literatur Perkantas Nasional

Bagikan:
Posted on Tinggalkan komentar

Mengenal Allah dan Firman-Nya

Apa yang Anda lakukan ketika melihat seorang anak yang sedang sakit demam makan es krim? Bagaimana respons Anda ketika tersesat, dan tidak ada yang memberitahukan petunjuk jalan yang benar? Dalam Yakobus 4:17 tertulis,  ”Jadi jika seorang tahu bagaimana ia harus berbuat baik, tetapi ia tidak melakukannya, ia berdosa.”

Dalam peristiwa sehari-hari, seorang dokter yang baik akan memberitahu kondisi yang salah kepada pasiennya dan memberi resep obat agar kondisi pasien membaik. Entah sebagai dokter atau profesi lain, sebaiknya kita juga membimbing orang lain dari jalan yang salah menuju jalan yang benar. Kita bisa memulainya dengan menunjukkan kesalahan seseorang dengan lembut, dan mengarahkannya kepada Yesus. Ini merupakan tugas kita sebagai anggota tubuh Kristus, karena satu bagian tubuh yang sakit memengaruhi seluruh tubuh.

Tozer dalam buku Mengasihi Yang Mahakudus menolong para pembaca untuk memulihkan persepsi mereka tentang Allah. Pada masa kini ada banyak khotbah mengenai cara menjadi orang yang baik dan pandai bergaul. Namun, pengajaran akan kesempurnaan, karakter dan sifat Allah terasa sangat kurang. Akibatnya, kerinduan akan Allah pun memudar.

Orang percaya sewajarnya berfokus pada kesempurnaan Allah, berjuang untuk mengenal Allah melalui firman-Nya dan mengikuti-Nya, bukan pada hal-hal remeh lainnya. Melalui buku ini, Tozer berharap akan ada kebangkitan kobaran api Roh Kudus dan kemuliaan Allah makin dinyatakan dalam diri orang beriman.

Sang Pencipta tak dapat disamakan dengan ciptaan (Yes. 40:25). Pengetahuan manusia sangat terbatas, sedangkan Allah tak terbatas. Jadi, kita tak mungkin mengerti semua tentang Allah, melainkan hanya segelintir saja. Sering kali kita menilai Allah berdasarkan pemikiran kita yang sarat keterbatasan. Allah yang mengasihi, kita definisikan tidak membenci, padahal Dia membenci dosa. Allah itu kekal, sifat-sifat-Nya tak terpisahkan karena merupakan satu kesatuan, bukan bagian-bagian.

Kesempurnaan Allah bersifat tetap, tidak berdasarkan perubahan perasaan kita. Yesus adalah satu-satunya jalan menuju kesempurnaan (Yoh. 14:6). Jika kita rindu mengenal Allah, kita harus menerima Kristus sebagai Tuhan dan Juru Selamat secara pribadi. Ada harga yang harus dibayar untuk bertumbuh, semua akan menjadi begitu berbeda saat kita berjumpa dengan Allah di gunung kudus-Nya. Kedahsyatan dan kemuliaan-Nya memampukan kita untuk bertumbuh.

Allah melampaui segala definisi dan ilustrasi. Semakin kita memahami keagungan dan kesempurnaan Allah, semakin kita kagum dan hormat akan Sang Khalik. Ibadah kita bertumbuh sejalan dengan bertumbuhnya pengenalan dan persepsi kita tentang Allah.

Kiranya kita terus rindu untuk mengenal Sang Pencipta, melihat kemuliaan Allah dan merenungkan keajaiban firman-Nya dalam setiap aspek hidup kita.

Priskila Dewi S.

Literatur Perkantas Nasional

 

Bagikan:
Posted on Tinggalkan komentar

Genaplah Nas Ini

”Pada hari ini genaplah nas ini sewaktu kamu mendengarnya” (Luk. 4:21). Demikianlah pamungkas pengajaran Yesus dalam rumah ibadah di Nazaret. Pamungkas semacam ini memperlihatkan kepada kita bahwa setiap orang sejatinya dipanggil untuk menggenapi kehendak-Nya. Allah mempunyai rancangan bagi setiap ciptaan-Nya. Dan panggilan makhluk adalah menggenapi Sang Khalik.

Pamungkas itu jugalah agaknya yang membuat umat yang sebelumnya kagum menjadi kaget dan bertanya-tanya: ”Bukankah Ia ini anak Yusuf?” (Luk. 4:22). Mereka tampaknya tak menduga bahwa Mesias akan muncul dari tempat mereka.

Klaim Yesus bahwa Dia menggenapi nubuat Yesaya membawa orang banyak itu dalam sebuah keputusan: menerima atau menolak pernyataan Yesus itu. Lukas mencatat bahwa mereka lebih suka tidak memercayai-Nya. Dan Yesus pun ditolak.

Kisah penolakan ini memperlihatkan juga kepada kita bahwa sesungguhnya, setiap manusia itu unik, khas, dan satu-satunya. Karena itu, setiap pribadi, yang diciptakan Allah secara khusus, sungguh-sungguh harus menggali dan mengeluarkan semua keunikan dirinya. Hanya dengan cara itulah harkat manusia sebagai ciptaan Allah tampak. Dan hanya dengan cara itu pula, manusia dapat menemukan desain yang Allah tanam dalam dirinya.

Allah punya desain bagi setiap manusia. Kita dipanggil untuk hidup seturut desain tersebut. Kita dipanggil untuk menggenapi desain Allah itu. Pekerjaan yang kita geluti sekarang ini sejatinya adalah cara kita dalam menggenapi desain kita—panggilan yang telah Allah tanamkan dalam diri kita masing-masing.

Selamat bekerja,

Yoel M. Indrasmoro
Direktur Literatur Perkantas Nasional

Bagikan:
Posted on Tinggalkan komentar

Persepsi yang Salah tentang Allah

Ada rasa syukur yang luar biasa saat saya membaca buku A. W. Tozer, Mengasihi Yang Mahakudus. Ya, mempelajari serta menggumuli kembali satu hal yang penting dan terutama dalam kehidupan rohani kita, Allah Yang Mahakudus. Secara mendetail dalam bab keempatnya, Tozer mengungkapkan kerinduannya—bagi saya, bagi kita, dan bagi Gereja masa kini—tentang bagaimana kembali masuk ke hadirat Sang Mahakudus.

Tozer merasa cemas melihat kondisi Gereja akhir-akhir ini, yakni semakin hilangnya persepsi yang tepat tentang Allah. Bahkan, Tozer menyoroti salah satu gereja dalam Kitab Wahyu yang pernah disebut sebagai gereja yang suam-suam kuku—tidak dingin atau panas—yang berarti mereka memulai dengan baik, dengan tujuan yang baik, berjalan di jalan yang baik. Namun di suatu tempat di tengah jalan, kasih mereka kepada Allah menjadi hambar.

Tozer juga memberikan contoh tentang kebangunan rohani jemaat di suatu negara kecil Wales pada 1904, di bawah kepemimpinan Evan Roberts. Suatu kali pada minggu pagi, pendeta tidak berkhotbah sama sekali karena Allah bekerja sedemikian rupa. Mereka hanya duduk terpesona dalam kekaguman akan kehadiran Allah sambil menyanyikan lagu-lagu pujian dari Kitab Mazmur—Roh Kudus menggerakkan umat. Persepsi orang tentang Allah kala itu menjadi tinggi dan mulia, sehingga orang dapat betul-betul yakin akan Allah.

Dalam ibadah kebangunan rohani pada masa lalu, orang menjadi tidak sadar akan waktu dan hanya menyadari kehadiran Allah yang berkarya dalam hidup mereka. Namun, Tozer melihat pada masa kini yang orang sadari dalam gereja-gereja kita adalah semangat hiburan dan kesenangan semata, serta menunggu ”Kapan acara ini selesai sehingga saya dapat kembali ke dunia nyata?”

Tozer tentu tidak serta-merta menggunakan kacamata kuda. Ia menyadari betul bahwa zaman memang telah berubah, kita tidak lagi segan dan hormat kepada Allah, dan tidak lagi mengalami rasa takut yang kudus kepada-Nya. Menurutnya, fokus pemberitaan Firman masa kini juga telah bergeser karena lebih mementingkan sifat hiburan agar jemaat senantiasa mau hadir.

Tozer menilai, merosotnya situasi kerohanian Gereja yang tragis dan mencemaskan ini sebagai akibat dari kita melupakan sifat Allah kita. Khotbah kita seharusnya mengutamakan firman Allah di atas segalanya—bahkan di atas tren dan budaya— karena persepsi kita tentang Allah menentukan persepsi kita tentang ibadah. Selain itu, hal mendasar yang hilang dari kita pada masa kini adalah ”visi dari tempat tinggi”.

Mari kita mengingat dan merenungkan kembali bahwa kekristenan adalah tentang menyembah Allah, memuliakan Allah, dan bersukacita atas sifat Allah yang sungguh mengagumkan. Semua hal tentang kekristenan berpusat kepada Allah. Dan sebagai Gereja-Nya, mari kita terus rindu memberitakan Allah, berdoa kepada Allah, serta dengan bangga dan penuh sukacita, mendeklarasikan Allah di antara bangsa-bangsa.

Febriana D.H.

Literatur Perkantas Nasional

Bagikan:
Posted on Tinggalkan komentar

Revisi Kata

Ada yang mati di tengah pesta itu (Mrk. 6:14-29). Pestanya bukan pesta kematian, melainkan pesta ulang tahun. Dan yang berulang tahun bukan sembarang orang. Ini pesta ulang tahun seorang raja. Tragisnya, di pesta ulang tahun raja ada seseorang yang harus mati karena raja tak mampu mengekang lidahnya.

Herodes, penyelenggara pesta itu, begitu bergembiranya hingga tak mampu mengendalikan lidahnya. Dia terpesona oleh keindahan tarian putri Herodias. Saking gembiranya, Herodes berjanji akan memberikan apa saja yang diinginkan gadis itu. Tak hanya itu, dia pun bersumpah, ”Apa saja yang kauminta akan kuberikan kepadamu, sekalipun setengah dari kerajaanku” (Mrk. 6:23).

Jika raja tak mampu mengekang lidahnya saking gembiranya, putri Herodias lain. Dia tidak mau buru-buru berbicara. Agaknya, dia tidak mau menyesal di kemudian hari. Dia punya kesempatan besar. Bagaimanapun, raja telah bersedia memberikan setengah kerajaannya. Namun, dia tak mau buru-buru meminta setengah kerajaan. Dia pergi ke Herodias, dan memohon nasihatnya.

Sang Ibu tak hirau tawaran raja, dia lebih suka menyaksikan kematian Yohanes Pembaptis. Sang Putri meminta—karena nasihat ibunya—kepala Yohanes Pembaptis di dalam sebuah talam. Herodes terkejut mendengar permintaan itu. Bagaimanapun, sabda pandita ratu ’janji harus ditepati’. Pantang bagi seorang raja menelan ludah sendiri. Dan karena itulah, putra Zakaria mati di tengah pesta.

Janji memang harus ditepati. Namun, dalam kondisi tertentu, revisi bukanlah aib. Terlebih jika janji itu berpengaruh besar terhadap kehidupan orang lain. Apalagi, janji yang diucapkan sembarangan.

Dan yang terpenting: hati-hati dengan kata! Juga di tempat kerja hari ini.

Selamat bekerja,

Yoel M. Indrasmoro
Direktur Literatur Perkantas Nasional

Bagikan:
Posted on Tinggalkan komentar

Pentingnya Evaluasi Diri

Bagaimana persepsi kita tentang Allah? Pertanyaan yang sulit dijawab kalau kita sendiri belum sungguh mengenal-Nya. Pengenalan akan Allah memampukan kita untuk membangun kehidupan pribadi yang lebih baik, juga ibadah kita, yang bermuara pada pelayanan gereja. Perkembangan Gereja sekarang ini tak lepas dari pengenalan akan Allah dan kehendak-Nya bagi umat-Nya.

Dalam buku Mengasihi Yang Mahakudus, A.W. Tozer menulis: ”Jika kita ingin mengetahui di mana kita berada dan ke mana kita pergi, kita perlu mengetahui bagaimana kita akan ke sana serta situasi rohani seperti apa yang sedang kita hadapi. Kita akan menilai diri kita sendiri dengan mempertimbangkan apa yang kita peroleh dan apa yang telah hilang dari kita.” Kalau kita mengenal Allah dengan baik, tentu kita tahu rencana Allah buat kita. Dan karena itu, perlu bagi kita untuk mengevaluasi kembali apa yang belum atau harus kita lakukan.

A.W. Tozer, dalam buku tersebut, juga menjelaskan kemajuan-kemajuan yang dicapai Gereja. Di antaranya: meningkatnya semangat keagamaan, pertumbuhan Gereja, lembaga pelayanan atau sekolah yang dimiliki Gereja, serta masih banyak lagi.

Apa yang diperoleh Gereja saat ini tentu tidak lepas dari proses evaluasi yang dilakukan secara rutin. Segala sesuatu memang perlu dievaluasi. Baik dan buruknya perlu dicatat supaya kita tetap berjalan menuju arah yang benar. Jika memang ada masalah, perlu dikoreksi untuk membawa kita kembali ke tempat seharusnya kita berada.

Allah telah membuat rancangan buat kita dan juga buat Gereja. Kita perlu mengevaluasi di mana kita sekarang? Apakah yang kita lakukan sekarang memang sesuai rancangan Allah. Kita perlu, dan siap, mengevaluasi diri agar tetap berada di jalan yang telah direncanakan Allah bagi kita.

Nah, di mana kita sekarang?

Heru Santoso
Literatur Perkantas Nasional

Bagikan:
Posted on Tinggalkan komentar

Dengan Gembira dan Tulus Hati

”Dengan bertekun dan dengan sehati mereka berkumpul tiap-tiap hari dalam Bait Allah. Mereka memecahkan roti di rumah masing-masing secara bergilir dan makan bersama-sama dengan gembira dan dengan tulus hati, sambil memuji Allah.” (Kis. 2:46-47).

Photo by Robert Collins on Unsplash

Dengan gembira dan tulus hati. Demikianlah suasana persekutuan jemaat mula-mula sebagaimana direkam Lukas. Tidak hanya tampak dalam ibadah, juga dalam hidup sehari-hari. Mereka agaknya paham bahwa ibadah dan hidup keseharian merupakan kesatuan. Hidup sehari-hari dipahami sebagai ibadah.

Sikap gembira bukan hal gampang. Bagaimana mungkin gembira ketika hati luka? Bagaimana mungkin gembira saat yang diharap beda dengan realitas? Bagaimana mungkin gembira di tengah ketidakpastian hidup?

Jika memang itu pertanyaannya, maka perlulah kita tambah dengan serangkaian pertanyaan lagi. Apakah memang sungguh-sungguh tak ada yang dapat menggembirakan hati? Pandanglah surya di kala pagi dan sore hari! Perhatikanlah mekar sekuntum bunga! Tengoklah juga ketenangan bayi yang lelap dalam gendongan ibunya!

Semuanya itu mungkin akan membuat Anda bergembira. Jika Anda masih belum mampu bergembira, pandanglah diri Anda seutuhnya. Bukankah Anda masih hidup? Pandanglah sekeliling Anda, rasakanlah kasih dan perhatian orang-orang terdekat. Dan bergembiralah!

Dunia sudah cukup suram. Janganlah tambah kesuramannya dengan kesedihan Anda! Dan kegembiraan Anda biasanya akan membuat orang di sekitar Anda turut gembira.

Agaknya ada kaitan erat antara gembira dan tulus hati. Tulus berarti memandang orang lain tanpa prasangka, bersikap jujur, terbuka, apa adanya. Kita sering tak mampu gembira karena kita tak mampu bersikap jujur dengan diri sendiri, apa lagi dengan orang lain.

Atau, prasangka terhadap orang lain sering membuat kita cemas dan memasang kuda-kuda. Itu sungguh melelahkan, yang akhirnya membuat kita sulit gembira.

Karena itu, marilah kita kembangkan sikap gembira dan tulus hati, juga di tempat kerja kita masing-masing!

Selamat bekerja,

Yoel M. Indrasmoro
Direktur Literatur Perkantas Nasional

Bagikan: