Posted on Tinggalkan komentar

Membuka Hati

Dalam dunia psikologis, tingkat depresi turut dipengaruhi oleh respons seseorang dari lingkungan terdekatnya. Semakin depresi seseorang, semakin ia memerlukan perlakuan khusus. Seseorang yang depresi, tetapi merasa dipedulikan pada akhirnya sedikit banyak akan sanggup untuk membuka hatinya. Namun, bagaimana jika seseorang itu diperlakukan sebaliknya?

Buku Kaya Roh: Hidup dalam Roh, Berada dalam Kristus mengungkapkan bahwa banyak sekali berkat yang tersembunyi atau terhalang hanya karena seseorang tidak berani untuk membuka hati. Banyak pergumulan tersembunyi dan tersimpan dalam-dalam hanya karena seseorang tidak mampu membuka hati.

Banyak anak Allah yang karena tidak mempunyai orang lain yang mau mengenal mereka apa adanya lantas merasa kesepian dan tidak bahagia. Di saat-saat seperti itu seseorang membutuhkan orang lain. Seseorang yang mau dan mampu mendengarkan isi hatinya. Seseorang yang mau mengerti situasinya, baik kekalahan maupun kemenangan.

Untuk dapat membuka hati dengan segala sisi kelamnya, seseorang memerlukan orang lain yang dapat ia percaya, yang menunjukkan kasih dan empati yang tulus kepadanya, yang membuatnya merasa aman dan nyaman. Setidaknya dengan begitu ia mampu mengusir rasa takut ditolak dan dihakimi.

Sekalipun demikian, hanya ada Satu Pribadi yang mampu memberikan semua itu. Yesuslah yang senantiasa membuka ruang ketenangan, mengusir rasa takut, dan memuaskan hati kita. Secara pribadi maupun bersama-sama dengan orang lain kita bisa mencari dan menemukan kembali kebahagiaan sejati di dalam Kristus.

Pengampunan Allah senantiasa bagaikan minyak penyembuh bagi jiwa kita. Kasih Allah sanggup mengusir segala rasa takut, ketidakpuasan, dan kebimbangan. Ialah yang senantiasa memberikan kita kelegaan (lih. Mat. 11:28).

Febriana DH

Literatur Perkantas Nasional

Bagikan:

Tinggalkan Balasan