Posted on Tinggalkan komentar

Hoaks

(Ayb. 34:1-9)

”Biarlah kita memutuskan bagi kita sendiri apa yang adil, menentukan bersama-sama apa yang baik. Karena Ayub berkata: Aku benar, tetapi Allah mengambil hakku; kendati aku mempunyai hak aku dianggap berdusta, sekalipun aku tidak melakukan pelanggaran, lukaku tidak dapat sembuh lagi. Siapakah seperti Ayub, yang minum hujatan terhadap Allah seperti air, yang mencari persekutuan dengan orang-orang yang melakukan kejahatan dan bergaul dengan orang-orang fasik? Karena ia telah berkata: Tidak berguna bagi manusia, kalau ia dikenan Allah” (Ayb. 34:4-9).

Inilah ikhtiar Elihu. Dia mengajak para sahabatnya, juga Ayub, untuk mengambil kesimpulan atas apa yang dikatakan Ayub. Dia menyatakan bahwa Ayub telah berkata, ”Allah mengambil hakku.”

Mungkin di sini kita, pembaca abad XXI, perlu berhenti sejenak. Apakah benar Ayub mengatakan frasa tersebut—kata demi kata? Memang benar, pada beberapa bagian percakapan dengan para sahabatnya, Ayub mengucapkan frasa ”Aku benar”, namun laki-laki dari tanah Us itu tidak mengucapkan frasa ”Allah mengambil hakku”. Pada titik ini, sepertinya Elihu bertindak terlalu jauh. Tentu saja demi argumentasi yang dia susun.

Lebih jauh, dalam ayat 7-9 Alkitab Bahasa Indonesia Masa Kini, Elihu menuduh Ayub: ”Pernahkah kamu melihat orang seperti Ayub ini? Ia mencemooh Allah berkali-kali. Ia suka berkawan dengan orang-orang durhaka serta bergaul dengan orang-orang durjana. Ia berkata, bahwa sia-sia sajalah jika ia berusaha melakukan kehendak Allah.” Di sini, lagi-lagi, kita perlu mempertanyakan tuduhan Elihu ini. Benarkah tuduhan ini. Dan kalau kita meneliti Kitab Ayub secara saksama, maka tiada kita dapati tuduhan ini.

Pertanyaannya, mengapa Elihu melakukannya? Mungkin karena kesal terhadap Ayub dan keinginan membela Allah, Elihu tanpa sadar jadi bertindak terlampau jauh. Dan ini bukanlah tindakan yang patut. Apa yang dikatakan Elihu memang ada benarnya, tetap yang lainnya adalah hoaks.

Yoel M. Indrasmoro
Literatur Perkantas Nasional

Posted on Tinggalkan komentar

Satu Dua Cara

(Ayb. 33:14-33)

”Karena Allah berfirman dengan satu dua cara, tetapi orang tidak memperhatikannya.” (Ayb. 33:14). Demikianlah kerangka berpikir Elihu. Allah telah berbicara banyak kepada manusia, Namun, tampaknya manusia menganggap sepi sapaan Allah itu.

Allah menyapa manusia melalui mimpi, bahkan melalui penyakit. Akan tetapi, tampaknya manusia tak cukup peka untuk meluangkan sempat dan tempat dalam hatinya untuk mendengarkan Allah.

Dalam ayat 29-30 Alkitab Bahasa Indonesia Masa Kini Elihu mengulangi lagi pernyataannya: ”Dengan berulang kali, Allah telah melakukan semua ini, supaya Ia dapat menyelamatkan manusia dan memberi kebahagiaan dalam hidupnya.” Dengan kata lain, Elihu hendak menyatakan kepada Ayub bahwa apa yang menimpa dirinya merupakan cara Allah untuk memberikan kebahagiaan kepada Ayub pada akhirnya.

Karena itu, Elihu menegaskan: ”Perhatikanlah, hai Ayub, dengarkanlah aku, diamlah, akulah yang berbicara. Jikalau ada yang hendak kaukatakan, jawablah aku; berkatalah, karena aku rela membenarkan engkau. Jikalau tidak, hendaklah engkau mendengarkan aku; diamlah, aku hendak mengajarkan hikmat kepadamu.”

Dalam pandangan Elihu Allah mengasihi umat-Nya. Jika sepertinya Allah memberikan hal yang buruk, semuanya itu sesungguhnya merupakan tanda cinta Allah kepada umat-Nya. Itulah yang hendak dinyatakan Elihu. Dan karena itu dia ingin Ayub sungguh-sungguh mendengarkan perkataannya.

Yoel M. Indrasmoro
Literatur Perkantas Nasional

Posted on Tinggalkan komentar

Ketidakmengertian Elihu

(Ayb. 33:8-13)

”Tetapi engkau telah berbicara dekat telingaku, dan ucapan-ucapanmu telah kudengar: Aku bersih, aku tidak melakukan pelanggaran, aku suci, aku tidak ada kesalahan. Tetapi Ia mendapat alasan terhadap aku, Ia menganggap aku sebagai musuh-Nya. Ia memasukkan kakiku ke dalam pasung, Ia mengawasi segala jalanku” (Ayb. 33:8-11).

Elihu memaparkan kesalahan Ayub . Di mata Elihu, kesalahan terbesar Ayub adalah merasa bersih, tidak melakukan pelanggaran, suci, dan tidak ada kesalahan sedikit pun. Dalam ayat 9-11 Alkitab Bahasa Indonesia Masa Kini tertera: ”Kau berkata, ’Aku bersih, tak melakukan pelanggaran. Aku tak bercela dan tak berbuat kesalahan. Tetapi Allah mencari-cari alasan melawan aku, dan diperlakukan-Nya aku sebagai seteru. Ia mengenakan rantai pada kakiku; dan mengawasi segala gerak-gerikku.’”

Elihu tidak terima karena di matanya Ayub telah bertindak kurang ajar terhadap Allah. Dalam pemandangan Elihu, Ayub telah menuduh Allah mencari-cari kesalahan dan memberlakukannya sebagai musuh. Inilah yang tidak dimengerti Elihu, kok bisa-bisanya Ayub mengatakan bahwa Allah mencari-cari kesalahan pada dirinya. Padahal Ayub merasa bersih lahir dan batin dan dia tahu bahwa Allah pun mengakuinya.

Elihu pun tak dapat lagi menahan perasaannya. Dalam ayat 12-13 dalam Alkitab Bahasa Indonesia Masa Kini, ia berkata, ”Hai Ayub, pendapatmu salah belaka! Sebab Allah lebih besar daripada manusia. Mengapa engkau menuduh Allah bahwa Ia tak mengindahkan keluhan manusia?”

Dalam kerangka berpikir Elihu, Allah Mahabesar. Sehingga berbantah dengan Allah sungguh tidak masuk akal. Dengan kata lain, menggunakan frasa anak muda beberapa dekade lalu, ”Allah kok dilawan!”

Kata-kata Elihu tentu ada benarnya. Namun, kemungkinan besar semua itu keluar dari mulutnya karena dia memang belum merasakan apa yang dirasakan Ayub. Pada titik ini tindakan Elihu tak beda dengan tindakan tiga sahabat Ayub lainnya.

Yoel M. Indrasmoro
Literatur Perkantas Nasional

Posted on Tinggalkan komentar

Dibentuk dari Tanah Liat

(Ayb. 33:1-7)

”Akan tetapi sekarang, hai Ayub, dengarkanlah bicaraku, dan bukalah telingamu kepada segala perkataanku. Ketahuilah, mulutku telah kubuka, lidahku di bawah langit-langitku berbicara. Perkataanku keluar dari hati yang jujur, dan bibirku menyatakan dengan terang apa yang diketahui. Roh Allah telah membuat aku, dan nafas Yang Mahakuasa membuat aku hidup. Jikalau engkau dapat, jawablah aku, bersiaplah engkau menghadapi aku, pertahankanlah dirimu. Sesungguhnya, bagi Allah aku sama dengan engkau, aku pun dibentuk dari tanah liat. Jadi engkau tak usah ditimpa kegentaran terhadap aku, tekananku terhadap engkau tidak akan berat” (Ayb. 33:1-7).

Dengan lantang, penuh percaya diri, Elihu berbicara. Dia mengajak Ayub untuk mencermati setiap kata yang keluar dari mulutnya. Mengapa dia berani begitu lantang?

Pertama, kata-katanya itu keluar dari hati yang tulus. Tanpa ketulusan sulit bagi kita bicara lantang. Sebab kekerasan suara kita hanya akan menuduh diri kita sendiri. Tentu ada saja orang yang berbicara lantang dengan maksud menutupi kesalahannya sendiri. Namun, orang demikian memang aneh.

Kedua, Elihu mendasarkan kata-katanya pada kehidupan yang diberikan Roh Allah. Ini pun bisa kita jadikan teladan: karena dihidupi oleh Roh Allah, baiklah kata yang keluar pun juga dari Allah.

Ketiga, Elihu tidak perlu merasa minder di hadapan Ayub karena mereka berdua sama-sama ciptaan Allah. Kadang orang sering kali, tanpa sadar, dalam percakapan menempatkan diri di bawah atau di atas kawan bicara. Dan karena itu, Elihu bisa dijadikan contoh yang baik.

Yoel M. Indrasmoro
Literatur Perkantas Nasional

Posted on Tinggalkan komentar

Tidak Menyanjung-nyanjung

(Ayb. 32:17-22)

”Aku pun hendak memberi sanggahan pada giliranku, aku pun akan mengemukakan pendapatku. Karena aku tumpat dengan kata-kata, semangat yang ada dalam diriku mendesak aku. Sesungguhnya, batinku seperti anggur yang tidak mendapat jalan hawa, seperti kirbat baru yang akan meletup. Aku harus berbicara, supaya merasa lega, aku harus membuka mulutku dan memberi sanggahan. Aku tidak akan memihak kepada siapa pun dan tidak akan menyanjung-nyanjung siapa pun, karena aku tidak tahu menyanjung-nyanjung; jika demikian, maka segera Pembuatku akan mencabut nyawaku” (Ayb. 32:17-22).

Elihu tak bisa menahan diri lagi. Baik pikiran maupun perasaannya penuh dengan kata-kata. Itu seperti anggur yang dalam proses fermentasi kadang merobek kirbat baru. Dan karena itu memang harus dikeluarkan.

Yang menarik disimak dari kata-kata Elihu adalah adanya keinginan untuk tidak memihak siapa pun—tentu dalam hal ini adalah antara Ayub dan sahabatnya—dan tidak menyanjung-nyanjung. Dia juga menyatakan bahwa dia siap diambil nyawanya. Dalam Alkitab Bahasa Indonesia Masa Kini tertera: ”Tak akan kubela siapa pun dalam sengketa ini dan tak seorang pun akan kupuji-puji. Cara menyanjung-nyanjung pun, aku tidak tahu, dan seandainya aku melakukan itu, Allah akan segera menghukum aku.”

Ya, inilah yang dapat kita pelajari dari Elihu, yakni bersikap adil.

Posted on Tinggalkan komentar

Elihu

(Ayb. 32:1-16)

”Aku masih muda dan kamu sudah berumur tinggi; oleh sebab itu aku malu dan takut mengemukakan pendapatku kepadamu. Pikirku: Biarlah yang sudah lanjut usianya berbicara, dan yang sudah banyak jumlah tahunnya memaparkan hikmat. Tetapi roh yang di dalam manusia, dan nafas Yang Mahakuasa, itulah yang memberi kepadanya pengertian. Bukan orang yang lanjut umurnya yang mempunyai hikmat, bukan orang yang sudah tua yang mengerti keadilan. Oleh sebab itu aku berkata: Dengarkanlah aku, aku pun akan mengemukakan pendapatku” (Ayb. 32:6-10).

Demikianlah Elihu memulai pendapatnya. Jelaslah, selama percakapan antara Ayub dan ketiga sahabatnya, Elihu hanya diam. Tampaknya dia berusaha menahan dirinya. Alasannya sederhana: dia merasa masih muda. Kemudaan membuat dia merasa perlu diam dan membiarkan yang tua berbicara lebih dahulu. Namun, dia tak mampu lagi mengekang mulutnya.

Penulis Kitab Ayub menyatakan: ”Lalu marahlah Elihu bin Barakheel, orang Bus, dari kaum Ram; ia marah terhadap Ayub, karena ia menganggap dirinya lebih benar dari pada Allah, dan ia juga marah terhadap ketiga orang sahabat itu, karena mereka mempersalahkan Ayub, meskipun tidak dapat memberikan sanggahan” (Ayb. 32:2-3).

Elihu marah tak hanya kepada Ayub, tetapi juga ketiga sahabatnya. Kepada Ayub karena dia membenarkan dirinya sendiri dan mempersalahkan Allah; kepada ketiga sahabatnya karena mereka tidak mampu membantah kata-kata Ayub, meskipun mereka mempersalahkannya.

Berkait Elihu, yang menarik disimak, Alkitab Edisi Studi menjelaskan bahwa Elihu—yang namanya berarti ”Dialah TUHANKU”—adalah keturunan Bus, keponakan Abraham. Tampaknya Elihu cukup dikenal pada masanya. Penulis Kitab Ayub bahkan memberikan keterangan tambahan bahwa dia adalah anak Barakheel yang berarti El (TUHAN) sudah memberkati.

Dalam kalimat-kalimat awal Elihu nyata bahwa akal budi berasal dari Allah dan kemampuan seorang mengolah akal budinya tak berbanding lurus dengan usia seseorang. Dengan kata lain kebijakan sering tak berkait umur. Dan karena itu Elihu bicara.

Yoel M. Indrasmoro
Literatur Perkantas Nasional

Posted on Tinggalkan komentar

Biarlah

(Ayb. 31:38-40)

”Jikalau ladangku berteriak karena aku dan alur bajaknya menangis bersama-sama, jikalau aku memakan habis hasilnya dengan tidak membayar, dan menyusahkan pemilik-pemiliknya, maka biarlah bukan gandum yang tumbuh, tetapi onak, dan bukan jelai, tetapi lalang.”

Demikianlah ikhtiar Ayub. Terkesan berani sekali. Namun, yang tidak boleh kita lupa, Ayub memang menerapkan standar tinggi dalam hidupnya. Sehingga dia berani dihukum oleh Allah jika terbukti melakukan kejahatan. Ayub bersedia dihukum karena tahu bahwa hidupnya bersih.

Memang dalam kehidupan nyata ada juga orang yang rela menerima hukuman, bahkan merasa perlu bersumpah untuk itu. Namun, ketika mulai sedikit terkuak kejahatannya, dia pun mulai menarik sumpahnya kembali.

Ayub beda. Dalam Alkitab Bahasa Indonesia Masa Kini dinyatakan: ”Seandainya tanah yang kubajak telah kucuri, dan kurampas dari pemiliknya yang sejati, seandainya hasilnya habis kumakan, dan petani yang menanamnya kubiarkan kelaparan, biarlah bukan jelai dan gandum yang tumbuh di ladang, melainkan semak berduri dan rumput ilalang.”

Ayub siap menanggung kerugian besar itu karena dia memang tak bersalah sedikit pun. Sebab dia tahu semua hal itu tak akan menimpa dirinya. Nah, kalau sekarang ini Ayub ketimpa bencana, dia sepertinya juga percaya bahwa itu bukanlah hukuman Allah atas kejahatannya. Para sahabatnya memang tak memercayainya, tetapi itu bukan soal. Dia tahu Allah masih percaya kepadanya. Itu sudah cukup bagi Ayub.

Yoel M. Indrasmoro
Literatur Perkantas Nasional

Posted on Tinggalkan komentar

Standar Hidup Tinggi

(Ayb. 31:31-37)

”Jikalau orang-orang di kemahku mengatakan: Siapa yang tidak kenyang dengan lauknya?—malah orang asing pun tidak pernah bermalam di luar, pintuku kubuka bagi musafir!—Jikalau aku menutupi pelanggaranku seperti manusia dengan menyembunyikan kesalahanku dalam hatiku, karena aku takuti khalayak ramai dan penghinaan kaum keluarga mengagetkan aku, sehingga aku berdiam diri dan tidak keluar dari pintu!” (Ayb. 31:31-34).

Ayub sungguh pribadi terbuka. Dia tidak merasa perlu menyembunyikan apa pun, khususnya perlakuan terhadap orang lain. Kemungkinan besar karena Ayub memang menerapkan standar hidup tinggi.

Dalam Alkitab Bahasa Indonesia Masa Kini tertera: ”Orang-orang yang bekerja padaku tahu, bahwa siapa saja kujamu di rumahku. Rumahku terbuka bagi orang yang bepergian; tak pernah kubiarkan mereka bermalam di jalan. Orang lain menyembunyikan dosanya, tetapi aku tak pernah berbuat seperti mereka. Pendapat umum tidak kutakuti, dan penghinaan orang, aku tak peduli. Tak pernah aku tinggal di rumah atau diam saja, hanya karena takut akan dihina.”

Ya, Ayub tak peduli apa kata orang karena dia memang memberlakukan standar hidup yang ketat bagi dirinya sendiri. Dan itu jugalah yang menjadi modal utama hidupnya. Bahkan, dalam ayat 35-36 Alkitab Bahasa Indonesia Masa Kini: ”Seandainya tuduhan musuh terhadap aku ditulis semua sehingga terlihat olehku, maka dengan bangga akan kupasang pada bahu, dan sebagai mahkota kulekatkan di kepalaku. Akan kuberitahukan kepada Allah segala yang kubuat; akan kuhadapi Dia dengan bangga dan kepala terangkat.”

Ayub tidak malu dengan standar ketat hidupnya. Bahkan dia merasa bangga dengan itu Dia juga tidak malu disebut sok suci. Pada kenyataannya Ayub memang tidak bersikap sok suci. Dia hanya berupaya untuk hidup suci.

Yoel M. Indrasmoro
Literatur Perkantas Nasional

Posted on Tinggalkan komentar

Berkenaan dengan Musuh

(Ayb. 31:29-30)

”Apakah aku bersukacita karena kecelakaan pembenciku, dan bersorak-sorai, bila ia ditimpa malapetaka—aku takkan membiarkan mulutku berbuat dosa, menuntut nyawanya dengan mengucapkan sumpah serapah!”

Demikianlah pertanyaan Ayub kepada para sahabatnya berkait dengan orang-orang yang membencinya. Tampaknya Ayub begitu percaya diri menyatakan bahwa dia tidak pernah menginginkan, apalagi bergembira jika orang-orang yang membencinya ditimpa malapetaka. Dia menegaskan bahwa dia tidak akan membiarkan mulutnya berbuat dosa dengan menuntut nyawa orang-orang yang memusuhinya.

Tak mudah memang bersikap kepada orang-orang yang membenci kita tanpa alasan. Karena marah, karena tak habis mengerti, kita pun bisa saja mengucapkan dan mengharapkan yang buruk dari orang tersebut. Jamak juga kita mendengar dalam masyarakat orang, bisa jadi karena saking marahnya, seseorang berseru: ”Saya doakan Tuhan menghukummu!” atau ”Gue sumpahin mampus lu!” Doa macam begini memang aneh. Namun, itulah yang terjadi dalam dunia nyata.

Nah, Ayub berbeda. Dalam Alkitab Bahasa Indonesia Masa Kini tertera: ”Belum pernah aku bersenang karena musuhku menderita, atau bersukacita karena ia mendapat celaka. Aku tidak berdoa untuk kematian musuhku; tak pernah aku berbuat dosa semacam itu.” Dan karena itulah, Ayub dengan penuh percaya diri berdiri di hadapan Allah. Bagaimana dengan kita?

Yoel M. Indrasmoro
Literatur Perkantas Nasional

Posted on Tinggalkan komentar

Kepercayaan

(Ayb. 31:24-28)

”Jikalau aku menaruh kepercayaan kepada emas, dan berkata kepada kencana: Engkaulah kepercayaanku; jikalau aku bersukacita, karena kekayaanku besar dan karena tanganku memperoleh harta benda yang berlimpah-limpah; jikalau aku pernah memandang matahari, ketika ia bersinar, dan bulan, yang beredar dengan indahnya, sehingga diam-diam hatiku terpikat, dan menyampaikan kecupan tangan kepadanya, maka hal itu juga menjadi kejahatan yang patut dihukum oleh hakim, karena Allah yang di atas telah kuingkari.

Dalam bagian ini Ayub menegaskan komitmennya untuk tidak memercayakan dirinya pada harta, juga matahari. Ini kadang menjadi persoalan besar manusia. Manusia yang hadir ke dunia tanpa membawa apa-apa merasa perlu mengumpulkan sesuatu dan akhirnya malah mengandalkannya. Manusia akhirnya merasa aman karena percaya tak lagi akan mengalami kekurangan. Bagi Ayub itu merupakan kejahatan.

Menarik disimak bahwa Ayub merasa perlu menyinggung matahari. Matahari merupakan sumber energi terbesar dalam kehidupan manusia. Salah satu definisi ”pertanian” adalah pemanenan energi surya. Tanpa matahari kehidupan akan berhenti. Mudah dipahami banyak manusia mendewakan matahari. Sebab tanpanya kehidupan menjadi lumpuh. Namun demikian, Ayub juga menyatakan bahwa mengidolakan matahari pun merupakan kejahatan.

Bagi Ayub Allahlah yang semestinya mendapatkan kepercayaan dan hormat manusiawi. Mengapa? Baik emas, harta milik, maupun matahari cuma ciptaan Allah. Aneh rasanya lebih menghargai ciptaan ketimbang penciptanya.

Yoel M. Indrasmoro
Literatur Perkantas Nasional