Posted on Tinggalkan komentar

Sia-sia

”Inilah perkataan Pengkhotbah, anak Daud, raja di Yerusalem.” Ayat pembuka ini berfungsi sebagai judul kitab. Pengkhotbah adalah padanan untuk kata Ibrani _Qohelet_, yang artinya ”seorang yang mengumpulkan”. Penulis tidak menuturkan cerita, tetapi menyampaikan pemikirannya tentang makna hidup. Alkitab Bahasa Indonesia Masa Kini menggunakan istilah Sang Pemikir. Kitab Pengkhotbah sering dihubungkan dengan Salomo, yang sering disebut sebagai orang terbijak di seluruh Israel.

”Kesia-siaan belaka, kata Pengkhotbah, kesia-siaan belaka, segala sesuatu adalah sia-sia.” Demikianlah Pengkhotbah memulai kitabnya. Ya, kesia-siaan belaka. Terjemahan tradisionalnya adalah ”kesia-siaan atas kesia-siaan”. Dalam Alkitab Bahasa Indonesia Masa Kini tertera: ”Sang Pemikir berkata: Semuanya sia-sia dan tidak berguna! Hidup itu percuma, semuanya tak ada artinya.”

Kata Ibrani yang dipakai di sini adalah hevel, yang artinya napas. Napas manusia lenyap dengan cepat dan kecil bobotnya. Kata hevel juga dipakai untuk nama Habel, adik Kain. Kisah Habel memang singkat saja. Seakan-akan dia hidup hanya untuk mati di tangan Kain. Sia-sia. Tiada makna.

Sang Pemikir selanjutnya mengudarkan gagasannya, dalam ayat 3-9: ”Apakah gunanya manusia berusaha dengan jerih payah di bawah matahari? Keturunan yang satu pergi dan keturunan yang lain datang, tetapi bumi tetap ada. Matahari terbit, matahari terbenam, lalu terburu-buru menuju tempat ia terbit kembali. Angin bertiup ke selatan, lalu berputar ke utara, terus-menerus ia berputar, dan dalam putarannya angin itu kembali. Semua sungai mengalir ke laut, tetapi laut tidak juga menjadi penuh; ke mana sungai mengalir, ke situ sungai mengalir selalu. Segala sesuatu menjemukan, sehingga tak terkatakan oleh manusia; mata tidak kenyang melihat, telinga tidak puas mendengar. Apa yang pernah ada akan ada lagi, dan apa yang pernah dibuat akan dibuat lagi; tak ada sesuatu yang baru di bawah matahari.”

Pertanyaannya sekarang: Apakah semua memang sia-sia? Ya, selama kita memandangnya dari sudut pandang manusia. Ungkapan ”bumi… di bawah matahari” juga bisa dipahami sebagai ”dari sudut pandang manusia dan di luar Allah”. Persoalannya di sini. Manusia sering berhenti pada yang dilihatnya atau memahaminya sebatas pikirannya dan tidak menggunakan sudut pandang Allah.

Melihat dari sudut pandang Allah; itulah yang perlu kita kembangkan dalam menyikapi semua hal di dunia ini. Dengan cara itu, kita akan dibebaskan dari pendapat bahwa semua hanyalah sia-sia. Mengapa? Sebab Allah telah memberi makna atas semuanya.

SMaNGaT,

Yoel M. Indrasmoro
Literatur Perkantas Nasional

Foto: Ali A. R.

Bagikan:

Tinggalkan Balasan