Posted on Tinggalkan komentar

Jikalau

(Ayb. 31:16-23)

”Jikalau aku pernah menolak keinginan orang-orang kecil, menyebabkan mata seorang janda menjadi pudar, atau memakan makananku seorang diri, sedang anak yatim tidak turut memakannya—malah sejak mudanya aku membesarkan dia seperti seorang ayah, dan sejak kandungan ibunya aku membimbing dia; jikalau aku melihat orang mati karena tidak ada pakaian, atau orang miskin yang tidak mempunyai selimut, dan pinggangnya tidak meminta berkat bagiku, dan tidak dipanaskannya tubuhnya dengan kulit bulu dombaku; jikalau aku mengangkat tanganku melawan anak yatim, karena di pintu gerbang aku melihat ada yang membantu aku, maka biarlah tulang belikatku lepas dari bahuku, dan lenganku dipatahkan dari persendiannya. Karena celaka yang dari pada Allah menakutkan aku, dan aku tidak berdaya terhadap keluhuran-Nya.”

Inilah komitmen Ayub. Jika pernah menolak keinginan orang kecil, menyusahkan seorang janda, dan membiarkan seorang anak yatim kelaparan; maka dia rela dihukum. Jika membiarkan seseorang mati kedinginan karena tak punya pakaian, dia rela dihukum Allah. Jika dengan sengaja berperkara dengan anak yatim di pengadilan karena merasa pasti menang, dia rela mendapatkan luka fisik. Alasannya sederhana Ayub takut dihukum Allah.

Oleh karena itu, Ayub sungguh yakin bahwa bencana yang menimpanya bukanlah karena hukuman Allah. Sebab dia memang tidak pernah menindas orang miskin, anak yatim, dan janda. Sebenarnya ini alasan kuat Ayub berani berhadapan dengan Allah. Dan inilah yang memang tidak dimengerti para sahabatnya.

Yoel M. Indrasmoro
Literatur Perkantas Nasional

Posted on Tinggalkan komentar

Hak Budak

(Ayb. 31:13-15)

”Jikalau aku mengabaikan hak budakku laki-laki atau perempuan, ketika mereka beperkara dengan aku, apakah dayaku, kalau Allah bangkit berdiri; kalau Ia mengadakan pengusutan, apakah jawabku kepada-Nya? Bukankah Ia, yang membuat aku dalam kandungan, membuat orang itu juga? Bukankah satu juga yang membentuk kami dalam rahim?”

Berkait dengan budak-budak yang dimilikinya Ayub menegaskan bahwa dia tidak pernah mengabaikan hak mereka. Menarik disimak, konsep Ayub terhadap budak sepertinya berbeda dari konsep budak pada umumnya. Pada masa itu budak-budak sejatinya tak punya hak. Yang ada pada mereka hanyalah kewajiban. Dan Ayub menetapkan dirinya untuk tidak mengabaikan hak budak laki-laki dan perempuan.

Dalam Alkitab Bahasa Indonesia Masa Kini tertera: ”Ketika hambaku mengeluh karena haknya kusalahi, kudengarkan dia dan kuperlakukan dengan tulus hati. Jika tidak, bagaimana harus kuhadapi Allahku? Apa jawabku pada waktu Ia datang menghakimi aku? Bukankah Allah yang menciptakan aku, menciptakan juga hamba-hambaku itu?”

Jelas di sini, bahwa seorang tuan pun tak luput dari kesalahan. Ketika itu terjadi, yang penting bukanlah kekeh pada pemikiran dan pendapat pribadi, tetapi mencoba memperhatikan apa yang menjadi keluhan seorang budak. Alasan Ayub melakukan semuanya itu sederhana: dia dan para budaknya adalah sama-sama ciptaan Allah. Sejatinya baik budak maupun tuan adalah sama—sama-sama milik Allah. Tak menghargai budak sama artinya dengan tidak menghargai Allah!

Yoel M. Indrasmoro
Literatur Perkantas Nasional

Posted on Tinggalkan komentar

Syarat bagi Mata

(Ayb. 31:1-4)

”Aku telah menetapkan syarat bagi mataku, masakan aku memperhatikan anak dara? Karena bagian apakah yang ditentukan Allah dari atas, milik pusaka apakah yang ditetapkan Yang Mahakuasa dari tempat yang tinggi? Bukankah kebinasaan bagi orang yang curang dan kemalangan bagi yang melakukan kejahatan? Bukankah Allah yang mengamat-amati jalanku dan menghitung segala langkahku?” (Ayb. 31:1-4).

Ayub telah menerapkan standar ketat bagi dirinya sendiri. Itu tidak ditentukan oleh orang lain, tetapi oleh dirinya sendiri. Pada kenyataannya semua tindakan manusia semestinya tidak dikendalikan orang lain.

Hanya persolannya, tak sedikit orang yang lebih suka tindakannya ditetapkan oleh orang lain ketimbang diri sendiri. Swapikir, swasikap, dan swatindak akhirnya bergantung pada kata orang atau situasi.

Sejatinya itu bukanlah sikap dan tindak manusia merdeka. Dan Ayub menegaskan dalam Alkitab Bahasa Indonesia Masa Kini: ”Dengan sumpah aku telah berjanji gadis muda tak akan kupandang dengan berahi.”

Alasan Ayub sederhana, dalam ayat 4 Alkitab Bahasa Indonesia Masa Kini, ”Bukankah Allah yang mengamat-amati jalanku dan menghitung segala langkahku?” Dengan kata lain: karena Allah mengamat-amati hidup kita, aneh rasanya jika kita tak mau memperhatikan sepak terjang diri kita sendiri. Bukankah kita pribadi yang paling berkepentingan atas diri kita sendiri?

Yoel M. Indrasmoro
Literatur Perkantas Nasional

Posted on Tinggalkan komentar

Ditertawakan

(Ayb. 30:1-31)

”Tetapi sekarang aku ditertawakan mereka, yang umurnya lebih muda dari padaku, yang ayah-ayahnya kupandang terlalu hina untuk ditempatkan bersama-sama dengan anjing penjaga kambing dombaku. Lagipula, apakah gunanya bagiku kekuatan tangan mereka? Mereka sudah kehabisan tenaga, mereka merana karena kekurangan dan kelaparan, mengerumit tanah yang kering, belukar di gurun dan padang belantara; mereka memetik gelang laut dari antara semak-semak, dan akar pohon arar menjadi makanan mereka” (Ayb. 30:1-4).

Ditertawakan. Itulah yang dirasakan Ayub. Dia merasa getir karena menjadi bahan olok-olokan orang yang lebih muda dari dirinya, yang sepantaran dengan anak-anaknya. Yang, ini penilaian Ayub, ayahnya sebenarnya mungkin menjaga kambing dombanya karena bersama dengan anjing gembala karena terlampau lemah untuk menjadi penjaga. Sebab mereka terlalu lemah karena kekurangan makan. Mungkin itu jugalah yang membuat mereka akhirnya melakukan tindak kejahatan dan akhirnya dibuang dari masyarakat. Mereka adalah orang pinggiran. Dan sekarang anak-anak mereka menertawakan Ayub. Karena itulah, Ayub merasa hancur.

Lebih tambah hancur kala dia merasa Allahlah biang keladi dalam bencana yang menimpanya. Dalam ayat 18-19 Alkitab Bahasa Indonesia Masa Kini, Ayub berkata, ”Allah mencengkeram aku pada leher bajuku sehingga pakaianku menggelambir pada tubuhku. Ke dalam lumpur aku dihempaskan-Nya, aku menjadi seperti sampah saja!”

Ayub merasa dihempaskan Allah, bahkan dianggap sampah. Bisa jadi Ayub merasa nasibnya seperti orang-orang yang menertawakan dia selama ini. Bedanya mereka dibuang manusia, sedangkan Ayub merasa dibuang Allah.

Yoel M. Indrasmoro
Literatur Perkantas Nasional

Posted on Tinggalkan komentar

Kiranya

(Ayb. 29:1-25)

”Ah, kiranya aku seperti dalam bulan-bulan yang silam, seperti pada hari-hari, ketika Allah melindungi aku, ketika pelita-Nya bersinar di atas kepalaku, dan di bawah terang-Nya aku berjalan dalam gelap; seperti ketika aku mengalami masa remajaku, ketika Allah bergaul karib dengan aku di dalam kemahku; ketika Yang Mahakuasa masih beserta aku, dan anak-anakku ada di sekelilingku;” (Ayb. 29:2-5).

Berkait dengan ayat-ayat ini, Alkitab Parenting memberikan catatan menarik: ”Di antara kenangan masa lalu yang cemerlang, Ayub menyebutkan masa remaja ketika Allah bergaul karib dengannya dan ketika anak-anak masih ada di sekelilingnya. Kehadiran Allah dan anggota keluarga membuatnya merasa lengkap. Masa muda menjadi awal keakraban dengan Tuhan dan penyertaan Tuhan dapat dinikmati dalam kebersamaan dengan keluarga.” Jelaslah, kelengkapan bersama anggota keluarga merupakan berkat. Dan itulah yang dirasakan Ayub. Namun, sekarang anak-anak tak lagi di sisinya. Dan Ayub merana karena itu.

Tak hanya itu, dalam ayat 20-23, Ayub menyatakan: ”Kemuliaanku selalu baru padaku, dan busurku kuat kembali di tanganku. Kepadakulah orang mendengar sambil menanti, dengan diam mereka mendengarkan nasihatku. Sehabis bicaraku tiada seorang pun angkat bicara lagi, dan perkataanku menetes ke atas mereka. Orang menantikan aku seperti menantikan hujan, dan menadahkan mulutnya seperti menadah hujan pada akhir musim.” Keadaan Ayub waktu itu memang gemah ripah loh jinawi ’serbamakmur’, juga sangat dihormati.

Sungguh tak mudah merasakan apa yang Ayub rasakan. Kita pun juga sering melakukannya. Ketika kesulitan hidup menerpa, kita pun teringat akan masa-masa indah yang pernah terjadi. Salahkah? Tentu saja tidak. Mungkin malah baik. Sebab kita punya kenangan indah masa lampau. Dan itu yang membuat hidup kita terasa lengkap.

Yoel M. Indrasmoro
Literatur Perkantas Nasional

Posted on Tinggalkan komentar

Di Manakah Hikmat?

(Ayb. 28:1-28)

”Manusia melekatkan tangannya pada batu yang keras, ia membongkar-bangkir gunung-gunung sampai pada akar-akarnya; di dalam gunung batu ia menggali terowongan, dan matanya melihat segala sesuatu yang berharga; air sungai yang merembes dibendungnya, dan apa yang tersembunyi dibawanya ke tempat terang. Tetapi di mana hikmat dapat diperoleh, di mana tempat akal budi? Jalan ke sana tidak diketahui manusia, dan tidak didapati di negeri orang hidup?” (Ayb. 28:9-13).

Inilah pengakuan Ayub. Kemungkinan besar itulah yang dialami. Berkait dengan semua yang menimpa dirinya, Ayub menyadari, tak mudah bagi dia memahami semuanya itu. Namun, memang itulah yang terjadi. Dengan tangannya manusia berupaya membongkar bumi dan mendapatkan banyak batu berharga dari dalamnya. Akan tetapi, bagaimanakah caranya memperoleh hikmat?

Dalam ayat 20-24 Alkitab Bahasa Indonesia Masa Kini, Ayub kembali bertanya, sekaligus menjawab pertanyaannya: ”Di manakah sumbernya kebijaksanaan? Di mana kita mendapat pengertian? Tak ada makhluk hidup yang pernah melihatnya, bahkan burung di udara tak menampaknya. Maut dan kebinasaan pun berkata, mereka hanya mendengar desas-desus belaka. Hanya Allah tahu tempat hikmat berada, hanya Dia mengetahui jalan ke sana, karena Ia melihat ujung-ujung bumi; segala sesuatu di bawah langit Ia amati.” Yang memahami hikmat adalah Allah sendiri. Dan ketika ditanyakan kepada Allah, Dia pun menjawab dalam ayat 28 Alkitab Bahasa Indonesia Masa Kini: ”Untuk mendapat hikmat, Allah harus kamu hormati. Untuk dapat mengerti, kejahatan harus kamu jauhi.”

Menarik disimak, khususnya bagi kita, orang percaya abad XXI, hikmat itu sendiri berada dalam sikap hormat Allah, yang diwujudkan dalam kepasrahan dan ketundukan pada-Nya. Dalam sikap hormat kepada Allah kita akan terus diingatkan untuk tidak merasa pintar sendiri. Dan itulah yang membuat kita semakin bijak.

Yoel M. Indrasmoro
Literatur Perkantas Nasional

Posted on Tinggalkan komentar

Bagian Orang Fasik

(Ayb. 27:11-23)

”Aku akan mengajari kamu tentang tangan Allah, apa yang dimaksudkan oleh Yang Mahakuasa tidak akan kusembunyikan. Sesungguhnya, kamu sekalian telah melihatnya sendiri; mengapa kamu berpikir yang tidak-tidak?” (Ayb. 27:11-12). Dengan lantang Ayub berkata kepada para sahabatnya bahwa dia sungguh mengenal Allahnya. Dia juga menantang para sahabatnya bahwa mereka sebenarnya juga tahu, namun mereka sepertinya pura-pura tidak tahu.

Bisa jadi para sahabatnya awalnya sungguh meyakini bahwa Ayub memang pribadi yang jempolan—sungguh baik di mata manusia, juga Allah. Mungkin mereka juga tahu bahwa Allah sungguh mengasihi Ayub. Hanya, persoalannya, penderitaan Ayub yang hebat dan berkepanjangan membuat mereka ragu untuk memercayai Ayub. Sehingga mereka memaksa Ayub untuk mengakui semua kesalahan yang tidak pernah dibuatnya. Dan kemungkinan besar, karena Ayub tetap tak mengakui kesalahannya membuat mereka akhirnya meyakini bahwa Ayub memang bersalah.

Ayub dalam kalimat-kalimat selanjutnya menyatakan bahwa muara dari orang fasik, meski awalnya tampak senang, adalah kebinasaan. Ayub menyatakan, dalam ayat 13-15: ”Inilah bagian orang fasik yang ditentukan Allah, dan milik pusaka orang-orang lalim yang mereka terima dari Yang Mahakuasa: kalau anak-anaknya bertambah banyak mereka menjadi makanan pedang, dan anak cucunya tidak mendapat cukup makan; siapa yang luput dari padanya, akan turun ke kubur karena wabah, dengan tidak ditangisi oleh janda mereka.”

Memang ada pakar yang berpendapat bahwa bagian ini lebih cocok merupakan kata-kata Zofar. Namun, kalau kita percaya bahwa ini adalah kata-kata Ayub sendiri, kita bisa meyakini betapa tak mudah bagi Ayub menyatakan hal ini. Mengapa? Sebab dia sendiri merasakan apa yang semestinya harus ditanggung orang fasik. Jika Ayub yang menyatakannya, kita orang percaya abad XXI harus angkat topi kepada laki-laki dari tanah Us ni.

Yoel M. Indrasmoro
Literatur Perkantas Nasional

Posted on Tinggalkan komentar

Demi Allah

(Ayb. 27:1-6)

”Aku sama sekali tidak membenarkan kamu! Sampai binasa aku tetap mempertahankan bahwa aku tidak bersalah. Kebenaranku kupegang teguh dan tidak kulepaskan; hatiku tidak mencela sehari pun dari pada umurku” (Ayb. 27:5-6).

Ayub tetap menyatakan dirinya tak bersalah. Ia menganggap semua nasihat sahabat-sahabatnya itu pepesan kosong. Hampa. Tiada arti. Dalam Alkitab Bahasa Indonesia Masa Kini tertera: ”Jadi, tak mau aku mengatakan bahwa kamu benar; sampai mati pun kupertahankan bahwa aku tak cemar. Aku tetap berpegang kepada kepatuhanku, dan hati nuraniku pun bersih selalu.” Inilah ikhtiar Ayub: ia akan tetap taat dan menjaga hati nuraninya selalu bersih.

Menarik disimak, Ayub merasa perlu mendasarkan pernyataannya itu demi Allah. Kelihatannya Ayub merasa perlu menyebut nama Allah di hadapan para sahabatnya. Namun, bukan demi Allah yang melimpahkan kesejahteraan, tetapi demi Allah yang tidak memberi keadilan dan memedihkan hatinya.

Pada titik ini Ayub tetap berupaya berlaku jujur. Ia tidak menyembunyikan kenyataan bahwa ia merasa diperlakukan tidak adil, juga tidak menyembunyikan kepedihan hatinya. Ayub tidak berupaya menjaga citranya di hadapan para sahabatnya dengan mengatakan hal yang baik tentang Allah. Itu hanya akan membuatnya terlihat baik. Dan Ayub tak ingin berupaya terlihat baik di hadapan manusia.

Ayub bersikap terbuka karena dia tahu Allah Mahatahu. Dan itulah yang akan membuatnya terus mampu percaya diri di hadapan Allah.

Yoel M. Indrasmoro
Literatur Perkantas Nasional

Posted on Tinggalkan komentar

Alangkah Baiknya

(Ayb. 26:1-14)

”Alangkah baiknya bantuanmu kepada yang tidak kuat, dan pertolonganmu kepada lengan yang tidak berdaya! Alangkah baiknya nasihatmu kepada orang yang tidak mempunyai hikmat, dan pengertian yang kauajarkan dengan limpahnya! Atas anjuran siapakah engkau mengucapkan perkataan-perkataan itu, dan gagasan siapakah yang kaunyatakan?” (Ayb. 26:2-4).

Demikianlah jawaban Ayub kepada Bildad. Kelihatannya Ayub memang kesal terhadap sahabatnya ini. Sehingga dua kali menggunakan frasa ”alangkah baiknya”. Ya, alangkah baiknya jika ucapan Bildad itu ditujukan kepada orang yang tepat—orang yang tak berdaya dan tak mempunyai hikmat.

Dengan kata lain, Ayub hendak menyatakan bahwa nasihat itu tak ubahnya pepesan kosong baginya. Ayub jelas sudah tahu apa yang dikatakan Bildad. Tentu saja, ini bukan karena Ayub sok tahu, tetapi karena dia memang sungguh tahu.

Ayub mengakui bahwa tidak ada seorang pun yang dapat mengerti kebesaran Allah. Dia juga tidak. Ayub sendiri berupaya untuk memahami konsep keadilan Allah, juga kasih Allah. Kalau Allah itu adil dan kasih, mengapa semua bencana menimpa dirinya.

Apa yang kita bisa pelajari dari sini? Tampaknya kita pun perlu berhati-hati ketika memberikan nasihat. Pada kenyataannya setiap orang yang tertimpa bencana tentu dalam hati dan kepalanya penuh dengan pertanyaan mengapa. Mulanya tentu tak mudah menjawabnya. Seiring waktu, biasanya orang tersebut akan belajar untuk memahami apa yang terjadi. Dengan kata lain, dia sendiri sudah banyak merenung. Sehingga, kita perlu berhati-hati kala menemaninya. Kita harus berpikir dua atau tiga kali jika hendak memberi nasihat. Atau sebaiknya, tak perlu memberi nasihat, kecuali jika dia memintanya dari kita.

Yoel M. Indrasmoro
Literatur Perkantas Nasional

Posted on Tinggalkan komentar

Tidak Ada yang Benar

(Ayb. 25:1-6)

”Bagaimana manusia benar di hadapan Allah, dan bagaimana orang yang dilahirkan perempuan itu bersih? Sesungguhnya, bahkan bulan pun tidak terang dan bintang-bintang pun tidak cerah di mata-Nya. Lebih-lebih lagi manusia, yang adalah berenga, anak manusia, yang adalah ulat!” (Ayb. 25:4-6).

Jawaban Bildad kepada Ayub ada benarnya, namun tidak seluruhnya benar. Bildad dalam Alkitab Bahasa Indonesia Masa Kini berkata, ”Mungkinkah manusia suci di mata Allah? Mungkinkah ia murni pada pemandangan-Nya? Bagi Allah, bahkan bulan pun tidak terang, dan bintang dianggapnya suram. Apalagi manusia, si cacing, si serangga! Di mata Allah, ia sungguh tak berharga.”

Sekali lagi, jawaban Bildad ini benar, tetapi tidak seluruhnya benar. Memang tidak ada manusia yang benar di hadapan Allah. Namun, Bildad agaknya lupa bahwa Allah bisa menganggap manusia benar. Dan manusia pun, jika mau, dia bisa hidup benar di hadapan Allah dan manusia.

Salah satu bukti nyata adalah Ayub sendiri. Penulis Kitab Ayub memulai kitabnya dengan sebuah pernyataan: ”Ada seorang laki-laki di tanah Us bernama Ayub; orang itu saleh dan jujur; ia takut akan Allah dan menjauhi kejahatan” (Ayb. 1:1) Bahkan Allah sendiri pun memuji Ayub: ”Apakah engkau memperhatikan hamba-Ku Ayub? Sebab tiada seorang pun di bumi seperti dia, yang demikian saleh dan jujur, yang takut akan Allah dan menjauhi kejahatan” (Ayb. 1:8).

Memang benar, tidak ada yang suci di hadapan Allah. Namun, manusia—jika dia mau dan dengan kemampuan dari Allah, bisa hidup suci di hadapan Allah. Persoalannya, sering pada kemauan belaka.

Yoel M. Indrasmoro
Literatur Perkantas Nasional