Posted on Tinggalkan komentar

Kesenangan

Pengkhotbah 2:1-3

Dalam ayat 1, sang pemikir berkata dalam hatinya, ”Mari, aku hendak menguji kegirangan! Nikmatilah kesenangan! Tetapi lihat, juga itu pun sia-sia.” Dalam Alkitab Bahasa Indonesia Masa Kini (BIMK) tertera: ”Aku memutuskan untuk menyenangkan diri saja untuk mengetahui apa kebahagiaan. Tetapi ternyata itu pun sia-sia.”

Sang pemikir jujur. Kesenangan itu tak akan ada habisnya. Setelah didapat, malah membuat kita merasa kurang. Anehnya, ketika tak dicari, rasa senang itu malah menghampiri.

Selanjutnya sang pemikir menyimpulkan, dalam ayat 2 (BIMK), ”Aku menjadi sadar bahwa tawa adalah kebodohan dan kesenangan tak ada gunanya.” Pertanyaannya adalah apakah kita tak boleh tertawa dan bersenang-senang?

Tentu boleh. Hanya sang pemikir hendak mengingatkan untuk tidak mencari semuanya itu. Ketika mencarinya, kita mungkin tidak mendapatkannya. Atau, kalau mendapatkannya, malah membuat kita mencari lebih banyak lagi. Kedua kondisi itu bisa membuat kita frustrasi.

Berkait kesenangan, baiklah kita memandangnya sebagai rahmat Allah. Saat tidak mencari-cari, kemungkinan besar kita malah menerimanya.

Itu jugalah nasihat Yesus Orang Nazaret, ”Carilah dahulu Kerajaan Allah dan kehendak-Nya, maka semuanya itu akan ditambahkan kepadamu” (Mat. 6:33). Juga kesenangan.

SMaNGaT,

Yoel M. Indrasmoro
Literatur Perkantas Nasional

Foto: Chang Duong

Posted on Tinggalkan komentar

Menjaring Angin

Pengkhotbah 1:12-18

Bersyukurlah kita, umat percaya abad XXI, yang menjadi ahli waris Kitab Pengkhotbah ini. Mengapa? Sebab kita berkesempatan membaca buah pikir seorang yang serius akan kehidupannya. Memang terkesan pesimistis, tetapi itulah gambaran diri seorang yang mencoba memahami makna hidupnya secara mendalam.

Pada ayat 13, sang Pemikir, berikhtiar: ”Aku membulatkan hatiku untuk memeriksa dan menyelidiki dengan hikmat segala yang terjadi di bawah langit.” Meski berstatus raja, dia merasa perlu menyediakan dirinya—berarti juga waktunya—untuk menyelidiki dan mempelajari dengan bijaksana segala yang terjadi di dunia ini. Sejatinya, manusia memang makhluk yang mencari makna. Hanya manusialah yang merenungkan dirinya, juga dunianya.

Victor Frankl, yang selamat dari kamp konsentrasi Auschwitz, meyakini bahwa manusia memiliki ”kehendak dasar untuk hidup yang penting dan bermakna”. Hanya, tak semua orang menyediakan dirinya untuk itu. Dalam buku Man’s Search for Meaning, Frankl, yang akhirnya menjadi profesor di Universitas Wina, menulis: ”Upaya untuk menemukan makna dalam hidup merupakan kekuatan motivasi utama dalam hidup manusia.”

Pada titik ini kita bisa meneladan sang Pemikir dengan merenungkan dunia kita. Meski merasa bahwa semua itu hanyalah pekerjaan yang menyusahkan yang diberikan Allah kepada anak-anak manusia untuk melelahkan diri, dia tetap melakukannya. Dia agaknya paham itu merupakan hal yang terbaik dalam hidup.

Dalam ayat 14, sang Pemikir menyimpulkan: ”Aku telah melihat segala perbuatan yang dilakukan orang di bawah matahari, tetapi lihatlah, segala sesuatu adalah kesia-siaan dan usaha menjaring angin.” Kata Ibrani yang dipakai untuk kata ”menjaring” berkait dengan memelihara domba. Sesuatu yang sia-sia. Kesimpulan sang Pemikir itu benar selama ”di bawah matahari” (di luar Allah).

Sungguh ada benarnya juga kesimpulan pada ayat 18—”karena di dalam banyak hikmat ada banyak susah hati, dan siapa memperbanyak pengetahuan, memperbanyak kesedihan”. Misalnya, orang enggak pergi ke dokter karena takut ketahuan penyakitnya.

Namun, mengetahui lebih dini suatu penyakit akan menolong kita lebih cepat mengatasi penyakit tersebut. Ini hal yang perlu disyukuri. Apalagi ketika kita mampu melihat penyakit itu dari sudut pandang Allah. Sering kali Allah mengizinkan suatu penyakit menyerang agar kita lebih mampu merasakan kasih-Nya. Dan tentu saja, kenyataan ini sungguh tidak sia-sia.

SMaNGaT,

Yoel M. Indrasmoro
Literatur Perkantas Nasional

Foto: Istimewa

Posted on Tinggalkan komentar

Sia-sia

”Inilah perkataan Pengkhotbah, anak Daud, raja di Yerusalem.” Ayat pembuka ini berfungsi sebagai judul kitab. Pengkhotbah adalah padanan untuk kata Ibrani _Qohelet_, yang artinya ”seorang yang mengumpulkan”. Penulis tidak menuturkan cerita, tetapi menyampaikan pemikirannya tentang makna hidup. Alkitab Bahasa Indonesia Masa Kini menggunakan istilah Sang Pemikir. Kitab Pengkhotbah sering dihubungkan dengan Salomo, yang sering disebut sebagai orang terbijak di seluruh Israel.

”Kesia-siaan belaka, kata Pengkhotbah, kesia-siaan belaka, segala sesuatu adalah sia-sia.” Demikianlah Pengkhotbah memulai kitabnya. Ya, kesia-siaan belaka. Terjemahan tradisionalnya adalah ”kesia-siaan atas kesia-siaan”. Dalam Alkitab Bahasa Indonesia Masa Kini tertera: ”Sang Pemikir berkata: Semuanya sia-sia dan tidak berguna! Hidup itu percuma, semuanya tak ada artinya.”

Kata Ibrani yang dipakai di sini adalah hevel, yang artinya napas. Napas manusia lenyap dengan cepat dan kecil bobotnya. Kata hevel juga dipakai untuk nama Habel, adik Kain. Kisah Habel memang singkat saja. Seakan-akan dia hidup hanya untuk mati di tangan Kain. Sia-sia. Tiada makna.

Sang Pemikir selanjutnya mengudarkan gagasannya, dalam ayat 3-9: ”Apakah gunanya manusia berusaha dengan jerih payah di bawah matahari? Keturunan yang satu pergi dan keturunan yang lain datang, tetapi bumi tetap ada. Matahari terbit, matahari terbenam, lalu terburu-buru menuju tempat ia terbit kembali. Angin bertiup ke selatan, lalu berputar ke utara, terus-menerus ia berputar, dan dalam putarannya angin itu kembali. Semua sungai mengalir ke laut, tetapi laut tidak juga menjadi penuh; ke mana sungai mengalir, ke situ sungai mengalir selalu. Segala sesuatu menjemukan, sehingga tak terkatakan oleh manusia; mata tidak kenyang melihat, telinga tidak puas mendengar. Apa yang pernah ada akan ada lagi, dan apa yang pernah dibuat akan dibuat lagi; tak ada sesuatu yang baru di bawah matahari.”

Pertanyaannya sekarang: Apakah semua memang sia-sia? Ya, selama kita memandangnya dari sudut pandang manusia. Ungkapan ”bumi… di bawah matahari” juga bisa dipahami sebagai ”dari sudut pandang manusia dan di luar Allah”. Persoalannya di sini. Manusia sering berhenti pada yang dilihatnya atau memahaminya sebatas pikirannya dan tidak menggunakan sudut pandang Allah.

Melihat dari sudut pandang Allah; itulah yang perlu kita kembangkan dalam menyikapi semua hal di dunia ini. Dengan cara itu, kita akan dibebaskan dari pendapat bahwa semua hanyalah sia-sia. Mengapa? Sebab Allah telah memberi makna atas semuanya.

SMaNGaT,

Yoel M. Indrasmoro
Literatur Perkantas Nasional

Foto: Ali A. R.

Posted on Tinggalkan komentar

Haleluya!

Pemazmur membuka dan menutup Mazmur 150 dengan ucapan ”Haleluya”. Haleluya—dari bahasa Ibrani—terdiri atas halelu dan Yahwe, yang berarti ”Pujilah TUHAN”. Ucapan yang memang cocok menjadi pembuka dan penutup mazmur ini. Itu berarti ketika seseorang selesai membaca Kitab Mazmur secara keseluruhan dia diajak untuk berseru, ”Haleluya!” Sangat simbolik memang karena seluruh Kitab Mazmur berdasar dan dibangun atas ungkapan ini.

John Stott, dalam bukunya Sepanjang Tahun Menelusuri Alkitab, mengatakan bahwa mazmur ini mengajari kita di mana, mengapa, bagaimana, dan siapa yang mesti memuji Allah.

Di mana? Dalam ayat 1: ”di tempat kudus-Nya”. Aslinya mengacu pada Bait Allah di Yerusalem. Namun, di dalam Yesus tempat diperluas hingga ke ujung-ujung bumi. Juga: ”dalam cakrawala-Nya yang kuat”. Itu berarti surga dan bumi memuliakan Allah.

Mengapa? Dalam ayat 2: ”karena segala keperkasaan-Nya… sesuai dengan kebesaran-Nya yang hebat!” Israel selalu merayakan perbuatan Allah yang luar biasa dalam penciptaan dan penebusan.

Bagaimana? Semua alat musik harus dimainkan: sangkakala, gambus, kecapi, rebana, dan seruling, juga tarian.

Siapa? Pemazmur menyerukan pada ayat terakhir: ”Biarlah segala yang bernafas memuji TUHAN!” Meski tumbuhan dan hewan itu hidup, mungkin yang dimaksud pemazmur adalah seluruh manusia. Dengan kata lain, sembari bernafas—itu artinya setiap saat—kita memuji Allah. Itu berarti pula pada setiap waktu.

Sekali lagi, Mazmur 150—berarti juga seluruh Kitab Mazmur—ditutup ajakan untuk memuji Allah. Itu berarti kita diajak untuk terus memuji Allah baik kala pandemi maupun kenormalan baru. Dan marilah sekarang kita berseru penuh syukur, ”Haleluya!”

SMaNGaT,

Yoel M. Indrasmoro
Literatur Perkantas Nasional

Foto: Istimewa

Posted on Tinggalkan komentar

TUHAN Berkenan

Lembaga Alkitab Indonesia memberi judul ”Nyanyian Kemenangan bagi Orang Israel” untuk Mazmur 149. Menariknya adalah pemazmur mengakui bahwa kemenangan itu didapat bukan karena kemampuan strategi militer Israel. Pada ayat 4, pemazmur menyatakan: ”Sebab TUHAN berkenan kepada umat-Nya, Ia memahkotai orang-orang yang rendah hati dengan keselamatan.” Dalam Alkitab Bahasa Indonesia Masa Kini tertera: ”TUHAN berkenan kepada umat-Nya; Ia memberi kemenangan kepada orang yang rendah hati.”

Perkenanan Allah merupakan dasar kemenangan Israel. Allah yang memberi mereka kemenangan. Tentu saja itu tidak berarti Israel hanya diam berpangku tangan. Tidak. Israel mengerjakan bagiannya, bertempur. Dan Allah memberkati mereka dalam pertempuran itu.

Itu hanya mungkin terjadi ketika Israel merasa perlu memohon berkat Allah. Memohon berkat mensyaratkan hati yang rendah. Mustahil orang yang tinggi hati memohon berkat. Dan yang paling penting, Allah berkenan kepada Israel.

Sejatinya Allah juga berkenan kepada kita ketika Dia menebus kita. Persoalannya adalah sebagai orang-orang yang telah ditebus, apakah kita terus hidup sesuai kehendak-Nya. Hidup sesuai kehendak-Nya berarti hidup dalam perkenan-Nya. Tak mudah memang. Akan tetapi, itulah panggilan kita jika berharap Allah terus berkenan kepada kita.

SMaNGaT,

Yoel M. Indrasmoro
Literatur Perkantas Nasional

Foto: Doran Erickson

Posted on Tinggalkan komentar

Semuanya Memuji TUHAN

Lembaga Alkitab Indonesia memberi judul ”Langit dan Bumi, Pujilah TUHAN” untuk Mazmur 148. Memang demikianlah inti mazmur ini. Menarik disimak bahwa mazmur ini dimulai dari atas lalu turun ke bawah, mulai dari surga turun ke bumi, mulai dari penghuni surgawi ke manusia. Intinya tak ada satu pun tak diajak untuk memuji TUHAN, baik benda hidup maupun mati. Di sela-selanya terdapat refrein: ”Baiklah semuanya memuji TUHAN”.

Setelah mengajak penghuni surgawi memuji TUHAN, pada ayat 3-4, pemazmur mengajak benda-benda langit untuk memuji TUHAN. ”Pujilah Dia, hai matahari dan bulan, pujilah Dia, hai segala bintang terang! Pujilah Dia, hai langit yang mengatasi segala langit, hai air yang di atas langit!”

Sebagian bangsa tetangga Israel menyembah matahari, bulan, dan bintang sebagai ilah mereka. Pemazmur dengan tegas menyatakan bahwa semua benda langit sesembahan itu diajak untuk menyembah Allah, yang telah menciptakan mereka. Menurut pandangan dunia kuno, langit berbentuk kubah yang menudungi bumi yang datar. Di atas langit ada air, demikian pula di bawah bumi ada samudra air. Dan air pun, yang juga merupakan salah satu sumber kehidupan makhluk hidup, diajak untuk menyembah Allah.

Selanjutnya pemazmur mengajak semua yang ada di bumi untuk memuji Allah—ular naga dan segenap samudera raya; api dan hujan es, salju dan kabut, angin badai; gunung-gunung dan segala bukit, pohon buah-buahan dan segala pohon aras: binatang-binatang liar dan segala hewan, binatang melata dan burung-burung yang bersayap; raja-raja di bumi dan segala bangsa, pembesar-pembesar dan semua pemerintah dunia; teruna dan anak-anak dara, orang tua dan orang muda.

Ya, semuanya. Tak ada yang dikecualikan. Sebab semuanya adalah ciptaan Allah. Juga Covid-19 yang tengah mendera kita sekarang ini.

SMaNGaT,

Yoel M. Indrasmoro
Literatur Perkantas Nasional

Foto: Mic Narra

Posted on Tinggalkan komentar

Bermazmur bagi Allah

Pemazmur memulai Mazmur 147 dengan seruan: ”Haleluya! Sungguh, bermazmur bagi Allah kita itu baik, bahkan indah, dan layaklah memuji-muji itu.” Baik, indah, dan layak. Itulah yang dinyatakan pemazmur.

Bermazmur bagi Allah itu sungguh baik. Baik karena secara tidak langsung mengingatkan kita bahwa kita memang manusia. Dan tugas manusia itu memang memuliakan Allah. Ignatius, pendiri Serikat Yesus, menyatakan bahwa ”tujuan hidup sejati manusia adalah memuji, menghormati, serta mengabdi Allah Tuhan kita, dan dengan itu menyelamatkan jiwanya”. Memuji Allah itu baik karena memang bisa menyelamatkan jiwa.

Bermazmur bagi Allah itu indah. Memuji Allah atau memuji orang lain itu indah. Yang tidak indah adalah memuji diri sendiri. Memuji diri sendiri bisa jadi malah membuat kesal orang lain yang mendegarnya. Ketika kita memuji Allah, orang lain bisa juga tertular untuk memuji Allah. Itu sungguh sesuatu yang indah. Itu sungguh hal yang menyenangkan.

Bermazmur bagi Allah itu layak. Layak berarti mulia atau terhormat. Ini mungkin yang sering dilupakan orang. Memuji Allah bisa menjadikan orang tersebut terhormat. Perhatikan saja paduan suara atau kelompok vokal di gereja. Mereka bahkan diberi tempat khusus! Dan memuji Allah memang membuat kita terhormat!

Oleh karena itu, mari kita berseru seperti pemazmur pada ayat, ”Bernyanyilah bagi TUHAN dengan nyanyian syukur, bermazmurlah bagi Allah kita dengan kecapi!” Agar semakin banyak orang memuliakan Allah!

SMaNGaT,

Yoel M. Indrasmoro
Literatur Perkantas Nasional

Foto: Istimewa

Posted on Tinggalkan komentar

Allah Yakub

Pemazmur memulai Mazmur 146 dengan seruan: ”Pujilah TUHAN! Hai jiwaku, pujilah TUHAN! Aku mau memuji TUHAN selama hidupku dan menyanyi bagi Allahku selama aku ada.” Selama hayat dikandung badan, pemazmur ingin memuliakan Allah.

Dengan tegas pula pemazmur menolak pujian kepada manusia. Jika ditelusuri, pujian kepada manusia sering bermuara pada kepentingan diri sendiri. Dan alasan logis lainnya, pemazmur menekankan pada ayat 3-4: ”Janganlah percaya kepada para bangsawan, kepada anak manusia yang tidak dapat memberikan keselamatan. Apabila nyawanya melayang, ia kembali ke tanah; pada hari itu juga lenyaplah maksud-maksudnya.”

Ya, sehebat-hebatnya bangsawan, dia tidak dapat menyelematkan. Kalau dia mati, hari itu semua janjinya menjadi pepesan kosong. Tak ada yang terealisasi. Dan Allah beda. Dia kekal, juga mahakuasa. Sehingga semua janji-Nya pasti terpenuhi.

Selanjutnya pemazmur mengucapkan seruan bahagia: ”Berbahagialah orang yang mempunyai Allah Yakub sebagai penolong, yang harapannya pada TUHAN, Allahnya.” Menarik disimak pemazmur menggunakan frasa ”Allah Yakub” dan bukan ”Allah Israel”.

Tampaknya ini memang disengaja. Dengan menyatakan Allah Yakub, pemazmur agaknya mengingatkan bahwa nama leluhur mereka adalah Yakub sebelum diganti oleh Allah menjadi Israel. Dalam bahasa Ibrani, bunyi untuk kata Yakub (yang berarti tumit) mirip dengan kata untuk menipu. Dan memang itulah kesimpulan Esau, kakaknya, yang pernah ditipu oleh Yakub. Dalam marahnya Esau berkata, ”Bukankah tepat namanya Yakub, karena ia telah dua kali menipu aku. Hak kesulunganku telah dirampasnya, dan sekarang dirampasnya pula berkat yang untukku” (Kej. 27:36).

Nah, meski masih suka menipu—Yakub juga menipu Laban, pamannya—namun Allah tetap menggenapi janji yang pernah disampaikan kepada Yakub di Betel. Itu berarti janji Allah memang kekal, tidak tergantung pada baik atau tidaknya manusia. Yang penting adalah apakah orang itu tetap berharap belas kasihan-Nya.

Dan karena itu, baik juga kita ucapkan saat pandemi ini, ”Berbahagialah orang yang mengandalkan Allah baik kala suka, apalagi kala duka!”

SMaNGaT,

Yoel M. Indrasmoro
Literatur Perkantas Nasional

Foto: Istimewa

Posted on 1 Komentar

Alasan Memuliakan Allah

Di awal Mazmur 145, Daud berikhtiar: ”Aku hendak mengagungkan Engkau, ya Allahku, ya Raja, dan aku hendak memuji nama-Mu untuk seterusnya dan selamanya. Setiap hari aku hendak memuji Engkau, dan hendak memuliakan nama-Mu untuk seterusnya dan selamanya.”

Frasa ”untuk seterusnya dan selamanya” menarik diperhatikan. Seterusnya berarti tidak berhenti atau tetap selama-lamnya. Sedangkan selamanya berarti selalu. Seterusnya dan selamanya berarti senantiasa hingga kekal.

Alasannya tampak dalam ayat 8-9: ”TUHAN itu pengasih dan penyayang, panjang sabar dan besar kasih setia-Nya. TUHAN itu baik kepada semua orang, dan penuh rahmat terhadap segala yang dijadikan-Nya.”

Ya, TUHAN adalah pengasih dan penyayang. Dalam Alkitab Terjemahan Lama Allah itu ”rahmani dan rahimi”. Itu berarti Allah mengasihi bak seorang ibu kepada anaknya. Dan karena itulah Dia lambat marah dan kasih- Nya seluas lautan.

TUHAN itu baik kepada semua orang. Penggunaan istilah ”semua” memperlihatkan tidak ada pribadi yang luput dari kasih-Nya. Dan rahmat-Nya penuh. Tidak kurang sedikit pun.

Alasan lain yang juga penting ada dalam ayat 13 Alkitab Bahasa Indonesia Masa Kini: ”TUHAN setia kepada semua janji-Nya, Ia penuh kasih dalam segala perbuatan-Nya.” Allah adalah Pribadi yang tak pernah ingkar janji. Dia setia akan rancangan-Nya. Dan rancangan-Nya adalah damai sejahtera semata.

Alasan-alasan ini semestinya juga mendorong kita memuliakan Allah, juga di kala pandemi.

SMaNGaT,

Yoel M. Indrasmoro
Literatur Perkantas Nasional

 

Foto: Marcos Paulo Prado

Posted on Tinggalkan komentar

Berbahagialah Bangsa

”Berbahagialah bangsa yang Allahnya ialah TUHAN.” Demikianlah kesimpulan Daud dalam kalimat pamungkas Mazmur 144. Apakah artinya kalimat ini? Sepertinya Daud hendak menegaskan bahwa Yahwe adalah pencipta bangsa Israel. Berbahagialah bangsa Israel karena Allahlah yang menciptakannya. Sejatinya, setiap bangsa memang ciptaan Yahwe, hanya pertanyaannya: Apakah mereka mau mengakuinya atau tidak? Dan bagi Daud sendiri ada banyak alasan bagi Israel untuk berbahagia.

Pertama, TUHAN adalah pengajar Israel. Pada ayat 1 Daud berkata, ”Terpujilah TUHAN, gunung batuku, yang mengajar tanganku untuk bertempur, dan jari-jariku untuk berperang.” Israel awalnya adalah bangsa budak di Mesir. Dan TUHANlah yang melatih mereka untuk menjadi sebuah bangsa mandiri, setara dengan bangsa-bangsa lain.

Kedua, TUHAN adalah Pribadi yang memperhatikan dan memperhitungkan. Pada ayat 3, Daud bertanya, ”Ya TUHAN, apakah manusia itu, sehingga Engkau memperhatikannya, dan anak manusia, sehingga Engkau memperhitungkannya?” Kata dasar ”memperhatikan” adalah ”hati”. Dan TUHAN sungguh mengindahkan Israel.

Ketiga, TUHAN adalah Pribadi yang memberikan kemenangan. Pada ayat 10, Daud mengaku, ”Engkau yang memberikan kemenangan kepada raja-raja, dan yang membebaskan Daud, hamba-Mu!” Dari segi wilayah, juga persenjataan, Israel bukanlah bangsa adikuasa. Jika Israel mampu bertahan, semuanya itu hanyalah anugerah TUHAN saja.

Sebenarnya tak hanya Israel. Dalam Pembukaan UUD 1945, para pendiri bangsa kita menyatakan pada alinea ke-3: ”Atas berkat rahmat Allah Yang Maha Kuasa dan dengan didorongkan oleh keinginan luhur, supaya berkehidupan kebangsaan yang bebas, maka rakyat Indonesia menyatakan dengan ini kemerdekaannya.”

Jelaslah, para pendiri bangsa kita mengakui bahwa kemerdekaan Indonesia adalah anugerah Allah. Dan karena itu, kehidupan berbangsa kita semestinya memang seturut dengan kehendak Allah. Aneh rasanya jika pengakuan itu tidak dilakoni dalam keseharian hidup bernegara. Itu wajib hukumnya. Sehingga sama seperti Daud kita bisa berkata, ”Berbahagialah bangsa yang Allahnya ialah TUHAN!” Merdeka!

SMaNGaT,

Yoel M. Indrasmoro
Literatur Perkantas Nasional

Foto: Istimewa