Posted on Tinggalkan komentar

Inspirasi Jumat Siang: Persepsi tentang Hubungan Kita dengan Allah

A. W. Tozer menantang orang Kristen dan para teolog pada zamannya untuk kembali kepada spiritualitas yang mempertuhankan Kristus. Di tengah bangkitnya semangat teologi modern, Tozer menyerukan bahwa tujuan berteologi bukan hanya untuk memuaskan pikiran melalui perdebatan teologis, tetapi teologi harus membawa seseorang makin mengasihi Yesus.

Tozer dengan jelas meringkas hubungan kita dengan Allah dalam tiga kata, yakni sentralistis, mendasar, dan utama. Kristus adalah sentral Gereja-Nya. Ia mempersatukannya dan di dalam Dia gereja terpancar. Kristus juga merupakan dasar gereja. Ia ada di bawahnya, dan seluruh umat tebusannya bertumpu hanya kepada Dia. Di dalam Kristus kita tidak perlu menambahkan sesuatu, sebab Allah menyatakan bahwa Putra-Nya—Yesus Kristus—cukup. Dia adalah jalan, kebenaran, dan hidup; Dia adalah hikmat, kebenaran, pengudusan, dan penebusan. Dia adalah hikmat dan kekuatan Allah yang menghimpun segala sesuatu, sehingga Kristus adalah yang utama—diutamakan—dan ditempatkan di atas segala-galanya. Kita berkomitmen hanya kepada Yesus Kristus, satu-satunya Tuhan kita. Kita harus percaya kepada Kristus yang adalah Allah; kita harus percaya pada apa yang Allah katakan tentang Dia.

Orang Kristen adalah orang yang telah disalibkan, namun hidup, dan dipersatukan dengan Yesus Kristus. Seorang pengikut Kristus yang sejati adalah orang-orang yang kehendaknya telah dikuduskan—bukan orang-orang tanpa kehendak. Allah menyatukan kehendak kita dengan kehendak-Nya, dan kehendak kita jadi bertambah kuat; serta kehendak-Nya akan menyatukan kita dengan Allah. Keterikatan kita kepada pribadi Kristus harus menyingkirkan segala sesuatu yang bertentangan dengan Kristus. Orang tidak dapat mengasihi Allah sebelum ia membenci dosa dan ketidakbenaran. Inilah tanda kita bersatu dengan Kristus dan mengenali Dia.

Betapa indahnya berkata, ”Aku disalibkan dengan Kristus” dan tahu bahwa Kristus memiliki rencana atas hidup kita. Tozer menutup bagian ini dengan menyatakan, ”Kita dapat mengurangi waktu untuk berdebat dan berdiskusi, jika kita mengambil waktu lebih banyak untuk menantikan Allah.”

Ririn Sihotang

Literatur Perkantas Nasional

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *