Posted on Tinggalkan komentar

Kematian Bukan Akhir Segalanya

”Jangan merohanikan hal ini. Hadapilah kenyataan. Tidak berpura-pura. Jika inilah akhir dari hidupnya, maka hadapilah akhir hidupnya.” Kalimat inilah yang muncul dalam benak Mark Yaconelli ketika melihat kondisi ayahnya yang kritis akibat kecelakaan mengerikan. Ia belum pernah sedekat ini dengan kematian. Akhirnya, sekitar menjelang dini hari, jantung sang ayah yang lemah dan berdenyut tidak beraturan, melambat, dan kemudian makin melambat, dan akhirnya berhenti.

Kisah ini menginspirasi bab terakhir buku Karunia Penderitaan: Menemukan Allah dalam Situasi Sulit dan Mencekam, yang ditulis oleh Mark sendiri. Tak ada seorang pun yang dapat luput dari kematian. Cepat atau lambat setiap insan pasti mengalaminya. Kita hanya sedang menunggu giliran. Itu artinya, kita perlu mempersiapkan diri bilamana saat itu tiba.

Yang menarik dari kisah Mark, sekalipun diliputi kepedihan yang memilukan, ia merasa damai. Kedamaian yang tak terbantahkan itu mengalir dan mengalir di balik hatinya yang pilu. Bahkan, sejak saat itu saudara perempuan Mark tidak lagi takut pada kematian karena, entah bagaimana, ia pun merasakan kedamaian. Dengan kata lain, ia menjadi siap menghadapi kematian.

Sejatinya, kematian bukanlah akhir segalanya. Sebagai Kristen kita mengimani bahwa ada kehidupan setelah kematian. Sebagaimana tertulis dalam 1 Tesalonika 4:14: ”Karena jikalau kita percaya, bahwa Yesus telah mati dan telah bangkit, maka kita percaya juga bahwa mereka yang telah meninggal dalam Yesus akan dikumpulkan Allah bersama-sama dengan Dia.” Kematian memungkinkan kita bertemu dengan Sang Sumber Damai Sejati.

Dan sampai saat itu tiba, kita bisa terus mempersiapkan diri dengan menjadikan doa Musa dalam Mazmur 90:12 sebagai doa kita juga: ”Ajarlah kami menghitung hari-hari kami sedemikian, hingga kami beroleh hati bijaksana.”

Citra Dewi Siahaan
Literatur Perkantas Nasional

Bagikan:

Tinggalkan Balasan