Posted on Tinggalkan komentar

Inspirasi Jumat Siang: Mengapa Ada Presepsi yang Salah tentang Allah?

Presepsi kita tentang Allah begitu penting sehingga kita harus memastikan bahwa presepsi itu betul-betul berakar dan beralaskan firman Allah. Sebagai manusia, sangat mudah bagi kita untuk teralihkan dan mencoba membarui firman Allah. Terkadang kita bersalah mengubah rencana Allah untuk beberapa alasan, kita mengira kita lebih baik dari Allah.

Dalam buku Mengasihi yang Mahakudus, AW Tozer mengemukakan beberapa kesalahan yang sering kita lakukan sehingga menyebabkan persepsi yang salah tentang Allah:

Mengasumsikan bahwa hal yang ada di Alkitab itu ada juga di dalam diri kita. Kita dapat memahami apa yang Alkitab katakan, namun kita tidak dapat menganggap bahwa kita memiliki semua itu karena Alkitab mengatakannya. Kita harus sampai pada titik mengalami secara pribadi setiap hal yang diajarkan kepada kita dalam Alkitab. Memahami Alkitab itu penting sebagai langkah pertama, namun setelah itu kita harus bertekun, gigih, sampai kesempurnaan; yaitu mengalami hal yang Allah kehendaki kita alami dalam Tuhan Yesus oleh kuasa Roh Kudus.

Kemalasan Rohani. Kita dapat berolahraga untuk mengimbangi kemalasan fisik, tetapi hampir tidak mungkin kita melakukan latihan intelektual. Gereja cenderung memberikan ”makanan rohani biasa” bagi umatnya. Pendeta tak berani melanjutkan ke tataran teologi yang lebih tinggi karena takut umat tidak bisa mengikutinya. Memang sulit mengajak orang berpikir, namun lebih sulit lagi mendapati mereka haus. Untuk membuat orang haus secara rohani, hanya Roh Kuduslah yang dapat melakukannya.

Cinta kita terhadap dunia. Kita menerima standar yang berlaku umum di dunia sebagai hal yang ”normal”. Misalnya seperti anak bayi yang lahir di sebuah sanatorium untuk pasien TBC. Anak tersebut lahir, tinggal, tumbuh, dan menerima situasi di sana sebagai hal yang normal—ia tak tahu apa-apa. Setiap orang batuk, memegang dadanya, membawa tempat untuk meludah, dan menjalani diet khusus. Jika kita dibesarkan dalam lingkungan seperti itu, kita berpikir itu hal yang normal, dan kita menyesuaikan seluruh hidup kita dengan hal normal tersebut. Jika kita terbiasa dengan standar dunia, kita bersebrangan dengan standar Firman. Segalanya tampak normal dan tidak ada yang menduga bahwa ada yang sesuatu harus dipegang teguh berkenaan dengan kehidupan Kristen.

Keinginan kita secara umum untuk dihibur dalam hal apa pun. Kita dianjurkan pergi ke gereja untuk menemukan kedamaian dan penghiburan, namun gereja bukanlah tempat untuk mendapat penghiburan, gereja adalah tempat untuk mendengar Injil diberitakan sehingga kita memperoleh keselamatan. Ada perbedaan yang besar antara dihibur dan diselamatkan. Seseorang dapat memperoleh penghiburan dan berakhir di neraka, sedangkan seorang lain berada di bawah kritikan tajam, yang memintanya untuk berubah, bertobat, dan pada akhirnya pergi ke surga.

Keengganan untuk mematikan keinginan daging. Ada dua tipe orang dalam kehidupan kekristenan, yang puas dan yang lapar. Orang yang puas menganggap perintah untuk dipenuhi Roh Kudus adalah hal yang bersifat ideal saja, namun tidak untuk dituruti. Sedangkan orang yang lapar adalah orang yang dengan semangat—tetap setia dan taat—menjalankan disiplin rohani untuk mencapai kesempurnaan dalam Kristus.

Dari penjelasan kelima hal di atas, muncul pertanyaan untuk kita renungkan dan jawab. Apakah kita sudah merasa cukup puas dengan diri kita saat ini, atau kita masih merasa lapar? Jawaban atas pertanyaan tersebut serta tindak lanjutnya, akan sangat menentukan persepsi kita tentang Allah. Jika kita masih merasa lapar untuk melakukan sesuatu, kita akan mendaki gunung Allah. Namun, jika kita cukup puas, kita akan tetap sama menjadi orang yang biasa-biasa saja—lesu seperti sekarang. Jadi, ini hanya soal seberapa rindu kita untuk mengenal Allah.

Rycko I.

Literatur Perkantas Nasional

 

 

 

 

 

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *