Posted on Tinggalkan komentar

Siapa Bertelinga…

”Siapa bertelinga, hendaklah ia mendengar.” (Mat. 13:9). Demikianlah nasihat Yesus kepada para murid-Nya. Mungkin agak keras dalam pandangan kita. Namun, kalimat itu hendak mengingatkan manusia akan keberadaan dan panggilannya selaku manusia. Kenyataannya, banyak orang tak lagi mampu menjadi manusia.

Sekadar contoh: soal pendengaran tadi. Yang bertelinga, tak mau mendengar, apalagi mendengarkan. Lalu, apa arti sepasang telinganya? Bukankah telinga dimaksudkan agar orang mampu mendengar?

Persoalan kemauan dan kemampuan menjadi penting kita renungkan karena kemampuan mendengar belum tentu berbanding lurus dengan kemauan mendengar.

Lagi pula, tak ada kelopak telinga, yang ada hanyalah daun telinga. Itu berarti proses pendengaran tak perlu instruksi otak. Kita tak mungkin menutup telinga sebagaimana mata. Artinya, tak mendengar sungguh aneh.

Lebih aneh lagi, jika manusia merasa perlu menyeleksi apa yang didengarnya. Persoalannya: banyak orang mendengar apa yang ingin didengarnya. Kalau sudah begini, nasihat Sang Guru menjadi modal utama bagi para murid-Nya, yang hari ini memulai minggu kerja baru: ”Siapa bertelinga, hendaklah ia mendengar!”

Selamat Bekerja!

Yoel M. Indrasmoro
Direktur Literatur Perkantas Nasional

Bagikan:
Posted on Tinggalkan komentar

Membuka Hati

Dalam dunia psikologis, tingkat depresi turut dipengaruhi oleh respons seseorang dari lingkungan terdekatnya. Semakin depresi seseorang, semakin ia memerlukan perlakuan khusus. Seseorang yang depresi, tetapi merasa dipedulikan pada akhirnya sedikit banyak akan sanggup untuk membuka hatinya. Namun, bagaimana jika seseorang itu diperlakukan sebaliknya?

Buku Kaya Roh: Hidup dalam Roh, Berada dalam Kristus mengungkapkan bahwa banyak sekali berkat yang tersembunyi atau terhalang hanya karena seseorang tidak berani untuk membuka hati. Banyak pergumulan tersembunyi dan tersimpan dalam-dalam hanya karena seseorang tidak mampu membuka hati.

Banyak anak Allah yang karena tidak mempunyai orang lain yang mau mengenal mereka apa adanya lantas merasa kesepian dan tidak bahagia. Di saat-saat seperti itu seseorang membutuhkan orang lain. Seseorang yang mau dan mampu mendengarkan isi hatinya. Seseorang yang mau mengerti situasinya, baik kekalahan maupun kemenangan.

Untuk dapat membuka hati dengan segala sisi kelamnya, seseorang memerlukan orang lain yang dapat ia percaya, yang menunjukkan kasih dan empati yang tulus kepadanya, yang membuatnya merasa aman dan nyaman. Setidaknya dengan begitu ia mampu mengusir rasa takut ditolak dan dihakimi.

Sekalipun demikian, hanya ada Satu Pribadi yang mampu memberikan semua itu. Yesuslah yang senantiasa membuka ruang ketenangan, mengusir rasa takut, dan memuaskan hati kita. Secara pribadi maupun bersama-sama dengan orang lain kita bisa mencari dan menemukan kembali kebahagiaan sejati di dalam Kristus.

Pengampunan Allah senantiasa bagaikan minyak penyembuh bagi jiwa kita. Kasih Allah sanggup mengusir segala rasa takut, ketidakpuasan, dan kebimbangan. Ialah yang senantiasa memberikan kita kelegaan (lih. Mat. 11:28).

Febriana DH

Literatur Perkantas Nasional

Bagikan:
Posted on Tinggalkan komentar

Alangkah Baiknya

”Sungguh, alangkah baiknya dan indahnya, apabila saudara-saudara diam bersama dengan rukun” (Mzm. 133:1). Demikianlah Daud memulai nyanyian ziarahnya.

Prinsip kerukunan, menurut Rama Magnis Suseno dalam buku Etika Jawa, bertujuan mempertahankan masyarakat dalam keadaan harmonis. Rukun berarti berada dalam keadaan selaras, tenang dan tentram, dan tanpa perselisihan dan pertentangan. Agar rukun, individu bersedia menomorduakan, bahkan kalau perlu, melepaskan kepentingan-kepentingan pribadi demi kesepakatan bersama. Apakah yang lebih baik dan indah ketimbang hal ini?

Persoalannya: kadang orang berpikir, jika seseorang berbeda pendapat dengan dirinya, maka orang tersebut pasti tidak menyukai dirinya. Sejatinya, orang boleh berbeda pandangan, tetapi harus tetap menghargai setiap pribadi.

Bagaimanapun, menghargai pribadi sebagai pribadi yang unik merupakan penghargaan terhadap Sang Pencipta, yang telah menciptakan keunikan itu. Lagi pula, ada pepatah: ”Selera memang tidak bisa diperdebatkan”.

Ingatlah ketujuh bias warna pelangi! Masing-masing berbeda warnanya, tetapi keragaman warna itulah yang membuat pelangi tampak indah. Bayangkan jika hanya satu atau dua bias warna saja yang muncul! Keindahan itu tampak karena mereka berbeda. Perbedaan itu memperindah dan memperkaya.

Sama halnya dengan alat musik angklung. Satu angklung: satu nada. Masing-masing angklung mempunyai nada tertentu, yang unik dan hanya dimilikinya sendiri. Namun toh, dia tidak dapat hidup sendirian. Untuk menjadi bagian dari sebuah lagu, maka perlu menerima dan menghargai angklung lainnya. Karena berbeda, maka mereka saling membutuhkan. Karena berbeda, mereka bersatu. Perbedaan itulah yang mempersatukan. Dan itu pulalah yang perlu dikembangkan dalam kehidupan kerja kita.

Selamat Bekerja!

Yoel M. Indrasmoro
Direktur Literatur Perkantas Nasional

Bagikan:
Posted on Tinggalkan komentar

Rumah Allah

Kehausan Anda tidak mungkin terpuaskan, meskipun Anda berhasil memperoleh segala sesuatu di bumi ini. Anda tidak akan pernah berhenti mencari-cari.

Manusia memang tidak pernah merasa puas. Dalam hidup bergereja kadang kita menemukan orang yang suka pindah-pindah gereja. Mereka terus-menerus mencari gereja yang sesuai dengan keinginannya.

Di tengah-tengah segala tawaran dunia, Kristus memperkenalkan diri-Nya sebagai Air Hidup, yang dapat memuaskan dahaga kita. Sehingga ketika pergi ke gereja, kita tidak perlu mengajukan tuntutan. Bertemu dengan orang-orang yang tak mudah diajak bergaul semestinya tidak lagi menyurutkan kerinduan kita untuk berjumpa dengan Kristus.

Dari kenyataan itu kita belajar memandang gereja dan dunia, memandang orang-orang di sekitar kita. Bukan diri kita sebagai pusatnya, tetapi rumah di dalam hati kita, di mana kita datang ke hadapan Allah. Itulah satu-satunya cara untuk secara bersama-sama dapat menjadi rumah untuk Allah.

Dalam buku Kaya Roh: Hidup oleh Roh, Berada dalam Kristus, Bas Luiten mengajak kita belajar saling membantu, memercayai, peka, mengasihi, mendorong, dan setia satu sama lain dalam menyambut Allah.

Dengan cara itu terjadilah awal hidup bersama dengan semua orang kudus di rumah Allah sendiri.

Heru Santoso
Literatur Perkantas Nasional

Bagikan:
Posted on Tinggalkan komentar

Menara Babel

Di manakah letak kesalahan pembuatan Menara Babel? Pastilah bukan pada menaranya. Bukan itu kesalahannya hingga Allah menghentikan pembangunannya. Menara itu tak punya satu kesalahan pun.

Kesalahan bukan pula terletak pada kemampuan manusia dalam membangunnya. Bagaimanapun, manusia—yang dicipta menurut gambar dan rupa Allah—mempunyai kemampuan mencipta.

Kreativitas merupakan bukti terkuat bahwa manusia dicipta menurut gambar dan rupa Allah. Manusia yang tidak kreatif pada dasarnya mengingkari panggilannya selaku manusia. Dan IPTEK merupakan karunia Allah juga.

Lalu, di mana kesalahannya? Kesalahannya adalah pada motivasi di balik pembuatan menara itu. ”Marilah kita dirikan bagi kita sebuah kota dengan sebuah menara yang puncaknya sampai ke langit, dan marilah kita cari nama, supaya kita jangan terserak ke seluruh bumi” (Kej. 11:4). Demikianlah mereka bersepakat satu sama lain.

Mendirikan sebuah kota dengan menara yang sampai ke langit bukanlah kesalahan. Namun, pertanyaannya: mengapa perlu membuat menara? Apa tujuannya? Dan tujuannya: ”cari nama”! Dalam Alkitab BIMK tertera: ”supaya kita termasyhur”. Menara itu dibuat agar manusia terkenal!

Manusia ingin cari nama! Manusia ingin terkenal! Manusia ingin dipuji! Sesungguhnya, semuanya itu merupakan perlawanan kepada Sang Pencipta. Dan pada titik itu Allah bertindak.

Ya, inilah masalahnya. Itu jugalah agaknya yang membuat mereka tak lagi mampu bekerja sama saat tak lagi paham bahasa tutur. Sebenarnya mereka bisa menggunakan bahasa isyarat. Kenyataannya tidak! Mereka sulit bekerja sama karena setiap orang ingin mencari nama sendiri-sendiri.

Nah sekarang, apakah motivasi kerja Anda hari ini?

Selamat Bekerja!

Yoel M. Indrasmoro
Direktur Literatur Perkantas Nasional

Bagikan:
Posted on Tinggalkan komentar

Identitas Sejati

Kartu Tanda Penduduk (KTP) dapat dikatakan sebagai salah satu penunjuk identitas ”utama” kita sebagai warga negara. Padahal di dalam KTP hanya ada sedikit keterangan tentang diri kita. Bila kita mau bertanya lebih jauh, apa yang sebetulnya menentukan identitas kita? Pertanyaan seperti—untuk apa kita hidup; tujuan hidup kita; Apa atau siapa yang menguasai hidup kita;—seharusnya mengusik nurani kita lebih dalam.

Setiap orang lahir di bumi sebagai bayi, dan sejak semula tergantung sepenuhnya kepada manusia lain. Hal itu terus berkembang dan tanpa kita sadari, setelah beberapa lama diri kita sudah dipengaruhi dan dibentuk oleh lingkungan itu. Identitas, norma-norma, kapasitas dan perilaku kita, sebagian besar dibentuk dan dikembangkan dari dalam lingkungan.

Hal itu juga terjadi secara rohani. Sebagai manusia, kita menghirup udara di lingkungan rohani sekitar kita. Pada zaman dengan arus informasi yang mengalir deras tiada hentinya, masyarakat semakin lama semakin bersikap hedonis dan konsumtif. Mereka sibuk ingin memuaskan segala keinginan pribadi mereka dengan cepat, dan cenderung mengesampingkan kepentingan sosial.

Dalam situasi seperti itu, timbul pertanyaan mengenai identitas kita sebagai Kristen; Di mana kita seharusnya menanamkan akar-akar kehidupan kita? Apakah atau siapakah yang memengaruhi kemauan kita, pemikiran, perasaan dan tindakan kita?

Dalam buku Kaya Roh: Hidup oleh Roh, Berada dalam Kristus, penulis Jan Waselling menjelaskan bahwa Tuhan Yesus sendiri berbicara—dengan cara yang sangat mengesankan—tentang suatu hal yang mutlak diperlukan, yaitu kelahiran yang baru. Karya terpenting yang dilakukan Roh Allah ialah untuk melahirkan manusia dari Allah.

Menurut penulis, ”Kelahiran kembali” itu bukan semata-mata suatu kejadian penuh emosi yang meluap-luap dan yang timbul dengan tiba-tiba. Kelahiran kembali itu adalah mukjizat bahwa manusia mulai hidup dari Atas, dalam Roh Tuhan Yesus. Jika kita dipenuhi oleh Roh, kita justru menjadi manusia sejati, seperti yang dikehendaki Allah.

Jika kita hidup di dalam Kristus maka Kristus hidup di dalam diri kita. Dan dalam Dia kita akan menemukan identitas sejati diri kita.

Rycko Indrawan S.
Literatur Perkantas Nasional

Bagikan:
Posted on Tinggalkan komentar

Jangan Setengah-setengah

Jagat tenis dikejutkan minggu lalu dengan kelahiran juara baru tunggal putri Australia Terbuka (1/2/2020). Sang juara Sofia Kenin mementahkan prediksi pasar taruhan, juga pendapat orang-orang yang meragukan kemampuannya. Di negerinya sendiri, Amerika Serikat, Kenin berada di bawah bayang-bayang Serena Williams, Madison Keys, juga Cori ”Coco” Gauff, petenis 15 tahun yang menembus babak keempat Wimbledon 2019.

Kepada publik, Kenin berpesan, ”Jika punya mimpi, kejarlah.” Pesan yang telah dibuktikannya sendiri di lapangan. Jalannya memang tidak mulus. Kemenangan di Australia Terbuka tercapai setelah kehilangan set pertama. Akan tetapi, semangat bertandingnya membuat dia sanggup membalikkan keadaan.

Kepada Timotius, Paulus berpesan, ”Jangan lalai dalam mempergunakan karunia yang ada padamu, yang telah diberikan kepadamu oleh nubuat dan dengan penumpangan tangan sidang penatua” (1Tim. 4:14).

Karunia yang dimaksudkan di sini adalah jabatan pemimpin jemaat yang diemban Timotius. Itu analog dengan SK Pengangkatan Kerja dalam dunia sekuler. Dan kerja merupakan karunia terbesar manusia setelah keselamatan.

Mungkin persoalan kita bukanlah lalai. Hanya kadang, mungkin karena bosan, kita malah bersikap setengah-setengah dalam bekerja. Yang penting selesai.

Padahal, kerja adalah karunia Allah sendiri. Dan Dia ingin melayani dunia ini melalui kerja kita. Jadi, jangan setengah-setengah. Dan kita bisa belajar dari Kenin dalam hal ini.

Selamat Bekerja!

Yoel M. Indrasmoro
Direktur Literatur Perkantas Nasional

Bagikan:
Posted on Tinggalkan komentar

Allah atau Berkat-berkat-Nya?

Siapakah aku? Demikianlah pertanyaan manusia sepanjang abad. Itu jugalah pertanyaan Daud: ”Jika aku melihat langit-Mu, buatan jari-Mu, bulan dan bintang-bintang yang Kautempatkan: apakah manusia, sehingga Engkau mengingatnya? Apakah anak manusia, sehingga Engkau mengindahkannya” (Mzm. 8:4-5).

Dengan rumusan tanya itu, Daud melihat manusia dalam relasinya dengan Allah. Manusia tidak dilihatnya sebagai pribadi otonom—lepas dari Allah; tetapi sebagai pribadi yang diingat dan diindahkan Allah. Dan karena itulah, Daud mengaku dalam refrein, ”Ya TUHAN, Tuhan kami, betapa mulianya nama-Mu di seluruh bumi!” (Mzm. 8:2, 10).

Itu jugalah yang ditekankan Henk ten Brinke, dkk. dalam bukunya Kaya Roh: Hidup oleh Roh, Berada dalam Kristus. Penulis menekankan adanya kaitan antara iman dan relasi. Beriman berarti memercayakan diri. Dan memercayakan diri mensyaratkan  adanya relasi.

Allah adalah Pribadi yang selalu membuka jalan. Kalimat tanya ”Di manakah Engkau?” (Kej. 3:9) menegaskan kerinduan Allah untuk terus bergaul akrab dengan manusia. Dosa adalah situasi di mana manusia merenggut dirinya sendiri lepas dari Allah. Dan hingga kini Allah terus menyapa manusia karena itulah hakikat penciptaan manusia—persekutuan antara Allah dan manusia.

Pada titik ini juga relasi dengan Allah lebih signifikan ketimbang pengalaman iman. Persoalannya, manusia kadang lebih menekankan suatu peristiwa yang wah dan adikodrati, yang akhirnya malah menjerumuskannya dalam jurang kesombongan rohani. Padahal semua peristiwa itu sejatinya berkat Allah semata.

Nah, sekarang pilih mana: Allah atau berkat-berkat Allah?

Yoel M. Indrasmoro
Literatur Perkantas Nasional

Bagikan:
Posted on Tinggalkan komentar

Carilah Tuhan

”Carilah TUHAN, maka kamu akan hidup” (Am. 5:6). Demikianlah nasihat Amos. Nasihat logis. Allah itu sumber hidup. Kalau mau hidup, ya carilah Dia.

Mencari Allah berarti menjadikan Dia fokus kehidupan kita. Pandangan mata hati kita terarah kepada-Nya. Dan itulah yang membuat kehidupan kita sungguh hidup.

Dan dalam mencari Allah, Amos mengajak umat Israel tak sekadar puas dengan tidak berbuat jahat, tetapi aktif melakukan yang baik. ”Bencilah yang jahat dan cintailah yang baik; dan tegakkanlah keadilan di pintu gerbang; mungkin TUHAN, Allah semesta alam, akan mengasihani sisa-sisa keturunan Yusuf” (Am. 5:15).

Di sinilah persoalan manusia pada umumnya: Sudah merasa puas jika tidak berbuat jahat. Padahal, dalam bilangan bulat, sekadar tidak berbuat jahat nilainya nol. Dan karena itu, kita dipanggil untuk berbuat baik.

Caranya adalah dengan menegakkan keadilan. Itu berarti menerapkan keadilan dalam diri. Sederhana saja: jika Saudara mempunyai pembantu rumah tangga, berikan upahnya pada waktunya.

Bayarlah juga utang Saudara! Jangan pernah berpikir bahwa orang yang berpiutang itu tak akan menjadi miskin seandainya Saudara tidak membayar utang. Tidak. Kita harus bersikap adil!

Bersikap adil juga berarti menyeimbangkan antara hak dan kewajiban dalam pekerjaan kita. Menuntut hak tanpa menunaikan kewajiban tentu bukanlah hidup yang seimbang. Dan semua ketidakseimbangan niscaya akan membuat kita jatuh.

Selamat Bekerja!

Yoel M. Indrasmoro
Direktur Literatur Perkantas Nasional

Bagikan:
Posted on Tinggalkan komentar

Kematian Bukan Akhir Segalanya

”Jangan merohanikan hal ini. Hadapilah kenyataan. Tidak berpura-pura. Jika inilah akhir dari hidupnya, maka hadapilah akhir hidupnya.” Kalimat inilah yang muncul dalam benak Mark Yaconelli ketika melihat kondisi ayahnya yang kritis akibat kecelakaan mengerikan. Ia belum pernah sedekat ini dengan kematian. Akhirnya, sekitar menjelang dini hari, jantung sang ayah yang lemah dan berdenyut tidak beraturan, melambat, dan kemudian makin melambat, dan akhirnya berhenti.

Kisah ini menginspirasi bab terakhir buku Karunia Penderitaan: Menemukan Allah dalam Situasi Sulit dan Mencekam, yang ditulis oleh Mark sendiri. Tak ada seorang pun yang dapat luput dari kematian. Cepat atau lambat setiap insan pasti mengalaminya. Kita hanya sedang menunggu giliran. Itu artinya, kita perlu mempersiapkan diri bilamana saat itu tiba.

Yang menarik dari kisah Mark, sekalipun diliputi kepedihan yang memilukan, ia merasa damai. Kedamaian yang tak terbantahkan itu mengalir dan mengalir di balik hatinya yang pilu. Bahkan, sejak saat itu saudara perempuan Mark tidak lagi takut pada kematian karena, entah bagaimana, ia pun merasakan kedamaian. Dengan kata lain, ia menjadi siap menghadapi kematian.

Sejatinya, kematian bukanlah akhir segalanya. Sebagai Kristen kita mengimani bahwa ada kehidupan setelah kematian. Sebagaimana tertulis dalam 1 Tesalonika 4:14: ”Karena jikalau kita percaya, bahwa Yesus telah mati dan telah bangkit, maka kita percaya juga bahwa mereka yang telah meninggal dalam Yesus akan dikumpulkan Allah bersama-sama dengan Dia.” Kematian memungkinkan kita bertemu dengan Sang Sumber Damai Sejati.

Dan sampai saat itu tiba, kita bisa terus mempersiapkan diri dengan menjadikan doa Musa dalam Mazmur 90:12 sebagai doa kita juga: ”Ajarlah kami menghitung hari-hari kami sedemikian, hingga kami beroleh hati bijaksana.”

Citra Dewi Siahaan
Literatur Perkantas Nasional

Bagikan: